Tags: , , , ,

Dexter - The Complete Season Two

Posted on 01 March 2010 by Si Tukang Review

Dexter - The Complete Season Two Poster

Dexter - The Complete Season Two Poster

Oke. Peringatan: kalau kamu belum menonton season satu, akan ada banyak spoiler mengenainya di sini… mengingat mustahil membeda season keduanya tanpa referensi apapun di season satu, terutama plot (season?) twist yang begitu pintar di akhir season. Siap? Welcome back to the world of the Dexter, the dark defender.

Peringatan terakhir: Jangan baca paragraf selanjutnya bila kamu belum nonton season satu! You’ve been warned!

… Dan identitas dari Ice Truck Killer di akhir season satu pun terkuak sudah. Jati diri orang tersebut adalah tunangan Debra, yang dalam season finale juga diketahui kakak (bet you didn’t knew that!) dari Dexter. Karena terpaksa menjaga keselamatan dari adik tirinya itu, Dexter terpaksa membunuh kakak kandungnya dalam konfrontasi yang benar-benar menguras emosi.

Season kedua diawali dengan hancurnya mental baik Dexter maupun Debra. Debra pindah ke rumah sang kakak tiri karena ketakutan tidur sendirian, trauma mengingat orang yang seharusnya menikahi dia ternyata adalah seorang psikopat sadis yang suka memotong-motong tubuh orang. Sebaliknya, Dexter kehilangan insting membunuhnya karena rasa bersalah setelah membunuh sang kakak. Ini diperparah dengan agen Doakes yang curiga kepada Dexter dan terus menguntitnya ke manapun juga. Nafsu membunuh Dexter yang tidak terkendali berbuah fatal ketika ia terus menerus mengalami ganjalan untuk membunuh korbannya. Melihat tingkah laku Dexter yang aneh, Rita sang pacar menyarankannya untuk pergi ke Support Group (tempat di mana orang yang ketagihan narkoba, miras, atau rokok berusaha melepaskan diri dari godaan tersebut dengan cara sharing satu sama lain). Di sana Dexter berkenalan dengan seorang gadis bernama Lila dan karena mereka sama-sama memiliki masalah sakit jiwa, justru tertarik satu sama lain.

Tapi masalah sesungguhnya bagi Dexter muncul dalam bentuk karung-karung mayat yang ia buang. Dexter selalu membuang kantong mayatnya di satu tempat dasar laut, siapa sangka sebuah rombongan penyelam kemudian menemukan semua mayat buangan Dexter yang terkumpul. Kasus ini segera menghebohkan Miami. Seorang pembunuh berantai baru yang dianggap lebih sadis ketimbang Ice Truck Killer telah muncul. Publik menamai pembunuh misterius itu Bay Harbor Butcher. Turut memperpojok Dexter adalah kepolisian Miami dianggap tidak kompeten dalam menyelesaikan masalah ini sehingga dipanggillah kesatuan FBI di bawah agen terbaik mereka Frank Lundy. Apakah ini akan menjadi akhir bagi sepak terjang Dexter?

Dua tambahan utama dalam season ini adalah Lila dan Lundy, dan keduanya merupakan tambahan yang berharga di tengah anggota lama serial yang makin kompak ini. Lundy membuktikan diri sebagai seorang agen FBI yang luar biasa cerdas dan sudah selayaknya demikian. Untuk menghadapi seorang seberbahaya Dexter diperlukan lawan yang tak kalah cerdasnya. Melihat bagaimana Lundy (hampir) selalu berhasil menganalisa gerak-gerik Dexter, bahkan memprediksi langkah apa yang akan diambil lawannya membuat permainan kucing-tikus antara mereka sepanjang season menjadi menegangkan dan menarik. Lundy juga dihadirkan sebagai love interest bagi Debby yang masih trauma dalam hubungan setelah akhir season lalu. Karena ini bagi saya Lundy adalah sosok yang bisa disayang dan dibenci. Saya benar-benar berharap bahwa ia akan kembali sebagai guest star di episode-episode berikutnya. Untuk Lila, saya merasa perannya di paruh akhir season kedua tidak sebesar season pertamanya. Semula dihadirkan sebagai anti-thesis dari Rita, sosok Lila tepat untuk menghadirkan cinta segitiga dalam kehidupan Dexter. Toh setelah perannya diminimkan di pertengahan season, saya merasa sayang peran Jaime Murray ini harus dicuatkan (secara terpaksa pula) pada akhir season.

Masalah utama yang dihadapi season kedua Dexter ini, ironisnya, adalah season pertamanya sendiri. Season pertama benar-benar nyaris tanpa cela sehingga sulit membayangkan season kedua ini bisa mencapai kualitas yang sama. Kekhawatiran saya terbukti. Walaupun pacing dari season kedua ini lebih cepat karena sudah hampir tidak ada lagi acara ‘murder of the week’ buat Dexter, saya merasa ketegangan demi ketegangan yang dilemparkan pada penonton tidak berhasil memompa denyut jantung seperti halnya season pertama lalu. Tambahan lagi finale season kedua ini sangat – sangat mengecewakan. Segala hal yang sudah dibangun dan ditata dengan baik sampai pada finalenya mendadak dirusak sendiri oleh sepuluh menit pertama episode terakhirnya. Saya ingat ketika menontonnya saya sempat bengong sejenak karena tidak percaya bahwa cara seperti itulah yang diambil oleh para penggarap serial ini.

So my verdict is… Dexter season dua sebenarnya tetap memiliki kualitas yang tinggi. Melihat Dexter menghindari kecurigaan agen Doakes sekaligus menutupi jejaknya dari para anggota FBI adalah kenikmatan tersendiri. Ditambah lagi setiap karakternya lebih dibangun sifat dan kepribadiannya; kelihatannya tema utama dalam serial ini adalah rahasia karena setiap pemain – selain Dexter sendiri – ternyata memiliki rahasia kelam yang mereka sembunyikan. Season kedua memang mengalami penurunan kualitas dari season pertamanya, tapi saya tetap merekomendasikan ini kepada setiap deeply demented viewers.

Score: 8.0

TV Series Details
Creator: James Manos Jr
Cast: Michael C. Hall, Jennifer Carpenter, David Zayas, C.S Lee, Keith Carradine, Jaime Mayas
Running Time: 52 Minutes Per Episode (12 Episodes)

Comments (3)

Tags: , , , , , , , , ,

Smallville: Absolute Justice

Posted on 13 February 2010 by Si Tukang Review

Smallville: Absolute Justice Promo Poster

Smallville: Absolute Justice Promo Poster

And when you show yourself to the world, It will be a different age than ours, Clark - A silver age of heroism. That will start when they look up into the sky at you with hope for tomorrow. You will help everyone embrace it.” - Doctor Fate

Saya ingat beberapa bulan yang lalu mamaku bertanya kenapa saya mendadak melonjak-lonjak girang setelah membuka bagian berita situs Kryptonsite. Mamaku kian kebingungan ketika satu-satunya kata yang keluar dari mulut saya seakan sandi yang tak bisa ia pecahkan “JSA! JSA!

Setelah Geoff Johns sukses memenai Legion season lalu, kru Smallville sekali lagi mengontrak sang penulis terbaik DC untuk menangani sebuah episode mengenai Justice Society America. Seperti halnya Legion of Superheroes, JSA bisa dibilang kumpulan deretan superhero DC kelas B yang kurang terkenal. Mengingat Batman dan Wonder Woman adalah properti kelas A DC yang tak boleh dimunculkan di Smallville, mereka telah berusaha memasukkan berbagai superhero kelas B dalam Smallville. Episode Justice di season enam merupakan salah satu contoh di mana para superhero DC bersatu di bawah pimpinan Clark.

Begitu besarnya hype penonton akan episode yang tadinya diberi nama Society, kru Smallville merombak rencana mereka dan memberi Geoff Johns dua episode bertema JSA. Seakan-akan itu belum cukup untuk mengimbangi hype yang ada, dua episode itu kemudian dijadikan satu dalam even TV Movie spesial yang diberi nama: Absolute Justice. Rating Smallville memang melejit tinggi malam itu dan tercatat sebagai rating tertinggi selama season ini, tetapi bagaimana dengan kualitas tontonannya sendiri?

Chloe meradang dan merasa bahwa akhir-akhir ini grup superhero di bawah pimpinannya selalu bertindak secara independen dan tidak terfokus. Clark sibuk membersihkan kota Metropolis seorang diri, Oliver masih belum pulih benar dari trauma kehidupan superheronya, John masih normal setelah menyerahkan kekuatannya menyelamatkan Clark di season tujuh, dan yang lain seperti Black Canary, Flash, Aquaman, dan Cyborg tidak memberinya update apapun. Di tengah kegeramannya, Chloe dihadang seorang misterius yang memintanya untuk mulai mengumpulkan anggota superhero. Kebingungan bagaimana orang misterius itu bisa tahu mengenai dirinya, Chloe mendadak dilempar ke tempat sampah oleh si orang misterius. Terjadi pertarungan brutal yang berakhir dengan terbunuhnya si orang misterius - belakangan diketahui bernama Sylvester Pemberton.

