Tags: , , , , , , , , ,

The Saboteur

Posted on 08 February 2010 by Si Tukang Review

The Saboteur Cover

The Saboteur Cover

(Review Based On PC Version)

Saya pernah membaca sebuah artikel unik dari situs game terkenal yang mengajak para pembacanya menebak siapakah musuh yang paling sering dipakai dalam media game? Tadinya saya menyangka kalau jawabannya zombie atau monster-monster sejenis. Jawaban saya salah. Artikel tersebut kemudian menjawab bahwa musuh yang paling sering dipakai (terutama di genre FPS) adalah para tentara NAZI. Tidak tanggung-tanggung dari awal mula lahirnya FPS lewat game Wolfenstein saja gamer sudah diajak menembaki NAZI. Begitu juga pada game-game FPS modern seperti Medal of Honor dan Call of Duty (perkecualian pada Modern Warfare). Nah EA melalui salah satu developernya, Pandemic Studio kemudian menciptakan sebuah game berjudul The Saboteur. Beda dengan game yang saya sebutkan di atas tadi, The Saboteur gameplaynya seperti GTA alias sandbox free-roaming tetapi bersetting di jaman Perang Dunia II. Artinya? lebih banyak NAZI buat kalian bantai!

Apabila semua game GTA mengambil setting kota fiktif yang berdasarkan kota nyata di Amerika seperti Liberty City untuk New York dan Vice City untuk Miami, maka The Sabouteur berlokasi di kota yang disebut penulis terkenal Ernest Hemingway sebagai A Moveable Feast. Tepat. The Saboteur menjadi kisah seorang orang Irlandia bernama Devlin yang turut berjuang bersama pasukan Resistance bawah tanah untuk membebaskan kota Paris dari cengkeraman NAZI. Awalnya Devlin hanyalah seorang pembalap mobil yang bekerja di bawah Vittore, seorang Italia. Setelah kalah karena dicurangi dalam Grand Prix, Devlin dan sahabatnya Jacques diam-diam menyusup ke dalam sebuah markas tentara Jerman untuk meledakkan mobil pembalap yang mencurangi mereka. Sial bagi keduanya, keduanya kepergok oleh Dietrich, sang pembalap curang yang juga berprofesi rangkap sebagai tentara NAZI. Devlin dan Jacques dicurigai sebagai mata-mata dan disesah untuk memberikan informasi. Karena bukan mata-mata, tentu saja Devlin tak bisa menjawab dan melihat sang sahabat dibunuh di matanya sendiri. Keberuntungan membuat Devlin bisa meloloskan diri, dan ia bersumpah untuk membalas dendam akan kematian sahabatnya itu.

Ambisi The Saboteur tidak main-main dalam menciptakan kota Paris. Kota ini masih terlihat begitu gemerlap dan indah sesuai julukannya City of Lights, tetapi juga ada aroma depresi karena setiap penghujungnya dijaga ketat oleh patroli tentara Jerman. Bahkan di tempat-tempat di mana para tentara Jerman kuat bercokol ditandai dengan suasana yang kelam dan hitam putih. Apabila kamu berhasil menghancurkan kekuatan tentara Jerman di wilayah itu maka daerah itu pun kemudian dihiasi dengan semburat warna. Bila kalian pernah memainkan game Okami atau Tomba tentu familiar dengan sistem pembebasan wilayah seperti ini. Sayang buat saya pemberian warna hitam putih ini justru terkesan sebagai blunder. Alasannya begini, hampir setiap wilayah bisa kamu rebut dari tentara Jerman setelah kamu menghancurkan markas besar di wilayah tersebut. Itu berarti sering kali kamu bakalan menyerbu markas musuh dengan warna hitam putih yang selain menurunkan intensitas permainan juga menganggu pandanganmu dalam lawan. Karena layarmu melulu gelap, secara insting kamu menyangka bahwa dengan mengendap-endap kamu pasti tidak ketahuan musuh sebelum sadar bahwa musuh tetap bisa melihat dan langsung memberondongimu dengan peluru. Setelah daerah tertentu itu kamu bebaskan dari pengaruh NAZI pun tak banyak lagi yang bisa kamu lakukan selain berkeliling dan mengagumi designnya yang kini berwarna.

Selain kekurangan di tata warna game ini, saya agak kecewa dengan mobil abadi dalam game ini. Dalam game lawas seperti GTA III saja apabila kamu menabrakkan mobilmu maka akan terjadi penyokan di sana-sini. Terus menabrakkan mobilmu akan membuatnya berasap, lantas berapi-api kemudian meledak. Ini tidak pernah terjadi dalam The Saboteur. Tak peduli bagaimana kerasnya saya mencoba menabrakkan mobil ke tembok, mobil lain, sampai truk panser sekalipun, boro-boro meledak, penyok pun tidak! Apakah Pandemic Studio malas untuk melakukan programming animasi penyok mobil jaman dulu? Satu-satunya kemungkinan mobil kita hancur meledak adalah kalau diberondong oleh ratusan peluru NAZI dari berbagai arah. Memang sih ini menjadikan gameplay jauh lebih mudah, tetapi bukan pengurangan tantangan seperti ini yang saya cari. Untungnya ini ditutupi dalam aspek baku tembak yang sangat mengesankan. Bayangkan saja, sebagai Devlin saya menyerbu markas besar tentara Jerman seorang diri sampai menjatuhkan sebuah Zeppelin kebanggaan mereka (pesawat terbang Jerman). Kalau semua prajurit Allies sehebat Devlin, perang bisa berakhir dalam hitungan hari. Baku tembaknya pun seru dan mengingatkan saya akan Resistance. Tentu saja baku tembak yang seru ini kemudian terpaksa mengorbankan esensi stealth permainan. Walaupun judulnya The Saboteur, sangat sedikit misi game yang mengharuskanmu mengendap-endap; dan karena pada akhirnya baku tembak lebih seru, saya pun jarang memilih opsi menyelinap dan langsung main terjang saja.

So my verdict is… The Saboteur bukan sebuah game yang sempurna karena tidak cukup kebebasan yang ditawarkan di dalamnya. Toh saya tak akan memungkiri untuk mengatakan kalau ini adalah salah satu game paling fun yang saya mainkan tahun ini. Di game mana lagi coba kita bisa menyerang para NAZI sendirian ala Rambo? It’s bloody fun!

Final Verdict

Gameplay: 7.5
Cerita The Saboteur menarik, tetapi saya tidak bisa mengatakan hal yang sama untuk variasi misi yang ia tawarkan. Kebanyakan misinya standar yang pasti pernah kamu temui variasinya ketika bermain game sandbox sejenis. Sub-misinya membosankan dan kamu akan menemui dirimu lebih banyak berfokus pada misi utamanya.

Graphic / Sound: 7.5
Menghidupkan kota Paris yang indah di bawah cengkeraman Jerman berhasil dilakukan oleh Pandemic Studios. Sayang memakai terlalu banyak hitam putih terasa berlebihan. Paris kan dijuluki City of Lights, bukankah amat disesalkan kalau gamer tidak bisa melihat keindahannya hanya karena dibatasi oleh gameplaynya sendiri?

Play Time: 7.5
Panjang game ini berkisar antara 10 hingga 15 jam. Selepas menyelesaikannya, kamu akan dipersilahkan berkeliling lagi semaumu, tetapi mengingat daya tarik game ini ada pada skenario utamanya, sulit menyarankanmu kembali lagi seusai menamatkannya.

Overall: 7.5

Game Details
Developer: Pandemic Studio
Publisher: EA
Genre: Sandbox Adventure

Comments (0)

Tags: , , , , , , , , ,

PROTOTYPE

Posted on 20 January 2010 by Si Tukang Review

PROTOTYPE Cover

PROTOTYPE Cover

Resident Evil + GTA + Spider-man

Apa yang terjadi sehari setelah saya memainkan game PROTOTYPE ini? Well, status seperti ini muncul dalam account Facebookku.

Hal terbrutal yang gw lakukan di game PROTOTYPE: menyeret tubuh seseorang pejalan kaki selama berkilo-kilo sambil mendengarkan dia menjerit-jerit di speakerku… dan setelah bosan gw memotong tubuhnya jadi dua, melihat darah bermuncratan dari tubuhnya, lantas memakan sisa mayatnya. Man, I LOVE this game.

Sebelum kalian langsung mencapku sebagai orang gila dan memanggil RSJ terdekat, coba baca dulu review berikut ini. Siapa tahu ikut ketularan gilanya kan? Hi hi hi.

Menjelaskan game PROTOTYPE secara singkatnya adalah sebuah game paduan dari Resident Evil, Grand Theft Auto, dan Spider-man. Dari Resident Evil, game ini mencomot jalan cerita di mana zombie (atau makhluk mutasi virus) menyerang kota New York. Dari Grand Theft Auto, game ini mencomot sistem sandbox untuk gameplaynya yang memperbolehkan kamu menjelajahi kota sembari menjalani misi cerita maupun misi sampingan yang disediakan untukmu. Terakhir dari Spider-man, kamu di sini berperan sebagai superhero (atau setidaknya seseorang berkekuatan super). Campurannya menjadikan PROTOTYPE sebagai game paling stylish yang kumainkan tahun ini.

Mendengar design seorang superhero, PROTOTYPE mungkin akan mengingatkanmu tentang game lain yaitu inFAMOUS, game superhero gameplay sandbox lain karya Sucker Punch Productions. Walaupun dirilis pada saat hampir bersamaan (inFAMOUS dua minggu lebih dulu dibanding PROTOYPE) dan memiliki ciri-ciri yang mirip, tentunya kedua game ini memiliki perbedaan sendiri. Buat kalian yang ingin main game macam inFAMOUS tetapi tidak punya game PS3, game ini menjadi alternatif lain yang bagus karena hadir multi-platform. Review ini dibuat berdasarkan versi PCnya.

New York: The Big Apple Every Zombie Wanna Eat

Dalam prolog cerita ini, sosok Alex Mercer yang kamu kendalikan mendadak berada di tengah kota New York yang membara. Kekacauan dan kehancuran jelas terlihat di mana-mana. Para zombie serta monster mengamuk sementara para tentara dengan tank, helikopter, sampai senjata mutakhir mereka berusaha mencegah serangan para monster. Terjebak di tengah mereka adalah penduduk kota yang tak berdosa; tewas akan serangan kedua belah pihak. Terjebak juga di tengah mereka adalah Alex Mercer.

