Tag Archive | "Castlevania"

Tags: , , , , , , ,

Castlevania: Portrait of Ruin

Posted on 27 February 2010 by Si Tukang Review

Castlevania: Portrait of Ruin Cover

Castlevania: Portrait of Ruin Cover

(Review Ditulis Di Tahun 2007)

Setelah Dawn of Sorrow memetik sukses besar, Konami pun menggarap sebuah title Castlevania baru untuk Nintendo DS. Apabila Dawn of Sorrow merupakan sekuel langsung dari Aria of Sorrow di GBA, maka Portrait of Ruin bisa dibilang merupakan sekuel tidak langsung dari Castlevania Bloodlines di Sega. Ingat? Itu lo, Castlevania yang membiarkan anda memilih satu dari dua karakter utama yang ada: John Morris dan Eric Lecarde. Di dalam game ini, kalian menjalankan peran sebagai anak John Morris – Jonatan Morris bersama sang magician pendampingnya Charlotte Aulin. Bagaimana sepak terjang kedua remaja ini dalam menghadapi sang pangeran kegelapan?

Graphic (7 / 10)

Presentasi dalam game ini sekilas dilihat mirip dengan Dawn of Sorrow. Apabila anda membiarkan menu anda tanpa memilih apapun maka anda akan disuguhi sebuah animasi singkat mengenai cerita Portrait of Ruin. Gaya desain karakter yang sudah cukup anime dalam Dawn of Sorrow makin terlihat bergaya anime di dalam game ini. Gaya penggambaran karakter dalam game ini dan Dawn of Sorrow sudah memancing perdebatan antara para penggemar Castlevania. Yang satu menganggap kalau gaya anime adalah hal yang cocok dengan dunia Castlevania yang digarap dari negeri Sakura, sementara yang satu lagi mengagungkan gaya gothic yang disebut bisa merepresentasikan keangkeran kastil Dracula. Saya sendiri? Saya sebenarnya jauh lebih menyenangi gaya gothic di dalam game-game Castlevania ketimbang gaya kartunis yang terlihat sangat childish di game ini (tunggu sampai kalian lihat karakter legendaris macam Dracula digambarkan di game ini – lalu bandingkan keanggunan sang pangeran malam itu dalam Symphony of the Night).

Sekilas lihat, Castlevania Portrait of Ruin tampaknya menghadirkan berbagai jenis daerah yang luas dan variatif yang bisa kita jelajahi. Tetapi apabila kita memperhatikannya lebih detail lagi maka kita akan kecewa karena banyak sekali bidang grafik dalam game ini yang mencomot dari Dawn of Sorrow. Hal yang paling kentara bisa kita lihat ada pada render musuh-musuh yang kita hadapi. Entah kenapa banyak sekali (hampir 60 – 70% musuh yang ada) dicomot dari Dawn of Sorrow. Ada apa dengan Konami? Dawn of Sorrow dan Portrait of Ruin memiliki jeda waktu dua tahun! Ketimbang terus mendaur ulang musuh-musuh yang ada tidakkah seharusnya Portrait of Ruin menyajikan karakter-karakter musuh yang baru agar kita tetap fresh dalam memainkannya?

Yah, bukan berarti Portrait of Ruin gagal total dalam hal grafisnya. Banyaknya animasi senjata Jonatan, spell milik Charlotte sampai serangan gabungan mereka berdua tetap tergambar dengan halus dengan animasi yang (untungnya saja!) semuanya baru dan menarik. Bermain dengan menggunakan cambuk lagi juga adalah sebuah tambahan baru yang saya terima dengan senang hati.

Sound (8 / 10)

Musik dalam game ini masih sangat berkualitas. Setiap daerah memiliki musik-musik yang berbeda dan menyenangkan untuk didengar. Mungkin tidak ada musik yang memorable di dalam game ini (saya beranggapan kalau main theme Portrait of Ruin masih belum sebagus Castlevania-Castlevania sebelumnya), tetapi toh saya tidak sampai memutuskan untuk ‘membisukan’ Nintendo DS milikku ketika memainkannya. Karakter seperti Jonatan dan Charlotte juga memiliki cukup banyak voice acting (terutama karakter Charlotte yang memiliki berbagai jenis spell untuk dia teriakkan kalau dia menggunakannya).

Tunggu, tidak hanya itu saja. Dengan sebuah trik khusus anda bisa membuka bagian voice acting Jepang dalam game ini! Sebuah tambahan yang sangat apik dari Konami. Kini mereka para pengagung seiyuu-seiyuu Jepang dan mereka yang tertarik dengan bagaimana game ini terdengar kalau bersuarakan orang Jepang bisa mencoba mode ini. Sebuah tambahan simple dari Konami, tetapi sangat memuaskan.

Gameplay (8 / 10)

Benarkah game ini seperti yang dikatakan Koji Igarashi? Ayah dari seri Castlevania ini sesumbar mengatakan kalau Portrait of Ruin akan menjadi Castlevania terbaik yang pernah ia garap dengan menghadirkan dua karakter yang bisa anda mainkan sekaligus. Hasilnya? Portrait of Ruin tetap sebuah title Castlevania yang solid, tetapi dia masih jauh untuk bisa sebagus Symphony of the Night yang legendaris itu.

Mari kita melihat sisi gameplay game ini. Dua karakter utama yang anda mainkan pada dasarnya sangat berbeda. Jonatan akan banyak menggunakan senjata-senjata normal (pedang, cambuk, kapak, dan lain sebagainya) ditemani dengan sub-weapon (mulai dari yang klasik seperti air suci, kapak, pisau, sampai yang modern). Charlotte sebaliknya akan lebih banyak menggunakan sihir magisnya ketimbang beradu badan langsung dengan musuh. Keduanya juga memiliki sihir gabungan yang memiliki damage jauh lebih besar ketimbang jurus special pribadi keduanya (tentu saja MP yang dihabiskan juga jauh lebih besar).

Sekilas lihat para pemain Castlevania akan lebih sering menggunakan Jonatan sepanjang cerita dan Charlotte akan hadir lebih banyak sebagai pelengkap saja, kendati begitu, apabila kita memperhatikan dengan cermat Konami cukup adil dalam mendesain kedua karakter ini. Saya sendiri mencoba memainkan game ini dengan Charlotte di beberapa bagian game ini dan menemukan kalau Charlotte adalah karakter yang cukup kuat apabila ia memiliki equipment dan sihir yang bagus. Saya malahan sering berpetualang mencari level dengan menggunakan Charlotte dan baru menggunakan Jonatan ketika bertarung menghadapi boss-boss yang ada.

