Tag Archive | "Blackest Night"

Tags: , , , , , , , ,

Siege

Posted on 14 May 2010 by Si Tukang Review

Siege #1 Cover

Siege #1 Cover

Setelah akhir dari Secret Invasion tahun 2008 lalu dimulailah era di mana saya malas mengikuti komik Marvel. Loh? Bagaimana tidak? Karena Norman Osborn menghabisi sang pemimpin invasi Skrull, dia langsung didaulat sebagai pemimpin dari S.H.I.E.L.D. Bahkan sebagai pembaca komik saja saya sulit menerima logika itu. Lupakah dunia bahwa Norman pernah menjadi orang sinting di balik persona Green Goblin? Dan hanya karena ia berhasil menghentikan satu – saya ulangi: satu – invasi saja dia langsung didaulat menempati posisi yang dulunya dipegang oleh Nick Fury dan Tony Starks? I’m sorry but I just don’t buy it.

Itu jugalah alasan kenapa saya absen tanpa pernah mengikuti serial Dark Reign-nya Marvel. Saya tidak merasa tertarik mengikuti sebuah kisah dalam dunia di mana para supervillain berkuasa dan sewenang-wenang sementara para superhero harus hidup dalam persembunyian. Untuk pertama kalinya saya bersyukur bahwa status dalam komik tidak pernah bertahan dalam waktu lama. Diumumkan oleh Marvel bahwa Dark Reign akan segera berakhir dan diikuti oleh Heroic Age, sebuah era di mana para pahlawan Marvel akan bangkit kembali dan menjungkirbalikkan para supervillain. Lebih dari itu, ini akan menjadi era di mana Iron Man, Captain America, dan Thor berdiri dalam satu sisi dalam grup The Avengers.

Siege diawali dengan ketegangan yang berkelanjutan antara pemerintah Amerika dengan tanah para dewa Norse: Asgard yang melayang di atasnya. Norman Osborn dan Loki melihat kesempatan ini dan membuat sebuah trik. Seorang dewa bernama Volstagg berkelana di bumi dan dijebak oleh keduanya supaya membuat sebuah insiden. Ribuan orang tanpa sengaja tewas karena pertarungan antara Volstagg dan para penjahat yang dikirim oleh Norman. Pemerintah Amerika murka dan memerintahkan Norman untuk menyerang Asgard. Thor yang berusaha menghadang para Dark Avengers di bawah pimpinan Norman kalah dan para dewa-dewa lain Asgard mati-matian mempertahankan diri.

Di saat itu para superhero yang hidup dalam persembunyian sadar, inilah saat bagi mereka untuk bangkit dan menolong Asgard. Ini adalah saat bagi mereka untuk bangkit dan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hak mereka. Tapi efek perpecahan dari Civil War masih terasa. Tony Starks alias Iron Man masih dimusuhi beberapa tokoh yang masih menganggapnya pengkhianat. Steve Rogers alias Captain America yang asli juga baru saja kembali pada dunia orang hidup. Bisakah para superhero menyingkirkan perbedaan prinsip mereka dan bersatu mengalahkan Norman dan kroni-kroninya?

Brian Michael Bendis dan Olivier Coipel berkolaborasi untuk karya ini, duet mega-proyek mereka setelah House of M lalu. Siege sebenarnya tidak buruk-buruk amat dan agak berbeda dengan kebanyakan komik crossover lainnya. Bila komik crossover lain panjangnya mencapai 7 sampai 8 edisi, Siege hanya punya 4 edisi… lebih pendek bahkan dari World War Hulk (itu masih mencapai 5 edisi). Tapi memang dari sananya Marvel menjanjikan bahwa Siege akan menjadi even yang cepat, pendek, penuh baku hantam, dan langsung to-the-point. Memang sih Siege langsung memotong pendek kata-kata maupun dialog dan langsung hajar-hajaran dari awal sampai akhir dan ini punya sisi positif maupun negatif.

Ditilik sisi positifnya, artwork Olivier Coipel memang sangat ciamik. Lukisan Coipel layaknya goresan di kain kanvas. Coipel juga jago mengambil sudut-sudut dan gaya gambar yang keren. Hasilnya pertarungan di Asgard terlihat hidup dan menegangkan. Anggap saja seperti menonton slideshow film yang terus bergulir dalam waktu 90 menit. Plus ada kepuasan sendiri melihat para jagoan yang selama ini ditekan bangkit dari rezim para supervillain. Siapa yang tidak puas melihat Norman Osborn dihajar sampai terkapar misalnya? He had it coming for him. Siapa juga yang tidak puas melihat Cap, Iron Man, dan Thor sekali lagi berdiri bahu membahu melawan musuh yang sama? Ini adalah yang pertama kali setelah hampir tujuh tahun berlalu! Can you believe it? Tujuh tahun!

Tapi di sisi negatifnya banyak sekali sisi humanis dalam Siege yang kurang tergali. Bendis adalah salah satu penulis yang jago dengan dialognya dan di sini ia tidak banyak mendapat kesempatan menunjukkan kekuatannya. Sialnya lagi dengan empat edisi saja (walau edisi terakhirnya dibuat double-size) buat Siege, beberapa poin cerita terasa terlalu dicepatkan. Epilognya juga terasa terlalu terburu-buru. Ada begitu banyak masalah yang belum diselesaikan untuk semua karakternya nyengir bersama-sama dan bergaya ‘menghadap kamera’. Mungkin ini bakalan digali lebih lanjut di komik-komik jaman Heroic Age berikutnya?

So my verdict is… nampaknya kiasan ‘habis gelap terbitlah terang’ berlaku buat dua publisher komik Amerika terbesar saat ini. Baru-baru ini DC kelar dengan Blackest Night dan mengikutinya dengan Brightest Day. Lantas Marvel juga buru-buru mengakhiri Dark Reign mereka dan memulai Heroic Age… Menarik untuk melihat ke mana era cahaya ini akan membawa kita!

Score: 7.0

Graphic Novel Details
Writer: Brian Michael Bendis
Artist: Olivier Coipel
Publisher: Marvel Comics
Volume: 01 – 04

Comments (9)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Blackest Night

Posted on 01 April 2010 by Si Tukang Review

Blackest Night #1 Cover

Blackest Night #1 Cover

Dan dengan beredarnya volume kedelapan hari ini, berakhirlah rangkaian trilogi yang telah dibangun Geoff Johns semenjak ia mengambil alih dan melakukan relaunch pada franchise Green Lantern. Melihat halaman penutupnya, saya jadi bernostalgia dua tahun yang lalu di ending Sinestro Corps War. Saya ingat bahwa epilog kisah itu begitu berkesan melihat bagaimana prophecy Blackest Night terlihat mengancam dunia DC. Mencekam sekaligus langsung membuat gw hendak melompat ke tahun 2009. Penantian dua tahun itu berakhir ketika Blackest Night pertama diluncurkan. Dan di saat itu franchise Green Lantern sudah berada di posisi yang jauh berbeda.