Untung saja Alex Mercer bukan sekedar penduduk biasa. Dalam proses tutorial yang berlangsung, kamu akan belajar dengan cepat bahwa Alex memiliki kekuatan super. Ia bisa mengubah bentuk tangannya menjadi berbagai macam senjata mulai dari palu godam, cambuk, sampai pedang tajam (ingat Witchblade?). Selain itu ia bisa melompat jauh lebih tinggi dari manusia biasa (ingat lompatan Hulk?) dan berlari sangat cepat. Tambahan lagi, layaknya Venom kamu bisa menghisap manusia, zombie, atau segala jenis monster di dekatmu. Kamu adalah kuda hitam dalam perang ini dan disebut dengan kode nama ZEUS oleh para tentara. Tidak salah; kamu memang layaknya seorang dewa.

Setelah prolog usai, cerita sesungguhnya dalam PROTOTYPE dimulai dari 18 hari sebelum prolognya. Sebagai Alex Mercer yang hilang ingatan, kamu akan mulai mencari tahu apa yang telah dilakukan perusahaan GENTEK yang mengubah tubuhmu hingga kini menjadi layaknya manusia mutasi sampai mengisi kembali relung-relung ingatanmu yang hilang.

Kalau kamu dewa maka pastilah seluruh kota New York merupakan taman Edenmu. Salah satu keasyikan bermain PROTOYPE yang saya rasakan terjadi begitu saya melihat Alex dengan cepat berlari menaiki gedung. Setiap gedung pencakar langit dalam kota New York bebas kamu panjat. Setiap lorong kota New York bebas kamu jelajahi. Tidak ada batasan. Ini yang membuat game ini terasa begitu ‘bebas’. Seperti halnya GTA, untuk memulai misi khusus yang berhubungan dengan cerita kamu harus menuju ke titik tertentu. Selama kamu tidak menjalani misi apapun, kamu bebas berpetualang sekena hatimu.

Ketika memulai permainan (setelah prolog), kekuatan Alex masih terbatas. Kamu bisa berlari cepat dan melompat tinggi, tetapi beberapa wujud perubahanmu masih terkunci. Skill-skill tersebut bisa kamu beli dengan mendapatkan EP atau Evolution Point. Evolution Point ini bisa digunakan untuk mengupgrade atau membeli skill-skill yang baru. Selain mendapat wujud baru untuk Alex, kamu juga bisa mendapat kemampuan mengambil alih kendaraan tank atau helikopter milik musuh. Kamu juga bisa mendapatkan berbagai jenis gerakan serangan baru seperti melayang di angkasa atau dash di udara.

Kalau kamu pikir bahwa semua kekuatan yang kamu dapat membuatmu tidak terkalahkan, coba pikir lagi. Hari demi hari, infeksi yang mengenai kota New York akan makin meluas dan kota ini menjadi tempat yang makin berbahaya. Selain dianggap musuh oleh para tentara (yang takkan segan mengirimkan puluhan orang, tank, sampai helikopter untuk memburumu) akan ada banyak monster dan zombie yang menyerangmu. Zombie biasa mungkin lawan yang bisa kamu hadapi tetapi para Hunter memiliki kekuatan dan kecepatan yang tak kalah ganas darimu. Mendapatkan skill baru dan terampil menggunakannya menjadi kunci utamamu bertahan hidup dalam game ini.

Misi-misi utama dalam PROTOTYPE memang menarik dan bervariasi, tetapi sayangnya misi-misi sampingannya benar-benar terasa seperti dikesampingkan. Kurang menarik dan terasa dibuat cepat sekedar untuk sambil lalu. Untungnya game ini menyajikan versi tersendiri dari battle of influence mereka (mirip dengan gang war di GTA: San Andreas). Setiap harinya infeksi meluas di seluruh kota dan para militer akan berjuang menahan laju infeksi tersebut. Di dalam mapmu akan ada tanda lingkaran merah dan biru. Lingkaran merah menandakan bahwa militer tengah berperang melawan pusat infeksi di tempat itu. Membantu menghancurkan pusat infeksi akan memberimu tambahan EP yang besar (dan berguna mengupgrade skillmu). Lingkaran biru berisi markas militer tentara yang bisa kamu susupi (dengan kemampuan menyamarmu). Setelah masuk, Alex mencari tentara yang memiliki skill khusus. Dengan kekuatan ‘memakan’nya, Alex akan menyerap tentara itu dan mendapatkan atau mengupgrade skillnya. Ia akan lebih piawai menggunakan senjata atau mengendalikan helikopter dan tank dengan lebih handal.

Bicara soal serap menyerap kekuatan, ada sistem bernama Memory Node dalam game ini. Alex kehilangan ingatan dan satu-satunya cara mengingatnya kembali adalah dengan menyerap orang-orang khusus yang kamu temui dalam game ini. Bila kamu menyerap orang yang benar, kamu akan mendapatkan sebuah cutscene singkat dari memori orang itu yang lama kelamaan membentuk sebuah gambaran besar cerita. Cutscenenya sendiri bukan keharusan untuk didapat, tetapi mendapatkan semuanya akan membuatmu lebih mengerti dan menghargai cerita game ini.

Running Around The Burning City

Kualitas grafis dalam PROTOTYPE benar-benar keren. Menjelajahi semua kota New York bukan sekedar janji kosong dari developer Radical Entertainment. Semua tempat-tempat landmark di kota ini benar-benar dimunculkan sehingga bermain dalam kota ini terasa seperti kita pergi ke New York. Gerakan Alex juga fluid dan halus. Berbagai bentuk tubuh Alex memiliki animasi gerakan yang berbeda-beda dan mengeksekusi semua jurus-jurusnya secara sempurna adalah kebanggaan bukan hanya bagi tangan dan reflekmu tetapi juga matamu untuk melihat orang yang melakukan tari ballad pencipta kematian.

Mengingat kota New York luar biasa besar dan hidup, terpaksa ada pemotongan-pemotongan yang dilakukan (mungkin untuk menghemat tempat?). Beberapa gedung di kota ini tampak mirip satu sama lain. Untung hal ini ditebus dengan kondisi yang terus berubah. Pada awal petualangan Alex kota New York masih terlihat ‘normal’ tetapi seiring semakin meluasnya wabah infeksi kamu akan melihat bahwa kepulan-kepulan asap makin terlihat di mana-mana, orang-orang makin waspada akan serangan para monster. Di daerah infeksi kekacauan makin terlihat di mana para zombie menyerang dan menghabisi tiap manusia normal yang tersisa.

Grafis yang sudah di atas rata-rata ini juga didukung oleh sound effect yang mumpuni. Mulai dari teriakan para penduduk yang panik, deru helikopter dan tembakan-tembakan senjata menunjukkan New York tengah menghadapi bencana yang sangat serius.

Pada akhirnya saya cuma bisa kasihan sama kota New York. Ternyata jadi kota yang ngetop banyak tidak enaknya ya? Roland Emmerich hobi setengah mati menghancurkan kota ini dalam The Day After Tomorrow atau Godzilla, sekarang kota ini malahan kena wabah zombie yang mematikan. Kapan ya giliran Jakarta?

Final Verdict

Gameplay: 9.0
PROTOTYPE menawarkan kota New York untuk kamu jelajahi. Selain melihat kehancuran yang terjadi pada kota terkenal dunia itu, kamu juga harus menyelidiki misteri di balik hilangnya memorimu dan keterkaitan dirimu dengan wabah epidemik yang tiap harinya terus meluas.

Graphic / Sound: 8.5
Kebanyakan gedung yang bukan landmark terasa terlalu standar. Saya juga menyayangkan beberapa efek yang kurang realistis. Contohnya saya melemparkan seorang pejalan kaki ke tembok dan berharap kalau tubuhnya akan hancur saat benturan terjadi. Ternyata impianku tidak terwujud (mendengar seruan “dasar psikopat” dari para pembaca =P)

Play Time: 8.5
Game ini bisa diselesaikan dalam tempo kurang dari 10 jam bila mengikuti misi utamanya saja. Toh kamu akan menghabiskan kira-kira 20 jam karena PROTOTYPE terus menaikkan kesulitan sehingga memaksamu mengambil misi-misi sampingan guna mendapatkan EP yang bisa mengupgrade kemampuan Alex.

Overall: 8.8

Game Details
Developer: Radical Entertainment
Publisher: Activision
Genre: Action (Sandbox)

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Call of Duty: Modern Warfare 2

Posted on 16 December 2009 by Si Tukang Review

Call of Duty: Modern Warfare 2 Cover

Call of Duty: Modern Warfare 2 Cover

(Review Based on PC Version)

Yang mengatakan kalau industri game tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu perlu berkaca lagi pada statemen tersebut. Tahun ini adalah tahun lahirnya Street Fighter IV, Resident Evil 5, Batman: Arkham Asylum, Uncharted 2, Dragon Age: Origins, Legend of Zelda: Spirit Tracks, The Sims 3, GTA: Chinatown Wars, New Super Mario Bros Wii, dan banyak - banyak - banyak sekali game-game keren lainnya. Tetapi bila saya diminta memilih mana yang harus saya nobatkan untuk menjadi game of the year, tanpa ragu saya akan memilih: Call of Duty: Modern Warfare 2. Saya tahu ada banyak orang yang mengatakan kalau game ini overrated dan dipuji berlebihan sekedar karena ia memecahkan rekor penjualan video game terbesar sepanjang masa. Sekedar catatan, pendapatan Modern Warfare 2 yang mencapai 310 Juta USD hanya pada hari pertama perilisannya adalah pendapatan dunia hiburan terbesar sepanjang masa (The Dark Knight yang memegang rekor opening weekend terbesar film ‘hanya’ mendapat 158 Juta USD selama tiga hari pertama masa tayangnya). Apa sebenarnya yang membuat saya berani berkoar kalau game ini adalah game terbaik tahun ini (setidaknya bagiku)? Silahkan baca.

Call of Duty pertama adalah salah satu serial FPS yang paling kukenang. Serial ini pertama kali dirilis oleh Activision pada tahun 2003, dan saya langsung terkesima ketika melihat Perang Dunia II yang brutal. Saat berperang bersama menyerbu markas musuh amat berbeda dengan FPS-FPS yang ada pada masa itu. Sontak Call of Duty menjadi franchise yang sukses dan terkenal. Tahun demi tahun Activision terus merilis sekuel game Call of Duty yang semua mengambil latar yang sama Perang Dunia II. Memasuki game keempatnya, Infinity Ward selaku developer yang menelurkan game ini sadar bahwa tema Perang Dunia II sudah basi. Seru sih memang seru, dan mungkin masih ada banyak sekali perang-perang yang bisa dimasukkan dalam skenarionya, tetapi Infinity Ward ingin mencoba satu konsep yang baru - yang lebih fresh. Lahirlah Call of Duty 4: Modern Warfare yang mengambil setting bukan di masa lalu yang sudah terukir sejarah melainkan masa depan alternatif. Bisa dibilang Call of Duty 4: Modern Warfarelah yang membawa franchise Call of Duty menjadi superstar dunia FPS. Perlahan tapi pasti, bahkan game center yang biasa dipenuhi kebisingan game lama Counter Strike mulai berubah menjadi Modern Warfare.

