Setelah akhir dari Secret Invasion tahun 2008 lalu dimulailah era di mana saya malas mengikuti komik Marvel. Loh? Bagaimana tidak? Karena Norman Osborn menghabisi sang pemimpin invasi Skrull, dia langsung didaulat sebagai pemimpin dari S.H.I.E.L.D. Bahkan sebagai pembaca komik saja saya sulit menerima logika itu. Lupakah dunia bahwa Norman pernah menjadi orang sinting di balik persona Green Goblin? Dan hanya karena ia berhasil menghentikan satu – saya ulangi: satu – invasi saja dia langsung didaulat menempati posisi yang dulunya dipegang oleh Nick Fury dan Tony Starks? I’m sorry but I just don’t buy it.
Itu jugalah alasan kenapa saya absen tanpa pernah mengikuti serial Dark Reign-nya Marvel. Saya tidak merasa tertarik mengikuti sebuah kisah dalam dunia di mana para supervillain berkuasa dan sewenang-wenang sementara para superhero harus hidup dalam persembunyian. Untuk pertama kalinya saya bersyukur bahwa status dalam komik tidak pernah bertahan dalam waktu lama. Diumumkan oleh Marvel bahwa Dark Reign akan segera berakhir dan diikuti oleh Heroic Age, sebuah era di mana para pahlawan Marvel akan bangkit kembali dan menjungkirbalikkan para supervillain. Lebih dari itu, ini akan menjadi era di mana Iron Man, Captain America, dan Thor berdiri dalam satu sisi dalam grup The Avengers.
Siege diawali dengan ketegangan yang berkelanjutan antara pemerintah Amerika dengan tanah para dewa Norse: Asgard yang melayang di atasnya. Norman Osborn dan Loki melihat kesempatan ini dan membuat sebuah trik. Seorang dewa bernama Volstagg berkelana di bumi dan dijebak oleh keduanya supaya membuat sebuah insiden. Ribuan orang tanpa sengaja tewas karena pertarungan antara Volstagg dan para penjahat yang dikirim oleh Norman. Pemerintah Amerika murka dan memerintahkan Norman untuk menyerang Asgard. Thor yang berusaha menghadang para Dark Avengers di bawah pimpinan Norman kalah dan para dewa-dewa lain Asgard mati-matian mempertahankan diri.
Di saat itu para superhero yang hidup dalam persembunyian sadar, inilah saat bagi mereka untuk bangkit dan menolong Asgard. Ini adalah saat bagi mereka untuk bangkit dan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hak mereka. Tapi efek perpecahan dari Civil War masih terasa. Tony Starks alias Iron Man masih dimusuhi beberapa tokoh yang masih menganggapnya pengkhianat. Steve Rogers alias Captain America yang asli juga baru saja kembali pada dunia orang hidup. Bisakah para superhero menyingkirkan perbedaan prinsip mereka dan bersatu mengalahkan Norman dan kroni-kroninya?
Brian Michael Bendis dan Olivier Coipel berkolaborasi untuk karya ini, duet mega-proyek mereka setelah House of M lalu. Siege sebenarnya tidak buruk-buruk amat dan agak berbeda dengan kebanyakan komik crossover lainnya. Bila komik crossover lain panjangnya mencapai 7 sampai 8 edisi, Siege hanya punya 4 edisi… lebih pendek bahkan dari World War Hulk (itu masih mencapai 5 edisi). Tapi memang dari sananya Marvel menjanjikan bahwa Siege akan menjadi even yang cepat, pendek, penuh baku hantam, dan langsung to-the-point. Memang sih Siege langsung memotong pendek kata-kata maupun dialog dan langsung hajar-hajaran dari awal sampai akhir dan ini punya sisi positif maupun negatif.
Ditilik sisi positifnya, artwork Olivier Coipel memang sangat ciamik. Lukisan Coipel layaknya goresan di kain kanvas. Coipel juga jago mengambil sudut-sudut dan gaya gambar yang keren. Hasilnya pertarungan di Asgard terlihat hidup dan menegangkan. Anggap saja seperti menonton slideshow film yang terus bergulir dalam waktu 90 menit. Plus ada kepuasan sendiri melihat para jagoan yang selama ini ditekan bangkit dari rezim para supervillain. Siapa yang tidak puas melihat Norman Osborn dihajar sampai terkapar misalnya? He had it coming for him. Siapa juga yang tidak puas melihat Cap, Iron Man, dan Thor sekali lagi berdiri bahu membahu melawan musuh yang sama? Ini adalah yang pertama kali setelah hampir tujuh tahun berlalu! Can you believe it? Tujuh tahun!
Tapi di sisi negatifnya banyak sekali sisi humanis dalam Siege yang kurang tergali. Bendis adalah salah satu penulis yang jago dengan dialognya dan di sini ia tidak banyak mendapat kesempatan menunjukkan kekuatannya. Sialnya lagi dengan empat edisi saja (walau edisi terakhirnya dibuat double-size) buat Siege, beberapa poin cerita terasa terlalu dicepatkan. Epilognya juga terasa terlalu terburu-buru. Ada begitu banyak masalah yang belum diselesaikan untuk semua karakternya nyengir bersama-sama dan bergaya ‘menghadap kamera’. Mungkin ini bakalan digali lebih lanjut di komik-komik jaman Heroic Age berikutnya?
So my verdict is… nampaknya kiasan ‘habis gelap terbitlah terang’ berlaku buat dua publisher komik Amerika terbesar saat ini. Baru-baru ini DC kelar dengan Blackest Night dan mengikutinya dengan Brightest Day. Lantas Marvel juga buru-buru mengakhiri Dark Reign mereka dan memulai Heroic Age… Menarik untuk melihat ke mana era cahaya ini akan membawa kita!
Score: 7.0
Graphic Novel Details
Writer: Brian Michael Bendis
Artist: Olivier Coipel
Publisher: Marvel Comics
Volume: 01 – 04














