Archive | Manga

Tags: , ,

Monster Hunter Orage

Posted on 09 August 2009 by Si Tukang Review

Monster Hunter Orage Cover

Monster Hunter Orage Cover

Game Monster Hunter pertama dirilis di konsol PS2 pada tahun 2004 oleh Capcom. Game ini bisa dimainkan sendirian, tetapi disebut sebagai RPG yang unik karena menggunakan sistem online - sesuatu yang belum banyak ditemui oleh RPG konsol saat itu. Dikembangkan dan disempurnakan melalui sekuel-sekuelnya, puncak dari popularitas franchise ini datang justru saat dirilis di sistem portabel PSP. Monster Hunter Freedom menjadi game pertama PSP yang mampu mencetak penjualan di atas 1 juta kopi. Kesuksesan game handheldnya lalu berlanjut dengan sekuel-sekuel yang penjualannya terus meningkat, Freedom 2 menembus angka 2 juta kopi sementara game terbaru Freedom Unite hingga kini masih tercatat sebagai game PSP terlaris.

Di saat puncak popularitasnya, Capcom lalu menjalin kerjasama untuk menciptakan manga yang berdasarkan gamenya. Ini merupakan hal yang biasa sebagai cara promosi yang efektif di Jepang sana. Ingat kalau game seperti Blue Dragon, Suikoden, sampai berbagai serial Tales juga memiliki seri manganya? Apa yang membuat saya tertarik adalah Capcom kali ini mengontrak Hiro Mashima - mangaka yang menulis Rave, Fairy Tail, dan Monster Soul - untuk menulis kisah Monster Hunter Orage (Orage). Tentunya menulis manga untuk Monster Hunter tidak semudah RPG-RPG yang saya sebutkan di atas. Kebanyakan RPG di atas sudah memiliki jalan cerita dari gamenya yang tinggal diadaptasi oleh para mangakanya, Monster Hunter (terutama yang dirilis di PSP) lebih menitikberatkan pada permainan onlinenya sehingga Mashima memutuskan untuk merajut kisahnya sendiri dalam Orage.

Di dunia Orage terdapat banyak sekali guilde-guilde tempat para Monster Hunter mendapatkan tugas mereka. Begitu juga dengan tokoh utama kisah ini Shiki Ryuuhou. Shiki yang kehilangan gurunya di masa muda memiliki satu tujuan dalam petualangannya: memburu naga Miogaruna. Suatu saat Shiki bertemu dengan seorang hunter lain bernama Irie Jescar. Di luar dugaan Shiki dan Irie, ternyata Irie adalah anak dari guru Shiki tersebut. Irie juga ingin mencari Miogaruna, tetapi banyak orang melecehkan dan menertawakannya karena menganggap bahwa itu hanya legenda belaka. Melihat Shiki memiliki satu tujuan dengannya, Irie pun memutuskan untuk mengikuti Shiki. Dari sinilah dimulai perjalanan keduanya mencari Miogaruna. Tentunya dalam perjalanan tersebut mereka juga akan bertemu dengan sekutu-sekutu dan musuh baru.

Sulit untuk menilai jalan cerita Monster Hunter Orage. Di satu sisi, ceritanya sangat sederhana karena Mashima lagi-lagi menjadikan komik ini sebagai sebuah mini-seri (hanya ada 14 chapter). Gara-gara pendek ini, saya merasa bahwa banyak cerita yang seharusnya bisa digali lebih dalam akhirnya berakhir tanggung. Juga terasa bahwa Mashima seakan-akan memburu pace cerita - terutama di chapter-chapter akhir. Kenapa Mashima tidak memanjangkan kisah ini… saya tidak mengerti. Mungkinkah karena dia mau memfokuskan diri pada Fairy Tail? Hanya saja jangan keburu mendiskreditkan Orage sebagai manga tidak layak baca karena pernyataan di atas. Walau sama-sama mini-seri, Orage saya nilai jauh lebih superior dibandingkan dengan mini-seri Mashima sebelumnya; Monster Soul. Bila dalam Monster Soul kita tidak diberi introduksi mengenai siapa saja Aki dan kawan-kawannya, Mashima memberi jatah halaman lebih banyak untuk kita mengenal Shiki dan teman-temannya. Bahkan dari 14 chapter yang ada, Mashima menghabiskan hampir setengahnya untuk membangun dasar dan fondasi tiap karakter. Saya rasa bagi yang mengikuti karya Mashima sebelumnya pasti tahu kalau nilai terkuat dari mangaka ini adalah pada variasi karakter unik yang ia ciptakan - dan Orage pun bukan perkecualian.

