Archive | Retro

Tags: , , , , , ,

Castlevania: Aria of Sorrow

Posted on 13 December 2009 by Si Tukang Review

Castlevania: Aria of Sorrow Cover

Castlevania: Aria of Sorrow Cover

(Review Ditulis Di Tahun 2006)

For God to be good; evil is an absolute necessity in this world
- Genya Arikado / Alucard

Semenjak kesuksesan dari Castlevania Symphony of the Night 1997 dulu, Castlevania sebagai sebuah game 2D sidescrolling berakhir sudah. Semenjak hari itu Castlevania lebih dikenal sebagai 2D Platformer ala Super Metroid. Bukan level demi level yang akan anda jelajahi seperti dulu – tetapi anda disuguhi satu kastil raksasa dari sang Dracula yang harus anda jelajahi per bagian, menghadapi prajurit-prajurit kegelapannya, meningkatkan kekuatan dan level anda, sampai pada akhirnya anda akan berhadapan dengan sang penguasa kegelapan itu sendiri. Castlevania: Aria of Sorrow adalah input terakhir di dalam GBA, melengkapi dua title sebelumnya yang hadir untuk menjadi sebuah trilogi.

Graphic (8 / 10)

Grafis di dalam Aria of Sorrow terbilang sangat impresif untuk ukuran sebuah game GBA. Premise ceritanya memang pada tahun 2035 sehingga di dalam game ini anda bisa mengequip karakter anda dengan handgun! Memakai pistol di dalam Castlevania jelas merupakan sebuah tradisi baru yang cukup unik, dan penggambarannya juga cukup realistis dengan kapasitas GBA yang terbatas.

Level demi level di Castlevania didesign dengan baik, tidak akan ada yang mengagetkan bagi mereka yang sudah lama menggemari serial ini. Beberapa musuh yang ada di dalam game ini juga mencomot sprite dari Harmony of Dissonance yang memiliki suasana yang hampir serupa; berbeda dengan Circle of the Moon yang lebih kaya warna, kedua entry terakhir Castlevania ini memang lebih ‘pucat’ dan ‘sendu’.

Satu hal yang saya sukai lagi dari Aria of Sorrow adalah artwork gothic yang diusungnya. Dengan artwork gothic ini: Soma, Mina, Arikado, dan lain-lainnya makin memperlihatkan kesuraman dari game ini. Saya mencintai atmosfir game ini! Berbicara soal karakternya, kendati anda tetap memainkan seorang jagoan tanpa muka, banyak dari detail karakter yang diperhatikan oleh Konami. Mengingat Soma memiliki berbagai variasi serangan dari soul-soul yang bisa ia dapatkan, Konami cukup rajin menggarap kesemuanya sehingga tidak ada gerakan grafis yang terasa menganggu.

Sound (7.5 / 10)

Michiru Yamane menghadirkan musik yang jauh lebih variatif dan berkualitas dalam Aria of Sorrow kali ini. Setiap beda level, anda akan mendapatkan variasi musik yang berbeda. Konami kali ini juga berhasil menampilkan suara jernih dari speaker GBA – tidak seperti saat memainkan Harmony of Dissonance yang membuat saya memeriksakan GBA saya karena takut speakernya rusak.

Selain musiknya, sound effect juga sudah digarap dengan baik oleh Konami dalam game ini. Perhatikan kalau anda bisa mendengar suara ceburan air ketika Soma melompat ke dalamnya, bunyi kapak ketika dilemparkan, sampai ada juga suara Soma ketika ia melompat atau terkena serangan musuh (serupa dengan Yoko atau Julius bila terkena serangan). Hampir kesemuanya memiliki ciri khas mereka sendiri.

Gameplay (7.5 / 10)

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, konsep utama dari Aria of Sorrow masih mengambil dari konsep Symphony of the Night, yaitu penjelajahan kastil. Setelah formula ini diulang-ulang sampai tiga kali, mungkin rasanya sudah cukup melelahkan. Untung saja Konami selalu memberikan inovasi-inovasi baru yang membuat setiap Castlevania menjadi masih bisa dimainkan. Ada sistem kartu di dalam Circle of the Moon dan sistem magis dalam Harmony of Dissonance, dan kali ini Soma Cruz memiliki kemampuan untuk menyerap roh-roh dari monster yang ia kalahkan.

Kemampuan Soul Absorb yang dimiliki Soma inilah yang membuat game ini terasa berbeda dengan game-game sebelumnya. Game ini memiliki empat jenis soul yang bisa dipakai oleh Soma. Merah adalah Bullet Soul yang bisa digunakan untuk menyerang, Biru adalah Guardian Soul di mana Soma bisa mensummon monster untuk melindunginya, dan terakhir adalah Kuning atau Enchant Soul di mana Soma bisa mengequipnya untuk meningkatkan statusnya. Walaupun demikian, ada satu lagi soul khusus bernama Ability Soul yang bisa didapatkan dari boss. Apabila anda mendapatkan Ability Soul, anda akan bisa mendapatkan tambahan kemampuan baru seperti berenang di air, melompat dua kali dan lain sebagainya. Kemampuan baru ini akan membuka bagian baru dari kastil untuk bisa anda jelajahi lebih lanjut.

Selain gameplaynya, yang membuat saya benar-benar menyenangi Castlevania adalah ceritanya. Tidak seperti Castlevania-Castlevania sebelumnya yang ceritanya bisa dibilang mudah ditebak, Aria of Sorrow menghadirkan plot-twist di dalam gamenya. Setidaknya ada dua plot-twist yang membuat saya tertipu mentah-mentah di dalam game ini (dan saya jarang terkejut oleh sebuah plot-twist apabila itu bukan sesuatu yang cerdas). Saya tidak ingin spoiler lebih jauh – dan mainkan saja game ini lebih lanjut apabila anda ingin tahu apa yang saya maksudkan.

Selain itu, karakter dalam Aria of Sorrow ini juga jauh lebih banyak dan variatif dibandingkan dengan Castlevania-Castlevania sebelumnya. Ada Hammer, seorang tukang jualan senjata; Yoko, keturunan terakhir dari klan Belnades yang bertugas memerangi Dracula bersama keluarga Belmont; Arikado, seorang mistik yang bertampang keren dan kita semua tahu siapa identitas aslinya; sampai J dan Graham Jones yang sama-sama misterius dan tidak kita kenal sampai menjelang pengakhiran game. Tentu saja selain mereka semua ada anda Soma Cruz; yang tersesat di kastil Dracula tanpa mengerti kenapa terseret ke sana dan Mina Hakuba; teman anda semasa kecil dan juga yang anda sangat sayangi! Karakter yang berbeda ini digarap dengan hidup sehingga selama memainkannya anda akan makin mengerti dan tertarik dengan mereka. I am sure that they will grow on you in the end of the game. Ah, dan jangan khawatir – klan Belmont tidak absent kok di dalam game ini (senyum misterius).

Longetivity (8 / 10)

Mendapatkan 100% dalam game ini bukanlah satu-satunya tantangan yang ada. Apabila anda bisa menyelesaikan game ini dan mendapatkan 100% penjelajahan dalam waktu sekitar 10 jam, anda akan benar-benar membuang banyak waktu anda untuk benar-benar melengkapi semua soul yang ada. Banyak soul yang bisa anda dapatkan dengan mudah – tetapi beberapa lainnya akan sangat sulit dan sangat lama untuk dilakukan. Beruntung Konami menambahkan menu Soul Trade di mana anda bisa berhubungan dengan pemiliki GBA lain untuk saling menukarkan soul-soul yang kalian miliki.

Selain menyelesaikan mode normal, anda juga diperbolehkan memainkan Julius Mode dan Boss Rush Mode begitu anda selesai memainkan game ini. Hal ini adalah tambahan menarik yang tentu saja bisa menambah longetivity dari game ini. Mungkin inilah ciri khas dari Castlevania jaman ini (sekali lagi, mengingatkan saya pada Richter mode di Symphony of the Night); anda selalu memiliki tambahan karakter yang bisa anda mainkan setelah anda menyelesaikan mode aslinya.

Editor’s Tilt (8 / 10)

Aria of Sorrow terbukti menjadi salah satu Castlevania tersukses yang pernah ada. Kendati bersettingkan than 2035 dan hampir tidak memiliki koneksi dengan karakter-karater lama (hanya satu saja yang keluar, dan beruntung dialah maskot dari Castlevania yang modern), nyatanya Aria of Sorrow tetap berhasil memikat banyak orang dengan jalan cerita dan gameplaynya yang menarik.

