<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Si Tukang Review &#187; Game</title>
	<atom:link href="http://tukangreview.com/category/game/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tukangreview.com</link>
	<description>a review a day takes your curiosity away</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 14:24:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Hot Shot Tennis: Get A Grip</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/07/28/hot-shot-tennis-get-a-grip/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/07/28/hot-shot-tennis-get-a-grip/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 08:24:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Game]]></category>
		<category><![CDATA[Handheld]]></category>
		<category><![CDATA[PSP]]></category>
		<category><![CDATA[Clay]]></category>
		<category><![CDATA[Fun]]></category>
		<category><![CDATA[Golf]]></category>
		<category><![CDATA[Hard]]></category>
		<category><![CDATA[Hot Shot]]></category>
		<category><![CDATA[Tennis]]></category>
		<category><![CDATA[Wimbledon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=4605</guid>
		<description><![CDATA[Pernah dengar judul game Hot Shot Golf aka Pangya Offline (Pangya Offline itu cuma nama yang kuciptakan sendiri)? Game mengenai olahraga golf yang digarap secara kartunis itu rupanya mendapatkan sambutan baik dari para gamer. Setelah sekuel demi sekuel dari Hot Shot Golf dirilis, nampaknya sang developer hendak mencoba merambah olahraga baru dan yang terpilih adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4606" class="wp-caption alignnone" style="width: 257px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/07/Hot-Shots-Tennis-Get-A-Grip-PSP-Cover.jpg"><img class="size-full wp-image-4606" title="Hot Shots Tennis Get A Grip PSP Cover" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/07/Hot-Shots-Tennis-Get-A-Grip-PSP-Cover.jpg" alt="" width="247" height="425" /></a><p class="wp-caption-text">Hot Shots Tennis Get A Grip PSP Cover</p></div>
<p>Pernah dengar judul game <strong>Hot Shot Golf</strong> aka Pangya Offline (Pangya Offline itu cuma nama yang kuciptakan sendiri)? Game mengenai olahraga golf yang digarap secara kartunis itu rupanya mendapatkan sambutan baik dari para gamer. Setelah sekuel demi sekuel dari Hot Shot Golf dirilis, nampaknya sang developer hendak mencoba merambah olahraga baru dan yang terpilih adalah Tennis. Muncullah <strong>Hot Shot Tennis</strong> yang di Eropa disebut sebagai <strong>Everybody&#8217;s Tennis</strong>.</p>
<p>&#8216;Tennis dengan riang gembira&#8217; seperti ini bukan dipelopori oleh Hot Shot Tennis. Jauh sebelum ia muncul Mario dan kawan-kawan sudah lebih dulu nongol dalam <strong>Mario Tennis</strong> (ah Mario, melompati Bowser, balapan, basket, sepakbola, tennis, apa sih yang kamu tidak bisa?) dan bahkan di PSP pun saya pernah mereview game berjudul <strong>Super Pocket Tennis</strong> yang memiliki design karakter dan gameplay yang serupa tapi tidak sama dengan Hot Shot Tennis. Lantas apa yang membuat game ini masih bisa menyita (sampai sekarang) 10 jam lebih dari waktu bermainku?</p>
<p>Kamu mengawali game ini hanya dengan dua karakter (satu pria dan satu wanita) yang tergabung dalam organisasi tennis Riang Gembira (actually I made up the name, but you&#8217;ll see why). Tujuan dari organisasi tennis Riang Gembira adalah berkeliling ke seluruh dunia dan menyebarkan kebahagiaan dengan cara mengalahkan orang bermain tennis. Yessss I know, kalian pasti merasa yang menulis cerita absurd. Mana ada orang yang bahagia dan tertawa-tawa setelah dikalahkan dalam permainan tennis? Lihat saja Roger Federer yang sempat menangis frustasi saat kalah oleh Rafael Nadal dua tahun lalu di final Australia Grand Slam! Atau Nadal sendiri yang frustasi karena sempat berkutat dengan cederanya yang tidak sembuh-sembuh selama musim lalu. Ah, saya melantur terlalu jauh. Balik lagi ke gamenya&#8230;</p>
<p>Apa yang membuat Hot Shot Tennis begitu adiktif untuk dimainkan adalah tingkat kecerdasan AInya. Bermain sendiri dalam game ini dan kemudian mengunlock karakter-karakter baru adalah tantangan tersendiri. Setiap pemain yang kamu hadapi memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan membutuhkan kejelian dan strategi sendiri menghadapinya. Ada yang baseline player dan pukulannya sangat keras, ada juga yang net player dan kerjaannya memotong bola dan membuatmu tunggang langgang mengejarnya. Tapi juga karena AI yang tinggi ini, adalah kepuasan tersendiri bagimu bila pada akhirnya berhasil mengalahkan mereka. Juga jangan khawatir, game ini menaikkan tingkat kesulitannya secara perlahan-lahan sehingga kamu takkan langsung &#8216;kaget&#8217;.</p>
<p>Juga di balik penampilannya yang imut, cerah, dan warna-warni itu, siapa yang sangka game ini menyimpan gameplay yang cukup dalam. Selain berbagai AI yang melatihmu memakai berbagai strategi, kamu juga akan bermain di berbagai lapangan yang berbeda. Ada lapangan keras, lapangan rumput, sampai lapangan tanah liat yang memberi efek berbeda pada pantulan bola (ingat kenapa Nadal bisa selalu merajai Perancis Terbuka? Karena dia raja di tanah liat). Enaknya, gameplay dalam game ini gampang dipelajari. Kontrolnya sederhana. Kamu bisa memukul dengan tombol X sebagai Spin, O sebagai Slice, dan Segitiga untuk bola lambung (Lob).</p>