Di tahun 2007, DC sendiri mengakui kalau Sinestro Corps War bukanlah even andalan mereka. Mereka lebih mengedepankan Countdown dan Amazons Attack (crossover Wonder Woman). Tak disangka, kedua serial itu babak belur dihajar kritik dan tidak dipedulikan pembaca. Beruntung bagi DC seorang Geoff Johns bisa mengangkat franchise kelas dua macam Green Lantern ke status A. Melalui satu Sinestro Corps War, Green Lantern praktis menjadi karakter superhero kedua paling ngetop di DC, hanya di belakang Batman (setidaknya dari penjualan komiknya). Film mengenai Green Lantern langsung dilampu-hijaukan produksinya dan film animasi yang mengetengahkan Hal Jordan, Green Lantern: First Flight juga dirilis oleh DC.

Apa sih sebenarnya Blackest Night itu sendiri? Kenapa Tukang Review sampai menyempatkan diri mereview mini-seri dan tie-in yang bersangkutan dengannya? Jawabannya adalah karena ini sebuah even yang sangat signifikan buat DC, tidak kalah signifikan dengan Crisis on Infinite Earths dan Infinite Crisis sekalipun!

Bukan rahasia kalau yang namanya superhero itu kerjaannya mati dan hidup melulu di dunia komik. Bahkan sampai ada guyonan bahwa kalau superhero mati, itu cuma dilakukan untuk mengangkat oplah komik dan nanti toh dia juga dihidupkan lagi. Lihat saja karakter Captain America, Superman, atau Batman (yang tahun depan bakalan dikembalikan ke dunia DC). Tapi bagaimana bila yang mengatur kematian itu adalah sosok entitas yang mengancam keberadaan dunia DC? Perihal Blackest Night ini sebenarnya sudah lama diketahui oleh para Guardian of the Universe, tetapi mereka sengaja menutup-nutupi kebenaran ini dari orang lain, termasuk Green Lantern Corps.

Setelah kenyataan yang sesungguhnya terbeberkan, implikasinya mengancam eksistensi cahaya itu sendiri. Kegelapan mulai membentuk kekuatan. Sebagaimana halnya Green Lantern memperoleh kekuatan dari cincin hijau para Guardian, Black Lantern juga memiliki cincin hitam. Yang beda adalah justru cincinlah yang memakai orang bukan orang yang memakai cincin. Black Lantern mengambil cincin dari mereka-mereka yang sudah mati. Para superhero seperti Aquaman, Martian Manhunter, dan banyak lainnya dihidupkan kembali oleh cincin hitam dan diubah ke dalam Black Lantern. Di lain pihak, para superhero DC sendiri terkejut mendapatkan serangan dari orang-orang terdekat mereka yang sudah berubah menjadi zombie super. Bisakah mereka bertahan?

Dalam beberapa review terakhir, saya sempat mengkritik penulisan Geoff Johns yang saya nilai menurun. Walaupun begitu, keseluruhan karya Blackest Night membuktikan bahwa sang penulis memang masih salah satu yang terbaik di bidangnya. Dalam Sinestro Corps War, Geoff Johns tahu bahwa ia menulis sebuah kisah mengenai Green Lantern yang berperang dengan Sinestro Corps sehingga scope cerita sepenuhnya terbatas di sana. Memang ada kemunculan Anti-Monitor, Superboy, sampai Cyborg Superman yang membantu Sinestro, sementara para superhero lain juga membantu Green Lantern Corps tetapi fokus utama tetap pada Hal dan kawan-kawannya.

Blackest Night adalah satu hal yang sama sekali berbeda. Ketika DC memposisikannya sebagai multi-even terbesar tahun 2009, Geoff Johns sadar bahwa kisah ini terlalu besar hanya untuk diperangkap dalam dunia Green Lantern. Hasilnya: seluruh pahlawan DC terlibat dalam perang penentuannya di sini. Hal Jordan dan ketujuh lantern warna boleh menjadi tuas utama yang memutar gerak cerita Blackest Night, tetapi komponen lain seperti Flash, Wonder Woman, Deadman, dan banyak superhero lain memegang peranan yang tak kalah vital untuk menentukan akhir dari perang ini.

Saya tadinya takut bahwa kelemahan terbesar komik cross-over ikut-ikutan terbawa dalam Blackest Night. Rata-rata komik cross-over seperti Secret Invasion, bahkan Siege (saat artikel ini ditulis sudah masuk edisi tiga) yang sekarang tengah ditulis Brian Michael Bendis untuk Marvel tidak pernah luput dari masalah kurangnya drama di tengah aksi. Ya ada para karakter ngomong, tetapi dialog-dialog dalam komiknya seringkali sekedar untuk memajukan plotnya semata. Ini membuat premise yang semula menarik akhirnya menjadi hampa karena karakter yang terlibat di dalamnya cuma sekedar adu jotos saja. Lebih parah lagi, karena banyaknya karakter, sering kali mereka cuma asal nongol demi keren kemudian melebur ke dalam background tanpa pernah disinggung lagi. Blackest Night tidak sempurna lepas dari kelemahan ini, tetapi setidaknya Johns berusaha menginjeksikan kualitas drama dan menyorot berbagai macam karakter dalam kisah ini secara adil. Tidak gampang mengingat Johns harus dengan cermat mengatur pion ceritanya yang lebih dari 100 orang ini (sungguh!)

Geoff Johns beruntung bahwa ia tidak sendiri menangani cerita ini. Ivan Reis sebelumnya sudah menjadi partner in crime ketika menggarap serial Green Lantern, karena itu ia tahu benar apa yang dikehendaki oleh Geoff Johns. Ivan Reis juga tidak kagok dalam menggambar para lantern warna-warni dengan wibawa khas mereka sendiri. Beberapa pihak yang antipati pada Blackest Night mengejek bahwa karya ini mirip dengan Power Rangers dibalut superhero. Bila ada yang mengatakan itu pada saya, saya akan menjawabnya dengan menyodorkan two-spread page yang ada di tiap edisi Blackest Night. Saya jamin mereka akan tutup mulut. Yang pasti saya selalu membaca tiap-tiap edisi Blackest Night minimal tiga kali. Sekali untuk mengetahui ceritanya, kedua kali untuk menggali informasi lebih lanjut dari dalamnya, dan yang ketiga kali sekedar untuk memelototi kekerenan goresan artistik Reis. Saya hanya bisa berharap Geoff Johns dan Ivan Reis bisa berduet lagi di masa mendatang. Saya ngiler membayangkan hasilnya! Dan soal masa depan setelah Blackest Night sendiri… DC menjanjikan bahwa ini akan disusul oleh sebuah masa bernama Brightest Day di DC. Setelah mengalami masa-masa yang gelap seusai Final Crisis dan Blackest Night, memang sudah saatnya para superhero mengalami sedikit masa santai melalui Brightest Day. Seberapa besar ini akan mempengaruhi dunia DC memang masih harus dilihat, tapi yang jelas Geoff Johns memberi saya banyak alasan untuk membaca banyak komik DC ke depannya.