Kesuksesan ini membuat Konami merilis Dawn of Sorrow, sekuel langsung dari Aria of Sorrow yang dihadirkan di Nintendo DS dan bersetting setahun setelah Aria of Sorrow. Saya sendiri memang belum bosan dengan seri-seri Castleroid (istilah untuk Castlevania dengan gameplay penjelajahan kastil) ini. So come on Konami; we’re craving for more blood!

Average: 7.8

Game Details
Developer: Konami
Publisher: Konami
Genre: 2D Platform

Comments (2)

Tags: , , , , , ,

Harvest Moon: Friends of Mineral Town (GBA)

Posted on 14 October 2009 by Si Tukang Review

Harvest Moon: Friends of Mineral Town Cover

Harvest Moon: Friends of Mineral Town Cover

(Review Ditulis Di Tahun 2004)

Sejarah Harvest Moon pertama kali berawal di dunia SNES. Game yang di Jepang bernama Bokojou Monogatari ini langsung menangkap perhatian para gamer di Jepang karena gameplaynya yang unik dan orisinil. Hanya saja, Harvest Moon pertama tidak sempat dikenal oleh kalangan luas karena dirilis pada akhir masa hidup console SNES. Lebih ironis lagi adalah ketika ia masuk ke US pada tahun 1997 ketika semua orang tengah tergila-gila akan kedahsyatan Playstation.

Harvest Moon mencapai masa jayanya di Indonesia (juga dunia) ketika seri pertamanya dirilis untuk Playstation. Dengan tajuk Harvest Moon: Back to Nature, game ini menampilkan apa yang nampaknya sangat digemari oleh para wanita (juga pria) di Indonesia; sebuah game simulasi pertanian dengan tampilan yang imut - dengan tambahan unsur love simulation dalamnya! Harvest Moon: Back to Nature pun menjadi salah satu versi tersukses dalam seri ini yang membuat Natsume tergiur untuk meremake dan merilisnya dalam versi portable di GBA. Bagaimana performanya?

Konsep portable yang diusung oleh GBA ternyata mampu mewujudkan sebuah dunia Harvest Moon yang sangat dinamis. Versi GBA dari Harvest Moon memang memotong sedikit dari versi Playstationnya (disebabkan oleh keterbatasan kemampuan dari cartridge mungil GBA), toh hal tersebut ditebus dengan sebuah iming-iming yang menggiurkan, yakni membawa peternakan anda ke manapun di saku anda! Bayangkan: kalian sedang bosan di perjalanan tanpa kerjaan, dan anda bisa langsung menanam dan berkencan. Melanglang buana ke dunia pertanian anda sendiri di Mineral Town!

Gameplay dari Harvest Moon sebenarnya masih sama. Anda dituntut untuk menanam berbagai macam sayur mayur di ladang anda, merawat ternak anda, memetik hasilnya, dan menggaet salah satu dari 5 gadis yang tersedia (6 kalau anda menghitung 1 gadis spesial) sebagai istri anda. Nampak membosankan? Jangan salah. Bila anda memang menggemari permainan bertipe simulasi, Harvest Moon akan memuaskan kebutuhan anda. Anda tidak hanya dituntut untuk berkutat di tempat pertanian anda - tetapi juga untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan berbagai karakter di kota anda.

Semula, anda mungkin akan sangat direpotkan dengan tugas ini dan itu dalam keseharian anda. Tetapi bila anda bersabar dan terus menjalin relasi baik dengan para sprites, maka dalam waktu singkat anda akan mendapat banyak pembantu yang siap bekerja bagi anda. Setelah memeras keringat dalam Spring, Summer, dan Fall (Autumn), maka dalam Winter anda bisa menuai hasilnya dan mulai bersenang-senang dan mencurahkan waktu untuk menarik perhatian gadis yang anda sukai. Semuanya bebas sesuai kehendak anda!

Untuk urusan grafis dan suaranya, mungkin Harvest Moon bukanlah yang terunggul dalam bidangnya. Masih ada Golden Sun ataupun Lunar Legends misalnya yang memiliki grafis 2D maupun semi 3D yang lebih mumpuni. Toh, itu tidak berarti Harvest Moon memiliki grafis yang jelek. Hampir keseluruhan dari grafisnya berasal dari game originalnya - dengan penurunan kualitas yang tidak berarti. Suara dalam Harvest Moon adalah kelemahan utama dalam game ini. Sangat repetitif dan membosankan. Bisa jadi ini adalah satu-satunya hal yang menganggu dalam memainkan game ini. Mendengarkan sebuah lagu yang sama berulang-ulang selama 30 hari (hampir 10 jam) sebelum berganti musik yang lain? Membosankan bukan? Oh, dan setelah satu tahun berlalu - bersiaplah untuk mendengarkan serangkaian lagu yang sama kembali.

Replayability dalam memainkan game ini tergantung dari diri anda sendiri. Anda lebih suka membangun segala sesuatu dari awal? Game ini memiliki replay value yang sangat tinggi bila demikian. Anda bisa terus mencoba new game dan mendapatkan kondisi pertanian yang berbeda. Walau prinsip anda untuk mencapai kesejahteraan sejatinya sama, anda bisa menggunakan berbagai variasi yang berbeda untuk melakukannya. Mungkin sekarang anda ingin memfokuskan menjadi seorang peternak, penambang, atau bahkan penangkap ikan ketimbang seorang petani? Atau anda sudah bosan dengan istri anda dan ingin memulai dari awal untuk mencari wanita idaman lain? Pilihannya ada di tangan anda!

Sebaliknya, bagi anda yang ingin terus melanjutkan apa yang anda bina, game ini tetap bisa berlangsung selamanya. Ending dari game ini adalah ketika anda menikah dan istri anda menetap di rumah bersama anda. Anda tetap bisa meneruskan pertanian anda dan membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia: memiliki seorang anak. Tentu saja ada tambahan-tambahan minor lainnya yang bisa membuat anda terus memainkan game ini, mencari uang, dan berkunjung ke Mineral Town kapanpun anda mau. It’s like your second home once you get addicted!

Secara keseluruhan, Harvest Moon: Friends of Mineral Town adalah sebuah game yang sangat unik. Keseluruhan pengalaman yang ditawarkan mengenai kehidupan di peternakan yang damai masih saja resep yang sukses untuk membuat orang memainkannya. Saya sangat merekomendasikannya kepada anda yang menyukai game bertipe simulasi. Sekali anda ketagihan, game ini akan menyedot waktu anda sampai berpuluh-puluh jam. (Saya harus kecanduan selama 80 jam sebelum akhirnya bisa berhenti memainkan game ini).

Final Verdict

Gameplay: 8.0
Graphic: 7.0
Sound: 5.0
Replayability & Value: 9.0

Overall: 7.5

Game Details
Developer: Marvelous Interactive
Publisher Natsume Co
Genre: Simulation

Comments (0)

Tags: , , , ,

Castlevania: Harmony of Dissonance (GBA)

Posted on 14 October 2009 by Si Tukang Review

Castlevania: Harmony of Dissonance Cover

Castlevania: Harmony of Dissonance Cover

(Review Ditulis Di Tahun 2003)

Ah…, sekali lagi sebuah seri Castlevania lahir untuk GBA. Setelah Circle of the Moon, kini Konami kembali menggebrak pasaran GBA dengan Harmony of Dissonance. Agaknya GBA saat ini sedang menjadi handheld yang diserbu oleh berbagai macam game 2D. Bayangkan! Capcom merilis ulang RPG 2D mereka Breath of Fire, dan sebuah RPG baru Megaman Battle Network, game fighting 2D mereka Street Fighter Alpha 3, serta action sidescrolling, Megaman Zero. SNK merilis King of Fighters EX: NEO Blood. Nintendo dengan Super Mario World series, dan Metroid Fusion. Konami rupanya tak mau kalah dan segera mengeluarkan serial legendaris mereka Castlevania…

Cerita dalam Harmony of Dissonance dibuka ketika Maxim, sahabat dari Juste Belmont pulang dari perjalanannya dalam keadaan terluka dan kehilangan ingatan. Ia menyampaikan suatu kabar yang mengagetkan bahwa Lydie, sahabat mereka telah diculik. Maxim menjadi guide bagi Juste untuk mendatangi tempat yang diyakini Maxim sebagai tempat penyekapan Lydie. Mungkinkah kastil kuno yang mereka datangi itu adalah kastil Dracula yang legendaris? Di dalam, kedua sahabat ini berpisah guna mencari Lydie, dan dari titik ini petualangan anda, sebagai Juste dimulai.

