Tag Archive | "DC"

Tags: , , , , , , , ,

Justice League: Crisis On Two Earths

Posted on 05 March 2010 by Si Tukang Review

Justice League: Crisis On Two Earths DVD Cover

Justice League: Crisis On Two Earths DVD Cover

Sebuah film animasi direct-to-DVD yang baru lagi dari DC! Kelihatannya film animasi sekarang telah menjadi media yang tepat untuk mentranslasikan serial-serial komik DC dan Marvel. Justice League: Crisis on Two Earths merupakan titel yang spesial karena untuk pertama kalinya DC mengangkat kata ‘Crisis’ yang sinonim dengan judul-judul besar ke layar lebar.  Seperti halnya Green Lantern: First Flight yang dirilis beberapa waktu lalu, Crisis on Two Earths menanamkan benih krisis lebih besar yang nantinya akan mengancam seluruh multiverse DC.

Kalau kalian belum terlalu familiar dengan konsep multiverse DC, saya sarankan untuk membaca review saya mengenai graphic novel Crisis on Infinite Earths, Infinite Crisis, dan 52. Kelamaan apabila saya harus menjelaskan lagi mengenai asal muasal dan arti multiverse. Intinya universe yang pembaca komik kenal selama ini tidak hanya satu. Di jagad raya yang kita kenal sekarang ini Superman, Batman, Wonder Woman, dan para jagoan lain membentuk Justice League dan merupakan pelindung bumi. Akan tetapi, belum tentu kenyataan begitu sama di setiap jagad raya lainnya.

Pada awal film ini, diperlihatkan Lex Luthor dan The Joker tengah bekerja sama untuk membobol sebuah brankas rahasia. Lagi-lagi rencana iblis? Tunggu dulu. Ada yang aneh. Di sini Joker mendadak saja mengorbankan diri supaya Lex bisa lolos dari kejaran musuh mereka. Lebih anehnya lagi, para superhero yang muncul dengan kejinya membunuh The Joker yang sudah tidak berdaya melawan. Ini karena dunia yang kita lihat bukanlah dunia kita biasa melainkan sebuah dunia lain bernama Earth-Two. Di sini peran masing-masing karakter terbalik. Lex Luthor dan The Jester (versi The Joker dunia ini) adalah pemimpin Justice League sementara Ultraman (Superman), Owlman (Batman), Superwoman (Wonder Woman), dan yang lainnya justru membentuk liga kejahatan yang bernama Crime Syndicate of America (CSA).

Lex yang terdesak menggunakan barang yang tadinya dicuri dari brankas untuk pindah dimensi ke dunia para superhero DC. Walaupun semula sempat terjadi salah sangka (maklum, Lex Luthor kan penjahat besar di dunia ini), Superman dan anggota Justice League lain bersedia untuk membantu Lex. Permasalahan ternyata jauh lebih pelik daripada yang dibayangkan semula. Di dunia Earth-Two, bahkan para penduduk bumi sudah ketakutan dan tidak berani melawan para CSA. Satu-satunya yang menghentikan CSA mengambil alih pemerintahan adalah senjata nuklir yang siap diledakkan oleh sang presiden apabila CSA melakukan kudeta. Tambahan lagi, Owlman (kembaran Batman) ternyata memiliki adegan terselubung…

Secara keseluruhan, saya lebih puas dengan Crisis on Two Earths dibandingkan percobaan DC sebelumnya (Superman/Batman: Public Enemies). Pertarungan demi pertarungan yang disajikan kali ini juga lebih kreatif mengingat ada lebih banyak karakter yang tergabung di sini. Walau penuh dengan baku hantam di sana-sini, Crisis on Two Earths tidak melupakan cerita. Satu hal terpenting yang akhirnya berhasil diangkat film ini adalah menahbiskan konsep multiverse di bumi. Konsep dunia paralel ini dijelaskan kepada penonton oleh Owlman (dalam adegan di mana ia menjelaskan pada Superwoman) dengan sangat jelas sehingga semua orang pasti bisa mengertinya. Ini tentu membuka jalan crossover-crossover yang lebih megah lagi di masa mendatang. Crisis on Infinite Earths anyone?

Crisis on Two Earths ini juga tentunya tidak sempurna. Beberapa karakter seperti Green Lantern atau Wonder Woman seakan hadir sebagai tempelan saja di film ini sementara Martian Manhunter dan Batman lebih dikedepankan. Mungkinkah ini karena Green Lantern dan Wonder Woman sudah pernah mendapatkan feature filmnya sendiri? Omong-omong soal sosok Green Lantern, saya menerima dengan baik perubahan karakter dari John Stewart ke Hal Jordan. Maaf bung Stewart, but Hal Jordan really is the greatest GL ever.

Meski demikian, perubahan para pengisi suara film ini tidak saya terima dengan baik. Untuk pertama kalinya pengisi suara film ini adalah nama-nama yang sama sekali tidak familiar di telinga saya. Siapa itu Mark Harmon? Vanessa Marshall? James Woods? Ke mana Kevin Conroy? Keri Russell? Tim Daly? Saya sangat kecewa para karakter yang biasa mengisi suara para anggota Justice League ini absen secara misterius. Walaupun para pengisi suara film ini tidak buruk-buruk amat, mereka masih kalah kelas dengan para pengisi suara terdahulu yang sudah memiliki pengalaman dan intimasi dengan karakter-karakter superhero DC. Satu-satunya yang memiliki kualitas di atas rata-rata hanyalah James Woods yang mengisi suara Owlman.

So my verdict is… apabila kamu penggemar komik-komik DC, apa lagi yang kalian tunggu? Segera buru film ini karena dijamin takkan mengecewakanmu!

Note: Saya menonton versi bajakannya, untuk versi aslinya ada bonus animasi pendek mengenai The Spectre, salah satu sosok terkuat di karakter DC yang adalah roh pembalas dendam. Oh ya, Sam Liu yang menyutradarai film ini juga menyutradarai film Planet Hulk.

