Tag Archive | "Chris"

Tags: , , , , , , , , ,

Metal Gear Solid (GBC)

Posted on 26 August 2009 by Si Tukang Review

Metal Gear Solid Cover

Metal Gear Solid Cover

Ketika Metal Gear Solid (MGS) dirilis di Playstation, karya Hideo Kojima ini langsung melejit menjadi salah satu franchise game terbesar sepanjang masa. Walaupun ceritanya merupakan bagian ketiga (diawali dengan dua game Metal Gear di konsol MSX2) hampir semua orang mulai mengenal nama Metal Gear setelah seri ketiganya. Apa yang membuat MGS di Playstation begitu terkenal? Ada yang bilang genre stealthnya adalah sesuatu yang unik di jaman itu. Ada yang bilang cutscenenya membuat ini lebih terasa seperti film ketimbang game. Ada yang bilang jalan ceritanya keren, penuh plot twist dan tidak kalah bersaing dengan James Bond atau film spionase lainnya. Dan ada segudang alasan lainnya. Bahkan Hideo Kojima sendiri mengakui bahwa ia sengaja tidak melanjutkan franchise Metal Gear di generasi 16-bit karena merasa bahwa visinya tidak bisa direpresentasikan secara maksimal dengan teknologi SNES dan Genesis.

Ketika kemudian muncul pemberitaan bahwa ada sebuah game Metal Gear direncanakan untuk handheld GBC, penggemar franchise ini terbagi menjadi dua. Sebagian mendukung keberanian dari Konami merilisnya di handheld yang jauh lebih inferior ketimbang konsol, sebagian lagi menilai bahwa Konami hanya ingin mengeruk untung sembari mempertahankan minat pasar, apalagi karena Metal Gear Solid 2: Sons of Liberty masih mengalami penundaan rilis di PS2. Toh, semua orang penasaran dengan game ini. Bagaimana hasilnya game yang judul aslinya sebenarnya Metal Gear: Ghost Babel ini?

Sebelum kalian kebingungan (karena kronologi Metal Gear sendiri cukup rumit) saya ingin menjelaskan bahwa Ghost Babel (saya akan menyebut game ini sebagai Ghost Babel supaya tidak terjadi kesalahpahaman dengan MGS di Playstation) bersetting di dunia alternatif. Seperti MGS merupakan sekuel dari dua game pertama Metal Gear di MSX2, Ghost Babel adalah masa depan alternatifnya. Oleh karena itu walau beberapa karakter dari MGS seperti Kolonel Roy Campbell dan Mei Ling muncul, mereka bukanlah orang yang sama yang kamu kenal di MGS Playstation.

Tujuh tahun sudah berlalu semenjak even di Metal Gear dan Solid Snake masih mengasingkan dirinya di Alaska. Toh dunia luar tidak membiarkannya pensiun begitu saja. Sahabat lama Snake, kolonel Campbell datang dan meminta Snake kembali turun ke medan perang karena krisis internasional telah terjadi. Setelah keberhasilan Snake menghancurkan Metal Gear dan Outer Heaven, ternyata sebuah prototipe Metal Gear baru bernama GANDER kini dikuasai oleh komplotan ekstremis bernama “Gindra Liberation Front” / GLF / Front Pembebas Gindra. Dengan peluncur nuklir berjalan di tangan mereka, komplotan ini kemudian menekan pasukan perdamaian menarik diri dari tanah Gindra.

Dalam infiltrasinya kali ini, Snake tidak sendiri karena sebuah kelompok militer bernama Delta Force sudah terlebih dahulu dikirim ke sana. Toh, begitu Snake sampai ia diberitahu oleh seorang gadis bernama Chris Jenner bahwa Delta Force dibokong dan semua anggotanya sudah dihabisi – tinggal Chris yang tersisa. Kini, keduanya harus bekerja sama untuk menghentikan GLF dan dalam prosesnya mengungkap rahasia politik kelam antara Gindra dan Amerika.

Seperti kebanyakan game Metal Gear lainnya, jangan harap kalau cerita dalam Ghost Babel sederhana yang saya tulis di atas. Ia penuh dengan intrik politik kelas tinggi dan plot twist yang – hampir pasti – tidak pernah kamu sangka. Jalan cerita ambisius ini menunjukkan kalau Konami tidak main-main menggarapnya. Dengan media jauh lebih minimalis (mana mungkin GBC memiliki cutscene ala Playstation?) dialog menjadi unsur utama untuk menghidupkan cerita dan Ghost Babel menyuguhkan dialog-dialog kelas tinggi kepada kita. Tidak ada lagi kesalahan translasi seperti yang terjadi ketika Metal Gear pertama diport ke NES dulu.