Harmony of Dissonance membawakan kita suatu sistem baru dalam gameplay yang dinamakan Spell Fusion. Berhubung Juste, walau menyandang nama keluarga Belmont, sebenarnya adalah keturunan dari Sylphe. Benar sekali, bagi para penggemar seri Castlevania klasik takkan asing dengan nama seorang penyihir wanita yang pernah membantu petualangan Trevor Belmont dalam membasmi Dracula. Tentunya Juste juga menguasai berbagai jenis magic. Senjata sekunder tetap hadir dalam seri Castlevania ini (knife, sacred fist, holy book, holy water, cross, axe). Di sini kita juga akan menemukan 5 spell book. Di sini sistem Spell Fusion bekerja. Bagaimana ? Combine salah satu spell book yang ada dengan sub weapon yang dimiliki Juste, maka Juste akan mengeluarkan suatu jurus baru!

Contohnya begini: Bila Juste sedang mengequip spell book Wind, dan memiliki sub weapon holy water, maka ia dapat mengeluarkan jurus hujan. Benar-benar inovatif bukan ? Dengan adanya sistem Spell Fusion ini, Juste akan memiliki banyak sekali variasi serangan yang beraneka ragam. Untuk menghadapi boss-boss tertentu memilih opsi magic yang tepat akan sangat membantu dalam mengalahkannya. Tapi kita bisa juga menon-aktifkan sistem Spell Fusion ini dengan menon-aktifkan spell book milik Juste. Dengan demikian Juste hanya akan mengeluarkan sub weapon biasa saja (seperti seri Castlevania tradisional). Penggunaan spell akan menghabiskan MP Juste (yang dapat dicharge dengan item tertentu dan dapat recharge sendiri seiring berjalannya waktu) sementara penggunaan sub weapon akan menghabiskan heart (dapat diisi ulang dengan mengambil heart yang bertebaran selama perjalanan).

Sistem apalagi yang dikembalikan dalam Harmony of Dissonance ini oleh Konami? Tentu saja hadir kembalinya kastil ganda Dracula yang absen pada seri Circle of the Moon. Sayang sekali, warp room yang ada sangat sedikit, dan untuk menempuh tujuan kita, kita harus berjalan kaki dari ujung suatu castle ke ujung lainnya, hanya untuk mengambil item upgrade bagi Juste yang belum dapat terambil sebelumnya! Agak menjengkelkan memang!

Beberapa relicpun disediakan oleh Konami untuk membantu Juste dalam usahanya menyelamatkan Lydie. Relic-relic ini akan memberi ability-ability baru kepada Juste yang memungkinkannya untuk menyelesaikan puzzle-puzzle yang ada, membuka jalan, dan bahkan untuk mendapat status upgrade item yang takkan terjangkau oleh Juste dalam ability normalnya.

Beberapa subquest juga disediakan oleh Konami dalam seri ini. Beberapa spell book disediakan secara hidden. Ada juga collectible hunt, yang memaksa Juste untuk menghias kamar pribadinya di kastil Dracula. Dan yang terakhir, adalah untuk memperoleh semua bagian tubuh Dracula (Dracula remains). Subquest yang terakhir adalah subquest yang terpenting apabila kita menginginkan perfect/best ending dalam game ini.

Grafis dalam Harmony of Dissonance sangat indah dan fluid, nyaris mendekati grafis Symphony of the Night milik PSX. Hanya saja karakter Juste nampak terlalu resemble dengan karakter Alucard… Efek bayangan saat Juste bergerakpun nampak istimewa untuk ukuran handheld. Untuk sebuah game adventure 2D GBA, rasanya hanya Megaman Zero dari Capcomlah yang mampu menandingi Harmony of DIssonance ini.

Musik dalam seri ini, sayangnya, mengecewakan. Kemampuan GBA tidak dimaksimalkan oleh Konami dalam game ini. Padahal seri Castlevania biasanya sangat dikenal oleh orang sebagai salah satu seri dengan iringan musik terbaik. Ingat bagaimana Nocturne in the Moonlight berubah menjadi Symphony of the Night karena keindahan BGMnya ? Dalam seksi ini Harmony of Dissonance berna-benar hancur. Satu-satunya BGM yang saya senangi hanyalah Juste’s theme yang diputar di ruangan-ruangan awal game (daerah Entrance). Sayang sekali Konami, musik dalam game ini benar-benar harmoni yang tidak teratur.

Replayability dalam game ini cukup tinggi, berhubung game ini dapat anda mainkan ulang dengan karakter yang berbeda. Maxim. Setelah menyelesaikan game inipun muncul opsi baru Boss Rush Mode. Di mana dalam mini-game ini, anda dapat langsung berduel dengan tiap boss yang ada. Satu kejutan lain dari Konami adalah tersedianya karakter Simon Belmont untuk dimainkan di Boss Rush Mode. Yah, hitung-hitung untuk bernostalgialah… Cara mendapatkan karakter Maxim cukup familiar dengan cara mendapatkan Richter di Symphony of the Night (hint…hint…) yaitu dengan mengetikkan namanya saat save data, tentunya setelah menyelesaikan game ini…

Challenge yang ditawarkan oleh Harmony of Dissonance cukup tinggi. Anda akan kesulitan menghadapi boss yang ada bila level anda hanya ala kadarnya. Tempo dalam Harmony of Dissonance terasa agak lambat, mungkin ini karena efek Megaman Zero yang saya mainkan sebelum game ini. Boss yang ada di game ini sebenarnya biasa saja, bandingkan dengan boss seri Megaman Zero… Gunakan strategi yang benar saat menghadapinya dan saya jamin anda takkan banyak menghadapi kesulitan. Bahkan melawan Dracula sekalipun !

Akhir kata, Harmony of Dissonance adalah satu titel GBA yang layak untuk dikoleksi, tak peduli apakah anda seorang penggemar Castlevania atau bukan. Ini juga sebuah contoh baik bahwa beberapa game memang tetap harus ada di dunianya sebagai game 2D. Castlevania adalah bukti nyata untuk itu. So… are you ready to face the wrath of Dracula ?

Final Verdict

Graphic: 8
Music: 5
Gameplay: 9
Play Time: 7
Challenge: 7

Overall: 7.5

Game Details
Developer: Konami TYO
Publisher: Konami
Genre: Action Adventure

Comments (0)

Tags: , , , , , , , , ,

Metal Gear Solid (GBC)

Posted on 26 August 2009 by Si Tukang Review

Metal Gear Solid Cover

Metal Gear Solid Cover

Ketika Metal Gear Solid (MGS) dirilis di Playstation, karya Hideo Kojima ini langsung melejit menjadi salah satu franchise game terbesar sepanjang masa. Walaupun ceritanya merupakan bagian ketiga (diawali dengan dua game Metal Gear di konsol MSX2) hampir semua orang mulai mengenal nama Metal Gear setelah seri ketiganya. Apa yang membuat MGS di Playstation begitu terkenal? Ada yang bilang genre stealthnya adalah sesuatu yang unik di jaman itu. Ada yang bilang cutscenenya membuat ini lebih terasa seperti film ketimbang game. Ada yang bilang jalan ceritanya keren, penuh plot twist dan tidak kalah bersaing dengan James Bond atau film spionase lainnya. Dan ada segudang alasan lainnya. Bahkan Hideo Kojima sendiri mengakui bahwa ia sengaja tidak melanjutkan franchise Metal Gear di generasi 16-bit karena merasa bahwa visinya tidak bisa direpresentasikan secara maksimal dengan teknologi SNES dan Genesis.

Ketika kemudian muncul pemberitaan bahwa ada sebuah game Metal Gear direncanakan untuk handheld GBC, penggemar franchise ini terbagi menjadi dua. Sebagian mendukung keberanian dari Konami merilisnya di handheld yang jauh lebih inferior ketimbang konsol, sebagian lagi menilai bahwa Konami hanya ingin mengeruk untung sembari mempertahankan minat pasar, apalagi karena Metal Gear Solid 2: Sons of Liberty masih mengalami penundaan rilis di PS2. Toh, semua orang penasaran dengan game ini. Bagaimana hasilnya game yang judul aslinya sebenarnya Metal Gear: Ghost Babel ini?

