Archive | Handheld

Tags: , , , , , , , ,

Ace Attorney: Phoenix Wright

Posted on 10 March 2010 by Si Tukang Review

Ace Attorney: Phoenix Wright Cover

Ace Attorney: Phoenix Wright Cover

Selama ini pasar Amerika dikenal sulit sekali menerima sebuah text-based novel game. Karena alasan itulah kebanyakan game love simulation seperti Tokimeki Memorial atau game hent… (*ditimpuk*) tidak pernah mendapatkan rilis di Amerika. Tren mulai berubah tahun-tahun belakangan ini, di DS sendiri ada begitu banyak game text-based yang masuk seperti Hotel Dusk, Time Hollow, dan banyak lagi. Entah kebetulan entah tidak, saya merasa bahwa tren ini dimulai sejak kesuksesan Phoenix Wright menembus kalangan mainstream gamer.

Mungkin kalian bertanya-tanya, apakah itu Ace Attorney? Apakah itu Phoenix Wright? Jawabannya: game simulasi persidangan. “Ah, persidangan? Bosan dong karena penuh dengan dialog-dialog hukum yang berat macam novelnya John Grisham?” begitukah pikiran kalian? Kalau iya maka baca lebih lanjut review yang akan mengubah pandanganmu terhadap game ini.

Ace Attorney: Phoenix Wright, sesuai judulnya, menempatkan gamer dalam posisi seorang pengacara (defense attorney) rookie bernama Phoenix Wright. Dalam game yang terbagi di lima skenario ini, kamu akan membela klienmu yang terlibat dalam kasus-kasus pembunuhan yang misterius. Uniknya, klien yang kamu bela di sini tidak bersalah dan difitnah oleh sang pembunuh yang sebenarnya. Adalah tugasmu sebagai pembela keadilan (mode lebay) untuk menyingkap kebenaran, membebaskan klienmu dari tuduhan dan menangkap sang pelaku yang sebenarnya! Tentunya tugasmu tidak akan mudah karena kamu akan berhadapan dengan para jaksa (prosecutor) yang berusaha sekuat tenaga menyeret klienmu ke penjara.

Gameplay dalam Phoenix Wright terbagi dua bagian. Yang pertama adalah mode penyelidikan di mana sebagai Phoenix kamu akan menginspeksi TKP dan mewawancarai para saksi untuk mengumpulkan barang bukti. Setelah mendapatkan cukup bukti, kamu akan masuk ke fase kedua di ruang pengadilan. Di sini para juri akan memanggil saksi yang akan memberikan pernyataan (testimonial) mereka akan bagaimana kejadian pembunuhan terjadi. Tentu saja apabila klienmu benar, berarti ada yang salah dengan pernyataan para saksi tersebut. Sebagai Phoenix, kamu akan bertanya lebih lanjut dan mencari kontradiksi (contradiction) dalam pernyataan mereka. Bila ketemu, tunjukkan barang bukti (evidence) yang akan membawa klienmu (tersangka / defendant) selangkah menuju kebebasan. Tapi hati-hati, kegagalanmu untuk mempresentasikan barang bukti yang benar pada statemen yang tepat akan mengurangi kredibilitasmu di mata hakim. Berbuat salah terlalu banyak - lima kali - dan kamu akan kalah dalam kasusmu!

Game ini pertama kali dirilis di Jepang pada tahun 2001 pada platform GBA dengan judul Gyakuten Saiban. Kesuksesannya di Jepang disusul dengan dua rilis game Gyakuten Saiban lain, membentuk salah satu trilogi terbaik dunia game. Saat DS diluncurkan, Capcom meremake Gyakuten Saiban dan menambahkan bonus satu kasus di dalamnya yang memanfaatkan fitur DS (game aslinya hanya terdiri dari empat kasus). Kasus tambahan dalam DS ini merupakan salah satu nilai plus versi remakenya karena memberi metode penyelidikan baru yang tadinya tidak memungkinkan di media GBA. Sebagai contoh kamu tidak hanya bisa menginspeksi foto tetapi juga video kali ini. Kamu juga bisa meniup mikrofon DS untuk mencari sidik jari tersangka yang tertinggal di lokasi. Wah, serasa jadi detektif beneran deh!

Apa yang membuat Ace Attorney begitu sukses tidak cuma terletak di ceritanya saja tetapi juga pada deretan cast yang memorable. Mulai dari Phoenix Wright dan Fey bersaudara yang menjadi asisten sebagai protagonis cerita, game ini menghadirkan deretan karakter yang penuh warna dan membekas di hati. Saya tidak mau berspoiler lebih lanjut, tetapi yang jelas setiap tersangka, setiap saksi, dan setiap jaksa yang kamu hadapi dalam game ini akan membuatmu terpingkal, terharu, hingga geram dengan tingkah mereka. Lokalisasi ke Amerika yang ditangani Alexander O. Smith (translator dari beberapa game Final Fantasy) juga dengan cerdik tidak mentah-mentah mentranslasikan dari versi Gyakuten Saiban melainkan mengubah sedikit cita rasanya ke dalam budaya Amerika (yang lebih global). Purist mungkin ingin tetap memainkan Gyakuten Saiban (well, that’s their loss) tapi penulisan dalam Ace Attorney: Phoenix Wright sudah mendapatkan apresiasi sebagai game dengan skrip terbaik di DS oleh banyak media cetak maupun online.

So my verdict is… tunggu apa lagi? Adalah dosa besar bila kamu memiliki DS dan kelewatan salah satu title terbaiknya ini (saya menaruhnya di posisi kedua hanya di belakang Mario Kart DS). Selamat datang ke dunia pengadilan!

Final Verdict

Gameplay: 9.5
Yang membuatku terkagum-kagum dengan Ace Attorney adalah bagaimana mereka bisa menjaga pace permainan. Dalam investigasi, kamu dibuat tertawa dengan dialog-dialog ‘ajaib’ yang kamu dapatkan dari para saksi. Tapi dalam persidangan, kamu bakalan geregetan dan saling bertukar argumen menghadapi jaksa. Ada kepuasan sendiri yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata bila kamu berhasil memenangi debatmu. Kasus keempat dan kelima dalam game ini merupakan kasus-kasus epik yang duel antaramu melawan jaksa yang tidak kalah dengan pertarungan menghadapi final boss di RPG-RPG. Tidak percaya bisa seseru itu? Buktikan sendiri.

Graphic / Sound: 8.5
Berhubung ini adalah sebuah game yang diangkat dari GBA, kekurangan terutama ada pada bagian visualnya. Toh, sebuah game teks tidak mementingkan grafis sedemikian rupa bukan? Dalam review saya mengatakan kalau tiap karakter di dalam game ini memorable, dan faktor yang membantu kememorablean mereka adalah designnya yang unik dan berbeda untuk setiap karakter. Audionya juga berkualitas prima. Digubah ulang dalam versi orkestra membuktikan kualitas music game ini.

Play Time: 8.0
Bila ada titik lemah dalam game ini, itu pastilah waktu permainannya. Ace Attorney menderita kelemahan setiap game text-based lainnya: nilai replayabilitynya. Apabila kamu selesai memainkan game ini sekali, tidak ada alasan untuk mengulang memainkannya lagi, kecuali sudah beberapa tahun kemudian dan kamu sudah lupa ceritanya (biasanya saya memainkan ulang game lama begitu ada seri Ace Attorney baru mau keluar). Toh, lima skenario yang ditawarkan game ini akan memakan waktu 15 – 20 jam permainanmu; tergolong cukup panjang dibandingkan kebanyakan game text-based adventure lainnya.

Overall: 8.9

Game Details
Developer: Capcom
Publisher: Capcom
Genre: Adventure

Comments (2)

Tags: , ,

OBJECTION!!!

Posted on 10 March 2010 by Si Tukang Review

phoenix-wright-crop

Tahun 2006.

Tahun itu adalah tahun di mana saya pertama kali membeli Nintendo DS. Padahal, sebelumnya saya tidak pernah tertarik untuk bermain game portabel yang saya anggap inferior dibandingkan game-game dalam konsol. Ketertarikan saya pada DS diawali dengan rasa penasaran sistem dual screen, touch screen, sampai mikrofon yang menjanjikan pengalaman game yang baru dan berbeda. Setelah melihat bahwa DS memiliki kumpulan game yang cukup banyak (ditambah dengan sudah bisa dipakainya sistem Supercard buat main game bajakan, he he he…) saya pun membeli Nintendo DS perak pertamaku (sedikit curhat: tanpa tahu bahwa dua bulan kemudian Nintendo bakalan merilis versi Lite buat DS, hiks!)

Saat itu, DS sudah dikenal sebagai rumah dari game-game tipe simulasi. Ambil contoh simulasi pet ala Tamagotchi yang muncul dalam bentuk Nintendogs, atau simulasi kehidupan Animal Crossing. Yang pada saat itu membuat saya penasaran dengan DS toh adalah tiga jenis simulasi game. Simulasi menjadi dokter (Trauma Center), simulasi survival (Lost in Blue - tidak ada hubungannya dengan Lost TV Series), dan yang terakhir adalah simulasi pengacara: Ace Attorney: Phoenix Wright. Saya memainkan ketiga game itu dengan tingkat kesenangan yang berbeda. Trauma Center dan Lost in Blue adalah game-game yang menarik, tetapi Phoenix Wright membawa kesenangan gaming saya ke level yang sama sekali baru.

Dalam countdown 25 game terbaik DS yang pernah saya post di sini beberapa waktu yang lalu, saya menempatkan Ace Attorney: Phoenix Wright sebagai game kedua favoritku di bawah Mario Kart DS. Akan tetapi untuk ukuran franchise secara keseluruhan, Ace Attorney masih merupakan serial game terbaik yang pernah hadir di DS (again - in my humble opinion). Setelah dijualnya DS lamaku beberapa bulan setelah aku membelinya, lagi-lagi serial ini berjasa membawaku kembali. Apabila bukan karena Justice for All yang dirilis di DS, saya tidak bakalan membeli DS Lite lagi. Nah, mengingat begitu panjang dan dalamnya sejarahku dengan game ini, dengan dirilisnya game terbaru serial ini berjudul Ace Attorney Investigator, saya akan menulis marathon lima review game Ace Attorney sebagai tribut bagi serial game favoritku ini.

Enjoy the world of trials, tribulations, and fun!