Ketika Chloe dan Clark menggali lebih dalam mengenai siapa Sylvester Pemberton dan kenapa ia memakai kostum dan senjata aneh saat terbunuh, keduanya menemukan bahwa Sylvester merupakan bagian dari kelompok kriminal yang ditangkap oleh polisi bertahun-tahun lalu. Anehnya, ketika Chloe dan Clark melihat lebih dalam pada file-file orang yang ditangkap itu, mereka menemukan bahwa semua anggota kelompok itu ditangkap dengan tuduhan yang terlalu mengada-ada, bahkan bukti rekayasa dari pengadilan… bahwa kelompok di mana Sylvester tergabung itu tidak lain tidak bukan adalah JSA. Siapa sebenarnya orang yang membunuh para anggota-anggota JSA? Bagaimana nasib JSA sekarang?

Fanboy dalam diri saya hendak memberi episode ini nilai setinggi mungkin dan memujinya sampai ke langit. Tapi sisi lain saya menggugat. Inilah sebabnya saya sengaja menunggu dua tiga hari supaya demam fanboyku mereda dan mencoba menonton episode ini sampai tiga kali sebelum saya (merasa) bisa menilainya secara obyektif.

Poin pertama yang akan saya nilai adalah ceritanya. Seorang fanboy seperti saya pastinya puas dengan episode ini. Geoff Johns rupa-rupanya tahu benar bagaimana memuaskan fantasiku. Mulai dari begitu banyak memorabilia anggota JSA sampai celotehan Doctor Fate mengenai anggota-anggota lain JSA menurutku sangat memuaskan. Apalagi Geoff memberikan kejutan di akhir film ini dengan memperkenalkan sebuah tim baru lagi dalam dunia Smallville.

Selain Bendis di Marvel, saya juga merasa kalau Geoff adalah sosok yang mampu menghidupkan karakter-karakternya melalui dialog mereka; ia melakukannya di Legion, dan ia melakukannya lagi di sini. Pembicaraan antara Chloe dan Courtney / Stargirl di Watchtower menyemenkan perbedaan fundamental antara JSA dan JLA. Apabila Justice League of America adalah tim pemberantas kejahatan maka Justice Society of America adalah keluarga. Poin ini adalah suatu hal yang sangat penting bagi para pembaca komik, dan saya bersyukur Geoff mengikutkannya. Satu lagi dialog yang menjadi highlight episode ini adalah perbincangan Doctor Fate dan Clark, lebih tepatnya bagaimana Doctor Fate memberitahukan kepada Clark mengenai ‘fate’nya sebagai Superman kelak. Dengan kesuksesan The Dark Knight, saya melihat bahwa akhir-akhir ini orang cenderung berpikir Batman keren sementara Superman itu katro. Rasa-rasanya mereka lupa bahwa kalau Batman menghadirkan takut di hati para penjahat, Superman adalah sumber inspirasi. Superhero mana lagi yang membuat kamu melihat ke angkasa dan merasakan adanya harapan?

Bagaimanapun, saya harus obyektif. Semua kelebihan penulisan Geoff tadi hanya bisa dimengerti oleh orang yang sungguh tahu mitologi DC; terutama yang berkaitan dengan JSA dan Superman. Untuk orang yang tidak tahu apa-apa, mereka saya jamin akan kebingungan dengan celotehan aneh Doctor Fate lantas menganggapnya sebagai orang sinting semata. Atau ketika Hawkman menjelaskan mengenai bagaimana dirinya kehilangan Hawkgirl yang seakan terlalu menyimpang (baca: tidak logis) dari dunia Smallville. Yang paling fatal adalah kegagalan Geoff menjelaskan mengenai motivasi sang penjahat dalam episode ini. Lain dari balas dendam, Geoff mencoba memasukkan sebuah gambaran akan ancaman yang lebih besar; tapi apakah ini berkaitan dengan ancaman para Kryptonian di bawah pimpinan Zod muda atau tema untuk season baru tidak dijelaskan.

Kedua yang membuat saya kecewa adalah sedikitnya budget yang dicurahkan untuk episode ini. Untuk sebuah TV movie yang dipromosikan habis-habisan, saya berharap adanya lebih banyak efek yang lebih keren di dalamnya. Bahkan kostum-kostum para karakter JSA seperti Hawkman, Doctor Fate, Stargirl, sampai Sandman terasa seperti kostum buatan orang-orang biasa yang hendak bergaya cosplay. Tidak jelek, tetapi jauh dari kesan megah. Sialnya, kostum JSA yang hadir ‘seadanya’ ini malah memeberi kesan katro dan ketinggalan jaman bukan retro klasik seperti yang ditunjukkan oleh Watchmen. Geoff Johns mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa ia menghendaki penampilan JSA seperti Watchmen versi layar kaca, tetapi kualitas kostum di bawah standar menjadikan tampilan mereka kurang menggigit. Begitu juga efek pertarungan di dalamnya. Biasanya Smallville selalu mencoba menipu penonton dengan memotong kebanyakan pertarungan yang ada (ingat pertempuran antara Clark vs Bizarro maupun Doomsday yang mengecewakan?) dan kali ini mereka mencoba untuk menggelar pertarungan antara Stargirl melawan Icicle. Usahanya saya puji, tapi hasilnya mengecewakan. Koreografinya terlihat kaku. Brittney Irvin kelihatannya harus mendapatkan latihan beladiri lebih banyak lagi. Kalau saya sampai merasa adegan Tess dan Lana yang berantem di season lalu lebih seru dibandingkan superhero beradu dengan supervillain maka jelas ada yang salah kan?

Dari segi aktingnya, satu-satunya aktor yang mengecewakan di mataku adalah Michael Shanks yang berperan sebagai Carter Hall aka Hawkman. Walaupun saya tahu karakter Carter di dalam komik termasuk sosok penggerutu yang sering marah dan selalu terlihat kesal, penampilan Michael Shanks terasa terlalu dilebih-lebihkan. Lebih mengherankan lagi mendengar bagaimana sosok darah tinggi seperti dirinya bisa dijadikan pemimpin dalam grup JSA. Sebagai pribadi, saya menilai bahwa Jay Garrick (Flash) dan Alan Scott (Green Lantern lama) yang merupakan karakter kalem dan tidak emosional lebih cocok memimpin JSA.

So my verdict is… seingin-inginnya aku memberikan nilai tinggi buat Absolute Justice, saya tetap harus obyektif dan menilai bahwa film ini hanya akan menggaet perhatian para pecinta komik atau mereka yang masih setia mengikuti Smallville. Bila kalian bukan termasuk dua kategori yang saya sebut di atas, Absolute Justice hanya akan kalian nilai sebagai Watchmen wannabe yang berbudget cekak.

Score: 7.3

Movie Details
Director: Glen Winter & Tom Welling
Cast: Tom Welling, Allison Mack, Erica Durance, Justin Hartley
Running Time: 82 Minutes

Comments (3)

Tags: , , , , , ,

Heroes - The Complete Season Four (Redemption)

Posted on 12 February 2010 by Si Tukang Review

Heroes Season Four (Redemption) Poster Promo

Heroes Season Four (Redemption) Poster Promo

Ah, season keempat Heroes (atau volume kelimanya) ini berakhir juga. Ketika saya menulis artikel ini, belum ada jaminan apakah serial yang mengambil tema orang-orang luar biasa di dalam dunia biasa ini akan dilanjutkan atau tidak. Di satu sisi, rating dari Heroes sudah sedemikian anjloknya hingga sulit membayangkan mereka masih mau direnew stasiun NBC (disaksikan sampai lebih dari 15 juta pemirsa di season pertama, untuk finale season keempatnya tidak sampai 4.5 juta orang menonton!). Toh bagi kalian penggemar Heroes tidak perlu khawatir dulu, keadaan NBC sekarang sangat morat-marit dan ini memberi Heroes sebuah kesempatan buat diperpanjang (apalagi karena serial ini masih cukup ngetop di mancanegara).

Kembali pada review serial ini, saya merasa bahwa tema Redemption untuk volume kelimanya sangat pas. Setelah menurun di season kedua dan makin amburadul di season ketiga, season keempat ini dianggap sebagai masa ‘penentuan’ bagi Heroes. Saya tadinya sempat optimistis saat Bryan Fuller kembali pada akhir season ketiga untuk menaikkan kualitas Heroes. Optimisme itu kembali berayun ke pesimisme ketika Bryan Fuller meninggalkan Heroes bahkan sebelum season keempatnya premiere di layar kaca. Saya menonton Heroes kali ini tanpa ekspektasi apapun dan boleh dibilang cukup kaget menyadari saya lumayan menyukai season ini; kedua terbaik setelah season pertamanya.

Dengan hanya 18 episode di season ini, serial ini tidak lantas ngebut dan memampatkan berbagai macam cerita di dalamnya. Mungkin ini dikarenakan satu season benar-benar dikhususkan untuk satu volume cerita sehingga para karakter di dalamnya diberi ruang untuk berkembang. Bicara soal karakter, Heroes sebelumnya dikritik karena memiliki terlalu banyak karakter yang akhirnya tidak berperan penting dalam cerita. Menyadari kelemahan ini, season Heroes kali ini memiliki cerita yang lebih terfokus dan satu episode biasanya hanya berfokus pada satu dua cabang cerita saja (paling banyak tiga). Penceritaannya juga mengambil tema yang lebih fresh tanpa perlu berkutat pada “lihat masa depan kelam, dan mari kita hentikan masa depan itu!”.

