Tag Archive | "300"

Tags: , , , , ,

Law Abiding Citizen

Posted on 11 December 2009 by Si Tukang Review

Law Abiding Citizen Poster

Law Abiding Citizen Poster

Sistem hukum di Indonesia rasanya membuat semua orang geleng-geleng kepala. Bukan rahasia agaknya kalau saya mengatakan bahwa siapa yang punya uanglah yang berhak mengendalikan hukum. Pernah saya bertemu dengan orang yang ditipu sebanyak 30 milyar rupiah, ketika melaporkan penipu kepada polisi dan masuk pengadilan justru kalah karena dituduh mencemarkan nama baik. Lebih ironis lagi sang pelapor kalah karena sang penipu menggunakan uang 30 milyar hasil tipuannya untuk melicinkan jalannya keluar dari jeratan hukum. Tapi kalau kalian pikir sistem hukum di Indonesia adalah yang terparah di dunia, mungkin anggapan kalian berubah setelah menonton Law Abiding Citizen ini.

Tanpa sebab dan tanpa alasan, dua orang kriminal memasuki rumah dari seorang Clyde Shelton dan dengan keji membantai sang istri dan anak di hadapannya. Yang ironis, dengan semua bukti yang bertebaran pun laporan forensik kepolisian Amerika tidak bisa mendapatkan hasil yang konklusif. Jaksa penuntut Nick Rice yang mewakili Clyde Shelton celakanya juga seorang yang sangat mementingkan rekor menangnya di pengadilan (karena ia ingin terus dipromosikan). Sadar bahwa kasus Clyde tidak bisa dimenangkan, Nick enggan untuk terus berusaha dan justru mencari jalan kompromi dengan sang penjahat. Hasil terakhirnya: karena seorang kriminal ‘bernyanyi’ setelah diajak kompromi, partnernya dihukum mati tetapi dia sendiri hanya mendapat hukuman ringan penjara tiga tahun. Nick lega dan ia merasa Clyde pun seharusnya puas karena hukum - setidaknya sebagian - sudah dilaksanakan.

Yang Nick tidak tahu: Clyde tidak terima. Yang Nick juga tidak tahu: Clyde bukan orang biasa. Jauh dari biasa. Clyde Shelton adalah salah seorang agen ahli strategi jenius yang dimiliki pemerintah. Dia selalu berhasil menciptakan rencana-rencana yang brilian. 10 tahun berlalu semenjak kasus Clyde berakhir ketika sang agen menuntut balas. Dan kini Clyde tidak lagi menempuh jalur hukum layaknya seorang law abiding citizen (warga taat hukum). Kali ini ia memutuskan membawa hukum ke tangannya sendiri. Tidak hanya para penjahat yang menghabisi keluarganya sajalah yang membayar - tetapi seluruh sistem hukum di Amerika yang ia nilai bobrok.

Saya percaya bahwa sebagai sebuah film intelektual yang menyangkut agen rahasia di dalamnya, Law Abiding Citizen gagal total. Terlalu banyak adegan di dalam film ini yang tidak masuk akal. Secerdas-cerdasnya Clyde, mustahil dia bisa melakukan semua hal yang dia lakukan dalam film ini. Mau tahu betapa cerdas dirinya? Bayangkan Michael Scofield dari serial Prison Break. Sudah? Kini lipat gandakan kecerdasannya dan kamu dapatkan Clyde Shelton. Tunggu dulu - tunggu dulu. Walau saya bilang Law Abiding Citizen gagal sebagai film intelektual, sebagai film thriller ia mungkin adalah film terbaik yang saya tonton tahun ini. F. Gary Gray dengan efisien terus memompa adrenalin kita dari menit awal film hingga menit terakhirnya. Hampir tidak ada adegan sia-sia dalam film ini, semuanya bertujuan memajukan plot dan membantu para penonton mengerti sosok dan rivalitas dari Nick dan Clyde.

