(Review Ditulis Di Tahun 2007)
Setelah Dawn of Sorrow memetik sukses besar, Konami pun menggarap sebuah title Castlevania baru untuk Nintendo DS. Apabila Dawn of Sorrow merupakan sekuel langsung dari Aria of Sorrow di GBA, maka Portrait of Ruin bisa dibilang merupakan sekuel tidak langsung dari Castlevania Bloodlines di Sega. Ingat? Itu lo, Castlevania yang membiarkan anda memilih satu dari dua karakter utama yang ada: John Morris dan Eric Lecarde. Di dalam game ini, kalian menjalankan peran sebagai anak John Morris – Jonatan Morris bersama sang magician pendampingnya Charlotte Aulin. Bagaimana sepak terjang kedua remaja ini dalam menghadapi sang pangeran kegelapan?
Graphic (7 / 10)
Presentasi dalam game ini sekilas dilihat mirip dengan Dawn of Sorrow. Apabila anda membiarkan menu anda tanpa memilih apapun maka anda akan disuguhi sebuah animasi singkat mengenai cerita Portrait of Ruin. Gaya desain karakter yang sudah cukup anime dalam Dawn of Sorrow makin terlihat bergaya anime di dalam game ini. Gaya penggambaran karakter dalam game ini dan Dawn of Sorrow sudah memancing perdebatan antara para penggemar Castlevania. Yang satu menganggap kalau gaya anime adalah hal yang cocok dengan dunia Castlevania yang digarap dari negeri Sakura, sementara yang satu lagi mengagungkan gaya gothic yang disebut bisa merepresentasikan keangkeran kastil Dracula. Saya sendiri? Saya sebenarnya jauh lebih menyenangi gaya gothic di dalam game-game Castlevania ketimbang gaya kartunis yang terlihat sangat childish di game ini (tunggu sampai kalian lihat karakter legendaris macam Dracula digambarkan di game ini – lalu bandingkan keanggunan sang pangeran malam itu dalam Symphony of the Night).
Sekilas lihat, Castlevania Portrait of Ruin tampaknya menghadirkan berbagai jenis daerah yang luas dan variatif yang bisa kita jelajahi. Tetapi apabila kita memperhatikannya lebih detail lagi maka kita akan kecewa karena banyak sekali bidang grafik dalam game ini yang mencomot dari Dawn of Sorrow. Hal yang paling kentara bisa kita lihat ada pada render musuh-musuh yang kita hadapi. Entah kenapa banyak sekali (hampir 60 – 70% musuh yang ada) dicomot dari Dawn of Sorrow. Ada apa dengan Konami? Dawn of Sorrow dan Portrait of Ruin memiliki jeda waktu dua tahun! Ketimbang terus mendaur ulang musuh-musuh yang ada tidakkah seharusnya Portrait of Ruin menyajikan karakter-karakter musuh yang baru agar kita tetap fresh dalam memainkannya?
Yah, bukan berarti Portrait of Ruin gagal total dalam hal grafisnya. Banyaknya animasi senjata Jonatan, spell milik Charlotte sampai serangan gabungan mereka berdua tetap tergambar dengan halus dengan animasi yang (untungnya saja!) semuanya baru dan menarik. Bermain dengan menggunakan cambuk lagi juga adalah sebuah tambahan baru yang saya terima dengan senang hati.
Sound (8 / 10)
Musik dalam game ini masih sangat berkualitas. Setiap daerah memiliki musik-musik yang berbeda dan menyenangkan untuk didengar. Mungkin tidak ada musik yang memorable di dalam game ini (saya beranggapan kalau main theme Portrait of Ruin masih belum sebagus Castlevania-Castlevania sebelumnya), tetapi toh saya tidak sampai memutuskan untuk ‘membisukan’ Nintendo DS milikku ketika memainkannya. Karakter seperti Jonatan dan Charlotte juga memiliki cukup banyak voice acting (terutama karakter Charlotte yang memiliki berbagai jenis spell untuk dia teriakkan kalau dia menggunakannya).
Tunggu, tidak hanya itu saja. Dengan sebuah trik khusus anda bisa membuka bagian voice acting Jepang dalam game ini! Sebuah tambahan yang sangat apik dari Konami. Kini mereka para pengagung seiyuu-seiyuu Jepang dan mereka yang tertarik dengan bagaimana game ini terdengar kalau bersuarakan orang Jepang bisa mencoba mode ini. Sebuah tambahan simple dari Konami, tetapi sangat memuaskan.
