Review
Mengikuti kesuksesan film Resident Evil buatan Paul WS Anderson Konami menggarap Silent Hill yang bisa dibilang serial survival horror kedua paling populer di jagad game. Ketika filmnya dirilis tahun 2006 lalu pendapatannya di box office memang tak seberapa memuaskan tetapi banyak gamer Silent Hill memuji filmnya sebagai sebuah representasi yang cukup akurat dari game. Rencana sekuel sempat terapung tenggelam selama beberapa tahun sampai akhirnya dengan budget lebih terbatas diciptakanlah Silent Hill: Revelation 3D, semua masalah ini muncul mungkin dikarenakan popularitas gamenya sendiri memudar tahun-tahun belakangan karena game-game yang baru dianggap tak sanggup menyamai kualitas trilogi awalnya. Apabila film pertamanya mengambil basis dari game Silent Hill pertama maka film keduanya ini mengambil basis dari Silent Hill 3 yang dalam game universenya juga merupakan sekuel dari game pertamanya.
Apakah kalian masih ingat ending dari Silent Hill pertama di mana Sharon dan Rose terjebak di dalam kota bukit berkabut itu selama-lamanya? Rupanya selama-lamanya itu tidak lama-lama amat. Pengorbanan dari sang ibu sukses mengembalikan Sharon ke dunia nyata. Sang ayah – kini mengubah nama menjadi Harry – bersama Sharon – kini juga berubah namanya menjadi Heather – berpindah kota demi kota supaya mereka tidak terlacak dari ordo misterius yang mengejar-ngejar mereka. Toh kalau Silent Hill memanggil maka tak ada yang bisa mencegahnya.
Suatu ketika setelah Heather pulang dari sekolahnya yang baru ayahnya sudah hilang dan hanya ada sebuah tulisan di dinding berjudul “Come to Silent Hill“. Walaupun cemas dan takut akan kota yang selalu muncul di mimpi buruknya itu Heather memutuskan untuk melawan rasa takut dan berangkat guna menyelamatkan ayahnya. Ia ditemani oleh teman sekelasnya yang bernama Vincent, yang sepertinya tertarik kepadanya. Kutukan apa yang masih menyelimuti Silent Hill dan bisakah Heather menyelamatkan ayahnya?
Silent Hill: Revelation memiliki hampir semua kelebihan dan kekurangan yang sama dengan prekuelnya. Saya pribadi tidak memainkan semua game Silent Hill tapi tidak asing dengan penggunaan setting lokasi dalam film ini. Designnya memang sangat mirip dengan gamenya. Dan itu saja sudah merupakan nilai plus sendiri sebab Silent Hill adalah sebuah tempat mistik yang membuat bulu kuduk merinding hanya dengan atmosfirnya saja. Saya juga salut dalam departemen casting yang menemukan sosok Adelaide Clemens. Artis muda Australia ini memiliki kemiripan wajah dengan Michelle Williams tetapi lebih penting lagi ia sangat mirip dengan sosok Heather in-game. Sungguh sayang gadis ini masih muda dan insting aktingnya belum terasah. Berulang kali ia kedodoran di scene-scene yang vital.
Sebenarnya masalah akting di film ini tak terbatas di Clemens semata tetapi juga menular pada casting lainnya. Sean Bean dan Kit Harrington adalah dua alasan kenapa saya menonton film ini karena melihat keduanya yang apik bermain di serial Game of Thrones. Toh di sini hasilnya mereka melempem. Lebih sedih lagi Carrie Anne-Moss yang menjadi antagonis utama film ini. Alih-alih membuatku takut yang ada malah saya geleng-geleng melihat nasib mantan Trinity yang semakin terpuruk saja karirnya sampai mau diajak ikut main film macam ini. Kesalahan paling parah memang terletak pada penggarapan skenarionya. Ketika menonton rasanya kok seperti bermain game: mengeksplorasi satu bagian – bertemu musuh – lanjut ke bagian lain lagi. Sama sekali tidak seru dan terasa aneh. Lebih parahnya lagi cerita utamanya sendiri memang tidak masuk akal dan absurd.
Sutradara Michael J. Bassett pun kurang bagus menjaga tensi film ini. Hampir semua trik-trik yang ia lakukan mengejutkan penonton memakai pakem lama genre horor. Ambil contoh ketika Heather sedang mengalihkan perhatiannya ke tempat lain lantas mendadak saja ketika ia berbalik dan ciluk ba musuh sudah ada di baliknya. Mungkin sekedar mengaget-ngageti mereka yang tak terbiasa bisa tetapi untuk mereka yang sudah kenyang menonton film horor yang ada malah mengantuk. Sekali lagi ini sangat saya sayangkan sebab dekorasi settingnya sebenarnya sudah dilakukan secara maksimal.
So my verdict is… Silent Hill: Revelation adalah satu lagi contoh bagaimana sampai sekarang Hollywood masih belum bisa menemukan formula sukses mengadaptasi video game ke layar lebar. Sekedar membuat setting yang pas, casting yang tepat serta melempar Easter Egg di sana-sini (ada dua di ending) itu bukan kuncinya bung. Semoga adaptasi layar lebar Assassin’s Creed dan Splinter Cell nantinya bisa lebih sukses.
Score: C















Wong jelas karakter si Heather kaku banget, tapi memang karakter ini emang digambarkan kaku bukan sebagai heroine. tapi lucu juga sih yah, orang ngereview tapi gak pernah mainin game nya,,, XD
Hihihi. Yang saya review filemnya bukan gamenya lo ki. :p ga salah baca kan?
