Review
“And when you show yourself to the world, It will be a different age than ours, Clark – A silver age of heroism. That will start when they look up into the sky at you with hope for tomorrow. You will help everyone embrace it.” – Doctor Fate
Saya ingat beberapa bulan yang lalu mamaku bertanya kenapa saya mendadak melonjak-lonjak girang setelah membuka bagian berita situs Kryptonsite. Mamaku kian kebingungan ketika satu-satunya kata yang keluar dari mulut saya seakan sandi yang tak bisa ia pecahkan “JSA! JSA!”
Setelah Geoff Johns sukses memenai Legion season lalu, kru Smallville sekali lagi mengontrak sang penulis terbaik DC untuk menangani sebuah episode mengenai Justice Society America. Seperti halnya Legion of Superheroes, JSA bisa dibilang kumpulan deretan superhero DC kelas B yang kurang terkenal. Mengingat Batman dan Wonder Woman adalah properti kelas A DC yang tak boleh dimunculkan di Smallville, mereka telah berusaha memasukkan berbagai superhero kelas B dalam Smallville. Episode Justice di season enam merupakan salah satu contoh di mana para superhero DC bersatu di bawah pimpinan Clark.
Begitu besarnya hype penonton akan episode yang tadinya diberi nama Society, kru Smallville merombak rencana mereka dan memberi Geoff Johns dua episode bertema JSA. Seakan-akan itu belum cukup untuk mengimbangi hype yang ada, dua episode itu kemudian dijadikan satu dalam even TV Movie spesial yang diberi nama: Absolute Justice. Rating Smallville memang melejit tinggi malam itu dan tercatat sebagai rating tertinggi selama season ini, tetapi bagaimana dengan kualitas tontonannya sendiri?
Chloe meradang dan merasa bahwa akhir-akhir ini grup superhero di bawah pimpinannya selalu bertindak secara independen dan tidak terfokus. Clark sibuk membersihkan kota Metropolis seorang diri, Oliver masih belum pulih benar dari trauma kehidupan superheronya, John masih normal setelah menyerahkan kekuatannya menyelamatkan Clark di season tujuh, dan yang lain seperti Black Canary, Flash, Aquaman, dan Cyborg tidak memberinya update apapun. Di tengah kegeramannya, Chloe dihadang seorang misterius yang memintanya untuk mulai mengumpulkan anggota superhero. Kebingungan bagaimana orang misterius itu bisa tahu mengenai dirinya, Chloe mendadak dilempar ke tempat sampah oleh si orang misterius. Terjadi pertarungan brutal yang berakhir dengan terbunuhnya si orang misterius – belakangan diketahui bernama Sylvester Pemberton.
Ketika Chloe dan Clark menggali lebih dalam mengenai siapa Sylvester Pemberton dan kenapa ia memakai kostum dan senjata aneh saat terbunuh, keduanya menemukan bahwa Sylvester merupakan bagian dari kelompok kriminal yang ditangkap oleh polisi bertahun-tahun lalu. Anehnya, ketika Chloe dan Clark melihat lebih dalam pada file-file orang yang ditangkap itu, mereka menemukan bahwa semua anggota kelompok itu ditangkap dengan tuduhan yang terlalu mengada-ada, bahkan bukti rekayasa dari pengadilan… bahwa kelompok di mana Sylvester tergabung itu tidak lain tidak bukan adalah JSA. Siapa sebenarnya orang yang membunuh para anggota-anggota JSA? Bagaimana nasib JSA sekarang?
Fanboy dalam diri saya hendak memberi episode ini nilai setinggi mungkin dan memujinya sampai ke langit. Tapi sisi lain saya menggugat. Inilah sebabnya saya sengaja menunggu dua tiga hari supaya demam fanboyku mereda dan mencoba menonton episode ini sampai tiga kali sebelum saya (merasa) bisa menilainya secara obyektif.
Poin pertama yang akan saya nilai adalah ceritanya. Seorang fanboy seperti saya pastinya puas dengan episode ini. Geoff Johns rupa-rupanya tahu benar bagaimana memuaskan fantasiku. Mulai dari begitu banyak memorabilia anggota JSA sampai celotehan Doctor Fate mengenai anggota-anggota lain JSA menurutku sangat memuaskan. Apalagi Geoff memberikan kejutan di akhir film ini dengan memperkenalkan sebuah tim baru lagi dalam dunia Smallville.
