Archive | Special

Tags: , , , , , , , , , ,

Ace Attorney: Justice For All

Posted on 11 March 2010 by Si Tukang Review

Ace Attorney: Justice for All DS Cover

Ace Attorney: Justice for All DS Cover

Kesuksesan dari game pertama Ace Attorney tidak diduga oleh siapapun, bahkan oleh Capcom sendiri. Itulah sebabnya game ini dirilis secara terbatas di pasaran Amerika (mencari cartridge orisinil dari Ace Attorney: Phoenix Wright kini ibarat mencari jarum di dalam tumpukan jerami, kalau beruntung kamu mungkin bisa menemukannya dijual – dengan harga berlipat dari harga asli – di eBay dan situs-situs jual beli di internet lainnya). Kali ini Capcom tidak mau kecolongan lagi. Memanfaatkan momentum dari game pertamanya, tidak sampai setahun Capcom sudah siap merilis sekuelnya Ace Attorney: Justice for All.

Justice for All melanjutkan petualangan Phoenix dan kawan-kawan. Setelah ending game pertamanya, rival Phoenix, sang jaksa Miles Edgeworth pergi ke luar negeri untuk melakukan refleksi diri. Sebagai penggantinya adalah Franziska von Karma, anak dari Manfred von Karma (musuh utama dalam game sebelumnya). Hampir sama dengan game pertama, sebagai seorang pengacara kamu harus menginvestigasi dan membuktikan di persidangan bahwa klien yang kamu bela tidak bersalah.

Alasan kenapa Justice for All bisa begitu cepat dirilis di Amerika adalah karena game ini hanya merupakan port langsung versi GBAnya. Berbeda dengan game pertamanya yang memasukkan satu kasus baru, Justice for All hanya menambahkan fitur-fitur seadanya untuk DS seperti penggunaan touch screen atau pemakaian mikrofon untuk menyerukan perintah-perintah tertentu. Ini membuat kebanyakan gamer (termasuk saya) kecewa. Kenapa Capcom harus buru-buru merilisnya? Kenapa tidak menambahkan kasus baru yang mengoptimalkan fitur DS sebelum melemparnya ke pasar? Kesannya Capcom seakan hanya ingin mengeruk untung dari para gamer yang memang sudah ngebet ingin mengetahui lanjutan kisah ini.

Sialnya lagi, dari empat kasus yang disediakan di game ini, bisa dibilang hanya satu yang menarik perhatian yakni kasus terakhirnya. Seperti game sebelumnya, kasus terakhir dalam Ace Attorney selalu merupakan pertarungan logika yang epik, megah, dan dahsyat. Pertaruhan dalam kasus terakhir ini bahkan lebih tinggi karena menyangkut nyawa seorang yang penting bagi Phoenix juga jati diri Phoenix sebagai seorang pengacara. Saya tidak mau spoiler terlalu jauh, tetapi paradigmamu dalam keadilan benar-benar diuji dalam kasus terakhir game ini. Sungguh saya sayangkan bahwa tiga kasus sebelumnya tidak memiliki intensitas setinggi dan sebaik kasus terakhirnya. Franziska sebagai lawan yang dihadapi Phoenix kali ini pun tidak memiliki wibawa layaknya Miles atau ayahnya, menjadikan ‘pertarungan’ menghadapinya kurang menegangkan.

Inovasi baru dalam Justice for All (atau lebih tepatnya Gyakuten Saiban 2 yang adalah versi orisinilnya) adalah pemanfaatan sistem Psyche Lock. Dalam game pertamanya, mewawancarai para saksi tergolong mudah karena mereka dengan senang hati membeberkan apa-apa saja yang mereka ketahui kepadamu. Tidak kali ini, karena mereka akan membisu dan menyembunyikan fakta-fakta yang mereka ketahui. Beruntung Phoenix juga mendapatkan sebuah barang bernama Magatama, sejenis alat untuk melihat ‘hati’ seseorang. Rahasia yang mereka simpan direpresentasikan oleh gembok-gembok. Satu-satunya cara untuk membuka gembok (atau memaksa mereka buka mulut) itu – seperti yang mungkin sudah bisa kamu tebak – adalah menggunakan barang bukti dari penyelidikanmu. Walaupun kreatif dan masuk akal, tambahan ini tidak diterima baik oleh semua orang karena penyampaiannya dirasa bertele-tele dan menyulitkan investigasi. Bicara soal investigasi yang sulit, kelemahan terbesar kasus ini adalah memecahkan testimonial para saksi. Agaknya ini dikarenakan penulisan skenario yang kurang baik, mencari kebohongan saksi terasa lebih sulit kali ini. Kadang beberapa logikanya juga terlalu mustahil sehingga membuat gamer bengong, bukannya puas, ketika mendapatkan jawabannya.

