<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Si Tukang Review</title>
	<atom:link href="http://tukangreview.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tukangreview.com</link>
	<description>a review a day takes your curiosity away</description>
	<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 17:47:47 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sin City</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/03/12/sin-city/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/03/12/sin-city/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 17:47:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Motion Picture]]></category>

		<category><![CDATA[Movie]]></category>

		<category><![CDATA[300]]></category>

		<category><![CDATA[Frank Miller]]></category>

		<category><![CDATA[Hartigan]]></category>

		<category><![CDATA[Quentin Tarantino]]></category>

		<category><![CDATA[Robert Rodriguez]]></category>

		<category><![CDATA[Sin City]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=3634</guid>
		<description><![CDATA[(Review Ditulis Di Tahun 2007)
Graphic novel Frank Miller pertama yang kubaca adalah 300. Saya tertarik akan novelnya setelah filmnya sukses membuat saya ternganga berulang-ulang karena visualisasi dan narasinya yang luar biasa. Ketika itu saya belum menonton Sin City. Setelah saya menonton Sin City (terlambat hampir dua tahun - saya tahu), saya sadar bahwa inilah translasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3636" class="wp-caption alignnone" style="width: 210px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/sin-city-poster.jpg"><img class="size-full wp-image-3636" title="Sin City Poster" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/sin-city-poster.jpg" alt="Sin City Poster" width="200" height="311" /></a><p class="wp-caption-text">Sin City Poster</p></div>
<p>(<span style="text-decoration: underline;">Review Ditulis Di Tahun 2007</span>)</p>
<p>Graphic novel Frank Miller pertama yang kubaca adalah <strong>300</strong>. Saya tertarik akan novelnya setelah filmnya sukses membuat saya ternganga berulang-ulang karena visualisasi dan narasinya yang luar biasa. Ketika itu saya belum menonton <strong>Sin City</strong>. Setelah saya menonton Sin City (terlambat hampir dua tahun - saya tahu), saya sadar bahwa inilah translasi terbaik dari sebuah graphic novel. Sin City adalah transisi terbaik dari graphic novel ke film yang pernah saya tonton selama ini. Adalah sebuah dosa bagi mereka yang mengaku pecinta film dan melewatkan sebuah karya yang begitu artistik ini.</p>
<p>Basin City adalah sebuah kota yang hina. Saking hinanya, mereka memberi julukan Sin City - kota dosa - untuk Basin City. Basin City bisa dibilang sebagai Sodom dan Gomora yang tercipta melalui pikiran dari Frank Miller. Sebuah kota yang dikendalikan oleh seorang pastur yang mata keranjang. Sebuah kota di mana manusia buruk rupa dan buruk hati hidup berdampingan. Sebuah kota di mana ada kanibal dan para hooker menguasai bagian kota tertentu. Kalau anda bisa membayangkan seperti apa itu semua, maka rasanya anda telah berhasil membayangkan seperti apakah Sin City itu.</p>
<p>Graphic novel Sin City sendiri terdiri dari beberapa story arc dengan cerita yang sepenuhnya berbeda. Film ini memutuskan untuk mengangkat empat story arc dan menyatukannya ke layar lebar - lebih tepat mungkin tiga story arc dan satu cerita prolog. Ketiga story arc itu adalah: <em>That Yellow Bastard</em>, <em>A Hard Goodbye</em>, dan <em>The Big Fat Kill</em>. Satu cerita prolog di sini diangkat dari cerita pendek Sin City: <em>The Customer is Always Right</em>, dan ditutup dengan sebuah adegan baru yang ditulis secara khusus untuk film ini.</p>
<p>Pernah melihat sebuah film dengan begitu banyak nama besar bertebaran di dalamnya? Rasanya tidak. Bahkan film seperti <strong>Ocean&#8217;s Eleven</strong> yang sudah merupakan kumpulan bintang-bintang tenar saja tidak bisa mengumpulkan bintang tenar sebanyak ini berkumpul dalam satu film. Dan mereka semua berhasil menghidupkan peran mereka masing-masing. Mickey Rourke, Bruce Willis, dan Clive Owen masing-masing adalah karakter utama dalam tiap story arc mereka yang berhasil merenggut simpati penonton karena gaya dan watak mereka yang luar biasa. Jessica Alba jelas bisa membuat mata para lelaki ternganga melihat keseksiannya berdansa &#8216;<em>hampir</em>&#8216; telanjang di sini. Tapi mungkin scene stealer sesungguhnya di sini adalah Elijah Wood dan Devon Aoki. Saya tidak bisa (dan tidak mau) mendeskripsikannya lebih jauh di sini. Adalah keharusan bagi kalian untuk menonton sendiri dan melihat bagaimana dua karakter yang tidak berbicara sama sekali mampu meninggalkan kesan begitu mendalam di hatiku.</p>
<p>Di luar penampilan tiap karakternya yang luar biasa, nilai unik lain dari Sin City adalah tampilannya yang begitu artistik. Mereka yang membaca graphic novelnya pasti tahu kalau Sin City digarap dengan nuansa hitam putih dan hanya berwarna pada bagian-bagian eksplisit (seperti merah pada darah, dan warna kulit kuning dalam segmen That Yellow Bastard). Karena perkembangan teknologi, maka ini berhasil ditranslasikan secara sempurna dalam film ini. Menonton film ini bagaikan dibawa kembali menonton film noir dengan warna-warna tertentu - atau mungkin lebih tepatnya dibawa untuk membaca graphic novel Sin City di layar lebar karena storyboardnya diangkat oleh Robert Rodriguez persis dari graphic novel Sin City.</p>
<p>Nilai unik lain dari film ini adalah bagaimana Robert Rodriguez tetap bertahan dengan dialog-dialog dan monolog seperti pada graphic novelnya. Film ini banyak menggunakan monolog dalam penyampaian ceritanya karena karakter-karakter utama dalam setiap cerita sering meng&#8217;ucap&#8217;kan pikirannya kepada penonton. Keberanian Rodriguez memakai kata-kata sesuai novelnya layak diacungi jempol dan ini membuat filmnya semakin terasa nuansa &#8216;graphic novel&#8217;nya. Dan itu bukan satu-satunya kejutan yang ada. Frank Miller juga hadir lewat film ini sebagai cameo (yang berkesan), dan Quentin Tarantino turut hadir sebagai sutradara satu adegan tertentu di film ini (salah satu adegan dalam segmen The Big Fat Kill).</p>
<p>Sin City membuat saya menahan nafas hampir sepanjang film dan terlarut dalam keasyikan masuk di kota penuh dosa. Ini adalah sebuah film yang saya sarankan kepada siapapun yang menginginkan sebuah tontonan yang bermutu. Banyak kadar kekerasan, unsur seksual, bahkan darah dan sumpah serapah yang bertebaran di sepanjang film ini tetapi itu tidak membuatnya menjadi kampungan karena dikemas dengan sangat menarik. Kalau anda mencari sebuah film yang memiliki skenario bermutu, penampilan para aktor yang berkelas, dan sutradara nyentrik dengan gaya visualisasi menawan maka Sin Citylah tempat yang harus anda tuju!</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Score</span>: <strong>9.0</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Movie Details</strong></span><br />
Director: Frank Miller &amp; Robert Rodriguez<br />
Cast: Jessica Alba, Devon Aoki, Josh Hartnett, Benicio Del Toro, Clive Owen, Bruce Willis, Elijah Wood, Mickey Rourke<br />
Running Time: 120 Minutes</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/03/12/sin-city/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ace Attorney: Trials and Tribulations</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/03/12/ace-attorney-trials-and-tribulations/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/03/12/ace-attorney-trials-and-tribulations/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 17:38:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[DS]]></category>