Begitu cintanya gamer pada Modern Warfare, ketika tahun lalu seri kelima Call of Duty dirilis dengan sub-judul World at War dan (kembali) mengambil setting di Perang Dunia II, banyak sekali orang kecewa dan mengecam ini sebagai langkah mundur serial Call of Duty. Yang mereka tidak tahu saat itu adalah, serial Call of Duty sebenarnya didesign oleh dua developer hampir secara simultan untuk memastikan publisher Activision punya satu game Call of Duty untuk dirilis tiap tahunnya. Sementara Infinity Ward merilis Modern Warfare di tahun 2007, Treyarch yang adalah pengembang satunya gantian merilis World at War di tahun 2008. Di tahun yang sama, Infinity Ward tengah bekerja keras untuk memenuhi harapan gamer akan sebuah game Modern Warfare yang baru. Dirilislah Modern Warfare 2 tahun ini - dan sisanya adalah sejarah. Tercatat dalam lima hari pertama saja sudah ada delapan juta orang online dan bermain Modern Warfare 2 secara multiplayer!

Saya tahu bahwa tidak biasanya sebuah FPS mementingkan cerita, tetapi Modern Warfare 2 adalah pengecualian. Ringkasan berikut ini bisa jadi mengandung spoiler, sehingga kalau kamu peduli dengan spoiler - lompati paragraf ini. Lima tahun berlalu setelah akhir Modern Warfare pertama. Kematian Imran Zakhaev bukannya menjadikan dia seorang penjahat perang - malahan berubah menjadi seorang pahlawan dan martir di Russia sana. Lebih mengecewakannya lagi adalah Vladimir Makarov yang dulunya seorang ajudan Zakhaev mulai membentuk kelompok teroris yang terus menyerang berbagai kota di Eropa. Amerika tentu saja tidak tinggal diam dan menyusun regu elit Task Force 141. Salah seorang anggotanya bernama Joseph Allen ditugaskan untuk menyusup dalam rombongan Makarov dalam aksi terorisme mereka. Aksi tersebut termasuk menembaki seluruh penumpang di bandara internasional Moskow secara membabi-buta. Sial bagi Allen, Makarov memergoki penyamarannya dan membunuhnya. Saat mayat Allen teridentifikasi, Russia pun marah besar karena menganggap Amerika berada di balik serangan tak berperikemanusiaan itu. Mereka membajak sistem radar di Amerika dan melancarkan serangan besar-besaran secara diam-diam ke kota Washington. Sementara kamu harus menghentikan invasi Russia ke tanah Amerika, kamu juga harus mencoba menangkap Makarov yang merupakan dalang semua kekacauan ini.

Karena ada beberapa plot yang berjalan bersamaan dalam cerita, kamu juga akan memainkan beberapa karakter berbeda di berbagai macam lokasi (untuk Single Player Mode). Modern Warfare 2 memang menyenangkan untuk dimainkan sendiri maupun bersama-sama. Dimainkan bersama-sama sih sudah jelas. Dengan grafis terkini, berbagai macam map dan campaign yang bisa dipilih (dan saya rasa akan terus bertambah seiring dengan hadirnya expansion pack resmi maupun tidak resmi), Modern Warfare 2 bisa dimainkan berjam-jam dengan kawan-kawanmu. Toh, dimainkan sendiri pun Modern Warfare 2 tidak kalah asyiknya. Single Player Mode menawarkan tur gratis ke berbagai macam lokasi eksotik dunia. Setelah misi prolog di Afghanistan, kita masih dibawa untuk melihat Rio De Janeiro, Siberia, Moskow, Washington, dan banyak tempat lagi. Setiap lokasi juga memiliki tujuan yang berbeda-beda sehingga misi tidak pernah terasa monoton. Misi yang paling memorable bagiku adalah Cliffhanger yang merupakan misi kedua. Tidak tanggung-tanggung, misi ini diakhiri dengan kejar-kejaran naik snowmobile yang sangat intens dan menegangkan. Beberapa pihak mengkritik Single Player Mode terlalu cepat dibandingkan game-game Call of Duty sebelumnya. Saya tidak setuju. Saya memerlukan waktu kira-kira enam hingga delapan jam untuk menyelesaikan Single Player Mode yang terbagi menjadi 18 chapter ini - cukup panjang untuk ukuran game FPS. Lagipula apa gunanya memperpanjang sebuah cerita Single Player Mode apabila malah mengorbankan kualitas ceritanya sendiri? Setiap satu chapter dalam game ini menurut saya berpengaruh untuk memajukan jalan ceritanya sebagai satu kesatuan. Tunggu apa lagi Hollywood? Garap versi film dari game ini! Selain mode ceritanya, dalam Single Player Mode juga terdapat berbagai variasi misi Solo yang bisa kamu jalankan bila kamu penasaran dengan kemampuanmu sendiri. Semakin bagus kamu menyelesaikan tantangan-tantangan yang ada, semakin banyak medal yang akan kamu menangkan sebagai penghargaanmu. Tantangan yang pendek - tetapi cukup mengasyikkan untuk mengisi waktu dan terus mengasah ketajaman instingmu.

Cerita yang hebat dan gameplay yang seru itu juga ditunjang oleh grafis dan suara yang ekselen. Seperti yang saya katakan tadi, Single Player Mode membawa pemain ke berbagai lokasi yang berbeda-beda di dunia, mulai dari putih dinginnya Siberia di tengah badai salju, serangan bawah laut di sebuah stasiun lepas pantai, perkampungan kumuh Rio De Janeiro, sampai pada kota Washington yang membara. Semuanya berbeda kecuali satu: semuanya digarap dengan detail yang mengagumkan. Bagi yang memainkannya di PC pun tak perlu khawatir sebab Modern Warfare 2 bukan game yang rakus spesifikasi (I’m looking at you Crysis), asal komputermu dulu kuat memainkan Modern Warfare pertama dan World at War, Modern Warfare 2 pun bisa kamu mainkan dengan setting standar tanpa slowdown berarti. Musik dalam Call of Duty sudah biasa ditangani oleh komposer-komposer top dan ini pun bukan pengecualian. Apabila di prekuelnya duet Stephen Barton dan Harry Gregson-Williams yang menggubah track-tracknya, kali ini musik dikompos oleh Hans Zimmer. Keberanian Infinity Ward merekrut komposer-komposer besar ini terbukti manjur. Ingat misi Cliffhanger yang kutulis di atas tadi? Alasan kenapa misi tersebut begitu memorable tidak hanya adegannya saja tetapi karena musik Zimmer yang mengiringi sangat pas menggiring emosiku. Saya jarang menyarankannya, tetapi untuk Modern Warfare 2, kalau kamu bisa mendapatkan OSTnya maka belilah itu tanpa ragu!

Memang Modern Warfare 2 tidak memberikan inovasi baru seperti ketika sang prekuel mengubah fondasi setting FPS, tetapi dengan jalan cerita yang fantastis, grafis yang tajam tetapi tidak makan banyak resource, kualitas musik yang luar biasa, sampai unsur fun dan replayability yang tinggi, Call of Duty: Modern Warfare 2 saya nilai layak mendapatkan penghargaan game terbaik tahun ini.

Final Verdict

Gameplay: 10
Single Mission Mode-nya langsung bikin ketagihan untuk memainkannya terus dan terus. Kualitas cinematic scenenya disutradarai dengan meyakinkan dan berkali-kali saya harus meyakinkan diri saya bahwa ini ‘hanya’ game dan bukan film. Bila kamu bertujuan ingin memainkan game ini online, pilihlah versi 360nya karena jaringan Live dari X-Box saat ini merupakan jaringan yang paling menunjang. Sebaliknya bila ingin mendapatkan grafis terbaik untuk game ini, beli graphic card terbaik dan bersiaplah untuk terpana memainkannya.

Graphic / Sound: 9.0
Kualitas grafis Modern Warfare 2 mungkin tak bisa dibandingkan dengan Crysis atau Farcry 2 bila sama-sama dimasukkan pada setting maksimum. Tidak berarti grafisnya jelek. Justru saya lebih kagum pada Infinity Ward yang mampu mendapatkan keseimbangan sebuah game yang tetap apik pada grafisnya tetapi bisa dimainkan di (hampir) semua gaming computer. Untuk versi konsolnya sendiri, kualitas Modern Warfare II setara (kalau tidak sedikit lebih baik) dengan FPS-FPS yang ada saat ini. Kualitas musik yang ditangani oleh Hans Zimmer dan voice acting yang meyakinkanlah yang menjadi poin terkuat sisi audio visual.

Play Time: 10
Setelah memainkan Single Player Mode (baik yang Campaign dan Cooperative) yang bisa menyedot 10 hingga 20 jam, bergabung dalam komunitas dunia maya (konsol) atau mainkan game ini secara LAN di Game Center (PC). Dengan angka 8 juta orang (dan mungkin terus bertambah) yang terkoneksi di dunia internet guna memainkan Modern Warfare II, jangan heran kalau game ini akan jadi idola dalam turnamen-turnamen FPS yang akan datang!

Score: 9.8

Game Details
Developer: Infinity Ward
Publisher: Activision
Genre: FPS

Comments (23)

Tags: , , , ,

Cake Mania

Posted on 16 November 2009 by Si Tukang Review

cake-mania-cover

(Review Ditulis Di Tahun 2006)

Unsur fun dan kecanduan dalam memainkan game tidak terbatas bisa dihadirkan oleh game-game dengan grafik terkini. Buktinya beberapa temanku masih asyik berkutat memainkan Minesweeper dan Solitaire bawaan Windows mereka ketimbang merogoh kocek dalam-dalam guna membeli konsol-konsol next-gen. Sekarang malahan banyak sekali pengembang memainkan mini game yang walaupun sederhana tetapi gameplaynya malah adiktif sekali. Salah satu yang giat mengembangkan mini game macam ini adalah GameHouse yang baru-baru ini menggarap Cake Mania.

Graphic (6 / 10)

Untuk ukuran grafis jelas Cake Mania tidak bisa dibandingkan dengan game seperti Halo atau Final Fantasy XII tentunya. Tetapi sayang untuk bersaing dengan mini game lainnya pun Cake Mania masih terasa inferior (bandingkan saja grafis game ini dengan Zuma atau BookWorm misalnya). Kendati begitupun, grafis-grafis cerah dan gaya gambar yang feminin jelas akan menarik perhatian banyak gamer wanita dalam memainkan game ini.

