Tag Archive | "Call of Duty"

Tags: , , , , ,

Battlefield: Bad Company 2

Posted on 18 April 2010 by Si Tukang Review

Bad Company 2 PC Cover

Bad Company 2 PC Cover

Sebelum ini dunia FPS dengan setting perang bagiku terbatas pada tiga kata: Call. of. Duty. Bukan rahasia kalau saya memang suka dengan serial yang diedarkan oleh Activision ini. Saya pernah menamatkan Call of Duty pertama, kedua, Modern Warfare dan Modern Warfare 2. Bahkan saya menobatkan Modern Warfare 2 sebagai game terbaik tahun lalu. Padahal yang namanya FPS dengan setting perang tidak hanya terbatas pada serial Call of Duty semata. Sebelum Call of Duty digagas saja sudah ada Medal of Honor, dan masih ada banyak serial lain seperti ARMA dan tentu saja Battlefield. Battlefield mulai mengambil perubahan pada serialnya sejak memiliki tajuk Bad Company dan dirilis pada tahun 2008 lalu. Diposisikan oleh publisher EA sebagai saingan Call of Duty, ia gagah menantang Modern Warfare dan World At War yang dirilis berdekatan dengannya. Tahun lalu, Modern Warfare 2 dirilis dan menjadi game dengan penjualan terbesar (sampai saat artikel ini ditulis). EA tentu saja tidak mau kalah dan tak berselang lama Bad Company 2 pun dirilis.

Cerita dalam Bad Company 2 masih mengambil karakter-karakter yang sama dari prekuelnya. Kamu masih mengendalikan Preston Marlow dengan dibantu oleh ketiga rekanmu: George Haggard Jr, Samuel Redford, dan Terrance Sweetwater. Berempat, kalian diminta oleh pemerintahan Amerika untuk mencari tahu kebenaran di balik mitos ‘Operation Aurora’. Konon merupakan senjata rahasia negeri Jepang yang (mungkin) tidak keburu digunakan karena mereka dinuklir terlebih dahulu. Karena hampir setiap misimu hanya berangkat berempat, ada feel yang berbeda memainkan Call of Duty dan Battlefield. Kalau Call of Duty lebih berasa seperti perang frontal, ini lebih seperti covert ops. Toh saya sebenarnya lebih menyukai chemistry antara keempat rekanan ini. Sering kali dialog mereka dalam cutscene yang nyeleneh dan tolol membuat saya tertawa terbahak-bahak, berbeda dengan seri Call of Duty / Modern Warfare yang cenderung lebih serius. Dalam hal penyutradaraan aksi, bagaimanapun juga, Modern Warfare masih jauh lebih bombastis (sekaligus kalah realistis).

Bicara soal realistis dalam gameplaynya, Bad Company 2 mempertahankan unsur yang membuat game pertamanya berbeda: environment yang bisa dihancurkan. Sebagai gamer Modern Warfare, pengikutan ini membuat saya harus mengatur ulang strategi bermainku. Ambil ilustrasi berikut sebagai contohnya: Dalam Modern Warfare 2, ketika saya disuruh menghancurkan tank dengan RPG / Rocker Launcher, saya mengendap-endap di jendela dengan berlindung dinding rumah kemudian membidik dan menghancurkan tank tersebut. Saat saya hendak mengulangi strategi yang sama di game ini… BAM! Mendadak saat saya tengah membidik dinding yang saya gunakan untuk berlindung sudah hancur ditembak oleh tank menjadi puing-puing. Belum hilang keterkejutanku… BAM! Saya terkapar di tanah, tertembak tank tanpa terlindungi.

Tentu saja bisa menghancurkan environment tidak hanya menjadi penyulit tetapi bisa berbalik kamu manfaatkan. Ada satu daerah di game ini yang sulit sekali saya lewati karena dipenuhi sniper yang bersembunyi di balik dinding dan atap-atap rumah. Baru saya melintas sebentar saja saya sudah ditembak tewas. Akhirnya saya ubah strategi, saya gunakan pelontar granat dari mobil dan secara membabi-buta menembaki dinding dan rumah tempat mereka bersembunyi. Di kala sisa-sisa dari mereka berusaha berlari berganti posisi menembak, di saat itulah saya gantian membantai diri mereka yang terekspos. Cukup unik bukan? Bukan sekedar menghancurkan environment saja yang menjadi pembeda Bad Company 2 dengan game sejenis. Beberapa tambahan lain turut membuatnya jadi real. Ketika sebuah helikopter tengah terbang dekat padang pasir, pandanganku jadi terganggu untuk menyerang musuh yang meloncat turun dikarenakan debu-debu yang berterbangan. Realistis!

