Tag Archive | "Ampersand"

Tags: , , , , , , ,

Y: The Last Man (Final Volume: Whys and Wherefores)

Posted on 30 November 2009 by Si Tukang Review

Y: The Last Man #58 Cover

Y: The Last Man #58 Cover

Setelah lima tahun melalui petualangan-petualangannya, akhirnya Yorick dan Agent 355 memasuki babak akhir dari petualangan mereka dengan menuju ke Paris. Demikian juga akhir dari salah satu graphic novel terbaik Vertigo di luar serial Sandman (karya Neil Gaiman) dan Fables (karya Bill Willingham). Berakhir juga proyek maraton review pertama situs TukangReview.com yang sempat terbengkelalai karena kelalaianku. Bagaimanakah akhir dari petualangan sang pria terakhir di bumi?

Setelah DNAnya dan Ampersand diambil untuk diteliti oleh Dr Mann, Yorick pun tak lagi ‘dibutuhkan’ untuk menyelamatkan umat manusia. Setelah kejadian di China, Yorick dan Agent 355 berpisah secara permanen dengan Dr Mann dan Rose. Terbebas dari beban tanggung jawab menyelamatkan umat manusia, Yorick pun kembali dengan tujuan awalnya: mencari Beth DeVille sang kekasih. Agent 355 yang sudah kepalang basah bertujuan untuk menemani Yorick dan menjaganya. Dari sini sudah ditunjukkan oleh Vaughan bahwa Agent 355 sebenarnya mencintai Yorick - walaupun ia terus berusaha menutupi fakta tersebut dengan alasan bahwa ia hanya mencintai Yorick seperti seekor ibu harimau yang cinta kepada anaknya.

Yang tidak diketahui oleh Yorick dan Agent 355 adalah bukan hanya mereka berdua yang kini tengah menuju ke Paris - lokasi terakhir di mana Beth diketahui berada - tetapi juga dua grup lain. Grup yang pertama adalah para gadis seperti Ciba, Natalya, Hero, dan Beth kedua yang berusaha mencari Yorick di Paris. Grup kedua jauh kurang ramah karena berisi para tentara Israel di bawah pimpinan Alter. Alter yang terus mengejar keberadaan Yorick kini mengetahui bahwa sang pria terakhir bumi itu menuju Paris dan berniat mencegatnya di sana. Yang terakhir, Beth DeVille sendiri juga berada di Paris dituntun oleh visi yang ia lihat dan percaya bahwa ia akan bertemu dengan Yorick di sini.

Bagaimanakah hasilnya ketika semua orang-orang tersebut bertemu di Paris? Apakah Yorick dan Beth akan bisa bertemu kembali? Siapakah yang pada akhirnya dipilih oleh Yorick… Beth sang tunangan yang tak pernah ia temui selama lima tahun, atau Agent 355 yang selama ini setia menjaganya di sampingnya. Satu hal yang pasti: serial ini tidak pernah dikenal dengan jalan cerita yang klise. Bahkan sampai story arc terakhir dan halaman terakhirnya sekalipun Vaughan tidak pernah berhenti menyuguhkan plot twist yang membuat saya terkejut - karena tak pernah menyangkanya sama sekali.

Setelah story arc Whys and Wherefores berakhir di edisi ke 59, Vaughan menggunakan keseluruhan edisi 60 (edisi spesial yang dijuduli Alas) sebagai epilog dari kisah Y - The Last Man. Dari sanalah baru terbuka maksud Vaughan menulis serial ini. Sejak semula, Vaughan tidak pernah bermaksud menekankan cerita pada aspek wabah misterius. Bagi Vaughan, inti utama dari Y - The Last Man adalah bagaimana pentingnya peran seorang wanita dalam kehidupan pria, dan bagaimana seumur hidupnya pria tidak akan pernah lepas dari ketergantungannya pada wanita - mulai dari ibu, kakak perempuan, adik perempuan, cinta pertama, cinta monyet, sahabat, hingga cinta sejatinya. Dan setelah mengerti hal itu, membaca Y - The Last Man dari awal hingga akhir lagi terasa lebih bermakna. Vaughan secara simbolis telah menempatkan masing-masing karakter wanita dalam komik ini sebagai representasi posisi-posisi wanita dalam kehidupan kita.

Vaughan beruntung memiliki partner seperti Pia Guerra dan Goran Sudzuka untuk membantu ia menghidupkan visinya. Goran Sudzuka selalu setia mengisi kisah-kisah one-shot Vaughan dan walaupun artworknya jauh dari menawan, setidaknya Sudzuka selalu menghadirkan artwork yang konsisten. Sebaliknya melihat karya Guerra berkembang dari story arc yang satu ke story arc yang lain membuat saya kian gemar akan artis yang satu ini. Saya harap bisa membaca lagi karya-karya lain yang ia gambar.

