<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Si Tukang Review &#187; TV</title>
	<atom:link href="http://tukangreview.com/category/motion-picture/tv/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tukangreview.com</link>
	<description>a review a day takes your curiosity away</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 14:24:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Leverage &#8211; The Complete Season Two</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/07/05/leverage-the-complete-season-two/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/07/05/leverage-the-complete-season-two/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 06:29:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motion Picture]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>
		<category><![CDATA[Elliot]]></category>
		<category><![CDATA[Hardison]]></category>
		<category><![CDATA[Heist]]></category>
		<category><![CDATA[Leverage]]></category>
		<category><![CDATA[Nathan]]></category>
		<category><![CDATA[Parker]]></category>
		<category><![CDATA[Sophie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=4425</guid>
		<description><![CDATA[Usai menonton season pertama Leverage aku kesengsem dan langsung lanjut menonton season keduanya. Karena serial ini cukup sukses, stasiun TV TNT memutuskan untuk menambah jumlah episode dari 13 menjadi 15 di season keduanya ini. Sungguh disayangkan bahwa waktu tayang yang makin banyak ini gagal dimanfaatkan sepenuhnya oleh serial ini. Hasilnya season kedua Leverage mengalami anjlok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4426" class="wp-caption alignnone" style="width: 275px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/07/leverage-the-complete-season-two-poster.jpg"><img class="size-full wp-image-4426" title="Leverage Promo Poster" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/07/leverage-the-complete-season-two-poster.jpg" alt="Leverage Promo Poster" width="265" height="393" /></a><p class="wp-caption-text">Leverage Promo Poster</p></div>
<p>Usai menonton season pertama <strong>Leverage</strong> aku kesengsem dan langsung lanjut menonton season keduanya. Karena serial ini cukup sukses, stasiun TV TNT memutuskan untuk menambah jumlah episode dari 13 menjadi 15 di season keduanya ini. Sungguh disayangkan bahwa waktu tayang yang makin banyak ini gagal dimanfaatkan sepenuhnya oleh serial ini. Hasilnya season kedua Leverage mengalami anjlok kualitas yang cukup signifikan bila dibandingkan dengan season pertamanya. Bahkan bila bukan karena sepuluh menit terakhir finalenya yang brilian saya sempat memutuskan untuk menyerah mengikuti serial ini&#8230; kok bisa?</p>
<p>Setelah perpisahan di akhir season pertama, anggota-anggota kru Nathan merasa kehilangan arah. Elliot, Hardison, Sophie, dan Parker pergi ke Boston untuk menemui Nathan dan membujuknya untuk melakukan apa yang mereka cinta; menggunakan kemampuan mereka untuk menipu balik para kriminal white collar yang berjalan semena-mena menginjak hukum. Dan&#8230;</p>
<p>Hanya itu saja. Sisanya kita disuguhi 15 episode tipu menipu ala Leverage.</p>
<p>Dalam review season pertama saya menyebutkan bahwa walaupun tanpa story arc besar pun Leverage tetap memikat. Alasan dari argumen saya itu adalah karena setiap stand alone heistnya bertensi tinggi dan interaksi tiap kru Leverage yang serius sekaligus lucu. Tambahan lagi walaupun tidak ada cerita kontinu, season pertama punya satu cerita belakang perseteruan Nate dan perusahaan asuransi tempatnya bekerja dulu. Karena alasan ini finale dari season pertama adalah balas dendam sempurna yang membuat para penonton turut habis-habisan mendukung kru Leverage.</p>
<p>Sayangnya di season kedua tidak ada story arc macam ini sama sekali. Absennya story arc ini membuat tiap-tiap episode sampai ke finalenya sekalipun kurang menggigit. Sesekali memang muncul karakter tamu yang membuat cerita kembali menarik (terutama hadirnya mantan istri Nate dan Agen Sterling) tetapi kebanyakan season kedua dipenuhi dengan heist-heist yang terlalu mustahil dan dibuat-buat untuk ukuran Leverage sekalipun. Hasilnya? Sebuah season yang tidak sesmart dan seseksi sebelumnya. Plus sebagai sang pemimpin, tingkah laku Nate makin menyebalkan dari episode ke episode berikutnya. Saya kasihan sekali dengan Elliot, Parker, dan Hardison yang harus menghadapi polah nyentrik Nate yang tidak hanya membahayakan dirinya tapi seluruh anggota timnya.</p>
<p>Oh ya, buatku ada satu hal yang mengherankan dalam Leverage. Terkadang ada kasus-kasus di mana mereka perlu mendapatkan uang beberapa belas ribu dollar terlebih dahulu untuk awal jebakan mereka. Akan tetapi jarang sekali Nate dan kawan-kawan merogoh kocek mereka tetapi mengambil jalan memutar mencuri ini dan itu untuk mendapatkan uang. Saya tidak habis pikir kenapa&#8230; bukankah mereka ini adalah jutawan kaya raya? Masa tidak bisa mengeluarkan uang sedikit dulu dari kantong mereka untuk diambil balik lagi nanti?</p>
<p>Ehem, terlepas dari itu ada satu perubahan signifikan di season kedua ini. Berhubung Gina Bellman, artis pemeran Sophie, hendak mencoba untuk hamil ia banyak absen di season kedua. Berhubung kekurangan satu grifter (penipu), Sophie kemudian merekomendasikan satu temannya, seorang grifter lain bernama Tara. Sosok baru ini sebenarnya bisa membawa chemistry baru dalam tim, tapi entah kenapa ia tak pernah terasa klop baik saat masuk maupun keluarnya&#8230; seakan-akan ia memang cuma ban cadangan semata.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> season kedua Leverage terkena penyakit kronis yang biasa menjangkiti setiap serial TV, penurunan mutu pada season keduanya. Celakanya season pertama Leverage juga tidak sesempurna itu sehingga kualitas menurun ini membuat saya ragu haruskah saya meluangkan waktu untuk mengikuti season ketiganya?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Score</span>: <strong>6.5</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>TV Series Details</strong></span><br />
Creator: Dean Devlin<br />
Cast: Timothy Hutton, Gina Bellman, Aldis Hodge, Christian Kane, Beth Riesgraf<br />
Running Time: 42 Minutes Per Episode</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/07/05/leverage-the-complete-season-two/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Leverage &#8211; The Complete Season One</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/06/29/leverage-the-complete-season-one/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/06/29/leverage-the-complete-season-one/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jun 2010 08:27:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motion Picture]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>
		<category><![CDATA[Elliot]]></category>
		<category><![CDATA[Hardison]]></category>
		<category><![CDATA[Leverage]]></category>
		<category><![CDATA[Nathan]]></category>
		<category><![CDATA[Parker]]></category>
		<category><![CDATA[Sophie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=4402</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang kamu dapat bila mengumpulkan pencuri terlicin, hacker terpintar, tukang pukul terkuat, dan artis bunglon paling terampil? Lantas apa jadinya bila kamu menambahkan mantan agen tercerdik asuransi sebagai kepala tim? Jawabannya bisa diringkas dalam quote berikut ini. &#8220;The rich and the powerful. They take what they want. We steal it back for you. And [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4404" class="wp-caption alignnone" style="width: 250px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/leverage-season-one-poster.jpg"><img class="size-full wp-image-4404" title="Leverage Promo Poster" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/leverage-season-one-poster.jpg" alt="Leverage Promo Poster" width="240" height="360" /></a><p class="wp-caption-text">Leverage Promo Poster</p></div>
<p>Apa yang kamu dapat bila mengumpulkan pencuri terlicin, hacker terpintar, tukang pukul terkuat, dan artis bunglon paling terampil? Lantas apa jadinya bila kamu menambahkan mantan agen tercerdik asuransi sebagai kepala tim? Jawabannya bisa diringkas dalam quote berikut ini.</p>
<p>&#8220;<em>The rich and the powerful. They take what they want. We steal it back for you. And sometimes, bad guys make the best good guys. We provide&#8230; LEVERAGE</em>&#8221;</p>
