Oke. Peringatan: kalau kamu belum menonton season satu, akan ada banyak spoiler mengenainya di sini… mengingat mustahil membeda season keduanya tanpa referensi apapun di season satu, terutama plot (season?) twist yang begitu pintar di akhir season. Siap? Welcome back to the world of the Dexter, the dark defender.
Peringatan terakhir: Jangan baca paragraf selanjutnya bila kamu belum nonton season satu! You’ve been warned!
… Dan identitas dari Ice Truck Killer di akhir season satu pun terkuak sudah. Jati diri orang tersebut adalah tunangan Debra, yang dalam season finale juga diketahui kakak (bet you didn’t knew that!) dari Dexter. Karena terpaksa menjaga keselamatan dari adik tirinya itu, Dexter terpaksa membunuh kakak kandungnya dalam konfrontasi yang benar-benar menguras emosi.
Season kedua diawali dengan hancurnya mental baik Dexter maupun Debra. Debra pindah ke rumah sang kakak tiri karena ketakutan tidur sendirian, trauma mengingat orang yang seharusnya menikahi dia ternyata adalah seorang psikopat sadis yang suka memotong-motong tubuh orang. Sebaliknya, Dexter kehilangan insting membunuhnya karena rasa bersalah setelah membunuh sang kakak. Ini diperparah dengan agen Doakes yang curiga kepada Dexter dan terus menguntitnya ke manapun juga. Nafsu membunuh Dexter yang tidak terkendali berbuah fatal ketika ia terus menerus mengalami ganjalan untuk membunuh korbannya. Melihat tingkah laku Dexter yang aneh, Rita sang pacar menyarankannya untuk pergi ke Support Group (tempat di mana orang yang ketagihan narkoba, miras, atau rokok berusaha melepaskan diri dari godaan tersebut dengan cara sharing satu sama lain). Di sana Dexter berkenalan dengan seorang gadis bernama Lila dan karena mereka sama-sama memiliki masalah sakit jiwa, justru tertarik satu sama lain.
Tapi masalah sesungguhnya bagi Dexter muncul dalam bentuk karung-karung mayat yang ia buang. Dexter selalu membuang kantong mayatnya di satu tempat dasar laut, siapa sangka sebuah rombongan penyelam kemudian menemukan semua mayat buangan Dexter yang terkumpul. Kasus ini segera menghebohkan Miami. Seorang pembunuh berantai baru yang dianggap lebih sadis ketimbang Ice Truck Killer telah muncul. Publik menamai pembunuh misterius itu Bay Harbor Butcher. Turut memperpojok Dexter adalah kepolisian Miami dianggap tidak kompeten dalam menyelesaikan masalah ini sehingga dipanggillah kesatuan FBI di bawah agen terbaik mereka Frank Lundy. Apakah ini akan menjadi akhir bagi sepak terjang Dexter?
Dua tambahan utama dalam season ini adalah Lila dan Lundy, dan keduanya merupakan tambahan yang berharga di tengah anggota lama serial yang makin kompak ini. Lundy membuktikan diri sebagai seorang agen FBI yang luar biasa cerdas dan sudah selayaknya demikian. Untuk menghadapi seorang seberbahaya Dexter diperlukan lawan yang tak kalah cerdasnya. Melihat bagaimana Lundy (hampir) selalu berhasil menganalisa gerak-gerik Dexter, bahkan memprediksi langkah apa yang akan diambil lawannya membuat permainan kucing-tikus antara mereka sepanjang season menjadi menegangkan dan menarik. Lundy juga dihadirkan sebagai love interest bagi Debby yang masih trauma dalam hubungan setelah akhir season lalu. Karena ini bagi saya Lundy adalah sosok yang bisa disayang dan dibenci. Saya benar-benar berharap bahwa ia akan kembali sebagai guest star di episode-episode berikutnya. Untuk Lila, saya merasa perannya di paruh akhir season kedua tidak sebesar season pertamanya. Semula dihadirkan sebagai anti-thesis dari Rita, sosok Lila tepat untuk menghadirkan cinta segitiga dalam kehidupan Dexter. Toh setelah perannya diminimkan di pertengahan season, saya merasa sayang peran Jaime Murray ini harus dicuatkan (secara terpaksa pula) pada akhir season.
Masalah utama yang dihadapi season kedua Dexter ini, ironisnya, adalah season pertamanya sendiri. Season pertama benar-benar nyaris tanpa cela sehingga sulit membayangkan season kedua ini bisa mencapai kualitas yang sama. Kekhawatiran saya terbukti. Walaupun pacing dari season kedua ini lebih cepat karena sudah hampir tidak ada lagi acara ‘murder of the week’ buat Dexter, saya merasa ketegangan demi ketegangan yang dilemparkan pada penonton tidak berhasil memompa denyut jantung seperti halnya season pertama lalu. Tambahan lagi finale season kedua ini sangat – sangat mengecewakan. Segala hal yang sudah dibangun dan ditata dengan baik sampai pada finalenya mendadak dirusak sendiri oleh sepuluh menit pertama episode terakhirnya. Saya ingat ketika menontonnya saya sempat bengong sejenak karena tidak percaya bahwa cara seperti itulah yang diambil oleh para penggarap serial ini.
So my verdict is… Dexter season dua sebenarnya tetap memiliki kualitas yang tinggi. Melihat Dexter menghindari kecurigaan agen Doakes sekaligus menutupi jejaknya dari para anggota FBI adalah kenikmatan tersendiri. Ditambah lagi setiap karakternya lebih dibangun sifat dan kepribadiannya; kelihatannya tema utama dalam serial ini adalah rahasia karena setiap pemain – selain Dexter sendiri – ternyata memiliki rahasia kelam yang mereka sembunyikan. Season kedua memang mengalami penurunan kualitas dari season pertamanya, tapi saya tetap merekomendasikan ini kepada setiap deeply demented viewers.
Score: 8.0
TV Series Details
Creator: James Manos Jr
Cast: Michael C. Hall, Jennifer Carpenter, David Zayas, C.S Lee, Keith Carradine, Jaime Mayas
Running Time: 52 Minutes Per Episode (12 Episodes)

















