Tags: , , , ,

Jak and Daxter: The Lost Frontier

Posted on 05 March 2010 by Si Tukang Review

Jak and Daxter: The Lost Frontier PSP Cover

Jak and Daxter: The Lost Frontier PSP Cover

(Review Based on PSP Version)

Naughty Dog membuat salah satu game platform adventure terbaik di Playstation 2 melalui serial Jak and Daxter. Trilogi game sudah sukses mengumpulkan banyak sekali penghargaan dan membukukan penjualan jutaan unit, bisa dibilang bahkan menggeser hegemoni Crash Bandicoot dan Spyro the Dragon sebagai ikon game platform di konsol hitam itu. Sekarang Naughty Dog sudah beralih ke proyek lain di Playstation 3. ehem… Uncharted… ehem… tapi Sony menyadari bahwa franchise Jak and Daxter masih bisa diperah untuk mendapat keuntungan bagi mereka. Percobaan pertama mereka adalah mengajak developer Ready at Dawn untuk menggarap spin-off dari Jak and Daxter di PSP. Bila dalam trilogi utamanya gamer mengendalikan Jak dalam mayoritas permainan, Daxter menempatkan - sesuai judulnya - Daxter untuk dikendalikan para gamer dalam usahanya menyelamatkan Jak. Game tersebut mendapatkan kesuksesan luar biasa dan sampai sekarang bertahan sebagai salah satu game PSP terbaik.

Sony kemudian memutuskan untuk menaikkan pertaruhan mereka. Bagaimana kalau kali ini bukan cuma sekedar sebuah spin-off? Bagaimana kalau kali ini mereka melanjutkan cerita utama Jak and Daxter? Berhubung Naughty Dog masih terlibat dalam proyek lain, ehem… Uncharted 2… ehem… maka Sony lagi-lagi memanggil developer lain, kali ini High Impact Games untuk menggarap game keempat dalam serial Jak and Daxter. Judulnya adalah The Lost Frontier, dan game ini dirilis untuk PSP dan Playstation 2. Bisakah High Impact Games mengulangi kesuksesan Naughty Dog dan Ready at Dawn?

Game ini berawal dengan saat perjalanan trio Jak, Daxter, dan Keira (pacar Jak) oleh segerombolan bajak laut udara (Sky Pirates). Walaupun awalnya mereka bermusuhan, atas permintaan Keira, Jak dan Daxter sepakat bekerja sama dengan para Sky Pirates untuk mencari Eco Seeker yang bisa menghindarkan dunia dari marabahaya besar. Dalam perjalanannya, Jak dan Daxter juga akan membuka masa lalu dari rombongan Sky Pirates tersebut.

Ini adalah pertama kali saya memainkan serial Jak and Daxter. Dulu saya sempat memainkan game Daxter sebentar, tetapi kemudian permainanku terbengkelalai karena ada lebih banyak game PSP lain yang lebih menarik kumainkan saat itu. Mungkin karena ini saya termasuk kategori gamer yang kebingungan dengan cerita The Lost Frontier. Sudah ceritanya sendiri tergolong semrawut (baca: membingungkan) ditambah dengan game ini tidak berusaha menjelaskan latar belakang cerita dalam game-game sebelumnya.

Dalam The Lost Frontier, gamer akan mengendalikan karakter Jak untuk mayoritas permainan, seperti halnya trilogi awal serial ini. Sebagai Jak kamu memiliki berbagai variasi serangan seperti memukul, melakukan lompatan memukul, dan berbagai amunisi senjata. Apabila serangan fisik Jak bisa terus dilakukan, senjata Jak bisa habis amunisinya. Akan tetapi tidak perlu khawatir karena banyak sekali amunisi berceceran di sepanjang perjalanan Jak mustahil kamu bisa sampai kehabisan amunisi. Toh, kebanyakan musuh di dalam game ini cukup mudah untuk dikalahkan sehingga saya pribadi cenderung menyimpan amunisi untuk menghadapi para boss saja. Setiap kali mengalahkan musuh, Jak akan mendapatkan Dark Eco yang berfungsi sebagai Skill Point-nya game ini. Dark Eco yang dikumpulkan oleh Jak bisa diubah oleh Keira menjadi Red Eco, Yellow Eco, Green Eco, maupun Blue Eco. Masing-masing memiliki upgrade skill yang berbeda untuk Jak. Red Eco misalnya mayoritas skill upgradenya berfungsi menguatkan serangan Jak sementara Green Eco menambah vitalitas / life bar Jak. Ini memberi gamer sedikit kebebasan dalam mengkustomisasi karakter Jak yang mereka mainkan. Bagaimana dengan Daxter sendiri? Sobat setia Jak ini hanya bisa kamu mainkan di bebeberapa segmen tertentu apabila ia terpisah dengan Jak. Karena kena radiasi Dark Eco, Daxter yang kamu mainkan berubah menjadi sosok Dark Daxter.

Selain petualangan di darat, The Lost Frontier memperkenalkan elemen baru: petualangan di udara. Setelah memperbaiki Hellcat (pesawat Jak) yang sempat rusak setelah diserang para Sky Pirates, kamu bisa berkeliling bebas dengannya. Ini juga memberi opsi baru dalam penjelajahan di mana kamu bisa terus menyelesaikan misi-misi utama cerita atau berkeliling sendiri mencari misi-misi sampingan (biasanya sih saya melakukannya untuk menambah pundi-pundi Dark Eco dan membuka skill-skill baru Jak).

Walaupun gameplay dan kontrol game ini sendiri cukup solid, permasalahan terbesar justru datang dari sudut pandang kameranya. Entah kenapa sudut pandangnya membuatku kesulitan melihat obyek-obyek di sekeliling Jak. Lebih gawatnya lagi saya bahkan kesulitan memperkirakan jarak dari satu platform ke platform lainnya yang sering berakibat Jak terjun bebas ke jurang. Sulit menjelaskan ini melalui kata-kata, apalagi karena The Lost Frontier sebenarnya memberi opsi kita memutar kamera secara bebas dengan tombol L dan R, tetapi pada prakteknya ini tidak banyak membantu.

So my verdict is… walaupun The Lost Frontier adalah sebuah game 3D platform yang cukup solid, tapi ia tidak memiliki cukup nilai plus yang membuat game-game sebelumnya menjadi sukses besar. Terbukti banyak situs game memberi The Lost Frontier penilaian suam-suam kuku. Apabila kamu penggemar berat serial ini, jangan berharap terlampau tinggi atau kalian bisa jadi kecewa.

Final Verdict

Gameplay: 6.5
Tidak ada elemen baru yang ditawarkan dalam The Lost Frontier untuk memperkaya serial Jak and Daxter (kecuali elemen terbang, dan itupun tidak maksimal). Stage yang harus dilalui oleh duet Jak and Daxter rata-rata menarik dengan puzzle yang cukup menantang tapi tidak berlebihan kesulitannya. Kekurangan utama gameplay ini ironisnya hadir dari sudut pandang kamera yang sering menganggu permainan.

Graphic / Sound: 7.0
Versi PSP yang saya mainkan memiliki grafis dan suara yang luar biasa tajam dan meriah. Dunia Jak and Daxter yang kaya warna berhasil ditampilkan High Impact Games untuk resolusi layar PSP. Saya juga kagum dengan banyaknya cutscene dan voice acting dalam game ini (walaupun kadang-kadang voice acting Daxter yang over sedikit menganggu). Entah kalau masalah ini pun muncul di versi PS2nya, tetapi game ini terkadang mengalami slowdown ketika memasuki area-area baru.

Play Time: 7.0
Kamu bisa menyelesaikan game ini dalam 10 hingga 15 jam, tergantung apakah kamu ingin langsung menyelesaikan misi utamanya atau ingin melengkapi semua sidequest yang ia tawarkan.

Overall: 6.8

Game Details
Developer: High Impact Games
Publisher: Sony Computer Entertainment
Genre: 3D Platform Adventure

Comments (0)

Tags: , , , , , , ,

Gran Turismo (PSP)

Posted on 30 December 2009 by Si Tukang Review

Gran Turismo (PSP) Cover

Gran Turismo (PSP) Cover

Dunia game racing berhutang budi pada Gran Turismo. Sebelum Gran Turismo memang sudah banyak game racing 3D seperti Daytona atau Need for Speed, tetapi adalah Gran Turismo yang membawa para gamer menuju level realistis berikutnya. Setiap mobil memiliki feelnya sendiri saat dibawa, merk-merk mobil ternama ikut memasukkan mobilnya untuk dilisensi resmi pada game Sony tersebut. Bagi beberapa penggemar sejatinya, Gran Turismo lebih dari sekedar sebuah game racing – mereka menyebutnya sebagai driving simulator. Sejarah kemudian mencatat Gran Turismo sebagai game dengan kualitas yang apik (dipuji oleh semua majalah dan situs game internasional) sampai game yang sangat laris di Playstation dengan menjual lebih dari 10 juta kopi di seluruh dunia.

Walaupun pamor dari Gran Turismo akhir-akhir ini meredup karena kalah cepat bersaing merilis title dari Need for Speed, masih banyak fans fanatik yang menantikan iterasi kelima game ini – yang seharusnya hadir untuk PS3 tahun depan. Di lain pihak, mungkin hanya sedikit gamer yang ingat bahwa di tahun 2004 saat PSP dirilis dulu, Sony juga menjanjikan pengalaman Gran Turismo portable dalam format PSP. Sayangnya, proyek ini kemudian mengalami penundaan dan perubahan selama lima tahun (Wow! Talk about development hell!) sehingga baru dirilis beberapa bulan yang lalu. Apakah penantian lama penggemar Gran Turismo terbayarkan dalam versi portabelnya ini?