Berarti sistem dual hero dalam Castlevania ini berhasil? Tidak sepenuhnya. Dalam game ini seharusnya Igarashi menjanjikan anda menjelajahi kastil Dracula berdua dan bertarung bersama, tetapi AI pasangan anda yang begitu jongkok membuat anda harus bertarung 95% dalam game ini sendirian. Saya hanya memanggil pasangan saya keluar untuk membantu saya adalah ketika saya tanpa sengaja terkena spell petrify yang membuat saya menjadi batu dan tak bisa bergerak.

Keluhan berikutnya adalah desain kastil dari Castlevania. Janji palsu Igarashi kembali menipu saya; ia menjanjikan Portrait of Ruin sebagai Castlevania terbesar yang akan kita jelajahi (dengan tingkat pencapaian sampai 1000%!). Sekali lagi sekilas dilihat memang Portrait of Ruin menawarkan kastil Dracula yang besar ditambah dengan delapan sub-area (atau empat kalau anda mendapatkan ending yang buruk) yang bisa anda jelajahi; toh setelah diamati dan dimainkan lebih lanjut saya menyadari bahwa desain dalam Castlevania kali ini adalah yang terburuk dari semua Castlevania yang pernah saya mainkan (setidaknya Castlevania modern). Kastil Dracula kali ini terasa hambar dan lebih berfungsi sebagai tempat bergerak dari lukisan demi lukisan.

Maksudnya?

Seperti namanya: Portrait of Ruin mengharuskan anda menjelajahi lukisan demi lukisan dalam kastil Dracula. Total ada delapan lukisan yang bisa anda jelajahi. Setiap lukisan memiliki nuansa yang berbeda: dari sebuah kota hantu, akademi sihir yang misterius, sampai arena favorit saya yang adalah sebuah sirkus arena jungkir balik. Apakah saya tadi menyebutkan kalau setiap lukisan memiliki nuansanya sendiri? Coret kata-kata saya itu. Empat lukisan terakhir bisa dibilang sebagai repetisi dari empat lukisan awal. Mengecewakan? Jelas. Setelah arena dalam lukisannya terbilang membosankan dan tidak menarik untuk dimainkan lagi, kastil Dracula kali ini juga terbilang jauh lebih kecil ketimbang Dawn of Sorrow (ke mana arena bawah air yang legendaris itu? Kenapa arena tersebut dihilangkan?). Jadinya secara keseluruhan game ini malahan terlihat jauh lebih singkat ketimbang Dawn of Sorrow (saya menyelesaikan game ini dalam waktu 12 jam dengan mendapatkan ending sempurna).

Apabila ada hal yang berhasil digarap dalam Portrait of Ruin, itu adalah pertarungan melawan bossnya. Setiap boss dalam Portrait of Ruin menyajikan tantangannya tersendiri untuk mengalahkan mereka. Berbeda dengan trilogi Castlevania GBA ditambah dengan Dawn of Sorrow yang asal level anda tinggi anda bisa langsung main hajar untuk mengalahkan mereka, Portrait of Ruin mengharuskan anda mengatur strategi yang jeli untuk mengalahkan boss-boss yang ada. Saya mencoba memainkan Portrait of Ruin dengan cara barbar dan menemukan layar Game Over ketika menghadapi boss pertama! Lagipula duel tag team menjelang duel terakhir sangat inovatif dan menyenangkan untuk dilawan (saya menemukan final boss kali ini sebagai final boss yang cukup menantang!).

Ceritanya sendiri? Standar Castlevania. Pada Perang Dunia II, banyak jiwa-jiwa yang meninggal itu menjadi arwah penasaran dan membentuk kastil kegelapan Dracula. Ditambah lagi ada perpecahan dalam tubuh kegelapan itu sendiri. Seorang vampire bernama Brauner berikut dua anaknya ingin menguasai dunia dengan cara mereka sendiri. Mereka menahan kebangkitan Dracula dengan menyegel kekuatan dan menyebarnya dalam lukisan demi lukisan yang ada. Death sang abdi setia Dracula berusaha mencari cara untuk membangkitkan kembali tuannya. Apakah Jonathan dan Charlotte bisa memanfaatkan kekacauan ini untuk keuntungan mereka – atau malahan mereka justru terjebak kian dalam dunia kegelapan?

Longetivity (7 / 10)

Anda bisa menyelesaikan game ini dalam waktu enam sampai delapan jam untuk mendapatkan bad endingnya. Tambah dua atau tiga jam lagi dan anda bisa mendapatkan best (true) ending dalam game ini. Pada dasarnya game ini cukup cepat diselesaikan kalau anda mengikuti jalan cerita utamanya tanpa menyelesaikan subquest apapun. Tentu saja bila anda tertantang menyelesaikan semua subquest yang ada mungkin anda membutuhkan waktu lebih dari 15 jam untuk menyelesaikan game ini secara keseluruhan.

Ada berbagai mode yang diberikan oleh Portrait of Ruin setelah anda menyelesaikannya. Anda bisa menjelajahi game ini dengan berbagai mode selain Jonathan Mode. Pertama anda bisa bermain sebagai Sisters Mode, Richter Mode (ya Richter Belmont yang tersohor itu), Old Axe Armor Mode, sampai Maria Mode. Cukup menarik bukan tambahan yang disajikan oleh Portrait of Ruin? Tentu saja di luar itu kali ini anda bisa berduet dengan teman anda untuk melalui Boss Rush Mode (bukankah mode ini selalu keluar dalam setiap Castlevania?).

Kendati begitu kalau anda bukan seorang yang suka mengulang-ulang game setelah menamatkannya, mungkin nilai plus Castlevania tidak sebesar itu. Anda selesai mengembalikan pangeran kegelapan dalam kegelapan dan anda mungkin takkan menyentuh game ini lagi (seperti saya).

Editor’s Tilt (7.5 / 10)

Perlu saya katakana pada akhir review saya bahwa Portrait of Ruin BUKAN sebuah game Castlevania yang buruk. Keluhan-keluhan yang saya sampaikan sepanjang game ini lebih bersifat kekecewaan pribadi saya yang tertuang karena tidak mendapatkan apa yang saya harapkan sebelumnya. Portrait of Ruin tetap sebuah title Castlevania yang saya rekomendasikan kepada setiap orang yang menggemari seri Castlevania (tetapi para pemula mungkin lebih baik menjajal Dawn of Sorrow terlebih dahulu sebelum langsung mencoba Portrait of Ruin).