<p>Kalau dipikir-pikir sebenarnya premise dalam serial TV ini mirip dengan manga <strong>Kurosagi</strong> yang pernah kubaca. Bedanya kalau Kurosagi adalah penipu yang menipu para penipu lainnya, Leverage berisi sekumpulan kriminal (yang sudah kaya raya) menggunakan kemampuan mereka untuk mencuri dari korporasi atau jutawan yang telah &#8216;menindas&#8217; orang kecil. Setiap episode biasanya dibuka dengan orang yang tertipu itu mendatangi tim Leverage untuk minta balas dendam, disambung dengan bagaimana anggota Leverage menyusun strategi penipuan mereka, dan berakhir dengan menyenangkan untuk semua orang (kecuali yang tertipu tentunya).</p>
<p>Dalam beberapa review sebelum ini, saya menyatakan kalau tidak suka dengan serial yang setiap episodenya berdiri sendiri. Itu sebabnya saya hanya mengikuti dua: <strong>The Mentalist</strong> dan <strong>Human Target</strong>, dan keduanyapun tidak pernah sampai nangkring di daftar tontonan favoritku. Salah satu alasan kenapa Leverage berhasil merebut hatiku adalah karena tim Leveragenya sendiri. Setiap anggotanya memiliki keunikan sendiri-sendiri dan menyumbang sesuatu dalam tim. Singkatnya, kelimanya sangat terampil bila bekerja sendiri-sendiri tapi sebagai satu kesatuan hampir mustahil bagi mereka dihentikan oleh aparat keamanan manapun juga. Plus setiap episode biasanya menyorot mereka secara merata sehingga tidak terasa kalau satu karakter lebih penting dibandingkan lainnya, kelemahan mencolok yang terjadi pada film Ocean Trilogy maupun serial The Mentalist.</p>
<p>Tapi hal yang paling mengasyikkan dalam serial Leverage adalah twist yang terjadi di tiap episodenya. Bahkan rencana terbaik sekalipun pasti memiliki kelemahan dan perubahan di lapangan. Di setiap episode, saat semuanya berjalan lancar, mendadak saja orang yang hendak ditipu merasa curiga, atau salah satu anggota Leverage lengah sehingga nyaris membongkar kedok mereka. Melihat bagaimana spontanitas mereka bereaksi terhadap masalah-masalah yang muncul di tengah misilah bagian paling menyenangkan dalam Leverage. Pun karena para penjahat yang ditipu di sini dibuat semenyebalkan mungkin, ada perasaan puas saat tim Leverage berhasil mengakali mereka habis-habisan.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> serial garapan mantan tandem Roland Emmerich ini banyak mengingatkanku pada serial TV tahun 1980an dulu yang sifatnya episodik. Walau saya tadinya merasa format seperti ini sudah usang, Leverage membuktikan bahwa penonton masih bisa menonton sebuah serial dan bersenang-senang selama 40 menit lamanya tanpa perlu memikirkan kontinuitas ribet setelahnya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Score</span>: <strong>7.8</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>TV Series Details</strong></span><br />
Creator: Dean Devlin<br />
Cast: Timothy Hutton, Gina Bellman, Aldis Hodge, Christian Kane, Beth Riesgraf<br />
Running Time: 42 Minutes Per Episode</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/06/29/leverage-the-complete-season-one/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Glee &#8211; The Complete Season One</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/06/18/glee-the-complete-season-one/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/06/18/glee-the-complete-season-one/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 11:25:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motion Picture]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>
		<category><![CDATA[Asian Vampire]]></category>
		<category><![CDATA[Glee]]></category>
		<category><![CDATA[Gleek]]></category>
		<category><![CDATA[New Direction]]></category>
		<category><![CDATA[Rachel]]></category>
		<category><![CDATA[Sue]]></category>
		<category><![CDATA[Sylvester]]></category>
		<category><![CDATA[Will]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=4341</guid>
		<description><![CDATA[Applause panjang saya berikan kepada Glee setelah menonton episode terakhirnya. Sungguh tidak mudah bagi sebuah serial baru yang bisa langsung mencuri perhatian media massa hampir seantero Amerika bahkan dunia hanya pada season pertamanya. Terakhir yang bisa melakukannya adalah Heroes, walaupun serial tersebut kehilangan momentum di season-season berikutnya. Saya sendiri sudah mereview volume pertama Glee dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/glee-poster.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4343" title="glee-poster" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/glee-poster.jpg" alt="glee-poster" width="270" height="400" /></a></p>
<p>Applause panjang saya berikan kepada <strong>Glee</strong> setelah menonton episode terakhirnya. Sungguh tidak mudah bagi sebuah serial baru yang bisa langsung mencuri perhatian media massa hampir seantero Amerika bahkan dunia hanya pada season pertamanya. Terakhir yang bisa melakukannya adalah <strong>Heroes</strong>, walaupun serial tersebut kehilangan momentum di season-season berikutnya. Saya sendiri sudah mereview volume pertama Glee dari episode pertama hingga episode ketigabelas sehingga review kali ini akan lebih berfokus pada bagian keduanya, yakni perjalanan anak-anak New Directions menuju ke adu nyanyi babak Regional.</p>
<p>Setelah kesuksesan anak-anak New Directions menang di bagian Sectional, kini mereka melanjutkan perjalanan mereka ke bagian Regional. Tentu saja musuh kali ini tidak semudah sekolah penjara dan sekolah tuna rungu melainkan anak-anak Vocal Adrenaline. Rachel dan kawan-kawan harus meningkatkan lagi kualitas mereka tetapi tentu saja itu bukan hal yang mudah mengingat mereka juga harus menghadapi permasalahan kehidupan sehari-hari seperti diejek oleh semua orang yang merasa mereka nyentrik. Belum lagi sang musuh abadi kepala Cheerleader Sue Sylvester muncul kembali menjadikan hidup mereka seperti neraka. Bisakah New Directions berhasil dan masuk ke babak kompetisi National?</p>
<p>Mengingat Glee disyuting hanya sepanjang 13 episode (sebelum menjadi sensasi seperti sekarang) maka mau tidak mau 9 episode tambahan ini terasa sedikit berbeda baik dari penceritaan maupun lagu-lagu yang dipakai di dalamnya. Seiring dengan makin suksesnya Glee, makin mudah bagi mereka untuk memakai penyanyi-penyanyi terkenal menjadi guest star dalam acara mereka. Josh Groban dan Kristin Chenoweth kembali hadir sebagai diri sendiri dan April Rhodes, tetapi bergabung dengan mereka dalam deretan guest star adalah Neil Patrick Harris dan Olivia Newton-John sampai bintang theatre Idina Menzel yang tampil dalam recurring role. Seakan itu tidak cukup berbagai artis tenar seperti Madonna, Lady Gaga, dan Coldplay memberi ijin lagu mereka dipakai bebas di Glee. Semua ini memberi para kreator Glee kebebasan lebih untuk meramunya dalam cerita. Beberapa sukses mereka pakai seperti lagu Physical-nya Olivia Newton-John yang catchy, dua episode yang satu didedikasikan untuk Madonna dan satunya lagi untuk Lady Gaga serta casting Idina Menzel sebagai (<span style="text-decoration: underline;"><strong>SPOILER</strong></span>) ibu Rachel. Kemiripan Menzel dan Lea Michele mencengangkan! Sayangnya beberapa guest star lain seperti Josh Groban atau Neil Patrick Harris gagal dimanfaatkan secara maksimal.</p>
<p>Kemudian untuk ceritanya sendiri, saya kagum bahwa Glee benar-benar berani memperbincangkan topik-topik yang serius. Di balik canda dan tawa para anggota Glee topik sensitif seperti lumpuh, berat badan berlebih, rasisme, sampai homo menjadi sentral cerita. Saya kagum dengan keberanian ini. Sekali lagi seperti bagian lagu, tidak semua jalan ceritanya efektif. Beberapa terasa terlalu menggurui (episode di mana Rachel kehilangan suara) tetapi beberapa lagi sangat efektif; terutama segmen karakter Kurt yang terus beradaptasi dengan kehidupannya sebagai gay. Hanya saja entah kenapa episode-episode dalam babak kedua Glee ini tidak sekuat babak pertamanya. Saya tidak bilang jelek lo  hanya saja <em>mood swing</em> dalam sebuah episode kadang amat mencolok. Di satu adegan kita bergembira dengan nyanyian dan tertawa mendengar komentar sinis Sue, lantas di adegan lain kita dihantam dengan debat emosional yang mendalam. Saya rasa trio Ryan Murphy, Brad Falchuk, dan Ian Brennan perlu mencoba lebih menyeimbangkan kedua aspek ini supaya Glee enak ditonton.</p>
<p>Untuk castingnya sendiri, Naya Rivera dan Heather Morris mendapatkan porsi cerita lebih besar. Berperan sebagai Santana dan Britanny, keduanya menjadi bagian integral kisah Glee. Naya Rivera diberi kesempatan bernyanyi sementara Heather Morris dengan cepat melejit sebagai karakter favorit terlucu saya di serial ini. Semoga saja dua tambahan cowo bisa diorbitkan di season keduanya. Saya percaya mereka punya potensi untuk digali dan dikembangkan lebih dalam lagi.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> walaupun paruh keduanya mengalami penurunan dibandingkan paruh pertamanya, Glee masih merupakan serial baru favorit saya untuk tahun ini. Tidak sabar rasanya menantikan kembalinya New Directions musim gugur ini!</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Score</span>: <strong>9.2</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>TV Series Details</strong></span><br />
