Tag Archive | "Christian Bale"

Tags: , , , ,

Public Enemies

Posted on 30 July 2009 by Si Tukang Review

Public Enemies Poster

Public Enemies Poster

Michael Mann adalah salah seorang sutradara favorit saya. Saya sudah nonton kebanyakan filmnya; mulai dari The Last of the Mohicans, Heat, Collateral, sampai Miami Vice. Salah satu ciri khas dari Mann adalah memakai dua aktor untuk berduet di filmnya. Dalam Heat ada Robert De Niro dan Al Pacino. Dalam Collateral ada Tom Cruise dan Jamie Foxx. Terakhir dalam Miami Vice ada duet Colin Farrell dan lagi-lagi Jamie Foxx. Setelah absen berkarya selama tiga tahun, Mann berencana mengangkat sebuah film semi-biografi mengenai salah seorang perampok bank paling terkenal di Amerika: John Dillinger.

Semula, karakter Dillinger hendak dimainkan oleh Leonardo DiCaprio. Rencana ini terpaksa diurungkan setelah DiCaprio memutuskan untuk syuting Shutter Island - film terbarunya Scorcese yang juga rilis di bulan Oktober 2009 nanti. Akhirnya peran Dillinger jatuh ke tangan Johnny Depp. Sebagai agen FBI yang memburu Dillinger, Melvin Purvis, diperankan oleh Christian Bale. Keduanya dikenal sebagai aktor watak yang berbakat dan saya masuk ke dalam gedung bioskop berharap dengan suguhan sekelas Heat.

Film dibuka dengan Dillinger yang membebaskan beberapa temannya dari penjara. Segera setelah ia membebaskan mereka, Dillinger memulai serial perampokan sukses yang membuat namanya tenar di bagian midwest Amerika - terutama Chicago. Dillinger sulit ditangkap FBI di jaman itu sebab para mafia selalu melindunginya. Tentu saja FBI juga panas melihat buruan mereka selalu kabur dari tangan mereka. Seorang agen berbakat: Melvin Purvis ditugaskan untuk menangkap Dillinger dengan cara apapun. Keduanya sekilas memiliki watak yang berbeda tetapi juga sama: berdedikasi pada pekerjaan mereka. Apa yang membuat Dillinger begitu berbeda dengan para bawahannya adalah karena ia tidak pernah puas akan uang yang dia curi. Yang ia kehendaki adalah menyusun bagaimana cara membobol satu demi satu bank. Di lain pihak, Purvis juga bersedia melakukan cara apapun juga guna membekuk Dillinger. Permainan kucing dan tikus pun dibuka, siapa yang pada akhirnya akan menang?

Walaupun Christian Bale memerankan Purvis dengan tegas, dingin, dan berdedikasi; sulit untuk dipungkiri bahwa bintang utama dalam film ini memang John Dillinger; sang Johnny Depp sendiri. Bagi kita yang tinggal di luar Amerika, nama Dillinger mungkin asing. Ini beda dengan para penonton Amerika. Bagi mereka, Dillinger adalah campuran sosok perampok eksentrik (maka disebut Public Enemies) ala Robin Hood modern. Sebabnya, saat itu bank Amerika mendapat dikecam habis-habisan karena dianggap gagal mengelola uang masyarakat Amerika. Antipati pada bank membuat Dillinger dianggap sebagai pahlawan yang berani menentang sistem. Dengan begitu banyaknya pendapat sejarah (dan cerita) soal Dillinger, saya salut bahwa Mann memutuskan untuk tidak berat sebelah dalam menyorot dirinya. Dillinger di film ini bukan penjahat yang kejam, bukan sosok Robin Hood yang membagi-bagi uang kepada masyarakat. Ia hanya manusia biasa yang memiliki hobi aneh tapi juga percaya diri dan cinta dengan hobinya itu. Oh, dan ia juga manusia biasa yang bisa jatuh cinta.

