Tag Archive | "Conan"

Tags: , , , , , ,

Detective Conan Movie 7: Crossroad in the Ancient Capital

Posted on 08 March 2010 by Si Tukang Review

Detective Conan Movie 7: Crossroad in Ancient Capital Poster

Detective Conan Movie 7: Crossroad in Ancient Capital Poster

Beberapa tahun yang lalu ketika saya pertama kali menonton Crossroad in the Ancient Capital, saya langsung mengecapnya sebagai yang terburuk dari tiga film yang saya tonton (Countdown to Heaven dan The Phantom of Baker Street adalah dua film yang saya tonton sebelumnya). Saat itu saya merasa filmnya terlalu membingungkan dan karakter favorit saya: Heiji Hattori terlalu dibodohkan sehingga levelnya terasa seperti di bawah - bukannya sebanding dengan Shinichi. Tentu saja pengalaman saya mengenai kebudayaan Jepang dan film tidak secetek saat pertama kali menonton dulu. Jadi bagaimana pengalaman menonton ulang film ini?

Terjadi sebuah pembunuhan berantai di beberapa kota besar di Jepang. Dari penyelidikan awal, polisi menemukan bahwa mereka semua memiliki kesamaan digit angka dalam namanya sekaligus merupakan anggota komplotan bandit Yoshitsune. Karakter Yoshitsune dan Musashibo Benkei adalah salah satu figur sejarah yang sangat terkenal di jaman feudal Jepang dulu dan memiliki pengetahuan mendasar akan mereka akan sangat membantu membuatmu mengapresiasi film ini. Kalau kalian malas membaca sejarah Jepang, membaca manga Shanaou Yoshitsune yang dikarang Sawada Hirofumi (sudah diterbitkan sampai tamat di Indonesia) bisa menolong kok (walaupun ada beberapa perubahan sejarah yang dilakukan sang mangaka).

Anyway, kembali pada film ini, dalam kasus yang sepertinya tidak berhubungan Kogoro Mouri dan Conan diundang ke kota Kyoto untuk mencari tahu mengenai hilangnya patung Buddha di sebuah kuil. Berhubung Kyoto terletak di bagian barat Jepang, daerah itu bisa dibilang termasuk dalam jurisdiksi Hattori Heiji. Walaupun dalam manga kedua detektif ini sering bertemu, baru dalam film layar lebar ketujuh ini keduanya bekerja sama dalam memecahkan kasus. Sebagai tambahan lain, Heiji juga punya adegan tersembunyi menemukan gadis cinta pertamanya saat masih kecil dulu.

Seperti yang saya katakan tadi, saat pertama kali menonton film ini saya tidak tahu banyak mengenai budaya Jepang sehingga tidak mengerti mengenai hubungan Benkei dan Yoshitsune. Setelah mengetahui hubungan keduanya, barulah saya bisa lebih mengapresiasi film ini. Judul Crossroad in the Ancient Capital yang disandang oleh film ini sebenarnya memiliki koneksi yang cukup mendalam pada ceritanya. Saya tadinya takut kalau pembunuhan demi pembunuhan film ini bakalan seperti The Fourteenth Target gara-gara menarget nama orang yang memiliki angka tetapi untung kekhawatiranku tidak terbukti. Boleh dibilang saya cukup enjoy dengan bagaimana film ini secara tidak langsung memperkenalkan penonton pada kota Kyoto. Oh ya, karena settingnya ada pada kota di mana budaya Jepang masih kental, film ini juga menyisipkan berbagai kebudayaan Jepang seperti geisha dan tradisi minum-minum di dalamnya. Ini merupakan break yang menyenangkan setelah film-film Conan sebelumnya terasa sangat berbau barat / Hollywood (bom di pencakar langit, pembunuhan misterius, sampai teror dunia digital).

Yang saya sebenarnya kurang suka dalam film ini adalah sub-plotnya yang mengisahkan pencarian Heiji akan cinta pertamanya. Alasan Heiji untuk mencari cinta pertamanya terasa terlalu mengada-ada, apalagi karena ia sudah punya Kazuha. Saya bisa memaklumi kegeraman Kazuha sepanjang film melihat Heiji tetap ngebet mencari cinta pertamanya (can you even call it first love kalau tidak pernah ketemu dan bicara?). Satu bagian yang membuatku geleng-geleng adalah ketika Heiji ‘sepertinya’ menemukan cinta pertamanya dan langsung mendiskreditkan gadis itu sebagai tersangka. Keterlaluan. Heiji yang saya kenal tidak mungkin akan terbuai oleh emosi seperti itu dan tetap berlaku obyektif. Plot cerita ini terlalu picisan dan penutupnya yang bahkan lebih norak lagi membuat saya berharap kalau ia dipotong keluar saja dari cerita. Saya malah lebih suka dengan hubungan Shinichi dan Ran yang tidak pernah bisa bertemu sementara Ran tetap menantikannya. Tanpa memberi spoiler apapun, penantian Ran pada akhirnya berbuah juga - walau hanya untuk sesaat. Saya akui bahwa eksekusinya sebenarnya juga cheesy, tetapi setidaknya masih setingkat lebih baik dibanding plot Heiji - Kazuha.