Kebetulan keduanya pun diperankan secara apik oleh Jamie Foxx dan Gerard Butler. Tahun ini kelihatannya Gerard Butler memang sibuk sekali! Setelah flirting dengan Katherine Heigl di The Ugly Truth dan menjadi karakter yang dikontrol dalam Gamer, ia masih juga bisa total menghidupkan perannya sebagai Clyde. Jamie Foxx sendiri dari sananya bukan aktor kacangan, entah kenapa sukses selalu menghindarinya walaupun ia sudah memenangkan piala Oscar melalui menampilannya di Ray. Di sini Foxx juga sukses mengimbangi Butler lewat sosok Nick Rice yang terombang-ambing mengenai apakah ia harus melanggar hukum (yang selama ini ia junjung) untuk menghentikan sepak terjang Clyde? Sedikit trivia, sebenarnya peran mereka berkebalikan pada awalnya. Foxx mendapat bagian sebagai Clyde dan Butler mendapat bagian sebagai Nick. Walau tinggal impian, menarik membayangkan bagaimana kalau itu yang terjadi.

Walau bukan tanpa kekurangan, Law Abiding Citizen jelas merupakan sebuah film yang tak boleh dilewatkan kalau kamu penggemar film thriller.

FUN FACT: Penulis skenario dari film ini adalah Kurt Wimmer yang karya garapannya bisa jadi hit atau miss di mataku. Saya suka dengan Equilibrium, tapi benci setengah mati dengan Ultraviolet.

Score: 8.6

Movie Details
Director: F. Gary Gray
Cast: Jamie Foxx, Gerard Butler, Leslie Bibb
Running Time: 109 Minutes

Comments (4)

Tags: , , , , ,

The Ugly Truth

Posted on 31 October 2009 by Si Tukang Review

The Ugly Truth Poster

The Ugly Truth Poster

Sudah menjadi rahasia umum kalau dalam hal percintaan pria dan wanita jauh berbeda. Sementara para wanita lebih melihat sisi dalam alias kepribadian pasangan, pria biasanya jatuh cinta terlebih dahulu pada tubuh sang wanita yang seksi elok menggiurkan. The Ugly Truth - sesuai dengan judulnya - berusaha menunjukkan kenyataan mengenai perbedaan kedua jenis kelamin ini dengan membenturkan dua sosok yang sangat berbeda. Yang satu sosok produser penuh tata krama Abby Richter (diperankan oleh Katherine Heigl) dan yang satu adalah presenter urakan Mike Chadway (diperankan oleh Gerard Butler). Bagaimanakah hasil benturan keduanya?

Walau ia adalah seorang wanita yang kompeten dalam banyak hal, ada dua masalah besar yang saat ini dihadapi oleh Abby. Yang pertama, show miliknya terus mengalami penurunan rating sehingga ditakutkan akan dipotong oleh studio televisi. Masalah pelik kedua adalah sosok jodoh yang entah kenapa tak kunjung datang mengingat hampir semua pria yang dihadapi oleh Abby tidak bisa memenuhi daftar pria sempurna yang ia miliki. Kehidupan Abby yang seakan penuh masalah diperparah dengan kehadiran Mike Chadway, seorang presenter urakan yang sebelumnya ngetop di program saluran TV kabel bernama The Ugly Truth.

Terkesan akan penampilan Mike, bos Abby mengajaknya bergabung dalam shownya. Walaupun ditentang habis-habisan oleh Abby, terbukti bahwa pembawaan Mike yang berbeda berhasil meningkatkan kembali rating tersebut. Melihat bagaimana Abby masih bersikap dingin kepadanya, Mike menawarkan diri kepada Abby untuk membantunya mendapatkan pria idamannya. Apakah Mike dan Abby akhirnya bisa bekerja sama? Akankah Abby bisa jadian dengan sosok idamannya? Ataukah sebenarnya Mike dan Abby sudah saling jatuh hati tanpa keduanya saling menyadari?