Satu hal lagi yang saya kagumi dalam film ini adalah totalitas mereka membangun setting tahun 30an. Detailnya mengagumkan! Perhatikan dari gaya busana, mobil, senjata, latar bangunan dan gedung theater sampai lagu yang dipakai semua datang dari era tersebut. Sekedar informasi saja: musik dalam film ini digubah oleh Elliot Goldenthal, sosok yang sama yang bertanggung jawab untuk musik dalam Heat. Bryan Burrough, pengarang buku non-fiksi yang merupakan dasar setting film ini pun turut memuji Public Enemies dan mengatakan bahwa film ini sudah sebisa mungkin berusaha mengikuti sejarah yang ada.

Buat kalian penggemar Johnny Depp atau Christian Bale, film Public Enemies tidak boleh kalian lewatkan. Tonton film ini untuk mencari tahu jawaban kenapa John Dillinger - walau hanya berkiprah selama kurang lebih setahun - merupakan sosok legendaris penuh kontroversi yang sukses memaksa FBI mengubah sistem hukum mereka.

Score: 7.7

Movie Details
Director: Michael Mann
Cast: Johnny Depp, Christian Bale, Marion Cotillard
Running Time: 130 Minutes

Comments (10)

Tags: , , , , ,

The Prestige

Posted on 15 July 2009 by Si Tukang Review

The Prestige Poster

The Prestige Poster

(Review Ditulis Di Tahun 2006)

Batman Begins adalah alasan kenapa aku menonton film ini. Karena begitu puasnya aku menonton Batman Begins dari Christopher Nolan, aku jadi penasaran dan tertarik melihat film ini. Yang mengejutkanku adalah Christian Bale dan Michael Caine (yang tampil begitu kompaknya di Batman Begins) sekali lagi tampil dalam film ini. Belum lagi dengan tambahan Hugh Jackman. Wolverine dan Batman tampil dalam satu layar? Tambahan lagi mereka duel sebagai para pesulap! Ini baru tontonan!

Robert Angier dan Alfred Borden keduanya adalah sahabat baik yang sangat tergila-gila dengan ilmu sulap (mereka juga pesulap). Tetapi kemudian segalanya berubah ketika sebuah kecelakaan terjadi di pertunjukan sulap mereka. Kecelakaan itu merenggut nyawa dari Julia Angier (istri dari Robert Angier) dalam atraksi sulap. Kemarahan Robert pun ditumpahkan kepada Alfred. Mereka yang semula sahabat berubah menjadi musuh besar yang saling menyerang dan mengacaukan permainan lainnya. Tidak hanya itu, mereka masing-masing juga memiliki asisten yang selalu melindungi mereka. Perseteruan keduanya ini makin lama menjadi makin tajam dan merembet kepada keluarga mereka.

Keduanya sebenarnya memiliki gaya sulap yang berbeda. Sementara Alfred Broden kurang jago dalam menggaet perhatian para penonton (tetapi dia sangat luar biasa dalam menciptakan trik-trik sulap baru), sebaliknya Robert Angier adalah seorang penarik minat penonton dan menguasai panggung (tetapi kalah terampil dengan Alfred dalam menemukan ilmu-ilmu yang baru). Akhirnya Robert mengirim asistennya yang bernama Olivia kepada Alfred guna mengorek rahasia Alfred. Bagaimanakah titik puncak dari perseteruan mereka ini? Yang jelas, sebagaimana ilmu sulap - akan begitu banyak plot yang diputar balik sepanjang cerita.

Seperti halnya saya menonton Batman Begins, The Prestige menyuguhkan deretan aktris papan atas yang mampu tampil luar biasa. Hugh Jackman dan Christian Bale sangat fasih dalam memerankan Robert Angier dan Alfred Borden (yang saya sayangkan hanyalah Nolan kurang memberi kesempatan penonton menunjukkan awal-awal masa di mana mereka berdua masih bersahabat karib - entah kenapa rasanya kurang dalam). Sebagai peran pendukungnya, Michael Caine - Scarlett Johansson - sampai David Bowie sekalipun mampu mencuri perhatian dari para penonton dengan performa mereka yang apik. Ilmu sulap demi ilmu sulap juga ditunjukkan dan perlahan misteri di baliknya dibongkar oleh Christopher Nolan (Tidak, sang sutradara tidak repot-repot membeberkan kepada kita mengenai trik sulap sederhana, tetapi trik-trik sulap yang berkelas tinggi).