Di antara karakter-karakter baru yang diperkenalkan di season ini, yang paling menarik perhatian saya adalah Samuel Sullivan, pemimpin dari sebuah rombongan karnival misterius yang berisi orang-orang yang memiliki kekuatan. Samuel yang diperankan oleh Robert Knepper (terkenal sebelumnya sebagai T-Bag dari Prison Break) selalu berhasil mencuri spotlight setiap kali ia muncul di layar. Kelicikannya, kehebatannya memanipulasi orang-orang di sekelilingnya, sampai wajahnya yang culas membuat Samuel menjadi musuh paling berbahaya setelah Sylar (Sylar season pertama) yang pernah dihadapi oleh para jagoan-jagoan kita.

Di antara deretan karakter lama, dua aktor akhirnya dikecilkan porsinya dalam season keempat ini. Pertama adalah Sendhil Ramamurthy yang karakter Mohinder Sureshnya hanya sesekali tampil. Bisa dimengerti, mengingat bahkan para penulisnya sudah tidak tahu mau membawa cerita Mohinder ke mana lagi. Yang kedua, Adrian Pasdar, sedikit lebih rumit. Di akhir season ketiga lalu, karakter yang diperani oleh Pasdar, Nathan Petrelli, tewas dibunuh oleh Spock… eh Sylar (Zachary Quinto). Melalui proses-proses ajaib tertentu, Sylar dihipnotis dan diubah bentuknya menjadi Nathan. Tentu saja gampang ditebak bahwa Sylar Nathan ini suatu saat akan tersadar dari cuci otaknya, dan ini menjadi tema sentral di paruh awal season keempat.

Alasan kenapa saya mengatakan season keempat kali ini jauh lebih baik dari season sebelumnya adalah konsistensi para karakternya. Tidak seperti di season lalu di mana aliansi tiap tokoh berpindah di setiap episode, tokoh di season kali ini memiliki alasan yang kuat ketika hendak melakukan sesuatu. Belum sempurna dan masih penuh dengan lubang logika memang, tapi setidaknya sebuah langkah ke arah yang betul patut dipuji. Saya juga merasa bahwa Tim Kring dan tim direksi di Heroes menyadari bahwa ada potensi NBC menghentikan serial ini sehingga finale untuk season keempat pun digarap supaya memberi ‘sense of closure’ di dalamnya (walau mereka juga menempelkan label “To Be Continued” seandainya NBC kembali mengontrak Heroes). Saya pribadi berharap bahwa lebih baik Heroes dihentikan di sini saja. Serial ini sudah terlalu banyak kehilangan penggemarnya dan saat ia mampu naik lagi secara kualitas merupakan saat yang tepat untuk menutupnya.

So my verdict is… Season keempat Heroes di luar dugaan merupakan season yang cukup kuat untuk standar Heroes. Karakter Samuel Sullivan adalah nafas segar yang diperlukan oleh serial yang telah sekarat ini. Toh kalaupun season ini lebih baik, saya tetap berharap supaya Heroes dicancel. Lebih baik dikenang karena selesai kuat daripada hilang gara-gara rating rendah ditambah cercaan karena kualitas buruk.

Score: 7.5

TV Series Details
Creator: Tim Kring
Cast: Greg Grunberg, Masi Oka, Ali Larter, Zachary Quinto, Milo Ventimiglia
Running Time: 43 Minutes Per Episode (18 Episodes)

Comments (5)

Tags: , , , , , , , , , ,

The Top 10 Performance in Glee Volume One

Posted on 10 February 2010 by Si Tukang Review

Are you a gleek?

Are you a gleek?

Sudah biasa kalau saya lagi demam sama sesuatu saya bakalan bikin list terfavoritnya saya mengenai serial itu. Ketika lagi demam Lost, saya menciptakan top 10 karakter favoritku di Lost. Ketika lagi demam Chuck, saya menyusun list momen-momen paling memorable antara Chuck dan Sarah. Sekarang ketika saya tengah demam Glee, sudah layak dan sepantasnya kalau saya menyusun list mengenainya… Dan bicara tentang Glee, kesuksesan serial ini tentu tak bisa dilepaskan dari musiknya.

Bicara jujur, sebenarnya saya hendak menunggu sampai berakhirnya season satu sebelum membuat list top 10 ini. Toh setelah saya memikirkan ulang, kelihatannya dari 13 episode volume pertama saja saya sudah kewalahan diminta memilih 10 lagu terbaik. Maklum, setiap episode Glee rata-rata memiliki lima hingga enam lagu yang berarti totalnya lebih dari 50 lagu untuk 13 episode.

Pemilihan lagu dalam list ini bisa saja berbeda untuk setiap gleek (toh, namanya musik bisa relatif bukan di telinga tiap orang?). Bagi saya pribadi, pemilihan berdasarkan dua kriteria utama: kualitas penampilan (penyanyian dan koreografi) serta relasi lagu tersebut dengan jalan cerita. So without further ado, this is my top ten Glee music performance!

10. Keep Holding On - Episode 07 (By: Avril Lavigne, Performed By: New Directions)
Why? Karena ini merupakan bentuk dukungan Glee Club kepada Quinn Fabray. Menurutku ini adalah salah satu momen pivotal dalam serial ini. Sebelum episode ini, Quinn masih ragu-ragu memilih antara klub cheerleader atau Glee. Toh setelah berita mengenai kehamilannya tersebar ke seluruh sekolah, ia sadar bahwa ia tidak bisa lagi menyembunyikannya - dan ia sudah pasti ditendang keluar dari klub cheerleader. Itulah sebabnya momen di mana para sahabatnya mendukungnya lewat lagu menjadi sesuatu yang sangat mengena… di mana seorang ratu sekolah kini menemukan para sahabat sejati dari para underground sekolah. Itu juga yang saya rasa melatar-belakangi kenapa Quinn mati-matian membela klubnya di akhir episode 12.

09. Imagine - Episode 11 (By: John Lennon, Performed By: New Directions)
Why? Dalam episode ini, anggota Glee - bahkan Will sang guru - merasa kurang pede akan penampilan mereka yang terlalu menonjolkan kekuatan vokal daripada koreografi gerakan. Pada akhirnya Will melakukan keputusan kontroversial dan memutuskan bahwa ‘gaya’ lebih penting dari kualitas suara. Untung saja para penyanyi tuli dari sekolah tuna rungu kemudian menyanyikan lagu Imagine. Walau mereka bernyanyi tanpa nada (ingat, mereka tuli), mereka kemudian mengingatkan kepada anggota Glee bahwa yang paling penting bukan sekedar performa semata, tetapi bagaimana hatimu dalam menyanyi. Beberapa kritikus saya baca mengatakan kalau anggota Glee tidak sopan karena kemudian ikut maju bernyanyi - seakan menyerobot kesempatan para penyanyi tuli. Saya tidak setuju. Bagi saya itu adalah tanda mereka berterima kasih karena telah membukakan kembali telinga mereka yang sempat ‘tuli’. It’s a beautiful song. It’s a beautiful moment. And yes, I did cry.

08. Someone to Love - Episode 05 (By: Queen, Performed By: New Directions)
Why? Episode lima bagi saya adalah episode di mana anak-anak Glee untuk pertama kalinya menjadi padu dalam satu grup campuran underground dan populer. Tadinya hubungan tersebut sempat retak karena Rachel merasa dianak-tirikan oleh Will (yang sebenarnya hanya ingin memberi kesempatan sama pada semua muridnya). Hal tambah diperumit dengan kedatangan April yang mencuri spotlight dari Rachel. Toh, saat April pergi di akhir episode, Rachel sadar bahwa tempatnya adalah bersama dengan para anggota Glee dan kembali untuk menolong mereka di detik-detik terakhir. Melihat semuanya tampil berbarengan, saya sadar bahwa secinta apapun saya kepada April, saya memang ingin melihat para anggota Glee sebagaimana adanya mereka sekarang.

07. Don’t Rain on My Parade - Episode 13 (By: Funny Girl, Performed By: Lea Michelle)
Why? Sebenarnya hampir semua lagu di finale ini membuat saya terkesima, tetapi karena begitu ketatnya persaingan hanya dua yang bisa saya masukkan dalam list top 10ku. Don’t Rain on My Parade tampil sebagai nomer penyelamat yang meloloskan anggota Glee dari Sectional. Setelah dicurangi oleh Sue, moral para anggota Glee langsung terpuruk karena semua lagu mereka dicuri oleh para rival. Untung saja ada Rachel. Rachel yang memang adalah bintang Glee menyatakan kalau sudah pernah mempelajari lagu ini sejak umur 4 tahun! Dan performanya yang begitu meyakinkan di sini menjadi pembuka sempurna untuk kemenangan sekolah McKinley.

06. And I Am Telling You I’m Not Going - Episode 13 (By: Dreamgirls, Performed By: Amber Riley)
Why? Amber Riley yang memerankan karakter Mercedes banyak menyanyikan lagu-lagu R&B dalam 13 episode pertama Glee. Bust Your Windows, Don’t Make Me Over, sampai Gold Digger semuanya adalah lagu-lagu yang saya sukai. Tapi di antara semua lagu itu, yang paling membekas dan menggetarkan hati saya adalah lagu And I Am Telling You I’m Not Going. Saya sangat kecewa bahwa kesempatan Mercedes untuk menampilkan lagu ini dalam kompetisi Sectional dirampok, padahal ia sudah mati-matian berlatih hingga Rachel pun mengakui bahwa Mercedes lebih layak membawakan lagu itu ketimbang dirinya. Dan melihat penampilannya di awal episode 13… siapa yang tidak berpendapat sama?