Perlukah pertanyaan di atas saya jawab? Seperti halnya perbedaan sifat pria dan wanita, ending komedi romantis juga merupakan sebuah rahasia umum. Dua lakon utamanya saling bertengkar, menemukan bahwa mereka sebenarnya memiliki kesamaan, jatuh cinta, bertengkar lagi, akhirnya berbaikan di penghujung film dan voila, semua bahagia dan ending bergulir. The Ugly Truth tidak berusaha menyimpang dari pakem tersebut, walaupun mereka menambahkan beberapa hal untuk membuatnya menjadi menarik. Satu hal yang mungkin langsung akan membuat kebanyakan penonton berjengit adalah banyaknya referensi seksual dalam film ini. Saya rasa ini adalah film bergenre komedi romantis pertama yang memuat kata-kata vulgar macam ‘cock’, ‘fuck’, maupun ‘shit’ di dalamnya. Saya heran gunting sensor Indonesia yang biasanya tajam (hei, jangan mendebatnya - mereka melarang Miyabi datang!) tidak memangkas habis adegan-adegan tersebut. Bagi saya sendiri, banyak referensi seksual sebenarnya merupakan angin baru dalam gaya komedi film ini karena semuanya tidak dibawakan dengan gaya kampungan. Toh terlalu banyak memakai gaya komedi seksual pada akhirnya sedikit melelahkan menjelang pengakhiran film.

Cerita dalam The Ugly Truth yang sebenarnya biasa-biasa saja tertolong oleh penampilan Katherine Heigl dan Gerard Butler. Seperti yang saya tulis dalam artikel lima gadis terpanas untuk film musim panas tahun ini, siapa yang tidak terkesima dengan kecantikan Katherine Heigl di sini? Saat adegannya dengan celana dalam saja saya sampai memandang tanpa berkedip (akui para kaum adam, kalian juga kan?). Gerard Butler pun masih menyisakan tubuh gagah six-packnya. Tampangnya memang berangasan dan sekilas tidak cocok untuk genre komedi romantis… toh setelah melihatnya membawakan Mike Chadway, saya merasa Butler adalah sosok yang tepat. Ia maskulin - tanpa terlihat kekanak-kanakan seperti Matthew McConaughey. Siapa sangka bahwa Raja Leonidas juga bisa berperan jadi Don Juan modern?

Membandingkan The Ugly Truth dan The Proposal tidak bisa dihindarkan mengingat kedua film ini keluar pada waktu yang berdekatan. Saya pribadi lebih memilih The Proposal, tetapi The Ugly Truth pun bukan film yang jelek. Yang jelas jangan membawa adik kalian yang masih belum berumur 17 tahun menonton film ini kalau tidak mau dipusingkan dengan pertanyaan-pertanyaan dewasa dari mereka nantinya.

Score: 7.6

Movie Details
Director: Robert Luketic
Cast: Katherine Heigl, Gerard Butler
Running Time: 95 Minutes

Comments (7)

Tags: , , , , , ,

300

Posted on 24 May 2009 by Si Tukang Review

300 Poster

300 Poster

Prepare for Glory” - King Leonidas

Kata-kata raja Leonidas yang digunakan untuk membakar semangat para prajuritnya ini benar-benar pas untuk menggambarkan 300! Film kolosal yang diangkat dari graphic novelnya Frank Miller ini meraup kesuksesan besar di mana-mana dan merupakan film kolosal keempat terlaris setelah trilogi Lord of the Rings. 300 ini bukanlah remake langsung dari film klasik The 300 Spartans beberapa puluh tahun yang lampau. Kendati sama-sama menggambarkan Battle of Thermopylae, 300 lebih berdasarkan graphic novelnya Frank Miller. Lucunya: Frank Miller terinspirasi menulis graphic novel itu setelah menonton film the 300 Spartans!

Xerxes adalah raja Persia yang memiliki kekaisaran yang sangat luas. Kebanyakan kerajaan gentar mendengarkan nama dari tentara-tentara Persia yang konon saking banyaknya, apabila melepas panah bisa menutupi matahari sekalipun! Target berikut dari jajahan Xerxes adalah kerajaan Yunani. Pembawa pesan Xerxes dianggap menghina oleh Leonidas. Leonidas tidak sudi diminta menyerah begitu saja oleh Xerxes dan pemerintahannya dijadikan pemerintahan boneka. Sang messenger pun dihabisi - sekaligus mencetuskan sebuah perang besar dengan Xerxes.

