Archive | Movie

Tags: , , , , ,

Sin City

Posted on 12 March 2010 by Si Tukang Review

Sin City Poster

Sin City Poster

(Review Ditulis Di Tahun 2007)

Graphic novel Frank Miller pertama yang kubaca adalah 300. Saya tertarik akan novelnya setelah filmnya sukses membuat saya ternganga berulang-ulang karena visualisasi dan narasinya yang luar biasa. Ketika itu saya belum menonton Sin City. Setelah saya menonton Sin City (terlambat hampir dua tahun - saya tahu), saya sadar bahwa inilah translasi terbaik dari sebuah graphic novel. Sin City adalah transisi terbaik dari graphic novel ke film yang pernah saya tonton selama ini. Adalah sebuah dosa bagi mereka yang mengaku pecinta film dan melewatkan sebuah karya yang begitu artistik ini.

Basin City adalah sebuah kota yang hina. Saking hinanya, mereka memberi julukan Sin City - kota dosa - untuk Basin City. Basin City bisa dibilang sebagai Sodom dan Gomora yang tercipta melalui pikiran dari Frank Miller. Sebuah kota yang dikendalikan oleh seorang pastur yang mata keranjang. Sebuah kota di mana manusia buruk rupa dan buruk hati hidup berdampingan. Sebuah kota di mana ada kanibal dan para hooker menguasai bagian kota tertentu. Kalau anda bisa membayangkan seperti apa itu semua, maka rasanya anda telah berhasil membayangkan seperti apakah Sin City itu.

Graphic novel Sin City sendiri terdiri dari beberapa story arc dengan cerita yang sepenuhnya berbeda. Film ini memutuskan untuk mengangkat empat story arc dan menyatukannya ke layar lebar - lebih tepat mungkin tiga story arc dan satu cerita prolog. Ketiga story arc itu adalah: That Yellow Bastard, A Hard Goodbye, dan The Big Fat Kill. Satu cerita prolog di sini diangkat dari cerita pendek Sin City: The Customer is Always Right, dan ditutup dengan sebuah adegan baru yang ditulis secara khusus untuk film ini.

Pernah melihat sebuah film dengan begitu banyak nama besar bertebaran di dalamnya? Rasanya tidak. Bahkan film seperti Ocean’s Eleven yang sudah merupakan kumpulan bintang-bintang tenar saja tidak bisa mengumpulkan bintang tenar sebanyak ini berkumpul dalam satu film. Dan mereka semua berhasil menghidupkan peran mereka masing-masing. Mickey Rourke, Bruce Willis, dan Clive Owen masing-masing adalah karakter utama dalam tiap story arc mereka yang berhasil merenggut simpati penonton karena gaya dan watak mereka yang luar biasa. Jessica Alba jelas bisa membuat mata para lelaki ternganga melihat keseksiannya berdansa ‘hampir‘ telanjang di sini. Tapi mungkin scene stealer sesungguhnya di sini adalah Elijah Wood dan Devon Aoki. Saya tidak bisa (dan tidak mau) mendeskripsikannya lebih jauh di sini. Adalah keharusan bagi kalian untuk menonton sendiri dan melihat bagaimana dua karakter yang tidak berbicara sama sekali mampu meninggalkan kesan begitu mendalam di hatiku.

Di luar penampilan tiap karakternya yang luar biasa, nilai unik lain dari Sin City adalah tampilannya yang begitu artistik. Mereka yang membaca graphic novelnya pasti tahu kalau Sin City digarap dengan nuansa hitam putih dan hanya berwarna pada bagian-bagian eksplisit (seperti merah pada darah, dan warna kulit kuning dalam segmen That Yellow Bastard). Karena perkembangan teknologi, maka ini berhasil ditranslasikan secara sempurna dalam film ini. Menonton film ini bagaikan dibawa kembali menonton film noir dengan warna-warna tertentu - atau mungkin lebih tepatnya dibawa untuk membaca graphic novel Sin City di layar lebar karena storyboardnya diangkat oleh Robert Rodriguez persis dari graphic novel Sin City.

Nilai unik lain dari film ini adalah bagaimana Robert Rodriguez tetap bertahan dengan dialog-dialog dan monolog seperti pada graphic novelnya. Film ini banyak menggunakan monolog dalam penyampaian ceritanya karena karakter-karakter utama dalam setiap cerita sering meng’ucap’kan pikirannya kepada penonton. Keberanian Rodriguez memakai kata-kata sesuai novelnya layak diacungi jempol dan ini membuat filmnya semakin terasa nuansa ‘graphic novel’nya. Dan itu bukan satu-satunya kejutan yang ada. Frank Miller juga hadir lewat film ini sebagai cameo (yang berkesan), dan Quentin Tarantino turut hadir sebagai sutradara satu adegan tertentu di film ini (salah satu adegan dalam segmen The Big Fat Kill).

Sin City membuat saya menahan nafas hampir sepanjang film dan terlarut dalam keasyikan masuk di kota penuh dosa. Ini adalah sebuah film yang saya sarankan kepada siapapun yang menginginkan sebuah tontonan yang bermutu. Banyak kadar kekerasan, unsur seksual, bahkan darah dan sumpah serapah yang bertebaran di sepanjang film ini tetapi itu tidak membuatnya menjadi kampungan karena dikemas dengan sangat menarik. Kalau anda mencari sebuah film yang memiliki skenario bermutu, penampilan para aktor yang berkelas, dan sutradara nyentrik dengan gaya visualisasi menawan maka Sin Citylah tempat yang harus anda tuju!

Score: 9.0

Movie Details
Director: Frank Miller & Robert Rodriguez
Cast: Jessica Alba, Devon Aoki, Josh Hartnett, Benicio Del Toro, Clive Owen, Bruce Willis, Elijah Wood, Mickey Rourke
Running Time: 120 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , ,

Sahara

Posted on 09 March 2010 by Si Tukang Review

Sahara Poster

Sahara Poster

(Review Ditulis Di Tahun 2005)

Sahara sedikit banyak akan mengingatkan kita pada National Treasure. Film bertema petualangan yang dirilis pada akhir tahun lalu dan dibintangi oleh Nicholas Cage. Dengan dukungan satu bintang kocak sebagai sidekick tokoh utama, dan seorang gadis seksi yang menemani sang jagoan dalam petualangannya - makin kental sudah aroma National Treasure di dalamnya ! Film ini berkali-kali mengalami penundaan dan pengubahan dalam jalan ceritanya, sehingga membengkakkan dananya menjadi 130 Juta US Dollar. Ironisnya, film dengan budget raksasa ini bukannya dirilis di masa summer di mana film besar mengeruk uang, melainkan di bulan April yang notabene adalah bulan ‘mati suri’ industri perfilman sebelum opening summer pada bulan Mei.