05. Mash-Up: It’s My Life / My Confession - Episode 05 (By: Bon Jovi / Usher, Performed By: Boys Side)
Why? Keren! Benar-benar keren! Sekali lagi saya ulangi: keren! Dalam duel Mash-Up antara sisi cewe dan cowo anggota New Directions, saya memilih sisi cowo. Walaupun Mash-Up para cewe sendiri tidak jelek-jelek amat, tetapi tidak bisa dipungkiri kalau penampilan para cowo yang begitu enerjik (walaupun dalam konteks cerita mereka sebenarnya memakai doping) membuat saya ikut bersemangat mendengarkan lagu mereka. Tidak hanya mereka berhasil memadukan dua lagu menghentak ini dengan sempurna, mash-up ini juga ditunjang dengan penampilan koreografi mereka yang super keren (sorry, I just overused the word ‘keren’). Saya langsung bertepuk tangan ketika penampilan mereka usai!

04. Single Ladies - Episode 04 (By: Beyonce, Performed By: Chris Colfer)
Why? Episode yang berfokus pada Kurt ini dibuka dengan penampilannya yang langsung mengundang gelak tawa. Chris Colfer yang tampil dengan gaya bancinya itu merenggut hati saya ketika berdansa ala Beyonce. Memakai baju terusan hitam latex yang ‘seksi’ benar-benar bikin geleng-geleng kepala. Melihat para anggota American Football berdansa sebelum mulai permainan strategi mereka juga saya jamin membuat para penonton nyengir. Rasa-rasanya memang cuma Glee yang bisa memasukkan humor edan seperti ini tanpa harus menjadikan serialnya terasa jayus. Sedikit catatan: jangan ditonton saat lagi makan, bisa menghilangkan nafsu makan.

03. Defying Gravity - Episode 09 (By: Wicked, Performed By: Chris Colfer & Lea Michelle)
Why? Sebuah lagu yang sarat akan emosi. Kurt yang sudah terang-terangan mengakui dirinya sebagai seorang gay sangat ingin menyanyikan lagu Defying Gravity walaupun Will sudah memberikan bagian itu kepada Rachel. Demi adilnya (terutama setelah paksaan dari ayah Kurt), Will akhirnya membuka kesempatan audisi bagi keduanya. Sama-sama diminta menyanyikan lagu Defying Gravity, Will menyerahkan hak pilih kepada voting anggota Glee lainnya. Saya tidak mau banyak spoiler mengenai siapa yang akhirnya menang - tetapi implikasinya pada cerita - terutama saat dialog Kurt dengan sang ayah seusai penampilannya menunjukkan hubungan ayah-anak yang saling pengertian dan lebih dari sekedar sebuah penampilan lagu.

02. Maybe This Time - Episode 05 (By: Cabaret, Performed By: Kristin Chenoweth, Lea Michelle)
Why? Halo Kristin Chenoweth! Sejak dicancelnya Pushing Daisies, saya sangat merindukan suara merdu Kristin. Terus terang saja, mendengar Kristin tampil sebagai bintang tamu di Glee-lah yang merupakan salah satu alasan saya untuk tertarik akan serial ini. Di sini Kristin berperan sebagai April Rhodes, seorang murid tua bangka McKinley yang belum lulus. Merasa bahwa April bisa mengajari murid-muridnya, Will mengajaknya bergabung dalam klub untuk menggantikan Rachel. Editing lagu yang menunjukkan bagaimana Kristin (April) dan Lea (Rachel) berduet menyanyikan lagu Maybe This Time seakan menunjukkan kualitas suara kedua artis yang merupakan penyanyi Broadway ini. Kristin tampil dengan kematangannya sementara Lea sendiri tidak mau kalah kelas. Saya tidak tahu siapa yang kualitas vokalnya lebih apik, tetapi paduan keduanya adalah duet terbaik sepanjang 13 episode pertama Glee!

01. Don’t Stop Believing - Episode 01 (By: Journey, Performed By: New Directions)
Why? Sebenarnya episode pertama Glee tidak langsung sempurna di mata saya. Para aktor dan artis yang berperan dalamnya juga masih berusaha mengenali karakter mereka sebagaimana penonton mencoba mengenali mereka. Beberapa lagu intro saat mereka audisi masuk Glee pun rasanya biasa saja. Suara mereka memang di atas rata-rata, tetapi kesan saya hanya seperti menonton sebuah episode audisi American Idol saja. Dengan cerita awal yang biasa ditambah nyanyian yang biasa-biasa, saya hampir saja melabeli Glee sebagai serial yang terlalu dilebih-lebihkan. Lalu datanglah Don’t Stop Believing dari Journey. Saat itulah mata saya terbuka akan potensi Glee yang sesungguhnya. Dan bulu kuduk saya merinding. Dan saya tidak bisa berhenti menonton marathon 12 episode setelahnya. Dan saya menjadi seorang gleek. That song… that performance… It’s life-changing. Hanya mengetik bagian ini saja membuat saya hendak memutar ulang episode pertama dan menonton cuplikannya lagi. In fact, that’s what I’m gonna do right away.

Nah, jadi itulah sepuluh performa terbaik volume pertama Glee bagiku. Bagaimana denganmu? Setuju? Berbeda pendapat? Ada lagu favorit kalian yang tidak masuk? Ayo para gleek, mari kita diskusikan!

Comments (4)

Tags: , , , , ,

Glee - The Complete Volume One: Road to Sectionals

Posted on 07 February 2010 by Si Tukang Review

Glee Title Card

Glee Title Card

Saya tahu saya seorang gleek (buat yang tidak tahu artinya, itu adalah kosakata baru campuran dari glee dan geek: gleek, got it?) ketika saya menonton episode keenam Glee dan turut berdansa dan bernyanyi di depan layar kaca. Dalam dua hari terakhir ini, saya menonton volume pertama Glee dua kali berturut-turut secara maraton and boy oh boy, it’s just so darn awesome. Saya jarang mengatakan ini di awal sebuah review tapi whoever you are, you owe it to yourself to watch this musical TV series. Glee langsung menghapus mimpi burukku akan musical yang tadinya hadir dalam bentuk film Nine.

Ehem, kembali pada Glee, ketika serial ini awalnya ditayangkan di Fox, banyak yang pesimis kalau ia bisa menjadi populer. Memang American Idol masih merupakan reality show terpopuler di Amerika sana, tetapi serial televisi yang berformat musical rasa-rasanya baru pertama kali ini saya dengar. Dan sudah menjadi rahasia umum apabila sebuah serial televisi yang temanya tidak biasa (ingat Pushing Daisies?) sulit untuk bisa sukses di Amerika sana. Oleh karena itu, Glee membuat begitu banyak pihak terkejut ketika ia mampu mencetak kesuksesan luar biasa sampai menyabet banyak penghargaan dalam ajang Golden Globe.

Will Schuester, seorang guru Spanyol di McKinley High School mendengar bahwa Glee Club (klub olah vokal / koor) mereka kini tidak lagi memiliki pembimbing dan akan ditutup. Karena Will dulu adalah seorang anggota Glee, ia merasa terpanggil untuk membagikan cintanya kepada anak-anak SMU sekarang ini. Masalahnya kini dunia sudah berbeda dengan jaman Will dulu. Saat itu masih ada berbagai film dansa dan dance serta olah vokal dianggap sebagai sesuatu yang cool dan keren. Sekarang tidak lagi begitu. Hanya anak-anak tidak populerlah yang mau bergabung dengan Glee. Lebih parahnya lagi, klub cheerleader di bawah pimpinan guru bengis Sue Sylverster sangat membenci Will karena dianggap mencuri dana klubnya. Satu-satunya cara bagi Will untuk menaikkan pamor bagi klub Glee adalah dengan terus memenangkan kompetisi dan berlomba di ajang nasional.

Apa yang membuat saya jatuh cinta dengan Glee walaupun saya tidak pernah sampai suka-suka amat dengan tiga film High School Musical? Mengingat ini adalah serial musical, jelas saya menaruh pengharapan tinggi dengan tembang-tembang yang dinyanyikan di dalamnya. Dalam hal ini Glee lulus dengan nilai 10. Ryan Murphy, Brad Falchuk, dan Ian Brennan yang menggagas serial ini memberi banyak perhatian mengenai musik apa saja yang akan dipakai dalam setiap episode Glee. Hasilnya lagu-lagu dalam serial ini terasa tidak hanya mengena dengan tema episodenya tetapi juga merupakan gabungan dari oldies dan lagu-lagu top 40 yang dinyanyikan ulang oleh salah satu personel atau gabungan New Directions (nama grup Glee). Entah berapa kali saya merasa merinding hanya melihat dan mendengarkan performa mereka saat menyanyi. Itu jugalah yang membuat saya sebagai penonton terus mendukung New Directions yang terbilang underdog dalam kompetisi olah vokal ini.

