(Review Ditulis Di Tahun 2007)
“The show is more energetic than River Dance”
Deputy Irish Ambasaddor to China
“A memorable journey to a world of Kungfu and Zen”
Si Tukang Review
The Martial Art begins
25 Mei 2007, Saya menunggu hari ini dengan penuh rasa antusias. Sudah lama semenjak saya menonton sebuah pertunjukan kungfu secara live. Apalagi yang bertaraf internasional seperti yang saya saksikan barusan. “Kungfu: The Legend of Chun Yi” disebut-sebut sebagai show kungfu terbaik di daerah China utara. Pertunjukan ini bahkan diadakan di Red Theatre (sebuah gedung theatre raksasa di Beijing) tiap harinya. Ini rasanya cukup membuktikan betapa tinggi animo orang dalam menontonnya (saya menontonnya di hari Kamis – dan pertunjukannya full house).
Saya sampai di Red Theatre pada pukul 6.30, sejam lebih awal ketimbang saat pertunjukan dimulai nantinya. Saya sempat berkeliling melihat gallery yang ada serta mengamati harga karcis yang bervariasi mulai dari 180 RMB (sekitar 200 Ribu Rupiah) untuk kelas yang paling rendah sampai 680 RMB (hampir 750 Ribu Rupiah) untuk kelas VIP yang termahal. Uff, cukup mahal. Untung saja saya menontonnya secara gratis karena dibiayai oleh sekolah.
Semakin mendekati waktu pertunjukan, saya semakin menyadari kalau gedung yang semula lenggang ini makin terisi dengan orang-orang dari berbagai negara. Saya melihat beberapa rombongan turis dari negara India, Amerika, Perancis, Jerman, dan banyak negara-negara Eropa lainnya. Jam 7.30 pun tiba, seorang biksu sudah ada di depan pintu, menyambut kita dengan duduk bersila. Kita pun masuk dan dibawa ke dalam sebuah dunia lain. Dunia Shaolin dan Kungfu.
Legend of Chun Yi
“Lotus blooms in silent. This one split of moment becomes eternal”
Cerita ini terbagi menjadi 7 bagian:
Bagian I: Initiation
Bagian II: Learning
Bagian III: Casting
Bagian IV: Illusion
Bagian V: Remorse
Bagian VI: Temple Gate
Bagian VII: Epilogue
Seorang biksu muda baru saja tiba di kuil Shaolin. Biksu kecil ini terlihat sangat takut dengan keadaan di Shaolin, tetapi biksu kepala di Shaolin menceritakan kepadanya mengenai legenda seorang biksu kecil lainnya. Biksu kecil ini juga dulunya takut seperti dia – namanya adalah Chun Yi.
“Chun Yi muda dulunya adalah anak penakut yang tak ingin masuk ke kuil dan tak ingin meninggalkan orang tuanya. Toh, pada akhirnya Chun Yi masuk ke ke kuil – bertemu dengan dua sahabat baik, dan berlatih dengan keras. Tahun demi tahun berlalu dengan cepat, Chun Yi sekarang telah menjadi seorang biksu yang tangguh. Ia menguasai berbagai jurus binatang: mulai dari kodok, ular, monyet, sampai kalajengking sekalipun. Tubuhnya keras bagaikan besi dan banyak yang menganggapnya sebagai biksu terkuat di Shaolin. Tetapi saat di mana seorang merasa bahwa dirinya paling kuat itulah saat di mana ia paling rentan. Di saat inilah Chun Yi pun jatuh dalam cobaan.
Chun Yi jatuh hati kepada ilusi yang ia ciptakan sendiri. Ia kembali mengingat nafsu duniawi yang telah lama ia tinggalkan. Ia terbalut ego dan kebangaan hati bahwa ia sudahlah yang paling kuat. Ia tantang semua temannya dan melihat bahwa tubuhnya telah sakti mandraguna tak tertembus senjata apapun juga. Beruntung sebelum segalanya terlambat sang biksu kepala membawa Chun Yi kembali ke jalan Buddha yang benar lagi. Chun Yi bangkit kembali dan melakoni tugas terberatnya sebagai seorang Buddha.
Sebagai seorang biksu Buddha, untuk menjadi warrior monk, adalah sebuah tradisi bagi Chun Yi berjalan melewati Temple Gate. Gerbang kuil ini akhirnya berhasil dilewati oleh Chun Yi dan kedua temannya. Melihat bahwa Chun Yi kini telah berhasil, sang biksu kepala bisa meninggalkan dunia fana dengan tenang dan mengangkat Chun Yi menjadi penggantinya.”
Ketika sang biksu kepala selesai menceritakan kisahnya, biksu kecil itu tidak lagi takut. Ia bertanya apakah sang biksu kepala adalah Chun Yi? Pertanyaan ini dijawab dengan sebuah anggukan diiringi kata-kata “Ya. Akulah Chun Yi itu.”. Biksu kepala yang kini sudah tua itu tak lain tak bukan Chun Yi.
A Journey to the World of Kungfu and Zen
Koreografi kungfu yang dilakukan dalam pertunjukan ini sangat layak mendapatkan acungan jempol. Mereka berhasil memadukan gerakan tarian balet yang lembut, gaya taichi yang mengalir bagaikan air dan angina, sampai pada penampilan berbagai jenis jurus binatang yang kuat dan bergelora. Semua gerakan ini dilakukan dinamis oleh lebih dari 20 orang yang ada di panggung. Beberapa adegan seperti salto ke belakang berulang-ulang dengan kepala, menghantamkan kepala dengan tiga besi sekaligus, sampai tarian balet dan terbang di udara mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari penonton.
Kekurangan utama dari acara ini mungkin terletak pada penggunaan bahasa Inggris sebagai presentasi utama dan bahasa mandarin sebagai subtitlenya. Ini sangat tidak saya setujui. Saya lebih menginginkan hal yang sebaliknya. Untung saja lagu yang dinyanyikan masih memakai bahasa mandarin sehingga tidak semua nuansa oriental di dalamnya terrampok.
Pada akhirnya, show ini sangatlah memuaskanku. Ketika saya keluar dari ruang pertunjukan, ternyata semua biksu yang tadi beraksi sudah menunggu di depan. Bukan – bukan untuk meninju atau menghajar kita tentu saja, tetapi untuk melayani kita berfoto dengan mereka. Toko-toko di depan pun menggelar berbagai merchandise mulai dari DVD, CD OST, sampai baju yang bisa kita beli dan bawa pulang sebagai kenang-kenangan yang berarti dan berharga dari dunia Kungfu.


















