Pada akhirnya, Y - The Last Man adalah kisah bagaimana bocah terakhir dunia bertumbuh dan berkembang menjadi pria terakhir di dunia. Kisah yang menakjubkan - yang tak boleh dilewatkan oleh siapapun yang menggemari graphic novel dengan cerita dewasa.

Score: 10

Graphic Novel Details
Writer: Brian K. Vaughan
Artist: Pia Guerra
Publisher: Vertigo (DC Comics)
Volume: 55 - 60

Comments (0)

Tags: , , ,

Y - The Last Man (Volume Ten: Homelands)

Posted on 29 November 2009 by Si Tukang Review

Y: The Last Man #50 Cover

Y: The Last Man #50 Cover

Sejak awal serial ini dimulai, pertanyaan yang terus menggantung di benak setiap orang pasti “Apa yang merusak semua kromosom Y? Apa yang menyebabkan terjadinya tragedi yang membunuh semua pria di bumi?”. Berulang kali dalam wawancara pada situs-situs komik terkemuka, Brian K. Vaughan meyakinkan pembaca bahwa ia tidak akan mengelabui pembaca dengan tidak mengungkap misteri tersebut. Sebaliknya, Vaughan juga tidak pernah berjanji memberikan jawaban yang definitif mengenai penyelesaian misteri tersebut. Sepanjang menulis komik ini, Vaughan sudah memunculkan beberapa kemungkinan mengenai kenapa wabah tersebut terjadi, mulai dari sisi religius, sisi takhayul, sampai sisi ilmiah. Dalam cerita yang sudah dibangun dari Kimono Dragons, Vaughan akhirnya melakukan pengungkapan yang telah dinantikan banyak orang dalam story arc kali ini: Homelands.

Akhir Kimono Dragons sudah mempertemukan Ampersand kembali dengan Yorick, tetapi masalah Dr Mann masih jauh dari rampung. Ibu Dr Mann diculik oleh Toyota - kemudian diketahui sebagai agen yang bekerja di balik seorang sosok misterius. Karena Dr Mann sudah selesai melakukan penelitiannya dengan Ampersand dan Yorick, mereka seharusnya segera berpisah di Hong Kong. Yorick dan Agent 355 akan bergerak menuju ke China dan selanjutnya naik kereta menuju ke Paris untuk mencari Beth tunangannya sementara Dr Mann dan Rose akan tinggal di Hong Kong guna melanjutkan penelitian mereka.

Tetapi sebelum perpisahan itu terjadi, rahasia bahwa Dr Mann mengidap penyakit gara-gara keguguran pun terungkap. Agent 355, Rose, dan Yorick bekerja sama membawa Dr Mann untuk ke rumah sakit dan menolongnya. Tak disangka, ketiganya kemudian tertangkap oleh Toyota dan dibawa untuk menemui sang pemimpin Toyota. Siapakah pemimpin Toyota itu? Apa yang terjadi kemudian adalah sebuah rentetan dialog ilmiah, filsafat, dan tragedi kasus keluarga yang pelik.

Saya tidak tahu bagaimana perasaan saya mengenai Homelands. Di satu sisi, Vaughan jelas lebih tahu keadaan ekonomi dan kehidupan sosial di China ketimbang Jepang, terbukti dari bagaimana dia bisa menarik banyak referensi mengenai kehidupan di China dan dampaknya setelah wabah terjadi. Kebijakan satu anak buat satu pasangan digabung dengan bagaimana orang China mengagungkan jenis kelamin pria membuat banyak keluarga mengaborsi bayinya ketika tahu mereka berkelamin wanita memang banyak disindir oleh publik barat; dan Vaughan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyindir publik China dalam komiknya ini.

Walaupun begitu, saya sendiri sedikit kecewa dengan pengungkapan misteri wabah. Walaupun Vaughan sudah mendedikasikan sampai tiga edisi untuk menjelaskan mengenai misteri tersebut, tapi toh penjelasan yang ia berikan jatuhnya tetap terasa tanggung bagiku. Saya tahu Vaughan beralasan bahwa alasan sesungguhnya dari kenapa wabah itu terjadi ia kembalikan kepada para pembaca sendiri. Ia hanya menyajikan alternatif. Oke bisa saya mengerti, tetapi alangkah baiknya bila Vaughan sendiri memberikan kepada kita jawaban alternatif pilihannya sendiri. Saya rasa ini dikarenakan Vaughan lebih jago menciptakan karakter-karakter dan memandu mereka berinteraksi dalam cerita sehingga ketika ia harus menulis mengenai hal-hal ilmiah, ia lebih memilih untuk mengambil pendekatan manusiawi yang melatarbelakangi diskusi ilmiah tersebut (dalam hal ini, cekcok dalam keluarga Dr Mann).

