Tag Archive | "Chuck"

Tags: , , , , ,

Super Capers

Posted on 23 August 2009 by Si Tukang Review

Super Capers Poster

Super Capers Poster

Saya menonton Super Capers dengan ekspektasi bahwa B-movie ini adalah sebuah film superhero dengan budget rendah dan merupakan parodi dari film-film superhero lainnya. Yah, seperti Superhero Movie hanya untuk rilis langsung ke DVD. Maka dari itu, ketika film ini ternyata cukup lucu dan ceritanya cukup orisinil, saya mendapat kejutan yang menyenangkan.

Ed Gruberman hendak menjadi seorang superhero semenjak kematian kedua orangtuanya. Sayangnya keinginannya ini terhalangi oleh satu hal: ia tidak punya kekuatan super. Ketika Gruberman tanpa sengaja menyerang seorang kriminal yang tengah menodong seorang wanita, ia malahan ditangkap polisi karena disangka menyerang orang tak berdosa. Beruntung bagi Gruberman sang hakim masih mau mendengarkan pembelaannya dan tidak langsung memasukkannya ke dalam penjara. Gruberman justru diberi kesempatan untuk bergabung dengan sebuah grup superhero bernama Super Capers untuk belajar bagaimana mendapatkan kekuatannya.

Super Capers terdiri dari superhero-superhero paling konyol sepanjang sejarah. Brainard adalah seorang man-child yang masih tidur dengan mamanya walau sudah berumur 50 tahun dan memiliki kemampuan telekinesis. Will Powers punya kekuatan macam Superman tetapi ia punya masalah dengan rupanya dan takut diejek gendut atau jelek. Puffer Boy hanya bisa membangkitkan kekuatannya ketika takut. Q adalah pencipta gadget yang terobsesi dengan Qnya di James Bond (ia juga punya ciptaan robot yang bicara persis gaya Arnold Schwarzenegger). Satu-satunya superhero yang agak normal di sini adalah Felicia Freeze, sang superheroine yang memiliki kemampuan membekukan sesuatu dan langsung menarik perhatian Ed. Apakah Ed bisa belajar dari Super Capers?

Tadinya saya mengira film ini seperti Superhero Movie yang penuh parodi. Nyatanya pendapat saya keliru total. Walau dipenuhi parodi di sana-sini (dari Batman, Robin, Star Wars, James Bond, The Matrix dan lain-lain), Super Capers tidak pernah terjebak dalam rentetan parodi demi parodi seperti yang menjadi masalah kronis kebanyakan film parodi belakangan ini. Selain itu, Super Capers juga cukup cerdas dalam menggabungkan humor orisinil bercampur parodi sehingga penonton tidak jenuh dengan humor begitu-begitu saja. Cerita dalam film ini pun cukup pintar untuk ukuran B-movie dan memiliki plot twist yang tak kusangka menjelang akhir film.

Mengingat film ini dirilis langsung untuk DVD, bisa dimaklumi kalau budgetnya kecil. Gara-gara alasan ini, Super Capers terlihat sangat minim dari segi kostum (jelek sekali dan bahkan tidak body-fit), segi spesial efek (dengan action yang sangat minim), sampai segi latar belakang (mansion superheronya menyedihkan). Pun dari pemainnya tidak terlalu banyak nama beken yang bergabung dalam film ini. Yang saya kenali paling-paling Ryan McPartlin (Mr Awesome di Chuck) dan Danielle Harris yang masih saja memiliki wajah dan perawakan gadis berumur 20an (walau ia sudah berusia 32 tahun!). Dua cameo yang lumayan terkenal ambil bagian adalah Tom Sizemore dan Adam West (dan tentu saja ada candaan bagaimana West adalah mantan Batman di serial TV jadul dulu). Sebagai kompensasinya, sang sutradara juga berusaha mengoptimalkan musik dalam film ini (semua direkam dengan orkestra) untuk memberi penonton kepuasan, setidaknya dari kualitas sisi audionya.

Sejujurnya jangan harapkan Super Capers untuk bersaing dengan film-film superhero macam The Dark Knight atau Spider-man 2 atau bahkan Sky High. Toh dengan segala kesederhanaan yang ia tawarkan, Super Capers membuktikan bahwa untuk sebuah film parodi yang kompeten dan memancing tawa masih perlu cerita. Semoga dengan film ini para studio besar mulai melirik Ray Griggs dan memberinya budget lebih tinggi untuk film-film parodinya yang lain ketimbang melulu mendanai Aaron Seltzer dan Jason Friedberg meracuni kita dengan film mereka.

