Archive | Graphic Novel

Tags: , , , , ,

The Flash: Rebirth

Posted on 06 March 2010 by Si Tukang Review

The Flash: Rebirth #4 Cover

The Flash: Rebirth #4 Cover

Ada dua kematian paling monumental di DC selain kematian Superman, sang manusia baja. Satu; kematian Hal Jordan setelah ia terkorupsi menjadi Parallax, dan yang kedua kematian dari Barry Allen dalam Crisis on Infinite Earths. Setelah Dan DiDio menjadi pemimpin redaksi DC, ia nampaknya sadar bahwa dua sosok pengganti mereka: Kyle Rayner dan Wally West tidak memiliki karisma seperti kedua pendahulunya. Dulu, Hal dan Barry adalah senior yang tidak takut terhadap Superman, Batman, dan Wonder Woman dan berdiri sejajar. Ini berbeda dengan Kyle yang adalah superhero baru dan Wally yang naik pangkat dari Kid Flash. Keduanya junior yang seolah-olah tunduk kepada ketiga superhero besar DC dan celakanya menjadikan nama yang mereka sandang franchise kelas dua. DiDio tidak menghendaki hal ini berlangsung lama dan langsung mencari cara membawa duet Hal dan Barry kembali.

Yang pertama dibawa kembali adalah Hal Jordan melalui Green Lantern: Rebirth. Geoff Johns sukses menghidupkan kembali franchise tersebut. Rencana awal bagi DiDio adalah menghidupkan Barry pada akhir Infinite Crisis tetapi rencana itu kemudian ditangguhkan karena dianggap terlalu cepat membangkitkan keduanya pada saat yang hampir bersamaan. Hampir tiga tahun berlalu dan franchise Green Lantern sudah sukses dimantapkan oleh Geoff Johns dan DC pun menyadari bahwa inilah saatnya mengembalikan Barry Allen. Rencana yang telah lama disiapkan itu akhirnya dieksekusi pada awal Final Crisis. Grant Morisson yang bertanggung jawab akan kisah tersebut menarik Barry keluar dari Speed Force dan mengembalikannya pada dunia DC. Hanya saja karena Final Crisis merupakan saga besar keseluruhan dunia DC, Morisson tidak bisa berfokus pada kebangkitan Barry.

Orang yang bertugas untuk mengambil alih Morisson tidak lain tidak bukan Geoff Johns. Dianggap sukses membangkitkan Hal Jordan, Geoff lagi-lagi dipasrahi untuk menulis kisah kebangkitan Flash. Kebangkitan atau Rebirth di sini sebenarnya tidak tepat karena Flash sudah bangkit saat Final Crisis. Kisah Rebirth kali ini lebih tepat disebut pencarian jati diri Flash di dalam dunia DC yang sudah jauh berubah sejak ia tinggal dulu. Selain Barry Allen sendiri, Geoff juga menyorot keluarga Flash dan mengubah status quo dari keluarga besar Scarlet Speedster. Wally West yang sebelumnya adalah Flash tetap mempertahankan kostumnya itu, yang berarti kini ada dua Flash berlari di dunia DC. Beberapa orang menganggap ini langkah yang keliru, tapi saya rasa ini bisa jadi efektif bila dieksekusi dengan pas. Green Lantern dan Flash sebenarnya memiliki banyak kesamaan. Apabila Green Lantern mendapatkan kekuatannya dari para Guardian OA dan semua orang bisa menjadi Green Lantern bila memiliki cincin, maka Flash mendapatkan kekuatannya dari Speed Force sehingga logikanya memang tidak harus terbatas pada Barry Allen. Toh sebelum dia pernah ada Jay Garrick. Selain merevitalisasi para keluarga Flash, Geoff juga memposisikan sang Reverse Flash alias Professor Zoom sebagai musuh utamanya. Nah, untuk yang satu ini saya rasa sang penulis kurang berhasil. Zoom tidak memiliki karisma kejahatan yang sama seperti halnya Joker maupun Lex Luthor. Saya tahu bahwa Zoom akan kembali merepotkan Barry di masa depan, tetapi untuk sekarang saya lebih berharap para Rogues diposisikan sebagai musuh utamanya.

Cerita dalam The Flash: Rebirth terlalu membingungkan. Ini untuk pertama kalinya saya benar-benar kecewa dengan penulisan Geoff setelah New Krypton dua tahun lalu. Geoff Johns, yang dianugerahi gelar penulis komik terbaik tahun 2009 lalu oleh Spike TV, berusaha memasukkan terlalu banyak elemen dalam prolog awal kisah Flash ini sampai-sampai mini-seri panjangnya menjadi jadi enam volume. Alih-alih menarik perhatian pembaca baru, saya rasa kebanyakan orang akan garuk-garuk kepala tidak mengerti berbagai istilah mitologi dunia Flash yang dipakai olehnya. Oke kami pembaca mengerti mengenai Speed Force dan kemampuan yang diberikan kekuatan kecepatan itu kepada Flash, tetapi konsep time-travelnya? Duh, bikin sakit kepala - belum lagi membuat banyak lubang inkonsistensi pada plot cerita. Satu-satunya elemen terbaik yang dimasukkan oleh Geoff terletak pada sisi psikologis Flash di mana sang penulis menyebutkan bahwa kelemahan Flash tidak berwujud fisik seperti kryptonite bagi Superman melainkan keharusannya untuk memperlambat gerak-geriknya sendiri untuk menyesuaikan ritme dunia sekelilingnya. That’s a nice and subtle touch, tapi itu jauh dari cukup untuk bisa memuaskanku.

Setidaknya penyelamat untuk mini-seri yang semula dijadwalkan hanya sepanjang lima volume ini datang dari goresan tangan Ethan Van Sciver. Kolaborasi yang sama dulu membuat Green Lantern: Rebirth pemenang dari sisi cerita dan artwork dunia antariksa DC yang penuh warna. Walau kali ini The Flash: Rebirth tidak memiliki cerita sekuat pendahulunya, setidaknya Van Sciver memastikan sisi kinetik Flash terlihat dalam setiap panel komiknya. Unsur kuning dan petir menjadi efek yang dominan di sini, dan memang sudah selayaknya dan sepantasnya bagi komik untuk para orang yang mengendarai petir itu sendiri.

So my verdict is… sebuah karya yang jauh dari fenomenal. Saya adalah penggemar berat setiap karya Geoff Johns, tetapi The Flash: Rebirth bukanlah karya terbaiknya. Jauh dari itu malah. Melihat makin turunnya apresiasi saya terhadap karya-karya Geoff, saya jadi berpikir jangan-jangan penulis yang satu ini dipasrahi terlalu banyak kerjaan? Bahkan karya The Flash: Rebirth ini saja terganjal oleh jadwal keluarnya yang melulu molor. Ironis bukan, karena The Flash notabene adalah manusia tercepat di bumi.

Score: 6.2

Graphic Novel Details
Writer: Geoff Johns
Artist: Ethan Van Sciver
Publisher: DC Comics
Volume: 01 - 06

Comments (0)

Tags: , , , , , ,

Blackest Night The Flash

Posted on 22 February 2010 by Si Tukang Review

Blackest Night The Flash #2 Cover

Blackest Night The Flash #2 Cover

Wow. Di tengah kesibukannya menulis berbagai macam graphic novel dan skenario TV, Geoff Johns masih bisa juga menyempatkan waktu untuk menulis cerita salah satu tie-in Blackest Night. Kelihatannya Flash memang menjadi salah satu franchise yang hendak dibangkitkan kembali oleh DC dan karena alasan itulah mereka memasrahi penulis terbaik mereka untuk menulis kisah si Scarlet Speedster, bahkan untuk komik tie-in sekalipun.

