(Review Ditulis Di Tahun 2007)
Graphic novel Frank Miller pertama yang kubaca adalah 300. Saya tertarik akan novelnya setelah filmnya sukses membuat saya ternganga berulang-ulang karena visualisasi dan narasinya yang luar biasa. Ketika itu saya belum menonton Sin City. Setelah saya menonton Sin City (terlambat hampir dua tahun - saya tahu), saya sadar bahwa inilah translasi terbaik dari sebuah graphic novel. Sin City adalah transisi terbaik dari graphic novel ke film yang pernah saya tonton selama ini. Adalah sebuah dosa bagi mereka yang mengaku pecinta film dan melewatkan sebuah karya yang begitu artistik ini.
Basin City adalah sebuah kota yang hina. Saking hinanya, mereka memberi julukan Sin City - kota dosa - untuk Basin City. Basin City bisa dibilang sebagai Sodom dan Gomora yang tercipta melalui pikiran dari Frank Miller. Sebuah kota yang dikendalikan oleh seorang pastur yang mata keranjang. Sebuah kota di mana manusia buruk rupa dan buruk hati hidup berdampingan. Sebuah kota di mana ada kanibal dan para hooker menguasai bagian kota tertentu. Kalau anda bisa membayangkan seperti apa itu semua, maka rasanya anda telah berhasil membayangkan seperti apakah Sin City itu.
Graphic novel Sin City sendiri terdiri dari beberapa story arc dengan cerita yang sepenuhnya berbeda. Film ini memutuskan untuk mengangkat empat story arc dan menyatukannya ke layar lebar - lebih tepat mungkin tiga story arc dan satu cerita prolog. Ketiga story arc itu adalah: That Yellow Bastard, A Hard Goodbye, dan The Big Fat Kill. Satu cerita prolog di sini diangkat dari cerita pendek Sin City: The Customer is Always Right, dan ditutup dengan sebuah adegan baru yang ditulis secara khusus untuk film ini.
Pernah melihat sebuah film dengan begitu banyak nama besar bertebaran di dalamnya? Rasanya tidak. Bahkan film seperti Ocean’s Eleven yang sudah merupakan kumpulan bintang-bintang tenar saja tidak bisa mengumpulkan bintang tenar sebanyak ini berkumpul dalam satu film. Dan mereka semua berhasil menghidupkan peran mereka masing-masing. Mickey Rourke, Bruce Willis, dan Clive Owen masing-masing adalah karakter utama dalam tiap story arc mereka yang berhasil merenggut simpati penonton karena gaya dan watak mereka yang luar biasa. Jessica Alba jelas bisa membuat mata para lelaki ternganga melihat keseksiannya berdansa ‘hampir‘ telanjang di sini. Tapi mungkin scene stealer sesungguhnya di sini adalah Elijah Wood dan Devon Aoki. Saya tidak bisa (dan tidak mau) mendeskripsikannya lebih jauh di sini. Adalah keharusan bagi kalian untuk menonton sendiri dan melihat bagaimana dua karakter yang tidak berbicara sama sekali mampu meninggalkan kesan begitu mendalam di hatiku.
Di luar penampilan tiap karakternya yang luar biasa, nilai unik lain dari Sin City adalah tampilannya yang begitu artistik. Mereka yang membaca graphic novelnya pasti tahu kalau Sin City digarap dengan nuansa hitam putih dan hanya berwarna pada bagian-bagian eksplisit (seperti merah pada darah, dan warna kulit kuning dalam segmen That Yellow Bastard). Karena perkembangan teknologi, maka ini berhasil ditranslasikan secara sempurna dalam film ini. Menonton film ini bagaikan dibawa kembali menonton film noir dengan warna-warna tertentu - atau mungkin lebih tepatnya dibawa untuk membaca graphic novel Sin City di layar lebar karena storyboardnya diangkat oleh Robert Rodriguez persis dari graphic novel Sin City.
Nilai unik lain dari film ini adalah bagaimana Robert Rodriguez tetap bertahan dengan dialog-dialog dan monolog seperti pada graphic novelnya. Film ini banyak menggunakan monolog dalam penyampaian ceritanya karena karakter-karakter utama dalam setiap cerita sering meng’ucap’kan pikirannya kepada penonton. Keberanian Rodriguez memakai kata-kata sesuai novelnya layak diacungi jempol dan ini membuat filmnya semakin terasa nuansa ‘graphic novel’nya. Dan itu bukan satu-satunya kejutan yang ada. Frank Miller juga hadir lewat film ini sebagai cameo (yang berkesan), dan Quentin Tarantino turut hadir sebagai sutradara satu adegan tertentu di film ini (salah satu adegan dalam segmen The Big Fat Kill).
Sin City membuat saya menahan nafas hampir sepanjang film dan terlarut dalam keasyikan masuk di kota penuh dosa. Ini adalah sebuah film yang saya sarankan kepada siapapun yang menginginkan sebuah tontonan yang bermutu. Banyak kadar kekerasan, unsur seksual, bahkan darah dan sumpah serapah yang bertebaran di sepanjang film ini tetapi itu tidak membuatnya menjadi kampungan karena dikemas dengan sangat menarik. Kalau anda mencari sebuah film yang memiliki skenario bermutu, penampilan para aktor yang berkelas, dan sutradara nyentrik dengan gaya visualisasi menawan maka Sin Citylah tempat yang harus anda tuju!
Score: 9.0
Movie Details
Director: Frank Miller & Robert Rodriguez
Cast: Jessica Alba, Devon Aoki, Josh Hartnett, Benicio Del Toro, Clive Owen, Bruce Willis, Elijah Wood, Mickey Rourke
Running Time: 120 Minutes

















