Tag Archive | "Disney"

Tags: , , , , , ,

The Princess and The Frog

Posted on 17 January 2010 by Si Tukang Review

The Princess and The Frog Poster

The Princess and The Frog Poster

Hampir semua anak-anak jaman sekarang mungkin mengenal film animasi 3D saat ditonton di bioskop. Ini berbeda dengan saat saya kecil dulu di mana memori saya dihiasi dengan dua jenis film animasi. Saya menjadi bagian dari generasi yang menyaksikan lahirnya Pixar dan hegemoni 3D saat Woody dan Buzz Lightyear pertama kali bersahabat dalam Toy Story, tetapi saya juga tidak akan pernah lupa keindahan savana Afrika dalam The Lion King. Oleh karena itu saya sangat sedih bahwa setelah film Tarzan, studio Disney kelihatannya semakin melupakan film animasi 2D dan memprioritaskan film-film 3D garapan Pixar. Jangan salah ya, saya cinta dengan animasi 3D Pixar (lihat saja review maratonku untuk Pixar, atau fakta bahwa Up adalah film terbaikku tahun 2009 lalu). Walau begitu, ada keinginan besar dalam diriku untuk menonton lagi film animasi 2D yang dipenuhi dengan lagu-lagu yang memorable. Setelah kegagalan Brother Bear dan Home on the Range, Disney menutup studio animasinya dan membuat harapanku kian hancur.

Harapan itu mulai muncul ketika Disney membeli Pixar dan pemimpin Pixar, John Lasseter memutuskan untuk membuka kembali studio animasi 2D Disney. Walaupun Lasseter adalah kepala dari Pixar yang identik dengan film animasi 3D, ia tetap percaya bahwa 2D selalu memiliki tempat tersendiri di hati penggemarnya (mungkin juga karena Lasseter sangat ngefans dengan karya Hayao Miyazaki dan Studio Ghibli yang mayoritas 2D). Berangkat dari keyakinan itu film The Princess and The Frog yang merupakan adaptasi bebas dari novel anak-anak The Frog Princess dibuat. Satu hal yang menarik di sini adalah ini juga merupakan kembalinya Disney pada tema “putri yang jatuh cinta pada pangerannya”. Unsur cinta ini tidak pernah menjadi fokus utama dalam film Pixar sehingga saya penasaran dengan kembalinya Disney pada unsur klasik ini.

Film yang disutradarai oleh duet Ron Clements dan John Musker (Aladdin, Hercules) ini mengisahkan gadis African-American bernama Tiana. Tiana dan ayahnya selalu bermimpi semenjak kecil untuk memiliki restoran sendiri. Ketika ayahnya sudah tiada sekalipun, hasrat Tiana tidak pernah padam. Ia terus bekerja keras (dua hingga tiga shift seharinya) sampai mengabaikan kehidupan sosialnya demi bisa menabung dan membeli tempat untuk membuka bisnis restorannya. Satu moto yang dipegang Tiana sejak kecil adalah: “memohon keajaiban pada bintang hanya separuh jalan, karena separuhnya lagi adalah sesuatu yang harus kamu upayakan sendiri”.

Prinsip itu berkebalikan 180 derajat dengan pangeran Naveen. Pangeran ini berbeda total dengan para pangeran Disney lainnya. Bila pangeran Disney yang lain sigap dan gagah membunuh naga demi menyelamatkan sang putri yang tertidur, Naveen ini kerjanya malahan bernyanyi dan berdansa sepanjang hari. Setelah orang tua Naveen sumpek dengan tingkah laku sang anak dan memotong akses keuangannya pun, pangeran muda itu tidak kapok tetapi malahan menyusun rencana menikahi seorang gadis bangsawan yang kaya untuk membiayai hidup hedonismenya. Sial bagi Naveen, ia malah terkena kutukan Voodoo seorang misterius bernama Shadow Man dan berubah menjadi kodok. Karena tautan nasib, bertemulah Tiana dan Naveen. Akankah kedua orang yang hidup dan prinsipnya begitu bertolak belakang ini bisa saling jatuh cinta?

Sebelumnya saya perlu mengatakan kalau The Princess and The Frog berbeda dengan karya-karya animasi Disney lainnya. Walaupun didaulat sebagai kembalinya Disney ke dunia 2D, sebenarnya animasi dalam film ini sebagian dirender dengan komputer. Bagaimana perbedaannya di layar lebar sendiri jujur saja saya kurang paham (karena terlalu teknis). Toh dari sisi penceritaannya sendiri memang Disney membuktikan janjinya. Ada begitu banyak nilai nostalgia yang langsung mencuat di memoriku begitu menonton film ini. Melihat keindahan New Orleans yang kaya warna dan kehidupan di dalamnya, melihat berbagai karakter dalam film ini; mulai dari Tiana yang mandiri (juga seorang princess yang rasnya African-American pertama dalam Disney!) sampai Ray si kunang-kunang romantis dan Louis si buaya pecinta musik membuat kesan yang kuat di benakku. Ceritanya pun tidak sesederhana bayangan banyak orang walaupun memang masih jauh dari keorisinilan karya-karya Pixar.