Sahara mengangkat seorang karakter petualang dari novel sebagaimana halnya Quatermain (dari novel King Solomon’s Mine). Namanya Dirk Pitt. Dirk Pitt ini tergabung dalam sebuah organisasi pencarian laut bernama NUMA. Dalam misi terakhirnya, ia menemukan sebuah koin dari sebuah kapal karam yang konon hilang di benua Afrika negara Mali. Karena itu, ia bersama temannya Al segera menuju ke sana untuk mencari kebenaran kabar tersebut. Seorang dokter WHO yang hendak meneliti mengenai wabah aneh yang menyebar juga ikut serta dengan mereka. Dokter seksi Eva Rojas ini kemudian terjebak dalam sebuah konspirasi politik dari diktator Mali papan atas. Tentu saja Dirk dan Al tidak membiarkan Eva sendiri. Mereka segera membantu dan menemukan kengerian yang sesungguhnya. Sebuah ‘wabah’ yang kalau tidak segera ditangani bisa jadi menyebar ke seluruh dunia !!

Sahara menawarkan sebuah jalan cerita petualangan yang melintasi benua Afrika. Karena letaknya di benua yang berbeda dari Amerika, maka otomatis kesan petualangannya jauh lebih terasa ketimbang National Treasure. Lagipula film ini jauh lebih mementingkan aroma petualangan yang ada di dalamnya, ketimbang National Treasure di mana unsur memecahkan kode jauh lebih dominan sebagai plot utama. Sayangnya plot utama film ini agak kacau balau. Mungkin karena ekspektasi penonton yang lebih mengharapkan pencarian akan dikecewakan perubahan plot di pertengahan film. Untungnya saja, aroma petualangan yang mulai tercemar misi penyelamatan dunia dapat diselamatkan oleh chemistry pas antara Dirk dan Al. Keduanya bersama membuat para penonton lebih segar dalam mengikuti jalan cerita yang ditawarkan. Penampilan Penelope Cruz di sini sayangnya tidak jauh dari penyedap mata saja. Banyak memang plot hole dalam film semacam ini, sayangnya Sahara bahkan melebihi batas-batas kewajaran dalam plot hole. Adegan terdampar dalam gurun saja sudah cukup konyol, bagaimana kalau ditambahi memasukkan sarung tangan dalam jok mobil di mana sarung tangan itu berkemungkinan terisi virus mematikan ? Itu hanya beberapa saja yang perlu saya sebutkan, karena ada begitu banyak kejadian nyeleneh yang mungkin membuat kita geleng-geleng sambil berharap melupakannya.

Satu hal unik yang mungkin layak dicatat adalah pembawaan musik latarnya. Silih berganti kita disuguhi lagu pop dan lagu kultural Afrika. Herannya, perpaduan ini malah cukup menyegarkan. Cukup enak mendengar lagu-lagu bertipe Afrika yang secara langsung dimedley dengan beat-beat dari lagu pop. Saya harus akui ini termasuk ide yang lumayan original dan tergarap dengan baik pula. Perpaduan musik ini cukup menolong film ketika tengah memasuki masa jenuhnya.

Secara keseluruhan, Sahara sebenarnya berpotensi untuk dirilis pada musim summer box office, entah apa yang ada di otak para produsernya sehingga merilisnya malah di saat seperti ini. Toh, Sahara tetap layak ditonton bila anda sekedar mencari tontonan segar tanpa perlu banyak memakai otak.

Score: 6.5

Movie Details
Director: Breck Eisner
Cast: Matthew McConaughey, Steve Zahn, Penelope Cruz
Running Time: 124 Minutes

Comments (3)

Tags: , , , , ,

And the Oscar goes to…

Posted on 08 March 2010 by Si Tukang Review

academy-awards-82

Perayaan Academy Awards tahun 2010 sudah berlangsung pagi tadi. Bagi kalian yang kelewatan menonton acaranya, demikianlah deretan para pemenangnya. Apakah jagoan yang kalian unggulkan berhasil mendapat piala Oscar?

BEST PICTURE
- The Hurt Locker

DIRECTING
- Kathryn Bigelow for The Hurt Locker

BEST ACTRESS IN A LEADING ROLE
- Sandra Bullock for The Blind Side

BEST ACTOR IN A LEADING ROLE
- Jeff Bridges for Crazy Heart

BEST ACTOR IN A SUPPORTING ROLE
- Christoph Waltz for Inglourious Basterds

BEST ACTRESS IN A SUPPORTING ROLE
- Mo’Nique for Precious

BEST WRITING - ORIGINAL SCREENPLAY
- Mark Boal for The Hurt Locker

BEST WRITING - ADAPTED SCREENPLAY
- Geoffrey Fletcher for Precious

BEST ANIMATED FEATURE FILM
- Up

BEST FOREIGN LANGUAGE FILM
- The Secret in Their Eyes (Argentina)

BEST DOCUMENTARY - FEATURE LENGTH
- The Cove

BEST DOCUMENTARY - SHORT FILM
- Music by Prudence

SHORT FILM - LIVE ACTION
- The New Tenants

SHORT FILM - LIVE ACTION
- Logorama

BEST ACHIEVEMENT IN CINEMATOGRAPHY
- Avatar

BEST ACHIEVEMENT IN ART DIRECTING
- Avatar

BEST ACHIEVEMENT IN COSTUME DESIGN
- The Young Victoria

BEST ACHIEVEMENT IN MAKEUP
- Star Trek

BEST ACHIEVEMENT IN VISUAL EFFECTS
- Avatar

BEST ACHIEVEMENT IN EDITING
- The Hurt Locker

BEST ACHIEVEMENT IN SOUND EDITING
- The Hurt Locker

BEST ACHIEVEMENT IN SOUND MIXING
- The Hurt Locker

BEST ACHIEVEMENT IN MUSIC - ORIGINAL SCORE
- Michael Giacchino for Up

BEST ACHIEVEMENT IN MUSIC - ORIGINAL SONG
- Crazy Heart - “The Weary Kind”

Pendapat pribadiku mengenai hasil Academy Awards 2010 ini
- Yang paling membuat gw tertarik itu The Blind Side, karena gw senang sekali dengan film-film olahraga inspirational seperti ini. Kudos buat Ms Sandra Bullock yang punya keberanian datang ke Razzie Award karena dia jadi artis pertama yang dapat Razzie dan Academy Awards di tahun yang sama. Dan kalau boleh jujur, gw bakalan bilang kalau All About Steve is NOT THAT BAD. You want a bad movie and a bad actress? Silahkan lihat Saw VI. Silahkan lihat Dragonball: Evolution. Silahkan lihat Street Fighter: Legend of Chun-Li. Silahkan lihat Halloween II. Silahkan lihat Friday the 13th. Silahkan lihat The Final Destination. Go Sandra Bullock go!

- Up memenangkan dua penghargaan sebagai film animasi terbaik dan musik original score terbaik. SUdah layak dan sepantasnya. Musiknya Michael Giacchino di awal film kalau didengarkan sampai sekarang juga bakalan terkenang abadi sebagai bukti kisah cinta dan kehidupan dua insan manusia. It’s just beautiful. Pribadiku sih sebenarnya juga menjagokan Up memenangkan Best Picture… tapi mungkin belum saatnya. Gw akan terus menantikan terjadinya saat itu!