So my verdict is… saya mengapresiasi film ini lebih baik ketika menontonnya untuk kali kedua. Beberapa unsur cerita yang mengambil kebudayaan Jepang kini bisa saya tangkap lebih baik. Oleh karena itu, saya menutup review ini dengan sebuah saran bahwa mengetahui pengetahuan mendasar akan infrastruktur kota Kyoto dan sejarah Yoshitsune adalah modal baik sebelum menonton film ini.

Note: I love the ending theme yang dibawakan Mai Kuraki (berjudul Time After Time). Cari deh. Saya rasa kalian akan menyukainya. Aransemennya terdengar mirip dengan lagu J-Pop lain yang pernah saya dengar, tapi entah kenapa saya lupa apa.

Score: 7.5

Movie Details
Director: Kanetsugu Kodama
Cast: Akira Kamiya, Kappei Yamaguchi, Minami Takayama
Running Time: 108 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Detective Conan Movie 5: Countdown to Heaven

Posted on 26 February 2010 by Si Tukang Review

Detective Conan Movie 5: Countdown to Heaven Poster

Detective Conan Movie 5: Countdown to Heaven Poster

Ketika saya masih SMU dulu, kebanyakan pengetahuan soal anime kuperoleh dari majalah tabloid Animonster. Saya ingat bahwa suatu saat saya pernah membaca artikel Animonster mengenai film kelima Conan yang berjudul Countdown to Heaven. Perlu diperhatikan bahwa pada saat itu saluran internet belum secepat sekarang (baru ada dial-up) dan penikmat anime masih harus membeli serial mereka di toko-toko anime. Itu pun bukan hal yang mudah karena toko anime belum menjamur di kota tempat tinggalku (Solo) sehingga saya harus pergi berburu ke kota besar macam Jogjakarta, Surabaya, atau Jakarta guna mendapatkan film ini. Hasilnya ternyata tidak mengecewakan. Saya menganggap film Countdown to Heaven ini menjadi film Conan terbaik yang pernah saya tonton. Ketika saya memulai marathon Detektif Conan ini, saya akui kalau saya paling was-was menonton Countdown to Heaven. Saya khawatir kalau menontonnya untuk kali kedua malahan akan merusak nilai memori saya akan film ini.

Seperti film pertamanya, The Time-Bombed Skyscrapper, Countdown to Heaven juga berkaitan dengan gedung tinggi pencakar langit. Sepasang gedung tinggi (sekilas mirip Petronas Malaysia atau WTC) selesai dibangun dan segera akan dibuka untuk umum di Jepang. Seakan-akan pembangunan gedung yang memiliki pemandangan gunung Fuji itu terkutuk, terjadi pembunuhan yang menyasar pada orang-orang yang terkait dalam proyek tersebut. Conan menduga-duga bahwa komplotan jubah hitam terkait dengan hal ini, tetapi Haibara Ai selalu menolak hasil deduksi Conan dengan mengatakan bahwa para komplotan berjubah hitam tidak mungkin bertindak sesembrono itu.

Apa yang Conan tidak tahu adalah diam-diam Ai sering melakukan telepon di malam hari. Mencurigakan? Itu belum semua karena Gin dan Vodka seakan tahu langkah-langkah apa saja yang akan diambil Conan. Apakah Ai kini telah kembali pada komplotan berjubah hitam dan menjebak Conan? Lebih membingungkan lagi, kedua gedung itu ternyata didesign oleh murid dari Teiji Moriya - musuh utama dari film The Time-Bombed Skyscrapper. Jadi sebenarnya siapakah pelaku pembunuhan ini? Apakah anggota komplotan berjubah hitam? Apakah murid Teiji Moriya yang hendak balas dendam? Ataukah faktor ketiga yang tak terduga?

Saya mencoba menonton film ini kembali dengan perspektif penonton baru. Saya mencoba memperhatikan remah-remah petunjuk yang diberikan film ini sebelum memecahkan misterinya. Dan tebak apa? Saya masih merasa bahwa Countdown to Heaven memang merupakan film Conan (sampai saat ini) yang memiliki misteri terbaik. Setiap misteri pembunuhan disusun dengan rapi (atau ‘disembunyikan’ dengan sudut pandang kamera) supaya penonton tidak mudah menebak triknya. Selain itu, motif pelaku juga tidak terlalu mengada-ada seperti dalam film-film sebelumnya. Terakhir, tersangka yang dihadirkan dalam film ini semuanya memiliki motif melakukan pembunuhan yang membuat tertebaknya jati diri si pembunuh lebih sulit (tapi tetap tidak mustahil).

