Tags: , , , , , , , , , ,

Ace Attorney: Justice For All

Posted on 11 March 2010 by Si Tukang Review

Ace Attorney: Justice for All DS Cover

Ace Attorney: Justice for All DS Cover

Kesuksesan dari game pertama Ace Attorney tidak diduga oleh siapapun, bahkan oleh Capcom sendiri. Itulah sebabnya game ini dirilis secara terbatas di pasaran Amerika (mencari cartridge orisinil dari Ace Attorney: Phoenix Wright kini ibarat mencari jarum di dalam tumpukan jerami, kalau beruntung kamu mungkin bisa menemukannya dijual – dengan harga berlipat dari harga asli – di eBay dan situs-situs jual beli di internet lainnya). Kali ini Capcom tidak mau kecolongan lagi. Memanfaatkan momentum dari game pertamanya, tidak sampai setahun Capcom sudah siap merilis sekuelnya Ace Attorney: Justice for All.

Justice for All melanjutkan petualangan Phoenix dan kawan-kawan. Setelah ending game pertamanya, rival Phoenix, sang jaksa Miles Edgeworth pergi ke luar negeri untuk melakukan refleksi diri. Sebagai penggantinya adalah Franziska von Karma, anak dari Manfred von Karma (musuh utama dalam game sebelumnya). Hampir sama dengan game pertama, sebagai seorang pengacara kamu harus menginvestigasi dan membuktikan di persidangan bahwa klien yang kamu bela tidak bersalah.

Alasan kenapa Justice for All bisa begitu cepat dirilis di Amerika adalah karena game ini hanya merupakan port langsung versi GBAnya. Berbeda dengan game pertamanya yang memasukkan satu kasus baru, Justice for All hanya menambahkan fitur-fitur seadanya untuk DS seperti penggunaan touch screen atau pemakaian mikrofon untuk menyerukan perintah-perintah tertentu. Ini membuat kebanyakan gamer (termasuk saya) kecewa. Kenapa Capcom harus buru-buru merilisnya? Kenapa tidak menambahkan kasus baru yang mengoptimalkan fitur DS sebelum melemparnya ke pasar? Kesannya Capcom seakan hanya ingin mengeruk untung dari para gamer yang memang sudah ngebet ingin mengetahui lanjutan kisah ini.

Sialnya lagi, dari empat kasus yang disediakan di game ini, bisa dibilang hanya satu yang menarik perhatian yakni kasus terakhirnya. Seperti game sebelumnya, kasus terakhir dalam Ace Attorney selalu merupakan pertarungan logika yang epik, megah, dan dahsyat. Pertaruhan dalam kasus terakhir ini bahkan lebih tinggi karena menyangkut nyawa seorang yang penting bagi Phoenix juga jati diri Phoenix sebagai seorang pengacara. Saya tidak mau spoiler terlalu jauh, tetapi paradigmamu dalam keadilan benar-benar diuji dalam kasus terakhir game ini. Sungguh saya sayangkan bahwa tiga kasus sebelumnya tidak memiliki intensitas setinggi dan sebaik kasus terakhirnya. Franziska sebagai lawan yang dihadapi Phoenix kali ini pun tidak memiliki wibawa layaknya Miles atau ayahnya, menjadikan ‘pertarungan’ menghadapinya kurang menegangkan.

Inovasi baru dalam Justice for All (atau lebih tepatnya Gyakuten Saiban 2 yang adalah versi orisinilnya) adalah pemanfaatan sistem Psyche Lock. Dalam game pertamanya, mewawancarai para saksi tergolong mudah karena mereka dengan senang hati membeberkan apa-apa saja yang mereka ketahui kepadamu. Tidak kali ini, karena mereka akan membisu dan menyembunyikan fakta-fakta yang mereka ketahui. Beruntung Phoenix juga mendapatkan sebuah barang bernama Magatama, sejenis alat untuk melihat ‘hati’ seseorang. Rahasia yang mereka simpan direpresentasikan oleh gembok-gembok. Satu-satunya cara untuk membuka gembok (atau memaksa mereka buka mulut) itu – seperti yang mungkin sudah bisa kamu tebak – adalah menggunakan barang bukti dari penyelidikanmu. Walaupun kreatif dan masuk akal, tambahan ini tidak diterima baik oleh semua orang karena penyampaiannya dirasa bertele-tele dan menyulitkan investigasi. Bicara soal investigasi yang sulit, kelemahan terbesar kasus ini adalah memecahkan testimonial para saksi. Agaknya ini dikarenakan penulisan skenario yang kurang baik, mencari kebohongan saksi terasa lebih sulit kali ini. Kadang beberapa logikanya juga terlalu mustahil sehingga membuat gamer bengong, bukannya puas, ketika mendapatkan jawabannya.

So my verdict is… terlepas dari semua kelemahan yang saya sebutkan di atas, Justice for All masih sebuah game yang lumayan berkualitas. Kasus terakhirnya sendiri bisa dibilang berjasa menghapuskan dosa dari kasus-kasus sebelumnya. Toh, dari antara semua game Ace Attorney yang kumainkan, Justice for All tetap merupakan entry yang terlemah. Untung saja game ketiganya, Ace Attorney: Trials and Tribulations, mampu kembali menaikkan citra serial yang sempat terpuruk di mataku ini.

Final Verdict

Gameplay: 7.0
Tambahan Psyche Lock yang seharusnya menjadi inovasi yang baru dan kreatif justru berbalik jadi senjata makan tuan karena penggunaannya yang terlalu mistis. Tidak adanya kasus baru yang memanfaatkan fitur DS juga memperlemah nilai gameplaynya. Yang paling parah adalah kasus-kasus yang ditawarkan game keduanya tidak bisa menyamai kualitas prekuelnya.

Graphic / Sound: 8.0
Karakter baru yang diperkenalkan dalam game ini ada dua yang langsung menarik perhatianku (juga menjadi regular di game-game berikutnya). Pertama adalah Pearl Fey dan yang kedua adalah Franziska von Karma. Terutama Franziska, walaupun saya mengatakan ia tidak memiliki karisma seperti ayahnya, setidaknya saya selalu terhibur melihat dia melecuti semua orang di sekelilingnya. Musiknya juga tidak sebagus game pertamanya, terutama bila dibandingkan dengan Phoenix Wright Theme. Tidak jelek, tetapi tidak semembangkitkan semangat seperti game pertamanya. Theme terbaru terbaik yang merenggut perhatian bagiku adalah theme kebangkitan dari Miles Edgeworth.

Play Time: 7.5
Karena hanya terdiri dari empat chapter, Justice for All adalah game terpendek dari semua seri Ace Attorney. Kendati demikian, ia masih akan memakan waktu sekitar 10 jam untuk diselesaikan. Seperti prekuelnya, tidak ada alasan untuk memainkannya lagi begitu kamu menamatkannya, kecuali untuk bernostalgia dan mengingat ceritanya kembali (sesuatu yang enggan kulakukan karena kualitas ceritanya yang pas-pasan).

Overall: 7.5

Game Details
Developer: Capcom
Publisher: Capcom
Genre: Adventure

Comments (0)

Tags: , , , , , , , ,

Ace Attorney: Phoenix Wright

Posted on 10 March 2010 by Si Tukang Review

Ace Attorney: Phoenix Wright Cover

Ace Attorney: Phoenix Wright Cover

Selama ini pasar Amerika dikenal sulit sekali menerima sebuah text-based novel game. Karena alasan itulah kebanyakan game love simulation seperti Tokimeki Memorial atau game hent… (*ditimpuk*) tidak pernah mendapatkan rilis di Amerika. Tren mulai berubah tahun-tahun belakangan ini, di DS sendiri ada begitu banyak game text-based yang masuk seperti Hotel Dusk, Time Hollow, dan banyak lagi. Entah kebetulan entah tidak, saya merasa bahwa tren ini dimulai sejak kesuksesan Phoenix Wright menembus kalangan mainstream gamer.

Mungkin kalian bertanya-tanya, apakah itu Ace Attorney? Apakah itu Phoenix Wright? Jawabannya: game simulasi persidangan. “Ah, persidangan? Bosan dong karena penuh dengan dialog-dialog hukum yang berat macam novelnya John Grisham?” begitukah pikiran kalian? Kalau iya maka baca lebih lanjut review yang akan mengubah pandanganmu terhadap game ini.

Ace Attorney: Phoenix Wright, sesuai judulnya, menempatkan gamer dalam posisi seorang pengacara (defense attorney) rookie bernama Phoenix Wright. Dalam game yang terbagi di lima skenario ini, kamu akan membela klienmu yang terlibat dalam kasus-kasus pembunuhan yang misterius. Uniknya, klien yang kamu bela di sini tidak bersalah dan difitnah oleh sang pembunuh yang sebenarnya. Adalah tugasmu sebagai pembela keadilan (mode lebay) untuk menyingkap kebenaran, membebaskan klienmu dari tuduhan dan menangkap sang pelaku yang sebenarnya! Tentunya tugasmu tidak akan mudah karena kamu akan berhadapan dengan para jaksa (prosecutor) yang berusaha sekuat tenaga menyeret klienmu ke penjara.

Gameplay dalam Phoenix Wright terbagi dua bagian. Yang pertama adalah mode penyelidikan di mana sebagai Phoenix kamu akan menginspeksi TKP dan mewawancarai para saksi untuk mengumpulkan barang bukti. Setelah mendapatkan cukup bukti, kamu akan masuk ke fase kedua di ruang pengadilan. Di sini para juri akan memanggil saksi yang akan memberikan pernyataan (testimonial) mereka akan bagaimana kejadian pembunuhan terjadi. Tentu saja apabila klienmu benar, berarti ada yang salah dengan pernyataan para saksi tersebut. Sebagai Phoenix, kamu akan bertanya lebih lanjut dan mencari kontradiksi (contradiction) dalam pernyataan mereka. Bila ketemu, tunjukkan barang bukti (evidence) yang akan membawa klienmu (tersangka / defendant) selangkah menuju kebebasan. Tapi hati-hati, kegagalanmu untuk mempresentasikan barang bukti yang benar pada statemen yang tepat akan mengurangi kredibilitasmu di mata hakim. Berbuat salah terlalu banyak - lima kali - dan kamu akan kalah dalam kasusmu!

