Review
Setelah kesuksesan dari season pertama The Avengers: Earth’s Mightiest Heroes (The Avengers: EMH) Marvel tak butuh waktu lama untuk memberi lampu hijau bagi season keduanya. Sayangnya setelah season kedua ini digarap Marvel di bawah pimpinan Jeph Loeb (him again!) memutuskan untuk mengubah serial ini dan melabelinya Avengers Assemble. Alasan dari perubahan ini cukup jelas: kesuksesan film layar lebar The Avengers. Apa lagi alasan yang tepat untuk menjustifikasi tim Avengers dengan karakter Captain America, Iron Man, Thor, Hulk, Black Widow, dan Hawkeye dalamnya? Dengan hanya 26 episode tersisa, bisakah season kedua ini memberi pamungkas yang memuaskan bagi penonton?
Season kedua dari The Avengers dibuka setelah akhir dari invasi Loki di season pertamanya. Ada beberapa perubahan di line-up tim ini karena Thor harus tinggal di Asgard sambil membetulkan kerusakan yang dilakukan oleh Loki. Di sisi lain Hank Pym yang sudah jengah dengan segala perbuatan negatif yang ia lakukan sebagai Ant-man memutuskan untuk berhenti sebagai seorang Avengers dan melakukan riset ilmiahnya seorang diri. Tentu saja The Avengers tak lantas kekurangan anggota begitu saja. Beberapa member baru seperti Ms Marvel kemudian bergabung masuk dalam tim ini. Dan kedatangan mereka memang sangat dibutuhkan untuk menghadapi sebuah invasi diam-diam dari makhluk ras alien yang mengancam bumi.
Satu hal yang kusadari dari season kedua ini adalah bagaimana para penulis kisah serial ini semakin sering menyadur kisah-kisah populer dari graphic novel. Dan itu memang langkah yang brilian. Kisah dari paruh pertama season kedua ini mengambil basis dari Secret Invasion, salah satu event crossover Marvel yang paling populer dan memiliki hype tinggi pada dekade lalu. Tak hanya itu karena karakter yang lebih sedikit dan terfokus (ketimbang membentangkan jaring ke seluruh Marvel Universe) maka Secret Invasion versi animasi sebenarnya memiliki pacing yang lebih apik ketimbang versi orisinil yang ditulis Brian Michael Bendis.
Tak berhenti sampai di Secret Invasion saja paruh kedua dari season ini mengambil inspirasi dari beberapa story arc lain yang lebih pendek seperti The Kree War dan Winter Soldier. Apabila kalian penggemar kisah-kisah yang bersangkutan maka kalian akan senang melihat bagaimana hampir semua bagian dari dunia Marvel dijangkau oleh serial ini. Menonton paruh keduanya bagiku mengingatkanku pada season ketiga, keempat, dan kelima dari Justice League yang judulnya berubah jadi Justice League: Unlimited. Fokus serial ini tak lagi melingkupi para karakter utama grup The Avengers tetapi pada seluruh Marvel. Kalian akan melihat hero-hero populer kalian macam Spider-man, Wolverine, Fantastic Four, dan beberapa hero yang lebih kurang populer macam Yellowjacket, Luke Cage, dan Iron Fist muncul di sini.
Dengan ditutupnya serial ini pada season keduanya (saya masih berharap berita ini akan direvisi ulang) pada akhirnya ada beberapa kisah dari The Avengers: EMH yang belum tertutup secara rapi. Ambil contoh saga kembalinya Bucky yang masih bisa digali lebih lanjut, peranan SHIELD yang terlalu pasif di paruh kedua season ini, sampai tidak ditindaklanjutinya kisah Surtur dikarenakan keterbatasan episode. Semua ini memang mengecewakan tetapi paling tidak para penonton boleh menghela nafas lega sebab finale yang diberikan oleh serial ini sudah menutup mayoritas plot serta memberikan konklusi yang memuaskan bagi para superhero ini.
Mengesampingkan peningkatan kualitas cerita beberapa kelemahan lama dari season pertama The Avengers: EMH masih muncul di season ini: kualitas animasi dan koreografi pertarungannya. Animasi dari The Avengers: EMH masih saja terlihat agak kaku dan saya takkan pernah terbiasa dengan pergerakan dari Captain America yang anatomi tubuhnya terlihat aneh. Koreografi pertarungan masih saja semonoton yang dulu dengan para superhero saling lempar melempar lawan atau mengumpulkan energi untuk ramai-ramai menembaki lawan. Terkadang begitu bosannya saya dengan pertempuran yang terjadi saya jadi ingin menskip bagian-bagian pertarungannya untuk langsung masuk ke bagian narasi kembali. Saya hanya bisa berharap bahwa serial Avengers Assemble nanti akan mengatasi masalah ini.
So my verdict is… lepas dari sedikit masalah minor ini sebenarnya season kedua dari The Avengers: EMH mengalami kemajuan berarti dari season pertamanya. Kendati mungkin beberapa elemennya benar-benar dibuat untuk anak-anak (tidak ada karakter yang mati, berulang kali sang villain hanya menangkap dan bukannya menghabisi para jagoan yang sudah tak berdaya) serial ini tetap bisa dinikmati oleh penonton penggemar komik dari segala kalangan usia.
Score: 8.5














salah satu yang bikin pusing itu ketika kree pada nyamar, bingung mana yg asli atau kree
Maksudnya Skrull?
nah itu maksud saya hehe
bagian pas dimana siapa kawan siapa lawan itu bikin pusing tapi keren