Dalam kerajaan Yunani, adalah adat untuk meminta restu dari penasehat dalam maju perang. Celakanya para penasehat itu telah disuap oleh Xerxes dan dibutakan oleh ketamakan mereka. Tidak mendapatkan restu itu berarti Leonidas tidak bisa maju berperang secara resmi. Ia hanya bisa membawa 300 prajurit terbaik dan loyal dalam menghadapi ratusan ribu orang Persia yang mulai merapat di pantai Yunani. Tentu saja 300 orang itu bukan sekedar para prajurit kacangan. Xerxes akan segera belajar menyadari bahwa 300 orang itu adalah para tentara Spartan!

300 berbeda dengan film kolosal lain ala Troy dan Gladiator karena dia digarap dengan efek animasi sebagai latarnya. Itulah kenapa produksi film ini memakan waktu pasca dan pra syuting yang lebih lama ketimbang syutingnya sendiri. Apabila syutingnya konon tidak lebih dari dua bulan, pasca syutingnya konon makan waktu hampir setahun! Hasilnya terbayar ketika kita bisa menikmati animasi yang sangat indah - tajam - dan artistik.

Saya benar-benar salut dengan badan-badan para aktor di film ini. Mereka semua memiliki badan dan fitur six-pack (bahkan ada teman saya yang berkelakar mengatakan “Six pack? Ga level man. Eight pack.“). Zack Synder yang sebelumnya puas menghibur saya melalui aksi horror zombie dalam Dawn of the Dead sekali lagi berhasil membuat saya terpana dengan kepiawaiannya menghidupkang graphic novelnya Frank Miller ini. Bicara soal penampilan aktornya, yang pantas disebut mungkin hanyalah Gerard Butler dan Rodrigo Santoro. Saya lebih salut kepada Butler yang seorang diri mengomandoi seluruh film 300 ini. Dia berhasil dengan gagah membawakan sosok Leonidas ke layar lebar. Ia berhasil tampil sebagai suami yang mencintai istrinya, pria yang berjuang demi kedaulatan rakyatnya, dan jenderal yang hebat di mata anak buahnya. Tidak berlebihan kalau saya menyamakan penampilannya dengan Rusell Crowe di Gladiator dulu.

300 tidak bisa dibilang sebagai film kolosal murni tetapi lebih merupakan fantasi yang bercampur dengan kolosal. Banyak pengamat film mengatakan bahwa inilah alasan utama kenapa 300 bisa sangat sukses di pasaran sementara film-film kolosal lain macam Alexander, Kingdom of Heaven, sampai King Arthur semuanya flop dan gagal total di Box Office (percaya tidak percaya, jumlah Box Office gabungan dari ketiganya pun tidak mencapai 3/4nya pendapatan dari 300!).

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati 300. Fakta historis yang disajikan film ini meleset tentunya dari sejarah yang ada. Toh, melihat 300 prajurit menghantam segala apapun yang disodorkan pada mereka diiringi dengan musik dan score upbeat Tyler Bates serasa jauh lebih stylish. So, are you ready for your glory?

Score: 8.4

Movie Details
Director: Zack Synder
Cast: Gerard Butler, Lena Headey, Dominic West, David Wenham, Rodrigo Santoro
Running Time: 117 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , , , ,

Watchmen

Posted on 05 May 2009 by Si Tukang Review

Watchmen Poster

Watchmen Poster

Karya Alan Moore ini merupakan salah satu tonggak penting bagi industri komik. Ketika Watchmen dirilis untuk pertama kalinya pada tahun 1986, industri komik Amerika tersadar bahwa superhero tidak lagi terbatas untuk anak-anak saja. Apabila digarap dengan serius dan benar, maka komik mengenai superhero pun bisa dinikmati oleh semua kalangan. Bisa dibilang, Watchmen - selain The Dark Knight Returns garapan Frank Miller - adalah titik balik di mana komik kian mendewasakan dirinya.

