Tag Archive | "360"

Tags: , , , , ,

Behind the Scene of TukangReview.com

Posted on 23 September 2009 by Si Tukang Review

Artikel yang kali ini lain dari biasanya.

Apabila biasanya gw mereview game, film, dan komik yang gw mainkan, dalam artikel ini gw akan mengajak pembaca untuk masuk menjelajah ke dalam kamarku dan melihat bagaimana proses pengerjaan review-review yang biasa kutulis. Karena itu gaya penulisan dalam artikel kali ini bakalan sedikit beda dengan biasanya. Lebih santai dan kaga terlalu mementingkan unsur bahasa Indonesia yang benar. ^^;;

Oh well, enough introductions. Welcome to my room. Welcome to my world!

key-lock

Caption 1: Nah. Yang ini adalah pintu menuju kamar ‘kerja’ (baca: main dan tidur) gw. Kenapa ada fungsi kunci elektriknya? Well, bukan demi mencegah maling masuk ke kamar gw sih. Dulu tuh fungsi kamar ini buat gudang barang tidak pakai, sehingga dipasang kunci elektrik buat mencegah sembarang orang bisa masuk ke sini. Setelah kamarnya gw beres-beresin dan ubah jadi tempat hiburan gw, gw malas buat menghilangkan kunci elektriknya. Akhirnya biarin saja deh dipasang.

small-tv

Caption 2: Setelah masuk ke dalam kamar, barang pertama yang kalian bakalan lihat adalah TV ini. TV merk Toshiba ini sudah menemani gw dari lamaaaa banget. Lihat aja designnya yang masih tabung dan gendut kontras dengan era TV Plasma dan LCD sekarang. Toshiba bapuk gw ini juga tidak punya fasilitas widescreen, HD-TV, HDMI atau whatever teknologi jaman sekarang sehingga sebenarnya kurang memadai untuk dibuat mereview film-film blockbuster atau game-game generasi kini yang biasanya pakai efek gila-gilaan. Toh kalau sekedar buat bermain PS2, nonton serial TV dan film-film drama ringan, this TV still works wonders.

handheld

Caption 3: Ah! Sahabat terbaik gw. Kalian sadar tidak kalau kebanyakan game yang saya review itu berasal dari dua handheld Nintendo DS dan PSP. Apakah itu karena gw benci dengan 360 sehingga tidak mau mereview game-gamenya? Sebenarnya bukan. Seperti yang gw pernah bilang sebelumnya, hidup gw itu ga melulu berkisar mereview ini-itu. Gw punya kerjaan tetap lain dan kehidupan sosial. Praktis yang paling enak buat kumainkan ya game-game handheld yang bisa gw bawa ke mana-mana.

iPod-nya sendiri itu ukurannya 120 GB. Biasa kalau gw lagi dalam perjalanan bisnis ke luar kota, sehari sebelumnya gw mengisi iPod gw dengan serial-serial TV (gw convert dari AVI ke MP4, format yang dikenali sama iPod) dan menontonnya sepanjang perjalanan. Kalau handphonenya? Well – ga ada alasan sih. Gw iseng aja masukin. ^^;; Merknya Nokia 5310 dan layarnya udah retak (ketabrak ujung meja). Sekarang lagi mengais sedikit uang demi bisa menggantinya… syukur-syukur dengan buah arbei hitam (Blackberry). Hi hi hi.

dvd-player

Caption 4: Gw punya satu prinsip kalau beli DVD player. Beli yang merk China sehingga gw tidak usah repot-repot dengan Region Code. Gw dulu malas beli DVD player dan maunya memainkan via Laptop saja. Ampun deh. Ternyata kalau dimainkan via Laptop ada batas penggantian Region Code. Ganti lima kali dan kamu ga bisa ganti lagi. Akhirnya daripada menyia-nyiakan kesempatan penggantian Region Code berkali-kali, gw memutuskan beli satu DVD player yang merknya murah-murah meriah – jatuhlah pilihan gw ke Amex. Dengar-dengar sih kalau yang mahal dan bermerk kaya Sony atau Samsung juga terikat Region Code sana-sini malah cuma bisa main DVD orisinil. Duh, engga deh. Makasih.