Toh di luar unsur misterinya, sajian utama Countdown to Heaven adalah adegan aksinya. Setelah terjadi peledakan di gedung pencakar langit itu, keadaan menjadi kacau sekaligus seru. Beberapa adegan aksi terapik yang pernah saya saksikan dalam marathon film Conan juga saya tonton dalam film ini. Saya pernah mengatakan bahwa kadang tingkah laku Conan bisa menyebalkan, tetapi saya menemukan diri saya turut bersemangat ketika Conan melakukan lompatan edan dengan skateboardnya masuk ke dalam gedung yang terbakar karena sadar bahwa teman-temannya masih tertinggal di dalam sana. That’s one holy-shit-cool moment. Tambahan lagi (dan ini sudah saya konfirmasi dengan guru Fisikaku) adegan lompat mobil dalam endingnya sebenarnya tidak dilakukan dengan ngawur tetapi setidaknya memiliki basis logika.

So my verdict is… bahkan setelah beberapa tahun berlalu sekalipun, Countdown to Heaven terbukti masih menjadi film Conan yang paling mengasyikkan untuk saya tonton. Dengan kualitas animasi yang sudah jauh lebih bagus dibanding film pertamanya, cerita yang tidak kalah menegangkan, film ini memiliki semua resep untuk menjadi film Conan yang tepat, dan meninggikan standar mutu untuk film-film Conan berikutnya.

Score: 8.9

Movie Details
Director: Kanetsugu Kodama
Cast: Minami Takayama, Kappei Yamaguchi, Wakana Yamazaki
Running Time: 97 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , , ,

Detective Conan Movie 4: Captured in Her Eyes

Posted on 07 February 2010 by Si Tukang Review

Detective Conan Movie 4: Captured in Her Eyes Poster

Detective Conan Movie 4: Captured in Her Eyes Poster

Ah, film keempat Detektif Conan kali ini sedikit berbeda dengan ketiga film sebelumnya. Dua film pertamanya berfokus kepada kasus pembunuhan sementara film ketiga menyorot duel antara Conan dan Kid. Dalam film keempat ini, fokusnya dialihkan untuk kembali kepada salah satu tokoh utama manganya: Ran Mouri. Saya juga suka dengan suasana film ini yang tidak melulu berusaha memecahkan sebuah kasus pembunuhan, tetapi lebih seperti permainan kucing tikus dalam menebak siapakah sang penembak misterius. Bingung? Baca lebih lanjut reviewku di bawah.

Kepolisian Jepang tengah digemparkan dengan pembunuhan terhadap para anggota kepolisiannya. Salah satu pembunuhan sebenarnya terjadi di depan Conan dan kawan-kawannya, yang sayangnya gagal dihentikan oleh Conan. Inti cerita film ini dimulai ketika sang pembunuh mengincar polisi Miwako. Saat penembakan terjadi, Miwako melindungi Ran dan tertembak. Saat itulah Ran tanpa sengaja melihat wajah sang penembak dalam kegelapan. Lantas melihat tubuh Miwako yang bersimbah darah dan menimpanya membuat Ran histeris. Dalam kehisterisannya itu, otaknya tanpa sengaja memblokir seluruh memorinya; Ran menjadi amnesia dan lupa akan segalanya. Akan siapa dirinya, akan orang tuanya, bahkan akan Conan dan Shinichi. Lebih celakanya lagi, sang pembunuh sepertinya tahu bahwa Ran telah melihat wajahnya dan kini mengincar untuk menghabisi Ran.

Hati saya sedikit mendua akan film ini. Di satu sisi, saya menyukai perubahan tema dan pacing dalam film ini. Seakan mendowngradekan unsur ledakan yang sudah minim di film ketiganya, film keempatnya ini bahkan tidak memiliki unsur ledakan-ledakan sama sekali. Cerita juga tidak melulu berkisar pada bagaimana Conan memecahkan kasus, sebab sutradara Kanetsugu Kodama juga memasukkan unsur drama di dalamnya. Melihat bagaimana orang-orang di sekeliling Ran memberinya perhatian, mulai dari kedua orang tua, Sonoko sahabatnya, hingga para grup detektif kecil memberi kedalaman (walau sedikit) bagi karakter-karakter tersebut. Di sisi lain, Conan mencurigai bahwa sang pembunuh bisa saja berasal dari kubu kepolisian, memberi penonton gambaran lain akan kepolisian Jepang yang ternyata juga tidak seratus persen bersih dan bisa diandalkan.

Sayangnya walaupun dua pertiga film ini sudah tergarap dengan baik, konklusinya entah kenapa dibuat terlalu dangkal. Seusai Conan menyingkap misteri mengenai siapa sang pelaku, mereka kemudian – percaya tidak percaya - berkejar-kejaran di dalam salah satu taman bermain paling ramai di Jepang sambil tembak-tembakan. Oke, ada yang mungkin mau beralasan sang pelaku memakai pistol peredam bunyi, tetapi masa sih seorang yang berlari sana-sini sepanjang taman bermain sambil mengacung dan menodongkan pistol tidak menarik kecurigaan orang? Dan ke mana sekuritas taman bermain tersebut? Kalau polisi datangnya telat mungkin karena macet (saya tahu alasan itu saja sebenarnya sudah terasa mengada-ada tapi saya sudah berusaha tidak terlalu kritis), tapi masa tidak ada sekuritas yang berusaha menolong Conan dan Ran yang dikejar-kejar? Terlalu tidak masuk akalnya adegan ini, ditambah dengan adegan penutupnya yang dipaksakan supaya selaras dengan adegan pembukanya adalah kelemahan terbesar film ini.