New Orleans adalah kota lahirnya musik jazz dan banyak sekali musik dan lagu dalam film ini yang terinspirasi darinya. Komposer dalam film ini sendiri ditangani oleh Randy Newman, bukannya Alan Menken yang dulu biasa menangani musik-musik klasik Disney. Saya sih tidak ambil pusing karena saya fans dari keduanya. Alan Menken dulu pernah menciptakan lagu-lagu memorable seperti Beauty and the Beast dan A Whole New World, tetapi Randy Newman juga mengisi Toy Story dengan lagu-lagu indah seperti You’ve Got A Friend In Me dan When She Loved Me. Randy Newman sendiri sebelumnya pernah menjadi komposer utama lima film Pixar lain mulai Toy Story sampai Cars (dan Toy Story 3 tahun 2010 ini). Saya persingkat saja komentar saya untuk bagian musik film ini dengan satu kesimpulan: semua lagu film ini mencengangkan, dan kamu harus membeli soundtracknya bila bisa menemukannya.

The Princess and The Frog bukan sebuah karya animasi tanpa kelemahan. Saya merasa bahwa cerita yang setiap lima hingga sepuluh menit terpotong orang-orang menyanyi terasa agak menganggu flow film secara keseluruhan. Terlepas dari itu, film ini adalah satu film yang saya rekomendasikan bagi siapapun juga - baik para orang tua yang hendak bernostalgia dengan masa lalu mereka maupun anak-anak yang perlu tahu bahwa film animasi itu tidak melulu 3D.

Score: 8.3

Movie Details
Director: Ron Clements, John Musker
Cast: Anika Noni Rose, Bruno Campos, Keith David
Running Time: 97 Minutes

Comments (4)

Tags: , , , , , , , , , ,

Kingdom Hearts 358/2 Days

Posted on 22 December 2009 by Si Tukang Review

Kingdom Hearts 358/2 Days Cover

Kingdom Hearts 358/2 Days Cover

Akhir-akhir ini Square Enix punya kebiasaan untuk membuat cerita tambahan di luar jalan cerita franchise utama mereka. Contoh yang paling mudah dikenali adalah Final Fantasy VII. Selama hampir satu dekade gamer hanya mengenal petualangan Cloud dan kawan-kawan menghentikan meteor yang disummon oleh Sephiroth dan menyelamatkan Gaia. Eh, mendadak saja sekarang ada Before Crisis yang menceritakan anggota The Turks, Crisis Core yang mengisahkan petualangan Zack, Advent Children yang adalah sekuel resmi dari Final Fantasy VII dan Dirge of Cerberus di mana Vincent menjadi tokoh utama. Lihat singkatannya: dari AC sampai DC lengkap semua! Setelah tidak bisa lagi meneruskan franchise Final Fantasy VII, pria yang ‘bertanggung-jawab’, Tetsuya Nomura, mengalihkan perhatiannya pada franchise Square Enix yang ngetop lainnya: Kingdom Hearts.

Walau saya tidak pernah memainkan semua game Kingdom Hearts sebelum 358/2 Days, saya tahu bahwa di awal kemunculannya, Kingdom Hearts disebut sebagai pernikahan dari karakter Final Fantasy dan Disney. Selain mengendalikan Sora, karakter orisinil yang didesign Nomura untuk franchise ini, kamu juga didampingi oleh Donal dan Gufi dalam petualanganmu, ditambah dengan menjelajahi berbagai dunia Disney dan bertemu dengan karakter-karakter dari dua dunia yang menjadi kawan maupun lawanmu. Tak disangka apa yang seharusnya merupakan cerita ala fanfic kemudian berkembang. Seusai Kingdom Hearts pertama, Square Enix merilis Kingdom Hearts: Chain of Memories dan disambung oleh Kingdom Hearts II. Seusai Kingdom Hearts II, seharusnya cerita Sora dan kawan-kawan sudah usai, tetapi Square Enix tidak berpendapat demikian (baca: mereka belum cukup mengeruk kantong para gamer). Nomura kemudian menyatakan bahwa ia sudah mempersiapkan dua game untuk dua sistem handheld yang berbeda: Kingdom Hearts 358/2 Days untuk DS dan Kingdom Hearts: Birth By Sleep untuk PSP. 358/2 Days lebih pertama diluncurkan, jadi bagaimanakah hasilnya?

Berbeda dengan ketiga game Kingdom Hearts sebelumnya (empat bila kamu menghitung remake Chain of Memories di PS2), dalam game ini kamu tidak mengendalikan Sora si karakter utama tetapi Roxas, karakter Nobody dari Sora. Apabila kamu belum pernah memainkan game Kingdom Hearts sebelumnya sepertiku, saya jamin kamu bakalan kebingungan mendengar istilah Roxas, Nobody, Heartless, Organization XIII, dan berbagai istilah lainnya. Bila memang demikian (dan bila kamu malas memainkan game Kingdom Hearts sebelumnya) saya menyarankan untuk kamu setidaknya membuka Wikipedia atau mencari-cari tahu dulu cerita mengenai game sebelumnya karena 358/2 Days tidak mau repot-repot menarasikannya ulang padamu. Tidak untuk memberi spoiler lebih lanjut, 358/2 Days mengambil setting waktu antara Kingdom Hearts: Chain of Memories dan Kingdom Hearts II sembari menunjukkan kepada gamer apa kiranya yang terjadi pada Roxas selama dia berada di Organization XIII, dan hubungannya dengan anggota keempat belas dari grup tersebut: Xion, yang adalah karakter orisinil game ini.