<p>Soal penampilannya karakternya sendiri, Hot Shot Tennis menawarkan banyak kustomisasi. Kamu bisa mengganti rambut, kostum, dan menempeli beberapa aksesori kepada mereka (asal levelmu cukup). Ini juga menjadi pemicuku mau bertanding dengan karakter-karakter non-linear selama cerita. Puas rasanya mengalahkan mereka dan mendapatkan uang membeli equipment di toko atau bahkan &#8216;mengambil&#8217; equipment yang mereka miliki. Asal tahu saja, kamu bisa lo mendandani karaktermu sebagai Adidas Boy (karena game ini disponsori Adidas, ada berbagai pernak-pernik Adidas mulai raket, baju, bahkan topi!) sampai jadi seorang Cave Girl berbaju seksi. Segalanya bebas terserah imajinasimu!</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> setelah saya kesurupan main Disgaea 2 dan <strong>Metal Gear Solid: Peace Walker</strong>, muncul lagi dua game <strong>Persona 3 Portable</strong> dan Hot Shot Tennis ini yang menyita waktu luangku. Senang rasanya PSP mulai meluncurkan titel-titel berbobot lagi setelah sekian lama handheld Sony itu tergeletak jadi anak tiri di kamarku. Agaknya seperti Ryoma Echizen dalam Prince of Tennis, PSP tidak mau dilupakan begitu saja&#8230; &#8220;<em>Mada mada dane!</em>&#8221;</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Final Verdict</strong></span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Gameplay</span>: 9.0<br />
Kontrol game ini solid dan mudah dipelajari siapa saja. Tingkat AI musuh yang variatif akan membuatmu betah bermain game ini berjam-jam walau sendirian. Tentu saja fitur konektivitas lokal juga tersedia bagi kamu yang ingin bermain dengan teman.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Graphic / Sound</span>: 9.0<br />
Grafis dan musik game ini semuanya cerah dan ceria&#8230; maklum pangsa pasarnya kan memang buat anak-anak. Walau grafisnya setipe dengan Super Pocket Tennis yang juga chibi-chibi pemainnya, saya lebih suka Hot Shot Tennis yang memberi kita kesempatan memodifikasi karakter dengan aksesoris berbeda. So cute!</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Play Time</span>: 9.0<br />
Kalau kamu penggemar olahraga tennis (layaknya saya) kamu bakalan menemukan dirimu menghabiskan berjam-jam menghadapi musuh baru sekaligus melengkapi koleksi aksesoris yang disediakan game ini.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Overall</span>: <strong>9.0</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Game Details</strong></span><br />
Developer: Clap Hanz<br />
Publisher: SCEA<br />
Genre: Sport</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/07/28/hot-shot-tennis-get-a-grip/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ModNation Racers</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/07/27/modnation-racers/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/07/27/modnation-racers/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 04:47:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Console]]></category>
		<category><![CDATA[Game]]></category>
		<category><![CDATA[Handheld]]></category>
		<category><![CDATA[PS3]]></category>
		<category><![CDATA[PSP]]></category>
		<category><![CDATA[Kart]]></category>
		<category><![CDATA[Little Big]]></category>
		<category><![CDATA[Mario]]></category>
		<category><![CDATA[Mod]]></category>
		<category><![CDATA[ModNation]]></category>
		<category><![CDATA[Planet]]></category>
		<category><![CDATA[Racers]]></category>
		<category><![CDATA[Racing]]></category>
		<category><![CDATA[Sony]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=4580</guid>
		<description><![CDATA[(Review Based on PSP Version) Ah, ModNation Racers rasa-rasanya mengesahkan pendapatku bahwa Sony ingin menantang hegemoni Nintendo melalui konsep DIY (Do It Yourself) / Customization dan Sharing. Kok saya bisa bilang demikian? Coba lihat. Nintendo menancapkan kuku yang sangat dominan dalam dunia 2D Platform melalui game Super Mario dan sekuel-sekuelnya. Bahkan sampai sekarang adik-adikku masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/07/modnation-racers-psp-cover.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4582" title="modnation-racers-psp-cover" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/07/modnation-racers-psp-cover.jpg" alt="modnation-racers-psp-cover" width="266" height="466" /></a></p>
<p>(<span style="text-decoration: underline;">Review Based on PSP Version</span>)</p>
<p>Ah, <strong>ModNation Racers</strong> rasa-rasanya mengesahkan pendapatku bahwa Sony ingin menantang hegemoni Nintendo melalui konsep <em>DIY (Do It Yourself)</em> / <em>Customization</em> dan <em>Sharing</em>. Kok saya bisa bilang demikian? Coba lihat. Nintendo menancapkan kuku yang sangat dominan dalam dunia 2D Platform melalui game <strong>Super Mario</strong> dan sekuel-sekuelnya. Bahkan sampai sekarang adik-adikku masih sibuk memainkan <strong>New Super Mario Bros</strong> yang sudah berusia lebih dari lima tahun di DS mereka. Bagaimana Sony mengcounternya? Dengan <strong>Little Big Planet</strong> di PSP mereka! Konsep design sendiri dunia dan karaktermu adalah cara cerdik Sony menghadapkan kreatifitas department Nintendo dengan kreatifitas semua gamer yang siap berbagi level. Hasilnya tidak jelek. Walau belum bisa mendongkel nama Super Mario, Little Big Planet mendapat cinta dari banyak gamer kreatif. Lihat saja unggahan karakter maupun level yang bejibun di servernya.</p>
<p>Sukses dengan itu membuat Sony ketagihan. Selain mempersiapkan <strong>Little Big Planet 2</strong> mereka menghadirkan <strong>ModNation Racers</strong>; sebuah game kart dengan konsep yang sama seperti Little Big Planet. Design sendiri karaktermu, design sendiri kartmu, dan design sendiri trackmu. Tidak sulit melihat apa yang hendak ditantang oleh Sony dengan game ini. Kalau yang terlintas di benakmu adalah Mario dan kawan-kawan naik kart, maka jawabanmu betul. Jadi apakah ModNation Racers sukses mengkudeta <strong>Mario Kart</strong> sebagai franchise kart racing terbaik sepanjang masa?</p>