Mengingat komik Watchmen telah mendapatkan pujian dari begitu banyak pihak, versi filmnya segera direncanakan. Sayangnya, karena keterbatasan teknologi di masa itu, ditambah dengan sengketa antara Alan Moore dan DC membuat rencana penggarapan filmnya terkatung-katung. Apa yang tadinya merupakan hype berubah menjadi kekhawatiran ketika karya lain Moore: League of Extraordinary Gentlemen-nya diadaptasi ke layar lebar dan melenceng total dari bahan aslinya. Alan Moore konon sampai murka besar melihat karyanya di’hancur’kan. Walau V for Vendetta dinilai lebih baik oleh para pengamat, Moore sudah tidak bersedia lagi bekerja sama dengan DC untuk Watchmen.

Tak mau turut campurnya Moore dalam proyek Watchmen membuat para penggemarnya cemas. Apa jadinya Watchmen nanti? Untungnya kecemasan tersebut mampu diredam ketika melihat publicity stills yang beredar di internet dan berita bahwa Dave Gibsons sebagai co-creator dan ilustrator serial ini ikut membantu penggarapan. Kostum para karakternya persis. Zack Synder yang sebelumnya sukses mengadaptasi 300 pun berjanji bahwa ia akan faithful terhadap komik Watchmen. Hype kembali terbangun, dan Watchmen sempat menjadi film dengan opening terbesar tahun ini (sebelum dipatahkan oleh Monsters vs Aliens, Fast and Furious, dan baru-baru ini Wolverine). Gegap gempita tersebut surut ketika di minggu-minggu berikutnya pendapatan Watchmen kelimpungan. Apa artinya? Apakah film Watchmen sukses mengadaptasi komiknya? Dan yang terpenting: bagaimana kualitas filmnya?

Ketika salah seorang mantan anggota Watchmen dengan kode nama ‘The Comedian’ mati terbunuh seorang misterius, para mantan anggota Watchmen lainnya pun bertanya-tanya: “Siapa gerangan pelakunya? Siapa yang cukup kuat untuk membunuh seorang superhero?”. Di antara para mantan anggota, Rorschach-lah yang paling bernafsu menemukan pembunuh itu. Anggota lain seperti Nite Owl dan Silk Spectre sudah enggan berurusan dengan kehidupan lama mereka. Ozymandias dan Doctor Manhattan malahan merasa bahwa masalah tersebut hanya kebetulan belaka; dan mereka terlibat dalam urusan yang lebih penting. Maklum saja, perang dingin antara Amerika dan Uni Soviet sudah memanas - dan berkemungkinan pecah menjadi Perang Dunia III. Apabila perang sungguh terjadi, nuklir demi nuklir yang diluncurkan sangat mungkin menghancurkan dunia. Apakah kasus pembunuhan The Comedian memiliki sangkut pautnya dengan perang Amerika dan Uni Soviet?

Ketika saya hendak menemani teman saya menonton Watchmen untuk kedua kalinya, ia bertanya kepada saya “Sebenarnya Watchmen ini film apa sih? Superhero?“. Saya bingung menjawab pertanyaannya. Menyatakan Watchmen sebagai film superhero kurang tepat, mengingat di dalamnya ada begitu banyak genre yang terwakili; mulai dari misteri, action, drama, gore, sampai superhero sendiri. Bahkan ringkasan plot yang saya tulis di atas pun tidak menerangkan lebih dari kulit luar film ini.