lg-lcd

wd-tv

x-box-360

Caption 5: Kalau yang ini… heavy hitter gw. Walau gw punya Toshiba kecil kesayangan gw, handheld gw yang bisa dibawa ke mana-mana dan DVD Player yang bisa memainkan film-film… kelihatannya jauh dari afdol kan kalau kita bicara soal generasi terkini? Nonton Lord of the Rings atau main game Call of Duty 4: Modern Warfare mana serunya kalau main di TV kecil dan DVD biasa? Jadinya kalau gw main game-game 360, biasanya gw pindah ke kamar sekunder gw (rencana dijadikan home theater suatu hari nanti) buat memainkannya. Main Dead Space widescreen dengan efek suara surround menjadi sebuah pengalaman yang jauh lebih menyeramkan. Tidak percaya? Silahkan coba sendiri.

Kalau WD-TV sendiri? Alat ini adalah jawaban bagi orang yang koceknya tidak tebal (like me) tetapi masih ingin menikmati film-film dengan kualitas terkini (baca: Blu-ray). Membeli film-film Blu-Ray Rip atau HD (banyak kok yang jual di Kaskus seperti Bluray-Murah) yang berukuran rata-rata 10 – 30 GB, memasukkannya ke dalam Hard Disk (saya pakai Western Digital yang 500 GB) lantas ditancapkan pada WD-TV, pasang kabel HDMI dan akhirnya tancapkan ke TV LCD LG gw. Hasilnya? Eureka! Kualitas gambar setara Blu-Ray dengan harga per film serendah Rp. 15.000 – 20.000.-. Lovely. Oh, kadang saya juga menonton serial TV dalam bentuk AVI melaluinya. Maklum, kalau nonton AVI lama-lama di komputer (ehem… marathon nonton Lost di akhir pekan ehem…) bisa bikin mata pening dan pegal juga.

desktop

macbook

Caption 6: Dan… ini yang terakhir. Komputer gw baru selesai gw upgrade dua hari lalu (Ganti Pentium Core Duo 2.93GHZ, kartu grafis Sapphire 512MB, dan HD 250 GB). Fungsinya dua: yang pertama untuk main game karena gw tidak mau memforsir 360 buat main semua game (takut nanti 360 gw kena penyakit kanker yang namanya RROD – Red Ring of Death) sementara yang kedua adalah untuk menulis review dan membackup seluruh situs TukangReview.com kalau-kalau terjadi kerusakan pada data onlinenya (dan dengan banyaknya spam yang gw terima per hari… brrr… merinding membayangkan bila gw tidak membackup situ situ secara berkala).

Gadget terakhir gw adalah Apple MacBook gw. Dulu iseng-iseng beli karena bosan sama Windows, sekarang saya harus jujur mengakui kalau saya seorang Apple fans. Cepat, jarang kena virus, stabil, MacBook membebaskan gw dari sakit kepala yang biasa gw hadapi kalau gw memakai Laptop Windows (dua laptop gw sebelum ini: Toshiba dan Vaio semua under Windows dan semuanya sering bikin gw sakit kepala). Dia juga sering gw bawa ke mana-mana (dulu ketika gw ke China dan tidak bisa memakai Desktop, MacBooklah yang jadi andalan gw untuk tetap mengupdate situs ini secara berkala).

Dan… berakhirlah perjalanan kita di kamar gw. TukangReview.com pada awalnya bermula dari hobi iseng-iseng gw buat menulis review (karena tangan gw suka gatal buat ngetik sesuatu) dari game yang saya mainkan, film yang saya tonton, atau komik yang saya baca (semua saya baca secara digital). Terima kasih untuk dukungannya selama ini, and of course… more reviews to come. ^^V

Comments (6)

Tags: , , , , ,

Tomb Raider: Underworld

Posted on 12 January 2009 by Si Tukang Review

Underworld Cover

Tomb Raider: Underworld Cover

Publisher: Eidos Interactive
Developer: Crystal Dynamics
Genre: Action Adventure

Dua setengah tahun. Itu adalah sebuah penantian yang panjang untuk sekuel sebuah video game.