So my verdict is… saya sebenarnya sangat menyukai konsep dan cara pembawaan cerita film ini yang cukup berbeda dengan film sebelumnya. Saya senang dengan lokasinya wahana bermain Tropical Land yang seakan kembali pada akar awal serial Conan dimulai, juga bagaimana kepolisian Jepang sedikit disentil imagenya dalam film ini. Memang sepantasnya disayangkan bahwa pembukaan dan tengah yang bagus ini akhirnya dirusak sendiri dengan konklusi yang tergolong bodoh dan tergesa-gesa. Film ini jatuhnya pas-pasan; dibilang jelek tidak, dibilang bagus juga tidak.

Note: Apabila saya tidak keliru dulu dalam film pertamanya Conan menjelaskan bahwa skateboardnya bertenaga surya sehingga tidak bisa digunakan pada waktu malam. Apakah skateboard ini sudah diupgrade Agasa sehingga bisa dipakai di malam hari dalam film ini?

Score: 6.2

Movie Details
Director: Kanetsugu Kodama
Cast: Minami Takayama, Kappei Yamaguchi, Wakana Yamazaki
Running Time: 95 Minutes

Comments (3)

Tags: , , , , , , ,

Detective Conan Movie 3: The Last Wizard of the Century

Posted on 02 February 2010 by Si Tukang Review

Detective Conan Movie 3: The Last Wizard of the Century Poster

Detective Conan Movie 3: The Last Wizard of the Century Poster

Sebelum mengarang Meitantei Conan, Aoyama Gosho pernah menciptakan sebuah serial tentang seorang pencuri spektakuler: Kaitou Kid alias Kid sang pencuri. Gara-gara kesuksesan Detektif Conan, Aoyama Gosho pun menelantarkan serialnya Kid. Entah apakah karena ia merasa kedua karakter ciptaannya itu berseberangan dalam posisi hukum atau karena berdosa sama anak ciptaannya yang satu lagi, Aoyama Gosho kemudian melakukan crossover dan mempertemukan kedua karakter itu dalam serial Detektif Conan. Dalam kisah manga atau animenya sendiri, pertemuan keduanya selalu berakhir imbang. Conan hampir selalu bisa menebak identitas Kid (yang biasanya dalam penyamaran) tetapi tidak pernah berhasil menangkapnya. Sebaliknya Kid acap kali gagal mencuri barang incarannya gara-gara Conan, tetapi selalu bisa meloloskan diri. Dalam film ketiganya ini, keduanya kembali ‘berduel’ dalam mencari telur dari Russia. Siapa yang menang?

Lagi-lagi Kid membuat kepolisian gempar. Setelah ditemukan bahwa ada telur ke 51 dari Russia (sebelumnya hanya ada 50 ukiran telur), Kid kemudian mengirimkan surat tantangan bahwa ia akan mencuri telur tersebut. Para kepolisian seantero Jepang menjadi geram dan berniat untuk menghentikan Kid di panggung pencuriannya di kota Osaka. Surat dari Kid itu juga dibaca oleh dua detektif hebat dari barat dan timur: Conan Edogawa dan Hattori Heiji. Walaupun sempat hampir tertipu oleh Kid, keduanya menyadari rencana sang pencuri jenius tersebut. Saat itu terjadi sebuah even yang tak disangka-sangka. Saat Kid sudah berhasil menggondol telur tersebut, seorang misterius menembaknya. Kid yang terluka lenyap tanpa jejak.

Keanehan tidak berhenti sampai di situ, satu demi satu orang yang memiliki perhatian khusus terhadap telur itu dibunuh. Apa rahasia di balik telur itu? Kenapa semua orang, mulai dari pemerintahan Russia, China, dan pengagum karya seni lain semua menginginkannya? Apakah Kid benar-benar sudah tewas? Selain harus menghadapi semua misteri ini, Conan juga terlibat pergumulan mental yang lebih dalam mengingat Ran sang pacar tidak tahan lagi akan ketidakhadiran Shinichi dalam kehidupannya. Conan pun bimbang, apakah ini adalah saat baginya untuk mengungkapkan jati dirinya yang sesungguhnya?

Sekedar catatan saja, ini adalah film pertama di mana beberapa karakter penting dalam serial Conan muncul. Tercatat sekurang-kurangnya ada tiga karakter penting yang mendapat kemunculan perdana di sini: Hattori Heiji, Kid sang pencuri, dan Haibara Ai. Tentu saja keterlibatan mereka dalam cerita sebenarnya sangat kecil selain Kid. Heiji sekedar muncul membantu di Osaka (walau saya setuju karena membawanya ke tempat-tempat lain terasa terlalu mengada-ada) sementara Ai tidak diberi banyak peran di sini (karena memang kasus ini ada hubungannya dengan kawanan berjubah hitam).

