Review
Kalau kalian pecinta genre horor pastinya kalian mengenal nama The Exorcist. Dirilis pada tahun 1973 film tersebut mencuri perhatian seluruh insan perfilman waktu itu, menebar teror yang hingga kini sulit ditandingi. Apabila kalian lihat lagi list film horor terbaik di jaman ini maka kalian akan melihat judul The Exorcist masih saja bertengger dekat di posisi puncak. Setelah beberapa sekuel yang gagal mengulangi kesuksesan film ini maka franchise ini pun mati suri selama bertahun-tahun lamanya. Dua dekade lebih setelah film orisinilnya dirilis, Exorcist: The Beginning hadir di theater.
Proses pembuatan Exorcist: The Beginning sendiri sepertinya penuh kutukan ala judul filmnya. Tadinya sebuah versi film dengan judul Dominion: The Prequel of Exorcist sudah selesai dibuat tetapi tidak jadi dirilis di pasaran. Nah dipanggillah sutradara Renny Harlin yang ngetop dengan Die Hard 2: Die Harder dan Cliffhanger untuk menggarap ulang proyek ini. Exorcist: The Beginning bisa dibilang merupakan versi setengah remake dari Dominion. Dengan sejarah ‘ajaib’ begini apakah kualitasnya tetap bisa menyamai sang sekuel (or prekuel, tergantung kalian melihat dari sudut pandang tahun rilis atau kronologi cerita).
Pastur Merrin mengalami krisis iman. Setelah sebuah horor yang terjadi pada masa Perang Dunia II dulu ia kini menyangkal imannya kepada Kristus. Akan tetapi gereja sepertinya tak ingin membiarkan ia pergi semudah itu. Sang (mantan) Pastur diminta untuk pergi ke Kairo, Mesir untuk menyelidiki misteri seputar eskavasi makam kuno di tempat tersebut. Eskavasi itu menemukan sebuah Gereja Kuno yang selama berabad-abad terkubur tanpa pengetahuan siapapun. Di sini keanehan-keanehan mulai terjadi seperti penyakit misterius yang menjangkiti para tukang, halusinasi yang dialami oleh orang di sana, dan sebagainya. Apa yang sebenarnya tengah terjadi di sana? Kekuatan iblis tengah bekerjakah?
Film ini sungguh memalukan menyandang judul Exorcist. Tidak pantas. Saya ulangi sekali lagi: tidak pantas. Sementara film The Exorcist mampu membuat bulu kudukku merinding dan ketakutan film ini malahan membuatku mengantuk tanpa sekalipun membuatku takut. Terkejut? Ya mungkin sekali dua kali dan itupun karena Renny Harlin menggunakan taktik murahan mengageti penonton. Tensi ketakutan dan ketegangan sama sekali tidak terbangun sepanjang film saat Pastur Merrin menyelidiki keanehan yang terjadi. Yang ada saya malah seperti menonton film Indiana Jones kelas kampungan.
Pun membuat film ini makin tak menarik adalah akting ala kadarnya dari para aktor-artis yang terlibat di dalamnya. Stellan Skarsgard yang juga membintangi Dominion sebenarnya sudah tampil cukup baik sebagai seorang Pastur yang kehilangan imannya tetapi ia kurang berwibawa saat harus menampilkan adegan-adegan exorcism pengusiran setan. Saya tak mau bilang siapa yang dirasuki oleh sang setan tetapi yang jelas begitu ia muncul dengan segala over-akting (dan gerakan CG yang kasar) saya bukannya ketakutan tetapi malah terbahak menontonnya. Sepertinya bukan ini deh reaksi yang kuharapkan menonton film yang dilabeli Exorcist. Di luar Skarsgard sungguh penampilan aktor-aktor lain dalam film ini terlupakan.
So my verdict is… ada banyak sekali film horor di luar sana. Puluhan. Ratusan. Ribuan. Dan banyak banyak sekali yang bagus. Oleh karena itu jangan sia-siakan waktumu menonton film prekuel yang tak jelas juntrungannya ini. Saya jamin menonton The Exorcist untuk kali kesekianpun akan lebih membuat anda bergidik ngeri ketimbang menonton film Exorcist: The Beginning ini!
Score: D