So my verdict is… saya sangat puas secara keseluruhan dengan Blackest Night. Walau saya harus akui bahwa dua edisi terakhir agak kedodoran, secara keseluruhan ini adalah cross-over event terbaik yang saya baca dalam waktu lama setelah Civil War tahun 2006 dulu.

Score: 9.5

Graphic Novel Details
Writer: Geoff Johns
Artist: Ivan Reis
Publisher: DC Comics
Volume: 01 – 08

Comments (2)

Tags: , , , , , ,

Blackest Night The Flash

Posted on 22 February 2010 by Si Tukang Review

Blackest Night The Flash #2 Cover

Blackest Night The Flash #2 Cover

Wow. Di tengah kesibukannya menulis berbagai macam graphic novel dan skenario TV, Geoff Johns masih bisa juga menyempatkan waktu untuk menulis cerita salah satu tie-in Blackest Night. Kelihatannya Flash memang menjadi salah satu franchise yang hendak dibangkitkan kembali oleh DC dan karena alasan itulah mereka memasrahi penulis terbaik mereka untuk menulis kisah si Scarlet Speedster, bahkan untuk komik tie-in sekalipun.

Sebenarnya sih dari semua tie-in Blackest Night, Flash seharusnya menjadi yang paling menarik perhatian. Kenapa? Kalian yang membaca Blackest Night pasti tahu bahwa saga DC kali ini memberi fokus utama kepada Hal Jordan dan Barry Allen. Karena Hal adalah polisi luar angkasa yang tidak hanya bertanggung jawab pada sektor bumi, otomatis waktunya dalam Blackest Night pun terbagi antara dunianya dan dunia para Lantern yang lain. Nah, yang mengisi kekosongan Hal selama ia pergi bukan Superman atau Wonder Woman. Tidak lain tidak bukan sobatnya ini.

Hampir sama dengan tie-in Blackest Night Wonder Woman, Blackest Night The Flash ini juga berjalan seiringan dengan komik utamanya sendiri, yang berarti turut mengisahkan petualangan Flash setelah ia didapuk menjadi seorang Blue Lantern. Jangan khawatir. Akan tetapi berbeda dengan tie-in Wonder Woman yang mengaitkannya dengan Mera (sosok di luar mitologinya), Geoff Johns secara cerdik mengkarantina tie-in ini pada keluarga Flash saja. Tentu menolong mengingat keluarga Flash kini tengah berkembang dengan pesat usai Flash: Rebirth (serial yang memperingati kembalinya Barry Allen ini akan diluncurkan edisi terakhirnya minggu depan – dan saya sudah tidak sabar untuk mereviewnya). Walau jauh dari sempurna, Geoff memberikan kepada kita preview mengenai dinamika keluarga Flash ini nantinya berinteraksi satu sama lain, dan bila chemistry antar para tokohnya bisa dipertahankan sekuat tie-in ini, DC bakalan membangkitkan franchise lain mereka setelah Green Lantern.

Flash sendiri bukan menjadi satu-satunya sorotan di sini. Gerombolan musuh utama Flash: The Rogues juga disorot di sini. Ada ungkapan bahwa superhero terhebat harus diimbangi dengan supervillain yang tak kalah ganasnya. Spider-man punya Green Goblin. Batman punya Joker. Superman punya Lex Luthor. Salah satu alasan kenapa Wonder Woman tidak pernah bisa ‘sebesar’ kedua koleganya adalah karena ia tidak memiliki supervillain yang bisa menjadi rivalnya. Geoff Johns kelihatannya tahu benar akan hal ini dan memposisikan Sinestro sebagai lawan utama Hal Jordan dalam Green Lantern. Melihat bagaimana para Rogues mengambil peran dominan dalam tie-in ini (bisa dibilang setengah porsi cerita), Geoff membangun galeri musuh yang tangguh buat dihadapi para Flash. Dari para Rogues ini yang langsung menarik minatku adalah Captain Cold. Oho; namanya boleh mengundang tawa, tetapi karakteristik dan pandangannya yang 180 derajat berbeda dengan Barry langsung mengundang perhatianku.

Meski demikian, saya harus jujur berkata kalau ini bukan karya terbaik Geoff Johns. Beberapa kali dialog dalam komik ini terasa terlalu dangkal dan kurang mengandung pesan emosional. Saya juga merasa pemakaian kata “All will be well” sebagai semboyan Blue Lantern terlalu banyak dipaksakan masuk di buku kedua dan ketiganya di mana Barry tergabung dalam korps perlambang harapan itu. Kesan keren yang saya dapat ketika melihatnya di akhir volume keenam Blackest Night jadi pudar karena terlalu repetitif. Ditambah lagi beberapa musuh dan plot dalam komik tie-in ini malah memberi spoiler pada ending Flash: Rebirth yang belum terbit. Ah, setidaknya karena Geoff Johns yang menulis ini maka bahkan hasilnya di bawah standar kerjanya saja sudah mendapat penilaian di atas rata-rata di mataku.

Artwork Scott Kolins banyak dipuji situs-situs komik luar negeri, tapi saya sendiri cenderung menilainya biasa saja. Mungkin artwork Kolins tidak sesuai seleraku karena saya lebih condong pada gaya penggambaran Ethan Van Sciver.

So my verdict is… ini lagi-lagi sebuah karya tie-in Blackest Night yang tanggung. Sayang sekali bahkan Geoff Johns pun tidak bisa memaksimalkan karya ini ataupun memberinya suatu masukan baru untuk memperkaya kisah utamanya. Dari semua serial tie-in Blackest Night yang kubaca, yang berhasil melakukannya hanyalah Titans. Setidaknya, mini-seri ini bisa menjadi preview bagi kalian-kalian yang tidak sabar menantikan serial baru Flash (tentunya ditangani oleh… siapa lagi? Geoff Johns) seusai Blackest Night nanti.