Lantas grafisnya juga cukup baik dalam membedakan setiap pelanggan yang ada dalam game ini. Anda bisa dengan jelas melihat perbedaan sang Cupid, Santa Claus dan Dracula misalnya. Tenang, tidak semua pembeli nyentrik seperti mereka kok. Ada juga para pebisnis, para remaja centil, maupun anak-anak bandel yang siap meramaikan toko mereka. Karena perbedaan yang jelas ini, dijamin kalian tidak akan kesulitan membedakan mereka.

Pun demikian dengan alat-alat yang ada. Anda dengan cepat bisa melihat mana mesin yang digunakan untuk membuat kue, untuk memberi lapisan ataupun topping di atasnya. Grafis yang sederhana ini ternyata bisa dimaksimalkan oleh GameHouse. Luar biasa. Oh, dan ada juga beberapa komik mini selama anda memainkan game ini. Ah, andai saja komik mini ada lebih banyak sehingga bisa memberikan gambaran cerita lebih baik, pastinya game ini akan terasa lebih menarik untuk dimainkan!

Sound (7 / 10)

Untuk ukuran BGMnya, game ini jujur saja buruk sekali. Variasi musiknya hanya berganti setiap kali anda ganti stage. Berarti kalau dihitung-hitung, anda hanya memiliki 4 BGM saja. Walau memang setiap BGM terasa pas dengan latar belakang stagenya (kebanyakan toh ceria dan upbeat), saya mengharapkan sesuatu yang lebih.

Untungnya seksi suara ini ditebus kesalahannya dalam bagian sound effectnya. Memang selama permainan sound effectnya lah yang seharusnya dominant dalam permainan. Setiap mesin mengeluarkan timer dan bunyi berdenting apabila pekerjaan mereka sudah selesai. Bunyi yang kalau tidak digarap dengan baik bisa tumpang tindih ini ternyata bisa dipisah oleh GameHouse sehingga kita bisa fokus dalam memainkannya.

GameHouse juga tidak lupa memberikan peringatan kalau-kalau seorang pelanggan sudah bosan menunggu kuenya, sehingga kita bisa segera mengantisipasi kelakuan mereka. Hal-hal sederhana ini seperti bunyi ditambah animasi mereka yang marah sering menyelamatkan kita dari Game Over. Sekali lagi departemen suara sebenarnya bekerja cukup baik dalam bagian ini.

Gameplay (7.5 / 10)

Seperti judulnya, anda diharuskan membuat kue dalam game ini. Tenang - ini sebuah mini-game sehingga anda tidak perlu mencari resep ini itu ataupun membeli bahan yang aneh-aneh untuk mulai membuat kue. Ramuan dasarnya sangat sederhana. Sajikan menu kepada klien lalu buatlah kue sesuai keinginan mereka. Mudah? Tunggu dulu. Saya pada awalnya sebelum terbiasa cukup kesulitan lo memainkan game ini.

Ceritanya anda adalah Jill, seorang anak yang sangat tertarik akan kesenian membuat kue (bukan.. bukan Yakitate). Anda begitu mencintai kakek nenek anda yang selalu mengajarkan anda cara membuat kue semenjak anda kecil. Begitu selesai mendalami ilmu membuat kue, Jill kembali ke kampong halamannya dan terkejut menyadari bahwa toko kue kakek neneknya hampir bangkrut karena kalah bersaing dengan sebuah hypermart yang baru buka. Jill memutuskan untuk membangkitkan kembali toko kue kakek neneknya itu! Berhasilkah anda?

Pertama anda harus membuat kue dengan bentuk tertentu (ada 4 bentuk yang ada, dan bervariasi setiap stagenya). Setelah kue itu dibentuk anda harus memberinya lapisan tertentu di atasnya, lapisan ini juga memiliki 4 jenis warna krim (merah, coklat, putih, dan ungu). Kadang-kadang pelanggan yang rewel akan meminta topping tertentu untuk memperindah kue; seperti topping lilin, kapal, dan topping lainnya. Topping ini walaupun kelihatan sepele bisa membuat harga kue secara keseluruhan lebih mahal.

Apabila semula pesanan dari tiap orang sederhana saja, mereka lambat laun akan meminta kue yang makin rumit seperti dua kue sekaligus, atau kue dengan topping yang aneh-aneh. Pelanggan tokomu pun akan makin bervariasi dengan adanya makhluk-makhluk aneh macam Santa Claus dan Drakula ikut asyik bercengkerama di toko anda. Setiap pelanggan memiliki karakterisasi sendiri dan tingkat kesabaran masing-masing. Santa Claus dan Nenek tua biasanya akan lebih sabar dalam menunggu pesanan mereka, sementara pebisnis, anak kecil, dan peneliti kue akan lebih cepat bosan. Awas, jangan sampai pelanggan anda kabur atau anda akan kehilangan sejumlah uang!

Yang membuat game ini menarik adalah anda memiliki waktu 12 jam permainan tiap levelnya. Selama 12 jam permainan itu anda harus melayani orang sebanyak mungkin supaya bisa mencapai jumlah uang tertentu (target hari tersebut). Andaikata anda tidak mencapai kuota itu (katakana anda hanya mendapatkan uang 500$ sementara ketentuannya mengharuskan anda mendapat 1000$) maka anda akan kehilangan satu dari empat nyawa yang anda miliki. Jangan khawatir, anda bisa mensave setiap levelnya sehingga tidak perlu mengulang dari awal kalau mengalami Game Over.

Anda juga diberikan kesempatan untuk upgrade di toko kue anda. Makin lama pesanan orang akan makin bervariasi sehingga peralatan seadanya tidak akan memadai untuk memenuhi semua kebutuhan mereka. Solusinya adalah dengan membeli peralatan baru dan meningkatkan peralatan-peralatan anda. Anda bisa memiliki sampai tiga mesin kue dan tiga mesin pemberi lapisan krim. Semuanya bisa anda upgrade sampai pada level maksimum di mana proses kue bisa direduksi sangat banyak. Itu saja yang bisa diupgrade? Tidak. Anda juga bisa membeli microwave mini untuk membuat kue-kue yang bisa dijadikan tester bagi pelanggan yang mengantri. Anda juga bisa beli TV yang bisa mengalihkan perhatian pembeli yang kebosanan. Sintingnya, anda juga bisa beli sepatu turbo yang memungkinkan anda bergerak lebih lincah dalam menyajikan kue kepada konsumen!

Siapa bilang upgrade bisa anda lakukan dengan sembarangan? Kalau saja anda melakukan upgrade pada item-item yang benar, dijamin keuntungan anda bisa melejit semakin banyak. Ambil contoh bulan-bulan di mana sedang ada demam menikah. Investasikan sesegera mungkin uang anda pada topping pengantin yang jelasnya akan sering dipesan oleh pengantin-pengantin yang masuk ke dalam toko anda. Makin banyak uang yang anda dapat, dan anda akan makin leluasa mengupgrade toko anda sampai pada tingkat maksimum!

Longetivity (7 / 10)

Game ini memiliki puluhan level untuk ditaklukkan. Di awal permainan anda bisa membuat profile anda sendiri dan memulai permainan. Di awal permainan memang sangat simpel di mana pembeli yang masuk ke toko anda hanya beberapa orang saja. Kemudian permainan akan menjadi lebih ruwet ketika para pembeli yang makin rewel masuk ke dalam toko anda. Apabila 12 stage pertama masing-masing sangat unik (dan saya sangat menunggu-nunggu orang macam apa lagi yang akan masuk ke toko saya dengan segala kenyentrikan mereka?) maka stage-stage berikutnya bisa dibilang hanyalah ulangan dari 12 stage pertama dengan tingkat kesulitan yang dinaikkan.

Berarti makin sulit? Ya, tetapi setelah 12 bulan pertama pun anda sudah sigap menginvestasikan uang anda pada alat-alat tertentu yang bisa membantu memudahkan pekerjaan anda. Anda bisa terus memainkan game ini berulang-ulang selama anda tidak bosan. Saya sendiri kuat memainkan game ini selama 5 – 10 jam saja. Maklum, sesudah menaklukkan level terakhir, game ini tidak banyak memberikan tantangan lagi (walau level terakhir sama sekali tidak bisa disepelekan!).

Editor’s Tilt (8 / 10)

Yah, namanya juga sebuah mini game. Mini game akan tetap menarik orang untuk memainkannya untuk sementara sampai mereka kebosanan memainkan game ini. Cake Mania mungkin tidak memiliki tingkat adiktif seperti Insaniquarium (yang membuat saya harus mengganti mouse saya setelah memainkannya selama sebulan lebih). Toh, game ini memiliki keunikannya sendiri.

Anda yang mungkin kesengsem dengan game seperti ini bisa mencoba game serupa melalui Diner Dash. Bagi kaum adam, jangan malu untuk memainkan game semacam ini, belum tentu kalian bisa menyelesaikan Cake Mania tanpa kehilangan satu nyawapun (siapa bilang hanya Halo yang memberikan tantangan adrenalin? Coba rasakan stressnya memainkan game ini kalau pelanggan anda semua ngamuk menunggu pesanan anda!). Dan yang terakhir, salut untuk GameHouse yang membuktikan bahwa yang namanya game adiktif tidak berarti harus selalu memiliki kualitas grafis super tajam dan gameplay super njelimet!

Average: 7.1

Game Details
Developer: Sandlot Games
Publisher: Game House
Genre: Puzzle

Comments (1)

Tags: , , ,

Twin Sector

Posted on 18 October 2009 by Si Tukang Review

Twin Sector Cover

Twin Sector Cover

Ingat Portal? Game yang dirilis bersamaan dengan kompilasi The Orange Box ini disebut sebagai game PC dengan konsep yang sangat inovatif. Dua tahun berlalu dan belum ada satu gamepun yang memiliki konsep seunik dan seambisius itu (kecuali mungkin Mirror’s Edge). Nah, ketika saya mendengar bahwa DnS Development tengah menggarap sebuah game yang memiliki konsep serupa dengan Portal, saya langsung tertarik. Boleh jadi konsepnya tidak lagi sebaru Portal, tetapi bila digarap dengan benar, game yang belakangan saya ketahui bernama Twin Sector ini bisa jadi salah satu game terinovatif tahun ini.

Awal cerita menempatkan pemain pada dunia masa depan yang suram. Walaupun kalian tidak langsung diberitahu alasannya, manusia di masa depan semua tertidur dalam tabung-tabung cryogenic. Hanya beberapa orang yang dibangunkan dari waktu ke waktu secara bergilir, biasanya untuk menjaga sistem kehidupan di tabung cryogenic atau untuk menjaga fasilitas di sana. Salah satu sosok yang mendapat perhatian adalah Ashley Simms. Sekilas lalu ia mungkin adalah seorang gadis biasa, tetapi Ashley memiliki kemampuan olahragawan ala atlet yang sebelumnya pernah ia gunakan untuk menyelamatkan orang-orang. Ashley menjadi inspirasi bagi banyak orang yang sudah mulai putus asa di jaman tersebut.