Satu-satunya keluhanku pada mode Single Playernya adalah pada jongkoknya AI dari ketiga rekanku. Sudah cukup sulit menghadapi bejibun musuh dengan cuma empat orang, lebih sulit lagi dikarenakan ketiga temanku biasanya cuma asal menembak tapi jarang sekali mengenai musuh. Pada akhirnya harus saya yang selalu turun tangan menembak supaya skenario bisa dilanjutkan. Sebaliknya bila AI temanku jongkok, AI musuh lumayan cerdas. Walaupun saya bermain pada mode Easy kesulitan tetap tinggi – terutama di skenario-skenario akhir.

Konon sih, Bad Company 2 tidak pernah ditujukan untuk pasar Single Player (walaupun Campaign Modenya memakan waktu hampir dua kali lipat Campaign Mode Modern Warfare 2) tetapi untuk pasar Multiplayer. Bahkan, EA mendedikasikan sebuah server khusus untuk gamer bermain online – memastikan mereka mendapatkan permainan lancar ketika perang di dunia maya. Untuk yang satu ini Activision sepertinya harus belajar banyak, mengingat Modern Warfare kerap dikecam karena online modenya yang sering putus dan banyak masalah. Sebenarnya saya menyayangkan tidak bisa menjajal game ini online karena banyak sekali situs review yang saya baca menyebutkan bahwa Bad Company 2 menitikberatkan kerjasama tim bukannya aksi heroik individu dalam permainan. Yah, suatu hari nanti mungkin…

So my verdict is… kepindahan banyak developer Infinity Ward saya rasa menjadi pukulan berat bagi Activision. Belum lagi dua foundernya yang lompat perahu ke EA. Hm… mungkinkah ke depannya ada DICE bekerja sama dengan studio game baru para founder Infinity Ward itu? Mungkinkah hasilnya sebuah FPS dengan aksi sekeren Modern Warfare 2 dan tingkat realisme seperti Bad Company 2. Whoa! I’m drooling already!

Final Verdict

Gameplay: 9.0
Jauh lebih realistis dibandingkan Modern Warfare 2. Environment yang bisa dihancurkan memberi banyak kedalaman pada gameplaynya. Juga jangan harap kamu bisa berlari keluar dari tempat persembunyian ala Rambo kalau mau selamat.

Graphic / Sound: 9.0
Detailnya luar biasa. Developer DICE terutama pamer kemampuan engine game mereka saat di hutan (lebat daun dan pepohonan terlihat sangat nyata) dan saat hancur-hancurnya bangunan. Pengisi suara karakter juga sesuai dengan sifat-sifatnya. Yang kurang hanya theme megah. Mungkin perlu menyewa komposer Hollywood juga?

Play Time: 9.0
Dengan catatan kamu memiliki koneksi online, Bad Company 2 bisa menjadi game yang bakalan kamu mainkan untuk tempo yang sangat lama bila kamu pecinta game bergenre FPS.

Overall: 9.0

Game Details
Developer: Digital Illusion CE (DICE)
Publisher: EA
Genre: FPS

Comments (7)

Tags: , , , , ,

Call of Duty 4: Modern Warfare

Posted on 17 March 2010 by Si Tukang Review

Call of Duty 4: Modern Warfare PC Cover

Call of Duty 4: Modern Warfare PC Cover

Dalam review saya sebelumnya, saya menobatkan Call of Duty: Modern Warfare 2 menjadi game terbaik tahun 2009 lalu. Penobatan tersebut bukannya tanpa alasan, karena kendati saya melewatkan beberapa title kelas AAA, saya merasa bahwa dari semua game yang saya mainkan, Call of Duty: Modern Warfare 2 lah yang paling memuaskan bagiku. Menulis review untuk Modern Warfare 2 tanpa menyinggung prekuelnya rasanya kurang afdol karena bagaimanapun bagusnya Modern Warfare 2, game itu berutang budi kepada sang kakak yang memperkenalkan kepada kita karakter-karakter seperti Soap MacTavish dan Captain John Price serta dunia perang masa modern yang tak kalah mencekam dengan setting Perang Dunia II.