Apabila sebelum ini game Kingdom Hearts mengambil jalan cerita petualangan, 358/2 Days tidak bisa melakukan hal yang sama karena kemampuan hardware yang kurang memadai. Untuk mengakalinya, Square Enix memakai cara yang (hampir) sama dengan Crisis Core yaitu dengan membagi jalan cerita pada berbagai misi. Artinya kamu akan selalu memulai hari-harimu sebagai Roxas dalam markas Organization XIII sebelum diutus ke berbagai dunia untuk menjalankan misi yang disediakan. Ini juga sekaligus mengurangi kebebasanmu untuk menjelajahi dunia-dunia sesuai keinginanmu. Misalnya kamu hendak pergi ke dunia Aladdin di Agrabah tapi tidak ada misi yang mengharuskanmu pergi ke sana? Ya kamu tidak bisa pergi ke sana. Keterbatasan ini sebenarnya sangat saya sayangkan, walaupun saya juga tidak menyalahkan Square Enix sepenuhnya.

Setidaknya Square Enix berusaha menebus ini dengan memberi kita sistem panel yang inovatif. Sistem panel memberimu kebebasan untuk mengkustomisasi Roxas semaumu. Ingat sistem inventori baru Resident Evil yang diperkenalkan mulai serial keempatnya? Seperti itulah kamu bisa mengkustomisasi Roxas. Roxas akan memiliki slot-slot yang bisa diisi berbagai jenis kotak di dalamnya. Kotak ini bisa merepresentasikan segala sesuatu mulai dari menambah status Roxas, memberinya kemampuan sihir, melengkapinya dengan item, mengequip senjata, bahkan level up. Betul, dalam game ini status Roxas tidak akan begitu saja langsung bertambah setelah kamu level up, sebaliknya kamu akan mendapatkan kotak level-up yang bisa kamu pasang di dalam panelmu bila kamu inginkan. Pada awal permainan, Roxas hanya memiliki sedikit panel yang terbuka untuk dipasang tapi akan terus bertambah seiring kamu menyelesaikan misi-misimu. Sisanya tergantung imajinasimu. Apakah kamu ingin meningkatkan level Roxas setinggi-tingginya dengan memasukkan semua kotak level-up dalam panelmu? Ataukah kamu ingin menjadikan Roxas tukang pukul dengan memasukkan item penambah kekuatan serangan Roxas? Atau mungkin lebih senang menjadikan Roxas penyihir tangguh dengan memasukkan berbagai jenis elemen sihir dalam panelnya? Terserah kamu! Asal tahu saja, setiap misi yang harus diemban Roxas memiliki tantangan yang berbeda dan menantangmu mencari sistem panel terbaik untuk menyelesaikan misi tersebut secara efektif dan efisien.

Saya banyak membaca review yang memuji-muji kualitas audio visual dalam game ini, dan saya bisa bilang bahwa saya tidak sepenuhnya setuju. Untuk kualitas audionya saya senang dengan sentuhan Yoko Shimomura yang musiknya banyak dipakai ulang dan diremake dalam 358/2 Days. Sayangnya itu juga berarti saya seperti mendengar remake dari remake, mengingat Shimomura sendiri sudah meremake lagu-lagu klasik Disney ketika dia menggubahnya untuk Kingdom Hearts. Tapi yang paling mengangguku adalah kualitas visualnya. Walaupun kota-kota dan dunia Disney yang beraneka ragam terasa impresif untuk ukuran DS, entah kenapa mereka semua terasa… mati. Setiap kali Roxas berpetualang dalam misinya saya tidak pernah melihat ada orang siapapun, kecuali beberapa karakter Disney yang ‘kebetulan’ kamu temui dan para Heartless yang kamu lawan. Apakah gamer lain yang pernah memainkan Kingdom Hearts bisa mengkonfirmasi game sebelum 358/2 Days juga serupa? Aneh melihat Agrabah dalam film Aladdin begitu penuh kehidupan mendadak menjadi lenggang dalam game ini ketika dijelajahi Roxas. Game ini memang berusaha menjelaskan dengan mengatakan bahwa badai pasir terus menghantam Agrabah sehingga menganggu kehidupan di sana, tetapi setelah Genie datang dan menghilangkan badai pasir pun kota tersebut tetap melompong kosong. Uh… apa serunya berkelana di kota mati hanya untuk menghajar para Heartless semata? Dan walaupun saya sudah hampir menyelesaikan game ini, tidak sekalipun saya menemui karakter dari Final Fantasy di dalamnya. Tidakkah Kingdom Hearts seharusnya merupakan gabungan dari dunia Disney dan Final Fantasy? Ke mana para karakter Square Enix tersebut? Ke mana Cloud dan Squall?

Singkat kata, Kingdom Hearts 358/2 Days adalah sebuah game yang hanya bisa dinikmati oleh penggemar berat Kingdom Hearts. Kurangnya introduksi pada cerita dan minimnya presentasi yang disediakan takkan membuat gamer baru menyukainya. Daripada membuang waktu main game ini, kenapa tidak menantikan datangnya Kingdom Hearts III saja?