So my verdict is… terlepas dari semua kelemahan yang saya sebutkan di atas, Justice for All masih sebuah game yang lumayan berkualitas. Kasus terakhirnya sendiri bisa dibilang berjasa menghapuskan dosa dari kasus-kasus sebelumnya. Toh, dari antara semua game Ace Attorney yang kumainkan, Justice for All tetap merupakan entry yang terlemah. Untung saja game ketiganya, Ace Attorney: Trials and Tribulations, mampu kembali menaikkan citra serial yang sempat terpuruk di mataku ini.

Final Verdict

Gameplay: 7.0
Tambahan Psyche Lock yang seharusnya menjadi inovasi yang baru dan kreatif justru berbalik jadi senjata makan tuan karena penggunaannya yang terlalu mistis. Tidak adanya kasus baru yang memanfaatkan fitur DS juga memperlemah nilai gameplaynya. Yang paling parah adalah kasus-kasus yang ditawarkan game keduanya tidak bisa menyamai kualitas prekuelnya.

Graphic / Sound: 8.0
Karakter baru yang diperkenalkan dalam game ini ada dua yang langsung menarik perhatianku (juga menjadi regular di game-game berikutnya). Pertama adalah Pearl Fey dan yang kedua adalah Franziska von Karma. Terutama Franziska, walaupun saya mengatakan ia tidak memiliki karisma seperti ayahnya, setidaknya saya selalu terhibur melihat dia melecuti semua orang di sekelilingnya. Musiknya juga tidak sebagus game pertamanya, terutama bila dibandingkan dengan Phoenix Wright Theme. Tidak jelek, tetapi tidak semembangkitkan semangat seperti game pertamanya. Theme terbaru terbaik yang merenggut perhatian bagiku adalah theme kebangkitan dari Miles Edgeworth.

Play Time: 7.5
Karena hanya terdiri dari empat chapter, Justice for All adalah game terpendek dari semua seri Ace Attorney. Kendati demikian, ia masih akan memakan waktu sekitar 10 jam untuk diselesaikan. Seperti prekuelnya, tidak ada alasan untuk memainkannya lagi begitu kamu menamatkannya, kecuali untuk bernostalgia dan mengingat ceritanya kembali (sesuatu yang enggan kulakukan karena kualitas ceritanya yang pas-pasan).

Overall: 7.5

Game Details
Developer: Capcom
Publisher: Capcom
Genre: Adventure

Comments (0)

Tags: , , , , , , , ,

Ace Attorney: Phoenix Wright

Posted on 10 March 2010 by Si Tukang Review

Ace Attorney: Phoenix Wright Cover

Ace Attorney: Phoenix Wright Cover

Selama ini pasar Amerika dikenal sulit sekali menerima sebuah text-based novel game. Karena alasan itulah kebanyakan game love simulation seperti Tokimeki Memorial atau game hent… (*ditimpuk*) tidak pernah mendapatkan rilis di Amerika. Tren mulai berubah tahun-tahun belakangan ini, di DS sendiri ada begitu banyak game text-based yang masuk seperti Hotel Dusk, Time Hollow, dan banyak lagi. Entah kebetulan entah tidak, saya merasa bahwa tren ini dimulai sejak kesuksesan Phoenix Wright menembus kalangan mainstream gamer.

Mungkin kalian bertanya-tanya, apakah itu Ace Attorney? Apakah itu Phoenix Wright? Jawabannya: game simulasi persidangan. “Ah, persidangan? Bosan dong karena penuh dengan dialog-dialog hukum yang berat macam novelnya John Grisham?” begitukah pikiran kalian? Kalau iya maka baca lebih lanjut review yang akan mengubah pandanganmu terhadap game ini.

