Tag Archive | "Alice"

Tags: , , , , , ,

The Imaginarium of Dr Parnassus

Posted on 30 March 2010 by Si Tukang Review

The Imaginarium of Dr Parnassus Poster

The Imaginarium of Dr Parnassus Poster

Bagi kebanyakan orang (termasuk saya), penampilan Heath Ledger yang terbaik adalah saat ia menjadi The Clown Prince of Crime di kota Gotham dalam film The Dark Knight. Tetapi itu bukanlah peran terakhirnya. Sebelum ia meninggal dunia di New York, Heath Ledger sebenarnya tengah dalam syuting film terbarunya Terry Gilliam yang berjudul The Imaginarium of Dr Parnassus. Setelah meninggalnya Ledger, sang sutradara yang sudah lama dikenal dengan cita rasanya yang nyentrik ketika menyutradarai film menganggap kalau film ini mungkin sudah ‘berakhir’. Para investorpun tadinya tidak berani melanjutkan film ini karena besarnya peran Ledger dalamnya.

Bisa dibilang keajaiban kemudian terjadi. Para sahabat Heath Ledger kemudian menawarkan diri untuk ambil peran dalam film ini menggantikan Ledger. Tidak tanggung-tanggung, nama-nama kondang seperti Johnny Depp, Jude Law, dan Colin Farrell menjadi pengganti sosok Ledger ketika ada di dalam dunia Imaginarium. Sebagaimana judulnya, Terry Gilliam membawa kita ke dalam dunia imajinasinya. Sulit sekali menggambarkan cerita Dr Parnassus dalam kata-kata karena Terry Gilliam sendiri tidak dikenal sebagai sutradara yang konvensional. Yah, saya akan coba sebisa mungkin meringkasnya tanpa membeberkan terlalu banyak spoiler.

Rombongan penghibur Dr Parnassus, terdiri dari Parnassus, anak gadisnya Valentina, anak angkatnya Anton, dan si manusia kerdil Percy berkelana dari satu ke lain tempat untuk menghibur orang dan mengundang mereka masuk ke dalam dunia di balik cermin. Dunia di balik cermin itu difasilitasi oleh Dr Parnassus, tetapi apa yang ada di dalamnya akan berubah-ubah, tergantung dari visi dan imajinasi dari orang yang bersangkutan. Di dalamnya, seseorang akan diperbolehkan memilih dua keputusan, yang satu akan membuat jiwa mereka ditawan setan sementara yang satu akan membawa mereka kembali ke dunia nyata dan mendapat pembaharuan.

Suatu hari di tengah perjalanan, rombongan tersebut menemukan seorang pria yang gantung diri. Setelah ditolong, pria yang kemudian diketahui bernama Tony Shepard itu membantu Parnassus untuk pertunjukannya.

PERHATIAN: (SPOILER)

Penonton kemudian akan tahu bahwa Parnassus pernah mengadakan perjanjian dengan sang iblis sebelumnya. Karena menang dalam pertaruhan dengan sang iblis, Parnassus mendapatkan kehidupan abadi yang kini ia kutuki dan sesali. Sang iblis datang kembali dengan iming-iming taruhan kedua. Parnassus yang jatuh cinta diberi upah kemudaannya supaya bisa memikat gadis impiannya dengan syarat anak hasil cinta mereka berdua diserahkan kepada iblis saat berusia 16 tahun. Kini Valentina hampir berusia 16 tahun dan iblis (lagi-lagi) mengajukan sebuah taruhan. Apabila orang yang memilih masuk dalam dunia imajinasi memilih pembaharuan, satu poin untuk Parnassus. Sebaliknya bila jatuh pada godaan, satu poin untuk iblis. Siapa yang lebih dahulu dapat lima poin (jiwa), maka dialah yang menang.

(SPOILER END)

Apabila ceritanya kalian anggap sulit diikuti, bahkan terkadang tidak masuk akal maka kalian tidak sendiri. Jangankan kalian, banyak studio sebenarnya sangat ragu untuk mendanai film-filmnya Gilliam yang dianggap kelewat nyeni untuk selera umum. Praktis film bernada komersial yang pernah digarapnya terakhir adalah The Brothers Grimms (juga dibintangi Heath Ledger). Dan kali ini pun, Gilliam tidak pasang rem dalam menampilkan dunianya. Lupakan Alice in Wonderland. Alih-alih sekedar pamer efek dan 3D, dunia fantasi film ini nampak begitu hidup dan… (maaf) imajinatif. Bahkan silih berganti antara dunia nyata dan dunia fantasi terasa sangat smooth karena desain dunia nyatanya yang artistik. Sempat beberapa menit pertama film ini membuat saya terbengong tak memperhatikan cerita karena mendapatkan orgasme mata dengan kecantikan visualnya.

