Tag Archive | "Ace Attorney"

Tags: , , , , , , , , ,

Ace Attorney Investigations: Miles Edgeworth

Posted on 15 March 2010 by Si Tukang Review

Ace Attorney Investigations: Miles Edgeworth DS Cover

Ace Attorney Investigations: Miles Edgeworth DS Cover

Game keempat serial Ace Attorney, Apollo Justice kelihatannya tidak mendapatkan sambutan seratus persen positif dari kalangan gamer. Saya sendiri termasuk pihak yang menyayangkan perubahan drastis yang diambil Capcom pada game tersebut. Banyak sekali karakter favorit lama saya hilang, dan bahkan Phoenix yang tampil sebagai mentor di game sikapnya jauh berbeda dengan pada trilogi awalnya. Walau game ini meraih penilaian tinggi dari majalah Famitsu dan situs-situs game lain sekaligus menjadi game Gyakuten Saiban terlaris, Capcom menjadi ragu untuk memajukan proyek Apollo Justice lebih lanjut. Sangat mungkin ini menaruh mereka dalam dilema. Di satu pihak, mereka ingin meneruskan serial ini, namun di lain pihak bagaimana caranya mencari jalan tengah tanpa mengorbankan Apollo Justice? Jawabannya: sebuah spin-off yang mengambil setting pada jeda waktu antara Trials and Tribulations dan Apollo Justice.

Dalam game ini, kamu tidak akan mengendalikan Phoenix Wright dan Apollo Justice. Bahkan kamu tidak akan membela hukum dari sudut pandang pengacara. Kali ini kamu berperan sebagai Miles Edgeworth, karakter yang adalah rival utamamu di game pertama. Kehadiran Miles Edgeworth merupakan jawaban yang tepat dari Capcom. Game ini mengubah cukup banyak gameplay permainan secara Miles ‘Edgey’ Edgeworth bukan seorang pengacara. Di sisi lain, setting waktunya memungkinkan Capcom mengikutkan kembali karakter-karakter lama dari trilogi GBA. Faktanya, banyak sekali karakter-karakter lama muncul di sini baik sebagai cameo maupun sebagai saksi! Fans dijamin pasti puas.

Ah, tapi tentunya nilai nostalgia saja tidak cukup untuk membuat gamer memainkan game ini bukan? Investigations juga menawarkan pola gameplay yang berbeda dan baru. Yang paling radikal adalah kamu bisa mengendalikan Edgey untuk menyelidiki tempat TKP. Bila sebelumnya kamu hanya diberi gambar statis untuk kamu point dan klik, sekarang Edgey bersama rekannya bisa bergerak bebas di tempat TKP dan menginspeksi setiap titik-titik yang dianggap mencurigakan.

Game ini juga menawarkan sistem pemikiran baru bernama Logic. Seperti yang disebutkan oleh Edgey sendiri di awal game, ia dan Phoenix berbeda sifat. Bila Phoenix mengandalkan barang bukti dan rasa percaya pada klien untuk membongkar misteri-misteri, Edgey menggunakan barang bukti dan logika pikiran. Artinya begini, apabila menemukan situasi atau barang yang janggal Edgey akan mencatatnya dalam pokok pikirannya. Situasi janggal satu dengan yang lainnya bisa disatukan gamer untuk mendapatkan sebuah kesimpulan baru. Ambil contoh begini: Dalam penyelidikan kamu menemukan kaca jendela pecah dan jejak kaki berlumpur. Logikanya adalah bila kaca jendela pecah dan jejak kaki berlumpur, itu berarti ada orang yang tadi berada di kamar ini. Ini hanya contoh sederhana saja, dan masih banyak misteri lain yang bisa kamu pecahkan dengan cara ini. Saya sendiri senang dengan penggunaan Logic karena mengeliminasi problem kurang logisnya penyelesaian yang kadang kutemukan saat memainkan game-game sebelumnya.