Tidak ada yang spesial dari artwork Orage. Walaupun ia berusaha menciptakan karakter yang lebih berbeda sekarang, entah kenapa saya tetap merasa Shiki seperti gabungan Haru diberi rambut hitam Musica sementara Irie adalah Elie / Lucy yang badass. Tapi kekurangan yang paling menganggu adalah background yang sering absen dalam panel-panel tertentu ketika Mashima tengah menggambar adegan pertarungan. Terlepas dari semua kekurangan yang ada, saya merekomendasikan manga ini kepada setiap kamu penggemar game Monster Hunter maupun Hiro Mashima.

Score: 6.7

Manga Details
Writer: Hiro Mashima
Penciller: Hiro Mashima
Publisher: Kodansha
Chapter: 01 - 14

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Eyeshield 21

Posted on 17 June 2009 by Si Tukang Review

Eyeshield 21 Cover

Eyeshield 21 Cover

Sebenarnya saya sudah pernah menulis review mengenai Eyeshield 21 beberapa tahun silam. Hanya saja, review tersebut tidak pernah saya update di situs ini mengingat saya berkomitmen untuk mereview graphic novel / manga yang sudah tamat saja. Dengan berakhirnya perjalanan Sena dan kawan-kawan pada Touchdown ke 333, saya mengambil kesempatan ini untuk menulis review dari salah satu manga olahraga favorit saya sepanjang masa.

Ditulis oleh Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata, Eyeshield 21 mengambil tema olahraga yang tidak lazim: American Football. Di Jepang sendiri American Football bukan sebuah olahraga yang terkenal seperti kasti maupun sepakbola sehingga tantangan menulis manganya jelas berat. Toh, seperti halnya Slam Dunk dan Hikaru no Go, manga ini membuktikan bahwa asalkan kisahnya menarik maka orang akan membacanya. Eyeshield 21 berjasa memperkenalkanku (dan banyak orang lain) mengenai olahraga yang menggabungkan otak dan otot ini.

Kobayakawa Sena menghabiskan hampir seumur hidupnya sebagai pecundang. Ia selalu dikerjain oleh teman-temannya dan berlindung di balik punggung temannya: Mamori Anezaki. Perubahan hidup Sena terjadi ketika bakat berlari super cepatnya ditemukan oleh Yoichi Hiruma; kapten dari tim American Football dari SMU Deimon. Karena Sena tidak ingin identitasnya diketahui orang, Hiruma mengakalinya dengan memakaikan pelindung helm. Kecepatan kaki sang pelari misterius langsung menjadikannya buah bibir banyak orang. “Eyeshield 21” adalah julukan yang kemudian disematkan pada diri Sena. Dari sinilah perjalanan Sena dan kawan-kawannya dari SMU Deimon dimulai. Tujuan mereka hanya satu: maju ke Christmas Bowl. Ajang paling bergengsi American Football di Jepang.

Eyeshield 21 memiliki awal klise komik. Kalau sekilas dilihat, karakter Sena mirip dengan Naruse di Harlem Beat. Seseorang yang mulai menekuni sebuah olahraga karena memiliki bakat terpendam dalam olahraga tersebut. Awal komik ini dibangun perlahan-lahan oleh Riichiro Inagaki yang berusaha mengatur keseimbangan penceritaan antara karakter dan istilah-istilah olahraga American Football (yang pastinya masih asing buat kebanyakan pembaca). Saya juga salut dengan Yusuke Murata yang mampu menggambarkan peraturan-peraturan dan taktik-taktik dalam American Football secara praktis sehingga mudah dimengerti bahkan oleh pembaca awam sekalipun. Seperti halnya Sena, kita dibawa untuk mengenali pola permainan, peraturan, dan taktik dalam olahraga ini. Dulu pengetahuan saya mengenai American Football terbatas pada “olahraga yang pemainnya selalu saling tumpuk-tumpukan itu kan?”, baru setelah membaca Eyeshield 21 saya sadar betapa salahnya saya.