Tanpa menuangkan spoiler lebih banyak lagi, saya ingin mengatakan kalau Watchmen adalah salah satu film superhero paling ‘ajaib’ yang pernah saya tonton. Saya mengacungkan dua jempol untuk keberanian Synder memakai kostum asli para karakternya (ketimbang mengubahnya ala X-Men). Melihat karakter komik hidup ke layar lebar dengan kostum otentiknya sudah memberi nilai plus dulu. Selanjutnya sinematografi film ini antara berhasil dan tidak. Saya suka beberapa adegan film ini (SPOILER: duel The Comedian dengan sang pembunuh di awal film sangat keren, juga kemunculan Doctor Manhattan dalam menghabisi para Vietcong), sebaliknya beberapa adegan terasa terlalu mirip dengan 300 - kalian akan tahu adegan mana yang saya maksud begitu menonton film ini. Mungkin Synder masih ketagihan memakai style yang sama setelah sukses dengan 300? Keberanian lain Synder adalah waktu tayang film ini: hampir tiga jam (bahkan akan melebihi waktu itu untuk versi uncutnya) memberi Synder cukup waktu untuk mengeksplorasi tiap-tiap karakter di film ini. Edannya, Synder dengan berani memperkenalkan background tiap karakter tidak di awal film tetapi mengupasnya secara perlahan di awal, tengah, bahkan menjelang akhir film - sesuai dengan narasi ceritanya.

Saya jarang mengulas lagu dan score sebuah film, tetapi saya memberi perkecualian untuk Watchmen. Saya sangat-sangat suka dengan penempatan lagu di film ini. Opening scenenya yang menjelaskan sejarah Watchmen yang diiringi lagu The Time They Are A-Changin’ benar-benar nyambung dan mengena; dan itu baru satu contoh saja. Score garapan Tyler Bates juga sangat pas menghidupkan adegan-adegan di film ini.

Watchmen jelas akan membagi penonton menjadi dua kubu. Seperti kata seorang temanku: “you will either love it, or hate it“. Mereka yang tidak setuju dengan cara Synder akan mengkritik Watchmen sebagai film superhero “kesedikitan action, kebanyakan ngomong” tapi bagi mereka yang menghargai cara Synder menyutradarai film ini niscaya akan menilai Watchmen sebagai salah satu movie superhero terbaik yang pernah digarap. Saya? I (totally) love this movie!

PS: Penulis skenario dari Watchmen adalah David Hayter. Penggemar film akan mengenali dia sebagai penulis skenario dari X-Men 2: United. Sementara penggemar video game jelas mengenali suaranya sebagai the one and only Solid Snake.

Score: 8.4

Movie Details
Director: Zack Synder
Cast: Malin Akerman, Billy Crudup, Carla Gugino
Running Time: 162 Minute

Comments (12)

Tags: , , , , ,

The Spirit

Posted on 16 April 2009 by Si Tukang Review

The Spirit Poster

The Spirit Poster

Tidak banyak orang yang mengenal karakter The Spirit. Maklum saja, karena dia bukanlah karakter hero yang ngetop macam Superman atau Batman. Bahkan, seiring dengan berjalannya waktu, karakter ini mulai dilupakan oleh orang. Ini sangat disayangkan, karena pencipta The Spirit; Will Eisner adalah salah satu sosok yang sangat dihormati di dunia komik. Penghargaan tertinggi dunia komik bahkan diberi nama Eisner Award (seperti Oscar buat dunia perfilman). The Spirit sendiri berjasa memperkenalkan banyak hal dalam dunia komik, seperti gaya penggambaran noir yang artistik sampai jalan cerita yang variatif mulai dari drama hingga pembunuhan tetapi tetap down-to-earth (baca: humanis).

Ketika mendengar bahwa The Spirit akan difilmkan dan dihelmi oleh Frank Miller, saya sangat penasaran akan hasilnya. Bagi para penggemar komik, nama Frank Miller tentu sangat dikenal. Dari tangannyalah lahir karya macam 300 dan Sin City, bahkan Batman Begins pun mengambil inspirasi dari Batman Year One karangannya. Mengingat Frank Miller adalah teman baik dengan mendiang Will Eisner, nampaknya merupakan hal yang tepat baginya untuk menyutradari film The Spirit.

