Beberapa tahun yang lalu ketika saya pertama kali menonton Crossroad in the Ancient Capital, saya langsung mengecapnya sebagai yang terburuk dari tiga film yang saya tonton (Countdown to Heaven dan The Phantom of Baker Street adalah dua film yang saya tonton sebelumnya). Saat itu saya merasa filmnya terlalu membingungkan dan karakter favorit saya: Heiji Hattori terlalu dibodohkan sehingga levelnya terasa seperti di bawah – bukannya sebanding dengan Shinichi. Tentu saja pengalaman saya mengenai kebudayaan Jepang dan film tidak secetek saat pertama kali menonton dulu. Jadi bagaimana pengalaman menonton ulang film ini?
Terjadi sebuah pembunuhan berantai di beberapa kota besar di Jepang. Dari penyelidikan awal, polisi menemukan bahwa mereka semua memiliki kesamaan digit angka dalam namanya sekaligus merupakan anggota komplotan bandit Yoshitsune. Karakter Yoshitsune dan Musashibo Benkei adalah salah satu figur sejarah yang sangat terkenal di jaman feudal Jepang dulu dan memiliki pengetahuan mendasar akan mereka akan sangat membantu membuatmu mengapresiasi film ini. Kalau kalian malas membaca sejarah Jepang, membaca manga Shanaou Yoshitsune yang dikarang Sawada Hirofumi (sudah diterbitkan sampai tamat di Indonesia) bisa menolong kok (walaupun ada beberapa perubahan sejarah yang dilakukan sang mangaka).
Anyway, kembali pada film ini, dalam kasus yang sepertinya tidak berhubungan Kogoro Mouri dan Conan diundang ke kota Kyoto untuk mencari tahu mengenai hilangnya patung Buddha di sebuah kuil. Berhubung Kyoto terletak di bagian barat Jepang, daerah itu bisa dibilang termasuk dalam jurisdiksi Hattori Heiji. Walaupun dalam manga kedua detektif ini sering bertemu, baru dalam film layar lebar ketujuh ini keduanya bekerja sama dalam memecahkan kasus. Sebagai tambahan lain, Heiji juga punya adegan tersembunyi menemukan gadis cinta pertamanya saat masih kecil dulu.
Seperti yang saya katakan tadi, saat pertama kali menonton film ini saya tidak tahu banyak mengenai budaya Jepang sehingga tidak mengerti mengenai hubungan Benkei dan Yoshitsune. Setelah mengetahui hubungan keduanya, barulah saya bisa lebih mengapresiasi film ini. Judul Crossroad in the Ancient Capital yang disandang oleh film ini sebenarnya memiliki koneksi yang cukup mendalam pada ceritanya. Saya tadinya takut kalau pembunuhan demi pembunuhan film ini bakalan seperti The Fourteenth Target gara-gara menarget nama orang yang memiliki angka tetapi untung kekhawatiranku tidak terbukti. Boleh dibilang saya cukup enjoy dengan bagaimana film ini secara tidak langsung memperkenalkan penonton pada kota Kyoto. Oh ya, karena settingnya ada pada kota di mana budaya Jepang masih kental, film ini juga menyisipkan berbagai kebudayaan Jepang seperti geisha dan tradisi minum-minum di dalamnya. Ini merupakan break yang menyenangkan setelah film-film Conan sebelumnya terasa sangat berbau barat / Hollywood (bom di pencakar langit, pembunuhan misterius, sampai teror dunia digital).
Yang saya sebenarnya kurang suka dalam film ini adalah sub-plotnya yang mengisahkan pencarian Heiji akan cinta pertamanya. Alasan Heiji untuk mencari cinta pertamanya terasa terlalu mengada-ada, apalagi karena ia sudah punya Kazuha. Saya bisa memaklumi kegeraman Kazuha sepanjang film melihat Heiji tetap ngebet mencari cinta pertamanya (can you even call it first love kalau tidak pernah ketemu dan bicara?). Satu bagian yang membuatku geleng-geleng adalah ketika Heiji ‘sepertinya’ menemukan cinta pertamanya dan langsung mendiskreditkan gadis itu sebagai tersangka. Keterlaluan. Heiji yang saya kenal tidak mungkin akan terbuai oleh emosi seperti itu dan tetap berlaku obyektif. Plot cerita ini terlalu picisan dan penutupnya yang bahkan lebih norak lagi membuat saya berharap kalau ia dipotong keluar saja dari cerita. Saya malah lebih suka dengan hubungan Shinichi dan Ran yang tidak pernah bisa bertemu sementara Ran tetap menantikannya. Tanpa memberi spoiler apapun, penantian Ran pada akhirnya berbuah juga – walau hanya untuk sesaat. Saya akui bahwa eksekusinya sebenarnya juga cheesy, tetapi setidaknya masih setingkat lebih baik dibanding plot Heiji – Kazuha.
So my verdict is… saya mengapresiasi film ini lebih baik ketika menontonnya untuk kali kedua. Beberapa unsur cerita yang mengambil kebudayaan Jepang kini bisa saya tangkap lebih baik. Oleh karena itu, saya menutup review ini dengan sebuah saran bahwa mengetahui pengetahuan mendasar akan infrastruktur kota Kyoto dan sejarah Yoshitsune adalah modal baik sebelum menonton film ini.
Note: I love the ending theme yang dibawakan Mai Kuraki (berjudul Time After Time). Cari deh. Saya rasa kalian akan menyukainya. Aransemennya terdengar mirip dengan lagu J-Pop lain yang pernah saya dengar, tapi entah kenapa saya lupa apa.
Score: 7.5
Movie Details
Director: Kanetsugu Kodama
Cast: Akira Kamiya, Kappei Yamaguchi, Minami Takayama
Running Time: 108 Minutes