Score: 7.5

Graphic Novel Details
Writer: Geoff Johns
Artist: Scott Kolins
Publisher: DC Comics
Volume: 01 – 03

Comments (9)

Tags: , , , , , , ,

Blackest Night Wonder Woman

Posted on 22 February 2010 by Si Tukang Review

Blackest Night Wonder Woman #2 Cover

Blackest Night Wonder Woman #2 Cover

Tie-in untuk Blackest Night bagian pertama sudah selesai. Tie-in tersebut mencakup karakter dalam keluarga Superman, Batman, dan Titans. Premise dari ketiganya tergolong sama. Para superhero harus berkonfrontasi dengan orang kesayangan (keluarga maupun sahabat) atau musuh mereka yang sudah lama mati tetapi dibangkitkan oleh cincin hitam. Semua tie-in tersebut juga memiliki pengakhiran yang serupa; bahwa para superhero kini tahu bahwa para Black Lantern itu hanya jasad yang dibangkitkan tanpa jiwa dan harus dihentikan dengan segenap cara. Bersamaan dengan majunya cerita utama Blackest Night, tie-in bagian keduanya pun diluncurkan dan berfokus pada karakter Flash dan Wonder Woman. Mengingat cerita utamanya sendiri sudah sampai pada perang frontal antara para superhero melawan para Black Lantern, banyak pembaca berharap kalau resep lama dalam tiga tie-in di atas tidak lagi diulang.

Mini-seri ini terbagi dalam tiga volume yang boleh dibilang berdiri sendiri sebagai suplemen cerita Blackest Night utama. Volume pertamanya tentang konfrontasi Wonder Woman menghadapi Black Lantern Maxwell Lord, volume keduanya adalah pergumulan diri Wonder Woman saat ia berubah menjadi Black Lantern, dan yang terakhir adalah bagaimana sang putri Amazon ini beradaptasi dengan cincin violet saat ia didaulat menjadi seorang Star Sapphire.

Berdiri sendiri-sendiri, ketiganya sebenarnya merupakan bacaan yang menarik dengan catatan kamu tahu sedikit banyak mengenai sejarah superheroine paling terkenal di muka bumi ini. Greg Rucka yang merupakan penulis serial Wonder Woman sebelum Infinite Crisis dan reboot ulangnya kembali untuk menulis serial ini, dan itu adalah sesuatu yang saya terima dengan senang hati. Tanpa merendahkan Gail Simone yang telah melakukan tugas luar biasa, siapapun yang membaca penulisan Greg Rucka akan Wonder Woman pasti setuju bahwa ia adalah salah seorang penulis yang paling mengerti sang superheroine. Konfrontasi Diana dengan Maxwell Lord dalam komik ini menjadi sesuatu yang sangat saya nantikan, karena kepiawaian Rucka menulis bagaimana Diana membunuh Maxwell di depan seluruh dunia merupakan awal benih perpecahan yang nantinya menjadi Infinite Crisis. Saya juga suka dengan bagaimana Greg Rucka menggambarkan pertentangan Diana melawan cincin hitam dalam dirinya (bisa dibilang ini adalah pertama kalinya pembaca diberi kesempatan melihat apa yang terjadi pada para pahlawan yang dikuasai oleh Nekron) dan perdebatan dua cincin warna antara Mera (Rage / Amarah) dan Diana (Love / Cinta) di volume ketiga.

Toh, kalau mau dinilai secara jujur, Blackest Night Wonder Woman adalah sebuah bacaan yang sulit dibaca bila berdiri sendiri. Volume pertamanya seakan berdiri terpisah dari volume kedua dan ketiganya. Kemudian saya sendiri tidak terlalu tahu mengenai hubungan Mera dan Diana, sehingga perdebatan keduanya pada buku kedua dan ketiga tidak terasa nendang, katakanlah sebagaimana halnya duel ulang Diana menghadapi Maxwell di pembuka mini-seri ini. Seperti yang saya katakan di awal review tadi, kamu bakalan menemukan tie-in ini tidak menggigit kalau kamu tidak mengerti benar sejarah, posisi dan relasi Wonder Woman dengan karakter-karakter lain di dunia DC.

Untuk artworknya sendiri, Nicola Scott (Secret Six) berhasil mencuri perhatian saya. Mungkin ia tidak sejago Doug Mahnke atau Ivan Reis dalam menggambar sosok Black Lantern yang menakutkan, tetapi artworknya tergolong solid sepanjang tiga volume. Tidak buruk, walau saya tidak akan berlebihan melabelinya spektakuler.

So my verdict is… saya pribadi masih condong pada tie-in kumpulan pertama Blackest Night. Walaupun ketiganya memiliki jalan cerita yang bisa diprediksi, setidaknya saya bisa membacanya secara independen tanpa tergantung pada serial utama Blackest Night sendiri. Baca mini-seri ini hanya bila kamu pengikut fanatik saga Blackest Night atau karakter Wonder Woman.

Score: 6.5

Graphic Novel Details
Writer: Greg Rucka
Artist: Nicola Scott
Publisher: DC Comics
Volume: 01 – 03

Comments (0)

Tags: , , , , , ,

Green Lantern – Secret Origin

Posted on 06 December 2009 by Si Tukang Review

Green Lantern: Secret Origin Cover

Green Lantern: Secret Origin Cover

Green Lantern selalu berasa seperti franchise sekunder di bawah trio Superman, Batman, dan Wonder Woman di DC. Memang selalu ada salah satu Green Lantern berperan dalam even-even penting DC atau tergabung dalam grup Justice League of America, tetapi tidak pernah ia mendapat posisi sorotan sebagai karakter utama. Semenjak DC memutuskan membunuh Hal Jordan di tahun 1994 dan menggantikannya dengan Kyle Rayner, franchise Green Lantern kian terdegradasi. Tidak saja Kyle tidak bisa menjadi Green Lantern setangguh Hal, ia juga tidak memiliki wibawa sehingga lebih terasa layaknya superhero junior yang tergabung dengan para Teen Titans.

Untungnya saja semua itu berubah setelah DC menyadari kekeliruan mereka dan membangkitkan kembali Hal Jordan. Green Lantern: Rebirth oleh Geoff Johns di tahun 2005 mengembalikan sang jagoan sebagai salah seorang superhero kelas atas DC, dan sekuelnya Sinestro Corps War tahun 2007 mencapai kesuksesan luar biasa sehingga mendadak melontarkan status Green Lantern menjadi komoditi superhero kelas atas DC. Dengan matinya Bruce Wayne aka Batman di Final Crisis dan mengendornya cerita Superman dan Wonder Woman, bukan hal berlebihan bila saya mengatakan Green Lantern adalah komoditi terpanas milik DC saat ini. Karena itu tidak heran juga bahwa untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun DC membuat sebuah cerita crossover besar-besaran yang tidak bertumpu pada Superman atau Batman, melainkan pada seluruh cerita Green Lantern Corps lewat Blackest Night.

