Review
Tahun 2012 bisa dibilang adalah tahun breakthrough dari Jennifer Lawrence. Kendati pemerhati film sudah memperhatikannya sejak dinominasikannya artis muda ini ajang Academy Award dalam film Winter’s Bone khalayak ramai sepertinya baru mulai familiar dengan namanya di The Hunger Games yang sukses besar memecahkan berbagai rekor box office tahun ini. Nama Jennifer Lawrence bahkan makin berkibar saat ia dinobatkan sebagai salah seorang kontender utama pemenang piala Oscar tahun ini melalui Silver Linings Playbook. Oleh distributor film ini menjadi kesempatan untuk merilis film Lawrence ketika ia belum tenar dulu: House at the End of the Street. Strategi ini tidak salah. Bukankah para distributor melakukan hal yang sama dengan Cabin in the Woods dan Red Dawn yang dibintangi oleh Chris Hemsworth juga Hansel & Gretel: Witch Hunters-nya Jeremy Renner.
Hubungan dari Elissa dan Sarah tak bisa dibilang baik. Hubungan sang anak dengan ibunya ini sedikit terasing karena Sarah selalu saja sibuk bekerja sebagai dokter dengan shift malam. Tapi Elissa bukan gadis yang manja dan mencari-cari perhatian juga. Tipikal anak band, Elissa menjalani kehidupannya dengan cuek bebek, tanpa ingin memaksakan diri bergabung grup sekolah yang beken atau pacaran dengan pria-pria yang ngetop di sekolahnya. Malahan Elissa justru berteman dengan Ryan, seorang pria aneh yang ada di sebelah rumah dan dikucilkan oleh masyarakat sekeliling.
Kenapa Ryan dikucilkan sebenarnya bukan tanpa sebab. Rupa-rupanya sebelum Elissa dan Sarah pindah ke tempat ini ayah ibu Ryan baru saja dihabisi oleh Carrie-Anne adik dari Ryan yang psikopat. Lebih mengerikannya lagi Carrie-Anne yang konon jatuh ke sungai / bendungan dan hanyut tak pernah ditemukan mayatnya. Desas-desus takhayul masyarakat menyebutkan bahwa Carrie-Anne sebenarnya tidak pernah mati dan masih bersembunyi di hutan menunggu korban berikutnya. Benarkah desas-desus itu? Apakah Ryan juga kecipratan keturunan gila dari keluarganya? Atau justru penduduk sekitarlah monster yang sesungguhnya?
Film horor-slasher yang disutradarai oleh Mark Tonderai sebenarnya berawal dengan baik. Hubungan antara Elissa dan Sarah mengalir dengan baik. Karakter Elissa tidak marah-marah tanpa alasan yang jelas dengan Sarah (sebagaimana pakem kebanyakan karakter ibu – anak dalam film) dan Sarah sendiri juga bukan ibu yang super mengikat. Dia khawatir dengan anaknya tetapi semua kekhawatirannya itu valid dan memiliki alasan yang jelas. Saya juga suka dengan akting dari Jennifer Lawrence. Ia membawakan dirinya dengan baik sehingga karakter Elissa tidak jatuh dalam stereotipe karakter utama ‘stupid blonde’.
…
…
…
Sampai paruh kedua lantas merusak semuanya. Perubahannya terasa begitu mendadak. Konflik antara Elissa dan Sarah mendadak saja dibangun secara aneh dan tidak natural dalam jalan cerita. Elissa mendadak menjadi bocah pemberontak yang membangkang dari segala perintah ibunya. Sarah mendadak jadi ibu paranoid yang tak punya sopan-santun. Uh… begitu drastisnya penurunan kualitas di paruh kedua saya seakan-akan sedang menonton sebuah horor kacangan. Lebih menyedihkannya lagi ketika twist dipaparkan kepadaku saya malahan geleng-geleng. Pasalnya twist yang diberikan sebenarnya tidak masuk akal kalau kamu berusaha merunut dan menyambungkan semua logika yang sebelumnya dibeberkan film ini kepadamu. Dipaksakan nyambung sih bisa tapi sekali lagi twist muncul sekedar untuk shock value ketimbang bagian organik dalam cerita.
Satu lagi kekurangan utama film ini adalah ia tidak menakutkan atau menegangkan. Setelah separuh awalnya dihabiskan dengan drama perkenalan karakter paruh akhirnya ditutup dengan adegan klimaks klise film-film slasher. Coba amati sudut pengambilan gambar kamera. Coba amati cara sang penjahat mendadak muncul… atau bahkan mengikuti pakem yang pernah ditohok di film Scream (SPOILER) bahwa sang penjahat akan hidup sekali lagi di akhir film (SPOILER END). Saya nyaris terbahak-bahak dan bukannya ketakutan dengan semua kejutan tidak mengejutkan yang disuguhkan film ini padaku.
So my verdict is… sayang seribu sayang House at the End of the Street akan menjadi noda hitam bagi tahun yang nyaris sempurna-nya Jennifer Lawrence. Daripada kalian menghabiskan waktu menonton film ini lebih baik menonton film thriller horor bermutu lainnya macam Orphan atau The Good Son.
Score: C-














bro, review comic the superior spider-man..temen ane nawarin ane tuh comic, tapi ane kok agak ragu-ragu mau baca setelah melihat sang jagoan ternyata dr.octo..thx.