Sebuah musical tidak akan berhasil hanya akan bergantung dengan musik-musiknya semata. Toh kalau saya hanya mau lihat atau mendengarkan musik saya kan tinggal beli DVD konser. Untung saja Glee juga memiliki cerita yang fantastis dan langsung menjerat hati saya. Acungan jempol untuk kejelian memilih anggota Glee. Hampir semua anggota Glee datang dari kelas dan strata sosial high school yang berbeda. Yang pertama bergabung adalah mereka yang kurang populer sebelum kemudian para anggota cheerleader dan American Football yang semula mengolok mereka pun turut bergabung. Nah, ini uniknya Glee, kalau di kebanyakan serial TV yang saya tonton: si jahat cheerleader memiliki stereotipe cantik tetapi jahat dan suka mengejami si baik. Bahkan mungkin akan mencari segala macam cara untuk mengejami si baik supaya tidak bisa jadian dengan cowo idamannya. Betul bukan? Itu hampir menjadi resep setiap sinetron bahkan drama-drama Jepang / Korea / Taiwan yang pernah kutonton. Untungnya Glee tidak begitu. Ya memang ada beberapa karakter stereotipe di awal-awal season, tetapi seiring dengan berlalunya episode kita menggali lebih dalam karakter mereka dan menyadari bahwa semuanya adalah manusia dan bahkan karakter-karakter yang kurang populer pun memiliki kelemahan dan kelebihan mereka sendiri. Ini membuatku nyaman menonton karakter-karakter ini berinteraksi. Karena mereka terasa hidup. Siapa yang di dalam masa SMUnya tidak punya teman gay yang bergulat mengenai ke mana orientasi seksnya? Atau siapa yang tidak punya teman yang tanpa sengaja hamil di luar nikah karena begitu-begituan sampai terlewat batas? Rumit? Ruwet? Tapi bukankah memang begitu kehidupan masa SMU?

So my verdict is… Glee adalah serial TV baru terbaik tahun ini. Terlepas dari apakah kamu merupakan penggemar musik atau tidak, kamu harus memberi kesempatan untuk menonton serial ini. Saya pribadi tidak sabar menantikan datangnya 13 April 2010 di mana volume kedua sekaligus sembilan episode terakhir season pertama ditayangkan. So what are you waiting for? Come join me be a gleek!

Score: 10

TV Series Details
Creator: Ryan Murphy, Brad Falchuk, Ian Brennan
Cast: Dianna Agron, Chris Colfer, Jane Lynch, Jayma Mays, Kevin McHale, Lea Michele
Running Time: 43 Minutes Per Episode (13 Episodes)

Comments (17)

Tags: , , ,

Ougon Kishi Garo (Garo: Savior in the Dark)

Posted on 23 January 2010 by Si Tukang Review

Garo Opening Title Card

Garo Opening Title Card

(Review Ditulis Di Tahun 2007)

Where there is light, shadow lurk and fear reigns… yet by the blade of Knights, mankind was given hope

Beware the Horror

Bagi yang tidak mengerti mengenai apa arti kata tokusatsu mungkin akan mengerti Kamen Rider atau Ultraman. Tepat. Garo adalah sebuah serial tokusatsu; itu lo serial di mana karakter utamanya berubah menjadi jagoan pembela kebenaran yang membela pihak lemah tertindas. Kebanyakan orang hanya mengenal kata tokusatsu ini sebatas keluarga Kamen Rider dan Ultraman (dan ironisnya dicap sebagai tontonan anak kecil semata). Hal itu sangat disayangkan; karena komunitas tokusatsu terus berkembang di Jepang dan tidak lagi terbatas untuk anak kecil semata.

Ougon Kishi Garo atau Garo Savior in the Dark sebagai salah satu tontonan tokusatsu yang didesign untuk orang dewasa. Tidak percaya? Coba saja tonton film yang banyak menyuguhkan aksi kekerasan (potong kepala contohnya) bahkan terkadang sampai adegan telanjang bulat! Karena banyaknya adegan yang tidak layak ditonton anak kecil inilah Garo ditayangkan pada malam hari. Cobalah menonton serial ini, dan saya yakin kalau sudut pandang anda bahwa tokusatsu hanya untuk anak kecil akan berubah.

Alkisah di dalam dimensi dunia Garo, ada monster-monster yang mengincar hidup manusia. Monster itu dinamakan Horror. Ironisnya adalah para Horror ini tercipta oleh niat jahat manusia seperti dengki, iri, dan segala perasaan negatif lainnya itu. Sebuah kiasan yang menarik yang menunjukkan bahwa pada akhirnya yang mengkonsumsi manusia jugalah sisi negatif mereka.

The Legend of Makai Knight

Apakah manusia sudah kehilangan harapan dan hanya menunggu diri mereka dimangsa horror satu demi satu? Untungnya tidak. Masih ada harapan bagi umat manusia yang hadir dalam sosok Makai Knight. Di setiap distrik daerah selalu ada satu orang yang terpilih menjadi sosok Makai Knight; para knight inilah yang memiliki kemampuan untuk mengalahkan para horror dan menghabisi mereka. Makai Knight inilah yang menjadi harapan dari para umat manusia.

Di antara deretan para Makai Knight sosok terkuat mereka mendapatkan julukan Garo dengan baju jubah emas yang bercahaya terang. Sosok Garo inilah yang dilihat oleh seorang gadis muda bernama Kaoru dahulu. Kaoru ingat bahwa di masa kecil dahulu horrors menyerangnya, namun ia beruntung karena satu sosok ksatria emas ini berhasil mengalahkannya.

Apa yang dilihat Kaoru dahulu kini tinggal kenangan belaka, tersisa dalam sebuah buku cerita yang dikarang oleh ayahnya (mengisahkan mengenai cerita perjuangan sang ksatria emas). Yang membuat Kaoru bingung sekaligus gundah adalah karena halaman terakhir dari buku cerita ayahnya dibiarkan kosong. Apa sebenarnya yang dipikirkan ayahnya? Toh, ketimbang memikirkan hal seperti itu Kaoru lebih bingung tentang bagaimana dia harus mencari penghidupan dan mendapatkan uang untuk menyambung hidupnya sehari-hari. Maklum, hidup sebagai pelukis seniman berarti pendapatan Kaoru tidak tetap.

Ironis bagi Kaoru, tepat ketika dia hendak menggelar pameran lukisan pertamanya ia justru diserang oleh Horror lagi. Beruntung bagi Kaoru kembali seorang ksatria emas menampakkan diri di hadapannya. Kaoru tercengang melihat bagaimana tangguhnya ksatria emas itu menghabisi Horror yang ada. Lebih tercengang lagi ketika sosok itu nantinya berubah menjadi pria seusianya yang nanti ia kenal dengan nama Saejima Kouga.

Saejima Kouga adalah sosok pria yang dingin dan tertutup. Seumur hidupnya ia hanya mendedikasikan hidupnya untuk memburu Horror dan berlatih terus untuk menjaga fisiknya. Singkatnya, dia adalah kebalikan dari Kaoru yang jenaka. Kendati dia orang yang keras, hati dari Saejima Kouga tulus. Ia melihat Kaoru yang terkena cipratan darah horror pertama yang ia habisi. Peraturan mengharuskan bahwa ia membunuh Kaoru karena manusia yang terkontaminasi darah horror tidak boleh dibiarkan hidup.

Toh pada akhirnya Kouga tidak tega dan membiarkan Kaoru hidup. Alasannya sederhana. Ia menganggap Kaoru adalah umpan untuk menarik perhatian para horror lainnya. Bau manusia yang telah terkontaminasi memang akan menarik perhatian para horror. Tentu saja ia menyimpan rahasia ini dari Kaoru.

Nah, karena Kouga tidak mau dia diserang oleh Horror maka ia mengajak Kaoru ke dalam rumahnya. Dari sini dimulailah petualangan Kaoru untuk mengenal lebih jauh mengenai Kouga. Kouga mungkin bisa membasmi kegelapan yang mengancam orang lain, tetapi jelaslah kehadiran Kaoru di sini berguna untuk menerangi gelap yang ada di hatinya.

The World of Garo

Seperti yang saya katakan tadi. Garo bukanlah tipe cerita Kamen Rider atau Ultraman biasanya. Mereka yang mengenal tokusatsu klasik macam Lionmaru mungkin akan lebih membandingkan kedua serial ini mengingat Garo juga mengambil bentuk seekor serigala / harimau ketimbang serangga atau alien.

Di awalnya saya merasa Garo sangat refreshing setelah saya jenuh menonton cerita Kamen Rider dan Ultraman. Tetapi menjelang episode belasan saya mulai lelah mengikuti Garo. Apa pasal? Tendensi Garo untuk mengulang-ulang ceritanya membuatnya polanya terasa membosankan. Polanya sederhana: muncul seorang horror baru dengan kemampuan khusus – Horror ini mengincar Kaoru – Kouga datang menyelamatkan dia – ulangi rentetan cerita ini di minggu mendatang dengan pola variasi yang sedikit berbeda.

Seakan itu tidak cukup, Garo juga memiliki adegan-adegan aksi yang sangat buruk. Hal ini sebenarnya sangat saya sayangkan karena koreografi pertarungan dalam Garo sangat baik. Saya sangat menikmati setiap pertarungan yang dilakukan oleh Saejima Kouga, tetapi saya memilih menutup mata untuk melihat ketika ia mulai berubah menjadi Garo. Apa pasal? Kendati adegan fightingnya sebenarnya memiliki koreografi yang luar biasa – eksekusinya sangat buruk karena kekurangan budget. Saya hampir tidak pernah melihat animasi pertarungan yang lebih buruk dari ini. Inilah kelemahan besar Garo; terlalu banyak mengandalkan efek 3D dalam pertarungannya. Tidak semua adegan yang menggunakan efek 3D digarap dengan buruk, setidaknya episode-episode awal masih terlihat apik – kendati kualitas ini tidak bisa terus dipertahankan pada episode-episode berikutnya.

