Tag Archive | "Addiction"

Tags: , , , , ,

Efek Negatif Video Game

Posted on 13 December 2009 by Si Tukang Review

(Artikel Ditulis Di Tahun 2007)

NEGATIVE EFFECTS OF VIDEO GAME
- this generation brainwasher? -

negative-effect-pic

Grand Theft Auto IV went on sale in stores around the world at 12:01 a.m. this morning, and already reports of criminal midnight launch madness are starting to filter in. BBC News is reporting on a pair of incidents, with news of a stabbing outside a Gamestation in Croydon and a mugging by another game store in Lancashire.
- Gamespot.com -

Ketika saya membaca berita di atas saya terkejut. Betapa berubahnya dunia dan industri video game dari apa yang saya ingat dulu. Seingat saya dulu video game selalu diasosiasikan dengan dua hal: Mario melompat-lompat dan anak kecil. Hal ini menggelitik saya untuk menggali lebih lanjut dan menggarap artikel mengenai efek-efek negatif yang bisa ditimbulkan dari bermain video game.

Catatan Penulis:
Sebagai pembukaan saya hendak mengatakan kalau saya adalah seorang gamer semenjak usia lima tahun. Saya ingat ketika ayah saya pertama kali membelikan saya game Super Mario dan Contra. Saya ingat bagaimana saya merengek meminta orang tua saya membelikan saya Super Nintendo dan Sony Playstation. Bahkan hingga kini di Beijing, Nintendo DS dan PSP senantiasa mendampingi saya untuk memenuhi kebutuhan gaming saya. Intinya: artikel yang saya garap ini berasal dari sudut pandang seorang gamer. Saya bukan seorang yang tidak tahu mengenai game dan berusaha sembarangan menuduh bahwa video game itu buruk – sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa pihak. Selamat membaca!

Dalam artikel ini, saya membagi efek negatif dalam bermain video game menjadi tiga macam; apa saja itu? Read along!

PORNOGRAFI

Oi” panggil teman saya suatu hari “Datang deh ke rumah gw. Ada game baru super seru nih!
Mengingat saya memang seorang penggemar game, saya langsung mendatangi rumah teman saya. Ketika saya melihat ke layar TV widescreennya, mata saya terbelalak. Betapa tidak? Yang ada di hadapan saya adalah dua gadis (model 3D) berbikini yang tengah bergulat di dalam lumpur.
Sinting kan? Ini game barunya Konami nih! Namanya Rumble Roses! Seru bok! Ada berbagai jenis cewe cakep buat diajak bergulat – gw lagi nelponin anak-anak lain ni. Kita bikin turnamen gulat cewe-cewe seksi yuk!” seloroh teman saya. Saya hanya mengangguk-angguk tanpa memperhatikan apa kata-katanya. Mata saya terpaku pada dua gadis di layar TV yang terus bergulat satu sama lain.

Pornografi. Ya, itulah salah satu hal yang sekarang menjadi efek negatif utama dalam game-game masa kini. Seiring dengan makin majunya teknologi, makin realistis jugalah gadis-gadis model 3D. Ingat ketika pada tahun 2001 film Final Fantasy The Spirits Within dulu menggemparkan jagad perfilman karena kerealistisnya? Kini, grafis semacam itu sudah menjadi standar yang bisa ditemui pada kebanyakan game-game Playstation. Contoh lain adalah game seperti Dead or Alive Volleyball. Semua orang tahu bahwa permainan voli dalam game ini hanyalah alasan untuk membalut isi sesungguhnya dalam game ini. Pada kenyataannya: Dead or Alive Volleyball adalah sebuah game di mana gadis-gadis model 3D berperan dalam adegan-adegan ala model!

ADDICTION

Bermain game bisa menjadi sebuah pengalaman yang adiktif. Ingat ketika game Ragnarok Online memulai demam game online di seluruh Indonesia empat tahun silam? Saya ingat. Ketika itu demi meningkatkan kekuatan karakternya, mendapatkan item-item khusus guna menjadikan sang karakter unik dan lain daripada yang lain, sampai menjadikan karakternya memiliki banyak uang; orang menjadi seakan kesurupan memainkan game online. Ada orang yang memainkan game online selama berpuluh-puluh jam non-stop; di Korea ada seorang gamer meninggal setelah bermain game 50 jam non-stop. Di Indonesia sendiri, guru-guru SMU di kotaku sampai turun tangan ke warnet untuk mengecek apakah murid mereka sedang bermain di sana. Maklum saja, pernah suatu hari hanya ada 25 dari 42 orang masuk di kelasku. 17 yang lainnya? Di warnet, membuat kompetisi antar gamer untuk mempertahankan ‘markas’ mereka dari serangan gamer lain.