Tambahan terakhir dalam Investigations adalah sistem Little Thief. Melalui alat baru yang dimiliki Kay (seorang pencuri yang menjadi rekan Edgey), kamu bisa menciptakan ulang sebuah keadaan dengan memasukkan input situasi yang tepat. Hal ini membantu Edgey melihat tempat lokasi sebelum atau bahkan saat pembunuhan / tindak kriminal terjadi. Tentu saja bila seorang saksi berbohong dan menyebabkan rekaan ulang yang salah dalam Little Thief, Edgey bisa membongkar kesalahan itu dengan menunjukkan kontradiksi yang ada. Sekali lagi, saya menerima baik perubahan ini karena membantu gamer berpikir logis, tidak sekedar harus cermat seperti dalam sistem Perceive di Apollo Justice.

Cerita dalam game ini juga tersusun lebih rapi dibanding para prekuelnya, karena ini adalah game pertama yang semua ceritanya saling terikat oleh satu benang merah. Di sini Edgey akan memecahkan misteri mengenai Yatagarasu, seorang pencuri baik hati ala Robin Hood. Selain itu, ia juga harus menangkap jaringan penyelundup barang berharga. Scope penyelidikan game ini juga lebih luas dan tidak melulu berkutat di ruang pengadilan, bahkan sebenarnya kamu tidak akan pernah berdiri satu kalipun di ruang persidangan untuk berdebat melawan pengacara. Mungkin gara-gara ini, beberapa orang mengatakan kalau seharusnya game ini seharusnya dijuduli Ace Attorney Detective saja. Maklum sih sebab karakter utama game ini tadinya diplot sebagai Emma Skye sebelum Miles Edgeworth dipilih karena dia lebih populer.

Untuk kualitas audio visualnya, Ace Attorney Investigations sebanding dengan Apollo Justice. Saya merasa bahwa design beberapa karakter juga berbeda sedikit dengan trilogi lamanya. Beberapa sekedar mendapat tambahan mimik muka baru, sementara beberapa lain mendapatkan perombakan design total (atau tampil dalam balutan kostum baru). Audionya juga campuran antara remake-remake musik lama dan musik baru (Edgeworth Revival Theme yang diremake dan musik dalam cross-examination adalah favoritku). Secara keseluruhan, keduanya bukan merupakan aspek utama tetapi lebih pada pendukung ceritanya sendiri.

So my verdict is… bila sampai akhir marathon review Ace Attorney ini kamu belum juga memainkannya, maka tunggu apa lagi? Saya sudah mengatakannya dan akan menegaskannya sekali lagi: ini adalah serial terbaik yang ada di DS, spin-off terbarunya ini pun bukan perkecualian. Anda tidak setuju dengan pendapat saya? OBJECTION! You’re found guilty!

Final Verdict

Gameplay: 9.0
Beberapa elemen tambahan baru membuat Investigations menjadi sebuah game yang bisa dibedakan dari saudara sepupunya. Ini juga membuat gameplay yang tadinya mulai stagnan menjadi kembali fresh.

Graphic / Audio: 8.5
Ada banyak lokasi yang bisa diselidiki oleh Edgeworth dalam penyelidikannya kali ini, mulai dari atas pesawat terbang, dalam rumah hantu theme park, sampai dalam kantor kedutaan besar. Plus beberapa karakter lama kalian hadir dengan tampilan dan design yang baru (Franziska usia 13 tahun? I’m in love already with her. Whip me please? Pretty please?).

Play Time: 8.5
Ini termasuk salah satu game Ace Attorney yang terpanjang. Dengan trial dan error, mungkin bakalan makan waktu 20 jam untuk menyelesaikannya. Tapi sekali lagi Capcom tidak menambahkan nilai replayability apapun setelah selesai menamatkannya. Mungkin di Gyakuten Saiban 5?