Suatu hari, Ashley menemukan dirinya tersadar di luar tabung cryogenic tempat ia tidur. Kebingungan dengan apa yang terjadi, ia merasakan kepalanya sakit dan pening. Toh, itu bukan masalah besar dibandingkan dengan apa yang berikutnya ia ketahui. Sistem pengaman AI di fasilitas cryogenic Ashley mengatakan bahwa sebuah gangguan terjadi pada sistem di tempat tersebut. Dengan kerusakan seperti yang sekarang terjadi energi akan habis dalam waktu 10 jam dan ribuan orang yang mati suri itu bakal mati beneran. Sialnya lagi, AI yang menyebut dirinya OSCAR itu mengatakan bahwa ia hanya bisa memaksa sistem membangunkan Ashley. Sebagai Ashley, kamu harus mencari tahu kenapa terjadi kerusakan pada sistem, sekaligus menyelamatkan nasib ribuan orang di pundakmu.

Saya rasa cerita dalam Twin Sector menarik, tetapi penyampaiannya… sangat amatiran. Menengok klip pembukanya (bisa dilihat di Youtube buat yang penasaran) menunjukkan kalau DnS Development masih hijau. Animasi karakter terlihat kaku dalam pergerakannya. Rendernya juga seakan ketinggalan empat lima tahun dibanding game-game yang keluar di jaman ini. Gerakan mulut dan dialog yang diucapkan kadang terasa tidak sinkron dan yang paling buruk adalah percakapannya dalam bahasa Inggris seakan diisi oleh sembarang orang yang sekedar membaca teks. Penjiwaannya nyaris nol sama sekali. Kualitas teknis seperti ini tidak bisa dimaafkan untuk game yang hadir di tahun 2009. Saya tidak sendiri dalam mengkritik hal ini, banyak orang mentertawakan keberanian DnS Development merilis game setengah matang semacam ini di tengah ketatnya persaingan.

Nah, bagaimana dengan gameplaynya sendiri? Janji DnS Development ternyata hanya bualan belaka. Jangankah mendekati Portal, Twin Sector malah penuh bug di sana-sini. Tidak tahu berapa kali saya menggebrak komputer saya karena kesal mendadak dibuang ke Windows utama setelah programnya mengalami error. Yah bicara soal adilnya, Twin Sector sebenarnya memiliki konsep yang unik, tapi (lagi-lagi) mengecewakan soal pengeksekusiannya. Mari saya jelaskan lebih lanjut. Ashley dalam game ini memiliki senjata utama sepasang sarung tangan (glove). Sarung tangan yang berwarna merah dan biru ini memiliki dua elemen khas telekinetik (seperti Sylar di Heroes). Sarung tanganmu yang berwarna merah bisa menarik benda tertentu ke arahmu, atau bisa kamu gunakan untuk menarik dirimu ke tempat / tembok tertentu. Sebaliknya sarung tangan biru bisa kamu gunakan melempar benda yang kamu angkat secara telekinetik atau mementalkanmu dari sebuah tempat. Konsep ini sebenarnya seru ketika diimplementasikan dalam gameplaynya. Kalau ada tombol yang di luar jangkauanmu, kamu bisa mengangkat sebuah tong dan melemparnya ke sana untuk menekan tombol tersebut. Atau kamu bisa juga melompat dari ketinggian dan sesaat sebelum jatuh ke tanah menggunakan kekuatan telekinetismu untuk meredam gaya gravitasi sehingga tidak terbunuh. Sayangnya implementasi ini kurang sempurna. Berkali-kali misalnya saya berusaha melompati sebuah jurang dengan menggunakan sarung tangan merah tetapi berakhir dengan terjatuh ke dalam jurang karena masalah posisi penempatan, atau tombol yang hendak saya lempari entah bagaimana terhalang oleh pandangan tong yang saya angkat. Masalah-masalah ini mungkin terdengar sepele, tetapi amat sangat menganggu dalam permainan.

Dengan semua hasil yang begitu buruk, Twin Sector adalah sebuah game yang boleh kamu lewatkan. Ada segudang game yang lebih bagus beredar di pasaran saat ini, bahkan memainkan Portal atau Mirror’s Edge untuk kesekian kalinya masih lebih seru ketimbang menguji kesabaran memainkan Twin Sector.

Final Verdict

Gameplay: 4.0
Kontrol gerakan karakter yang terkadang kaku! Ditambah gameplay unik malahan jadi bumerang bagi Twin Sector. Maunya inovatif, jadinya malah sebuah game blunder yang menjadi sulit dimainkan. Pasti ada yang tidak beres ketika saya berulang kali mati sebelum bahkan menemukan musuh pertama dalam game ini. Puzzle yang ditawarkan pun biasa-biasa saja dan tidak sampai menguras otak.

Graphic / Sound: 2.0
Benar-benar tidak ada ampun untuk bagian ini. Intro animasinya terlihat seperti game-game yang hadir di awal milenium ini. Pengisi suaranya lebih buruk lagi. Perhatian, menjadi sebuah game Jerman tidak berarti kamu bisa seenaknya mencari pengisi suara versi Inggrisnya!

Play Time: 2.0
Jujur saja, saya hanya kuat memainkan game ini selama dua jam sebelum akhirnya mematikannya. Dan dengan kualitas Twin Sector, saya kok ragu ada orang yang kuat memainkannya lebih lama dari itu.

Overall: 2.6

Game Details
Developer: DnS Development / Head Up Games
Publisher: Got Game Entertainment
Genre: Action

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Batman: Arkham Asylum

Posted on 08 October 2009 by Si Tukang Review

Batman: Arkham Asylum Cover

Batman: Arkham Asylum Cover

(Review Based on PC Version)

Welcome to the Mad House

Game yang diangkat dari cerita superhero biasanya memiliki peluang 50-50. Bisa jadi game tersebut keren dan inovatif seperti Spider-man 2 yang menggabungkan unsur GTA dan superhero. Sebaliknya kalau salah garap, hasilnya bisa seperti Superman 64 yang mendapat kritik massa karena dianggap menjadikan sang manusia baja seperti orang idiot.

Ketika saya mendengar bahwa Batman: Arkham Asylum akan dirilis secara simultan untuk 360, PS3, dan PC, saya masih ragu akan kualitasnya. Mengingat sekarang DC tinggal punya properti Batman setelah kesuksesan The Dark Knight tahun lalu, saya khawatir kalau-kalau penerbit komik tertua di dunia ini kemudian sekedar rilis judul game tanpa memperhatikan kualitasnya. Bukankah tahun lalu sudah ada Lego Batman? Apa perlu rilis game Batman lagi tahun ini?

Saya berubah pikiran setelah game ini sibuk mendapat pujian sana-sini dari berbagai situs game. Beberapa situs game terkemuka macam IGN dan Gamespot bahkan terang-terangan menyatakan kalau Batman: Arkham Asylum merupakan game adaptasi superhero terbaik! Kesempatan saya merasakan game ini langsung datang saat saya bertandang ke rumah teman saya. Singkat cerita: dalam kurun waktu semenit memainkannya, saya langsung mengupgrade spesifikasi komputer saya keesokan hari guna memainkan game ini di rumah. Pendapat saya seiya sekata dengan IGN maupun Gamespot. Batman: Arkham Asylum adalah game adaptasi superhero terbaik yang selama ini pernah dirilis.

The Clown Prince of Crime Is Back

Setiap kali Joker berulah, Batman menghentikan aksinya dan mengembalikan Joker ke rumahnya: Arkham Asylum. Hanya saja kali ini Batman heran. Kenapa menangkap Joker begitu mudah? Seakan-akan Joker sengaja untuk ditangkap dan dibawa ke Arkham Asylum. Menyadari bahwa ini mungkin merupakan jebakan dari Joker, Batman kali ini ikut masuk ke dalam penjara para pesakitan Gotham itu. Dugaan Batman menjadi kenyataan. Tak lama setelah dibawa masuk, Joker berhasil meloloskan dirinya dan kabur ke dalam penjara dengan bantuan Harley Quinn, sang abdi setianya. Joker bahkan sudah merancang rencana agar para polisi tidak bisa datang menolong setelah sebelumnya menyebar begitu banyak bom yang ia ancam ledakkan bila ada bantuan masuk ke Arkham.

Dengan polisi sibuk menangani perkara bom tersebut, Joker membebaskan para kriminal-kriminal untuk menguasai Arkham. Satu-satunya harapan untuk menghentikan mereka adalah Batman. Tapi ini tidak akan menjadi hal yang mudah. Selain Joker dan Harley Quinn, banyak sekali musuh sang manusia kelelawar yang ditangkap olehnya meradang. Para psikopat macam Bane, Killer Croc, sampai Scarecrow jelas menunggu-nunggu untuk balas dendam. Bisakah Batman mengambil-alih kendali di Arkham Asylum sebelum semuanya tak tertolong? Apa rencana di balik pengambilalihan Joker ini?

Jangan heran bila cerita dalam game ini di atas standar game-game Batman lainnya. Maklum saja, Batman: Arkham Asylum mendasarkan ceritanya pada kontinuitas resmi komik Batman, tidak seperti game lain Batman yang berdasar kontinuitas serial animasi maupun film layar lebarnya. Bicara soal serial animasi, naskah dalam game ini dipenai oleh Paul Dini. Bagi para pembaca komik DC, nama ini tentu tidak asing lagi. Paul Dini, berikut dengan Geoff Johns dan Grant Morrison adalah penulis banyak cerita Batman, baik di layar kaca maupun di buku komik. Pantas saja ia begitu mengenal tiap-tiap karakter dalam game ini, baik musuh maupun kawan dari Batman. Sekedar fakta unik, karakter Harley Quinn yang pertama muncul dalam serial TV Batman ya diciptakan oleh Paul Dini ini.

Cape Crusader Multi-Profession

Tentu saja sebuah game tidak bisa sekedar dilihat dari ceritanya saja. Seseru apapun ceritanya, game tetap membutuhkan sisi interaktif dengan para pemain, kalau tidak apa bedanya ia dengan sekedar film atau komik yang pasif menyodorkan pada pembaca / penonton belaka? Selama ini, game Batman acap kali lupa bahwa si manusia kelelawar bukan hanya superhero belaka - tetapi juga detektif terbaik dunia DC. Batman juga bukan jagoan macam Superman atau Spider-man yang gayanya adalah langsung maju menyerang para musuh secara brutal. Seperti yang ditegaskan dalam film-film Batman baru karya Christopher Nolan, Batman lebih banyak beroperasi di balik bayangan, menganalisa sang musuh, memakai otak dan ototnya untuk memberantas kejahatan. Dan semua aspek itu tertuang secara sempurna dalam Batman: Arkham Asylum.