Gameplay game ini juga menunjukkan kesungguhan Konami dalam menangani franchise terbesarnya ini. Game ini terbagi menjadi 13 level yang meletakkan Snake di posisi-posisi tertentu di Gindra. Hal ini bisa dimengerti karena keterbatasan cartridge GBC tidak memungkinkan semua arena bebas dijelajahi oleh Snake begitu saja. Walau begitu semua unsur stealth dari kotak bersembunyi, masker gas, berbagai senjata tetap ada di sini. AI musuh juga cukup cerdas untuk mencari Snake bila mereka merasa curiga. Pertempuran dengan para bosnya memorable dan tidak kalah dengan versi Playstationnya. Bahkan kalau kamu masih menginginkan lebih dari sekedar game utamanya sendiri, Ghost Babel menawarkan misi VR Training (Virtual Reality) dan bermain VS Battle bersama temanmu yang punya game ini juga.

Grafis dan suara game ini adalah yang terbaik untuk GBC. Konami memaksimalkan cartridge GBC yang terbatas dengan variasi warna yang menghidupkan karakter-karakter dalam game ini. Menilik bagaimana ada lebih dari 10 karakter (semua dengan artwork yang berbeda), stage-stage yang begitu luas, sampai detailnya sprite karakter dalam permainan, saya tidak berlebihan bila mengatakan grafis Ghost Babel mungkin yang tersolid untuk GBC. Musiknya juga ditangani langsung oleh Norihiko Hibino dan Kazuki Muraoka. Kesuksesan Norihiko Hibino menangani game ini kemudian membuatnya diangkat sebagai bagian dari grup komposer tetap di serial-serial Metal Gear berikutnya yang dikepalai oleh Harry Gregson-Williams.

Metal Gear Solid atau Ghost Babel untuk GBC adalah contoh sempurna bagaimana membuat sebuah game untuk handheld. Sampai saat ini pun ia masih masuk dalam sepuluh besar dari game handheld favoritku. Walau tidak ditangani oleh Kojima sendiri, Ghost Babel memiliki semua elemen yang membuat franchise ini begitu terkenal pada awalnya. Tunggu apa lagi? Mainkan game ini!

Final Verdict

Gameplay: 10
Konami memberi bukti bukan janji kosong belaka. Mereka mengatakan bahwa mereka akan membawa sensasi Metal Gear di dunia portable dan hasilnya memang Metal Gear yang bisa dibawa di saku kita.

Graphic / Sound: 9.0
Walaupun GBC tidak bisa menghasilkan cutscene untuk bercerita seperti di konsol, itu bukan berarti grafis dan suara Ghost Babel buruk. Sebaliknya saya percaya bahwa kualitas audio visualnya masih yang terbaik yang pernah dirilis di GBC selama ini.

Play Time: 9.5
Cerita utamanya sendiri memakan waktu kurang lebih lima sampai enam jam untuk dimainkan. Tapi ada kemungkinan kamu akan memainkannya lagi begitu menamatkannya sekedar untuk mengikuti intrik ceritanya. Setelah bosan dengan jalan cerita utamanya pun ada ratusan misi VR yang bisa kamu jalani, atau kamu bisa berduel dengan temanmu bila ia juga memiliki GBC dan game yang sama.

Overall: 9.7

Game Details
Developer: Konami
Publisher: Konami
Genre: Stealth Action

Note: Review ini sekaligus menutup satu bulan penuh Retro Month yang membahas lima game dari NES, SNES, Genesis, dan Game Boy. Semoga dengan review-review ini bisa membawa kalian kembali pada masa-masa klasik, mulai dari kebetean karena memainkan game yang buruk (dan merasa tertipu membelinya karena di jaman itu tidak ada internet), sampai kecanduan memainkan game keren berjam-jam baik sendirian maupun bersama teman sampai ortu ngamuk dan menyita gamemu hanya boleh dimainkan di saat kamu liburan sekolah. Oops, kok jadi curhat pribadi?

Comments (0)

Tags: , , , , , ,

Resident Evil 5

Posted on 18 March 2009 by Si Tukang Review

Resident Evil 5 Cover

Resident Evil 5 Cover

(Review Based on 360 Version)

The Evil That Begins in 1996

Bila ditanya game apa yang melahirkan genre Survival Horror, kebanyakan gamer bakalan menjawab “Resident Evil”. Walaupun Alone in the Dark sebenarnya lebih dahulu lahir, tak bisa disangkal kalau game yang lahir dari tangan dingin Shinji Mikami inilah yang mengubah (dan melahirkan) genre Survival Horror. Resident Evil membuktikan pada kita bahwa game bisa menyeramkan. Siapa yang dulu tidak kaget ketika para anjing pertama kali menyerang masuk dari kaca jendela mansion coba?