Sebelum kalian kebingungan (karena kronologi Metal Gear sendiri cukup rumit) saya ingin menjelaskan bahwa Ghost Babel (saya akan menyebut game ini sebagai Ghost Babel supaya tidak terjadi kesalahpahaman dengan MGS di Playstation) bersetting di dunia alternatif. Seperti MGS merupakan sekuel dari dua game pertama Metal Gear di MSX2, Ghost Babel adalah masa depan alternatifnya. Oleh karena itu walau beberapa karakter dari MGS seperti Kolonel Roy Campbell dan Mei Ling muncul, mereka bukanlah orang yang sama yang kamu kenal di MGS Playstation.

Tujuh tahun sudah berlalu semenjak even di Metal Gear dan Solid Snake masih mengasingkan dirinya di Alaska. Toh dunia luar tidak membiarkannya pensiun begitu saja. Sahabat lama Snake, kolonel Campbell datang dan meminta Snake kembali turun ke medan perang karena krisis internasional telah terjadi. Setelah keberhasilan Snake menghancurkan Metal Gear dan Outer Heaven, ternyata sebuah prototipe Metal Gear baru bernama GANDER kini dikuasai oleh komplotan ekstremis bernama “Gindra Liberation Front” / GLF / Front Pembebas Gindra. Dengan peluncur nuklir berjalan di tangan mereka, komplotan ini kemudian menekan pasukan perdamaian menarik diri dari tanah Gindra.

Dalam infiltrasinya kali ini, Snake tidak sendiri karena sebuah kelompok militer bernama Delta Force sudah terlebih dahulu dikirim ke sana. Toh, begitu Snake sampai ia diberitahu oleh seorang gadis bernama Chris Jenner bahwa Delta Force dibokong dan semua anggotanya sudah dihabisi - tinggal Chris yang tersisa. Kini, keduanya harus bekerja sama untuk menghentikan GLF dan dalam prosesnya mengungkap rahasia politik kelam antara Gindra dan Amerika.

Seperti kebanyakan game Metal Gear lainnya, jangan harap kalau cerita dalam Ghost Babel sederhana yang saya tulis di atas. Ia penuh dengan intrik politik kelas tinggi dan plot twist yang - hampir pasti - tidak pernah kamu sangka. Jalan cerita ambisius ini menunjukkan kalau Konami tidak main-main menggarapnya. Dengan media jauh lebih minimalis (mana mungkin GBC memiliki cutscene ala Playstation?) dialog menjadi unsur utama untuk menghidupkan cerita dan Ghost Babel menyuguhkan dialog-dialog kelas tinggi kepada kita. Tidak ada lagi kesalahan translasi seperti yang terjadi ketika Metal Gear pertama diport ke NES dulu.

Gameplay game ini juga menunjukkan kesungguhan Konami dalam menangani franchise terbesarnya ini. Game ini terbagi menjadi 13 level yang meletakkan Snake di posisi-posisi tertentu di Gindra. Hal ini bisa dimengerti karena keterbatasan cartridge GBC tidak memungkinkan semua arena bebas dijelajahi oleh Snake begitu saja. Walau begitu semua unsur stealth dari kotak bersembunyi, masker gas, berbagai senjata tetap ada di sini. AI musuh juga cukup cerdas untuk mencari Snake bila mereka merasa curiga. Pertempuran dengan para bosnya memorable dan tidak kalah dengan versi Playstationnya. Bahkan kalau kamu masih menginginkan lebih dari sekedar game utamanya sendiri, Ghost Babel menawarkan misi VR Training (Virtual Reality) dan bermain VS Battle bersama temanmu yang punya game ini juga.

Grafis dan suara game ini adalah yang terbaik untuk GBC. Konami memaksimalkan cartridge GBC yang terbatas dengan variasi warna yang menghidupkan karakter-karakter dalam game ini. Menilik bagaimana ada lebih dari 10 karakter (semua dengan artwork yang berbeda), stage-stage yang begitu luas, sampai detailnya sprite karakter dalam permainan, saya tidak berlebihan bila mengatakan grafis Ghost Babel mungkin yang tersolid untuk GBC. Musiknya juga ditangani langsung oleh Norihiko Hibino dan Kazuki Muraoka. Kesuksesan Norihiko Hibino menangani game ini kemudian membuatnya diangkat sebagai bagian dari grup komposer tetap di serial-serial Metal Gear berikutnya yang dikepalai oleh Harry Gregson-Williams.

Metal Gear Solid atau Ghost Babel untuk GBC adalah contoh sempurna bagaimana membuat sebuah game untuk handheld. Sampai saat ini pun ia masih masuk dalam sepuluh besar dari game handheld favoritku. Walau tidak ditangani oleh Kojima sendiri, Ghost Babel memiliki semua elemen yang membuat franchise ini begitu terkenal pada awalnya. Tunggu apa lagi? Mainkan game ini!

Final Verdict

Gameplay: 10
Konami memberi bukti bukan janji kosong belaka. Mereka mengatakan bahwa mereka akan membawa sensasi Metal Gear di dunia portable dan hasilnya memang Metal Gear yang bisa dibawa di saku kita.

Graphic / Sound: 9.0
Walaupun GBC tidak bisa menghasilkan cutscene untuk bercerita seperti di konsol, itu bukan berarti grafis dan suara Ghost Babel buruk. Sebaliknya saya percaya bahwa kualitas audio visualnya masih yang terbaik yang pernah dirilis di GBC selama ini.

Play Time: 9.5
Cerita utamanya sendiri memakan waktu kurang lebih lima sampai enam jam untuk dimainkan. Tapi ada kemungkinan kamu akan memainkannya lagi begitu menamatkannya sekedar untuk mengikuti intrik ceritanya. Setelah bosan dengan jalan cerita utamanya pun ada ratusan misi VR yang bisa kamu jalani, atau kamu bisa berduel dengan temanmu bila ia juga memiliki GBC dan game yang sama.

Overall: 9.7

Game Details
Developer: Konami
Publisher: Konami
Genre: Stealth Action

Note: Review ini sekaligus menutup satu bulan penuh Retro Month yang membahas lima game dari NES, SNES, Genesis, dan Game Boy. Semoga dengan review-review ini bisa membawa kalian kembali pada masa-masa klasik, mulai dari kebetean karena memainkan game yang buruk (dan merasa tertipu membelinya karena di jaman itu tidak ada internet), sampai kecanduan memainkan game keren berjam-jam baik sendirian maupun bersama teman sampai ortu ngamuk dan menyita gamemu hanya boleh dimainkan di saat kamu liburan sekolah. Oops, kok jadi curhat pribadi?

Comments (0)

Tags: , , , ,

Catwoman (GBC)

Posted on 25 August 2009 by Si Tukang Review

Catwoman Cover

Catwoman Cover

Bagi banyak karakter superhero, titik puncak dari karir mereka adalah dirilisnya film layar lebar mereka. Hal yang mirip terjadi pada Catwoman. Ketika ia tampil sebagai musuh Batman dalam Batman Returns. Michelle Pfeiffer menjadikannya sebagai simbol seks di awal 90an dengan kostum latex hitamnya yang seksi. Ironisnya ketika Catwoman mendapatkan filmnya sendiri sebagai pemeran utama semua orang - termasuk saya - merasa bahwa inilah titik terendahnya. Film yang amburadul dengan jalan cerita yang melenceng jauh dari komiknya. Pasti tidak ada yang lebih buruk lagi dari film yang dibintangi Halle Berry ini bukan?

Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan itu sebelum memainkan game Catwoman rilisan Kemco pada tahun 1999. Memainkan game ini belum sampai satu jam saja membuatku ingin menonton film Catwoman untuk menghapus kenangan buruk bermain game ini. Ya. Game ini seburuk - sejelek - dan separah itu. Mari kita bedah kebusukan-kebusukannya.

Pertama adalah grafisnya. Saya tahu mengomel soal grafis game GBC terlihat tidak pada tempatnya. Tapi saya berlaku adil di sini, bilapun dibandingkan dengan kebanyakan game GBC Catwoman terlihat sangat jelek dan di bawah standar. Stage-stagenya monoton dan repetitif dengan layar background yang kebanyakan sama, hanya berbeda tingkat platformnya saja. Karakternya pun begitu. Catwoman bisa melakukan beberapa gerakan animasi seperti melompat dengan menempel di dinding terlebih dahulu (wall-jump ala Mario), menyerang dengan mencakari musuhnya, sampai merapatkan dindingnya di tubuh untuk bersembunyi. Sayangnya semua gerakan tersebut terlihat kaku dan terputus-putus. Paling parahnya, terkadang sebagai Catwoman gerakanmu bakalan ‘terhenti’ oleh piksel-piksel obyek tertentu di game. Musuh-musuhnya apalagi. Sepanjang stage pertama misalnya saya hanya dihadapkan dengan dua jenis musuh: polisi dan anjing. Musiknya? Sama seperti presentasi levelnya. Berulang-ulang dan membosankan tanpa efek suara apapun (atau terlalu minimal sampai tidak kusadari).