Comments (3)

Tags: , , , ,

Jak and Daxter: The Lost Frontier

Posted on 05 March 2010 by Si Tukang Review

Jak and Daxter: The Lost Frontier PSP Cover

Jak and Daxter: The Lost Frontier PSP Cover

(Review Based on PSP Version)

Naughty Dog membuat salah satu game platform adventure terbaik di Playstation 2 melalui serial Jak and Daxter. Trilogi game sudah sukses mengumpulkan banyak sekali penghargaan dan membukukan penjualan jutaan unit, bisa dibilang bahkan menggeser hegemoni Crash Bandicoot dan Spyro the Dragon sebagai ikon game platform di konsol hitam itu. Sekarang Naughty Dog sudah beralih ke proyek lain di Playstation 3. ehem… Uncharted… ehem… tapi Sony menyadari bahwa franchise Jak and Daxter masih bisa diperah untuk mendapat keuntungan bagi mereka. Percobaan pertama mereka adalah mengajak developer Ready at Dawn untuk menggarap spin-off dari Jak and Daxter di PSP. Bila dalam trilogi utamanya gamer mengendalikan Jak dalam mayoritas permainan, Daxter menempatkan - sesuai judulnya - Daxter untuk dikendalikan para gamer dalam usahanya menyelamatkan Jak. Game tersebut mendapatkan kesuksesan luar biasa dan sampai sekarang bertahan sebagai salah satu game PSP terbaik.

Sony kemudian memutuskan untuk menaikkan pertaruhan mereka. Bagaimana kalau kali ini bukan cuma sekedar sebuah spin-off? Bagaimana kalau kali ini mereka melanjutkan cerita utama Jak and Daxter? Berhubung Naughty Dog masih terlibat dalam proyek lain, ehem… Uncharted 2… ehem… maka Sony lagi-lagi memanggil developer lain, kali ini High Impact Games untuk menggarap game keempat dalam serial Jak and Daxter. Judulnya adalah The Lost Frontier, dan game ini dirilis untuk PSP dan Playstation 2. Bisakah High Impact Games mengulangi kesuksesan Naughty Dog dan Ready at Dawn?

Game ini berawal dengan saat perjalanan trio Jak, Daxter, dan Keira (pacar Jak) oleh segerombolan bajak laut udara (Sky Pirates). Walaupun awalnya mereka bermusuhan, atas permintaan Keira, Jak dan Daxter sepakat bekerja sama dengan para Sky Pirates untuk mencari Eco Seeker yang bisa menghindarkan dunia dari marabahaya besar. Dalam perjalanannya, Jak dan Daxter juga akan membuka masa lalu dari rombongan Sky Pirates tersebut.

Ini adalah pertama kali saya memainkan serial Jak and Daxter. Dulu saya sempat memainkan game Daxter sebentar, tetapi kemudian permainanku terbengkelalai karena ada lebih banyak game PSP lain yang lebih menarik kumainkan saat itu. Mungkin karena ini saya termasuk kategori gamer yang kebingungan dengan cerita The Lost Frontier. Sudah ceritanya sendiri tergolong semrawut (baca: membingungkan) ditambah dengan game ini tidak berusaha menjelaskan latar belakang cerita dalam game-game sebelumnya.

Dalam The Lost Frontier, gamer akan mengendalikan karakter Jak untuk mayoritas permainan, seperti halnya trilogi awal serial ini. Sebagai Jak kamu memiliki berbagai variasi serangan seperti memukul, melakukan lompatan memukul, dan berbagai amunisi senjata. Apabila serangan fisik Jak bisa terus dilakukan, senjata Jak bisa habis amunisinya. Akan tetapi tidak perlu khawatir karena banyak sekali amunisi berceceran di sepanjang perjalanan Jak mustahil kamu bisa sampai kehabisan amunisi. Toh, kebanyakan musuh di dalam game ini cukup mudah untuk dikalahkan sehingga saya pribadi cenderung menyimpan amunisi untuk menghadapi para boss saja. Setiap kali mengalahkan musuh, Jak akan mendapatkan Dark Eco yang berfungsi sebagai Skill Point-nya game ini. Dark Eco yang dikumpulkan oleh Jak bisa diubah oleh Keira menjadi Red Eco, Yellow Eco, Green Eco, maupun Blue Eco. Masing-masing memiliki upgrade skill yang berbeda untuk Jak. Red Eco misalnya mayoritas skill upgradenya berfungsi menguatkan serangan Jak sementara Green Eco menambah vitalitas / life bar Jak. Ini memberi gamer sedikit kebebasan dalam mengkustomisasi karakter Jak yang mereka mainkan. Bagaimana dengan Daxter sendiri? Sobat setia Jak ini hanya bisa kamu mainkan di bebeberapa segmen tertentu apabila ia terpisah dengan Jak. Karena kena radiasi Dark Eco, Daxter yang kamu mainkan berubah menjadi sosok Dark Daxter.

Selain petualangan di darat, The Lost Frontier memperkenalkan elemen baru: petualangan di udara. Setelah memperbaiki Hellcat (pesawat Jak) yang sempat rusak setelah diserang para Sky Pirates, kamu bisa berkeliling bebas dengannya. Ini juga memberi opsi baru dalam penjelajahan di mana kamu bisa terus menyelesaikan misi-misi utama cerita atau berkeliling sendiri mencari misi-misi sampingan (biasanya sih saya melakukannya untuk menambah pundi-pundi Dark Eco dan membuka skill-skill baru Jak).

Walaupun gameplay dan kontrol game ini sendiri cukup solid, permasalahan terbesar justru datang dari sudut pandang kameranya. Entah kenapa sudut pandangnya membuatku kesulitan melihat obyek-obyek di sekeliling Jak. Lebih gawatnya lagi saya bahkan kesulitan memperkirakan jarak dari satu platform ke platform lainnya yang sering berakibat Jak terjun bebas ke jurang. Sulit menjelaskan ini melalui kata-kata, apalagi karena The Lost Frontier sebenarnya memberi opsi kita memutar kamera secara bebas dengan tombol L dan R, tetapi pada prakteknya ini tidak banyak membantu.

So my verdict is… walaupun The Lost Frontier adalah sebuah game 3D platform yang cukup solid, tapi ia tidak memiliki cukup nilai plus yang membuat game-game sebelumnya menjadi sukses besar. Terbukti banyak situs game memberi The Lost Frontier penilaian suam-suam kuku. Apabila kamu penggemar berat serial ini, jangan berharap terlampau tinggi atau kalian bisa jadi kecewa.

Final Verdict

Gameplay: 6.5
Tidak ada elemen baru yang ditawarkan dalam The Lost Frontier untuk memperkaya serial Jak and Daxter (kecuali elemen terbang, dan itupun tidak maksimal). Stage yang harus dilalui oleh duet Jak and Daxter rata-rata menarik dengan puzzle yang cukup menantang tapi tidak berlebihan kesulitannya. Kekurangan utama gameplay ini ironisnya hadir dari sudut pandang kamera yang sering menganggu permainan.

Graphic / Sound: 7.0
Versi PSP yang saya mainkan memiliki grafis dan suara yang luar biasa tajam dan meriah. Dunia Jak and Daxter yang kaya warna berhasil ditampilkan High Impact Games untuk resolusi layar PSP. Saya juga kagum dengan banyaknya cutscene dan voice acting dalam game ini (walaupun kadang-kadang voice acting Daxter yang over sedikit menganggu). Entah kalau masalah ini pun muncul di versi PS2nya, tetapi game ini terkadang mengalami slowdown ketika memasuki area-area baru.

Play Time: 7.0
Kamu bisa menyelesaikan game ini dalam 10 hingga 15 jam, tergantung apakah kamu ingin langsung menyelesaikan misi utamanya atau ingin melengkapi semua sidequest yang ia tawarkan.

Overall: 6.8

Game Details
Developer: High Impact Games
Publisher: Sony Computer Entertainment
Genre: 3D Platform Adventure

Comments (0)

Tags: , , , , , , ,

Castlevania: Portrait of Ruin

Posted on 27 February 2010 by Si Tukang Review

Castlevania: Portrait of Ruin Cover

Castlevania: Portrait of Ruin Cover

(Review Ditulis Di Tahun 2007)

Setelah Dawn of Sorrow memetik sukses besar, Konami pun menggarap sebuah title Castlevania baru untuk Nintendo DS. Apabila Dawn of Sorrow merupakan sekuel langsung dari Aria of Sorrow di GBA, maka Portrait of Ruin bisa dibilang merupakan sekuel tidak langsung dari Castlevania Bloodlines di Sega. Ingat? Itu lo, Castlevania yang membiarkan anda memilih satu dari dua karakter utama yang ada: John Morris dan Eric Lecarde. Di dalam game ini, kalian menjalankan peran sebagai anak John Morris – Jonatan Morris bersama sang magician pendampingnya Charlotte Aulin. Bagaimana sepak terjang kedua remaja ini dalam menghadapi sang pangeran kegelapan?

Graphic (7 / 10)

Presentasi dalam game ini sekilas dilihat mirip dengan Dawn of Sorrow. Apabila anda membiarkan menu anda tanpa memilih apapun maka anda akan disuguhi sebuah animasi singkat mengenai cerita Portrait of Ruin. Gaya desain karakter yang sudah cukup anime dalam Dawn of Sorrow makin terlihat bergaya anime di dalam game ini. Gaya penggambaran karakter dalam game ini dan Dawn of Sorrow sudah memancing perdebatan antara para penggemar Castlevania. Yang satu menganggap kalau gaya anime adalah hal yang cocok dengan dunia Castlevania yang digarap dari negeri Sakura, sementara yang satu lagi mengagungkan gaya gothic yang disebut bisa merepresentasikan keangkeran kastil Dracula. Saya sendiri? Saya sebenarnya jauh lebih menyenangi gaya gothic di dalam game-game Castlevania ketimbang gaya kartunis yang terlihat sangat childish di game ini (tunggu sampai kalian lihat karakter legendaris macam Dracula digambarkan di game ini – lalu bandingkan keanggunan sang pangeran malam itu dalam Symphony of the Night).

Sekilas lihat, Castlevania Portrait of Ruin tampaknya menghadirkan berbagai jenis daerah yang luas dan variatif yang bisa kita jelajahi. Tetapi apabila kita memperhatikannya lebih detail lagi maka kita akan kecewa karena banyak sekali bidang grafik dalam game ini yang mencomot dari Dawn of Sorrow. Hal yang paling kentara bisa kita lihat ada pada render musuh-musuh yang kita hadapi. Entah kenapa banyak sekali (hampir 60 – 70% musuh yang ada) dicomot dari Dawn of Sorrow. Ada apa dengan Konami? Dawn of Sorrow dan Portrait of Ruin memiliki jeda waktu dua tahun! Ketimbang terus mendaur ulang musuh-musuh yang ada tidakkah seharusnya Portrait of Ruin menyajikan karakter-karakter musuh yang baru agar kita tetap fresh dalam memainkannya?