Score: 6.6

Movie Details
Director: Ray Griggs
Cast: Justin Whalin, Samuel Lloyd, Ryan McPartlin, Danielle Harris
Running Time: 86 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , , ,

Top 5 Chuck - Sarah Moments

Posted on 22 August 2009 by Si Tukang Review

Mungkin bukan rahasia lagi kalau gw CINTA dengan serial Chuck. In fact, sebelum gw menonton Chuck serial favorit gw berisi daftar: Friends, Lost, How I Met Your Mother, Pushing Daisies dan Terminator: The Sarah Connor Chronicles… dan setelah nonton Chuck list tersebut berubah menjadi: Chuck, Chuck, Chuck, Chuck, dan… Chuck. Maaf buat semua serial TV yang lain - but Chuck is just too damn good. (Chuck nerd mode: On)

Dan sebagaimana kebanyakan serial favorit gw lainnya, gw mendedikasikan satu list lima moment terbaik Sarah dan Chuck (yang sekaligus juga my favorite on-screen couple saat ini!). Kenapa gw begitu suka dengan mereka berdua? Entah. Mungkin karena chemistry sempurna dari Zachary Levi dan Yvonne Strahovski? Mungkin karena hubungan manis mereka yang selalu antara on-off membuatmu berharap mereka bisa jadian?

So without further ado, these are the top five moments in Chuck: (Content SPOILER, so be warned!)

05. Chuck VS The Helicopter (Season 1, Episode 2)
Scene: Setelah Sarah diselamatkan oleh Chuck, Chucknya sendiri malah terjebak dan harus naik mengemudikan helikopter. Beruntung bahwa Sarah kemudian menginstruksikan kepada Chuck bagaimana untuk menjalankan helikopter secara benar. Setelah mendarat, Sarah memarahi Chuck karena menganggapnya tidak bertanggung jawab dan menyalahi perintah langsung darinya.

04. Chuck VS The Wookie (Season 1, Episode 4)
Scene: Ketika Chuck sampai jatuh berlutut dan bertanya dengan memohon kepada Sarah untuk memberitahukan kepadanya sesuatu mengenai dirinya - sekedar nama tengahnya yang tidak dijawab Sarah apapun juga. Tetapi ketika Chuck berlalu, Sarah berbisik pelan bahwa nama tengahnya adalah “Lisa”. Itu momen pertama dalam Chuck yang membuatku trenyuh dan benar-benar berharap bahwa mereka bisa jadian.

03. Chuck VS The Truth (Season 1, Episode 8 )
Scene: Setelah kena serum kejujuran, Chuck menggunakan hal ini untuk menanyakan kepada Sarah bagaimana perasaan Sarah sesungguhnya kepada Chuck… yang dijawab Sarah dengan kata-kata bahwa ia biasa-biasa saja dengan Chuck… Dan mematahkan hati Chuck. Belakangan setelah Sarah sendiri, ia baru mengakui kalau ia sudah dilatih untuk berbohong bahkan di bawah serum kejujuran sekalipun.

02. Chuck VS the EX / the Fat Lady / the Gravitron (Season 2, Episode 6 - 8 )
Scene: Ketika mantan pacar Chuck, Jill, yang sudah begitu dalam melukai hati Chuck kembali lagi. Sarah terbakar api cemburu. Tetapi Chuck sendiri malah CLBK. Di akhir sebuah episode setelah menyelamatkan Jill, Sarah mengatakan bahwa untuk membalas budinya “Jill tidak boleh melukai Chuck lagi”. Sesuatu yang dilakukan oleh Jill tepat satu episode kemudian setelah dia ketahuan merupakan agen FULCRUM. Dan gw bersorak bahwa di akhirnya Chuck memilih menangkap Jill dan melupakan CLBKnya setelah Jill hendak melukai Sarah. Cinta lama memang harus digantikan cinta baru!