Overall: 8.7

Game Details
Developer: Capcom
Publisher: Capcom
Genre: Adventure

Comments (2)

Tags: , , , , ,

Ace Attorney: Apollo Justice

Posted on 13 March 2010 by Si Tukang Review

Ace Attorney: Apollo Justice DS Cover

Ace Attorney: Apollo Justice DS Cover

Trials and Tribulations adalah penutup dari trilogi Ace Attorney di GBA. Selama tiga tahun lamanya, serial ini tidak lagi dilanjutkan oleh Capcom sampai Gyakuten Saiban 4 dirilis. Pada tahun 2007 di mana game ini dirilis, ketiga game trilogi pertamanya sudah dirilis oleh Capcom di pesisir Amerika. Karena alasan inilah tidak sampai setahun kemudian game inii sudah ditranslasikan dan dirilis dengan judul Ace Attorney: Apollo Justice. Sebagaimana yang bisa gamer lihat dari judulnya, Apollo Justice menempatkan gamer sebagai seorang rookie Attorney yang baru: Apollo Justice.

Lantas bagaimana dengan karakter-karakter lama yang kita kenal dari trilogi sebelumnya? Sayangnya, selain Phoenix Wright dan sang hakim pengadilan sendiri hampir semua karakter lama tidak muncul. Beberapa lagi hadir secara cameo, but that’s it. Capcom sebenarnya ingin membuka start baru untuk serial ini melalui Apollo Justice, tapi saya rasa bahwa itu jugalah yang menjadi masalah terbesarnya. Karakter-karakter baru yang diperkenalkan dalam game mau tidak mau pasti dibandingkan dengan karakter-karakter lama. Beberapa berkesan, tapi mayoritas tidak membekas di hati. Bahkan Apollo dan Trucy yang adalah pasangan utama game ini tidak langsung melekat di hatiku sebagaimana duet Phoenix dan Maya dulu. Prosecutor utama yang harus kamu hadapi dalam game ini adalah Klavier Gavin, dan duh… dia memang berbeda dengan para prosecutor yang sebelumnya ditampilkan dalam sorotan negatif, Klavier siap bekerja sama untuk menemukan kebenaran. Memang di satu sisi ini mendobrak tradisi jaksa sebagai musuhmu, di lain sisi ini menjadikan game ini kurang memiliki sosok antagonis sentral.

Beralih ke ceritanya, game ini kembali pada empat kasus seperti game kedua, tetapi ada sesuatu yang absen di sini. Game yang sudah memiliki trademark pertarungan terakhir yang epik kali ini kehilangan sentuhannya. Dalam awal game ini Phoenix diceritakan sudah kehilangan posisinya sebagai pengacara dan melalui kasus terakhir kamu akan mengetahui kenyataan di balik kejadian itu. Misterinya memang tetap menarik untuk disibak, tetapi debat kusirnya tidak pernah bisa mencapai ketegangan yang kurasakan pada tiga game sebelumnya. Sebagai gantinya, kasus pembukaannya justru kasus pembukaan yang memiliki twist yang paling tak terduga. Tadinya saya mengira kasus pertamanya lagi-lagi meniru game Trials and Tribulations secara Phoenix lagi-lagi menjadi terdakwa tapi perkiraan saya dijungkir-balikkan. Dua kasus terpisah dalam game ini juga di atas rata-rata kasus ‘biasa’ seri ini.

Mengingat game ini secara khusus dikembangkan untuk DS, ada banyak sekali kemajuan fitur gameplay Apollo Justice dibandingkan pendahulunya. Salah satu contoh yang saya acungi jempol adalah adanya rekaman video simulasi 3D visualisasi kejadian. Oh ya, Apollo Justice juga memiliki panca-indera yang lebih sensitif dibandingkan Phoenix Wright, karena itu ia bisa membaca gerak-gerik tubuh orang. Tahukah kalian bahwa kebanyakan orang normal akan menunjukkan gerak-gerik tubuh yang tidak normal bila mereka berbohong? Nah, dalam game ini kamu bisa membuat Apollo berfokus sehingga melihat apakah seorang saksi berbohong dalam testimonial atau tidak. Beberapa yang amatir mungkin langsung kelihatan panik ketika berbohong, tetapi banyak yang memerlukan perhatian penuh darimu untuk menangkap kejanggalan-kejanggalan mereka.