Yah, bukan berarti Portrait of Ruin gagal total dalam hal grafisnya. Banyaknya animasi senjata Jonatan, spell milik Charlotte sampai serangan gabungan mereka berdua tetap tergambar dengan halus dengan animasi yang (untungnya saja!) semuanya baru dan menarik. Bermain dengan menggunakan cambuk lagi juga adalah sebuah tambahan baru yang saya terima dengan senang hati.

Sound (8 / 10)

Musik dalam game ini masih sangat berkualitas. Setiap daerah memiliki musik-musik yang berbeda dan menyenangkan untuk didengar. Mungkin tidak ada musik yang memorable di dalam game ini (saya beranggapan kalau main theme Portrait of Ruin masih belum sebagus Castlevania-Castlevania sebelumnya), tetapi toh saya tidak sampai memutuskan untuk ‘membisukan’ Nintendo DS milikku ketika memainkannya. Karakter seperti Jonatan dan Charlotte juga memiliki cukup banyak voice acting (terutama karakter Charlotte yang memiliki berbagai jenis spell untuk dia teriakkan kalau dia menggunakannya).

Tunggu, tidak hanya itu saja. Dengan sebuah trik khusus anda bisa membuka bagian voice acting Jepang dalam game ini! Sebuah tambahan yang sangat apik dari Konami. Kini mereka para pengagung seiyuu-seiyuu Jepang dan mereka yang tertarik dengan bagaimana game ini terdengar kalau bersuarakan orang Jepang bisa mencoba mode ini. Sebuah tambahan simple dari Konami, tetapi sangat memuaskan.

Gameplay (8 / 10)

Benarkah game ini seperti yang dikatakan Koji Igarashi? Ayah dari seri Castlevania ini sesumbar mengatakan kalau Portrait of Ruin akan menjadi Castlevania terbaik yang pernah ia garap dengan menghadirkan dua karakter yang bisa anda mainkan sekaligus. Hasilnya? Portrait of Ruin tetap sebuah title Castlevania yang solid, tetapi dia masih jauh untuk bisa sebagus Symphony of the Night yang legendaris itu.

Mari kita melihat sisi gameplay game ini. Dua karakter utama yang anda mainkan pada dasarnya sangat berbeda. Jonatan akan banyak menggunakan senjata-senjata normal (pedang, cambuk, kapak, dan lain sebagainya) ditemani dengan sub-weapon (mulai dari yang klasik seperti air suci, kapak, pisau, sampai yang modern). Charlotte sebaliknya akan lebih banyak menggunakan sihir magisnya ketimbang beradu badan langsung dengan musuh. Keduanya juga memiliki sihir gabungan yang memiliki damage jauh lebih besar ketimbang jurus special pribadi keduanya (tentu saja MP yang dihabiskan juga jauh lebih besar).

Sekilas lihat para pemain Castlevania akan lebih sering menggunakan Jonatan sepanjang cerita dan Charlotte akan hadir lebih banyak sebagai pelengkap saja, kendati begitu, apabila kita memperhatikan dengan cermat Konami cukup adil dalam mendesain kedua karakter ini. Saya sendiri mencoba memainkan game ini dengan Charlotte di beberapa bagian game ini dan menemukan kalau Charlotte adalah karakter yang cukup kuat apabila ia memiliki equipment dan sihir yang bagus. Saya malahan sering berpetualang mencari level dengan menggunakan Charlotte dan baru menggunakan Jonatan ketika bertarung menghadapi boss-boss yang ada.

Berarti sistem dual hero dalam Castlevania ini berhasil? Tidak sepenuhnya. Dalam game ini seharusnya Igarashi menjanjikan anda menjelajahi kastil Dracula berdua dan bertarung bersama, tetapi AI pasangan anda yang begitu jongkok membuat anda harus bertarung 95% dalam game ini sendirian. Saya hanya memanggil pasangan saya keluar untuk membantu saya adalah ketika saya tanpa sengaja terkena spell petrify yang membuat saya menjadi batu dan tak bisa bergerak.

Keluhan berikutnya adalah desain kastil dari Castlevania. Janji palsu Igarashi kembali menipu saya; ia menjanjikan Portrait of Ruin sebagai Castlevania terbesar yang akan kita jelajahi (dengan tingkat pencapaian sampai 1000%!). Sekali lagi sekilas dilihat memang Portrait of Ruin menawarkan kastil Dracula yang besar ditambah dengan delapan sub-area (atau empat kalau anda mendapatkan ending yang buruk) yang bisa anda jelajahi; toh setelah diamati dan dimainkan lebih lanjut saya menyadari bahwa desain dalam Castlevania kali ini adalah yang terburuk dari semua Castlevania yang pernah saya mainkan (setidaknya Castlevania modern). Kastil Dracula kali ini terasa hambar dan lebih berfungsi sebagai tempat bergerak dari lukisan demi lukisan.

Maksudnya?

Seperti namanya: Portrait of Ruin mengharuskan anda menjelajahi lukisan demi lukisan dalam kastil Dracula. Total ada delapan lukisan yang bisa anda jelajahi. Setiap lukisan memiliki nuansa yang berbeda: dari sebuah kota hantu, akademi sihir yang misterius, sampai arena favorit saya yang adalah sebuah sirkus arena jungkir balik. Apakah saya tadi menyebutkan kalau setiap lukisan memiliki nuansanya sendiri? Coret kata-kata saya itu. Empat lukisan terakhir bisa dibilang sebagai repetisi dari empat lukisan awal. Mengecewakan? Jelas. Setelah arena dalam lukisannya terbilang membosankan dan tidak menarik untuk dimainkan lagi, kastil Dracula kali ini juga terbilang jauh lebih kecil ketimbang Dawn of Sorrow (ke mana arena bawah air yang legendaris itu? Kenapa arena tersebut dihilangkan?). Jadinya secara keseluruhan game ini malahan terlihat jauh lebih singkat ketimbang Dawn of Sorrow (saya menyelesaikan game ini dalam waktu 12 jam dengan mendapatkan ending sempurna).

Apabila ada hal yang berhasil digarap dalam Portrait of Ruin, itu adalah pertarungan melawan bossnya. Setiap boss dalam Portrait of Ruin menyajikan tantangannya tersendiri untuk mengalahkan mereka. Berbeda dengan trilogi Castlevania GBA ditambah dengan Dawn of Sorrow yang asal level anda tinggi anda bisa langsung main hajar untuk mengalahkan mereka, Portrait of Ruin mengharuskan anda mengatur strategi yang jeli untuk mengalahkan boss-boss yang ada. Saya mencoba memainkan Portrait of Ruin dengan cara barbar dan menemukan layar Game Over ketika menghadapi boss pertama! Lagipula duel tag team menjelang duel terakhir sangat inovatif dan menyenangkan untuk dilawan (saya menemukan final boss kali ini sebagai final boss yang cukup menantang!).

Ceritanya sendiri? Standar Castlevania. Pada Perang Dunia II, banyak jiwa-jiwa yang meninggal itu menjadi arwah penasaran dan membentuk kastil kegelapan Dracula. Ditambah lagi ada perpecahan dalam tubuh kegelapan itu sendiri. Seorang vampire bernama Brauner berikut dua anaknya ingin menguasai dunia dengan cara mereka sendiri. Mereka menahan kebangkitan Dracula dengan menyegel kekuatan dan menyebarnya dalam lukisan demi lukisan yang ada. Death sang abdi setia Dracula berusaha mencari cara untuk membangkitkan kembali tuannya. Apakah Jonathan dan Charlotte bisa memanfaatkan kekacauan ini untuk keuntungan mereka – atau malahan mereka justru terjebak kian dalam dunia kegelapan?

Longetivity (7 / 10)

Anda bisa menyelesaikan game ini dalam waktu enam sampai delapan jam untuk mendapatkan bad endingnya. Tambah dua atau tiga jam lagi dan anda bisa mendapatkan best (true) ending dalam game ini. Pada dasarnya game ini cukup cepat diselesaikan kalau anda mengikuti jalan cerita utamanya tanpa menyelesaikan subquest apapun. Tentu saja bila anda tertantang menyelesaikan semua subquest yang ada mungkin anda membutuhkan waktu lebih dari 15 jam untuk menyelesaikan game ini secara keseluruhan.

Ada berbagai mode yang diberikan oleh Portrait of Ruin setelah anda menyelesaikannya. Anda bisa menjelajahi game ini dengan berbagai mode selain Jonathan Mode. Pertama anda bisa bermain sebagai Sisters Mode, Richter Mode (ya Richter Belmont yang tersohor itu), Old Axe Armor Mode, sampai Maria Mode. Cukup menarik bukan tambahan yang disajikan oleh Portrait of Ruin? Tentu saja di luar itu kali ini anda bisa berduet dengan teman anda untuk melalui Boss Rush Mode (bukankah mode ini selalu keluar dalam setiap Castlevania?).

Kendati begitu kalau anda bukan seorang yang suka mengulang-ulang game setelah menamatkannya, mungkin nilai plus Castlevania tidak sebesar itu. Anda selesai mengembalikan pangeran kegelapan dalam kegelapan dan anda mungkin takkan menyentuh game ini lagi (seperti saya).

Editor’s Tilt (7.5 / 10)

Perlu saya katakana pada akhir review saya bahwa Portrait of Ruin BUKAN sebuah game Castlevania yang buruk. Keluhan-keluhan yang saya sampaikan sepanjang game ini lebih bersifat kekecewaan pribadi saya yang tertuang karena tidak mendapatkan apa yang saya harapkan sebelumnya. Portrait of Ruin tetap sebuah title Castlevania yang saya rekomendasikan kepada setiap orang yang menggemari seri Castlevania (tetapi para pemula mungkin lebih baik menjajal Dawn of Sorrow terlebih dahulu sebelum langsung mencoba Portrait of Ruin).

Nah, apabila GBA memiliki trilogy Castlevania mereka, apakah Nintendo DS akan menyusul jejak tersebut? Harapan saya adalah semoga Castlevania berikut bisa benar-benar membuktikan janji sang developer (Igarashi-san, jangan beri kami harapan palsu lagi!). As for now, saya akan menunggu remake dari Symphony of the Night dan Rondo of the Blood yang segera dihadirkan di PSP. Ah, it’s about time!

