Bagi kebanyakan orang (termasuk saya), penampilan Heath Ledger yang terbaik adalah saat ia menjadi The Clown Prince of Crime di kota Gotham dalam film The Dark Knight. Tetapi itu bukanlah peran terakhirnya. Sebelum ia meninggal dunia di New York, Heath Ledger sebenarnya tengah dalam syuting film terbarunya Terry Gilliam yang berjudul The Imaginarium of Dr Parnassus. Setelah meninggalnya Ledger, sang sutradara yang sudah lama dikenal dengan cita rasanya yang nyentrik ketika menyutradarai film menganggap kalau film ini mungkin sudah ‘berakhir’. Para investorpun tadinya tidak berani melanjutkan film ini karena besarnya peran Ledger dalamnya.
Bisa dibilang keajaiban kemudian terjadi. Para sahabat Heath Ledger kemudian menawarkan diri untuk ambil peran dalam film ini menggantikan Ledger. Tidak tanggung-tanggung, nama-nama kondang seperti Johnny Depp, Jude Law, dan Colin Farrell menjadi pengganti sosok Ledger ketika ada di dalam dunia Imaginarium. Sebagaimana judulnya, Terry Gilliam membawa kita ke dalam dunia imajinasinya. Sulit sekali menggambarkan cerita Dr Parnassus dalam kata-kata karena Terry Gilliam sendiri tidak dikenal sebagai sutradara yang konvensional. Yah, saya akan coba sebisa mungkin meringkasnya tanpa membeberkan terlalu banyak spoiler.
Rombongan penghibur Dr Parnassus, terdiri dari Parnassus, anak gadisnya Valentina, anak angkatnya Anton, dan si manusia kerdil Percy berkelana dari satu ke lain tempat untuk menghibur orang dan mengundang mereka masuk ke dalam dunia di balik cermin. Dunia di balik cermin itu difasilitasi oleh Dr Parnassus, tetapi apa yang ada di dalamnya akan berubah-ubah, tergantung dari visi dan imajinasi dari orang yang bersangkutan. Di dalamnya, seseorang akan diperbolehkan memilih dua keputusan, yang satu akan membuat jiwa mereka ditawan setan sementara yang satu akan membawa mereka kembali ke dunia nyata dan mendapat pembaharuan.
Suatu hari di tengah perjalanan, rombongan tersebut menemukan seorang pria yang gantung diri. Setelah ditolong, pria yang kemudian diketahui bernama Tony Shepard itu membantu Parnassus untuk pertunjukannya.
PERHATIAN: (SPOILER)
Penonton kemudian akan tahu bahwa Parnassus pernah mengadakan perjanjian dengan sang iblis sebelumnya. Karena menang dalam pertaruhan dengan sang iblis, Parnassus mendapatkan kehidupan abadi yang kini ia kutuki dan sesali. Sang iblis datang kembali dengan iming-iming taruhan kedua. Parnassus yang jatuh cinta diberi upah kemudaannya supaya bisa memikat gadis impiannya dengan syarat anak hasil cinta mereka berdua diserahkan kepada iblis saat berusia 16 tahun. Kini Valentina hampir berusia 16 tahun dan iblis (lagi-lagi) mengajukan sebuah taruhan. Apabila orang yang memilih masuk dalam dunia imajinasi memilih pembaharuan, satu poin untuk Parnassus. Sebaliknya bila jatuh pada godaan, satu poin untuk iblis. Siapa yang lebih dahulu dapat lima poin (jiwa), maka dialah yang menang.
(SPOILER END)
Apabila ceritanya kalian anggap sulit diikuti, bahkan terkadang tidak masuk akal maka kalian tidak sendiri. Jangankan kalian, banyak studio sebenarnya sangat ragu untuk mendanai film-filmnya Gilliam yang dianggap kelewat nyeni untuk selera umum. Praktis film bernada komersial yang pernah digarapnya terakhir adalah The Brothers Grimms (juga dibintangi Heath Ledger). Dan kali ini pun, Gilliam tidak pasang rem dalam menampilkan dunianya. Lupakan Alice in Wonderland. Alih-alih sekedar pamer efek dan 3D, dunia fantasi film ini nampak begitu hidup dan… (maaf) imajinatif. Bahkan silih berganti antara dunia nyata dan dunia fantasi terasa sangat smooth karena desain dunia nyatanya yang artistik. Sempat beberapa menit pertama film ini membuat saya terbengong tak memperhatikan cerita karena mendapatkan orgasme mata dengan kecantikan visualnya.
Dan itu semua diperkuat oleh deretan penampilan bintang di film ini. Heath Ledger mungkin tak sepiawai dirinya sebagai Joker, tetapi melihat dirinya pada penampilan terakhir membuatku terharu dan trenyuh. Ledger masih luar biasa menampilkan sosok Tony yang ada pada zona abu-abu moral film ini. Tiga penggantinya juga tidak bisa diremehkan. Masing-masing membawa pesona mereka sendiri ke layar, tetapi semuanya saling melengkapi, bukan saling pamer akting mereka. Siapa yang terbaik antara Depp, Law, dan Farrell? Penilaian setiap orang kurasa berbeda-beda. Sekedar catatan saja, penampilan singkat Depp di film ini justru lebih berkesan di hatiku ketimbang kemunculannya sebagai si Mad Hatter.
Walau film ini mungkin mendapatkan perhatian karena kematian Heath Ledger, saya justru paling kagum dengan akting Christopher Plummer dan Tom Waits selaku Dr Parnassus dan sang iblis. Christopher Plummer menunjukkan kegalauan Parnassus yang sudah bosan dengan keabadiannya dan letih dengan kehidupan itu sendiri, sementara Tom Waits selalu sukses mencuri perhatianku tiap kali ia muncul di layar. Lihat senyum, gerak-geriknya, tipu muslihatnya, semuanya mencerminkan sosok iblis yang selalu menggoda kita dengan cara yang sangat halus.
So my verdict is… sebelum menontonnya saya bingung kenapa film ini gagal di pasaran Amerika, bukankah ini film terakhirnya Heath Ledger? Setelah menontonnya, saya baru sadar bahwa ini adalah sebuah film yang antara kamu benci atau cinta. Semuanya kembali pada apakah daya imajinasimu selaras atau tidak dengan Terry Gilliam? Saya? I love it!
Note: Johnny Depp, Colin Farrell, dan Jude Law semuanya sepakat menyumbangkan imbalan yang mereka terima dalam film ini untuk Mathilda, anak dari Heath Ledger yang tidak sempat dimasukkan dalam wasiat terakhir mendiang.
Score: 8.5
Movie Details
Director: Terry Gilliam
Cast: Heath Ledger, Christopher Plummer, Lily Cole, Tom Waits, Johnny Depp, Colin Farrell, Jude Law
Running Time: 123 Minutes