Final Verdict

Gameplay: 7.0
Saya suka dengan sistem panel yang membuat setiap pertarungan battle menjadi mengasyikkan dan berbeda-beda. Bertarung bersama dengan teman dengan sistem Wireless juga menjadi pengalaman baru sendiri. Sayangnya, game ini membosankan dengan sistem misi-misinya yang monoton dan kurang variatif.

Graphic / Sound: 7.0
Kualitas grafisnya entah kenapa terasa hambar di mataku. Pemilihan warna-warnanya terasa mati dan kurang hidup - apa lagi bila dibandingkan dengan film animasi Disney yang biasa saya tonton. Selalu mendengar bahwa Kingdom Hearts memiliki design yang spektakuler membuat saya kian kecewa melihat dunia-dunia Disney dihadirkan secara biasa-biasa saja dalam layar DS yang kupelototi. Yah setidaknya remake musik Disney tetap nendang dari speaker DSku.

Play Time: 8.0
Menyelesaikan jalan cerita utamanya sendiri bisa memakan waktu 20 jam lebih, tetapi 358/2 Days memiliki banyak misi-misi tantangan (Challenge) yang sulit dan menantang ketangkasanmu untuk diselesaikan. Sukses menghadapinya juga akan memberimu item-item langka yang bisa kamu dapat dari para temanmu atau Moogle yang dengan senang hati akan menukarkan medali penghargaanmu dengan hadiah.

Overall: 7.3

Game Details
Developer: Square Enix
Publisher: Square Enix
Genre: Action RPG

Comments (8)

Tags: , , , , ,

Toy Story

Posted on 08 September 2009 by Si Tukang Review

Toy Story Poster

Toy Story Poster

Saya rasa sudah sepantasnya kalau film Pixar pertama yang saya review adalah Toy Story. Tidak hanya film ini merupakan film karya Pixar yang pertama, ini juga film animasi 3D pertama. Semua film animasi 3D yang kamu tonton hari ini berhutang banyak pada Toy Story. Saya ingat bahwa pertama kali menonton film ini pada tahun 1995, saya tidak bisa membayangkan seperti apa yang namanya film animasi 3D. Apa bisa semenarik karya-karya animasi 2D Disney seperti The Lion King atau Pocahontas? Toy Story menjawab keraguan itu dan langsung membuat saya - dan jutaan anak di dunia saat itu - jatuh hati dengan genre baru ini. Bayangkan bila Toy Story gagal saat itu! Mungkin saja dunia animasi tidak akan sama seperti sekarang!

Selama ini Woody sang koboi selalu menjadi mainan favorit Andy sehingga ketika sebuah model Space Ranger baru bernama Buzz Lightyear merebut posisinya, Woody langsung cemburu buta. Perselisihan antara Woody dan Buzz kian mencuat karena Buzz tidak sadar bahwa dirinya adalah mainan (menyangka bahwa dirinya itu Buzz Lightyear sungguhan). Puncak dari perselisihan tersebut menimbulkan tragedi ketika Buzz dan Woody kemudian terjatuh di jalanan dan terpisah dari Andy. Lebih tragis lagi mereka kemudian diambil oleh Sid, tetangga Andy yang kejam terhadap para mainan. Apakah keduanya bisa menemukan jalan mereka kembali kepada Andy lagi?

Menonton Toy Story tidak pernah membuat saya bosan. Sebelum saya menulis review ini saya sengaja menontonnya lagi untuk menyegarkan ingatan saya. Nyatanya walau sudah menonton film ini untuk kelima kalinya saya masih saja takjub dengannya. Terhitung sudah hampir 15 tahun berlalu semenjak film ini pertama kali keluar sehingga membandingkan kualitas animasinya dengan film-film baru Pixar seperti Wall-E dan Up tentu tidak adil. Toh dari Toy Story saja Pixar sudah membuktikan diri bahwa mereka tidak main-main dalam kualitas animasinya. Untuk tahun 1995, gerakan animasi para mainan sampai mimik muka dari Woody dan kawan-kawan tergolong sangat ekspresif. Dunia Toy Story pun penuh warna dan terbagi kontras antara kamar Andy yang ceria (kaya akan warna lembut) dan kamar Sid yang kelam dan gelap (dominan dengan warna-warna gelap). Toy Story juga memiliki soundtrack utama lagu “You’ve got a friend in me” yang selain berirama country (sesuai dengan Woody si koboi) juga mengentalkan subyek persahabatan yang diangkat.

Cerita dalam Toy Story sendiri sangat kreatif. “Apa jadinya bila diam-diam tanpa sepengetahuanmu mainanmu hidup ketika kamu tidak bermain dengannya?” diramu dengan nuansa persahabatan di dalamnya sudah memberi film ini nilai plus dari segi konsepnya. John Lasseter juga sukses mengeksekusi konsep ini dalam ke dalam cerita dan dunia animasi mendapat Woody dan Buzz, dua sosok yang bertolak-belakang tapi dalam dunia animasi bahkan perfilman sekalipun sulit mencari kualitas persahabatan seperti yang dimiliki keduanya. Walau Pixar berbeda dengan Dreamworks yang kerjaannya mendatangkan bintang-bintang kelas atas sebagai pengisi suaranya, Woody dan Buzz termasuk pengecualian karena suara mereka diisi oleh Tom Hanks dan Tim Allen. Selain sosok Woody dan Buzz, saya menyukai sosok Sid si antagonis. Film animasi jaman sekarang seperti sudah kurang berani membuat karakter antagonis yang benar-benar jahat (biasanya cenderung bodoh) sehingga menonton seorang karakter yang benar-benar jahat macam Sid membuat saya teringat masa-masa di mana saya benar-benar bisa dibuat geram oleh seorang antagonis.