Game ini pertama kali dirilis di Jepang pada tahun 2001 pada platform GBA dengan judul Gyakuten Saiban. Kesuksesannya di Jepang disusul dengan dua rilis game Gyakuten Saiban lain, membentuk salah satu trilogi terbaik dunia game. Saat DS diluncurkan, Capcom meremake Gyakuten Saiban dan menambahkan bonus satu kasus di dalamnya yang memanfaatkan fitur DS (game aslinya hanya terdiri dari empat kasus). Kasus tambahan dalam DS ini merupakan salah satu nilai plus versi remakenya karena memberi metode penyelidikan baru yang tadinya tidak memungkinkan di media GBA. Sebagai contoh kamu tidak hanya bisa menginspeksi foto tetapi juga video kali ini. Kamu juga bisa meniup mikrofon DS untuk mencari sidik jari tersangka yang tertinggal di lokasi. Wah, serasa jadi detektif beneran deh!

Apa yang membuat Ace Attorney begitu sukses tidak cuma terletak di ceritanya saja tetapi juga pada deretan cast yang memorable. Mulai dari Phoenix Wright dan Fey bersaudara yang menjadi asisten sebagai protagonis cerita, game ini menghadirkan deretan karakter yang penuh warna dan membekas di hati. Saya tidak mau berspoiler lebih lanjut, tetapi yang jelas setiap tersangka, setiap saksi, dan setiap jaksa yang kamu hadapi dalam game ini akan membuatmu terpingkal, terharu, hingga geram dengan tingkah mereka. Lokalisasi ke Amerika yang ditangani Alexander O. Smith (translator dari beberapa game Final Fantasy) juga dengan cerdik tidak mentah-mentah mentranslasikan dari versi Gyakuten Saiban melainkan mengubah sedikit cita rasanya ke dalam budaya Amerika (yang lebih global). Purist mungkin ingin tetap memainkan Gyakuten Saiban (well, that’s their loss) tapi penulisan dalam Ace Attorney: Phoenix Wright sudah mendapatkan apresiasi sebagai game dengan skrip terbaik di DS oleh banyak media cetak maupun online.

So my verdict is… tunggu apa lagi? Adalah dosa besar bila kamu memiliki DS dan kelewatan salah satu title terbaiknya ini (saya menaruhnya di posisi kedua hanya di belakang Mario Kart DS). Selamat datang ke dunia pengadilan!

Final Verdict

Gameplay: 9.5
Yang membuatku terkagum-kagum dengan Ace Attorney adalah bagaimana mereka bisa menjaga pace permainan. Dalam investigasi, kamu dibuat tertawa dengan dialog-dialog ‘ajaib’ yang kamu dapatkan dari para saksi. Tapi dalam persidangan, kamu bakalan geregetan dan saling bertukar argumen menghadapi jaksa. Ada kepuasan sendiri yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata bila kamu berhasil memenangi debatmu. Kasus keempat dan kelima dalam game ini merupakan kasus-kasus epik yang duel antaramu melawan jaksa yang tidak kalah dengan pertarungan menghadapi final boss di RPG-RPG. Tidak percaya bisa seseru itu? Buktikan sendiri.

Graphic / Sound: 8.5
Berhubung ini adalah sebuah game yang diangkat dari GBA, kekurangan terutama ada pada bagian visualnya. Toh, sebuah game teks tidak mementingkan grafis sedemikian rupa bukan? Dalam review saya mengatakan kalau tiap karakter di dalam game ini memorable, dan faktor yang membantu kememorablean mereka adalah designnya yang unik dan berbeda untuk setiap karakter. Audionya juga berkualitas prima. Digubah ulang dalam versi orkestra membuktikan kualitas music game ini.

Play Time: 8.0
Bila ada titik lemah dalam game ini, itu pastilah waktu permainannya. Ace Attorney menderita kelemahan setiap game text-based lainnya: nilai replayabilitynya. Apabila kamu selesai memainkan game ini sekali, tidak ada alasan untuk mengulang memainkannya lagi, kecuali sudah beberapa tahun kemudian dan kamu sudah lupa ceritanya (biasanya saya memainkan ulang game lama begitu ada seri Ace Attorney baru mau keluar). Toh, lima skenario yang ditawarkan game ini akan memakan waktu 15 – 20 jam permainanmu; tergolong cukup panjang dibandingkan kebanyakan game text-based adventure lainnya.

Overall: 8.9

Game Details
Developer: Capcom
Publisher: Capcom
Genre: Adventure

Comments (2)

Tags: , ,

OBJECTION!!!

Posted on 10 March 2010 by Si Tukang Review

phoenix-wright-crop

Tahun 2006.

Tahun itu adalah tahun di mana saya pertama kali membeli Nintendo DS. Padahal, sebelumnya saya tidak pernah tertarik untuk bermain game portabel yang saya anggap inferior dibandingkan game-game dalam konsol. Ketertarikan saya pada DS diawali dengan rasa penasaran sistem dual screen, touch screen, sampai mikrofon yang menjanjikan pengalaman game yang baru dan berbeda. Setelah melihat bahwa DS memiliki kumpulan game yang cukup banyak (ditambah dengan sudah bisa dipakainya sistem Supercard buat main game bajakan, he he he…) saya pun membeli Nintendo DS perak pertamaku (sedikit curhat: tanpa tahu bahwa dua bulan kemudian Nintendo bakalan merilis versi Lite buat DS, hiks!)

Saat itu, DS sudah dikenal sebagai rumah dari game-game tipe simulasi. Ambil contoh simulasi pet ala Tamagotchi yang muncul dalam bentuk Nintendogs, atau simulasi kehidupan Animal Crossing. Yang pada saat itu membuat saya penasaran dengan DS toh adalah tiga jenis simulasi game. Simulasi menjadi dokter (Trauma Center), simulasi survival (Lost in Blue - tidak ada hubungannya dengan Lost TV Series), dan yang terakhir adalah simulasi pengacara: Ace Attorney: Phoenix Wright. Saya memainkan ketiga game itu dengan tingkat kesenangan yang berbeda. Trauma Center dan Lost in Blue adalah game-game yang menarik, tetapi Phoenix Wright membawa kesenangan gaming saya ke level yang sama sekali baru.

Dalam countdown 25 game terbaik DS yang pernah saya post di sini beberapa waktu yang lalu, saya menempatkan Ace Attorney: Phoenix Wright sebagai game kedua favoritku di bawah Mario Kart DS. Akan tetapi untuk ukuran franchise secara keseluruhan, Ace Attorney masih merupakan serial game terbaik yang pernah hadir di DS (again - in my humble opinion). Setelah dijualnya DS lamaku beberapa bulan setelah aku membelinya, lagi-lagi serial ini berjasa membawaku kembali. Apabila bukan karena Justice for All yang dirilis di DS, saya tidak bakalan membeli DS Lite lagi. Nah, mengingat begitu panjang dan dalamnya sejarahku dengan game ini, dengan dirilisnya game terbaru serial ini berjudul Ace Attorney Investigator, saya akan menulis marathon lima review game Ace Attorney sebagai tribut bagi serial game favoritku ini.

Enjoy the world of trials, tribulations, and fun!

Comments (3)

Tags: , , , , , , ,

Castlevania: Portrait of Ruin

Posted on 27 February 2010 by Si Tukang Review

Castlevania: Portrait of Ruin Cover

Castlevania: Portrait of Ruin Cover

(Review Ditulis Di Tahun 2007)

Setelah Dawn of Sorrow memetik sukses besar, Konami pun menggarap sebuah title Castlevania baru untuk Nintendo DS. Apabila Dawn of Sorrow merupakan sekuel langsung dari Aria of Sorrow di GBA, maka Portrait of Ruin bisa dibilang merupakan sekuel tidak langsung dari Castlevania Bloodlines di Sega. Ingat? Itu lo, Castlevania yang membiarkan anda memilih satu dari dua karakter utama yang ada: John Morris dan Eric Lecarde. Di dalam game ini, kalian menjalankan peran sebagai anak John Morris – Jonatan Morris bersama sang magician pendampingnya Charlotte Aulin. Bagaimana sepak terjang kedua remaja ini dalam menghadapi sang pangeran kegelapan?

Graphic (7 / 10)

Presentasi dalam game ini sekilas dilihat mirip dengan Dawn of Sorrow. Apabila anda membiarkan menu anda tanpa memilih apapun maka anda akan disuguhi sebuah animasi singkat mengenai cerita Portrait of Ruin. Gaya desain karakter yang sudah cukup anime dalam Dawn of Sorrow makin terlihat bergaya anime di dalam game ini. Gaya penggambaran karakter dalam game ini dan Dawn of Sorrow sudah memancing perdebatan antara para penggemar Castlevania. Yang satu menganggap kalau gaya anime adalah hal yang cocok dengan dunia Castlevania yang digarap dari negeri Sakura, sementara yang satu lagi mengagungkan gaya gothic yang disebut bisa merepresentasikan keangkeran kastil Dracula. Saya sendiri? Saya sebenarnya jauh lebih menyenangi gaya gothic di dalam game-game Castlevania ketimbang gaya kartunis yang terlihat sangat childish di game ini (tunggu sampai kalian lihat karakter legendaris macam Dracula digambarkan di game ini – lalu bandingkan keanggunan sang pangeran malam itu dalam Symphony of the Night).