Creator: Ryan Murphy, Brad Falchuk, Ian Brennan<br />
Cast: Dianna Agron, Chris Colfer, Jane Lynch, Jayma Mays, Lea Michele, Cory Monteith<br />
Running Time: 42 &#8211; 45 Minutes Per Episode</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/06/18/glee-the-complete-season-one/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FlashForward &#8211; The Complete Series</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/06/15/flashforward-the-complete-series/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/06/15/flashforward-the-complete-series/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jun 2010 05:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motion Picture]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>
		<category><![CDATA[CIA]]></category>
		<category><![CDATA[FBI]]></category>
		<category><![CDATA[Flashforward]]></category>
		<category><![CDATA[Mark]]></category>
		<category><![CDATA[Mosaic]]></category>
		<category><![CDATA[QED]]></category>
		<category><![CDATA[Simon]]></category>
		<category><![CDATA[Tachyon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=4330</guid>
		<description><![CDATA[Saya ingat di awal musim gugur lalu FlashForward kutempatkan dalam list teratas ekspektasi serial TV baru favoritku. Ekspektasi tinggi untuk serial baru ini tidak hanya datang dariku tetapi datang dari praktis semua media Amerika, studio ABC yang menayangkannya, dan seluruh pengikut serial TV Amerika. Pasalnya serial ini disebut-sebut akan diposisikan sebagai pengganti Lost; sebuah standar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4332" class="wp-caption alignnone" style="width: 225px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/flashforward-poster.jpg"><img class="size-full wp-image-4332" title="FlashForward Promo Poster" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/flashforward-poster.jpg" alt="FlashForward Promo Poster" width="215" height="286" /></a><p class="wp-caption-text">FlashForward Promo Poster</p></div>
<p>Saya ingat di awal musim gugur lalu <strong>FlashForward</strong> kutempatkan dalam list teratas ekspektasi serial TV baru favoritku. Ekspektasi tinggi untuk serial baru ini tidak hanya datang dariku tetapi datang dari praktis semua media Amerika, studio ABC yang menayangkannya, dan seluruh pengikut serial TV Amerika. Pasalnya serial ini disebut-sebut akan diposisikan sebagai pengganti <strong>Lost</strong>; sebuah standar yang sangat tinggi. Pun begitu saya masih optimistis dengan kansnya dikarenakan begitu banyak talenta kelas A bergabung di serial ini. Ada Joseph Fiennes, John Cho, Dominic Monaghan, Sonya Walger yang memperkuatnya. Tambahan lagi serial ini diciptakan oleh David S. Goyer, penulis skenario film favorit saya sepanjang masa: <strong>The Dark Knight</strong>.</p>
<p>Flashforward (no pun intended) ke hari ini. Saya baru selesai menonton serial ini dan satu-satunya hal yang bisa saya pikirkan adalah “<em>Terima kasih Tuhan siksaan menonton serial ini telah berakhir&#8230;</em>”. Jadi apa yang sebenarnya terjadi yang membuat ekspektasi serial baru terbaik berubah menjadi serial baru terburuk yang kutonton untuk musim 2009 &#8211; 2010?</p>
<p>Oke, pertama mari kita bedah terlebih dahulu plot cerita dalam FlashForward. Premisenya cukup jelas. Di episode pertama (tertanggal 6 Oktober 2009) seluruh dunia mengalami blackout / pingsan mendadak selama 2 menit 17 detik. Saat pingsan itu seluruh dunia melihat masa depan mereka sendiri enam bulan kemudian. Ada yang masa depannya gemilang, ada yang masa depannya muram, dan ada yang tidak melihat apapun; dikarenakan konon mereka akan tewas sebelum enam bulan mendatang. Lantas dunia kembali bergerak.</p>
<p>Kalian tentu bisa membayangkan apa jadinya bila mendadak saja seluruh dunia berhenti bergerak selama 2 menit 17 detik bukan? Tidak ada pilot yang mengendalikan pesawat terbang sehingga semuanya berjatuhan dari angkasa. Tabrakan beruntun terjadi karena semua pengemudi pingsan saat mengendalikan mobilnya. Kehancuran terjadi di mana-mana. Akibat dari ‘bencana terbesar sepanjang sejarah manusia’ ini sendiri sebenarnya bisa dijadikan plot cerita untuk satu season sendiri, tetapi FlashForward ngebut di pace dan langsung menyingkirkan semuanya saat episode pertamanya berakhir.</p>
<p>Setelah itu pacing cerita langsung menurun dengan drastis sambil melempari kita pertanyaan-pertanyaan / misteri yang berkisar dari ‘seharusnya menarik bila disampaikan dengan betul’ sampai ‘aku tidak peduli dengan jawaban misteri ini’. Contoh untuk kasus awal: Siapa itu Suspect Zero yang masih sadarkan diri ketika seluruh blackout terjadi? Pertanyaan ini lumayan menarik, tetapi jawaban yang disodorkan pada penonton sudah terbaca dari awal dan tidak memuaskan. Contoh untuk kasus akhir: Bisakah dua sejoli yang tidak saling kenal dan satunya tinggal di Jepang sementara satunya tinggal di Amerika mendadak saja bisa jatuh cinta tanpa sebab yang jelas? Praktis setiap kali plot cerita itu muncul di layar saya harus mengingatkan diri bahwa saya bukan tengah menonton sinetron Indonesia.</p>
<p>Intinya: jalan utama ceritanya sendiri tidak menarik. Saya tidak pernah peduli apakah mereka bisa atau tidak menemukan penyebab dari terjadinya blackout karena toh blackout itu sudah terjadi. Ketika ada ancaman blackout kedua bakalan terjadi (diperkenalkan di pertengahan season, kurasa karena jalan ceritanya sudah terlalu membosankan) semuanya sudah telat dan penonton sudah keburu kehilangan perhatian terhadap serial ini. Salah satu sub-plot yang cukup dominan adalah kematian dari agen Demetri Noh di pertengahan season. Cukup menarik untuk disimak pertamanya kasus ini diulur terlalu lama, diselesaikan secara mentah, kemudian dimunculkan lagi dengan untuk kasus Agen Mark (alias: kali ini giliran kamu yang bakalan mati! Hayo lo!). Satu lagi yang menganggu serial ini adalah banyaknya plot hole menganga. Teman saya bercanda dengan mengatakan bahwa saya perlu menulis satu artikel untuk plot hole dalam serial ini dan dia benar. Bahkan serial ini mengakui kelemahan itu dan berusaha menutupinya dengan sok pintar; melempar istilah-istilah teknis yang tidak dimengerti penonton “<em>Black swan!</em>”, “<em>Tachyon!</em>”, “<em>Whateverrrrr!</em>”. Buat penulis skenarionya&#8230; buat serial sci-fi tidak sama dengan bikin jurnal ilmiah.</p>
<p>Jalan cerita yang buruk masih mungkin diselamatkan dengan karakter-karakter yang menarik. Itulah yang menyelamatkan Lost dulu saat plot cerita diulur terlalu panjang di season tiganya. Sayang sekali FlashForward tidak memiliki karakter yang menarik di dalamnya. Tidak. Satu. Pun. Saya rasa ini karena penempatan blackout yang terlalu cepat di awal episode pertama. Saya tidak tahu siapa karakter-karakter ini sebelum blackout terjadi, dan setelah blackout terjadi hampir 90% waktu di serial ini diinvestasikan pada bagaimana mereka mencari tahu kenapa blackout terjadi atau bagaimana mereka menghentikan (atau dalam beberapa kasus: memastikan) flashforward mereka terjadi. Kalaupun ada alasan yang mendasari, kebanyakan alasan itu dua-dimensional dan membuat karakter mereka datar. Ada ayah yang ingin mencari anaknya yang mati karena melihatnya masih hidup di FlashForward (<em>it’s not as interesting as it looks</em>), ada yang takut ditenggelamkan (Sungguhan!), dan ada yang takut selingkuh. Ah dan tentu saja ada yang menyeberang benua demi ketemu cinta masa depan 2 menit 17 detik.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> saya bersyukur FlashForward tidak diperpanjang ke season keduanya. Goodbye. You won’t be missed.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Score</span>: <strong>4.0</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>TV Series Details</strong></span><br />
Creator: Brannon Braga, David S. Goyer<br />
Cast: Joseph Fiennes, John Cho, Jack Davenport, Peyton List, Dominic Monaghan, Sonya Walger<br />
Running Time: 42 Minutes Per Episode</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/06/15/flashforward-the-complete-series/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Spartacus: Blood and Sand &#8211; The Complete Season One</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/06/13/spartacus-blood-and-sand-the-complete-season-one/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/06/13/spartacus-blood-and-sand-the-complete-season-one/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jun 2010 16:28:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motion Picture]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>