Gameplay (8 / 10)
Benarkah game ini seperti yang dikatakan Koji Igarashi? Ayah dari seri Castlevania ini sesumbar mengatakan kalau Portrait of Ruin akan menjadi Castlevania terbaik yang pernah ia garap dengan menghadirkan dua karakter yang bisa anda mainkan sekaligus. Hasilnya? Portrait of Ruin tetap sebuah title Castlevania yang solid, tetapi dia masih jauh untuk bisa sebagus Symphony of the Night yang legendaris itu.
Mari kita melihat sisi gameplay game ini. Dua karakter utama yang anda mainkan pada dasarnya sangat berbeda. Jonatan akan banyak menggunakan senjata-senjata normal (pedang, cambuk, kapak, dan lain sebagainya) ditemani dengan sub-weapon (mulai dari yang klasik seperti air suci, kapak, pisau, sampai yang modern). Charlotte sebaliknya akan lebih banyak menggunakan sihir magisnya ketimbang beradu badan langsung dengan musuh. Keduanya juga memiliki sihir gabungan yang memiliki damage jauh lebih besar ketimbang jurus special pribadi keduanya (tentu saja MP yang dihabiskan juga jauh lebih besar).
Sekilas lihat para pemain Castlevania akan lebih sering menggunakan Jonatan sepanjang cerita dan Charlotte akan hadir lebih banyak sebagai pelengkap saja, kendati begitu, apabila kita memperhatikan dengan cermat Konami cukup adil dalam mendesain kedua karakter ini. Saya sendiri mencoba memainkan game ini dengan Charlotte di beberapa bagian game ini dan menemukan kalau Charlotte adalah karakter yang cukup kuat apabila ia memiliki equipment dan sihir yang bagus. Saya malahan sering berpetualang mencari level dengan menggunakan Charlotte dan baru menggunakan Jonatan ketika bertarung menghadapi boss-boss yang ada.
Berarti sistem dual hero dalam Castlevania ini berhasil? Tidak sepenuhnya. Dalam game ini seharusnya Igarashi menjanjikan anda menjelajahi kastil Dracula berdua dan bertarung bersama, tetapi AI pasangan anda yang begitu jongkok membuat anda harus bertarung 95% dalam game ini sendirian. Saya hanya memanggil pasangan saya keluar untuk membantu saya adalah ketika saya tanpa sengaja terkena spell petrify yang membuat saya menjadi batu dan tak bisa bergerak.
Keluhan berikutnya adalah desain kastil dari Castlevania. Janji palsu Igarashi kembali menipu saya; ia menjanjikan Portrait of Ruin sebagai Castlevania terbesar yang akan kita jelajahi (dengan tingkat pencapaian sampai 1000%!). Sekali lagi sekilas dilihat memang Portrait of Ruin menawarkan kastil Dracula yang besar ditambah dengan delapan sub-area (atau empat kalau anda mendapatkan ending yang buruk) yang bisa anda jelajahi; toh setelah diamati dan dimainkan lebih lanjut saya menyadari bahwa desain dalam Castlevania kali ini adalah yang terburuk dari semua Castlevania yang pernah saya mainkan (setidaknya Castlevania modern). Kastil Dracula kali ini terasa hambar dan lebih berfungsi sebagai tempat bergerak dari lukisan demi lukisan.
Maksudnya?
Seperti namanya: Portrait of Ruin mengharuskan anda menjelajahi lukisan demi lukisan dalam kastil Dracula. Total ada delapan lukisan yang bisa anda jelajahi. Setiap lukisan memiliki nuansa yang berbeda: dari sebuah kota hantu, akademi sihir yang misterius, sampai arena favorit saya yang adalah sebuah sirkus arena jungkir balik. Apakah saya tadi menyebutkan kalau setiap lukisan memiliki nuansanya sendiri? Coret kata-kata saya itu. Empat lukisan terakhir bisa dibilang sebagai repetisi dari empat lukisan awal. Mengecewakan? Jelas. Setelah arena dalam lukisannya terbilang membosankan dan tidak menarik untuk dimainkan lagi, kastil Dracula kali ini juga terbilang jauh lebih kecil ketimbang Dawn of Sorrow (ke mana arena bawah air yang legendaris itu? Kenapa arena tersebut dihilangkan?). Jadinya secara keseluruhan game ini malahan terlihat jauh lebih singkat ketimbang Dawn of Sorrow (saya menyelesaikan game ini dalam waktu 12 jam dengan mendapatkan ending sempurna).