Sempurna di sini bukanlah kata yang berlebihan. Pernah membayangkan genre Metal Gear Solid, Resident Evil, sampai GTA dicampur menjadi satu dengan dunia Batman? Nah, hasilnya adalah Arkham Asylum ini. Mengingat ada begitu banyak penjahat di dalam Arkham Asylum lepas dari kurungan, bukan hal yang bijak bila kamu langsung main terjang saja. Empat lima musuh mungkin masih bisa ditangani oleh Batman yang jago berkelahi (sistem bertarungnya sederhana tetapi adiktif dan memiliki kontrol yang fluid), tetapi musuh yang sudah mencapai lebih dari sepuluh orang dan membawa senjata senapan? Nanti dulu. Sebagai Batman, kamu harus memanfaatkan keadaan di sekelilingmu dan gadget yang kamu bawa. Kamu bisa menjebak musuh dengan bom plastik, bisa juga diam-diam menyergap mereka dari belakang, atau memisahkan mereka dari rombongan dan melawan mereka satu demi satu. Caranya benar-benar bebas terserah kamu! Semakin banyak kamu melawan musuh, semakin tinggilah experience yang kamu dapat untuk mengupgrade Batman mendapatkan gerakan-gerakan yang baru.

Game ini juga untuk pertama kali membuka tabir isi dan membiarkanmu menjelajahi Arkham sesuka hatimu. Pada dasarnya penjara ini terletak di sebuah pulau yang terpisah dari Gotham sehingga dalam game ini kamu bebas mengeksplorasi seluruh pulau tersebut. Area yang kamu jelajahi juga bervariasi dan tidak monoton sehingga kamu tidak mungkin kebosanan (apalagi dengan jalan cerita yang hampir terus menerus memompa adrenalin). Selain para kriminal cecunguk kelas teri yang dilepas oleh Joker, game ini juga menyajikan deretan musuh Batman yang lebih berbobot. Setiap pertarungan melawan boss benar-benar memorable. Sedikit spoiler saja, salah satu yang paling berkesan bagiku adalah pertarungan pertama melawan Scarecrow. Batman yang terkena gas beracun Scarecrow mengalami halusinasi melihat mayat orang tuanya di kamar mayat. Settingnya jadi benar-benar menyeramkan ala Resident Evil. Belum lagi setelah itu Scarecrow tahu-tahu nongol dari kantung mayat!

Karena saya memainkan versi PCnya, saya tidak terlalu tahu kualitas versi 360 dan PS3nya. Yang jelas, apabila kartu grafismu memadai, game ini sudah memanfaatkan fitur terbaru nVidia yang bernama PhysX. Teknologi ini memungkinkan render game yang interaktif dengan lingkungan sekitarnya. Contohnya bila Batman menghajar musuh ke dinding, maka dinding itu pun ikut retak atau mungkin bahkan hancur dengan suksesnya. Fitur PhysX ini pastinya akan memberikan dimensi baru dalam permainan bila kamu memang penggila berat game. Terakhir mengenai suaranya juga diisi oleh para pengisi suara kelas atas pada bidangnya, seperti Kevin Conroy dan Mark Hamill (the force is strong in Mr Joker eh Luke Skywalker!).

Seperti yang saya katakan di awal review tadi, Batman: Arkham Asylum adalah game adaptasi superhero terbaik. Lebih dari itu, ia bisa dinikmati oleh semua gamer, terlepas apakah kamu familiar atau tidak dengan mitologi sang manusia kelelawar. Final verdict: kandidat game terbaik tahun ini!

Final Verdict

Gameplay: 9.5
Gameplaynya benar-benar dalam dan bervariasi. Sebagai sang jago martial arts, kamu harus menghadapi berbagai musuh. Sebagai sang detektif, kamu harus mencari petunjuk yang ditinggalkan musuhmu untuk menentukan langkahmu berikutnya. Sebagai manusia, kamu harus mengendap tanpa membabi-buta. Benar-benar portrayal Batman yang lengkap!

Graphic / Sound: 10
Apalagi dimainkan dengan teknologi PhysX nVidia, suasana sekeliling Arkham Asylum mulai dari pulau sampai ruangan dalam yang artistik dan menakutkan… suasananya menakjubkan dengan campuran setting film horror dan thriller. Para bossnya semua memorable dengan design yang setia pada konsep komiknya. Setiap karakter juga diisi oleh para artis papan atas yang sudah berpengalaman.

Play Time: 9.5
Mengungkap semua rahasia Arkham Asylum memberikan tantangan tersendiri karena bonus-bonus unik yang tersembunyi di dalamnya. Wawancara dengan Joker atau Killer Croc saat mereka mau dimasukkan ke dalam Arkham Asylum misalnya memberi background cerita yang lebih jelas mengenai kehidupan para psikopat ini.

Score: 9.8

Game Details
System: 360, PS3, PC
Developer: Rocksteady
Publisher: Eidos
Genre: Action Adventure

Comments (10)

Tags: , , , , , , , , ,

Fate / Stay Night

Posted on 14 April 2009 by Si Tukang Review

Saber from Fate / Stay Night

Saber from Fate / Stay Night

Kendati sudah berusia lima tahun, Fate / Stay Night masih merupakan visual novel favorit saya (dan saya yakin banyak orang lainnya). Visual Novel terbitan dari Type-Moon ini bukan saja menjadi yang terlaris di tahun 2004 saat ia dirilis, tetapi juga meraih popularitas mainstream hingga dirilis ulang dalam PS2 dengan titel tambahan Realta Nua, memiliki spin-off game fighting di PSP (Fate Tiger Colloseum dan Fate Tiger Colloseum Upper), memiliki anime sepanjang 24 episode yang dirilis di tahun 2006, sampai memiliki beberapa game yang dibuat khusus oleh para fans. Luar biasanya, Fate / Stay Night awalnya adalah sebuah game hentai!

Sebelum keburu berpikiran negatif mengenai game hentai, saya perlu menjelaskan bahwa perspektif dunia barat dan Jepang dalam memandangnya berbeda. Apabila dunia barat merilis video porno atau cerita porno, maka mereka biasanya murni merilisnya tanpa embel-embel apapun juga. Hal ini berbeda dengan Jepang. Walaupun beberapa video atau cerita porno mereka juga langsung mentah (alias tidak ada cerita dan langsung begituan saja) ada juga banyak game atau anime di mana seks bukan sekedar menjadi unsur eksplisit tetapi implisit yang berbaur dengan cerita. Fate / Stay Night adalah salah satu visual novel hentai sejenis.

Fate / Stay Night mengkronologikan dua minggu waktu kehidupan dari seorang pemuda bernama Emiya Shirou. Setiap 60 tahun, berulang sebuah turnamen rahasia bernama Holy Grail Wars antara tujuh orang magi (penyihir). Emiya terpilih menjadi salah seorang dari mereka yang berkompetisi. Ketujuh Magi itu tidak bertarung seorang diri, tetapi mendapat bantuan dari tujuh heroic spirit (heroic spirit adalah sosok para pahlawan yang gugur di masa lalu, masa kini, ataupun masa depan seperti Hercules, Medusa, Raja Arthur, Raja Alexander, dan banyak lagi). Tujuh heroic spirit ini terbagi dalam tujuh kelas: Archer, Saber, Berserker, Assasin, Caster, Lancer, dan Rider. Ketujuh pahlawan yang melayani para maginya ini disebut Servant. Tak terduga, dalam summoningnya, Emiya mendapatkan servant terkuat: Saber. Siapakah sebenarnya Saber? Bisakah Emiya memenangkan Holy Grail Wars? Apa arti di balik turnamen ini sebenarnya?

Game ini memiliki tiga cabang cerita (skenario) yang adalah Fate (berfokus pada masa lalu Saber serta hubungan antara Emiya dengannya), Unlimited Blade Works (berfokus pada siapa sebenarnya karakter Archer dan hubungan Emiya dengan Tohsaka Rin seorang magi kompetitor lain), dan Heaven’s Feel (berfokus pada rahasia gelap keluarga Mato dan munculnya Servant kedelapan). Masing-masing skenario (kecuali skenario Fate yang dianggap kanon) memiliki dua ending. Versi animenya secara garis besar mengikuti skenario Fate dengan memasukkan unsur-unsur tertentu dari Heaven’s Feel dan Unlimited Blade Works di dalamnya. Realta Nua memberikan epilog tambahan untuk skenario Fate, guna memuaskan rasa penasaran para penggemar akan nasib Saber di penghujung game.

Secara keseluruhan, Fate / Stay Night memang masih visual novel terbaik yang pernah saya baca. Memang sisi interaktif game ini sangat sedikit (hanya di saat-saat tertentu kamu bakalan diberikan pilihan untuk menentukan aksimu) tetapi penulisan akan dunia yang penuh detail (pujian dan terima kasih juga saya berikan bagi grup translator yang membuat banyak pihak bisa ikut menikmati karya legendaris ini) dan adegan pertarungan yang seru walau hanya dinikmati lewat tulisan membuat game ini tidak boleh dilewatkan siapapun.

Score: 9.4

Game Details
Publisher: Type-Moon
Developer: Type-Moon
Genre: Visual Novel

Fate / Stay Night Realta Nua PS2 Opening

Comments (1)

Tags: , , , , , , , , ,

Street Fighter IV

Posted on 09 March 2009 by Si Tukang Review

Street Fighter IV Cover

Street Fighter IV Cover

(Review Based on 360 Version)

Before Mortal Kombat, Before Tekken, There is…

Kalau tidak tahu Street Fighter, jangan sebut dirimu sebagai seorang gamer

Ucapan di atas tersebut memang benar. Bila hadirnya Super Mario Bros adalah tonggak dari suksesnya game di konsol rumahan maka Street Fighter II adalah tonggak dari suksesnya game di arcade center. Entah sudah berapa dari kita yang dulu menghabiskan koin demi koin demi mempelajari jurus-jurus lantas menjajal para lawan. Itulah pesona dari Street Fighter yang dihadirkan pada kita.

Sayangnya, setelah Street Fighter II terus muncul dengan segala updatenya (mulai dari Turbo Edition sampai Super Edition) atau versi lainnya (Alpha/Zero maupun EX), animo gamer terhadapnya pun kian menurun. Ketika Street Fighter III hadir, hampir tidak ada orang yang mempedulikannya lagi. Semenjak saat itu, franchise raksasa andalan Capcom pun dikesampingkan dalam serial fighting crossover melawan para superhero Marvel sampai rival-rivalnya di SNK. Tak lama kemudian, ia bahkan mati suri tanpa adanya berita mengenai game baru lagi… sampai berita mengenai Street Fighter IV dimunculkan.

