(Review Based On PC Version)
Saya pernah membaca sebuah artikel unik dari situs game terkenal yang mengajak para pembacanya menebak siapakah musuh yang paling sering dipakai dalam media game? Tadinya saya menyangka kalau jawabannya zombie atau monster-monster sejenis. Jawaban saya salah. Artikel tersebut kemudian menjawab bahwa musuh yang paling sering dipakai (terutama di genre FPS) adalah para tentara NAZI. Tidak tanggung-tanggung dari awal mula lahirnya FPS lewat game Wolfenstein saja gamer sudah diajak menembaki NAZI. Begitu juga pada game-game FPS modern seperti Medal of Honor dan Call of Duty (perkecualian pada Modern Warfare). Nah EA melalui salah satu developernya, Pandemic Studio kemudian menciptakan sebuah game berjudul The Saboteur. Beda dengan game yang saya sebutkan di atas tadi, The Saboteur gameplaynya seperti GTA alias sandbox free-roaming tetapi bersetting di jaman Perang Dunia II. Artinya? lebih banyak NAZI buat kalian bantai!
Apabila semua game GTA mengambil setting kota fiktif yang berdasarkan kota nyata di Amerika seperti Liberty City untuk New York dan Vice City untuk Miami, maka The Sabouteur berlokasi di kota yang disebut penulis terkenal Ernest Hemingway sebagai A Moveable Feast. Tepat. The Saboteur menjadi kisah seorang orang Irlandia bernama Devlin yang turut berjuang bersama pasukan Resistance bawah tanah untuk membebaskan kota Paris dari cengkeraman NAZI. Awalnya Devlin hanyalah seorang pembalap mobil yang bekerja di bawah Vittore, seorang Italia. Setelah kalah karena dicurangi dalam Grand Prix, Devlin dan sahabatnya Jacques diam-diam menyusup ke dalam sebuah markas tentara Jerman untuk meledakkan mobil pembalap yang mencurangi mereka. Sial bagi keduanya, keduanya kepergok oleh Dietrich, sang pembalap curang yang juga berprofesi rangkap sebagai tentara NAZI. Devlin dan Jacques dicurigai sebagai mata-mata dan disesah untuk memberikan informasi. Karena bukan mata-mata, tentu saja Devlin tak bisa menjawab dan melihat sang sahabat dibunuh di matanya sendiri. Keberuntungan membuat Devlin bisa meloloskan diri, dan ia bersumpah untuk membalas dendam akan kematian sahabatnya itu.
Ambisi The Saboteur tidak main-main dalam menciptakan kota Paris. Kota ini masih terlihat begitu gemerlap dan indah sesuai julukannya City of Lights, tetapi juga ada aroma depresi karena setiap penghujungnya dijaga ketat oleh patroli tentara Jerman. Bahkan di tempat-tempat di mana para tentara Jerman kuat bercokol ditandai dengan suasana yang kelam dan hitam putih. Apabila kamu berhasil menghancurkan kekuatan tentara Jerman di wilayah itu maka daerah itu pun kemudian dihiasi dengan semburat warna. Bila kalian pernah memainkan game Okami atau Tomba tentu familiar dengan sistem pembebasan wilayah seperti ini. Sayang buat saya pemberian warna hitam putih ini justru terkesan sebagai blunder. Alasannya begini, hampir setiap wilayah bisa kamu rebut dari tentara Jerman setelah kamu menghancurkan markas besar di wilayah tersebut. Itu berarti sering kali kamu bakalan menyerbu markas musuh dengan warna hitam putih yang selain menurunkan intensitas permainan juga menganggu pandanganmu dalam lawan. Karena layarmu melulu gelap, secara insting kamu menyangka bahwa dengan mengendap-endap kamu pasti tidak ketahuan musuh sebelum sadar bahwa musuh tetap bisa melihat dan langsung memberondongimu dengan peluru. Setelah daerah tertentu itu kamu bebaskan dari pengaruh NAZI pun tak banyak lagi yang bisa kamu lakukan selain berkeliling dan mengagumi designnya yang kini berwarna.
Selain kekurangan di tata warna game ini, saya agak kecewa dengan mobil abadi dalam game ini. Dalam game lawas seperti GTA III saja apabila kamu menabrakkan mobilmu maka akan terjadi penyokan di sana-sini. Terus menabrakkan mobilmu akan membuatnya berasap, lantas berapi-api kemudian meledak. Ini tidak pernah terjadi dalam The Saboteur. Tak peduli bagaimana kerasnya saya mencoba menabrakkan mobil ke tembok, mobil lain, sampai truk panser sekalipun, boro-boro meledak, penyok pun tidak! Apakah Pandemic Studio malas untuk melakukan programming animasi penyok mobil jaman dulu? Satu-satunya kemungkinan mobil kita hancur meledak adalah kalau diberondong oleh ratusan peluru NAZI dari berbagai arah. Memang sih ini menjadikan gameplay jauh lebih mudah, tetapi bukan pengurangan tantangan seperti ini yang saya cari. Untungnya ini ditutupi dalam aspek baku tembak yang sangat mengesankan. Bayangkan saja, sebagai Devlin saya menyerbu markas besar tentara Jerman seorang diri sampai menjatuhkan sebuah Zeppelin kebanggaan mereka (pesawat terbang Jerman). Kalau semua prajurit Allies sehebat Devlin, perang bisa berakhir dalam hitungan hari. Baku tembaknya pun seru dan mengingatkan saya akan Resistance. Tentu saja baku tembak yang seru ini kemudian terpaksa mengorbankan esensi stealth permainan. Walaupun judulnya The Saboteur, sangat sedikit misi game yang mengharuskanmu mengendap-endap; dan karena pada akhirnya baku tembak lebih seru, saya pun jarang memilih opsi menyelinap dan langsung main terjang saja.
So my verdict is… The Saboteur bukan sebuah game yang sempurna karena tidak cukup kebebasan yang ditawarkan di dalamnya. Toh saya tak akan memungkiri untuk mengatakan kalau ini adalah salah satu game paling fun yang saya mainkan tahun ini. Di game mana lagi coba kita bisa menyerang para NAZI sendirian ala Rambo? It’s bloody fun!
Final Verdict
Gameplay: 7.5
Cerita The Saboteur menarik, tetapi saya tidak bisa mengatakan hal yang sama untuk variasi misi yang ia tawarkan. Kebanyakan misinya standar yang pasti pernah kamu temui variasinya ketika bermain game sandbox sejenis. Sub-misinya membosankan dan kamu akan menemui dirimu lebih banyak berfokus pada misi utamanya.
Graphic / Sound: 7.5
Menghidupkan kota Paris yang indah di bawah cengkeraman Jerman berhasil dilakukan oleh Pandemic Studios. Sayang memakai terlalu banyak hitam putih terasa berlebihan. Paris kan dijuluki City of Lights, bukankah amat disesalkan kalau gamer tidak bisa melihat keindahannya hanya karena dibatasi oleh gameplaynya sendiri?
Play Time: 7.5
Panjang game ini berkisar antara 10 hingga 15 jam. Selepas menyelesaikannya, kamu akan dipersilahkan berkeliling lagi semaumu, tetapi mengingat daya tarik game ini ada pada skenario utamanya, sulit menyarankanmu kembali lagi seusai menamatkannya.
Overall: 7.5
Game Details
Developer: Pandemic Studio
Publisher: EA
Genre: Sandbox Adventure
