Score: 7.5

Movie Details
Director: Lauren Montgomery, Sam Liu
Cast: Mark Harmon, James Woods, Chris Noth, William Baldwin, Gina Torres
Running Time: 75 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , ,

52

Posted on 19 December 2009 by Si Tukang Review

52 DC Cover

52 DC Cover

52 adalah komik serial paling ambisius dari DC ketika ia diluncurkan tiga tahun yang lalu. Pada tahun 2005, dunia komik DC hancur lebur setelah akhir dari crossover besar-besaran Infinite Crisis. Herannya, apabila biasanya komik kembali mengikuti cerita setelah crossover berakhir, kebanyakan komik DC tidak demikian. Justru komik-komik tersebut semuanya memiliki label OYL yang adalah singkatan dari One Year Later. Artinya semua komik DC pada akhir Infinite Crisis mendadak saja melompat satu tahun ke depan. Tentu saja ini membuat para pembaca bertanya-tanya mengenai apa gerangan yang terjadi selama jeda satu tahun itu? Nah di sinilah 52 mengambil alih.

Konsep 52 sederhana tetapi brilian karena setiap satu edisinya mengkronologikan satu minggu dalam dunia DC pada waktu jeda itu. Total 52 edisi berarti tepat mengkronologikan waktu setahun yang hilang, sekaligus menjawab misteri-misteri yang mungkin timbul saat para pembaca komik membaca serial komik favorit mereka. Keberanian DC untuk menggarap 52 tadinya dicemooh karena komik Amerika terkenal dengan jadwal terbit bulanan - kadang bahkan molor. Cemoohan dan cibiran di internet saat itu kebanyakan mempertanyakan ketepatan jadwal terbit “Jangan-jangan nanti 52 jadi 102 gara-gara molor!”. Toh cibiran berubah menjadi decak kekaguman ketika DC secara konsisten mampu menerbitkan komik mereka tepat waktu. Keberhasilan 52 dengan komik ini kemudian menjadi dasar dari susulan komik-komik mingguan mereka lainnya seperti Countdown, Trinity, atau Wednesday Comic. Tidak hanya itu, setelah kesuksesan komersial 52, Marvel selaku pesaing utama DC juga turut mengubah jadwal terbit komik Amazing Spider-man menjadi tiga kali sebulan guna bersaing.

Oke, bisa jadi komik 52 terbit tepat waktu - tetapi bagaimana dengan kualitasnya? Jangan-jangan hanya akan menjadi sempalan saja? Ketika DC mempromosikan 52, mereka mempromosikannya dengan janji sebuah dunia tanpa Superman, Batman, dan Wonder Woman di dalamnya. Walau saya heran, saya masih bisa mafhum karena DC memiliki karakter superhero sekunder lain seperti Green Lantern, Martian Manhunter, atau Green Arrow yang tidak kalah ngetop. Saya jadi lebih kaget begitu melihat deretan karakter utama yang diusung DC dalam 52: Renee Montoya, John Henry Irons (Steel), Booster Gold, Ralph Dibny (Elongated Man), Black Adam, dan The Question. Siapa saja mereka ini? Saya rasa kalau kalian bukan penggemar berat komik DC, mustahil untuk tahu karakter-karakter kelas C - bahkan D - dari DC ini. Tugas berat jelas disandang para penulis komik ini. Tidak hanya mereka harus menulis sebuah cerita yang menyambungkan akhir dari Infinite Crisis pada awal cerita OYL, mereka juga harus menjelaskan pada para pembaca siapa gerangan karakter-karakter yang bersliweran di halaman komik mereka.

Untungnya DC memang secara serius menggarap komik ini. Tidak hanya satu, dua, atau tiga tetapi empat orang penulis dikumpulkan oleh DC secara khusus untuk menggarap 52. Tidak tanggung-tanggung DC meminta Geoff Johns, Grant Morrison, Greg Rucka, dan Mark Waid. Walaupun sebelumnya hanya Geoff dan Greg yang mengajukan ide ini, DC sadar bahwa cerita sebesar ini perlu ditangani dalam satu tim yang koheren. Hasilnya seperti bisa ditebak: 52 menjadi sebuah cerita yang sangat kuat yang terbagi dalam multiple plot tetapi tidak pernah sampai membingungkan pembaca yang mengikutinya. Hebatnya lagi, tidak hanya para penulis DC ini berhasil dalam proyek 52, lebih penting lagi mereka berhasil mengangkat status keenam tokoh yang saya sebut di atas menjadi jagoan-jagoan kelas B DC. Terbukti Black Adam langsung naik pangkat jadi salah satu villain favorit saya seusai membaca buku ini sementara Booster Gold menjadi salah satu figur penting dalam dunia DC dan mendapat komik bulanannya sendiri.

52 adalah sebuah pertaruhan besar bagi DC, dan perusahaan komik tertua di Amrik itu memenangkannya secara gemilang. Sayangnya dua usaha berikutnya dari DC: Countdown (to Final Crisis) dan Trinity gagal mengulangi kesuksesan yang sama.

Score: 8.4

Graphic Novel Details
Writer: Greg Rucka, Geoff Johns, Grant Morisson, Mark Waid
Penciller: Various Artist
Publisher: DC Comics
Volume: 01 - 52

Comments (0)

Tags: , , , , , , ,

Batman Begins

Posted on 06 November 2009 by Si Tukang Review

Batman Begins Poster

Batman Begins Poster

(Review Ditulis Di Tahun 2005)

Franchise komik DC bisa dibilang mati bersamaan dengan berakhirnya franchise Batman pada tahun 1997. Film keempat Batman yang bertajuk Batman And Robin mendapat hujatan dan kecaman dari berbagai pihak. Banyak pihak menilai bahwa film Batman yang terakhir ini tidak sesuai dengan asal muasal sang dark knight yang lebih bernuansa kelam. Setelah mati suri sekitar 8 tahun, pada summer 2005, Batman kembali dihidupkan melalui film Batman Begins.

Dari nama yang disandangnya, tidak heran banyak orang lantas membanding-bandingkannya dengan film Batman yang pertama. Apa bedanya ? Bila Batman pertama lebih banyak menekankan mengenai aksi Bruce Wayne ketika ia sudah menjadi Batman, maka Batman Begins lebih menyoroti mengenai bagaimana proses perubahan Bruce Wayne yang notabene seorang manusia biasa menjadi seorang Batman yang lebih dari sekedar manusia biasa. Batman Begins dijanjikan oleh Christopher Nolan memiliki suasana yang kelam ketimbang colorful. Hal yang wajar mengingat dasar ceritanya diangkat dari Batman: Year One karya Frank Miller yang memang gelap. Hanya saja berbeda dengan nuansa dark yang ditawarkan Tim Burton, kekelaman tone Batman Begins lebih disebabkan oleh alur dan settingnya memang gelap.