Mungkin kalian berpikir “Walaupun grafis dan musiknya buruk siapa tahu saja gameplaynya bagus?”. Lagi-lagi ini tidak kujumpai dalam Catwoman. Saya tadinya berharap bahwa game ini mungkin memiliki genre stealth ala Metal Gear Solid. Bukankah Catwoman seorang pencuri sehingga genre ini sangat memungkinkan? Apalagi Catwoman memiliki gerakan mengendap-endap dan merapat di dinding. Sayangnya harapan tinggal harapan. Kamu tidak perlu bersembunyi melawan para musuh dungu yang disediakan game ini. Dengan satu dua pukulan rata-rata semuanya sudah terkapar. Untuk membuat segalanya tambah mudah (seakan tidak cukup mudah), acapkali musuh yang pingsan akan menjatuhkan bonus hati untuk mengembalikan HPmu. Game ini juga sangat membosankan dan kadang terasa tanpa tujuan. Setiap level hanya berisi kamu pergi menjelajah di satu tempat besar (terbagi dalam berbagai sub-area) untuk mencari satu item khusus. Sayangnya tidak ada item lain yang bisa diambil selain yang diharuskan cerita sehingga membuat penjelajahan terasa bertele-tele dan tidak perlu.

Kontrol dalam game ini luar biasa. Luar biasa buruknya. Saya berani garansi kalau Catwoman adalah salah satu game dengan kontrol terburuk yang pernah kamu mainkan. Mencoba melompat dari satu platform ke platform yang lain luar biasa sulitnya karena sering tanpa sengaja Catwoman malah menempel dan melakukan wall-jump. Saya juga suka kebingungan dengan perubahan layar di game ini. Dalam satu layar Catwoman melompat ke atap, tetapi muncul di layar lain ia malah jatuh ke ruangan bawah. Uh, nampaknya developer game ini perlu belajar ilmu Fisika terlebih dahulu deh.

Singkat kata: seekor kucing konon punya sembilan nyawa. Catwoman sudah gagal dua kali: game ini dan filmnya. Semoga saja dia tidak gagal tujuh kali lagi di masa mendatang sampai tidak bisa bangkit kembali.

Final Verdict

Gameplay: 1.0
Penjelajahannya membosankan. Musuhnya jongkok. Ceritanya standar komik. Kontrolnya super buruk. Padahal Catwoman punya potensi untuk menjadi seperti Metal Gear: Ghost Babel. Kemco seharusnya belajar dari Konami bagaimana membuat game untuk GBC dengan benar.

Graphic / Sound: 2.0
Satu-satunya alasan saya memberi nilai 2.0 adalah karena ceritanya menggunakan animasi komik DC. Sempat memberi janji - tapi ketika masuk game saya langsung kejang dengan kualitas audio visual in-gamenya.

Play Time: 0.0
Ya. Nol. Besar. Artinya jangan mainkan game ini.

Overall: 1.0

Game Details
Developer: Kemco
Publisher: Kemco
Genre: 2D Platform

Comments (2)

Tags: , , , ,

Final Fantasy Legend II (GB)

Posted on 24 August 2009 by Si Tukang Review

Final Fantasy Legend II Cover

Final Fantasy Legend II Cover

Apabila kamu seorang veteran RPG yang pernah memainkan kebanyakan game Final Fantasy maka Final Fantasy Legend II pasti akan terlihat aneh bagimu. Game Final Fantasy yang dirilis untuk Game Boy ini tidak seperti kebanyakan Final Fantasy untuk konsol baik dari segi grafis maupun gameplaynya. Oke, Sejarah 101: Titel Jepang dari Final Fantasy Legend II adalah SaGa 2: Hiho Densetsu. Para RPGer tentunya tahu bahwa sebelum bergabung dengan Enix dulu Squaresoft memiliki tiga franchise besar: serial Final Fantasy, serial Mana, dan serial SaGa. Walaupun di Jepang semuanya memiliki fanbase masing-masing, di saat itu publik Amerika baru tahu Final Fantasy. Daripada bertaruh memakai nama SaGa, Squaresoft akhirnya menerjemahkan titel ini menjadi Final Fantasy dengan diimbuhi ‘Legend’. Lahirlah Final Fantasy Legend di Game Boy.

Apabila kamu berharap akan jalan cerita yang legendaris (forgive the pun) maka kamu akan kecewa. Perlu diingat bahwa ini adalah tahun 1990 dan bahkan game konsol di jaman itupun belum benar-benar mementingkan aspek cerita dalamnya. Sebaliknya, bila kamu mencari sebuah RPG dengan gameplay yang dalam dan bisa dibawa ke mana-mana, Final Fantasy Legend II bisa saja menjawab keinginanmu itu. Seperti yang kubilang tadi, jalan cerita game ini dibuka dengan sederhana. Karakter utamamu dititipi oleh ayahnya sebuah benda aneh bernama Prism. Sang ayah kemudian menghilang di tengah kegelapan malam. Bertahun-tahun kemudian kamu tumbuh dan tahu bahwa artifak yang dititipi oleh ayahmu bernama Magi, satu dari puluhan artifak kuno yang tersebar di berbagai dunia yang bisa kamu jelajahi. Bisa dibilang kalau tujuan utamamu dalam game ini adalah menemukan ayahmu sekaligus menemukan artifak-artifak Magi supaya tidak jatuh ke tangan orang yang tidak benar (mengutip semboyan Pokemon: Gotta catch em all!)

Alasan kenapa saya mengatakan gameplay Final Fantasy Legend II dalam adalah kebebasannya untuk mengkustomisasi karakter. Kamu bebas membentuk tim empat orangmu dari beberapa jenis kelas yang disediakan. Ada Human dan Mutant yang memiliki dua jenis kelamin (walaupun pria dan wanita identik) dan ada empat jenis Monster yang bisa kamu pilih. Pilihanmu sepenuhnya bebas. Kamu suka mengambil kemampuan monster-monster yang kamu temui? Berarti karakter Monsterlah yang sebaiknya kamu pakai. Atau kamu mau bermain aman ala RPG konvensional? Kalau begitu ras Human yang standar untuk pemula adalah pilihan yang cocok untukmu. Berbeda juga dengan kebanyakan RPG yang memakai sistem Experience Point untuk naik level, Final Fantasy Legend II menaikkan statusmu berdasarkan cara bertarungmu. Contohnya kalau kamu sering menyerang musuh dengan senjatamu maka STRmu akan naik dan sebaliknya bila kamu sering memakai magic kamu memperbesar kemungkinan mendapatkan sihir baru. Pernah main Final Fantasy II? Sistem yang dipakai Final Fantasy Legend II mirip dengannya.

Untuk sebuah game Game Boy, saya rasa Final Fantasy Legend II layak sekali diacungi jempol dalam sisi audio visualnya. Sistem pertempuran di sini dibuat ala Dragon Quest di mana musuh ditampilkan secara raksasa di hadapan kita sementara karakter kita kecil di bawah layar. Di sini saya dipaksa mengakui kalau kualitas grafis para monster itu tergarap apik untuk layar monokrom handheldnya Nintendo ini. Pun untuk beberapa dunia yang bisa dijelajahi (saya tidak akan spoiler lebih jauh), semuanya memiliki nuansa yang berbeda-beda walau tidak ada yang dunianya seluas dan seindah Chrono Trigger - ah, maafkan saya. Tidak semestinya saya membandingkan game SNES dan Game Boy. Untuk segi audionya, game ini ditangani oleh legenda hidup Nobuo Uematsu. Walaupun kapasitas Game Boy terbatas, itu tidak menghalangi sang komposer memberikan musik-musik yang apik baginya. Tidak sampai memorable ala kebanyakan game Final Fantasy yang ditangani Uematsu tetapi semuanya solid dan enak untuk didengar.