Saya lumayan menyukai film ketiga Conan ini. Saya rasa dari tiga film pertamanya, film ini yang paling menekankan unsur misteri dan teka-teki. Di film pertama dan kedua, Conan dan kawan-kawannya hampir selalu berpacu dengan waktu menghadapi teror bom dan pembunuhan, tetapi di film ini fokus lebih ditujukan pada bagaimana Conan memecahkan teka-teki mengenai siapa Kid dan misteri yang menyelubungi telur Russia itu. Bahkan adegan-adegan ledakan bombastis di dua film pertamanya banyak dikurangi di film ini. Memang masih ada kebakaran dan ledakan di akhir cerita (mungkin ini sudah resep keharusan untuk setiap film Conan?) tetapi masuknya adegan tersebut di cerita tidak terasa dipaksakan.

Bicara soal si penjahat yang sebenarnya, lagi-lagi saya sudah bisa menebak siapa pelakunya. Toh, mendengarkan bagaimana Conan memberangusnya, sekaligus membeberkan alasan-alasan dan motif si tersangka tetap mengasyikkan untuk ditonton. Bahkan bila disimak lebih dalam, ada kegetiran dan ironi dendam turun temurun keluarga di baliknya (sayangnya hal ini kurang digali lebih dalam). Sedikit saja pertanyaan yang mengganjal di benakku; bukankah putri hilang dalam sejarah Russia itu Anastasia? Kenapa dalam film ini dia disebut dengan nama Maria ya?

So my verdict is… The Last Wizard of the Century adalah salah satu film Conan yang kualitasnya di atas rata-rata. Selain misteri berkaitan sejarah Russia yang menarik yang ditawarkannya, film ini juga memiliki ending yang paling memuaskan dan tidak terasa sekedar tempelan saja. Definitely a must-see for Conan fans!

Score: 8.6

Movie Details
Director: Kanetsugu Kodama
Cast: Kappei Yamaguchi, Minami Takayama, Wakana Yamazaki, Akira Kamiya
Running Time: 95 Minutes

Comments (3)

Tags: , , , , ,

Detective Conan Movie 2: The Fourteenth Target

Posted on 01 February 2010 by Si Tukang Review

Detective Conan Movie 2: The Fourteenth Target Poster

Detective Conan Movie 2: The Fourteenth Target Poster

Marathon film Detective Conan berlanjut! Setelah film pertamanya cukup memuaskanku, saya masuk ke film keduanya dengan ekspektasi tinggi. Pernah dalam review saya di The Raven Chaser saya menyebutkan ada banyak hal yang mustahil di dalamnyasehingga membuat saya antipati dengannya. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, film pertamanya kan juga memiliki banyak adegan aksi yang tidak masuk akal? Lantas kenapa saya bisa jauh lebih menyukainya? Mungkin alasannya adalah make believe. Hampir semua film aksi (lepas dari animasi atau sungguhan) itu eksekusinya mustahil diaplikasikan ke dunia nyata, tapi seberhasil apakah film bisa menjual kemustahilan itu? Film pertamanya saya nilai berhasil, film terakhirnya saya nilai gagal. Bagaimana dengan yang ini?

Plot utama dalam film ini berpusat pada diri ayah Ran: sang detektif tolol Kogoro Mouri. Sebelum menjadi pemabuk dan detektif tidak kompeten yang kita kenal sekarang ini, dulu Kogoro adalah salah satu polisi terbaik di bawah pimpinan Inspektur Megure. Tidak hanya dikenal sebagai orang yang tangkas dalam pertarungan tangan, Kogoro juga penembak terbaik yang dimiliki oleh angkatan kepolisian saat itu. Di masa jayanya, Kogoro pernah memenjarakan seorang penjahat bernama Murakami Jyou. Setelah Murakami bebas dari penjara, orang-orang di sekeliling Mouri diserang oleh sosok misterius: mulai dari Inspektur Megure, Profesor Agasa, sampai istrinya Eri. Bagaimana cara Murakami sebenarnya menyerang korban-korbannya itu? Apakah karena motivasinya membalas dendam kepada Kogoro? Atau mungkinkah sesungguhnya ada orang lain yang merencanakan semua agenda ini?

Perlu saya beritahukan sebelumnya bahwa review saya berikut ini akan mengandung sedikit spoiler.