Salah satu hal yang langsung mencolok adalah hilangnya Career Mode dalam versi PSP ini. Mungkin ini bakalan dianggap mengecewakan oleh para gamer, karena tak bisa disangkal bahwa Career Mode dalam Gran Turismo adalah fitur yang paling menyedot gamer. Cara-cara tune-up mobil (buat yang tidak gemar otomotif: mengupgrade atau melevel up mobil bawaanmu) juga lebih disederhanakan kustomisasinya. Dengan lenyapnya dua fitur terpenting dalam Gran Turismo di versi PSP ini, kalian mungkin berpikir kalau sang developer – Polyphony Digital – sudah gagal memampatkan driving simulator ini dalam dunia handheld.

Enyahkan pikiran itu jauh-jauh. Kompensasi lenyapnya dua mode itu saya terima dengan lapang dada begitu sadar jumlah mobil yang disediakan Gran Turismo. Tidak kurang dari 800 (yap, bukan 80 tapi 800!) dari berbagai macam pabrikan siap kalian kendalikan dalam game ini. Yang lebih luar biasa, tidak ada perasaan bahwa mobil-mobil tersebut sekedar dimampatkan masuk saja. Semua mobil – mulai dari yang biasa sampai yang langka – memiliki cara pembawaan yang berbeda. Yang sudah sering menjajal dunia otomotif bisa langsung tancap, sementara gamer yang baru terhadap dunia itu bisa membaca detail yang disertakan dengan datangnya tiap mobil.

Sajian utama dalam Gran Turismo adalah balapan Single Mode-nya. Tak peduli apakah kamu seorang veteran atau pendatang baru seri ini, menunya yang sederhana bisa dengan mudah memandu anda dalam dunia balap. Pilih mobilmu, pilih trackmu, dan kamu siap membalap bersama tiga lawan yang dikendalikan oleh AI computer. Tak peduli ranking berapa kamu, kamu akan mendapatkan hadiah uang (tentu saja jumlah yang kamu dapatkan saat finish menjadi juara dan finish di posisi buncit berbeda). Uang ini bisa kamu kumpulkan untuk kamu belikan mobil baru idamanmu atau untuk mentune-up mobil lamamu.

Bicara soal track, game ini menyediakan 35 track yang bisa kamu jajal. Beberapa diambil dari lokasi asli seperti di Fuji atau Seoul. Beberapa lagi adalah track lama yang pernah hadir dalam Gran Turismo lama. Masing-masing track memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Beberapa hanya memiliki track-track lurus yang mudah diselesaikan, sementara beberapa lagi memiliki banyak belokan tajam yang bakalan menyulitkanmu bila kamu tak benar-benar ‘menyatu’ dengan mobilmu (lebay mode: on). Kuncinya sih latihan – latihan – latihan. Kalaupun kalah, jajal lagi track itu guna menimbun pundi-pundi uangmu. 35 track tidak cukup? Ada opsi reverse yang secara tidak langsung mendobel jumlah track yang disediakan game ini jadi 70!

Dengan 800 mobil yang bisa kamu beli, bakalan butuh waktu yang sangat – sangat lama untukmu mengumpulkan uang, baik dari Single Mode atau Challenge Mode. Untungnya Gran Turismo memberikan opsi share atau trade mobil secara Wireless dengan temanmu. Bila kamu punya teman yang membeli mobil berbeda denganmu (galeri mobil selalu berubah tiap setelah kamu menyelesaikan balapan), mereka punya dua opsi: membaginya atau menukarnya. Share / Membagi langsung mengunlock mobil itu untukmu tanpa kamu harus membelinya lagi. Hanya saja untuk mobil-mobil langka, kamu tidak bisa langsung saja berbagi atau menerimanya dari temanmu, tetapi harus dengan cara Trade / Penukaran. Saya tidak tahu denganmu, tetapi bagiku sistem ini member keleluasaan buat para gamer.

Apabila kamu seorang penggemar game racing yang haus game berkualitas di PSP, tidak perlu cari jauh-jauh lagi karena Gran Turismo sudah hadir. Bila kamu punya PS3 juga, kamu dapat keuntungan ganda karena Sony sudah menjanjikan bahwa Gran Turismo PSP ini akan bisa dihubungkan dengan Gran Turismo 5 nanti.

Final Verdict

Gameplay: 8.5
Pengurangan Career Mode dan dibatasinya sistem kustomisasi mobil mungkin mengecewakan bagi beberapa pihak, tetapi ayolah… 800 mobil? 70 track? Semuanya itu dengan feel yang berbeda bagi tiap mobilnya? And… in a PSP?

Graphic / Sound: 8.5
Senada dengan apa yang kutulis di atas, 800 mobil dengan design yang berbeda (dan mendapat lisensi resmi dari setiap pabrikan mobil). 35 track yang ditawarkan dalam game ini juga memiliki daerah balap yang berbeda dari dalam sirkuit sampai alam pegunungan.

Play Time: 10
Jelas amat sangat lama. Kamu bisa mencoba menjajal dan menguasai 70 track yang ditawarkan game ini. Belum lagi mengumpulkan uang untuk membeli 800 mobil yang tersedia. Atau bersaing balap menghadapi kawan-kawanmu. The race is limitless!

Overall: 9.0

Game Details
Developer: Polyphony Digitals
Publisher: Sony
Genre: Driving Simulation / Racing

Comments (3)

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Tekken 6

Posted on 26 December 2009 by Si Tukang Review

Tekken 6 PSP Cover

Tekken 6 PSP Cover

(Review Based on PSP Version)

Walaupun koleksi library handheld PSP tidak sebanyak DS, itu bukan berarti handheld Sony kalah kualitas dengan handheld Nintendo. Salah satu komplain terbesar yang disampaikan orang terhadap PSP adalah karena terlalu banyak game remake yang hadir di PSP dan saya juga setuju akan hal ini. Toh, kalau remakenya sebaik Tekken 5: Dark Resurrection dulu, saya sih tidak merasa akan ada banyak orang yang menggerutu. Semenjak Dark Resurrection diluncurkan, game tersebut kemudian menjadi tonggak bagi game fighting lainnya di PSP. Bahkan remake Soulcalibur: Broken Destiny yang dirilis juga oleh Namco dianggap bagus tapi belum sebaik Dark Resurrection.

Sebenarnya di akhir tahun 2007, Tekken 6 diluncurkan di arcade Jepang. Setahun kemudian versi upgradenya dirilis dengan sub-judul Bloodline Rebellion diluncurkan (dengan tambahan dua karakter baru). Seharusnya sih versi PS3 dan PSPnya juga diluncurkan di tahun yang sama, tetapi ternyata dalam ‘penyabotan’ yang dilakukan oleh Microsoft, perilisannya ditunda selama setahun (satu dari beberapa penyabotan yang dilakukan oleh Microsoft, termasuk merebut serial Final Fantasy bernomer dari Sony). Kini di tahun 2009, versi home console dan PSPnya pun dirilis. Bagaimanakah hasilnya?

Tekken 6 ini menampilkan versi Bloodline Rebellion yang berarti selain ada lima karakter baru dan 33 karakter lama (34 kalau menghitung Panda), muncul juga Alisa Bosconovitch; cucu android dari Dr Bosconovitch dan Lars Alexandersson; si anak haram dari Heihachi Mishima. Total jendral ada 41 karakter yang siap kamu pakai dalam game ini - menjadikan Tekken 6 sebagai Tekken dengan roster terbesar. Apa yang membuat saya kagum dengan versi PSPnya adalah bagaimana handheld ini bisa memasukkan semua karakter dalam handheldnya. Salut Namco. Salut.

Grafis dalam Tekken 6 luar biasa. Tiap karakter game memiliki render animasi dan gerakan yang sangat halus untuk ukuran PSP. Juga beberapa arena tertentu memiliki segi interaktifnya dalam pertarungan. Saat kamu menghajar dan sukses memasukkan combo ke dinding misalnya, maka dinding itu akan jebol dan membuka arena baru untuk pertempuran. Walaupun tentu saja kualitas grafis versi PSP ini tidak bisa dibandingkan dengan home console atau Arcade (come on, they’re next-gen standard), saya tetap salut dengan usaha Namco ini. Siapa sangka mereka masih bisa membuat standar grafis game fighting yang lebih tinggi lagi dibanding apa yang dulu mereka raih melalui Dark Resurrection?

Mengenai karakter lama sendiri, hampir semuanya masih memiliki cara permainan yang sama dengan pada iterasi game sebelumnya sehingga kalau kamu sudah biasa dengan karakter itu, kamu tak perlu belajar lagi cara menggunakan mereka. Saya memang jarang main game fighting dan satu-satunya karakter yang saya percaya saya bisa mainkan dengan ‘lumayan’ (baca: tidak diganyang Perfect oleh para jago Tekken lain) adalah memakai Hwoarang. Ketika saya memainkan game ini lagi, Hwoarang tetap sama cepat dan mematikan tendangannya dengan Tekken 5: Dark Resurrection. Di antara beberapa karakter baru yang dihadirkan, saya paling tertarik dengan tiga karakter: Bob, Alisa, dan Zafina. Bob mendobrak tradisi kalau orang gendut pasti pelan, Alisa adalah robot cyborg yang sekilas lihat agak overpowered (makanya sebagai amatiran Tekken yang suka button mashing dia jadi favorit kedua saya setelah Hwoarang), dan yang terakhir Zafina yang gaya berantemnya agak… aneh. Salah satu pose kemenangan Zafina di mana ia merangkak ala laba-laba malahan mengingatkan saya pada setannya Ju-On (loh, apa hubungannya ya?).