Sebenarnya sih dari semua tie-in Blackest Night, Flash seharusnya menjadi yang paling menarik perhatian. Kenapa? Kalian yang membaca Blackest Night pasti tahu bahwa saga DC kali ini memberi fokus utama kepada Hal Jordan dan Barry Allen. Karena Hal adalah polisi luar angkasa yang tidak hanya bertanggung jawab pada sektor bumi, otomatis waktunya dalam Blackest Night pun terbagi antara dunianya dan dunia para Lantern yang lain. Nah, yang mengisi kekosongan Hal selama ia pergi bukan Superman atau Wonder Woman. Tidak lain tidak bukan sobatnya ini.

Hampir sama dengan tie-in Blackest Night Wonder Woman, Blackest Night The Flash ini juga berjalan seiringan dengan komik utamanya sendiri, yang berarti turut mengisahkan petualangan Flash setelah ia didapuk menjadi seorang Blue Lantern. Jangan khawatir. Akan tetapi berbeda dengan tie-in Wonder Woman yang mengaitkannya dengan Mera (sosok di luar mitologinya), Geoff Johns secara cerdik mengkarantina tie-in ini pada keluarga Flash saja. Tentu menolong mengingat keluarga Flash kini tengah berkembang dengan pesat usai Flash: Rebirth (serial yang memperingati kembalinya Barry Allen ini akan diluncurkan edisi terakhirnya minggu depan - dan saya sudah tidak sabar untuk mereviewnya). Walau jauh dari sempurna, Geoff memberikan kepada kita preview mengenai dinamika keluarga Flash ini nantinya berinteraksi satu sama lain, dan bila chemistry antar para tokohnya bisa dipertahankan sekuat tie-in ini, DC bakalan membangkitkan franchise lain mereka setelah Green Lantern.

Flash sendiri bukan menjadi satu-satunya sorotan di sini. Gerombolan musuh utama Flash: The Rogues juga disorot di sini. Ada ungkapan bahwa superhero terhebat harus diimbangi dengan supervillain yang tak kalah ganasnya. Spider-man punya Green Goblin. Batman punya Joker. Superman punya Lex Luthor. Salah satu alasan kenapa Wonder Woman tidak pernah bisa ‘sebesar’ kedua koleganya adalah karena ia tidak memiliki supervillain yang bisa menjadi rivalnya. Geoff Johns kelihatannya tahu benar akan hal ini dan memposisikan Sinestro sebagai lawan utama Hal Jordan dalam Green Lantern. Melihat bagaimana para Rogues mengambil peran dominan dalam tie-in ini (bisa dibilang setengah porsi cerita), Geoff membangun galeri musuh yang tangguh buat dihadapi para Flash. Dari para Rogues ini yang langsung menarik minatku adalah Captain Cold. Oho; namanya boleh mengundang tawa, tetapi karakteristik dan pandangannya yang 180 derajat berbeda dengan Barry langsung mengundang perhatianku.

Meski demikian, saya harus jujur berkata kalau ini bukan karya terbaik Geoff Johns. Beberapa kali dialog dalam komik ini terasa terlalu dangkal dan kurang mengandung pesan emosional. Saya juga merasa pemakaian kata “All will be well” sebagai semboyan Blue Lantern terlalu banyak dipaksakan masuk di buku kedua dan ketiganya di mana Barry tergabung dalam korps perlambang harapan itu. Kesan keren yang saya dapat ketika melihatnya di akhir volume keenam Blackest Night jadi pudar karena terlalu repetitif. Ditambah lagi beberapa musuh dan plot dalam komik tie-in ini malah memberi spoiler pada ending Flash: Rebirth yang belum terbit. Ah, setidaknya karena Geoff Johns yang menulis ini maka bahkan hasilnya di bawah standar kerjanya saja sudah mendapat penilaian di atas rata-rata di mataku.

Artwork Scott Kolins banyak dipuji situs-situs komik luar negeri, tapi saya sendiri cenderung menilainya biasa saja. Mungkin artwork Kolins tidak sesuai seleraku karena saya lebih condong pada gaya penggambaran Ethan Van Sciver.

So my verdict is… ini lagi-lagi sebuah karya tie-in Blackest Night yang tanggung. Sayang sekali bahkan Geoff Johns pun tidak bisa memaksimalkan karya ini ataupun memberinya suatu masukan baru untuk memperkaya kisah utamanya. Dari semua serial tie-in Blackest Night yang kubaca, yang berhasil melakukannya hanyalah Titans. Setidaknya, mini-seri ini bisa menjadi preview bagi kalian-kalian yang tidak sabar menantikan serial baru Flash (tentunya ditangani oleh… siapa lagi? Geoff Johns) seusai Blackest Night nanti.

Score: 7.5

Graphic Novel Details
Writer: Geoff Johns
Artist: Scott Kolins
Publisher: DC Comics
Volume: 01 - 03

Comments (9)

Tags: , , , , , , ,

Blackest Night Wonder Woman

Posted on 22 February 2010 by Si Tukang Review

Blackest Night Wonder Woman #2 Cover

Blackest Night Wonder Woman #2 Cover

Tie-in untuk Blackest Night bagian pertama sudah selesai. Tie-in tersebut mencakup karakter dalam keluarga Superman, Batman, dan Titans. Premise dari ketiganya tergolong sama. Para superhero harus berkonfrontasi dengan orang kesayangan (keluarga maupun sahabat) atau musuh mereka yang sudah lama mati tetapi dibangkitkan oleh cincin hitam. Semua tie-in tersebut juga memiliki pengakhiran yang serupa; bahwa para superhero kini tahu bahwa para Black Lantern itu hanya jasad yang dibangkitkan tanpa jiwa dan harus dihentikan dengan segenap cara. Bersamaan dengan majunya cerita utama Blackest Night, tie-in bagian keduanya pun diluncurkan dan berfokus pada karakter Flash dan Wonder Woman. Mengingat cerita utamanya sendiri sudah sampai pada perang frontal antara para superhero melawan para Black Lantern, banyak pembaca berharap kalau resep lama dalam tiga tie-in di atas tidak lagi diulang.

Mini-seri ini terbagi dalam tiga volume yang boleh dibilang berdiri sendiri sebagai suplemen cerita Blackest Night utama. Volume pertamanya tentang konfrontasi Wonder Woman menghadapi Black Lantern Maxwell Lord, volume keduanya adalah pergumulan diri Wonder Woman saat ia berubah menjadi Black Lantern, dan yang terakhir adalah bagaimana sang putri Amazon ini beradaptasi dengan cincin violet saat ia didaulat menjadi seorang Star Sapphire.

Berdiri sendiri-sendiri, ketiganya sebenarnya merupakan bacaan yang menarik dengan catatan kamu tahu sedikit banyak mengenai sejarah superheroine paling terkenal di muka bumi ini. Greg Rucka yang merupakan penulis serial Wonder Woman sebelum Infinite Crisis dan reboot ulangnya kembali untuk menulis serial ini, dan itu adalah sesuatu yang saya terima dengan senang hati. Tanpa merendahkan Gail Simone yang telah melakukan tugas luar biasa, siapapun yang membaca penulisan Greg Rucka akan Wonder Woman pasti setuju bahwa ia adalah salah seorang penulis yang paling mengerti sang superheroine. Konfrontasi Diana dengan Maxwell Lord dalam komik ini menjadi sesuatu yang sangat saya nantikan, karena kepiawaian Rucka menulis bagaimana Diana membunuh Maxwell di depan seluruh dunia merupakan awal benih perpecahan yang nantinya menjadi Infinite Crisis. Saya juga suka dengan bagaimana Greg Rucka menggambarkan pertentangan Diana melawan cincin hitam dalam dirinya (bisa dibilang ini adalah pertama kalinya pembaca diberi kesempatan melihat apa yang terjadi pada para pahlawan yang dikuasai oleh Nekron) dan perdebatan dua cincin warna antara Mera (Rage / Amarah) dan Diana (Love / Cinta) di volume ketiga.