Tapi itulah waktu yang harus ditunggu oleh gamer untuk mendapatkan serial baru dalam franchise Tomb Raider. Serial yang dulunya nyaris terlupakan karena dianggap basi dan monoton ini kembali mendapatkan nafas kehidupan baru setelah ditangani oleh developer baru Crystal Dynamics. Sang developer mendapat banyak pujian karena keputusan berani mereka merevolusi serial ini dalam Tomb Raider: Legend dan menjadikannya segar kembali. Lantas, banyak yang menanti dan menunggu, apa lagi yang disiapkan untuk seri berikutnya? Tahun lalu, gamer ‘hanya’ mendapatkan Tomb Raider Anniversary - sebuah remake dari Tomb Raider pertama demi memperingat ultahnya. Baru di akhir tahun 2008, Lara Croft sang tokoh video game wanita terpopuler, kembali dalam petualangan kedelapan franchise Tomb Raider; Tomb Raider: Underworld. Dalam petualangan teranyarnya, gamer kembali diajak untuk berpetualang mengelilingi dunia, mulai dari laut Mediterania dengan keindahan dunia bawah airnya - nuansa eksotis di kepulauan Thailand - hingga Croft Manor yang membara karena kebakaran!

Oleh developer Crystal Dynamics, Underworld didapuk sebagai game next-gen Lara Croft yang sejati.  Daerah demi daerah yang dijelajahi oleh Lara kali ini benar-benar luas dan mendapatkan render yang sangat-sangat apik. Selain sekedar luas, dunia yang dijelajahi dalam Underworld mampu mengingat apa yang dilakukan gamer kepada lingkungan itu. Sebagai contoh: bila Lara membunuh musuh atau merusak sebuah tembok, maka mayat musuh dan kerusakan di tembok itu tidak akan hilang begitu saja. Bahkan karakter Lara sendiri memiliki pergerakan yang lebih realistis ketimbang dirinya di Legend maupun Anniversary (bagi gamer yang sudah memainkan kedua game itu pasti akan terkesima melihat bagaimana Lara yang sudah nampak luwes di kedua game sebelumnya masih bisa ditingkatkan lagi keluwesannya). Slogan Underworld: “what could Lara do?” pun bukan omong-kosong belaka. Penjelajahan Lara dan aksi akrobatiknya membuat apa yang bisa dilakukan oleh Lara di kehidupan nyata bisa disimulasikan dalam Underworld.

Apabila para gamer masih ingat cerita dalam Legend, disebutkan bahwa Lara hendak mencari Avalon yang ia percaya adalah tempat di mana ibunya pergi setelah menghilang. Cerita dalam Underworld langsung melanjutkan kisah dari akhir Legend, bahkan di misi pertamanya, ia berada di laut Mediterania guna mencari artifak yang bisa membantunya membukakan jalan ke Avalon. Amanda (musuh besar Lara dari Legend) kembali dalam game ini dan menyebutkan kepada Lara bahwa Niflheim (dunia kematian dalam mitologi Norse) serta Avalon adalah tempat yang sama. Memang cerita di Underworld kali ini mendapatkan pengaruh besar dari mitologi Norse. Selain Niflheim, tujuan utama Lara di dalam game ini adalah mencari Mjolnir, palu legendarisnya dewa petir Thor.

Dengan semua kelebihannya ini, Underworld sayangnya menyimpan beberapa kelemahan signifikan. Yang paling kentara adalah masalah kameranya. Berkali-kali di tengah petualangan saya kesulitan melihat environment sekeliling gara-gara sudut kamera yang statis malah menghalangi - bukannya membantu - saya mencari obyek-obyek penting. Daerah yang begitu luas pun menjadi bumerang karena acap kali saya melihat glitch badan Lara yang setengah menembus tembok atau tiang. Walaupun hal ini biasa untuk sebuah game Action 3D jaman awal dulu, mendapati kelemahan seperti ini untuk generasi sekarang bukan sebuah kesalahan yang dapat ditolerir. Gara-gara kelewat ambisius?

Bagi gamer yang mengharapkan perubahan radikal pada gameplay game ini mungkin bakalan kecewa karena perubahan Underworld dari Legend sangat minim (hanya penjelajahan di Legend yang dulunya linear kini dijadikan lebih ‘bebas‘). Tapi bila kalian menyukai Legend ataupun Anniversary, tidak ada alasan untuk tidak mengikuti petualangan Lara kali ini.