Ace Attorney: Phoenix Wright, sesuai judulnya, menempatkan gamer dalam posisi seorang pengacara (defense attorney) rookie bernama Phoenix Wright. Dalam game yang terbagi di lima skenario ini, kamu akan membela klienmu yang terlibat dalam kasus-kasus pembunuhan yang misterius. Uniknya, klien yang kamu bela di sini tidak bersalah dan difitnah oleh sang pembunuh yang sebenarnya. Adalah tugasmu sebagai pembela keadilan (mode lebay) untuk menyingkap kebenaran, membebaskan klienmu dari tuduhan dan menangkap sang pelaku yang sebenarnya! Tentunya tugasmu tidak akan mudah karena kamu akan berhadapan dengan para jaksa (prosecutor) yang berusaha sekuat tenaga menyeret klienmu ke penjara.

Gameplay dalam Phoenix Wright terbagi dua bagian. Yang pertama adalah mode penyelidikan di mana sebagai Phoenix kamu akan menginspeksi TKP dan mewawancarai para saksi untuk mengumpulkan barang bukti. Setelah mendapatkan cukup bukti, kamu akan masuk ke fase kedua di ruang pengadilan. Di sini para juri akan memanggil saksi yang akan memberikan pernyataan (testimonial) mereka akan bagaimana kejadian pembunuhan terjadi. Tentu saja apabila klienmu benar, berarti ada yang salah dengan pernyataan para saksi tersebut. Sebagai Phoenix, kamu akan bertanya lebih lanjut dan mencari kontradiksi (contradiction) dalam pernyataan mereka. Bila ketemu, tunjukkan barang bukti (evidence) yang akan membawa klienmu (tersangka / defendant) selangkah menuju kebebasan. Tapi hati-hati, kegagalanmu untuk mempresentasikan barang bukti yang benar pada statemen yang tepat akan mengurangi kredibilitasmu di mata hakim. Berbuat salah terlalu banyak - lima kali - dan kamu akan kalah dalam kasusmu!

Game ini pertama kali dirilis di Jepang pada tahun 2001 pada platform GBA dengan judul Gyakuten Saiban. Kesuksesannya di Jepang disusul dengan dua rilis game Gyakuten Saiban lain, membentuk salah satu trilogi terbaik dunia game. Saat DS diluncurkan, Capcom meremake Gyakuten Saiban dan menambahkan bonus satu kasus di dalamnya yang memanfaatkan fitur DS (game aslinya hanya terdiri dari empat kasus). Kasus tambahan dalam DS ini merupakan salah satu nilai plus versi remakenya karena memberi metode penyelidikan baru yang tadinya tidak memungkinkan di media GBA. Sebagai contoh kamu tidak hanya bisa menginspeksi foto tetapi juga video kali ini. Kamu juga bisa meniup mikrofon DS untuk mencari sidik jari tersangka yang tertinggal di lokasi. Wah, serasa jadi detektif beneran deh!

Apa yang membuat Ace Attorney begitu sukses tidak cuma terletak di ceritanya saja tetapi juga pada deretan cast yang memorable. Mulai dari Phoenix Wright dan Fey bersaudara yang menjadi asisten sebagai protagonis cerita, game ini menghadirkan deretan karakter yang penuh warna dan membekas di hati. Saya tidak mau berspoiler lebih lanjut, tetapi yang jelas setiap tersangka, setiap saksi, dan setiap jaksa yang kamu hadapi dalam game ini akan membuatmu terpingkal, terharu, hingga geram dengan tingkah mereka. Lokalisasi ke Amerika yang ditangani Alexander O. Smith (translator dari beberapa game Final Fantasy) juga dengan cerdik tidak mentah-mentah mentranslasikan dari versi Gyakuten Saiban melainkan mengubah sedikit cita rasanya ke dalam budaya Amerika (yang lebih global). Purist mungkin ingin tetap memainkan Gyakuten Saiban (well, that’s their loss) tapi penulisan dalam Ace Attorney: Phoenix Wright sudah mendapatkan apresiasi sebagai game dengan skrip terbaik di DS oleh banyak media cetak maupun online.