So my verdict is… Ace Attorney: Apollo Justice terasa kurang bila dibandingkan dengan Trials and Tribulations. Apa boleh buat? Inilah masalahnya mencoba memulai baru lagi, perbandingan dengan sang pendahulu tak bisa dielakkan. Apollo Justice mungkin lebih baik dari Justice for All, tetapi masih di bawah kualitas Phoenix Wright maupun Trials and Tribulations.

Final Verdict

Gameplay: 8.5
Ada dua perubahan besar di sini. Magatama yang adalah jimat Phoenix tidak dimiliki Apollo sehingga sistem Psyche Lock yang menyebalkan itu absen (setidaknya untuk mayoritas game). Sebaliknya Perceive system yang diperkenalkan juga tidak seratus persen diterima positif oleh para fans. Perubahan kedua adalah lebih banyak pemanfaatan fitur DS seperti halnya kasus bonus dalam game pertamanya. Mengingat hal tersebut merupakan salah satu nilai plus di Phoenix Wright, penambahan itu saya terima dengan senang hati.

Graphic / Sound: 8.5
Presentasi game ini terlihat jauh lebih tajam dibandingkan port versi GBA. Ada juga tambahan beberapa video animasi yang menjadi barang bukti ataupun hasil reka ulang kejadian pembunuhan. Design untuk karakter-karakter baru juga langsung masuk dengan dunia Ace Attorney sebelum ini (ada yang merasa kalau kian game karakter yang hadir kian ajaib?).

Play Time: 8.5
Standar seperti kebanyakan game Ace Attorney lain. Saya tadinya berharap kalau Apollo Justice memasukkan fitur multi-skenario untuk menambah replay value game ini. Harapan tinggallah harapan.

Overall: 8.5

Game Details
Developer: Capcom
Publisher: Capcom
Genre: Adventure

Comments (2)

Tags: , , , , , , , ,

Ace Attorney: Phoenix Wright

Posted on 10 March 2010 by Si Tukang Review

Ace Attorney: Phoenix Wright Cover

Ace Attorney: Phoenix Wright Cover

Selama ini pasar Amerika dikenal sulit sekali menerima sebuah text-based novel game. Karena alasan itulah kebanyakan game love simulation seperti Tokimeki Memorial atau game hent… (*ditimpuk*) tidak pernah mendapatkan rilis di Amerika. Tren mulai berubah tahun-tahun belakangan ini, di DS sendiri ada begitu banyak game text-based yang masuk seperti Hotel Dusk, Time Hollow, dan banyak lagi. Entah kebetulan entah tidak, saya merasa bahwa tren ini dimulai sejak kesuksesan Phoenix Wright menembus kalangan mainstream gamer.

Mungkin kalian bertanya-tanya, apakah itu Ace Attorney? Apakah itu Phoenix Wright? Jawabannya: game simulasi persidangan. “Ah, persidangan? Bosan dong karena penuh dengan dialog-dialog hukum yang berat macam novelnya John Grisham?” begitukah pikiran kalian? Kalau iya maka baca lebih lanjut review yang akan mengubah pandanganmu terhadap game ini.

Ace Attorney: Phoenix Wright, sesuai judulnya, menempatkan gamer dalam posisi seorang pengacara (defense attorney) rookie bernama Phoenix Wright. Dalam game yang terbagi di lima skenario ini, kamu akan membela klienmu yang terlibat dalam kasus-kasus pembunuhan yang misterius. Uniknya, klien yang kamu bela di sini tidak bersalah dan difitnah oleh sang pembunuh yang sebenarnya. Adalah tugasmu sebagai pembela keadilan (mode lebay) untuk menyingkap kebenaran, membebaskan klienmu dari tuduhan dan menangkap sang pelaku yang sebenarnya! Tentunya tugasmu tidak akan mudah karena kamu akan berhadapan dengan para jaksa (prosecutor) yang berusaha sekuat tenaga menyeret klienmu ke penjara.