Seusai Homelands, misteri mengenai kematian semua pria di dunia bisa dianggap tuntas. Setelah diselingi dengan dua kisah one-shot (yang menurut saya tidak signifikan dan lebih terasa bagaikan sempilan), Vaughan membawa kita pada babak terakhir dalam kisah petualangan Yorick: Why and Wherefores - yang bagi saya merupakan story arc finale terbaik.

Score: 7.8

Graphic Novel Details
Writer: Brian K. Vaughan
Artist: Pia Guerra, Goran Sudzuka
Publisher: Vertigo (DC Comics)
Volume: 49 - 54

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Y: The Last Man (Volume Nine: Kimono Dragons)

Posted on 28 November 2009 by Si Tukang Review

Kimono Dragons Cover

Kimono Dragons Cover

Sempat melempem dalam beberapa edisi sebelumnya, Brian K. Vaughan kembali menemukan sentuhan emasnya dalam story arc kali ini. Perpindahan setting Y ke Jepang membuka berbagai tabir misteri baru mengenai kehilangan Ampersand, sampai koneksi antara keluarga Dr Mann dengan Yorick. Mungkin memang perubahan lokasi adalah angin segar yang dibutuhkan oleh serial ini.

Kimono Dragons segera terbagi dalam dua segmen cerita. Sesampainya di pelabuhan Yokogata di kota Tokyo, grup Yorick mengalami perpecahan mengenai keberadaan Ampersand. Agent 355 ingin melacak Ampersand menggunakan GPS sementara Dr Mann bersikeras untuk mencari ibunya yang tinggal di Tokyo karena yakin bahwa ibunya berkaitan dengan diculiknya Ampersand. Keduanya pun berpisah dalam dua grup. Yorick pergi dengan Agent 355 sementara Rose menemani Dr Mann.

Kelemahan story arc Paper Dolls bagiku sebelumnya adalah story arc tersebut terlalu pendek karena hanya terdiri dari tiga bagian. Beruntung kali ini Vaughan memperpanjangnya menjadi empat bagian. Penambahan jumlah edisi ini memberi ruang yang lebih lega bagi Vaughan untuk menuturkan ceritanya. Hasilnya langsung kentara jelas, kedua segmen cerita berjalan seiringan tanpa pernah terasa timpang atau berat sebelah. Vaughan tidak hanya berhasil menyorot kondisi tubuh (baca: keinginan seksual) wanita seusai wabah, tetapi juga mengungkapkan kilas balik mengenai kehidupan Dr Mann.

Sayangnya, ada satu hal yang menurut saya tidak dimaksimalkan oleh Vaughan - mungkin saja karena ia tidak seberapa mengenal kebudayaan Jepang. Jepang adalah negara yang unik karena sangat mementingkan pria ketimbang wanita di dalam kehidupan sosial mereka. Ketika wabah membunuh semua pria di dunia, saya sebenarnya menebak bahwa struktur ekonomi dan budaya Jepanglah yang seharusnya paling pertama runtuh. Efek dari wabah nyatanya kurang terasa dampaknya di luar permintaan seksual wanita yang meningkat dan dipenuhi oleh para persocon.

Selain empat bagian dalam Kimono Dragons, Vaughan menyisipkan dua cerita one-shot mengenai Dr Mann dan Alter. Dua-duanya sama menarik dan menambah kaya latar belakang cerita. The Tin Man (edisi 47) menceritakan bagaimana masa lalu Dr Mann mengubahnya menjadi dirinya seperti sekarang. Diceritakan pula mengenai keluarganya, yang - SPOILER ALERT - memegang peranan penting dalam cerita story arc berikutnya. Kisah The Tin Man merupakan cerita yang layak diikuti supaya pembaca memiliki persiapan mengikuti cerita story arc berikutnya. Gehenna (edisi 48)yang mengisahkan masa lalu Alter bahkan lebih menarik lagi. Sampai titik ini, pembaca (termasuk saya) selalu digiring oleh Vaughan untuk percaya bahwa Alter adalah sosok penjahat kejam. Setelah Gehenna, saya berpikir ulang lagi mengenai tujuan Alter mencari Yorick. Alter mungkin adalah wanita yang ‘sakit’, tetapi ia memiliki visi akan hal yang benar. Padanannya mungkin seperti karakter Magneto dalam dunia X-Men.