Bagi pembaca komik Amerika, nama Green Lantern tidak lagi rumit, tetapi bagaimana dengan orang yang baru mulai membaca? Bagaimana sebenarnya cerita awal dari Hal Jordan menjadi Green Lantern? Lewat kilas balik, Geoff Johns (didukung dengan ilustrator Ivan Reis) sekali lagi mengisahkan bagaimana Hal Jordan mendapatkan cincin hijaunya dan menjadi penjaga galaksi Bima Sakti dalam tujuh volume 29 – 35. Tantangan Geoff Johns dalam mengarang kisah awal Hal Jordan ini sebenarnya sangat menantang. Ia harus menulis sesuatu yang sederhana supaya orang yang baru pertama kali membaca Green Lantern bisa mengerti, tetapi ia juga harus memberi twist baru dalam penceritaan supaya mereka yang sudah pengikut lama komik tidak merasa seperti mereka membaca kisah lama kembali.

Hal Jordan selalu bermimpi untuk bisa terbang dan mimpi itu tidak pernah kandas, sekalipun ia melihat pesawat yang dipiloti ayahnya jatuh hancur lebur tepat di hadapannya. Selama bertahun-tahun lamanya, Hal menjadi terasing dari ibu dan saudara-saudaranya karena merasa bahwa mereka tak bisa mengerti keinginannya untuk terbang. Tidak hanya itu, Hal juga menjadi pilot bengal. Ia gemar membangkang perintah dari pengawas darat ketika menguji-coba pesawat dan lama-lama – walaupun ia mahir – tak seorangpun lagi hendak memakai jasanya.

Di tengah kefrustasian Hal, sesuatu yang besar tengah terjadi di luar galaksi sana. Seorang Green Lantern bernama Abin Sur menangkap Atrocitus, seorang alien kriminal. Karena kelengahan Abin, Atrocitus lepas dari penjagaannya dan melukainya secara parah. Di tengah kematian Abin, proses seleksi cincin langsung mencari sosok pengganti dan menemukan Hal Jordan. Dari sana Hal Jordan dibawa untuk mengenal dan masuk ke dalam kesatuan korps Green Lantern, polisi galaksi yang bekerja di bawah kendali para Guardian – pencipta alam semesta.

Tidak mudah bagi Hal Jordan untuk beradaptasi di bawah kesatuan Green Lantern, dan keadaan ini diperparah ketika Abin Sur meminta Sinestro – mantan murid sekaligus Green Lantern tertangguh – untuk mendidik Hal Jordan. Bagaimanakah kisah Hal Jordan selanjutnya?

Sekali lagi saya mau berkata: untung ini Geoff Johns. Kalau ada orang yang bisa menulis kisah awal superhero secara meyakinkan, tidak lain tidak bukan dialah orangnya. Perlu diingat bahwa saat Geoff Johns menulis kisah ini, ia baru saja rampung menulis Sinestro Corps War dan tengah mempromosikan Blackest Night. Oleh karena itu tidak heran jika banyak referensi menuju kedua even tersebut. Apakah itu berarti komik ini hanya bisa dinikmati oleh pembaca setia Green Lantern saja? Sama sekali tidak. Seperti tajuk Secret Origin yang disematkan padanya, Geoff menulis kisah ini sepenuhnya mengenai Hal. Bahkan hampir dua edisi awal dalam kisah ini didedikasikan untuk kita mengenali siapa karakter Hal dan orang-orang yang berinteraksi dengannya. Setelah kita mengenali siapa Hal, Geoff kemudian membawa kita pada tahap berikutnya untuk mengenal apa itu Green Lantern, Guardian, Sinestro, maupun sejarah kemunculan korps ini, dan ditutup dengan klimaks akhir (SPOILER) duel antara duet Hal Sinestro menghadapi Atrocitus yang masih jadi buronan. Singkat kata, kalau kisah ini diadaptasi sebagai skenario film Green Lantern yang akan datang – saya akan sangat sangat bahagia.

Sejenius-jeniusnya Geoff dalam menulis kisah ini, ia bukan satu-satunya yang membuat kisah ini begitu menyenangkan untuk dibaca. Separuh kedua kredit itu saya berikan kepada Ivan Reis yang bertanggung jawab atas ilustrasinya. Setiap panel dalam komik ini terasa hidup dan penuh isi karena Reis mampu menghidupkan setiap skenario yang diminta oleh Geoff, padahal ini bukan hal yang mudah. Dari kehidupan Hal di bumi sampai planet Oa markas besar para Green Lantern memiliki variasi jenis alien, tapi toh Reis tidak pernah kewalahan menggambarnya. Kekuatan para Green Lantern yang dimanifestasikan lewat imajinasi mereka pun memiliki banyak bentuk, dan lagi-lagi Reis menggambar semuanya dengan sempurna.

Duet Geoff dan Ivan inilah yang membuat Green Lantern: Secret Origin karya yang begitu menyenangkan dan sempurna untuk dibaca. Apabila kalian adalah seorang yang masih awam terhadap Green Lantern dan hendak tahu lebih banyak mengenainya, komik ini harus kalian baca. Kalau kalian sudah tahu mengenai Green Lantern dan mengenai kisah Blackest Night di dalamnya, well, komik ini tetap harus kalian baca!

Score: 10

Graphic Novel Details
Writer: Geoff Johns
Penciller: Ivan Reis
Publisher: DC Comics
Volume: 29 – 35

Comments (0)

Tags: , , , , , ,

Blackest Night Batman

Posted on 17 October 2009 by Si Tukang Review

Blackest Night Batman Poster

Blackest Night Batman Poster

Dari awal diberitakannya Blackest Night pada akhir Sinestro Corps War di tahun 2007, ini menjadi even DC yang paling saya nanti-nantikan. Dalam waktu sekejab saja karakter Hal Jordan sang Green Lantern menjadi idola superhero favorit saya di DC, menggantikan posisi Superman maupun Batman. Hingga kini Blackest Night sudah dimulai dan konsepnya mulai terbentuk dengan jelas. Cincin-cincin hitam itu bisa membangkitkan para mayat apapun dan memakai memori lama mayat tersebut. Sampai sekarang belum ketahuan apa tujuan utama para Black Lantern karena mereka selama ini menyerang dan memakan jantung manusia maupun Lantern yang lain.

Mengingat kekacauan terjadi secara sporadis di seluruh dunia, DC selaku penerbit kisah ini tidak semata-mata membiarkan Blackest Night menjadi even tertutup seperti Sinestro Corps War dulu. Blackest Night kali ini digadang-gadang sebagai even terbesar DC langsung mendapat crossover besar-besaran. Jalan cerita utama Blackest Night memang berada pada serial utamanya dan komik Green Lantern yang berfokus pada Hal Jordan dan Barry Allen (Green Lantern dan The Flash). Tetapi di lain tempat terjadi kekacauan di mana-mana. Tiga tie-in pertama yang diluncurkan oleh DC mengulas apa yang terjadi bila Superman, Batman, dan para Titans berhadapan dengan mayat hidup tersebut.