		<category><![CDATA[Game]]></category>

		<category><![CDATA[Handheld]]></category>

		<category><![CDATA[Special]]></category>

		<category><![CDATA[Attorney]]></category>

		<category><![CDATA[Dahlia]]></category>

		<category><![CDATA[Godot]]></category>

		<category><![CDATA[Gumshoe]]></category>

		<category><![CDATA[Hawthorne]]></category>

		<category><![CDATA[Maya Fey]]></category>

		<category><![CDATA[Mia Fey]]></category>

		<category><![CDATA[Phoenix Wright]]></category>

		<category><![CDATA[Trials]]></category>

		<category><![CDATA[Tribulations]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=3629</guid>
		<description><![CDATA[Ace Attorney: Trials and Tribulations diluncurkan di Amerika pada Oktober 2007, hanya berselang delapan bulan dari seri keduanya. Ini menjadi bukti bahwa serial Ace Attorney (dan game bergenre text-based adventure) telah menembus pasaran Amerika dengan suksesnya. Saat itu di Jepang, seri keempat Gyakuten Saiban yang menampilkan pengacara baru (more on that in the next review) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3631" class="wp-caption alignnone" style="width: 266px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/ace-attorney-trials-and-tribulations-cover.jpg"><img class="size-full wp-image-3631" title="Ace Attorney: Trials and Tribulations DS Cover" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/ace-attorney-trials-and-tribulations-cover.jpg" alt="Ace Attorney: Trials and Tribulations DS Cover" width="256" height="236" /></a><p class="wp-caption-text">Ace Attorney: Trials and Tribulations DS Cover</p></div>
<p><strong>Ace Attorney: Trials and Tribulations</strong> diluncurkan di Amerika pada Oktober 2007, hanya berselang delapan bulan dari seri keduanya. Ini menjadi bukti bahwa serial Ace Attorney (dan game bergenre text-based adventure) telah menembus pasaran Amerika dengan suksesnya. Saat itu di Jepang, seri keempat Gyakuten Saiban yang menampilkan pengacara baru (<em>more on that in the next review</em>) sudah dirilis sehingga Capcom ingin secepatnya membawa gamer lain di luar negeri <em>up-to-date</em> dengan serial ini. Karena mengejar waktu itulah sekali lagi, seperti Justice for All yang dirilis sebelumnya, Trials and Tribulations tidak memiliki kasus tambahan baru di dalamnya.</p>
<p>Kasus pertama Trials and Tribulations dibuka secara mengejutkan karena berada dalam nuansa <em>flashback</em>. Toh bukan flashbacklah unsur yang paling mengejutkan, tetapi peranmu sebagai Mia Fey sang mentor Phoenix Wright yang terbunuh di awal game pertama dulu. Tidak cukup kaget? Bagaimana bila saya bilang tersangka pembunuhan yang harus kamu bela kali ini adalah Phoenix sendiri! Kasus pertama tersebut kemudian menjadi awal benang merah yang menghubungkan cerita besar game ini. Di sini masa lalu Phoenix dan alasan utamanya menjadi seorang pengacara terungkap.</p>
<p>Dalam <strong>Justice for All</strong>, kekurangan utama yang saya rasakan adalah tidak adanya gambar besar yang mempersatukan game itu. Keempat kasusnya merupakan sempalan-sempalan terpisah. Itu jugalah alasan kenapa walaupun kasus keempat dalam Justice for All sebenarnya terbaik bila berdiri sendiri, dia masih saya nilai kalah kelas dengan kasus keempat game pertamanya yang merupakan penutup dari rangkaian kasus sebelumnya. Trials and Tribulations berhasil menebus dosa ini dengan menyatukan beberapa plot cerita dari game pertama dan game kedua di sini. Selain masa lalu Phoenix, gamer juga diajak untuk melihat akhir dari kekisruhan dalam keluarga Fey (kasus kedua game kedua). Selamat untuk tim penulis cerita yang berhasil menggabungkan dua jalan cerita tersebut secara meyakinkan.</p>
<p>Prosecutor yang harus dihadapi oleh Phoenix kali ini adalah Godot, yang merupakan step-up dari Franziska von Karma. Walaupun design karakternya nampak ‘aneh’, pembawaannya yang tenang dan usianya yang jelas-jelas lebih tua dari Phoenix menjadikannya lawan yang sepadan bagi sang pengacara. Godot juga memiliki masa lalu misterius yang akan disingkap oleh gamer seiring majunya cerita. Berperan sebagai Mia Fey dan seorang karakter lain (cari tahu sendiri siapa dengan memainkan game ini) juga adalah bonus yang menyenangkan buat gamer. Mengingat ini juga merupakan penutup dari saga panjang keseluruhan trilogi Phoenix, hampir semua karakter-karakter penting dari kedua game sebelumnya turut hadir di sini (yep, including Miles Edgeworth dan Franziska von Karma!).</p>
<p>Dengan begitu banyaknya fokus atensi pada ceritanya, terpaksa sistem gameplay dalam game ini dikorbankan. <strong>Gyakuten Saiban 3</strong> sendiri tidak menawarkan tambahan seperti <em>Psyche Lock</em> dalam game keduanya (sayangnya sistem Psyche Lock yang menyebalkan itu masih saja ada). Kalau kamu sudah memainkan dua game sebelumnya, kamu pasti sudah familiar dengan bagaimana cara memainkan game ini. Investigasi dan wawancarai para saksimu, paksa mereka membocorkan rahasia yang mereka ketahui dan temukan barang bukti yang bisa membantu membebaskan klienmu dari tuntutan bersalah. Setelah semua siap, beradu argumentasilah di meja pengadilan. Formula ini mungkin tidak seorisinil game pertamanya lagi, tapi tidak pernah terasa basi walau sudah ada di dua game sebelumnya. Untuk musiknya, serial ketiganya mendapatkan komposer baru Noriyuki Iwadare. Komposer yang karyanya sebelum ini saya kenal lewat seri <strong>Grandia</strong> mendapatkan apresiasi saya karena berhasil menciptakan score-score baru (<em>Godot’s Theme</em> is among the best prosecutor theme) dan meremix score-score lama sehingga terdengar fresh lagi.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> apabila Justice for All membuatmu menyangka bahwa Phoenix Wright hanya keberuntungan satu game saja, pikir ulang lagi. Trials and Tribulations adalah penutup trilogi yang mampu menyaingi kebesaran game pertamanya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Final Verdict</strong></span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Gameplay</span>: 8.5<br />
Seperti selalu, Ace Attorney dipenuhi dengan dialog-dialog yang pintar dan penuh humor serta karakter penuh warna. Trials and Tribulations juga memiliki cerita keseluruhan terbaik di antara ketiga game ini. Kalau kamu suka dengan gameplay dua game sebelumnya, tidak ada alasan kamu tidak suka dengan gameplaynya di sini. Capcom memutuskan untuk berpegang pada formula yang sudah memberi mereka sukses, dan keputusan itu tepat.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Graphic / Sound</span>: 8.5<br />
Karena diport dari game GBA, kualitas grafis Trials and Tribulations tidak berubah banyak dari kedua prekuelnya. Musiknya adalah lain hal karena masuknya Noriyuki Iwadare membawa angin perubahan untuk kualitas yang sempat menurun di game kedua.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Play Time</span>: 9.0<br />
Dalam versi orisinilnya, game ketiganya inilah yang sebenarnya terpanjang karena berisi lima kasus (dua kasus pendek dan tiga kasus biasa). Tambahan satu kasus pendek sebelum kasus terakhirnya menambah waktu permainannya lebih panjang dua jam dibandingkan Gyakuten Saiban pertama (tanpa tambahan bonus kasus kelima) dan kedua.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Overall</span>: <strong>8.8</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Game Details</strong></span><br />
Developer: Capcom<br />
Publisher: Capcom<br />
Genre: Adventure</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/03/12/ace-attorney-trials-and-tribulations/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ace Attorney: Justice For All</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/03/11/ace-attorney-justice-for-all/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/03/11/ace-attorney-justice-for-all/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 03:26:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[DS]]></category>