Toh, kalau mau dinilai secara jujur, Blackest Night Wonder Woman adalah sebuah bacaan yang sulit dibaca bila berdiri sendiri. Volume pertamanya seakan berdiri terpisah dari volume kedua dan ketiganya. Kemudian saya sendiri tidak terlalu tahu mengenai hubungan Mera dan Diana, sehingga perdebatan keduanya pada buku kedua dan ketiga tidak terasa nendang, katakanlah sebagaimana halnya duel ulang Diana menghadapi Maxwell di pembuka mini-seri ini. Seperti yang saya katakan di awal review tadi, kamu bakalan menemukan tie-in ini tidak menggigit kalau kamu tidak mengerti benar sejarah, posisi dan relasi Wonder Woman dengan karakter-karakter lain di dunia DC.

Untuk artworknya sendiri, Nicola Scott (Secret Six) berhasil mencuri perhatian saya. Mungkin ia tidak sejago Doug Mahnke atau Ivan Reis dalam menggambar sosok Black Lantern yang menakutkan, tetapi artworknya tergolong solid sepanjang tiga volume. Tidak buruk, walau saya tidak akan berlebihan melabelinya spektakuler.

So my verdict is… saya pribadi masih condong pada tie-in kumpulan pertama Blackest Night. Walaupun ketiganya memiliki jalan cerita yang bisa diprediksi, setidaknya saya bisa membacanya secara independen tanpa tergantung pada serial utama Blackest Night sendiri. Baca mini-seri ini hanya bila kamu pengikut fanatik saga Blackest Night atau karakter Wonder Woman.

Score: 6.5

Graphic Novel Details
Writer: Greg Rucka
Artist: Nicola Scott
Publisher: DC Comics
Volume: 01 - 03

Comments (0)

Tags: , , , , , , , ,

Ultimate Comics: Armor Wars

Posted on 11 February 2010 by Si Tukang Review

Ultimate Comics: Armor Wars Poster

Ultimate Comics: Armor Wars Poster

Pada akhir crossover Ultimatum, dunia Ultimate milik Marvel berubah untuk selama-lamanya. Puluhan juta manusia dan mutant tewas terbunuh di tangan Magneto dan tsunami global yang ia ciptakan. Mudah ditebak apabila dunia bukanlah sebuah tempat yang nyaman ditempati sebagaimana dulu lagi - bahkan untuk seorang konglomerat Tony Starks. Grup The Ultimates yang ia naungi terpecah-belah, Tony juga masih dihantui dengan aksi membunuh rekannya saat Ultimatum, dan bahkan perusahaannya kini diterpa oleh krisis ekonomi global.

Dengan berakhirnya Ultimatum, berubah pula tatanan komik terbitan dunia Ultimate. Sebelum Ultimatum, dunia Ultimate memiliki empat komik: versi Ultimate dari X-Men, Avengers, Spider-man, dan Fantastic Four. Saat itu sudah beredar rumor bahwa X-Men dan Fantastic Four tidak akan dilanjutkan seusai Ultimatum karena kualitas dan oplah yang terus menurun dan memang kenyataannya Marvel menghentikan penerbitan dua serial tersebut. Marvel tahu benar bahwa tidak mungkin sebuah dunia hanya disokong oleh dua komik saja (dan hanya satu yang bulanan) sehingga mulai menciptakan mini-seri dan serial komik yang baru. Salah satu mini-serinya adalah Armor Wars yang ditukangi oleh Warren Ellis sepanjang empat buku.

Armor Wars versi Ultimate ini merupakan intepretasi bebas dari versi kontinuitas Iron Man resmi Marvel yang berjalan pada 1987 hingga 1988 dulu. Saga yang pada kontinuitas resminya disebut Stark Wars ini merupakan salah satu jalan cerita Iron Man yang memorable selain Demon in a Bottle sehingga saya tertarik melihat bagaimana sudut pandang Ellis dalam memodernkan karya klasik - yang sejujurnya belum saya baca - itu.

Seperti yang saya katakan di awal review tadi, perusahaan Tony Starks mengalami hantaman hebat yang menyebabkan kekayaannya mengerucut dengan signifikan. Kendati begitu, apa yang ada di pikiran Tony lebih pada teknologi jubah Iron Man-nya. Sadar bahwa teknologi jubah Iron Man bisa berbahaya bila jatuh ke tangan orang yang salah, Tony pun bergerak untuk mencari tahu siapa yang menyebarkannya dan bagaimana ia bisa menghentikannya. Di awal cerita juga, ia bertemu dengan gadis berambut merah bernama Justine Hammer, putri dari rival bisnisnya Justin Hammer. Kehadiran gadis ini turut memperumit perasaan Tony. (PS: Apa karena rambut merahnya mengingatkan Tony pada Black Widow ya?)

Salah satu ciri khas dari komik The Ultimates, di mana Tony juga seorang anggotanya, adalah campuran antara kerealistisan dan fantasinya. Acungan jempol kuberikan pada Mark Millar yang mampu menciptakan dunia realistis di mana superhero bisa hidup di tengah kita, tetapi juga cukup fantasi di mana ada surga Asgard bangsa Norse di atas dunia manusia. Terlihat kalau Warren Ellis berusaha mengambil pendekatan yang sama dengan Millar tetapi lebih berfokus ke arah politik dan teknologi, sisi yang kerap disangkutpautkan dengan Tony. Saya juga suka dengan dialog-dialog yang ditulis Ellis. Saya tadinya sempat khawatir karena trauma dengan bagaimana Jeph Loeb menghancurkan karakter-karakter idaman saya di season ketiga The Ultimates dengan memasukkan segala jenis dialog kacangan ke dalamnya. Untungnya Ellis tidak begitu. Seakan mengerti dan menjiwai sosok Ultimates Tony, Ellis mampu berbicara lewat Tony Starks yang bicaranya penuh dengan humor sarkasme.

Walau saya suka setengah mati dengan penulisan cakap Ellis, saya tidak bisa mengatakan hal sama untuk ceritanya. Terlalu banyak pembicaraan konspirasi dan politik yang membuat serial ini jadi sulit dibaca. Saya yang suka dengan komik dunia Ultimates saja cukup kesulitan mengerti ceritanya sebelum membacanya dua tiga kali sehingga saya tidak berani membayangkan bilamana pembaca yang tidak fasih dengan dunia Ultimates berusaha membacanya… bisa langsung hilang! Duh duh Ellis, kita tahu kamu sukses dengan The Authority, tapi perlukah meniru gaya penceritaannya di sini? Kok rasanya kurang cocok ya? Satu lagi yang saya sayangkan adalah (SPOILER ALERT) kenapa banyak karakter pendukung dalam komik ini yang sebenarnya berpotensi diintegrasikan dalam komik dunia Ultimates lainnya dimatikan secara prematur oleh Ellis? Apa tidak cukup mayat dunia Ultimates yang sudah bejibun banyaknya itu?