Nah, apabila GBA memiliki trilogy Castlevania mereka, apakah Nintendo DS akan menyusul jejak tersebut? Harapan saya adalah semoga Castlevania berikut bisa benar-benar membuktikan janji sang developer (Igarashi-san, jangan beri kami harapan palsu lagi!). As for now, saya akan menunggu remake dari Symphony of the Night dan Rondo of the Blood yang segera dihadirkan di PSP. Ah, it’s about time!

Average: 7.5

Game Details
Developer: Konami
Publisher: Konami
Genre: Action RPG

Comments (3)

Tags: , , , , , ,

Castlevania: Aria of Sorrow

Posted on 13 December 2009 by Si Tukang Review

Castlevania: Aria of Sorrow Cover

Castlevania: Aria of Sorrow Cover

(Review Ditulis Di Tahun 2006)

For God to be good; evil is an absolute necessity in this world
- Genya Arikado / Alucard

Semenjak kesuksesan dari Castlevania Symphony of the Night 1997 dulu, Castlevania sebagai sebuah game 2D sidescrolling berakhir sudah. Semenjak hari itu Castlevania lebih dikenal sebagai 2D Platformer ala Super Metroid. Bukan level demi level yang akan anda jelajahi seperti dulu – tetapi anda disuguhi satu kastil raksasa dari sang Dracula yang harus anda jelajahi per bagian, menghadapi prajurit-prajurit kegelapannya, meningkatkan kekuatan dan level anda, sampai pada akhirnya anda akan berhadapan dengan sang penguasa kegelapan itu sendiri. Castlevania: Aria of Sorrow adalah input terakhir di dalam GBA, melengkapi dua title sebelumnya yang hadir untuk menjadi sebuah trilogi.

Graphic (8 / 10)

Grafis di dalam Aria of Sorrow terbilang sangat impresif untuk ukuran sebuah game GBA. Premise ceritanya memang pada tahun 2035 sehingga di dalam game ini anda bisa mengequip karakter anda dengan handgun! Memakai pistol di dalam Castlevania jelas merupakan sebuah tradisi baru yang cukup unik, dan penggambarannya juga cukup realistis dengan kapasitas GBA yang terbatas.

Level demi level di Castlevania didesign dengan baik, tidak akan ada yang mengagetkan bagi mereka yang sudah lama menggemari serial ini. Beberapa musuh yang ada di dalam game ini juga mencomot sprite dari Harmony of Dissonance yang memiliki suasana yang hampir serupa; berbeda dengan Circle of the Moon yang lebih kaya warna, kedua entry terakhir Castlevania ini memang lebih ‘pucat’ dan ‘sendu’.

Satu hal yang saya sukai lagi dari Aria of Sorrow adalah artwork gothic yang diusungnya. Dengan artwork gothic ini: Soma, Mina, Arikado, dan lain-lainnya makin memperlihatkan kesuraman dari game ini. Saya mencintai atmosfir game ini! Berbicara soal karakternya, kendati anda tetap memainkan seorang jagoan tanpa muka, banyak dari detail karakter yang diperhatikan oleh Konami. Mengingat Soma memiliki berbagai variasi serangan dari soul-soul yang bisa ia dapatkan, Konami cukup rajin menggarap kesemuanya sehingga tidak ada gerakan grafis yang terasa menganggu.

Sound (7.5 / 10)

Michiru Yamane menghadirkan musik yang jauh lebih variatif dan berkualitas dalam Aria of Sorrow kali ini. Setiap beda level, anda akan mendapatkan variasi musik yang berbeda. Konami kali ini juga berhasil menampilkan suara jernih dari speaker GBA – tidak seperti saat memainkan Harmony of Dissonance yang membuat saya memeriksakan GBA saya karena takut speakernya rusak.

Selain musiknya, sound effect juga sudah digarap dengan baik oleh Konami dalam game ini. Perhatikan kalau anda bisa mendengar suara ceburan air ketika Soma melompat ke dalamnya, bunyi kapak ketika dilemparkan, sampai ada juga suara Soma ketika ia melompat atau terkena serangan musuh (serupa dengan Yoko atau Julius bila terkena serangan). Hampir kesemuanya memiliki ciri khas mereka sendiri.

Gameplay (7.5 / 10)

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, konsep utama dari Aria of Sorrow masih mengambil dari konsep Symphony of the Night, yaitu penjelajahan kastil. Setelah formula ini diulang-ulang sampai tiga kali, mungkin rasanya sudah cukup melelahkan. Untung saja Konami selalu memberikan inovasi-inovasi baru yang membuat setiap Castlevania menjadi masih bisa dimainkan. Ada sistem kartu di dalam Circle of the Moon dan sistem magis dalam Harmony of Dissonance, dan kali ini Soma Cruz memiliki kemampuan untuk menyerap roh-roh dari monster yang ia kalahkan.

Kemampuan Soul Absorb yang dimiliki Soma inilah yang membuat game ini terasa berbeda dengan game-game sebelumnya. Game ini memiliki empat jenis soul yang bisa dipakai oleh Soma. Merah adalah Bullet Soul yang bisa digunakan untuk menyerang, Biru adalah Guardian Soul di mana Soma bisa mensummon monster untuk melindunginya, dan terakhir adalah Kuning atau Enchant Soul di mana Soma bisa mengequipnya untuk meningkatkan statusnya. Walaupun demikian, ada satu lagi soul khusus bernama Ability Soul yang bisa didapatkan dari boss. Apabila anda mendapatkan Ability Soul, anda akan bisa mendapatkan tambahan kemampuan baru seperti berenang di air, melompat dua kali dan lain sebagainya. Kemampuan baru ini akan membuka bagian baru dari kastil untuk bisa anda jelajahi lebih lanjut.

Selain gameplaynya, yang membuat saya benar-benar menyenangi Castlevania adalah ceritanya. Tidak seperti Castlevania-Castlevania sebelumnya yang ceritanya bisa dibilang mudah ditebak, Aria of Sorrow menghadirkan plot-twist di dalam gamenya. Setidaknya ada dua plot-twist yang membuat saya tertipu mentah-mentah di dalam game ini (dan saya jarang terkejut oleh sebuah plot-twist apabila itu bukan sesuatu yang cerdas). Saya tidak ingin spoiler lebih jauh – dan mainkan saja game ini lebih lanjut apabila anda ingin tahu apa yang saya maksudkan.