Sekilas lihat, Castlevania Portrait of Ruin tampaknya menghadirkan berbagai jenis daerah yang luas dan variatif yang bisa kita jelajahi. Tetapi apabila kita memperhatikannya lebih detail lagi maka kita akan kecewa karena banyak sekali bidang grafik dalam game ini yang mencomot dari Dawn of Sorrow. Hal yang paling kentara bisa kita lihat ada pada render musuh-musuh yang kita hadapi. Entah kenapa banyak sekali (hampir 60 – 70% musuh yang ada) dicomot dari Dawn of Sorrow. Ada apa dengan Konami? Dawn of Sorrow dan Portrait of Ruin memiliki jeda waktu dua tahun! Ketimbang terus mendaur ulang musuh-musuh yang ada tidakkah seharusnya Portrait of Ruin menyajikan karakter-karakter musuh yang baru agar kita tetap fresh dalam memainkannya?

Yah, bukan berarti Portrait of Ruin gagal total dalam hal grafisnya. Banyaknya animasi senjata Jonatan, spell milik Charlotte sampai serangan gabungan mereka berdua tetap tergambar dengan halus dengan animasi yang (untungnya saja!) semuanya baru dan menarik. Bermain dengan menggunakan cambuk lagi juga adalah sebuah tambahan baru yang saya terima dengan senang hati.

Sound (8 / 10)

Musik dalam game ini masih sangat berkualitas. Setiap daerah memiliki musik-musik yang berbeda dan menyenangkan untuk didengar. Mungkin tidak ada musik yang memorable di dalam game ini (saya beranggapan kalau main theme Portrait of Ruin masih belum sebagus Castlevania-Castlevania sebelumnya), tetapi toh saya tidak sampai memutuskan untuk ‘membisukan’ Nintendo DS milikku ketika memainkannya. Karakter seperti Jonatan dan Charlotte juga memiliki cukup banyak voice acting (terutama karakter Charlotte yang memiliki berbagai jenis spell untuk dia teriakkan kalau dia menggunakannya).

Tunggu, tidak hanya itu saja. Dengan sebuah trik khusus anda bisa membuka bagian voice acting Jepang dalam game ini! Sebuah tambahan yang sangat apik dari Konami. Kini mereka para pengagung seiyuu-seiyuu Jepang dan mereka yang tertarik dengan bagaimana game ini terdengar kalau bersuarakan orang Jepang bisa mencoba mode ini. Sebuah tambahan simple dari Konami, tetapi sangat memuaskan.

Gameplay (8 / 10)

Benarkah game ini seperti yang dikatakan Koji Igarashi? Ayah dari seri Castlevania ini sesumbar mengatakan kalau Portrait of Ruin akan menjadi Castlevania terbaik yang pernah ia garap dengan menghadirkan dua karakter yang bisa anda mainkan sekaligus. Hasilnya? Portrait of Ruin tetap sebuah title Castlevania yang solid, tetapi dia masih jauh untuk bisa sebagus Symphony of the Night yang legendaris itu.

Mari kita melihat sisi gameplay game ini. Dua karakter utama yang anda mainkan pada dasarnya sangat berbeda. Jonatan akan banyak menggunakan senjata-senjata normal (pedang, cambuk, kapak, dan lain sebagainya) ditemani dengan sub-weapon (mulai dari yang klasik seperti air suci, kapak, pisau, sampai yang modern). Charlotte sebaliknya akan lebih banyak menggunakan sihir magisnya ketimbang beradu badan langsung dengan musuh. Keduanya juga memiliki sihir gabungan yang memiliki damage jauh lebih besar ketimbang jurus special pribadi keduanya (tentu saja MP yang dihabiskan juga jauh lebih besar).

Sekilas lihat para pemain Castlevania akan lebih sering menggunakan Jonatan sepanjang cerita dan Charlotte akan hadir lebih banyak sebagai pelengkap saja, kendati begitu, apabila kita memperhatikan dengan cermat Konami cukup adil dalam mendesain kedua karakter ini. Saya sendiri mencoba memainkan game ini dengan Charlotte di beberapa bagian game ini dan menemukan kalau Charlotte adalah karakter yang cukup kuat apabila ia memiliki equipment dan sihir yang bagus. Saya malahan sering berpetualang mencari level dengan menggunakan Charlotte dan baru menggunakan Jonatan ketika bertarung menghadapi boss-boss yang ada.

Berarti sistem dual hero dalam Castlevania ini berhasil? Tidak sepenuhnya. Dalam game ini seharusnya Igarashi menjanjikan anda menjelajahi kastil Dracula berdua dan bertarung bersama, tetapi AI pasangan anda yang begitu jongkok membuat anda harus bertarung 95% dalam game ini sendirian. Saya hanya memanggil pasangan saya keluar untuk membantu saya adalah ketika saya tanpa sengaja terkena spell petrify yang membuat saya menjadi batu dan tak bisa bergerak.

Keluhan berikutnya adalah desain kastil dari Castlevania. Janji palsu Igarashi kembali menipu saya; ia menjanjikan Portrait of Ruin sebagai Castlevania terbesar yang akan kita jelajahi (dengan tingkat pencapaian sampai 1000%!). Sekali lagi sekilas dilihat memang Portrait of Ruin menawarkan kastil Dracula yang besar ditambah dengan delapan sub-area (atau empat kalau anda mendapatkan ending yang buruk) yang bisa anda jelajahi; toh setelah diamati dan dimainkan lebih lanjut saya menyadari bahwa desain dalam Castlevania kali ini adalah yang terburuk dari semua Castlevania yang pernah saya mainkan (setidaknya Castlevania modern). Kastil Dracula kali ini terasa hambar dan lebih berfungsi sebagai tempat bergerak dari lukisan demi lukisan.

Maksudnya?

Seperti namanya: Portrait of Ruin mengharuskan anda menjelajahi lukisan demi lukisan dalam kastil Dracula. Total ada delapan lukisan yang bisa anda jelajahi. Setiap lukisan memiliki nuansa yang berbeda: dari sebuah kota hantu, akademi sihir yang misterius, sampai arena favorit saya yang adalah sebuah sirkus arena jungkir balik. Apakah saya tadi menyebutkan kalau setiap lukisan memiliki nuansanya sendiri? Coret kata-kata saya itu. Empat lukisan terakhir bisa dibilang sebagai repetisi dari empat lukisan awal. Mengecewakan? Jelas. Setelah arena dalam lukisannya terbilang membosankan dan tidak menarik untuk dimainkan lagi, kastil Dracula kali ini juga terbilang jauh lebih kecil ketimbang Dawn of Sorrow (ke mana arena bawah air yang legendaris itu? Kenapa arena tersebut dihilangkan?). Jadinya secara keseluruhan game ini malahan terlihat jauh lebih singkat ketimbang Dawn of Sorrow (saya menyelesaikan game ini dalam waktu 12 jam dengan mendapatkan ending sempurna).

Apabila ada hal yang berhasil digarap dalam Portrait of Ruin, itu adalah pertarungan melawan bossnya. Setiap boss dalam Portrait of Ruin menyajikan tantangannya tersendiri untuk mengalahkan mereka. Berbeda dengan trilogi Castlevania GBA ditambah dengan Dawn of Sorrow yang asal level anda tinggi anda bisa langsung main hajar untuk mengalahkan mereka, Portrait of Ruin mengharuskan anda mengatur strategi yang jeli untuk mengalahkan boss-boss yang ada. Saya mencoba memainkan Portrait of Ruin dengan cara barbar dan menemukan layar Game Over ketika menghadapi boss pertama! Lagipula duel tag team menjelang duel terakhir sangat inovatif dan menyenangkan untuk dilawan (saya menemukan final boss kali ini sebagai final boss yang cukup menantang!).

Ceritanya sendiri? Standar Castlevania. Pada Perang Dunia II, banyak jiwa-jiwa yang meninggal itu menjadi arwah penasaran dan membentuk kastil kegelapan Dracula. Ditambah lagi ada perpecahan dalam tubuh kegelapan itu sendiri. Seorang vampire bernama Brauner berikut dua anaknya ingin menguasai dunia dengan cara mereka sendiri. Mereka menahan kebangkitan Dracula dengan menyegel kekuatan dan menyebarnya dalam lukisan demi lukisan yang ada. Death sang abdi setia Dracula berusaha mencari cara untuk membangkitkan kembali tuannya. Apakah Jonathan dan Charlotte bisa memanfaatkan kekacauan ini untuk keuntungan mereka – atau malahan mereka justru terjebak kian dalam dunia kegelapan?

Longetivity (7 / 10)

Anda bisa menyelesaikan game ini dalam waktu enam sampai delapan jam untuk mendapatkan bad endingnya. Tambah dua atau tiga jam lagi dan anda bisa mendapatkan best (true) ending dalam game ini. Pada dasarnya game ini cukup cepat diselesaikan kalau anda mengikuti jalan cerita utamanya tanpa menyelesaikan subquest apapun. Tentu saja bila anda tertantang menyelesaikan semua subquest yang ada mungkin anda membutuhkan waktu lebih dari 15 jam untuk menyelesaikan game ini secara keseluruhan.

Ada berbagai mode yang diberikan oleh Portrait of Ruin setelah anda menyelesaikannya. Anda bisa menjelajahi game ini dengan berbagai mode selain Jonathan Mode. Pertama anda bisa bermain sebagai Sisters Mode, Richter Mode (ya Richter Belmont yang tersohor itu), Old Axe Armor Mode, sampai Maria Mode. Cukup menarik bukan tambahan yang disajikan oleh Portrait of Ruin? Tentu saja di luar itu kali ini anda bisa berduet dengan teman anda untuk melalui Boss Rush Mode (bukankah mode ini selalu keluar dalam setiap Castlevania?).