Pun hanya dalam tempo 81 menit, Toy Story sukses menjaga ritme penceritaannya. Mulai dari memperkenalkan kepada kita karakter Andy dan Buzz, menunjukkan kepada kita rivalisme mereka, sampai penyelesaian konflik yang begitu mendebarkan, semua adegannya efektif memajukan cerita dan tidak satu menitpun terasa terbuang sia-sia. Tidak heran bila di situs Rotten Tomatoes film ini mendapatkan nilai sempurna 100% atau dengan kata lain semua reviewer yang menonton film ini menilainya positif! Bila kamu menyangka bahwa hanya karena ia dirilis di tahun 1995 maka Toy Story sudah ketinggalan jaman, hapus pikiran tersebut dan burulah DVDnya. Film klasik ini hingga kini pun masih layak ditonton karena pesannya yang relevan dan tidak lekang oleh waktu.

Score: 9.7

Movie Details
Director: John Lasseter
Artist: Tom Hanks, Tim Allen
Running Time: 81 Minutes

Comments (5)

Tags: , , , ,

Disney Buy Marvel - My Thought

Posted on 04 September 2009 by Si Tukang Review

Berita terbesar dunia hiburan beberapa hari belakangan ini hanya satu: Disney membeli Marvel dengan harga USD 4 Milyar. Itu adalah pembelian terbesar dari Disney setelah sebelumnya membeli studio Pixar seharga USD 7.4 Milyar. Walau pembelian dari Disney kali ini jauh lebih kecil ketimbang saat mereka membeli Pixar, tidak semua pihak mengatakan pembelian yang dilakukan Disney kali ini langkah yang bagus. Ada pihak yang memuji (dan sudah banyak fanart di internet mengenai bagaimana kemungkinan kerjasama keduanya) tetapi ada juga yang mengkritik sampai mengatakan bahwa langkah Disney kali ini adalah blunder besar.

Beverly Hills Wolverine?

Beverly Hills Wolverine?

Kenapa timbul pendapat seperti itu? Hal ini mungkin karena di awalnya Pixar memang sudah bekerja sama dengan Disney sehingga ketika mereka hendak melepaskan diri dan berdiri independen, Disney bergerak cepat untuk langsung mengambil mereka. Disney juga sinonim dengan dunia kartun sehingga mengambil Pixar yang adalah studio animasi terbaik dunia saat ini merupakan langkah yang tepat. Ini berbeda dengan Marvel. Walaupun komik Marvel ditujukan untuk pangsa pasar anak muda cowo, pasar film mereka sedikit berbeda dengan Disney - begitu pikir banyak orang.

Tetapi bagi saya pemikiran tersebut adalah pemikiran yang dangkal.

Disney adalah kaisar dari dunia hiburan yang tak tergoyahkan. Dan yang terpenting: Disney tidak sinonim dengan anak kecil dan kartun saja. Sebagai contoh, selain Pixar, Disney juga memiliki studio film Buena Vista. Buena Vista memang merilis beberapa film anak-anak seperti G-Force atau Enchanted, tetapi mereka juga menghasilkan film-film dewasa seperti The Village (karya M. Night Shyamalan) dan Pirates of the Caribbeans (film pertama Jack Sparrow mungkin buat keluarga - tapi film kedua dan ketiganya? Nanti dulu!). Diversifikasi dari Disney makin terlihat jelas dengan studio ABC yang juga di bawahnya. Ini adalah studio TV yang menghasilkan serial seperti Lost dan Desperate Housewives, satu lagi tanda kalau Disney berani membidik kaum dewasa seperti dia membidik kaum anak-anak.

Dengan begitu banyaknya media yang disediakan Disney, saya rasa makin banyak lagi properti Marvel yang bisa disajikan di layar lebar. Satu poin pesimistis yang saya dengar dari banyak orang adalah bagaimana mereka mengatakan bahwa Marvel yang dibeli Disney tidak lengkap sebab dua peraup dollar utama mereka kini dikuasai oleh studio lain. Tidak salah. Franchise Spider-man sekarang dipegang Sony (yang triloginya mengeruk hampir USD 3 Milyar) sementara X-Men dipegang oleh 20th Century Fox (yang franchisenya mengeruk hampir USD 2 Milyar dengan perilisan spin-off Wolverine tahun ini). Tapi saya rasa Disney berani menatap masa depan, mereka tahu bahwa cepat atau lambat properti itu akan kembali ke tangan empunya - Marvel - dan dalam arti lain juga akan jatuh ke tangan mereka. Spider-man 4 mungkin lepas, tapi bagaimana dengan film-film manusia laba-laba atau mutant-mutant yang selanjutnya?

