(Review Ditulis Di Tahun 2005)
Sahara sedikit banyak akan mengingatkan kita pada National Treasure. Film bertema petualangan yang dirilis pada akhir tahun lalu dan dibintangi oleh Nicholas Cage. Dengan dukungan satu bintang kocak sebagai sidekick tokoh utama, dan seorang gadis seksi yang menemani sang jagoan dalam petualangannya – makin kental sudah aroma National Treasure di dalamnya ! Film ini berkali-kali mengalami penundaan dan pengubahan dalam jalan ceritanya, sehingga membengkakkan dananya menjadi 130 Juta US Dollar. Ironisnya, film dengan budget raksasa ini bukannya dirilis di masa summer di mana film besar mengeruk uang, melainkan di bulan April yang notabene adalah bulan ‘mati suri’ industri perfilman sebelum opening summer pada bulan Mei.
Sahara mengangkat seorang karakter petualang dari novel sebagaimana halnya Quatermain (dari novel King Solomon’s Mine). Namanya Dirk Pitt. Dirk Pitt ini tergabung dalam sebuah organisasi pencarian laut bernama NUMA. Dalam misi terakhirnya, ia menemukan sebuah koin dari sebuah kapal karam yang konon hilang di benua Afrika negara Mali. Karena itu, ia bersama temannya Al segera menuju ke sana untuk mencari kebenaran kabar tersebut. Seorang dokter WHO yang hendak meneliti mengenai wabah aneh yang menyebar juga ikut serta dengan mereka. Dokter seksi Eva Rojas ini kemudian terjebak dalam sebuah konspirasi politik dari diktator Mali papan atas. Tentu saja Dirk dan Al tidak membiarkan Eva sendiri. Mereka segera membantu dan menemukan kengerian yang sesungguhnya. Sebuah ‘wabah’ yang kalau tidak segera ditangani bisa jadi menyebar ke seluruh dunia !!
Sahara menawarkan sebuah jalan cerita petualangan yang melintasi benua Afrika. Karena letaknya di benua yang berbeda dari Amerika, maka otomatis kesan petualangannya jauh lebih terasa ketimbang National Treasure. Lagipula film ini jauh lebih mementingkan aroma petualangan yang ada di dalamnya, ketimbang National Treasure di mana unsur memecahkan kode jauh lebih dominan sebagai plot utama. Sayangnya plot utama film ini agak kacau balau. Mungkin karena ekspektasi penonton yang lebih mengharapkan pencarian akan dikecewakan perubahan plot di pertengahan film. Untungnya saja, aroma petualangan yang mulai tercemar misi penyelamatan dunia dapat diselamatkan oleh chemistry pas antara Dirk dan Al. Keduanya bersama membuat para penonton lebih segar dalam mengikuti jalan cerita yang ditawarkan. Penampilan Penelope Cruz di sini sayangnya tidak jauh dari penyedap mata saja. Banyak memang plot hole dalam film semacam ini, sayangnya Sahara bahkan melebihi batas-batas kewajaran dalam plot hole. Adegan terdampar dalam gurun saja sudah cukup konyol, bagaimana kalau ditambahi memasukkan sarung tangan dalam jok mobil di mana sarung tangan itu berkemungkinan terisi virus mematikan ? Itu hanya beberapa saja yang perlu saya sebutkan, karena ada begitu banyak kejadian nyeleneh yang mungkin membuat kita geleng-geleng sambil berharap melupakannya.
Satu hal unik yang mungkin layak dicatat adalah pembawaan musik latarnya. Silih berganti kita disuguhi lagu pop dan lagu kultural Afrika. Herannya, perpaduan ini malah cukup menyegarkan. Cukup enak mendengar lagu-lagu bertipe Afrika yang secara langsung dimedley dengan beat-beat dari lagu pop. Saya harus akui ini termasuk ide yang lumayan original dan tergarap dengan baik pula. Perpaduan musik ini cukup menolong film ketika tengah memasuki masa jenuhnya.
Secara keseluruhan, Sahara sebenarnya berpotensi untuk dirilis pada musim summer box office, entah apa yang ada di otak para produsernya sehingga merilisnya malah di saat seperti ini. Toh, Sahara tetap layak ditonton bila anda sekedar mencari tontonan segar tanpa perlu banyak memakai otak.
Score: 6.5
Movie Details
Director: Breck Eisner
Cast: Matthew McConaughey, Steve Zahn, Penelope Cruz
Running Time: 124 Minutes