Kendati begitu kalau anda bukan seorang yang suka mengulang-ulang game setelah menamatkannya, mungkin nilai plus Castlevania tidak sebesar itu. Anda selesai mengembalikan pangeran kegelapan dalam kegelapan dan anda mungkin takkan menyentuh game ini lagi (seperti saya).

Editor’s Tilt (7.5 / 10)

Perlu saya katakana pada akhir review saya bahwa Portrait of Ruin BUKAN sebuah game Castlevania yang buruk. Keluhan-keluhan yang saya sampaikan sepanjang game ini lebih bersifat kekecewaan pribadi saya yang tertuang karena tidak mendapatkan apa yang saya harapkan sebelumnya. Portrait of Ruin tetap sebuah title Castlevania yang saya rekomendasikan kepada setiap orang yang menggemari seri Castlevania (tetapi para pemula mungkin lebih baik menjajal Dawn of Sorrow terlebih dahulu sebelum langsung mencoba Portrait of Ruin).

Nah, apabila GBA memiliki trilogy Castlevania mereka, apakah Nintendo DS akan menyusul jejak tersebut? Harapan saya adalah semoga Castlevania berikut bisa benar-benar membuktikan janji sang developer (Igarashi-san, jangan beri kami harapan palsu lagi!). As for now, saya akan menunggu remake dari Symphony of the Night dan Rondo of the Blood yang segera dihadirkan di PSP. Ah, it’s about time!

Average: 7.5

Game Details
Developer: Konami
Publisher: Konami
Genre: Action RPG

Comments (3)

Tags: , , , , , ,

Mario & Luigi: Bowser Inside Story

Posted on 23 January 2010 by Si Tukang Review

Mario & Luigi Bowser Inside Story Cover

Mario & Luigi Bowser Inside Story Cover

Walaupun Mario paling dikenal sebagai jagoan dalam dunia platform 2D dan 3D, itu tidak berarti sang tukang ledeng tidak pernah menjelajah genre lain. Sebaliknya, dia malahan pernah menjajal berbagai macam profesi mulai dari pemain tennis sampai tukang balap. Mario juga pernah masuk ke genre RPG, pertama kali pada tahun 1996 melalui salah satu kolaborasi terakhir Nintendo dan Squaresoft (belum merger menjadi Square Enix) di era SNES. Hasilnya: Super Mario RPG: Legend of the Seven Stars yang masih diakui banyak gamer sebagai salah satu RPG terbaik era SNES. Petualangan RPG Mario tidak berhenti di sana. Setelah game tersebut, masih ada serial RPG Paper Mario di Nintendo 64, Nintendo GameCube, dan Nintendo Wii.

Bagaimana dengan Nintendo DS? Nintendo tahu benar bahwa para gamer di DS juga haus akan RPG Mario yang berkualitas dan pada tahun 2009 merilis game Mario & Luigi: Bowser’s Inside Story. Game ini sebenarnya merupakan bagian ketiga dari serial Mario and Luigi yang game pertamanya dirilis di GBA. Game dengan sub-judul Superstar Saga itu mendapatkan pujian banyak orang karena dianggap sebagai sebuah game RPG yang bisa memasukkan banyak sistem RPG tradisional dengan elemen dunia khas Mario. Kesuksesan game itu dikembangkan lebih lanjut melalui sekuel pertamanya di DS: Partners in Time. Game Partners in Time, seperti halnya prekuelnya, juga meraih acungan jempol karena mengutak-atik waktu dan mempertemukan kedua Mario Brothers dengan sosok muda mereka (ingat bayi Mario yang digendong Yoshi?). Hanya saja, beberapa pihak agak menyayangkan Partners in Time yang dianggap kurang memaksimalkan kemampuan handheld DS. Empat tahun berlalu dan Nintendo kembali merilis sekuel kedua game ini dengan judul Bowser’s Inside Story.

Seperti yang bisa dibaca dari judulnya, game ini memberi peranan penting bagi Bowser dalam cerita. Di awal game, sebuah jamur misterius membuat para toad di Mushroom Kingdom menjadi raksasa blorb. Krisis yang terjadi di Mushroom Kingdom ini memaksa Putri Peach mengadakan rapat darurat. Dalam rapat darurat yng juga dihadiri oleh Mario dan Luigi itu, Bowser mendadak juga datang mengajukan diri untuk ikut rapat. Bisa ditebak kalau Bowser malah berakhir dengan bikin onar dan ditendang pantatnya keluar oleh Mario. Bowser yang terpental keluar tidak menyerah begitu saja dan mulai mencari jalan kembali ke istana. Di tengah perjalanannya kembali ke istana, musuh besar Mario itu bertemu dengan sosok misterius yang memberinya sebuah jamur. Setelah dimakan, Bowser berserk dan langsung menghisap apapun ke dalam perutnya. Jangan tanya saya bagaimana rumus fisikanya, yang jelas semua anggota istana mulai dari Mario bersaudara, para Toad, hingga Putri Peach semuanya disedot masuk ke dalam tubuh Bowser. Siapakah dalang di balik semua kekacauan ini? Bisakah Mario dan Luigi keluar dari tubuh Bowser?

Dari cerita ini, saya berani menyimpulkan kalau Bowser Inside Story adalah RPG dua dunia. Di satu pihak kamu akan bermain sebagai Bowser yang mencari tahu siapa dalang yang memberinya jamur misterius itu. Di lain pihak kamu sebagai Mario dan Luigi akan berpetualang dalam tubuh Bowser untuk mencari putri Peach yang tersesat dalam tubuh si kadal dan meloloskan diri bersama-sama dari sana. Kedua dunia ini secara ajaibnya mampu disambung oleh Nintendo. Apa yang terjadi dalam dunia Bowser akan mempengaruhi dunia Mario dan sebaliknya. Sebagai contoh ketika Bowser minum air, perutnya akan dipenuhi dengan air yang memperbolehkan Mario dan Luigi berenang ke tempat-tempat yang sebelumnya tak bisa mereka jangkau. Atau ketika Bowser sekarat, Mario dan Luigi bisa berpetualang ke dalam jiwanya (sekali lagi harap jangan tanya rumus fisikanya) dan memberinya energi adrenalin yang bukan cuma menghidupkan Bowser lagi tetapi juga mengubahnya menjadi raksasa! Dua contoh yang saya sebut hanyalah sekelumit dari bagaimana Nintendo mampu membuat dua dunia yang begitu jauh berbeda ini berinteraksi satu sama lain. Salut untuk kreatifitas mereka.

Game RPG yang awalnya terlihat sederhana ini pada akhirnya menjadi game yang unik tanpa rumit karena implementasi Nintendo yang simpel. Beberapa inovasi dalam ceritanya bukan cuma menjadi tempelan tetapi juga berperan dalam cerita. Kemampuan Bowser menghisap misalnya bisa kamu gunakan saat battle melawan musuh. Beberapa musuh kecil bisa disedot masuk dalam tubuh Bowser dan - secara tidak langsung - kamu bisa tag-team dengan duet Mario bersaudara karena mereka akan langsung menghadapi musuh-musuh itu dalam tubuh Bowser.

Keluhan bahwa Partners in Time kurang kreatif memanfaatkan fitur DS kini juga diperbaiki. Sekarang peran touch screen dan mikrofon dimaksimalkan baik dalam mini-game ataupun pertarungan. Tidak sekedar itu, saya juga merasa bahwa Bowser Inside Story - sebagaimana banyak game DS dari Nintendo lainnya - mampu menyeimbangkan penggunaan fitur-fitur DS sehingga terasa melengkapi dan bukannya membebani atau menganggu gameplay secara keseluruhan.

Sudah memiliki gameplay yang unik dan orisinil, dengan tambahan grafis penuh warna dan musik yang upbeat khas Mario, tidak heran kalau game ini menjadi penantang kuat game terbaik dari handheld DS tahun ini. Kalau kamu penggemar RPG, tidak ada alasan untuk keburu mendiskreditkannya sebagai game buat anak kecil. Toh, kapan lagi kamu bisa bermain di dalam DAN sebagai karakter Bowser. Betul tidak?

Final Verdict

Gameplay: 8.5
Walau sistem fightnya sebenarnya sangat simpel, Nintendo mampu menciptakan berbagai macam inovasi baru untuk membuatnya tetap fresh.

Graphic / Sound: 8.5
Satu-satunya kekurangan adalah piksel yang terlihat agak pecah-pecah saat Bowser menjadi raksasa. Dunia dalam tubuh Bowser juga terlihat agak suram. Tadinya saya mengharapkan ada semacam dunia mini di dalamnya. Toh melihat percakapan para Emoglobin saya jadi tersenyum simpul sendiri.

Play Time: 8.5
Beberapa situs yang saya baca menyebutkan bahwa menamatkan game ini diperlukan waktu sekitar 20 jam. Saya pribadi menyelesaikannya dalam waktu 15 jam, walaupun belum menemukan semua rahasia yang ada. Bila hendak menyelesaikan game ini secara sempurna, saya prediksi memerlukan waktu sekitar 30 hingga 35 jam.

Game Details
Developer: AlphaDream
Publisher: Nintendo
Genre: RPG

Comments (8)

Tags: , , , , , , , , , ,

Kingdom Hearts 358/2 Days

Posted on 22 December 2009 by Si Tukang Review

Kingdom Hearts 358/2 Days Cover

Kingdom Hearts 358/2 Days Cover

Akhir-akhir ini Square Enix punya kebiasaan untuk membuat cerita tambahan di luar jalan cerita franchise utama mereka. Contoh yang paling mudah dikenali adalah Final Fantasy VII. Selama hampir satu dekade gamer hanya mengenal petualangan Cloud dan kawan-kawan menghentikan meteor yang disummon oleh Sephiroth dan menyelamatkan Gaia. Eh, mendadak saja sekarang ada Before Crisis yang menceritakan anggota The Turks, Crisis Core yang mengisahkan petualangan Zack, Advent Children yang adalah sekuel resmi dari Final Fantasy VII dan Dirge of Cerberus di mana Vincent menjadi tokoh utama. Lihat singkatannya: dari AC sampai DC lengkap semua! Setelah tidak bisa lagi meneruskan franchise Final Fantasy VII, pria yang ‘bertanggung-jawab’, Tetsuya Nomura, mengalihkan perhatiannya pada franchise Square Enix yang ngetop lainnya: Kingdom Hearts.