		<category><![CDATA[Batiatus]]></category>
		<category><![CDATA[Capua]]></category>
		<category><![CDATA[Crixus]]></category>
		<category><![CDATA[Domina]]></category>
		<category><![CDATA[Dominus]]></category>
		<category><![CDATA[Lucretia]]></category>
		<category><![CDATA[Ludus]]></category>
		<category><![CDATA[Rome]]></category>
		<category><![CDATA[Spartacus]]></category>
		<category><![CDATA[Varro]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=4317</guid>
		<description><![CDATA[Semula saya mendiskreditkan Spartacus: Blood and Sand sekedar sebagai anak haramnya 300 yang dikawinkan dengan Gladiator. Seorang budak dari Thraecia yang dijadikan gladiator kemudian bangkit dan memimpin pemberontakan melawan para bangsawan terasa seperti elemen cerita comotan dari film Gladiatornya Ridley Scott. Tambahkan itu dengan efek-efek slow-motion dan over-the-top dari 300 dan kamu akan mendapatkan Spartacus. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/spartacus-blood-and-sand-poster.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4319" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/spartacus-blood-and-sand-poster.jpg" alt="" width="216" height="288" /></a></p>
<p>Semula saya mendiskreditkan <strong>Spartacus: Blood and Sand</strong> sekedar sebagai anak haramnya <strong>300</strong> yang dikawinkan dengan <strong>Gladiator</strong>. Seorang budak dari Thraecia yang dijadikan gladiator kemudian bangkit dan memimpin pemberontakan melawan para bangsawan terasa seperti elemen cerita comotan dari film Gladiatornya Ridley Scott. Tambahkan itu dengan efek-efek slow-motion dan over-the-top dari 300 dan kamu akan mendapatkan Spartacus. Oh dan jangan lupa&#8230; ini versi <em>uncut</em> dan <em>unrated</em>nya. Tapi apakah karya terbaru dari pencipta serial <strong>Xena</strong> dan <strong>Hercules</strong> bisa lebih dari itu?</p>
<p>Dalam episode pertama, The Red Serpent, seorang pemuda tak bernama dan kaumnya di Thraecia menyetujui untuk turut berperang bersama tentara Romawi. Kesepakatan mereka adalah tentara Romawi membantu mereka menghabisi klan yang selalu menganggu mereka sementara kaum Thraecia sebagai gantinya akan membantu Romawi dalam perang frontalnya menguasai seantero dunia. Akan tetapi tentara Romawi berkhianat dari janji mereka. Seluruh desa dari pemuda Thraecia ini dihancurkan bahkan istrinya Sura diambil dan dijual sebagai budak. Pemuda Thraecia itu kemudian dilempar ke arena Gladiator &#8211; hukuman di masa itu &#8211; untuk dihabisi. Ketangguhan pemuda itu memperjuangkan hidupnya mendapatkan simpati publik dan ia dinamai Spartacus.</p>
<p>Spartacus kemudian dibeli oleh sebuah klub Gladiator (disebut <em>Ludus</em>) milik seorang Romawi bernama Batiatus di kota Capua. Tidak semua berjalan lancar bagi Spartacus. Ia harus mempelajari tata cara dan kemampuan berpedang secara baik dan benar sebab menjadi seorang Gladiator berarti menggadaikan nyawanya setiap hari. Sedikit lengah dan nyawa pun melayang. Tapi tidak hanya intrik seputar diri Spartacus saja yang menjadi nyawa tontonan ini. Batiatus sang pemilik juga memiliki agendanya sendiri untuk mendaki menjadi seorang penguasa politik di Capua &#8211; bahkan kalau bisa menancapkan kukunya hingga ke Roma.</p>
<p>Dan intrik-intrik politik dan kehidupan yang lalu-lalang inilah yang membuat Spartacus begitu intens dan menarik untuk ditonton. Dalam episode pertamanya, The Red Serpent, saya menyangka kalau ini cuma tontonan orang barbar yang penuh dengan darah dan adegan-adegan seks yang eksplisit. Untung saja aku tetap bertahan menontonnya dan serial ini menghargai usahaku itu dengan memberikan episode demi episode yang makin apik setelahnya. Mulai dari episode kedua, Spartacus masuk ke dalam Ludus milik Batiatus dan bisa dibilang dari sinilah jalan ceritanya benar-benar dimulai. Serial ini juga didukung oleh deretan casting yang bermain dengan apik dan total. Spartacus diperankan oleh aktor Australia Andy Whitfield, dan ia membawakan ragam emosi yang berkecamuk dalam diri Spartacus sepanjang season pertama dengan baik. Masih ada pula serombongan karakter pendukung yang membuat Spartacus betah kutonton baik rekan sesama Gladiator di satu ludus: Crixus rival utama Spartacus, Varro sahabat yang berkembang layaknya saudara dengan Spartacus, sampai Doctore seorang trainer Gladiator yang tegas. Dari pihak para penguasa sendiri ada suami istri Batiatus dan Lucretia yang haus kuasa dan Ilithyia yang sama sintingnya. Menyaksikan bagaimana semua orang-orang &#8216;sakit&#8217; ini berinteraksi satu sama lain menjadi hiburan tersendiri.</p>
<p>Tadi saya bilang bahwa serial ini banyak berfokus pada adegan kekerasan dan seks yang eksplisit. Ketika saya bilang eksplisit di sini, saya tidak melebih-lebihkan. Ini bukan serial yang akan saya sarankan bagi kaum hawa atau siapapun yang berusia di bawah 17 tahun. Materi kekerasan seperti darah di mana-mana, kepala yang dipenggal, perut yang terobek hingga usus terburai keluar, dan pembunuhan anak-anak adalah tema yang biasa muncul di serial ini. Setali tiga uang dengan unsur seksnya; episode pertamanya saja dibuka dengan pesta seks Roma di mana kita melihat penis dan buah dada pria wanita bertebaran di mana-mana tanpa disensor. Walau saya sebenarnya kritis terhadap hal semacam ini, kedua aspek ini justru mendapat acungan jempol dariku karena menambah kerealistisan Spartacus yang bersetting di jaman Romawi kuno dulu. Perlu dicatat juga kalau koreografi pertarungan di setiap episodenya keren. Setiap aktor di sini terlihat sebagai sosok yang mampu untuk bertarung dengan pedang sehingga penonton tidak ditipu dengan pengambilan gambar yang menggunakan close-up. Sedikit spoiler saja, saksikan pertarungan episode kelima melawan Theokoles dan kalian akan terkesan dengan Spartacus. Sejujurnya, saya bahkan menilai koreografi di sini sedikit di atas 300!</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> Spartacus: Blood and Sand adalah serial yang berhasil mengejutkanku. Ijinkan perasaan saya diumpamakan seperti ini. Episode pertamanya buruk, episode kedua dan ketiganya menabur benih yang kemudian tumbuh sepanjang season dan lantas dituai pada tiga episode terakhir. Hasil tuaiannya? Serial baru TV terbaik kedua yang berhasil menggeser posisi <strong>The Vampire Diaries</strong>.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Note</span>: Season kedua Spartacus ditunda oleh karena sang pemeran utama: Andy Whitfield terkena penyakit kanker. Kini sang pemeran sudah sembuh dan syuting telah kembali dimulai.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Score</span>: <strong>9.0</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>TV Series Details</strong></span><br />
Creator: Steven S. DeKnight<br />
Cast: Andy Whitfield, Manu Bennett, Lucy Lawless, Andy Hannah<br />
Running Time: 55 Minutes Per Episode</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/06/13/spartacus-blood-and-sand-the-complete-season-one/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Big Bang Theory &#8211; The Complete Season Three</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/06/13/the-big-bang-theory-the-complete-season-three/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/06/13/the-big-bang-theory-the-complete-season-three/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jun 2010 15:54:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motion Picture]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>
		<category><![CDATA[Bazinga]]></category>
		<category><![CDATA[Leonard]]></category>
		<category><![CDATA[Penny]]></category>
		<category><![CDATA[Raj]]></category>
		<category><![CDATA[Sheldon]]></category>
		<category><![CDATA[Wolowitz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=4311</guid>
		<description><![CDATA[Serial komedi The Big Bang Theory mencapai puncak popularitasnya pada musim ini. Di dua musim sebelumnya kisaran penonton bervariasi antara 9 &#8211; 11 juta orang, tapi rating musim ini menunjukkan bahwa sitkom empat geek dan satu beauty mencapai lebih dari 15 juta orang. Angka ini berarti The Big Bang Theory telah menggantikan Two and Half [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/the-big-bang-theory-season-3-poster.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4313" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/the-big-bang-theory-season-3-poster.jpg" alt="" width="232" height="280" /></a></p>