Lagi-lagi film ini gagal meyakinkan saya, gagal dalam proses make believe. The Fourteenth Target sebenarnya memiliki potensi menjadi film yang menarik karena kasus misterinya cukup berbeda. Setiap korban yang diserang atau dibunuh dalam film ini memiliki angka di dalam huruf kanjinya mulai dari angka 13 sampai ke angka 1. Lebih unik lagi beberapa korban ada yang hanya diserang tetapi beberapa dibunuh secara terang-terangan. Saya terus bertanya-tanya sepanjang film mengenai kenapa kira-kira ini dilakukan si pembunuh. Ketika faktanya terungkap, bukan main kecewanya saya. Sang penjahat dalam film ini memiliki motif pembunuhan yang sangat - sangat absurd. Dari beberapa pembunuhan yang dilakukannya, paling-paling hanya satu yang agak masuk akal. Kalau dilabeli sebagai psikopat yang punya tendensi membunuhpun (seperti Dexter atau Hannibal), film ini tidak berhasil meyakinkanku.

Ledakan yang terjadi di akhir film makin menambah nilai mustahil film ini. Mana ada seorang penjahat (ingat, satu orang dan bukan komplotan plus tidak memiliki pengetahuan memadai mengenai bahan peledak) memiliki pengetahuan memasang begitu banyak bahan peledak dan mengukur secara tepat berapa dan di mana harus meletakkan bahan peledak tersebut supaya bisa merobohkan sebuah gedung raksasa. Bukannya keren saya malah berasa seakan-akan ledakan yang terjadi di akhir film itu seperti dipaksakan masuk supaya filmnya terasa memiliki nilai wah (mungkin sutradaranya bilang: “Hey ini film! Harus ada yang diledakkan!”) dan menegangkan walau sebenarnya yang dijual hanyalah sekedar cheap thrill semata.

Satu-satunya poin yang saya anggap bisa menyelamatkan film ini adalah bagaimana ia menyorot sosok Kogoro secara berbeda. Biasanya kita selalu diperlihatkan sosok Kogoro yang tolol dan tak bisa diandalkan kalau tidak dibius Conan sehingga melihat bagaimana di sini dia menjadi sosok yang lebih bisa diandalkan dan bertanggung jawab mendapat acungan jempol dariku. Saya bahkan sempat sebal dengan Conan yang dua kali mencuri spotlight dari Kogoro dengan membiusnya dan menembak sang penjahat. Saya pasti akan lebih menghargai film ini bila Kogoro diberi kesempatan menyelesaikan misterinya dan membekuk sang penjahat dengan tangannya sendiri.

So my verdict is… The Fourteenth Target adalah sebuah film yang silahkan saja dilompati. Bahkan penggemar berat Detektif Conan saya rasa juga akan menilai misteri dan aksi yang ditawarkan film ini terlalu mengada-ada. Konsep boleh orisinil, tetapi eksekusinya berantakan.

Score: 3.5

Movie Details
Director: Kanetsugu Kodama
Cast: Minami Takayama, Kappei Yamaguchi, Wakana Yamazaki, Akira Kamiya
Running Time: 95 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Detective Conan Movie 1: The Time Bombed Skyscraper

Posted on 25 January 2010 by Si Tukang Review

Detective Conan Movie 1: The Time Bombed Skyscraper Poster

Detective Conan Movie 1: The Time Bombed Skyscraper Poster

Sejak awal kemunculannya pada tahun 1994 dulu, Detektif Conan sudah menjadi salah satu serial detektif yang ngetop di Jepang. Sudah merupakan kebiasaan bila sebuah anime tenar di Jepang, akan dirilis sebuah film layar lebar. Detektif Conan mendapatkan film pertamanya pada tahun 1997. Film layar lebar berjudul Tokei-jikake no matenrou ini kemudian diterjemahkan menjadi The Time Bombed Skyscraper. Bagaimanakah aksi pertama Conan di layar lebar?

Sudah beberapa saat lamanya Shinichi Kudo menghilang dari kehidupan Ran. Walaupun sebenarnya ia menciut karena diracuni oleh para komplotan jubah hitam, Shinichi Kudo alias Conan Edogawa berniat merahasiakan identitas aslinya dari Ran supaya sang pacar tidak ikut ditarget oleh komplotan jubah hitam. Suatu hari, Shinichi mendapatkan undangan pesta seorang aristek terkenal Teiji Moriya. Karena tidak bisa datang, Shinichi kemudian meminta Ran mengajak Conan dan Kogoro untuk datang menggantikannya. Ran menyetujui dengan syarat bahwa Shinichi harus pergi berkencan di hari ultah Shinichi. Belum sempat Conan tahu menjawab apa, Ran keburu memutuskan hubungan telepon.

Sakit kepala Conan teralihkan ketika hari di mana ia seharusnya bertemu dengan Ran berubah menjadi hari ancaman bagi seluruh kota Tokyo. Seorang misterius menelepon Shinichi dan mengancam akan meledakkan bom apabila Shinichi tidak muncul. Apa yang bermula dari teror bom-bom kecil mendadak meningkat secara signifikan setelah sang pelaku mengatakan akan meledakkan kereta-kereta di Tokyo. Para polisi, Kogoro, dan Conan semua dibuat panik oleh tingkah si pelaku. Siapa sebenarnya pelaku yang mengancam pengeboman itu? Apakah Ran pada akhirnya bisa bertemu dengan Shinichi?