		<category><![CDATA[Game]]></category>

		<category><![CDATA[Handheld]]></category>

		<category><![CDATA[Special]]></category>

		<category><![CDATA[Fey]]></category>

		<category><![CDATA[Franziska]]></category>

		<category><![CDATA[Justice for All]]></category>

		<category><![CDATA[Maya]]></category>

		<category><![CDATA[Objection]]></category>

		<category><![CDATA[Pearl]]></category>

		<category><![CDATA[Phoenix]]></category>

		<category><![CDATA[Trial]]></category>

		<category><![CDATA[Turnabout]]></category>

		<category><![CDATA[Von Karma]]></category>

		<category><![CDATA[Whip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=3624</guid>
		<description><![CDATA[Kesuksesan dari game pertama Ace Attorney tidak diduga oleh siapapun, bahkan oleh Capcom sendiri. Itulah sebabnya game ini dirilis secara terbatas di pasaran Amerika (mencari cartridge orisinil dari Ace Attorney: Phoenix Wright kini ibarat mencari jarum di dalam tumpukan jerami, kalau beruntung kamu mungkin bisa menemukannya dijual – dengan harga berlipat dari harga asli – [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3625" class="wp-caption alignnone" style="width: 266px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/ace-attorney-justice-for-all-cover.jpg"><img class="size-full wp-image-3625" title="Ace Attorney: Justice for All DS Cover" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/ace-attorney-justice-for-all-cover.jpg" alt="Ace Attorney: Justice for All DS Cover" width="256" height="230" /></a><p class="wp-caption-text">Ace Attorney: Justice for All DS Cover</p></div>
<p>Kesuksesan dari game pertama Ace Attorney tidak diduga oleh siapapun, bahkan oleh Capcom sendiri. Itulah sebabnya game ini dirilis secara terbatas di pasaran Amerika (mencari cartridge orisinil dari Ace Attorney: Phoenix Wright kini ibarat mencari jarum di dalam tumpukan jerami, kalau beruntung kamu mungkin bisa menemukannya dijual – dengan harga berlipat dari harga asli – di eBay dan situs-situs jual beli di internet lainnya). Kali ini Capcom tidak mau kecolongan lagi. Memanfaatkan momentum dari game pertamanya, tidak sampai setahun Capcom sudah siap merilis sekuelnya <strong>Ace Attorney: Justice for All</strong>.</p>
<p>Justice for All melanjutkan petualangan Phoenix dan kawan-kawan. Setelah ending game pertamanya, rival Phoenix, sang jaksa Miles Edgeworth pergi ke luar negeri untuk melakukan refleksi diri. Sebagai penggantinya adalah Franziska von Karma, anak dari Manfred von Karma (musuh utama dalam game sebelumnya). Hampir sama dengan game pertama, sebagai seorang pengacara kamu harus menginvestigasi dan membuktikan di persidangan bahwa klien yang kamu bela tidak bersalah.</p>
<p>Alasan kenapa Justice for All bisa begitu cepat dirilis di Amerika adalah karena game ini hanya merupakan port langsung versi GBAnya. Berbeda dengan game pertamanya yang memasukkan satu kasus baru, Justice for All hanya menambahkan fitur-fitur seadanya untuk DS seperti penggunaan touch screen atau pemakaian mikrofon untuk menyerukan perintah-perintah tertentu. Ini membuat kebanyakan gamer (termasuk saya) kecewa. Kenapa Capcom harus buru-buru merilisnya? Kenapa tidak menambahkan kasus baru yang mengoptimalkan fitur DS sebelum melemparnya ke pasar? Kesannya Capcom seakan hanya ingin mengeruk untung dari para gamer yang memang sudah ngebet ingin mengetahui lanjutan kisah ini.</p>
<p>Sialnya lagi, dari empat kasus yang disediakan di game ini, bisa dibilang hanya satu yang menarik perhatian yakni kasus terakhirnya. Seperti game sebelumnya, kasus terakhir dalam Ace Attorney selalu merupakan pertarungan logika yang epik, megah, dan dahsyat. Pertaruhan dalam kasus terakhir ini bahkan lebih tinggi karena menyangkut nyawa seorang yang penting bagi Phoenix juga jati diri Phoenix sebagai seorang pengacara. Saya tidak mau spoiler terlalu jauh, tetapi paradigmamu dalam keadilan benar-benar diuji dalam kasus terakhir game ini. Sungguh saya sayangkan bahwa tiga kasus sebelumnya tidak memiliki intensitas setinggi dan sebaik kasus terakhirnya. Franziska sebagai lawan yang dihadapi Phoenix kali ini pun tidak memiliki wibawa layaknya Miles atau ayahnya, menjadikan ‘pertarungan’ menghadapinya kurang menegangkan.</p>
<p>Inovasi baru dalam Justice for All (atau lebih tepatnya <strong>Gyakuten Saiban 2</strong> yang adalah versi orisinilnya) adalah pemanfaatan sistem <em>Psyche Lock</em>. Dalam game pertamanya, mewawancarai para saksi tergolong mudah karena mereka dengan senang hati membeberkan apa-apa saja yang mereka ketahui kepadamu. Tidak kali ini, karena mereka akan membisu dan menyembunyikan fakta-fakta yang mereka ketahui. Beruntung Phoenix juga mendapatkan sebuah barang bernama Magatama, sejenis alat untuk melihat ‘hati’ seseorang. Rahasia yang mereka simpan direpresentasikan oleh gembok-gembok. Satu-satunya cara untuk membuka gembok (atau memaksa mereka buka mulut) itu – seperti yang mungkin sudah bisa kamu tebak – adalah menggunakan barang bukti dari penyelidikanmu. Walaupun kreatif dan masuk akal, tambahan ini tidak diterima baik oleh semua orang karena penyampaiannya dirasa bertele-tele dan menyulitkan investigasi. Bicara soal investigasi yang sulit, kelemahan terbesar kasus ini adalah memecahkan testimonial para saksi. Agaknya ini dikarenakan penulisan skenario yang kurang baik, mencari kebohongan saksi terasa lebih sulit kali ini. Kadang beberapa logikanya juga terlalu mustahil sehingga membuat gamer bengong, bukannya puas, ketika mendapatkan jawabannya.</p>
<p><em>So my verdict is…</em> terlepas dari semua kelemahan yang saya sebutkan di atas, Justice for All masih sebuah game yang lumayan berkualitas. Kasus terakhirnya sendiri bisa dibilang berjasa menghapuskan dosa dari kasus-kasus sebelumnya. Toh, dari antara semua game Ace Attorney yang kumainkan, Justice for All tetap merupakan entry yang terlemah. Untung saja game ketiganya, <strong>Ace Attorney: Trials and Tribulations</strong>, mampu kembali menaikkan citra serial yang sempat terpuruk di mataku ini.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Final Verdict</strong></span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Gameplay</span>: 7.0<br />
Tambahan Psyche Lock yang seharusnya menjadi inovasi yang baru dan kreatif justru berbalik jadi senjata makan tuan karena penggunaannya yang terlalu mistis. Tidak adanya kasus baru yang memanfaatkan fitur DS juga memperlemah nilai gameplaynya. Yang paling parah adalah kasus-kasus yang ditawarkan game keduanya tidak bisa menyamai kualitas prekuelnya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Graphic / Sound</span>: 8.0<br />
Karakter baru yang diperkenalkan dalam game ini ada dua yang langsung menarik perhatianku (juga menjadi regular di game-game berikutnya). Pertama adalah Pearl Fey dan yang kedua adalah Franziska von Karma. Terutama Franziska, walaupun saya mengatakan ia tidak memiliki karisma seperti ayahnya, setidaknya saya selalu terhibur melihat dia melecuti semua orang di sekelilingnya. Musiknya juga tidak sebagus game pertamanya, terutama bila dibandingkan dengan Phoenix Wright Theme. Tidak jelek, tetapi tidak semembangkitkan semangat seperti game pertamanya. Theme terbaru terbaik yang merenggut perhatian bagiku adalah theme kebangkitan dari Miles Edgeworth.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Play Time</span>: 7.5<br />
Karena hanya terdiri dari empat chapter, Justice for All adalah game terpendek dari semua seri Ace Attorney. Kendati demikian, ia masih akan memakan waktu sekitar 10 jam untuk diselesaikan. Seperti prekuelnya, tidak ada alasan untuk memainkannya lagi begitu kamu menamatkannya, kecuali untuk bernostalgia dan mengingat ceritanya kembali (sesuatu yang enggan kulakukan karena kualitas ceritanya yang pas-pasan).</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Overall</span>: <strong>7.5</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong> Game Details</strong></span><br />
Developer: Capcom<br />
Publisher: Capcom<br />
Genre: Adventure</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/03/11/ace-attorney-justice-for-all/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ace Attorney: Phoenix Wright</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/03/10/ace-attorney-phoenix-wright/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/03/10/ace-attorney-phoenix-wright/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 05:05:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[DS]]></category>

