Bagi orang yang mengetahui tokoh komik Marvel hanya melalui film-filmnya, saya rasa Captain America mungkin hanya sekedar karakter sekunder – bahkan tertier yang tidak terkenal. Bayangkan, di saat Marvel sibuk memasukkan karakter-karakter superhero paling terkenal mereka seperti X-Men dan Spider-man ke layar lebar, Captain America terpinggirkan. Bahkan ketika superhero sekunder seperti Hulk, Fantastic Four, sampai Daredevil sudah masuk ke layar lebarpun Captain America masih saja dilupakan. Tidak mengherankan kalau tidak banyak orang yang mengetahui siapa itu Captain America. Empat tahun lalu ketika saya pertama kali mengenal komik Amerika saja saya menyangka Captain America itu seorang superhero dengan kostum ‘aneh’.
Setelah saya membaca lebih lanjut, bagaimanapun juga, saya baru menyadari betapa pentingnya sosok seorang Captain America dalam dunia Marvel. Sebagaimana halnya Superman di DC, Captain America adalah aspirasi bagi semua superhero dunia Marvel. Tidak kurang mulai dari Spider-man sampai The Punisher menjadi sosok yang segan dan menghormati sang pahlawan dengan julukan Sentinel of Liberty ini. Oleh karena itu, bukan hal yang mengherankan bahwa saat Captain America tewas di akhir kisah Civil War pada tahun 2005 Amerika menjadi gempar. Stasiun TV, Internet, sampai surat kabar semua ramai memberitakan kematian ikon Amerika itu. Tercatat dalam sejarah bahwa hanya kematian Superman belasan tahun yang lampaulah yang memiliki hype sebesar itu. Hal itu kian impresif mengingat pada jaman ini kebanyakan orang sudah tahu bahwa superhero tidak pernah mati secara ‘permanen’.
Setelah kematian Steve Rogers, penulis serial Captain America Ed Brubaker langsung memajukan cerita dengan memperkenalkan kepada dunia sang Captain America yang baru. Tameng legendaris Captain America ini kemudian diwariskan kepada Bucky, sidekick dari Captain America. Sekedar catatan saja, langkah Marvel ini sukses besar sehingga DC berusaha menirunya dengan ‘membunuh’ Bruce Wayne si Batman dan mewariskan mantel Batman pada Dick Grayson si Robin. Setelah tiga tahun Captain America absen dalam kancah dunia Marvel, Ed Brubaker menyatakan bahwa kini ia siap mengembalikan sang jagoan pada dunia Marvel. Dan cerita itu dipersiapkan dalam kronologi enam bagian yang dinamai Captain America: Reborn.
Sebelum membaca Captain America: Reborn, ada baiknya kalau pembaca komik tahu lebih dulu mengenai kisah dalam serial Captain America sebelumnya mulai dari The Death of the Dream, The Burden of Dreams, sampai The Man Who Bought America. Kenapa? Karena walaupun Captain America: Reborn diposisikan sebagai mini-seri, ada banyak sekali referensi pada kejadian-kejadian yang terjadi pada waktu saat dan setelah kematiannya. Pembaca yang langsung melompat membaca mini-seri ini dipastikan kebingungan akan keterlibatan karakter Red Skull, Sin, atau Sharon di dalamnya, terutama karena Ed Brubaker tidak mau membuang-buang waktu menjelaskan ulang mengenai apa saja koneksi mereka dalam kisah kebangkitan kembali Captain America.
Marvel juga menurunkan salah satu tim terbaik mereka untuk proyek ini. Selain memasrahi penulisan ceritanya kepada Ed Brubaker (yang adalah serial Captain America terbaik), artwork dalam komik ini ditangani oleh Bryan Hitch, tandem dari Mark Millar dalam serial The Ultimates dan Fantastic Four. Mendengar duet ini, saya hampir saja ngiler dan menjerit kegirangan. Saya tidak bisa membayangkan betapa dahsyat kolaborasi keduanya! Sayang setelah membaca enam edisi, saya memutuskan bahwa kerjasama mereka sebaiknya berakhir sampai di sini saja. Entah kenapa keduanya tidak tampil dalam performa terbaik mereka di komik ini. Cerita yang ditulis oleh Ed Brubaker mengenai ‘kenyataan’ di balik kematian dan kebangkitan kembali Steve Rogers seperti terlalu mengada-ada, kontras dengan penulisan Brubaker yang selama ini berpijak pada dunia spionasme dan realita. Hal ini diperburuk dengan gaya gambar Bryan Hitch yang kualitasnya turun drastis dibandingkan karya-karya sebelumnya. Silahkan bandingkan artwork dalam mini-seri ini dengan The Ultimates atau Fantastic Four. Bryan Hitch selama ini selalu membuktikan diri bahwa dia adalah artis yang mampu menggambar berbagai macam set dan kisah epik sehingga saya berharap kegagalan ini hanya menjadi batu kerikil kecil yang tak menghalangi dia bangkit lagi ke depannya.
Toh terlepas dari kelemahan dua orang tim kreatifnya, apa yang membuat Captain America: Reborn kehilangan semua impact dalam dunia Marvel adalah molornya jadwal terbit. Sejak kapan ada sebuah kisah epilog muncul terlebih dahulu sebelum kisah utamanya sendiri berakhir? Hal ini baru pertama kali saya jumpai di sini. Masa sih edisi kelima dari Reborn baru saja muncul kemudian epilog one-shot yang berjudul Who Will Wield the Shield muncul lebih dulu sebelum klimaks komik ini? Ini langsung membunuh semua misteri yang tersisa di komik keenamnya. Walaupun kita tahu bahwa Steve Rogers pasti kembali, ternyata misteri siapa yang bakalan menjadi Captain America malahan dijawab dalam Who Will Wield the Shield, bukannya edisi keenam dalam mini-seri Reborn.
Yah, terlepas dari semua kekurangan yang saya sebutkan tadi, Captain America: Reborn adalah sebuah ambisi bombastis seorang Ed Brubaker (walau sayangnya gagal) untuk mengembalikan Steve ke tengah dunia Marvel. Dan mengingat dunia Marvel kini dalam kekelaman setelah dikuasai oleh Norman Osborn (si Green Goblin!) dan Dark Avengers, tak ada saat yang lebih tepat bagi Cap untuk kembali beraksi.
Score: 6.6
Graphic Novel Details
Writer: Ed Brubaker
Penciller: Bryan Hitch
Publisher: Marvel Comics
Volume: 01 – 06 (Epilog one-shot Who Will Wield the Shield)