01. Chuck VS The Imported Hard Salami (Season 1, Episode 9)
Scene: Sebuah bom yang hampir meledak gagal dicegah oleh Sarah dan Chuck. Di saat detik-detik terakhir sebelum meledak, Sarah tidak bisa lagi menahan perasaannya dan langsung mencium Chuck - sebuah ciuman terakhir sebelum bom tersebut meledak. Anehnya, bom tersebut tidak jadi meledak… tetapi sekaligus menyadarkan Chuck bahwa Sarah memang menyimpan rasa terhadap dirinya.

Dan sebenarnya ada segudang lagi adegan-adegan romantis di dalam Chuck. Kurasa keberadaan kedua orang yang saling mengisi dengan sempurna inilah yang membuat kita mau mendukung hubungan keduanya. Ingat bagaimana Chuck masih patah hati setelah Jill mencampakkannya? Seperti kata pepatah bahwa cinta barulah yang membuatmu lupa akan cinta lama, Sarah datang untuk membuat Chuck akhirnya lupa kepada Jill (dan semua keluarga dan sahabat Chuck mendukung Sarah ketimbang Jill). Setali tiga uang dengan Sarah, berada bersama Chuck membuatnya dia bisa mengingat kembali hidup normal tanpa menjadi seorang agen rahasia.

Chuck dan Sarah… bahagialah selamanya!

Comments (18)

Tags: , , , , , , ,

The 5 TV Series Moments That Made Me Cry

Posted on 05 August 2009 by Si Tukang Review

Bukan rahasia kalau gw pernah (sering?) nangis dalam nonton film. Gw memang bukan seorang yang merasa harus menahan tangis bila memang perlu menangis. Asalkan sebuah media (apapun itu; mulai dari film, komik, bahkan musik) menyentuh hatiku, maka gw selalu mengijinkan diri gw menangis. Nah, sebelumnya gw pernah melist beberapa film yang pernah membuatku menangis. Bagaimana dengan serial TV? Ini dia list lima momen dalam serial TV yang pernah membuat gw menangis. Bagaimana dengan kalian? Apakah menangis juga dalam momen-momen yang kusebutkan ini? Perhatian, list ini hanya akan mengikutkan serial-serial barat, jadi jangan mengomel kalau serial Jepang, Korea, Taiwan, Hong Kong, China atau sinetron Manohara favorit kalian tidak masuk dalam list ini. Obviously contain SPOILER.

5. Chuck Defends Morgan
TV Series: Chuck
Episode: Season 2, Chuck VS The Best Friend
Scene: Secara keseluruhan, episode ini menyorot hubungan Chuck dengan Morgan. Sering kali ketika Chuck absen dari kerjaan dan harus melakoni tugasnya sebagai agen rahasia, Morgan selalu menutupi jejaknya walau tidak tahu apa yang sebenarnya Chuck lakukan. Ketika dalam sebuah misi, Chuck harus mengkhianati Morgan (walau demi menyelamatkan nyawanya), saya bisa melihat bagaimana hal tersebut nyaris menghancurkan persahabatan keduanya, dan bagaimana hancurnya hati Chuck ketika ia  dipaksa mengatakan kata-kata yang menjelekkan sahabatnya. Ketika Chuck menjelaskan hubungannya dengan Morgan kepada Sarah, mata gw berkaca-kaca karena terharu. Dialog itu benar-benar mendeskripsikan persahabatan keduanya. Ending episode ini juga sangat pas dengan Jeffster menyanyikan lagu Africa-nya Toto serta menunjukkan perubahan dalam diri Morgan untuk tumbuh lebih dewasa dan tidak melulu tergantung pada Chuck. Definitely one of the best episode in an already awesome TV Series.

Link: Jeffster singing Africa to close this wonderful episode

4. I love you Claire Bear
TV Series: Heroes
Episode: Season 1, Company Man
Scene: Ada kalanya di mana gw adalah pecinta serial Heroes. Itu adalah masa-masa season pertamanya saat Heroes masih merupakan serial yang fresh dan penuh dengan ide orisinil. Salah satu ide yang menarik di Heroes adalah bagaimana mereka berusaha menyorot cerita satu demi satu karakter: mulai dari Hiro, Peter, Claire, dan lain-lain. Ironis bahwa sebuah serial yang terkenal dengan beberapa skenario dalam satu episodenya, episode terbaiknya justru datang dari episode yang fokus pada hanya satu karakter saja. Episode ini ditulis dan digarap oleh Bryan Fuller dan menitikberatkan cerita pada Claire dengan sang ayah angkatnya Noah Bennet (kala itu hanya dikenal dengan nama HRG - Half Rimmed Glass). Hubungan keduanya dibangun dengan pelan-pelan hingga kita sebagai penonton disadarkan kenapa Noah begitu menyayangi Claire. Endingnya di mana Noah mengorbankan dirinya dan membiarkan ingatannya dihapus supaya Claire bisa kabur dari kejaran The Company adalah salah satu bukti nyata bahwa Heroes - pernah bisa - menyentuh hubungan dan emosi ayah-anak yang terdalam.