Melalui film ini, saya belajar banyak mengenai dunia sulap yang sebagaimana halnya dunia bisnis lain, penuh dengan intrik dan persaingan tajam di dalamnya. Dan hal kedua yang saya pelajari adalah… mata kita justru merupakan bagian yang bisa jadi sangat menipu kita. The Prestige adalah tontonan apik yang menyuguhkan kejutan demi kejutan sampai pada detik terakhir film ini diputar. Bravo untuk tontonan apik dari Nolan ini, sudah lama rasanya otak saya tidak bekerja ketika menonton bioskop!

Score: 8.5

Movie Details
Director: Christopher Nolan
Cast: Hugh Jackman, Christian Bale, Michael Caine
Running Time: 128 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , , ,

Terminator Salvation

Posted on 05 June 2009 by Si Tukang Review

Terminator Salvation Poster

Ketika rumor mengenai Terminator: Salvation mencuat tahun lalu, saya sebagai salah seorang penggemar Terminator langsung bersorak girang. Walau sempat pesimistis dengan nama McG yang duduk sebagai sutradara, saya tetap menantikan film ini, apalagi mengingat trailernya yang menjanjikan serta nama Christian Bale yang berperan sebagai John Connor. Hati saya lantas mencelos ketika melihat nilai review untuk Salvation hanya berkisar pada angka 30an% positif di situs Rotten Tomatoes. Setelah ekspektasi saya naik turun ala roller coaster, saya akhirnya berkesempatan untuk menonton Salvation dengan mata kepala sendiri. Bagaimanakah hasilnya?

Berbeda dengan ketiga film sebelumnya, Salvation mengambil setting di masa depan. Karena itu ciri-ciri khas Terminator seperti pengiriman robot ke masa lalu tidak ada lagi. Fokus kali ini adalah perang frontal antara manusia dan robot, dan para mesin sukses mendesak manusia sampai pada titik kritis. Para pejuang yang tersisa menamakan diri mereka barisan Resistance dan tersebar di seluruh dunia. Para Resistance dipimpin oleh John Connor dewasa yang terus berusaha memenuhi takdirnya sebagai pemimpin terakhir umat manusia.

Percaya atau tidak, fokus utama dalam Salvation justru bukan pada karakter John Connor melainkan pada karakter Marcus. Seorang terpidana mati pada tahun 2003 dulu sebelum Judgement Day terjadi, ia menemukan dirinya terbangun di tahun 2018 tanpa ingatan apapun juga. Dalam perjalanannya mencari tahu apa yang terjadi pada dunia, Marcus bertemu dengan dua pejuang Resistance muda Kyle Reese dan Star. Siapa sebenarnya Marcus itu? Apa hubungan antara dirinya, Kyle, dan John sendiri?

Kalau kalian mencari sebuah film yang kaya efek, penuh ledakan, dan berisi aksi-aksi bikin-mata-terbelalak dari awal sampai akhir, silahkan tonton Salvation. Film ini akan memenuhi semua harapan kalian. Akan tetapi kalau kalian mencari sebuah film dengan tema sci-fi yang kental ala film pertamanya maupun yang mencampur drama dengan aksi semulus film keduanya mungkin bakalan kecewa akan Salvation. Pasalnya, walaupun McG sibuk membuat penonton terpesona dengan segala ledakan di layar, ia lupa untuk membangun karakter-karakter dalam film ini.

Banyak sekali momen-momen penting dalam film ini terbuang percuma karena penampilan yang kurang maksimal dari aktor-artisnya. Praktis selain Sam Worthington sebagai Marcus dan Christian Bale sebagai John Connor, semua karakter lain terlihat kalah adu akting dengan mereka. Walau demikian; dua acungan jempol untuk akting Worthington. Walau ia memerankan karakter baru, ia sukses mencuri perhatian dari Bale, ini bukti bahwa seorang karakter - asal diberi waktu cukup - bisa tumbuh di hati penonton.