<p>Ternyata gameplay ModNation Racers berbeda total dengan Mario Kart. Ya, saya sejujurnya kaget saat pertama kali memainkan game ini karena saya masuk dengan pola pikir &#8220;<em>Ini Mario Kart dengan karakter, kart, dan lintasan yang bisa kamu ciptakan sendiri</em>&#8220;. Jangan salahkan pemikiran saya ini karena hampir semua game kart yang ada mulai dari Pacman sampai Sonic menggunakan pakem yang sama: sebuah game Mario Kart yang diganti karakternya. Oleh karena itu saya kaget begitu melihat ModNation Racers memiliki sistem balap yang berbeda dengan Mario Kart. Dalam game ini bukan hanya drifting dan penggunaan item yang harus diperhatikan oleh gamer tetapi juga sistem boosting dan shield. Setiap kali kamu menyerang dan mengenai musuh, drifting, dan melakukan stunt lain nilai boostingmu akan naik. Menggunakannya akan membuatmu bisa menambah kecepatan secara signifikan. Strategi pemakaian boosting adalah salah satu hal kunci untuk bisa memenangkan balapan di game ini&#8230; walaupun kamu membalap tanpa menabrak apapun, kamu dipastikan kalah atau gagal merebut podium pertama bila strategi boostingmu keliru. Ditambah lagi mengambil item dalam game ini tidak semudah game lainnya. Kamu bakalan sering luput mengambil bola item atau musuh lebih dulu mengambilnya sebelummu (karena waktu respawn item agak lama). Ini menjadi masalah tersendiri bagi saya yang adalah Item Racer (pembalap yang biasanya menggunakan kekuatan item untuk memenangkan balap) dalam game kart lainnya.</p>
<p>Sistem ciptakan sendiri dalam game ini juga tidak rumit, walaupun menyebalkan pada awalnya. Kenapa? Karena pada awalnya banyak sekali item-item keren yang dikunci oleh Sony. Untuk mengunlocknya kamu harus membalap berkali-kali terlebih dahulu. Saya tidak menyalahkan Sony karena ini menambah play time game ini bagi para gamer tetapi opsi awalnya terlalu sedikit! Buat saya yang melihat design chibi Kratos berbalap di ModNation Racers terpaksa gigit jari melihat pada awalnya saya cuma bisa mendesign karakter dan kart yang sangat &#8216;plain&#8217;.</p>
<p>Nah, untuk ciptakan lintasanmu sendiri&#8230; saya kok merasa ini adalah blunder dari pihak Sony sendiri. Saya tahu sistem berbagi sudah ada di berbagai game (ingat Map dalam <strong>Counter Strike</strong> dan game FPS lainnya atau bahkan stage design dalam Little Big Planet) akan tetapi ini bukan sesuatu yang (terlalu) cocok untuk diterapkan dalam genre racing. Saya adalah penggemar olahraga F1 dan Moto GP. Sadarkah kalian bahwa dalam game racing semacam ini yang paling penting bagi seorang pembalap adalah harus bisa familiar dengan track yang akan dilewatinya? Karena itu ada yang namanya uji coba, berbalap untuk pole position, sebelum race utama dimulai. Dalam setiap game Mario Kart baru, pembalap memiliki 20 hingga 30 track yang tiap saat bisa mereka uji dan hafalkan shortcutnya. Akan tetapi coba bayangkan dalam ModNation Racers ada ratusan atau bahkan ribuan track yang bisa dijajal. Mana ada waktu bagi setiap gamer menyukai track tertentu? Track mana yang akan dipilih gamer berbalap dengan rekannya yang lain? Standarnya bagaimana? Kalau gamer A suka lintasan A sementara gamer B suka lintasan B, bagaimana bisa mereka bertanding. Oh tentu saja kamu bisa berjanji dulu dengan temanmu &#8220;<em>Hei, kita coba dulu ya track ini beberapa kali lantas baru saling balap?</em>&#8221; but hey, where&#8217;s the fun in that? Apa kamu mau tidak langsung bertanding tapi menjajal lintasan dua tiga kali dulu? It&#8217;s not fun. Entah ya buat gamer lain mungkin merasa ini inovatif atau kreatif atau membiarkan gamer berimajinasi&#8230; tapi tidak buat saya. Setidaknya buat kamu yang pengen menciptakan lintasanmu sendiri, implementasi sistem penciptaannya Sony mudah untuk dipelajari kok. You&#8217;ll be creating your track in no time.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> ModNation Racers adalah sebuah game yang sangat tergantung pada seleramu dalam game racing. Kalau kamu suka menjajal track-track yang berbeda setiap saatnya: this is a racing game for you. Kalau kamu seperti saya yang suka membalap di lintasan yang bisa kamu kuasai dan familiar&#8230; stick with Mario Kart atau <strong>Sega All Star Racing</strong>. Saya pribadi memainkan Career Mode dalam ModNation Racers dan menerimanya sebagai cukup enjoyable dan menantang!</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Final Verdict</strong></span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Gameplay</span>: 8.0<br />
Sistem balapnya yang berbeda dengan game kart racing lain ditambah dengan AI yang tangguh membuat game ini menantang. Poin plus kalau kamu suka mengunduh dan mengunggah kreasi orang lain dan ciptaanmu sendiri.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Graphic / Sound</span>: 9.5<br />
Luar biasa. Begitu banyaknya pernak-pernik aksesoris yang kamu bisa miliki (semua dengan pilihan warna yang berbeda-beda) dijamin membuatmu jatuh cinta dengan tampilan visual game ini. Saya jadi penasaran ingin menjajal versi PS3nya yang pastinya jauh lebih superior ketimbang versi PSP yang saya mainkan sehari-harinya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Play Time</span>: 6.5<br />
Sekali lagi Play Time game ini subyektif untuk setiap gamer. Saya tidak terlalu tertarik menciptakan track (lebih tertarik menciptakan kart dan racer / Mod) sehingga play time game ini hanya sebatas Career Mode bagiku.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Overall</span>: <strong>8.0</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Game Details<br />
</strong></span>Developer: United Front Games, SCE San Diego Studio<br />
Publisher: Sony Computer Entertainment<br />