Dalam gameplaynya sendiri, satu penambahan yang paling kentara di mataku adalah Rage System di mana ketika darah karaktermu sudah turun di bawah 10% maka karaktermu akan memiliki aura merah yang bersinar di mana semua seranganmu akan memiliki daya rusak yang lebih dahsyat. Kalau kalian pernah bermain Garou: Mark of the Wolves, Rage System mirip dengan TOP System-nya. Mode permainan dalam Tekken 6 sendiri sedikit kurang variatif. Terlepas dari Arcade Mode, Story Mode, dan Challenge Mode yang sebenarnya menawarkan hal yang sama, tidak ada lagi tambahan mode selain adu jotos. Hilangnya Scenario Campaign yang mirip dengan Tekken Force agak mengecewakan tetapi sekali lagi menyadari keterbatasan hardware PSP, mungkin ini merupakan keputusan yang terbaik. Toh Scenario Campaign juga banyak dikritik sebagai kelemahan dari Tekken 6 versi konsol kok. Setidaknya semua film ending dari para karakter tetap dipertahankan secara utuh oleh Namco di sini. Beberapa sangat serius, beberapa pendek dan ga jelas, beberapa lagi super kocak dan mengundang tawa terbahak. Bila ada kekurangan vital di gameplay Tekken 6, itu adalah tidak adanya opsi untuk bertarung melawan musuh di dunia online (hanya bisa secara wireless dan itupun temanmu harus memiliki kopi Tekken 6). Yah, mungkin jaringan internetnya sendiri yang kurang memadai? Entahlah.

Lepas dari beberapa kekurangan yang ada, Tekken 6 masih membuktikan dirinya sebagai salah satu franchise fighting terbaik yang ada di pasaran saat ini. Keterlambatan satu tahun rilisnya tidak menjadikan gameplaynya uzur, yang membuktikan bahwa game berkualitas ini selalu bisa kamu mainkan kapan saja bersama teman-temanmu. Siapkah kamu membuktikan apakah kamu masih sang King of Iron Fist?

Final Verdict

Gameplay: 9.0
Roster yang lengkap di PSP sejumlah 41 orang membuat saya girang. Semua karakternya juga memiliki kemampuan yang berimbang. Kekurangan mode permainan dan dukungan online play tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada Namco karena keterbatasan hardware PSP. Sebagaimana Dark Resurrection, Tekken 6 juga adalah sebuah game yang must-have bila kamu seorang gamer gitar (gila tarung).

Graphic / Sound: 9.5
Benar-benar nyaris sempurna. Tekken 6 menawarkan variasi tempat tarung yang berbeda, animasi karakter yang sangat halus dari karakter favorit fan ala Jin Kazama, Hwoarang, atau Paul Phoenix, sampai yang kurang dipakai macam Jack-6 atau Roger Jr. Setiap karakter juga didesign dengan berbeda dari pose maupun kostumnya. Kalau kalian bosan dengan kostumnya, ada opsi mengganti penampilan karakter favoritmu dengan membeli aksesoris kustomisasi.

Play Time: 8.5
Kurangnya dukungan bermain online sedikit mengurangi waktu bermain game ini. Toh bagi saya Tekken 6 di PSP adalah training ground-ku. Saya bisa membawa PSPku ke mana-mana sambil berlatih kemampuan, sementara bermain di 360, PS3, ataupun Arcade adalah saat di mana saya bisa unjuk kemampuan hasil latihanku. Hasilnya? Errr… kurang begitu berhasil sih. Saya tetap terkapar menghadapi musuh-musuh. Apa mungkin memang tidak bakat ya main game fighting? *menghela nafas panjang*

Overall: 9.0

Game Details
Developer: Namco Bandai
Publisher: Namco Bandai
Genre: 3D Fighting

Comments (5)

Tags: , , , , ,

Super Pocket Tennis

Posted on 24 December 2009 by Si Tukang Review

Super Pocket Tennis Cover

Super Pocket Tennis Cover

(Review Ditulis Di Tahun 2007)

Super Pocket Tennis adalah ajang berkumpulnya para petenis dunia yang chibi! Tennis adalah sebuah olahraga yang berbeda dengan sepakbola atau basket. Sepakbola mungkin olahraga paling ngetop di dunia, tetapi harus diakui kalau di Amerika kepopulerannya kalah jauh dibandingkan American Football, Baseball, ataupun bola basket. Basket sendiri terlalu berpusat di Amerika. Kendati banyak negara memiliki liga basket mereka toh bintang-bintang NBAlah yang tetap menjadi panutan. Tennis berbeda. Setiap negara memiliki jagoan mereka sendiri, dan walaupun tidak pernah menjadi olahraga nomer satu, tennis selalu punya tempat di hati penggemarnya. Ingat kalau di Indonesia kita pernah punya seorang Yayuk Basuki, Wynne Prakusya, maupun Angelique Widjaja yang mengharumkan nama bangsa ini?

Graphic (7 / 10)

Karakter yang dihadirkan oleh Super Pocket Tennis bernuansa imut dan lucu. Game ini jelas memiliki masalah dengan lisensi pemain mengingat nama mereka semuanya kacau balau (ingat kalau memainkan Winning Eleven jaman dahulu kala yang belum dipermak sehingga namanya jadi berubah? Seperti itulah kira-kira). Toh, kalau kalian adalah pengamat tennis dunia bukan hal yang sulit saya rasa untuk menebak kalau nama petenis wanita jelita bernama Povapova sesungguhnya adalah Maria Sharapova.

Game ini menghadirkan total 20 karakter. 10 karakter pria dan 10 karakter wanita. Masing-masing karakter chibi dalam game ini mampu merepresentasikan karakter mereka di dunia nyata. Saya langsung bisa menebak mana petenis yang adalah Williams bersaudara. Kepala plontos dari Andre Agassi juga langsung bisa saya identifikasi begitu kursor saya memilih petenis bernama Nagasi.

Lapangan yang kita mainkan sendiri memiliki empat variasi (tidak lain tidak bukan merepresentasikan empat kejuaraan grand slam): Grass, Carpet, Hard, dan Clay. Masing-masing lapangan berbeda animasinya. Sayangnya terlepas dari warna lapangannya, saya tidak melihat adanya perbedaan signifikan lain dari lapangan-lapangan ini.

Animasi ayunan raket di dalam game ini malahan terkadang menganggu. Kendati dilakukan dengan detail yang baik tetapi animasi ayunan ini terlalu menutupi jalur bola yang ingin kita pukul. Untungnya saja ini tidak kerap terjadi – tertolong dengan radar mendaratnya bola yang aktif bergerak di lapangan kita.

Sound (5 / 10)

Crappy. Awal dari musik dalam game ini adalah ceria dan happy. Tetapi musik seceria dan sehappy apapun kalau berulang terus dalam kurun waktu dua menit selama berjam-jam akan berubah menjadi sangat – sangat menyebalkan. Variasi musik yang berbeda dalam game ini terlalu sedikit dan hasilnya jadi sangat membosankan dan menganggu. Lagipula sejak kapan game olahraga sebenarnya memerlukan musik latar yang dominan? Sebal mendengarkannya berulang-ulang, tidak sampai waktu sejam buatku untuk mematikan suara PSP supaya tidak mendengarnya lagi ketika bermain.

Sayangnya mematikan suara PSP saya berarti saya juga tidak bisa mendengarkan suara teriakan-teriakan yang muncul ketika karakter-karakter saya memukul bola. Beberapa karakter: seperti Amelie Mauresmo dan Lindsay Davenport bisa direpresentasikan dengan cukup mirip. Tetapi beberapa lainnya seperti Maria Sharapova ngawur sekali dalam presentasi suaranya – jangan mentang-mentang dia cantik dan imut maka suaranya ikut bernada lemah lembut! Kalau D3 memperhatikan detail suara, seharusnya suara lenguhan Sharapova yang menggelegar itu dimasukkan! Yap, cantik-cantik begitu suara Sharapova sudah dikenal sangat buas dan sering dikritik karena dianggap memecah konsentrasi lawan bertandingnya.

Gameplay (5 / 10)

Kelemahan utama game ini adalah tidak adanya tantangan. Bukan kurang tantangan tetapi TIDAK ADA tantangan. Saya tidak bercanda. Bahkan game Tennis garapan Sega yang hadir di handphone Sony Ericsson saja menurutku memberikan lebih banyak tantangan dalam memainkannya dibandingkan dengan game ini.

Mungkin sebagai contoh saya perlu memberi contoh nyata sebagai berikut: karakter yang saya pakai adalah Povapova untuk memainkan game ini. Untuk menjuarai empat turnamen yang Povapova ikuti (dia bahkan berhadapan dengan petenis pria di turnamen tertentu!), dia tidak pernah tuh kehilangan lebih dari dua set dalam satu pertandingan. Hampir pasti skor akan berakhir 6-1, 6-1 untuk kemenangan Povapova. Perkecualian adalah di pertandingan pertama turnamen pertama di mana saya masih belajar kontrol dalam game ini. Saya menang 6-3, 6-1.

Total kontrol dalam game ini hanya ada dua tombol. X untuk pukulan lemah dan O untuk pukulan kencang. Setiap anda memukul bola, akan muncul target di lapangan lawan sehingga anda bisa mengarahkan ke mana bola anda mendarat. Tololnya D3 adalah dia juga memberitahukan kepada kita ke mana bola kita akan dikembalikan oleh musuh! Gamer sebodoh apapun akan tahu di mana karakternya harus bersiap-siap untuk mengembalikan bola lawan! Saya sendiri tinggal menunggu bola kembalian lawan lantas memukulnya ke arah jauh yang tak bisa ia jangkau. 90% dia akan gagal mengembalikan pukulan saya dan 10% adalah dia mengembalikannya dengan bola tanggung yang tinggal menunggu dismash.