Setelah dalam dua story arc sebelumnya sedikit melempem, saya bahagia membaca dialog-dialog tajam Vaughan kembali. Walau belum kembali sampai pada titik puncak performanya, mengingat serial ini sudah menginjak perempat akhir cerita, saya percaya bahwa tensi cerita akan terus meningkat dari sini. What a ride… what a ride…

Score: 8.6

Graphic Novel Details
Writer: Brian K. Vaughan
Artist: Goran Sudzuka
Publisher: Vertigo (DC Comics)
Volume: 43 - 48

Comments (1)

Tags: , , ,

Y: The Last Man (Volume Eight: Paper Dolls)

Posted on 19 November 2009 by Si Tukang Review

Y: The Last Man 40 Cover

Y: The Last Man 40 Cover

Setelah membacanya untuk kali kedua, saya baru menyadari bahwa Girl on Girl merupakan karya story arc pertama bagi Goran Sudzuka. Sudzuka sebenarnya bukan ilustrator yang buruk dan ia berusaha sebisa mungkin untuk menggambar dengan gaya yang mirip dengan Pia Guerra supaya menjaga feel serial ini. Keberhasilannya ‘menipu’ mata saya untuk satu story arc sudah merupakan bukti dari hal tersebut tetapi pada saat ketika saya membaca Paper Dolls, saya disadarkan bahwa Pia Guerra memang merupakan ilustrator paling tepat untuk serial ini. Goresan Guerra tidak setegas Sudzuka, tetapi ia jauh lebih jago menangkap raut muka dan wajah yang penting untuk menghidupkan ekspresi para karakter di dalam serial ini.

Paper Dolls adalah story arc yang sedikit pendek karena hanya terdiri dari tiga bagian dan menyinggung cerita yang kurang menarik di mana pembaca sudah bisa menebak kira-kira bagaimana konklusinya. Premisenya sendiri sebenarnya memiliki potensi mengundang yang sangat besar. Perlu diingat bahwa Yorick pertama kali berkeliling dunia dengan harapan untuk mencari Beth sang tunangannya. Tak disangka bahwa serangan pada akhir Girl on Girl membawanya ke benua Kanguru tersebut. Yorick tentu saja tidak membuang waktu untuk mencari Beth, walaupun kapal selam tersebut sebenarnya hanya berhenti selama satu hari saja di sana Sydney. Celakanya pencarian Yorick justru berbuah petaka ketika seorang reporter ambisius menemukan jati dirinya sebagai sang pria terakhir bumi, memfotonya, dan mulai menyebarkan jati diri Yorick di media massa.

Seperti yang saya bilang, cerita utama dari Paper Dolls sendiri pada akhirnya tidak memiliki sesuatu yang signifikan terhadapi mitologi Y - The Last Man secara keseluruhan. Malahan beberapa jalan cerita sampingan menjadi hal-hal menarik yang membuat saya kecewa tidak dieksplorasi lebih lanjut. Kembalinya Alter dalam pemburuan Yorick dan balas dendamnya merupakan satu dari banyak hal yang membuat Alter sebagai sosok paling kompleks dalam serial ini. Selain itu, Rose dan Dr Mann yang memulai hubungan lesbian mereka juga mendapat sorotan di sini - apakah Rose tulus atau tidak dalam perasaannya merupakan awal dari hubungan penuh gonjang-ganjing keduanya yang saya harap lebih banyak disorot Brian K. Vaughan.

Setelah tiga edisi Paper Dolls, Y - The Last Man kembali diselingi dengan tiga cerita one-shot sebelum menuju cerita berikutnya. Ketiganya adalah: The Hour of Our Death, Buttons, dan 1000 Typewriters. Kali ini Pia Guerra kembali absen dan digantikan oleh Goran Sudzuka sebagai ilustrator (tebakan saya adalah karena Guerra harus fokus menggambar untuk Kimono Dragon yang adalah story arc berikutnya). Ketiga one-shot ini uniknya justru lebih berkualitas dan membedah banyak hal ketimbang Paper Dolls sendiri. The Hour of Our Death mempertemukan Hero dan Beth kedua serta memberi perkembangan cerita yang tak terduga (juga one-shot favorit saya). Buttons mengungkapkan lebih banyak tabir masa lalu dari Agent 355 yang misterius (sialnya, kita tetap saja belum tahu nama aslinya). Yang terakhir, 1000 Typewriters menceritakan mengenai keberadaan Ampersand - dan sejarahnya dengan Yorick dan wabah yang menyapu kaum pria itu.