Sebelum menjadi The Spirit, Denny Colt adalah seorang polisi biasa. Tewas suatu hari dalam kecelakaan, entah bagaimana ia bisa kembali hidup, bahkan memiliki kekuatan untuk terus menyembuhkan diri ala Wolverine. Merasa mendapat berkah, Denny pun menyembunyikan dirinya dengan identitas The Spirit. Sebagai The Spirit, ia terus berjuang melawan kejahatan yang meneror Central City, terutama seorang dokter sinting bernama Octopus. Perlahan-lahan The Spirit menyadari bahwa Octopus dan dirinya memiliki kesamaan kemampuan menyembuhkan diri. Apa sebenarnya hubungan keduanya?

Film ini sangat - sangat mengecewakan. Keburu berharap banyak akan film ini membuat saya sangat kecewa ketika menontonnya. Frank Miller mungkin piawai dalam menggarap dan menulis cerita, tetapi ia sama sekali tidak berbakat sebagai seorang sutradara. Sebagai contoh: acap kali di tengah film si Spirit melakukan monolog - seakan berbicara dengan penonton. Sekali dua kali sih tidak apa, toh Sin City juga menggunakan teknik yang sama, tetapi bila monolog digunakan berkali-kali dan berisi kata-kata kacangan yang berkepanjangan membuat film ini seperti membodohi penonton. Saya sampai gemas “Ini menonton film… atau dibacain buku cerita?”

Kelemahan kedua dalam film ini adalah inkonsistensi genrenya. The Spirit sebenarnya mau jatuh dalam kategori apa? Humor? Action? Noir? Jangankan penonton, bahkan Frank Miller saja kebingungan. Dalam satu adegan, ada The Spirit pukul-pukulan dengan Octopus dengan senjata dudukan toilet (saya serius!), sementara di adegan berikutnya Samuel L. Jackson sebagai Octopus berdandan ala samurai dan main tebas-tebasan (sekali lagi, saya serius!). Ini sebenarnya mau buat film komedi yang leluconnya garing, atau mau membuat film drama kriminal yang dibalut misteri?

Tentu saja Frank Miller tidak boleh disalahkan sendirian. Hampir semua cast di dalam film ini tampil buruk tanpa penjiwaan, seakan mereka sudah sadar bahwa mereka tampil di film yang begitu buruk dan bagaimanapun bagusnya akting mereka tidak akan menyelamatkan film ini. Gabriel Macht sebagai The Spirit tampil datar, Eva Mendes dan Scarlett Johansson hanya hadir sebagai simbol seks belaka. Beruntung film ini masih memiliki Samuel L. Jackson yang berusaha menjiwai karakter Octopus (yang ironisnya juga dicerca penggemar fanatik The Spirit karena dalam komiknya sosok Octopus selalu terbalut misteri dan hanya dihadirkan dalam bentuk sarung tangannya saja).

Banyak kritik berusaha untuk setidaknya memuji visualisasi dari film ini yang senafas dengan 300 dan Sin City (menggunakan teknik sinematografi digital). Buat saya, bahkan kualitas visualisasi dari The Spirit pun lemah. Lihat 300 dan Sin City yang memiliki nafas visual yang konsisten, bandingkan lagi dengan The Spirit yang kadang di satu adegan tampil terlalu hitam putih, kadang tampil terlalu berwarna. Visualisasi memang merupakan bidang terkuat di film ini, tetapi dibandingkan film sejenis pun The Spirit masih terbilang inferior.

Akhir kata, tahun 2008 seharusnya menjadi tahun yang sempurna buat para superhero. The Dark Knight menjadi film terlaris tahun tersebut, Iron Man dan The Incredible Hulk membuka kesempatan lahirnya franchise The Avengers, Hellboy II pun walau tidak bisa menembus angka 100 Juta USD tetap menuai pujian bertubi-tubi dari para kritik. Sayang seribu sayang, seakan dihadiahkan Pit Hitam buat para anak-anak nakal, The Spirit hadir sebagai bencana di hari Natal.

Score: 0.7

Movie Details
Director: Frank Miller
Cast: Gabriel Macht, Samuel L. Jackson, Scarlett Johansson, Eva Mendes
Running Time: 102 Minutes

Comments (1)

Advertise Here
Advertise Here