Review
Ketika melihat film The Four ditayangkan di layar lebar sinema saya melewatkannya disebabkan tak yakin apakah film ini akan masuk dengan seleraku. Saya semakin ragu untuk menontonnya ketika banyak temanku yang keburu menontonnya mengatakan bahwa mereka tidak puas dengan film ini. Setelah beberapa bulan lamanya file film The Four ini mubazir akhirnya saya menyempatkan diri untuk menontonnya tanpa memasang ekspektasi apapun akannya.
Rupanya The Four ini adalah adaptasi dari novel karya Wen Ruian yang berjudul The Four Great Constables (Si Da Ming Bu). Keempat agen penangkap kriminal jaman feudal Cina ini dikepalai oleh Zhuge, semacam sebuah divisi tentara spesial yang diberi perintah langsung oleh Kaisar Cina. Film The Four ini merupakan bagian dari trilogi yang direncanakan oleh sutradara Gordon Chan. Dalam film pertama tim The Four yang belum terbentuk sempurna ini harus menyelidiki misteri koin emas palsu yang beredar di masyarakat. Siapakah yang mengedarkannya?
Keempat agen handal ini adalah: Heartless, Iron Fist, Hunter, dan Cold Blood. Fokus terutama ditempatkan kepada Cold Blood yang diperankan oleh Deng Chao. Bagiku ini merupakan kelemahan terbesar film ini. Cold Blood seharusnya digambarkan sebagai seorang karakter yang cool dan keren, mirip dengan banyak karakter anime yang pendiam. Salah satu contohnya ya Uchiha Sasuke dari Naruto itu. Akan tetapi akting dari Deng Chao bukannya menunjukkan Cold Blood sebagai sosok yang keren tetapi malahan menyebalkan. Loyalitasnya yang terbagi dua antara kesatuannya sekarang dan kesatuannya dulu pun tak tersampaikan dengan baik kepada penonton.
Karakter kedua yang mendapatkan sorotan adalah Heartless. Liu Yifei adalah artis cantik berbakat yang sayang sekali talentanya disia-siakan di film ini. Sepanjang film ini ia melulu merenggut dan sepertinya ditempatkan dalam cerita hanya untuk: a. mengungkap misteri cerita dengan kemampuannya, dan b. membuat jalan cinta segitiga yang tidak menarik dengan Cold Blood. Heartless dan Cold Blood? Membayangkan kalau mereka punya anak saja sudah tidak masuk akal. Jangan-jangan bakalan dinamai Cold Heart atau Bloodless?
Untung saja di luar dua peran utamanya film ini diselamatkan dengan akting yang natural dari Hunter dan Iron Fist. Salah satu hiburan terbesarku menonton film ini adalah melihat tingkah laku Hunter yang sangat mencuri perhatian dengan kekocakannya. Tambahkan dirinya dengan Iron Fist yang kadang kaku (Collin Chou yang angker di sini tampil sederhana) maka tiap kali keduanya muncul di layar saya bisa terhibur akannya. Tentu saja jangan lupakan sisa anggota lain di bawah pimpinan Zhuge. Kendati porsi mereka sedikit saya justru lebih simpatik dengan mereka semua ketimbang kedua lead utamanya.
Gordon Chan banyak mengutilisasi jurus-jurus wire-fu di dalam film ini. Koreografi film ini tak bisa dibilang luar biasa amat kendati ada beberapa adegan pertarungan di sana-sini yang cukup keren. Misteri yang ditampilkan di film ini untungnya cukup menarik untuk disimak walau masih terbilang setingkat di bawah Wu Xia, Reign of Assassins maupun Detective Dee. Mungkin niatnya Gordon Chan meniru kedua film itu tetapi sayangnya masih belum bisa menyamai level keduanya.
So my verdict is… apa yang menolong The Four menjadi tontonan yang masih bisa cukup menghiburku adalah ekspektasiku yang sangat rendah saat menonton film ini. Yah paling tidak saya jadi tahu mengenai siapa saja The Four itu dan bisa menonton lanjutannya saat sekuelnya dirilis nanti. Omong-omong buat mereka yang bilang ini seperti X-Men jaman Cina jadul… you guys are totally right!
Score: B-













Bagiku yang baca novel Si Da Ming Bu, film ini menyebalkan terutama untuk karakter Heartless. Namanya tanpa perasaan, tapi di sepanjang film ulahnya emosional dan temperamental. Apanya yang heartless? Coba baca ulasanku kenapa aku sebal sama Heartless di tulisanku ini:
http://yusahrizal.wordpress.com/2012/07/22/the-four/
Bandingkan juga sama ulasanku tentang karakter 4 detektif itu dalam novelnya:
http://yusahrizal.wordpress.com/2012/07/18/empat-opas-pertemuan-di-kotaraja/
ah iya, katanya mau dibikin trilogy yah? aku udah bisa nebak tuh siapa dalang di belakang layar. pasti si pangeran yang terlihat baik hati itu, tipikal banget sih gaya ceritanya.
Saya sudah baca bro Ando-kun.
Wah, benar-benar berbeda sekali ya? Bro Ando-kun sering membaca serial-serial silat begini kah?
Iya, tapi itu dulu. Sekarang udah nggak baca lagi, maklumlah akhir2 ini jarang ada novel silat baru yang bagus diterjemahkan
Penulis favoritku sih Jin Yong, novel silat favoritku: The Deer and the Cauldron dan Demi-Gods and Semi-Devils.
Suka nonton serial silat gak? Aku kasih rekomendasi satu serial:
http://yusahrizal.wordpress.com/2008/07/25/a-step-into-the-past/