So my verdict is… tunggu apa lagi? Adalah dosa besar bila kamu memiliki DS dan kelewatan salah satu title terbaiknya ini (saya menaruhnya di posisi kedua hanya di belakang Mario Kart DS). Selamat datang ke dunia pengadilan!

Final Verdict

Gameplay: 9.5
Yang membuatku terkagum-kagum dengan Ace Attorney adalah bagaimana mereka bisa menjaga pace permainan. Dalam investigasi, kamu dibuat tertawa dengan dialog-dialog ‘ajaib’ yang kamu dapatkan dari para saksi. Tapi dalam persidangan, kamu bakalan geregetan dan saling bertukar argumen menghadapi jaksa. Ada kepuasan sendiri yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata bila kamu berhasil memenangi debatmu. Kasus keempat dan kelima dalam game ini merupakan kasus-kasus epik yang duel antaramu melawan jaksa yang tidak kalah dengan pertarungan menghadapi final boss di RPG-RPG. Tidak percaya bisa seseru itu? Buktikan sendiri.

Graphic / Sound: 8.5
Berhubung ini adalah sebuah game yang diangkat dari GBA, kekurangan terutama ada pada bagian visualnya. Toh, sebuah game teks tidak mementingkan grafis sedemikian rupa bukan? Dalam review saya mengatakan kalau tiap karakter di dalam game ini memorable, dan faktor yang membantu kememorablean mereka adalah designnya yang unik dan berbeda untuk setiap karakter. Audionya juga berkualitas prima. Digubah ulang dalam versi orkestra membuktikan kualitas music game ini.

Play Time: 8.0
Bila ada titik lemah dalam game ini, itu pastilah waktu permainannya. Ace Attorney menderita kelemahan setiap game text-based lainnya: nilai replayabilitynya. Apabila kamu selesai memainkan game ini sekali, tidak ada alasan untuk mengulang memainkannya lagi, kecuali sudah beberapa tahun kemudian dan kamu sudah lupa ceritanya (biasanya saya memainkan ulang game lama begitu ada seri Ace Attorney baru mau keluar). Toh, lima skenario yang ditawarkan game ini akan memakan waktu 15 – 20 jam permainanmu; tergolong cukup panjang dibandingkan kebanyakan game text-based adventure lainnya.

Overall: 8.9

Game Details
Developer: Capcom
Publisher: Capcom
Genre: Adventure

Comments (2)

Tags: , ,

OBJECTION!!!

Posted on 10 March 2010 by Si Tukang Review

phoenix-wright-crop

Tahun 2006.

Tahun itu adalah tahun di mana saya pertama kali membeli Nintendo DS. Padahal, sebelumnya saya tidak pernah tertarik untuk bermain game portabel yang saya anggap inferior dibandingkan game-game dalam konsol. Ketertarikan saya pada DS diawali dengan rasa penasaran sistem dual screen, touch screen, sampai mikrofon yang menjanjikan pengalaman game yang baru dan berbeda. Setelah melihat bahwa DS memiliki kumpulan game yang cukup banyak (ditambah dengan sudah bisa dipakainya sistem Supercard buat main game bajakan, he he he…) saya pun membeli Nintendo DS perak pertamaku (sedikit curhat: tanpa tahu bahwa dua bulan kemudian Nintendo bakalan merilis versi Lite buat DS, hiks!)

Saat itu, DS sudah dikenal sebagai rumah dari game-game tipe simulasi. Ambil contoh simulasi pet ala Tamagotchi yang muncul dalam bentuk Nintendogs, atau simulasi kehidupan Animal Crossing. Yang pada saat itu membuat saya penasaran dengan DS toh adalah tiga jenis simulasi game. Simulasi menjadi dokter (Trauma Center), simulasi survival (Lost in Blue - tidak ada hubungannya dengan Lost TV Series), dan yang terakhir adalah simulasi pengacara: Ace Attorney: Phoenix Wright. Saya memainkan ketiga game itu dengan tingkat kesenangan yang berbeda. Trauma Center dan Lost in Blue adalah game-game yang menarik, tetapi Phoenix Wright membawa kesenangan gaming saya ke level yang sama sekali baru.