Perbedaan karakter-karakter dalam game ini hampir tidak terasa. Kendati statistik dari petenis kedua terbaik Povapova jauh lebih tinggi daripada petenis terburuk Sugihara (Ai Sugiyama dari Jepang kalau kalian tidak tahu siapa nama asli petenis ini) toh pukulan Sugihara nyatanya cukup-cukup saja untuk membuat petenis-petenis terbaik kocar-kacir menghadapinya; kalau kita yang memakainya tentu saja.

Begitu juga empat lapangan yang ada. Menilai game tennis yang baik selalu dilihat dari bagaimana mereka merepresentasikan pantulan bola di lapangan yang berbeda. Game ini gagal total dalam menunjukkannya. Saya merasa pukulanku maupun musuh sama sekali tidak memiliki daya pantul yang berbeda di lapangan yang berbeda. Kalaupun ada, perbedaan itu terlalu kecil untuk menjadi hal signifikan yang bisa mengubah gameplay dan strategi bermain anda. Saya memainkan empat lapangan dengan strategi yang sama. Pukul ke arah yang tak terjangkau oleh lawan anda dan nikmati poin-poin yang anda dapatkan.

Ada lima mini game yang bisa dimainkan kalau kita jenuh mengikuti turnamen-turnamen yang ada (baca: membully lawan-lawan kita). Mini game yang disajikan sebenarnya cukup unik dan bervariasi seperti melawan alien-alien dan melakukan servis ke tempat tertentu. Yang ironis adalah saya lebih bisa menikmati dan mendapatkan tantangan dalam memainkan mini game yang ada ketimbang memainkan turnamen yang sebenarnya

Longetivity (5 / 10)

Saya memerlukan waktu di bawah tiga jam untuk memenangkan semua turnamen yang ada, dan kira-kira itulah umur game ini di mataku. Saya malas sekali mengulang memenangkan game ini dengan karakter lain begitu saya sadar kalau menggunakan mereka persis satu dengan yang lainnya. Tidak ada karakter yang spesial bisa baseline, atau tangguh di depan net. Semuanya bisa terbilang serupa satu sama lainnya. Mungkin memainkan game ini melawan teman lain akan memberikan tantangan lebih: tapi celakanya adalah akan sangat sulit bagi kita untuk menemukan orang yang memiliki game ini. Sedikit keluhan mengenai kepopuleran game ini: saya tidak pernah menggunakan Google demi mencari screenshot sebuah game dan gagal mendapatkan lebih dari 5. Super Pocket Tennis adalah game pertama yang mendapatkan ‘kehormatan’ tersebut.

Hanya tantangan-tantangan yang disediakan oleh mini gamenya yang mungkin membuat saya kembali memainkan game ini. Pasalnya, Super Pocket Tennis tidak memberikan apapun bagi kita untuk membuat kita meliriknya lagi! Ada beberapa achievement (yang sangat mudah diselesaikan) yang bisa kita lihat, tetapi kurangnya (atau bahkan tidak adanya) penghargaan yang signifikan membuat kita jadi kurang tertantang mendapatkan achievement-achievement tersebut. Dan saya masih tidak mengerti kenapa D3 tidak menyediakan sebuah fitur untuk mengkustomisasi karakter-karakter yang ada ataupun karakter kita sendiri.

Editor’s Tilt (6.5 / 10)

Kalau harus jujur mengatakannya, saya cukup enjoy memainkan game ini. Maklum saja, kalau saya biasanya dibully oleh AI komputer ketika memainkan game-game tennis lain, di sini saya bisa gantian membully mereka habis-habisan! Sayangnya kalau AInya sama sekali kurang tantangan apa yang tadinya asyik lama-lama juga menjadi membosankan dan menyebalkan! Saya mencoba berbagai cara untuk meningkatkan kesulitan seperti meningkatkan AI computer ke level tertinggi; cara ini tidak berhasil karena saya tetap menang dengan mudah dan dengan margin yang signifikan. Cara kedua adalah saya mencoba memainkan game ini dengan double, berharap kalau AI pasangan saya mungkin lebih bodoh sehingga berpotensi menyulitkan saya; nyatanya AI lawan saya malahan lebih jongkok lagi sehingga AI pasangan saya jadi super kuat. Halahhh!

Game ini pas sekali untuk anak-anak. Mungkin itulah sebabnya dia diberi label cocok dimainkan untuk anak usia tiga tahun ke atas. Mereka yang perlu tantangan dalam dunia tennis dan tidak perlu hal-hal imut, jangan buang waktu kalian untuk game ini. It’s just not worth the challenge.

Average: 5.7

Game Details
Developer: D3
Publisher: Hune X
Genre: Sport

Comments (0)

Tags: , , , ,

LittleBigPlanet (PSP)

Posted on 25 November 2009 by Si Tukang Review

LittleBigPlanet Cover

LittleBigPlanet Cover

LittleBigPlanet adalah salah satu titel andalan di PS3 saat dirilis tahun lalu. Game ini disebut-sebut sebagai jawaban PS3 akan sebuah game 2D Platform yang bermutu. Dengan moto Play, Create, Share, kawanan Sackboy ini menjadi karakter terimut di mataku tahun lalu. Selain Metal Gear Solid 4, game LittleBigPlanet-lah game yang membuatku menyesal tidak membeli PS3 dulunya. Untung kekecewaan saya sedikit terobati tahun ini ketika Sony mengumumkan bahwa LittleBigPlanet akan dirilis versi PSPnya. Walaupun harus melepas fitur multiplayer empat orang karena keterbatasan hardware PSP, Sony menjanjikan bahwa semua pengalaman konsolnya akan dimasukkan pada versi portabel ini.

Janji Sony bukan omong kosong belaka. Begitu memasuki stage pertama di Australia saja saya sudah dibuat terpana oleh game ini. Apa yang membuat LittleBigPlanet begitu berkesan bukan sekedar ketajaman grafisnya saja tetapi juga keindahan dari tiap-tiap stagenya. Hampir setiap stagenya didesign sesuai dengan tema benua / negara yang bersangkutan. Usai berpetualang bersama para aborigin di Australia, saya dibawa singgah ke Asia Timur, lengkap dengan sang Kaisar dan sang naga. Demikian seterusnya seperti di India dan Arab Saudi, LittleBigPlanet terus membuatku terpana dengan design setiap stagenya yang merupakan campuran dari 2.5D Platform (karena Sackboy bisa bergerak maju mundur dalam dua bidang) dan puzzle (karena ada beberapa teka-teki yang harus kamu selesaikan sebelum kamu bisa melanjutkan ke arena berikutnya).

Kemudian Sackboy sendiri adalah karakter karung goni dengan zipper di tengah. Sekilas lalu designnya mengingatkan pada karakter-karakter dalam film 9. Sepanjang perjalanannya Sackboy akan mengumpulkan bola-bola kristal seperti halnya Mario mengumpulkan koin atau Sonic mengumpulkan cincin. Akan tetapi tujuan utamanya berbeda. Dalam LittleBigPlanet tidak ada yang namanya Game Over sehingga mengambil bola kristal tidak digunakan untuk 1-Up. Sebaliknya beberapa bola kristal besar yang dikumpulkan oleh Sackboy itu berisi bahan-bahan untuk memodifikasinya! Apabila kamu berada di negara India misalnya, game ini akan menyediakan bahan kostum Sultan atau penari eksotis India bagi Sackboy. Tentu saja selain tampilan defaultnya, kamu bisa berkreasi sendiri mencampur-campurkan bahan ini dan itu untuk menciptakan kostum yang total orisinil buat Sackboy. Pernah lihat bagaimana ada Sackboy versi Solid Snake, Sonic, atau Mario? Asal kamu kreatif, kamu pasti juga bisa membuatnya!

Oke. Kalian mungkin sudah bisa menangkap elemen Play dalam LittleBigPlanet. Toh semua game platform juga memiliki esensi ‘bermain’ di dalamnya. Tetapi bagaimana dengan dua aspek lainnya Create dan Share? Ingat bola kristal yang tadi saya sebut bisa dikumpulkan selama permainanmu? Nah bola kristal besar itu tidak hanya berisi aksesoris untuk mendandani Sackboy saja, tetapi juga elemen-elemen untuk menghias levelmu. Menurut saya ini adalah langkah yang brilian karena game ini diam-diam memaksa kita untuk mengumpulkan semua bola kristal yang ada karena bola kristal tersebut langsung memiliki fungsi yang berguna. Dalam fitur level editor yang terbuka di awal-awal game, kamu diberi stage kosong di mana kamu bisa menggunakan semua elemen yang sudah kamu kumpulkan dalam game utama. Nah, seperti kata-kata awal game ini: daya imajinasimulah yang selanjutnya bekerja. Fitur Share - seperti yang mungkin sudah bisa kalian tebak - adalah kemampuan kalian untuk mengupload stage yang sudah kalian ciptakan ke dalam Playstation Network supaya bisa diunduh oleh gamer lain di sekeliling dunia.

Ah, tapi siapa sih yang mau sulit-sulit membuat stage? Saya tidak mau!” begitu mungkin yang kalian pikirkan. Tetapi mari kita mencoba berhitung matematika. Sampai saat ini jumlah pembeli game LittleBigPlanet PS3 sudah mencapai lebih dari 1 juta kopi, dan saya percaya angka penjualan PSP bisa lebih tinggi lagi dari itu mengingat lebih banyak orang memiliki PSP ketimbang PS3. Sekarang anggap saja ada 1% pengguna yang memutuskan untuk mencoba menciptakan level mereka sendiri, dan itu berarti sudah ada 10000 level yang tercipta. Sekarang anggap lagi ada 1% saja di antara level tersebut yang berkualitas tinggi dan sekurang-kurangnya kamu punya 100 level yang bisa kamu unduh buat dimainkan di PSPmu! Teknologi sharing sudah mengubah dunia internet dengan banyaknya aplikasi buatan perseorangan yang dijual di iTunes Store. LittleBigPlanet bisa menjadi pijakan pertama dalam dunia game!

