Review




Welcome to the Aincrad

Fenomena game online sekarang sepertinya sudah tidak terpisahkan dari dunia PC dan dunia gaming pada umumnya. Di Indonesia pada awal masa kuliahku dulu ada sebuah game online yang sangat fenomenal bernama Ragnarok Online. Begitu fenomenalnya game ini PT Lyto yang memegang lisensinya menjadi kaya raya. Sejak saat itu ada puluhan game online menyerbu masuk ke Indonesia. Saya sekarang bahkan sudah tidak tahu apa-apa saja game yang ada. Dan fenomena ini tak terjadi hanya di Indonesia saja tetapi di Amerika juga. Sebuah game online super populer bernama World of Warcraft di masa jayanya dulu pernah mencetak langganan mencapai 10 juta pemain lebih!

Salah satu daya tarik dari game online adalah kemampuan mereka untuk menghidupkan imajinasi para pemain ke dunia lain, berinteraksi dengan gamer-gamer lainnya dalam avatar fiksi mereka. Inilah yang menjadi basis dari Sword Art Online. Konon beberapa tahun ke depan akan ada sebuah alat canggih bernama NerveGear. Alat ini – ketika dipasangkan di kepala gamer – akan membawa seluruh kesadaran gamer ke alam tersebut. Dan game pertama yang diaktivasikan dengan NerveGear adalah online game Sword Art Online.

Sword Art Online Poster

Teknologi baru bernama Full Dive ini membuat banyak orang menjadi kepincut untuk menjajal Sword Art Online termasuk di dalamnya adalah seorang beta tester bernama Kirigaya Kazuto. Memakai nickname Kirito mereka segera bersenang-senang di dalam dunia maya tersebut. Akan tetapi tak disangka-sangka Kirito dan semua orang yang login dalam Sword Art Online pada hari pertama tak bisa logout. Tubuh mereka terperangkap dalam dunia maya tersebut! Sang pencipta game Sword Art Online: Kayaba Akihiko telah menciptakan sebuah sistem mematikan di mana para pemain yang terlibat dalam game ini hanya bisa keluar (logout) dan kembali ke tubuh mereka apabila menamatkan seratus level Aincrad. Dan penalti apabila orang mati tetap ada. Apabila kamu tewas dalam dunia ini maka kamu juga akan tewas di dunia nyata – ala The Matrix.

Bisakah Kirito menemukan teman-teman dan bertahan hidup di dunia ilusi ini?

Virtual Reality, MMORPG, and Real Life

Sword Art Online semula berasal dari novel karya Reki Kawahara. Serial anime yang saya review ini mengambil basis dari empat volume pertama novelnya: Aincrad dan Fairy Dance. Bisa dibilang serial animasi ini terbagi menjadi dua story arc besar: petualangan Kirito di Aincrad dan petualangannya di Alfheim.

Yang membuat kisah Sword Art Online menjadi menarik bagiku adalah bagaimana sang penulis mampu menggabungkan elemen dunia MMORPG dan implikasi sosialnya dalam masyarakat. Coba lihat di episode pertama ketika semua orang mendengar bahwa mereka akan terperangkap dalam Aincrad… ada rasa frustasi dan takut menghantui semua mereka. Mereka dipersatukan dalam rasa benci dan marah kepada Kayaba Akihiko. Akan tetapi setelah initial shock itu berlalu sifat asli manusia kembali timbul…

Online Heroes

Dari 10.000 pemain yang ada dan terperangkap di dalam dunia Aincrad itu mulai terjadi sistem kehidupan sendiri. Ada kelompok yang tergabung dalam elite Front Liner – yang maju untuk terus menyelesaikan game. Ada lagi kelompok yang menjadi kriminal… pembunuh yang mengincar harta serta item milik orang-orang lainnya. Ada lagi yang tak mau turut campur dengan segala hiruk pikuk itu memilih untuk menyerah dan mencoba beradaptasi dengan kehidupan mereka di Aincrad. Menarik bagaimana Reki Kawahara mencoba menggali semua aspek ini dalam karyanya.

Pun dunia Aincrad maupun Alfheim yang diciptakan oleh sang penulis cukup membius. Kedua dunia ini tidak terbilang orisinil dan kalau kamu sering bermain game online kemungkinannya besar bahwa kamu pasti pernah memainkan game dengan setting yang nyaris serupa. Akan tetapi mungkin itu jualah yang menjadi daya tarik dari Sword Art Online, perasaan nostalgia. Beberapa temanku yang dulu gemar bermain game online mengaku bahwa menonton serial ini mengingatkan mereka akan jaman dulu saat bermain Ragnarok Online – lebih dari bahkan saat mereka menonton adaptasi serial animasi game online tersebut!

Asuna, lovable girl!

Kendati di awalnya kisah petualangan Kirito terasa episodik, benang merah yang menyambungkan cerita mulai terasa semenjak episode kelima dan keenam. Karakter-karakter yang ditemui Kirito mulai saling berseberangan dan saya menjadi sangat makin senang mengikuti setelah ada hubungan percintaan antara Kirito dan seorang karakter lain: Asuna. Saya biasa tak terlalu suka dengan serial yang mengedepankan percintaan tetapi kisah kasih antara Kirito dan Asuna terasa tumbuh dengan begitu natural dan romantis sehingga mau tak mau saya pun bersorak mendukung keduanya.

I Wanna Always Be With You, I’ll Give You Everything I Have!

Kualitas animasi dalam Sword Art Online memiliki detail gambar yang tajam dan bagus. Setiap pertempuran dan pertarungan yang dilakukan oleh Kirito dan teman-temannya memiliki campuran aksi yang berbeda-beda sehingga tak pernah membosankan untuk ditonton. Lagipula studio A-1 yang menangani serial ini bukan studio kacangan. Beberapa serial animasi terkenal seperti Anohana: The Flower We Saw That Day, Persona: Trinity Soul, Valkyria Chronicles, bahkan anime populer Fairy Tail telah mereka kerjakan.

Ada dua opening dan ending yang berbeda bagi serial animasi ini terbagi sesuai dengan story arc di Aincrad dan Alfheim. Saya cukup suka dengan keempat-empatnya, walau awalnya terasa biasa tetapi setelah lama-lama didengarkan eh catchy juga ternyata. Pengisi suara dari setiap-tiap karakter sudah bagus menghidupkan karakter mereka. Mungkin malah terlalu bagus sebab seorang teman saya yang sedikit suka moe menggemari karakter Yui yang ia anggap sangat imut dan menggemaskan.

So my verdict is… kalau kamu pernah mengalami suka duka bermain game online maka kemungkinan besar kamu akan enjoy menonton Sword Art Online. Bahkan bila kamu tak pernah memainkan game online dan sekedar tahu mengenainya (seperti saya) masih ada banyak hal yang bisa kamu nikmati saat menonton animasi sepanjang 25 episode ini. Cukup bagus kok, give it a try!

Score: 8.5