Tag Archive | "Animation"

Tags: , , , , , ,

Despicable Me

Posted on 14 July 2010 by Si Tukang Review

Despicable Me Poster

Despicable Me Poster

Dua film yang saat ini bertengger dalam puncak posisi film favorit tahun 2010 bagiku adalah Toy Story 3 dan How to Train Your Dragon (saya belum menonton Shrek Forever After tetapi menilik dari review yang sudah ada kelihatannya film ini lebih berpotensi saya ejek daripada saya puji). Lantas trailer-trailer dari sebuah film berjudul Despicable Me muncul. Karena trailernya menyebutkan bahwa film ini berasal dari Chris Meledandri yang membawakan kita Ice Age pertama dan kedua, saya menyangka kalau ini adalah karya lain Blue Sky Studios. Belakangan saya baru tahu kalau Chris sudah pindah membuka studio baru sendiri bernama Illumination Entertainment yang berkolaborasi dengan Universal merilis film ini sebagai animasi pertama mereka.

Berbeda dengan film animasi kebanyakan, lakon dari Despicable Me adalah seorang supervillain bernama Gru. Gru yang botak bersama para kroni-kroninya (disebut Minions – yang belakangan malah lebih populer dari filmnya sendiri) sayangnya sudah mulai melempem. Ketika Piramid di Mesir dicuri oleh seorang pencuri muda baru bernama Vector, Gru cuma bisa gigit jari dalam kegagalan. Mau kembali menaikkan pamornya, Gru menyusun sebuah rencana untuk mencuri bulan. Caranya mudah: ambil senjata pengecil (shrinking ray), bangun roket menuju bulan, tembak bulan dengan senjata pengecil, bawa bulan kecil itu kembali ke bumi, fortuna kembali didapat!

Tapi rencana Gru menjadi kacau ketika senjata pengecil yang mati-matian ia curi justru dicuri lagi oleh Vector. Mati-matian Gru berusaha mengambil balik tetapi semua usahanya digagalkan mekanisme pertahanan benteng Vector yang luar biasa. Saat Gru hampir menyerah, ia melihat bahwa tiga anak yatim piatu yang menjajakan kue bisa masuk dengan mudah ke tempat Vector. Ide pun muncul di benak Gru, ia mengadopsi ketiga anak itu demi menggunakan mereka mengambil senjata di tempat Vector. Berhasilkah rencana Gru? Atau justru kehadiran ketiga anak itu bakalan mengubah hati dingin sang supervillain?

Toy Story 3 dan How to Train Your Dragon menawarkan sebuah cerita anak-anak yang cukup gelap. Bagaimana tidak? Yang satunya bercerita mengenai growing up sementara yang satu malah ada adegan anak kehilangan kaki… dibandingkan dengan dua film tersebut, Despicable Me relatif lebih ringan dan bermain aman. Tidak berarti filmnya jelek. Paruh pertamanya sejujurnya saja sedikit membosankan ketika penonton diperkenalkan dengan karakter-karakter di film ini. Saat itu saya praktis cuma tertawa sesekali dengan tingkah laku para Minions yang lucu bin ajaib. Film ini mulai terasa likable sesudah Gru mengadopsi ketiga anak yatim piatu. Margo, Edith, dan Agnes yang semua berbeda sifat ini sering berbenturan dengan Gru. Tentu saja semua penonton tahu bahwa akhirnya Gru akan berubah sifat setelah bertemu dengan ketiga anak kecil ini, tetapi toh sebuah klise yang ditangani dengan baik tetap bisa menyentuh hati penonton… mana Agnesnya itu imuttt sekali. Ingin deh punya anak seperti dia –> curhat colongan karena satu-satunya adik sepupu berusia dua tahun yang kupunya sepertinya menemukan kepuasan batin hanya dengan memukuli dan menarik-narik rambutku.

Walau kualitas animasinya sendiri biasa saja, bahkan sebenarnya bisa dibilang sedikit di bawah rata-rata Pixar atau Dreamworks, film ini menebusnya dengan kualitas efek 3D yang mengagumkan. Dibandingkan dengan Toy Story 3 yang efek 3Dnya datar-datar saja, Despicable Me jelas menang jauh (hint: jangan langsung beranjak begitu film selesai karena ada berbagai eye-popping 3D effect!). Juga tepuk tangan pantas diberikan kepada Steve Carell yang mampu mengubah suaranya beraksen asing demi menjiwai peran Gru. Saya nyaris-nyaris tidak mengenali suaranya!

So my verdict is… Despicable Me adalah sebuah film animasi ringan yang cocok ditonton bersama dengan keluarga atau teman-temanmu. Tidak seemosional Toy Story 3 atau seseru How to Train Your Dragon memang, tetapi film ini bisa mengingatkan betapa penting dan berartinya hal-hal kecil seperti mencium kening atau membacakan buku cerita sebelum tidur bagi anak-anakmu. Sebuah rutinitas yang sering terlupakan seiring dengan makin sibuknya jaman.