Karakter yang dibangun dengan baik pada pertengahan cerita sekali lagi menjadi makin buruk menjelang pengakhirannya. Peran Kaoru utamanya makin terreduksi menjadi tukang jerit-jerit. Saya merasa kecewa. Karakter-karakter lain kendati tidak separah Kaoru tidak bisa mengembangkan diri mereka lebih jauh lagi karena terbatas oleh skrip yang ada.

Apakah Garo memang hanya memiliki sisi negatif saja? Salah. Seperti yang saya katakan, adegan pertarungan Garo selama bentuk manusia adalah salah satu bentuk pertarungan terbaik yang pernah saya tonton, dan itu bukan satu-satunya kelebihan dari serial ini. Musik tema utama Garo yang diubah menjadi bentuk orkestra menjadi salah satu musik terbaik yang terus saya pasang di computer saya bahkan beberapa minggu setelah saya menyelesaikan serial ini. Ini adalah salah satu musik terheroik tokusatsu yang pernah saya dengar.

Saya juga memuji bagaimana Garo bisa menciptakan realm baru yang mengambil banyak unsur mitologi sana-sini. Contohnya adalah watchdog bagian timur yang menjadi penunjuk jalan bagi Kouga adalah referensi dari Cerberus, sang anjing kepala tiga yang menjadi penjaga pintu neraka. Saya berharap kalau Garo memang dibuat season duanya, ia akan mengeksplorasi lebih jauh mengenai realm yang telah diciptakannya ini. Buat mereka yang menyukai tokusatsu dan sudah bosan dengan Kamen Rider atau Ultraman, silahkan coba sensasi baru bersama Garo!

Score: 7.0

TV Details
Director: Keita Amemiya
Cast:

Hiroki Konishi (Kouga Saejima / Golden Fang Garo)
Mika Hiiji (Kaoru Mitsuki)
Rei Fujita (Rei Suzumura / Silver Fang Zero)
Yukijirou Hotaru (Gonza)

Genre: Drama
Year: 2005 (25 Episodes, 2 OVA, 1 Special)
Running Time: 25 Minutes (50 Minutes for OVA)

Comments (0)

Tags: , , , , , , ,

Dexter - The Complete Season One

Posted on 17 January 2010 by Si Tukang Review

Dexter Season One Cover

Dexter Season One Cover

Dexter Morgan sepertinya adalah sosok anti-hero paling unik yang pernah saya tonton. Sepertinya baru satu ini serial TV yang menjadikan seorang pembunuh berantai (serial killer) sebagai jagoan utamanya. Iya, kalian engga salah baca: Dexter Morgan adalah seorang pembunuh berantai. Tentunya ada beberapa kisah yang menjadikan orang yang berseberangan dengan hukum sebagai jagoannya, seperti Phantom Thief Kid karangan Aoyama Gosho atau Cat’s Eye karangan Tsukasa Hojo. Tapi mereka paling-paling jadi pencuri; yang terang-terangan mencabut nyawa orang ya baru Dexter ini. Tidak heran serial ini tidak ditayangkan di sembarang network tetapi di Showtime; stasiun TV premium di Amerika. Sudah begitupun serial ini masih mendapat banyak tentangan orang dan orang tua karena dianggap mengagungkan sosok pembunuh berantai sebagai jagoannya.

Dexter pada season pertama ini mendasarkan ceritanya pada novel karangan Jeff Lindsay (yang dipadukan dengan unsur orisinil) yang pertama: Darkly Dreaming Dexter. Dexter sendiri bisa dibilang sebagai karakter yang unik karena walaupun ia adalah seorang pembunuh berantai, ia juga petugas forensik kepolisian. Bisa dibilang kalau darah adalah spesialisasinya. Tugas Dexter di lapangan adalah menganalisa muncratan darah di lokasi ketika sebuah pembunuhan terjadi. Dengan begitu para polisi akan lebih mudah mereka ulang bagaimana kejadian itu terjadi, atau dengan cara apa korban dibunuh, atau sudah berapa lama sejak korban mati. Dexter sendiri bukannya membunuh tanpa sebab dan ia sepenuhnya sadar akan hal itu. Dalam monolog tiap-tiap episode Dexter sering menyebutkan bagaimana ia merasa jiwanya kosong dan memiliki keinginan kuat untuk membunuh. Seperti kata-kata pepatah lama: untuk mengerti pemikiran seorang pembunuh, kamu harus menjadi seorang pembunuh.

Apa yang membuat saya sebagai penonton terasa terombang-ambing antara membenci atau mencintai karakter Dexter adalah prinsip kode membunuh yang ia ikuti. Seperti Robin Hood yang hanya mencuri dari orang miskin atau Kurosagi yang hanya menipu penipu lain, Dexter hanya membunuh pembunuh lain yang lolos dari jeratan hukum. Dexter diangkat menjadi anak asuh oleh seorang polisi bernama Harry Morgan yang sejak kecil sudah menyadari nafsu membunuh Dexter yang besar. Sadar bahwa dia tidak bisa mencegah Dexter, ia akhirnya mengarahkan ‘talenta’ Dexter ke arah menjunjung keadilan. Jadilah sosok Dexter Morgan yang penuh kontradiksi. Di satu saat ia membantai para pembunuh lain yang lolos dari hukum sementara di saat lain ia harus pintar menyembunyikan jejaknya supaya tak ketahuan para koleganya di kepolisian.

Format penceritaan dalam season pertama Dexter yang berdurasi sepajang 12 episode ini terbagi menjadi dua bagian. Hampir setiap episode (terutama dalam paruh pertamanya) biasanya menghadapkan Dexter dengan pembunuh mana yang akan ia habisi, bagian kedua adalah sebuah jalan cerita panjang yang tersebar selama satu season dan makin intensif memasuki episode ketujuh dan memuncak pada dua episode terakhir. Sepanjang satu season ini, Dexter dan para polisi memburu seorang pembunuh berantai sadis yang bahkan lebih hebat dari Dexter. Pembunuh berantai yang nantinya mendapat gelar “Ice-Truck Killer” ini adalah antagonis utama. Siapa yang lebih cerdik pada akhirnya? Dexter atau sang musuh? Ini salah satu kekuatan utama serial Dexter, ketika kamu selesai menonton satu season, kamu merasa kalau kamu bisa berhenti mengikuti serial tersebut karena sudah menyelesaikan satu cerita besar, atau kamu bisa lanjut mengikuti beberapa remah-remah yang sudah disebarkan pencipta serial ini untuk memancing masuk ke season berikutnya.

Karakter Dexter ini dimainkan secara sangat meyakinkan oleh Michael C. Hall sehingga tidak heran ia bolak-balik masuk dalam jajaran nominasi aktor pria terbaik dalam Golden Globe maupun Emmy Awards. Di satu dua episode awal, peran Michael C. Hall masih terasa agak kagok, mungkin karena Dexter sendiri bukan karakter yang gampang diperankan, tetapi masuk ke episode tiga dan berikutnya, ia makin menemukan ritmenya untuk menghidupkan Dexter. Saya berani bilang kalau satu dari alasan utama Dexter begitu memikat adalah karena Michael C. Hall bisa menyeimbangkan dua wajah Dexter yang kosong sekaligus yang penuh kepura-puraan seperti halnya orang normal.

Dan serial ini tidak sekedar disokong oleh sosok Dexter sendiri tetapi juga pemeran-pemeran lainnya. Tadinya saya mengira kalau Dexter ini bakalan jadi serial TV one-man show semacam The Mentalist. Untungnya tidak begitu, Dexter memang cerdas, tetapi rekan-rekan kerjanya di kepolisian pun jauh dari tolol. Mereka semua adalah polisi kompeten yang sigap menyelesaikan kasus bahkan tanpa bantuan Dexter. Walau ini membuat kita jadi jarang terperangah akan aksi Dexter (karena yang lain juga bisa melakukan hal yang sama asal memiliki bukti cukup), ini meningkatkan ketegangan karena kapanpun Dexter bisa ketahuan oleh para rekan kerjanya kalau ia lengah. Saya juga suka bahwa serial ini secara rata menyorot dan memajukan posisi semua karakternya. Pada akhir season satu, kalian akan melihat bahwa semua karakter memiliki perkembangan karakter yang signifikan dibanding diri mereka di awal season. Di antara mereka, saya khusus hendak memuji Jennifer Carpenter yang berperan cemerlang sebagai Debra Morgan - adik angkat Dexter. Kalau kalian tidak asing dengan nama ini, itu karena Carpenter adalah artis yang pertama membuat saya ketakutan menonton film horror melalui perannya di Emily Rose dalam film The Exorcism of Emily Rose. Tenang, dia tidak kesurupan lagi kok di sini.

Dexter adalah serial yang harus kamu tonton bila kamu penggemar serial-serial misteri dan drama pembunuhan yang dilihat dari sisi lain. Walaupun episode pertama dan keduanya agak membosankan, begitu masuk ke episode ketiga saya hampir tidak bisa berhenti untuk terus menonton maraton Dexter ini. Satu seasonnya yang hanya berdurasi 12 episode pun cocok karena plotnya tidak terasa dipanjang-panjangkan (bayangkan dengan The Mentalist yang hampir satu season penuh episode filler yang tidak memajukan cerita sama sekali). Kesimpulannya: season pertama Dexter sebagai salah satu season TV terbaik yang saya tonton.