Dalam countdown 25 game terbaik DS yang pernah saya post di sini beberapa waktu yang lalu, saya menempatkan Ace Attorney: Phoenix Wright sebagai game kedua favoritku di bawah Mario Kart DS. Akan tetapi untuk ukuran franchise secara keseluruhan, Ace Attorney masih merupakan serial game terbaik yang pernah hadir di DS (again - in my humble opinion). Setelah dijualnya DS lamaku beberapa bulan setelah aku membelinya, lagi-lagi serial ini berjasa membawaku kembali. Apabila bukan karena Justice for All yang dirilis di DS, saya tidak bakalan membeli DS Lite lagi. Nah, mengingat begitu panjang dan dalamnya sejarahku dengan game ini, dengan dirilisnya game terbaru serial ini berjudul Ace Attorney Investigator, saya akan menulis marathon lima review game Ace Attorney sebagai tribut bagi serial game favoritku ini.

Enjoy the world of trials, tribulations, and fun!

Comments (3)

Tags: , , , , ,

And the Oscar goes to…

Posted on 08 March 2010 by Si Tukang Review

academy-awards-82

Perayaan Academy Awards tahun 2010 sudah berlangsung pagi tadi. Bagi kalian yang kelewatan menonton acaranya, demikianlah deretan para pemenangnya. Apakah jagoan yang kalian unggulkan berhasil mendapat piala Oscar?

BEST PICTURE
- The Hurt Locker

DIRECTING
- Kathryn Bigelow for The Hurt Locker

BEST ACTRESS IN A LEADING ROLE
- Sandra Bullock for The Blind Side

BEST ACTOR IN A LEADING ROLE
- Jeff Bridges for Crazy Heart

BEST ACTOR IN A SUPPORTING ROLE
- Christoph Waltz for Inglourious Basterds

BEST ACTRESS IN A SUPPORTING ROLE
- Mo’Nique for Precious

BEST WRITING - ORIGINAL SCREENPLAY
- Mark Boal for The Hurt Locker

BEST WRITING - ADAPTED SCREENPLAY
- Geoffrey Fletcher for Precious

BEST ANIMATED FEATURE FILM
- Up

BEST FOREIGN LANGUAGE FILM
- The Secret in Their Eyes (Argentina)

BEST DOCUMENTARY - FEATURE LENGTH
- The Cove

BEST DOCUMENTARY - SHORT FILM
- Music by Prudence

SHORT FILM - LIVE ACTION
- The New Tenants

SHORT FILM - LIVE ACTION
- Logorama

BEST ACHIEVEMENT IN CINEMATOGRAPHY
- Avatar

BEST ACHIEVEMENT IN ART DIRECTING
- Avatar

BEST ACHIEVEMENT IN COSTUME DESIGN
- The Young Victoria

BEST ACHIEVEMENT IN MAKEUP
- Star Trek

BEST ACHIEVEMENT IN VISUAL EFFECTS
- Avatar

BEST ACHIEVEMENT IN EDITING
- The Hurt Locker

BEST ACHIEVEMENT IN SOUND EDITING
- The Hurt Locker

BEST ACHIEVEMENT IN SOUND MIXING
- The Hurt Locker

BEST ACHIEVEMENT IN MUSIC - ORIGINAL SCORE
- Michael Giacchino for Up

BEST ACHIEVEMENT IN MUSIC - ORIGINAL SONG
- Crazy Heart - “The Weary Kind”

Pendapat pribadiku mengenai hasil Academy Awards 2010 ini
- Yang paling membuat gw tertarik itu The Blind Side, karena gw senang sekali dengan film-film olahraga inspirational seperti ini. Kudos buat Ms Sandra Bullock yang punya keberanian datang ke Razzie Award karena dia jadi artis pertama yang dapat Razzie dan Academy Awards di tahun yang sama. Dan kalau boleh jujur, gw bakalan bilang kalau All About Steve is NOT THAT BAD. You want a bad movie and a bad actress? Silahkan lihat Saw VI. Silahkan lihat Dragonball: Evolution. Silahkan lihat Street Fighter: Legend of Chun-Li. Silahkan lihat Halloween II. Silahkan lihat Friday the 13th. Silahkan lihat The Final Destination. Go Sandra Bullock go!