Sebagai film pertama, kelihatannya The Time Bombed Skyscrapers lebih menonjolkan unsur aksi ketimbang misteri. Hampir sepanjang film kita melihat Conan tunggang-langgang ke sana-sini untuk menghentikan ancaman bom. Sekilas saya malahan teringat dengan Die Hard 3: Die Hard With A Vengeance di mana Bruce Willis dan Samuel L. Jackson dipaksa bermain permainan Simon Says. Misterinya cenderung mudah dipecahkan dan agak terlalu mengada-ada. Saya dengan mudah bisa menebak siapa pelakunya menjelang pertengahan film, walaupun agak kebingungan dengan motif si pelaku (dan ketika dijelaskan pun kok terasa absurd ya?). Film pertama Conan ini juga terasa cukup baik menyorot semua karakter dalam serialnya. Perlu diingat bahwa ini masih merupakan tahun-tahun awal Conan sehingga karakter pendukungnya belum tumpah ruah seperti sekarang. Toh bagi saya ini merupakan berkat karena karakter pendukung Conan jadi benar-benar memiliki peran dalam cerita, bukan sekedar pelengkap asal nongol saja.

Ada satu kelemahan dari film ini yang saya nilai agak menganggu, yaitu betapa seringnya Conan mencibir dan menyipitkan mata sambil berkomentar dalam hati mendengar orang lain berbicara. Saya tahu kalau ini memang gaya khasnya, tetapi kalau dia mengulang-ulangnya setiap beberapa menit sekali (bahkan ketika keadaan tengah serius), hal ini mulai terasa menyebalkan. Juga beberapa karakter terlihat terlalu gampang melupakan sesuatu. (SPOILER ALERT) Ran terlalu mudah memaafkan Shinichi yang tidak nongol di ending film misalnya, atau Kogoro yang tadinya panik dengan keadaan Ran tetapi kembali berubah jadi sosok bodoh biasanya begitu diwawancarai wartawan. Padahal momen-momen yang saya sebutkan di atas merupakan saat yang pas untuk menggali lebih dalam karakter-karakter tersebut. Sayangnya daripada melakukan itu, sang sutradara memutuskan bermain aman.

Toh dengan plot yang terus bergerak cepat tanpa memberi kesempatan penonton terlalu mempertanyakan logika, ditambah rentetan aksi yang cukup seru, saya jauh lebih enjoy menonton film pertama Conan dibandingkan film terakhirnya (The Raven Chaser).

Note: Kalau diperhatikan, animasi dalam film pertama ini kualitasnya kalah jauh baik dari segi ketajaman animasi maupun design karakter dibanding film-film selanjutnya.

Score: 8.5

Movie Details
Director: Kanetsugu Kodama
Cast: Minami Takayaman, Kappei Yamaguchi, Wakana Yamazaki
Running Time: 97 Minutes

Comments (6)

Tags: , , , , , ,

Detektif Conan Movie Marathon

Posted on 25 January 2010 by Si Tukang Review

Siapa yang tidak kenal Detektif Conan? Kalau kalian adalah penggemar anime / manga Jepang pastinya sudah membaca atau setidaknya mendengar karya Aoyama Gosho akan petualangan dari detektif terkenal SMU yang badannya dikecilkan ini.

Mengingat review saya mengenai film Detektif Conan yang terakhir: The Raven Chaser mendapat cukup banyak tanggapan, saya mendapatkan ide untuk proyek Marathon saya berikutnya. Seiring dengan (hampir) berakhirnya marathon review Studio Ghibli (yang makan waktu jauh lebih lama dari yang sebelumnya saya proyeksikan - mohon maaf!), inilah proyek marathon dari Tukang Review berikutnya: Detektif Conan Movie Marathon yang akan mereview lengkap film pertama hingga terakhir sang detektif cilik (mengecualikan The Raven Chaser yang sudah direview).

Sebelumnya, saya hendak mengucapkan terima kasih kepada nezuko yang telah membantu penyediaan film-film Detektif Conan untuk direview. Tanpa bantuannya, review marathon ini tidak akan tercipta.

There’s only one truth! Please enjoy the new Tukang Review’s movie marathon!

Comments (1)

Tags: , , , , , , , , , ,

Detective Conan Movie 13: The Raven Chaser

Posted on 07 January 2010 by Si Tukang Review

Detective Conan Movie 13: Raven Chaser Poster

Detective Conan Movie 13: Raven Chaser Poster

Saya masih ingat lelucon yang saya tertawakan bersama dengan teman-temanku dulu. Ketika pertama kali Detektif Conan diterbitkan di Indonesia, saya masih SMP dan merasa kalau Shinichi Kudo yang kelas 2 SMU itu begitu dewasa. Lantas tahun demi tahun demi tahun berlalu. Sesampainya saya di masa kuliah, Detektif Conan sudah terasa aneh karena tidak tamat-tamat. Kini saya sudah lulus kuliah hampir tiga tahun dan serial ini belum juga menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Sudah 15 tahun lamanya Edogawa Conan mengejar-ngejar para kawanan berjubah hitam tersebut. Apa Ran tidak keburu memutus dia karena bosan menanti Shinichi kembali ya (ayo deh, jujur saja, di jaman sekarang mana ada pacar yang mau long distance lama-lama. Boro-boro bertahun-tahun, beberapa hari engga ketemu saja sudah diancam putus?)