Selain itu, karakter dalam Aria of Sorrow ini juga jauh lebih banyak dan variatif dibandingkan dengan Castlevania-Castlevania sebelumnya. Ada Hammer, seorang tukang jualan senjata; Yoko, keturunan terakhir dari klan Belnades yang bertugas memerangi Dracula bersama keluarga Belmont; Arikado, seorang mistik yang bertampang keren dan kita semua tahu siapa identitas aslinya; sampai J dan Graham Jones yang sama-sama misterius dan tidak kita kenal sampai menjelang pengakhiran game. Tentu saja selain mereka semua ada anda Soma Cruz; yang tersesat di kastil Dracula tanpa mengerti kenapa terseret ke sana dan Mina Hakuba; teman anda semasa kecil dan juga yang anda sangat sayangi! Karakter yang berbeda ini digarap dengan hidup sehingga selama memainkannya anda akan makin mengerti dan tertarik dengan mereka. I am sure that they will grow on you in the end of the game. Ah, dan jangan khawatir – klan Belmont tidak absent kok di dalam game ini (senyum misterius).

Longetivity (8 / 10)

Mendapatkan 100% dalam game ini bukanlah satu-satunya tantangan yang ada. Apabila anda bisa menyelesaikan game ini dan mendapatkan 100% penjelajahan dalam waktu sekitar 10 jam, anda akan benar-benar membuang banyak waktu anda untuk benar-benar melengkapi semua soul yang ada. Banyak soul yang bisa anda dapatkan dengan mudah – tetapi beberapa lainnya akan sangat sulit dan sangat lama untuk dilakukan. Beruntung Konami menambahkan menu Soul Trade di mana anda bisa berhubungan dengan pemiliki GBA lain untuk saling menukarkan soul-soul yang kalian miliki.

Selain menyelesaikan mode normal, anda juga diperbolehkan memainkan Julius Mode dan Boss Rush Mode begitu anda selesai memainkan game ini. Hal ini adalah tambahan menarik yang tentu saja bisa menambah longetivity dari game ini. Mungkin inilah ciri khas dari Castlevania jaman ini (sekali lagi, mengingatkan saya pada Richter mode di Symphony of the Night); anda selalu memiliki tambahan karakter yang bisa anda mainkan setelah anda menyelesaikan mode aslinya.

Editor’s Tilt (8 / 10)

Aria of Sorrow terbukti menjadi salah satu Castlevania tersukses yang pernah ada. Kendati bersettingkan than 2035 dan hampir tidak memiliki koneksi dengan karakter-karater lama (hanya satu saja yang keluar, dan beruntung dialah maskot dari Castlevania yang modern), nyatanya Aria of Sorrow tetap berhasil memikat banyak orang dengan jalan cerita dan gameplaynya yang menarik.

Kesuksesan ini membuat Konami merilis Dawn of Sorrow, sekuel langsung dari Aria of Sorrow yang dihadirkan di Nintendo DS dan bersetting setahun setelah Aria of Sorrow. Saya sendiri memang belum bosan dengan seri-seri Castleroid (istilah untuk Castlevania dengan gameplay penjelajahan kastil) ini. So come on Konami; we’re craving for more blood!

Average: 7.8

Game Details
Developer: Konami
Publisher: Konami
Genre: 2D Platform

Comments (2)

Tags: , , , ,

Castlevania: Harmony of Dissonance (GBA)

Posted on 14 October 2009 by Si Tukang Review

Castlevania: Harmony of Dissonance Cover

Castlevania: Harmony of Dissonance Cover

(Review Ditulis Di Tahun 2003)

Ah…, sekali lagi sebuah seri Castlevania lahir untuk GBA. Setelah Circle of the Moon, kini Konami kembali menggebrak pasaran GBA dengan Harmony of Dissonance. Agaknya GBA saat ini sedang menjadi handheld yang diserbu oleh berbagai macam game 2D. Bayangkan! Capcom merilis ulang RPG 2D mereka Breath of Fire, dan sebuah RPG baru Megaman Battle Network, game fighting 2D mereka Street Fighter Alpha 3, serta action sidescrolling, Megaman Zero. SNK merilis King of Fighters EX: NEO Blood. Nintendo dengan Super Mario World series, dan Metroid Fusion. Konami rupanya tak mau kalah dan segera mengeluarkan serial legendaris mereka Castlevania…

Cerita dalam Harmony of Dissonance dibuka ketika Maxim, sahabat dari Juste Belmont pulang dari perjalanannya dalam keadaan terluka dan kehilangan ingatan. Ia menyampaikan suatu kabar yang mengagetkan bahwa Lydie, sahabat mereka telah diculik. Maxim menjadi guide bagi Juste untuk mendatangi tempat yang diyakini Maxim sebagai tempat penyekapan Lydie. Mungkinkah kastil kuno yang mereka datangi itu adalah kastil Dracula yang legendaris? Di dalam, kedua sahabat ini berpisah guna mencari Lydie, dan dari titik ini petualangan anda, sebagai Juste dimulai.

Harmony of Dissonance membawakan kita suatu sistem baru dalam gameplay yang dinamakan Spell Fusion. Berhubung Juste, walau menyandang nama keluarga Belmont, sebenarnya adalah keturunan dari Sylphe. Benar sekali, bagi para penggemar seri Castlevania klasik takkan asing dengan nama seorang penyihir wanita yang pernah membantu petualangan Trevor Belmont dalam membasmi Dracula. Tentunya Juste juga menguasai berbagai jenis magic. Senjata sekunder tetap hadir dalam seri Castlevania ini (knife, sacred fist, holy book, holy water, cross, axe). Di sini kita juga akan menemukan 5 spell book. Di sini sistem Spell Fusion bekerja. Bagaimana ? Combine salah satu spell book yang ada dengan sub weapon yang dimiliki Juste, maka Juste akan mengeluarkan suatu jurus baru!

Contohnya begini: Bila Juste sedang mengequip spell book Wind, dan memiliki sub weapon holy water, maka ia dapat mengeluarkan jurus hujan. Benar-benar inovatif bukan ? Dengan adanya sistem Spell Fusion ini, Juste akan memiliki banyak sekali variasi serangan yang beraneka ragam. Untuk menghadapi boss-boss tertentu memilih opsi magic yang tepat akan sangat membantu dalam mengalahkannya. Tapi kita bisa juga menon-aktifkan sistem Spell Fusion ini dengan menon-aktifkan spell book milik Juste. Dengan demikian Juste hanya akan mengeluarkan sub weapon biasa saja (seperti seri Castlevania tradisional). Penggunaan spell akan menghabiskan MP Juste (yang dapat dicharge dengan item tertentu dan dapat recharge sendiri seiring berjalannya waktu) sementara penggunaan sub weapon akan menghabiskan heart (dapat diisi ulang dengan mengambil heart yang bertebaran selama perjalanan).