- Kecewa untuk Best Original Screenplay dan Best Adapted Screenplay. Gw menjagokan Inglourious Basterds dan Up in the Air untuk kedua bagian itu. Terutama untuk Up in the Air, gw merasa kecewa banget film ini dishut-down dengan begitu kejamnya oleh panitia Oscar. Enam nominasi, nol piala. Duh. Gw belum nonton Precious, but gw akan menaikkan standar penilaian gw secara ini film yang ‘konon’ mampu mencuri Adapted Screenplay dari salah satu film favorit gw tahun lalu.

- Avatar juga pulang dengan malu. Sebelumnya dijagokan bakalan menyapu penghargaan kategori teknis dan bersaing ketat dengan The Hurt Locker dalam dua piala paling bergensi (Film dan Sutradara terbaik) nyatanya harus berbagi dalam kategori teknis (Best Sound Editing dan Mixing semua disambar The Hurt Locker). Lebih menyesakkan lagi adalah bagaimana film terbaik dan sutradara terbaik harus direlakan James Cameron kepada mantan istrinya. Kathryn Bigelow menjadi sutradara wanita pertama yang memenangkan Oscar! Selamat! Dan setahu saya The Hurt Locker ini termasuk film pemenang Oscar yang pendapatannya sangat - sangat rendah (tidak sampai 20 Juta USD!!!). Saya tidak ingat kapan terakhir kalinya ada film pemenang Oscar yang meraup dollar lebih sedikit darinya!

Well, that’s all. Sampai jumpa di tahun depan dalam ajang Academy Awards berikutnya!

Comments (6)

Tags: , , , , , ,

Detective Conan Movie 7: Crossroad in the Ancient Capital

Posted on 08 March 2010 by Si Tukang Review

Detective Conan Movie 7: Crossroad in Ancient Capital Poster

Detective Conan Movie 7: Crossroad in Ancient Capital Poster

Beberapa tahun yang lalu ketika saya pertama kali menonton Crossroad in the Ancient Capital, saya langsung mengecapnya sebagai yang terburuk dari tiga film yang saya tonton (Countdown to Heaven dan The Phantom of Baker Street adalah dua film yang saya tonton sebelumnya). Saat itu saya merasa filmnya terlalu membingungkan dan karakter favorit saya: Heiji Hattori terlalu dibodohkan sehingga levelnya terasa seperti di bawah - bukannya sebanding dengan Shinichi. Tentu saja pengalaman saya mengenai kebudayaan Jepang dan film tidak secetek saat pertama kali menonton dulu. Jadi bagaimana pengalaman menonton ulang film ini?

Terjadi sebuah pembunuhan berantai di beberapa kota besar di Jepang. Dari penyelidikan awal, polisi menemukan bahwa mereka semua memiliki kesamaan digit angka dalam namanya sekaligus merupakan anggota komplotan bandit Yoshitsune. Karakter Yoshitsune dan Musashibo Benkei adalah salah satu figur sejarah yang sangat terkenal di jaman feudal Jepang dulu dan memiliki pengetahuan mendasar akan mereka akan sangat membantu membuatmu mengapresiasi film ini. Kalau kalian malas membaca sejarah Jepang, membaca manga Shanaou Yoshitsune yang dikarang Sawada Hirofumi (sudah diterbitkan sampai tamat di Indonesia) bisa menolong kok (walaupun ada beberapa perubahan sejarah yang dilakukan sang mangaka).

Anyway, kembali pada film ini, dalam kasus yang sepertinya tidak berhubungan Kogoro Mouri dan Conan diundang ke kota Kyoto untuk mencari tahu mengenai hilangnya patung Buddha di sebuah kuil. Berhubung Kyoto terletak di bagian barat Jepang, daerah itu bisa dibilang termasuk dalam jurisdiksi Hattori Heiji. Walaupun dalam manga kedua detektif ini sering bertemu, baru dalam film layar lebar ketujuh ini keduanya bekerja sama dalam memecahkan kasus. Sebagai tambahan lain, Heiji juga punya adegan tersembunyi menemukan gadis cinta pertamanya saat masih kecil dulu.

Seperti yang saya katakan tadi, saat pertama kali menonton film ini saya tidak tahu banyak mengenai budaya Jepang sehingga tidak mengerti mengenai hubungan Benkei dan Yoshitsune. Setelah mengetahui hubungan keduanya, barulah saya bisa lebih mengapresiasi film ini. Judul Crossroad in the Ancient Capital yang disandang oleh film ini sebenarnya memiliki koneksi yang cukup mendalam pada ceritanya. Saya tadinya takut kalau pembunuhan demi pembunuhan film ini bakalan seperti The Fourteenth Target gara-gara menarget nama orang yang memiliki angka tetapi untung kekhawatiranku tidak terbukti. Boleh dibilang saya cukup enjoy dengan bagaimana film ini secara tidak langsung memperkenalkan penonton pada kota Kyoto. Oh ya, karena settingnya ada pada kota di mana budaya Jepang masih kental, film ini juga menyisipkan berbagai kebudayaan Jepang seperti geisha dan tradisi minum-minum di dalamnya. Ini merupakan break yang menyenangkan setelah film-film Conan sebelumnya terasa sangat berbau barat / Hollywood (bom di pencakar langit, pembunuhan misterius, sampai teror dunia digital).

Yang saya sebenarnya kurang suka dalam film ini adalah sub-plotnya yang mengisahkan pencarian Heiji akan cinta pertamanya. Alasan Heiji untuk mencari cinta pertamanya terasa terlalu mengada-ada, apalagi karena ia sudah punya Kazuha. Saya bisa memaklumi kegeraman Kazuha sepanjang film melihat Heiji tetap ngebet mencari cinta pertamanya (can you even call it first love kalau tidak pernah ketemu dan bicara?). Satu bagian yang membuatku geleng-geleng adalah ketika Heiji ‘sepertinya’ menemukan cinta pertamanya dan langsung mendiskreditkan gadis itu sebagai tersangka. Keterlaluan. Heiji yang saya kenal tidak mungkin akan terbuai oleh emosi seperti itu dan tetap berlaku obyektif. Plot cerita ini terlalu picisan dan penutupnya yang bahkan lebih norak lagi membuat saya berharap kalau ia dipotong keluar saja dari cerita. Saya malah lebih suka dengan hubungan Shinichi dan Ran yang tidak pernah bisa bertemu sementara Ran tetap menantikannya. Tanpa memberi spoiler apapun, penantian Ran pada akhirnya berbuah juga - walau hanya untuk sesaat. Saya akui bahwa eksekusinya sebenarnya juga cheesy, tetapi setidaknya masih setingkat lebih baik dibanding plot Heiji - Kazuha.

So my verdict is… saya mengapresiasi film ini lebih baik ketika menontonnya untuk kali kedua. Beberapa unsur cerita yang mengambil kebudayaan Jepang kini bisa saya tangkap lebih baik. Oleh karena itu, saya menutup review ini dengan sebuah saran bahwa mengetahui pengetahuan mendasar akan infrastruktur kota Kyoto dan sejarah Yoshitsune adalah modal baik sebelum menonton film ini.

Note: I love the ending theme yang dibawakan Mai Kuraki (berjudul Time After Time). Cari deh. Saya rasa kalian akan menyukainya. Aransemennya terdengar mirip dengan lagu J-Pop lain yang pernah saya dengar, tapi entah kenapa saya lupa apa.