Mereka yang menonton ketiga film Terminator sebelum ini juga pasti menemukan banyak easter egg yang bisa dinikmati dalam film ini. Siapa Kyle Reese dan kenapa ia begitu diinginkan oleh Skynet tentunya langsung tertebak. Kemudian kata-kata “I’ll be back” atau “Come with me if you want to live” sampai “No fate but what we make” akan membuat kalian yang mengerti artinya tersenyum lebar. Tanpa memberi spoiler lebih jauh bahkan Linda Hamilton dan Arnold Schwarzenegger pun tampil sebagai cameo dalam film ini! Sayangnya, theme Terminator yang begitu legendaris dipakai Brad Fiedel diaransemen ulang dan diubah dalam film ini. Sayangnya lagi, theme baru garapan Danny Elfman ini kalah nendang dibandingkan versi Fiedel.

Jadi bagaimana penampilan Salvation dibandingkan dengan para prekuelnya? Sebagai sebuah film aksi ia sukses. Ia bahkan lebih keren ketimbang T3, tetapi ia masih jauh dari kategori klasik dari dua film pertamanya. Hopefully, the fifth will be back… better.

PS: Satu saja saran saya sebelum kalian menonton Salvation. Tonton dulu ketiga film sebelumnya ketimbang membuat para penonton di sekeliling kalian sebal. Saya kesal sekali ketika penonton di samping saya berceloteh kebingungan “Hah? Siapa si ini Kyle Reese? Kok harus ditolongin gitu?” Alamaks!

Score: 7.6

Movie Details
Director: McG
Cast: Christian Bale, Sam Worthington
Running Time: 135 Minutes

Comments (3)

Tags: , ,

Equilibrium

Posted on 16 March 2009 by Si Tukang Review

Equilibrium Poster

Equilibrium Poster

Equilibrium adalah salah satu film dari Christian Bale dulu sebelum ia terkenal sebagai sang Batman baru. Film berbudget rendah ini tak dinyana bisa menjadi salah satu cult movie yang cukup populer karena cerita sci-fi tentang dunia masa depannya yang melintir. Heran juga eksekusinya bisa dilakukan dengan baik, padahal film sci-fi bertendensi untuk bikin pusing penonton. Yang lebih luar biasa, eksekusinya dilakukan oleh sutradara yang masih belum punya nama: Kurt Wimmer (belakangan dia membuat Ultraviolet yang mau meniru film ini tapi hasilnya kacau balau).

Equilibrium adalah gambaran masa depan yang suram. Seluruh negara Libria adalah negara yang damai. Tidak ada sama sekali perang. Kenapa? Karena cikal bakal dari perang itu tidak lain tidak bukan adalah perasaan manusia. Perasaan manusia inilah yang berhasil diredam oleh pemerintahan negara Libria melalui sebuah obat yang bernama Prozium. Setiap orang yang menentang memakai obat ini segera dihabisi oleh polisi dan kesatuan elit yang memiliki kemampuan spesial bernama Gun-Kata (campuran kemampuan memakai pistol dan bela diri yang dilebur menjadi satu).

John Preston adalah salah seorang officer Gun-Kata (disebut dengan nama cleric) yang terbaik. Dia adalah orang yang selalu mematuhi hukum. Bahkan ketika sang istri ditangkap dan dieksekusi pun dia bisa bertahan karena tidak memiliki perasaan. Tetapi Preston mengalami guncangan yang bahkan tak bisa ditahan lagi oleh Prozium ketika ia harus membunuh partnernya sendiri yang mulai ‘merasa’. Ketika ia menghabisi partnernya itu, Preston lupa mengambil obatnya. Ia terkejut mengenali sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Preston yang mengenal arti perasaan itu mulai memutuskan untuk bergabung dengan organisasi bawah tanah dan menghancurkan rezim dari negara Libria.

Ceritanya yang sangat menarik ini digarap dengan apik oleh Kurt Wimmer. Saya merasa akting dari Bale sangatlah cemerlang di sini. Ia bisa tampil sebagai seorang John Preston yang khawatir terhadap lingkungannya. Ia juga bisa tergambar sebagai seorang yang menyimpan kegalauan tetapi terredam dalam hatinya. Dan ia juga bisa menampilkan dirinya yang seorang yang mulai merasakan perasaan dan ingin terus tahu mengenai perasaan itu (perhatikan adegan dengan Ludwig Van Beethoven, atau adegan saat pembakaran). Bintang pendamping Bale juga tidak kalah cemerlangnya. Taye Diggs misalnya sebagai Agent Brandt - partnernya yang baru digambarkan culas dan menyimpan agendanya tersendiri. Atau Dupont yang diperani Angus MacFayden tampil seperti musuh sejati (walau tidak memiliki karisma yang cukup menandingi Bale).