Toh, keluhanku juga rasanya tidak ada gunanya karena selama rating dari manganya tetap tinggi, tentunya Aoyama Gosho bakalan terus melanjutkan kisah Conan. Memang kepopuleran dari serial ini di negeri Jepang masih tergolong tinggi sehingga setiap tahun dibuat film layar lebarnya. Khusus untuk film terbarunya yang dijuduli Raven Chaser mendapat perhatian khusus dariku karena berfokus dengan kawanan berjubah hitam. Sebelum Raven Chaser, terakhir merupakan film kelima Detektif Conan yang berjudul Countdown to Heaven-lah yang masih memiliki kaitan dengan kawanan berjubah hitam (walaupun dalam film itu mereka lebih condong mengambil peran di balik layar).

Dalam awal film ini, kesatuan polisi dari berbagai daerah berkumpul menjadi satu untuk menyelesaikan kasus pembunuhan beruntun yang pelik. Sudah ada lima orang terbunuh dan di samping mayat mereka selalu ada kotak mahjong dengan deretan angka tertentu. Para polisi dari berbagai daerah itu semua berkumpul dan berusaha untuk mencari tahu mengenai siapa pelaku pembunuhan, dan apa motif di belakang terjadinya pembunuhan itu. Rupanya polisi bukan satu-satunya pihak yang mencari tahu apa yang terjadi. Vermouth, salah seorang anggota jubah kawanan hitam menyusup dalam kubu kepolisian sebelum kepergok oleh Conan.

Vermouth kemudian memberitahukan pada Conan bahwa dari antara korban yang terbunuh ada seorang anggota kawanan berjubah hitam. Gawatnya (atau untungnya – tergantung dari sudut pandang siapa), korban juga membawa kartu Memory Card khusus yang berisi data seluruh anggota organisasi. Apabila polisi sampai menyelesaikan kasus itu terlebih dahulu dan menemukan Memory Card yang dibawa pelaku, bisa jadi gawat bagi para kawanan berjubah hitam. Setelah Vermouth ketahuan, dia memberitahukan pada Conan bahwa sebenarnya masih ada seorang lagi anggota kawanan berjubah hitam yang menyusup dalam kubu kepolisian. Kode namanya adalah Irish. Bisakah Conan menemukannya?

Tadinya saya berharap kalau film ini bisa lebih dari sekedar film yang berdiri sendiri dan terintegrasi dalam cerita. Sayangnya tidak. Walaupun sebenarnya ada banyak perkembangan signifikan yang bisa dijadikan acuan dalam manganya, Aoyama Gosho seakan mengambil jalan enteng dan tak menggubris apa-apa yang terjadi di filmnya. Beberapa contohnya seperti (SPOILER): ada orang atau kelompok yang memiliki kemampuan untuk menginfiltrasi kubu kepolisian, tidakkah seharusnya ada penyelidikan lebih lanjut polisi mengenai hal itu? Atau di akhir film ketika menara di mana Conan berada diberondong senapan mesin oleh kawanan berjubah hitam, tidakkah polisi seharusnya bisa melacak keberadaan organisasi kawanan tersebut dari ratusan peluru yang dimuntahkan di sana?

Apa yang saya sebutkan di atas hanya sedikit dari segudang lubang logika yang dalam film ini saya rasa  terlalu menganga untuk tidak digubris begitu saja. Mungkin ada di antara kalian yang mau mengatakan “ini film jadi tidak semuanya harus masuk akal” dan saya setuju. Masalahnya jadi berbeda kalau ini sebuah film bergenre detektif yang seharusnya mengedepankan logika tetapi jatuhnya lebih tidak masuk akal ketimbang film Rambo. Saran saya buat Aoyama Gosho: lain kali sebaiknya berfokus saja pada misteri pembunuhan karena mau menggabungkan adegan misteri dan aksi yang bombastis kok hasilnya malah tanggung berantakan seperti ini?

Untuk menikmati Raven Chaser, kalian perlu tahu sedikit banyak mengenai sejarah latar belakang organisasi misterius yang mengecilkan tubuh Shinichi (omong-omong ada yang tahu itu organisasi misterius sebenarnya melakukan apa saja?). Lain darinya, tonton saja tanpa banyak ekspektasi. Bagaimanapun juga, bila menginginkan film detektif sejati maka lebih baik melewatkan ini dan langsung nonton Sherlock Holmes saja.

Score: 3.4

Movie Details
Director: Aoyama Gosho
Cast: Minami Takayama, Kappei Yamaguchi, Megumi Hayashibara
Running Time: 111 Minutes

Comments (22)

Advertise Here
Advertise Here