Score: 7.5

Movie Details
Director: Kanetsugu Kodama
Cast: Akira Kamiya, Kappei Yamaguchi, Minami Takayama
Running Time: 108 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , , , , ,

Alice In Wonderland (2010)

Posted on 07 March 2010 by Si Tukang Review

Alice In Wonderland (2010) Poster

Alice In Wonderland (2010) Poster

Kisah Alice’s Adventure in Wonderland dan Through the Looking Glass karya Lewis Caroll’s sudah berusia lebih dari satu abad tetapi masih dianggap sebagai salah satu karya literatur yang penting hingga kini. Entah sudah berapa film yang mengangkat kisah ini, yang paling terkenal di antaranya mungkin film animasi karya Studio Disney di tahun 1951 dulu. Ketika wacana untuk menggarap lagi Alice in Wonderland dalam versi live-action bercampur animasi CG di bawah arahan Tim Burton terkuak, saya langsung memasukkan film tersebut pada daftar film yang harus ditonton tahun ini. Tambahan lagi Mad Hatter bakalan diperankan oleh salah seorang aktor paling berbakat generasi ini: Johnny Depp.

Film ini bisa dibilang merupakan sekuel dari kisah Alice in Wonderland yang kita kenal. Setelah perjalanannya ke Wonderland dulu, Alice tidak lagi bisa mengingatnya secara pasti (wajar karena dia masih anak kecil saat itu). Selama bertahun-tahun sampai dewasa ia hanya mengingat petualangannya itu saat memimpikan hal yang sama berulang-ulang. Di usianya yang ke19, Alice dilamar oleh seorang aristokrat. Alih-alih menjawab pinangannya, Alice justru melihat sosok kelinci putih yang langsung ia kejar… dan ia pun kembali masuk ke dunia Wonderland.

Akan tetapi dunia Wonderland yang ia singgahi kini tidak sama dengan dulu. Sang Red Queen yang kejam kini menguasai hampir seluruh dunia dengan mengandalkan monster Jabberwocky. Dengan menyebarkan teror dan berkuasa ala diktator, Red Queen menancapkan kuku pengaruhnya ke hampir seluruh dunia di mana pertahanan terakhir digalang oleh White Queen, adik dari Red Queen. Ketika Alice sampai di dunia itu, ia menggenapi sebuah ramalan yang mengatakan bahwa dialah pilihan yang akan mengalahkan Jabberwocky dan menghentikan rezim kejam Red Queen. Tapi apakah Alice bisa melakukannya sedangkan dia saja menganggap ia hanya mengalami mimpi buruk yang berkepanjangan?

Saya menganggap kalau langkah pendekatan yang dilakukan oleh Tim Burton untuk film ini sudah tepat. Pertama; dunia Wonderland adalah salah satu dunia paling ajaib yang tercipta dalam kata. Walaupun Wonderland sejati adalah yang menari di benak kita ketika membaca karya klasik Lewis Caroll, saya merasa bahwa sutradara Tim Burton orang yang paling tepat untuk menghidupkan fantasi itu ke layar lebar. Dan untuk itu Tim Burton memang tidak mengecewakan. Ia pernah membuatku tercengang lewat Charlie and the Chocolate Factory, dan ia melakukannya lagi lewat Alice in Wonderland. Atensinya terhadap detail mengagumkan dan setiap shoot akan Wonderland adalah sebuah makanan sedap bagi mata moviegoers sekalian. Di sisi lain, banyak yang mengatakan bahwa film ini tidak perlu ditonton dalam versi 3D untuk mengapresiasinya.

Kedua; untuk menghindari cerita yang sudah familiar di mata penonton, Tim Burton merombak dan menjadikan film ini sekuel dari karya literaturnya. Saya tahu bahwa mungkin para purist tidak setuju dengan hal ini, tetapi saya sih oke-oke saja. Asal tahu saja, karya Lewis Caroll itu disebut sebagai “literary nonsense” yang tidak memiliki awal dan akhir cerita yang jelas. Mungkin itu bisa sukses dalam bentuk tulisan tapi siapa orang yang mau nonton sebuah film tanpa juntrungan (baca: arahan) selama dua jam? Jelas bukan saya. Dengan meletakkan kisah ini sebagai sekuel, Tim Burton memiliki kebebasan mengarahkan cerita baru dalam asetnya yang paling berharga: tanah Wonderland. Ironisnya, di sini jugalah Tim Burton gagal. Seperti film-filmnya yang saya tonton sebelumnya, Burton kerap mementingkan style dibandingkan substance dari filmnya. Penonton diajak untuk berdecak kagum akan latar setting dunianya tapi hambar dari sisi ceritanya.

Bahkan para aktor-artis yang berperan dalam film ini pun tidak bisa menolong banyak. Mia Wasikowska sebagai sang Alice rasanya datar dan kurang terasah aktingnya. Lebih lagi saya kecewa melihat dia sebagai Alice yang pemurung dan kurang ceria. Bagaimana dengan Johnny Depp yang terus dikedepankan di setiap promonya? Well, to be honest, he’s still Depp… in a bizarre way. Kalau kalian menonton akting Depp di sini… ya seperti Depp di peran-peran sintingnya yang lain. Di 2003 lalu saya terhentak melihat dia sebagai Jack Sparrow. Setelah trilogi film Pirates of the Caribbean dan Charlie and the Chocolate Factory, saya rasa saya sudah kebal dengan akting nyentriknya Depp. Pada akhirnya, saya akan meringkas penampilan Depp sebagai Mad Hatter sebagai Mr Wonka… hanya dengan tingkat keedanan yang dilipat gandakan. Bagus atau tidaknya penampilan itu tergantung dari apakah kamu fans dari Mr Depp atau tidak. Saya juga tidak terlalu sreg dengan penampilan tiap karakter lain, baik CG (Red Queen-nya Helena Bonham Carter) maupun live-action (White Queen-nya Anne Hathaway) yang sikapnya terlalu berlebihan. Ada garis batas antara karakter yang unik dan karakter yang aneh. Bukankah film ini berjudul Alice in Wonderland - bukan Alice in Asylum?

So my verdict is… I’ll sum Alice in Wonderland in one sentence: The world is memorable but the inhabitants are forgettable.

Score: 6.5

Movie Details
Director: Tim Burton
Cast: Mia Wasikowska, Johnny Depp, Anne Hathaway, Helena Bonham Carter
Running Time: 109 Minutes

Comments (5)

Tags: , , , , , , ,

Up in the Air

Posted on 07 March 2010 by Si Tukang Review

Up in the Air Poster

Up in the Air Poster

Selain Avatar, The Hurt Locker, Inglourious Basterds, dan Precious ada satu lagi film yang diunggulkan bakal meraih penghargaan terbaik pada ajang Academy Awards 2010 nanti. Film itu adalah Up in the Air, karya Jason Reitman yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Walter Kirn. Walaupun diangkat dari novel, ketika saya memeriksa melalui Wikipedia, ternyata perubahan antara versi novel dan filmnya cukup besar. Jason Reitman sebelum ini menarik perhatianku (dan perhatian kebanyakan moviegoers) melalui film Juno. Apakah sentuhan magisnya bisa ditranslasikan ke Up in the Air?