Ingatkah kalian bahwa dalam sekuelnya, musuh utama yang harus dihadapi adalah Makarov? Makarov ini merupakan tangan kanan dari seorang pemimpin gerakan garis keras Russia: Imran Zakhaev. Zakhaev yang ingin mengembalikan kejayaan Russia membantu gerakan teroris Al-Asad melakukan kudeta di sebuah negara di Timur Tengah. Dunia tentu saja tidak tinggal diam dengan tindakan Zakhaev ini. Pasukan dunia di bawah pimpinan dua negara adidaya Inggris dan Amerika melakukan serangan balik untuk melumpuhkan Al-Asad. Tak disangka bahwa itu semua hanyalah jebakan yang telah dipersiapkan Zakhaev. Sebuah bom nuklir di tempat itu mendadak saja meledak dan menyapu habis semua tentara di tempat itu. Lebih mirisnya lagi, Zakhaev masih memiliki banyak persediaan nuklir. Merupakan tugas pemainlah untuk melumpuhkan manusia sinting ini dan mencegah pecahnya Perang Dunia III.

Walaupun Modern Warfare sudah berumur dua tahun (usia yang cukup tua di dunia game), saya masih bisa dibuat takjub oleh kualitas grafisnya. Setingkat di bawah sang adik, Modern Warfare tetap menawarkan kita berbagai lansekap yang dijelajahi dalam tiga Act yang tersedia di game ini. Selain membawa gamer ke negara Timur Tengah, kita juga adu tembak di lokasi-lokasi eksotik seperti kapal tanker di awal game sampai kejar-kejaran seru di Russia sebagai penutup. Bagiku pribadi, stage yang paling memorable adalah flashback di Chernobyl di mana kita berkesempatan untuk berperan sebagai Captain Price dalam misi mengeksekusi Zakhaev. Saya menyebut stage ini sangat berkesan bukan hanya karena lokasinya di kota mati (di Chernobyl pernah terjadi ledakan reaktor nuklir) tetapi juga karena gameplaynya yang mengharuskan pemain mengendap-endap ketimbang main tembak ala Rambo. Modern Warfare juga tidak kalah dari segi momen “WTF?!”. Apabila Modern Warfare 2 memberi kita misi No Russian, sang kakak memberi kita ledakan bom nuklir. Bahkan situs Screw Attack sempat menobatkan momen tersebut sebagai satu dari sepuluh momen paling mengejutkan dalam dunia gaming. Saya setuju.

Untuk Single Player-nya, game ini memerlukan waktu sekitar delapan sampai sepuluh jam untuk diselesaikan, sedikit lebih lama ketimbang Modern Warfare 2. Toh, seperti kebanyakan game FPS lain, nilai replayability utama dari Modern Warfare datang dari multiplayernya, baik bermain langsung bersama teman-teman lewat komputer yang disambung LAN, atau lewat di dunia maya melalui saluran internet. Dalam beberapa warnet yang sempat saya survey, saya menemukan bahwa banyak di antara mereka yang sudah menginstall Modern Warfare (dan Modern Warfare 2) di dalamnya. Beberapa pemiliknya (yang kebetulan adalah teman-teman saya) menegaskan bahwa game ini juga menjadi salah satu pilihan utama gamer dalam bermain FPS, menggantikan Counter Strike yang menjadi primadona selama lebih dari satu dekade.

So my verdict is… apabila kamu suka Modern Warfare 2 tapi melewatkan sang kakak karena merasa bahwa ia sudah uzur maka kamu salah besar. Dari sisi cerita saja sudah jelas bahwa Infinity Ward tengah menyusun sebuah gambaran cerita yang lebih besar untuk serial ini. Modern Warfare adalah sebuah game yang merevolusi dunia FPS, bukan dari gameplay, tetapi dari setting dan ceritanya. Play this game and be a part of that revolution.

Final Verdict

Gameplay: 9.0
Single Mode dan Multiplayer Mode adalah santapan utama dalam Modern Warfare. Apa lagi yang perlu saya jelaskan mengenai gameplaynya? Kamu diberi berbagai macam senjata dan segudang arsenal yang bisa kamu pakai untuk menembaki musuhmu. Sederhana dan fun. Semua orang bisa memainkannya.