Dan itu semua diperkuat oleh deretan penampilan bintang di film ini. Heath Ledger mungkin tak sepiawai dirinya sebagai Joker, tetapi melihat dirinya pada penampilan terakhir membuatku terharu dan trenyuh. Ledger masih luar biasa menampilkan sosok Tony yang ada pada zona abu-abu moral film ini. Tiga penggantinya juga tidak bisa diremehkan. Masing-masing membawa pesona mereka sendiri ke layar, tetapi semuanya saling melengkapi, bukan saling pamer akting mereka. Siapa yang terbaik antara Depp, Law, dan Farrell? Penilaian setiap orang kurasa berbeda-beda. Sekedar catatan saja, penampilan singkat Depp di film ini justru lebih berkesan di hatiku ketimbang kemunculannya sebagai si Mad Hatter.

Walau film ini mungkin mendapatkan perhatian karena kematian Heath Ledger, saya justru paling kagum dengan akting Christopher Plummer dan Tom Waits selaku Dr Parnassus dan sang iblis. Christopher Plummer menunjukkan kegalauan Parnassus yang sudah bosan dengan keabadiannya dan letih dengan kehidupan itu sendiri, sementara Tom Waits selalu sukses mencuri perhatianku tiap kali ia muncul di layar. Lihat senyum, gerak-geriknya, tipu muslihatnya, semuanya mencerminkan sosok iblis yang selalu menggoda kita dengan cara yang sangat halus.

So my verdict is… sebelum menontonnya saya bingung kenapa film ini gagal di pasaran Amerika, bukankah ini film terakhirnya Heath Ledger? Setelah menontonnya, saya baru sadar bahwa ini adalah sebuah film yang antara kamu benci atau cinta. Semuanya kembali pada apakah daya imajinasimu selaras atau tidak dengan Terry Gilliam? Saya? I love it!

Note: Johnny Depp, Colin Farrell, dan Jude Law semuanya sepakat menyumbangkan imbalan yang mereka terima dalam film ini untuk Mathilda, anak dari Heath Ledger yang tidak sempat dimasukkan dalam wasiat terakhir mendiang.

Score: 8.5

Movie Details
Director: Terry Gilliam
Cast: Heath Ledger, Christopher Plummer, Lily Cole, Tom Waits, Johnny Depp, Colin Farrell, Jude Law
Running Time: 123 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , , , , ,

Alice In Wonderland (2010)

Posted on 07 March 2010 by Si Tukang Review

Alice In Wonderland (2010) Poster

Alice In Wonderland (2010) Poster

Kisah Alice’s Adventure in Wonderland dan Through the Looking Glass karya Lewis Caroll’s sudah berusia lebih dari satu abad tetapi masih dianggap sebagai salah satu karya literatur yang penting hingga kini. Entah sudah berapa film yang mengangkat kisah ini, yang paling terkenal di antaranya mungkin film animasi karya Studio Disney di tahun 1951 dulu. Ketika wacana untuk menggarap lagi Alice in Wonderland dalam versi live-action bercampur animasi CG di bawah arahan Tim Burton terkuak, saya langsung memasukkan film tersebut pada daftar film yang harus ditonton tahun ini. Tambahan lagi Mad Hatter bakalan diperankan oleh salah seorang aktor paling berbakat generasi ini: Johnny Depp.

Film ini bisa dibilang merupakan sekuel dari kisah Alice in Wonderland yang kita kenal. Setelah perjalanannya ke Wonderland dulu, Alice tidak lagi bisa mengingatnya secara pasti (wajar karena dia masih anak kecil saat itu). Selama bertahun-tahun sampai dewasa ia hanya mengingat petualangannya itu saat memimpikan hal yang sama berulang-ulang. Di usianya yang ke19, Alice dilamar oleh seorang aristokrat. Alih-alih menjawab pinangannya, Alice justru melihat sosok kelinci putih yang langsung ia kejar… dan ia pun kembali masuk ke dunia Wonderland.