Yang membuat Eyeshield 21 memikat bukan hanya melihat perkembangan Sena, tetapi juga melihat perkembangan tim Deimon Devil Bats secara keseluruhan. Selain SMU Kakegawa dari Shoot dan SMU Shohoku dari Slam Dunk, Deimon Devil Bats adalah tim yang paling dekat dengan hatiku. Ada kepuasan sendiri melihat tim Deimon yang semula merupakan tim yang kecil dan terbatas perlahan-lahan mengembangkan diri mereka sampai menjadi salah satu tim yang paling ditakuti di seluruh Jepang. Itu juga ditolong oleh begitu banyaknya karakter memorable di dalamnya.

Bicara soal karakter, Eyeshield 21 punya segudang karakter super unik. Selain dari tim Deimon, Inagaki dan Murata juga memperhatikan karakter-karakter dari tim lawan. Setiap tim lawan dari Deimon memiliki sekurang-kurangnya dua sampai tiga karakter yang berkesan. Sebuah pencapaian yang impresif mengingat banyaknya tim yang dihadapi oleh Deimon dari awal hingga akhir.

Satu hal yang saya sayangkan adalah penurunan kualitas cerita (terutama kualitas pertandingan) menjelang perempat terakhir komik ini. Saya tidak akan memberi banyak spoiler mengenai yang mana, tetapi dua hingga tiga pertandingan terakhir dalam manga ini masih kalah kualitas dibandingkan pertandingan-pertandingan yang dilakoni mereka di awal hingga tengah. Memang seru tidaknya pertandingan bergantung pada penilaian tiap orang - dan mungkin saja penilaian kalian berbeda denganku. Entahlah. Ada juga kritik yang mengatakan kalau Eyeshield 21 kurang bisa menyeimbangkan mengenai bagian olahraga dan bagian luar olahraganya.

Lepas dari kelemahan-kelemahan tersebut, Eyeshield 21 masih salah satu manga olahraga terbaik yang pernah saya baca. Kalau kalian belum pernah membacanya hanya karena takut tema olahraga yang diangkat asing bagimu, lupakan kekhawatiran itu dan ikuti petualangan Deimon Devil Bats sekarang juga!

Score: 9.1

Manga Details
Writer: Riichiro Inagaki
Penciller: Yusuke Murata
Publisher: Weekly Shonen Jump (Jepang), Elex Media Komputindo (Indonesia)

Comments (0)

Tags: , , ,

Rave

Posted on 19 May 2009 by Si Tukang Review

Rave Cover

Rave Cover

Karya manga yang dikenal di Jepang sebagai Groove Adventure Rave dan di Amerika sebagai Rave Master adalah salah satu manga shounen yang paling berkesan bagiku. Apa pasal? Ketika saya dulu tinggal di Jakarta dan masih menjadi seorang otaku, serial anime pertama yang kubeli dari pertama hingga tamat adalah Rave. Endingnya yang gantung membuat saya menjadi penasaran selama bertahun-tahun, sebelum manganya kemudian diterbitkan oleh Elex beberapa tahun kemudian. Semenjak saat itu, saya pun terus setia mengikuti (sekaligus berusaha meracuni) teman-temanku dengan serial Rave. Sebenarnya apa sih cerita Rave ini?

Ketika seekor binatang engga jelas bernama Plue ditemukan Haru Glory di Garage Island, Haru tak menyangka bahwa ia akan menjadi seorang Rave Master. Keberadaan batu suci Rave bisa ditelusuri dari sejarah perang besar 50 tahun lalu. Konon, ada sebuah batu representasi kegelapan bernama Darkbring yang mengancam kedamaian. Untuk menangkal dan melawan Darkbring, diciptakanlah batu suci bernama Rave oleh seorang gadis bernama Resha Valentine. Shiba, seorang prajurit biasa terpilih menjadi Rave Master yang pertama.