Di masa itu, Gotham City adalah kota yang terbelah menjadi dua aspek sosial. Orang-orang berada memang memiliki kedudukan dan posisi sosial yang enak di mana mereka dapat hidup berfoya-foya, sementara di daerah kumuh, banyak orang yang tidak punya bahkan kesulitan untuk memenuhi sekedar kebutuhan perut mereka semata. Jurang sosial ini menyebabkan semakin banyak kriminalitas merajalela di Gotham. Bruce Wayne adalah korban dari kriminalitas ini, ayah dan ibunya yang tergolong darah ningrat diserang pada sebuah malam dan terbunuh di depan matanya sendiri. Berangkat dari peristiwa itu, Bruce muda menjadi seorang yang pendendam. Ia belajar mengandalkan amarah serta kebenciannya untuk menjadi pusat kekuatannya. Ia belajar menyelami pikiran para teroris agar suatu saat dapat membalaskan dendamnya. Di penjara, ia kemudian ditemukan oleh seorang Henry Ducard. Ducard adalah seorang anggota League of Shadows. Pemimpin League of Shadows; Ras Al Gul melihat potensi dalam diri Bruce untuk menjadi pemimpin League of Shadows miliknya.

Sayangnya, usai menjalani latihan, Bruce Wayne tetap tak membuang hati manusianya. Ia memutuskan bahwa cara dari League of Shadows terlalu ekstrim - ia pun kembali ke Gotham dan dalam kehidupan gandanya menjadi sang manusia kelelawar. Tentunya usahanya ini tidak mudah karena seluruh kota tengah berada dalam cengkeraman erat seorang bos mafia yang bekerja sama dengan pemimpin utama dari rumah sakit jiwa. Tidak berhenti sampai di sana, sebagai Bruce Wayne pun ia harus menghadapi masalah konflik internal dalam perusahaan yang diwarisi oleh ayahnya; juga masalah kehidupan asmaranya dengan gadis pujaannya: Rachel Dawes.

Cerita yang begitu kuat dalam film ini adalah kekuatan utama darinya. Christopher Nolan memang mengambil alur penceritaan maju mundur yang agak membingungkan di awal kisah. Hanya saja bila disimak dengan sungguh, alur cerita mengalir dengan enak dan mudah dimengerti dalam penuturannya. Motif dari para villain dalam kisah ini mungkin akan membuat mereka yang tak seberapa familiar dengan Batman berkerut; tetapi tidak lebih. Dialog filosofis dalam film ini tidak terasa menggurui ataupun menggiring cerita menjadi membingungkan. Dialog filsafatnya malahan terasa berbobot dan pas.

Cerita yang cukup sempurna ini diperkuat dengan daftar casting yang brilian dan pas pada posisi mereka masing-masing. Christian Bale memiliki karisma sebagai Bruce Wayne yang terbaik. Sejajar dengan Val Kilmer karena memang muka yang ia miliki sesuai dengan penggambaran Bruce Wayne; seorang yang angkuh, dingin, sekaligus kesepian jauh dalam lubuk hatinya. Sayangnya sebagai Batman; karisma yang dimiliki Bale tak sekuat Michael Keaton yang masihlah Batman terbaik hingga saat ini bagiku. Alfred diperankan dengan sempurna oleh Michael Caine. Tidak hanya bersikap sebagai pelayan semata; Alfred dengan segala kehangatan kasih yang ia berikan secara sempurna menjadi sosok ayah yang ideal bagi Bruce yang telah kehilangan orang tuanya sejak kecil. Liam Neeson yang entah kenapa sering tampil sebagai sosok mentor juga muncul dengan idealismenya sendiri tetapi memikat. Wajah matang didukung dengan akting yang prima menjadikannya sebagai sosok mentor yang sayang kepada sang murid, tetapi tetap berdedikasi pada idealismenya.

Kendati tidak sebrilian ketiga sosok di atas, Morgan Freeman dan Gary Oldman tidak boleh diremehkan. Morgan Freeman memang tidak diberi ruang besar tetapi ia berhasil menggunakan setiap frame di mana ia tampil untuk merebut simpati penonton. Dengan segala gadget yang ia kembangkan; sedikit banyak ia mirip dengan M dalam seri James Bond. Gary Oldman mulai melepas kebiasaan yang spesialisasi karakter jahat dengan menerima tugas menjadi Jim Gordon; letnan polisi yang suatu hari nanti menjadi komisaris sekaligus mitra terlama Batman dalam memerangi kejahatan di Gotham.

Lepas dari segala kelebihan di atas, Batman Begins tidak terlepas dari beberapa kelemahan teknis yang menganggu. Batmobile yang ditampilkan dalam film ini lebih pas mengusung nama Battank. Belum lagi pergeseran karakter Batman yang biasa ditampilkan sebagai hero menjadi seorang anti-hero yang masih dimusuhi oleh para polisi. Terakhir; adalah kemunculan Katie Holmes yang rasanya salah orang. Bila dicermati lagi Nicole Kidman dan Michelle Pfeiffer memiliki pesona wanita dewasa yang pas dengan Val Kilmer dan Michael Keaton saat itu. Sementara Katie Holmes; dia lebih mirip sebagai adiknya Bruce Wayne ketika beradu akting dengannya. Agak disayangkan mengingat Holmes tampil cukup maksimal dalam film ini; mencurahkan bakat aktingnya.

Batman Begins adalah sebuah film komplit yang membawa Batman kembali ke dunia yang sebenarnya. Dunia kelam yang digemari oleh para penggemarnya. Dengan penutup yang menggoda; tidak heran kalau kita mengharapkan sebuah sekuel bukan ? Hail to the Dark Knight!