Score: 8.3

Movie Details
Director: Pierre Coffin & Chris Renaud
Cast: Steve Carell, Jason Segel, Russell Brand, Julie Andrews
Running Time: 95 Minutes

Comments (5)

Tags: , , , ,

Monster House

Posted on 05 May 2009 by Si Tukang Review

Monster House Poster

Monster House Poster

Makin lama rasanya makin bervariasi saja tontonan film animasi. Setelah ada film animasi dengan humor yang lebih dewasa seperti Hoodwinked, sekarang ada Monster House: sebuah film animasi yang sebenarnya lebih layak bila digarap dengan metode ala film horror klasik. Lo? Ya, Monster House bisa dibilang sebagai film animasi yang paling ‘menakutkan’ yang pernah saya tonton (kendati kalian jangan menyamakan kadar menakutkan dalam film ini dengan film Ju-On atau The Ring atau segala macam film horror Jepang lainnya).

DJ mengira dia sedang menjalani masa pubertasnya. Masa pubertas ini berarti dia harus bertengkar dengan orang tuanya yang terus mengira dia adalah anak kecil, dia bahkan sudah tidak berniat lagi melakukan trick or treat. Tetapi yang paling membuatnya bingung adalah ia mulai membayangkan hal-hal yang aneh. Masakan dia melihat bahwa rumah seberang rumahnya hidup? Oke, tetangganya si Necker-apapun itu memang menyebalkan. Tetapi masakan orang tua menyeramkan itu bisa membuat rumahnya hidup? Engga mungkin kan? Tidak hanya sang pengasuh yang menertawakannya tetapi juga Chowder. Tetapi segalanya itu berubah begitu DJ melihat kalau rumah itu kemudian bergerak dan berusaha memangsa apapun yang melintas di dekatnya. Yang lebih gawat lagi sekarang pemilik rumah itu mati karena ulah DJ. Jangan-jangan gara-gara itu arwahnya menjadi penasaran lantas merasuki rumahnya? Atau mungkinkah ada suatu hal lain? Suatu rahasia terpendam yang lebih mengerikan sehingga menjadikan rumah ini sebagai sebuah rumah yang ganas? Atau… mungkinkah sebenarnya segala gerakan rumah itu hanyalah angan-angan dari DJ yang ketakutan saja? Anak-anak suka berimajinasi bukan?

Monster House seperti yang saya katakan tadi bukanlah film yang sepenuhnya cocok buat anak-anak kendati diperankan oleh anak-anak dan memiliki format film animasi. Bahkan adik saya yang berusia 5 tahun menangis ketakutan gara-gara menonton film ini. Film ini banyak menampilkan setting suram semacam Ghostbuster atau Evil Dead dulu. Bagi yang sudah pernah membaca Goosebumps atau The Nightmare Roomnya RL Stine malahan akan menemukan banyak kemiripan dengan film ini. Monster House sendiri memiliki tampilan animasi yang cukup menarik (tidak bisa dibilang menawan dan cerah sih, tetapi untuk membangkitkan suasana suram dan horror film ini sudah berhasil). Pengisi suaranya juga bisa dibilang telah berusaha dengan baik dalam mengisi suaranya. Tetapi masalahnya justru terletak pada cara penyutradaraan Gil Kenan. Saya menilai bahwa dia masih kurang berhasil menghidupkan adegan-adegan yang seharusnya bisa menjadi adegan kunci yang menyulut rasa haru atau simpati penonton.

Lebih celakanya lagi, Kenan juga membuat blunder fatal di bagian akhir film (anda akan menyadarinya begitu menontonnya). Hasilnya, film Monster House ini menjadi tontonan serba tanggung. Kalau mau ditonton bersama anak-anak, maka mereka akan merasa bahwa film ini terlalu menakutkan (apalagi untuk ukuran sebuah film yang diedarkan sebelum masa Halloween). Di lain pihak, pemuda seumuran saya akan merasa bahwa Monster House terlalu absurd dan terlalu bertele-tele (dan tidak logis) dalam menjelaskan bagaimana sang rumah pada awalnya berhantu.

Nampaknya ini bukanlah sebuah awal yang baik bagi Steven Spielberg dalam menjadi produser sebuah film animasi. Mungkin perlu turun tangan sendiri Mr. Spielberg?

Score: 6.0

Movie Details
Director: Gil Kenan
Cast: Michael Musso, Sam Lerner, Spencer Locke, Maggie Gyllenhaal
Running Time: 109 Minutes

Comments (2)