Gameplay dalam Phoenix Wright terbagi dua bagian. Yang pertama adalah mode penyelidikan di mana sebagai Phoenix kamu akan menginspeksi TKP dan mewawancarai para saksi untuk mengumpulkan barang bukti. Setelah mendapatkan cukup bukti, kamu akan masuk ke fase kedua di ruang pengadilan. Di sini para juri akan memanggil saksi yang akan memberikan pernyataan (testimonial) mereka akan bagaimana kejadian pembunuhan terjadi. Tentu saja apabila klienmu benar, berarti ada yang salah dengan pernyataan para saksi tersebut. Sebagai Phoenix, kamu akan bertanya lebih lanjut dan mencari kontradiksi (contradiction) dalam pernyataan mereka. Bila ketemu, tunjukkan barang bukti (evidence) yang akan membawa klienmu (tersangka / defendant) selangkah menuju kebebasan. Tapi hati-hati, kegagalanmu untuk mempresentasikan barang bukti yang benar pada statemen yang tepat akan mengurangi kredibilitasmu di mata hakim. Berbuat salah terlalu banyak – lima kali – dan kamu akan kalah dalam kasusmu!

Game ini pertama kali dirilis di Jepang pada tahun 2001 pada platform GBA dengan judul Gyakuten Saiban. Kesuksesannya di Jepang disusul dengan dua rilis game Gyakuten Saiban lain, membentuk salah satu trilogi terbaik dunia game. Saat DS diluncurkan, Capcom meremake Gyakuten Saiban dan menambahkan bonus satu kasus di dalamnya yang memanfaatkan fitur DS (game aslinya hanya terdiri dari empat kasus). Kasus tambahan dalam DS ini merupakan salah satu nilai plus versi remakenya karena memberi metode penyelidikan baru yang tadinya tidak memungkinkan di media GBA. Sebagai contoh kamu tidak hanya bisa menginspeksi foto tetapi juga video kali ini. Kamu juga bisa meniup mikrofon DS untuk mencari sidik jari tersangka yang tertinggal di lokasi. Wah, serasa jadi detektif beneran deh!

Apa yang membuat Ace Attorney begitu sukses tidak cuma terletak di ceritanya saja tetapi juga pada deretan cast yang memorable. Mulai dari Phoenix Wright dan Fey bersaudara yang menjadi asisten sebagai protagonis cerita, game ini menghadirkan deretan karakter yang penuh warna dan membekas di hati. Saya tidak mau berspoiler lebih lanjut, tetapi yang jelas setiap tersangka, setiap saksi, dan setiap jaksa yang kamu hadapi dalam game ini akan membuatmu terpingkal, terharu, hingga geram dengan tingkah mereka. Lokalisasi ke Amerika yang ditangani Alexander O. Smith (translator dari beberapa game Final Fantasy) juga dengan cerdik tidak mentah-mentah mentranslasikan dari versi Gyakuten Saiban melainkan mengubah sedikit cita rasanya ke dalam budaya Amerika (yang lebih global). Purist mungkin ingin tetap memainkan Gyakuten Saiban (well, that’s their loss) tapi penulisan dalam Ace Attorney: Phoenix Wright sudah mendapatkan apresiasi sebagai game dengan skrip terbaik di DS oleh banyak media cetak maupun online.

So my verdict is… tunggu apa lagi? Adalah dosa besar bila kamu memiliki DS dan kelewatan salah satu title terbaiknya ini (saya menaruhnya di posisi kedua hanya di belakang Mario Kart DS). Selamat datang ke dunia pengadilan!

Final Verdict

Gameplay: 9.5
Yang membuatku terkagum-kagum dengan Ace Attorney adalah bagaimana mereka bisa menjaga pace permainan. Dalam investigasi, kamu dibuat tertawa dengan dialog-dialog ‘ajaib’ yang kamu dapatkan dari para saksi. Tapi dalam persidangan, kamu bakalan geregetan dan saling bertukar argumen menghadapi jaksa. Ada kepuasan sendiri yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata bila kamu berhasil memenangi debatmu. Kasus keempat dan kelima dalam game ini merupakan kasus-kasus epik yang duel antaramu melawan jaksa yang tidak kalah dengan pertarungan menghadapi final boss di RPG-RPG. Tidak percaya bisa seseru itu? Buktikan sendiri.