<p>Serial komedi <strong>The Big Bang Theory</strong> mencapai puncak popularitasnya pada musim ini. Di dua musim sebelumnya kisaran penonton bervariasi antara 9 &#8211; 11 juta orang, tapi rating musim ini menunjukkan bahwa sitkom empat geek dan satu beauty mencapai lebih dari 15 juta orang. Angka ini berarti The Big Bang Theory telah menggantikan <strong>Two and Half Men</strong> sebagai sitkom paling larisnya CBS. Saya rasa kunci kesuksesan itu terletak pada humor-humor The Big Bang Theory yang makin cerdas dan lucu dalam tiap-tiap episodenya.</p>
<p>Di akhir season lalu, Sheldon mengajak ketiga temannya pergi ke kutub dan membuat penonton bertanya-tanya mengenai bagaimana nasib Penny dan Leonard yang sudah kadung jatuh cinta. Penonton tidak perlu bertanya lama karena dengan cepat dipastikan bahwa Leonard dan Penny akan jadian untuk mayoritas episode season ini. Sedikit kejutan: tidak hanya Leonard saja yang mendapat pasangan tetapi juga Wolowitz. Gara-gara kedua temannya sudah mendapatkan pasangan, ini meninggalkan Raj sering kesepian sendiri. Di sisi lain, Sheldon masih segeek biasanya ala alien, tapi hubungan antaranya dan Penny kini semakin baik (bahkan pada satu episode Sheldon menyebutkan bahwa Penny adalah salah satu dari sahabat terbaiknya!). Akan tetapi itu belum semua untuk Sheldon; kisah mengenai Sheldon sepertinya bakalan menjadi fokus musim depan.</p>
<p>Di season ketiga, saya bangga menyatakan bahwa serial ini mulai bisa mencampur humor geek dengan humor buat manusia &#8216;normal&#8217;. Contohnya humor-humor mengenai <strong>Avatar</strong> atau film <strong>Star Trek</strong> yang baru seharusnya bisa dimengerti oleh kebanyakan penonton mengingat kedua film itu menjadi blockbuster yang laris tahun lalu. Akan tetapi serial ini juga tidak lupa menyajikan humor-humor untuk para geek. Beberapa referensi Watchmen misalnya tidak tertangkap oleh teman saya, tetapi saya terbahak-bahak ketika menontonnya. Satu hal yang pasti, semakin sering anda tertawa menonton serial, itu berarti semakin tinggi kadar geekmu! Humor-humor ini juga didukung performa memuaskan setiap karakternya. Sheldon tetap karakter yang bakalan penonton love to hate. Wolowitz kini sudah tidak semaniak season lalu &#8211; mungkin karena sudah punya wanita?, Raj tetap dengan celetuk-celetuk konyolnya, dan Penny kini mulai bisa mengerti kehidupan para geek setelah pacaran dengan Leonard. Satu-satunya cast yang tidak nyangkut di hati adalah Leonard. Bukan karena Johnny Galecki bermain buruk tetapi memang karena karakter Leonard sendiri tidak menyenangkan buat ditonton. Dulu saya menulis kalau Leonard itu satu-satunya yang normal dari empat sekawan itu, tetapi celakanya juga itulah yang membuat dia tidak punya nilai plus yang membuatnya terkesan. Tambahan lagi keluhan-keluhannya di sepanjang season kian membuatku jengkel padanya.</p>
<p>Pun dengan kemajuan-kemajuan pada season ini, saya tidak bisa menyebut The Big Bang Theory sebagai sitkom favoritku. Apa pasal? Kenapa saya lebih menyukai <strong>How I Met Your Mother</strong> atau <strong>Friends</strong> dibandingkan serial yang jelas-jelas bertema soal geek dan leluconnya sukses terus membuatku tertawa terbahak-bahak ini? Jawabannya: pertumbuhan karakter. Kalau ada yang hilang dari The Big Bang Theory, itulah dia. Tiga tahun sudah berlalu dan karakter yang kita lihat dulu praktis masih sama dengan karakter yang kita lihat sekarang. Sheldon masih seorang geek yang tidak memikirkan perasaan orang sebelum ngomong. Penny memang kini mulai tahu sedikit tentang kehidupan para geek tapi masih saja menjadi waiter tanpa kemajuan karirnya (ada di antara kalian yang ingat dia hendak menjadi seorang artis?). Raj tetap tidak bisa ngobrol dengan wanita tanpa bantuan alkohol. Leonard sifat pencemburunya malah kian menjadi-jadi. Untuk sebuah sitkom yang berusia tiga tahun, seharusnya mereka mulai bisa mengembangkan karakter-karakternya di samping mengandalkan humor-humor mengenai dunia geek melulu. Langkah tepat diambil di finale season ini di mana Sheldon diperkenalkan pada seorang calon pacar. Semoga saja season mendatang kisah Penny menjadi artis juga mendapatkan sorotan di season depan. Bayangkan kalau Penny bisa menjadi artis dan mulai berkenalan dengan banyak aktor ganteng. Tidakkah itu memberi dinamika baru dalam persahabatannya dengan Leonard dan kawan-kawan? Singkatnya, ada banyak plot baru yang bisa digali andaikata status quo ini bisa diubah.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> di luar semua kelebihan dan kekurangan serial ini, rating membuktikan bahwa The Big Bang Theory adalah salah satu sitkom paling populer di network Amerika sekarang ini. Seandainya pun season depan masih menggunakan formula yang sama dengan tiga season awalnya, setidaknya saya berharap humor-humor tajam yang menyertai tiap episodenya tetap berkualitas tinggi. Serial ini jelek? Bazinga!</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Score</span>: <strong>8.2</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>TV Series Details</strong></span><br />
Creator: Chuck Lorre, Bill Prady<br />
Cast: Johnny Galecki, Jim Parsons, Simon Helberg, Kunal Nayar, Kaley Cuoco<br />
Running Time: 22 Minutes Per Episode</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/06/13/the-big-bang-theory-the-complete-season-three/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Human Target &#8211; The Complete Season One</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/06/08/human-target-the-complete-season-one/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/06/08/human-target-the-complete-season-one/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jun 2010 05:03:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motion Picture]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>
		<category><![CDATA[Christopher Chance]]></category>
		<category><![CDATA[DC]]></category>
		<category><![CDATA[Fringe]]></category>
		<category><![CDATA[Human Target]]></category>
		<category><![CDATA[Pushing Daisies]]></category>
		<category><![CDATA[Watchmen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=4285</guid>
		<description><![CDATA[Walaupun saya penggemar komik Amerika, saya malahan tidak tahu kalau Human Target ini diangkat dari komik DC (Action Comic dan Vertigo Comic) sampai season pertamanya berakhir. Karena penasaran bagaimana jadinya kualitas sebuah serial yang diadaptasi dari komik, saya melakukan tontonan maraton 12 episode season pertama Human Target. Nama-nama beken di belakang serial ini juga menaikkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4287" class="wp-caption alignnone" style="width: 219px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/human-target-season-one-poster.jpg"><img class="size-full wp-image-4287" title="Human Target Season One Promo Poster" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/human-target-season-one-poster.jpg" alt="Human Target Season One Promo Poster" width="209" height="320" /></a><p class="wp-caption-text">Human Target Season One Promo Poster</p></div>
<p>Walaupun saya penggemar komik Amerika, saya malahan tidak tahu kalau <strong>Human Target</strong> ini diangkat dari komik DC (Action Comic dan Vertigo Comic) sampai season pertamanya berakhir. Karena penasaran bagaimana jadinya kualitas sebuah serial yang diadaptasi dari komik, saya melakukan tontonan maraton 12 episode season pertama Human Target. Nama-nama beken di belakang serial ini juga menaikkan ekspektasiku akannya, begitu pula review gemerlap dari situs-situs review online.</p>
<p>Konsep komik dan serial TV Human Target sebenarnya cukup jauh berbeda. Ketika saya membaca ringkasannya di Wikipedia, sang jagoan dalam Human Target bernama Christopher Chance menjalankan misinya dengan mengubah identitasnya menjadi identitas kliennya sehingga ialah yang diburu (maka dari itu judul Human Target). Tentu saja hal ini terlalu berkhayal bila diterapkan secara harafiah ke serial TV. Jadinya di sini Christopher Chance menyamar menjadi sosok terdekat kliennya dan secara diam-diam melindunginya. Perubahan ini membuat serialnya masuk akal &#8211; tetapi bukan tanpa poin lemah juga&#8230; karena apa jadinya yang membedakan Human Target dari serial-serial atau film bodyguard lainnya?</p>