Singkat kata, bilapun ada kekurangan dari LittleBigPlanet, itu adalah dihilangkannya fitur bermain empat orang. Selebihnya, ini adalah titel fantastis yang harus dimainkan oleh setiap pemilik PSP.

Final Verdict

Gameplay: 7.5
Sebenarnya gameplay yang ditawarkan oleh LittleBigPlanet sama saja dengan 2D Platform lainnya. Malahan terkesan lebih sederhana karena Sackboy tidak memiliki power-up apapun seperti Mario atau Sonic. Yang menjadi daya tarik utama di sini adalah kebebasan gamer memodifikasi Sackboy dan menciptakan level sendiri untuk dishare di internet. Oh, kontrol dalam LittleBigPlanet kadang responnya terasa agak lambat, walau tidak sampai sangat menganggu permainan.

Graphic / Sound: 9.0
Mantap sekali. Presentasi dalam game ini seakan membawa kita memasuki dunia imajinasi. Mulai dari detail dunia hingga pencampuran warnanya, sampai pada narasi pembawaan ceritanya yang ala dongeng pengantar tidur.

Play Time: 8.0
Oke, level default dalam game ini memang tidak banyak. Tetapi seperti yang saya katakan sebelumnya, terlepas apakah kamu orang yang suka menciptakan level sendiri atau sekedar memainkan level buatan orang lain, LittleBigPlanet bisa menyedot waktumu. Bayangkan saja, bila kamu seorang pencipta kamu akan menghabiskan berjam-jam dari waktumu menciptakan sebuah level yang menarik untuk dimainkan orang lain. Sebaliknya bila kamu pemain, ada puluhan bahkan mungkin ratusan level buatan gamer lain yang bisa kamu jajal.

Overall: 8.3

Game Details
Developer: SCE Studio Cambridge
Publisher: Sony Computer Entertainment Europe
Genre: Action Adventure / 2D Platform

Comments (7)

Tags: , , , , ,

Assassin’s Creed: Bloodlines

Posted on 21 November 2009 by Si Tukang Review

Assassin's Creed: Bloodlines Cover

Assassin's Creed: Bloodlines Cover

Assassin’s Creed mendapatkan pujian banyak orang ketika keluar pada tahun 2007 lalu. Ceritanya inovatif karena menggabungkan mitos dan sejarah mengenai para ksatria Templar dan perang salib juga karena memposisikan pemain pada karakter yang tidak biasa sebagai seorang keturunan assassin yang ‘dipaksa’ bersinkronisasi dengan sang nenek moyang. Hasilnya adalah sebuah game yang merupakan paduan dari GTA dan Metal Gear Solid pada abad pertengahan. Formula ini terbukti sukses besar. Melihat kesuksesannya, Ubisoft dengan cepat mengembangkan game ini menjadi sebuah franchise. Spin-off pertama dirilis pada Nintendo DS dengan judul Assassin’s Creed: Altair Chronicles. Game ini sayangnya kurang begitu sukses karena keterbatasan hardware DS mengubah sistem stealth dan free-roaming game ini menjadi sidescrolling dua dimensi. Tidak jelek, tetapi terlalu berbeda dengan apa yang diharapkan orang. Pada tahun 2009 ini, tiga game dirilis secara hampir bersamaan. Versi konsol next-gen mendapatkan Assassin’s Creed II, versi DS mendapatkan (lagi-lagi) spin-off dari Assassin’s Creed II, sementara PSP diberi jatah Assassin’s Creed: Bloodlines. Walau juga tergolong spin-off, Bloodlines adalah sebuah titel yang penting karena memiliki cerita penyambung dari game pertama dan keduanya.

Karena hardware PSP jauh lebih kuat dari DS maka gameplay dalam Bloodlines pun meniru versi konsolnya. Ini berarti untuk pertama kalinya gamer bisa merasakan sensasi bermain sebagai Altair yang mengendap-endap dan menghabisi lawannya di versi portabel. Sayangnya ini tidak selalu menjadi hal yang bagus. Kenapa? Walaupun PSP memang jauh lebih unggul dibandingkan DS, tetap saja kekuatan hardwarenya tidak bisa dibandingkan dengan sistem konsol, dan sangat sedikit versi port PSP yang bisa meniru kesuksesan versi konsolnya. Apalagi Assassin’s Creed yang berusaha ditiru oleh PSP merupakan game next-gen bukan game PS2. Hasilnya terlihat saat dimainkan: kota-kota seperti Yerusalem yang nampak begitu hidup di Assassin’s Creed kini berubah lokasi menjadi kepulauan Siprus yang sepi dan minim penghuni. Tentu saja ini menjadi kelemahan karena daya tarik utama Assassin’s Creed adalah menghabisi para serdadu dengan mengendap-endap lantas dengan cepat membaur di tengah kerumunan massa. Di sini boro-boro mau membaur, kadang saja saya berada di tengah kota seorang diri.

AI musuh dalam game ini juga mengundang tanda tanya. Serdadu dalam game ini kebanyakan bodoh sehingga tidak seru ketika dibunuh. Salah satu skenario yang paling tolol terjadi di game ini adalah ketika saya menghabisi seorang serdadu tepat di depan temannya. Boro-boro sang teman terusik, dia malah berlalu dengan santainya (tentu saja saya menikam dia dari belakang lagi setelahnya). Kalaupun Altair sampai tertangkap oleh musuh, sekedar berlari ke sana-sini saja sudah cukup untuk melepaskan diri dari kejaran musuh sehingga membuat prinsip stealth di sini seperti mubazir. Walhasil, satu-satunya kesulitan yang saya temui hanya ketika bertemu dengan boss-boss dalam game ini, terutama di atas stage ketiganya.

Bicara soal panjang game ini, Bloodlines tergolong singkat. Game ini terdiri dari enam chapter / stage yang masing-masing bisa diselesaikan dalam tempo kurang lebih satu hingga dua jam. Bila kamu sudah pernah main versi konsolnya, mungkin bisa lebih cepat lagi walaupun kamu harus terlebih dahulu beradaptasi dengan sistem kontrolnya. Kalau skenario utama sepanjang delapan hingga sepuluh jam itu kamu nilai pendek, Bloodlines juga menawarkan beberapa misi sampingan yang bisa kamu dapatkan dengan berbicara pada orang-orang tertentu. Saya sih biasanya melewatkan misi-misi itu karena kurang menarik dan monoton (biasanya misinya terbatas pada mencegat dan menghabisi orang tertentu atau menolong para penduduk yang dianiaya oleh serdadu yang sewenang-wenang).

Bloodlines bukannya penuh dengan kelemahan saja. Ubisoft sepertinya tidak mau dicap sekedar seenaknya membuat game ini jadi walaupun kota-kota Limassol atau Kyrenia tidak sepadat dan sehidup Yerusalem, mereka tetap kota yang impresif untuk ukuran game PSP. Belum lagi kamu akan dibawa menjelajahi berbagai variasi daerah. Dari tempat pasar yang (tidak terlalu) ramai, dermaga yang dikuasai bajak laut, hingga penjara bawah tanah kastil-kastil Eropa kuno.

Assassin’s Creed: Bloodlines adalah sebuah game yang apik untuk PSP, tetapi dia tidak bisa memenuhi harapan tinggi yang diminta. Ini adalah game yang saya rekomendasikan kepada penggemar berat franchise ini - dan hanya mereka saja. Oh sedikit peringatan, game ini tidak mau bersusah payah menjelaskan dasar cerita dalam Assassin’s Creed pertama walau sebenarnya merupakan sekuel langsung dari game tersebut. Bila kalian tidak pernah memainkan game pertamanya, saya sarankan mencari informasi cerita game tersebut dahulu.

Final Verdict

Gameplay: 6.0
Kegembiraan membunuh para musuh-musuh menjadi berkurang karena AI mereka yang bodoh. Penjelajahan juga kurang menarik karena kotanya terkesan kosong melompong (walau diakali oleh cerita dengan menyebut bahwa penduduk ketakutan). Kendati begitu masih tersisa sedikit kejayaan versi konsolnya ketika membawa Altair melompati atap-atap gedung kuno. Seakan jadi Spider-man masa medieval!

Graphic / Sound: 9.0
Di luar kekurangan minor kota yang kurang hidup, saya tak punya keluhan lain untuk Bloodlines. Altair memiliki render yang mumpuni dan berbagai variasi gerakan. Menyaksikan dia membunuh musuh diam-diam juga memiliki beberapa animasi sehingga tidak pernah membosankan. Juga selalu ada voice-over untuk setiap dialog cutscene.

Play Time: 6.5
Waktu delapan hingga sepuluh jam adalah waktu normal untuk sebuah game adventure. Setidaknya Bloodlines masih lebih panjang ketimbang God of War: Chain of Olympus walau untuk kategori free-roaming masih terasa pendek dibanding game PSP sejenis, GTA port anyone?

Overall: 7.1

Game Details
Developer: Griptonite Games
Publisher: Ubisoft
Genre: Action Adventure

Comments (0)

Tags: , , , ,

Half-Minute Hero

Posted on 15 November 2009 by Si Tukang Review

Half-Minute Hero Cover

Half-Minute Hero Cover

Kalau ada yang menanyakan kepadaku game PSP apa yang paling berkesan tahun ini, saya pasti menjawab Half-Minute Hero. Kok bisa, padahal tahun ini PSP banyak sekali mendapatkan port dari versi konsol Playstation 1 dan 2 (Persona, Disgaea 2, dan banyak lagi) sampai downgrade dari versi Playstation 3 (Little Big Planet, Assasin’s Creed, Soul Calibur IV, dan lain-lain). Jawabannya: karena Half-Minute Hero memiliki sesuatu yang tidak dimiliki game-game PSP yang lain. Di balik grafisnya yang bergaya 8-bit, terselip sebuah gameplay orisinil… tamatkan RPG dalam waktu hanya 30 detik saja! Tidak percaya?