Sistem apalagi yang dikembalikan dalam Harmony of Dissonance ini oleh Konami? Tentu saja hadir kembalinya kastil ganda Dracula yang absen pada seri Circle of the Moon. Sayang sekali, warp room yang ada sangat sedikit, dan untuk menempuh tujuan kita, kita harus berjalan kaki dari ujung suatu castle ke ujung lainnya, hanya untuk mengambil item upgrade bagi Juste yang belum dapat terambil sebelumnya! Agak menjengkelkan memang!

Beberapa relicpun disediakan oleh Konami untuk membantu Juste dalam usahanya menyelamatkan Lydie. Relic-relic ini akan memberi ability-ability baru kepada Juste yang memungkinkannya untuk menyelesaikan puzzle-puzzle yang ada, membuka jalan, dan bahkan untuk mendapat status upgrade item yang takkan terjangkau oleh Juste dalam ability normalnya.

Beberapa subquest juga disediakan oleh Konami dalam seri ini. Beberapa spell book disediakan secara hidden. Ada juga collectible hunt, yang memaksa Juste untuk menghias kamar pribadinya di kastil Dracula. Dan yang terakhir, adalah untuk memperoleh semua bagian tubuh Dracula (Dracula remains). Subquest yang terakhir adalah subquest yang terpenting apabila kita menginginkan perfect/best ending dalam game ini.

Grafis dalam Harmony of Dissonance sangat indah dan fluid, nyaris mendekati grafis Symphony of the Night milik PSX. Hanya saja karakter Juste nampak terlalu resemble dengan karakter Alucard… Efek bayangan saat Juste bergerakpun nampak istimewa untuk ukuran handheld. Untuk sebuah game adventure 2D GBA, rasanya hanya Megaman Zero dari Capcomlah yang mampu menandingi Harmony of DIssonance ini.

Musik dalam seri ini, sayangnya, mengecewakan. Kemampuan GBA tidak dimaksimalkan oleh Konami dalam game ini. Padahal seri Castlevania biasanya sangat dikenal oleh orang sebagai salah satu seri dengan iringan musik terbaik. Ingat bagaimana Nocturne in the Moonlight berubah menjadi Symphony of the Night karena keindahan BGMnya ? Dalam seksi ini Harmony of Dissonance berna-benar hancur. Satu-satunya BGM yang saya senangi hanyalah Juste’s theme yang diputar di ruangan-ruangan awal game (daerah Entrance). Sayang sekali Konami, musik dalam game ini benar-benar harmoni yang tidak teratur.

Replayability dalam game ini cukup tinggi, berhubung game ini dapat anda mainkan ulang dengan karakter yang berbeda. Maxim. Setelah menyelesaikan game inipun muncul opsi baru Boss Rush Mode. Di mana dalam mini-game ini, anda dapat langsung berduel dengan tiap boss yang ada. Satu kejutan lain dari Konami adalah tersedianya karakter Simon Belmont untuk dimainkan di Boss Rush Mode. Yah, hitung-hitung untuk bernostalgialah… Cara mendapatkan karakter Maxim cukup familiar dengan cara mendapatkan Richter di Symphony of the Night (hint…hint…) yaitu dengan mengetikkan namanya saat save data, tentunya setelah menyelesaikan game ini…

Challenge yang ditawarkan oleh Harmony of Dissonance cukup tinggi. Anda akan kesulitan menghadapi boss yang ada bila level anda hanya ala kadarnya. Tempo dalam Harmony of Dissonance terasa agak lambat, mungkin ini karena efek Megaman Zero yang saya mainkan sebelum game ini. Boss yang ada di game ini sebenarnya biasa saja, bandingkan dengan boss seri Megaman Zero… Gunakan strategi yang benar saat menghadapinya dan saya jamin anda takkan banyak menghadapi kesulitan. Bahkan melawan Dracula sekalipun !

Akhir kata, Harmony of Dissonance adalah satu titel GBA yang layak untuk dikoleksi, tak peduli apakah anda seorang penggemar Castlevania atau bukan. Ini juga sebuah contoh baik bahwa beberapa game memang tetap harus ada di dunianya sebagai game 2D. Castlevania adalah bukti nyata untuk itu. So… are you ready to face the wrath of Dracula ?

Final Verdict

Graphic: 8
Music: 5
Gameplay: 9
Play Time: 7
Challenge: 7

Overall: 7.5

Game Details
Developer: Konami TYO
Publisher: Konami
Genre: Action Adventure

Comments (0)

Tags: , , , ,

The Top 25 DS Game Countdown (Day 4)

Posted on 27 February 2009 by Si Tukang Review

Only two more days to go… Here’s number 10 - 6!

10. Sonic Rush

Saya tidak peduli apakah landak biru ini mau masuk ke dunia RPG, mau berpetualang di dunia 3D, mau ikut game fighting, atau bertanding olahraga di Olimpiade. Bagi saya dunia sejati bagi Sonic adalah kecepatan dan tidak ada genre yang paling mendefinisikan Sonic selain 2D Platform. Semenjak kelahirannya di konsol Genesis hampir 20 tahun silam, Sonic adalah salah satu ikon game paling tersohor di dunia selain Mario. Sungguh disayangkan bahwa kegagalannya hijrah secara mulus ke 3D membuat nama Sonic mulai dilupakan orang.Enter Sonic Rush. Sesuai dengan tajuk Rush, game ini mengembalikan Sonic ke habitat aslinya. Sonic diajak melaju, melesat, dan berlari melewati stage demi stage yang variatif. Selain Sonic, anda juga diperkenankan main sebagai Blaze the Cat, seekor kucing yang menjadi penjaga kristal dari dimensi lain. Now this is what I call the true fast and furious!

09. Advance Wars: Dual Strike

Seri Advance Wars sudah merupakan seri yang terkenal di Jepang sana. Sungguh disayangkan bahwa publik Amerika (dan dunia secara umumnya) baru mulai bisa menikmati betapa seru dan adiktifnya seri ini ketika Advance Wars pertama ditranslasikan untuk GBA. There’s no turning back for the series since then. Setiap rilis Advance Wars akan selalu dinanti-nantikan oleh para penggemarnya dan mengundang hype yang besar.Dua seri Advance Wars mampu menuai sukses di GBA, apakah sukses itu berlanjut di DS? Jawabannya adalah: ya. Dengan misi-misi yang bejibun dan variatif, kesempatan memainkan game ini bersama dengan teman, kedalaman strategi yang luar biasa untuk ukuran sebuah game handheld, sampai jalan cerita yang memikat membuat Advance Wars sebuah keharusan untuk dimainkan kalau anda seorang penggemar game strategi!