Yang paling pertama selesai adalah Batman, yang sekaligus juga merupakan tie-in paling menarik di mataku. Seperti yang kebanyakan pembaca komik tahu, setelah even dalam Final Crisis dan Batman RIP, mantel Batman tidak lagi dikenakan oleh Bruce Wayne. Kini sosok Batman sudah beralih generasi pada Dick Grayson, yang dikenal juga sebagai Robin pertama atau Nightwing. Robin ketiga Tim Drake kini beralih menjadi Red Robin sementara posisi Robin sebagai sidekick Dick Grayson diisi oleh Damien Wayne, tidak lain tidak bukan anak dari Bruce dengan Talia Al-Gul. Yang menarik untuk dicermati di sini adalah sosok Dick. Menghadapi para Black Lantern adalah ‘tugas besar’ pertamanya. Jadi bisakah ia menghadapi para mayat hidup yang membuat Green Lantern dan The Flash sekalipun kewalahan?

Jawabannya adalah: bisa. Peter J. Tomasi sebagai penulis cerita tie-in ini memang cerdik dalam membangun momentum cerita. Black Lantern yang dihadapi oleh Dick dan Tim bukan sekedar Black Lantern biasa tetapi para Black Lantern yang memiliki kaitan dengan mereka. Dick dan Tim, sebagaimana halnya Bruce, pernah kehilangan orang tua mereka dalam fase kehidupan mereka. Kali ini cincin hitam itu membawa kembali orang tua mereka. Keduanya pun dilempar pada pertanyaan: “apakah ini kesempatan kedua mereka untuk bertemu dengan orang tua mereka kembali?”. Dan melalui dialog-dialog yang ada, Peter J. Tomasi mampu menyentuh hubungan-hubungan emosional itu, sekaligus membuka sedikit tabir misteri mengenai para Black Lantern. Tidak heran sih, selain Geoff Johns, Peter J. Tomasi adalah sosok kedua yang paling punya andil dalam penciptaan crossover ini.

Satu hal lagi yang saya suka dari penanganan Tomasi adalah bagaimana ia tidak memaksakan pertarungan frontal antara Batman dan rekan-rekannya dengan para Black Lantern. Konyol bila melihat Batman atau Robin beradu jotos menghadapi para Black Lantern yang jelas-jelas lebih kuat dari mereka. Tanpa memberi spoiler apapun, saya sangat puas dengan bagaimana akhir pertarungan serta klimaks dalam cerita ini. Tentu saja ini bukannya tanpa keluhan. Mengingat ini hanya sebuah tie-in, akhir dari mini-seri tiga jilid ini terasa sangat tanggung. Saya tahu bahwa kemungkinan besar cerita Batman dilanjutkan pada serial utamanya tapi konklusi setelah klimaksnya yang terlalu tiba-tiba meninggalkan saya dengan perasaan kurang puas.

Terakhir yang membuat saya sangat bangga adalah ilustrator komik tiga seri ini adalah Ardian Syaf, seorang komikus Indonesia yang kini bekerja di bawah naungan DC. Diijinkannya Syaf menggambar tie-in untuk Blackest Night merupakan bukti besarnya kepercayaan DC kepada dirinya, dan Syaf membayar penuh kepercayaan ini dengan karyanya yang menakjubkan. Tidak tanggung-tanggung media sebesar situs IGN saja memuji karyanya sebagai aspek terbaik dalam tie-in ini. Melihat jalan cerita padat kualitas yang ditawarkan Tomasi kepada pembaca, itu berarti IGN sungguh kagum pada karya Syaf. Maju terus Syaf. Maju terus komik Indonesia!

Score: 8.6

Graphic Novel Details
Writer: Peter J. Tomasi
Penciller: Ardian Syaf
Publisher: DC Comics
Volume: 1 – 3

Comments (0)

Tags: , , , , , ,

The Top 15 Games That Makes You Wish 2009 Comes Faster – Retrospeksi

Posted on 28 July 2009 by Si Tukang Review

Di akhir tahun 2008, saya menulis sebuah artikel tentang ‘The Top 15 Games That Makes You Wish 2009 Comes Faster’. Sekarang sudah lebih dari setengah tahun berlalu, dan saya ingin melihat ulang list tersebut. Apakah hal-hal yang saya tulis benar-benar membuat saya mengenang tahun 2009 dengan bahagia? Let’s check it out!

15. War in the Future (Terminator: Salvation)
Walaupun hypenya tergolong dahsyat, film keempat dalam franchise Terminator ini bisa dibilang flop di pasaran. Pendapatannya hanya 120 Juta USD, secara signifikan lebih rendah ketimbang dua prekuel sebelumnya. Secara kualitas, saya sendiri menilai kalau Salvation sedikit lebih baik daripada T3, tetapi masih jauh di bawah kedua film pertama franchise ini. Seakan menabur garam di atas luka, film serial The Sarah Connor Chronicles juga dihentikan di season keduanya karena rating yang terus anjlok. Apakah sudah saatnya franchise Terminator diterminate?
Verdict: Below Expectation

14. The Appearance of Legion (Smallville)
Sukses besar! Geoff Johns membuktikan kalau dirinya bukan hanya penulis komik yang piawai, tetapi juga seorang penulis skenario film yang handal! Legion bukan sekedar episode terbaik dalam Smallville season ini, tetapi juga membantu kebanyakan orang yang semula asing mengenal kumpulan superhero masa depan DC ini. Kalau kalian beranggapan menonton sejam Legion di Smallville tidak cukup, langsung saja cari tie-in Final Crisis: Legion of Three Worlds, juga dikarang oleh Geoff Johns.
Verdict: Above Expectation

13. Konoha VS Pain (Naruto)
Pertempuran antara Naruto dan Pain benar-benar dahsyat dan memukau. Jurus-jurus jutsu yang diperagakan dua pihak benar-benar luar biasa. Sudah lama saya tidak membaca pertarungan sedahsyat ini di Naruto. Dan itu semua ditutup dengan konklusi yang… jujur saja… sedikit mengecewakan. Bagaimana Naruto memutuskan untuk “tidak membenci dan mendendam” langsung mengubah keyakinan Pain terasa terlalu cepat dan gampang. Bukankah ini sosok yang bisa membunuh mantan gurunya tanpa merasa bersalah? Still, it’s a solid Naruto story arc.
Verdict: As Expected

12. Blizzard Big Year (Diablo III and Starcraft II)
Diablo III dan Starcraft II belum dirilis – dan mungkin tidak jadi dirilis tahun ini. Boo! Boo! Boo!
Verdict: No verdict