Genre: Racing</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/07/27/modnation-racers/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Disgaea 2: Dark Hero Days</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/07/20/disgaea-2-dark-hero-days/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/07/20/disgaea-2-dark-hero-days/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 15:37:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Console]]></category>
		<category><![CDATA[Game]]></category>
		<category><![CDATA[Handheld]]></category>
		<category><![CDATA[PS2]]></category>
		<category><![CDATA[PSP]]></category>
		<category><![CDATA[Adell]]></category>
		<category><![CDATA[Etna]]></category>
		<category><![CDATA[Hanako]]></category>
		<category><![CDATA[Prinny]]></category>
		<category><![CDATA[Rozalin]]></category>
		<category><![CDATA[Taro]]></category>
		<category><![CDATA[Tink]]></category>
		<category><![CDATA[Zam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=4552</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Terkutuklah kamu game Disgaea!!!&#8221; Tentu saja seruan saya itu cuma candaan. Dalam review Disgaea Infinite saya pernah menulis kalau saya ketagihan main game Disgaea pertama sampai berjam-jam, dan karena itulah saya merasa takut bermain Disgaea 2 saat dirilis versi remake (port?)nya di PSP dengan judul Dark Hero Days. Tapi setelah memainkan game Disgaea Infinite, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4553" class="wp-caption alignnone" style="width: 274px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/07/disgaea-2-dark-hero-days-cover.jpg"><img class="size-full wp-image-4553" title="Disgaea 2: Dark Hero Days Cover" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/07/disgaea-2-dark-hero-days-cover.jpg" alt="Disgaea 2: Dark Hero Days Cover" width="264" height="454" /></a><p class="wp-caption-text">Disgaea 2: Dark Hero Days Cover</p></div>
<p>&#8220;<span style="text-decoration: underline;"><strong>Terkutuklah kamu game Disgaea!!!</strong></span>&#8221;</p>
<p>Tentu saja seruan saya itu cuma candaan. Dalam review <strong>Disgaea Infinite</strong> saya pernah menulis kalau saya ketagihan main game Disgaea pertama sampai berjam-jam, dan karena itulah saya merasa takut bermain <strong>Disgaea 2</strong> saat dirilis versi remake (port?)nya di PSP dengan judul <strong>Dark Hero Days</strong>. Tapi setelah memainkan game Disgaea Infinite, saya jadi penasaran. Pikir saya &#8220;<em>Ah, apa salahnya bermain Disgaea 2 sebentar? Setiap malam paling saya cicil satu dua battle saja&#8230;</em>&#8221;</p>
<p>Tentu saja, seperti biasa, saya salah.</p>
<p>Begitu saya membuka game ini dan mengikuti kisah dari Adell membebaskan keluarganya dan desanya dari kutukan Overlord Iblis Zenon saya langsung terbuai untuk terus melanjutkan permainannya sampai tamat. Kutukan Disgaea ini baru berakhir setelah waktu menunjukkan play time mendekati 60 jam dalam PSP saya. Nah, sekarang saya sudah menamatkan Disgaea 2. Jadi bagaimana pendapat saya mengenainya?</p>
<p>Ceritanya seperti yang saya sebut di atas tadi tidak nyambung langsung dengan petualangan Laharl di dalam Disgaea pertama. Laharl adalah salah seorang Overlord di dunianya, tetapi ada banyak dunia dalam Disgaea&#8230; ini mengambil setting di dalam dunia yang dikuasai oleh Overlord Zenon yang mengutuki para manusia menjadi iblis. Di desa Adell, satu-satunya yang tak terkena kutukan hanyalah dirinya. Tidak tahan melihat keluarganya perlahan tapi pasti berubah, Adell dan semuanya membuat rencana mensummon Zenon dan menghabisinya di sana.</p>
<p>Apa daya, summonnya justru memanggil Rozalin, sang putri Zenon yang manja dan tak pernah bertemu dengan ayahnya. Kasihan, geram, sekaligus ingin balas dendam, Adell pun menemani Rozalin untuk mempertemukan putri dan ayah itu kembali &#8211; sekalian menghabisi sang ayah setelahnya. Tentu saja mengingat ini Disgaea janganlah kata &#8216;menghabisi&#8217; atau &#8216;membunuh&#8217; dianggap seserius RPG lain.</p>
<p>Akan tetapi jangan khawatir. Bagi kalian yang kangen muka lama, Etna yang dulu menjadi Vassal Laharl tetap muncul sebagai karakter playable di sini. Bahkan beberapa karakter dari Disgaea pertama muncul kok (bahkan Laharl yang tidak ingin posisinya sebagai karakter utama game direbut turut nongol!)</p>
<p>Bicara soal gameplaynya sendiri, Disgaea kedua ini tidak banyak berubah dari game pertamanya. Malah bisa dibilang tidak berubah sama sekali. Selain battle ala Strategy RPG biasanya, game ini juga mempertahankan ciri khas Disgaea sebelumnya seperti Item World (sebuah dunia dalam item yang bisa kamu masuki berupa random dungeon guna meningkatkan level item) dan Dark Assembly (tempat kamu bermusyawarah &#8211; atau lebih tepatnya menyogok &#8211; anggota parlemen iblis supaya menuruti permintaanmu&#8230; kok mirip sama anggota parlemen negara tertentu ya?). Kalau ada perubahan dengan game sebelumnya, saya rasa Disgaea 2 sedikit lebih mudah dibanding prekuelnya but I might be wrong, karena bisa jadi kini saya lebih terbiasa dengan sistem dalam S-RPG gila yang mengijinkan kita sampai level 9999 ini.</p>
<p>Biasanya saya akan mengkritik sebuah game yang tidak berani berinovasi di sekuelnya, tapi saya akan memberi perkecualian untuk Disgaea 2. Ini adalah salah satu RPG terpanjang yang bisa menyedot ratusan jam hidupmu ke dalamnya. Yeah, it&#8217;s that <span style="text-decoration: line-through;">evil</span> addictive. Ada begitu banyak hal yang bisa kamu lakukan di sini, so why change the winning formula? Mungkin begitu yang ada di benak para developer NIS.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> Disgaea 2: Dark Hero Days tidak memiliki cerita ataupun karakter sememorable prekuelnya (kalah gokil). Ia pun tidak memiliki terobosan gameplay inovatif seperti sang kakak. Toh para penggemar game bergenre Strategy RPG akan menemukan bahwa game ini tetap masuk dalam list &#8220;harus main&#8221;.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Final Verdict</strong></span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Gameplay</span>: 8.5<br />