Walau saya tidak pernah memainkan semua game Kingdom Hearts sebelum 358/2 Days, saya tahu bahwa di awal kemunculannya, Kingdom Hearts disebut sebagai pernikahan dari karakter Final Fantasy dan Disney. Selain mengendalikan Sora, karakter orisinil yang didesign Nomura untuk franchise ini, kamu juga didampingi oleh Donal dan Gufi dalam petualanganmu, ditambah dengan menjelajahi berbagai dunia Disney dan bertemu dengan karakter-karakter dari dua dunia yang menjadi kawan maupun lawanmu. Tak disangka apa yang seharusnya merupakan cerita ala fanfic kemudian berkembang. Seusai Kingdom Hearts pertama, Square Enix merilis Kingdom Hearts: Chain of Memories dan disambung oleh Kingdom Hearts II. Seusai Kingdom Hearts II, seharusnya cerita Sora dan kawan-kawan sudah usai, tetapi Square Enix tidak berpendapat demikian (baca: mereka belum cukup mengeruk kantong para gamer). Nomura kemudian menyatakan bahwa ia sudah mempersiapkan dua game untuk dua sistem handheld yang berbeda: Kingdom Hearts 358/2 Days untuk DS dan Kingdom Hearts: Birth By Sleep untuk PSP. 358/2 Days lebih pertama diluncurkan, jadi bagaimanakah hasilnya?

Berbeda dengan ketiga game Kingdom Hearts sebelumnya (empat bila kamu menghitung remake Chain of Memories di PS2), dalam game ini kamu tidak mengendalikan Sora si karakter utama tetapi Roxas, karakter Nobody dari Sora. Apabila kamu belum pernah memainkan game Kingdom Hearts sebelumnya sepertiku, saya jamin kamu bakalan kebingungan mendengar istilah Roxas, Nobody, Heartless, Organization XIII, dan berbagai istilah lainnya. Bila memang demikian (dan bila kamu malas memainkan game Kingdom Hearts sebelumnya) saya menyarankan untuk kamu setidaknya membuka Wikipedia atau mencari-cari tahu dulu cerita mengenai game sebelumnya karena 358/2 Days tidak mau repot-repot menarasikannya ulang padamu. Tidak untuk memberi spoiler lebih lanjut, 358/2 Days mengambil setting waktu antara Kingdom Hearts: Chain of Memories dan Kingdom Hearts II sembari menunjukkan kepada gamer apa kiranya yang terjadi pada Roxas selama dia berada di Organization XIII, dan hubungannya dengan anggota keempat belas dari grup tersebut: Xion, yang adalah karakter orisinil game ini.

Apabila sebelum ini game Kingdom Hearts mengambil jalan cerita petualangan, 358/2 Days tidak bisa melakukan hal yang sama karena kemampuan hardware yang kurang memadai. Untuk mengakalinya, Square Enix memakai cara yang (hampir) sama dengan Crisis Core yaitu dengan membagi jalan cerita pada berbagai misi. Artinya kamu akan selalu memulai hari-harimu sebagai Roxas dalam markas Organization XIII sebelum diutus ke berbagai dunia untuk menjalankan misi yang disediakan. Ini juga sekaligus mengurangi kebebasanmu untuk menjelajahi dunia-dunia sesuai keinginanmu. Misalnya kamu hendak pergi ke dunia Aladdin di Agrabah tapi tidak ada misi yang mengharuskanmu pergi ke sana? Ya kamu tidak bisa pergi ke sana. Keterbatasan ini sebenarnya sangat saya sayangkan, walaupun saya juga tidak menyalahkan Square Enix sepenuhnya.

Setidaknya Square Enix berusaha menebus ini dengan memberi kita sistem panel yang inovatif. Sistem panel memberimu kebebasan untuk mengkustomisasi Roxas semaumu. Ingat sistem inventori baru Resident Evil yang diperkenalkan mulai serial keempatnya? Seperti itulah kamu bisa mengkustomisasi Roxas. Roxas akan memiliki slot-slot yang bisa diisi berbagai jenis kotak di dalamnya. Kotak ini bisa merepresentasikan segala sesuatu mulai dari menambah status Roxas, memberinya kemampuan sihir, melengkapinya dengan item, mengequip senjata, bahkan level up. Betul, dalam game ini status Roxas tidak akan begitu saja langsung bertambah setelah kamu level up, sebaliknya kamu akan mendapatkan kotak level-up yang bisa kamu pasang di dalam panelmu bila kamu inginkan. Pada awal permainan, Roxas hanya memiliki sedikit panel yang terbuka untuk dipasang tapi akan terus bertambah seiring kamu menyelesaikan misi-misimu. Sisanya tergantung imajinasimu. Apakah kamu ingin meningkatkan level Roxas setinggi-tingginya dengan memasukkan semua kotak level-up dalam panelmu? Ataukah kamu ingin menjadikan Roxas tukang pukul dengan memasukkan item penambah kekuatan serangan Roxas? Atau mungkin lebih senang menjadikan Roxas penyihir tangguh dengan memasukkan berbagai jenis elemen sihir dalam panelnya? Terserah kamu! Asal tahu saja, setiap misi yang harus diemban Roxas memiliki tantangan yang berbeda dan menantangmu mencari sistem panel terbaik untuk menyelesaikan misi tersebut secara efektif dan efisien.

Saya banyak membaca review yang memuji-muji kualitas audio visual dalam game ini, dan saya bisa bilang bahwa saya tidak sepenuhnya setuju. Untuk kualitas audionya saya senang dengan sentuhan Yoko Shimomura yang musiknya banyak dipakai ulang dan diremake dalam 358/2 Days. Sayangnya itu juga berarti saya seperti mendengar remake dari remake, mengingat Shimomura sendiri sudah meremake lagu-lagu klasik Disney ketika dia menggubahnya untuk Kingdom Hearts. Tapi yang paling mengangguku adalah kualitas visualnya. Walaupun kota-kota dan dunia Disney yang beraneka ragam terasa impresif untuk ukuran DS, entah kenapa mereka semua terasa… mati. Setiap kali Roxas berpetualang dalam misinya saya tidak pernah melihat ada orang siapapun, kecuali beberapa karakter Disney yang ‘kebetulan’ kamu temui dan para Heartless yang kamu lawan. Apakah gamer lain yang pernah memainkan Kingdom Hearts bisa mengkonfirmasi game sebelum 358/2 Days juga serupa? Aneh melihat Agrabah dalam film Aladdin begitu penuh kehidupan mendadak menjadi lenggang dalam game ini ketika dijelajahi Roxas. Game ini memang berusaha menjelaskan dengan mengatakan bahwa badai pasir terus menghantam Agrabah sehingga menganggu kehidupan di sana, tetapi setelah Genie datang dan menghilangkan badai pasir pun kota tersebut tetap melompong kosong. Uh… apa serunya berkelana di kota mati hanya untuk menghajar para Heartless semata? Dan walaupun saya sudah hampir menyelesaikan game ini, tidak sekalipun saya menemui karakter dari Final Fantasy di dalamnya. Tidakkah Kingdom Hearts seharusnya merupakan gabungan dari dunia Disney dan Final Fantasy? Ke mana para karakter Square Enix tersebut? Ke mana Cloud dan Squall?

Singkat kata, Kingdom Hearts 358/2 Days adalah sebuah game yang hanya bisa dinikmati oleh penggemar berat Kingdom Hearts. Kurangnya introduksi pada cerita dan minimnya presentasi yang disediakan takkan membuat gamer baru menyukainya. Daripada membuang waktu main game ini, kenapa tidak menantikan datangnya Kingdom Hearts III saja?

Final Verdict

Gameplay: 7.0
Saya suka dengan sistem panel yang membuat setiap pertarungan battle menjadi mengasyikkan dan berbeda-beda. Bertarung bersama dengan teman dengan sistem Wireless juga menjadi pengalaman baru sendiri. Sayangnya, game ini membosankan dengan sistem misi-misinya yang monoton dan kurang variatif.

Graphic / Sound: 7.0
Kualitas grafisnya entah kenapa terasa hambar di mataku. Pemilihan warna-warnanya terasa mati dan kurang hidup - apa lagi bila dibandingkan dengan film animasi Disney yang biasa saya tonton. Selalu mendengar bahwa Kingdom Hearts memiliki design yang spektakuler membuat saya kian kecewa melihat dunia-dunia Disney dihadirkan secara biasa-biasa saja dalam layar DS yang kupelototi. Yah setidaknya remake musik Disney tetap nendang dari speaker DSku.

Play Time: 8.0
Menyelesaikan jalan cerita utamanya sendiri bisa memakan waktu 20 jam lebih, tetapi 358/2 Days memiliki banyak misi-misi tantangan (Challenge) yang sulit dan menantang ketangkasanmu untuk diselesaikan. Sukses menghadapinya juga akan memberimu item-item langka yang bisa kamu dapat dari para temanmu atau Moogle yang dengan senang hati akan menukarkan medali penghargaanmu dengan hadiah.

Overall: 7.3

Game Details
Developer: Square Enix
Publisher: Square Enix
Genre: Action RPG

Comments (8)

Tags: ,

Brain Age: Train Your Brain in Minutes a Day!