Aneh mungkin, tetapi pada akhirnya ketiga cerita one-shot ini justru memberikan lebih banyak penjelasan mengenai mitos-mitos seputar Y ketimbang Paper Dolls. Salah satu alasan kenapa Paper Dolls tidak lagi menarik sebenarnya adalah blunder yang dilakukan oleh Vaughan sendiri dengan menerbitkan volume 36 terlebih dahulu (yang praktis merupakan spoiler dari ending Paper Dolls). Bila saja Paper Dolls terlebih dahulu diterbitkan baru disusul dengan volume 36, mungkin saja story arc tersebut akan lebih menggigit. Siapa yang deg-degan dengan apakah Yorick dan Beth akan bertemu atau tidak kalau sudah diberitahu sebelumnya bahwa Beth berangkat ke Paris demi mencari Yorick yang dilihatnya dalam visinya?

Y - The Last Man sedikit kehilangan gregetnya pada story arc-story arc belakangan ini. Mari kita berharap bahwa Brian K. Vaughan kembali menemukan touchnya pada Kimono Dragon, yang merupakan awal dari kisah panjang rombongan Yorick di Jepang.

Score: 7.2

Graphic Novel Details
Writer: Brian K. Vaughan
Artist: Goran Sudzuka
Publisher: Vertigo (DC Comics)
Volume: 37 - 42

Comments (3)

Tags: , , , , , ,

Y: The Last Man (Volume Seven: Girl on Girl)

Posted on 04 November 2009 by Si Tukang Review

girl-on-girl-cover

Pertama-tama saya minta maaf gara-gara saya kelupaan untuk melanjutkan resensi marathon saya akan Y - The Last Man (thanks to Monkey Climber untuk mengingatkan saya!). Pasalnya, ketika saya berangkat ke China beberapa bulan yang lalu saya kelupaan membawa komik Y - The Last Man, pada saat itu saya berpikir bahwa saya akan melanjutkan resensi marathon saya sepulangnya saya ke Indonesia. Apa daya ketika saya pulang ke Indonesia saya malah kelupaan soal proyek ini. Nah, tanpa banyak basa-basi lagi, marathon Y - The Last Man akan berlanjut. Selamat mengikuti!

Terakhir dalam Rings of Truth, beberapa kejadian terjadi secara berturutan. Yorick dan Hero pada akhirnya bisa berdamai dan saling memaafkan, tetapi sialnya Agent 355 gagal menghentikan seorang pembunuh bayaran menculik Ampersand. Kini Yorick, Dr Mann, dan Agent 355 menaiki kapal dengan tujuan untuk berlayar pergi ke Yokogata untuk mengejar Ampersand. Triknya begini, Yorick akan menyelinap sebagai kargo barang sementara Dr Mann dan Agent 355 akan masuk sebagai penumpang yang bekerja di atas kapal kargo. Tentu saja semuanya tidak berjalan dengan mulus. Dalam waktu relatif singkat Yorick ketahuan belangnya dan pada akhirnya ketiganya dibawa menghadap pada kapten Kilina.

Walaupun sempat panik pada awalnya, ketiganya kemudian tidak lagi khawatir ketika sadar bahwa Kilina tidak hendak berbuat jahat kepada Yorick. Bahkan keduanya dengan cepat menjadi teman baik karena memiliki hobi film dan literatur yang sama. Sekali lagi perjalanan mereka menuju Yokogata tidak bakalan semudah itu, karena selain ketiganya, ada penyelundup lain di kapal The Whale yang mereka tumpangi… dan Kilina bukanlah gadis kapten polos seperti yang diduga sebelumnya…

Salah satu plot terpenting dalam cerita empat bagian ini adalah dimunculkannya karakter Rose yang nantinya akan menjadi bagian dari trio utama cerita ini. Sebenarnya Vaughan sudah melakukan tugas yang cukup baik saat memperkenalkan Rose kepada pembaca. Menilik bagaimana mereka harus berkeliling dunia dan bagaimana Ciba harus tinggal menjaga anak baru lahir, Rose adalah tenaga tambahan yang diperlukan oleh grup Yorick. Agent 355 tidak bisa melulu melindungi Yorick dan Dr Mann bukan? Walaupun begitu, saya berharap supaya Rose bisa menambah dinamika dalam tim ini - tidak sekedar menjadi otot pembantu saja.