Score: 9.5

Movie Details
Director: Christopher Nolan
Cast: Christian Bale, Michael Caine, Liam Neeson, Ken Watanabe
Running Time: 141 Minutes

Comments (4)

Tags: , , , , ,

Superman / Batman: Public Enemies

Posted on 09 October 2009 by Si Tukang Review

Superman / Batman: Public Enemies Cover

Superman / Batman: Public Enemies Cover

DC makin memantapkan dirinya sebagai perilis film-film animasi direct-to-DVD yang berkualitas. Tahun ini saja mereka sudah merilis tiga film. Yang pertama adalah Wonder Woman, disusul dengan Green Lantern: First Flight, dan terakhir adalah Superman / Batman: Public Enemies. Berbeda dengan kedua rilis sebelumnya yang adalah cerita orisinil, Public Enemies diangkat dari story arc pertama komik dengan judul yang sama.

Komik Superman / Batman pertama kali diluncurkan di bawah penulis Jeph Loeb dan dianggap sebagai kontinuitas resmi DC sampai saat Loeb meninggalkan DC dan bergabung dengan Marvel. Yang pernah membaca review saya mengenai komik The Ultimates Season 3 dan Ultimatum pasti tahu kalau saya benar-benar membenci tulisan-tulisan Loeb yang saya anggap membodohi pembaca dan kurang berkualitas. Toh, ada kalanya Jeph Loeb menjadi penulis favorit saya ketika menulis Batman: Hush dan serial Superman / Batman ini.

Ketika krisis ekonomi terjadi di Amerika Serikat, kerusuhan dan kekisruhan terjadi. Rakyat tidak lagi pada pemerintahan yang lama. Lex Luthor memanfaatkan hal ini. Dengan image tampil bersih kembali setelah dari penjara, ia memenangkan simpati banyak orang dan akhirnya berhasil duduk sebagai presiden Amerika. Dengan segera Lex Luthor berhasil menurunkan kemiskinan dan meningkatkan keamanan dengan bantuan para superhero yang bekerja di bawahnya. Toh Superman sendiri tetap skeptis kalau musuh besarnya itu bisa bertobat. Superman yakin bahwa sebenarnya Lex Luthor tengah mempersiapkan sebuah skema busuk di balik kebaikannya.

Perkara besar terjadi ketika sebuah meteor kryptonite raksasa meluncur ke bumi. Lex Luthor dengan arogansinya menolak untuk meminta bantuan para superhero dan merancang sendiri design nuklir untuk meledakkan meteor tersebut. Toh desakan dari para bawahannya membuat Lex Luthor mencoba meminta bantuan dari Superman. Namanya juga Lex Luthor, ia sudah menyiapkan jebakan supaya Superman seakan-akan menyerangnya. Sial bagi Superman (dan Batman yang kebetulan membantunya), mereka kemudian disebut oleh Lex Luthor sebagai kriminal dan dihargai 1 Milyar USD. Kini para penjahat maupun superhero semua mengejar-ngejar mereka. Bisakah mereka membersihkan nama baik mereka sekaligus menghentikan meteor kryptonite menghancurkan bumi?

Salah satu ciri khas dari komik Superman / Batman yang ditulis oleh Loeb adalah balon pikiran dari Superman dan Batman. Menghadapi sebuah perkara, Loeb menuliskan pemikiran dari Superman dan Batman sehingga para pembaca tahu kenapa dua superhero ini memiliki nilai fundamental yang sangat berbeda. Selain itu Loeb juga memasukkan berbagai unsur psikologis dalam story arc pertamanya. Superman dibesarkan oleh keluarga Kent dalam nilai-nilai kebenaran sehingga baginya membela kebenaran adalah sesuatu yang wajib ia lakukan. Sebaliknya masa kecil Batman direnggut darinya ketika orang tuanya dibunuh di hadapannya, Bruce menjadi Batman karena terpaksa; tak ingin ada lagi orang yang mengalami nasib sama sepertinya. Itu baru sedikit perbedaan yang dimasukkan oleh Loeb. Yang saya sayangkan, semua nilai-nilai psikologis itu hilang dalam film ini. Hasilnya tinggallah obral adegan aksi dari awal hingga akhir film. Tidak jelek tetapi sulit menilai film ini sebagai sesuatu yang lebih dalam - sesuatu yang sebenarnya bisa dicapai oleh film ini.

Bicara soal obral adegan aksi, saya sungguh puas dengan Public Enemies. Translasi grafisnya dilakukan dengan amat baik oleh DC. Walaupun Ed McGuiness bukanlah artis favorit saya (karakter yang ia gambar cenderung terlalu bergaya anime dan terlalu berotot), saya akui kalau ia lebih dari sanggup menggambar adegan-adegan aksi yang keren. Untungnya semua itu berhasil ditranslasikan ke filmnya - bahkan lebih dahsyat dari adegan di komiknya. Pengisi suara dari serial Superman dan Batman yang lama seperti Clancy Brown, Kevin Conroy, dan Tim Daly pun turun gunung untuk mengisi suara karakter khas mereka. Untuk nama baru sendiri yang mencuri perhatianku jelas Allison Mack si pemeran Chloe dalam Smallville yang di sini mengisi suara Power Girl.

Buat orang yang sudah membaca komiknya, Superman / Batman: Public Enemies versi animasi ini mungkin akan mengecewakan karena mengubah beberapa plot detail yang penting (asal tahu saja, dalam versi komiknya cerita ini merupakan prolog dari kedatangan Supergirl ke bumi). Di lain pihak, untuk mereka yang belum membaca komiknya mungkin akan kebingungan karena jalan ceritanya yang sedikit melompat-lompat. Walau secara keseluruhan ini bukan film yang buruk, saya rasa kedua film animasi DC lainnya pada tahun ini masih lebih superior dibandingkannya dari segi kualitas.

Score: 7.2

Movie Details
Director: Sam Liu
Cast: Clancy Brown, Kevin Conroy, Tim Daly, Xander Berkeley, Allison Mack
Running Time: 64 Minutes

Comments (5)

Tags: , , ,

Crisis On Infinite Earths

Posted on 09 May 2009 by Si Tukang Review

Crisis on Infinite Earths Cover

Crisis on Infinite Earths Cover

Sebelum 1986, DC memiliki satu masalah besar. Cerita kontinuitas DC kian lama kian njelimet. Ini tidak lepas dari sejarah panjang komik DC. Sudah ada semenjak tahun 1930an, karakter macam Superman atau Batman memiliki sejarah yang sangat panjang dari tangan komikus yang berbeda-beda. Selain itu, komik DC memiliki banyak universe (dunia), tiap dunia memiliki jagoan mereka sendiri - Superman mereka sendiri, Batman mereka sendiri. Konsep ini kemudian populer dengan sebutan ‘multiverse‘. Karuan saja para pembaca baru menjadi malas mengikuti komik DC, dan memilih mengikuti Marvel yang ceritanya lebih terstruktur dan sederhana.