11. The Day Evil Finally Won Has Arrived (Final Crisis)
Dari semula saya selalu merasa bahwa karya Grant Morrison itu hit dan miss di mataku. Terkadang saya bisa sangat enjoy dengan gaya penuturannya, terkadang saya sama sekali tidak mengerti kalau dia sudah menggunakan dialog super aneh dari karakter-karakter DC yang sudah lama terlupakan. Ini membuat Final Crisis menjadi karya yang sulit kunilai. Sebagian diriku mencintainya karena format penceritaannya yang berbeda dengan event komik biasa, sebagian lagi membencinya juga karena format penceritaannya yang terlalu njelimet untuk kumengerti.
Verdict: Slightly Below Expectation

10. The Grandest Battle (One Piece)
Ini adalah sebuah pembuktian kenapa One Piece adalah satu-satunya raja Shounen Manga di Jepang sana. Oda-sensei merupakan satu-satunya mangaka yang mampu mengombinasikan unsur misteri, komedi, aksi, hingga drama dalam satu saga panjang yang luar biasa ini. Siapa yang menebak kalau Ace adalah anak dari Gold D. Roger misalnya? Siapa yang tidak terharu melihat Bon Clay sekali lagi mengorbankan dirinya demi keselamatan Luffy dan kawan-kawan? Siapa yang menyangka One Piece tetap bisa menjaga momentumnya walau tanpa karakter-karakter Bajak Laut Topi Jerami yang sudah kita kenal selama ini?
Verdict: Above Expectation

09. Akhirnya tahu dari mana Wolverine dapat kuku panjangnya itu (Wolverine)
Tak disangka, saya sebenarnya lebih menikmati Wolverine ketimbang film trilogi X-Men sebelumnya. Mungkin karena fokus yang hanya pada karakter Wolverine membuat saya lebih bisa bersimpati dan berempati kepadanya. Film ini tidak sempurna, mengingat mutant selain Wolverine hanya jadi sampingan (but then again; that’s why it’s called Wolverine right?), juga cerita antara Sabretooth dan Wolverine diubah (tapi malah menjadikan hubungan mereka lebih erat). Overall, it’s a solid summer blockbuster!
Verdict: As Expected

08. When Cobra Comes… Who’d You Call? (GI Joe)
Sayangnya, film ini belum dirilis ketika saya menulis artikel ini. Jangan khawatir, saya akan menulis review lengkapnya begitu film ini turun.
Verdict: No verdict

07. HADOUKEN! (Street Fighter IV)
Segala yang lama menjadi baru lagi dalam game ini. Begitu game ini keluar, semua orang seakan teringat akan demam Street Fighter lagi. Game keempat ini mengingatkan kita semua kenapa kita pernah menghabiskan masa kecil kita selama berjam-jam di arcade untuk berlatih mengeluarkan semua jurus jagoan kita… termasuk mengeluarkan Shoryuken di saat yang tepat untuk mengcounter Psycho Drive terkutuknya M. Bison itu. Mark my words: Street Fighter IV akan menjadi modern classic dari tahun 2009 ini!
Verdict: Above Expectation

06. A Neverending Journey (Final Fantasy XIII)
Dengan begitu banyaknya berita heboh mengenai Final Fantasy XIII dan segala versinya, sayangnya belum satupun dirilis – bahkan dengar-dengar game ini diundur lagi perilisannya.
Verdict: No verdict

05. What is Gantz? (Gantz)
Gantz menjadi salah satu manga yang mengecewakan tahun ini. Setelah kembalinya Kurono Kei, entah kenapa jalan ceritanya menjadi semakin amburadul. Saya tahu kalau Gantz selama ini selalu berada di ambang fantasi dan sci-fi, tetapi akhir-akhir ini jalan ceritanya makin ge-je dan membingungkan. Janji untuk mengungkap apakah Gantz juga terasa sangat bias dan kabur. Apabila tidak ada perbaikan signifikan di chapter-chapter berikutnya, nampaknya saya terpaksa meninggalkan Gantz.
Verdict: Below Expectation

04. Blasting Zombie’s Head (Resident Evil 5)
Begitu tingginya ekspektasi akan game ini karena Resident Evil 4 adalah satu-satunya kejatuhan game ini. Dengan tambahan bermain sebagai dua pemain, permainan yang sedikit lebih panjang, serta grafis next-gen yang membuat mata membelalak, Resident Evil 5 tidak melakukan perubahan apapun dari gameplay Resident Evil 4 yang dinilai banyak orang revolusioner. Ini adalah sebuah game ‘besar’ dan ‘oke’ tetapi ke depannya ia akan menjadi salah satu titel biasa yang terlupakan di tengah serbuan banyak game Resident Evil di masa depan (percayalah, bakalan banyak game Resident Evil yang dirilis lagi)
Verdict: Slightly Below Expectation

03. Lost Season 5 (Lost)
Hampir serupa dengan Resident Evil 5, season 5 Lost ini menderita karena dibandingkan dengan season sebelumnya yang hampir sempurna. Buat yang lupa, season keempat Lostlah yang membawa serial ini kembali dibicarakan orang setelah pada season ketiga menjadi sasaran kritik karena pacingnya yang terlalu lambat. Kelemahan season 5 terletak pada plot time travel yang melempar beberapa Islanders pada jaman lalu. Saya tahu Lost memang penuh dengan misteri dan sci-fi, tetapi memakai time travel secara berlebihan membuat saya jadi memikirkan mengenai konsep paradoks (padahal tanpa itu saja sudah banyak sekali kontroversi menyangkut Lost!)
Verdict: Slightly Below Expectation

02. Beware… For the Dead Shall Rise Again (Blackest Night)
Mari kita lihat siapa saja yang sudah dipersiapkan oleh Geoff Johns untuk menjadi Black Lantern. Ada Superman Earth Two. Ada Aquaman. Ada Elongated Man dan Sue Dibny. Ada Martian Manhunter. Kemudian di volume pertamanya Hawkman dan Hawkgirl sudah menjadi korban. Kemudian di Green Lantern #44, Hal Jordan dan Barry Allen sudah harus berduel dengan Jonn. Apa saya perlu mengatakan lebih banyak lagi? Saya rasa tidak. Blackest Night is – without a doubt – the best comic event of this year.
Verdict: Above Expectation

01. Transformers 2 and Watchmen
Oh Tuhan. Adalah dosa laknat menyatukan keduanya dalam satu kalimat. Saya bahkan tidak percaya saya telah melakukannya.