		<category><![CDATA[Game]]></category>

		<category><![CDATA[Handheld]]></category>

		<category><![CDATA[Special]]></category>

		<category><![CDATA[Ace Attorney]]></category>

		<category><![CDATA[Court]]></category>

		<category><![CDATA[Fey]]></category>

		<category><![CDATA[Guilty]]></category>

		<category><![CDATA[Maya]]></category>

		<category><![CDATA[Mia]]></category>

		<category><![CDATA[Miles Edgeworth]]></category>

		<category><![CDATA[Objection]]></category>

		<category><![CDATA[Phoenix Wright]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=3618</guid>
		<description><![CDATA[Selama ini pasar Amerika dikenal sulit sekali menerima sebuah text-based novel game. Karena alasan itulah kebanyakan game love simulation seperti Tokimeki Memorial atau game hent… (*ditimpuk*) tidak pernah mendapatkan rilis di Amerika. Tren mulai berubah tahun-tahun belakangan ini, di DS sendiri ada begitu banyak game text-based yang masuk seperti Hotel Dusk, Time Hollow, dan banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3619" class="wp-caption alignnone" style="width: 266px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/ace-attorney-phoenix-wright-cover.jpg"><img class="size-full wp-image-3619" title="Ace Attorney: Phoenix Wright Cover" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/ace-attorney-phoenix-wright-cover.jpg" alt="Ace Attorney: Phoenix Wright Cover" width="256" height="231" /></a><p class="wp-caption-text">Ace Attorney: Phoenix Wright Cover</p></div>
<p>Selama ini pasar Amerika dikenal sulit sekali menerima sebuah text-based novel game. Karena alasan itulah kebanyakan game love simulation seperti <strong>Tokimeki Memorial</strong> atau game hent… (*<em>ditimpuk</em>*) tidak pernah mendapatkan rilis di Amerika. Tren mulai berubah tahun-tahun belakangan ini, di DS sendiri ada begitu banyak game text-based yang masuk seperti <strong>Hotel Dusk</strong>, <strong>Time Hollow</strong>, dan banyak lagi. Entah kebetulan entah tidak, saya merasa bahwa tren ini dimulai sejak kesuksesan Phoenix Wright menembus kalangan mainstream gamer.</p>
<p>Mungkin kalian bertanya-tanya, apakah itu Ace Attorney? Apakah itu Phoenix Wright? Jawabannya: game simulasi persidangan. “<em>Ah, persidangan? Bosan dong karena penuh dengan dialog-dialog hukum yang berat macam novelnya John Grisham?</em>” begitukah pikiran kalian? Kalau iya maka baca lebih lanjut review yang akan mengubah pandanganmu terhadap game ini.</p>
<p><strong>Ace Attorney: Phoenix Wright</strong>, sesuai judulnya, menempatkan gamer dalam posisi seorang pengacara (<em>defense attorney</em>) rookie bernama Phoenix Wright. Dalam game yang terbagi di lima skenario ini, kamu akan membela klienmu yang terlibat dalam kasus-kasus pembunuhan yang misterius. Uniknya, klien yang kamu bela di sini tidak bersalah dan difitnah oleh sang pembunuh yang sebenarnya. Adalah tugasmu sebagai pembela keadilan (mode lebay) untuk menyingkap kebenaran, membebaskan klienmu dari tuduhan dan menangkap sang pelaku yang sebenarnya! Tentunya tugasmu tidak akan mudah karena kamu akan berhadapan dengan para jaksa (<em>prosecutor</em>) yang berusaha sekuat tenaga menyeret klienmu ke penjara.</p>
<p>Gameplay dalam Phoenix Wright terbagi dua bagian. Yang pertama adalah mode penyelidikan di mana sebagai Phoenix kamu akan menginspeksi TKP dan mewawancarai para saksi untuk mengumpulkan barang bukti. Setelah mendapatkan cukup bukti, kamu akan masuk ke fase kedua di ruang pengadilan. Di sini para juri akan memanggil saksi yang akan memberikan pernyataan (<em>testimonial</em>) mereka akan bagaimana kejadian pembunuhan terjadi. Tentu saja apabila klienmu benar, berarti ada yang salah dengan pernyataan para saksi tersebut. Sebagai Phoenix, kamu akan bertanya lebih lanjut dan mencari kontradiksi (<em>contradiction</em>) dalam pernyataan mereka. Bila ketemu, tunjukkan barang bukti (<em>evidence</em>) yang akan membawa klienmu (tersangka / <em>defendant</em>) selangkah menuju kebebasan. Tapi hati-hati, kegagalanmu untuk mempresentasikan barang bukti yang benar pada statemen yang tepat akan mengurangi kredibilitasmu di mata hakim. Berbuat salah terlalu banyak - lima kali - dan kamu akan kalah dalam kasusmu!</p>
<p>Game ini pertama kali dirilis di Jepang pada tahun 2001 pada platform GBA dengan judul <strong>Gyakuten Saiban</strong>. Kesuksesannya di Jepang disusul dengan dua rilis game Gyakuten Saiban lain, membentuk salah satu trilogi terbaik dunia game. Saat DS diluncurkan, Capcom meremake Gyakuten Saiban dan menambahkan bonus satu kasus di dalamnya yang memanfaatkan fitur DS (game aslinya hanya terdiri dari empat kasus). Kasus tambahan dalam DS ini merupakan salah satu nilai plus versi remakenya karena memberi metode penyelidikan baru yang tadinya tidak memungkinkan di media GBA. Sebagai contoh kamu tidak hanya bisa menginspeksi foto tetapi juga video kali ini. Kamu juga bisa meniup mikrofon DS untuk mencari sidik jari tersangka yang tertinggal di lokasi. Wah, serasa jadi detektif beneran deh!</p>
<p>Apa yang membuat Ace Attorney begitu sukses tidak cuma terletak di ceritanya saja tetapi juga pada deretan cast yang memorable. Mulai dari Phoenix Wright dan Fey bersaudara yang menjadi asisten sebagai protagonis cerita, game ini menghadirkan deretan karakter yang penuh warna dan membekas di hati. Saya tidak mau berspoiler lebih lanjut, tetapi yang jelas setiap tersangka, setiap saksi, dan setiap jaksa yang kamu hadapi dalam game ini akan membuatmu terpingkal, terharu, hingga geram dengan tingkah mereka. Lokalisasi ke Amerika yang ditangani Alexander O. Smith (translator dari beberapa game <strong>Final Fantasy</strong>) juga dengan cerdik tidak mentah-mentah mentranslasikan dari versi Gyakuten Saiban melainkan mengubah sedikit cita rasanya ke dalam budaya Amerika (yang lebih global). Purist mungkin ingin tetap memainkan Gyakuten Saiban (well, that’s their loss) tapi penulisan dalam Ace Attorney: Phoenix Wright sudah mendapatkan apresiasi sebagai game dengan skrip terbaik di DS oleh banyak media cetak maupun online.</p>
<p><em>So my verdict is…</em> tunggu apa lagi? Adalah dosa besar bila kamu memiliki DS dan kelewatan salah satu title terbaiknya ini (saya menaruhnya di posisi kedua hanya di belakang <strong>Mario Kart DS</strong>). Selamat datang ke dunia pengadilan!</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Final Verdict</strong></span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Gameplay</span>: 9.5<br />
Yang membuatku terkagum-kagum dengan Ace Attorney adalah bagaimana mereka bisa menjaga pace permainan. Dalam investigasi, kamu dibuat tertawa dengan dialog-dialog ‘ajaib’ yang kamu dapatkan dari para saksi. Tapi dalam persidangan, kamu bakalan geregetan dan saling bertukar argumen menghadapi jaksa. Ada kepuasan sendiri yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata bila kamu berhasil memenangi debatmu. Kasus keempat dan kelima dalam game ini merupakan kasus-kasus epik yang duel antaramu melawan jaksa yang tidak kalah dengan pertarungan menghadapi final boss di RPG-RPG. Tidak percaya bisa seseru itu? Buktikan sendiri.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Graphic / Sound</span>: 8.5<br />
Berhubung ini adalah sebuah game yang diangkat dari GBA, kekurangan terutama ada pada bagian visualnya. Toh, sebuah game teks tidak mementingkan grafis sedemikian rupa bukan? Dalam review saya mengatakan kalau tiap karakter di dalam game ini memorable, dan faktor yang membantu kememorablean mereka adalah designnya yang unik dan berbeda untuk setiap karakter. Audionya juga berkualitas prima. Digubah ulang dalam versi orkestra membuktikan kualitas music game ini.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Play Time</span>: 8.0<br />
Bila ada titik lemah dalam game ini, itu pastilah waktu permainannya. Ace Attorney menderita kelemahan setiap game text-based lainnya: nilai replayabilitynya. Apabila kamu selesai memainkan game ini sekali, tidak ada alasan untuk mengulang memainkannya lagi, kecuali sudah beberapa tahun kemudian dan kamu sudah lupa ceritanya (biasanya saya memainkan ulang game lama begitu ada seri Ace Attorney baru mau keluar). Toh, lima skenario yang ditawarkan game ini akan memakan waktu 15 – 20 jam permainanmu; tergolong cukup panjang dibandingkan kebanyakan game text-based adventure lainnya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Overall</span>: <strong>8.9</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Game Details</strong></span><br />
Developer: Capcom<br />
Publisher: Capcom<br />
Genre: Adventure</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/03/10/ace-attorney-phoenix-wright/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>OBJECTION!!!</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/03/10/objection/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/03/10/objection/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 04:52:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[DS]]></category>

		<category><![CDATA[Game]]></category>

		<category><![CDATA[Handheld]]></category>

		<category><![CDATA[Special]]></category>

		<category><![CDATA[Ace Attorney]]></category>

		<category><![CDATA[Objection]]></category>

		<category><![CDATA[Phoenix Wright]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=3612</guid>
		<description><![CDATA[
Tahun 2006.
Tahun itu adalah tahun di mana saya pertama kali membeli Nintendo DS. Padahal, sebelumnya saya tidak pernah tertarik untuk bermain game portabel yang saya anggap inferior dibandingkan game-game dalam konsol. Ketertarikan saya pada DS diawali dengan rasa penasaran sistem dual screen, touch screen, sampai mikrofon yang menjanjikan pengalaman game yang baru dan berbeda. Setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/phoenix-wright-crop.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3613" title="phoenix-wright-crop" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/phoenix-wright-crop.jpg" alt="phoenix-wright-crop" width="394" height="394" /></a></p>
<p><em>Tahun 2006</em>.</p>
<p>Tahun itu adalah tahun di mana saya pertama kali membeli Nintendo DS. Padahal, sebelumnya saya tidak pernah tertarik untuk bermain game portabel yang saya anggap inferior dibandingkan game-game dalam konsol. Ketertarikan saya pada DS diawali dengan rasa penasaran sistem dual screen, touch screen, sampai mikrofon yang menjanjikan pengalaman game yang baru dan berbeda. Setelah melihat bahwa DS memiliki kumpulan game yang cukup banyak (ditambah dengan sudah bisa dipakainya sistem Supercard buat main game bajakan, he he he&#8230;) saya pun membeli Nintendo DS perak pertamaku (sedikit curhat: tanpa tahu bahwa dua bulan kemudian Nintendo bakalan merilis versi Lite buat DS, hiks!)</p>
<p>Saat itu, DS sudah dikenal sebagai rumah dari game-game tipe simulasi. Ambil contoh simulasi pet ala Tamagotchi yang muncul dalam bentuk <strong>Nintendogs</strong>, atau simulasi kehidupan <strong>Animal Crossing</strong>. Yang pada saat itu membuat saya penasaran dengan DS toh adalah tiga jenis simulasi game. Simulasi menjadi dokter (<strong>Trauma Center</strong>), simulasi survival (<strong>Lost in Blue</strong> - tidak ada hubungannya dengan Lost TV Series), dan yang terakhir adalah simulasi pengacara: <strong>Ace Attorney: Phoenix Wright</strong>. Saya memainkan ketiga game itu dengan tingkat kesenangan yang berbeda. Trauma Center dan Lost in Blue adalah game-game yang menarik, tetapi Phoenix Wright membawa kesenangan gaming saya ke level yang sama sekali baru.</p>
<p>Dalam countdown 25 game terbaik DS yang pernah saya post di sini beberapa waktu yang lalu, saya menempatkan Ace Attorney: Phoenix Wright sebagai game kedua favoritku di bawah Mario Kart DS. Akan tetapi untuk ukuran franchise secara keseluruhan, Ace Attorney masih merupakan serial game terbaik yang pernah hadir di DS (again - in my humble opinion). Setelah dijualnya DS lamaku beberapa bulan setelah aku membelinya, lagi-lagi serial ini berjasa membawaku kembali. Apabila bukan karena <strong>Justice for All</strong> yang dirilis di DS, saya tidak bakalan membeli DS Lite lagi. Nah, mengingat begitu panjang dan dalamnya sejarahku dengan game ini, dengan dirilisnya game terbaru serial ini berjudul <strong>Ace Attorney Investigator</strong>, saya akan menulis marathon lima review game Ace Attorney sebagai tribut bagi serial game favoritku ini.</p>
<p><em>Enjoy the world of trials, tribulations, and fun</em>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/03/10/objection/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sahara</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/03/09/sahara/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/03/09/sahara/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 17:02:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Motion Picture]]></category>