Game Half-Minute Hero terbagi dalam empat skenario yang menyuguhkan elemen gameplay yang berbeda-beda. Hero 30, Evil Lord 30, Princess 30, dan Knight 30 yang baru bisa diunlock setelah menyelesaikan tiga mode di atas. Menyelesaikan keempat mode tersebut akan membuka bagian terakhir dari Half-Minute Hero. Mengingat empat cerita ini terjadi pada periode yang berbeda-beda namun dengan karakter yang memiliki kaitan erat satu sama lain, bagian terakhir tentunya adalah kulminasi dari cerita keempat skenario itu.

Mode permainan utama, sekaligus yang paling menyita waktu, adalah Hero 30. Dalam rata-rata game RPG, pemain sudah biasa menghabiskan puluhan jam untuk mencari item, level-up, dan mengikuti cerita. Tidak demikian dalam Half-Minute Hero. Para penjahat kakap dunia (Evil Lord) kini memiliki sihir maut yang bisa mengakhiri dunia dalam waktu 30 detik saja. Itu berarti kamu sebagai sang jagoan harus bisa mengatur baik-baik waktumu, menaikkan level, mencari uang untuk membeli senjata, lantas menggempur dan mengalahkan para Evil Lord yang mengeluarkan mantera tersebut. Bila hal ini tidak memungkinkan, maka Time Goddess yang ada di sisimu bisa memutar balik waktu kembali menjadi 30 detik. Eits, jangan kira kamu bisa seenaknya memutar balik waktumu terus menerus karena sang dewi waktu ini mata duitan dan akan terus mengambili uangmu setiap kamu memutar balik waktu.

Evil Lord 30 memiliki mode gameplay yang total berbeda - walau memiliki batasan waktu 30 detik yang sama. Kamu sebagai Evil Lord bisa mensummon monster untuk melawan musuh-musuhmu. Gameplay ini bergenre Real Time Strategy sederhana di mana setiap monster yang kamu hadapi dan kamu summon terbagi dalam tiga kelas: Lincah, Barbar, dan Penembak. Lincah lemah menghadapi kaum Barbar, tetapi tangguh untuk Penembak. Sebaliknya Penembak yang kurang efektif menghadapi Lincah sangat efektif menghadapi Barbar. Dalam mode ini dituntut kejelian kamu melihat musuh macam apa yang kamu hadapi, dan monster seperti apa yang harus kamu keluarkan untuk melawannya. Tentu saja seperti perang sungguhan, kemunculan bantuan musuh yang tiba-tiba bisa mengacak-acak strategimu. Fleksibelkah kamu mengatasinya?

Untuk Princess 30, mode ini terbilang paling sederhana (dan bisa paling cepat diselesaikan) dibandingkan dengan mode lainnya. Sebagai sang putri yang ingin menyembuhkan ayahnya yang sakit, kamu didampingi (tepatnya diangkat) oleh para ksatriamu masuk ke dalam berbagai kawasan liar. Senjatamu yang handal adalah tembakan panahmu. Tipe permainannya seperti game shoot-em-up yang lagi-lagi dibatasi oleh waktu 30 detik. Artinya kamu harus berpacu secepat mungkin untuk menembaki musuh, menghindari serangan mereka (karena walau tidak bisa membunuh tapi akan memperlambat gerakanmu), dan menyelesaikan level tersebut di bawah setengah menit.

Terakhir adalah mode Knight 30. Mode ini adalah mode kedua favoritku setelah Hero 30. Di sini waktu bukan lagi ‘musuh’mu seperti pada ketiga mode sebelumnya melainkan temanmu. Sebagai ksatria, kamu harus melindungi seorang penyihir (sage) dari para monster yang menyerangnya. Uniknya, sang sage ini bisa merapal mantra untuk membunuh semua monster tetapi memerlukan waktu… yap, seperti yang kamu duga, 30 detik. Ketangkasanmu sebagai ksatria untuk menjaga nyawa sang Sage adalah kunci utama menyelesaikan mode ini.

Bila dilihat dari screenshot game ini, kamu mungkin akan berpikir “Apa-apaan ini game PSP dengan grafis ala Nintendo jadul gini?”. Justru dengan grafis yang seperti ini, Half-Minute Hero berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan oleh beberapa RPG yang berusaha mengusung (I’m looking at you Nostalgia and Black Sigil): rasa kangen terhadap game-game RPG jaman dulu. Nuansa 8-bit yang kental itu kian kentara ketika saat percakapan dan wajah karaktermu dibesarkan di layar, semuanya nampak pecah dan terlihat pixel-pixelnya. Saya sempat kaget dengan grafis ini, apa lagi karena di beberapa detik opening movienya terlihat kualitas gambar animasi yang sangat halus. Toh, kekagetan saya tak berlangsung lama dan berganti jatuh hati pada keimutan yang ditawarkan game ini. Audionya walaupun tidak membawa musik jaman NES juga sangat impresif dan berhasil menghidupkan momen-momen dalam game ini, mulai dari momen yang jayuz sampai pada momen-momen singkat yang menyentuh hati.

Singkat kata: bila kamu pemilik PSP yang rindu akan RPG orisinil yang bermutu untuk handheldmu, Half-Minute Hero adalah jawaban dari mimpimu. Jangan lewatkan game ini.

Final Verdict

Gameplay: 9.0
Benar-benar inovatif dan mendobrak anggapan bahwa RPG harus memakan waktu puluhan jam untuk dimainkan. Selain mode utama Hero 30 juga ada tiga mode lain yang menawarkan gameplay yang berbeda-beda supaya kamu tidak bosan. Uniknya, semua cerita pada masing-masing mode baru bisa dimengerti kaitannya ketika kamu memasuki babak terakhir game ini.

Graphic / Sound: 8.0
Nuansa 8-bit sangat terasa pada presentasinya tetapi justru itulah yang membuat Half-Minute Hero berbeda dengan game-game RPG lain. Dengan segala kesederhanaan yang ia tawarkan, gabungan dari grafis 8-bit dengan artwork anime dan musik techno-rock yang dominan, menjadikan game ini langsung tampil beda dari begitu banyaknya RPG serupa tapi tak sama yang menyerbu pasar akhir-akhir ini.

Play Time: 7.0
Game ini bisa kamu selesaikan dalam kurun waktu 10 - 15 jam namun masih ada satu mode bonus (dan mode ini sangat menantang untuk dimainkan) juga fitur multiplayer untuk memainkan game ini bersama dengan kawanmu. Siapa yang menjadi pahlawan sejati sebenarnya?

Overall: 8.0

Game Details
Developer: Opus
Publisher: Marvelous
Genre: RPG

Comments (3)

Tags: , , , ,

Unbound Saga

Posted on 14 November 2009 by Si Tukang Review

Unbound Saga Artwork

Unbound Saga Artwork

Setelah era 32-bit, nampaknya genre beat-em-up kian terlupakan. Di jaman Playstation berjaya itu saja jumlah game beat-em-up sudah menurun secara signifikan bila dibandingkan dengan saat kejayaannya di era 8 dan 16-bit. Kini beat-em-up bahkan sudah menjadi sebuah genre yang jarang mendapat game. Karuan saja ketika game berjudul Unbound Saga dirilis untuk PSP, saya menyambutnya dengan antusias. Genre beat-em-up memang salah satu genre favoritku mengingat saat aku kecil, aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam main Double Dragon, dan menghabiskan puluhan koin bermain Final Fight di ding dong arcade.

Salah satu game petualangan bercampur beat-em-up yang kuingat adalah Comix Zone karena nuansa atmosfirnya yang menarik. Game yang dirilis Sega tersebut bercerita mengenai pengarang komik bernama Sketch yang terjebak di dalam komiknya karangannya sendiri, sementara Mortus sang penjahat utama komik tersebut meloloskan diri. Comix Zone memiliki corak artwork dan gameplay yang menarik karena Sketch berpetualang dalam dunia komik, berarti ia bisa bergerak dari satu panel ke panel lain buku komik. Konsepnya tergolong unik dan menarik - bahkan untuk jaman sekarang. Kini developer Vogster Entertainment berusaha mengambil pendekatan yang sama untuk Unbound Saga.

Rick mungkin tergambar sebagai orang berbadan besar yang bodoh. Badannya besar sehingga dia pas untuk menjadi bodyguard - tetapi tunggu dulu, mungkin otaknya tidak semelompong yang kamu kira. Rick sadar bahwa dirinya hanya seorang karakter di buku komik, dan dia benci dengan kehidupannya di mana ia berulang kali dihadapkan pada kejadian yang ia tidak suka hanya karena The Maker menulis dan menggambar demikian (sebagai catatan: The Maker ini adalah penulis komiknya tentu saja). Teknik penceritaan di mana sang karakter sadar bahwa dia adalah karakter komik dan berinteraksi dengan pembaca (dalam hal ini gamer) disebut teknik Breaking the Fourth Wall. Rick juga terus mencari cara untuk meloloskan diri dari kehidupan semunya tapi ia selalu gagal. Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan gadis misterius bernama Lori yang mengajaknya kabur. Rick mau tidak mau ikut dengan Lori, walaupun ia masih curiga kalau jangan-jangan petualangannya dengan Lori hanyalah bagian dari skenario cerita yang dirancang The Maker. Toh tidak ada jalan bagi Rick untuk mengetahui kenyataan selain menghajar segudang musuh di hadapannya.