Posted on 13 December 2009 by Si Tukang Review

Brain Age: Train Your Brain in Minutes a Day! Cover

Brain Age: Train Your Brain in Minutes a Day! Cover

(Review Ditulis Di Tahun 2007)

Ada dua game yang menjadikan Nintendo DS menjadi pemenang dalam handheld warnya melawan PSP. Apabila di tahun pertama handheld war Nintendo DS memenangkan persaingan melalui para anjing-anjing lucu di Nintendogs, pada tahun kedua yang menjadi andalan mereka adalah permainan mengasah otak yang bernama Brain Age, sebuah puzzle penuh teka-teki dan kuis yang berfungsi menghitung seberapa terasahnyakah otak anda?

Graphic (5 / 10)

Sulit menilai grafis dalam game Brain Age ini, mengingat tampilan grafis bukanlah hal yang diutamakan oleh game ini. Hampir semua tampilan game ini sangat simple dan sederhana dengan dominasi putih sebagai latarnya dan hitam sebagai teksnya. Ada juga animasi kepala Dr. Kawashima yang digarap dengan sangat sederhana dan lebih berfungsi sebagai humor penyegar dengan ekspresi-ekspresinya yang kerap unik dan aneh.

Toh, justru karena simpelnya animasi inilah yang membuat game ini tetap bisa fokus pada gameplaynya. Mengingat game ini membutuhkan koordinasi penglihatan dan otak yang baik maka tampilan yang simple ini justru menguntungkan bagi anda untuk mengolah data-data yang disajikan di layar Nintendo DS. Bagaimana dengan angka-angka dan tulisan yang ada di dalam game ini? Jangan khawatir, angka dan tulisan dalam game ini ditulis dengan huruf besar sehingga memudahkan untuk dibaca. Presentasi grafis dalam game ini memang sederhana – tetapi tepat guna.

Sound (5 / 10)

Suara dalam game ini setali tiga uang dengan grafisnya. Sangat simple karena tidak ingin membuat konsentrasi kita terganggu. Sekali lagi perlu diingat bahwa Brain Age adalah sebuah game yang membutuhkan konsentrasi otak yang tinggi karena penuh dengan teka-teki perhitungan sederhana maupun hafalan. Tidak lucu bukan kalau anda disuruh berkonsentrasi sembari mendengarkan lagu-lagu dari game ini?

Suara dalam game ini sangat terbatas pada sound effect yang ada, countdown timer sebelum soal mulai dan menjelang soal berakhir akan menjadi suara yang kerap kali anda dengar kalau anda tengah menggarap soal-soal di game ini. Ada juga suara tulisan kapur di papan tulis apabila anda menulis jawaban di layar Nintendo DS anda. Walaupun dengan berbagai variasi suara sederhana ini, pada akhirnya memang segi audio visual bukanlah tujuan utama di dalam game ini.

Gameplay (9.5 / 10)

Nah, review SESUNGGUHnya Brain Age dimulai dari sini. Mari kita bedah apa sih sebenarnya Brain Age itu? Brain Age adalah hasil penelitian dari seorang ilmuwan kedokteran di Jepang bernama Dokter Kawashima. Ia menemukan bahwa otak seseorang harus terus diasah supaya tetap tajam – dan ia menyatakan bahwa metode yang paling efektif dalam melakukannya adalah dengan melakukan perhitungan sederhana, menggambar, dan membaca secara keras. Menurut Dokter Kawashima, otak manusia yang terbaik adalah otak seseorang yang berusia 20 tahun. Brain Age versi game ini konon menggabungkan banyak puzzle-puzzle mini yang bisa mengasah otak kita!

Apakah benar kalau game ini akan membuat kita bertambah pandai? Sejujurnya saja saya tidak tahu. Tidak ada peneliti lain yang berani memberi jawaban pasti mengenai hal ini (paling jauh mereka hanya akan berkomentar: “memang lebih baik menghabiskan waktu luang dengan cara seperti ini ketimbang minum bir atau nonton TV sepanjang hari”. Hanya saja saya berani memberi garansi kalau Brain Age akan tampil sebagai sebuah game yang adiktif yang bisa membuat anda seru untuk memainkannya secara berkala!

Ketika memulai permainan ini, biasanya Dokter Kawashima (animasi kepalanya paling tidak) akan meminta anda menginput informasi anda, dan kemudian melakukan tes untuk menentukan hasil Brain Age anda. Sangat sulit membayangkan anda akan mendapatkan Brain Age yang sesuai dengan usia anda (biasanya orang akan mendapatkan Brain Age yang lebih tua ketimbang usianya). Setelah itu Dokter Kawashima akan memperingatkan kepada anda pentingnya untuk terus mengasah otak anda!

Game ini menyediakan berbagai puzzle untuk dipecahkan. Puzzlenya sendiri bervariasi: mulai dari 20 soal perhitungan sederhana (dan upgradenya; 100 soal perhitungan sederhana), membaca cerita singkat, menghafal tata letak angka, menghitung jumlah orang di rumah, dan macam-macam lagi. Hasil dari bagaimana anda mengerjakan puzzle ini akan dicatat setiap harinya sebagai rekor anda. Anda akan bisa melihat sendiri pada hari-hari berikutnya bagaimana rekor anda diperbaiki setiap waktu (setidaknya rekor saya sih terus menajam tiap harinya).

Walaupun jumlah puzzle dalam game ini tidak lebih dari 10, jangan harap anda akan bisa menjajal kesemuanya dalam sekali main. Nintendo cukup cerdik dalam membuka puzzle dalam game ini satu demi satu menggunakan metode Stamp. Pada hakikatnya, setiap hari anda mengerjakan sebuah puzzle, anda akan mendapatkan satu stamp. Singkatnya, semakin sering anda memainkan Brain Age, semakin cepatlah anda bisa membuka mode-mode permainan baru yang sebelumnya masih terkunci!

Saya salut pada sistem pengenalan tulisan di dalam game ini. Game ini mampu membaca berbagai jenis angka dengan cerdiknya. Saya telah mencobakan game ini kepada sekurang-kurangnya lima orang yang berbeda (dengan tingkat pemahaman game yang berbeda pula) – hebatnya, tak seorang pun mengeluh Brain Age salah mengintepretasikan tulisan mereka. Ini jelas sangat bagus, karena kesalahan intepretasi bisa berakibat fatal dalam game ini.

Sayangnya apabila Nintendo menggarap segi handwriting recognition dengan baik, tidak demikian halnya dengan voice recognition dalam game ini. Entah kenapa game ini sering kesulitan untuk mengerti perintah yang saya ucapkan ke dalamnya. Sering sekali perbincangan semacam ini terjadi ketika saya tengah memainkan Brain Age saya.

Me: Blue
Brain Age: …
Me: BLUE
Brain Age: …
Me: BLUE!!
Brain Age: …
Me: I SAID BLUE DAMMIT!
Brain Age: …
Me: *Menghela nafas*

Beruntung ada fitur untuk menghindari tes voice recognition di dalam game ini. Masalah ini pulalah yang membuat saya urung memberikan nilai 10 pada sistem gameplay dalam game ini.

Longetivity (8.5 / 10)

Hampir jaminan bahwa seusai anda mencobanya sekali maka Brain Age akan membuat anda kembali hari demi hari untuk menguji dan mengasah otak anda. Toh sesudah hampir satu bulan ketika anda sudah membuka semua rahasia yang ada dan mengasah otak menjadi usia 20 tahun (saya perlu waktu 12 hari untuk mendapatkan otak maksimal ini), anda kemungkinan besar akan bosan pada single player mode dalam game ini.

Tenang saja, Nintendo masih menyajikan arena adu cepat dengan menggunakan sistem wireless Nintendo DS anda. Kalau anda rasa anda sudah yang tercepat dalam mengerjakan perhitungan aritmatika dalam game ini, silahkan pikir ulang, siapa tahu teman anda lebih jenius ketimbang anda!

Sudah bermain dengan teman sampai bosan? Apakah itu artinya game ini sudah bisa dilupakan? Sama sekali tidak – karena game ini berisikan banyak sekali puzzle Sudoku di dalamya sebagai muatan khusus. Puzzle yang beken dan dipercaya bisa mengasah logika otak kita ini tersedia sampai puluhan variasi di dalam Brain Age. Sistem navigasinya yang ramah dan enak dipakai ini membuat banyak orang kesengsem dengan dunia Sudoku. Nah, sekarang anda ada ratusan game Sudoku untuk mengisi waktu luang anda.

Editor’s Tilt (7.5 / 10)

Brain Age adalah satu lagi title yang solid dari Nintendo – game inilah yang membuat Nintendo DS tetap berdiri tegar kendati digempur dengan variasi gamenya PSP. Saking suksesnya game ini ia membuahkan banyak tiruan bervariasi – baik yang berkualitas, yang kurang berkualitas, sampai yang tidak berkualitas sama sekali.

Nah, apakah anda merasa anda kurang smart dalam kehidupan sehari-hari? Merasa kurang cakap atau pandai berkomunikasi dan berpikir? Sulit menghafal? Tidak usah jauh-jauh tes IQ, silahkan saja langsung tes Brain Age anda!

Average: 7.1

Game Details
Developer: Nintendo
Publisher: Nintendo
Genre: Puzzle

Comments (0)

Tags: , , , , ,

WireWay

Posted on 27 November 2009 by Si Tukang Review

WireWay Cover

WireWay Cover

Di tengah begitu banyaknya limpahan game-game buat DS wajar kalau terkadang sebuah mutiara terpendam yang terlewat oleh gamer di dalamnya. WireWay adalah sebuah game seperti itu. Kalau bukan karena iseng-iseng mencari game baru untuk dimainkan, saya takkan pernah menemukannya. Saya sebenarnya takjub melihat game ini begitu sedikit mendapatkan perhatian dari media massa padahal ia digarap oleh Konami dan adalah game puzzle yang unik, sebuah genre yang biasanya dibahas secara tuntas oleh banyak situs game terkenal macam Gamespot atau IGN. Ingat tidak bagaimana kedua situs tersebut mengupas tuntas tentang Scriblenauts ketika game tersebut menghebohkan pameran E3? Apa jangan-jangan gara-gara terlalu sibuk membahas mengenai game tersebut berita mengenai WireWay jadi kelewatan?