		<category><![CDATA[Movie]]></category>

		<category><![CDATA[Adventure]]></category>

		<category><![CDATA[Dirk Pitt]]></category>

		<category><![CDATA[National Treasure]]></category>

		<category><![CDATA[Penelope Cruz]]></category>

		<category><![CDATA[Sahara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=3607</guid>
		<description><![CDATA[(Review Ditulis Di Tahun 2005)
Sahara sedikit banyak akan mengingatkan kita pada National Treasure. Film bertema petualangan yang dirilis pada akhir tahun lalu dan dibintangi oleh Nicholas Cage. Dengan dukungan satu bintang kocak sebagai sidekick tokoh utama, dan seorang gadis seksi yang menemani sang jagoan dalam petualangannya - makin kental sudah aroma National Treasure di dalamnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3610" class="wp-caption alignnone" style="width: 210px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/sahara-poster.jpg"><img class="size-full wp-image-3610" title="Sahara Poster" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/sahara-poster.jpg" alt="Sahara Poster" width="200" height="296" /></a><p class="wp-caption-text">Sahara Poster</p></div>
<p>(<span style="text-decoration: underline;">Review Ditulis Di Tahun 2005</span>)</p>
<p>Sahara sedikit banyak akan mengingatkan kita pada <strong>National Treasure</strong>. Film bertema petualangan yang dirilis pada akhir tahun lalu dan dibintangi oleh Nicholas Cage. Dengan dukungan satu bintang kocak sebagai sidekick tokoh utama, dan seorang gadis seksi yang menemani sang jagoan dalam petualangannya - makin kental sudah aroma National Treasure di dalamnya ! Film ini berkali-kali mengalami penundaan dan pengubahan dalam jalan ceritanya, sehingga membengkakkan dananya menjadi 130 Juta US Dollar. Ironisnya, film dengan budget raksasa ini bukannya dirilis di masa summer di mana film besar mengeruk uang, melainkan di bulan April yang notabene adalah bulan &#8216;mati suri&#8217; industri perfilman sebelum opening summer pada bulan Mei.</p>
<p>Sahara mengangkat seorang karakter petualang dari novel sebagaimana halnya Quatermain (dari novel King Solomon&#8217;s Mine). Namanya Dirk Pitt. Dirk Pitt ini tergabung dalam sebuah organisasi pencarian laut bernama NUMA. Dalam misi terakhirnya, ia menemukan sebuah koin dari sebuah kapal karam yang konon hilang di benua Afrika negara Mali. Karena itu, ia bersama temannya Al segera menuju ke sana untuk mencari kebenaran kabar tersebut. Seorang dokter WHO yang hendak meneliti mengenai wabah aneh yang menyebar juga ikut serta dengan mereka. Dokter seksi Eva Rojas ini kemudian terjebak dalam sebuah konspirasi politik dari diktator Mali papan atas. Tentu saja Dirk dan Al tidak membiarkan Eva sendiri. Mereka segera membantu dan menemukan kengerian yang sesungguhnya. Sebuah &#8216;wabah&#8217; yang kalau tidak segera ditangani bisa jadi menyebar ke seluruh dunia !!</p>
<p>Sahara menawarkan sebuah jalan cerita petualangan yang melintasi benua Afrika. Karena letaknya di benua yang berbeda dari Amerika, maka otomatis kesan petualangannya jauh lebih terasa ketimbang National Treasure. Lagipula film ini jauh lebih mementingkan aroma petualangan yang ada di dalamnya, ketimbang National Treasure di mana unsur memecahkan kode jauh lebih dominan sebagai plot utama. Sayangnya plot utama film ini agak kacau balau. Mungkin karena ekspektasi penonton yang lebih mengharapkan pencarian akan dikecewakan perubahan plot di pertengahan film. Untungnya saja, aroma petualangan yang mulai tercemar misi penyelamatan dunia dapat diselamatkan oleh chemistry pas antara Dirk dan Al. Keduanya bersama membuat para penonton lebih segar dalam mengikuti jalan cerita yang ditawarkan. Penampilan Penelope Cruz di sini sayangnya tidak jauh dari penyedap mata saja. Banyak memang plot hole dalam film semacam ini, sayangnya Sahara bahkan melebihi batas-batas kewajaran dalam plot hole. Adegan terdampar dalam gurun saja sudah cukup konyol, bagaimana kalau ditambahi memasukkan sarung tangan dalam jok mobil di mana sarung tangan itu berkemungkinan terisi virus mematikan ? Itu hanya beberapa saja yang perlu saya sebutkan, karena ada begitu banyak kejadian nyeleneh yang mungkin membuat kita geleng-geleng sambil berharap melupakannya.</p>
<p>Satu hal unik yang mungkin layak dicatat adalah pembawaan musik latarnya. Silih berganti kita disuguhi lagu pop dan lagu kultural Afrika. Herannya, perpaduan ini malah cukup menyegarkan. Cukup enak mendengar lagu-lagu bertipe Afrika yang secara langsung dimedley dengan beat-beat dari lagu pop. Saya harus akui ini termasuk ide yang lumayan original dan tergarap dengan baik pula. Perpaduan musik ini cukup menolong film ketika tengah memasuki masa jenuhnya.</p>
<p>Secara keseluruhan, Sahara sebenarnya berpotensi untuk dirilis pada musim summer box office, entah apa yang ada di otak para produsernya sehingga merilisnya malah di saat seperti ini. Toh, Sahara tetap layak ditonton bila anda sekedar mencari tontonan segar tanpa perlu banyak memakai otak.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Score</span>: <strong>6.5</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Movie Details</strong></span><br />
Director: Breck Eisner<br />
Cast: Matthew McConaughey, Steve Zahn, Penelope Cruz<br />
Running Time: 124 Minutes</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/03/09/sahara/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>And the Oscar goes to&#8230;</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/03/08/and-the-oscar-goes-to/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/03/08/and-the-oscar-goes-to/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 13:44:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Motion Picture]]></category>