Final Verdict:

Gameplay: 7.5
Akan saya katakan sekali lagi, bila kalian menyukai Legend dan Anniversary, maka kalian takkan kecewa dengan Underworld. Selain dimasukkannya fitur Adrenaline System (yang melambatkan gerakan di sekeliling kalian ala Max Payne) tidak ada perubahan signifikan dalam gameplaynya. Dunia yang mengingat kerusakan yang kamu buat pun pada akhirnya hanya menjadi alasan supaya anda memberi tanda agar tak tersesat.

Graphic / Sound: 9
Dunia yang begitu kaya warna ini akan membuat para gamer terkesima. Karena begitu indahnya, ada satu kali saya sengaja menghentikan game ini untuk sementara dan membiarkan diriku menikmati panorama indah yang ditunjukkan oleh game ini. Voice actingnya pun sangat baik dan dilakukan dengan sangat berkelas. Untuk background musicnya mendapat garapan dengan orkestra penuh.

Play Time: 7.5
Karena luasnya daerah yang bisa dijelajahi, sekurang-kurangnya 15 jam perlu kamu investasikan untuk menyelesaikan Underworld. Tergantung apakah kamu penggemar pencapaian segala achievement (melengkapi semua harta, mendapatkan semua relic, dkk), Underworld mungkin akan menarik anda memainkannya lagi - atau tidak.

Overall: 8.0

Comments (0)

Tags: , ,

Lost Planet: Extreme Condition

Posted on 05 January 2009 by Si Tukang Review

LostPlanetCover

Lost Planet: Extreme Condition Cover

- Starship Troopers the Game? -

Developer: Capcom
Publisher: Capcom
Genre: Action

Salah satu film favorit saya adalah Starship Troopers. Film Paul Verhoeven yang mengisahkan mengenai perang manusia melawan para alien serangga ini saya anggap berbeda dengan film alien biasanya. Ketika muncul detail pertama mengenai game Lost Planet dari Capcom, saya girang bukan kepalang. Apakah akhirnya saya memiliki kesempatan membasmi para alien serangga di dunia game?

Lost Planet mengambil setting di planet EDN III. Alkisah, di masa mendatang nanti dunia kita akan menjadi terlalu berbahaya untuk ditempati. Karena itu, manusia di bawah pun mulai merelokasi tempat tinggal mereka ke planet EDN III. Planet EDN III berbeda dengan bumi, planet ini diselimuti salju sepanjang waktu dan memiliki banyak penghuni yang buas; alien berwujud serangga yang bernama Akrid. Dalam misi pertamamu sebagai Wayne, kamu akan berhadapan dengan sejenis Akrid bernama Green Eye. Misi ini berakhir dengan kegagalan. Ayah Wayne meninggal dan Wayne hilang kesadaran serta ingatannya. Setelah ditemukan dan dirawat oleh gerombolan bajak salju (snow pirates), Wayne bertekad mencari kembali ingatannya yang hilang serta membalas dendam atas kematian ayahnya.

Sebagaimana kebanyakan game Capcom lainnya, Lost Planet memiliki tampilan yang sangat menawan. Detail lingkungan dalam planet EDN III memiliki ciri khasnya. Badai salju serta bangunan-bangunan yang rusak dan kumuh memberikan kesan bahwa bahaya bisa menyerang dari mana saja. Kondisi dingin dalam planet ini juga bukan sekedar tempelan semata, tetapi mempengaruhi gameplaynya secara signifikan. Dalam permainan, gamer tidak hanya dituntut memperhatikan health bar atau sisa peluru mereka saja, tetapi juga memperhatikan T-Eng (Thermal Energy) Bar. Untuk tetap ‘menghangatkan’ badan, para gamer harus terus menjaga T-Eng Bar mereka sebanyak mungkin. Caranya? Meledakkan gentong, menembaki mobil, dan tentu saja menghabisi para Akrid. Tampilan Akrid di dalam game ini pun terdiri dari berbagai jenis variasi. Mulai dari Akrid kecil yang gampang dihabisi dengan machine gun Wayne, sampai Akrid-Akrid raksasa yang mau tak mau harus dilawan dengan VS (Vital Suit). Sistem VS juga menjadi bagian integral yang penting dalam Lost Planet; karena acapkali Wayne harus menunggangi mecha-mecha raksasa untuk bisa berhadapan melawan para boss.