Setidaknya walaupun saya merasa kurang cocok dengan ceritanya yang kelewat ribet, saya selalu bisa menikmati artwork yang digambar oleh Steve Kurth. Melihat gaya gambarnya, saya sempat salah sangka dan mengira kalau komik ini artworknya ditangani oleh Bryan Hitch. Keberhasilan Kurth ‘menipu’ mata saya ini adalah sebuah bukti kalau ia seorang artis yang sangat berbakat dan saya harap kalau Marvel akan lebih sering menggunakan talentanya di komik-komik mereka yang lebih mainstream.

So my verdict is… Ultimate Comics: Armor Wars jelas bukan sebuah komik untuk semua orang. Apabila kamu tidak kenal baik dengan sejarah dan latar belakang Iron Man, saya sarankan menjauhi komik. Dan tidak… menonton filmnya tidak membuat kamu terhitung sebagai seseorang yang kenal baik sejarah sang manusia besi ini.

Score: 7.0

Graphic Novel Details
Writer: Warren Ellis
Penciller: Steve Kurth
Publisher: Marvel Comics
Volume: 01 - 04

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Kick-Ass

Posted on 30 January 2010 by Si Tukang Review

Kick-Ass #2 Cover

Kick-Ass #2 Cover

Saya rasa komik karangan dari Mark Millar dan John Romita Jr. bisa membuat banyak komik-komik lain sangat iri. Bagaimana tidak iri coba? Komik setenar Spider-man dan Superman saja harus menunggu sampai puluhan tahun sebelum kisah mereka diadaptasi ke layar lebar, tapi Kick-Ass? Hanya dalam enam edisi dan tidak sampai setahun saja serial indie ini mendapatkan perhatian luar biasa besar dan saat edisi ketujuhnya diluncurkan sudah ada lampu hijau untuk menggarap film layar lebarnya. Bersamaan dengan berakhirnya story arc pertama di edisi kedelapannya, film Kick-Ass sendiri sudah siap kita nikmati di layar lebar pada April 2010. Hanya ada satu kata untuk menggambarkan pencapaian ini: fantastis.

Lantas sebenarnya apa sih yang membuat Kick-Ass begitu ngetop? Demikian ringkasan cerita untuk story arc pertamanya! Dave Lizewski adalah anak normal. Dia bukan anak terpintar di kelas, tapi dia juga bukan yang paling goblok. Dia bukan anak paling populer, tapi juga bukan yang paling suka diejek dan dijadikan olok-olok. Sederhananya, Dave adalah anak yang normal… hampir. Satu-satunya yang berbeda dari Dave adalah daya fantasi dan ngefansnya dengan komik. Dengan setting di dunia nyata dan komik serta film superhero bertebaran di mana-mana, Dave kemudian bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. “Kenapa tidak ada orang yang mau menjadi superhero?”. Berbekal pertanyaan itu, Dave pun mulai menggarap kostum superhero dan nama superhero buatnya sendiri: Kick-Ass.

Tentu saja Dave bukanlah Peter Parker yang memiliki kekuatan laba-laba atau para anggota X-Men yang memiliki mutasi genetic. Ia bahkan tidak memiliki kemampuan bela diri memadai ala Batman atau Nick Fury. Dengan kata lain, bukannya Dave kick ass, ass dia malahan dikick oleh para kriminal yang ada! Toh kegagalan demi kegagalan tidak menyurutkan Dave. Semakin dalam Dave menyelami kehidupan superheronya, ia mulai sadar bahwa ia tidak sendiri dalam urusan gila ini. Ia mulai bertemu dengan dua superhero sungguhan (tapi gila) ayah anak Big Daddy dan Hit Girl. Ia kemudian juga bertemu dengan superhero jadi-jadian lain Red Mist. Bagaimanakah sepak terjang Kick-Ass selanjutnya?

Saya benar-benar menikmati perjalanan Kick-Ass, setidaknya untuk tiga perempat perjalanannya. Melihat bagaimana Dave berusaha menyeimbangkan hidup sehari-harinya yang membosankan dengan kehidupan seorang superhero yang menjadi populer di internet (lucu juga, karena komik ini juga menarik perhatian banyak orang pertama melalui internet) terasa menyenangkan, unik, dan fresh. Walaupun kemampuan Mark Millar menulis dialog-dialog anak SMU masih di bawah Brian Michael Bendis (karena dialog Mark entah bagaimana terlalu banyak mengacu kea rah nuansa emo), setidaknya Mark menutupinya melalui sisi lain kehidupan Dave sebagai Kick-Ass. Di sini Mark yang sudah dari sananya jago menjual kekerasan lewat The Ultimates atau Wanted menunjukkan tajinya. Omongan-omongan Hit Girl dan para gangster yang dihadapi oleh Kick-Ass menunjukkan bagaimana piawainya Millar ketika sudah berada di dunia yang dikuasai olehnya itu. Maksudku begini; kalau saya bilang komik ini mengikutkan seorang anak kecil yang juga seorang pembunuh sadis ditambah suka menghisap kokain supaya fly dalam menghadapi lawan, kalian mungkin mengira saya gila, saya juga merasa bahwa itu gila – sebelum saya melihat bagaimana Millar mengeksekusi konsep itu dengan begitu meyakinkannya hingga saya merasa itu cool dan keren. Kudos buat Millar.

John Romita Jr. juga berperan penting sebagai pencipta artwork komik ini. Saya sebenarnya kurang suka dengan goresan-goresan kasarnya ketika menggambar, tetapi khusus untuk Kick-Ass yang penuh darah dan kekerasan, John Romita Jr. bukan pilihan yang jelek. Apel memang tidak jatuh jauh dari pohonnya, John Romita Sr. sang ayah adalah seorang illustrator terbaik Marvel di jaman 1970an dulu. Ingat gambar Mary Jane klasik? Itu hasil karyanya. Toh, saya beranggapan karya terbaik sang anak tetap di saat ia berkolaborasi dengan Greg Pak dalam serial Hulk. Di sana keberingasan Hulk tergambar sempurna oleh John Romita Jr. Di sini, sang artis (seperti halnya Millar) kurang kompeten dalam menggambar kehidupan kesehari-harian Dave (muka Dave dan kawan-kawannya jadi terlihat aneh).

Terlepas dari kontroversi kekerasan di dalamnya, publik menyukai Kick-Ass. Aplaus dan tepuk tangan panjang terdengar seusai trailer Kick-Ass (saat itu belum memiliki distributor) diputar di Comic-Con 2009. Studio Lionsgate bergerak cepat dan mengambil hak peredaran film ini. Nah sekarang tinggal menantikan filmnya saja. Like it or not, this is a comic that’s gonna kick your ass!

Score: 7.6

Graphic Novel Details
Writer: Mark Millar
Penciller: John Romita Jr.
Publisher: Icon
Volume: 01 - 08

Comments (1)

Tags: , , , , , , ,

Captain America: Reborn

Posted on 29 January 2010 by Si Tukang Review

Captain America: Reborn #1 Cover

Captain America: Reborn #1 Cover

Bagi orang yang mengetahui tokoh komik Marvel hanya melalui film-filmnya, saya rasa Captain America mungkin hanya sekedar karakter sekunder – bahkan tertier yang tidak terkenal. Bayangkan, di saat Marvel sibuk memasukkan karakter-karakter superhero paling terkenal mereka seperti X-Men dan Spider-man ke layar lebar, Captain America terpinggirkan. Bahkan ketika superhero sekunder seperti Hulk, Fantastic Four, sampai Daredevil sudah masuk ke layar lebarpun Captain America masih saja dilupakan. Tidak mengherankan kalau tidak banyak orang yang mengetahui siapa itu Captain America. Empat tahun lalu ketika saya pertama kali mengenal komik Amerika saja saya menyangka Captain America itu seorang superhero dengan kostum ‘aneh’.