Lantas bagaimana pemecahan masalah ini bagi DC? Jawabannya: duet Marv Wolfman dan George Perez. DC menggarap sebuah crossover besar-besaran dan menjamin para pembacanya bahwa tidak akan ada yang sama lagi setelah even bernama ‘Crisis on Infinite Earths‘ terjadi. Tujuan DC hanya satu: ‘multiverse’ harus hilang; di DC hanya boleh ada satu dunia; dan Crisis on Infinite Earths adalah jembatan yang harus diseberangi untuk sampai ke dunia tersebut.

Alkisah di multiverse terdapat satu sosok omnipoten (maha-kuasa) bernama Monitor. Secara konstan, Monitor ini menyediakan musuh untuk dilawan oleh para superhero. Walau terlihat jahat pada awalnya, tujuan Monitor ini sesungguhnya adalah mempersiapkan para superhero di segenap jagad raya akan adanya krisis di hadapan mereka. Bila ada cahaya - pasti ada kegelapan. Bila ada sosok Monitor yang menjaga multiverse, ada sosok Anti-Monitor yang bertujuan untuk menghancurkan segalanya. Ketika panggung Crisis dibuka, Monitor pun memanggil dan menyatukan para superhero untuk menghadapi Anti-Monitor. Tetapi cukupkah kekuatan mereka untuk menghentikan sang Anti-Monitor?

Terlepas dari apakah kalian menyukai cerita ini atau tidak, Crisis on Infinite Earths terbukti sukses secara kualitas dan finansial. Banyak kritikus di masa itu memuji saga ini sebagai langkah cerdik DC untuk merebut kembali perhatian pembaca. Iapun laris manis di pasaran karena para pembaca jadi penasaran mengenai apa yang bakalan terjadi di dunia DC? Ingat - di saat itu ketika publisher menjanjikan sesuatu berubah, ia sungguh berubah; bukan seperti sekarang ketika seorang superhero mati untuk maksimal jangka waktu empat sampai lima tahun sebelum nantinya dihidupkan kembali.

Begitu pentingnya tonggak sejarah ini bagi DC, semua komik DC direboot ulang mulai saat ini. Maka dari itu, komik DC yang kalian kenal sekarang ini disebut juga komik post-crisis; berbeda dengan komik tahun 30 - 70an yang disebut pre-crisis. Dunia DC menjadi dunia yang lebih gelap (tidak ada lagi Superman dan Batman tertawa riang bersama sambil menangkapi penjahat, yang ada malah bentrokan dua idealisme yang berbeda antara seorang dewa dan manusia). Saya percaya bahwa tidak hanya untuk DC sajalah kisah ini penting, ia juga penting bagi tonggak sejarah komik secara keseluruhan. Bila kalian ingin mengenali dunia DC lebih baik, pastikan untuk membacanya!

Score: 7.2

Graphic Novel Details
Writer: Marv Wolfman
Penciller: George Perez
Publisher: DC Comics
Volume: 01 - 12

Comments (1)

Tags: , , ,

Wonder Woman

Posted on 04 May 2009 by Si Tukang Review

Wonder Woman Poster

Wonder Woman Poster

Walaupun DC selalu mengatakan bahwa trinitas suci mereka adalah Superman, Batman, dan Wonder Woman, kenyataan tidak sejalan dengan kata-kata mereka. Buktinya Superman sudah memiliki lima film di layar lebar (termasuk mencatat sejarah sebagai superhero pertama yang tampil di layar lebar). Batman malah sudah memiliki enam film dan The Dark Knight hingga kini tercatat sebagai film superhero terlaris. Keduanya pun memiliki berbagai serial TV, baik dari live-action dan animasi. Bagaimana dengan Wonder Woman? Selain tiga season serial TV yang diperani oleh Linda Carter, tidak banyak yang bisa ia banggakan. Lebih ironis lagi, rencana penggarapan layar lebarnya yang sudah lama terkatung-katung gagal total setelah Joss Whedon mundur dari kursi sutradara. “Terlalu banyak batasan dari DC!” adalah alasan yang dikemukakan pencipta serial Buffy tersebut. Makin kelam sajalah masa depan sang putri Amazon ini. Setidaknya, DC berusaha menebus dosa mereka dengan membuat sebuah film animasi Wonder Woman. Walaupun direct-to-DVD, film ini diharapkan DC bisa memuaskan dahaga penggemarnya. Pertanyaannya: berhasilkah?

Setelah Ares mengkhianati dan menyerang para Amazon, tidak ada pilihan bagi Ratu Hippolyta selain menyatukan rakyat dan melawannya. Melalui perang yang panjang, akhirnya Hippolytha menang. Kendati begitu, sebelum berhasil memenggal kepala Ares, Zeus mengintervensi dan ‘memaksa’ Hippolyta untuk hanya mengurung Ares saja. Sebagai gantinya, para Amazon diberi sebuah pulau rahasia yang tertutup dari dunia luar dan Hippolytha seorang putri bernama Diana. Tahun demi tahun pun berlalu tanpa gangguan berarti sampai sebuah pesawat militer yang ditunggangi oleh Kolonel Steve Trevor mendarat darurat di pulau itu. Diana, berbeda dengan Amazon lain, sangat penasaran dengan dunia luar dan meminta sang ibu untuk mengijinkannya menemani Steve kembali ke dunia manusia. Berangkatlah Diana sebagai Wonder Woman. Tetapi tak disangka-sangka, insiden kecil kedatangan Steve hanyalah puncak dari bukit es. Perpecahan dalam kubu Amazon menyebabkan Ares berhasil meloloskan diri dari penjaranya. Kini tugas Diana tidak sekedar membawa Steve kembali ke Amerika saja, tetapi juga menghentikan Ares dalam upayanya menghancurkan dunia.