Dengan segala pencapaiannya ini, Final Fantasy Legend II adalah RPG klasik yang dikenal dengan inovasi dan tingkat kesulitannya yang tinggi. Bila hal tersebut membuatmu takut untuk menjajalnya, tunggu saja versi remakenya yang akan hadir di pasar Jepang Nintendo DS akhir tahun ini. Nah, siapa yang siap mengambili Magi-Magi lagi?

Final Verdict

Gameplay: 8.5
Kustomisasinya luar biasa dalam, tidak hanya untuk ukuran Game Boy tetapi untuk ukuran game-game RPG di jaman itu. Tak heran bila gameplay Final Fantasy Legend II tercatat dalam sejarah sebagai fondasi dari serial SaGa ke depannya nanti.

Graphic / Sound: 8.0
Grafisnya keren dengan berbagai jenis animasi monster. Karakter-karaktermu pun berbeda satu sama lainnya. Musiknya yang ditangani Nobuo Uematsu juga kelas satu (untuk kelas portable). Squaresoft tidak menganggap kecil Final Fantasy Legend II dan menggarapnya secara serius.

Play Time: 8.5
Memakan waktu hampir 15 jam buatku untuk menamatkannya. Insentif terbesar untuk mengulang game ini bukan ceritanya tentu saja, tetapi memainkannya dengan grup yang berbeda karakter demi sensasi permainan yang berbeda.

Overall: 8.4

Game Details
Developer: Squaresoft
Publisher: Squaresoft
Genre: RPG

Comments (0)

Tags: , , , ,

Mortal Kombat (GB)

Posted on 23 August 2009 by Si Tukang Review

Mortal Kombat Cover

Mortal Kombat Cover

Walaupun franchise Mortal Kombat sekarang tidak lagi menjadi unggulan di kelasnya, pada awal 90an dulu ialah satu-satunya franchise yang bisa bersaing - dan bahkan untuk sementara waktu - unggul dari Street Fighter II. Berbeda hampir 180 derajat dari Street Fighter, Mortal Kombat memiliki gambar yang lebih realistis dengan gerakan yang dicapture dari orang sungguhan. Yang membuat banyak orang tertarik akan game ini ironisnya bukan gameplaynya (yang cukup dangkal bila dibandingkan game fighting lainnya) tetapi justru karena tingginya unsur kekerasan di dalamnya. Mortal Kombat mungkin paling identik dengan jurus Fatality yang dimiliki oleh setiap karakternya; jurus penghabisan yang dengan keji mencabut nyawa lawan (sekaligus mempermalukan musuhmu kalau sedang main di arcade).

Karena kesuksesan ini, Mortal Kombat diport ke berbagai konsol rumahan dan handheld yang ada di saat itu. Saya sudah pernah mencoba memainkan versi Genesis, SNES, bahkan Game Gear Mortal Kombat. Sejujurnya, saya terkejut bahwa versi Game Gear Mortal Kombat cukup bisa bersaing dengan versi konsolnya - mungkin ini karena Game Gear memiliki layar warna dan prosesor yang cukup kuat untuk memproses Mortal Kombat. Berangkat dari itu, saya kemudian mencoba versi Game Boynya untuk review Retro saya kali ini. Apakah Mortal Kombat masih memiliki charm yang sama di layar hitam putih?

Dalam versi ini kamu bisa memainkan enam karakter: Sonya, Liu Kang, Sub-Zero, Scorpion, Raiden, dan Kano. Itu berarti Game Boy menghilangkan salah satu karakter: Johnny Cage (which happens to be my favorite character). Mungkin demi menghemat memori? Untuk ukuran Game Boy, grafis Mortal Kombat tergolong lumayan. Salah satu penanda yang jelas adalah saya masih bisa membedakan yang mana Sub-Zero dan yang mana Scorpion. Pencapaian yang tidak buruk untuk mengingat design keduanya identik dan layar Game Boy yang monokrom. Stage fightingnya sendiri ada beberapa dan saya memuji keberanian Probe mendorong kapasitas grafis dari Game Boy - walau dilakukan pengorbanan pada departemen suara. Background musik dari game ini adalah salah satu dari musik terburuk yang pernah saya dengar. Saya hanya bisa membayangkan orang memainkannya di subway dengan musik mengerikan seperti ini… kasihan yang duduk di sebelahnya.

Tapi suara hanya masalah kecil dari apa yang membuat Mortal Kombat begitu terlupakan. Kontrol yang buruk. Buruk buruk sekali. Dan sekali lagi saya tegaskan: buruk. Begitu buruknya kontrol dalam game ini sampai saya tamat saya hanya bisa mengeluarkan satu jurus Liu Kang. Kontras sekali dengan versi arcade maupun konsolnya. Ingat bahwa ketika Mortal Kombat pertama kali diluncurkan ia memiliki move list yang simple untuk menarik para pemula game fighting bermain. Berbeda dengan Street Fighter II yang kebanyakan gerakannya memerlukan setengah lingkaran ke depan - satu lingkaran penuh ke belakang - dan segala tetek  bengek lainnya, Mortal Kombat selalu mengedepankan kesederhanaan. Kebanyakan jurusmu dieksekusi dengan maju - maju - pukul, atau mundur - mundur - tendang. Tapi dengan move list sederhana seperti itupun saya hampir selalu gagal mengeksekusi jurus-jurus karakterku. Walhasil, saya memilih menggunakan jurus orang idiot dalam game fighting. Lompat dan pukul, mundur, lompat sambil menendang, mundur, dan seterusnya. Sama sekali tidak fun - tapi lebih baik ketimbang mencoba mengeluarkan jurus dan gagal sementara musuh menjadikan kita sansak hidup.

Kecepatan game ini juga lambat. Hampir semua reaksi dari karakterku terlambat dalam game ini. Menekan tombol A atau B dan melihat karakter kita melakukannya kadang tertunda sepersekian detik lamanya. Walau sepersekian detik terdengar tidak seberapa, untuk game fighting yang membutuhkan presisi, itu sudah merusak jam badan kita yang terbiasa dengan game fighting yang tidak ada penundaan reaksi. Satu-satunya hal yang membuat saya masih tertarik memainkannya sampai tamat adalah demi mendapatkan Goro (ada cheat untuk memainkannya). Ironis bahwa versi terburuk ini justru satu-satunya versi di mana kita berkesempatan memainkan sang jagoan berlengan empat.

Mortal Kombat mungkin bukan game yang sempurna - tetapi ia juga bukan game yang buruk. Oleh karena itu, memainkan versi Game Boy yang menjadikannya game fighting terburuk yang pernah kumainkan sangat menyakitkan. Cukup sudah dengan game ini! Saya harus main Mortal Kombat VS DC Universe lagi untuk membersihkan memoriku!

Final Verdict

Gameplay: 1.0
Nilai 1.0 itu adalah karena ini satu-satunya versi yang mengijinkan kita bermain sebagai Goro. Setidaknya itu masih fun dilakukan.

Graphic / Sound: 5.0
Grafisnya lumayan bagus dan detail untuk ukuran Game Boy tetapi musiknya membuat telingaku sakit.

Play Time: 2.5
Tamatkan game ini sekali (sekitar satu jam, mungkin kurang). Kemudian lakukan cheat bermain sebagai Goro dan bersenang-senang dengannya (mungkin sekitar satu dua jam lagi). Lantas buang game ini ke tong sampah dan main versi konsolnya saja.

Overall: 2.6

Game Details
Developer: Probe Entertainment Limited
Publisher: Acclaim
Genre: Fighting

Comments (0)

Tags: , , , , ,

The Ninja Warriors (SNES)

Posted on 23 August 2009 by Si Tukang Review

The Ninja Warriors Cover

The Ninja Warriors Cover

Prolog dari game ini adalah salah satu cerita paling tolol yang pernah saya dengar bahkan untuk standar game sekalipun. Konon di masa depan seorang diktator kejam bernama Banglar menguasai sebuah negara dengan cara mencuci otak semua orang supaya menuruti dia (jangan tanya bagaimana). Tapi tentu saja harapan tidak begitu saja musnah karena masih ada pemberontak di bawah pimpinan Mulk yang menentang kekuasaan Banglar. Mulk menyiapkan rencana menghabisi Banglar dengan mengirimkan tiga pembunuh bayaran terkuatnya dalam bentuk android (mungkin karena kalau manusia punya hati nurani?). Sayangnya belum ketiga android ini disempurnakan Banglar lebih cepat mencium gelagat pemberontakan dan mengirimkan para tentaranya menghabisi Mulk dan kawan-kawannya. Tanpa pilihan lain, Mulk mengaktifkan ketiga androidnya dan mengutus mereka menghabis Banglar. Siapa yang lebih cepat menang? Saya tidak tahu. Yang saya tahu design androidnya persis Terminator. Eat your heart Terminatrix, di sini ada android berambut pirang juga - ninja lagi! Plus: dia hadir sepuluh tahun sebelum kamu ada.