Walau rekan Shiba satu demi satu gugur, Shiba bisa bertahan untuk akhirnya berhadapan dengan ‘ibu’ dari semua Darkbring: Sinclair. Karena Shiba kelelahan, serangannya gagal menghabisi Sinclair secara sepenuhnya - dan yang terjadi justru sebuah ledakan besar yang menghancurkan sepersepuluh bagian dunia. Perlahan generasi berganti, dan dunia mulai lupa akan insiden tersebut. Yang tak disangka oleh Haru adalah Plue sebagai guardian Rave memilihnya menjadi Rave Master kedua. Haru yang menerima nasibnya pun harus mulai bergerak mengumpulkan semua batu suci Rave, dan menghentikan Darkbring. Dalam perjalanan, Haru akan bertemu dengan sahabat-sahabat seperjuangan dan musuh-musuh yang menggunakan Darkbring dan hendak menghentikannya.

Sebagai mangaka debutan, saya harus akui kalau karya Mashima ini terlihat belum terpoles, terutama pada edisi-edisi awal. Apabila kalian membandingkan artwork di nomer-nomer awal Rave dan artwork di Fairy Tail (manga garapannya sekarang), niscaya kalian akan sadar bagaimana Mashima telah berkembang selama sepuluh tahun terakhir. Lantas apa yang membuat Rave bisa bertahan begitu lama (35 volume!)? Mungkin itu dikarenakan konsep cerita Mashima. Percaya atau tidak, cerita fantasi dalam benak Mashima yang dituturkan melalui Rave bisa disetarakan dengan kerumitan One Piece dan Naruto. Hal ini terlihat semakin jelas di volume-volume akhir di mana Mashima perlahan-lahan membuka misteri-misteri yang menyelubungi Rave.

Selain cerita dan konsep, Mashima juga jagonya melahirkan karakter-karakter ajaib. Tidak semua eksperimen Mashima berhasil tentu saja; bahkan Plue yang dijadikan maskot Rave saja termasuk eksperimen gagal Mashima di mataku. Tapi untuk setiap satu Plue yang gagal, Mashima juga sukses melahirkan karakter orisinil macam Lazenby si superhero tolol atau Ruby si penguin dodol (jangan lupakan juga trio penjahat pantat besar!). Sayangnya untuk Rave, Mashima terlalu memecah fokus pada karakter-karakter sampingan sehingga lupa terhadap karakter utamanya sendiri. Lihat saja Elie, Musica, Let, Sieghart bahkan Ruby yang masing-masing memiliki cerita latar belakang mereka sendiri. Lantas bandingkan dengan Haru yang setelah story arc pertama (melawan Demon Card) praktis tersisih. Haru hingga kini masih masuk dalam daftar karakter utama yang benar-benar underdeveloped (kurang tergarap) buatku.

Beberapa konsep Rave yang seperti saya katakan tadi: menarik, juga gagal dimaksimalkan oleh Mashima di sini. Misalnya Rave itu sendiri. Apa sih fungsinya dia? Jujur saja, tidak ada pengaruh signifikan Rave dalam pertarungan kan? Kalah jauh bila dibandingkan dengan Darkbring milik para musuh yang fungsinya jelas. Konsep lain yang juga gagal adalah The Ten Commandments milik Haru. Pedang sepuluh jenis ini berapa yang dipakai Haru dalam pertarungan? Tidak banyak. Paling-paling Explosion. Jenis-jenis lain hanya sesekali muncul (biasanya dalam kemunculan perdananya) dan tidak lagi terpakai setelahnya; seakan-akan Mashima kurang kreatif menggunakan bentuk-bentuk pedang itu dalam merancang koreografi pertarungan Haru melawan musuh-musuh yang lain.

Sekali lagi, lepas dari kelemahan dan kelebihan yang ada, Rave tetap salah satu shonen manga paling mengesankan yang pernah kubaca. Bila kalian bosan dengan trio One Piece, Naruto, dan Bleach yang masih belum jelas ujungnya, coba saja nikmati Rave yang sudah tamat. Manga pertama Mashima mungkin bukan karya terbaiknya, tetapi dari sinilah Mashima berkembang menjadi salah satu mangaka terbaik dunia Shounen sekarang.