		<category><![CDATA[Movie]]></category>

		<category><![CDATA[Special]]></category>

		<category><![CDATA[Avatar]]></category>

		<category><![CDATA[Inglourious Basterds]]></category>

		<category><![CDATA[Precious]]></category>

		<category><![CDATA[The Hurt Locker]]></category>

		<category><![CDATA[Up]]></category>

		<category><![CDATA[Up in the Air]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=3599</guid>
		<description><![CDATA[
Perayaan Academy Awards tahun 2010 sudah berlangsung pagi tadi. Bagi kalian yang kelewatan menonton acaranya, demikianlah deretan para pemenangnya. Apakah jagoan yang kalian unggulkan berhasil mendapat piala Oscar?
BEST PICTURE
- The Hurt Locker
DIRECTING
- Kathryn Bigelow for The Hurt Locker
BEST ACTRESS IN A LEADING ROLE
- Sandra Bullock for The Blind Side
BEST ACTOR IN A LEADING ROLE
- Jeff [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/academy-awards-82.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3601" title="academy-awards-82" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/academy-awards-82.jpg" alt="academy-awards-82" width="200" height="291" /></a></p>
<p style="text-align: left;">Perayaan Academy Awards tahun 2010 sudah berlangsung pagi tadi. Bagi kalian yang kelewatan menonton acaranya, demikianlah deretan para pemenangnya. Apakah jagoan yang kalian unggulkan berhasil mendapat piala Oscar?</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST PICTURE</strong><br />
- The Hurt Locker</p>
<p style="text-align: left;"><strong>DIRECTING</strong><br />
- Kathryn Bigelow for The Hurt Locker</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST ACTRESS IN A LEADING ROLE</strong><br />
- Sandra Bullock for The Blind Side</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST ACTOR IN A LEADING ROLE</strong><br />
- Jeff Bridges for Crazy Heart</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST ACTOR IN A SUPPORTING ROLE</strong><br />
- Christoph Waltz for Inglourious Basterds</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST ACTRESS IN A SUPPORTING ROLE</strong><br />
- Mo&#8217;Nique for Precious</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST WRITING - ORIGINAL SCREENPLAY</strong><br />
- Mark Boal for The Hurt Locker</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST WRITING - ADAPTED SCREENPLAY</strong><br />
- Geoffrey Fletcher for Precious</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST ANIMATED FEATURE FILM</strong><br />
- Up</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST FOREIGN LANGUAGE FILM</strong><br />
- The Secret in Their Eyes (Argentina)</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST DOCUMENTARY - FEATURE LENGTH</strong><br />
- The Cove</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST DOCUMENTARY - SHORT FILM</strong><br />
- Music by Prudence</p>
<p style="text-align: left;"><strong>SHORT FILM - LIVE ACTION</strong><br />
- The New Tenants</p>
<p style="text-align: left;"><strong>SHORT FILM - LIVE ACTION</strong><br />
- Logorama</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST ACHIEVEMENT IN CINEMATOGRAPHY</strong><br />
- Avatar</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST ACHIEVEMENT IN ART DIRECTING</strong><br />
- Avatar</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST ACHIEVEMENT IN COSTUME DESIGN</strong><br />
- The Young Victoria</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST ACHIEVEMENT IN MAKEUP</strong><br />
- Star Trek</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST ACHIEVEMENT IN VISUAL EFFECTS</strong><br />
- Avatar</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST ACHIEVEMENT IN EDITING</strong><br />
- The Hurt Locker</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST ACHIEVEMENT IN SOUND EDITING</strong><br />
- The Hurt Locker</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST ACHIEVEMENT IN SOUND MIXING</strong><br />
- The Hurt Locker</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST ACHIEVEMENT IN MUSIC - ORIGINAL SCORE</strong><br />
- Michael Giacchino for Up</p>
<p style="text-align: left;"><strong>BEST ACHIEVEMENT IN MUSIC - ORIGINAL SONG</strong><br />
- Crazy Heart - &#8220;The Weary Kind&#8221;</p>
<p style="text-align: left;"><span style="text-decoration: underline;">Pendapat pribadiku mengenai hasil Academy Awards 2010 ini</span><br />
- Yang paling membuat gw tertarik itu The Blind Side, karena gw senang sekali dengan film-film olahraga inspirational seperti ini. Kudos buat Ms Sandra Bullock yang punya keberanian datang ke Razzie Award karena dia jadi artis pertama yang dapat Razzie dan Academy Awards di tahun yang sama. Dan kalau boleh jujur, gw bakalan bilang kalau All About Steve is NOT THAT BAD. You want a bad movie and a bad actress? Silahkan lihat Saw VI. Silahkan lihat Dragonball: Evolution. Silahkan lihat Street Fighter: Legend of Chun-Li. Silahkan lihat Halloween II. Silahkan lihat Friday the 13th. Silahkan lihat The Final Destination. Go Sandra Bullock go!</p>
<p style="text-align: left;">- Up memenangkan dua penghargaan sebagai film animasi terbaik dan musik original score terbaik. SUdah layak dan sepantasnya. Musiknya Michael Giacchino di awal film kalau didengarkan sampai sekarang juga bakalan terkenang abadi sebagai bukti kisah cinta dan kehidupan dua insan manusia. It&#8217;s just beautiful. Pribadiku sih sebenarnya juga menjagokan Up memenangkan Best Picture&#8230; tapi mungkin belum saatnya. Gw akan terus menantikan terjadinya saat itu!</p>
<p style="text-align: left;">- Kecewa untuk Best Original Screenplay dan Best Adapted Screenplay. Gw menjagokan Inglourious Basterds dan Up in the Air untuk kedua bagian itu. Terutama untuk Up in the Air, gw merasa kecewa banget film ini dishut-down dengan begitu kejamnya oleh panitia Oscar. Enam nominasi, nol piala. Duh. Gw belum nonton Precious, but gw akan menaikkan standar penilaian gw secara ini film yang &#8216;konon&#8217; mampu mencuri Adapted Screenplay dari salah satu film favorit gw tahun lalu.</p>
<p style="text-align: left;">- Avatar juga pulang dengan malu. Sebelumnya dijagokan bakalan menyapu penghargaan kategori teknis dan bersaing ketat dengan The Hurt Locker dalam dua piala paling bergensi (Film dan Sutradara terbaik) nyatanya harus berbagi dalam kategori teknis (Best Sound Editing dan Mixing semua disambar The Hurt Locker). Lebih menyesakkan lagi adalah bagaimana film terbaik dan sutradara terbaik harus direlakan James Cameron kepada mantan istrinya. Kathryn Bigelow menjadi sutradara wanita pertama yang memenangkan Oscar! Selamat! Dan setahu saya The Hurt Locker ini termasuk film pemenang Oscar yang pendapatannya sangat - sangat rendah (tidak sampai 20 Juta USD!!!). Saya tidak ingat kapan terakhir kalinya ada film pemenang Oscar yang meraup dollar lebih sedikit darinya!</p>
<p style="text-align: left;">Well, that&#8217;s all. Sampai jumpa di tahun depan dalam ajang Academy Awards berikutnya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/03/08/and-the-oscar-goes-to/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Detective Conan Movie 7: Crossroad in the Ancient Capital</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/03/08/detective-conan-movie-7-crossroad-in-the-ancient-capital/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/03/08/detective-conan-movie-7-crossroad-in-the-ancient-capital/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 13:35:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Motion Picture]]></category>

		<category><![CDATA[Movie]]></category>

		<category><![CDATA[Benkei]]></category>

		<category><![CDATA[Conan]]></category>

		<category><![CDATA[Heiji]]></category>

		<category><![CDATA[Kazuha]]></category>

		<category><![CDATA[Kyoto]]></category>

		<category><![CDATA[Ran]]></category>

		<category><![CDATA[Yoshitsune]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=3594</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa tahun yang lalu ketika saya pertama kali menonton Crossroad in the Ancient Capital, saya langsung mengecapnya sebagai yang terburuk dari tiga film yang saya tonton (Countdown to Heaven dan The Phantom of Baker Street adalah dua film yang saya tonton sebelumnya). Saat itu saya merasa filmnya terlalu membingungkan dan karakter favorit saya: Heiji Hattori [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3596" class="wp-caption alignnone" style="width: 265px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/crossroad-in-ancient-capital-poster.jpg"><img class="size-full wp-image-3596" title="Detective Conan Movie 7: Crossroad in Ancient Capital Poster" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/crossroad-in-ancient-capital-poster.jpg" alt="Detective Conan Movie 7: Crossroad in Ancient Capital Poster" width="255" height="340" /></a><p class="wp-caption-text">Detective Conan Movie 7: Crossroad in Ancient Capital Poster</p></div>
<p>Beberapa tahun yang lalu ketika saya pertama kali menonton <strong>Crossroad in the Ancient Capital</strong>, saya langsung mengecapnya sebagai yang terburuk dari tiga film yang saya tonton (<strong>Countdown to Heaven</strong> dan <strong>The Phantom of Baker Street</strong> adalah dua film yang saya tonton sebelumnya). Saat itu saya merasa filmnya terlalu membingungkan dan karakter favorit saya: Heiji Hattori terlalu dibodohkan sehingga levelnya terasa seperti di bawah - bukannya sebanding dengan Shinichi. Tentu saja pengalaman saya mengenai kebudayaan Jepang dan film tidak secetek saat pertama kali menonton dulu. Jadi bagaimana pengalaman menonton ulang film ini?</p>
<p>Terjadi sebuah pembunuhan berantai di beberapa kota besar di Jepang. Dari penyelidikan awal, polisi menemukan bahwa mereka semua memiliki kesamaan digit angka dalam namanya sekaligus merupakan anggota komplotan bandit Yoshitsune. Karakter Yoshitsune dan Musashibo Benkei adalah salah satu figur sejarah yang sangat terkenal di jaman feudal Jepang dulu dan memiliki pengetahuan mendasar akan mereka akan sangat membantu membuatmu mengapresiasi film ini. Kalau kalian malas membaca sejarah Jepang, membaca manga <strong>Shanaou Yoshitsune</strong> yang dikarang Sawada Hirofumi (sudah diterbitkan sampai tamat di Indonesia) bisa menolong kok (walaupun ada beberapa perubahan sejarah yang dilakukan sang mangaka).</p>
<p>Anyway, kembali pada film ini, dalam kasus yang sepertinya tidak berhubungan Kogoro Mouri dan Conan diundang ke kota Kyoto untuk mencari tahu mengenai hilangnya patung Buddha di sebuah kuil. Berhubung Kyoto terletak di bagian barat Jepang, daerah itu bisa dibilang termasuk dalam jurisdiksi Hattori Heiji. Walaupun dalam manga kedua detektif ini sering bertemu, baru dalam film layar lebar ketujuh ini keduanya bekerja sama dalam memecahkan kasus. Sebagai tambahan lain, Heiji juga punya adegan tersembunyi menemukan gadis cinta pertamanya saat masih kecil dulu.</p>
<p>Seperti yang saya katakan tadi, saat pertama kali menonton film ini saya tidak tahu banyak mengenai budaya Jepang sehingga tidak mengerti mengenai hubungan Benkei dan Yoshitsune. Setelah mengetahui hubungan keduanya, barulah saya bisa lebih mengapresiasi film ini. Judul Crossroad in the Ancient Capital yang disandang oleh film ini sebenarnya memiliki koneksi yang cukup mendalam pada ceritanya. Saya tadinya takut kalau pembunuhan demi pembunuhan film ini bakalan seperti <strong>The Fourteenth Target</strong> gara-gara menarget nama orang yang memiliki angka tetapi untung kekhawatiranku tidak terbukti. Boleh dibilang saya cukup enjoy dengan bagaimana film ini secara tidak langsung memperkenalkan penonton pada kota Kyoto. Oh ya, karena settingnya ada pada kota di mana budaya Jepang masih kental, film ini juga menyisipkan berbagai kebudayaan Jepang seperti <em>geisha</em> dan tradisi minum-minum di dalamnya. Ini merupakan break yang menyenangkan setelah film-film Conan sebelumnya terasa sangat berbau barat / Hollywood (bom di pencakar langit, pembunuhan misterius, sampai teror dunia digital).</p>
<p>Yang saya sebenarnya kurang suka dalam film ini adalah sub-plotnya yang mengisahkan pencarian Heiji akan cinta pertamanya. Alasan Heiji untuk mencari cinta pertamanya terasa terlalu mengada-ada, apalagi karena ia sudah punya Kazuha. Saya bisa memaklumi kegeraman Kazuha sepanjang film melihat Heiji tetap ngebet mencari cinta pertamanya (<em>can you even call it first love</em> kalau tidak pernah ketemu dan bicara?). Satu bagian yang membuatku geleng-geleng adalah ketika Heiji ‘sepertinya’ menemukan cinta pertamanya dan langsung mendiskreditkan gadis itu sebagai tersangka. Keterlaluan. Heiji yang saya kenal tidak mungkin akan terbuai oleh emosi seperti itu dan tetap berlaku obyektif. Plot cerita ini terlalu picisan dan penutupnya yang bahkan lebih norak lagi membuat saya berharap kalau ia dipotong keluar saja dari cerita. Saya malah lebih suka dengan hubungan Shinichi dan Ran yang tidak pernah bisa bertemu sementara Ran tetap menantikannya. Tanpa memberi spoiler apapun, penantian Ran pada akhirnya berbuah juga - walau hanya untuk sesaat. Saya akui bahwa eksekusinya sebenarnya juga <em>cheesy</em>, tetapi setidaknya masih setingkat lebih baik dibanding plot Heiji - Kazuha.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> saya mengapresiasi film ini lebih baik ketika menontonnya untuk kali kedua. Beberapa unsur cerita yang mengambil kebudayaan Jepang kini bisa saya tangkap lebih baik. Oleh karena itu, saya menutup review ini dengan sebuah saran bahwa mengetahui pengetahuan mendasar akan infrastruktur kota Kyoto dan sejarah Yoshitsune adalah modal baik sebelum menonton film ini.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Note</span>: I love the ending theme yang dibawakan Mai Kuraki (berjudul Time After Time). Cari deh. Saya rasa kalian akan menyukainya. Aransemennya terdengar mirip dengan lagu J-Pop lain yang pernah saya dengar, tapi entah kenapa saya lupa apa.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Score</span>: <strong>7.5</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Movie Details</strong></span><br />
Director: Kanetsugu Kodama<br />
Cast: Akira Kamiya, Kappei Yamaguchi, Minami Takayama<br />
Running Time: 108 Minutes</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/03/08/detective-conan-movie-7-crossroad-in-the-ancient-capital/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Alice In Wonderland (2010)</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/03/07/alice-in-wonderland-2010/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/03/07/alice-in-wonderland-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 03:13:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Motion Picture]]></category>