Average: 7.5

Game Details
Developer: Konami
Publisher: Konami
Genre: Action RPG

Comments (3)

Tags: , , , , , ,

Mario & Luigi: Bowser Inside Story

Posted on 23 January 2010 by Si Tukang Review

Mario & Luigi Bowser Inside Story Cover

Mario & Luigi Bowser Inside Story Cover

Walaupun Mario paling dikenal sebagai jagoan dalam dunia platform 2D dan 3D, itu tidak berarti sang tukang ledeng tidak pernah menjelajah genre lain. Sebaliknya, dia malahan pernah menjajal berbagai macam profesi mulai dari pemain tennis sampai tukang balap. Mario juga pernah masuk ke genre RPG, pertama kali pada tahun 1996 melalui salah satu kolaborasi terakhir Nintendo dan Squaresoft (belum merger menjadi Square Enix) di era SNES. Hasilnya: Super Mario RPG: Legend of the Seven Stars yang masih diakui banyak gamer sebagai salah satu RPG terbaik era SNES. Petualangan RPG Mario tidak berhenti di sana. Setelah game tersebut, masih ada serial RPG Paper Mario di Nintendo 64, Nintendo GameCube, dan Nintendo Wii.

Bagaimana dengan Nintendo DS? Nintendo tahu benar bahwa para gamer di DS juga haus akan RPG Mario yang berkualitas dan pada tahun 2009 merilis game Mario & Luigi: Bowser’s Inside Story. Game ini sebenarnya merupakan bagian ketiga dari serial Mario and Luigi yang game pertamanya dirilis di GBA. Game dengan sub-judul Superstar Saga itu mendapatkan pujian banyak orang karena dianggap sebagai sebuah game RPG yang bisa memasukkan banyak sistem RPG tradisional dengan elemen dunia khas Mario. Kesuksesan game itu dikembangkan lebih lanjut melalui sekuel pertamanya di DS: Partners in Time. Game Partners in Time, seperti halnya prekuelnya, juga meraih acungan jempol karena mengutak-atik waktu dan mempertemukan kedua Mario Brothers dengan sosok muda mereka (ingat bayi Mario yang digendong Yoshi?). Hanya saja, beberapa pihak agak menyayangkan Partners in Time yang dianggap kurang memaksimalkan kemampuan handheld DS. Empat tahun berlalu dan Nintendo kembali merilis sekuel kedua game ini dengan judul Bowser’s Inside Story.

Seperti yang bisa dibaca dari judulnya, game ini memberi peranan penting bagi Bowser dalam cerita. Di awal game, sebuah jamur misterius membuat para toad di Mushroom Kingdom menjadi raksasa blorb. Krisis yang terjadi di Mushroom Kingdom ini memaksa Putri Peach mengadakan rapat darurat. Dalam rapat darurat yng juga dihadiri oleh Mario dan Luigi itu, Bowser mendadak juga datang mengajukan diri untuk ikut rapat. Bisa ditebak kalau Bowser malah berakhir dengan bikin onar dan ditendang pantatnya keluar oleh Mario. Bowser yang terpental keluar tidak menyerah begitu saja dan mulai mencari jalan kembali ke istana. Di tengah perjalanannya kembali ke istana, musuh besar Mario itu bertemu dengan sosok misterius yang memberinya sebuah jamur. Setelah dimakan, Bowser berserk dan langsung menghisap apapun ke dalam perutnya. Jangan tanya saya bagaimana rumus fisikanya, yang jelas semua anggota istana mulai dari Mario bersaudara, para Toad, hingga Putri Peach semuanya disedot masuk ke dalam tubuh Bowser. Siapakah dalang di balik semua kekacauan ini? Bisakah Mario dan Luigi keluar dari tubuh Bowser?

Dari cerita ini, saya berani menyimpulkan kalau Bowser Inside Story adalah RPG dua dunia. Di satu pihak kamu akan bermain sebagai Bowser yang mencari tahu siapa dalang yang memberinya jamur misterius itu. Di lain pihak kamu sebagai Mario dan Luigi akan berpetualang dalam tubuh Bowser untuk mencari putri Peach yang tersesat dalam tubuh si kadal dan meloloskan diri bersama-sama dari sana. Kedua dunia ini secara ajaibnya mampu disambung oleh Nintendo. Apa yang terjadi dalam dunia Bowser akan mempengaruhi dunia Mario dan sebaliknya. Sebagai contoh ketika Bowser minum air, perutnya akan dipenuhi dengan air yang memperbolehkan Mario dan Luigi berenang ke tempat-tempat yang sebelumnya tak bisa mereka jangkau. Atau ketika Bowser sekarat, Mario dan Luigi bisa berpetualang ke dalam jiwanya (sekali lagi harap jangan tanya rumus fisikanya) dan memberinya energi adrenalin yang bukan cuma menghidupkan Bowser lagi tetapi juga mengubahnya menjadi raksasa! Dua contoh yang saya sebut hanyalah sekelumit dari bagaimana Nintendo mampu membuat dua dunia yang begitu jauh berbeda ini berinteraksi satu sama lain. Salut untuk kreatifitas mereka.

Game RPG yang awalnya terlihat sederhana ini pada akhirnya menjadi game yang unik tanpa rumit karena implementasi Nintendo yang simpel. Beberapa inovasi dalam ceritanya bukan cuma menjadi tempelan tetapi juga berperan dalam cerita. Kemampuan Bowser menghisap misalnya bisa kamu gunakan saat battle melawan musuh. Beberapa musuh kecil bisa disedot masuk dalam tubuh Bowser dan - secara tidak langsung - kamu bisa tag-team dengan duet Mario bersaudara karena mereka akan langsung menghadapi musuh-musuh itu dalam tubuh Bowser.

Keluhan bahwa Partners in Time kurang kreatif memanfaatkan fitur DS kini juga diperbaiki. Sekarang peran touch screen dan mikrofon dimaksimalkan baik dalam mini-game ataupun pertarungan. Tidak sekedar itu, saya juga merasa bahwa Bowser Inside Story - sebagaimana banyak game DS dari Nintendo lainnya - mampu menyeimbangkan penggunaan fitur-fitur DS sehingga terasa melengkapi dan bukannya membebani atau menganggu gameplay secara keseluruhan.

Sudah memiliki gameplay yang unik dan orisinil, dengan tambahan grafis penuh warna dan musik yang upbeat khas Mario, tidak heran kalau game ini menjadi penantang kuat game terbaik dari handheld DS tahun ini. Kalau kamu penggemar RPG, tidak ada alasan untuk keburu mendiskreditkannya sebagai game buat anak kecil. Toh, kapan lagi kamu bisa bermain di dalam DAN sebagai karakter Bowser. Betul tidak?

Final Verdict

Gameplay: 8.5
Walau sistem fightnya sebenarnya sangat simpel, Nintendo mampu menciptakan berbagai macam inovasi baru untuk membuatnya tetap fresh.

Graphic / Sound: 8.5
Satu-satunya kekurangan adalah piksel yang terlihat agak pecah-pecah saat Bowser menjadi raksasa. Dunia dalam tubuh Bowser juga terlihat agak suram. Tadinya saya mengharapkan ada semacam dunia mini di dalamnya. Toh melihat percakapan para Emoglobin saya jadi tersenyum simpul sendiri.

Play Time: 8.5
Beberapa situs yang saya baca menyebutkan bahwa menamatkan game ini diperlukan waktu sekitar 20 jam. Saya pribadi menyelesaikannya dalam waktu 15 jam, walaupun belum menemukan semua rahasia yang ada. Bila hendak menyelesaikan game ini secara sempurna, saya prediksi memerlukan waktu sekitar 30 hingga 35 jam.

Game Details
Developer: AlphaDream
Publisher: Nintendo
Genre: RPG

Comments (8)

Tags: , , , , , , ,

Gran Turismo (PSP)

Posted on 30 December 2009 by Si Tukang Review

Gran Turismo (PSP) Cover

Gran Turismo (PSP) Cover

Dunia game racing berhutang budi pada Gran Turismo. Sebelum Gran Turismo memang sudah banyak game racing 3D seperti Daytona atau Need for Speed, tetapi adalah Gran Turismo yang membawa para gamer menuju level realistis berikutnya. Setiap mobil memiliki feelnya sendiri saat dibawa, merk-merk mobil ternama ikut memasukkan mobilnya untuk dilisensi resmi pada game Sony tersebut. Bagi beberapa penggemar sejatinya, Gran Turismo lebih dari sekedar sebuah game racing – mereka menyebutnya sebagai driving simulator. Sejarah kemudian mencatat Gran Turismo sebagai game dengan kualitas yang apik (dipuji oleh semua majalah dan situs game internasional) sampai game yang sangat laris di Playstation dengan menjual lebih dari 10 juta kopi di seluruh dunia.

Walaupun pamor dari Gran Turismo akhir-akhir ini meredup karena kalah cepat bersaing merilis title dari Need for Speed, masih banyak fans fanatik yang menantikan iterasi kelima game ini – yang seharusnya hadir untuk PS3 tahun depan. Di lain pihak, mungkin hanya sedikit gamer yang ingat bahwa di tahun 2004 saat PSP dirilis dulu, Sony juga menjanjikan pengalaman Gran Turismo portable dalam format PSP. Sayangnya, proyek ini kemudian mengalami penundaan dan perubahan selama lima tahun (Wow! Talk about development hell!) sehingga baru dirilis beberapa bulan yang lalu. Apakah penantian lama penggemar Gran Turismo terbayarkan dalam versi portabelnya ini?

Salah satu hal yang langsung mencolok adalah hilangnya Career Mode dalam versi PSP ini. Mungkin ini bakalan dianggap mengecewakan oleh para gamer, karena tak bisa disangkal bahwa Career Mode dalam Gran Turismo adalah fitur yang paling menyedot gamer. Cara-cara tune-up mobil (buat yang tidak gemar otomotif: mengupgrade atau melevel up mobil bawaanmu) juga lebih disederhanakan kustomisasinya. Dengan lenyapnya dua fitur terpenting dalam Gran Turismo di versi PSP ini, kalian mungkin berpikir kalau sang developer – Polyphony Digital – sudah gagal memampatkan driving simulator ini dalam dunia handheld.

Enyahkan pikiran itu jauh-jauh. Kompensasi lenyapnya dua mode itu saya terima dengan lapang dada begitu sadar jumlah mobil yang disediakan Gran Turismo. Tidak kurang dari 800 (yap, bukan 80 tapi 800!) dari berbagai macam pabrikan siap kalian kendalikan dalam game ini. Yang lebih luar biasa, tidak ada perasaan bahwa mobil-mobil tersebut sekedar dimampatkan masuk saja. Semua mobil – mulai dari yang biasa sampai yang langka – memiliki cara pembawaan yang berbeda. Yang sudah sering menjajal dunia otomotif bisa langsung tancap, sementara gamer yang baru terhadap dunia itu bisa membaca detail yang disertakan dengan datangnya tiap mobil.