Score: 7.2

Manga Details
Writer: Hiro Mashima
Penciller: Hiro Mashima
Publisher: Kodansha Company
Volume: 01 - 35

Comments (2)

Tags: , , , ,

Monster Soul

Posted on 12 May 2009 by Si Tukang Review

Monster Soul Cover

Monster Soul Cover

Setelah karya panjang pertama Hiro Mashima - Groove Adventure Rave - tamat, sang mangaka mengambil rehat sejenak sebelum menulis Fairy Tail. Pada masa jedanya ini, Mashima kemudian menelurkan sebuah manga pendek berjudul Monster Soul. Terdiri dari 7 Chapter yang semula diterbitkan di Comic Bom Bom dan dikumpulkan dalam 2 Tankoubon, Monster Soul tamat tahun 2007 silam di Jepang. Di Indonesia sendiri, manganya sudah diterbitkan oleh penerbit Elex Media Komputindo sampai selesai. Bagaimana kisahnya?

Di jaman dahulu kala terjadi perang antara kubu manusia dan monster. Di antara pasukan monster itu terdapat sebuah pasukan elit yang legendaris: Black Airs. Setelah perang berakhir, tensi ketegangan antara manusia dan monster masih terasa dengan jelas. Beberapa manusia yang belum bisa menerima monster bahkan sering menangkapi monster untuk dijual. Apakah kedamaian antara kedua belah pihak takkan pernah tercapai?

Sebenarnya Monster Soul berpotensi menjadi serial yang panjang dan penuh intrik. Sayangnya, Mashima kemudian memutuskan untuk memprioritaskan Fairy Tail dan menamatkan Monster Soul secara prematur. Yah, saya sih tidak menyesali keputusan Mashima karena walaupun Monster Soul memiliki premise yang menarik, eksekusinya terlihat serba tanggung. Contohnya: Black Airs yang terdiri dari Aki, James, Tooran, dan Mami ini terlalu berfokus pada karakter Aki. Keempatnya pun tidak memiliki wibawa apapun sebagai kelompok yang disebut sebagai ‘prajurit terkuat para monster‘. Mungkin karena Mashima tidak memberi mereka cukup ruang untuk mengembangkan karakter dan menunjukkan kemampuan mereka pada pembaca? Entahlah.

Satu hal lagi yang perlu saya kritik dari Hiro Mashima adalah artworknya. Walau saya tahu setiap mangaka pun gaya gambar mereka sendiri, saya perhatikan kalau keempat karakter Black Airs ini terlampau mirip dengan karakter Mashima di manga-manganya yang lain (satu-satunya pengecualian adalah karakter James - si Frankenstein dengan wajah suka copot). Penggambaran sifat para karakternya juga monoton; yang paling kentara adalah Aki. Bisa dibilang dia adalah Natsu-nya Fairy Tail yang dimasukkan Mashima dalam cerita ini. Lihat saja emosinya yang gampang meledak, sifatnya yang bloon, dan semangatnya menolong orang. Kalau rambutnya disemir merah dan dia tidak bisa berubah jadi monster Aki bisa dibilang kehilangan semua nilai uniknya!

Lepas dari semua kelemahan itu, Monster Soul (sampai tamat pun saya tidak bisa menemukan relevansi antara judul dan ceritanya) mungkin bisa memuaskan para pembaca yang masih anak-anak dan mereka yang sekedar mencari hiburan pendek. Buat kalian yang ingin tahu kemampuan sesungguhnya Mashima dalam menggarap manga - silahkan baca masterpiece terkininya: Fairy Tail.

Score: 4.0

Manga Details
Writer: Hiro Mashima
Penciller: Hiro Mashima
Publisher: Kodansha Ltd

Comments (0)

Tags: , ,

BioMeat Nectar

Posted on 07 January 2009 by Si Tukang Review

BioMeat Cover

BioMeat Cover

Writer: Fujisawa Yuki
Penciller: Fujisawa Yuki
Publisher: Shonen Champion Comics

BioMeat Nectar termasuk salah satu manga shounen yang unik. Berbeda dengan manga Naruto, One Piece yang lebih populer di Indonesia, BioMeat rasanya lebih diperuntukkan pembaca yang lebih dewasa (seinen). BioMeat sendiri mengambil tema tentang makanan biologis yang diciptakan oleh manusia dan pada akhirnya menjadi pemakan manusia.