		<category><![CDATA[Movie]]></category>

		<category><![CDATA[Alice]]></category>

		<category><![CDATA[Johnny Depp]]></category>

		<category><![CDATA[Mad Hatter]]></category>

		<category><![CDATA[Red Queen]]></category>

		<category><![CDATA[Tim Burton]]></category>

		<category><![CDATA[Underland]]></category>

		<category><![CDATA[White Queen]]></category>

		<category><![CDATA[Wonderland]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=3587</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Alice’s Adventure in Wonderland dan Through the Looking Glass karya Lewis Caroll’s sudah berusia lebih dari satu abad tetapi masih dianggap sebagai salah satu karya literatur yang penting hingga kini. Entah sudah berapa film yang mengangkat kisah ini, yang paling terkenal di antaranya mungkin film animasi karya Studio Disney di tahun 1951 dulu. Ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3589" class="wp-caption alignnone" style="width: 210px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/alice-in-wonderland-poster.jpg"><img class="size-full wp-image-3589" title="Alice In Wonderland (2010) Poster" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/alice-in-wonderland-poster.jpg" alt="Alice In Wonderland (2010) Poster" width="200" height="296" /></a><p class="wp-caption-text">Alice In Wonderland (2010) Poster</p></div>
<p>Kisah <em>Alice’s Adventure in Wonderland</em> dan <em>Through the Looking Glass</em> karya Lewis Caroll’s sudah berusia lebih dari satu abad tetapi masih dianggap sebagai salah satu karya literatur yang penting hingga kini. Entah sudah berapa film yang mengangkat kisah ini, yang paling terkenal di antaranya mungkin film animasi karya Studio Disney di tahun 1951 dulu. Ketika wacana untuk menggarap lagi <strong>Alice in Wonderland</strong> dalam versi live-action bercampur animasi CG di bawah arahan Tim Burton terkuak, saya langsung memasukkan film tersebut pada daftar film yang harus ditonton tahun ini. Tambahan lagi Mad Hatter bakalan diperankan oleh salah seorang aktor paling berbakat generasi ini: Johnny Depp.</p>
<p>Film ini bisa dibilang merupakan sekuel dari kisah Alice in Wonderland yang kita kenal. Setelah perjalanannya ke Wonderland dulu, Alice tidak lagi bisa mengingatnya secara pasti (wajar karena dia masih anak kecil saat itu). Selama bertahun-tahun sampai dewasa ia hanya mengingat petualangannya itu saat memimpikan hal yang sama berulang-ulang. Di usianya yang ke19, Alice dilamar oleh seorang aristokrat. Alih-alih menjawab pinangannya, Alice justru melihat sosok kelinci putih yang langsung ia kejar&#8230; dan ia pun kembali masuk ke dunia Wonderland.</p>
<p>Akan tetapi dunia Wonderland yang ia singgahi kini tidak sama dengan dulu. Sang Red Queen yang kejam kini menguasai hampir seluruh dunia dengan mengandalkan monster Jabberwocky. Dengan menyebarkan teror dan berkuasa ala diktator, Red Queen menancapkan kuku pengaruhnya ke hampir seluruh dunia di mana pertahanan terakhir digalang oleh White Queen, adik dari Red Queen. Ketika Alice sampai di dunia itu, ia menggenapi sebuah ramalan yang mengatakan bahwa dialah pilihan yang akan mengalahkan Jabberwocky dan menghentikan rezim kejam Red Queen. Tapi apakah Alice bisa melakukannya sedangkan dia saja menganggap ia hanya mengalami mimpi buruk yang berkepanjangan?</p>
<p>Saya menganggap kalau langkah pendekatan yang dilakukan oleh Tim Burton untuk film ini sudah tepat. Pertama; dunia Wonderland adalah salah satu dunia paling ajaib yang tercipta dalam kata. Walaupun Wonderland sejati adalah yang menari di benak kita ketika membaca karya klasik Lewis Caroll, saya merasa bahwa sutradara Tim Burton orang yang paling tepat untuk menghidupkan fantasi itu ke layar lebar. Dan untuk itu Tim Burton memang tidak mengecewakan. Ia pernah membuatku tercengang lewat <strong>Charlie and the Chocolate Factory</strong>, dan ia melakukannya lagi lewat Alice in Wonderland. Atensinya terhadap detail mengagumkan dan setiap shoot akan Wonderland adalah sebuah makanan sedap bagi mata moviegoers sekalian. Di sisi lain, banyak yang mengatakan bahwa film ini tidak perlu ditonton dalam versi 3D untuk mengapresiasinya.</p>
<p>Kedua; untuk menghindari cerita yang sudah familiar di mata penonton, Tim Burton merombak dan menjadikan film ini sekuel dari karya literaturnya. Saya tahu bahwa mungkin para purist tidak setuju dengan hal ini, tetapi saya sih oke-oke saja. Asal tahu saja, karya Lewis Caroll itu disebut sebagai “<em>literary nonsense</em>” yang tidak memiliki awal dan akhir cerita yang jelas. Mungkin itu bisa sukses dalam bentuk tulisan tapi siapa orang yang mau nonton sebuah film tanpa juntrungan (baca: arahan) selama dua jam? Jelas bukan saya. Dengan meletakkan kisah ini sebagai sekuel, Tim Burton memiliki kebebasan mengarahkan cerita baru dalam asetnya yang paling berharga: tanah Wonderland. Ironisnya, di sini jugalah Tim Burton gagal. Seperti film-filmnya yang saya tonton sebelumnya, Burton kerap mementingkan style dibandingkan substance dari filmnya. Penonton diajak untuk berdecak kagum akan latar setting dunianya tapi hambar dari sisi ceritanya.</p>
<p>Bahkan para aktor-artis yang berperan dalam film ini pun tidak bisa menolong banyak. Mia Wasikowska sebagai sang Alice rasanya datar dan kurang terasah aktingnya. Lebih lagi saya kecewa melihat dia sebagai Alice yang pemurung dan kurang ceria. Bagaimana dengan Johnny Depp yang terus dikedepankan di setiap promonya? Well, to be honest, he’s still Depp&#8230; in a bizarre way. Kalau kalian menonton akting Depp di sini&#8230; ya seperti Depp di peran-peran sintingnya yang lain. Di 2003 lalu saya terhentak melihat dia sebagai Jack Sparrow. Setelah trilogi film <strong>Pirates of the Caribbean</strong> dan Charlie and the Chocolate Factory, saya rasa saya sudah kebal dengan akting nyentriknya Depp. Pada akhirnya, saya akan meringkas penampilan Depp sebagai Mad Hatter sebagai Mr Wonka&#8230; hanya dengan tingkat keedanan yang dilipat gandakan. Bagus atau tidaknya penampilan itu tergantung dari apakah kamu fans dari Mr Depp atau tidak. Saya juga tidak terlalu sreg dengan penampilan tiap karakter lain, baik CG (Red Queen-nya Helena Bonham Carter) maupun live-action (White Queen-nya Anne Hathaway) yang sikapnya terlalu berlebihan. Ada garis batas antara karakter yang unik dan karakter yang aneh. Bukankah film ini berjudul Alice in Wonderland - bukan Alice in Asylum?</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> I’ll sum Alice in Wonderland in one sentence: <em>The world is memorable but the inhabitants are forgettable</em>.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Score</span>: <strong>6.5</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Movie Details</strong></span><br />
Director: Tim Burton<br />
Cast: Mia Wasikowska, Johnny Depp, Anne Hathaway, Helena Bonham Carter<br />
Running Time: 109 Minutes</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/03/07/alice-in-wonderland-2010/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Up in the Air</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/03/07/up-in-the-air/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/03/07/up-in-the-air/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 03:05:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Motion Picture]]></category>