Graphic / Sound: 8.0
Grafisnya tergolong prima untuk sebuah game yang dirilis di tahun 2007 (lebih dari dua tahun yang lalu). Sound effectnya pun mantap dan menggelegar. Untuk musiknya sendiri, saya masih lebih memilih Modern Warfare 2 (mungkin karena saya fans dari Hans Zimmer?). Toh, game ini sendiri disokong oleh Stephen Barton dan Harry Gregson-Williams, yang namanya sudah menjadi jaminan mutu.

Play Time: 9.0
Dua kata: multiplayer mode. Selama kamu bisa mendapatkan ‘lawan’ di mode ini, selama apapun memainkan Modern Warfare rasanya takkan bosan.

Overall: 8.8

Game Details
Developer: Infinity Ward
Publisher: Activision
Genre: FPS

Comments (13)

Tags: , , , , ,

Call of Duty: Modern Warfare 2

Posted on 16 December 2009 by Si Tukang Review

Call of Duty: Modern Warfare 2 Cover

Call of Duty: Modern Warfare 2 Cover

(Review Based on PC Version)

Yang mengatakan kalau industri game tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu perlu berkaca lagi pada statemen tersebut. Tahun ini adalah tahun lahirnya Street Fighter IV, Resident Evil 5, Batman: Arkham Asylum, Uncharted 2, Dragon Age: Origins, Legend of Zelda: Spirit Tracks, The Sims 3, GTA: Chinatown Wars, New Super Mario Bros Wii, dan banyak – banyak – banyak sekali game-game keren lainnya. Tetapi bila saya diminta memilih mana yang harus saya nobatkan untuk menjadi game of the year, tanpa ragu saya akan memilih: Call of Duty: Modern Warfare 2. Saya tahu ada banyak orang yang mengatakan kalau game ini overrated dan dipuji berlebihan sekedar karena ia memecahkan rekor penjualan video game terbesar sepanjang masa. Sekedar catatan, pendapatan Modern Warfare 2 yang mencapai 310 Juta USD hanya pada hari pertama perilisannya adalah pendapatan dunia hiburan terbesar sepanjang masa (The Dark Knight yang memegang rekor opening weekend terbesar film ‘hanya’ mendapat 158 Juta USD selama tiga hari pertama masa tayangnya). Apa sebenarnya yang membuat saya berani berkoar kalau game ini adalah game terbaik tahun ini (setidaknya bagiku)? Silahkan baca.

Call of Duty pertama adalah salah satu serial FPS yang paling kukenang. Serial ini pertama kali dirilis oleh Activision pada tahun 2003, dan saya langsung terkesima ketika melihat Perang Dunia II yang brutal. Saat berperang bersama menyerbu markas musuh amat berbeda dengan FPS-FPS yang ada pada masa itu. Sontak Call of Duty menjadi franchise yang sukses dan terkenal. Tahun demi tahun Activision terus merilis sekuel game Call of Duty yang semua mengambil latar yang sama Perang Dunia II. Memasuki game keempatnya, Infinity Ward selaku developer yang menelurkan game ini sadar bahwa tema Perang Dunia II sudah basi. Seru sih memang seru, dan mungkin masih ada banyak sekali perang-perang yang bisa dimasukkan dalam skenarionya, tetapi Infinity Ward ingin mencoba satu konsep yang baru – yang lebih fresh. Lahirlah Call of Duty 4: Modern Warfare yang mengambil setting bukan di masa lalu yang sudah terukir sejarah melainkan masa depan alternatif. Bisa dibilang Call of Duty 4: Modern Warfarelah yang membawa franchise Call of Duty menjadi superstar dunia FPS. Perlahan tapi pasti, bahkan game center yang biasa dipenuhi kebisingan game lama Counter Strike mulai berubah menjadi Modern Warfare.

Begitu cintanya gamer pada Modern Warfare, ketika tahun lalu seri kelima Call of Duty dirilis dengan sub-judul World at War dan (kembali) mengambil setting di Perang Dunia II, banyak sekali orang kecewa dan mengecam ini sebagai langkah mundur serial Call of Duty. Yang mereka tidak tahu saat itu adalah, serial Call of Duty sebenarnya didesign oleh dua developer hampir secara simultan untuk memastikan publisher Activision punya satu game Call of Duty untuk dirilis tiap tahunnya. Sementara Infinity Ward merilis Modern Warfare di tahun 2007, Treyarch yang adalah pengembang satunya gantian merilis World at War di tahun 2008. Di tahun yang sama, Infinity Ward tengah bekerja keras untuk memenuhi harapan gamer akan sebuah game Modern Warfare yang baru. Dirilislah Modern Warfare 2 tahun ini – dan sisanya adalah sejarah. Tercatat dalam lima hari pertama saja sudah ada delapan juta orang online dan bermain Modern Warfare 2 secara multiplayer!