Setelah saya membaca lebih lanjut, bagaimanapun juga, saya baru menyadari betapa pentingnya sosok seorang Captain America dalam dunia Marvel. Sebagaimana halnya Superman di DC, Captain America adalah aspirasi bagi semua superhero dunia Marvel. Tidak kurang mulai dari Spider-man sampai The Punisher menjadi sosok yang segan dan menghormati sang pahlawan dengan julukan Sentinel of Liberty ini. Oleh karena itu, bukan hal yang mengherankan bahwa saat Captain America tewas di akhir kisah Civil War pada tahun 2005 Amerika menjadi gempar. Stasiun TV, Internet, sampai surat kabar semua ramai memberitakan kematian ikon Amerika itu. Tercatat dalam sejarah bahwa hanya kematian Superman belasan tahun yang lampaulah yang memiliki hype sebesar itu. Hal itu kian impresif mengingat pada jaman ini kebanyakan orang sudah tahu bahwa superhero tidak pernah mati secara ‘permanen’.

Setelah kematian Steve Rogers, penulis serial Captain America Ed Brubaker langsung memajukan cerita dengan memperkenalkan kepada dunia sang Captain America yang baru. Tameng legendaris Captain America ini kemudian diwariskan kepada Bucky, sidekick dari Captain America. Sekedar catatan saja, langkah Marvel ini sukses besar sehingga DC berusaha menirunya dengan ‘membunuh’ Bruce Wayne si Batman dan mewariskan mantel Batman pada Dick Grayson si Robin. Setelah tiga tahun Captain America absen dalam kancah dunia Marvel, Ed Brubaker menyatakan bahwa kini ia siap mengembalikan sang jagoan pada dunia Marvel. Dan cerita itu dipersiapkan dalam kronologi enam bagian yang dinamai Captain America: Reborn.

Sebelum membaca Captain America: Reborn, ada baiknya kalau pembaca komik tahu lebih dulu mengenai kisah dalam serial Captain America sebelumnya mulai dari The Death of the Dream, The Burden of Dreams, sampai The Man Who Bought America. Kenapa? Karena walaupun Captain America: Reborn diposisikan sebagai mini-seri, ada banyak sekali referensi pada kejadian-kejadian yang terjadi pada waktu saat dan setelah kematiannya. Pembaca yang langsung melompat membaca mini-seri ini dipastikan kebingungan akan keterlibatan karakter Red Skull, Sin, atau Sharon di dalamnya, terutama karena Ed Brubaker tidak mau membuang-buang waktu menjelaskan ulang mengenai apa saja koneksi mereka dalam kisah kebangkitan kembali Captain America.

Marvel juga menurunkan salah satu tim terbaik mereka untuk proyek ini. Selain memasrahi penulisan ceritanya kepada Ed Brubaker (yang adalah serial Captain America terbaik), artwork dalam komik ini ditangani oleh Bryan Hitch, tandem dari Mark Millar dalam serial The Ultimates dan Fantastic Four. Mendengar duet ini, saya hampir saja ngiler dan menjerit kegirangan. Saya tidak bisa membayangkan betapa dahsyat kolaborasi keduanya! Sayang setelah membaca enam edisi, saya memutuskan bahwa kerjasama mereka sebaiknya berakhir sampai di sini saja. Entah kenapa keduanya tidak tampil dalam performa terbaik mereka di komik ini. Cerita yang ditulis oleh Ed Brubaker mengenai ‘kenyataan’ di balik kematian dan kebangkitan kembali Steve Rogers seperti terlalu mengada-ada, kontras dengan penulisan Brubaker yang selama ini berpijak pada dunia spionasme dan realita. Hal ini diperburuk dengan gaya gambar Bryan Hitch yang kualitasnya turun drastis dibandingkan karya-karya sebelumnya. Silahkan bandingkan artwork dalam mini-seri ini dengan The Ultimates atau Fantastic Four. Bryan Hitch selama ini selalu membuktikan diri bahwa dia adalah artis yang mampu menggambar berbagai macam set dan kisah epik sehingga saya berharap kegagalan ini hanya menjadi batu kerikil kecil yang tak menghalangi dia bangkit lagi ke depannya.

Toh terlepas dari kelemahan dua orang tim kreatifnya, apa yang membuat Captain America: Reborn kehilangan semua impact dalam dunia Marvel adalah molornya jadwal terbit. Sejak kapan ada sebuah kisah epilog muncul terlebih dahulu sebelum kisah utamanya sendiri berakhir? Hal ini baru pertama kali saya jumpai di sini. Masa sih edisi kelima dari Reborn baru saja muncul kemudian epilog one-shot yang berjudul Who Will Wield the Shield muncul lebih dulu sebelum klimaks komik ini? Ini langsung membunuh semua misteri yang tersisa di komik keenamnya. Walaupun kita tahu bahwa Steve Rogers pasti kembali, ternyata misteri siapa yang bakalan menjadi Captain America malahan dijawab dalam Who Will Wield the Shield, bukannya edisi keenam dalam mini-seri Reborn.

Yah, terlepas dari semua kekurangan yang saya sebutkan tadi, Captain America: Reborn adalah sebuah ambisi bombastis seorang Ed Brubaker (walau sayangnya gagal) untuk mengembalikan Steve ke tengah dunia Marvel. Dan mengingat dunia Marvel kini dalam kekelaman setelah dikuasai oleh Norman Osborn (si Green Goblin!) dan Dark Avengers, tak ada saat yang lebih tepat bagi Cap untuk kembali beraksi.

Score: 6.6

Graphic Novel Details
Writer: Ed Brubaker
Penciller: Bryan Hitch
Publisher: Marvel Comics
Volume: 01 – 06 (Epilog one-shot Who Will Wield the Shield)

Comments (2)

Tags: , , , , , , ,

Superboy: Boy of Steel

Posted on 15 January 2010 by Si Tukang Review

Adventure Comics #01 Cover

Adventure Comics #01 Cover

Apakah ada di antara kalian yang ingat saga kematian Superman dulu? Setelah kematian sementara Superman, muncullah empat orang Superman-Superman gadungan yang mengklaim diri mereka sebagai Superman yang sesungguhnya. Tentu saja sebagaimana yang kita tahu sekarang, tidak seorangpun di antara keempatnya yang adalah Superman. Hanya saja, itu juga tidak berarti keempatnya tidak lagi mendapat tempat di dunia DC. Salah satu karakter yang menonjol setelah bergabung dalam grup Young Justice kemudian Teen Titans adalah Superboy atau Connor Kent. Ketika Geoff Johns dulu membentuk grup Teen Titans baru, ia mematangkan konsep Superboy; memberinya persahabatan dengan Tim Drake (Robin ketiga) dan memberinya hubungan romansa dengan Cassandra Sandsmark (Wonder Girl). Satu pencapaian paling brilian yang dulu dimasukkan dalam penceritaan adalah Connor ternyata bukan kloning dari DNA Superman saja tetapi juga DNA Lex Luthor. Dalam kata lain, ia bukan saja kloning dari pahlawan terhebat dunia tetapi juga kriminal terbesar dunia.

Sebelum aspek diri Superboy yang ini digali lebih dalam, ia keburu gugur dalam Infinite Crisis. Toh, tidak ada kematian yang permanen dalam dunia komik. Setelah empat tahun absen dari halaman-halaman DC, Superboy kembali dalam tie-in komik Final Crisis: Legion of Three Worlds. Kembalinya Superboy ke dunia DC bukan hal yang mudah karena begitu banyak perubahan telah terjadi. Tim Drake menyerah menjadi Robin dan berganti kostum menjadi Red Robin karena kehilangan mentornya. Superman kini tinggal di Krypton setelah New Krypton muncul. Bahkan Pa Kent (Jonathan Kent) yang turut mengasuh dia pun telah tiada. Bagaimana Connor beradaptasi dengan dunia yang sudah berubah drastis sepeninggalannya?

