(Review Ditulis Di Tahun 2006)
”For God to be good; evil is an absolute necessity in this world”
- Genya Arikado / Alucard
Semenjak kesuksesan dari Castlevania Symphony of the Night 1997 dulu, Castlevania sebagai sebuah game 2D sidescrolling berakhir sudah. Semenjak hari itu Castlevania lebih dikenal sebagai 2D Platformer ala Super Metroid. Bukan level demi level yang akan anda jelajahi seperti dulu – tetapi anda disuguhi satu kastil raksasa dari sang Dracula yang harus anda jelajahi per bagian, menghadapi prajurit-prajurit kegelapannya, meningkatkan kekuatan dan level anda, sampai pada akhirnya anda akan berhadapan dengan sang penguasa kegelapan itu sendiri. Castlevania: Aria of Sorrow adalah input terakhir di dalam GBA, melengkapi dua title sebelumnya yang hadir untuk menjadi sebuah trilogi.
Graphic (8 / 10)
Grafis di dalam Aria of Sorrow terbilang sangat impresif untuk ukuran sebuah game GBA. Premise ceritanya memang pada tahun 2035 sehingga di dalam game ini anda bisa mengequip karakter anda dengan handgun! Memakai pistol di dalam Castlevania jelas merupakan sebuah tradisi baru yang cukup unik, dan penggambarannya juga cukup realistis dengan kapasitas GBA yang terbatas.
Level demi level di Castlevania didesign dengan baik, tidak akan ada yang mengagetkan bagi mereka yang sudah lama menggemari serial ini. Beberapa musuh yang ada di dalam game ini juga mencomot sprite dari Harmony of Dissonance yang memiliki suasana yang hampir serupa; berbeda dengan Circle of the Moon yang lebih kaya warna, kedua entry terakhir Castlevania ini memang lebih ‘pucat’ dan ‘sendu’.
Satu hal yang saya sukai lagi dari Aria of Sorrow adalah artwork gothic yang diusungnya. Dengan artwork gothic ini: Soma, Mina, Arikado, dan lain-lainnya makin memperlihatkan kesuraman dari game ini. Saya mencintai atmosfir game ini! Berbicara soal karakternya, kendati anda tetap memainkan seorang jagoan tanpa muka, banyak dari detail karakter yang diperhatikan oleh Konami. Mengingat Soma memiliki berbagai variasi serangan dari soul-soul yang bisa ia dapatkan, Konami cukup rajin menggarap kesemuanya sehingga tidak ada gerakan grafis yang terasa menganggu.
Sound (7.5 / 10)
Michiru Yamane menghadirkan musik yang jauh lebih variatif dan berkualitas dalam Aria of Sorrow kali ini. Setiap beda level, anda akan mendapatkan variasi musik yang berbeda. Konami kali ini juga berhasil menampilkan suara jernih dari speaker GBA – tidak seperti saat memainkan Harmony of Dissonance yang membuat saya memeriksakan GBA saya karena takut speakernya rusak.
Selain musiknya, sound effect juga sudah digarap dengan baik oleh Konami dalam game ini. Perhatikan kalau anda bisa mendengar suara ceburan air ketika Soma melompat ke dalamnya, bunyi kapak ketika dilemparkan, sampai ada juga suara Soma ketika ia melompat atau terkena serangan musuh (serupa dengan Yoko atau Julius bila terkena serangan). Hampir kesemuanya memiliki ciri khas mereka sendiri.
Gameplay (7.5 / 10)
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, konsep utama dari Aria of Sorrow masih mengambil dari konsep Symphony of the Night, yaitu penjelajahan kastil. Setelah formula ini diulang-ulang sampai tiga kali, mungkin rasanya sudah cukup melelahkan. Untung saja Konami selalu memberikan inovasi-inovasi baru yang membuat setiap Castlevania menjadi masih bisa dimainkan. Ada sistem kartu di dalam Circle of the Moon dan sistem magis dalam Harmony of Dissonance, dan kali ini Soma Cruz memiliki kemampuan untuk menyerap roh-roh dari monster yang ia kalahkan.