Apa yang harus saya jelaskan mengenai gameplay beat-em-up? Sederhana: hajar segala apapun yang bergerak di layar selain rekanmu. Dalam Unbound Saga kamu bisa memakai Rick atau Lori. Saya pribadi lebih menyukai Rick karena walaupun ia lambat tetapi tenaga pukulannya besar dan staminanya lebih tahan dalam menerima serangan. Lori sebenarnya juga tidak jelek karena ia lebih tangkas dan bisa bersembunyi di titik-titik tertentu untuk menyerang musuh diam-diam. Saran saya adalah supaya kamu membiasakan diri memakai keduanya karena akan ada waktu-waktu tertentu game ini memaksamu hanya memakai Rick atau Lori saja. Selebihnya, kamu bebas berganti karakter dengan menekan tombol Select selama dalam permainan. Karakter yang tidak kamu kendalikan bakalan otomatis dikendalikan oleh AI. Uang koin yang kamu dapat setelah menghajar musuh nantinya bisa kamu pakai untuk membeli kemampuan-kemampuan baru bagi Rick dan Lori.

Saya heran dengan Vogster Entertainment. Apa sulitnya sih membuat sistem gameplay sebuah beat-em-up? Seharusnya tidak ada mengingat ini genre yang simpel dan sudah tergarap dalam ratusan game. Toh nyatanya ketika memainkan Unbound Saga saya menemukan segudang masalah yang sangat menyebalkan. Gerakan animasi karakter Rick dan Lori saya nilai kaku dan lambat, sesuatu yang tidak bisa dimaafkan untuk game PSP dan jelas menganggu kenyamananku menghajar para musuh. Kebanyakan kemampuan yang kamu pelajari dalam game ini juga tidak ada gunanya karena pada akhirnya kemampuan yang berguna paling hanya satu dua saja, sementara kamu akan mengandalkan rutinitas menekan tombol pukulan atau tendangan secara berulang-ulang.

Setidaknya Unbound Saga menebus dosanya dengan kualitas audio visual yang luar biasa. Kalau kalian membaca review Spider-Woman: Origin yang saya tulis, di sana saya menyebutkan kalau motion comic kini dicoba diterapkan oleh Marvel dalam bentuk digital. Rupanya Top Cow (penerbit komik lain di Amerika) tidak mau kalah. Cut-scene dalam Unbound Saga juga digarap dengan cutscene yang persis seperti motion comic yang dibanggakan Marvel. Animasi, dialog, sampai pengisian suara para karakternya sempurna. Tidak hanya dalam cutscene, selama permainan kamu juga dibawa masuk dalam dunia komik di mana semua bisa saja terjadi. Ada satu kali Rick dan Lori bertemu dengan grup gelandangan sementara di lain waktu mereka berhadapan dengan hujan manusia serigala (iya, hujan werewolf).

Unbound Saga sukses-sukses gagal di mataku. Sebagai penggemar beat-em-up saya jelas tidak akan melewatkan game ini, tetapi rasanya masih perlu menunggu sebuah masterpiece lain untuk mengembalikan genre ini pada masa keemasannya.

Final Verdict

Gameplay: 4.0
Kontrolnya terasa kaku dan kurang pas. Kadang Rick sudah ada di hadapan musuh dan pukulanku bisa melenceng. Kedua karakter juga dibuat kurang berimbang di mana Rick jelas-jelas lebih tangguh dibandingkan Lori. Gameplay modenya juga terasa kurang sekali. Selain Story Mode (yang tidak mengijinkanmu main berdua bahkan dalam mode wireless atau Wi-Fi) hanya adalah Survival Mode; sebuah mode di mana kamu harus bertahan hidup selama mungkin dengan menghabisi musuh sebanyak mungkin.

Graphic / Sound: 9.0
Aspek terbaik dalam Unbound Saga yang sangat mungkin ‘menipu’ banyak orang menjajal game ini. Cutscene yang ia sajikan adalah elemen terbaik dalam komik ini, digarap dengan kualitas tinggi dan sangat profesional. Dalam in-gamenya sendiri karakter Rick dan Lori memiliki gerakan animasi dan jurus yang berbeda dan bermacam-macam. Musiknya sendiri merupakan campuran rock, metal, punk yang merepresentasikan masa depan suram dunia saat itu.

Play Time: 5.5
Terbagi dalam 10 chapter yang masing-masing bisa diselesaikan dalam waktu 15 - 20 menit, permainan Unbound Saga tergolong standar untuk game beat-em-up. Sayangnya selain daya tarik pada jalan ceritanya, tidak ada alasan untuk memainkan game ini kali kedua, sebuah nilai minus besar untuk genre yang menonjolkan nilai replayabilitynya.

Overall: 6.2

Game Details
Developer: Vogster Entertainment
Publisher: Vogster Entertainment
Genre: Action / Beat Em Up

Comments (0)

Tags: , , , , , , ,

Soulcalibur: Broken Destiny

Posted on 28 September 2009 by Si Tukang Review

Soulcalibur: Broken Destiny Cover

Soulcalibur: Broken Destiny Cover

Mengingat Bandai Namco memiliki dua franchise tenar dalam game fighting: Tekken dan Soul Calibur, bukan hal yang mengherankan bahwa mereka membawa franchise Soul Calibur ke PSP. Sebelumnya pun developer ini sudah mendapatkan banyak pujian setelah sukses mengadaptasi Tekken 5 menjadi Tekken 5: Dark Ressurection. Bahkan, game tersebut masih dianggap sebagai game fighting terbaik di PSP walau sudah berusia tiga tahun lebih. Tentu saja masalahnya tidak segampang itu untuk Soulcalibur: Broken Destiny. Tekken 5 yang menjadi basis Dark Ressurection adalah game PS2 yang teknologinya notabene hampir seimbang dengan PSP. Nah, masalahnya Broken Destiny adalah adaptasi dari Soulcalibur IV yang hadir untuk konsol-konsol next-gen seperti PS3 dan 360. Bagaimana Bandai Namco mengakali hal ini?

Jawaban dari pertanyaan itu adalah downgrade grafis. Jangan membandingkan Broken Destiny dengan Soulcalibur IV karena kamu dijamin akan kecewa. Tetapi bila dibandingkan dengan kebanyakan game PSP yang ada, Broken Destiny boleh menepuk dada dengan bangga. Selain Dark Ressurection dan Final Fantasy: Dissidia, sulit menemukan game fighting yang memiliki grafis seimpresifnya. Dalam game ini kamu bisa memainkan satu dari 28 karakter yang ditampilkan. Yoda dan Darth Vader yang menjadi bonus di sistem konsolnya absen dalam versi kali ini, tetapi sebagai gantinya Broken Destiny menyediakan karakter baru bernama Dampierre dan sang dewa perang Kratos (iya, Kratos dari God of War). Selain dua karakter baru ini, fitur menciptakan sendiri karaktermu masih dipertahankan Broken Destiny sehingga kamu bisa menciptakan macam-macam karakter seturut kreatifitasmu.

Soulcalibur sudah lama dikenal sebagai sebuah game fighting yang sistemnya gampang untuk dipelajari tapi sulit untuk dikuasai. Setiap karakter memiliki ciri khas mereka sendiri. Mengingat semua karakter sudah diambil dari versi Soulcalibur IV saya akan lebih banyak membahas mengenai dua karakter barunya. Dampierre adalah tokoh yang sulit-sulit gampang untuk dikendalikan karena gerakannya yang nyentrik. Ia memadukan gaya tolol ala Drunken Master (cuma kali ini versi orang Eropa) dengan senjata yang tersembunyi di bajunya. Kalau kamu bukan veteran Soulcalibur, saran saya adalah pakai karakter lain dulu sebelum menjajal Dampierre. Sebaliknya Kratos adalah salah satu karakter yang agak overpowered dalam game ini. Gerakannya gampang dipelajari dan murka Kratos yang serangannya menggebrak ke sana-sini menjadikannya karakter yang harus kamu waspadai. Animasi dari Kratos sendiri sangat fluid (diambil dari Chain of Olympus mungkin?) dan lebih mudah menyatu dengan para jagoan-jagoan Soulcalibur lainnya. Bandingkan dengan saat Yoda dan Darth Vader melawan Mitsurugi atau Sophitia. Keren sih keren… tapi apa masuk akal? Ah, buat kamu yang sudah main Soulcalibur IV, berbahagialah karena sistem-sistemnya seperti Soul Gauge, Soul Crushes dan Critical Finishes masih dipertahankan. Omong-omong soal Critical Finishes, kalian harus lihat versinya Dampierre yang amat sangat dodol (dan kocak).

Sayangnya walaupun kontrol, gameplay, dan grafis Soulcalibur mumpuni, kekurangan game ini terletak pada kurang variatifnya menu yang ditawarkan. Tidak ada Story Mode dalam Broken Destiny jadi kalau kamu kelewatan Soulcalibur IV dan ingin tahu ceritanya dari Broken Destiny - yah, siap-siap kecewa saja. Sebagai ganti Story Mode, kamu justru diberi The Gauntlet, sejenis mini-game merangkap tutorial yang ceritanya super tolol dan kocak. Kamu dijamin terbahak-bahak melihat karakter-karakter favoritmu bertingkah bagaikan orang idiot dalam mode ini. Sayang, selucu apapun cerita yang ditawarkan, The Gauntlet pendek dan tidak akan makan waktu lama sebelum kamu kemudian menyelesaikannya (atau bosan karenanya). Selain The Gauntlet, satu-satunya daya tarik utama dari Broken Destiny tinggal Quick Match yang memasukkanmu dalam ruang virtual di mana kamu bisa memilih lawan-lawanmu. Ada satu lagi mode bernama Trial tetapi mode ini seperti Survival Mode yang memang jarang kusentuh dalam game fighting.