Jangan dikira hanya ide sci-fi saja yang dibangun di sini. Ada juga adegan-adegan action yang luar biasa. Pertunjukan Gun-Kata di awal film misalnya sangatlah menakjubkan. Begitu pula dengan pertempuran Gun-Kata di akhir film. Sama hebat dan mengagumkannya. Jelas Gun-Kata akan menjadi salah satu ilmu beladiri favorit saya bila ada di dunia ini. Akhir kata, film ini bukannya tidak memiliki kelemahan. Ada kelemahan dan plot hole sedikit di sana-sini, tetapi itu bisa dimaafkan karena keseluruhannya yang spektakuler. Bagi kalian yang menggemari film-film macam V for Vendetta harus menonton film ini… lalu tanyakan kepada diri kalian sendiri: Bagaimana perasaan anda?

Score: 7.8

Movie Details
Director: Kurt Wimmer
Cast: Christian Bale, Sean Bean, Angus MacFayden, Taye Diggs
Running Time: 107 Minutes

Comments (8)

Tags: , , , , ,

The Dark Knight

Posted on 11 January 2009 by Si Tukang Review

The Dark Knight Poster

The Dark Knight Poster

Director: Christopher Nolan
Artist: Christian Bale, Heath Ledger, Aaron Eckhart, Gary Oldman, Morgan Freeman, Michael Caine, Maggie Gylenhaal
Running Time: 152 Minutes

Tidak ada film layar lebar yang lebih dinanti-nantikan di tahun 2008 seperti The Dark Knight. Marvel boleh merilis Iron Man serta Hulk, Indiana Jones boleh melakukan comeback setelah pensiun selama 19 tahun tetapi apa yang paling dinanti-nantikan oleh orang adalah apa yang dipersiapkan oleh Christopher Nolan untuk sang caped crusader.

Betapa satu film bisa mengubah segalanya. Ketika Batman Begins dirilis di tahun 2005 dulu, semua orang menyambut dengan harap-harap cemas. Maklum saja, penonton masih trauma dengan film Batman and Robin yang dinilai menghancurkan franchise sang manusia kelelawar itu. Beruntung, Christopher Nolan mempelajari dengan benar mengenai graphic novel Batman dan mengembalikan Batman ke akar sejatinya: kegelapan. Hasilnya, Batman Begins pada tahun 2005 dinilai sebagai film yang berhasil membangkitkan citra Batman. Sebuah teaser yang menyatakan bahwa Joker - sang musuh legendaris Batman - akan muncul di sekuel makin membuat orang penasaran.

Ketika Heath Ledger dipilih menjadi Joker, semua orang bertanya-tanya dalam hati. Bisakah penampilan sang bintang Australia itu melewati penampilan dari Jack Nicholson dalam film Batman pertama? Batman pertama adalah Batman tersukses sekaligus mengukuhkan image Joker sebagai milik Jack Nicholson. Merupakan tantangan tersendiri bagi Ledger untuk tampil sebagai sang badut. Tak dinyana, di awal tahun ini Ledger ditemukan meninggal. Spekulasi menyatakan bahwa Ledger minum kebanyakan pil tidur karena depresi setelah memainkan karakter Joker. Makin besarlah rasa penasaran dan hype orang akan film ini.

Keadaan di Gotham sudah jauh berubah semenjak kehadiran Batman. Bersama rekan lamanya polisi Gordon, Batman memporak-porandakan kegiatan bisnis para mafia di kota Gotham. Para kriminal kini ketakutan akan sosoknya; penjahat kacangan bahkan tidak berani keluar melihat lentera kelelawar muncul menerangi langit Gotham. Ditambah dengan seorang DA (Defense Attorney) Harvey Dent yang sigap membela kebenaran dan membersihkan kota Gotham, nampaknya Gotham tak lagi memerlukan sosok Batman. Bahkan Bruce Wayne pun menyatakan dukungan penuhnya kepada Harvey. Ia merasa bahwa sudah cukup kiprahnya sebagai Batman; dan Gotham memerlukan seorang pahlawan yang sesungguhnya - bukan anti-hero yang beraksi malam-malam.