Saya tahu bahwa tidak biasanya sebuah FPS mementingkan cerita, tetapi Modern Warfare 2 adalah pengecualian. Ringkasan berikut ini bisa jadi mengandung spoiler, sehingga kalau kamu peduli dengan spoiler – lompati paragraf ini. Lima tahun berlalu setelah akhir Modern Warfare pertama. Kematian Imran Zakhaev bukannya menjadikan dia seorang penjahat perang – malahan berubah menjadi seorang pahlawan dan martir di Russia sana. Lebih mengecewakannya lagi adalah Vladimir Makarov yang dulunya seorang ajudan Zakhaev mulai membentuk kelompok teroris yang terus menyerang berbagai kota di Eropa. Amerika tentu saja tidak tinggal diam dan menyusun regu elit Task Force 141. Salah seorang anggotanya bernama Joseph Allen ditugaskan untuk menyusup dalam rombongan Makarov dalam aksi terorisme mereka. Aksi tersebut termasuk menembaki seluruh penumpang di bandara internasional Moskow secara membabi-buta. Sial bagi Allen, Makarov memergoki penyamarannya dan membunuhnya. Saat mayat Allen teridentifikasi, Russia pun marah besar karena menganggap Amerika berada di balik serangan tak berperikemanusiaan itu. Mereka membajak sistem radar di Amerika dan melancarkan serangan besar-besaran secara diam-diam ke kota Washington. Sementara kamu harus menghentikan invasi Russia ke tanah Amerika, kamu juga harus mencoba menangkap Makarov yang merupakan dalang semua kekacauan ini.

Karena ada beberapa plot yang berjalan bersamaan dalam cerita, kamu juga akan memainkan beberapa karakter berbeda di berbagai macam lokasi (untuk Single Player Mode). Modern Warfare 2 memang menyenangkan untuk dimainkan sendiri maupun bersama-sama. Dimainkan bersama-sama sih sudah jelas. Dengan grafis terkini, berbagai macam map dan campaign yang bisa dipilih (dan saya rasa akan terus bertambah seiring dengan hadirnya expansion pack resmi maupun tidak resmi), Modern Warfare 2 bisa dimainkan berjam-jam dengan kawan-kawanmu. Toh, dimainkan sendiri pun Modern Warfare 2 tidak kalah asyiknya. Single Player Mode menawarkan tur gratis ke berbagai macam lokasi eksotik dunia. Setelah misi prolog di Afghanistan, kita masih dibawa untuk melihat Rio De Janeiro, Siberia, Moskow, Washington, dan banyak tempat lagi. Setiap lokasi juga memiliki tujuan yang berbeda-beda sehingga misi tidak pernah terasa monoton. Misi yang paling memorable bagiku adalah Cliffhanger yang merupakan misi kedua. Tidak tanggung-tanggung, misi ini diakhiri dengan kejar-kejaran naik snowmobile yang sangat intens dan menegangkan. Beberapa pihak mengkritik Single Player Mode terlalu cepat dibandingkan game-game Call of Duty sebelumnya. Saya tidak setuju. Saya memerlukan waktu kira-kira enam hingga delapan jam untuk menyelesaikan Single Player Mode yang terbagi menjadi 18 chapter ini – cukup panjang untuk ukuran game FPS. Lagipula apa gunanya memperpanjang sebuah cerita Single Player Mode apabila malah mengorbankan kualitas ceritanya sendiri? Setiap satu chapter dalam game ini menurut saya berpengaruh untuk memajukan jalan ceritanya sebagai satu kesatuan. Tunggu apa lagi Hollywood? Garap versi film dari game ini! Selain mode ceritanya, dalam Single Player Mode juga terdapat berbagai variasi misi Solo yang bisa kamu jalankan bila kamu penasaran dengan kemampuanmu sendiri. Semakin bagus kamu menyelesaikan tantangan-tantangan yang ada, semakin banyak medal yang akan kamu menangkan sebagai penghargaanmu. Tantangan yang pendek – tetapi cukup mengasyikkan untuk mengisi waktu dan terus mengasah ketajaman instingmu.