08. Castlevania: Dawn of Sorrow

Semenjak lahirnya Symphony of the Night, Castlevania secara resmi melakukan revolusi dari genre 2D Platform menjadi Action RPG. Tipe Castlevania seperti ini (yang disebut sebagai Castleroid) melanjutkan tradisinya di GBA melalui Circle of the Moon, dilanjutkan Harmony of Dissonance, dan ditutup Aria of Sorrow. Hampir setiap gamer mengakui bahwa Aria of Sorrow adalah Castleroid terbaik semenjak Symphony of the Night.Iga sebagai otak di balik seri ini menerima masukan dari para fans dan menggarap Dawn of Sorrow - sekuel langsung dari Aria of Sorrow (perlu diperhatikan bahwa ini adalah untuk pertama kalinya sebuah Castleroid mendapatkan sekuel langsung!). Dawn of Sorrow adalah Castlevania yang sangat layak untuk DS, arena istana Dracula jauh lebih luas ketimbang game di GBA, musikpun mendapatkan upgrade yang signifikan. Satu-satunya keluhan dari para fans adalah pengubahan citra Dawn of Sorrow ala anime yang membuat kesan suram dan mistis seri Castlevania hilang. Untung Order of Ecclesia mengembalikan nuansa ini kembali!

07. Final Fantasy IV

Kendati kebanyakan gamer akan menjawab Final Fantasy VI dan VII sebagai Final Fantasy favorit mereka sepanjang masa, nama Final Fantasy IV hampir selalu dipastikan masuk dalam daftar tiga besar mereka. Final Fantasy IV merupakan salah satu Final Fantasy klasik yang paling dicintai. Inilah game yang membuat nama Final Fantasy mulai dikenal oleh para RPGer - sekaligus Final Fantasy pertama yang masuk ke SNES. Remake / port berulang kali di Playstation, GBA, dan Wonderswan menunjukkan betapa Final Fantasy IV tidak pernah kehilangan pamornya.Tapi DS melakukan hal yang lebih dari sekedar meremakenya. Remade total Final Fantasy IV ini tidak sekedar memberikan upgrade minor tapi merombak total Final Fantasy IV menjadi 3D, mengubah percakapan, menambahkan voice acting, FMV baru, sampai berbagai adegan cutscene. What’s old before is new again. Petualangan Cecil dan kawan-kawannya hingga kini masih menjadi salah satu petualangan paling memorable di dunia RPG. Musik garapan Nobuo Uematsu masih tetap indah di telinga walau 15 tahun lebih berselang. Kalau anda dulu tidak pernah memainkan Final Fantasy IV, be sure to play it on the DS. It’s one of the best classic RPG out there.

06. Legend of Zelda: Phantom Hourglass


How can we make a list of a DS top game without Zelda in it? Selain Mario, Link adalah ikon besar yang selalu hadir di setiap konsol Nintendo. NES memiliki Legend of Zelda klasik, SNES memiliki A Link to the Past, GBC memiliki Oracle of…, GBA memiliki Minish Cap, N64 memiliki Ocarina of Time, Wii memiliki Twilight Princess, dan GC memiliki Wind Waker. Dan kalau mau diperhatikan, semua game Zelda pasti masuk dalam top 10 game terbaik di sistem di mana ia dikeluarkan.

Phantom Hourglass bukan perkecualian. Game ini adalah sekuel langsung dari Wind Waker GC yang hadir di tengah kontroversi. Ada fans yang jatuh cinta dengan penampilan Link yang imut dan lucu, ada juga fans yang memaki-maki Link dengan mata sebesar bola basket itu. Toh, ketika Phantom Hourglass muncul, hampir semua sepakat bahwa Link dari Wind Wakerlah yang layak hadir di DS yang juga bertampilan imut ini. Keunikan Phantom Hourglass tidak hanya hadir dalam bentuk kosmetik tampilan semata, tetapi juga melalui kontrolnya. Inilah game petualangan pertama DS yang dengan berani menghapus menggunaan D-Pad dan ‘memaksa‘ kita menggunakan stylus untuk menuntun Link menjelajahi dunia ini… dan tentu saja konsep ini dieksekusi secara sempurna oleh Nintendo. Melempar bumerang, bertarung dengan pedang, mencari harta, sampai menjelajahi tempat terasa mudah, luwes dan tidak kaku.

Next, the top games of DS.

Gw tahu banyak yang mungkin bengong. What? Kenapa Zelda ga masuk top 5? Kenapa Meteos dan Metroid Prime ga masuk top 5? Kenapa Castlevania ga masuk top 5? Apa aja game yang bakalan masuk top 5?

Take a guess guys. Apa ada yang bisa menebak apa yang bakalan menghuni peringkat 1 dalam listku? (Hint hint: It’s NOT that hard).

Comments (0)

Tags: , , , , ,

A Vampyre Story

Posted on 24 January 2009 by Si Tukang Review

A Vampyre Story Cover

A Vampyre Story Cover

Developer: Autumn Moon Entertainment
Publisher: Crimson Cow
Genre: Point and Click Adventure

Menemukan sebuah game point and click adventure berkualitas sungguh bukan hal yang mudah. Sekarang ini adalah era di mana para gamer seakan lebih senang menembak dan meledakkan kepala musuh, menabrakkan mobil dan merampokinya ataupun tergila-gila melihat game apapun yang memiliki artwork anime dan bernuansa kejepang-jepangan di dalamnya. Tidak heran rasanya bila genre minoritas seperti ini kian terpinggirkan. Itulah sebabnya, begitu saya mendengar bahwa A Vampyre Story dirilis di PC, saya langsung tertarik untuk memainkannya - apalagi mendapati bahwa Bill Tiller sebagai penulis skenarionya juga otak di balik game-game point and click adventure di LucasArt dulu (The Curse of Monkey Island dengan Guybush Threpwood anyone?).

Masa depan dan mimpi Mona De Lafitte sebagai penyanyi opera hancur berantakan ketika ia diserang oleh sang vampir bernama Shrowdy von Kiefer. Jangankan bisa menjadi penyanyi di Paris, Mona yang digigit Shrowdy terpaksa menjalani kutukan sebagai bagian dari makhluk kegelapan yang tersekap dan tertahan di puri Shrowdy di Draxsylvania. Hari demi hari berlalu sementara Mona merasakan bahwa harapannya untuk bisa meloloskan diri dari ‘penjara’nya makin kecil. Sampai suatu hari, Shrowdy diserang dan terbunuh oleh para manusia ketika sedang berburu darah segar di luar. Ini dijadikan kesempatan oleh Mona untuk meloloskan diri dari kastil dan melanjutkan mimpinya menjadi penyanyi opera di Paris. Kendati begitu, kastil drakula eh… Shrowdy ini tentu saja bukan kastil sembarangan. Begitu banyak rahasia dan jebakan terdapat di dalamnya. Bisakah Mona melarikan diri?