Score: 9.8

TV Series Details
Creator: James Manos Jr.
Cast: Michael C. Hall, Jennifer Carpenter, David Zayas
Running Time: 52 Minutes Per Episode (12 Episodes)

Comments (8)

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Kamen Rider Decade

Posted on 11 January 2010 by Si Tukang Review

Kamen Rider Decade Poster

Kamen Rider Decade Poster

Tak terasa sudah sepuluh tahun berlalu semenjak serial Kamen Rider direboot ulang dengan pendekatan yang lebih modern dan realistis (disebut juga era Heisei untuk membedakannya dengan era Showa yang ditutup Kamen Rider Black RX). Diawali dengan Kamen Rider Kuuga, kemudian berlanjut ke Kamen Rider Agito, Kamen Rider Ryuki, Kamen Rider Faizu, Kamen Rider Blade, Kamen Rider Hibiki, Kamen Rider Kabuto, Kamen Rider Den-O, sampai Kamen Rider Kiva, tahun ini adalah peringatan khusus sepuluh tahun Kamen Rider. Mungkin terbujuk dengan reuni para Ultraman yang sukses besar, Kamen Rider Decade menjanjikan konsep nostalgia yang akan membawa balik kesembilan Kamen Rider sebelumnya.

Tsukasa Kadoya adalah seorang pemuda yang berubah menjadi Kamen Rider Decade. Konon sembilan dunia Kamen Rider sebelumnya kini tengah melebur menjadi satu dan ini akan berakibat fatal sebab akan menghancurkan kesembilan dunia dan Kamen Rider di dalamnya. Tsukasa dibantu oleh temannya Natsuki berpetualang ke sembilan dunia tersebut untuk mencoba memperbaiki anomali yang terjadi pada dunia Kamen Rider dan mencegah menyatunya sembilan dunia. Ironisnya, oleh sosok misterius bernama Narutaki, Decade justru disebut sebagai penyebab sekaligus katalis penyatuan dunia - dan bila para Kamen Rider lain ingin dunia mereka selamat, mereka harus mengalahkan Decade. Bagaimana kebenarannya?

Mirip dengan konsep multiverse DC adalah apa yang terlintas di benakku ketika pertama kali menonton serial ini. Semula saya senang karena berharap bisa bertemu kembali dengan karakter-karakter lama favoritku di sini. Saya beranggapan kalau setiap episode yang bersangkutan dengan dunia Kamen Rider tertentu seharusnya menampilkan cameo Kamen Rider jaman tersebut. Ternyata impian saya tidak terkabul. Kamen Rider di sini disebut Another World / Another Reality Rider. Karakternya mirip dan jalan cerita dunianya memiliki kesamaan dengan serial yang didasarinya, tetapi tidak ada karakter lama yang kembali nongol di sini. Sebagai contoh adalah Godai Yuusuke yang adalah pemeran utama dalam Kamen Rider Kuuga dan diperankan oleh Joe Odagiri. Dalam serial Decade ini dia diperankan oleh Ryouta Murai dan berubah nama menjadi Onedera Yuusuke.

Perubahan-perubahan dalam dunia Kamen Rider ini beberapa saya nilai berhasil, beberapa lagi biasa, dan beberapa lagi gagal. Yang paling mengecewakan bagiku adalah dunia Kamen Rider Ryuki dan Kamen Rider Faizu sementara yang paling berhasil karena menangkap esensi dari serialnya adalah Kamen Rider Den-O; ini tidak mengherankan mengingat pemeran dalam serial Kamen Rider Den-O kembali ikut serta. Toh bagiku itu bukan berarti semua Another World Rider gagal. Alasan utama kenapa sebagian besar Another World Rider terasa kurang greget adalah masa eksposnya yang terlalu sebentar. Setiap dunia hanya dijelajahi oleh Decade dalam kurun waktu dua episode sehingga belum penonton akrab dengan dunia tersebut kita sudah dibawa berlalu menjelajah ke dunia berikutnya. Persis sekali seperti catchphrase Tsukasa “I’m just a passing-through Kamen Rider

Selepas 20 episode yang terkadang terasa hit atau miss di mataku, serial ini mulai meningkatkan tempo dengan menjelajahi dunia-dunia yang tidak pernah dikenal sebelumnya, mulai dari dunia Rider orisinil kedua serial ini: Kamen Rider Diend, sampai dunia sentai Samurai Sentai Shinkengers (yang di Jepang ditayangkan bersamaan dengan serial ini). Toh, kejutan paling menyenangkan (sekaligus adegan favoritku) justru terjadi setelah dunia-dunia orisinil tersebut berlalu. Lompati sisa paragraf ini kalau tidak ingin SPOILER: karena Tsukasa dan kawan-kawannya berpetualang ke dunia Kamen Rider Black dan Black RX. Kejutan yang lebih besar adalah Tetsuo Kurata sang Kotaro Minami menyetujui untuk berperan sebagai cameo di sini. Melihat kedua Kamen Rider Black dan Black RX sama-sama berubah dan bertarung bersama hanya bisa dideskripsikan dengan dua kata bagiku: pure. epicness. Mungkin buat kalian yang lahir di era 90an tidak akan mengerti apa yang begitu spesial darinya, tetapi buat generasi 80an dijamin kelojotan kesenangan menonton adegan tersebut. Asal tahu saja, usai menonton adegan itu, saya langsung mereplaynya lagi sambil turut bergaya di depan layar monitor: MANTRA AJI! eh… HENSHIN!

Karena ini adalah pertarungan antar dunia di mana Kamen Rider Decade bisa mengambil kemampuan para Rider-Rider sebelumnya, banyak sekali pertarungan-pertarungan yang tadinya hanya muncul di fanfic Tokusatsu bisa dimunculkan di sini. Siapa yang tidak pernah membayangkan betapa seru seandainya Kamen Rider Kiva dan Kamen Rider Knight yang sama-sama mengambil bentuk kelelawar bertarung? Atau siapa yang lebih cepat antara Clock-Up Kabuto dengan Faiz Axel Form. Pertanyaan itu kini bisa terjawab melalui serial ini.

Perlu diingat buat kalian yang langsung tancap gas untuk menonton serial ini, jangan terlalu membandingkannya dengan serial Kamen Rider sebelumnya atau kalian akan kecewa. Anggap saja ini sebuah alternatif dari dunia Kamen Rider yang kalian kenal dan kalian akan puas olehnya. Juga ending menggantung dari serial berjumlah 31 episode ini akan diakhiri dalam film layar lebar yang lebih gila Kamen Rider Decade: All Riders vs Dai-Shocker. Yap, semua Kamen Rider era Heisei dan Showa akan turut gabung dalam crossover ambisius ini!

Final Dialogue
Dai-Shocker Henchman A: How dare you write this article?! Who are you?
Me: Heh… Me? I’m just a passing-through writer! HENSHIN!

(Sori lebay mode-nya lagi On. Gini nih jadinya kalau maraton 31 episode dalam waktu dua hari).

Score: 8.5

TV Series Details
Creator: Shotaro Ishinomori
Cast: Masahiro Inoue, Kanna Mori, Renji Ishibashi, Ryouta Murai
Running Time: 24 Minutes Per Episode (31 Episodes)

Comments (5)

Tags: , , , , ,

Two and a Half Men - The Complete Season One

Posted on 07 November 2009 by Si Tukang Review

Two and a Half Men Season One Cast

Two and a Half Men Season One Cast

Sudah lama saya penasaran akan serial sitkom yang satu ini. Selain karena diperankan oleh Charlie Sheen, juga karena serial ini secara konstan merupakan salah satu serial sitkom yang ratingnya paling tinggi di Amerika. Setelah serial ini mencapai season ketujuhnya di Amerika sana, saya baru mulai mengejar dan menonton mulai dari season pertama. Apakah memang Two and a Half Men selucu itu?

Charlie (namanya sama dengan Charlie Sheen) bisa dibilang termasuk orang paling beruntung di dunia. Kok bisa? Bayangkan saja, sehari-harinya dia berkencan dengan banyak gadis cantik, mengendarai Jaguar dan mobil mewah lainnya, dan duit seakan-akan terus mengalir ke kantongnya tanpa ia perlu bekerja. Kok bisa? Karena pekerjaan Charlie adalah seorang penulis jingle lagu iklan. Praktis setelah selesai menggarap jingle dan jingle tersebut dipakai, Charlie tinggal kipas-kipas sambil terima uang hasil royalti. Nyaman dan sempurna. Yang Charlie tidak tahu adalah segera saja kenyamanannya itu akan dirusak…

… ironisnya oleh adiknya sendiri: Alan. Alan mengalami krisis besar dalam kehidupannya setelah ia diusir oleh istrinya yang merasa bahwa ia seorang lesbian. Terpaksa Alan dengan anaknya Jake tinggal di tempat Charlie. Dari sini kelucuan demi kelucuan mulai terjadi karena Charlie tidak biasa dengan anak kecil (berusia 10 tahun) yang ada di rumahnya. Alan sendiri sifatnya bertolak belakang dengan Charlie - di mana bila Charlie serba berantakan, Alan serba teratur. Bagaimanakah kehidupan tiga cowo dalam satu rumah ini selanjutnya?