Selain Bendis di Marvel, saya juga merasa kalau Geoff adalah sosok yang mampu menghidupkan karakter-karakternya melalui dialog mereka; ia melakukannya di Legion, dan ia melakukannya lagi di sini. Pembicaraan antara Chloe dan Courtney / Stargirl di Watchtower menyemenkan perbedaan fundamental antara JSA dan JLA. Apabila Justice League of America adalah tim pemberantas kejahatan maka Justice Society of America adalah keluarga. Poin ini adalah suatu hal yang sangat penting bagi para pembaca komik, dan saya bersyukur Geoff mengikutkannya. Satu lagi dialog yang menjadi highlight episode ini adalah perbincangan Doctor Fate dan Clark, lebih tepatnya bagaimana Doctor Fate memberitahukan kepada Clark mengenai ‘fate’nya sebagai Superman kelak. Dengan kesuksesan The Dark Knight, saya melihat bahwa akhir-akhir ini orang cenderung berpikir Batman keren sementara Superman itu katro. Rasa-rasanya mereka lupa bahwa kalau Batman menghadirkan takut di hati para penjahat, Superman adalah sumber inspirasi. Superhero mana lagi yang membuat kamu melihat ke angkasa dan merasakan adanya harapan?
Bagaimanapun, saya harus obyektif. Semua kelebihan penulisan Geoff tadi hanya bisa dimengerti oleh orang yang sungguh tahu mitologi DC; terutama yang berkaitan dengan JSA dan Superman. Untuk orang yang tidak tahu apa-apa, mereka saya jamin akan kebingungan dengan celotehan aneh Doctor Fate lantas menganggapnya sebagai orang sinting semata. Atau ketika Hawkman menjelaskan mengenai bagaimana dirinya kehilangan Hawkgirl yang seakan terlalu menyimpang (baca: tidak logis) dari dunia Smallville. Yang paling fatal adalah kegagalan Geoff menjelaskan mengenai motivasi sang penjahat dalam episode ini. Lain dari balas dendam, Geoff mencoba memasukkan sebuah gambaran akan ancaman yang lebih besar; tapi apakah ini berkaitan dengan ancaman para Kryptonian di bawah pimpinan Zod muda atau tema untuk season baru tidak dijelaskan.
Kedua yang membuat saya kecewa adalah sedikitnya budget yang dicurahkan untuk episode ini. Untuk sebuah TV movie yang dipromosikan habis-habisan, saya berharap adanya lebih banyak efek yang lebih keren di dalamnya. Bahkan kostum-kostum para karakter JSA seperti Hawkman, Doctor Fate, Stargirl, sampai Sandman terasa seperti kostum buatan orang-orang biasa yang hendak bergaya cosplay. Tidak jelek, tetapi jauh dari kesan megah. Sialnya, kostum JSA yang hadir ‘seadanya’ ini malah memeberi kesan katro dan ketinggalan jaman bukan retro klasik seperti yang ditunjukkan oleh Watchmen. Geoff Johns mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa ia menghendaki penampilan JSA seperti Watchmen versi layar kaca, tetapi kualitas kostum di bawah standar menjadikan tampilan mereka kurang menggigit. Begitu juga efek pertarungan di dalamnya. Biasanya Smallville selalu mencoba menipu penonton dengan memotong kebanyakan pertarungan yang ada (ingat pertempuran antara Clark vs Bizarro maupun Doomsday yang mengecewakan?) dan kali ini mereka mencoba untuk menggelar pertarungan antara Stargirl melawan Icicle. Usahanya saya puji, tapi hasilnya mengecewakan. Koreografinya terlihat kaku. Brittney Irvin kelihatannya harus mendapatkan latihan beladiri lebih banyak lagi. Kalau saya sampai merasa adegan Tess dan Lana yang berantem di season lalu lebih seru dibandingkan superhero beradu dengan supervillain maka jelas ada yang salah kan?
Dari segi aktingnya, satu-satunya aktor yang mengecewakan di mataku adalah Michael Shanks yang berperan sebagai Carter Hall aka Hawkman. Walaupun saya tahu karakter Carter di dalam komik termasuk sosok penggerutu yang sering marah dan selalu terlihat kesal, penampilan Michael Shanks terasa terlalu dilebih-lebihkan. Lebih mengherankan lagi mendengar bagaimana sosok darah tinggi seperti dirinya bisa dijadikan pemimpin dalam grup JSA. Sebagai pribadi, saya menilai bahwa Jay Garrick (Flash) dan Alan Scott (Green Lantern lama) yang merupakan karakter kalem dan tidak emosional lebih cocok memimpin JSA.
So my verdict is… seingin-inginnya aku memberikan nilai tinggi buat Absolute Justice, saya tetap harus obyektif dan menilai bahwa film ini hanya akan menggaet perhatian para pecinta komik atau mereka yang masih setia mengikuti Smallville. Bila kalian bukan termasuk dua kategori yang saya sebut di atas, Absolute Justice hanya akan kalian nilai sebagai Watchmen wannabe yang berbudget cekak.
Score: B-
Movie Details
Director: Glen Winter & Tom Welling
Cast: Tom Welling, Allison Mack, Erica Durance, Justin Hartley
Running Time: 82 Minutes