		<category><![CDATA[Movie]]></category>

		<category><![CDATA[Academy Award]]></category>

		<category><![CDATA[Adapted Screenplay]]></category>

		<category><![CDATA[Frequent Flyer]]></category>

		<category><![CDATA[George Clooney]]></category>

		<category><![CDATA[Miles]]></category>

		<category><![CDATA[Oscar]]></category>

		<category><![CDATA[Ryan Bingham]]></category>

		<category><![CDATA[Up in the Air]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=3582</guid>
		<description><![CDATA[Selain Avatar, The Hurt Locker, Inglourious Basterds, dan Precious ada satu lagi film yang diunggulkan bakal meraih penghargaan terbaik pada ajang Academy Awards 2010 nanti. Film itu adalah Up in the Air, karya Jason Reitman yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Walter Kirn. Walaupun diangkat dari novel, ketika saya memeriksa melalui Wikipedia, ternyata perubahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3584" class="wp-caption alignnone" style="width: 210px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/up-in-the-air-poster.jpg"><img class="size-full wp-image-3584" title="Up in the Air Poster" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/03/up-in-the-air-poster.jpg" alt="Up in the Air Poster" width="200" height="296" /></a><p class="wp-caption-text">Up in the Air Poster</p></div>
<p>Selain <strong>Avatar</strong>, <strong>The Hurt Locker</strong>, <strong>Inglourious Basterds</strong>, dan <strong>Precious</strong> ada satu lagi film yang diunggulkan bakal meraih penghargaan terbaik pada ajang Academy Awards 2010 nanti. Film itu adalah <strong>Up in the Air</strong>, karya Jason Reitman yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Walter Kirn. Walaupun diangkat dari novel, ketika saya memeriksa melalui Wikipedia, ternyata perubahan antara versi novel dan filmnya cukup besar. Jason Reitman sebelum ini menarik perhatianku (dan perhatian kebanyakan <em>moviegoers</em>) melalui film <strong>Juno</strong>. Apakah sentuhan magisnya bisa ditranslasikan ke Up in the Air?</p>
<p>Statemen ini mungkin terdengar aneh sekaligus nyata. Ryan Bingham menghabiskan waktunya di udara. Anehnya dia bukan seorang pilot maupun pramugara pesawat terbang. Alasan kenapa Ryan Bingham terus terbang dari satu kota ke kota lain adalah karena pekerjaannya sebagai <em>corporate downsizer</em> (kalau mau istilah Indonesianya yang mudah: tukang pecat orang). Kalian tahu kan kalau memecat orang bukan hal yang mudah? Terkadang bahkan pimpinan dan bagian Human Resource sebuah perusahaan tidak memiliki keberanian memecat pegawai karyawan yang sudah setia bekerja kepada mereka selama bertahun-tahun. Di saat seperti inilah perusahaan Ryan Bingham dipanggil. Mereka diminta untuk menyampaikan perintah pemecatan itu sekaligus ‘membantu’ para karyawan yang kena PHK mencari pekerjaan baru; dan dalam perusahaan itu Ryanlah yang menjadi agen lapangan terbaik.</p>
<p>Begitu seringnya Ryan terbang di udara dan bergerak dari satu kota ke kota yang lain, ia hampir tidak punya waktu untuk berada di rumah. Ini bukan masalah bagi Ryan yang memang mengisolasi dirinya dari keluarga dan sekelilingnya - bahkan Ryan sebenarnya lebih menikmati waktunya terbang ke sana-sini ketimbang berada di rumah karena berambisi menembus mileage pesawat tertentu. Karena alasan inilah Ryan marah bak kebakaran jenggot ketika seorang anggota junior bernama Natalie Keener ingin menciptakan sistem baru yang membuatnya tidak bisa terbang lagi. Melalui program video call (seperti iChat / Skype), Natalie menjanjikan untuk memberhentikan pekerjaan seseorang melalui jarak jauh. Irit ongkos penerbangan. Untung buat perusahaan, buntung buat Ryan. Bos perusahaan yang pusing melihat perdebatan antara Ryan dan Natalie kemudian meminta keduanya pergi bersama. Harapannya Ryan bisa melihat dan menerima kemajuan teknologi Natalie sementara Natalie bisa belajar dari pengalaman berpuluh-puluh tahun Ryan. Turut membuat hati Ryan bingung adalah ketika ia bertemu dengan seorang <em>frequent flyer</em> seperti dirinya bernama Alex dan mulai jatuh cinta dengannya. Apakah akhirnya Ryan akan menemukan rumahnya yang sejati di daratan?</p>
<p>Up in the Air langsung merenggut hati saya mulai dari menit awalnya. Melihat wajah sedih orang yang menghadapi pemecatan membuat hatiku turut trenyuh. Jason Reitman memasukkan berbagai elemen ironi dalam film ini. Tadinya saya menyangka bahwa film ini bakalan berakhir seperti kebanyakan film, di mana Ryan akan menyadari pentingnya arti keluarga tetapi Reitman seakan menampar saya dengan <em>twist</em> di akhir film. Aspek lain yang membuat saya merasa Up in the Air begitu enak dinikmati adalah dialog antara para karakternya yang mengalir secara hidup. Skenarionya mengalir begitu saja tanpa terasa seperti dibuat-buat. Bahkan dibandingkan Juno (yang dialognya saya rasa brilian) pun, Up in the Air masih saya nilai menang satu tingkat. Plus film ini diiringi dengan lagu-lagu (mayoritas akustik) yang pas dengan setiap scene yang ada.</p>
<p>Yang menjadi bintang dalam film ini tidak lain adalah tiga bintang utamanya. George Clooney, Vera Farmiga, dan Anna Kendrick semua mendapat sanjungan saya. Layak dan sepantasnya bila ketiganya diganjar dengan nominasi aktor artis terbaik menurutku. George Clooney tampil sempurna dalam sosok Ryan yang tidak pernah merasakan koneksi apapun terhadap kehidupan sosial di luar pekerjaannya sehingga satu-satunya alasan kehidupannya mungkin hanya mileage filmnya. Ditambah lagi pembawaan Clooney yang percaya diri pas dengan karakter Ryan yang selalu kalem (mana dia juga berprofesi ganda sebagai motivational speaker). Pria yang satu ini memang seperti anggur; makin tua makin matang dan makin ganteng. Lucunya, kehidupan nyata Clooney ini mirip dengan Ryan yang tak ingin terikat dengan pernikahan. Apa karena itu dia tampil begitu lepas ya? Kemudian Vera Farmiga sebagai Alex, seorang frequent flyer yang nantinya membuat Ryan jatuh cinta kepadanya memerankan penampilannya dengan sama briliannya. Chemistry antara dirinya dan Clooney membuat penonton turut mendukung jadiannya mereka, dan membuat akhir film ini semakin menyesakkan hati. Terakhir yang paling mencuri perhatian saya adalah Anna Kendrick. Sebelumnya ia tampil sebagai teman Bella yang cerewet di <strong>Twilight</strong>&#8230; dan siapapun yang dari Twilight tadinya saya anggap tidak bisa berakting. Anna mengubah pendapat saya. Sebagai Natalie ia menampilkan sosok gadis yang ambisius, tetapi juga rapuh di dalamnya. Bisa dibilang paruh awal dari Up in the Air begitu berwarna (dibanding paruh keduanya) karena kehadiran Natalie di dalamnya, beberapa banter terbaik juga terjadi saat Natalie dan Ryan menabrakkan ideologi mereka dalam pertukaran kata-kata.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> Up in the Air langsung masuk deretan film terbaik rilis tahun 2009 yang kutonton. Dengan akting yang memikat, konsep cerita yang lain dari yang lain, ditambah pesan yang apik (tanpa kelewat menggurui) di dalamnya, siapapun harus menikmati karya terbaru Jason Reitman ini. Reitman, you did it again!</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Score</span>: <strong>9.0</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Movie Details</strong></span><br />
Director: Jason Reitman<br />
Cast: George Clooney, Vera Farmiga, Anna Kendrick<br />
Running Time: 109 Minutes</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/03/07/up-in-the-air/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