Statemen ini mungkin terdengar aneh sekaligus nyata. Ryan Bingham menghabiskan waktunya di udara. Anehnya dia bukan seorang pilot maupun pramugara pesawat terbang. Alasan kenapa Ryan Bingham terus terbang dari satu kota ke kota lain adalah karena pekerjaannya sebagai corporate downsizer (kalau mau istilah Indonesianya yang mudah: tukang pecat orang). Kalian tahu kan kalau memecat orang bukan hal yang mudah? Terkadang bahkan pimpinan dan bagian Human Resource sebuah perusahaan tidak memiliki keberanian memecat pegawai karyawan yang sudah setia bekerja kepada mereka selama bertahun-tahun. Di saat seperti inilah perusahaan Ryan Bingham dipanggil. Mereka diminta untuk menyampaikan perintah pemecatan itu sekaligus ‘membantu’ para karyawan yang kena PHK mencari pekerjaan baru; dan dalam perusahaan itu Ryanlah yang menjadi agen lapangan terbaik.

Begitu seringnya Ryan terbang di udara dan bergerak dari satu kota ke kota yang lain, ia hampir tidak punya waktu untuk berada di rumah. Ini bukan masalah bagi Ryan yang memang mengisolasi dirinya dari keluarga dan sekelilingnya - bahkan Ryan sebenarnya lebih menikmati waktunya terbang ke sana-sini ketimbang berada di rumah karena berambisi menembus mileage pesawat tertentu. Karena alasan inilah Ryan marah bak kebakaran jenggot ketika seorang anggota junior bernama Natalie Keener ingin menciptakan sistem baru yang membuatnya tidak bisa terbang lagi. Melalui program video call (seperti iChat / Skype), Natalie menjanjikan untuk memberhentikan pekerjaan seseorang melalui jarak jauh. Irit ongkos penerbangan. Untung buat perusahaan, buntung buat Ryan. Bos perusahaan yang pusing melihat perdebatan antara Ryan dan Natalie kemudian meminta keduanya pergi bersama. Harapannya Ryan bisa melihat dan menerima kemajuan teknologi Natalie sementara Natalie bisa belajar dari pengalaman berpuluh-puluh tahun Ryan. Turut membuat hati Ryan bingung adalah ketika ia bertemu dengan seorang frequent flyer seperti dirinya bernama Alex dan mulai jatuh cinta dengannya. Apakah akhirnya Ryan akan menemukan rumahnya yang sejati di daratan?

Up in the Air langsung merenggut hati saya mulai dari menit awalnya. Melihat wajah sedih orang yang menghadapi pemecatan membuat hatiku turut trenyuh. Jason Reitman memasukkan berbagai elemen ironi dalam film ini. Tadinya saya menyangka bahwa film ini bakalan berakhir seperti kebanyakan film, di mana Ryan akan menyadari pentingnya arti keluarga tetapi Reitman seakan menampar saya dengan twist di akhir film. Aspek lain yang membuat saya merasa Up in the Air begitu enak dinikmati adalah dialog antara para karakternya yang mengalir secara hidup. Skenarionya mengalir begitu saja tanpa terasa seperti dibuat-buat. Bahkan dibandingkan Juno (yang dialognya saya rasa brilian) pun, Up in the Air masih saya nilai menang satu tingkat. Plus film ini diiringi dengan lagu-lagu (mayoritas akustik) yang pas dengan setiap scene yang ada.

Yang menjadi bintang dalam film ini tidak lain adalah tiga bintang utamanya. George Clooney, Vera Farmiga, dan Anna Kendrick semua mendapat sanjungan saya. Layak dan sepantasnya bila ketiganya diganjar dengan nominasi aktor artis terbaik menurutku. George Clooney tampil sempurna dalam sosok Ryan yang tidak pernah merasakan koneksi apapun terhadap kehidupan sosial di luar pekerjaannya sehingga satu-satunya alasan kehidupannya mungkin hanya mileage filmnya. Ditambah lagi pembawaan Clooney yang percaya diri pas dengan karakter Ryan yang selalu kalem (mana dia juga berprofesi ganda sebagai motivational speaker). Pria yang satu ini memang seperti anggur; makin tua makin matang dan makin ganteng. Lucunya, kehidupan nyata Clooney ini mirip dengan Ryan yang tak ingin terikat dengan pernikahan. Apa karena itu dia tampil begitu lepas ya? Kemudian Vera Farmiga sebagai Alex, seorang frequent flyer yang nantinya membuat Ryan jatuh cinta kepadanya memerankan penampilannya dengan sama briliannya. Chemistry antara dirinya dan Clooney membuat penonton turut mendukung jadiannya mereka, dan membuat akhir film ini semakin menyesakkan hati. Terakhir yang paling mencuri perhatian saya adalah Anna Kendrick. Sebelumnya ia tampil sebagai teman Bella yang cerewet di Twilight… dan siapapun yang dari Twilight tadinya saya anggap tidak bisa berakting. Anna mengubah pendapat saya. Sebagai Natalie ia menampilkan sosok gadis yang ambisius, tetapi juga rapuh di dalamnya. Bisa dibilang paruh awal dari Up in the Air begitu berwarna (dibanding paruh keduanya) karena kehadiran Natalie di dalamnya, beberapa banter terbaik juga terjadi saat Natalie dan Ryan menabrakkan ideologi mereka dalam pertukaran kata-kata.

So my verdict is… Up in the Air langsung masuk deretan film terbaik rilis tahun 2009 yang kutonton. Dengan akting yang memikat, konsep cerita yang lain dari yang lain, ditambah pesan yang apik (tanpa kelewat menggurui) di dalamnya, siapapun harus menikmati karya terbaru Jason Reitman ini. Reitman, you did it again!

Score: 9.0

Movie Details
Director: Jason Reitman
Cast: George Clooney, Vera Farmiga, Anna Kendrick
Running Time: 109 Minutes

Comments (0)

Tags: , ,

Remember the Titans

Posted on 06 March 2010 by Si Tukang Review

Remember the Titans Poster

Remember the Titans Poster

(Review Ditulis Di Tahun 2006)

Sebelum ada Coach Carter, sebelum ada Gridiron Gang, sebelum ada Miracle, sebelum ada segala jenis film bertema pembangunan karakter melalui kisah nyata dan hal-hal semacam ini, Remember the Titans hadir di tahun 2000. Film yang disutradarai oleh Boaz Yakin dan diproduseri tangan emas Jerry Bruckheimer memperoleh sukses di mana-mana. Tema olahraga yang diusung oleh film ini mungkin adalah American Football yang kurang dikenal oleh mereka yang tidak tinggal di Amerika. Toh, walaupun begitu, pesan moral yang disampaikan film ini universal dan akan bisa ditangkap oleh siapapun.