Sayang, prediksi ketiga abdi kebenaran ini meleset. Di tengah terjepitnya para gangster ini, mereka memutuskan untuk menyewa bantuan dari sosok sinting psikopat bernama Joker. Joker berbeda dengan para penjahat yang pernah dihadapi oleh Gotham lainnya. Ia bukan seorang penjahat yang tamak dan menginginkan uang. Ia bukan seorang penjahat yang mau posisi dan jabatan demi menguasai orang. Bukan. Joker hanya bisa digambarkan - dengan kata-kata yang disadur dalam film ini sendiri - sebagai “the agent of chaos” dan “man who want to watch this world burn“. Anarki yang diciptakan oleh Joker inilah yang melawan tatanan yang sudah disusun sedemikian rupa oleh Batman - sekaligus membawa keduanya dalam perang frontal memperebutkan Gotham.

Saya harus memberikan pujian sedalam-dalamnya bagi film The Dark Knight. Film ini begitu suksesnya memadukan segala macam unsur drama, kriminal, dan superhero dalam sebuah film sehingga kita seakan-akan tidak menonton sebuah film superhero lagi. Begitu riilnya paparan yang ada sehingga kita seakan dibawa menonton drama mafia kelas berat ketimbang sebuah film superhero kacangan semata. Para artis yang bermain dalam film ini pun bersinar cemerlang. Christian Bale masih sosok Bruce Wayne dan Batman sejati. Gary Oldman juga tetap menjadi Gordon terbaik yang saya kenal di layar lebar. Morgan Freeman dan Michael Caine kali ini mendapatkan peran lebih kecil (tetapi tetap berpengaruh) untuk memberi jalan bagi dua pendatang baru: Heath Ledger sebagai Joker dan Aaron Eckhart sebagai Harvey Dent. Rachel Dawes, seorang karakter lama kembali dengan artis Maggie Gyllenhaal menggantikan posisi Katie Holmes.

Saya rasa semua orang sudah memberikan pujian mereka kepada Ledger sehingga saya tak perlu memujinya lagi (dia berhasil membuktikan bahwa dialah Joker terbaik, melebihi bahkan Jack Nicholson sekalipun, akan merupakan hal yang memalukan apabila Ledger tidak diganjar dengan Oscar untuk penampilannya yang sempurna itu), tapi orang kadang melupakan Aaron Eckhart. Saya pribadi merasa bahwa transformasi Harvey Dent menjadi Two-Face adalah nyawa dan plot sesungguhnya dalam film ini (anda akan mengerti bila menontonnya lagi) dan Eckhart berhasil menanganinya dengan sangat-sangat baik. Saya senang sekali dengan besarnya peran Two-Face di sini mengingat Two-Face adalah salah satu villain dari Batman yang paling kompleks moralnya selain Joker dan The Riddler. Bahwa Eckhart berhasil membawakan peran ganda tersebut dengan sempurna adalah suatu kepuasan tersendiri bagi penggemar komik sepertiku.

Setiap kali dalam beberapa tahun, akan ada sebuah film yang begitu bagusnya sehingga anda akan menemukan diri anda membicarakan mengenainya, mendiskusikan mengenainya bersama teman-teman anda. Bagiku, film itu adalah The Dark Knight. Dan tampaknya saya tidak sendiri. Para kritikus setuju menilai film ini sebagai film terpuji tahun ini, para penonton pun begitu antusias dengan film ini dan mengangkat pendapatannya menjadi lebih dari 530 Juta USD, menempatkan The Dark Knight sebagai film kedua terlaris sepanjang masa di bawah Titanic. All hail the Dark Knight!

Score: 10

- this review is dedicated to Heath Ledger, why so serious mate? -

Comments (2)

Advertise Here
Advertise Here