Walau sekarang kiblat game fighting lebih identik dengan Tekken, Soul Calibur, atau Dead or Alive, masih banyak game veteran yang kangen akan Street Fighter dan bertanya-tanya, bagaimana hasilnya apabila sang embah dari game fighting ini digarap untuk gamer dan konsol masa kini. Seakan menjawab kekangenan tersebut, screenshot dan demo dari Street Fighter IV menjanjikan kembalinya karakter-karakter dan gameplay lama yang membuatnya begitu legendaris. Hype pun terus terbangun hingga game ini merupakan salah satu game yang paling dinantikan untuk PS3 dan 360 tahun ini. Bagaimana hasilnya? Apakah Street Fighter IV berhasil menjadi modern classic seperti Street Fighter II? Atau ia akan kembali terlupakan seperti Street Fighter III?

Gameplay Lama Tapi Baru

Buat para pemain lama yang kembali ataupun pemain baru yang datang, selamat datang di Street Fighter. Jangan khawatir kalau jurus-jurus yang dulu kalian kenal sudah usang… karena Capcom masih mempertahankannya. Kalau dulu kamu ingat menggunakan Hadouken berarti bawah, depan, pukul; maka cara mengeluarkan Hadouken pun kini tetap sama. Selain memiliki beberapa gerakan khusus, tiap karakter juga memiliki satu Super Move dan satu Ultra Move. Karena terbatasnya gerakan yang dimiliki seorang karakter, ini memudahkan gamer baru untuk mempelajarinya. Hanya saja, mempelajari seorang karakter dan menguasainya adalah dua hal yang sangat berbeda. Kamu mungkin bisa menghafal jurus satu karakter dalam satu jam, tapi menguasai dan mengefisiensi karakter itu sepenuhnya membutuhkan puluhan - bahkan mungkin ratusan - jam beradu dengan komputer dan orang-orang lain.

Roster yang dihadirkan dalam Street Fighter IV terdiri dari 24 orang yang terbagi dari 16 karakter playable dan 9 karakter unlockable.

16 karakter playable ini terdiri dari 12 karakter lama dari Street Fighter II dan empat wajah baru. Saya tidak perlu menjelaskan terlalu banyak mengenai 12 karakter klasik itu, jadi ijinkan saya membahas lebih dalam mengenai keempat karakter yang baru. Abel adalah seorang prajurit Perancis yang terkena amnesia, Crimson Viper adalah seorang mercenary bayaran yang disewa menghentikan atau mencuri data dari Shadowloo, Rufus seorang gendut yang terobsesi melawan Ken, dan terakhir adalah El Fuerte. Keempat karakter ini mungkin tidak akan langsung mendapat simpati dari para gamer, tetapi mereka makin memberi tambahan warna di dunia Street Fighter.

Untuk sembilan karakter lain yang bisa dibuka, Capcom menyediakan beberapa pilihan favorit fans. Rose (putri dari M. Bison), Cammy (si seksi yang dulu dicuci otak), Fei Long (the Bruce Lee wannabe), Sakura (yang obsesinya pada Ryu belum hilang), Akuma (paman sepeguruan Ryu dan Ken), Dan (belum juga melepas Gi pinknya) dan Gen (guru Chun-Li). Sisa dua karakter lagi-lagi wajah baru dalam dunia Street Fighter (walau yang satu bisa dianggap orang baru yang lama). Pertama adalah Gouken - guru dari Ryu, Ken, Dan juga kakak sepeguruan dari Akuma sementara yang kedua adalah Seth, boss terakhir dalam Street Fighter IV yang memiliki kemampuan menggunakan kekuatan para peserta setelah menyerap data mereka (sedikit banyak motivasi Seth mengingatkanku pada Igniz di King of Fighters 2001).

Street Fighter IV adalah game Street Fighter pertama yang menyediakan online mode. Hanya saja, saya menyarankan untuk memainkan game ini pada tempat dengan kecepatan akses internet yang memadai. Saya sempat mencoba melakukan pertarungan online tetapi gerakan yang tersendat dalam ronde pertamaku membuat saya mengurungkan niat terus mencari lawan di dunia maya. Jangan keburu khawatir, beberapa review yang saya baca di situs luar negeri menyebutkan bahwa mereka bisa memainkan game ini secara lancar-lancar di online mode. (sebagai catatan: internet saya menggunakan Speedy Telkom).

Hal terakhir yang mungkin perlu dicermati dari segi gameplay adalah kontrol. Bukan rahasia bahwa game fighting yang bagus perlu kontrol yang solid dan fluid. Kontrol tidak pernah menjadi masalah ketika Street Fighter IV didemokan dulu di arcade-arcade Jepang mengingat tombol arcade jelas disesuaikan untuk gamenya. Masalah muncul kini karena joystick dari 360 dan PS3 dinilai kurang responsif untuk mengeluarkan jurus-jurus maut dalam game ini. Permasalahan utama mungkin karena beberapa jurus me’maksa’mu menekan shoulder button yang bisa membuat timing mengeksekusi jurusmu meleset. Ada dua solusi untuk permasalahan ini; yang pertama dan sulit tentu saja adalah dengan terus menerus berlatih, Yang mudah tapi perlu biaya? Beli saja joystick / joypad khusus yang didesign untuk memainkan game fighting macam ini.

The Look and Sound of the Current-Gen Fighter

Ketika dulu saya melihat trailer game ini, saya akui kalau Street Fighter IV bukan menarik perhatianku akan sisi gameplaynya, tetapi keindahan grafisnya. Saya penasaran dengan dunia cel-shading yang dijanjikan oleh Capcom. Hasilnya memang tidak mengecewakan. Kalau diperhatikan, karakter Street Fighter memang banyak yang nyeleneh kan? Dhalsim dengan tangan yang super panjang, Blanka yang mirip monyet hijau, Balrog yang mirip Mike Tyson, dan banyak lagi. Oleh karena design karakternya yang aneh itulah transisi ke dunia cel-shading ini saya nilai berhasil. Gaya Street Fighter IV seakan memadukan realisme dunia 3D dengan komikal dunia 2D. Hasilnya adalah tampilan impresif nan menawan. Itu tidak hanya berlaku pada karakternya saja - tetapi juga stage-stage latar belakang. Beberapa stage klasik seperti lapangan terbang Amerika (stage Guile) hadir setelah mengalami redesign ulang. Perlu diketahui juga bahwa walaupun tampilan game ini dalam 3D, tetapi kamu sepenuhnya akan bertarung di satu platform 2D saja (jadi berbeda dengan KOF: Maximum Impact yang memungkinkan kamu melakukan sidestep).

Selama ini Street Fighter dikritik karena tidak memiliki jalan cerita yang jelas. Lompatan besar terutama dilakukan dari Street Fighter II ke III. Street Fighter IV konon menjadi penengah kedua seri itu. Kini, setiap karakter memiliki cerita sendiri yang disampaikan secara singkat melalui animasi opening dan ending. Apabila kalian pernah membaca cerita komik Street Fighter terbitan UDON (terbitan resmi dari Capcom), maka kalian akan sadar banyak aspek dari game ini mengacu darinya (seperti regu Cammy, persahabatan Chun-Li dan Guile, Elisa istri Ken yang juga saudara Guile). Walaupun animasinya masih berkesan terpatah-patah, setidaknya kamu mendapatkan pengertian lebih baik mengenai apa sih yang terjadi di turnamen kali ini. Saya berharap kalau game ini dimunculkan sekuelnya karena ending beberapa karakter saya nilai masih tergantung-gantung.

Bagi kamu para purist yang hanya mencintai seiyuu Jepang saja, bersukacitalah. Capcom memasukkan dua versi suara dalam game ini. Walaupun default suaranya dalam bahasa Inggris, menyelesaikan game ini akan membuka opsi bagimu untuk memilih suara para karakter dalam bahasa Jepang dan Inggris. Saya akui kalau beberapa voice-over dalam bahasa Inggris terdengar lucu dan over-the-top, tetapi melihat nuansa komikal dalam game ini, saya rasa hal itu disengaja supaya memberi citra goofy pada gamenya. Sulit rasanya menganggap serius seorang macam Rufus bukan?

Jadi bagaimanakah penilaian saya mengenai Street Fighter IV? Jawabannya: saya puas sekali. Seri keempat ini mengembalikan apa yang diinginkan oleh fans semenjak dulu dari Capcom. Kembalinya karakter-karakter klasik, dimasukkannya beberapa karakter baru yang bisa blend in dengan para karakter lama (saya rasa di masa depan akan muncul Fei Long-Fei Long ataupun Cammy-Cammy baru dari keempat karakter yang dimasukkan Capcom kali ini. Siapa mereka? Hanya waktu dan pilihan para fans lah yang akan menjawab), grafis dan sound untuk generasi masa kini, juga gameplay fighting 2D yang sudah terbukti adiktifnya. Singkat kata Street Fighter IV menjawab semua yang diinginkan oleh fans. Saya percaya bahwa ini akan menjadi tonggak baru dalam sejarah panjang Street Fighter ke depannya. HADOUKEN!

Final Verdict

Gameplay: 9.5
Kekuatan karakter yang berimbang, roster yang penuh variasi, dan gameplay yang simpel sehingga mudah dipelajari tetapi juga rumit sehingga sulit dikuasai. Satu-satunya kekurang Street Fighter IV hanyalah kontrol yang kurang nyaman - dan itu bukan murni kesalahan gamenya bukan?

Graphic / Sound: 10
Sempurna. Capcom benar-benar memperhatikan nilai artistik game ini. Saya percaya tampilan cel-shading dari Street Fighter IV termasuk yang terbaik di pasar saat ini, bersanding dengan Okami, Viewtiful Joe, serta Prince of Persia. Tambahan animasi opening-ending tiap karakter (bahkan karakter rahasia), fitur dual audio track, sampai lagu opening J-Pop yang cheesy tapi keren juga makin menyempurnakan aspek audio visualnya. Mantap.

Play Time: 9.5
Kamu akan terus menerus memainkan game ini untuk mengasah kemampuanmu. Setelah melawan komputer terasa membosankan, ajak temanmu bermain dan tantang mereka dalam duel. Atau kamu mau jadi Ryu Online? Yang terus berkelana mencari lawan guna mengasah kemampuanmu dan siapa tahu saja pada akhirnya kamu akan menemukan the true ‘path of the warrior’.

Overall: 9.8

Game Details

System: Arcade, 360, PS3, PC (Coming Soon)
Developer: Capcom
Publisher: Capcom
Genre: Fighting

Comments (6)

Tags: , ,

Narcissu

Posted on 25 February 2009 by Si Tukang Review

narcissucover

Narcissu adalah sebuah game yang unik.