Bicara soal pertarungan melawan boss, Boss battle di Lost Planet sangat menantang dan mengesankan. Setiap boss memiliki kemampuan dan kecerdikan mereka sendiri, sehingga kamu tidak perlu heran kalau kamu dihabisi saat melawannya di kali pertama. Satu-satunya yang saya cap sebagai kekurangan dari Lost Planet adalah render karakternya. Sudah sejak lama saya memperhatikan kalau Capcom memiliki kebiasaan buruk merender karakter-karakternya terlalu sempurna (lihat saja Dante dari Devil May Cry, atau Leon dari Resident Evil 4), Lost Planet pun tidak luput dari hal ini. Perhatikan karakter pria di dalam game ini macam Wayne atau Yuri. Tidakkah tampang mereka semua terlihat seperti cowo model bishounen ketimbang prajurit atau bajak salju yang harus bertahan hidup di tengah lingkungan ganas?

Selain solo / story mode yang menawarkan lebih dari 10 misi individual yang bisa kamu selesaikan, Lost Planet juga memiliki opsi multiplayer. Multiplayer mengijinkan kamu dengan 15 orang lainnya terlibat dalam pertempuran. Upgrade pun terus dilakukan oleh Capcom dengan merilis ekspansi game ini dengan judul Colonies. Tidak cukup merilis ekspansi, Capcom hingga kini masih giat merilis patch-patch baru untuk Lost Planet. Ini membuktikan kalau game ini telah menjadi lahan emas baru bagi Capcom!

Final Verdict:

Gameplay: 8
Berbagai jenis senjata dan VS yang bisa dipakai Wayne untuk menyelesaikan misi-misinya menunjukkan bagaimana kayanya gameplay dalam Lost Planet. Variasi musuh dalam game ini pun beraneka ragam; mulai dari para Akrid yang ganas, kelompok bajak salju lain, sampai bawahan dari perusahaan misterius yang nampaknya menjadi nahkoda di belakang semua kekacauan yang terjadi.

Graphic / Sound: 9
Dirilis di 360, game ini menjadi salah satu tolok ukur yang menunjukkan keperkasaan 360 sebagai konsol next-gen. Ketajaman lingkungan, variasi musuh, sampai berbagai efek spesial yang dipakai menjadikan Lost Planet begitu memanjakan mata dan telinga saat dimainkan. Voice Acting dalam game ini pun tergolong rapi dan baik untuk ukuran sebuah game Jepang yang ditranslasikan.

Play Time: 8.5
Seorang veteran game third-person shooter pun saya rasa masih akan memakan waktu lebih dari lima jam untuk menyelesaikan Lost Planet dengan tingkat kesulitan normal. Rata-rata orang akan menyelesaikannya dalam waktu 10 - 15 jam yang tergolong cukup lama untuk sebuah game action. Apabila bermain story mode tidak cukup, multiplayer siap menyambut anda.

Overall: 8.5

Comments (0)

Tags: , ,

Mortal Kombat VS DC Universe

Posted on 02 January 2009 by Si Tukang Review

MKDCCover

MKDC Cover

- when two universes collide -

Publisher: Midway Games
Developer: Midway Interactive Games
Genre: 3D Fighting

Bagaimana jadinya apabila dua franchise besar bertemu? Serial crossover bukan hal yang baru dalam dunia game fighting. Capcom adalah salah satu perusahaan game yang berulang kali mengcrossover karakternya dengan karakter dari dunia Marvel, Namco, SNK bahkan Tatsunoko. Nampaknya keberhasilan Capcom memancing salah satu developer besar lain untuk melakukan hal yang sama. Midway yang terkenal dengan serial Mortal Kombat memutuskan menggandeng karakter dari dunia komik DC. Kalau kamu adalah penggemar game sekaligus komik yang selalu berandai-andai apakah nafas beku Superman atau jurus es Sub-zero yang lebih dingin, jawabannya bisa anda temukan di dalam game ini.