Akan tetapi dunia Wonderland yang ia singgahi kini tidak sama dengan dulu. Sang Red Queen yang kejam kini menguasai hampir seluruh dunia dengan mengandalkan monster Jabberwocky. Dengan menyebarkan teror dan berkuasa ala diktator, Red Queen menancapkan kuku pengaruhnya ke hampir seluruh dunia di mana pertahanan terakhir digalang oleh White Queen, adik dari Red Queen. Ketika Alice sampai di dunia itu, ia menggenapi sebuah ramalan yang mengatakan bahwa dialah pilihan yang akan mengalahkan Jabberwocky dan menghentikan rezim kejam Red Queen. Tapi apakah Alice bisa melakukannya sedangkan dia saja menganggap ia hanya mengalami mimpi buruk yang berkepanjangan?

Saya menganggap kalau langkah pendekatan yang dilakukan oleh Tim Burton untuk film ini sudah tepat. Pertama; dunia Wonderland adalah salah satu dunia paling ajaib yang tercipta dalam kata. Walaupun Wonderland sejati adalah yang menari di benak kita ketika membaca karya klasik Lewis Caroll, saya merasa bahwa sutradara Tim Burton orang yang paling tepat untuk menghidupkan fantasi itu ke layar lebar. Dan untuk itu Tim Burton memang tidak mengecewakan. Ia pernah membuatku tercengang lewat Charlie and the Chocolate Factory, dan ia melakukannya lagi lewat Alice in Wonderland. Atensinya terhadap detail mengagumkan dan setiap shoot akan Wonderland adalah sebuah makanan sedap bagi mata moviegoers sekalian. Di sisi lain, banyak yang mengatakan bahwa film ini tidak perlu ditonton dalam versi 3D untuk mengapresiasinya.

Kedua; untuk menghindari cerita yang sudah familiar di mata penonton, Tim Burton merombak dan menjadikan film ini sekuel dari karya literaturnya. Saya tahu bahwa mungkin para purist tidak setuju dengan hal ini, tetapi saya sih oke-oke saja. Asal tahu saja, karya Lewis Caroll itu disebut sebagai “literary nonsense” yang tidak memiliki awal dan akhir cerita yang jelas. Mungkin itu bisa sukses dalam bentuk tulisan tapi siapa orang yang mau nonton sebuah film tanpa juntrungan (baca: arahan) selama dua jam? Jelas bukan saya. Dengan meletakkan kisah ini sebagai sekuel, Tim Burton memiliki kebebasan mengarahkan cerita baru dalam asetnya yang paling berharga: tanah Wonderland. Ironisnya, di sini jugalah Tim Burton gagal. Seperti film-filmnya yang saya tonton sebelumnya, Burton kerap mementingkan style dibandingkan substance dari filmnya. Penonton diajak untuk berdecak kagum akan latar setting dunianya tapi hambar dari sisi ceritanya.

Bahkan para aktor-artis yang berperan dalam film ini pun tidak bisa menolong banyak. Mia Wasikowska sebagai sang Alice rasanya datar dan kurang terasah aktingnya. Lebih lagi saya kecewa melihat dia sebagai Alice yang pemurung dan kurang ceria. Bagaimana dengan Johnny Depp yang terus dikedepankan di setiap promonya? Well, to be honest, he’s still Depp… in a bizarre way. Kalau kalian menonton akting Depp di sini… ya seperti Depp di peran-peran sintingnya yang lain. Di 2003 lalu saya terhentak melihat dia sebagai Jack Sparrow. Setelah trilogi film Pirates of the Caribbean dan Charlie and the Chocolate Factory, saya rasa saya sudah kebal dengan akting nyentriknya Depp. Pada akhirnya, saya akan meringkas penampilan Depp sebagai Mad Hatter sebagai Mr Wonka… hanya dengan tingkat keedanan yang dilipat gandakan. Bagus atau tidaknya penampilan itu tergantung dari apakah kamu fans dari Mr Depp atau tidak. Saya juga tidak terlalu sreg dengan penampilan tiap karakter lain, baik CG (Red Queen-nya Helena Bonham Carter) maupun live-action (White Queen-nya Anne Hathaway) yang sikapnya terlalu berlebihan. Ada garis batas antara karakter yang unik dan karakter yang aneh. Bukankah film ini berjudul Alice in Wonderland – bukan Alice in Asylum?

So my verdict is… I’ll sum Alice in Wonderland in one sentence: The world is memorable but the inhabitants are forgettable.

Score: 6.5

Movie Details
Director: Tim Burton
Cast: Mia Wasikowska, Johnny Depp, Anne Hathaway, Helena Bonham Carter
Running Time: 109 Minutes

Comments (12)

Advertise Here
Advertise Here