Watchmen adalah salah satu film superhero yang berani mendobrak tradisi. Bersama dengan Iron Man, Superman (yang pertama), dan Batman karya Christopher Nolan, ia akan selalu tergabung dalam film superhero favoritku sepanjang masa. Tidak banyak orang yang bisa mengerti ceritanya sehingga berakhir dengan menjelek-jelekkan Watchmen. Shame on those people. Untuk mereka yang membaca komiknya dan mengetahui karya Alan Moore, Watchmen might be the best superhero movie of all time just behind The Dark Knight. Definitely… ABOVE EXPECTATION

Transformers 2: Revenge of the Fallen. Gw tertipu oleh trailernya. Trailernya super keren. Dan prekuelnya juga lumayan dahsyat. Tapi film keduanya ini… adalah kumpulan dari: adegan ledak-ledakan, adegan drama yang tidak kalah picisan dengan sinetron Indonesia, adegan ledak-ledakan lagi, adegan drama yang menyedihkan, adegan ledak-ledakan (lagi), adegan komedi yang gak lucu sama sekali, dan tebak ditutup dengan apa? Yap. Adegan LEDAK-LEDAKAN LAGI.

Selain menaruh Transformers 2 sebagai hal yang paling kuantisipasi di tahun 2009, blunder terbesarku adalah tidak menaruh Star Trek dalam deretan list 15 besar di atas. Keterlaluan! Sungguh keterlaluan! Apabila keadaan di balik sekarang, saya akan menghapus Transformers 2 dari list di atas dan menggantinya dengan Star Trek. Remake dari Star Trek adalah comeback gemilang dari JJ Abrams dan juga film Star Trek yang telah lama didamba-dambakan para fans. Jangan sampai tidak menontonnya – atau kamu akan kelewatan apa yang mungkin saja menjadi film terbaik tahun ini.

Comments (10)

Tags: , , , ,

Green Lantern: First Flight

Posted on 22 July 2009 by Si Tukang Review

Green Lantern: First Flight Poster

Green Lantern: First Flight Poster

Salah satu superhero favoritku yang sampai ini rasanya selalu dianaktirikan adalah Green Lantern. DC selalu sibuk membuat film Superman dan Batman dan melengkapi trinitas suci mereka dengan Wonder Woman di komik. Walaupun ketiga karakter tersebut memang karakter paling populernya DC, saya harus jujur mengatakan kalau kekompleksan cerita ketiganya sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan cerita Green Lantern. Satu hal yang perlu diketahui adalah nama Green Lantern bukan eksklusif milik Hal Jordan (sang Green Lantern paling populer) sebagaimana halnya Superman hanya menjadi milik Clark Kent maupun Batman sebagai identitas Bruce Wayne. Green Lantern adalah nama kesatuan polisi luar angkasa yang berpatroli di sub-galaksi mereka masing-masing.

Hal Jordan adalah seorang pilot pesawat terbang yang tengah menjalankan simulasi ketika ia menemukan dirinya mendadak dipilih menjadi Green Lantern baru. Pemilik cincin yang memungkinkannya menjadi Green Lantern; Abin Sur; tewas dalam tugasnya. Hal diwarisi cincinnya. Tidak lama kemudian, para Guardian (pemimpin dari kesatuan Green Lantern) memanggil Hal Jordan ke markas korps Green Lantern. Karena rasnya sebagai manusia, Hal Jordan banyak dicurigai dan dibenci oleh Green Lantern lainnya. Hanya satu orang Green Lantern yang percaya kepadanya dan melatih Hal Jordan; Green Lantern yang terkuat dan tercerdas: Sinestro.

Tetapi di bawah pelatihan Sinestro, Jordan menyadari satu hal yang berbeda dari Sinestro. Para Guardian dan Green Lantern lain percaya akan asas keadilan dalam menghukum penjahat. Sinestro tidak. Ia merasa bahwa rasa takut perlu ditanamkan supaya para penjahat tidak berani lagi berbuat kejahatan. Walau tujuannya baik, cara Sinestro dan Jordan yang berbeda ini membuat mereka yang semula adalah pasangan sekaligus guru – murid menjadi musuh bebuyutan. Rencana apa yang disiapkan oleh Sinestro? Bisakah Jordan menjadi Green Lantern sejati?

Mengingat cerita Green Lantern yang memang cukup rumit, saya rasa ada baiknya kamu memiliki pengetahuan mendasar mengenai Green Lantern sebelum menonton film ini. Menonton serial TV Justice League sangat membantu (karena ada Green Lantern John Stewart) juga film Justice League: The New Frontier (yang menjelaskan mengenai bagaimana Hal Jordan menjadi Green Lantern dalam lebih detail). Bicara soal proses perubahan Jordan jadi Green Lantern, film ini tidak banyak membahasnya lagi. Setelah lima menit awal yang singkat dan menjelaskan bagaimana Jordan bertemu Abin Sur, hal ini tidak pernah diungkit lagi. Bisa dimengerti – mengingat First Flight lebih berkonsentrasi dalam menggali dunia korps Green Lantern bukan dunianya Hal Jordan. Pada momen-momen terbaiknya, First Flight memiliki bumbu superhero yang bersetting di dunia kartun Star Wars! Buat mereka yang mengikuti komiknya juga akan mendapatkan bonus-bonus tertentu (motif Sinestro yang menanamkan ketakutan adalah awal mula cerita komik Sinestro Corps War) walaupun film ini tetap bisa diikuti oleh semua orang.

Animasi dalam First Flight tetap solid. Kalau kamu sudah menonton film-film Direct to DVD DC selama ini (ciri khas: rahang karakter kotak-kotak) maka kamu pasti langsung biasa menontonnya. Kualitas pertempuran dan ceritanya benar-benar level satu. Satu hal yang membuat saya sedikit kecewa adalah pengisi suaranya. Terlihat sekali kalau DC lagi-lagi menganak-tirikan proyek ini dibandingkan dengan Justice League: The New Frontier bahkan Wonder Woman yang dirilis sebelumnya. Deretan pengisi suaranya kalah telak! Ke mana David Boreanaz yang mengisi suara Hal Jordan di The New Frontier? Walau di film ini ada Michael Madsen dan Tricia Helfer, bandingkan kelas mereka dengan Keri Russell, Alfed Molina, Rosario Dawson, sampai Virginia Madsen yang mengisi suara di Wonder Woman! Yah setidaknya kualitas dialog mereka tetap terjaga sehingga saya tidak akan mengomel lebih jauh. But please DC, Green Lantern deserves so more than just a Direct to DVD Animated Movie.

Sedikit pesan terakhir, walaupun ini film kartun dan dipasarkan untuk anak-anak, ada beberapa adegan ‘berdarah’ yang cukup sadis (walau tidak seheboh pemenggalan kepala di Wonder Woman) sehingga bila kamu mengajak anak atau adikmu menonton, temanilah mereka.

Score: 8.7

Movie Details
Director: Lauren Montgomery
Cast: Christopher Meloni, Victor Garber, Tricia Helfer, Michael Madsen
Running Time: 75 Minutes

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here