Link: What a father would do for his daughter

3. Marshall And Lily in the Airport
TV Series: How I Met Your Mother
Episode: Season 4, Three Days of Snow
Scene: Marshall dan Lily sempurna sebagai pasangan. Salah satu daya tarik utama dalam HIMYM adalah melihat keduanya bersama. Walaupun kelihatan membosankan (mereka pacaran selama lebih dari sepuluh tahun, dan berujung pada pernikahan, tanpa pernah punya pacar lain lagi!) menurutku Marshall dan Lily adalah sebuah bukti dari the one and only love; soulmate. Keduanya juga memiliki tradisi unik buat menjaga keromantisan pernikahan mereka. Seperti sama-sama membuat janji menu makan malam, atau keharusan Marshall menjemput Lily dari airport. Salah satu ujian terbesar hubungan mereka datang ketika usia pernikahan mereka sudah menginjak tahun kedua. Apakah memang masih perlu segala tradisi formal semacam menjemput istrimu dari airport? Apalagi ketika itu tengah turun badai salju terbesar sepanjang sejarah di New York! Episode ini sendiri penuh dengan plot twist sehingga gw tidak mau banyak menspoilerkannya. Satu hal yang jelas, ketika ending dan plot twist tersebut tersibak, gw spontan bangkit berdiri dan ikut bertepuk tangan. Yes. It’s THAT moving.

Link: Download the episode here (
http://hotfile.com/dl/8776373/4bb458e/How_I_Met_Your_Mother_-_s04e13_-_Three_Days_Of_Snow.mkv.html)

2. She’s already a mother
TV Series: Friends
Episode: Season 10, The One With the Birth Mother
Scene: Kalau Marshall dan Lily adalah salah satu pasangan terbaik di layar kaca, maka gelar pasangan terbaik bagiku jatuh di tangan pasangan Monica - Chandler. Pasangan ini dari awalnya sudah unik dan romantis. Ingat finale season enam di mana Chandler meminta Monica menikahinya (dan ternyata Monica juga sudah menyiapkan hal yang sama?). Sangat romantis! Tetapi momen terbaik keduanya bagiku datang saat Monica dan Chandler (yang sebenarnya sangat menghendaki bayi) menyadari bahwa mereka tidak bisa memiliki bayi. Mereka mengambil satu-satunya cara yang lain: mengadopsi bayi. Demi memperbesar peluang, mereka sampai berpura-pura menjadi orang lain. Malangnya, kedok mereka terbongkar dan ibu sang bayi sempat ogah menyerahkan bayi itu kepada mereka. Itulah saat Chandler keluar dan praktis memohon kepada sang ibu untuk mempertimbangkan kembali keputusannya. Itulah saat pertama gw menonton serial TV dan tidak bisa menahan air mata gw tumpah. Chandler… you’re the man.

Link: Chandler Speech

1. My Greatest Hits
TV Series: Lost
Episode: Season 3, Greatest Hits
Scene: Ayolah. Siapa di antara kalian yang tahu gw dan tidak tahu that this is coming?

Charlie Pace adalah karakter favoritku di Lost. Gw pernah menulis kenapa dia jadi idola gw walaupun dia terbilang biasa dan sebenarnya lebih banyak merepotkan ketimbang membantu. Charlie adalah pecandu narkoba sebelum pesawat Oceanic 815 jatuh ke pulau tersebut. Ketika semua orang hanya beradaptasi dengan kehidupan di pantai, Charlie juga harus beradaptasi dengan kehidupan tanpa narkoba. Dan ia berhasil menahan godaan itu! Sialnya, di season ketiga, Desmond (karakter lain di Lost) terus mengalami visi bahwa Charlie akan meninggal dan Desmond terus berusaha mencegah dan menghentikannya.