Virginia di tahun 1970an penuh dengan masalah rasial di sana-sini. Untuk membantu membuat keadaan menjadi lebih harmonis, sekolah menggabungkan sekolah kulit hitam dengan sekolah kulit putih. Yang terjadi adalah benturan di sana-sini makin terasa. Kendati masalah rasial selalu ada, ada satu hal yang selalu bisa mempersatukan seluruh kota itu: kecintaan mereka terhadap olahraga American Football. Yang jadi masalah adalah mereka yang merupakan anggota utama dari tim American Football berkulit putih enggan posisi mereka direbut oleh para anggota kulit hitam. Benturan ini jelas makin terasa di sana-sini. Bayangkan apa jadinya ketika para kulit putih dan kulit hitam ini akan bergabung dalam training camp bersama!

Yang paling parah mungkin adalah karena pertikaian tidak hanya terjadi di kalangan murid antar murid tetapi juga para pelatih. Pelatih baru yang diangkat jadi pelatih kepala adalah seorang kulit hitam bernama Herman Boone. Asisten pelatih lama yang selama ini selalu mengawasi murid-murid lama jelas merasa tersaingi dan dicurangi posisinya. Toh, asisten bernama Bill Yoast ini diam saja dan beranggapan kalau Coach Boone akan gagal dengan sendirinya dan dia akan mengambil alih posisi yang sudah lama ia dambakan itu.

Nyatanya, metode unik dari cara pelatihan Coach Boone berhasil menyatukan tim mereka menjadi satu tim yang benar-benar solid, benturan-benturan rasial masih terjadi, tetapi semuanya masih bisa diatasi. Coach Boone dan Coach Yoast pun makin padu menjadi pelatih yang mengajarkan defense dan offense dalam permainan American Football. Masa pelatihan di training camp berakhir dengan sukses, dan mereka pulang sebagai satu unit, satu tim, sebagai sahabat yang saling bisa menggantungkan satu sama lain. Mereka yang semula paling berseteru seperti Julius dan kapten tim Bertier pun bisa kompak menjadi sahabat satu sama lainnya. Masalahnya adalah ketika mereka dikembalikan ke dunia nyata - mereka disadarkan kalau masalah rasial tetap terjadi di sekeliling mereka. Ibu Gertier misalnya tak sudi kalau anaknya harus bergaul terus dengan Julius. Apakah mereka bisa mempertahankan keutuhan tim mereka dan menjuarai pertandingan demi pertandingan? Atau mereka akan kembali tercerai-berai seperti semula?

Akting para aktor di dalam film ini semuanya meyakinkan. Denzel Washington memainkan performa yang solid sebagai Herman Boone yang adalah seorang pelatih yang tegas dan keras. Di lain pihak, Will Patton juga berhasil menjalankan aktingnya sebagai Coach Yoast dengan brilian. Apabila Boone adalah sisi keras dari kepelatihan maka Yoast adalah sisi lembut yang mampu menyelaraskannya, tak heran performa keduanya di layar lebar penuh bentrokan - tetapi secara ajaib juga saling mengisi. Toh yang benar-benar mampu merebut perhatian saya adalah chemistry antara Julius dan Bertier. Hubungan keduanya rasanya teruntai dengan sangat baik sehingga ketika film terus bergerak kita seakan merasa kalau mereka adalah sahabat sejati dan saudara yang tak terpisahkan. Tentu saja Hayden Panettiere yang masih muda saat itu ikut mencuri perhatian karena keimutannya (sama sekali tak terbayangkan gadis kecil itu kini sudah berubah menjadi cheerleader seksi di Heroes).

Saya mengira kalau film ini adalah mengenai American Football. Saya tidak sepenuhnya benar. Tidak salah memang kalau Remember the Titans mengisahkan tentang American Football, tetapi pesan nyata yang ingin disampaikan dalam film ini bukanlah mengenai bagaimana sebuah tim yang bersatu untuk menjuarai sebuah turnamen - sama sekali bukan. Yang ingin disampaikan oleh film ini adalah pesan rasial dan bagaimana sebuah tim American Football bisa membuat apa yang semula adalah perbedaan itu menjadi sebuah kesatuan dan persamaan yang solid.

Score: 7.3

Movie Details
Director: Boaz Yakin
Cast: Denzel Washington, Will Patton, Wood Harris
Running Time: 113 Minutes

Comments (1)

Tags: , , , , , , , ,

Justice League: Crisis On Two Earths

Posted on 05 March 2010 by Si Tukang Review

Justice League: Crisis On Two Earths DVD Cover

Justice League: Crisis On Two Earths DVD Cover

Sebuah film animasi direct-to-DVD yang baru lagi dari DC! Kelihatannya film animasi sekarang telah menjadi media yang tepat untuk mentranslasikan serial-serial komik DC dan Marvel. Justice League: Crisis on Two Earths merupakan titel yang spesial karena untuk pertama kalinya DC mengangkat kata ‘Crisis’ yang sinonim dengan judul-judul besar ke layar lebar.  Seperti halnya Green Lantern: First Flight yang dirilis beberapa waktu lalu, Crisis on Two Earths menanamkan benih krisis lebih besar yang nantinya akan mengancam seluruh multiverse DC.

Kalau kalian belum terlalu familiar dengan konsep multiverse DC, saya sarankan untuk membaca review saya mengenai graphic novel Crisis on Infinite Earths, Infinite Crisis, dan 52. Kelamaan apabila saya harus menjelaskan lagi mengenai asal muasal dan arti multiverse. Intinya universe yang pembaca komik kenal selama ini tidak hanya satu. Di jagad raya yang kita kenal sekarang ini Superman, Batman, Wonder Woman, dan para jagoan lain membentuk Justice League dan merupakan pelindung bumi. Akan tetapi, belum tentu kenyataan begitu sama di setiap jagad raya lainnya.

Pada awal film ini, diperlihatkan Lex Luthor dan The Joker tengah bekerja sama untuk membobol sebuah brankas rahasia. Lagi-lagi rencana iblis? Tunggu dulu. Ada yang aneh. Di sini Joker mendadak saja mengorbankan diri supaya Lex bisa lolos dari kejaran musuh mereka. Lebih anehnya lagi, para superhero yang muncul dengan kejinya membunuh The Joker yang sudah tidak berdaya melawan. Ini karena dunia yang kita lihat bukanlah dunia kita biasa melainkan sebuah dunia lain bernama Earth-Two. Di sini peran masing-masing karakter terbalik. Lex Luthor dan The Jester (versi The Joker dunia ini) adalah pemimpin Justice League sementara Ultraman (Superman), Owlman (Batman), Superwoman (Wonder Woman), dan yang lainnya justru membentuk liga kejahatan yang bernama Crime Syndicate of America (CSA).