Sajian utama dalam Gran Turismo adalah balapan Single Mode-nya. Tak peduli apakah kamu seorang veteran atau pendatang baru seri ini, menunya yang sederhana bisa dengan mudah memandu anda dalam dunia balap. Pilih mobilmu, pilih trackmu, dan kamu siap membalap bersama tiga lawan yang dikendalikan oleh AI computer. Tak peduli ranking berapa kamu, kamu akan mendapatkan hadiah uang (tentu saja jumlah yang kamu dapatkan saat finish menjadi juara dan finish di posisi buncit berbeda). Uang ini bisa kamu kumpulkan untuk kamu belikan mobil baru idamanmu atau untuk mentune-up mobil lamamu.

Bicara soal track, game ini menyediakan 35 track yang bisa kamu jajal. Beberapa diambil dari lokasi asli seperti di Fuji atau Seoul. Beberapa lagi adalah track lama yang pernah hadir dalam Gran Turismo lama. Masing-masing track memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Beberapa hanya memiliki track-track lurus yang mudah diselesaikan, sementara beberapa lagi memiliki banyak belokan tajam yang bakalan menyulitkanmu bila kamu tak benar-benar ‘menyatu’ dengan mobilmu (lebay mode: on). Kuncinya sih latihan – latihan – latihan. Kalaupun kalah, jajal lagi track itu guna menimbun pundi-pundi uangmu. 35 track tidak cukup? Ada opsi reverse yang secara tidak langsung mendobel jumlah track yang disediakan game ini jadi 70!

Dengan 800 mobil yang bisa kamu beli, bakalan butuh waktu yang sangat – sangat lama untukmu mengumpulkan uang, baik dari Single Mode atau Challenge Mode. Untungnya Gran Turismo memberikan opsi share atau trade mobil secara Wireless dengan temanmu. Bila kamu punya teman yang membeli mobil berbeda denganmu (galeri mobil selalu berubah tiap setelah kamu menyelesaikan balapan), mereka punya dua opsi: membaginya atau menukarnya. Share / Membagi langsung mengunlock mobil itu untukmu tanpa kamu harus membelinya lagi. Hanya saja untuk mobil-mobil langka, kamu tidak bisa langsung saja berbagi atau menerimanya dari temanmu, tetapi harus dengan cara Trade / Penukaran. Saya tidak tahu denganmu, tetapi bagiku sistem ini member keleluasaan buat para gamer.

Apabila kamu seorang penggemar game racing yang haus game berkualitas di PSP, tidak perlu cari jauh-jauh lagi karena Gran Turismo sudah hadir. Bila kamu punya PS3 juga, kamu dapat keuntungan ganda karena Sony sudah menjanjikan bahwa Gran Turismo PSP ini akan bisa dihubungkan dengan Gran Turismo 5 nanti.

Final Verdict

Gameplay: 8.5
Pengurangan Career Mode dan dibatasinya sistem kustomisasi mobil mungkin mengecewakan bagi beberapa pihak, tetapi ayolah… 800 mobil? 70 track? Semuanya itu dengan feel yang berbeda bagi tiap mobilnya? And… in a PSP?

Graphic / Sound: 8.5
Senada dengan apa yang kutulis di atas, 800 mobil dengan design yang berbeda (dan mendapat lisensi resmi dari setiap pabrikan mobil). 35 track yang ditawarkan dalam game ini juga memiliki daerah balap yang berbeda dari dalam sirkuit sampai alam pegunungan.

Play Time: 10
Jelas amat sangat lama. Kamu bisa mencoba menjajal dan menguasai 70 track yang ditawarkan game ini. Belum lagi mengumpulkan uang untuk membeli 800 mobil yang tersedia. Atau bersaing balap menghadapi kawan-kawanmu. The race is limitless!

Overall: 9.0

Game Details
Developer: Polyphony Digitals
Publisher: Sony
Genre: Driving Simulation / Racing

Comments (3)

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Tekken 6

Posted on 26 December 2009 by Si Tukang Review

Tekken 6 PSP Cover

Tekken 6 PSP Cover

(Review Based on PSP Version)

Walaupun koleksi library handheld PSP tidak sebanyak DS, itu bukan berarti handheld Sony kalah kualitas dengan handheld Nintendo. Salah satu komplain terbesar yang disampaikan orang terhadap PSP adalah karena terlalu banyak game remake yang hadir di PSP dan saya juga setuju akan hal ini. Toh, kalau remakenya sebaik Tekken 5: Dark Resurrection dulu, saya sih tidak merasa akan ada banyak orang yang menggerutu. Semenjak Dark Resurrection diluncurkan, game tersebut kemudian menjadi tonggak bagi game fighting lainnya di PSP. Bahkan remake Soulcalibur: Broken Destiny yang dirilis juga oleh Namco dianggap bagus tapi belum sebaik Dark Resurrection.

Sebenarnya di akhir tahun 2007, Tekken 6 diluncurkan di arcade Jepang. Setahun kemudian versi upgradenya dirilis dengan sub-judul Bloodline Rebellion diluncurkan (dengan tambahan dua karakter baru). Seharusnya sih versi PS3 dan PSPnya juga diluncurkan di tahun yang sama, tetapi ternyata dalam ‘penyabotan’ yang dilakukan oleh Microsoft, perilisannya ditunda selama setahun (satu dari beberapa penyabotan yang dilakukan oleh Microsoft, termasuk merebut serial Final Fantasy bernomer dari Sony). Kini di tahun 2009, versi home console dan PSPnya pun dirilis. Bagaimanakah hasilnya?

Tekken 6 ini menampilkan versi Bloodline Rebellion yang berarti selain ada lima karakter baru dan 33 karakter lama (34 kalau menghitung Panda), muncul juga Alisa Bosconovitch; cucu android dari Dr Bosconovitch dan Lars Alexandersson; si anak haram dari Heihachi Mishima. Total jendral ada 41 karakter yang siap kamu pakai dalam game ini - menjadikan Tekken 6 sebagai Tekken dengan roster terbesar. Apa yang membuat saya kagum dengan versi PSPnya adalah bagaimana handheld ini bisa memasukkan semua karakter dalam handheldnya. Salut Namco. Salut.

Grafis dalam Tekken 6 luar biasa. Tiap karakter game memiliki render animasi dan gerakan yang sangat halus untuk ukuran PSP. Juga beberapa arena tertentu memiliki segi interaktifnya dalam pertarungan. Saat kamu menghajar dan sukses memasukkan combo ke dinding misalnya, maka dinding itu akan jebol dan membuka arena baru untuk pertempuran. Walaupun tentu saja kualitas grafis versi PSP ini tidak bisa dibandingkan dengan home console atau Arcade (come on, they’re next-gen standard), saya tetap salut dengan usaha Namco ini. Siapa sangka mereka masih bisa membuat standar grafis game fighting yang lebih tinggi lagi dibanding apa yang dulu mereka raih melalui Dark Resurrection?

Mengenai karakter lama sendiri, hampir semuanya masih memiliki cara permainan yang sama dengan pada iterasi game sebelumnya sehingga kalau kamu sudah biasa dengan karakter itu, kamu tak perlu belajar lagi cara menggunakan mereka. Saya memang jarang main game fighting dan satu-satunya karakter yang saya percaya saya bisa mainkan dengan ‘lumayan’ (baca: tidak diganyang Perfect oleh para jago Tekken lain) adalah memakai Hwoarang. Ketika saya memainkan game ini lagi, Hwoarang tetap sama cepat dan mematikan tendangannya dengan Tekken 5: Dark Resurrection. Di antara beberapa karakter baru yang dihadirkan, saya paling tertarik dengan tiga karakter: Bob, Alisa, dan Zafina. Bob mendobrak tradisi kalau orang gendut pasti pelan, Alisa adalah robot cyborg yang sekilas lihat agak overpowered (makanya sebagai amatiran Tekken yang suka button mashing dia jadi favorit kedua saya setelah Hwoarang), dan yang terakhir Zafina yang gaya berantemnya agak… aneh. Salah satu pose kemenangan Zafina di mana ia merangkak ala laba-laba malahan mengingatkan saya pada setannya Ju-On (loh, apa hubungannya ya?).

Dalam gameplaynya sendiri, satu penambahan yang paling kentara di mataku adalah Rage System di mana ketika darah karaktermu sudah turun di bawah 10% maka karaktermu akan memiliki aura merah yang bersinar di mana semua seranganmu akan memiliki daya rusak yang lebih dahsyat. Kalau kalian pernah bermain Garou: Mark of the Wolves, Rage System mirip dengan TOP System-nya. Mode permainan dalam Tekken 6 sendiri sedikit kurang variatif. Terlepas dari Arcade Mode, Story Mode, dan Challenge Mode yang sebenarnya menawarkan hal yang sama, tidak ada lagi tambahan mode selain adu jotos. Hilangnya Scenario Campaign yang mirip dengan Tekken Force agak mengecewakan tetapi sekali lagi menyadari keterbatasan hardware PSP, mungkin ini merupakan keputusan yang terbaik. Toh Scenario Campaign juga banyak dikritik sebagai kelemahan dari Tekken 6 versi konsol kok. Setidaknya semua film ending dari para karakter tetap dipertahankan secara utuh oleh Namco di sini. Beberapa sangat serius, beberapa pendek dan ga jelas, beberapa lagi super kocak dan mengundang tawa terbahak. Bila ada kekurangan vital di gameplay Tekken 6, itu adalah tidak adanya opsi untuk bertarung melawan musuh di dunia online (hanya bisa secara wireless dan itupun temanmu harus memiliki kopi Tekken 6). Yah, mungkin jaringan internetnya sendiri yang kurang memadai? Entahlah.

Lepas dari beberapa kekurangan yang ada, Tekken 6 masih membuktikan dirinya sebagai salah satu franchise fighting terbaik yang ada di pasaran saat ini. Keterlambatan satu tahun rilisnya tidak menjadikan gameplaynya uzur, yang membuktikan bahwa game berkualitas ini selalu bisa kamu mainkan kapan saja bersama teman-temanmu. Siapkah kamu membuktikan apakah kamu masih sang King of Iron Fist?

Final Verdict

Gameplay: 9.0
Roster yang lengkap di PSP sejumlah 41 orang membuat saya girang. Semua karakternya juga memiliki kemampuan yang berimbang. Kekurangan mode permainan dan dukungan online play tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada Namco karena keterbatasan hardware PSP. Sebagaimana Dark Resurrection, Tekken 6 juga adalah sebuah game yang must-have bila kamu seorang gamer gitar (gila tarung).