Sampai sebuah visi yang menunjukkan bahwa supaya Claire - gadis yang diam-diam disukai Charlie - bisa meloloskan diri dari pulau itu, Charlie harus mati. Sebelum Charlie menerima kematiannya, ia menuliskan lima hal yang merupakan memori terindah dalam hidupnya. Bisakah kalian menebak apa yang merupakan peringkat pertama dari kelimanya?

Ia menulis “The day I meet you” di peringkat pertama dan menujukan surat itu kepada Claire.

Flashback menunjukkan bahwa dari saat pertama Charlie melihat Claire, ia sudah mencintai gadis itu, dan walau ia tak pernah mengatakan apapun kepada Claire (dan Claire juga salah kaprah dan menyangka bahwa Charlie hanya teman baiknya), Charlie SELALU melakukan segalanya - bahkan mengorbankan nyawanya - bagi Claire. I think that’s the measure of a true gentleman. Itulah yang menjadikan Charlie Pace my most favorite TV character. Ever.

Oh, dan kelihatannya Charlie juga merupakan karakter favorit banyak orang. Pada konferensi Lost baru-baru ini, ketika ditunjukkan slideshow dari karakter-karakter yang sudah meninggal, tebak siapa yang mendapat applause paling panjang dan meriah? You guessed it. It’s Charlie.

Link: Charlie’s Greatest Hits

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Chuck - The Complete Season Two

Posted on 08 July 2009 by Si Tukang Review

Chuck Season Two Poster

Chuck Season Two Poster

Siapapun yang sudah menonton season pertamanya rasanya akan mengakui kalau Chuck adalah serial TV baru terbaik tahun itu. Sungguh disayangkan bahwa potensi besar yang dimiliki oleh serial ini terpotong di tengah-tengah karena Writer’s Strike. Setelah beristirahat selama delapan bulan (hampir setahun!), season kedua Chuck kembali mengudara - kali ini selama satu season penuh. Hasilnya adalah season terbaik serial TV yang pernah saya tonton: yang dari menit pertama episode kesatu hingga menit terakhir finalenya tidak pernah gagal memaku perhatianku ke layar kaca (atau dalam kasusku layar laptopku).

Mereka yang menonton season pertama Chuck pasti jatuh pada satu kesimpulan: “Bagaimana nasib Chuck setelah Intersect baru diciptakan?”. Memang Casey dan Sarah selalu menjadi agen yang menamengi Chuck, tetapi keduanya tetap harus patuh pada pemerintah… dan pemerintah sudah dengan jelas menegaskan untuk menghabisi Chuck begitu Intersect baru diciptakan. Ketika topik ini diangkat menjelang penghujung season satu, aku menyangka bahwa finalenya akan membahas hal ini. Perkiraanku salah - sehingga saya menyangka bahwa masalah mengenai Intersect baru akan diangkat menjelang pengakhiran season dua, dengan keseluruhan season ini membahas mengenai misi-misi satuan yang dihadapi Chuck secara episodik.

Ingatkan saya untuk tidak pernah melupakan nama Josh Schwartz dan Chris Fedak setelah ini. Kedua kreator Chuck ini dengan berani langsung memasang tema Intersect baru di episode pilot season kedua. Dan setelah itu mereka langsung tancap gas dengan berganti haluan dengan Chuck. Bila di season pertama kebanyakan misi-misi Chuck hanya satu dan tidak berkaitan dengan lainnya, kali ini misi Chuck mulai berkaitan satu sama lain; terutama dalam menghadapi musuh besar season kedua: organisasi teroris rahasia FULCRUM. Saya tidak akan spoiler mengenai apa saja cerita apa saja yang diangkat, tetapi season kedua bisa disimpulkan sebagai rangkaian story arc pendek (biasa dalam tiga atau empat episode) yang bila digabungkan membentuk sebuah story arc seluruh season yang luar biasa fantastis.