Saya suka dengan Two and a Half Men. Oke, mungkin saja sitkom ini tidak selucu Friends atau sebermakna How I Met Your Mother (setidaknya untuk season pertamanya) tetapi saya tetap bisa mengikutinya dari episode ke episode sambil tersenyum lebar dan sesekali terbahak melihat canda para karakternya. Saya rasa alasan kenapa sitkom ini tidak bisa diterima segampang Friends untuk penonton di luar Amerika adalah karena lelucon yang mereka pakai lebih menyangkut kultur Amerika. Salah satu contoh utama adalah ketika temanku menonton ia merasa heran dengan Charlie dan Alan yang sering kali menyumpahi ibu mereka kena kecelakaan atau tewas - tanpa mengerti bahwa itu adalah sindiran tersembunyi buat orang Amerika yang memang jarang akur dengan orang tua mereka. Sebaliknya, mengingat hubunganku dengan orang tuaku bisa dibilang jauh dari sempurna, lelucon seperti itu langsung bisa kutangkap dengan baik.

Sitkom ini juga sitkom yang paling sedikit memiliki karakter utama di dalamnya. Bila dalam kebanyakan sitkom ada sekurang-kurangnya lima atau enam karakter di dalamnya, Two and Half Men bisa dibilang mengandalkan duet Charlie Sheen dan Jon Cryer saja. Soal Charlie Sheen, saya yakin tidak perlu penjelasan mengingat dunia komedi juga bukan barang baru baginya (ingat dua film Hot Shots?). Sebaliknya Jon Cryer mungkin masih nama asing, tetapi tampangnya yang mirip dengan Dono Warkop versi Amerika (itu pujian) membantu karakternya untuk tampil lucu dan menjadi bulan-bulanan sang kakak dan anak. Walaupun keduanya tampil dengan baik sekali, saya tetap menyayangkan deretan pendamping yang kurang dimaksimalkan. Padahal, semua deretan karakter pendukung dalam Two and Half Men benar-benar gila dan sableng. Mulai dari Berta yang adalah pembantu rumah tangga yang galak, Jake anak Alan yang ‘dewasa’ lebih cepat dari umurnya, Evelyn ibu dari keduanya yang super modis - super cerewet - dan selalu bisa membuat kedua anaknya sakit kepala, Rose si stalker Charlie, sampai Judith - mantan istri Alan yang masih bingung apakah dia lesbi atau straight. Seandainya saja semua karakter ini dimaksimalkan potensinya, bisa jadi Two and Half Men langsung melejit menjadi salah satu sitkom favoritku.

Singkatnya, season pertama dalam Two and Half Men menjanjikan. Asalkan kalian tidak mencari humor yang berbau slapstick dan tahu kurang lebih mengenai budaya barat, niscaya kalian akan bisa menikmati serial ini.

Score: 7.9

TV Series Details
Creator: Chuck Lorre & Lee Aronsohn
Cast: Charlie Sheen, Jon Cryer, Angus T. Jones, Conchata Ferrell
Running Time: 22 Minutes Per Episode (24 Episodes)

Comments (9)

Tags: , , , , , , ,

Dollhouse - The Complete Season One

Posted on 11 October 2009 by Si Tukang Review

Dollhouse Poster

Dollhouse Poster

Ketika Joss Whedon mengumumkan serial barunya Dollhouse, publik menyambut dengan sukacita. Tidak heran. Joss Whedon memiliki penggemar fanatik setelah ia menggarap serial-serial sukses seperti Buffy The Vampire Slayer maupun spin-offnya Angel. Bahkan serialnya yang kurang berhasil seperti Firefly pun mendapat pengikut setia setelah diluncurkan versi DVDnya. Whedon menjanjikan Dollhouse akan memiliki konsep yang unik sehingga makin membuat para pecintanya meneteskan air liur. Dalam waktu singkat, serial ini langsung menjadi serial yang paling dinantikan tahun lalu.

Konsep yang diusung oleh serial ini sangat unik. Pernahkah kamu bermimpi ingin menciptakan seseorang yang sesuai dengan yang kamu inginkan? Misalnya kamu ingin seorang pacar yang jago bermain game, super cantik, sekaligus mencintaimu dengan tulus dan apa adanya. Atau kamu ingin punya bodyguard yang memiliki kemampuan berkelahi layaknya Jackie Chan? Semua impianmu itu bisa dikabulkan bila kamu memesan di Dollhouse - sebuah organisasi misterius yang keberadaannya hanya diketahui segelintir orang dan dianggap mitos oleh masyarakat awam.

Dalam Dollhouse terdapat banyak orang yang disebut Active. Mereka adalah orang-orang yang sudah dihapus ingatannya sehingga kemampuan nalar mereka tidak lebih seperti anak kecil belaka (anggap saja seperti kamu kena hipnotis). Apabila klien memesan kepribadian tertentu, Dollhouse kemudian menanamkan kepribadian sesuai permintaan klien kepada Active tertentu. Active yang sudah ditanami kepribadian itu kemudian berstatus sebagai Doll dan bertujuan memenuhi keinginan sang klien, apapun itu mulai dari melindungi sang klien, mencuri barang, sampai bermesraan di ranjang dengannya.

Salah satu dari Active di tempat tersebut adalah Echo, seorang gadis yang sebelum menjadi Active di Dollhouse bernama Caroline. Dalam season pertama, penonton akan diajak menelusuri apa-apa saja yang bisa terjadi di Dollhouse, siapa sebenarnya Caroline, dan perdebatan moral di balik benar tidaknya sebuah tempat macam Dollhouse itu.

Ketika berita serial Dollhouse diperpanjang dan Terminator: The Sarah Connor Chronicles dihentikan, saya kecewa luar biasa dengan keputusan stasiun Fox. Masalahnya Dollhouse selama ini terus menerus dicerca kritik sementara Terminator dipuji-puji. Toh sebelum saya menonton Dollhouse sendiri, saya tidak mau banyak komentar. Saya berpikir bahwa mungkin ekspektasi para kritikus berlebihan sehingga ketika Dollhouse tidak bisa memenuhi harapan tersebut mereka berbalik menjelek-jelekkannya. Berangkat dari rasa was-was itu jugalah saya menonton Dollhouse dengan ekspektasi biasa-biasa saja. Dan tak disangka-sangka, saya masih juga kecewa bukan main dengan serial terbaru Joss Whedon ini. Kok bisa?

Di tengah persaingan dunia TV yang kini begitu ramai, merupakan hal yang vital bagi sebuah serial untuk membangun sebuah tontonan yang menarik. Itu tidak pernah saya rasakan dengan Dollhouse. Jangan salah, saya setuju bila konsep Dollhouse menarik, tetapi entah kenapa saya tidak pernah merasa kalau Joss Whedon memaksimalkan konsep-konsep tersebut. Kebanyakan episode malahan sibuk dengan bagaimana Whedon berusaha menautkan misi yang diemban oleh para Doll dengan kehidupan mereka di Dollhouse. Perbandingan-perbandingan ini mungkin menarik di satu dua episode pertama tetapi bila diulang-ulang terus rasanya jadi hambar dan menyebalkan. Tempo cerita mulai bergerak cepat setelah paruh kedua (mulai episode enam ke atas) dengan membuka makin banyak tabir misteri di balik Dollhouse tetapi kebanyakan penonton (termasuk saya) sudah kadung kecewa dengannya. Toh kenaikan dalam hal kualitas itu lebih bersifat dari ‘hampir tidak tahan kutonton’ menjadi ‘lumayan’ bukannya ‘luar biasa’ atau ‘spektakuler’.

Satu hal utama yang membuat saya sulit merasa terkait dengan serial ini adalah titik reset yang ditekan setiap episodenya. Echo, sang karakter utama, adalah seorang Doll sehingga setiap kali memulai episode baru Echo kembali menjadi karakter ‘kosong’ yang siap diisi oleh kepribadian baru. Terjebak seperti konsep perbandingan yang saya tulis di atas, di satu dua episode awal saya tertarik melihat sosok Echo seperti apa yang dimunculkan kali ini dan misi apa yang ia jalankan (sekaligus untuk mengerti konsep cukup rumit yang diajukan Dollhouse) - tetapi lambat laun hal ini jadi membosankan - yang terparah, karakter Echo seperti stagnan di tempat. Sulit merasa simpati untuknya (walau Eliza Dushku sudah mati-matian tampil multi peran untuk tiap episode) karena kita tahu bahwa di episode berikutnya karakter tersebut sudah tak ada lagi. Selama season pertama, Echo memang digambarkan sebagai satu-satunya Active yang memiliki malfungsi dan perlahan-lahan mulai mengingat kehidupannya sebagai Caroline. Toh, proses ini terlalu kecil sehingga secara keseluruhan terasa insignifikan.

Dollhouse mungkin selamat untuk ditayangkan season keduanya mungkin bisa disebut sebagai keajaiban tetapi saya percaya bila Joss Whedon tidak buru-buru memperbaiki kualitasnya, itu akan menjadi keajaiban terakhir yang dialami Dollhouse sebelum ditutup.

Score: 5.0

TV Series Details
Creator: Joss Whedon
Cast: Eliza Dushku, Harry Lennix, Fran Krantz, Tahmoh Penikett, Enver Gjokaj
Running Time: 48 Minutes Per Episode (12 Episodes + 2 Unaired Episodes)

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here