DC nampaknya benar-benar berusaha mencurahkan perhatiannya dalam film ini. Nama-nama tenar dipilih untuk mengisi suara di dalamnya seperti Wonder Woman oleh Keri Russell (Bedtime Stories), Steve Trevor oleh Nathan Fillion (Firefly), maupun Alfred Mollina (Spider-man 2) yang mengisi suara Ares. Hasilnya memang terlihat karena di layar tiap karakter terlihat hidup. Keberanian sutradara Lauren Montgomery juga saya acungi jempol: ia berani memasukkan unsur kekerasan dalam Wonder Woman. Ketika saya melihat adegan pemotongan kepala (walau dalam bentuk siluet) saya segera sadar bahwa ini bukan film yang bisa ditonton oleh adik-adik bawah usia. Walau demikian, Montgomery tidak melulu mengumbar kekerasan dan aksi tetapi menyeimbangkannya dengan pengembangan karakter.

Skrip yang ditulis oleh Gail Simone (yang sekarang juga menulis komik Wonder Woman) memang sukses merevolusi para karakter tanpa membuat mereka kehilangan akar mereka. Contoh paling bagus dalam kasus ini adalah Hippolyta. Bila di kebanyakan komik Hippolyta lebih mirip ibu Amazon yang over-protektif, Hippolyta tidak pernah jatuh pada stereotipe itu dalam film ini. Sebaliknya, Hippolyta disorot sebagai seorang ratu yang bertanggung jawab terhadap rakyatnya, seorang Amazon yang tangguh, juga seorang ibu yang ingin melihat anaknya terbang jauh tetapi ragu-ragu. Hubungan Diana dan Steve sendiri juga saling mengisi. Bila dalam banyak komik Diana selalu menyembunyikan identitas gandanya pada Steve, itu tidak terjadi di sini. Dinamika yang bisa digali pun jadi lebih menarik antara mereka; apalagi karena keduanya tidak harus tergantung satu sama lain tetapi tetap mandiri.

Karena berdurasi 75 menit, Wonder Woman terasa padat dari awal hingga akhir. Sedikit kekurangan dalam film ini terdapat pada kurang tergalinya hubungan karakter-karakter sampingan lain di film ini (kakak beradik Alexa dan Artemis misalnya). Lepas dari sedikit kekurangan-kekurangan yang ada, Wonder Woman meneruskan sukses Bruce Timm dalam menggarap film-film direct-to-DVD yang berkualitas. Saya nantikan kolaborasi Montgomery - Timm selanjutnya dalam menggarap salah satu superhero DC favorit saya: Green Lantern. Now DC, film layar lebar Wonder Woman please?

Score: 8.7

Movie Details
Director: Lauren Montgomery
Cast: Keri Russell, Nathan Fillion, Alfred Mollina, Rosario Dawson
Running Time: 75 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , , , , , ,

Teen Titans Go

Posted on 20 February 2009 by Si Tukang Review

Teen Titans Go Poster

Teen Titans Go Poster

Creator: Sam Register & Glen Murakami
Cast:

Robin (Scott Menville)
Cyborg (Khary Payton)
Raven (Tara Strong)
Starfire (Hynden Walch)
Beast Boy (Greg Cipes)
Slade (Ron Perlman)

Genre: Cartoon / Superhero
Year: 2003 - 2006 (65 Episodes)
Running Time: 22 Minutes (Each Show)

Saving the World Sembari Rebutan Makan Pizza!

Hampir semua seri terkenal pasti punya versi teenagenya. Ambil saja contoh Looney Toons yang punya Tiny Toons. Atau Disney yang punya Disney Baby. Tidak ketinggalan Marvel sekalipun berusaha meremajakan serinya dengan karakter-karakter dari New Avengers, X-Factor atau malahan dunia Ultimates (di mana rata-rata para karakter Marvel masih remaja dan muda-muda). Nah, dunia DC tidak mau ketinggalan dengan memperkenalkan karakter Teen Titans. Sebenarnya Teen Titans ini sudah muncul semenjak dulu, tetapi akhir-akhir ini berada dalam masa hibernasi. Kemunculan film seri kartun Teen Titans inilah (bersama dengan dibuat kembalinya seri komik Teen Titans) yang kembali membangkitkan para superhero muda (yang adalah sidekick dari para jagoan utama dunia DC). Gimana hasilnya serial TV yang sempat bertahan sampai 5 season sebelum diakhiri pada awal tahun 2006 lalu?

Pertama-tama mungkin akan lebih enak kalau dijelaskan mengenai apa sebenarnya Teen Titans itu. Teen Titans semula dibentuk pada tahun Juli 1964. Kisahnya, para sidekick dari jagoan-jagoan DC merasa kalau para senior mereka bisa bekerja sama, kenapa mereka tidak? Akhirnya Robin (dari Batman), Aqualad (dari Aquaman), Wonder Girl (dari Wonder Woman) memutuskan untuk bekerja sama dalam satu tim. Rupanya serial Teen Titans ini cukup terkenal, sehingga lama-lama DC berani memperkenalkan makin banyak karakter yang tergabung dalam kelompok ini, baik mereka adalah junior (seperti Kid Flash maupun Superboy) atau karakter yang tidak punya versi seniornya (Cyborg, Starfire, Raven, maupun Beast Boy adalah contoh kelompok ini).

Ketenaran Teen Titans ini rupanya menarik hati Glen Murakami dan Sam Register untuk menggarap serial TVnya. Ketika serial kartun ini pertama kali dirilis, mereka langsung mendapatkan perhatian banyak orang karena artworknya yang tidak lazim. Mungkin sekali karena pengaruh Murakami yang adalah orang Jepang, Teen Titans GO memiliki desain artwork sebagaimana anime Jepang. Tidak hanya itu, jalan ceritanya pun mirip dengan serial sentai Jepang dengan 5 tokoh utama (yang sering tiap episodenya mendapat fokus pada salah seorang karakternya). Film ini sendiri mengambil 5 tokoh utama yang paling terkenal dan dominan di Teen Titans, yakni: Robin, Starfire, Cyborg, Beast Boy, dan Raven. Sebagai catatan, Robin yang ada dalam kisah ini adalah Robinnya Dick Grayson.