Yang disebut BioMeat (BM) sebenarnya merupakan solusi dari dua masalah besar yang dihadapi oleh manusia: pangan dan sampah. Makhluk biologis ini dibiakkan dengan cara memakan sampah apapun yang diberikan kepadanya. Sebaliknya, BM akan terus beregenerasi dan menduplikasikan dirinya. Setelah BM dibekukan, ia siap diproses lebih lanjut menjadi daging ala sapi yang siap dimakan oleh manusia. Solusi ini sekilas lihat tidak memiliki kelemahan; sekilas lihat ini merupakan puncak pencapaian umat manusia. Tapi nyatanya, BM adalah sebuah pedang bermata dua karena memakan apapun yang diberikan kepadanya… dan ini menjadi masalah besar ketika sebuah kecelakaan terjadi di pusat pembiakan BM. Karena gempa, BM lolos ke kota. Karena tingkat intelegensi yang begitu rendah, apapun dianggap makanan oleh BM termasuk manusia. Di tengah serbuan para monster yang selalu lapar ini, empat anak harus berjuang bersama-sama untuk tetap hidup.

Karya dari Fujisawa Yuki ini adalah salah satu manga survival-horror terbaik yang pernah saya baca. Selama membaca BioMeat Nectar, saya merasa bahwa manga ini berusaha menggarap cerita yang real. Setiap langkah yang diambil oleh para karakter utamanya dilakukan setelah melalui perhitungan yang cermat dan teliti, sehingga kendati masih terdapat plot hole, kebanyakan pembaca tidak akan menyadarinya. Bagi mereka yang menyadarinya pun akan bisa mafhum sebab plot hole yang ada tergolong kesalahan-kesalahan minor yang dapat ditoleransi. Tema sederhana untuk bertahan hidup ini tidak kehilangan daya pikatnya karena sang mangaka sukses membalut unsur survival dalam plot dan aksi yang menegangkan. Jangan cemas, walaupun BioMeat menegangkan secara keseluruhan, masih terselip canda di antara para tokohnya yang bisa mengajak anda turut tersenyum simpul bersama mereka.

Selain si monster, unsur penting lainnya dalam sebuah cerita survival-horror adalah para karakternya. Dalam hal ini, saya juga merasa bahwa Fujisawa Yuki sangat berhasil. Cerita dalam BioMeat Nectar bisa dibagi secara kasar menjadi tiga buah story arc. Tiga story arc ini memiliki tema outbreak BM yang serupa, tetapi nuansa yang berbeda (saya takkan banyak menspoiler di sini). Dari story arc pertama yang berfungsi sebagai prolog saja, Fujisawa Yuki sudah berhasil menanamkan kepada kita mengenai betapa mengerikannya BM yang lepas kontrol, dan memperkenalkan pada kita karakter-karakter utama yang nantinya akan menjadi pusat dalam outbreak-outbreak selanjutnya. Diversifikasi karakter dalam BM sesekali memang akan terasa dua dimensional karena Fujisawa Yuki seakan membagi karakternya dalam tiga kubu: “karakter yang baik sekali“, “karakter yang jahat sekali“, dan “karakter yang berada di daerah abu-abu“. Meskipun demikian, kecerdikannya mengoptimalkan karakter-karakternya membuat kita bisa bersimpati dengan mereka. Berkali-kali saya merasa “Hih, orang itu menyebalkan, semoga BM cepat-cepat melahap dia”, sementara di lain waktu saya dibuat deg-degan karena karakter favorit saya berada di ujung tanduk.

Untuk urusan artwork, kendati BioMeat Nectar bukan yang terbaik, Fujisawa Yuki saya nilai cukup berhasil dalam menggambarkan adegan-adegan penuh darah dan kesadisan. Saya juga menyukai design BM yang mirip dengan campuran kura-kura monster. Satu-satunya kekurangan BioMeat mungkin hanya terletak pada karakter-karakter cewenya yang wajahnya cukup mirip satu sama lainnya; toh setidaknya mereka muncul dengan penampilan yang baru di setiap story arc.

Walau dikategorikan sebagai manga shounen, saya lebih menyarankan BioMeat Nectar untuk dibaca penggemar manga yang sudah dewasa (terutama karena banyaknya unsur gore di dalamnya). Apabila kamu penggemar game survival horror macam Resident Evil, ingin mencari sebuah tipe manga yang berbeda dengan yang biasanya, cicipilah BioMeat Nectar, and welcome to a world of terror!

Score: 9.0

Comments (2)

Advertise Here
Advertise Here