Review

Kurang lebih tiga sampai empat tahun yang lalu sebuah serial musikal coba-coba bernama Glee mengubah lansekap hiburan Amerika. Serial tersebut sangat – sangat populer karena dengan cerdas menggabungkan kisah high school dengan lagu-lagu. Mendadak tergabung dalam grup olah vokal di sekolah bukan lagi hal yang memalukan melainkan keren dan bergengsi. Hollywood pun cepat menanggapi hal ini. Serial-serial dan film yang menjadi imitator dari Glee bermunculan. Ambil contoh Smash, sebuah serial yang lebih berfokus pada performa Broadway dan kemudian sekarang ada film Pitch Perfect yang bisa dibilang merupakan Glee dalam versi Universitas.

Beca adalah seorang gadis yang baru saja masuk ke dalam Universitas Barden gara-gara paksaan ayahnya. Sesungguhnya Beca lebih senang langsung drop-out saja dari kuliahnya dan langsung bekerja sebagai DJ. Hobinya memang meremix musik. Akan tetapi setelah paksaan sang ayah, Beca pun menyetujui untuk masuk Universitas dan bahkan bergabung dengan sebuah grup vokal acapella bernama Bellas Barden. Dalam grup Bellas Barden ini sifat Beca yang bebas dan berani berimprovisasi langsung nabrak dengan Aubrey sang pemimpin yang ingin grup acapella-nya ‘ikut aturan’.

Pitch Perfect Poster

Selain bersosialisasi dengan teman-temannya yang ‘ajaib’ di Bellas Barden Beca juga bertemu dengan seorang pria ganteng bernama Jesse yang tergabung dalam grup acapella rival mereka (sama-sama satu Universitas Barden). Sanggupkah sentuhan lain dari Beca membuat Bellas Barden maju ke final Acapella nasional? Dan apakah kehadiran grup Bellas Barden dalam kehidupan Beca juga mengubah hidup sang gadis yang semula anti-sosial menjadi lebih terbuka?

Tentu saja jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas adalah iya. Kecuali kalian tidak pernah menonton film sama sekali maka hal tersebut bukan spoiler. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana sutradara debutan Jason Moore mengarahkan karyanya (sebelumnya Moore hanya bekerja di layar kaca saja menyutradarai berbagai episode serial-serial Amerika). Uniknya Jason Moore justru bisa membawa sentuhan segar dalam karyanya ini. Hampir setiap anggota Bellas Barden mendapatkan momen mereka untuk bersinar. Tak hanya Beca yang diperankan secara brilian oleh Anna Kendrick di akhir film ini kita sebagai penonton turut mendukung Fat Amy yang lucu, Lily yang sinting, Stacie yang seksi, dan lain-lainnya.

Whaddup yeah?

Akting yang kuat dari para bintang remajanya ditambah dengan dialog yang tajam sekaligus lucu adalah alasan kenapa Pitch Perfect begitu enak ditonton tetapi itu bukan semuanya. Pada akhirnya Pitch Perfect tetaplah sebuah film musikal jadi orang akan menilai film ini berdasar lagu yang dinyanyikan. Jangan khawatir juga dalam hal ini. Pilihan lagunya benar-benar beragam mulai dari lagu oldies, baru, sampai lagu mash-up lama dan baru yang enak untuk didengarkan. Kalian yang menonton film lawas The Breakfast Club mungkin bahkan akan bersorak gembira, mengepalkan tangan dan melemparnya ke udara ketika mendengar lagu terakhir dalam film ini. What a wonderful tribute! Kerennya lagi Moore juga bisa meramu koreografi nyanyian-nyanyian tersebut dengan gerakan harmonis disertai sudut pengambilan kamera yang dinamis dan bervariasi.

So my verdict is… menonton Pitch Perfect mengingatkanku pada setengah awal dari Glee season pertama dulu. Kalian ingat betapa New Directions masih merupakan underdog yang kalian inginkan menang karena kalian menyayangi setiap karakter di dalamnya. Ya, itulah Pitch Perfect! Bagi semua gleek yang merasa kehilangan serial favorit kalian pada isu gay dan bullying di sekolah… Pitch Perfect adalah jawaban bagi dahaga kalian.

Cute couple

Score: B+