- Up memenangkan dua penghargaan sebagai film animasi terbaik dan musik original score terbaik. SUdah layak dan sepantasnya. Musiknya Michael Giacchino di awal film kalau didengarkan sampai sekarang juga bakalan terkenang abadi sebagai bukti kisah cinta dan kehidupan dua insan manusia. It’s just beautiful. Pribadiku sih sebenarnya juga menjagokan Up memenangkan Best Picture… tapi mungkin belum saatnya. Gw akan terus menantikan terjadinya saat itu!

- Kecewa untuk Best Original Screenplay dan Best Adapted Screenplay. Gw menjagokan Inglourious Basterds dan Up in the Air untuk kedua bagian itu. Terutama untuk Up in the Air, gw merasa kecewa banget film ini dishut-down dengan begitu kejamnya oleh panitia Oscar. Enam nominasi, nol piala. Duh. Gw belum nonton Precious, but gw akan menaikkan standar penilaian gw secara ini film yang ‘konon’ mampu mencuri Adapted Screenplay dari salah satu film favorit gw tahun lalu.

- Avatar juga pulang dengan malu. Sebelumnya dijagokan bakalan menyapu penghargaan kategori teknis dan bersaing ketat dengan The Hurt Locker dalam dua piala paling bergensi (Film dan Sutradara terbaik) nyatanya harus berbagi dalam kategori teknis (Best Sound Editing dan Mixing semua disambar The Hurt Locker). Lebih menyesakkan lagi adalah bagaimana film terbaik dan sutradara terbaik harus direlakan James Cameron kepada mantan istrinya. Kathryn Bigelow menjadi sutradara wanita pertama yang memenangkan Oscar! Selamat! Dan setahu saya The Hurt Locker ini termasuk film pemenang Oscar yang pendapatannya sangat - sangat rendah (tidak sampai 20 Juta USD!!!). Saya tidak ingat kapan terakhir kalinya ada film pemenang Oscar yang meraup dollar lebih sedikit darinya!

Well, that’s all. Sampai jumpa di tahun depan dalam ajang Academy Awards berikutnya!

Comments (6)

Tags: , , , , , ,

Detective Conan Movie 7: Crossroad in the Ancient Capital

Posted on 08 March 2010 by Si Tukang Review

Detective Conan Movie 7: Crossroad in Ancient Capital Poster

Detective Conan Movie 7: Crossroad in Ancient Capital Poster

Beberapa tahun yang lalu ketika saya pertama kali menonton Crossroad in the Ancient Capital, saya langsung mengecapnya sebagai yang terburuk dari tiga film yang saya tonton (Countdown to Heaven dan The Phantom of Baker Street adalah dua film yang saya tonton sebelumnya). Saat itu saya merasa filmnya terlalu membingungkan dan karakter favorit saya: Heiji Hattori terlalu dibodohkan sehingga levelnya terasa seperti di bawah - bukannya sebanding dengan Shinichi. Tentu saja pengalaman saya mengenai kebudayaan Jepang dan film tidak secetek saat pertama kali menonton dulu. Jadi bagaimana pengalaman menonton ulang film ini?

Terjadi sebuah pembunuhan berantai di beberapa kota besar di Jepang. Dari penyelidikan awal, polisi menemukan bahwa mereka semua memiliki kesamaan digit angka dalam namanya sekaligus merupakan anggota komplotan bandit Yoshitsune. Karakter Yoshitsune dan Musashibo Benkei adalah salah satu figur sejarah yang sangat terkenal di jaman feudal Jepang dulu dan memiliki pengetahuan mendasar akan mereka akan sangat membantu membuatmu mengapresiasi film ini. Kalau kalian malas membaca sejarah Jepang, membaca manga Shanaou Yoshitsune yang dikarang Sawada Hirofumi (sudah diterbitkan sampai tamat di Indonesia) bisa menolong kok (walaupun ada beberapa perubahan sejarah yang dilakukan sang mangaka).