Tags: , , ,

Wonder Woman

Posted on 04 May 2009 by Si Tukang Review

Wonder Woman Poster

Wonder Woman Poster

Walaupun DC selalu mengatakan bahwa trinitas suci mereka adalah Superman, Batman, dan Wonder Woman, kenyataan tidak sejalan dengan kata-kata mereka. Buktinya Superman sudah memiliki lima film di layar lebar (termasuk mencatat sejarah sebagai superhero pertama yang tampil di layar lebar). Batman malah sudah memiliki enam film dan The Dark Knight hingga kini tercatat sebagai film superhero terlaris. Keduanya pun memiliki berbagai serial TV, baik dari live-action dan animasi. Bagaimana dengan Wonder Woman? Selain tiga season serial TV yang diperani oleh Linda Carter, tidak banyak yang bisa ia banggakan. Lebih ironis lagi, rencana penggarapan layar lebarnya yang sudah lama terkatung-katung gagal total setelah Joss Whedon mundur dari kursi sutradara. “Terlalu banyak batasan dari DC!” adalah alasan yang dikemukakan pencipta serial Buffy tersebut. Makin kelam sajalah masa depan sang putri Amazon ini. Setidaknya, DC berusaha menebus dosa mereka dengan membuat sebuah film animasi Wonder Woman. Walaupun direct-to-DVD, film ini diharapkan DC bisa memuaskan dahaga penggemarnya. Pertanyaannya: berhasilkah?

Setelah Ares mengkhianati dan menyerang para Amazon, tidak ada pilihan bagi Ratu Hippolyta selain menyatukan rakyat dan melawannya. Melalui perang yang panjang, akhirnya Hippolytha menang. Kendati begitu, sebelum berhasil memenggal kepala Ares, Zeus mengintervensi dan ‘memaksa’ Hippolyta untuk hanya mengurung Ares saja. Sebagai gantinya, para Amazon diberi sebuah pulau rahasia yang tertutup dari dunia luar dan Hippolytha seorang putri bernama Diana. Tahun demi tahun pun berlalu tanpa gangguan berarti sampai sebuah pesawat militer yang ditunggangi oleh Kolonel Steve Trevor mendarat darurat di pulau itu. Diana, berbeda dengan Amazon lain, sangat penasaran dengan dunia luar dan meminta sang ibu untuk mengijinkannya menemani Steve kembali ke dunia manusia. Berangkatlah Diana sebagai Wonder Woman. Tetapi tak disangka-sangka, insiden kecil kedatangan Steve hanyalah puncak dari bukit es. Perpecahan dalam kubu Amazon menyebabkan Ares berhasil meloloskan diri dari penjaranya. Kini tugas Diana tidak sekedar membawa Steve kembali ke Amerika saja, tetapi juga menghentikan Ares dalam upayanya menghancurkan dunia.

DC nampaknya benar-benar berusaha mencurahkan perhatiannya dalam film ini. Nama-nama tenar dipilih untuk mengisi suara di dalamnya seperti Wonder Woman oleh Keri Russell (Bedtime Stories), Steve Trevor oleh Nathan Fillion (Firefly), maupun Alfred Mollina (Spider-man 2) yang mengisi suara Ares. Hasilnya memang terlihat karena di layar tiap karakter terlihat hidup. Keberanian sutradara Lauren Montgomery juga saya acungi jempol: ia berani memasukkan unsur kekerasan dalam Wonder Woman. Ketika saya melihat adegan pemotongan kepala (walau dalam bentuk siluet) saya segera sadar bahwa ini bukan film yang bisa ditonton oleh adik-adik bawah usia. Walau demikian, Montgomery tidak melulu mengumbar kekerasan dan aksi tetapi menyeimbangkannya dengan pengembangan karakter.

Skrip yang ditulis oleh Gail Simone (yang sekarang juga menulis komik Wonder Woman) memang sukses merevolusi para karakter tanpa membuat mereka kehilangan akar mereka. Contoh paling bagus dalam kasus ini adalah Hippolyta. Bila di kebanyakan komik Hippolyta lebih mirip ibu Amazon yang over-protektif, Hippolyta tidak pernah jatuh pada stereotipe itu dalam film ini. Sebaliknya, Hippolyta disorot sebagai seorang ratu yang bertanggung jawab terhadap rakyatnya, seorang Amazon yang tangguh, juga seorang ibu yang ingin melihat anaknya terbang jauh tetapi ragu-ragu. Hubungan Diana dan Steve sendiri juga saling mengisi. Bila dalam banyak komik Diana selalu menyembunyikan identitas gandanya pada Steve, itu tidak terjadi di sini. Dinamika yang bisa digali pun jadi lebih menarik antara mereka; apalagi karena keduanya tidak harus tergantung satu sama lain tetapi tetap mandiri.

Karena berdurasi 75 menit, Wonder Woman terasa padat dari awal hingga akhir. Sedikit kekurangan dalam film ini terdapat pada kurang tergalinya hubungan karakter-karakter sampingan lain di film ini (kakak beradik Alexa dan Artemis misalnya). Lepas dari sedikit kekurangan-kekurangan yang ada, Wonder Woman meneruskan sukses Bruce Timm dalam menggarap film-film direct-to-DVD yang berkualitas. Saya nantikan kolaborasi Montgomery – Timm selanjutnya dalam menggarap salah satu superhero DC favorit saya: Green Lantern. Now DC, film layar lebar Wonder Woman please?

Score: 8.7

Movie Details
Director: Lauren Montgomery
Cast: Keri Russell, Nathan Fillion, Alfred Mollina, Rosario Dawson
Running Time: 75 Minutes

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here