Kebingungan saya cukup beralasan, Narcissu tidak bisa disebut sebagai sebuah game mengingat interaksi anda dengannya bisa dibilang hanya sekedar mengklik tombol mouse anda berulang-ulang kali. Secara tidak langsung, Narcissu lebih mirip sebuah novel digital yang bergambar ketimbang sebuah game (istilah yang dipakai Wikipedia: Visual Novel).

Inilah ringkasan cerita dari Narcissu yang merupakan sebuah visual novel garapan dari stage-nana, sang developer.

So what is Narcissu sebenarnya?

Kisah Narcissu dimulai ketika anda (protagonis utama, akan saya sebut sebagai ‘anda’ mulai sekarang) dalam cerita ini didiagnosis terkena penyakit bernama Lung Carcinoma. Lung Carcinoma adalah sebuah penyakit mematikan dan fatal yang akan menggerogoti kesehatan sedikit demi sedikit sampai pada akhirnya penderita akan kehilangan seluruh kekuatannya dan meninggal dunia.

Anda masuk ke sebuah rumah sakit di Mito, Ibaraki, dan bertemu dengan seorang gadis bernama Setsumi. Setsumi pun terkena penyakit kronis dan sudah tinggal di tempat tersebut jauh lebih lama ketimbang anda - dalam kata lain, ia seperti senior anda. Anda dan Setsumi menyadari bahwa kalian memiliki persamaan. Keluarga kalian telah mengabaikan kalian, teman kalian sudah melupakan kehadiran kalian, dan kehidupan seakan tak ada lagi artinya selain keluar masuk rumah sakit.

Menyadari kenyataan pahit tersebut, anda dan Setsumi ingin melarikan diri dari rumah sakit; melarikan diri dari rumah; dan mati di tempat lain, di tempat di mana tidak orang mengenali anda, dan ketika kesempatan itu muncul - anda mengambil kunci mobil Honda Integra milik ayah anda, dan melarikan diri bersama dengan Setsumi.

Ke manakah perjalanan ini akan membawa anda?

Gaya visualisasi Narcissu sangat unik. Dia tidak memakai gambar-gambar secara ekstensif dan bertumpu pada kekuatan cerita dan musiknya. Saya sempat tertipu dengan mengira ini sebagai sebuah Japanese eroge visual novel, dan saya tertipu mentah-mentah. Jangankan adegan-adegan seperti itu, wajah Setsumi saja jarang sekali terlihat di dalam game ini. Efek visualisasi game ini lebih banyak menggambarkan adegan pemandangan, mobil, dan wilayah-wilayah lain yang anda kunjungi. Toh, efek visualisasi seperti ini justru membantu mengembangkan imajinasi dan membuat anda merasa seolah-olah anda sendirilah turut berpetualang dalam game ini.

Penceritaan Narcissu mungkin sederhana tetapi justru kesederhanaan ini yang menjadikannya sangat down-to-earth. Kalau anda pernah menonton film berjudul My Life Without Me, maka Narcissu memiliki banyak kesamaan dengannya: memiliki banyak dialog di dalamnya tanpa ingin berkesan sok filosofis. Ini membuat jalan cerita Narcissu dan panjangnya yang hampir mencapai dua jam menjadi mengalir dengan enak tanpa terasa diburu-buru, endingnya pun menyentuh di hati tanpa perlu menunjukkan kecengengan atau terkesan dibuat-buat. Realistis: mungkin inilah nilai terkuat dari Narcissu.

Salah satu nilai terkuat Narcissu adalah musik-musiknya. Variasi musik dalam Narcissu berbeda-beda tetapi khas dengan suasana sendu yang diusung oleh game ini. Bisa dibilang musik dalam game ini adalah salah satu elemen kunci bagaimana Narcissu bisa membangun suasana melankolis yang ada. Bagaimana dengan suaranya? Setali tiga uang, suara memang tidak banyak dan hanya disuarakan oleh Setsumi saja, tetapi pengisi suaranya mampu menjiwai perannya dengan sangat baik.

Buat kalian yang penasaran akan Narcissu, game… maaf… Visual Novel ini sudah ditranslasikan oleh proyek insani ke dalam bahasa Inggris (proyek translasi ini legal karena disetujui oleh stage-nana) dan dipublikasikan secara gratis di dunia maya. Silahkan mendapatkannya di sini: http://narcissu.insani.org/

This visual novel teaches me many value of life - and I hope it’ll do the same for you.

Score: 8.2

PS: Bagi yang menuding Narcissu menjiplak The Bucket List, perlu diperhatikan bahwa game ini hadir beberapa tahun lebih dahulu sebelum film itu digarap.

Game Details
Developer: stage nana

Comments (0)

Tags: , , ,

Bully: Scholarship Edition

Posted on 06 February 2009 by Si Tukang Review

Bully Cover

Bully Cover

(Review Based on PC Version)

System: PC, 360, Wii, PS2 (Non-Scholarship Edition)
Developer: Rockstar Vancouver / New England / Toronto
Publisher: Rockstar Games
Genre: Free-Roaming Adventure

Selamat datang di Bullworth Academy di mana hanya orang yang kuat bersainglah yang akan selamat; sebuah tempat di mana kamu harus buat keputusan: apakah kamu akan menjadi orang yang membully - atau orang yang dibully di sana?

Jimmy Hopkins adalah murid pindahan baru dalam Bullworth Academy. Memang catatan sekolah dari Jimmy ini tidak baik. Ia sering berpindah-pindah sekolah dan menciptakan masalah di manapun juga. Ini mungkin juga gara-gara ia dididik di dalam keluarga yang bermasalah. Coba dengar: alasan kenapa si bocah dimasukkan Bullworth Academy adalah karena sang ibu mau berhoney-moon ria dengan suami barunya. Bayangkan betapa kacaunya kehidupan rumah tangga mereka! Toh, Bullworth Academy bukan sekedar sekolah biasa. Sekolah ini penuh dengan guru ‘killer’, kepala sekolah yang korupsi, para murid berandalan, sampai ketua kelas yang siap menghukum siapapun yang melanggar peraturan. Apakah Jimmy bisa survive di lingkungan yang begitu keras ini?

Bully hadir dari developer kontroversial Rockstar. Perusahaan yang setiap game rilisannya rasanya selalu menghadirkan kontroversi sejak GTA ini kembali memicu polemik dengan game Bully. Bully bisa saya sebut sebagai “GTA versi sekolah”. Kehidupan sekolah benar-benar tergambar di sini. Sebagai James, kamu bebas melakukan apapun di lingkungan sekitar sekolah. Menghajar dan ngerjain murid lemah, membenamkan mereka yang menentangmu di toilet, kabur dari kelas, bahkan memukul guru dan menentang otoritas! Tentu saja pilihan tetap di tanganmu. Setiap kali ada orang menantangmu berkelahi, kamu boleh saja minta maaf dan menghindar cari ribut. Silahkan juga apabila kamu memilih mengikuti tiap kelas dengan rajin sekaligus menjilat para guru.

Selain kebebasan pilihan, lingkungan sekolah Bullsworth pun digarap oleh Rockstar benar-benar semirip mungkin dengan kehidupan nyata. Karena tinggal di lingkungan sekolah, kamu ditempatkan di asrama pria (walau dipisah dengan asrama wanita - kamu bisa kok menyelinap ke sana dan cari gara-gara). Pun ada waktu yang menunjukkan jam berapa kamu harus menghadiri kelas pagi maupun siangmu. Orang-orang yang berinteraksi denganmu pun memiliki kelompok geng masing-masing; mulai dari sekedar berandalan, nerd yang kerjaannya membaca buku belajar, sampai para olahragawan yang berotot tapi tidak berotak. Setiap geng memiliki ciri khas dari seragam yang mereka kenakan.

Sebagaimana halnya kebanyakan game free-roaming / sandbox Rockstar lainnya, kemajuan gamemu tergantung dari misi (baca: skenario utama) game. Setiap kali kamu hendak memajukan ceritamu, kamu bisa mengakses dan menjalankan skenario utama game. Misi-misi utama itu tergolong sederhana seperti iseng mengkatapel teman-temanmu yang tengah berolahraga, atau mencuri pakaian dari locker teman-temanmu. Tentu saja, selama kamu tidak menjalankan misi kamu bebas mengeksplorasi Bullsworth semaumu (percayalah bahwa walaupun Bullsworth tidak seluas kota-kota di GTA, tetapi kamu tetap akan menghabiskan banyak waktumu berkeliling dan berinteraksi dengan orang-orang di sana).

Akhirnya, Bully sekali lagi merupakan satu bukti kejeniusan dan kekreatifan dari Rockstar. Terbukti bahwa walaupun penjualannya di PS2 dianggap mengecewakan, permintaan para fans membuat Rockstar menggarap versi Scholarship Edition yang diedarkan di 360, Wii dan PC. Mainkan game ini dan bangkitkan nostalgiamu ketika tawuran saat masih berada di SMU dulu.

Final Verdict:

Gameplay: 9.0
Akan mengejutkanmu melihat Rockstar memberi begitu banyak kebebasan gameplay dalam lingkungan sekolah. Meskipun arena permainan tidak seluas GTA, Bully tidak kalah dalam variasi ‘kebebasan’ melakukan apapun di dalamnya. Seperti yang saya katakan sebelumnya; Bully adalah GTA di dalam sekolah!

Graphic / Sound: 9.0
Saya memainkan Scholarship Edition yang mendapatkan upgrade grafis yang cukup signifikan. Walau begitu, saya pernah mencoba versi PS2nya dan menilai bahwa kualitas grafisnya setara dengan GTA San Andreas. Suara juga diperhatikan oleh Rockstar. Mengingat setting dari game ini di Inggris, maka siapkan telinga anda mendengar aksen-aksen British English sepanjang game.

Play Time: 9.0
Begitu kaya dan luasnya Bully membuat saya menghabiskan hampir lima jam pertama untuk menjelajahi Bullworth Academy dan mencoba menjahili para guru dan murid. Dengan memperhitungkan begitu banyaknya misi sampingan selain misi utama game, Bully berpotensi kamu mainkan untuk waktu yang sangat - sangat lama.

Overall: 9.0

Fun Facts:
Di beberapa negara, game ini tidak dirilis dengan nama Bully, melainkan dengan nama latin Canis Canem Edit (arti: Dog Eat Dog). Saya pribadi lebih menyukai nama latinnya yang langsung menunjukkan realitas kehidupan masa sekolah yang keras di mana hanya yang kuatlah yang bisa bertahan hidup.

Comments (3)

Advertise Here
Advertise Here