Anyway, kembali pada film ini, dalam kasus yang sepertinya tidak berhubungan Kogoro Mouri dan Conan diundang ke kota Kyoto untuk mencari tahu mengenai hilangnya patung Buddha di sebuah kuil. Berhubung Kyoto terletak di bagian barat Jepang, daerah itu bisa dibilang termasuk dalam jurisdiksi Hattori Heiji. Walaupun dalam manga kedua detektif ini sering bertemu, baru dalam film layar lebar ketujuh ini keduanya bekerja sama dalam memecahkan kasus. Sebagai tambahan lain, Heiji juga punya adegan tersembunyi menemukan gadis cinta pertamanya saat masih kecil dulu.

Seperti yang saya katakan tadi, saat pertama kali menonton film ini saya tidak tahu banyak mengenai budaya Jepang sehingga tidak mengerti mengenai hubungan Benkei dan Yoshitsune. Setelah mengetahui hubungan keduanya, barulah saya bisa lebih mengapresiasi film ini. Judul Crossroad in the Ancient Capital yang disandang oleh film ini sebenarnya memiliki koneksi yang cukup mendalam pada ceritanya. Saya tadinya takut kalau pembunuhan demi pembunuhan film ini bakalan seperti The Fourteenth Target gara-gara menarget nama orang yang memiliki angka tetapi untung kekhawatiranku tidak terbukti. Boleh dibilang saya cukup enjoy dengan bagaimana film ini secara tidak langsung memperkenalkan penonton pada kota Kyoto. Oh ya, karena settingnya ada pada kota di mana budaya Jepang masih kental, film ini juga menyisipkan berbagai kebudayaan Jepang seperti geisha dan tradisi minum-minum di dalamnya. Ini merupakan break yang menyenangkan setelah film-film Conan sebelumnya terasa sangat berbau barat / Hollywood (bom di pencakar langit, pembunuhan misterius, sampai teror dunia digital).

Yang saya sebenarnya kurang suka dalam film ini adalah sub-plotnya yang mengisahkan pencarian Heiji akan cinta pertamanya. Alasan Heiji untuk mencari cinta pertamanya terasa terlalu mengada-ada, apalagi karena ia sudah punya Kazuha. Saya bisa memaklumi kegeraman Kazuha sepanjang film melihat Heiji tetap ngebet mencari cinta pertamanya (can you even call it first love kalau tidak pernah ketemu dan bicara?). Satu bagian yang membuatku geleng-geleng adalah ketika Heiji ‘sepertinya’ menemukan cinta pertamanya dan langsung mendiskreditkan gadis itu sebagai tersangka. Keterlaluan. Heiji yang saya kenal tidak mungkin akan terbuai oleh emosi seperti itu dan tetap berlaku obyektif. Plot cerita ini terlalu picisan dan penutupnya yang bahkan lebih norak lagi membuat saya berharap kalau ia dipotong keluar saja dari cerita. Saya malah lebih suka dengan hubungan Shinichi dan Ran yang tidak pernah bisa bertemu sementara Ran tetap menantikannya. Tanpa memberi spoiler apapun, penantian Ran pada akhirnya berbuah juga - walau hanya untuk sesaat. Saya akui bahwa eksekusinya sebenarnya juga cheesy, tetapi setidaknya masih setingkat lebih baik dibanding plot Heiji - Kazuha.

So my verdict is… saya mengapresiasi film ini lebih baik ketika menontonnya untuk kali kedua. Beberapa unsur cerita yang mengambil kebudayaan Jepang kini bisa saya tangkap lebih baik. Oleh karena itu, saya menutup review ini dengan sebuah saran bahwa mengetahui pengetahuan mendasar akan infrastruktur kota Kyoto dan sejarah Yoshitsune adalah modal baik sebelum menonton film ini.

Note: I love the ending theme yang dibawakan Mai Kuraki (berjudul Time After Time). Cari deh. Saya rasa kalian akan menyukainya. Aransemennya terdengar mirip dengan lagu J-Pop lain yang pernah saya dengar, tapi entah kenapa saya lupa apa.

Score: 7.5

Movie Details
Director: Kanetsugu Kodama
Cast: Akira Kamiya, Kappei Yamaguchi, Minami Takayama
Running Time: 108 Minutes

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here