West and East Style

Saya senang dengan Teen Titans yang bisa menggabungkan dua kutub kekuatan barat dan timur dalam satu serial yang memikat ini. Kisah dalam Teen Titans memang kompleks dan memiliki satu arah cerita yang kuat (ambil contoh season kedua dan keempatnya). Satu arah cerita pokok per season ini nyatanya bisa dibarengi sempilan-sempilan kehidupan di Titans Tower. Setiap karakter di sana nampak hidup dan bisa dibedakan kesemuanya; Raven tampil suram dan pesimistis (atau sarkastis?), Beast Boy selalu mencoba melucu di segala kesempatan, atau Robin yang tampil sebagai pemimpin kelompok ini.

Tentu saja, kesemua karakter ini memiliki gesekan dan bentrokan masing-masing dalam kehidupan mereka. Sisi persahabatan yang ada canda serta duka ini juga bisa disorot dengan baik oleh serial ini. Belum lagi dengan variasi musuh yang unik (serial ini berhasil menciptakan musuh-musuh baru yang original!). Apa hanya dari sisi cerita dan artwork saja serial ini mampu memadukan dunia barat dan timur? Tidak hanya itu! Coba perhatikan Teen Titans Opening Theme yang dinyanyikan oleh Puffy Ami Yumi! Lagu ini kadang dimunculkan dalam dua versi (versi Inggris maupun Jepang!), demikian pula dengan insert song di beberapa episode tertentu. Secara keseluruhan, musik dalam serial ini saya nilai sangat berhasil (sebagaimana Tokyo Drift bisa memperkenalkan musik Jepang melalui Teriyaki Boyz, Teen Titans juga sukses memperkenalkan Puffy Ami Yumi dengan corak khas musiknya pada para penonton). Saya sendiri jadi getol mencari tahu soal Puffy Ami Yumi usai mengikuti serial ini!

Teen Heroes, Big Challenge…

Setiap season dalam Teen Titans memiliki 13 episode. Setiap season memiliki tema utamanya sendiri-sendiri, tetapi yang paling menarik perhatianku adalah season 1 (yang menitikberatkan keinginan Slade / Deathstroke untuk mendapatkan Robin sebagai muridnya) dan season 2, 4, dan season finalenya (keduanya mengambil kisah dari serial Teen Titans yang sangat terkenal yaitu The Judas Contract dengan karakter Terra beserta Terror of Trigon yang megisahkan perseteruan Raven dengan sang ayah). Berikut ringkasan dari kelima season Teen Titans Go:
- Season pertama: berfokus pada pertempuran antara Slade dan Teen Titans
- Season kedua: memperkenalkan Terra sebagai Titans keenam, sekaligus seorang pengkhianat dalam tubuh Titans.
- Season ketiga: mulai menceritakan mengenai Brother Blood dan HIVE Academy.
- Season keempat: mengisahkan Raven dengan sang ayah yakni Trigon.
- Season kelima: Munculnya Doom Patrol, perseteruan dengan Brotherhood of Evil, sekaligus akhir dari serial ini (diakhiri dengan pertarungan besar-besaran semua Titans!).

Kendati animasi ini mendapatkan sambutan yang baik sekali dari masyarakat, itu tidak berarti semua pengikut komik di US sana bisa menerimanya. Banyak dari mereka yang kecewa dengan perubahan gaya gambar yang sulit mereka terima, maupun perubahan karakter Starfire dalam serial ini. Bila Robin, Raven, Beast Boy, dan Cyborg hampir semuanya mendapatkan gambaran yang benar mengenai karakter mereka; karakter Starfire mengalami perubahan paling drastis di sini. Starfire yang seharusnya tampil sebagai seorang yang sedikit pemarah, berwatak keras, tetapi independen, malahan menjadi seorang karakter yang lemah lembut, baik hati, dan suka bertindak sebagai juru damai dalam tim. Konon menurut Murakami, perubahan karakter Starfire ini dilakukan supaya jalan cerita lebih mudah terbentuk.

Bagaimana dengan masalah kontinuitas dengan komik-komik Teen Titans yang ada? Jangan khawatir! Untuk mengikuti serial ini kalian tidak perlu mengikuti komik-komik Teen Titans yang lain karena setting dalam serial ini berdiri sendiri lepas dari serial komiknya (bahkan serial komiknya Teen Titans Go ini keluar sendiri dengan gaya artwork yang sama dengan serialnya). Dalam Teen Titans, kendati serial ini akan banyak sekali kedatangan tamu dari Teen Titans lainnya (seperti Aqualad, Kid Flash, Speedie, dan lainnya) tetapi karakter utama DC macam Superman, Batman, atau Wonder Woman tak pernah dimunculkan. Paling jauh hanya referensi akan Batman (itu pun namanya tidak disebutkan secara langsung, melainkan secara simbolik). Ini membuat Teen Titans menjadi kian mandiri dan bisa berdiri sebagai sebuah serial sendiri tanpa tergantung pada sang kakak (serial Justice League yang duluan dibuat).

Sayangnya, dengan alasan yang sama (diskontinuitas dengan dunia komik DC) pulalah DC memutuskan untuk menghentikan produksi dari season keenam Teen Titans. Menurut DC, mereka akan memulai kembali season baru dan cerita baru Teen Titans dan mengambil gaya gambar yang serupa dengan Justice League Unlimited (gaya gambar Amerika); itu berarti Teen Titans garapan baru ini akan memungkinkan terjadinya cross over antara Justice League Unlimited dengan Teen Titans (untuk serial baru ini belum diumumkan kapan kepastian penayangannya). Untuk perpisahan dari Teen Titans Go ini, mereka menggarap sebuah film yang berjudul Teen Titans Trouble in Tokyo (film ini ditayangkan di San Diego Comic-Con 2006).

Kendati sudah tamat pada awal tahun 2006, tidak berarti Teen Titans Go sudah habis begitu saja. Terbukti pada pertengahan tahun ini masih ada dua game yang dirilis pada GBA dan PS2 yang mengambil dasar cerita Teen Titans Trouble in Tokyo. Ini menandakan kalau publik Amerika kian terbuka pada budaya anime Jepang yang bercampur dengan budaya komik tradisional mereka! Secara keseluruhan, kendati serial ini sebenarnya ditujukan lebih untuk pangsa pasar anak-anak, saya tetap bisa menikmati Teen Titans Go. Saya sangat menyayangkan harus berakhirnya serial ini di season kelima sementara saya masih belum puas rasanya berada di tengah kumpulan keluarga Teen Titans yang begitu kocak dan menyenangkan. Sungguh sayang saya tidak bisa mendengar Raven menyindir kebodohan dari Beast Boy lagi, atau Starfire mengucapkan kata-kata aneh dari bangsa Tamarannya itu.