Graphic / Sound: 9.5
Benar-benar nyaris sempurna. Tekken 6 menawarkan variasi tempat tarung yang berbeda, animasi karakter yang sangat halus dari karakter favorit fan ala Jin Kazama, Hwoarang, atau Paul Phoenix, sampai yang kurang dipakai macam Jack-6 atau Roger Jr. Setiap karakter juga didesign dengan berbeda dari pose maupun kostumnya. Kalau kalian bosan dengan kostumnya, ada opsi mengganti penampilan karakter favoritmu dengan membeli aksesoris kustomisasi.

Play Time: 8.5
Kurangnya dukungan bermain online sedikit mengurangi waktu bermain game ini. Toh bagi saya Tekken 6 di PSP adalah training ground-ku. Saya bisa membawa PSPku ke mana-mana sambil berlatih kemampuan, sementara bermain di 360, PS3, ataupun Arcade adalah saat di mana saya bisa unjuk kemampuan hasil latihanku. Hasilnya? Errr… kurang begitu berhasil sih. Saya tetap terkapar menghadapi musuh-musuh. Apa mungkin memang tidak bakat ya main game fighting? *menghela nafas panjang*

Overall: 9.0

Game Details
Developer: Namco Bandai
Publisher: Namco Bandai
Genre: 3D Fighting

Comments (5)

Tags: , , , , ,

Super Pocket Tennis

Posted on 24 December 2009 by Si Tukang Review

Super Pocket Tennis Cover

Super Pocket Tennis Cover

(Review Ditulis Di Tahun 2007)

Super Pocket Tennis adalah ajang berkumpulnya para petenis dunia yang chibi! Tennis adalah sebuah olahraga yang berbeda dengan sepakbola atau basket. Sepakbola mungkin olahraga paling ngetop di dunia, tetapi harus diakui kalau di Amerika kepopulerannya kalah jauh dibandingkan American Football, Baseball, ataupun bola basket. Basket sendiri terlalu berpusat di Amerika. Kendati banyak negara memiliki liga basket mereka toh bintang-bintang NBAlah yang tetap menjadi panutan. Tennis berbeda. Setiap negara memiliki jagoan mereka sendiri, dan walaupun tidak pernah menjadi olahraga nomer satu, tennis selalu punya tempat di hati penggemarnya. Ingat kalau di Indonesia kita pernah punya seorang Yayuk Basuki, Wynne Prakusya, maupun Angelique Widjaja yang mengharumkan nama bangsa ini?

Graphic (7 / 10)

Karakter yang dihadirkan oleh Super Pocket Tennis bernuansa imut dan lucu. Game ini jelas memiliki masalah dengan lisensi pemain mengingat nama mereka semuanya kacau balau (ingat kalau memainkan Winning Eleven jaman dahulu kala yang belum dipermak sehingga namanya jadi berubah? Seperti itulah kira-kira). Toh, kalau kalian adalah pengamat tennis dunia bukan hal yang sulit saya rasa untuk menebak kalau nama petenis wanita jelita bernama Povapova sesungguhnya adalah Maria Sharapova.

Game ini menghadirkan total 20 karakter. 10 karakter pria dan 10 karakter wanita. Masing-masing karakter chibi dalam game ini mampu merepresentasikan karakter mereka di dunia nyata. Saya langsung bisa menebak mana petenis yang adalah Williams bersaudara. Kepala plontos dari Andre Agassi juga langsung bisa saya identifikasi begitu kursor saya memilih petenis bernama Nagasi.

Lapangan yang kita mainkan sendiri memiliki empat variasi (tidak lain tidak bukan merepresentasikan empat kejuaraan grand slam): Grass, Carpet, Hard, dan Clay. Masing-masing lapangan berbeda animasinya. Sayangnya terlepas dari warna lapangannya, saya tidak melihat adanya perbedaan signifikan lain dari lapangan-lapangan ini.

Animasi ayunan raket di dalam game ini malahan terkadang menganggu. Kendati dilakukan dengan detail yang baik tetapi animasi ayunan ini terlalu menutupi jalur bola yang ingin kita pukul. Untungnya saja ini tidak kerap terjadi – tertolong dengan radar mendaratnya bola yang aktif bergerak di lapangan kita.

Sound (5 / 10)

Crappy. Awal dari musik dalam game ini adalah ceria dan happy. Tetapi musik seceria dan sehappy apapun kalau berulang terus dalam kurun waktu dua menit selama berjam-jam akan berubah menjadi sangat – sangat menyebalkan. Variasi musik yang berbeda dalam game ini terlalu sedikit dan hasilnya jadi sangat membosankan dan menganggu. Lagipula sejak kapan game olahraga sebenarnya memerlukan musik latar yang dominan? Sebal mendengarkannya berulang-ulang, tidak sampai waktu sejam buatku untuk mematikan suara PSP supaya tidak mendengarnya lagi ketika bermain.

Sayangnya mematikan suara PSP saya berarti saya juga tidak bisa mendengarkan suara teriakan-teriakan yang muncul ketika karakter-karakter saya memukul bola. Beberapa karakter: seperti Amelie Mauresmo dan Lindsay Davenport bisa direpresentasikan dengan cukup mirip. Tetapi beberapa lainnya seperti Maria Sharapova ngawur sekali dalam presentasi suaranya – jangan mentang-mentang dia cantik dan imut maka suaranya ikut bernada lemah lembut! Kalau D3 memperhatikan detail suara, seharusnya suara lenguhan Sharapova yang menggelegar itu dimasukkan! Yap, cantik-cantik begitu suara Sharapova sudah dikenal sangat buas dan sering dikritik karena dianggap memecah konsentrasi lawan bertandingnya.

Gameplay (5 / 10)

Kelemahan utama game ini adalah tidak adanya tantangan. Bukan kurang tantangan tetapi TIDAK ADA tantangan. Saya tidak bercanda. Bahkan game Tennis garapan Sega yang hadir di handphone Sony Ericsson saja menurutku memberikan lebih banyak tantangan dalam memainkannya dibandingkan dengan game ini.

Mungkin sebagai contoh saya perlu memberi contoh nyata sebagai berikut: karakter yang saya pakai adalah Povapova untuk memainkan game ini. Untuk menjuarai empat turnamen yang Povapova ikuti (dia bahkan berhadapan dengan petenis pria di turnamen tertentu!), dia tidak pernah tuh kehilangan lebih dari dua set dalam satu pertandingan. Hampir pasti skor akan berakhir 6-1, 6-1 untuk kemenangan Povapova. Perkecualian adalah di pertandingan pertama turnamen pertama di mana saya masih belajar kontrol dalam game ini. Saya menang 6-3, 6-1.

Total kontrol dalam game ini hanya ada dua tombol. X untuk pukulan lemah dan O untuk pukulan kencang. Setiap anda memukul bola, akan muncul target di lapangan lawan sehingga anda bisa mengarahkan ke mana bola anda mendarat. Tololnya D3 adalah dia juga memberitahukan kepada kita ke mana bola kita akan dikembalikan oleh musuh! Gamer sebodoh apapun akan tahu di mana karakternya harus bersiap-siap untuk mengembalikan bola lawan! Saya sendiri tinggal menunggu bola kembalian lawan lantas memukulnya ke arah jauh yang tak bisa ia jangkau. 90% dia akan gagal mengembalikan pukulan saya dan 10% adalah dia mengembalikannya dengan bola tanggung yang tinggal menunggu dismash.

Perbedaan karakter-karakter dalam game ini hampir tidak terasa. Kendati statistik dari petenis kedua terbaik Povapova jauh lebih tinggi daripada petenis terburuk Sugihara (Ai Sugiyama dari Jepang kalau kalian tidak tahu siapa nama asli petenis ini) toh pukulan Sugihara nyatanya cukup-cukup saja untuk membuat petenis-petenis terbaik kocar-kacir menghadapinya; kalau kita yang memakainya tentu saja.

Begitu juga empat lapangan yang ada. Menilai game tennis yang baik selalu dilihat dari bagaimana mereka merepresentasikan pantulan bola di lapangan yang berbeda. Game ini gagal total dalam menunjukkannya. Saya merasa pukulanku maupun musuh sama sekali tidak memiliki daya pantul yang berbeda di lapangan yang berbeda. Kalaupun ada, perbedaan itu terlalu kecil untuk menjadi hal signifikan yang bisa mengubah gameplay dan strategi bermain anda. Saya memainkan empat lapangan dengan strategi yang sama. Pukul ke arah yang tak terjangkau oleh lawan anda dan nikmati poin-poin yang anda dapatkan.

Ada lima mini game yang bisa dimainkan kalau kita jenuh mengikuti turnamen-turnamen yang ada (baca: membully lawan-lawan kita). Mini game yang disajikan sebenarnya cukup unik dan bervariasi seperti melawan alien-alien dan melakukan servis ke tempat tertentu. Yang ironis adalah saya lebih bisa menikmati dan mendapatkan tantangan dalam memainkan mini game yang ada ketimbang memainkan turnamen yang sebenarnya

Longetivity (5 / 10)

Saya memerlukan waktu di bawah tiga jam untuk memenangkan semua turnamen yang ada, dan kira-kira itulah umur game ini di mataku. Saya malas sekali mengulang memenangkan game ini dengan karakter lain begitu saya sadar kalau menggunakan mereka persis satu dengan yang lainnya. Tidak ada karakter yang spesial bisa baseline, atau tangguh di depan net. Semuanya bisa terbilang serupa satu sama lainnya. Mungkin memainkan game ini melawan teman lain akan memberikan tantangan lebih: tapi celakanya adalah akan sangat sulit bagi kita untuk menemukan orang yang memiliki game ini. Sedikit keluhan mengenai kepopuleran game ini: saya tidak pernah menggunakan Google demi mencari screenshot sebuah game dan gagal mendapatkan lebih dari 5. Super Pocket Tennis adalah game pertama yang mendapatkan ‘kehormatan’ tersebut.

Hanya tantangan-tantangan yang disediakan oleh mini gamenya yang mungkin membuat saya kembali memainkan game ini. Pasalnya, Super Pocket Tennis tidak memberikan apapun bagi kita untuk membuat kita meliriknya lagi! Ada beberapa achievement (yang sangat mudah diselesaikan) yang bisa kita lihat, tetapi kurangnya (atau bahkan tidak adanya) penghargaan yang signifikan membuat kita jadi kurang tertantang mendapatkan achievement-achievement tersebut. Dan saya masih tidak mengerti kenapa D3 tidak menyediakan sebuah fitur untuk mengkustomisasi karakter-karakter yang ada ataupun karakter kita sendiri.