Seperti yang saya tulis dalam prolog di atas, kamu bisa bermain sebagai salah satu dari tiga android yang sudah didesign Mulk. Jangan harapkan inovasi apapun dalam bidang ini. Pilihan tiga itu adalah Ninja (nama yang kurang kreatif ya?), Kunoichi, dan Kamaitachi. Ninja berbadan besar dan memiliki gerakan yang lambat tapi daya destruktif yang tinggi, Kunoichi merata di segala bidang sementara Kamaitachi yang mirip prototipe android belum jadi gerakannya cepat tapi serangannya relatif lemah. Satu-satunya hal yang sedikit berbeda adalah Kunoichi (karakter ninja berkelamin wanita - kalau robot masih bisa dibilang wanita) biasanya dijadikan yang cepat tapi lemah, tetapi dalam game ini dijadikan karakter all-round. Karena ketiga karakter ini memiliki atribut yang berbeda, otomatis cara permainan pun akan berbeda. Ketika saya memakai Ninja misalnya saya lebih suka membanting musuh karena badan Ninja yang besar memudahkan dia untuk mengangkat dan membanting musuh yang menghadang jalannya. Sebaliknya sebagai Kamaitachi yang lincah saya bisa menggunakan pukulan mautnya yang super cepat sambil berkelit menghindari serangan-serangan musuh. Karena perbedaan besar ketiganya, menyelesaikan game ini dengan karakter yang berbeda juga memberi pengalaman yang berbeda.

Gameplay The Ninja Warriors dikategorikan sebagai beat-em-up, tetapi saya menemukannya sedikit berbeda dengan game seperti Double Dragon atau Final Fight. Di dalam game ini kamu hanya bisa bergerak dari kanan-kiri saja secara dua dimensi dalam satu jalur, berbeda dengan game-game genre ini yang biasanya membiarkanmu bergerak di beberapa jalur sekaligus. Pertamanya saya sedikit kagok untuk menghindari serangan musuh dengan cara seperti ini. Strategi tentu saja berbeda karena musuh lebih mudah menjepitmu dari dua arah. Otomatis kamu harus bergerak cepat menyelesaikan musuh dari kanan sebelum musuh dari kiri menyerangmu dan begitu pula sebaliknya. Toh lama kelamaan kamu bakalan terbiasa dengan sistem tarung dalam game ini. Justru ketika kamu harus berhadapan dengan boss (sering kali kita dikeroyok oleh boss bersama banyak musuh-musuh ‘kecil’), game ini seakan berubah genre menjadi duel game fighting minus jurus. Satu hal yang lagi-lagi saya sayangkan adalah tidak adanya fasilitas co-op. Saya hanya bisa berandai-andai betapa serunya game ini bila memakai dua karakter android secara bersamaan.

Dirilis di penghujung hayat SNES, game ini mendorong kemampuan dari konsol tersebut semaksimal mungkin. Selain ketiga karakternya yang memiliki variasi gerakan luar biasa banyaknya (kamu bisa melakukan jurus spesial, beberapa jurus dasar, kombo yang berbeda untuk tiap karakter, sampai memblok serangan musuh), game ini juga memiliki variasi musuh yang banyak serta deretan boss yang memorable. Efek-efeknya seperti ledakan rudal juga bisa mengubah latar belakang arena. Ditambah dengan musik yang ditangani oleh Hiroyuki Iwatsuki (juga bertanggung jawab akan musik di Gundam Wings Endless Waltz), The Ninja Warriors adalah salah satu game yang tidak boleh kamu lewatkan di SNES.

FUN FACT: Di Jepang, game ini dijuduli The Ninja Warriors Again karena merupakan sekuel dari game The Ninja Warriors yang dirilis pada tahun 1988 di Arcade. Prekuel dari game ini diport ke berbagai konsol rumahan di Jepang, tetapi tidak pernah mendapat dirilis di Amerika. Supaya gamer tidak bingung, judulnya pun diubah oleh Taito menjadi The Ninja Warriors - menimbulkan kesalahkaprahan banyak orang yang menyangka bahwa game SNES ini adalah game pertamanya.

Final Verdict

Gameplay: 8.5
Gerakan ketiga karakter yang berbeda satu sama lain memberi strategi yang berbeda dalam permainan. Musuh-musuhnya memiliki AI yang lumayan cerdas tetapi kesulitannya selalu berada pada tahap ‘normal’. Pecinta tantangan boleh mencoba mode ‘hard’nya. Satu-satunya yang membuat saya mengurangi game ini dari nilai sempurna adalah - you guess it - absennya fitur co-op.

Graphic / Sound: 8.5
Tajam, jernih, jelas. Animasi yang paling keren adalah ketika karaktermu tewas, sistemnya akan mengalami malfungsi, ia akan berubah perlahan menjadi tipe android (ala Terminator) sebelum kemudian meledak berkeping-keping. Kehancuran yang sama juga terjadi ketika kamu mengalahkan para boss. Sangat keren dan hardcore untuk tahun 1994.

Play Time: 8.0
Walau tidak ada fasilitas co-op, mencoba menamatkan game ini dengan karakter-karakter yang berbeda membuatmu sekurang-kurangnya memainkan game ini tiga kali.

Overall: 8.4

Game Details
Developer: Natsume
Publisher: Taito
Genre: Action / Beat Em Up

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Mickey Mania (SNES)

Posted on 22 August 2009 by Si Tukang Review

Mickey Mania Cover
Mickey Mania Cover

Tajuk sebuah game tidak pernah lebih tepat dari Mickey Mania: The Timeless Adventure of Mickey Mouse. Dirilis pada tahun 1994, game ini sebenarnya hendak dirilis untuk memperingati 65 tahun hari jadi sang tikus paling terkenal di dunia pada tahun 1993. Apa daya karena dianggap terlalu tergesa-gesa, Traveller’s Tales memutuskan untuk memundurkan perilisannya selama setahun. Kendati begitu, hasilnya terbayarkan karena Mickey Mania merupakan salah satu game platform 2D dengan penampilan terbaik di konsol SNES.

Seperti sub-judulnya, game Mickey Mania mengajak Miki untuk menjelajahi kartun-kartun klasiknya dari yang pertama (Steamboat Willie) hingga yang terbaru saat itu (The Prince and The Pauper). Total ada enam level yang diadaptasi dari versi kartunnya dan satu level orisinal untuk game ini.

Level-level game yang diangkat dari kartun memiliki nuansa klasik yang khas dan berbeda-beda. Yang pasti semuanya memorable dan menawarkan corak permainan yang cukup berbeda satu sama lain. Ingat bagaimana semua orang memuji Kingdom Hearts II yang dunia Steamboat Willie-nya hitam putih? Bagi saya hal itu biasa-biasa saja karena sedekade lebih sebelum game itu diluncurkan, Mickey Mania sudah lebih dulu mengeksplorasi kemungkinan tersebut. Grafis di Steamboat Willie hitam putih hampir di setengah awal stage sebelum gradasi menuju warna terjadi sedikit demi sedikit pada paruh kedua stage tersebut. Saya menyayangkan bahwa The Mad Doctor yang merupakan stage kedua digarap dengan warna padahal kartunnya sendiri hitam putih. Toh saya tidak bisa menyalahkan Traveller’s Tales. Masa dua level semuanya hitam putih? Satu-satunya kelemahan design stage ini justru di level terakhir (sekaligus orisinilnya). Traveller’s Tales memang sukses mengadaptasi kartun-kartun klasik Miki menjadi bentuk game - tetapi mereka gagal dalam menciptakan dunia fantasi mereka sendiri.

Seperti yang saya katakan, hampir semua level memiliki ciri uniknya sendiri. Di level kedua misalnya ada even kereta luncur di mana kamu harus terus menghindari jebakan sembari melompat untuk berganti kereta. Di level ketiga Moose Hunters malah tidak ada musuh selain rusa yang nantinya muncul sesekali dan kemudian mengejar-ngejarmu. Ini membuat game ini tidak pernah terasa membosankan dan menantang.