Ngreview pilemnya gak pake mainin gamenya gak ada masalah kaleeee
…lha di game SH3 (yang notabene Heather adalah jagoannya) si Pyramid head juga gak ada kaaaan?
Oh btw, penulisan di review saya memang sedikit rancu.
Saya main beberapa game Silent Hill tapi tidak semua. Yang saya mainkan itu Silent Hill pertama dan remakenya serta Silent Hill: Origin.
Cuma tiga game sih, tapi cukup memberikan gambaran mengenai seperti apa itu Silent Hill.
pyramid head in silent hill 3 game nya memang ada kok… ayo coba dimainin lagi game nya.. hehehe
imho , saya setuju dengan reviewer.. ekspetasi saya cukup tinggi dengan seri terbaru silent hill ini, tapi yang terjadi cuma lebih terkesan seperti parade cosplay saja. padahal seri pertama cukup saya apresiasi dari segi cerita dan penokohan, kebrutalan pyramid head masih terasa sangar termasuk suster mosnternya, tapi yang kedua ini hanya terkesan hanya menonjolkan monster-monster yang malah terlihat terlalu lebay, suster di seri 1 cukup menebar suspense tapi di seri 2 nya kok terlihat kentang banget… apalagi pyramid head… gak ada sangar sangarnya..
Iya ngerti kok Om, tapi kalo Om tau gamenya paling tidak kan Om punya gambaran… :p Yg Om mainin itu SH1 sama SH origin, sedangkan plot, tokoh dan setting jelas-jelas mengambil di SH3,,, jadi dimana hubungannya,,,
nih saya bahas satu-satu, pertama kenapa storylinenya berfokus pada Heather bukan Sean Bean atau Kit Harrington, ya karna itu tadi, emang bidak cerita ada di Heather. Kedua soal cerita sebenarnya tidak sesuper absurd itukok Om, hanya saja story yang terlalu cepat, jadi gak bakal mudah dipahami oleh orang awam. Tapi emang outstanding story itu bakal selalu mengganggu esensi film yg digarap dari game. Tetapi secara keseluruhan cerita dapat dilogis kok, hanya saja manajemen alurnya kurang terlalu random, terus banyak karakter superghostnya silent hill sendiri yg sangat kurang, sehingga ya itu tadi thrill dan scarynya jadi membuat intensitas kesan horornya jadi sangat kurang, padahal banyak lagi hantu-hantu yg tidak kalah menjijikkan dan menakutkan di SH3nya. Yah saya juga tidak mengerti dengan budget yg dicut jadi superminim, mungkin itu juga salah satu faktor kurangnya totalitas dalam pembuatan film ini, jadi terkesan dipaksakan,,, padahal SH lovers pasti punya ekspektasi yg lebih tinggi dari orang awam.
Sayang yah… Silent Hill Revelation bukan dibuat untuk orang awam kayak saya… Jadinya nggak jadi nonton deh… Kasihan produsernya sih yang dah buat pelmnya
Plot, tokoh, dan setting mengambil di Silent Hill 3?
Plot dan tokoh saya mengerti… tapi yang saya bahas di review saya adalah settingnya. Mari dibaca lagi.
Saya pribadi tidak memainkan semua game Silent Hill tapi tidak asing dengan penggunaan setting lokasi dalam film ini. Designnya memang sangat mirip dengan gamenya. Dan itu saja sudah merupakan nilai plus sendiri sebab Silent Hill adalah sebuah tempat mistik yang membuat bulu kuduk merinding hanya dengan atmosfirnya saja.
Sepertinya saya tak membandingkan dan mengatakan plot dan tokoh film ini harus sama di Silent Hill 3? Bahkan saya memuji sosok Heather itu mirip dengan tokoh gamenya di Silent Hill 3.
Settingnya masih sama kan nih di Silent Hill? Bukan di Ramai Hill?
Storyline berfokus kepada Heather… oke, jadi? Apa saya mengatakan saya meminta Sean Bean dan Kit Harrington harus punya porsi lebih banyak? Mari kita baca lagi:
Sebenarnya masalah akting di film ini tak terbatas di Clemens semata tetapi juga menular pada casting lainnya. Sean Bean dan Kit Harrington adalah dua alasan kenapa saya menonton film ini karena melihat keduanya yang apik bermain di serial Game of Thrones. Toh di sini hasilnya mereka melempem.
Loh, yang saya kritik akting mereka terasa datar. Bukan mengatakan kalau porsi mereka kurang banyak. Ngerti dong bedanya? Ambil contoh Kevin Spacey di Se7en. Porsinya sedikit. Nongolnya tergolong hampir di penghujung film. But wow, his performance is amazing.
Tetapi secara keseluruhan cerita dapat dilogis kok, hanya saja manajemen alurnya kurang terlalu random, terus banyak karakter superghostnya silent hill sendiri yg sangat kurang, sehingga ya itu tadi thrill dan scarynya jadi membuat intensitas kesan horornya jadi sangat kurang, padahal banyak lagi hantu-hantu yg tidak kalah menjijikkan dan menakutkan di SH3nya
This is basically repeating what I said in the review with different words.
Jauh lebih bagus SH 1. Saya gak ngerti game-nya, cuma nonton filmnya. Harus ya ngereview sebelumnya main game-nya? Lucu. Absurd banget ini film. SH 1 sukses buat saya parno sama suara “alarm” dan “suster patah patah” LOL, tapi yang kedua ini menurut saya krik krik sekali -_-