Kemampuan Soul Absorb yang dimiliki Soma inilah yang membuat game ini terasa berbeda dengan game-game sebelumnya. Game ini memiliki empat jenis soul yang bisa dipakai oleh Soma. Merah adalah Bullet Soul yang bisa digunakan untuk menyerang, Biru adalah Guardian Soul di mana Soma bisa mensummon monster untuk melindunginya, dan terakhir adalah Kuning atau Enchant Soul di mana Soma bisa mengequipnya untuk meningkatkan statusnya. Walaupun demikian, ada satu lagi soul khusus bernama Ability Soul yang bisa didapatkan dari boss. Apabila anda mendapatkan Ability Soul, anda akan bisa mendapatkan tambahan kemampuan baru seperti berenang di air, melompat dua kali dan lain sebagainya. Kemampuan baru ini akan membuka bagian baru dari kastil untuk bisa anda jelajahi lebih lanjut.
Selain gameplaynya, yang membuat saya benar-benar menyenangi Castlevania adalah ceritanya. Tidak seperti Castlevania-Castlevania sebelumnya yang ceritanya bisa dibilang mudah ditebak, Aria of Sorrow menghadirkan plot-twist di dalam gamenya. Setidaknya ada dua plot-twist yang membuat saya tertipu mentah-mentah di dalam game ini (dan saya jarang terkejut oleh sebuah plot-twist apabila itu bukan sesuatu yang cerdas). Saya tidak ingin spoiler lebih jauh – dan mainkan saja game ini lebih lanjut apabila anda ingin tahu apa yang saya maksudkan.
Selain itu, karakter dalam Aria of Sorrow ini juga jauh lebih banyak dan variatif dibandingkan dengan Castlevania-Castlevania sebelumnya. Ada Hammer, seorang tukang jualan senjata; Yoko, keturunan terakhir dari klan Belnades yang bertugas memerangi Dracula bersama keluarga Belmont; Arikado, seorang mistik yang bertampang keren dan kita semua tahu siapa identitas aslinya; sampai J dan Graham Jones yang sama-sama misterius dan tidak kita kenal sampai menjelang pengakhiran game. Tentu saja selain mereka semua ada anda Soma Cruz; yang tersesat di kastil Dracula tanpa mengerti kenapa terseret ke sana dan Mina Hakuba; teman anda semasa kecil dan juga yang anda sangat sayangi! Karakter yang berbeda ini digarap dengan hidup sehingga selama memainkannya anda akan makin mengerti dan tertarik dengan mereka. I am sure that they will grow on you in the end of the game. Ah, dan jangan khawatir – klan Belmont tidak absent kok di dalam game ini (senyum misterius).
Longetivity (8 / 10)
Mendapatkan 100% dalam game ini bukanlah satu-satunya tantangan yang ada. Apabila anda bisa menyelesaikan game ini dan mendapatkan 100% penjelajahan dalam waktu sekitar 10 jam, anda akan benar-benar membuang banyak waktu anda untuk benar-benar melengkapi semua soul yang ada. Banyak soul yang bisa anda dapatkan dengan mudah – tetapi beberapa lainnya akan sangat sulit dan sangat lama untuk dilakukan. Beruntung Konami menambahkan menu Soul Trade di mana anda bisa berhubungan dengan pemiliki GBA lain untuk saling menukarkan soul-soul yang kalian miliki.
Selain menyelesaikan mode normal, anda juga diperbolehkan memainkan Julius Mode dan Boss Rush Mode begitu anda selesai memainkan game ini. Hal ini adalah tambahan menarik yang tentu saja bisa menambah longetivity dari game ini. Mungkin inilah ciri khas dari Castlevania jaman ini (sekali lagi, mengingatkan saya pada Richter mode di Symphony of the Night); anda selalu memiliki tambahan karakter yang bisa anda mainkan setelah anda menyelesaikan mode aslinya.
Editor’s Tilt (8 / 10)
Aria of Sorrow terbukti menjadi salah satu Castlevania tersukses yang pernah ada. Kendati bersettingkan than 2035 dan hampir tidak memiliki koneksi dengan karakter-karater lama (hanya satu saja yang keluar, dan beruntung dialah maskot dari Castlevania yang modern), nyatanya Aria of Sorrow tetap berhasil memikat banyak orang dengan jalan cerita dan gameplaynya yang menarik.
Kesuksesan ini membuat Konami merilis Dawn of Sorrow, sekuel langsung dari Aria of Sorrow yang dihadirkan di Nintendo DS dan bersetting setahun setelah Aria of Sorrow. Saya sendiri memang belum bosan dengan seri-seri Castleroid (istilah untuk Castlevania dengan gameplay penjelajahan kastil) ini. So come on Konami; we’re craving for more blood!
Average: 7.8
Game Details
Developer: Konami
Publisher: Konami
Genre: 2D Platform

