Kingdom Hearts IV - Square Enix + Marvel + Disney

Kingdom Hearts IV - Square Enix + Marvel + Disney

Bahkan sekarang pun Disney bisa mengambil franchise-franchise Marvel lainnya. Iron Man, Thor, Captain America, sampai film mega proyek Marvel The Avengers sangat mungkin sekali akan diedarkan nanti di bawah bender Buena Vista. Ingat bahwa film Iron Man yang pertama sepenuhnya diproduseri oleh Marvel (pengedaran dilakukan oleh Paramount yang kemudian mengambil beberapa persen komisi keuntungan). Disney yang menaungi Marvel kini tentunya memiliki hak mengedarkannya. Dan masih ada segudang konsep dalam dunia Marvel yang masih menunggu penayangan ke layar lebar. The Runaways, Deadpool, Black Panther, Luke Cage, banyak sekali superhero Marvel yang sangat berpotensi untuk diangkat. Ingat, Marvel bukan DC. Sementara DC melulu mengajukan Superman dan Batman untuk memuaskan penonton, Marvel berani bereksperimen dan mengirimkan superhero kelas A sampai C mereka. Kadang pertaruhan ini gagal dengan Elektra, tetapi acap kali mereka berhasil dengan superhero kelas C seperti Daredevil dan Ghost Rider mendapat status box office.

Kini dengan dibelinya House of Ideas oleh The Magic Kingdom, the possibility is limitless. Seberapa besar ini akan mengubah wajah dunia entertainment di tahun-tahun berikutnya, mari kita nantikan saja bersama.

Comments (2)

Tags: , , , , ,

Mickey Mania (SNES)

Posted on 22 August 2009 by Si Tukang Review

Mickey Mania Cover
Mickey Mania Cover

Tajuk sebuah game tidak pernah lebih tepat dari Mickey Mania: The Timeless Adventure of Mickey Mouse. Dirilis pada tahun 1994, game ini sebenarnya hendak dirilis untuk memperingati 65 tahun hari jadi sang tikus paling terkenal di dunia pada tahun 1993. Apa daya karena dianggap terlalu tergesa-gesa, Traveller’s Tales memutuskan untuk memundurkan perilisannya selama setahun. Kendati begitu, hasilnya terbayarkan karena Mickey Mania merupakan salah satu game platform 2D dengan penampilan terbaik di konsol SNES.

Seperti sub-judulnya, game Mickey Mania mengajak Miki untuk menjelajahi kartun-kartun klasiknya dari yang pertama (Steamboat Willie) hingga yang terbaru saat itu (The Prince and The Pauper). Total ada enam level yang diadaptasi dari versi kartunnya dan satu level orisinal untuk game ini.

Level-level game yang diangkat dari kartun memiliki nuansa klasik yang khas dan berbeda-beda. Yang pasti semuanya memorable dan menawarkan corak permainan yang cukup berbeda satu sama lain. Ingat bagaimana semua orang memuji Kingdom Hearts II yang dunia Steamboat Willie-nya hitam putih? Bagi saya hal itu biasa-biasa saja karena sedekade lebih sebelum game itu diluncurkan, Mickey Mania sudah lebih dulu mengeksplorasi kemungkinan tersebut. Grafis di Steamboat Willie hitam putih hampir di setengah awal stage sebelum gradasi menuju warna terjadi sedikit demi sedikit pada paruh kedua stage tersebut. Saya menyayangkan bahwa The Mad Doctor yang merupakan stage kedua digarap dengan warna padahal kartunnya sendiri hitam putih. Toh saya tidak bisa menyalahkan Traveller’s Tales. Masa dua level semuanya hitam putih? Satu-satunya kelemahan design stage ini justru di level terakhir (sekaligus orisinilnya). Traveller’s Tales memang sukses mengadaptasi kartun-kartun klasik Miki menjadi bentuk game - tetapi mereka gagal dalam menciptakan dunia fantasi mereka sendiri.

Seperti yang saya katakan, hampir semua level memiliki ciri uniknya sendiri. Di level kedua misalnya ada even kereta luncur di mana kamu harus terus menghindari jebakan sembari melompat untuk berganti kereta. Di level ketiga Moose Hunters malah tidak ada musuh selain rusa yang nantinya muncul sesekali dan kemudian mengejar-ngejarmu. Ini membuat game ini tidak pernah terasa membosankan dan menantang.

Departemen suara dalam game ini juga bagus. Saya tahu bahwa kebanyakan musik klasik yang mengiringi film orisinilnya secara misterius absen dalam game ini (apakah karena kesulitan memperoleh ijinnya?) tetapi sebagai gantinya kita disuguhi musik-musik baru yang uniknya pas dengan level-level di mana kita berpetualang. Beberapa yang paling memorable bagiku adalah musik di level Steamboat Willie, Moose Hunters, dan Lonesome Ghosts.

Banyak orang yang mengatakan kalau kesulitan game ini sangat tinggi. Saya sempat menonton review ScrewAttack di situs Gametrailers yang terang-terangan mengkritik kontrol game ini. Memang kontrol game ini bisa menyulitkan bagi pemula karena kamu tidak tahu apa-apa saja obyek yang bisa melukai Miki. Sekedar pemberitahuan: semua bisa melukai Miki di game ini. Apapun dari tulang belulang tengkorak, diseruduk rusa, pisau gerigi mesin, sampai musik nyanyian kambing dan ketel uap berpotensi membunuh Miki. Seakan-akan sang tikus menjadi musuh besar dari dunia animasinya sendiri. Kontrol yang kadang aneh seperti Miki bisa melompat tinggi dan rendah di lain waktu juga presisi lompat dari satu platform ke platform lain kadang memang menyebalkan dan menyulitkan - tapi tidak sampai pada tahap membuatmu ingin membanting kontroler gamemu ke layar kaca.