<p>Jasa yang ditawarkan oleh trio Christopher Chance, (Mantan) Detektif Winston, dan Guerrero bisa dirangkum dalam satu kalimat: &#8220;<em>Menyelamatkan nyawa seseorang</em>&#8220;. Bila nyawa seseorang terancam bahaya, tidak peduli apakah dia seorang ilmuwan yang menemukan senyawa kimia baru, dokter yang menemukan konspirasi ekonomi kotor, sampai putri bangsawan sekalipun, asalkan membayar harga yang tepat (ingat: tidak mahal tapi tepat) maka Chance akan menyamar menjadi orang yang dekat dengan korban yang terancam dan melindunginya. Tentu saja Chance bukan sembarang orang. Dirinya dulu adalah seorang pembunuh bayaran (mercenary) terbaik yang pernah dididik organisasi misterius. Apa yang menyebabkan Chance berubah hati? Dan apa jadinya bila organisasi misterius tempat Chance dulu bekerja menemukan bahwa senjata kebanggaan mereka kini beralih profesi?</p>
<p>Salah satu hal yang tidak saya suka dari Human Target adalah sifatnya yang terlalu episodik. Ini adalah jenis seri yang kamu menonton minggu ini lantas bolong menontonnya selama lima minggu ke depan dan bisa menonton lanjutannya tanpa kehilangan apapun. Hal seperti ini mungkin berhasil di jaman 1980 dan 1990an. Ingat <strong>MacGyver</strong>, <strong>Knight Rider</strong>, <strong>The A-Team</strong>, <strong>Mission Impossible</strong> dan sejenisnya? Semua rata-rata memakai format seperti ini. Masalahnya kini trend sudah berubah. Seri seperti <strong>Alias</strong>, <strong>Lost</strong>, <strong>24</strong>, <strong>Prison Break</strong>, <strong>Heroes</strong>, dan banyak lagi menunjukkan kalau pemirsa tidak melulu tertarik pada serial yang berdiri sendiri tiap episodenya. Human Target memang memiliki garis cerita besar yakni masa lalu Chance dan organisasi naungannya dulu kini berbalik memburunya, tetapi filler episode antara episode-episode penting satu lainnya terlalu jauh.</p>
<p>Tapi di luar kelemahan itu, sebenarnya Human Target membuktikan dirinya sebagai serial TV dengan production value yang tinggi. Tiap episodenya digarap semenarik mungkin dengan tensi tinggi sepanjang 40 menit. Pakem setiap episodenya sebenarnya sama saja: klien menemui masalah dan Christopher Chance harus menyelamatkannya. Akan tetapi lokasi dan misi yang berbeda satu sama lain mulai dari di tengah kepadatan kota, pesawat dan kereta yang meluncur cepat, tengah hutan belantara, sampai kuil di tempat terpencil dan arena pertarungan bawah tanah membuat Human Target tetap fresh di tiap episodenya.</p>
<p>Tiga karakter utama di sini: Mark Valley, Chi McBride, dan Jackie Earle Haley saling melengkapi satu sama lainnya dengan chemistry yang pas. Ketiganya adalah yang terbaik di bidang mereka masing-masing, dan ketika mereka semua bekerja sama hampir-hampir tidak ada masalah yang tak dapat mereka selesaikan. Alumni <strong>Fringe</strong> Mark Valley menjadi sosok yang pas sebagai Christopher Chance. Saya kagum bahwa chemistry Valley selalu saja bisa cocok dengan setiap guest star yang nongol di tiap episode. Psst&#8230; kalau kalian cemas karena lakon utamanya semua cowo, serial ini mengimbangi dengan selalu menghadirkan cewe-cewe cantik di tiap episodenya&#8230; Ada Amy Acker, Moon Bloodgood, Emmanuelle Vaugier, Grace Park, Tricia Helfer, dan banyak lagi. Ehem, kemudian Chi McBride bisa dibilang adalah titik lemah dari ketiganya karena sebagai Winston perannya tidak banyak berbeda dengan apa yang ia mainkan di <strong>Pushing Daisies</strong> dulu; seorang detektif sengit yang komentarnya selalu menusuk hati. Toh yang paling mencuri perhatian tentu saja Jackie Earle Haley yang namanya sudah beken melalui <strong>Watchmen</strong> dan <strong>Friday the 13th</strong>. Guerrero menjadi sosok paling tenang sekaligus paling berbahaya dalam tim, seperti wild card yang penonton tidak tahu bakalan berbuat apa.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> sederhana saja. Bisa tidaknya kamu menikmati serial ini tergantung dari persepsimu, kalau kamu ingin menonton 40 menit yang ringan dengan jalan cerita ala B-Movie kamu bakalan menikmati serial ini. Kalau kamu cuma ingin rentetan jalan cerita pokoknya saja, silahkan tonton episode 1, 3, 5 (optional), 8, lantas melompat ke episode terakhir. Kekhawatiran saya akan season dua hanya satu: karena sifatnya yang episodik, Human Target sangat mengandalkan budget untuk ledakan-ledakan dan stunt wah untuk menarik penonton di tiap episodenya. Celakanya dengan rating yang tidak diharapkan, hampir pasti budget untuk season depan dipotong. Semoga saja tidak berujung pada penurunan kualitasnya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Score</span>: <strong>7.0</strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">TV Series Details</span></strong><br />
Creator: Jonathan E. Steinberg<br />
Cast: Mark Valley, Chi McBride, Jackie Earle Haley<br />
Running Time: 42 Minutes Per Episode</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/06/08/human-target-the-complete-season-one/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Chuck &#8211; The Complete Season Three</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/06/07/chuck-the-complete-season-three/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/06/07/chuck-the-complete-season-three/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 02:54:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motion Picture]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>
		<category><![CDATA[Awesome]]></category>
		<category><![CDATA[Buy More]]></category>
		<category><![CDATA[Casey]]></category>
		<category><![CDATA[Chuck]]></category>
		<category><![CDATA[Morgan]]></category>
		<category><![CDATA[Nerd Herd]]></category>
		<category><![CDATA[Sarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=4280</guid>
		<description><![CDATA[Jadi apa kabarnya serial terbaikku tahun lalu? Kalau kalian penggemar serial Chuck, NBC membuat jantung kita berdebar kencang selama tahun lalu sebelum mereka akhirnya menuruti permintaan fans guna memperpanjang Chuck ke season ketiga (untung tahun ini kita tak perlu deg-degan terlalu lama dengan diperpanjangnya Chuck bahkan sebelum season ketiganya tamat). Bahkan kita diberi bonus yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4282" class="wp-caption alignnone" style="width: 229px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/chuck-season-3-promo-poster.jpg"><img class="size-full wp-image-4282" title="Chuck Season 3 Promo Poster" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/chuck-season-3-promo-poster.jpg" alt="Chuck Season 3 Promo Poster" width="219" height="294" /></a><p class="wp-caption-text">Chuck Season 3 Promo Poster</p></div>
<p>Jadi apa kabarnya serial terbaikku tahun lalu? Kalau kalian penggemar serial <strong>Chuck</strong>, NBC membuat jantung kita berdebar kencang selama tahun lalu sebelum mereka akhirnya menuruti permintaan fans guna memperpanjang Chuck ke season ketiga (untung tahun ini kita tak perlu deg-degan terlalu lama dengan diperpanjangnya Chuck bahkan sebelum season ketiganya tamat). Bahkan kita diberi bonus yang menyenangkan, tidak hanya Chuck mendapat 13 episode seperti yang dikontrak semula &#8211; ada tambahan enam episode lagi! Dan ada segudang bintang tamu terkenal ikut dalam season ketiga ini, mulai dari Kristin Kreuk, Brandon Routh, sampai sang pegulat Stone Cold Steve Austin. Dalam bayanganku, ini bakalan jadi satu lagi season Chuck yang sempurna.</p>
<p>Ah, tapi sayangnya ekspektasi yang berlebihanku kali ini gagal dipenuhi oleh Chuck. Season ketiga masih season yang solid secara keseluruhan tetapi dibandingkan season pertama yang memperkenalkan kita pada konsep &#8216;nerd spy&#8217; dan season kedua yang adalah season terbaik serial TV yang pernah saya tonton, season kali ini masih kalah kelas.</p>
<p>Tiga hal yang menjadi sumber kekecewaanku datang dari premise Chuck di season ini. Ingatkah kalian sepanjang season lalu Chuck berusaha mati-matian untuk menghilangkan Intersect dari otaknya dan berhenti dari kehidupan mata-mata? Mendadak saja di season premierenya Chuck langsung berubah pikiran dan ingin hidup penuh sebagai mata-mata &#8211; karena mendownload Intersect 2.0 di kepalanya dan hendak melindungi Sarah. Saya sih tidak menyalahkan perubahan ini mengingat kalau karakter Chuck stagnan melulu penonton juga bisa bosan bukan karenanya? Yang saya kritik adalah alasan Chuck berubah haluan terlalu dangkal. Kenapa tidak menggunakan kematian Bryce sebagai katalis misalnya? Bryce mati di tangan Chuck dan itu bisa menjadi pernyataan simbolis seperti serah terima tanggung jawab supaya Chuck kini melindungi Sarah. Sayangnya penulis Chuck tidak memanfaatkan momen ini dan tulang Bryce disapu di bawah matras seakan tak penting. Auch. I&#8217;m sorry for you Bryce.</p>