Kamu bisa menciptakan karaktermu sendiri, mencari uang demi membeli senjata super mahal, masuk ke dalam Item World yang adalah random dungeon tak terhingga seturut banyaknya item yang kau punya, dan oh ya, ada jalan cerita yang bisa kamu mainkan. Begitu banyak hal yang bisa kamu lakukan!</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Graphic / Sound</span>: 9.0<br />
Grafis dan suaranya kinclong. Ini merupakan port yang digarap serius. Dan ya, kamu bisa memilih antara seiyuu Jepang dan Voice Acting Amerika yang kualitasnya sama-sama apik.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Play Time</span>: 10<br />
Play time demi menyelesaikan misi utama bakalan memakan 30 &#8211; 40 jam waktu permainan. Tetapi apa cukup kalian hanya menyelesaikan misi utama saja tanpa tergoda melakukan hal-hal lainnya? Begitu kamu sudah masuk ke dalam dunia ini&#8230; sulit rasanya menanggalkannya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Overall</span>: <strong>9.3</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Game Details</strong></span><br />
Developer: Nippon Ichi Software<br />
Publisher: NIS<br />
Genre: Strategy RPG</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/07/20/disgaea-2-dark-hero-days/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Super Mario Bros Crossover</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/07/14/super-mario-bros-crossover/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/07/14/super-mario-bros-crossover/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 10:34:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Game]]></category>
		<category><![CDATA[Others]]></category>
		<category><![CDATA[Retro]]></category>
		<category><![CDATA[Bill]]></category>
		<category><![CDATA[Castlevania]]></category>
		<category><![CDATA[Contra]]></category>
		<category><![CDATA[Crossover]]></category>
		<category><![CDATA[Hayabusa]]></category>
		<category><![CDATA[Link]]></category>
		<category><![CDATA[Luigi]]></category>
		<category><![CDATA[Mario]]></category>
		<category><![CDATA[Megaman]]></category>
		<category><![CDATA[Metroid]]></category>
		<category><![CDATA[Ninja Gaiden]]></category>
		<category><![CDATA[Nintendo]]></category>
		<category><![CDATA[Rockman]]></category>
		<category><![CDATA[Samus Aran]]></category>
		<category><![CDATA[Simon]]></category>
		<category><![CDATA[Zelda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=4507</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya bukan kebiasaan saya mereview sebuah game non-resmi / buatan fans tetapi karena saya kesengsem oleh game ini maka saya ingin membuat sebuah mini-review untuk mereview sekaligus memperkenalkannya pada para gamer lainnya. Super Mario Bros Crossover ini adalah game berbasis flash ciptaan Jay Pavlina dan pertama dimuat di situsnya: Exploding Rabbit. Game ini kemudian mengalami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4508" class="wp-caption alignnone" style="width: 294px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/07/super-mario-bros-crossover-cover.jpg"><img class="size-full wp-image-4508" title="Super Mario Bros Crossover Title" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/07/super-mario-bros-crossover-cover.jpg" alt="Super Mario Bros Crossover Title" width="284" height="265" /></a><p class="wp-caption-text">Super Mario Bros Crossover Title</p></div>
<p>Sebenarnya bukan kebiasaan saya mereview sebuah game non-resmi / buatan fans tetapi karena saya kesengsem oleh game ini maka saya ingin membuat sebuah mini-review untuk mereview sekaligus memperkenalkannya pada para gamer lainnya.</p>
<p><strong>Super Mario Bros Crossover</strong> ini adalah game berbasis flash ciptaan Jay Pavlina dan pertama dimuat di situsnya: <a href="http://www.explodingrabbit.com/">Exploding Rabbit</a>. Game ini kemudian mengalami pengembangan ini itu dari yang berversi 1.0 diperbaiki menjadi 1.1.</p>
<p>Siapapun yang menyebut diri mereka gamer pastinya pernah memainkan game paling populer (sekaligus terbaik) sepanjang masa: <strong>Super Mario Bros</strong>. Game yang single-handedly membangkitkan kembali industri game ini adalah mahakarya dari Shigeru Miyamoto yang memulai generasi emas Nintendo di era 8-bit. Semenjak munculnya Mario, muncullah ikon-ikon legendaris dunia game lainnya seperti Samus Aran dari <strong>Metroid</strong>, Link dari <strong>Legend of Zelda</strong>, Bill dari <strong>Contra</strong>, <strong>Megaman</strong> / Rockman, Simon Belmont dari <strong>Castlevania</strong> sampai Ryu Hayabusa dalam <strong>Ninja Gaiden</strong> dan banyak lagi. Nah, bagaimana kalau mereka semua bergabung dalam satu crossover game?</p>
<p>Jawabannya: <em>a <strong>lot</strong> of fun</em>!</p>
<p>Game ini sebenarnya merupakan replika dari Super Mario Bros pertama yang mengijinkan kita tidak hanya bermain sebagai Mario tetapi juga sebagai enam karakter lainnya yang saya sebut di atas tadi. Semua tambahan ini membuat gameplaynya makin berwarna karena setiap karakter memiliki spesialisasinya sendiri. Ambil contoh Simon Belmont memiliki senjata-senjatanya dari Castlevania dan kemampuan melompat dua kali. Power-up setiap karakter juga memiliki efek yang berbeda-beda &#8211; tetapi sesuai dengan ranah gamenya; kalau jamur membuat Mario tumbuh besar, ia akan mengubah senapan Bill menjadi tipe M. Ambil lagi bunga api dan senapan Bill berubah menjadi tipe S (Spread). Asal tahu saja, membabi-buta dengan S-nya Billy adalah salah satu momen paling bad-ass yang bisa kamu lakukan dengan game saat ini&#8230; as one of my friend said in the forum &#8220;<em>balas dendam pada Lakitu!</em>&#8220;.</p>