Score:

Season 1: 7.75
Season 2: 8.5
Season 3: 7.0
Season 4: 8.5
Season 5: 8.75

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Final Crisis

Posted on 10 February 2009 by Si Tukang Review

Final Crisis Cover

Final Crisis Cover

Writer: Grant Morisson
Penciller: JG Jones, Doug Mahnke
Publisher: DC Comics

Ketika rumor Final Crisis pertama kali muncul, banyak pihak (termasuk saya) heran dengan keputusan DC. Apa ya alasan dari DC mengadakan sebuah krisis besar-besaran lagi? Bukankah dari Crisis on Infinite Earths dan Infinite Crisis (dua krisis terbesar di dunia DC) saja memakan waktu hampir 20 tahun lamanya? Kenapa mendadak mereka membuat krisis lain dalam waktu kurang dari dua tahun?

Jawabannya sebenarnya bisa ditilik posisi industri DC di Amerika saat ini. Walaupun DC memiliki superhero-superhero besar seperti Superman, Batman, dan Wonder Woman, pangsa pasar mereka setelah Infinite Crisis selesai terus tergerus oleh Marvel. Marvel dan DC yang penjualannya biasanya berimbang sekarang sudah banyak berubah. Marvel makin banyak menjual komik, sementara DC yang proyeknya gagal satu dan lainnya terus ditinggalkan penggemarnya.

DC mengharapkan Final Crisis bisa mengubah hal itu dan merilis epik mingguan berjudul Countdown (yang diharapkan menghitung mundur satu tahun menuju Final Crisis). Hasilnya malah lebih berantakan lagi. Countdown dicaci-maki hampir setiap kritikus komik karena plotnya yang dianggap tidak koheren, karakterisasi yang lemah, dan dituding berusaha aji mumpung dengan kesuksesan serial mingguan 52. Buntutnya adalah Final Crisis ikut-ikutan kena imbas negatifnya. Sampai-sampai Dan DiDio sebagai eksekutif DC dan Grant Morisson selaku penulis utama Final Crisis menyatakan bahwa Countdown tidak lagi akan tersangkut paut dengan Final Crisis.

Dengan begitu banyaknya masalah (dan gencar-gencarnya promosi Secret Invasion dari saingan mereka: Marvel), DC tetap pede meluncurkan Final Crisis yang ditangani oleh tim Grant Morisson dan JG Jones (dengan bantuan tim artis Carlos Pacheco, Doug Mahnke, Christian Alamy, dan Marco Rudy). Sesuai dugaan banyak orang, Final Crisis ‘gagal’ berbicara dan kalah pamor dibandingkan Secret Invasion. Toh, produk yang kalah jualan bukan berarti kalah kualitas. Bagaimana kualitas dari Final Crisis sendiri?

Kalau boleh jujur, mereka yang gemar membaca komik saja membaca Final Crisis mungkin bakalan kebingungan dengan ceritanya. Grant Morisson memang memasukkan begitu banyak unsur yang kurang ‘terkenal’ di DC dalam komik ini. Mungkin pembaca setia DC masih tahu siapa itu Darkseid dan Monitor, tetapi Fourth World? New Gods? Dark Monitor? Anti-Life Equation? Libra? Duh, bahkan kepala saya sakit berusaha menjelaskan cerita dalam Final Crisis secara singkat. Intinya sederhana - seperti yang dikatakan oleh Morisson - Final Crisis mengisahkan apa jadinya apabila dunia telah jatuh di tangan para penjahat. Oleh sebab itu, ia diberi tajuk “The Day Evil Won“.

Sayangnya, pacing dalam Final Crisis kurang teratur. Dari tiga buku pertamanya saja Darkseid belum bergerak, tetapi mendadak waktu dilompat beberapa bulan kemudian di mana Darkseid sudah berkuasa. Walhasil, greget di mana para pahlawan harus bersatu untuk menghadapi Darkseid menjadi berkurang. Ini diperparah dengan absennya trinitas DC (Superman, Batman, dan Wonder Woman) di sebagian besar, padahal notabene mereka bertiga merupakan satu-satunya kekuatan yang sanggup menghadapi Darkseid.

Banyak pihak, termasuk IGN, memuji Final Crisis sebagai karya crossover yang tidak lazim. Berbeda dengan karya-karya crossover belakangan yang asyik mengumbar adegan laga, Final Crisis lebih menunjukkan bagaimana usaha mati-matian para superhero tersisa untuk bertahan dari gempuran dewa kegelapan. Inilah bagian yang paling saya nikmati di Final Crisis, dan saya heran dengan Grant Morisson yang tidak mau memperpendek pembukaannya untuk difokuskan pada aksi survival para superhero.

Sekali lagi kelemahan utama dari crossover DC kentara di sini: sulit diikuti. Alasan kenapa DC selama ini sulit diikuti adalah terlalu panjangnya sejarah yang mereka miliki. Kendati Crisis on Infinite Earths dan Infinite Crisis selalu dinyatakan ‘mereset’ DC Universe, pada kenyataannya apa yang terjadi sebelum krisis-krisis itu tetap berpengaruh pada dunia DC yang sekarang (kalau kamu tidak pernah membaca Crisis on Infinite Earths misalnya - nama Monitor tidak akan berarti apapun bagimu). Sebagai pembuktian dari statement saya: silahkan sodorkan crossover DC macam Infinite Crisis atau Final Crisis dan crossover Marvel seperti World War Hulk atau Civil War pada para pembaca baru. Saya kok yakin para pembaca baru akan langsung ngeh dengan crossovernya Marvel ketimbang DC.

Walhasil, saya menutup review ini dengan perasaan campur aduk. Ada titik-titik brilian dalam Final Crisis, terutama pada suasana angst dan kelam di sepanjang komik yang tergambar sempurna oleh penuturan Morisson, tetapi sayangnya kebrilianan ini tersapu dalam cerita yang begitu ruwet dan membutuhkan pembacaan berulang-ulang pada cerita utama (dan seabreg tie-in yang tersedia) untuk bisa dimengerti dan diapresiasi sepenuhnya.

Score: 6.8

Comments (9)

Advertise Here
Advertise Here