Apabila ada hal yang berhasil digarap dalam Portrait of Ruin, itu adalah pertarungan melawan bossnya. Setiap boss dalam Portrait of Ruin menyajikan tantangannya tersendiri untuk mengalahkan mereka. Berbeda dengan trilogi Castlevania GBA ditambah dengan Dawn of Sorrow yang asal level anda tinggi anda bisa langsung main hajar untuk mengalahkan mereka, Portrait of Ruin mengharuskan anda mengatur strategi yang jeli untuk mengalahkan boss-boss yang ada. Saya mencoba memainkan Portrait of Ruin dengan cara barbar dan menemukan layar Game Over ketika menghadapi boss pertama! Lagipula duel tag team menjelang duel terakhir sangat inovatif dan menyenangkan untuk dilawan (saya menemukan final boss kali ini sebagai final boss yang cukup menantang!).
Ceritanya sendiri? Standar Castlevania. Pada Perang Dunia II, banyak jiwa-jiwa yang meninggal itu menjadi arwah penasaran dan membentuk kastil kegelapan Dracula. Ditambah lagi ada perpecahan dalam tubuh kegelapan itu sendiri. Seorang vampire bernama Brauner berikut dua anaknya ingin menguasai dunia dengan cara mereka sendiri. Mereka menahan kebangkitan Dracula dengan menyegel kekuatan dan menyebarnya dalam lukisan demi lukisan yang ada. Death sang abdi setia Dracula berusaha mencari cara untuk membangkitkan kembali tuannya. Apakah Jonathan dan Charlotte bisa memanfaatkan kekacauan ini untuk keuntungan mereka – atau malahan mereka justru terjebak kian dalam dunia kegelapan?
Longetivity (7 / 10)
Anda bisa menyelesaikan game ini dalam waktu enam sampai delapan jam untuk mendapatkan bad endingnya. Tambah dua atau tiga jam lagi dan anda bisa mendapatkan best (true) ending dalam game ini. Pada dasarnya game ini cukup cepat diselesaikan kalau anda mengikuti jalan cerita utamanya tanpa menyelesaikan subquest apapun. Tentu saja bila anda tertantang menyelesaikan semua subquest yang ada mungkin anda membutuhkan waktu lebih dari 15 jam untuk menyelesaikan game ini secara keseluruhan.
Ada berbagai mode yang diberikan oleh Portrait of Ruin setelah anda menyelesaikannya. Anda bisa menjelajahi game ini dengan berbagai mode selain Jonathan Mode. Pertama anda bisa bermain sebagai Sisters Mode, Richter Mode (ya Richter Belmont yang tersohor itu), Old Axe Armor Mode, sampai Maria Mode. Cukup menarik bukan tambahan yang disajikan oleh Portrait of Ruin? Tentu saja di luar itu kali ini anda bisa berduet dengan teman anda untuk melalui Boss Rush Mode (bukankah mode ini selalu keluar dalam setiap Castlevania?).
Kendati begitu kalau anda bukan seorang yang suka mengulang-ulang game setelah menamatkannya, mungkin nilai plus Castlevania tidak sebesar itu. Anda selesai mengembalikan pangeran kegelapan dalam kegelapan dan anda mungkin takkan menyentuh game ini lagi (seperti saya).
Editor’s Tilt (7.5 / 10)
Perlu saya katakana pada akhir review saya bahwa Portrait of Ruin BUKAN sebuah game Castlevania yang buruk. Keluhan-keluhan yang saya sampaikan sepanjang game ini lebih bersifat kekecewaan pribadi saya yang tertuang karena tidak mendapatkan apa yang saya harapkan sebelumnya. Portrait of Ruin tetap sebuah title Castlevania yang saya rekomendasikan kepada setiap orang yang menggemari seri Castlevania (tetapi para pemula mungkin lebih baik menjajal Dawn of Sorrow terlebih dahulu sebelum langsung mencoba Portrait of Ruin).
Nah, apabila GBA memiliki trilogy Castlevania mereka, apakah Nintendo DS akan menyusul jejak tersebut? Harapan saya adalah semoga Castlevania berikut bisa benar-benar membuktikan janji sang developer (Igarashi-san, jangan beri kami harapan palsu lagi!). As for now, saya akan menunggu remake dari Symphony of the Night dan Rondo of the Blood yang segera dihadirkan di PSP. Ah, it’s about time!
Average: 7.5
Game Details
Developer: Konami
Publisher: Konami
Genre: Action RPG