Editor’s Tilt (6.5 / 10)

Kalau harus jujur mengatakannya, saya cukup enjoy memainkan game ini. Maklum saja, kalau saya biasanya dibully oleh AI komputer ketika memainkan game-game tennis lain, di sini saya bisa gantian membully mereka habis-habisan! Sayangnya kalau AInya sama sekali kurang tantangan apa yang tadinya asyik lama-lama juga menjadi membosankan dan menyebalkan! Saya mencoba berbagai cara untuk meningkatkan kesulitan seperti meningkatkan AI computer ke level tertinggi; cara ini tidak berhasil karena saya tetap menang dengan mudah dan dengan margin yang signifikan. Cara kedua adalah saya mencoba memainkan game ini dengan double, berharap kalau AI pasangan saya mungkin lebih bodoh sehingga berpotensi menyulitkan saya; nyatanya AI lawan saya malahan lebih jongkok lagi sehingga AI pasangan saya jadi super kuat. Halahhh!

Game ini pas sekali untuk anak-anak. Mungkin itulah sebabnya dia diberi label cocok dimainkan untuk anak usia tiga tahun ke atas. Mereka yang perlu tantangan dalam dunia tennis dan tidak perlu hal-hal imut, jangan buang waktu kalian untuk game ini. It’s just not worth the challenge.

Average: 5.7

Game Details
Developer: D3
Publisher: Hune X
Genre: Sport

Comments (0)

Tags: , , , , , , , , , ,

Kingdom Hearts 358/2 Days

Posted on 22 December 2009 by Si Tukang Review

Kingdom Hearts 358/2 Days Cover

Kingdom Hearts 358/2 Days Cover

Akhir-akhir ini Square Enix punya kebiasaan untuk membuat cerita tambahan di luar jalan cerita franchise utama mereka. Contoh yang paling mudah dikenali adalah Final Fantasy VII. Selama hampir satu dekade gamer hanya mengenal petualangan Cloud dan kawan-kawan menghentikan meteor yang disummon oleh Sephiroth dan menyelamatkan Gaia. Eh, mendadak saja sekarang ada Before Crisis yang menceritakan anggota The Turks, Crisis Core yang mengisahkan petualangan Zack, Advent Children yang adalah sekuel resmi dari Final Fantasy VII dan Dirge of Cerberus di mana Vincent menjadi tokoh utama. Lihat singkatannya: dari AC sampai DC lengkap semua! Setelah tidak bisa lagi meneruskan franchise Final Fantasy VII, pria yang ‘bertanggung-jawab’, Tetsuya Nomura, mengalihkan perhatiannya pada franchise Square Enix yang ngetop lainnya: Kingdom Hearts.

Walau saya tidak pernah memainkan semua game Kingdom Hearts sebelum 358/2 Days, saya tahu bahwa di awal kemunculannya, Kingdom Hearts disebut sebagai pernikahan dari karakter Final Fantasy dan Disney. Selain mengendalikan Sora, karakter orisinil yang didesign Nomura untuk franchise ini, kamu juga didampingi oleh Donal dan Gufi dalam petualanganmu, ditambah dengan menjelajahi berbagai dunia Disney dan bertemu dengan karakter-karakter dari dua dunia yang menjadi kawan maupun lawanmu. Tak disangka apa yang seharusnya merupakan cerita ala fanfic kemudian berkembang. Seusai Kingdom Hearts pertama, Square Enix merilis Kingdom Hearts: Chain of Memories dan disambung oleh Kingdom Hearts II. Seusai Kingdom Hearts II, seharusnya cerita Sora dan kawan-kawan sudah usai, tetapi Square Enix tidak berpendapat demikian (baca: mereka belum cukup mengeruk kantong para gamer). Nomura kemudian menyatakan bahwa ia sudah mempersiapkan dua game untuk dua sistem handheld yang berbeda: Kingdom Hearts 358/2 Days untuk DS dan Kingdom Hearts: Birth By Sleep untuk PSP. 358/2 Days lebih pertama diluncurkan, jadi bagaimanakah hasilnya?

Berbeda dengan ketiga game Kingdom Hearts sebelumnya (empat bila kamu menghitung remake Chain of Memories di PS2), dalam game ini kamu tidak mengendalikan Sora si karakter utama tetapi Roxas, karakter Nobody dari Sora. Apabila kamu belum pernah memainkan game Kingdom Hearts sebelumnya sepertiku, saya jamin kamu bakalan kebingungan mendengar istilah Roxas, Nobody, Heartless, Organization XIII, dan berbagai istilah lainnya. Bila memang demikian (dan bila kamu malas memainkan game Kingdom Hearts sebelumnya) saya menyarankan untuk kamu setidaknya membuka Wikipedia atau mencari-cari tahu dulu cerita mengenai game sebelumnya karena 358/2 Days tidak mau repot-repot menarasikannya ulang padamu. Tidak untuk memberi spoiler lebih lanjut, 358/2 Days mengambil setting waktu antara Kingdom Hearts: Chain of Memories dan Kingdom Hearts II sembari menunjukkan kepada gamer apa kiranya yang terjadi pada Roxas selama dia berada di Organization XIII, dan hubungannya dengan anggota keempat belas dari grup tersebut: Xion, yang adalah karakter orisinil game ini.

Apabila sebelum ini game Kingdom Hearts mengambil jalan cerita petualangan, 358/2 Days tidak bisa melakukan hal yang sama karena kemampuan hardware yang kurang memadai. Untuk mengakalinya, Square Enix memakai cara yang (hampir) sama dengan Crisis Core yaitu dengan membagi jalan cerita pada berbagai misi. Artinya kamu akan selalu memulai hari-harimu sebagai Roxas dalam markas Organization XIII sebelum diutus ke berbagai dunia untuk menjalankan misi yang disediakan. Ini juga sekaligus mengurangi kebebasanmu untuk menjelajahi dunia-dunia sesuai keinginanmu. Misalnya kamu hendak pergi ke dunia Aladdin di Agrabah tapi tidak ada misi yang mengharuskanmu pergi ke sana? Ya kamu tidak bisa pergi ke sana. Keterbatasan ini sebenarnya sangat saya sayangkan, walaupun saya juga tidak menyalahkan Square Enix sepenuhnya.

Setidaknya Square Enix berusaha menebus ini dengan memberi kita sistem panel yang inovatif. Sistem panel memberimu kebebasan untuk mengkustomisasi Roxas semaumu. Ingat sistem inventori baru Resident Evil yang diperkenalkan mulai serial keempatnya? Seperti itulah kamu bisa mengkustomisasi Roxas. Roxas akan memiliki slot-slot yang bisa diisi berbagai jenis kotak di dalamnya. Kotak ini bisa merepresentasikan segala sesuatu mulai dari menambah status Roxas, memberinya kemampuan sihir, melengkapinya dengan item, mengequip senjata, bahkan level up. Betul, dalam game ini status Roxas tidak akan begitu saja langsung bertambah setelah kamu level up, sebaliknya kamu akan mendapatkan kotak level-up yang bisa kamu pasang di dalam panelmu bila kamu inginkan. Pada awal permainan, Roxas hanya memiliki sedikit panel yang terbuka untuk dipasang tapi akan terus bertambah seiring kamu menyelesaikan misi-misimu. Sisanya tergantung imajinasimu. Apakah kamu ingin meningkatkan level Roxas setinggi-tingginya dengan memasukkan semua kotak level-up dalam panelmu? Ataukah kamu ingin menjadikan Roxas tukang pukul dengan memasukkan item penambah kekuatan serangan Roxas? Atau mungkin lebih senang menjadikan Roxas penyihir tangguh dengan memasukkan berbagai jenis elemen sihir dalam panelnya? Terserah kamu! Asal tahu saja, setiap misi yang harus diemban Roxas memiliki tantangan yang berbeda dan menantangmu mencari sistem panel terbaik untuk menyelesaikan misi tersebut secara efektif dan efisien.

Saya banyak membaca review yang memuji-muji kualitas audio visual dalam game ini, dan saya bisa bilang bahwa saya tidak sepenuhnya setuju. Untuk kualitas audionya saya senang dengan sentuhan Yoko Shimomura yang musiknya banyak dipakai ulang dan diremake dalam 358/2 Days. Sayangnya itu juga berarti saya seperti mendengar remake dari remake, mengingat Shimomura sendiri sudah meremake lagu-lagu klasik Disney ketika dia menggubahnya untuk Kingdom Hearts. Tapi yang paling mengangguku adalah kualitas visualnya. Walaupun kota-kota dan dunia Disney yang beraneka ragam terasa impresif untuk ukuran DS, entah kenapa mereka semua terasa… mati. Setiap kali Roxas berpetualang dalam misinya saya tidak pernah melihat ada orang siapapun, kecuali beberapa karakter Disney yang ‘kebetulan’ kamu temui dan para Heartless yang kamu lawan. Apakah gamer lain yang pernah memainkan Kingdom Hearts bisa mengkonfirmasi game sebelum 358/2 Days juga serupa? Aneh melihat Agrabah dalam film Aladdin begitu penuh kehidupan mendadak menjadi lenggang dalam game ini ketika dijelajahi Roxas. Game ini memang berusaha menjelaskan dengan mengatakan bahwa badai pasir terus menghantam Agrabah sehingga menganggu kehidupan di sana, tetapi setelah Genie datang dan menghilangkan badai pasir pun kota tersebut tetap melompong kosong. Uh… apa serunya berkelana di kota mati hanya untuk menghajar para Heartless semata? Dan walaupun saya sudah hampir menyelesaikan game ini, tidak sekalipun saya menemui karakter dari Final Fantasy di dalamnya. Tidakkah Kingdom Hearts seharusnya merupakan gabungan dari dunia Disney dan Final Fantasy? Ke mana para karakter Square Enix tersebut? Ke mana Cloud dan Squall?

Singkat kata, Kingdom Hearts 358/2 Days adalah sebuah game yang hanya bisa dinikmati oleh penggemar berat Kingdom Hearts. Kurangnya introduksi pada cerita dan minimnya presentasi yang disediakan takkan membuat gamer baru menyukainya. Daripada membuang waktu main game ini, kenapa tidak menantikan datangnya Kingdom Hearts III saja?

Final Verdict

Gameplay: 7.0
Saya suka dengan sistem panel yang membuat setiap pertarungan battle menjadi mengasyikkan dan berbeda-beda. Bertarung bersama dengan teman dengan sistem Wireless juga menjadi pengalaman baru sendiri. Sayangnya, game ini membosankan dengan sistem misi-misinya yang monoton dan kurang variatif.