Kekurangan mode permainan hanya satu dari dua kesalahan fatal Broken Destiny. Kesalahan kedua yang lebih parah adalah absennya fitur memainkan game ini online. Kenapa fitur ini tidak dimasukkan membuat saya tidak habis pikir. Blunder besar Bandai Namco! Di tengah kemajuan teknologi dan kecepatan internet, tidak memasukkan fitur bertarung dengan para petarung di seluruh dunia terasa seperti kesempatan emas yang disia-siakan. Apa boleh buat, satu-satunya cara untuk menjajal lawan manusia yang lain hanyalah menggunakan fitur wireless PSP, yah setidaknya tidak ada lag dalam pertarungan nirkabel.

Lepas dari dua kekurangan utama itu, Broken Destiny masih sebuah game yang harus kamu miliki bila kamu adalah pecinta game fighting. Sudah saatnya memensiunkan Dark Ressurection dan membawa para jagoan berpedang ini untuk jalan-jalan.

Final Verdict

Gameplay: 8.0
Di mana Story dan Arcade mode yang seharusnya menjadi fitur wajib dari setiap game fighting? Untung saja gameplay dalam Broken Destiny sekuat versi konsolnya. Ini adalah game yang dengan mudah menyedot puluhan jam dalam hidupmu dan menghipnotismu menguasai jurus-jurus para karakternya.

Graphic / Sound: 9.5
Selain grafisnya yang di atas rata-rata, saya ingin berterima kasih kepada Bandai Namco yang memberi fitur dua suara dalam game ini (Jepang dan Amerika). Developer lain, contohlah mereka!

Play Time: 7.5
Dengan sedikitnya mode single player yang bisa kamu mainkan dan sulitnya mencari lawan tanding (temanmu yang punya PSP, suka game fighting, sekaligus punya Broken Destiny paling-paling ada berapa gelintir sih?) menjadikan nilai main game ini turun. Seru sih seru, tapi game fighting kan paling asyik bila mengadu dengan orang lain.

Overall: 8.3

Game Details
Producer: Bandai Namco
Developer: Bandai Namco
Genre: 3D Fighting

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Crimson Gem Saga

Posted on 12 September 2009 by Si Tukang Review

Crimson Gem Saga Cover

Crimson Gem Saga Cover

Memainkan Crimson Gem Saga membuat saya menyadari dua hal. Yang pertama adalah old-school RPG tidak mungkin mati. Setelah game Black Sigil buat DS, kini ada Crimson Gem Saga yang mengusung semangat RPG-RPG jaman 16-bit. Hal kedua yang saya sadari setelah memainkan game ini adalah developer game Korsel semakin mengejar Jepang. Ya, kalian tidak salah baca. Crimson Gem Saga adalah game garapan IronNos / SK Telecom yang kemudian dibawa ke Amerika oleh Atlus. Tahu sendiri kan bagaimana Atlus biasanya getol merilis RPG-RPG nyentrik dari Jepang ke Amerika? Keberhasilan Crimson Gem Saga menarik perhatian Atlus ini tentunya layak mendapat catatan sendiri. Saya tahu kalau dunia gaming Korsel bukannya asing sama sekali. Toh, game online fenomenal Ragnarok Online dulu juga datang dari Korsel. Hanya saja patut dicermati bahwa kebanyakan game dari developer Korsel dulunya online atau arcade dan Crimson Gem Saga adalah satu dari pengecualian yang langka.

Kisah dalam game ini diawali saat kelulusan Killian dari akademi tentara Green Hill. Walaupun ia sangat berbakat, Killian seakan terkutuk untuk selalu menjadi yang nomer dua. Tak berapa lama setelah kelulusannya, Killian direkomendasikan untuk bergabung dalam kesatuan elit Excelsior Force. Dalam tugas pertama Killian mengambil Wicked Stone, kesatuan Excelsior Force bertemu dengan musuh yang luar biasa kuatnya. Saya katakan luar biasa karena kesatuan Excelsior Force yang jumlahnya puluhan - bahkan ratusan orang - pun terbantai habis. Satu-satunya yang tersisa adalah Killian yang saat cedera parah diselamatkan nyawanya oleh seorang pemburu harta bernama Spinel. Killian mengiyakan ajakan Spinel untuk mencari Wicked Stone dengan tujuan mencari orang yang membantai kesatuannya dan menuntut balas dari orang tersebut. Ia belum sadar bahwa dirinya akan segera terlibat konspirasi lebih besar dan menyemenkan jalannya dalam petualangannya menyelamatkan dunia.

Cerita dalam Crimson Gem Saga - seperti yang saya tulis di atas - memang klise selayaknya cerita old-school RPG. Ada beberapa plot twist sepanjang cerita, tetapi tidak ada yang sampai membuatmu terperangah. Dalam perjalanannya pun Killian akan bertemu dengan sekutu maupun musuh dan untungnya saja semuanya memiliki karakter yang berbeda-beda serta unik. Kayanya karakter yang ditemui Killian sepanjang perjalanannya inilah yang membuat dunia serta permainan kita kian berwarna dan tidak membosankan.

Grafis dan musik dalam Crimson Gem Saga juga sangat berkualitas. Menu dalam game ini simpel sehingga pertama kali mainpun kamu tidak akan bingung mengkustomisasi karaktermu atau memakai item. Dalam in-gamenya sendiri Crimson Gem Saga memadukan feel dari RPG baru dan RPG klasik. Sekilas lihat sprite karakter dalam game ini mirip dengan sprite karakter-karakter dalam game Ragnarok (tetapi dengan mimik muka yang lebih ekspresif). Developer game ini juga tidak terjebak dalam penyakit kebanyakan RPG yang mendaur ulang musuh yang hanya berbeda warna. Hampir semua musuh dalam game ini memiliki variasi dan design uniknya sendiri. Kelemahan grafisnya bagiku hanya terletak dalam dungeon-dungeonnya yang rata-rata malahan monoton dan minim dekorasi. Berulang kali saya tersesat menjelajahi dungeonnya karena luas tapi ‘hampa’. Untung saja menjelajahi world map dan kota-kota jauh lebih menyenangkan karena fitur Map game ini. Oh ya, fitur mapnya digambar dengan tangan untuk nilai lebih otentik dan medieval. Untuk departemen audionya sendiri, tidak ada yang spesial dengan musik background game ini. Saya sudah melewati hampir setengah permainan tapi tidak mendapati adanya musik memorable yang layak mendapat catatan khusus. Justru yang memberi saya kejutan menyenangkan adalah voice-acting dalam game ini yang di atas rata-rata game RPG lain.

Gameplay dalam Crimson Gem Saga cukup sulit, tapi berbeda dengan Black Sigil yang membuatmu selalu merasa dicurangi oleh gamenya, game ini sulit dalam kategori yang menantang. Tentu saja sebagaimana kebanyakan old-school RPG lainnya, apabila levelmu tidak cukup kamu bakalan kewalahan menghadapi para monster. Tapi sialnya, sekedar meningkatkan level saja tidak cukup dalam game ini. Saya pernah menjalankan misi khusus yang meningkatkan level saya sampai hampir 50 dan saya tetap kewalahan menghadapi musuh yang berlevel 25 - 30! Kunci dari kemenangan dalam Crimson Gem Saga adalah level dari abilitymu dan equipment yang kamu pakai. Mungkin ini bakalan terdengar aneh, tetapi tujuan utamamu dalam melawan musuh adalah mencari uang untuk memberi equipment terkuat yang baru sementara experience point hanya bonus semata - terbalik dengan kebanyakan RPG lainnya.

Walaupun tingkat kesulitan Crimson Gem Saga yang tinggi dan ceritanya yang klise akan membuat kebanyakan gamer mungkin malas memainkannya, apabila kamu gemar RPG-RPG old-school, saya rasa Crimson Gem Saga layak untuk dimainkan. Pertanyaan yang terlintas di benak saya adalah; bila Korsel saja sudah bisa membuat RPG dengan kualitas seperti ini, Indonesia kapan ya?

Note: Crimson Gem Saga disebut-sebut sebagai spiritual successor dari Astonishia Story dan merupakan sekuel tidak langsung dari game tersebut. Karena saya belum pernah memainkan Astonishia Story (juga di PSP) saya belum bisa mengkonfirmasi hal ini.

Final Verdict

Gameplay: 7.0
Sistem battlenya sederhana ala kebanyakan Turn-Based RPG. Setiap karaktermu memiliki Skill Set sendiri yang bisa bertambah bila kamu mempelajari Skill yang baru (point untuk mempelajari didapat dari melawan musuh). Penjelajahan dan perkembangan cerita mengikuti pakem RPG biasa. Kota - Dungeon - Kota - Dungeon - seterusnya.

Graphic / Sound: 8.0
Walau disebut tampil old-school, game ini tidak meniru gaya artwork game klasik manapun (bandingkan dengan Black Sigil yang jelas meniru Chrono Trigger). Musiknya sebenarnya biasa-biasa saja, tapi gubahan dengan full-orkestra menambah nilai kemegahannya.

Play Time: 9.0
Lama. Benar-benar lama. Berhubung melakukan grinding dan menghadapi banyak musuh adalah satu-satunya kunci bertahan hidup, jam permainanmu akan naik dengan sendirinya. Yah, paling tidak battle systemnya menarik. Kamu juga bisa menjalankan beberapa sidequest di luar jalan cerita utama dan mengeksplorasi satu dungeon optional yang bisa diakses beberapa jam setelah kamu memulai permainan.

Overall: 8.0

Game Details
Developer: IronNos / SK Telecom
Publisher: Atlus
Genre: RPG

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here