Kisah Superboy: Boy of Steel ini memiliki dua fungsi utama. Yang pertama adalah mengintegrasikan kembali Connor ke dalam dunia DC sementara yang kedua adalah memperkenalkan kepada para pembaca baru siapa itu Connor. Bicara soal membawa masuk karakter kembali dari kematian, tidak ada penulis yang lebih jago menulis hal itu ketimbang Geoff Johns. Kalau kalian sering membaca review saya, saya yakin kalian sudah tahu apa yang hendak kukatakan di sini. Toh tak ada salahnya saya menyebutnya sekali lagi: Geoff Johns adalah penulis DC favoritku (bisa jadi penulis komik favoritku). Saya bingung dengan kapasitas menulisnya. Ia menulis kisah Blackest Night yang adalah saga terbesar DC saat ini, dan ia masih juga sempat menulis Superman: Secret Origins, kembalinya Flash dalam Flash: Rebirth dan kembalinya Superboy dalam Adventure Comics. Seakan itu tidak cukup naskah film TV Smallville Absolute Justice juga ia yang tulis. Ini orang sebenarnya punya kemampuan membelah badan atau bagaimana sih? Gilanya lagi semua - and i mean it - adalah buku-buku komik terbaik yang tak pernah absen saya ikuti.

Kembali ke Superboy, apa yang Geoff lakukan di sini sangat jelas. Beberapa pertanyaan yang tersimpan di benak pembaca langsung diselesaikan tanpa bertele-tele di sini. Geoff membawa Superboy bertemu dengan Cassie serta Tim dan menjelaskan posisi hubungan mereka. Dan inilah hebatnya Geoff, ia tidak melulu memenuhi komik dengan porsi aksi, tetapi dengan dialog sederhana sehari-hari Connor. Hal-hal kecil seperti bagaimana Cassie meminta Connor tidak menjadikannya Lana ala Clark atau bagaimana perbincangan man-to-man antara Tim dengan Connor adalah momen-momen yang mengharukan dan memperdalam hubungan para karakter tersebut.

Walaupun begitu inti dari cerita ini sebenarnya terletak pada pencarian jati diri Connor. Kalian kenal istilah What Would Jesus Do? dalam agama Kristen? Intinya orang Kristen disarankan bertanya pada diri sendiri sebelum melakukan sesuatu; apa yang akan Yesus lakukan bila menghadapi situasi yang sama. Dalam pencarian jati dirinya, Connor membuat dua list yang berbeda; yang pertama adalah What Would Superman Do? dan What Would Lex Luthor Do?, Penulisan yang kreatif dari Geoff ini tidak hanya membantu kita melihat karakter Connor, tetapi juga melihat bagaimana Superman dan Lex Luthor adalah dua sisi koin berbeda yang tak pernah bisa bertemu.

Kalau melulu menyebut Geoff Johns kurang adil rasanya bagi paruh kedua yang membuat komik ini begitu mengesankan. Francis Manapul, seorang komikus Filipina-Kanada ini adalah paduan sempurna untuk kisah Geoff Johns. Goresan artwork Manapul (ditambah pewarnaan dari Brian Buccellato) sempurna untuk menghidupkan cerita Geoff Johns. Saya juga suka bagaimana ia menggambar Wonder Girl yang muncul dengan kesan seksi dan anggun - tetapi jauh dari bitchy atau tolol. Reviewer IGN mengatakan kalau mereka berharap suatu saat Manapul bisa menggambar juga untuk Teen Titans mengingat ia hampir sempurna menggambar Kid Flash, Wonder Girl, Red Robin, sampai Superboy sendiri. Saya mengamini hal itu. Geoff Johns beruntung selalu mendapatkan partner yang sempurna untuk kisah-kisahnya. Bayangkan saja, Ivan Reis untuk Green Lantern, Ethan  Van Sciver untuk Flash: Rebirth, Gary Franks untuk Superman: Secret Origins, dan sekarang Francis Manapul untuk Superboy. Wow! Deretan nama yang impresif!

Satu-satu hal yang mengecewakan dari berakhirnya cerita ini adalah berhentinya Geoff Johns dan Francis Manapul mengerjakannya. Tidak puas rasanya melihat duet kreatif ini harus meninggalkan Adventure Comics yang masih ‘kecil’ ini. Toh setelah saya mendengar bahwa duet ini akan kembali bergabung menggarap serial Flash yang baru, saya hanya bisa merelakan kepergian mereka. Singkat kata; Superboy: The Boy of Steel adalah sebuah karya yang tidak boleh kamu lewatkan. It’s definitely one of the best story arc of the year.

Score: 9.5

Graphic Novel Details
Writer: Geoff Johns
Penciller: Francis Manapul
Publisher: DC Comics
Volume: Adventure Comics 01 - 03, 05 - 06

Francis Manapul’s Artwork (Click for Larger View)

adventure-comics-sample-1

adventure-comics-sample-2

Comments (5)

Tags: , , , , , ,

The Superhero Identity Crisis Quiz

Posted on 29 December 2009 by Si Tukang Review

superman-quiz

Let’s start with an easy question: the alter-ego of Superman?
1. Christopher Reeves
2. Tom Welling
3. Clark Kent
4. Jor-El
5. CL
spider-man-quiz

Another easy question: the alter-ego of Spider-man is…?
1. Peter Petrelli
2. Peter Parker
3. Matt Parkman
4. Pak Parkir
5. Park Ji-Sung
batman-quiz

And yet another easy question (I’m too kind yeah?): Batman aka Caped Crusader aka The Dark Knight alter-ego is…?
1. Bruce Wayne
2. Bruce Banner
3. Alfred Messi
4. Sayid Al Jarrah
5. Michael Jon Carter
captain-america-quiz

Too much of easy questions? Okay, let’s up the difficulty a bit. Who’s the first Captain America?
1. Nick Fury
2. Adolf Hitler
3. Steve Roger
4. Bucky
5. Pietr Makalov
wolverine-quiz

The hot guy in the cinema. Wolverine real name is…?
1. Logan
2. Weapon X
3. Charles Xavier
4. James Howlett
5. Jimmy Corbain
green-lantern-quiz

In brightest day, In blackest night, no evil shall escape my sight. Those who worship evil’s might… beware my power… GREEN LANTERN’s light! But who’s the Green Lantern?
1. Guy Gardener
2. Hal Jordan
3. Abin Mati Suri
4. Sinetron
5. John Stewardess
hulk-quiz

Do you know the real identity of the Hulk? You better do, cos you won’t like him when he’s angry!
1. Alfred Molina
2. Otto Octavius
3. Cassidy Freeman
4. Davis Bloome
5. Bruce Banner
flash-quiz

Faster than a speeding bullet… Faster than even Superman… It’s the man who ride the lightning himself. It’s the Flash, and his real name is?
1. Bartholomew Kuma
2. Robert Jacobi
3. Barry Allen
4. Wally East
5. Jay Jay Carick
wonder-woman-quiz

She is the world greatest superheroine. A princess of the Amazon, a fierce warrior, and one of DC’s holy trinity. Wonder Woman alias is…?
1. Asia Argento
2. Megan Gale
3. Lady Theresa Croft
4. Lara Fabian
5. Diana Prince
hawkeye