Apabila kamu pecinta film-film animasi gothic Tim Burton macam The Nightmare Before Christmas dan The Corpse Bride, saya yakin bahwa nuansa di A Vampyre Story ini akan menghipnotismu masuk mencintai gamenya. Saya sendiri sempat ‘tertipu’ dan mengecek bolak-balik apakah benar Tim Burton sama sekali tidak terlibat dalam pembuatannya? Kualitas audio visual dalam game ini memang luar biasa. Selain nuansa gothic yang begitu kental dan latar belakang gambaran 2D berbaur dengan model 3D yang amat cantik, A Vampyre Story juga menghadirkan berbagai variasi pengisi suara di game ini. Selama penjelajahan di kastil, Mona akan bertemu dengan berbagai jenis sosok yang aneh, sinting, dan menakutkan. Semuanya diisi dengan suara yang berbeda dan menjiwai karakter mereka masing-masing. Begitu pula musik latar dalam game ini yang memiliki campuran kesan mistis dan humor.

Saya angkat dua jempol untuk skenario yang ditulis oleh Bill Tiller. Dia sama sekali belum kehilangan ketajamannya menulis skenario. Berkali-kali saya tertawa dalam mengikuti perjalanan Mona bersama kelelawar peliharaannya Froderick (anggap saja dia si sidekick yang suka ngebanyol) karena dialog-dialog lucu yang terselip di sana-sini. Humor dalam game ini universal. Beberapa cerdas sehingga memerlukan sedikit pengetahuan dalam pop-culture terkini sebelum mengerti jokenya, sementara beberapa lagi lebih vulgar. Yang sedikit kurang mungkin adalah pacing cerita utama yang sedikit bertele-tele. Hampir seluruh waktumu biasanya dihabiskan untuk ke sana-sini sambil mencari barang karena kamu tidak tahu apa obyektif spesifikmu. Bagi yang belum terbiasa bermain game point and click adventure macam ini, sebaiknya siap-siap untuk membuka walkthrough kalau buntu mencari jalan.

Toh, lepas dari segala kekurangan minor yang saya utarakan tadi, A Vampyre Story masih sebuah kisah dan game yang sangat solid. Lagipula seberapa sering sih kamu bisa memainkan sebuah point and click adventure game macam ini?

Final Verdict:

Gameplay: 7
Cerita yang menarik sayangnya kurang bisa dinikmati gara-gara mekanisme gameplaynya yang sulit dan sering kekurangan petunjuk yang jelas. Tentu saja masalah ini bisa terhindarkan kalau kamu memakai walkthrough, tapi apa menantang?

Graphic / Sound: 10
Saya mungkin agak bias di sini mengingat saya adalah pecinta berat dari karya-karya Tim Burton. Kendati begitu, lepas dari apakah kamu pecinta gothic atau tidak, kamu bakalan dipaksa untuk mengakui bahwa A Vampyre Story masih merupakan salah satu game paling artistik yang hadir di pasar saat ini.

Play Time: 8.5
Menjanjikan petualangan lebih dari 20 jam bukan sekedar bualan. Bahkan 20 jam tidak akan cukup kalau kamu memikirkan sendiri semua teka-teki yang ada. Sayang, setelah memainkannya sekali sampai selesai, kecuali kamu tertarik menyimak kembali pembicaraan Mona dengan para penghuni kastil, kamu mungkin tidak memainkan game ini lagi.

Overall: 8.5

Comments (0)

Tags: , ,

Castlevania: Order of Ecclesia

Posted on 05 January 2009 by Si Tukang Review

Order of Ecclesia Cover

Order of Ecclesia Cover

- Sekali lagi berpetualang di Puri Dracula -

Seri Castleroid Ketiga di Nintendo DS

Castleroid = Castlevania yang bercampur dengan Metroid.

Itulah ciri khas (sekaligus sebutan para fans) bagi kebanyakan game Castlevania 2D yang hadir setelah era Symphony of the Night (SoTN). Terhitung lima game setelah SoTN (tiga di GBA, dan dua di DS) semuanya memakai sistem penjelajahan kastil yang diperkenalkan lebih dari sepuluh tahun silam oleh Konami. Koji Igarashi sebagai orang yang menjadi bapak Castlevania menjanjikan kepada para fans bahwa Order of Ecclesia (OoE) kali ini tidak akan sama dengan game-game Castleroid sebelumnya. Sekarang OoE sudah dirilis, saya akan menulis mengenai game ini. Apa benar OoE berbeda dengan Castlevania-Castlevania sebelumnya?

Arena yang Berbeda – Glyph yang Baru – Kesulitan yang Menantang

Yang pertama kali membuat saya terkejut adalah petualangan Shanoa (karakter utama dalam OoE) tidak dimulai dari kastil Dracula seperti kebanyakan game Castlevania lainnya. Sebaliknya, Shanoa justru berkelana dari satu tempat ke tempat lain (yang areanya jauh lebih kecil daripada kastil sang pangeran kegelapan). Hampir di setiap stage, sesosok boss menanti untuk menghadapi Shanoa (entah di depan, pertengahan, atau di akhir stage tersebut). Kian membedakannya dengan Castlevania sebelumnya: Shanoa bahkan punya dua ‘markas’ di mana ia bisa kembali setelah menyelesaikan satu stage tertentu; organisasinya yang bernama Ecclesia, dan sebuah desa kecil bernama X Village.

Bisa dibilang kalau OoE seakan menggabungkan sistem dari Castlevania lama (sistem stage demi stage ini diadapasi dari seri Castlevania klasik: Simon’s Quest) dengan sistem Castlevania baru (yang masih memungkinkan Shanoa level up, memperoleh dan menggunakan senjata baru, dan (SPOILER) kembalinya kastil Dracula di paruh kedua permainan).

Selain perbedaan dari sistem penjelajahan Shanoa, OoE juga memperkenalkan sistem Glyph. Sistem Glyph serupa tetapi tidak sama dengan sistem Soul dalam Aria of Sorrow. Dalam game ini, Shanoa memiliki kemampuan khusus untuk ‘menghisap’ kekuatan musuh. Tentu saja tidak semua musuh memiliki kemampuan yang bisa dihisap oleh Shanoa. Setiap musuh yang memiliki segel sihir usai dikalahkan atau mengeluarkan segel sihir untuk melawan Shanoalah yang merupakan musuh yang kemampuannya bisa dihisap oleh Shanoa.