Game ini dirilis untuk beberapa konsol sekaligus. Sega Genesis, SNES, Sega CD, juga Playstation. Versi yang paling inferior adalah SNES karena ada satu level yang dihilangkan (The Band Concert) juga karena ada beberapa bagian dari level-level tertentu yang dihilangkan. Versi SNES ini juga dikenal memiliki loading time yang lebih lama dibandingkan versi-versi lainnya. Bila kamu selama ini hanya mengenal Castle of Illusion, coba simak juga petualangan Miki yang lain di Mickey Mania.

Final Verdict

Gameplay: 6.0
Kelemahan terbesar game ini ada pada kontrolnya yang kadang kaku dan aneh dalam pergerakan Miki. Sayang sekali karena sang developer sebenarnya sudah mencoba membuat gameplay di tiap levelnya berbeda.

Graphic / Sound: 9.0
Walau kadang kesal dengan loading time yang lama (karena hardware SNES kalah dalam memproduksi grafis 2D dibandingkan Sega Genesis) sulit untuk mendebat bahwa warna-warna cerah dan musik-musik variatif yang ditawarkan game ini adalah salah satu yang terbaik buat generasi 16-bit.

Play Time: 7.0
Karena game ini cukup sulit pada awalnya, kamu mungkin akan mati berulang kali sebelum menyelesaikan sebuah level. Toh tantangan nilai nostalgiauntuk menemukan dunia apa yang akan kamu jelajahi berikutnya akan membuatmu memainkannya lagi. Saya sendiri sudah berulang kali memainkan game ini sehingga tahu benar di mana jebakan-jebakan yang bisa mengancam keselamatan maskot Disney. Bila sudah tahu, menyelesaikan game ini pun jadi jauh jauh lebih mudah dan cepat.

Overall: 7.4

Game Details
Developer: Traveller’s Tales
Publisher: Capcom
Genre: Platform / Adventure

Comments (0)

Tags: , , ,

Beverly Hills Chihuahua

Posted on 27 February 2009 by Si Tukang Review

Beverly Hills Chihuahua Poster

Beverly Hills Chihuahua Poster

Untuk para binatang, tahun 2008 bisa dibilang menjadi tahun untuk para anjing. Banyak sekali film mengenai sahabat terbaik manusia ini diangkat ke layar lebar, mulai dari Bolt, Marley and Me, juga Beverly Hills Chihuahua (BHC). Kendati begitu, semuanya menyorot pasar yang berbeda. Bolt berupa film animasi, Marley and Me lebih condong ke genre komedi romantis, sedangkan BHC merupakan tipe film ‘binatang berbicara’ macam Stuart Little.

Dimandikan, didandani, diberi makanan kelas atas, sampai dibawa ke hotel bintang lima dan salon supermodel. Itulah perlakuan yang tiap harinya diterima Chloe. Mungkin ini wajar apabila Chloe seorang gadis yang kaya; herannya Chloe sama sekali bukan gadis kaya. Dia bahkan bukan seorang gadis. Chloe adalah anjing betina yang tinggal di Beverly Hills bersama sang pemilik, Aunt Viv, yang begitu menyayangi dan memanjakan dia. Tidak heran Chloe begitu pongah dan tidak pernah mengindahkan Papi - anjing si tukang kebun yang sudah lama naksir dia.

Suatu hari, Aunt Viv terpaksa meninggalkan Chloe karena urusan pekerjaan. Ia menitipkan sang anjing kepada kemenakannya Rachel, tanpa peduli bahwa kedua belah pihak saling tidak suka. Rachel yang tidak mau terpasung oleh jadwal Chloe membawanya pergi berjalan-jalan juga ke Meksiko. Celakanya, Chloe malahan diculik orang dan dibawa ke tempat adu anjing (Dogfight Arena). Berkat bantuan Delgado, seekor anjing German Shepherd, ia berhasil meloloskan diri. Si anjing manja kini harus bertahan hidup di jalanan Meksiko (yang bak neraka dibandingkan dengan kehidupan surgawinya di Beverly Hills) sambil mencari jalan pulang. Rachel pun berusaha mati-matian mencari si anjing supaya tidak dimarahi oleh tantenya. Reuni keduanya takkan mudah karena Chloe yang berharga diincar untuk dijadikan sandera oleh sindikat penjahat.

Sebelum menuding film ini dangkal dan klise, harap diingat bahwa ini adalah filmnya Disney. Dan sebagaimana tipikal film Disney lainnya, BHC adalah tipe film ‘feel-good movie‘; kamu menontonnya untuk hiburan ringan, tertawa, dan mendapatkan satu dua pesan positif tanpa perlu mengingatnya di kemudian hari (kecuali kalau kamu berumur di bawah 10 tahun dan masih terpikat akan anjing yang bisa ngobrol). Saya yang datang menonton film ini tanpa ekspektasi apa-apa nyatanya tetap bisa enjoy dengan film ini, maklum - saya memang pecinta anjing.