Lex yang terdesak menggunakan barang yang tadinya dicuri dari brankas untuk pindah dimensi ke dunia para superhero DC. Walaupun semula sempat terjadi salah sangka (maklum, Lex Luthor kan penjahat besar di dunia ini), Superman dan anggota Justice League lain bersedia untuk membantu Lex. Permasalahan ternyata jauh lebih pelik daripada yang dibayangkan semula. Di dunia Earth-Two, bahkan para penduduk bumi sudah ketakutan dan tidak berani melawan para CSA. Satu-satunya yang menghentikan CSA mengambil alih pemerintahan adalah senjata nuklir yang siap diledakkan oleh sang presiden apabila CSA melakukan kudeta. Tambahan lagi, Owlman (kembaran Batman) ternyata memiliki adegan terselubung…

Secara keseluruhan, saya lebih puas dengan Crisis on Two Earths dibandingkan percobaan DC sebelumnya (Superman/Batman: Public Enemies). Pertarungan demi pertarungan yang disajikan kali ini juga lebih kreatif mengingat ada lebih banyak karakter yang tergabung di sini. Walau penuh dengan baku hantam di sana-sini, Crisis on Two Earths tidak melupakan cerita. Satu hal terpenting yang akhirnya berhasil diangkat film ini adalah menahbiskan konsep multiverse di bumi. Konsep dunia paralel ini dijelaskan kepada penonton oleh Owlman (dalam adegan di mana ia menjelaskan pada Superwoman) dengan sangat jelas sehingga semua orang pasti bisa mengertinya. Ini tentu membuka jalan crossover-crossover yang lebih megah lagi di masa mendatang. Crisis on Infinite Earths anyone?

Crisis on Two Earths ini juga tentunya tidak sempurna. Beberapa karakter seperti Green Lantern atau Wonder Woman seakan hadir sebagai tempelan saja di film ini sementara Martian Manhunter dan Batman lebih dikedepankan. Mungkinkah ini karena Green Lantern dan Wonder Woman sudah pernah mendapatkan feature filmnya sendiri? Omong-omong soal sosok Green Lantern, saya menerima dengan baik perubahan karakter dari John Stewart ke Hal Jordan. Maaf bung Stewart, but Hal Jordan really is the greatest GL ever.

Meski demikian, perubahan para pengisi suara film ini tidak saya terima dengan baik. Untuk pertama kalinya pengisi suara film ini adalah nama-nama yang sama sekali tidak familiar di telinga saya. Siapa itu Mark Harmon? Vanessa Marshall? James Woods? Ke mana Kevin Conroy? Keri Russell? Tim Daly? Saya sangat kecewa para karakter yang biasa mengisi suara para anggota Justice League ini absen secara misterius. Walaupun para pengisi suara film ini tidak buruk-buruk amat, mereka masih kalah kelas dengan para pengisi suara terdahulu yang sudah memiliki pengalaman dan intimasi dengan karakter-karakter superhero DC. Satu-satunya yang memiliki kualitas di atas rata-rata hanyalah James Woods yang mengisi suara Owlman.

So my verdict is… apabila kamu penggemar komik-komik DC, apa lagi yang kalian tunggu? Segera buru film ini karena dijamin takkan mengecewakanmu!

Note: Saya menonton versi bajakannya, untuk versi aslinya ada bonus animasi pendek mengenai The Spectre, salah satu sosok terkuat di karakter DC yang adalah roh pembalas dendam. Oh ya, Sam Liu yang menyutradarai film ini juga menyutradarai film Planet Hulk.

Score: 7.5

Movie Details
Director: Lauren Montgomery, Sam Liu
Cast: Mark Harmon, James Woods, Chris Noth, William Baldwin, Gina Torres
Running Time: 75 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , ,

Bodyguards And Assassins

Posted on 04 March 2010 by Si Tukang Review

Bodyguards and Assassins Poster

Bodyguards and Assassins Poster

Abad lalu memang merupakan abad penuh pergolakan bagi negeri Cina. Pada tahun 1950an ia terlibat dalam perang saudara (yang digambarkan dalam The Founding of A Republic). Pada tahun 1980an, Cina berusaha memodernisasi dirinya yang harus dilalui tragedi seperti kejadian Tian An Men Square. Bahkan dari awal abad lalu saja wajah Cina berubah untuk selamanya. Sebagai sebuah dinasti kekaisaran yang berdiri selama bermilenium lamanya, ia akhirnya runtuh di tangan rakyat di bawah ideologi dari Sun Yat-Sen: San Min Zhu Yi menjadi sebuah People’s Republic yang dunia kenal sekarang.

Dalam film ini, Sun Yat Sen (disebut Sun Wen dalam film ini) hendak datang ke Hong Kong untuk membicarakan mengenai pergerakan revolusi dengan wakil dari berbagai propinsi di China. Keinginan Sun Yat Sen untuk melakukan revolusi dan mendongkel kekuasaan tentu saja tidak disambut dengan gembira oleh Permaisuri dinasti Qing  Dowager Cixi yang berkuasa. Permaisuri memerintahkan tentaranya bergerak untuk membunuh Sun Yat-Sen. Melihat besarnya pamornya di masyarakat, mereka tentu tidak boleh membunuhnya terang-terangan sehingga para tentara di bawah pimpinan Yan Xiaoguo itu menyamar sebagai para pembunuh (assassin).

Sekutu dari Sun Wen di Hong Kong juga tahu bahwa pemimpin mereka akan dibunuh untuk melemahkan kekuatan pemberontakan. Chen Shaobai dan Li Yutang sebagai pemimpin dari harian China Daily selama ini merupakan pendukung Sun Yat-Sen dan mereka berusaha untuk mengumpulkan para pelindung (bodyguard). Walaupun begitu, Chen Shaobai menyadari bahwa kekuatan para bodyguards pun tidak akan cukup melindungi bapak revolusi Cina itu dan menyiapkan rencana B. Yang akan dikawal oleh para bodyguard bukan Sun Yat Sen sendiri melainkan seorang umpan; anak dari Li Yutang; Li Chongguang.

Mereka yang tahu sejarah Cina tentu tahu bahwa Sun Yat-Sen tidak mati di Hong Kong, sehingga ending film ini sudah tertebak. Walaupun begitu, saya salut kepada sutradara Teddy Chen yang masih bisa menciptakan sebuah karya yang benar-benar apik ini. Banyak sekali nama tenar bergabung dalam film ini seperti Donnie Yen, Leon Lain, Nicholas Tse, Hu Jun, dan Tony Leung Ka-Fai. Beberapa nama tenar lain seperti Simon Yam, Jacky Cheung, dan Michelle Reis juga hadir sebagai cameo. Herannya walaupun ada begitu banyak nama besar bergabung dalam film ini, mereka tidak saling mengkanibal peran. Tidak ada yang tampil dominan, tetapi semuanya punya peran sendiri dalam cerita (saya sendiri salah sangka mengira Donnie Yen bakalan jadi jagoan utamanya).

