Ada dua kematian paling monumental di DC selain kematian Superman, sang manusia baja. Satu; kematian Hal Jordan setelah ia terkorupsi menjadi Parallax, dan yang kedua kematian dari Barry Allen dalam Crisis on Infinite Earths. Setelah Dan DiDio menjadi pemimpin redaksi DC, ia nampaknya sadar bahwa dua sosok pengganti mereka: Kyle Rayner dan Wally West tidak memiliki karisma seperti kedua pendahulunya. Dulu, Hal dan Barry adalah senior yang tidak takut terhadap Superman, Batman, dan Wonder Woman dan berdiri sejajar. Ini berbeda dengan Kyle yang adalah superhero baru dan Wally yang naik pangkat dari Kid Flash. Keduanya junior yang seolah-olah tunduk kepada ketiga superhero besar DC dan celakanya menjadikan nama yang mereka sandang franchise kelas dua. DiDio tidak menghendaki hal ini berlangsung lama dan langsung mencari cara membawa duet Hal dan Barry kembali.
Yang pertama dibawa kembali adalah Hal Jordan melalui Green Lantern: Rebirth. Geoff Johns sukses menghidupkan kembali franchise tersebut. Rencana awal bagi DiDio adalah menghidupkan Barry pada akhir Infinite Crisis tetapi rencana itu kemudian ditangguhkan karena dianggap terlalu cepat membangkitkan keduanya pada saat yang hampir bersamaan. Hampir tiga tahun berlalu dan franchise Green Lantern sudah sukses dimantapkan oleh Geoff Johns dan DC pun menyadari bahwa inilah saatnya mengembalikan Barry Allen. Rencana yang telah lama disiapkan itu akhirnya dieksekusi pada awal Final Crisis. Grant Morisson yang bertanggung jawab akan kisah tersebut menarik Barry keluar dari Speed Force dan mengembalikannya pada dunia DC. Hanya saja karena Final Crisis merupakan saga besar keseluruhan dunia DC, Morisson tidak bisa berfokus pada kebangkitan Barry.
Orang yang bertugas untuk mengambil alih Morisson tidak lain tidak bukan Geoff Johns. Dianggap sukses membangkitkan Hal Jordan, Geoff lagi-lagi dipasrahi untuk menulis kisah kebangkitan Flash. Kebangkitan atau Rebirth di sini sebenarnya tidak tepat karena Flash sudah bangkit saat Final Crisis. Kisah Rebirth kali ini lebih tepat disebut pencarian jati diri Flash di dalam dunia DC yang sudah jauh berubah sejak ia tinggal dulu. Selain Barry Allen sendiri, Geoff juga menyorot keluarga Flash dan mengubah status quo dari keluarga besar Scarlet Speedster. Wally West yang sebelumnya adalah Flash tetap mempertahankan kostumnya itu, yang berarti kini ada dua Flash berlari di dunia DC. Beberapa orang menganggap ini langkah yang keliru, tapi saya rasa ini bisa jadi efektif bila dieksekusi dengan pas. Green Lantern dan Flash sebenarnya memiliki banyak kesamaan. Apabila Green Lantern mendapatkan kekuatannya dari para Guardian OA dan semua orang bisa menjadi Green Lantern bila memiliki cincin, maka Flash mendapatkan kekuatannya dari Speed Force sehingga logikanya memang tidak harus terbatas pada Barry Allen. Toh sebelum dia pernah ada Jay Garrick. Selain merevitalisasi para keluarga Flash, Geoff juga memposisikan sang Reverse Flash alias Professor Zoom sebagai musuh utamanya. Nah, untuk yang satu ini saya rasa sang penulis kurang berhasil. Zoom tidak memiliki karisma kejahatan yang sama seperti halnya Joker maupun Lex Luthor. Saya tahu bahwa Zoom akan kembali merepotkan Barry di masa depan, tetapi untuk sekarang saya lebih berharap para Rogues diposisikan sebagai musuh utamanya.
Cerita dalam The Flash: Rebirth terlalu membingungkan. Ini untuk pertama kalinya saya benar-benar kecewa dengan penulisan Geoff setelah New Krypton dua tahun lalu. Geoff Johns, yang dianugerahi gelar penulis komik terbaik tahun 2009 lalu oleh Spike TV, berusaha memasukkan terlalu banyak elemen dalam prolog awal kisah Flash ini sampai-sampai mini-seri panjangnya menjadi jadi enam volume. Alih-alih menarik perhatian pembaca baru, saya rasa kebanyakan orang akan garuk-garuk kepala tidak mengerti berbagai istilah mitologi dunia Flash yang dipakai olehnya. Oke kami pembaca mengerti mengenai Speed Force dan kemampuan yang diberikan kekuatan kecepatan itu kepada Flash, tetapi konsep time-travelnya? Duh, bikin sakit kepala - belum lagi membuat banyak lubang inkonsistensi pada plot cerita. Satu-satunya elemen terbaik yang dimasukkan oleh Geoff terletak pada sisi psikologis Flash di mana sang penulis menyebutkan bahwa kelemahan Flash tidak berwujud fisik seperti kryptonite bagi Superman melainkan keharusannya untuk memperlambat gerak-geriknya sendiri untuk menyesuaikan ritme dunia sekelilingnya. That’s a nice and subtle touch, tapi itu jauh dari cukup untuk bisa memuaskanku.
Setidaknya penyelamat untuk mini-seri yang semula dijadwalkan hanya sepanjang lima volume ini datang dari goresan tangan Ethan Van Sciver. Kolaborasi yang sama dulu membuat Green Lantern: Rebirth pemenang dari sisi cerita dan artwork dunia antariksa DC yang penuh warna. Walau kali ini The Flash: Rebirth tidak memiliki cerita sekuat pendahulunya, setidaknya Van Sciver memastikan sisi kinetik Flash terlihat dalam setiap panel komiknya. Unsur kuning dan petir menjadi efek yang dominan di sini, dan memang sudah selayaknya dan sepantasnya bagi komik untuk para orang yang mengendarai petir itu sendiri.
So my verdict is… sebuah karya yang jauh dari fenomenal. Saya adalah penggemar berat setiap karya Geoff Johns, tetapi The Flash: Rebirth bukanlah karya terbaiknya. Jauh dari itu malah. Melihat makin turunnya apresiasi saya terhadap karya-karya Geoff, saya jadi berpikir jangan-jangan penulis yang satu ini dipasrahi terlalu banyak kerjaan? Bahkan karya The Flash: Rebirth ini saja terganjal oleh jadwal keluarnya yang melulu molor. Ironis bukan, karena The Flash notabene adalah manusia tercepat di bumi.
Score: 6.2
Graphic Novel Details
Writer: Geoff Johns
Artist: Ethan Van Sciver
Publisher: DC Comics
Volume: 01 - 06





