Karakter dalam BHC yang cukup banyak tak berarti membuat film ini membingungkan. Walau porsi utama cerita difokuskan pada upaya Chloe dan Rachel bertemu kembali, Gosnell masih bisa menyelipkan nilai-nilai persahabatan dan romantisme antara trio Chloe, Delgado, dan Papi. Melihat chemistry ketiganya yang saling mengisi dan klop (walaupun saya lebih menyukai Delgado), saya geregetan karena Gosnell tidak berani menciptakan unsur cinta segitiga dalam film ini. Apa boleh buat, barangkali sang studio melarang tema ini untuk film dengan segmen kanak-kanak. Celakanya, Gosnell malah menutupinya dengan tambahan aneh-aneh seperti tur ke vila para Chihuahua (maunya imut atau lucu - jadinya malahan jayus).

Begitu banyak potensi dalam film ini akhirnya gagal dikembangkan dan dimaksimalkan. Gara-gara itu, BHC pun jatuh menjadi sebuah film yang menghibur - tapi tidak lebih.

Score: 6.0

Movie Details
Director: Raja Gosnell
Cast: Drew Barrymore, Piper Perabo, Andy Garcia, George Lopez
Running Time: 91 Minutes

Comments (4)

Tags: , , ,

Bolt

Posted on 08 February 2009 by Si Tukang Review

Bolt Poster

Bolt Poster

Director: Byron Howard, Chris Williams
Artist: John Travolta, Miley Cyrus, Susie Essman
Running Time: 103 Minutes

Seusai menonton Bolt, ada suatu rasa heran yang terlintas di hati saya. Kok rasanya bukan seperti menonton film animasi Disney, malahan seperti habis menonton animasi garapan Pixar ya? Baru setelah melihat nama John Lasseter yang duduk di kursi eksekutif produser, saya ber”oo…” panjang. Pantas saja ada aroma Pixar yang kental di film ini.

Bolt semula hanya seekor anjing biasa. Dipungut oleh Penny dari tempat penampungan anjing liar, ia memperoleh kekuatan super melalui eksperimen riset ayah Penny. Setelah ayah Penny disekap oleh penjahat dari organisasi kriminal, Bolt berusaha mati-matian melindungi Penny dari para penjahat yang mengincar Penny juga. Tentu saja memiliki kekuatan super macam sinar mata infra merah, gonggongan super akan membantu dalam sepak terjangnya.

Yah… setidaknya itulah yang dipikir oleh Bolt. Ia berpikir bahwa dirinya adalah seekor anjing super. Padahal sesungguhnya, ia hanyalah seekor anjing bintang film biasa. Sang produser memutuskan untuk merahasiakan hal ini dari Bolt (memangnya anjing bisa mengerti hal ini?) karena menurutnya “bila sang anjing merasa bahwa hal ini serius, maka seluruh penonton juga akan merasa begitu“. Suatu hari, skenario mengharuskan Penny disekap oleh sang organisasi untuk diselamatkan oleh Bolt keesokan harinya. Tak disangka-sangka, Bolt yang mengira hal ini benar-benar terjadi meloloskan diri dari kandangnya dan berpetualang ke dunia luar mencari Penny. Jelas ia kalang kabut begitu sadar bahwa kemampuan supernya tak berguna di dunia luar. Bisakah Bolt menemukan jalan pulangnya kembali pada Penny?

Kalau kamu cermat mengamati, kamu akan mendapatkan bahwa banyak unsur dalam film Bolt ‘meminjam’ unsur dari film Pixar, terutama Toy Story. Karakter Bolt misalnya memiliki permasalahan yang serupa dengan Buzz Lightyear karena menyangka bahwa dirinya memiliki kekuatan super - padahal tidak. Konflik pada paruh kedua film mengenai apakah Bolt mau pulang atau tidak kepada Penny pun serupa tidak sama dengan konflik apakah Woody hendak pulang pada Andy atau tidak dalam Toy Story 2 (spoiler: bahkan Mittens yang melarang Bolt kembali pun memiliki alasan yang sama dengan kenapa Jessie melarang Woody kembali).

Hanya menyebutkan kemiripan Bolt dengan animasi-animasi lain tentu tidak adil. Bolt layak mendapat pujian karena berhasil mengangkat kisah mengenai hubungan anjing dengan majikan yang menyentuh (bahkan menurut saya ini film animasi pertama yang mengangkat tema ini; 101 Dalmations dan Lady and the Tramp tidak mengutamakan hubungan anjing dengan sang majikan). Mereka yang pernah memelihara anjing kurasa akan tersentuh - mungkin bahkan menitikkan air mata - melihat pengorbanan kedua belah pihak untuk bisa bertemu kembali. Cerita yang mengesankan ini pun diiringi oleh lagu Barking at the Moon yang mengena dalam merefleksikan cerita film ini.

Sama-sama hadir sebagai animasi penutup tahun 2008, Bolt jauh jauh jauh lebih mengesankan ketimbang Madagascar: Escape 2 Africa. Bagi yang pernah memiliki binatang peliharaan, film ini akan mengingatkanmu kenapa anjing dijuluki sahabat terbaik manusia.

Score: 8.0

Comments (1)

Advertise Here
Advertise Here