Graphic / Sound: 8.5
Berhubung ini adalah sebuah game yang diangkat dari GBA, kekurangan terutama ada pada bagian visualnya. Toh, sebuah game teks tidak mementingkan grafis sedemikian rupa bukan? Dalam review saya mengatakan kalau tiap karakter di dalam game ini memorable, dan faktor yang membantu kememorablean mereka adalah designnya yang unik dan berbeda untuk setiap karakter. Audionya juga berkualitas prima. Digubah ulang dalam versi orkestra membuktikan kualitas music game ini.

Play Time: 8.0
Bila ada titik lemah dalam game ini, itu pastilah waktu permainannya. Ace Attorney menderita kelemahan setiap game text-based lainnya: nilai replayabilitynya. Apabila kamu selesai memainkan game ini sekali, tidak ada alasan untuk mengulang memainkannya lagi, kecuali sudah beberapa tahun kemudian dan kamu sudah lupa ceritanya (biasanya saya memainkan ulang game lama begitu ada seri Ace Attorney baru mau keluar). Toh, lima skenario yang ditawarkan game ini akan memakan waktu 15 – 20 jam permainanmu; tergolong cukup panjang dibandingkan kebanyakan game text-based adventure lainnya.

Overall: 8.9

Game Details
Developer: Capcom
Publisher: Capcom
Genre: Adventure

Comments (4)

Tags: , ,

OBJECTION!!!

Posted on 10 March 2010 by Si Tukang Review

phoenix-wright-crop

Tahun 2006.

Tahun itu adalah tahun di mana saya pertama kali membeli Nintendo DS. Padahal, sebelumnya saya tidak pernah tertarik untuk bermain game portabel yang saya anggap inferior dibandingkan game-game dalam konsol. Ketertarikan saya pada DS diawali dengan rasa penasaran sistem dual screen, touch screen, sampai mikrofon yang menjanjikan pengalaman game yang baru dan berbeda. Setelah melihat bahwa DS memiliki kumpulan game yang cukup banyak (ditambah dengan sudah bisa dipakainya sistem Supercard buat main game bajakan, he he he…) saya pun membeli Nintendo DS perak pertamaku (sedikit curhat: tanpa tahu bahwa dua bulan kemudian Nintendo bakalan merilis versi Lite buat DS, hiks!)

Saat itu, DS sudah dikenal sebagai rumah dari game-game tipe simulasi. Ambil contoh simulasi pet ala Tamagotchi yang muncul dalam bentuk Nintendogs, atau simulasi kehidupan Animal Crossing. Yang pada saat itu membuat saya penasaran dengan DS toh adalah tiga jenis simulasi game. Simulasi menjadi dokter (Trauma Center), simulasi survival (Lost in Blue – tidak ada hubungannya dengan Lost TV Series), dan yang terakhir adalah simulasi pengacara: Ace Attorney: Phoenix Wright. Saya memainkan ketiga game itu dengan tingkat kesenangan yang berbeda. Trauma Center dan Lost in Blue adalah game-game yang menarik, tetapi Phoenix Wright membawa kesenangan gaming saya ke level yang sama sekali baru.

Dalam countdown 25 game terbaik DS yang pernah saya post di sini beberapa waktu yang lalu, saya menempatkan Ace Attorney: Phoenix Wright sebagai game kedua favoritku di bawah Mario Kart DS. Akan tetapi untuk ukuran franchise secara keseluruhan, Ace Attorney masih merupakan serial game terbaik yang pernah hadir di DS (again – in my humble opinion). Setelah dijualnya DS lamaku beberapa bulan setelah aku membelinya, lagi-lagi serial ini berjasa membawaku kembali. Apabila bukan karena Justice for All yang dirilis di DS, saya tidak bakalan membeli DS Lite lagi. Nah, mengingat begitu panjang dan dalamnya sejarahku dengan game ini, dengan dirilisnya game terbaru serial ini berjudul Ace Attorney Investigations, saya akan menulis marathon lima review game Ace Attorney sebagai tribut bagi serial game favoritku ini.

Enjoy the world of trials, tribulations, and fun!

Comments (3)

Advertise Here
Advertise Here