Dan cerita kehidupan ganda (atau bahkan tiga?) Chuck tetap menarik satu sama lain karena kehadiran para karakter pendukungnya. Toh, perlu dicatat bahwa seseksi apapun Sarah, selucu apapun Morgan, sebaik apapun Ellie, seawesome apapun Awesome, sampai sesinis apapun Casey, Chuck tetap berpusat pada Chuck. Dan saya benar-benar salut pada Zachary Levi. Tanpa dirinya (dan akting solidnya), mustahil serial ini bisa menggaet perhatianku seperti sekarang. Dengan pusat cerita pada dirinya, praktis Levilah yang merekatkan seluruh serial ini menjadi satu. Mereka yang merasa bahwa di season pertama terlalu banyak fokus pada kehidupan spionase Chuck boleh bernafas lega karena kali ini keseimbangan kehidupan Chuck lebih terjaga - bahkan dalam beberapa episode mereka sempat berkaitan satu sama lain dengan cerdiknya.

Selain ceritanya, season dua Chuck ini juga penuh dengan bintang tamu yang sudah pasti dikenal oleh penonton TV dan movie. Dari pilotnya saja sudah hadir Michael Clarke Duncan. Kemudian berturut-turut ada Jordana Brewster (dari Fast and Furious), Dominic Monaghan (Charlie Pace di Lost), Tricia Helfer (Battlestar Galactica), dan banyak-banyak lagi. Praktis hampir di tiap episode kita disuguhi seorang bintang tamu terkenal! Selain itu, ada satu episode tertentu Chuck yang mendobrak teknologi TV dengan menggunakan konsep 3D (Episode 12: Chuck VS The Third Dimension). Kalau kamu beruntung memiliki sepasang kacamata 3D, pakailah saat menonton episode ini. Walaupun tidak sebagus film layar lebar yang berbudget besar, ini membuktikan bahwa serial ini tidak takut untuk berimprovisasi.

Saya sempat deg-degan ketika mendengar bahwa Chuck termasuk serial yang masih dipertimbangkan untuk diperpanjang atau tidak oleh NBC. Sekedar catatan saja; sebelum memberi lampu hijau memperpanjang season ketiga Chuck (itupun hanya sebatas 13 episode saja), NBC sudah menyetujui perpanjangan bagi serial Heroes. Saya tidak habis pikir dengan jalan pikiran eksekutif studio TV tersebut. Di satu sisi: Chuck yang adalah adalah serial TV dengan konsep yang segar dan unik, di lain sisi… uh… Heroes (dan saya tidak perlu menjelaskan lebih lanjut betapa hancurnya mutu serial TV ini di season ketiganya). Beruntung melalui kegiatan kampanye ‘SAVE CHUCK’ yang diluncurkan oleh para penggemarnya, para eksekutif NBC luluh dan memperpanjang serial Chuck. Untunglah!

Chuck adalah serial TV terbaik yang saya tonton saat ini. Dan sejujurnya saya tidak memberi pujian itu kepada banyak serial TV. Saya cinta Pushing Daisies, How I Met Your Mother, dan Lost, tetapi tidak satupun serial TV tersebut mampu menggeser Friends sebagai serial favorit saya sepanjang masa. Lantas datanglah Chuck, dan dalam dua season saja saya sudah lupa akan Friends. Jadi apa yang kalian tunggu, this is one hell of an amazing show.

Score: 10

TV Series Details
Creator: Josh Schwartz, Chris Fedak
Cast: Zachary Levi, Yvonne Strahovski, Adam Baldwin, Joshua Gomez
Running Time: 40 Minutes Per Episode

Comments (0)

Tags: , , , ,

Chuck - The Complete Season One

Posted on 08 June 2009 by Si Tukang Review

Chuck Season One Poster

Chuck Season One Poster

Perkenalan pertamaku dengan serial Chuck bisa dibilang kebetulan yang sangat nyentrik sekali. Ketika saya sedang iseng-iseng browsing di Youtube, mendadak saja saya menemukan video klip mengenai dua gadis cantik yang saling duel satu sama lain dengan koreografi yang cukup terarah. Karena tidak ada detail mengenai video klip tersebut di judulnya, saya mencari-cari info mengenai serial tersebut melalui komentar-komentar yang ditulis para viewer. Salah satu orang membeokan pertanyaan di kepala saya “apa sih nama serial ini?”. Jawabannya tidak lain tidak bukan ya Chuck ini. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mencari serial ini dan mulai menontonnya.