Setelah melihat bagaimana larisnya Resident Evil, lahirlah sekuel demi sekuelnya. Resident Evil 2, 3, Code Veronica, belum lagi prekuelnya di Zero, sampai game bertipe First Person Shooting ala Gun Survivor dan co-op macam Outbreak. Resident Evil memang berubah menjadi franchise terlaris Capcom tapi setelah bertahun-tahun stagnan dengan gameplay itu-itu saja, para gamer mulai bosan. Grafis Resident Evil memang makin apik, ceritanya makin dalam (membingungkan?), dan arenanya pun bertambah luas dan tidak melulu di Racoon City, tetapi pada dasarnya gameplaynya tetap sama. Gamer ingin sesuatu yang berbeda, sesuatu yang baru, dan sesuatu yang lebih intense dan menyeramkan.

Capcom menjawab permintaan para gamer melalui Resident Evil 4 (RE 4). Game ini merombak total konsep dari Survival Horror yang diusung oleh prekuelnya. Musuh yang harus dihadapi gamer tidak melulu zombie tak berotak melainkan para manusia biasa yang diinfeksi oleh parasit sehingga menjadi beringas. Tentu saja para manusia beringas ini jauh lebih cerdas ketimbang para zombie. Mereka bisa bekerja sama dan memakai senjata untuk menghabisimu. Walau ada yang menanggapi secara negatif, secara keseluruhan RE4 menuai pujian para kritikus dan gamer, bahkan didaulat sebagai salah satu game terbaik tahun tersebut.

Ketika bocoran mengenai Resident Evil 5 (RE 5) muncul, publik kembali menahan nafas. Apa lagi kiranya yang akan menjadi inovasi baru Capcom kali ini?

Chris Redfield is Back

Dalam RE 5, gamer menjalankan karakter Chris Redfield. Chris Redfield adalah pahlawan pertama dalam Resident Evil. Ia termasuk seorang dari sedikit anggota STARS yang selamat dalam insiden di Umbrella Mansion juga salah satu dari orang pertama yang menyadari kebusukan perusahaan Umbrella. Setelah akhirnya berhasil melakukan reuni dengan adiknya di Code Veronica, Chris kembali berusaha memburu Albert Wesker, bosnya yang berkhianat, dan menghentikan Umbrella.

Setelah Umbrella ditutup, itu tidak berarti perjuangan Chris selesai. Sebaliknya, keadaan malah bertambah rumit. T-Virus milik Umbrella beredar ke pasar gelap dan jatuh ke tangan teroris untuk dijadikan uji coba. Salah satu ladang uji coba itu adalah di tanah Afrika, dan di sanalah Chris kembali bertualang.

Ketika trailer RE 5 pertama kali beredar, kontroversi konsep co-op dengan karakter Sheva Alomar muncul. Saya sendiri merasa biasa-biasa saja dengan konsep ini. Bukankah fitur co-op sudah berulang kali muncul dalam Resident Evil? Di Resident Evil 3, kamu beberapa kali bisa dibantu oleh Carlos berhadapan dengan Nemesis, dalam Resident Evil Zero Billy dan Rebecca praktis terus saling dukung untuk selamat, dan dalam Outbreak kamu malah bisa bermain online untuk menyelamatkan diri. Malahan saya khawatir kehadiran Sheva akan mengurangi nuansa seram game, dan hal itu benar-benar terbukti.

RE 5 tidak lagi menjadi game yang menyeramkan – melainkan berubah menjadi game action. (Sungguh!)

Sepanjang permainan kamu akan saling dukung dengan pasanganmu untuk mengungkap misteri penyebaran penyakit di Afrika. Selain itu Chris juga punya alasan personal mau mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Jill (bagi yang tidak tahu, Jill adalah pasangan Chris di Resident Evil pertama sekaligus tokoh utama di Resident Evil 3). Ada dua alasan kenapa sebuah game survival horror menakutkan. Pertama adalah kesendirianmu, dan kedua adalah kamu dipaksa untuk melarikan diri melawan musuh ketimbang melawan mereka. Dua alasan itu semuanya lenyap di RE 5. Kehadiran Sheva yang selalu mendampingimu praktis membuat alasan pertama dinihilkan sementara ammo yang melimpah malahan membuatmu memburu musuh ketimbang kabur dari mereka. Apalagi musuh bisa saja menjatuhkan uang yang bisa kamu gunakan untuk mengupgrade senjatamu. Sedikit banyak game ini malahan mengingatkan saya pada Dino Crisis 2.