Dalam game ini dikisahkan kalau ada dua alien bernama Wiley dan ReFresh yang datang ke bumi untuk mencari sebuah sumber tenaga (buat mereka) yang bernama Elan. Elan ini bentuknya seperti bintang kuning dan ternyata tersedia secara melimpah di bumi kita. Dimulailah petualangan dua alien unik ini dalam mencarinya. Mereka bagi tugas. ReFresh bertugas jaga di pesawat sementara Wiley berkeliling untuk mencari Elan.

Walau secara cerita tergolong mengada-ada, adalah gameplaynya yang membuat WireWay yang unik. Cara kamu menggerakkan Wiley menjelajahi stage bukan sambil berjalan dengan D-Pad tapi sambil bergelantungan di sebuah kawat (karena itu namanya WireWay). Kontrol sepenuhnya digunakan dengan stylus dan touch screenmu. Kamu akan menarik kawat itu untuk melontarkan Wiley ke angkasa sambil mengambil Elan yang berserakan. Setiap stage biasanya memiliki kuota yang harus dipenuhi Wiley sebelum dia diijinkan sampai pada penghujung stage dan kembali pada pesawat luar angkasa yang menantinya. Setiap level nantinya terbagi dalam beberapa area di mana pada area terakhir Wiley akan berhadapan dengan bos di level itu.

Selain mode utama (Quest Mode) yang saya sebutkan di atas, masih ada dua jenis permainan lain yang ditawarkan oleh Challenge Mode WireWay. Semuanya juga sama-sama memintamu mengendalikan Wiley tapi dengan modifikasi yang membuatnya berbeda. Yang pertama adalah Flick Trial; di mana kamu diharuskan menyelesaikan sebuah stage tidak hanya dengan mendapatkan sejumlah Elan tertentu saja tetapi juga dengan Flick (gerakan melontarkan Wiley) yang terbatas. Tentu saja semakin sedikit kamu menggunakan Flick sembari mengumpulkan Elan sebanyak mungkin akan menghadiahkan untukmu skor yang kian tinggi. Mode kedua (yang menurut saya bahkan lebih menantang dibanding Quest Mode-nya sendiri) adalah Strategery. Di sini kamu hanya diberi sebuah stage yang terdiri dari satu kawat saja. Jelas tidak mungkin menyelesaikan sebuah stage hanya dengan sekali Flick, jadi apa opsimu? Well, dalam Strategery kamu diperkenankan menghentikan permainanmu untuk sementara dengan tombol L atau R kemudian menggambar kawatmu sendiri. Seperti nama modenya, semakin sedikit kamu mempause permainan untuk menggambar kawat berarti semakin tinggi jugalah nilaimu. Sekreatif apakah imajinasimu akan menolong Wiley?

Presentasi dalam game ini benar-benar aneh bin ajaib. Gambarnya sebenarnya sangat sederhana, tetapi malahan pas dengan suasana gamenya yang memang nyentrik. Begitu pula musiknya yang riang mengiringi setiap stage. Walau tampilannya seakan sebuah kemasan game untuk anak-anak, WireWay sebenarnya memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Menyelesaikan level demi level ala kadarnya mungkin tidak seberapa menantang akan tetap mencari semua Elan di sebuah level atau bahkan mendapatkan semua bagian puzzle tersembunyi dalam game (untuk mengubah tampilan Wiley) sangat sulit dan bakalan memakan waktumu. Kesulitan ini juga dipertajam karena tampilan dua layar DS yang menganggu. Ada kalanya batas antara dua layar lipatan DSmu itu justru menutupi Elan atau kawat yang kamu tuju. Walhasil kamu terpaksa hanya bisa menebak-nebak ke mana kiranya kamu harus melontarkan Wiley. Ini akan sangat menganggu permainan (terutama di Flick Trial) karena presisi adalah kunci utama memainkan WireWay.

Tapi semua kekurangan kecil itu rasanya bisa dimaafkan bila melihat bagaimana orisinilnya permainan yang ditawarkan oleh WireWay. Mengingat puzzle tiap levelnya yang bisa diselesaikan dalam kurun waktu sepuluh menit, ini game yang cocok buat dimainkan secara portabel; alias sedikit demi sedikit. Jangan biarkan kurangnya pemberitaan mengenai game ini membuatmu menyangka kalau game ini jelek. It isn’t.

Final Verdict

Gameplay: 7.5
Sebenarnya gameplay yang mengutamakan Flicking ini menarik. Kontrolnya juga cukup enak dengan membiarkan Wiley sliding selagi bergantung di kawat. Kelemahannya adalah kadang akurasi proyeksinya suka keliru dan benda-benda yang tertutup oleh lipatan DS menganggu keseluruhan permainan.

Graphic / Sound: 8.0
Sederhana, tetapi inilah aspek yang membuat WireWay begitu imut sekaligus keren. Kalau boleh jujur, karena tertarik dengan presentasi ‘gila’ inilah saya jadi memainkan WireWay.

Play Time: 8.0
Dengan tiga variasi mode permainan (belum lagi bersaing dengan orang lain lewat fitur Multiplayer), kamu bisa menghabiskan waktu main WireWay… tentunya bila kamu menyukai game bertipe semacam ini.

Overall: 7.7

Game Details
Developer: Konami
Publisher: Konami
Genre: Puzzle Platform

Comments (2)

Tags: , , , , , ,

Drawn to Life: The Next Chapter

Posted on 24 November 2009 by Si Tukang Review

Drawn to Life: The Next Chapter Cover

Drawn to Life: The Next Chapter Cover

(Review Based on DS Version)

Tahun 2009 ini menjadi tahun yang gemilang untuk tim developer kecil bernama 5th Cell. Game mereka yang bernama Scriblenauts mendadak menjadi bintang dalam pameran game dan dipergunjingkan di mana-mana. Setelah Scriblenauts dirilis, para pengamat menyebut bahwa walau game ini tidak sesempurna yang mereka sangka sebelumnya, game bergenre puzzle tersebut tetap dianggap game terinovatif tahun ini. Ternyata kejutan 5th Cell untuk tahun 2009 ini tidak hanya itu. Mereka juga menyiapkan sekuel untuk game 2D platform mereka tahun 2007 dulu.

Saya pribadi tidak terlalu terkesima dengan Drawn to Life. Sama halnya dengan Scriblenauts, Drawn to Life sempat mendapat perhatian publik saat itu karena disangka akan merevolusi dunia 2D platform dengan janji “menciptakan stagemu sendiri”. Sayangnya janji tinggal janji dan Drawn to Life justru menjadi game yang kehilangan identitas. Sebagai 2D platform jatuhnya tanggung dengan stage yang biasa dan tidak menantang. Jalan ceritanya terlalu kekanak-kanakan untuk dibandingkan dengan RPG. Terakhir elemen menciptakan dunia sendiri malah merusak pacing permainan karena mengharuskan gamer berhenti untuk menggambar obyek-obyek dalam game.

Ketika sekuel ini dirilis, saya berharap kalau 5th Cell sudah belajar dari pengalaman mereka dan mengubah pola permainan dalam Drawn to Life: The Next Chapter. Harapan saya memang terkabul… kurang lebih.

Game ini masih menawarkan premise yang sama dengan prekuelnya. Kamu bisa menggambar karaktermu sendiri dan obyek-obyek tertentu dalam game. Bedanya elemen penciptaan kini tidak lagi memakan terlalu banyak waktumu. Apabila dalam prekuelnya, setiap beberapa menit sekali saya harus berhenti untuk menciptakan obyek baru dan ini sangat menganggu pacing permainan genre 2D platform. Mana pernah kamu bermain Mario atau Sonic lantas di tengah-tengah stage kamu harus berhenti karena menggambar jamur atau cincinmu? Nah, dalam The Next Chapter, hanya ada beberapa obyek yang harus kamu gambar. Kalau kamu malas menggambar (sepertiku) pun game ini menyediakan fitur penggambaran otomatis.

Bicara soal ceritanya sendiri, game ini adalah sekuel langsung dari Drawn to Life. Kamu adalah sang Creator (pencipta) yang dimintai tolong oleh bangsa Raposa. Setelah berhasil mengalahkan Wilfre dalam ending game pertama, kedamaian kembali pada bangsa Raposa. Tak disangka Wilfre belum tewas tetapi hanya bersembunyi di balik sosok Heather. Setelah Wilfre kembali muncul, ia menyedot semua warna dari dunia Raposa. Sekali lagi sebagai sang Creator kamu menghidupkan sebuah boneka yang akan kamu kendalikan dalam petualanganmu di empat dunia demi menghentikan Wilfre dan mengembalikan warna ke dunia para Raposa.