60 menit pertama dalam film berdurasi 140 menit ini berjalan dengan tempo sedikit pelan. Penonton tidak langsung dihadapkan pada pertarungan demi pertarungan martial art melainkan diperkenalkan pada Chen Shaobai dan Li Yutang. Dari mata mereka, penonton juga melihat kondisi Hong Kong pada tahun 1906 tersebut, dan pergolakan revolusi China yang siap meledak kapanpun juga. Secara tersirat sudah terlihat bahwa para rakyat China sudah muak terhadap pemerintahan dinasti Qing yang korup dan semena-mena (mirip dengan Indonesia tahun 1998?). Setelah itu Teddy Chen bergerak menunjukkan dan membedah satu demi satu karakter bodyguard yang bakalan berperan dominan dalam cerita nantinya. Karena setup inilah pertarungan di paruh kedua film tidak terasa hampa sebagaimana kebanyakan film aksi yang saya tonton. Para bodyguard ini bertarung demi idealisme mereka masing-masing. Ada yang murni hendak melindungi Sun Yat Sen karena mengerti ideologinya, ada yang hanya ingin mencari kedamaian dari hidupnya yang hancur, ada yang ingin membalas dendam, ada yang hendak melindungi sang majikan, dan lain-lainnya. Oleh karena itu apabila ada satu dari mereka yang tewas, kita sebagai penonton turut merasakan simpati dan kesedihan. Teddy Chen juga cukup bijak untuk menyorot pandangan Yan Xiaoguo sebagai pimpinan kaum Assassin sehingga memberinya kedalaman sebagai sebuah tokoh yang lebih dari sekedar kejam saja - tetapi juga percaya bahwa ia melakukan yang terbaik untuk harapan negeri Cina. Bentrokan idealisme yang pilu, seperti dikatakan oleh Sun Yat-Sen dalam epilog film, melahirkan darah yang disebut revolusi.

So my verdict is… saya menyangka bahwa Bodyguards and Assassins adalah sebuah film martial arts seperti kebanyakan film produksi Hong Kong dan China yang sudah-sudah. Yah, penuh aksi tetapi ceritanya klise begitu. Ternyata saya salah. Ini sebuah film yang punya hati di dalamnya. Uniknya untuk sebuah film aksi, daripada menantikan aksi-aksinya sendiri saya lebih tertarik pada sisi drama dan pengorbanan tiap-tiap tokohnya. Saran saya: jangan keburu mendiskreditkannya sebagai sekedar ‘lagi-lagi sebuah film martial art yang lain’.

Score: 8.0

Movie Details
Director: Teddy Chen
Cast: Donnie Yen, Leon Lai, Nicholas Tse, Li Yuchun, Wang Xueqi, Hu Jun, Tony Leung Ka-Fai
Running Time: 140 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , ,

From Paris With Love

Posted on 04 March 2010 by Si Tukang Review

From Paris With Love Poster

From Paris With Love Poster

Dalam review Edge of Darkness, saya sempat menyebut film tersebut sebagai Taken-nya tahun ini. Ternyata saya salah duga. Edge of Darkness bisa jadi mengambil tema cerita yang mirip dengan Taken (seorang ayah balas dendam karena insiden yang menimpa putrinya) tetapi eksekusi yang diambil dari sudut berbeda membuat kedua film tersebut tak bisa dibandingkan. Justru film From Paris With Love inilah yang lebih layak disebut Taken-nya tahun ini. Tidak hanya menampilkan adegan-adegan aksi beradrenalin tinggi ala film itu, ia juga diproduseri dan disutradarai oleh tim yang sama. Yap, Luc Besson duduk di kursi produser (juga penulis naskah) film ini sementara kursi sutradara diduduki Pierre Morrel.

Selama tinggal di Paris, James Reece selalu memiliki kehidupan yang relatif damai sebagai anggota kedutaan besar Amerika di Perancis. Kehidupan pribadinya juga kian lengkap saat Caroline sang pacar setia dan bersiap mengajukan lamaran padanya. Omong-omong enak ya cowo di Perancis? Tidak usah repot-repot mengajukan lamaran malahan cewe yang datang melamar. Toh dengan segala kelengkapan itu, James selalu merasa bahwa hidupnya kurang lengkap. Ia menginginkan sebuah tantangan lebih untuk turun langsung ke lapangan dan menangkapi teroris dengan tangannya sendiri. Harapannya terkabul saat sang atasan kemudian memasangkannya dengan seorang agen selebor bernama Charlie Wax.

Charlie Wax adalah anti-thesis dari James. Apabila James mengerjakan semuanya berdasarkan buku tuntunan - maklum, dia kan agen belakang meja dulunya - maka Charlie memakai sistem tembak duluan, tanya belakangan. Awalnya, ini membuat James merasa kurang nyaman bekerja sama dengan Charlie. Toh, seiring dengan kerja sama keduanya, James mulai merasa bahwa cara Charlie yang serampangan itu ternyata efektif mendapatkan hasil. Dan keduanya terlibat kian dalam pada aksi sebuah grup teroris yang mengancam kedamaian kota Paris. Berhasilkah kedua agen dengan sifat bertolak belakang ini menghentikannya?

Apabila kalian bertanya-tanya bagus manakah film ini dengan Taken, saya langsung saja jawab sekarang: Taken adalah film yang setingkat - bahkan mungkin dua tingkat - lebih superior ketimbang From Paris With Love. Bukan saya hendak mengatakan film ini jelek. Kalau kamu penggemar adegan aksi, jangan khawatir karena film ini akan memuaskan nafsumu itu. Adegan baku tembak, pertarungan tangan kosong yang cepat dan brutal, sampai kejar-kejaran mobil yang berakhir dengan ledakan besar semua disediakan film ini. Persis seperti Taken. Lantas apa yang membuat saya mengatakan Taken lebih bagus ketimbang ini? Jawabannya terletak pada ceritanya. Apa yang membuat saya jatuh cinta pada Taken bukan semata-mata karena film itu menggeber adegan aksi saja tetapi karena ada sebuah pertaruhan besar di balik adegan itu. Penonton bisa mengerti dengan jelas apa taruhannya bilamana Liam Neeson sampai gagal mengorek informasi dari para teroris yang melacak anaknya.

Lantas bandingkan dengan film ini yang pada awalnya tidak memiliki motif yang jelas (penonton akan mulai mendapatkan gambaran besar cerita setelah sepertiga - bahkan hampir setengah film bergulir). Hasilnya, karakter Charlie yang jadi jagoan dalam film ini tidak terlihat simpatik, tapi seperti agen polisi yang lepas kontrol. Beruntung John Travolta yang memainkan karakter ini bisa mengimbangi kebrutalan Charlie dengan komentar-komentar banyolan yang membuat para penonton tertawa karena bila tidak karakter ini sudah pasti menjadi poin negatif film ini. From Paris With Love juga sebenarnya diposisikan menjadi film bergaya Taken tapi dengan nuansa cop buddy ala Lethal Weapon. Lagi-lagi saya menilai film ini kurang berhasil walau sudah mengikuti formula klisenya (satu polisi ngawur, satu polisi taat hukum). Entah kenapa saya merasa peran dalam film ini terlalu dominan pada karakter Charlie sehingga menyisakan James sedikit sekali ruang bergerak selain pada akhir film.

So my verdict is… Nikmati saja From Paris With Love sebagai sebuah film aksi. Tidak perlu membanding-bandingkannya dengan film karya Pierre Morel sebelumnya, dan mungkin saja kamu akan menemukan bahwa film ini bisa menjadi guilty pleasuremu tahun ini.

Score: 7.0

Movie Details
Director: Pierre Morel
Cast: John Travolta, Jonathan Rhys Meyers, Kasia Smutniak
Running Time: 92 Minutes

Comments (3)

Advertise Here
Advertise Here