Cerita yang hebat dan gameplay yang seru itu juga ditunjang oleh grafis dan suara yang ekselen. Seperti yang saya katakan tadi, Single Player Mode membawa pemain ke berbagai lokasi yang berbeda-beda di dunia, mulai dari putih dinginnya Siberia di tengah badai salju, serangan bawah laut di sebuah stasiun lepas pantai, perkampungan kumuh Rio De Janeiro, sampai pada kota Washington yang membara. Semuanya berbeda kecuali satu: semuanya digarap dengan detail yang mengagumkan. Bagi yang memainkannya di PC pun tak perlu khawatir sebab Modern Warfare 2 bukan game yang rakus spesifikasi (I’m looking at you Crysis), asal komputermu dulu kuat memainkan Modern Warfare pertama dan World at War, Modern Warfare 2 pun bisa kamu mainkan dengan setting standar tanpa slowdown berarti. Musik dalam Call of Duty sudah biasa ditangani oleh komposer-komposer top dan ini pun bukan pengecualian. Apabila di prekuelnya duet Stephen Barton dan Harry Gregson-Williams yang menggubah track-tracknya, kali ini musik dikompos oleh Hans Zimmer. Keberanian Infinity Ward merekrut komposer-komposer besar ini terbukti manjur. Ingat misi Cliffhanger yang kutulis di atas tadi? Alasan kenapa misi tersebut begitu memorable tidak hanya adegannya saja tetapi karena musik Zimmer yang mengiringi sangat pas menggiring emosiku. Saya jarang menyarankannya, tetapi untuk Modern Warfare 2, kalau kamu bisa mendapatkan OSTnya maka belilah itu tanpa ragu!

Memang Modern Warfare 2 tidak memberikan inovasi baru seperti ketika sang prekuel mengubah fondasi setting FPS, tetapi dengan jalan cerita yang fantastis, grafis yang tajam tetapi tidak makan banyak resource, kualitas musik yang luar biasa, sampai unsur fun dan replayability yang tinggi, Call of Duty: Modern Warfare 2 saya nilai layak mendapatkan penghargaan game terbaik tahun ini.

Final Verdict

Gameplay: 10
Single Mission Mode-nya langsung bikin ketagihan untuk memainkannya terus dan terus. Kualitas cinematic scenenya disutradarai dengan meyakinkan dan berkali-kali saya harus meyakinkan diri saya bahwa ini ‘hanya’ game dan bukan film. Bila kamu bertujuan ingin memainkan game ini online, pilihlah versi 360nya karena jaringan Live dari X-Box saat ini merupakan jaringan yang paling menunjang. Sebaliknya bila ingin mendapatkan grafis terbaik untuk game ini, beli graphic card terbaik dan bersiaplah untuk terpana memainkannya.

Graphic / Sound: 9.0
Kualitas grafis Modern Warfare 2 mungkin tak bisa dibandingkan dengan Crysis atau Farcry 2 bila sama-sama dimasukkan pada setting maksimum. Tidak berarti grafisnya jelek. Justru saya lebih kagum pada Infinity Ward yang mampu mendapatkan keseimbangan sebuah game yang tetap apik pada grafisnya tetapi bisa dimainkan di (hampir) semua gaming computer. Untuk versi konsolnya sendiri, kualitas Modern Warfare II setara (kalau tidak sedikit lebih baik) dengan FPS-FPS yang ada saat ini. Kualitas musik yang ditangani oleh Hans Zimmer dan voice acting yang meyakinkanlah yang menjadi poin terkuat sisi audio visual.

Play Time: 10
Setelah memainkan Single Player Mode (baik yang Campaign dan Cooperative) yang bisa menyedot 10 hingga 20 jam, bergabung dalam komunitas dunia maya (konsol) atau mainkan game ini secara LAN di Game Center (PC). Dengan angka 8 juta orang (dan mungkin terus bertambah) yang terkoneksi di dunia internet guna memainkan Modern Warfare II, jangan heran kalau game ini akan jadi idola dalam turnamen-turnamen FPS yang akan datang!

Score: 9.8

Game Details
Developer: Infinity Ward
Publisher: Activision
Genre: FPS

Comments (61)

Advertise Here
Advertise Here