<p>Saya juga kagum dengan kejelian Jay Pavlina. Tidak hanya ia memprogram game ini supaya gerak-gerik karakter sesuai dengan game aslinya, ia juga memasukkan musik-musik klasik yang sesuai dengan karakter yang kamu mainkan. Misalnya kamu memainkan Samus, musik-musik dan sound effect terkenal dari game Metroidlah yang menemani permainanmu, begitu juga kalau kamu memainkan game dengan karakter-karakter lainnya.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> jangan keburu memandang sebelah mata game flash dan independen ini, Super Mario Bros adalah sebuah game klasik yang legendaris dan versi Crossover ini adalah tribut yang pantas baginya.</p>
<p><a href="http://supermariobroscrossover.com/">PLAY IT HERE!</a></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Final Verdict</span></strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Gameplay</span>: 9.0<br />
Tweak dalam gameplay membuat game Super Mario Bros terasa fresh kembali. Beberapa karakter memang terkesan lebih kuat dibandingkan karakter lainnya (I&#8217;m looking at you Bill) tapi itu adalah kekurangan minor yang bisa diterima mengingat bagaimana tepatnya pemrograman gerakan karakter dalam game ini.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Graphic / Sound</span>: 9.0<br />
Crossover ini hebat karena mampu memadukan grafik dari berbagai game menyatu di sini. Musik dari setiap game klasik pun turut menemani permainanmu.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Play Time</span>: 8.5<br />
Kamu yang pernah memainkan game-game klasik (and honestly, who haven&#8217;t?) pasti ingin menjajal game ini dan bereksperimen dengan karakter-karakter baru yang ditawarkan.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Overall</span>: <strong>8.8</strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Game Details</span></strong><br />
Developer: Jay Pavlina<br />
Publisher: (None)<br />
Genre: Adventure (Platform)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/07/14/super-mario-bros-crossover/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Disgaea Infinite</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/06/25/disgaea-infinite/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/06/25/disgaea-infinite/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 08:28:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Game]]></category>
		<category><![CDATA[Handheld]]></category>
		<category><![CDATA[PSP]]></category>
		<category><![CDATA[Disgaea]]></category>
		<category><![CDATA[Etna]]></category>
		<category><![CDATA[Infinite]]></category>
		<category><![CDATA[Laharl]]></category>
		<category><![CDATA[Prinny]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=4381</guid>
		<description><![CDATA[Walaupun hanya pernah memainkan game pertama Disgaea (Hour / Afternoon of Darkness), saya langsung kesengsem dengan game bertokoh utamakan Laharl itu. Maklum, ia penuh dengan karakter-karakter sinting dan menggemaskan, sibuk memparodikan anime ini itu sekaligus menguntai jalan cerita yang humoris dan menyentuh dengan gameplay yang dalam dan sangat adiktif. Saya sudah mengenal banyak gamer yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4382" class="wp-caption alignnone" style="width: 266px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/disgaea-infinite-cover.jpg"><img class="size-full wp-image-4382" title="Disgaea Infinite Cover" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/disgaea-infinite-cover.jpg" alt="Disgaea Infinite Cover" width="256" height="446" /></a><p class="wp-caption-text">Disgaea Infinite Cover</p></div>
<p>Walaupun hanya pernah memainkan game pertama <strong>Disgaea</strong> (Hour / Afternoon of Darkness), saya langsung kesengsem dengan game bertokoh utamakan Laharl itu. Maklum, ia penuh dengan karakter-karakter sinting dan menggemaskan, sibuk memparodikan anime ini itu sekaligus menguntai jalan cerita yang humoris dan menyentuh dengan gameplay yang dalam dan sangat adiktif. Saya sudah mengenal banyak gamer yang rela menghabiskan ratusan jam dalam hidup mereka dalam Disgaea, sebuah bukti bagaimana menghipnotisnya game ini. Belakangan ini Nippon Ichi Software selaku pengembang Disgaea fanbase mereka terus bertambah besar sehingga berani bereksperimen merambah ke genre lain di luar Strategy RPG. Percobaan pertama mereka adalah <strong>Prinny: Can I Really Be the Hero?</strong> yang lumayan seru &#8211; tapi sulit setengah mati. Tahun ini sekali lagi muncul game Disgaea, kali ini dalam bentuk Visual Novel, berjudul <strong>Disgaea Infinite</strong>.</p>
<p>Tema utama dalam Disgaea Infinite adalah upaya pembunuhan Laharl! Ya, jagoan utama kita di dalam Disgaea itu hendak dibunuh! Sial bagi sang pembunuh misterius, Laharl tidak mati dalam usaha pembunuhan ini&#8230; Tapi?!?!? Itu justru baru awal dari petualanganmu! Di sini lagi-lagi kamu berperan sebagai Prinny yang tertimpa nasib paling sial. Kamu dituduh sebagai pelaku yang mencoba membunuh bosmu. Mana mungkin para penguin imut dunia arwah itu melakukannya bukan????? Tapi tanpa mau mendengar pembelaan para penguin malang itu, tidak tanggung-tanggung, Laharl menjatuhkan hukuman paling sadis untukmu. Kamu disuruh untuk&#8230; bekerja kepadanya dan masih harus membayar dia! Untung saat Prinny ditendang keluar, kamu mendapatkan sebuah artifak misterius yang bisa memutar balik waktu dan merasuki karakter-karakter di game ini. Bisakah kamu mengungkap misteri ini dan menyelamatkan nyawa Laharl&#8230; errr&#8230; atau tepatnya nasib gajimu???</p>