Seakan-akan bermain saja tidak cukup, terjadi transaksi di dunia nyata mengenai game online ini. Saya ingat bahwa teman-teman saya yang kekurangan uang di dunia game membeli uang dari dunia nyata! Sempat ketika Ragnarok Online mengalami masa paling populer 100 Ribu uang di dunia Ragnarok sama dengan 100 Ribu Rupiah!

ANARCHY AND VIOLENCE

…dan ini mungkinlah kontroversi terpanjang dunia video game. Di tahun 1992 dulu orang tua ramai-ramai memprotes game Mortal Kombat – salah satu game tersadis pada jamannya – mana lagi game yang membiarkan anda merobek jantung lawan anda atau mencacah lawan anda sampai menjadi potongan-potongan kecil? Toh, protes dan efek-efek itu hanya bisa menghentikan kekerasan dalam video game untuk sejenak.

Bicara soal anarkisme dan kekerasan dalam video game, tidak mungkin tidak membicarakan Rockstar Games. Rockstar adalah perusahaan terbesar industri video game saat ini; sesungguhnya game yang dirilis olehnya tidak banyak tapi semuanya mendapatkan perhatian khusus dari media massa. Bully contohnya, adalah sebuah game yang memposisikan anda sebagai seorang anak preman di sekolah anda. Tujuan anda adalah menjadi preman penguasa sekolah dan anda dihalalkan memakai semua cara. Dan yang saya maksud semua di sini termasuk membenamkan kepala anak-anak yang tidak menuruti perintah anda dalam WC, mempermainkan guru-guru yang tidak menyukai anda, sampai secara bebas tawuran! Toh, setiap gamer yang mendengar nama Rockstar pasti akan mengasosiasikannya dengan Grand Theft Auto (GTA). Serial ini adalah franchise terbesar di industri video game modern. Serial keempatnya yang baru dirilis penjualannya dalam waktu sehari mencapai angka 310 Juta USD. Sebagai perbandingan: Spider-man 3 yang adalah film terlaris tahun lalu ‘hanya’ mencatat angka 330 Juta USD sepanjang masa pemutarannya di bioskop Amerika.

Sayangnya, seri GTA ini banyak dikritik oleh banyak pihak karena dianggap menawarkan anarkisme dan kekerasan. Kok bisa? Well, GTA adalah sebuah game yang bebas. Bebas di sini adalah anda ditempatkan dalam sebuah kota yang hidup dan anda bisa melakukan apapun yang anda inginkan. Menghadang mobil orang dan mencurinya? Boleh. Menggunakan mobil curian anda menggilas para pejalan di trotoar yang tidak tahu menahu? Silahkan. Menggunakan flamethrower membobol bank dan membakar para polisi yang berisik mengejar anda? Tentu saja. Atau menjual heroin dengan menyamarkan mobil anda sebagai mobil jualan es krim? Ide brilian!

Berdasarkan penjelasanku di atas, nampaknya jelas bukan kenapa banyak politisi dan bahkan beberapa pendeta gereja turun tangan mencela game GTA? Apakah ada di antara mereka yang berhasil? Jawabannya: tidak.

Closing Comment
“Efek negatif tidak hanya ada pada dunia video game”. Itulah alasan yang selalu dikemukakan oleh para gamer ketika dituduh hobinya memiliki efek negatif. Efek kekerasan atau anarki? Film macam Die Hard atau Transformers juga banyak meledakkan bangunan di sana-sini! Efek pornografi? Bukankah ada film-film XXX yang bebas diunduh dari internet? Lantas kenapa harus video game yang dikambinghitamkan?

Pada kenyataannya, memainkan game memiliki efek pengaruh psikologi yang lebih besar sekedar menonton film atau mendengar musik. Kenapa? Beberapa penelitian psikologi menyatakan bahwa menonton film atau mendengar musik menempatkan penonton / pendengar pada posisi pasif; sedangkan dalam game, gamer ditempatkan dalam posisi aktif.

Lantas apakah memang game-game macam GTA, Rumble Roses, sampai Ragnarok Online itu buruk? Bagi saya, jawabannya kembali pada diri kita masing-masing. GTA adalah salah satu game favorit saya sepanjang masa. Apa mungkin dunia nyata mengijinkan saya mencuri mobil orang, menabrakkannya pada mobil-mobil lain lantas meledakkannya di depan markas polisi untuk membuat onar? Tapi apakah saya melakukannya karena saya seorang psikopat sinting? Bagi saya, GTA hanyalah sekedar sarana escapism yang pas buat menyalurkan imajinasi-imajinasi liar saya, dan menilik penjualan GTAIV yang mencetak rekor; saya rasa saya tidak sendiri. Yang penting adalah anda tidak mengaplikasikan apa yang anda lakukan di video game di dalam dunia nyata.

Be responsible. Play safe.

By: Si Tukang Review (a true gamer in life and heart)

Comments (5)

Advertise Here
Advertise Here