Selain Rose, plot cerita yang penting di sini (sekaligus kenapa judul ceritanya Girl on Girl) adalah bagaimana Agent 355 dan Dr Mann sempat melakukan kegiatan bercinta lesbian walau terpotong singkat gara-gara terpergok oleh Yorick. Walaupun Agent 355 semata-mata melakukannya karena libidonya yang memang tengah tinggi, adalah sebuah pengungkapan yang menarik ketika pembaca akhirnya tahu bahwa Dr Mann adalah seorang lesbian. Pengungkapan ini menambah kedalaman pada karakter Dr Mann, yang akhir-akhir ini terjebak pada stagnansi sebagai si dokter dan si judes dalam kelompok.

Akhir dari cerita Girl on Girl bisa dibilang merupakan bagian yang paling menarik darinya. Alih-alih menuju Yokogata, Yorick dan kawan-kawannya justru sampai pada benua Australia. Dan sebagaimana yang pembaca tahu, Australia adalah benua di mana Beth sang tunangan Yorick terakhir berada. Apakah nasib pada akhirnya akan mempertemukan kedua insan yang sudah terpisah lebih dari hampir setengah dekade ini? Jawaban dari pertanyaan tersebut sayangnya secara prematur dijawab sendiri oleh Vaughan dalam edisi ke 36, sebuah sempilan one-shot sebelum masuk pada jalan cerita berikutnya.

Walaupun ini bukan cerita terkuat dari Brian K. Vaughan maupun serial Y, setidaknya Girl on Girl masih cukup menarik buat diikuti dan memberikan banyak plot penting yang memperdalam para karakter di dalamnya.

Score: 7.5

Graphic Novel Details
Writer: Brian K. Vaughan
Artist: Goran Sudzuka
Publisher: Vertigo (DC Comics)
Volume: 32 - 36

Comments (0)

Tags: , , ,

Y: The Last Man (Volume Six: Hero’s Journey & Ring of Truth)

Posted on 21 May 2009 by Si Tukang Review

Sejak awal terbitnya Y, Brian K. Vaughan berjanji bahwa ia akan menjelaskan bagaimana terjadinya gendercide yang praktis memusnahkan semua jenis kelamin jantan di dunia. Hanya saja, Vaughan juga menggoda pembaca dengan sengaja menempatkan beberapa - bukannya satu - kemungkinan kenapa gendercide tersebut bisa terjadi. Nah, bagi fans komik Y, penyebab gendercide terjadi sering dijadikan bahan diskusi dan perdebatan di forum online. Salah satu kemungkinan paling terkenal adalah teori ilmiah yang dijelaskan oleh Vaughan dalam Ring of Truth.

Sebelum masuk ke story arc baru dari volume 28 sampai 31, di volume 27 kita lebih dulu dibawa untuk lebih mengenali karakter Hero Brown. Kalau diingat, pertama kali kita mengenal Hero di volume pertama ia masih seorang gadis suster yang sedikit playgirl. Apa yang terjadi setelah musibah? Kenapa ia menjadi salah satu dari anggota Daughter of Amazons? Dan apa yang terjadi setelah ia meloloskan diri dari penjara?

Setelah membeberkan latar belakang Hero dalam satu edisi one-shot, fokus kembali dibawa ke trio utama kita. Dalam sebuah insiden, kalung Yorik yang selama ini dipakai lepas dan dirampas oleh kelompok penyerang. Tanpa alasan, mendadak saja Yorick pucat dan jatuh sakit. Apakah kalung yang selama ini dipakai Yorick memiliki kekuatan magis yang melindunginya? Selagi memeriksa Yorick, Dr Mann justru menemukan apa yang mungkin menjadi penyebab Yorick berhasil selamat dan tetap survive selama ini.

Setelah story arc yang mengecewakan di Widow’s Pass, Vaughan seakan menebus dosa di sini. Hero’s Journey, walaupun one-shot, menjadi prolog pembuka bagi kisah Ring of Truth. Ia juga berfungsi memberi update apa yang terjadi pada Natalya dan para ilmuwan. Nah, Ring of Truth sendiri menarik berbagai unsur dari story arc-story arc sebelumnya. Karakter misterius yang mengintai Ampersand saat sang monyet berpetualang sendiri kali ini langsung mencegat rombongan Yorick - sekaligus menjanjikan adegan duel yang seru dengan Agent 355. Walau banyak adegan aksi, ada juga banyak momen emosional dalam volume ini, mulai dari pergumulan pribadi di kepala Hero, emosi campur-aduk diri Agent 355 mendengar Agent 711 terbunuh di akhir story arc Safewords. Bagiku pribadi, highlight dalam Ring of Truth adalah pertemuan kembali kakak beradik Brown. Kalau ada di antara kalian yang meragukan kenapa Pia Guerra disebut sebagai salah satu artis yang paling mampu menggambarkan ekspresi wajah - silahkan baca reuni antara Yorick dan Hero.