One of the most popular member of the Avengers. He died in the Avengers Disassembled arc - only to be revived as Ronin a few years later. Hawkeye, Marvel most famous archer name is?
1. Hercules
2. Clint Barton
3. Roger Friedman
4. Andrew Melvin
5. Jared Cole

The leader of the Fantastic Four, as well as Marvel most genius mind. Mr Fantastic is also known as?
1. Ben Grimm
2. Johnny Storm
3. Reverend Ricardo
4. Gabriel Reese
5. Reed Richards
supergirl-quiz

The cousin of Superman that came from Argo City, as well as my personal favorite superheroine, the last daughter of Krypton: Supergirl alias is…?
1. Connor Kent
2. Linda Lee Danvers
3. Lana Lang
4. Linda Lane
5. Artemis Sullivan
she-hulk-quiz

Next; the cousin of Hulk. The She-Hulk is?
1. Angelina Banner
2. Sarah Carter
3. Jessica Siemens
4. Mira Maria
5. Jennifer Walters
robin-quiz

For now, there are three people who ever wear the costume of Robin. Who is the third Batman’s sidekick?
1. Stephanie Brown
2. Tim Drake
3. Jason Todd
4. Marcus Camby
5. Allen Crescent
iron-man-quiz

He’s not only known as Iron Man, but also as the world most flamboyant millionaire playboy. His name is…?
1. Anthony Marc
2. Eddie Brock
3. Justin Kyle
4. Jonn Jonnz
5. Tony Stark
mr-fantastic-quiz

The leader of the X-Men with an Optic Blast. Cyclops is also known as?
1. Scott Summers
2. Sidney Sheldon
3. Scott Speedman
4. Scarlet Speedster
5. Simon Sony
green-arrow-quiz

Green Arrow aka Emerald Archer aka…?
1. Dinah Lance
2. Jasper Vince
3. Lance Vance
4. Niko Davydenko
5. Oliver Queen
nightwing-quiz

He was the first Robin and also the leader of The Outsiders. Nightwing real name is…?
1. Jake T
2. Nelly Bertulloci
3. Shane Moley
4. Dick Grayson
5. William Stryker
catwoman-quiz

She was a villain, a Batman’s lover and a thief. Catwoman = ?
1. Cat Grant
2. Sabrina Menelly
3. Pied Piper Perabo
4. Selina Kyle
5. Helena Wayne
daredevil-quiz

Daredevil; the man without fear, the blind lawyer alter-ego is?
1. Jet Archson
2. Kingpin Bullseye
3. Matt Murdock
4. Ali Larter
5. Leon Redfield

Answers: 3, 2, 1, 3, 4, 2, 5, 3, 5, 2, 5, 2, 5, 2, 5, 1, 5, 4, 4, 3

Comments (4)

Tags: , , , , , ,

Green Lantern - Secret Origin

Posted on 06 December 2009 by Si Tukang Review

Green Lantern: Secret Origin Cover

Green Lantern: Secret Origin Cover

Green Lantern selalu berasa seperti franchise sekunder di bawah trio Superman, Batman, dan Wonder Woman di DC. Memang selalu ada salah satu Green Lantern berperan dalam even-even penting DC atau tergabung dalam grup Justice League of America, tetapi tidak pernah ia mendapat posisi sorotan sebagai karakter utama. Semenjak DC memutuskan membunuh Hal Jordan di tahun 1994 dan menggantikannya dengan Kyle Rayner, franchise Green Lantern kian terdegradasi. Tidak saja Kyle tidak bisa menjadi Green Lantern setangguh Hal, ia juga tidak memiliki wibawa sehingga lebih terasa layaknya superhero junior yang tergabung dengan para Teen Titans.

Untungnya saja semua itu berubah setelah DC menyadari kekeliruan mereka dan membangkitkan kembali Hal Jordan. Green Lantern: Rebirth oleh Geoff Johns di tahun 2005 mengembalikan sang jagoan sebagai salah seorang superhero kelas atas DC, dan sekuelnya Sinestro Corps War tahun 2007 mencapai kesuksesan luar biasa sehingga mendadak melontarkan status Green Lantern menjadi komoditi superhero kelas atas DC. Dengan matinya Bruce Wayne aka Batman di Final Crisis dan mengendornya cerita Superman dan Wonder Woman, bukan hal berlebihan bila saya mengatakan Green Lantern adalah komoditi terpanas milik DC saat ini. Karena itu tidak heran juga bahwa untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun DC membuat sebuah cerita crossover besar-besaran yang tidak bertumpu pada Superman atau Batman, melainkan pada seluruh cerita Green Lantern Corps lewat Blackest Night.

Bagi pembaca komik Amerika, nama Green Lantern tidak lagi rumit, tetapi bagaimana dengan orang yang baru mulai membaca? Bagaimana sebenarnya cerita awal dari Hal Jordan menjadi Green Lantern? Lewat kilas balik, Geoff Johns (didukung dengan ilustrator Ivan Reis) sekali lagi mengisahkan bagaimana Hal Jordan mendapatkan cincin hijaunya dan menjadi penjaga galaksi Bima Sakti dalam tujuh volume 29 - 35. Tantangan Geoff Johns dalam mengarang kisah awal Hal Jordan ini sebenarnya sangat menantang. Ia harus menulis sesuatu yang sederhana supaya orang yang baru pertama kali membaca Green Lantern bisa mengerti, tetapi ia juga harus memberi twist baru dalam penceritaan supaya mereka yang sudah pengikut lama komik tidak merasa seperti mereka membaca kisah lama kembali.

Hal Jordan selalu bermimpi untuk bisa terbang dan mimpi itu tidak pernah kandas, sekalipun ia melihat pesawat yang dipiloti ayahnya jatuh hancur lebur tepat di hadapannya. Selama bertahun-tahun lamanya, Hal menjadi terasing dari ibu dan saudara-saudaranya karena merasa bahwa mereka tak bisa mengerti keinginannya untuk terbang. Tidak hanya itu, Hal juga menjadi pilot bengal. Ia gemar membangkang perintah dari pengawas darat ketika menguji-coba pesawat dan lama-lama - walaupun ia mahir - tak seorangpun lagi hendak memakai jasanya.

Di tengah kefrustasian Hal, sesuatu yang besar tengah terjadi di luar galaksi sana. Seorang Green Lantern bernama Abin Sur menangkap Atrocitus, seorang alien kriminal. Karena kelengahan Abin, Atrocitus lepas dari penjagaannya dan melukainya secara parah. Di tengah kematian Abin, proses seleksi cincin langsung mencari sosok pengganti dan menemukan Hal Jordan. Dari sana Hal Jordan dibawa untuk mengenal dan masuk ke dalam kesatuan korps Green Lantern, polisi galaksi yang bekerja di bawah kendali para Guardian - pencipta alam semesta.

Tidak mudah bagi Hal Jordan untuk beradaptasi di bawah kesatuan Green Lantern, dan keadaan ini diperparah ketika Abin Sur meminta Sinestro - mantan murid sekaligus Green Lantern tertangguh - untuk mendidik Hal Jordan. Bagaimanakah kisah Hal Jordan selanjutnya?