Kalau boleh jujur, RE 5 tidak banyak melakukan inovasi. Bisa dibilang ia adalah RE 4 yang bersetting di Afrika, memiliki pasangan Sheva, dan hadir dengan grafis yang lebih mumpuni. While that’s not bad since Resident Evil 4 is a great game, it still is a bit of a letdown. Yang paling mengecewakan dari gameplaynya adalah bagaimana ia ‘memaksa’ kita untuk berdiri di tempat sambil membidik musuh. Capcom berdalih ini demi menambah intens permainan tetapi saya kok tidak percaya. Buktinya Dead Space memperbolehkan kita membidik sambil terus berjalan tanpa harus mengurangi suasana seramnya. Bicara soal seram dan seru, RE 5 juga terasa tanggung di tengah-tengah perbatasan kedua nuansa itu. Kalau seram jelas seram Dead Space, kalau seru ia juga kalah dengan Left 4 Dead (game FPS yang juga memiliki unsur co-op dan berhadapan dengan zombie).

Walau tidak luar biasa di aspek manapun, bukan berarti RE 5 game yang jelek, sebaliknya, ia sebenarnya bagus merata di segala aspek. Hanya saja, this is a jack-of-all-trades game.

Lost in Africa

Lantas bagaimana dengan translasi franchise Resident Evil di konsol masa kini? RE 5 memiliki tampilan yang benar-benar cantik. Beberapa pihak mungkin akan berusaha membandingkannya dengan setting Farcry 2 yang sama-sama di Afrika. Menurut saya keduanya tidak bisa dibandingkan. Afrikanya RE 5 lebih bernuansa fantasi bercampur nyata sementara Afrikanya Farcry 2 lebih berat pada nuansa nyata. Salah satu stage yang paling memorable kumainkan adalah setting dalam gua pertambangan Afrika di mana suasana gelap dan orang-orang Afrika yang (maaf) juga berkulit gelap bisa tahu-tahu saja nongol untuk menyergapmu. Itu satu dari sedikit bagian dalam RE 5 yang masih berhasil mempertahankan nuansa seram di dalamnya.

Untuk audionya, saya rasa pengisi suara dari tiap karakter mampu menjalankan tugasnya dengan baik – kecuali untuk karakter Sheva. Saya mungkin sedikit terlalu memilih tetapi suara Sheila sebagai seorang lokal Afrika kurang terdengar aksen Inggris-Afrikanya. Musik backgroundnya yang mendadak menjadi tegang apabila kamu berhadapan dengan musuh malahan saya nilai kurang efektif. Kalau musiknya terus memperingati kita kalau ada musuh yang belum kita habisi / tengah bersembunyi lantas ke mana unsur kejutan dalam gameplaynya?

Sekali lagi kalau review saya seakan bernada negatif, bukan berarti saya tidak suka dengan RE 5. Sebaliknya saya sangat menikmati game ini. Kendati RE 5 tidak lagi seperti para pendahulunya, ia tetap sebuah game aksi yang solid dan menegangkan dari awal hingga akhir.

Final Verdict

Gameplay: 9.0
Kendati tidak menghadirkan revolusi seperti iterasi keempatnya, game bernomer kelima dari franchise RE ini memiliki kontrol yang solid, variasi senjata yang bisa kamu gunakan, juga permainan yang dibalut cerita misterius khas RE. Kelemahan berupa kurang seramnya game ini bisa ditutup dengan serunya permainan co-op yang bisa kamu lakukan dengan partnermu (apalagi dengan memainkannya online bersama orang lain).

Graphic / Sound: 9.0
Kualitas grafis dan sound membuat RE 5 layak disebut Resident Evil untuk generasi masa kini. Pujian utamanya bisa disampaikan pada stage-stage penuh variasi yang bisa dijelajahi oleh Chris (tetapi kok beberapa stage terasa agak ‘sempit’ dan terlalu ‘berlorong’ ya?)

Play Time: 8.0
Normalnya, menamatkan game ini membutuhkan waktu kurang lebih 12 jam dengan pembagian sekitar 2 – 3 jam per chapternya. Hanya saja, ada beberapa mode permainan tambahan RE 5 yang hanya bisa diakses setelah kamu menamatkan game ini. Selain itu, kamu mungkin akan menamatkan game ini beberapa kali dengan rekanmu. Sekedar catatan, memainkan game ini seorang diri ataupun dengan orang lain sungguh memberi sensasi yang berbeda.

Overall: 8.8

Game Details
Publisher: Capcom
Developer: Capcom
Genre: 3D Action

Comments (38)

Advertise Here
Advertise Here