Hidup Chuck Bartowski tidak pernah sama semenjak ia dikeluarkan dari Universitas Stanford. Ia yang dulunya adalah salah seorang murid terjenius kini bekerja sebagai tukang reparasi alat elektronik di sebuah toko retailer Buy More. Hilang sudah mimpinya yang hendak menjadi seorang bilyuner software ala Bill Gates. Satu hal yang tak disangka oleh Chuck adalah sebuah email akan mengubah hidupnya selamanya. Ketika agen CIA Bryce Larkin (mantan sahabat dan roommate Chuck di Stanford) mencuri data dari super komputer pemerintah Amerika, ia langsung dieksekusi di tempat. Tepat sebelum ia tewas, ia sempat mengirimkan data dari semua data super komputer itu kepada Chuck.

Dasarnya otak Chuck memang jenius, sekali ia melihat data itu, semua memori langsung terekam secara bawah sadar di otaknya. Apabila ia tanpa sengaja melihat suatu hal yang mencurigakan, secara bawah sadar otak Chuck akan menggali informasi mengenai hal tersebut dalam data super komputer. Jelas saja keberadaan Chuck mendadak menjadi sangat penting di mata pemerintahan Amerika. Tidak tanggung-tanggung dua agen sekaligus dari CIA dan NSA dikirim untuk menjaganya. Yang pertama adalah agen cewe seksi Sarah Carter (sekaligus mantan pacar Bryce Larkin) serta agen John Casey yang menembak mati Bryce Larkin. Dimulailah kehidupan ganda Chuck sebagai tukang reparasi alat elektronik dan agen rahasia penangkap para penjahat.

Bisa ditebak kalau format utama Chuck adalah formula episodik. Setiap minggu menghadirkan pada kita episode yang berdiri sendiri dengan konflik dan penyelesaiannya (tapi tetap ada sebuah jalan cerita besar secara keseluruhan, format yang sama dipakai oleh Pushing Daisies). Ini membuat Chuck sederhana, gampang diikuti, tetapi tetap menarik dan tidak membosankan. Konsep dari Chuck memang orisinil dan kedua kreator serial ini Josh Schwartz dan Chris Fedak berhasil menggalinya semaksimal mungkin di season pertamanya. Kasus-kasus yang dihadapi oleh Chuck unik dan berbeda-beda setiap minggunya sehingga berasa fresh.

Secara kasarnya, segmen dalam serial ini terbagi dua. Chuck sebagai sang agen rahasia dan Chuck sebagai sang tukang reparasi. Keduanya porsi ini sama kuat dan menariknya karena didukung deretan pemain yang kelihatannya juga sangat menikmati peran mereka. Trio Chuck, Sarah, dan John selalu membuatku terpingkal-pingkal melihat bagaimana perbedaan ketiganya membuat metode mereka dalam menghadapi sebuah kasus selalu berbeda. Chemistry ketiganya sempurna! Selain itu, deretan Nerd Herd tempat kerja Chuck juga digawangi manusia-manusia error macam sahabat Chuck: Morgan si tukang bikin onar atau Big Mike si bos paling malas sedunia. Perlu diperhatikan bahwa yang paling layak diacungi jempol di sini adalah Zachary Levi yang memerankan Chuck secara sempurna. Tidak bisa dipungkiri kalau show ini hidup atau matinya di tangan Levi, dan secara brilian ia berhasil menjalin chemistry yang menakjubkan dengan hampir tiap pemain lain di serial ini. Walau begitu, tidak bisa dipungkiri kalau serial ini tetap menitikberatkan pada misteri di balik kehidupan agen rahasia Chuck - dan dalam beberapa episode terkadang balance antara kedua aspek kehidupan Chuck terasa agak timpang.

Dengan begitu banyaknya misteri yang belum terungkap sekaligus begitu banyaknya aspek cerita yang belum tergali (lagi-lagi gara Writer’s Strike 2007), banyak pihak memuji bahwa season kedua Chuck bahkan lebih luar biasa dibandingkan season pertamanya. Pujian yang makin membuat saya penasaran karena season pertamanya saja sudah menggaet hatiku. Bagi kalian yang mencari sebuah serial campuran drama, aksi, dan komedi, tidak perlu cari jauh-jauh lagi: Chuck adalah serial yang pas buatmu.

Score: 9.0

TV Series Details
Creator: Josh Schwartz, Chris Fedak
Cast: Zachary Levi, Yvonne Strahovski, Adam Baldwin, Joshua Gomez
Running Time: 40 Minutes Per Episode

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here