Aman rasanya untuk mengatakan bahwa volume tujuh kembali membawa Y pada puncak performanya. Vaughan sekali lagi berhasil mencampur unsur ilmiah (sci-fi), aksi, dan drama dalam satu petualangan yang mendebarkan. Berikutnya adalah petualangan Yorick ke negeri matahari terbit: Jepang. Kekisruhan apa lagi yang bakalan menghadang dalam perjalanan mereka ke sana?

Score: 8.9

Graphic Novel Details
Writer: Brian K. Vaughan
Penciller: Pia Guerra
Publisher: DC Comics (under Vertigo Imprints)
Volume: 26 - 31

Comments (0)

Tags: , , , ,

Y: The Last Man (Volume Three: One Small Step)

Posted on 16 April 2009 by Si Tukang Review

one-small-step-cover

Sampai di story arc ketiganya, saya bertanya kepada diri saya sendiri. Apa yang menjadikan Y tidak kehilangan daya tariknya? Apa yang menjadikan Y kian dalam dan kian menarik? Jawabannya mungkin hadir dalam konsistensi penulis dan penggambarnya. Penulisan cerita serta dialog tajam dari Vaughan (”If you ever tell your mother about this, I’ll kill you myself” membuat saya tertawa terbahak-bahak) berhasil dihidupkan adegan demi adegannya oleh Pia Guerra.

Perlu diketahui dalam industri komik Amerika bahwa tim kreatif sebuah komik tidak selalu sama. Ambil contoh Spider-man. Sejak diciptakan oleh Stan Lee puluhan tahun lampau, tidak terhitung berapa banyaknya penulis dan artis yang sudah menghelmi komik ini. Walhasil, terkadang komik seakan kehilangan arahnya. Contoh paling jelas terjadi saat alur cerita One More Day. Semua sejarah Spider-man selama enam tahun terakhir mendadak saja direboot ulang karena dianggap tidak lagi pas dengan pembaca jaman sekarang. Hal yang sama tidak akan terjadi pada Y karena ia sudah diplot sepanjang 60 edisi, bahkan Vaughan sudah menuliskan endingnya ketika edisi pertama diterbitkan.

Nah, story arc ketiga yang berjudul One Small Step ini membuka tabir baru. Yorick memang manusia terakhir di bumi, tetapi ia bukan manusia terakhir di antariksa. Di luar angkasa, masih tersisa dua orang astronot Amerika, dan seorang kosmonot Rusia. Berita menggembirakannya adalah dua di antara mereka adalah pria! Dalam perjalanan mereka, Yorick, Agent 355, dan Dr Mann tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis Russia bernama Natalya Zamyatin. Ternyata Natalya - sebagaimana halnya Agent 355 - adalah seorang agen rahasia dari negeri Russia. Ia dikirim untuk mengambil kembali sang kosmonot dari negerinya.

Merasa beban beratnya sebagai manusia terakhir di bumi hilang, Yorick dan kedua rekannya memutuskan untuk menemani Natalya menjemput ketiga penjelajah antariksa itu dan menuju ke posisi pendaratannya. Satu hal yang tidak diduga keempatnya adalah ibu Yorick menyangka bahwa anaknya diculik dan menghubungi para tentara Israel untuk mengambil kembali anaknya. Para tentara Israel kini menjadi pasukan tertangguh di dunia karena para wanitanya sudah biasa dikirim ke medan perang, berbeda dengan para tentara wanita Amerika yang jarang maju ke medan perang sendiri. Yang lebih tidak terduga lagi adalah Alter - pemimpin tentara Israel ini tidak hanya memburu Yorrick untuk dikembalikan kepada ibunya - tetapi juga untuk membiakkan dan mengembalikan kejayaan bangsa Israel.

Walau berfokus pada dua cerita utama di atas, Vaughan tidak lupa menyisipi berbagai elemen untuk menjadikan ceritanya kian hidup. Beberapa contoh sederhananya seperti beberapa gadis mencoba mencari untung dengan merubah diri sebagai cowo. Atau kondisi negara Russia dan Israel selepas mereka kehilangan para cowo di negeri mereka. Memang pembaca tidak dibawa melihat adegan-adegan itu tetapi dialog-dialog yang terjadi antar para karakter membantu kita lebih memahami apa yang terjadi di dunia di luar Amerika.

Sekali lagi, Y: The Last Man membuktikan dirinya sebagai graphic novel yang berkualitas. Saya sudah katakan ini, dan saya akan katakan sekali lagi: jangan lewatkan serial ini.