Sekali lagi saya mau berkata: untung ini Geoff Johns. Kalau ada orang yang bisa menulis kisah awal superhero secara meyakinkan, tidak lain tidak bukan dialah orangnya. Perlu diingat bahwa saat Geoff Johns menulis kisah ini, ia baru saja rampung menulis Sinestro Corps War dan tengah mempromosikan Blackest Night. Oleh karena itu tidak heran jika banyak referensi menuju kedua even tersebut. Apakah itu berarti komik ini hanya bisa dinikmati oleh pembaca setia Green Lantern saja? Sama sekali tidak. Seperti tajuk Secret Origin yang disematkan padanya, Geoff menulis kisah ini sepenuhnya mengenai Hal. Bahkan hampir dua edisi awal dalam kisah ini didedikasikan untuk kita mengenali siapa karakter Hal dan orang-orang yang berinteraksi dengannya. Setelah kita mengenali siapa Hal, Geoff kemudian membawa kita pada tahap berikutnya untuk mengenal apa itu Green Lantern, Guardian, Sinestro, maupun sejarah kemunculan korps ini, dan ditutup dengan klimaks akhir (SPOILER) duel antara duet Hal Sinestro menghadapi Atrocitus yang masih jadi buronan. Singkat kata, kalau kisah ini diadaptasi sebagai skenario film Green Lantern yang akan datang - saya akan sangat sangat bahagia.

Sejenius-jeniusnya Geoff dalam menulis kisah ini, ia bukan satu-satunya yang membuat kisah ini begitu menyenangkan untuk dibaca. Separuh kedua kredit itu saya berikan kepada Ivan Reis yang bertanggung jawab atas ilustrasinya. Setiap panel dalam komik ini terasa hidup dan penuh isi karena Reis mampu menghidupkan setiap skenario yang diminta oleh Geoff, padahal ini bukan hal yang mudah. Dari kehidupan Hal di bumi sampai planet Oa markas besar para Green Lantern memiliki variasi jenis alien, tapi toh Reis tidak pernah kewalahan menggambarnya. Kekuatan para Green Lantern yang dimanifestasikan lewat imajinasi mereka pun memiliki banyak bentuk, dan lagi-lagi Reis menggambar semuanya dengan sempurna.

Duet Geoff dan Ivan inilah yang membuat Green Lantern: Secret Origin karya yang begitu menyenangkan dan sempurna untuk dibaca. Apabila kalian adalah seorang yang masih awam terhadap Green Lantern dan hendak tahu lebih banyak mengenainya, komik ini harus kalian baca. Kalau kalian sudah tahu mengenai Green Lantern dan mengenai kisah Blackest Night di dalamnya, well, komik ini tetap harus kalian baca!

Score: 10

Graphic Novel Details
Writer: Geoff Johns
Penciller: Ivan Reis
Publisher: DC Comics
Volume: 29 - 35

Comments (0)

Tags: , , , , , , ,

Y: The Last Man (Final Volume: Whys and Wherefores)

Posted on 30 November 2009 by Si Tukang Review

Y: The Last Man #58 Cover

Y: The Last Man #58 Cover

Setelah lima tahun melalui petualangan-petualangannya, akhirnya Yorick dan Agent 355 memasuki babak akhir dari petualangan mereka dengan menuju ke Paris. Demikian juga akhir dari salah satu graphic novel terbaik Vertigo di luar serial Sandman (karya Neil Gaiman) dan Fables (karya Bill Willingham). Berakhir juga proyek maraton review pertama situs TukangReview.com yang sempat terbengkelalai karena kelalaianku. Bagaimanakah akhir dari petualangan sang pria terakhir di bumi?

Setelah DNAnya dan Ampersand diambil untuk diteliti oleh Dr Mann, Yorick pun tak lagi ‘dibutuhkan’ untuk menyelamatkan umat manusia. Setelah kejadian di China, Yorick dan Agent 355 berpisah secara permanen dengan Dr Mann dan Rose. Terbebas dari beban tanggung jawab menyelamatkan umat manusia, Yorick pun kembali dengan tujuan awalnya: mencari Beth DeVille sang kekasih. Agent 355 yang sudah kepalang basah bertujuan untuk menemani Yorick dan menjaganya. Dari sini sudah ditunjukkan oleh Vaughan bahwa Agent 355 sebenarnya mencintai Yorick - walaupun ia terus berusaha menutupi fakta tersebut dengan alasan bahwa ia hanya mencintai Yorick seperti seekor ibu harimau yang cinta kepada anaknya.

Yang tidak diketahui oleh Yorick dan Agent 355 adalah bukan hanya mereka berdua yang kini tengah menuju ke Paris - lokasi terakhir di mana Beth diketahui berada - tetapi juga dua grup lain. Grup yang pertama adalah para gadis seperti Ciba, Natalya, Hero, dan Beth kedua yang berusaha mencari Yorick di Paris. Grup kedua jauh kurang ramah karena berisi para tentara Israel di bawah pimpinan Alter. Alter yang terus mengejar keberadaan Yorick kini mengetahui bahwa sang pria terakhir bumi itu menuju Paris dan berniat mencegatnya di sana. Yang terakhir, Beth DeVille sendiri juga berada di Paris dituntun oleh visi yang ia lihat dan percaya bahwa ia akan bertemu dengan Yorick di sini.

Bagaimanakah hasilnya ketika semua orang-orang tersebut bertemu di Paris? Apakah Yorick dan Beth akan bisa bertemu kembali? Siapakah yang pada akhirnya dipilih oleh Yorick… Beth sang tunangan yang tak pernah ia temui selama lima tahun, atau Agent 355 yang selama ini setia menjaganya di sampingnya. Satu hal yang pasti: serial ini tidak pernah dikenal dengan jalan cerita yang klise. Bahkan sampai story arc terakhir dan halaman terakhirnya sekalipun Vaughan tidak pernah berhenti menyuguhkan plot twist yang membuat saya terkejut - karena tak pernah menyangkanya sama sekali.

Setelah story arc Whys and Wherefores berakhir di edisi ke 59, Vaughan menggunakan keseluruhan edisi 60 (edisi spesial yang dijuduli Alas) sebagai epilog dari kisah Y - The Last Man. Dari sanalah baru terbuka maksud Vaughan menulis serial ini. Sejak semula, Vaughan tidak pernah bermaksud menekankan cerita pada aspek wabah misterius. Bagi Vaughan, inti utama dari Y - The Last Man adalah bagaimana pentingnya peran seorang wanita dalam kehidupan pria, dan bagaimana seumur hidupnya pria tidak akan pernah lepas dari ketergantungannya pada wanita - mulai dari ibu, kakak perempuan, adik perempuan, cinta pertama, cinta monyet, sahabat, hingga cinta sejatinya. Dan setelah mengerti hal itu, membaca Y - The Last Man dari awal hingga akhir lagi terasa lebih bermakna. Vaughan secara simbolis telah menempatkan masing-masing karakter wanita dalam komik ini sebagai representasi posisi-posisi wanita dalam kehidupan kita.

Vaughan beruntung memiliki partner seperti Pia Guerra dan Goran Sudzuka untuk membantu ia menghidupkan visinya. Goran Sudzuka selalu setia mengisi kisah-kisah one-shot Vaughan dan walaupun artworknya jauh dari menawan, setidaknya Sudzuka selalu menghadirkan artwork yang konsisten. Sebaliknya melihat karya Guerra berkembang dari story arc yang satu ke story arc yang lain membuat saya kian gemar akan artis yang satu ini. Saya harap bisa membaca lagi karya-karya lain yang ia gambar.

Pada akhirnya, Y - The Last Man adalah kisah bagaimana bocah terakhir dunia bertumbuh dan berkembang menjadi pria terakhir di dunia. Kisah yang menakjubkan - yang tak boleh dilewatkan oleh siapapun yang menggemari graphic novel dengan cerita dewasa.

Score: 10

Graphic Novel Details
Writer: Brian K. Vaughan
Artist: Pia Guerra
Publisher: Vertigo (DC Comics)
Volume: 55 - 60

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here