Glyph ini pun fungsinya bermacam-macam. Ada yang berfungsi sebagai senjata tradisional Castlevania (pedang, kapak, panah, tombak dan sebagainya), ada pula yang berfungsi sebagai sihir magis untuk Shanoa seperti elemen (air, api, petir, cahaya, maupun kegelapan), dan ada yang berfungsi sebagai support bagi Shanoa (memberi kemampuannya menembus tembok, atau menganugerahinya sepasang sayap).

Combo-combo dari setiap Glyph ini membawa kedalaman baru dalam permainan OoE. Saya sudah mencoba sendiri bahwa tidak ada satu Glyph yang benar-benar super-kuat sehingga bisa dipakai mengalahkan semua jenis musuh. Rajin-rajin bereksperimen dan melihat Glyph mana yang paling efektif adalah kunci Shanoa untuk survive dalam menghadapi makhluk-makhluk kegelapan.

Bicara soal musuh-musuh di dalam game ini, OoE memiliki kesulitan yang jauh – jauh lebih sulit ketimbang Castlevania baru. Bahkan Igarashi sendiri pernah menyatakan bahwa “dalam game ini, anda PASTI mati”. Nampaknya kata-kata Igarashi bukan sekedar ancaman kosong; musuh-musuh di dalam OoE luar biasa sulitnya, apalagi bossnya. Apabila dulu kunci kemenangan melawan boss hanyalah menaikkan level setinggi mungkin, kali ini itu tidak lagi cukup. Menaikkan level memang akan membantu memperbesar kemungkinan para gamer menang, tetapi kunci dari kemenangan itu adalah kejelian para gamer memperhatikan pola serangan boss, dan pemakaian Glyph yang tepat sesuai kelemahannya.

Toh, naiknya tingkat kesulitan ini disambut dengan sukacita oleh kebanyakan gamer. Mereka beranggapan bahwa naiknya tingkat kesulitan bukan menjadikan OoE sebagai game yang membuat frustasi tetapi malahan semakin menantang dan menyenangkan untuk dimainkan!

Ecclesia, Orde Pembasmi Dracula

Tentunya ada cerita di balik lahirnya Order of Ecclesia.

Seperti yang para gamer tahu; setiap kali Dracula bangkit dari liang lahatnya, biasanya para keluarga Belmontlah yang turun tangan dengan cambuk suci Vampire Killer mereka menghabisi Dracula. Entah mengapa di era ini klan Belmont mendadak saja menghilang. Tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi.

Banyak organisasi menjadi khawatir dan mulai menyiapkan kekuatan untuk melawan kegelapan supaya semisalnya Dracula bangkit kembali, umat manusia masih bisa bertahan. Satu dari organisasi itu adalah Ecclesia. Suatu saat, Barlowe selaku pemimpin Ecclesia berhasil menemukan satu Glyph terkuat yang bisa mengalahkan Dracula, ia ingin mewariskan kemampuan itu kepada Shanoa yang ia anggap murid paling berbakat.

Sungguh celaka, pada saat ritual Shanoa menghisap Glyph tersebut, Albus – murid Ecclesia lain yang iri kepada Shanoa menerobos masuk ke dalam ruangan itu. Ritual terganggu, Albus kabur dengan membawa Glyph terkuat, sementara Shanoa tidak sadarkan diri, dan lebih parahnya lagi, kehilangan semua emosinya akibat ritual penghisapan yang gagal. Barlowe – cemas akan apa yang akan diperbuat oleh Albus dengan kekuatan sebesar itu di tangannya – memerintahkan kepada Shanoa untuk merebut kembali Glyph dan membujuk Albus supaya kembali ke jalan yang benar. Berhasilkah?

Kembali ke Nuansa Suram

Satu hal yang disambut bahagia oleh para gamer (termasuk saya) adalah keputusan dari Igarashi mengembalikan design OoE pada nuansa gothic angst yang telah menjadi trademark Castlevania. Tadinya, Igarashi sempat menginginkan supaya Castlevania di DS bisa dinikmati oleh semua usia dan memilih mengambil langkah penggambaran anime untuk Dawn of Sorrow dan Portrait of Ruin. Strategi ini rupanya kurang berhasil dan memicu banyak kritik dari gamer sehingga Igarashi pun sadar bahwa Castlevania memang harus hidup di dunia suram seperti ini, bukan dunia penuh warna seperti kedua Castlevania DS sebelumnya.

Spreading the Terror… Online!

Game ini kaya akan bonus tambahan. Menamatkan game ini akan membuka kesempatan para gamer menjajal Boss Rush mode dan memainkan New Game Plus. Dalam New Game Plus, gamer diperkenankan main kembali sebagai Shanoa dengan mempertahankan level dan kebanyakan senjata yang dimiliki Shanoa. Kalau bosan dengan Shanoa, menjajal keangkeran kastil Dracula dengan karakter lain pun bisa dilakukan (saya terpaksa tidak bisa memberitahukan siapa nama karakter tersebut karena ditakutkan bersifat spoiler).

Memainkan game ini online pun tidak kalah menarik. Gamer bisa melakukan lomba dengan sembarang orang (atau dengan teman apabila tahu Friend Code-nya) untuk menyelesaikan misi atau stage tertentu. Rata-rata misi dan stage ini bisa dimainkan secara cepat. Bisa juga kalau para gamer malas membunuh satu musuh berkali-kali hanya untuk mendapatkan item tertentu, mencoba mencari dan membeli item ini online dari orang lain yang menjualnya.

Final Verdict:

Gameplay : 9
Menawarkan konsep gameplay gabungan dari Castlevania lama dan baru. Hasilnya; Order of Ecclesia terasa fresh dan baru tanpa kehilangan feel-nya.

Graphic / Sound : 8.5
Ada opsi penggunaan dua bahasa di sini, voice-acting Amerika atau seiyuu Jepang. Dua-duanya dikerjakan dengan profesional. Beberapa stage dalam game ini terasa mendaur ulang sprite, tetapi redesign total sprite musuh ditambah kembalinya artwork pada unsure gothic membuat saya mengabaikan kekurangan-kekurangan minor.

Play Time : 8
Total bisa makan lebih dari 15 jam untuk memainkannya pertama kali, game ini bahkan bisa memakan waktu kian lama kalau para gamer ingin melengkapi semua glyph yang ada, memainkan ulang New Game Plus, atau menjajal mode-mode lain yang ditawarkan game ini.

Overall : 8.5

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here