Score: 9.5

Comic Details
Writer: Brian K. Vaughan
Penciller: Pia Guerra
Publisher: DC Comics (under Vertigo Imprints)
Volume: 11 - 15

Comments (0)

Tags: , , , ,

Y: The Last Man (Volume One: Unmanned)

Posted on 08 April 2009 by Si Tukang Review

y-the-last-man-unmanned

Tanpa peringatan apapun, mendadak sebuah wabah menjangkiti seluruh dunia. Wabah ini langsung membunuh setiap mamalia yang memiliki kromosom Y. Itu berarti semua spesies jantan di bumi langsung musnah seketika itu juga. Satu (dua) perkecualian terjadi pada diri Yorick Brown, seorang pesulap yang spesialis melepaskan diri dari kurungan (escape artist) beserta monyet peliharaannya Ampersand.

Tema yang diangkat oleh serial yang digawangi Brian K. Vaughan dan Pia Guerra adalah “bagaimana jadinya dunia ini tanpa spesies laki-laki yang dianggap sebagai spesies dominan / unggul?“. Ironis juga melihat bagaimana dunia walau sudah beberapa dekade mengakui persamaan hak pria dan wanita, masih begitu dianak-tirikan. Setelah edisi pertama yang menunjukkan detail sebelum dan saat terjadinya wabah, edisi kedua dan selanjutnya mulai membentuk sebuah dunia bebas pria. Vaughan berusaha secara mendetail untuk menggambarkan dunia dari mata Yorick Brown dan dua temannya.

Selain Yorick dan Ampersand, karakter utama lain dalam serial ini adalah Agent 355 dan Doctor Allison Mann. Dua bulan setelah wabah terjadi, Yorick berhasil sampai ke Washington, ia menemui ibunya (mantan senator yang kini menjadi presiden) dan ngotot untuk pergi ke Australia demi bertemu tunangannya Beth DeVille yang tertinggal di sana. Ibunya menolak dan meminta Agent 355 untuk menjaga Yorick dan membawanya kepada Doctor Allison Mann, ahli genetik terakhir yang ketika wabah terjadi berhasil mengkloning dirinya sendiri.

Yang membuat Y: The Last Man begitu menarik bukan hanya hadir dari idenya yang kreatif dan orisinil, tetapi juga pada karakterisasinya. Vertigo memang dikenal dengan banyak graphic novel untuk orang dewasa, tetapi kebanyakan bertema fantasi (Fables, Sandman, Lucifer). Y berbeda dengan mereka, ini sebuah graphic novel yang bersetting di dunia yang kita kenal, tahu dan mengerti: sebuah dunia yang realistis. Karakter seperti Yorick, Agent 355, sampai Allison Mann langsung hadir sebagai karakter yang bisa kita suka dan benci di saat yang bersamaan. Agent 355 misalnya memberi saya kesan seperti Sayid Al Jarrahnya Lost. Dia seorang mercenary yang kamu ingin ada di sampingmu untuk melindungi kalau ada bahaya yang terjadi. Sebaliknya Dr Mann yang sirik dan pesimistis terhadap dunia suka bertengkar dengan Yorick yang merasa dunia ini selalu gelas setengah penuh. Interaksi ketiganya membuat jalan cerita terasa lebih hidup dan tidak seberapa serius dan kelam.

Tentu saja untuk keberhasilan pembangunan karakter dan dunia ini, tentu saja pujian harus diberikan kepada Brian K. Vaughan sebagai sang penulis. Dialog dan banter-banter yang diucapkan para karakter mampu memberikan gambaran seperti apa kira-kira pribadi para karakter tersebut. Walau masih terlihat mentah di volume pertama ini, penggambaran dasar ini akan semakin dimatangkan oleh Vaughan di volume-volume berikutnya. Tentunya artwork Pie Guerra tidak boleh dilupakan. Guratan realis raut muka para karakter ia lakukan dengan begitu ekspresif. Untuk membuktikan betapa nyeninya Guerra, coba amati ending dari volume ini. Untuk pertama kali saya melihat analogi dialog dan artwork yang membaur dengan begitu pas.

Unmanned sampai saat ini merupakan story arc opening graphic novel terbaik yang pernah saya baca. Karena cerita inilah saya jadi keterusan membaca dan mengikuti serial Y - The Last Man. Hal yang sama bisa juga terjadi kepada anda!

Score: 9.6

Comic Details
Writer: Brian K. Vaughan
Penciller: Pia Guerra
Publisher: DC Comics (under Vertigo Imprints)
Volume: 1 - 5

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here