<p>Kedua adalah keberadaan The Ring. Ketika The Ring menyebutkan bahwa Fulcrum hanyalah satu bagian dari organisasi mereka seluruh indera bahayaku meningkat tajam. &#8220;<em>Organisasi seperti Fulcrum hanya SATU bagian dari jaringan ini?</em>&#8221; Langsung saja berbagai skenario berputar di benak saya. Siapa tahu ada lebih dari satu organisasi kriminal yang kali ini harus dihadapi Chuck! Siapa tahu saja antara organisasi kriminal itu ada yang berseteru satu sama lain dan Chuck serta kawan-kawan terlibat di dalamnya! Siapa tahu ada <em>unlikely alliance</em> antara mantan agen Fulcrum yang bertobat dengan NSA / FBI guna menghentikan The Ring! Akan tetapi lagi-lagi potensi segudang itu gagal direalisasikan. Yang kita dapat? Praktis tidak ada yang berubah dari season dua (malah ketambahan seorang Daniel Shaw). Kalaupun kita membohongi orang yang tidak nonton finale musim lalu dan mengatakan &#8220;<em>Fulcrum mengubah nama menjadi The Ring&#8230;</em>&#8221; saya rasa mereka percaya saja karena tidak ada apapun yang berubah di season ini.</p>
<p>Dan yang ketiga adalah keberadaan Buy More kini mulai menjadi penganggu ketimbang bagian integral cerita. Salah satu alasan saya suka Chuck adalah keberhasilan serial ini menyeimbangkan kehidupan Chuck sebagai seorang nerd dan seorang spy di dua season awal. Beberapa episode yang menarik bahkan berhasil menggabungkan dua dunia Chuck itu dengan twist yang tak terduga. Episode-episode seperti itu jarang sekali muncul di season kali ini. Malahan Chuck semakin lama semakin jarang nongol dan berperan dalam kisah Buy More. I kinda miss my nerd Chuck&#8230;</p>
<p>Tapi terlepas dari tiga kelemahan fatal yang saya sebutkan di atas, season Chuck kali ini tetap menyenangkan buat ditonton. Beberapa orang penting dalam kehidupan Chuck kini tahu lifestyle Chuck, satu menjadi agen yang mendampingi Chuck sementara satu lagi menyadari dalam penghujung season yang berakhir dengan tragedi. Plus karena tadinya tidak diketahui apakah season ini akan diperpanjang lagi atau tidak, Chuck dan Sarah akhirnya dibuat jadian di akhir episode 13. Untung saja. Tiga season adalah waktu yang terlalu panjang untuk menggoda penonton apakah sebuah hubungan akan berjalan atau tidak&#8230; dan acap kali rasa tertarik penonton berubah menjadi bete dan frustasi. Tanyakan saja hal itu kepada setiap penonton <strong>Smallville</strong> dan mereka akan bilang bagaimana hubungan Lana dan Clark yang menggemaskan di season pertama berubah menjadi menjengkelkan di season kelima. Kembali pada Chuck, menyatukan dirinya dengan Sarah membuka dimensi dan dinamika baru dalam hubungan mereka. Saya harap bahwa season depan akan memperdalam hubungan mereka. Siapa tahu saja Sarah bahkan akan berterus terang akan jati dirinya yang sesungguhnya pada Chuck?</p>
<p>Kalau ditanya apa elemen favorit saya di season ini, itu adalah perkembangan setiap karakternya. Chuck, John, Sarah, Morgan, Ellie, dan Awesome sebagai enam karakter integral dalam serial ini semua mengalami perubahan sifat dibandingkan mereka pada season-season sebelumnya. John dan Sarah kini mempercayai Chuck lebih dari mereka mempercayai organisasi mereka sendiri &#8211; suatu perubahan drastis yang saya yakin adalah pengaruh dari bergaul lama dengan Chuck. Bukan hanya keduanya, bahkan Beckman yang dulunya skeptis pada Chuck pun kini melindungi Chuck tidak hanya karena menganggap Chuck sebagai aset Intersect tetapi sebagai seorang agen yang tangguh dan warga Amerika yang bertanggung jawab. Tanpa ingin spoiler terlalu banyak, akan ada banyak hal besar terjadi pada Morgan dan Ellie pada season ini sehingga jelas mempengaruhi hubungan mereka dengan Chuck.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> walaupun tidak sebagus dua season sebelumnya, saya tetap seorang penggemar Chuck. Saya hanya berharap penurunan kualitas ini tidak berlanjut ke season-season berikutnya. Dengan jumlah penonton yang terus menonton tiap seasonnya, serial ini perlu mempertahankan standar mutunya supaya bisa tetap eksis sampai tahun kelima.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Score</span>: <strong>8.0</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>TV Series Details</strong></span><br />
Creator: Josh Schwartz, Chris Fedak<br />
Cast: Zachary Levi, Yvonne Strahovski, Joshua Gomez, Adam Baldwin<br />
Running Time: 40 Minutes Per Episode</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/06/07/chuck-the-complete-season-three/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lima Alasan Kamu HARUS Menonton The Vampire Diaries</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/06/06/lima-alasan-kamu-harus-menonton-the-vampire-diaries/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/06/06/lima-alasan-kamu-harus-menonton-the-vampire-diaries/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 18:02:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motion Picture]]></category>
		<category><![CDATA[Others]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>
		<category><![CDATA[Damon]]></category>
		<category><![CDATA[Eclipse]]></category>
		<category><![CDATA[New Moon]]></category>
		<category><![CDATA[Salvatore]]></category>
		<category><![CDATA[Stefan]]></category>
		<category><![CDATA[Twilight]]></category>
		<category><![CDATA[Vampire Diaries]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=4275</guid>
		<description><![CDATA[Saya tahu bahwa membaca judulnya saja membuat kalian skeptis. Tapi percaya atau tidak, banyak orang yang skeptis dan ragu terhadap serial ini kini menobatkannya menjadi salah satu serial terbaik mereka tahun ini. Saya pribadi menempatkannya di urutan kedua untuk serial baru terbaik tahun ini, hanya karena tahun ini juga menghadirkan Glee. Oleh karena itu sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tahu bahwa membaca judulnya saja membuat kalian skeptis. Tapi percaya atau tidak, banyak orang yang skeptis dan ragu terhadap serial ini kini menobatkannya menjadi salah satu serial terbaik mereka tahun ini. Saya pribadi menempatkannya di urutan kedua untuk serial baru terbaik tahun ini, hanya karena tahun ini juga menghadirkan <strong>Glee</strong>.</p>
<p>Oleh karena itu sebagai orang yang sudah diubah menjadi vampir oleh serial ini, artikel ini kugarap supaya kalian pun bisa berubah menjadi vampire lovers. Let&#8217;s begin!</p>
<p>05. <em>Romantic, Scary, Mystery&#8230; They&#8217;ve Got It All</em><br />
<strong>The Vampire Diaries</strong> adalah sebuah tontonan yang lengkap. Ada momen-momen romantis antara Elena dan Stefan sekaligus diselingi Damon yang flirty terhadap cewe sana-sini. Tetapi serial ini tidak lupa bahwa pada dasarnya ini adalah sebuah serial tentang vampir. Hujan darah terjadi di setiap episode dan bersiaplah karena banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak manusia dan vampir. Terakhir adalah misteri. Walau sekilas dari luar terlihat sebagai kota kecil yang damai, Mystic Falls memiliki banyak rahasia mengerikan di dalamnya&#8230; yang perlahan-lahan dikuak dalam setiap episode serial ini.</p>
<p>04. <em>They Don&#8217;t Sparkle&#8230;</em><br />
Salah satu hal yang membuat banyak orang bete terhadap kisah Twilight adalah mereka&#8230; uh&#8230; bercahaya. Saya tidak tahu apa yang ada di benak sintingnya Stephanie Meyer ketika menulis tetapi untung saja The Vampire Diaries tidak ikut-ikutan. Kisah ini kembali pada formula baku di mana vampir bakalan tewas terbakar sinar matahari. Plus ada batasan-batasan kekuatan dan kelemahan yang jelas bagi para vampir dalam serial ini. Oke vampir bisa mempengaruhi pikiranmu dengan hipnotis, tetapi mereka tidak bisa masuk ke dalam rumahmu kalau kamu tidak mengundang mereka. Dengan kekuatan yang jelas, vampir menjadi sosok yang menarik. Tidak sekedar &#8220;<em>Oh&#8230; Ya ampun dia bercahaya kena sinar matahari. Seksi Sekaleee</em>&#8220;.</p>
<p>03. <em>Fast-Paced Storyline</em><br />
Kadang serial TV bisa bikin orang frustasi karena mengulur-ulur ceritanya. Ingat <strong>Heroes</strong> di season kedua dan <strong>Lost</strong> di season ketiga? Beruntung The Vampire Diaries tidak mengulang kesalahan ini. Misteri demi misteri dilontarkan tetapi juga dengan cepat diselesaikan. Satu hal yang saya acungi jempol adalah tidak adanya rahasia yang tersembunyi dalam waktu lama akan satu karakter. Ingat betapa senewen kita menonton <strong>Smallville</strong> di tiga empat season awal di mana kebanyakan jalan ceritanya berkisar Clark menyembunyikan identitas rahasianya dari semua orang di sekelilingnya?</p>
<p>02. <em>Fully Developed Characters</em><br />