Departemen suara dalam game ini juga bagus. Saya tahu bahwa kebanyakan musik klasik yang mengiringi film orisinilnya secara misterius absen dalam game ini (apakah karena kesulitan memperoleh ijinnya?) tetapi sebagai gantinya kita disuguhi musik-musik baru yang uniknya pas dengan level-level di mana kita berpetualang. Beberapa yang paling memorable bagiku adalah musik di level Steamboat Willie, Moose Hunters, dan Lonesome Ghosts.

Banyak orang yang mengatakan kalau kesulitan game ini sangat tinggi. Saya sempat menonton review ScrewAttack di situs Gametrailers yang terang-terangan mengkritik kontrol game ini. Memang kontrol game ini bisa menyulitkan bagi pemula karena kamu tidak tahu apa-apa saja obyek yang bisa melukai Miki. Sekedar pemberitahuan: semua bisa melukai Miki di game ini. Apapun dari tulang belulang tengkorak, diseruduk rusa, pisau gerigi mesin, sampai musik nyanyian kambing dan ketel uap berpotensi membunuh Miki. Seakan-akan sang tikus menjadi musuh besar dari dunia animasinya sendiri. Kontrol yang kadang aneh seperti Miki bisa melompat tinggi dan rendah di lain waktu juga presisi lompat dari satu platform ke platform lain kadang memang menyebalkan dan menyulitkan - tapi tidak sampai pada tahap membuatmu ingin membanting kontroler gamemu ke layar kaca.

Game ini dirilis untuk beberapa konsol sekaligus. Sega Genesis, SNES, Sega CD, juga Playstation. Versi yang paling inferior adalah SNES karena ada satu level yang dihilangkan (The Band Concert) juga karena ada beberapa bagian dari level-level tertentu yang dihilangkan. Versi SNES ini juga dikenal memiliki loading time yang lebih lama dibandingkan versi-versi lainnya. Bila kamu selama ini hanya mengenal Castle of Illusion, coba simak juga petualangan Miki yang lain di Mickey Mania.

Final Verdict

Gameplay: 6.0
Kelemahan terbesar game ini ada pada kontrolnya yang kadang kaku dan aneh dalam pergerakan Miki. Sayang sekali karena sang developer sebenarnya sudah mencoba membuat gameplay di tiap levelnya berbeda.

Graphic / Sound: 9.0
Walau kadang kesal dengan loading time yang lama (karena hardware SNES kalah dalam memproduksi grafis 2D dibandingkan Sega Genesis) sulit untuk mendebat bahwa warna-warna cerah dan musik-musik variatif yang ditawarkan game ini adalah salah satu yang terbaik buat generasi 16-bit.

Play Time: 7.0
Karena game ini cukup sulit pada awalnya, kamu mungkin akan mati berulang kali sebelum menyelesaikan sebuah level. Toh tantangan nilai nostalgiauntuk menemukan dunia apa yang akan kamu jelajahi berikutnya akan membuatmu memainkannya lagi. Saya sendiri sudah berulang kali memainkan game ini sehingga tahu benar di mana jebakan-jebakan yang bisa mengancam keselamatan maskot Disney. Bila sudah tahu, menyelesaikan game ini pun jadi jauh jauh lebih mudah dan cepat.

Overall: 7.4

Game Details
Developer: Traveller’s Tales
Publisher: Capcom
Genre: Platform / Adventure

Comments (0)

Tags: , , ,

Kamen Rider (SNES)

Posted on 22 August 2009 by Si Tukang Review

Kamen Rider Cover

Kamen Rider Cover

Kalau kalian seorang penggemar tokusatsu tentunya tahu bahwa ada tiga jenis franchise yang paling populer di Jepang sana. Ultraman, Sentai, dan Kamen Rider. Di Indonesia sendiri, serial Kamen Rider bisa dibilang merupakan serial tokusatsu yang paling populer di era 90an dengan ditayangkannya serial Kamen Rider Black dan Black RX (di sini diubah namanya menjadi Ksatria Baja Hitam). Black dan Black RX adalah Kamen Rider terakhir dari generasi Showa / Klasik sebelum franchise tersebut mengalami hiatus panjang selama hampir satu dekade.

Review Retro kali ini akan membahas mengenai game yang diangkat dari serial pertama Kamen Rider, kini dikenal dengan nama Kamen Rider 1 dan 2. Duet ini adalah pelopor awal yang melejitkan Kamen Rider untuk bersaing dengan Ultraman dan Sentai yang sudah hadir sebelumnya. Digarap oleh Bandai untuk SNES, game ini mengambil genre beat-em-up. Bagaimana hasilnya?

Perlu diketahui bahwa berbeda dengan serial Sentai yang diadaptasi menjadi Power Rangers, serial Kamen Rider (juga Ultraman) tidak pernah mendapat kesuksesan di Amerika. Oleh karena itu, game Bandai ini juga tidak pernah dirilis dan ditranslasikan ke versi Amerikanya. Setahu saya game ini memiliki dua kemungkinan setting; setting orisinil atau setting cerita menjelang finale (karena No. 1 dan No. 2 ini berduet hanya beberapa kali saja selama serial Kamen Rider mengudara).

Seperti pada filmnya, dalam game ini player pertama mengendalikan Hongo Takeshi (No. 1) dan Hayato Ichimonji (No. 2). Yap. Berbeda dengan Death and Return of Superman, Bandai menggarap game beat-em-up dengan benar. Menyediakan fasilitas kooperatif membuat game ini tidak pernah bosan dimainkan dengan pasanganmu. Kamu memulai permainan sebagai Hongo dan Hayato. Apabila kamu life barmu sudah hampir habis, kamu bisa berubah (henshin) ke bentuk Kamen Rider dan life barmu akan kembali terisi penuh. Game ini didesign semirip mungkin dengan konsep serial TVnya. Apabila menghadapi para cecunguk-cecunguk bawahan, Hongo dan Hayato tidak akan kesulitan menghadapi mereka, tetapi menghadapi monster (biasanya bos di level tersebut) akan memaksa kalian berubah ke bentuk Kamen Rider… walaupun tidak mustahil mengalahkannya dalam bentuk manusia kalau kamu memang jago. Momen terkeren dalam game ini datang ketika kamu bisa mengeksekusi jurus Rider Kick mautmu. Ketika monster sudah kehabisan energi, kamu bisa menekan tombol X dan karaktermu akan melompat dan melakukan jurus tendangan mautnya yang sakti. Buat para penggemar serial TVnya, melakukan jurus sakti yang selama ini hanya bisa kamu tonton tentu memberi kepuasan tersendiri.

Kamen Rider juga menawarkan grafis dan suara yang di atas rata-rata. Hal ini sudah terlihat dari openingnya yang menawarkan klip film singkat dari serial TVnya. Ingat bahwa cartridge sebenarnya bukan media yang memungkinkan untuk dimasuki FMV sehingga keberanian Bandai memasukkan video singkat diiringi dengan alunan lagu opening serial TV Kamen Rider merupakan bukti kecintaan mereka kepada serial ciptaan Ishimori Shotaro ini. Selama permainan juga pemain akan berhadapan dengan para anggota-anggota dan monster dari Shocker dan Gel-Shocker, antagonis dari serial TVnya.

Kendati Kamen Rider bukan game yang panjang, tingkat kesulitannya yang cukup tinggi akan memaksamu memainkannya berulang kali untuk menguasainya. Ah, ralat. Tentu saja bukan paksaan, sebab dengan begitu banyaknya nilai klasik yang dimasukkan Bandai dalamnya, game ini malahan seperti membawa kita bernostalgia dengan jagoan masa kecil kita dulu.

Final Verdict

Gameplay: 7.5
Walaupun sekedar beat-em-up standar, beberapa elemen orisinil yang dimasukkan dalam game ini seperti Rider Kick memberinya nuansa Kamen Rider. Juga ada fasilitas kooperasi yang adalah ‘keharusan’ untuk game beat em up seperti ini.

Graphic / Sound: 8.5
Acungan empat jempol buat Bandai. Mulai dari design karakter dan Rider yang berbeda, musuh-musuh dan monster yang diangkat langsung dari serial TVnya, jelas terlihat kalau Bandai tidak main-main dalam menghidupkan serial klasik ini.

Play Time: 8.0
Terbagi dalam lima level yang masing-masing bisa diakses dengan password, nilai waktu mainnya bukan pada longetivitynya tetapi pada replayabilitynya.

Overall: 8.0

Game Details
Developer: Bandai
Publisher: Bandai
Genre: Beat Em Up

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here