<p>Seperti yang diharapkan dari game bertitel Disgaea jalan ceritanya sendiri sudah pasti jayus bin kocak. Semua karakter-karakter favorit seperti Etna, Jennifer, Gordon, Flonne, dan lain-lain dari game pertamanya muncul di sini sehingga kamu bisa memuaskan rasa nostalgiamu. Namanya juga visual novel sehingga gameplay di sini pun tidak terlalu ribet. Saat memainkan saya malah merasa game ini seperti Disgaea: Pilih Sendiri Petualanganmu. Kalau tidak percaya, coba lihat saja: sebagai Prinny kamu bisa merasuki karakter yang berbeda-beda. Terkadang saat karakter yang kamu rasuki berbicara dengan karakter lain, kamu punya kemampuan Mind Control untuk mempengaruhinya. Efeknya bisa lucu-lucu, seperti Laharl yang mendadak jadi gemas dan memeluk-meluk Prinny (jijay bajay!). Nah, andaikata kamu salah pilih (atau salah skenario) dan gagal menghentikan pencobaan pembunuhan Laharl, game pun direset kembali. Dan sebagaimana halnya sebuah buku Pilih Sendiri Petualanganmu, Disgaea juga memiliki replay value yang tinggi dengan pilihan 14 ending yang berbeda.</p>
<p>Walau dengan segudang pujian di atas tetap tidak berarti kalau Disgaea Infinite ini sempurna. Sebaliknya saya merasa bahwa game ini terlalu pendek untuk ukuran sebuah Visual Novel. Menyelesaikan satu skenario dalam game ini paling-paling diperlukan waktu 15 &#8211; 20 menit. Replay value dalam 14 ending berbeda tadi pendek-pendek karena syarat mendapatkan ending berlainan hanya terletak pada pilihan-pilihan terakhir. Gamer bakalan sering melakukan skip adegan-adegan yang sudah dilihat ketimbang menontonnya lagi. Adegan lucunya sih banyak, tapi masa mau menonton adegan lucu yang sama lima sampai sepuluh kali berturut-turut? Untuk game yang mengembel-embeli judulnya dengan kata Infinite, amat disayangan bahwa kita hanya disuguhi game yang sangat pendek, terbatas, dan &#8216;finite&#8217;.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> untuk sebuah game harga premium (bukan download content) waktu main Disgaea Infinite yang terlalu pendek membuatnya sulit saya rekomendasikan. Penggemar berat Disgaea mungkin mau membelinya demi melengkapi koleksinya tetapi gamer lain hanya perlu meminjamnya untuk hiburan santai selama beberapa jam.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Final Verdict</strong></span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Gameplay</span>: 2.0<br />
Bukannya saya mengatakan kalau Disgaea Infinite gameplaynya jelek sih&#8230; tapi jujur saja ini bukan game tapi Visual Novel bergaya Pilih Sendiri Petualanganmu. Gameplaynya sangat sederhana kalau tidak mau dibilang tidak ada.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Graphic / Sound</span>: 8.5<br />
Kalau kamu suka dengan warna-warni cerah dunia Disgaea, game ini tidak mengecewakan. Artwork karakter dan musik masih sama dengan yang dipakai pada game-game sebelumnya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Play Time</span>: 2.5<br />
Saya menghabiskan waktu sekitar 80 jam memainkan Disgaea pertama (belum memainkan Disgaea 2 karena takut ketagihan), akan tetapi Disgaea Infinite saya selesaikan dengan waktu tiga jam. Waktu ini bahkan bisa dipotong lebih pendek lagi andaikata saya memakai guide di Gamefaqs. Ini terlalu pendek &#8211; bahkan untuk ukuran sebuah Visual Novel sekalipun.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Overall</span>: <strong>4.3</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Game Details</strong></span><br />
Developer: Nippon Ichi Software<br />
Publisher: NIS<br />
Genre: Visual Novel / Adventure</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/06/25/disgaea-infinite/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mimana Iyar Chronicles</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/06/24/mimana-iyar-chronicles/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/06/24/mimana-iyar-chronicles/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 03:04:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Game]]></category>
		<category><![CDATA[Handheld]]></category>
		<category><![CDATA[PSP]]></category>
		<category><![CDATA[Chronicles]]></category>
		<category><![CDATA[Craig]]></category>
		<category><![CDATA[Florelmos]]></category>
		<category><![CDATA[Iyar]]></category>
		<category><![CDATA[Melrose]]></category>
		<category><![CDATA[Mimana]]></category>
		<category><![CDATA[Patty]]></category>
		<category><![CDATA[Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[Tinon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=4375</guid>
		<description><![CDATA[Setelah cukup lama absen dari dunia J-RPG, saya melakukan comeback dengan memainkan Mimana Iyar Chronicle. Entah kenapa setelah memainkan game-game RPG dari Amerika seperti Mass Effect dan Dragon Age, saya jadi kurang greget memainkan J-RPG. Terakhir saja saat memainkan Nostalgia di DS saya mandeg setelah bermain hampir 40 jam lamanya. Habisnya bosan sih dengan jalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4377" class="wp-caption alignnone" style="width: 260px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/mimana-iyar-chronicles-cover.jpg"><img class="size-full wp-image-4377" title="Mimana Iyar Chronicles Cover" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/06/mimana-iyar-chronicles-cover.jpg" alt="Mimana Iyar Chronicles Cover" width="250" height="433" /></a><p class="wp-caption-text">Mimana Iyar Chronicles Cover</p></div>
<p>Setelah cukup lama absen dari dunia J-RPG, saya melakukan comeback dengan memainkan <strong>Mimana Iyar Chronicle</strong>. Entah kenapa setelah memainkan game-game RPG dari Amerika seperti <strong>Mass Effect</strong> dan <strong>Dragon Age</strong>, saya jadi kurang greget memainkan J-RPG. Terakhir saja saat memainkan <strong>Nostalgia</strong> di DS saya mandeg setelah bermain hampir 40 jam lamanya. Habisnya bosan sih dengan jalan ceritanya yang bertele-tele dan kurang menarik.</p>