Setiap karakter dalam film ini memiliki kedalaman yang membuatnya bisa diterima oleh penonton. Semua karakter memiliki kelebihan dan kelemahan mereka. Stefan pada awalnya terlihat sempurna tetapi seiring berjalannya serial menunjukkan kekurangan-kekurangannya. Saya suka dengan Elena karena tidak seperti gadis tertentu yang pikirannya cuma &#8220;<em>Kumohon gigit aku. Jadikan aku vampir. Aku ingin hidup bersama selamanya denganmu. Aku wanita idiot!</em>&#8221; ia tegas. Oho, memang cinta berperan dalam kebanyakan keputusan yang ia ambil, tetapi logika selalu datang terlebih dahulu sebelum perasaan. Dan karakter pendukungnya pun berkembang. Matt, Alaric,  Bonnie, Tyler, Jeremy dan banyak &#8211; banyak lagi bukan karakter yang sama di awal season dengan di akhir season. Semua mengalami pertumbuhan dan perubahan karakter. Bahkan guest starnya (Anna! Anna! Anna!) berhasil mencuri perhatianku. Ini adalah bukti dari sebuah serial yang berhasil memaksimalkan potensi setiap bintangnya&#8230; terutama&#8230;</p>
<p>01. <strong><span style="text-decoration: underline;">DAMON SALVATORE</span></strong><br />
Sebelum mata kalian melotot dan kalian menyangka yang tidak &#8211; tidak&#8230;</p>
<p>Saya <em>bukan</em> gay&#8230; but Damon Salvatore is <strong><span style="text-decoration: underline;">HOT</span></strong>!</p>
<p>Dia jelas salah satu karakter favoritku tahun ini. Nina Dobrev, Paul Wesley memainkan peran mereka dengan apik&#8230; tetapi show ini tidak akan sama tanpa Ian Somerhalder yang <em>SEMPURNA</em> sebagai Damon. Tingkahnya sebagai playboy, pembawaannya yang bad ass, dan tampang gantengnya dijamin menyihir tiap penonton melihat apa yang bakalan dilakukan Damon di tiap episodenya. Ah, kadang saya berpikir Ian itu vampir sungguhan dan dia melakukan mind trick untuk membuatku terpana menontonnya dari episode ke episode&#8230;</p>
<p>Jadi apa lagi yang kalian tunggu? Buruan nonton serial ini, dan kita diskusikan The Vampire Diaries bersama-sama!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/06/06/lima-alasan-kamu-harus-menonton-the-vampire-diaries/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Vampire Diaries &#8211; The Complete Season One</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/06/06/the-vampire-diaries-the-complete-season-one/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/06/06/the-vampire-diaries-the-complete-season-one/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 17:56:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motion Picture]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>
		<category><![CDATA[Bonnie]]></category>
		<category><![CDATA[Damon]]></category>
		<category><![CDATA[Elena]]></category>
		<category><![CDATA[Katherine]]></category>
		<category><![CDATA[Mystic Falls]]></category>
		<category><![CDATA[Salvatore]]></category>
		<category><![CDATA[Stefan]]></category>
		<category><![CDATA[Vampire]]></category>
		<category><![CDATA[Witch]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=4271</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Apa? Vampir? Lagi? Ya Tuhanku. Tidak cukupkah kita disesah dengan imajinasi tidak kesampaiannya Stephanie Meyer?&#8221; Amat sangat mungkin itu bukan yang melintas di pikiran pembaca sekalian melihat titel The Vampire Diaries sebagai sebuah serial TV (di stasiun CW pula yang sudah terkenal dengan opera sabun macam Smallville, Supernatural, Melrose Place, dan sebangsanya)? Saya sendiri ingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4273" class="wp-caption alignnone" style="width: 240px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/the-vampire-diaries-the-complete-season-one-poster.jpg"><img class="size-full wp-image-4273" title="The Vampire Diaries Season One Promo Poster" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/the-vampire-diaries-the-complete-season-one-poster.jpg" alt="The Vampire Diaries Season One Promo Poster" width="230" height="331" /></a><p class="wp-caption-text">The Vampire Diaries Season One Promo Poster</p></div>
<p>&#8220;<em>Apa? Vampir? Lagi? Ya Tuhanku. Tidak cukupkah kita disesah dengan imajinasi tidak kesampaiannya Stephanie Meyer?</em>&#8221;</p>
<p>Amat sangat mungkin itu bukan yang melintas di pikiran pembaca sekalian melihat titel <strong>The Vampire Diaries</strong> sebagai sebuah serial TV (di stasiun CW pula yang sudah terkenal dengan opera sabun macam <strong>Smallville</strong>, <strong>Supernatural</strong>, <strong>Melrose Place</strong>, dan sebangsanya)?</p>
<p>Saya sendiri ingin menyatakan kalau saya <span style="text-decoration: underline;">BUKAN</span> pembenci <strong>Twilight</strong>. Kedua film Twilight dan <strong>New Moon</strong> menurutku biasa saja. Tidak spektakuler, tetapi saya juga tidak mengerti kebencian absolut tak beralasan kebanyakan orang saat menontonnya. Saya sudah pernah menonton film yang jauh jauh lebih buruk ketimbangnya. Toh dengan pemahaman seperti itupun saya menganggap kalau premise The Vampire Diaries yang mengisahkan seorang gadis yang hatinya mencintai dua vampir dan diangkat dari novel sebagai usaha mengkapitalisasi demam vampire yang kini tengah melanda dunia.</p>
<p>Elena tengah berduka. Mereka kehilangan orang tua mereka dalam sebuah kecelakaan dan kini menutup diri mereka dari dunia luar. Bahkan dua sahabat baik Elena: Bonnie dan Caroline tidak bisa menghibur Elena ketika gadis itu kembali ke sekolah. Di saat Elena tengah sedih itulah ia kemudian berkenalan dengan seorang murid cowo ganteng bernama Stefan Salvatore. Sikap Stefan yang sedikit pemalu, tertutup, tetapi sekaligus penuh perhatian itu kemudian menarik hati Elena. Tentu saja, sebagaimana yang kita tahu, Stefan adalah seorang vampir. Ah, tapi tidak hanya vampir baik saja yang ditawarkan oleh serial ini. Ada juga sosok Damon Salvatore, kakak Stefan yang sama-sama vampir tetapi ganas dan tipe bad boy. Sifat keduanya kontras dan sangat bertolak belakang. Dengan siapakah Elena akan menambatkan hatinya?</p>
<p>&#8220;<em>Ih, kok plot ceritanya kaya sinetron gitu sih?</em>&#8221; pasti begitu pertanyaan kalian membaca sinopsis di atas. Jangan percaya pada sinopsisku. Mohon maklum, membocorkan lebih dari itu berarti spoiler atas keasyikan kalian menonton serial ini. Ada begitu banyak twist dalam The Vampire Diaries (yes, plot twist!) dan perkembangan cerita yang membuat mata saya terpaku menonton setiap episodenya. Maraton The Vampire Diaries saya praktis hanya terputus sementara karena saya membela-belakan diri saya buat menghabiskan serial <strong>Lost</strong>. Keberanian saya menghentikan tontonan favorit saya musim lalu &#8211; <strong>Chuck </strong>- guna mengikuti serial ini saja seharusnya sudah memberikan kalian gambaran betapa menariknya serial ini.</p>
<p>Alasan lain kenapa serial ini begitu enak diikuti adalah karakter-karakter yang bermain di dalamnya. Tiga aktor utama yang menjadi sentral dalam kisah ini adalah Paul Wesley (Stefan Salvatore), Nina Dobrev (Elena&#8230; dan seseorang yang lain lagi), dan Ian Somerhalder (Damon Salvatore and he&#8217;s soooooo awesome) dan ketiganya memiliki chemistry yang luar biasa. Saya seorang pria dan saya tetap bisa mengikuti dengan asyik pergerakan romantisme yang bergolak antara ketiganya tanpa mendukung satu pihakpun. Di luar ketiganya, The Vampire Diaries juga diberkati dengan cast pendukung dan cast tamu yang tampil gemilang. Segala kekurangan yang saya temui dalam film Twilight dan sekuelnya seakan diperbaiki di sini; mulai dari karakter utama cewe yang kuat dan tidak melulu minta diubah jadi vampir, sosok-sosok pendukung yang punya kedalaman karakter, serta cerita yang mampu menyeimbangkan unsur drama dan misterinya.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> saya rasa aman untuk mengatakan bahwa The Vampire Diaries adalah Twilight yang sempurna. Kalau kalian kaum hawa, kalian HARUS menonton ini. Kalau kalian kaum adam, percayalah pada saya dan berilah seri ini kesempatan. Ah, coret saran itu. TONTON serial ini.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Note</span>: Baca artikel saya &#8216;<em>Lima Alasan Kamu HARUS Menonton The Vampire Diaries</em>&#8216; kalau kalian masih ragu setelah membaca review saya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Score</span>: <strong>8.8</strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">TV Series Details</span></strong><br />
Creator: Kevin Williamson &amp; Julie Plec<br />
Cast: Nina Dobrev, Ian Somerhalder, Paul Wesley<br />
Running Time: 40 Minutes Per Episode</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/06/06/the-vampire-diaries-the-complete-season-one/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
