Kesuksesan dari game pertama Ace Attorney tidak diduga oleh siapapun, bahkan oleh Capcom sendiri. Itulah sebabnya game ini dirilis secara terbatas di pasaran Amerika (mencari cartridge orisinil dari Ace Attorney: Phoenix Wright kini ibarat mencari jarum di dalam tumpukan jerami, kalau beruntung kamu mungkin bisa menemukannya dijual – dengan harga berlipat dari harga asli – di eBay dan situs-situs jual beli di internet lainnya). Kali ini Capcom tidak mau kecolongan lagi. Memanfaatkan momentum dari game pertamanya, tidak sampai setahun Capcom sudah siap merilis sekuelnya Ace Attorney: Justice for All.
Justice for All melanjutkan petualangan Phoenix dan kawan-kawan. Setelah ending game pertamanya, rival Phoenix, sang jaksa Miles Edgeworth pergi ke luar negeri untuk melakukan refleksi diri. Sebagai penggantinya adalah Franziska von Karma, anak dari Manfred von Karma (musuh utama dalam game sebelumnya). Hampir sama dengan game pertama, sebagai seorang pengacara kamu harus menginvestigasi dan membuktikan di persidangan bahwa klien yang kamu bela tidak bersalah.
Alasan kenapa Justice for All bisa begitu cepat dirilis di Amerika adalah karena game ini hanya merupakan port langsung versi GBAnya. Berbeda dengan game pertamanya yang memasukkan satu kasus baru, Justice for All hanya menambahkan fitur-fitur seadanya untuk DS seperti penggunaan touch screen atau pemakaian mikrofon untuk menyerukan perintah-perintah tertentu. Ini membuat kebanyakan gamer (termasuk saya) kecewa. Kenapa Capcom harus buru-buru merilisnya? Kenapa tidak menambahkan kasus baru yang mengoptimalkan fitur DS sebelum melemparnya ke pasar? Kesannya Capcom seakan hanya ingin mengeruk untung dari para gamer yang memang sudah ngebet ingin mengetahui lanjutan kisah ini.
Sialnya lagi, dari empat kasus yang disediakan di game ini, bisa dibilang hanya satu yang menarik perhatian yakni kasus terakhirnya. Seperti game sebelumnya, kasus terakhir dalam Ace Attorney selalu merupakan pertarungan logika yang epik, megah, dan dahsyat. Pertaruhan dalam kasus terakhir ini bahkan lebih tinggi karena menyangkut nyawa seorang yang penting bagi Phoenix juga jati diri Phoenix sebagai seorang pengacara. Saya tidak mau spoiler terlalu jauh, tetapi paradigmamu dalam keadilan benar-benar diuji dalam kasus terakhir game ini. Sungguh saya sayangkan bahwa tiga kasus sebelumnya tidak memiliki intensitas setinggi dan sebaik kasus terakhirnya. Franziska sebagai lawan yang dihadapi Phoenix kali ini pun tidak memiliki wibawa layaknya Miles atau ayahnya, menjadikan ‘pertarungan’ menghadapinya kurang menegangkan.
Inovasi baru dalam Justice for All (atau lebih tepatnya Gyakuten Saiban 2 yang adalah versi orisinilnya) adalah pemanfaatan sistem Psyche Lock. Dalam game pertamanya, mewawancarai para saksi tergolong mudah karena mereka dengan senang hati membeberkan apa-apa saja yang mereka ketahui kepadamu. Tidak kali ini, karena mereka akan membisu dan menyembunyikan fakta-fakta yang mereka ketahui. Beruntung Phoenix juga mendapatkan sebuah barang bernama Magatama, sejenis alat untuk melihat ‘hati’ seseorang. Rahasia yang mereka simpan direpresentasikan oleh gembok-gembok. Satu-satunya cara untuk membuka gembok (atau memaksa mereka buka mulut) itu – seperti yang mungkin sudah bisa kamu tebak – adalah menggunakan barang bukti dari penyelidikanmu. Walaupun kreatif dan masuk akal, tambahan ini tidak diterima baik oleh semua orang karena penyampaiannya dirasa bertele-tele dan menyulitkan investigasi. Bicara soal investigasi yang sulit, kelemahan terbesar kasus ini adalah memecahkan testimonial para saksi. Agaknya ini dikarenakan penulisan skenario yang kurang baik, mencari kebohongan saksi terasa lebih sulit kali ini. Kadang beberapa logikanya juga terlalu mustahil sehingga membuat gamer bengong, bukannya puas, ketika mendapatkan jawabannya.
So my verdict is… terlepas dari semua kelemahan yang saya sebutkan di atas, Justice for All masih sebuah game yang lumayan berkualitas. Kasus terakhirnya sendiri bisa dibilang berjasa menghapuskan dosa dari kasus-kasus sebelumnya. Toh, dari antara semua game Ace Attorney yang kumainkan, Justice for All tetap merupakan entry yang terlemah. Untung saja game ketiganya, Ace Attorney: Trials and Tribulations, mampu kembali menaikkan citra serial yang sempat terpuruk di mataku ini.
Final Verdict
Gameplay: 7.0
Tambahan Psyche Lock yang seharusnya menjadi inovasi yang baru dan kreatif justru berbalik jadi senjata makan tuan karena penggunaannya yang terlalu mistis. Tidak adanya kasus baru yang memanfaatkan fitur DS juga memperlemah nilai gameplaynya. Yang paling parah adalah kasus-kasus yang ditawarkan game keduanya tidak bisa menyamai kualitas prekuelnya.
Graphic / Sound: 8.0
Karakter baru yang diperkenalkan dalam game ini ada dua yang langsung menarik perhatianku (juga menjadi regular di game-game berikutnya). Pertama adalah Pearl Fey dan yang kedua adalah Franziska von Karma. Terutama Franziska, walaupun saya mengatakan ia tidak memiliki karisma seperti ayahnya, setidaknya saya selalu terhibur melihat dia melecuti semua orang di sekelilingnya. Musiknya juga tidak sebagus game pertamanya, terutama bila dibandingkan dengan Phoenix Wright Theme. Tidak jelek, tetapi tidak semembangkitkan semangat seperti game pertamanya. Theme terbaru terbaik yang merenggut perhatian bagiku adalah theme kebangkitan dari Miles Edgeworth.
Play Time: 7.5
Karena hanya terdiri dari empat chapter, Justice for All adalah game terpendek dari semua seri Ace Attorney. Kendati demikian, ia masih akan memakan waktu sekitar 10 jam untuk diselesaikan. Seperti prekuelnya, tidak ada alasan untuk memainkannya lagi begitu kamu menamatkannya, kecuali untuk bernostalgia dan mengingat ceritanya kembali (sesuatu yang enggan kulakukan karena kualitas ceritanya yang pas-pasan).
Overall: 7.5
Game Details
Developer: Capcom
Publisher: Capcom
Genre: Adventure