Graphic / Sound: 7.0
Kualitas grafisnya entah kenapa terasa hambar di mataku. Pemilihan warna-warnanya terasa mati dan kurang hidup - apa lagi bila dibandingkan dengan film animasi Disney yang biasa saya tonton. Selalu mendengar bahwa Kingdom Hearts memiliki design yang spektakuler membuat saya kian kecewa melihat dunia-dunia Disney dihadirkan secara biasa-biasa saja dalam layar DS yang kupelototi. Yah setidaknya remake musik Disney tetap nendang dari speaker DSku.

Play Time: 8.0
Menyelesaikan jalan cerita utamanya sendiri bisa memakan waktu 20 jam lebih, tetapi 358/2 Days memiliki banyak misi-misi tantangan (Challenge) yang sulit dan menantang ketangkasanmu untuk diselesaikan. Sukses menghadapinya juga akan memberimu item-item langka yang bisa kamu dapat dari para temanmu atau Moogle yang dengan senang hati akan menukarkan medali penghargaanmu dengan hadiah.

Overall: 7.3

Game Details
Developer: Square Enix
Publisher: Square Enix
Genre: Action RPG

Comments (8)

Tags: ,

Brain Age: Train Your Brain in Minutes a Day!

Posted on 13 December 2009 by Si Tukang Review

Brain Age: Train Your Brain in Minutes a Day! Cover

Brain Age: Train Your Brain in Minutes a Day! Cover

(Review Ditulis Di Tahun 2007)

Ada dua game yang menjadikan Nintendo DS menjadi pemenang dalam handheld warnya melawan PSP. Apabila di tahun pertama handheld war Nintendo DS memenangkan persaingan melalui para anjing-anjing lucu di Nintendogs, pada tahun kedua yang menjadi andalan mereka adalah permainan mengasah otak yang bernama Brain Age, sebuah puzzle penuh teka-teki dan kuis yang berfungsi menghitung seberapa terasahnyakah otak anda?

Graphic (5 / 10)

Sulit menilai grafis dalam game Brain Age ini, mengingat tampilan grafis bukanlah hal yang diutamakan oleh game ini. Hampir semua tampilan game ini sangat simple dan sederhana dengan dominasi putih sebagai latarnya dan hitam sebagai teksnya. Ada juga animasi kepala Dr. Kawashima yang digarap dengan sangat sederhana dan lebih berfungsi sebagai humor penyegar dengan ekspresi-ekspresinya yang kerap unik dan aneh.

Toh, justru karena simpelnya animasi inilah yang membuat game ini tetap bisa fokus pada gameplaynya. Mengingat game ini membutuhkan koordinasi penglihatan dan otak yang baik maka tampilan yang simple ini justru menguntungkan bagi anda untuk mengolah data-data yang disajikan di layar Nintendo DS. Bagaimana dengan angka-angka dan tulisan yang ada di dalam game ini? Jangan khawatir, angka dan tulisan dalam game ini ditulis dengan huruf besar sehingga memudahkan untuk dibaca. Presentasi grafis dalam game ini memang sederhana – tetapi tepat guna.

Sound (5 / 10)

Suara dalam game ini setali tiga uang dengan grafisnya. Sangat simple karena tidak ingin membuat konsentrasi kita terganggu. Sekali lagi perlu diingat bahwa Brain Age adalah sebuah game yang membutuhkan konsentrasi otak yang tinggi karena penuh dengan teka-teki perhitungan sederhana maupun hafalan. Tidak lucu bukan kalau anda disuruh berkonsentrasi sembari mendengarkan lagu-lagu dari game ini?

Suara dalam game ini sangat terbatas pada sound effect yang ada, countdown timer sebelum soal mulai dan menjelang soal berakhir akan menjadi suara yang kerap kali anda dengar kalau anda tengah menggarap soal-soal di game ini. Ada juga suara tulisan kapur di papan tulis apabila anda menulis jawaban di layar Nintendo DS anda. Walaupun dengan berbagai variasi suara sederhana ini, pada akhirnya memang segi audio visual bukanlah tujuan utama di dalam game ini.

Gameplay (9.5 / 10)

Nah, review SESUNGGUHnya Brain Age dimulai dari sini. Mari kita bedah apa sih sebenarnya Brain Age itu? Brain Age adalah hasil penelitian dari seorang ilmuwan kedokteran di Jepang bernama Dokter Kawashima. Ia menemukan bahwa otak seseorang harus terus diasah supaya tetap tajam – dan ia menyatakan bahwa metode yang paling efektif dalam melakukannya adalah dengan melakukan perhitungan sederhana, menggambar, dan membaca secara keras. Menurut Dokter Kawashima, otak manusia yang terbaik adalah otak seseorang yang berusia 20 tahun. Brain Age versi game ini konon menggabungkan banyak puzzle-puzzle mini yang bisa mengasah otak kita!

Apakah benar kalau game ini akan membuat kita bertambah pandai? Sejujurnya saja saya tidak tahu. Tidak ada peneliti lain yang berani memberi jawaban pasti mengenai hal ini (paling jauh mereka hanya akan berkomentar: “memang lebih baik menghabiskan waktu luang dengan cara seperti ini ketimbang minum bir atau nonton TV sepanjang hari”. Hanya saja saya berani memberi garansi kalau Brain Age akan tampil sebagai sebuah game yang adiktif yang bisa membuat anda seru untuk memainkannya secara berkala!

Ketika memulai permainan ini, biasanya Dokter Kawashima (animasi kepalanya paling tidak) akan meminta anda menginput informasi anda, dan kemudian melakukan tes untuk menentukan hasil Brain Age anda. Sangat sulit membayangkan anda akan mendapatkan Brain Age yang sesuai dengan usia anda (biasanya orang akan mendapatkan Brain Age yang lebih tua ketimbang usianya). Setelah itu Dokter Kawashima akan memperingatkan kepada anda pentingnya untuk terus mengasah otak anda!

Game ini menyediakan berbagai puzzle untuk dipecahkan. Puzzlenya sendiri bervariasi: mulai dari 20 soal perhitungan sederhana (dan upgradenya; 100 soal perhitungan sederhana), membaca cerita singkat, menghafal tata letak angka, menghitung jumlah orang di rumah, dan macam-macam lagi. Hasil dari bagaimana anda mengerjakan puzzle ini akan dicatat setiap harinya sebagai rekor anda. Anda akan bisa melihat sendiri pada hari-hari berikutnya bagaimana rekor anda diperbaiki setiap waktu (setidaknya rekor saya sih terus menajam tiap harinya).

Walaupun jumlah puzzle dalam game ini tidak lebih dari 10, jangan harap anda akan bisa menjajal kesemuanya dalam sekali main. Nintendo cukup cerdik dalam membuka puzzle dalam game ini satu demi satu menggunakan metode Stamp. Pada hakikatnya, setiap hari anda mengerjakan sebuah puzzle, anda akan mendapatkan satu stamp. Singkatnya, semakin sering anda memainkan Brain Age, semakin cepatlah anda bisa membuka mode-mode permainan baru yang sebelumnya masih terkunci!

Saya salut pada sistem pengenalan tulisan di dalam game ini. Game ini mampu membaca berbagai jenis angka dengan cerdiknya. Saya telah mencobakan game ini kepada sekurang-kurangnya lima orang yang berbeda (dengan tingkat pemahaman game yang berbeda pula) – hebatnya, tak seorang pun mengeluh Brain Age salah mengintepretasikan tulisan mereka. Ini jelas sangat bagus, karena kesalahan intepretasi bisa berakibat fatal dalam game ini.

Sayangnya apabila Nintendo menggarap segi handwriting recognition dengan baik, tidak demikian halnya dengan voice recognition dalam game ini. Entah kenapa game ini sering kesulitan untuk mengerti perintah yang saya ucapkan ke dalamnya. Sering sekali perbincangan semacam ini terjadi ketika saya tengah memainkan Brain Age saya.

Me: Blue
Brain Age: …
Me: BLUE
Brain Age: …
Me: BLUE!!
Brain Age: …
Me: I SAID BLUE DAMMIT!
Brain Age: …
Me: *Menghela nafas*

Beruntung ada fitur untuk menghindari tes voice recognition di dalam game ini. Masalah ini pulalah yang membuat saya urung memberikan nilai 10 pada sistem gameplay dalam game ini.

Longetivity (8.5 / 10)

Hampir jaminan bahwa seusai anda mencobanya sekali maka Brain Age akan membuat anda kembali hari demi hari untuk menguji dan mengasah otak anda. Toh sesudah hampir satu bulan ketika anda sudah membuka semua rahasia yang ada dan mengasah otak menjadi usia 20 tahun (saya perlu waktu 12 hari untuk mendapatkan otak maksimal ini), anda kemungkinan besar akan bosan pada single player mode dalam game ini.

Tenang saja, Nintendo masih menyajikan arena adu cepat dengan menggunakan sistem wireless Nintendo DS anda. Kalau anda rasa anda sudah yang tercepat dalam mengerjakan perhitungan aritmatika dalam game ini, silahkan pikir ulang, siapa tahu teman anda lebih jenius ketimbang anda!

Sudah bermain dengan teman sampai bosan? Apakah itu artinya game ini sudah bisa dilupakan? Sama sekali tidak – karena game ini berisikan banyak sekali puzzle Sudoku di dalamya sebagai muatan khusus. Puzzle yang beken dan dipercaya bisa mengasah logika otak kita ini tersedia sampai puluhan variasi di dalam Brain Age. Sistem navigasinya yang ramah dan enak dipakai ini membuat banyak orang kesengsem dengan dunia Sudoku. Nah, sekarang anda ada ratusan game Sudoku untuk mengisi waktu luang anda.

Editor’s Tilt (7.5 / 10)

Brain Age adalah satu lagi title yang solid dari Nintendo – game inilah yang membuat Nintendo DS tetap berdiri tegar kendati digempur dengan variasi gamenya PSP. Saking suksesnya game ini ia membuahkan banyak tiruan bervariasi – baik yang berkualitas, yang kurang berkualitas, sampai yang tidak berkualitas sama sekali.

Nah, apakah anda merasa anda kurang smart dalam kehidupan sehari-hari? Merasa kurang cakap atau pandai berkomunikasi dan berpikir? Sulit menghafal? Tidak usah jauh-jauh tes IQ, silahkan saja langsung tes Brain Age anda!

Average: 7.1

Game Details
Developer: Nintendo
Publisher: Nintendo
Genre: Puzzle

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here