Mungkin karena pangsa pasar Drawn to Life yang ditujukan untuk anak kecil, hampir-hampir tidak ada tantangan dalam memainkan game ini. Setiap stagenya rata-rata bisa saya selesaikan dalam waktu lima hingga sepuluh menit, hampir tanpa pernah mati sekalipun. Ada beberapa alasan kenapa game ini begitu gampang. Yang pertama: kamu tidak akan bisa game over. Sekalipun kamu kehabisan darah atau jatuh ke dalam jurang, kamu akan respawn di awal level tersebut. Yang kedua: kamu tentu tahu bila terkena serangan biasanya karakter dalam sebuah game akan berkedap-kedip tanda ia kebal terhadap serangan selama beberapa saat. Dalam kebanyakan game ‘kekebalan’ itu hanya berlangsung sepersekian detik, dalam game ini kekebalan itu bisa bertahan sampai dua tiga detik! Walhasil saat melawan bos sekalipun, kamu akan jarang - jarang - jarang sekali kesulitan. Kemampuan sang boneka pun luar biasa. Arena-arena dalam The Next Chapter rata-rata bisa ditempuh dengan kemampuan sekali lompatan akan tetapi sang boneka memiliki kemampuan dua lompatan (double jump), bahkan di pertengahan game ia akan mendapatkan kemampuan berubah menjadi bentuk laba-laba dan bisa menempel di mana-mana. Apabila sesudah mendapat bentuk laba-laba, game yang tadinya saya anggap tidak sulit turun levelnya menjadi sama sekali tidak memiliki tantangan.

Dari sisi teknis lain, game ini sebenarnya impresif. Design level dan dunia Raposa kini lebih bervariasi dan banyak dibandingkan prekuelnya. Ada beberapa cutscene animasi berkualitas tinggi yang bisa ditonton (atau bisa diskip kalau kalian tidak suka cerita bertele-tele) juga lagu-lagu dan musik baru maupun lama yang didaur ulang dari game sebelumnya. Drawn to Life: The Next Chapter memang sebuah 2D platform yang ditujukan bagi kalangan gamer muda, dan untuk itu ia sukses besar.

Final Verdict

Gameplay: 6.5
Lagi-lagi fitur menciptakan dunia hanya menjadi gimmick yang tersia-siakan. Tetapi kali ini kontrol game lebih solid, juga menyajikan lebih banyak stage dan tiga jenis bentuk boneka untuk menghadapi tantangan yang ada. Ceritanya walau bersifat sebagai pelengkap memiliki twist yang mengejutkan (atau murahan?) juga pada penghujung cerita. Sekedar info, The Next Chapter bisa juga menjadi The Final Chapter!

Graphic / Sound: 8.5
Grafis dan suara game ini memiliki charm khasnya. Bangsa Raposa yang bermacam-macam dan imut itu langsung membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Game ini juga menyuguhkan beberapa cutscene selama penceritaan. Saya kangen dengan bangsa Raposa setelah sebelumnya Drawn to Life mengambil spin-off bertemakan Spongebob.

Play Time: 6.0
Apabila kamu mau dengan sabar mengikuti ceritanya, game ini bisa cukup panjang hingga sepuluh jam. Percaya deh, tiap cutscene antar stage itu lamanya bukan main - lebih panjang dari kamu menyelesaikan stagenya sendiri. Sebaliknya bila kamu melewati semua cutscene ceritanya (seperti saya), game ini bisa kamu selesaikan dalam waktu kurang lebih dua sampai tiga jam.

Overall: 7.0

Game Details
Developer: 5th Cell
Publisher: THQ
Genre: 2D Platform

Comments (0)

Tags: , , , ,

Lego Rock Band (DS)

Posted on 23 November 2009 by Si Tukang Review

Lego Rock Band DS

Lego Rock Band DS

(Review Based on DS Version)

Makin lama franchise Lego rasanya makin melebarkan sayapnya. Setelah Lego Star Wars dipuji sebagai game adventure yang inovatif karena menggabungkan dunia Star Wars dan Lego (ayo ngaku, tidak ada kan yang sebelum game ini dirilis berpikir kalau kedua dunia ini bisa ketemu?), franchise ini kian merambah ke mana-mana. Dua game trilogi Lego Star Wars diluncurkan, kemudian tak berapa lama kemudian Lego Indiana Jones dan Lego Batman pun dirilis. Semuanya mendapatkan kesuksesan luar biasa. Pertanyaan yang ada di benak orang kemudian adalah ke mana lagi Lego akan dibawa? Ada yang menebak Harry Potter, ada yang menebak Spider-man, dan banyak lagi franchise-franchise besar yang disebut-sebut bakal dilegokan (istilah yang saya ciptakan ketika sebuah franchise digarap versi Legonya). Di luar dugaan, justru yang diumumkan adalah kerja sama dengan Harmonix untuk membuat sebuah game Lego Rock Band. Game ini dirilis pada sistem konsol dan handheld DS, dan review ini akan berpusat pada versi DS yang berbeda dengan sistem Rock Band yang sudah dikenal selama ini. Versi DS ini digarap oleh Backbone Entertainment sehingga patut dipertanyakan, bisakah developer ini menciptakan ulang keajaiban yang dilakukan Harmonix untuk versi konsolnya?

Dalam Rock Band versi konsol, setiap orang biasanya memiliki seperangkat alatnya sendiri dan kemudian memainkan instrumen mereka bersama-sama. Inilah kenapa Rock Band disebut-sebut sebagai game yang sangat adiktif bila dimainkan berbarengan. Bagaimana cara DS mengulang kesuksesan ini? Justru dengan mengubah gameplay konsolnya yang sudah terbukti sukses. Kini kamu seorang diri bisa memainkan empat alat instrumen secara bergantian. Dalam setiap lagu akan ada empat pola yang masing-masing merepresentasikan satu anggota bandmu. Dasarnya hampir sama dengan setiap game rhytm lainnya. Ada balok yang berjatuhan sesuai irama dan kamu harus menekan tombol yang sesuai tepat di saat balok itu meluncur melewati garis bawah. Bila kamu berhasil membangun kombo tanpa terputus, sebuah bar ungu perlahan-lahan terisi dan setelah penuh akan mengubah balok yang tengah meluncur menjadi warna ungu. Apabila kamu berhasil menekan tombol untuk balok ungu, karakter yang memainkan instrumen tersebut akan senang. Nah, setelah berhasil memuaskan seorang karakter, segera tekan L atau R untuk langsung berpindah pada karakter lainnya dan ulangi proses sebelumnya. Apabila kamu bergerak dengan cukup cepat, kamu akan membuat semua karaktermu menjadi bahagia dan bisa meraup poin setinggi-tingginya dengan nilai kombo berkali lipat. Walaupun ini berbeda total dengan cara versi konsolnya, versi DS ini tetap menarik karena merupakan mode paling pas untuk dimainkan dalam handheld DS yang terbatas.

Harmonix sebenarnya juga tidak mau mengecewakan penggemarnya. Mereka benar-benar memaksimalkan potensi suara dalam game ini sehingga berhasil memasukkan 25 lagu ke dalam cartridge DS. Kualitas suaranya pun mumpuni. Lantas bagaimana dengan seleksi lagunya? Ternyata walau berjudul Rock Band, Harmonix fleksibel memasukkan lagu-lagu di luar genre Rock. Saya pribadi bukan pengikut lagu dan menganggap diri sebagai orang awam. Toh nyatanya saya bisa mengenali lebih dari separuh lagu dalam game ini. Bila kalian penasaran ada lagu apa saja di dalamnya, beberapa yang sangat senang saya mainkan adalah Accidentally in Love (OST Shrek 2), Kungfu Fighting (OST Kungfu Panda), Ghostbusters (OST Ghostbusters), dan The Final Countdown (Europe). Selain yang saya sebut tadi, masih ada segudang lagu lagi dalam Lego Rock Band sehingga kompilasi lagu ini dijamin takkan membuatmu bosan. Karena memaksimalkan unsur audionya, mau tak mau grafis dalam game ini harus dikorbankan. Grafisnya jauh dari jelek - jangan khawatir - tetapi tidak ada yang ‘Lego’ dari titel ini selain melihat artis yang beraksi kali ini berada dalam versi Lego (dan karena kamu sibuk memperhatikan tombol, kamu pasti tidak akan sempat melihat layar atas bukan?). Mode Tour sebenarnya mengijinkanmu untuk mendekorasi ruangan anggota bandmu ataupun membangun kendaraan (gaya Lego) untuk membawamu berkonser di tempat yang baru, tetapi semua ini lebih seperti sumpalan yang dipaksakan untuk menjustifikasi penambahan titel ‘Lego’ di depan kata Rock Band.

Bila kamu mencari sebuah game rhytm yang bagus setelah Osu! Tatakae! Ouendan! dan Elite Beat Agent, Lego Rock Band adalah alternatif yang sangat bagus dan menarik. Hanya saja jangan terlalu berharap pada unsur lego dalam game ini.

Final Verdict

Gameplay: 8.0
Walau mengubah sistem gameplay konsolnya, ternyata sistem handheldnya juga menarik karena sudah terbukti efektif ketika Rock Band pertama kali go portabel di PSP. Satu-satunya tambahan inovatif dalam Lego Rock Band di DS adalah dikenalkannya balok ungu dan kebebasan gamer mengendalikan keempat karakter dalam bandnya seorang diri.

Graphic / Sound: 9.0
Oke grafis Lego Rock Band memang ala kadarnya dan masih terlihat kasar pada bagian-bagian polygon 3D tertentu. Toh untuk soal musik game ini sangat mantap. Koleksi 25 lagunya adalah koleksi terbesar untuk game rhtym yang dirilis di DS. Sebagai pembanding, Elite Beat Agent dan seri Osu! Tatakae! Ouendan! playlistnya tidak lebih dari 20 lagu.

Play Time: 7.5
Satu-satunya pembatasmu untuk berhenti memainkan Lego Rock Band adalah ketika kamu bosan mendengarkan lagu-lagunya. Mengingat 25 lagu yang dipilih rata-rata merupakan timeless classic juga ada lima mode kesulitan (Super Easy, Easy, Medium, Hard, Expert) maka kalau kamu penggemar game rhytm, game ini akan memaksamu memainkannya selama puluhan jam sebelum bosan.

Overall: 8.3

Game Details
Developer: Backbone Entertainment
Publisher: Warner Bros Interactive Entertainment
Genre: Rhytm

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here