Walaupun Mortal Kombat VS DC Universe (MKDC) adalah sebuah game fighting, ternyata Midway tidak begitu saja menyampingkan jalan ceritanya (apalagi ini sebuah crossover dari dua universe yang berbeda - para gamer pasti penasaran apa gerangan yang terjadi sehingga kedua universe ini bisa ‘bersatu dan bertemu’). Ternyata saat Darkseid mengacau di DC, Superman berhasil menghentikannya dan mengirimnya ke portal lain. Di saat yang bersamaan, Raiden juga mengirim Shao Kahn masuk ke portal di dunia Mortal Kombat. Bisa ditebak kalau keduanya membaur menjadi satu sosok bernama Dark Kahn yang hendak menghancurkan kedua realm. Yang membuat segalanya jadi makin rumit adalah karakter dari kedua universe saling mengira satu sama lain bahwa mereka adalah musuh! Bisakah keduanya mengenyampingkan perbedaan mereka untuk mengalahkan kejahatan yang sesungguhnya?

Sistem gameplay dalam MKDC senafas dengan game-game Mortal Kombat sebelumnya. Setiap karakter dibedakan dengan jurus serta kombo unik yang mereka miliki. Mempelajari optimalisasi gerakan seorang karakter dalam game ini cukup simpel, apalagi Move List selalu diikutsertakan dan bisa diakses kapan saja. Kemampuan tiap karakter pun dibuat cukup berimbang dengan perkecualian satu dua karakter (entah kenapa saya merasa karakter flagship dari kedua franchise macam Batman atau Sub-zero sedikit lebih kuat dibandingkan karakter-karakter biasa). Bagi para pembaca komik yang khawatir kalau Superman dan Batman akan mencemari tangan mereka dengan mencabut nyawa, jangan terlampau khawatir, penggunaan Fatality dalam game ini cenderung diminimalisasi (walau saya sebenarnya sangat ingin melihat bagaimana Superman mencabut kepala Scorpion lewat Fatality misalnya).

Secara keseluruhan, saya merasa cukup puas dengan game crossover ini. MKDC memiliki berbagai game mode mulai dari Story Mode, Arcade Mode, sampai Online Mode yang mengijinkan kamu bertarung dengan para kombatan dunia maya yang lain. Berbagai elemen baru seperti Free Fall Fight, Wall-Break pun dimasukkan oleh Midway untuk menjadikan duel lebih menarik. Kalaupun ada kekurangan, saya hanya kurang puas karena kecilnya roster petarung (Ke mana Black Adam? Mana Smoke atau Reptile? Masukkan Sinestro dan Superboy Prime!) dan kurang unlockable characters yang ada… mungkin nanti di Mortal Kombat vs DC Universe 2?

Final Verdict:

Gameplay: 8
MKDC memiliki berbagai variasi pertarungan. Lebih dari 20 karakter yang ditawarkan oleh kedua kubu juga memiliki spesialisasi unik mereka masing-masing. Walaupun tidak serealistik game fighting 3D lain macam Tekken, Dead or Alive, atau Virtual Fighter, bagi gamer yang tumbuh memainkan serial ini, MKDC memiliki nilai nostalgianya tersendiri.

Graphic / Sound: 7
Grafis dan soundnya tergarap baik oleh Midway. Bahkan karakter Superman, Batman dan lain-lain dari DC memiliki translasi yang sukses ke diri 3D mereka. Sayangnya gerakan para karakter terasa kaku (beberapa lagi terasa monoton). Pengisi suara dalam game ini juga hit and miss. Karakter macam Green Lantern dan Captain Marvel (Shazam) misalnya memiliki voice acting yang benar-benar tidak sesuai dengan karakter mereka.

Play Time: 8
Memainkan game fighting selalu memiliki nilai tambahnya sendiri. Walaupun kamu bisa menyelesaikan story mode dari kedua kubu dalam waktu kurang dari 5 jam, ada banyak sekali alasan untuk kembali memainkan game ini dan menguasai gerakan-gerakan karakter idamanmu.

Overall: 7.7

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here