<p>Kembali ke Mimana Iyar Chronicle (MIC), alasan saya tertarik memainkannya adalah cover depannya yang full anime dan screenshot gameplaynya yang mirip dengan serial Tales. Cerita dalam MIC berpusat pada duo karakter Crais dan Sophie. Sophie adalah seorang gadis misterius yang hendak mencari orb-orb misterius dan meminta Crais &#8211; seorang Knight &#8211; menjadi bodyguard dalam perjalanannya. Dalam perjalanan mereka, Crais dan Sophie kemudian bertemu dengan anggota-anggota lain (yang ajaibnya semua perempuan) dan gamer akan membuka masa lalu Crais dan jati diri Sophie sebenarnya.</p>
<p>Pernahkah kalian mendengar cerita yang sama dalam game RPG lain? Banyak. Praktis di luar cutscene animasi yang berkualitas tinggi dan dialog yang disertai artwork karakter yang cantik, tidak ada keunggulan cerita MIC dibandingkan dengan game-game J-RPG lainnya. Lebih celakanya lagi, karakter-karakter dalam MIC begitu menyebalkan dan tidak memorable sehingga saya hampir-hampir hendak melompati semua dialog yang mereka lakukan. Semula saya mereka karakter Crais yang suka meledak-ledak marah dan memaki-maki (ini pertama kali saya melihat karakter di J-RPG bersumpah serapah dalam bahasa kotor) terasa fresh, tetapi melihatnya mengulangi tabiat yang sama tiap dialog membuatnya terlihat bagaikan orang tak berpendidikan. He&#8217;s annoying as hell. Setali tiga uang dengan karakter-karakter lainnya; semuanya berkarakter stereotipe game J-RPG dengan kelakuan tidak normal.</p>
<p>Permasalahan MIC tidak berhenti di sana, gameplay RPG ini terlalu repetitif, mudah, dan membosankan. Skenario berjalan kira-kira begini &#8220;Kota A &#8211; Dungeon A &#8211; Kota A &#8211; Dungeon B &#8211; Kota A &#8211; Dungeon C &#8211; dan seterusnya&#8221;. Bukannya kamu berkeliling dari kota ke kota lain, kamu stuck di satu kota dan harus melewati hutan yang sama sebelum pindah ke dungeon lain. Rasanya bertele-tele sekali harus melewati dungeon yang sama, menghabisi musuh-musuh lemah yang levelnya jauh di bawahmu. Bahkan di dalam dungeonnya sendiri, musuh yang harus kamu hadapi relatif lemah sehingga mudah untuk membantai mereka dengan Crais sendiri. Saya malahan lebih suka mengsetting rekan-rekanku untuk tidak melakukan apapun selain healing karena AI mereka sangat jongkok. Bila disetting default kebanyakan malah menghambur-hamburkan MP. Bayangkan betapa jengkelnya saya ketika seorang mage melepaskan magic terkuatnya (walau sudah disetting Magic ke Minimum) menghadapi musuh kacangan? Lagipula encounter rate yang sangat tinggi membuat perjalanan mengelilingi dungeonnya jadi melelahkan. Salah satu kelemahan terbesar J-RPG (yang entah kenapa tidak pernah bisa mereka tinggalkan) adalah random encounter battlenya.</p>
<p>Perjalanan utama MIC tidak terlalu panjang sehingga gamer berpengalaman bisa menyelesaikannya dalam waktu di bawah 20 jam. Dengan menjalankan subquest-subquest yang ada mungkin bisa menaikkan waktu main sebanyak lima sampai enam jam. Sekedar catatan, kalau kalian ingin menjalankan subquest, rajin-rajinlah berbicara dengan penduduk setempat soalnya subquestnya banyak yang mudah terlewatkan.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> MIC adalah sebuah J-RPG yang serba tanggung. Walaupun tergolong singkat, 20 jam yang kamu perlukan untuk memainkan game ini lebih baik kamu alokasikan ke hiburan lain.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Final Verdict</strong></span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Gameplay</span>: 3.5<br />
Encounter rate yang terlalu tinggi membuat setiap battle terasa repetitif. Sistem battlenya sendiri mirip dengan serial Tales tetapi dalam lajur 3D yang memungkinkan karakter bergerak atas bawah bukan hanya kiri kanan. Design dungeonnya monoton sehingga berkelana di dalamnya terasa membosankan bukannya fun.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Graphic / Sound</span>: 5.0<br />
Di luar cutscene animasinya yang apik, grafis dan suara game ini berkualitas seadanya. Ini sebuah game yang lebih dekat ke kualitas PS pertama dibandingkan PS2. Yang jelas, tidak memaksimalkan kemampuan dari PSP.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Play Time</span>: 4.5<br />
Ironisnya, waktu mainnya yang tidak terlalu panjang justru menjadi poin plus game ini. Setidaknya kamu tidak perlu tersiksa lama-lama saat memainkannya bukan?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Overall</span>: <strong>4.3</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Game Details</strong></span><br />
Developer: Kogado<br />
Publisher: Aksys Games<br />
Genre: RPG</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/06/24/mimana-iyar-chronicles/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Capcom Classic Collection Remixed</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/05/19/capcom-classic-collection-remixed/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/05/19/capcom-classic-collection-remixed/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 02:33:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Game]]></category>
		<category><![CDATA[Handheld]]></category>
		<category><![CDATA[PSP]]></category>
		<category><![CDATA[Bionic Commando]]></category>
		<category><![CDATA[Capcom]]></category>
		<category><![CDATA[Classic Collection]]></category>
		<category><![CDATA[Final Fight]]></category>
		<category><![CDATA[Remixed]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=4196</guid>
		<description><![CDATA[Semenjak akhir 80an hingga kini, Capcom selalu bisa diandalkan sebagai produser game-game bermutu. Sudah tidak terhitung banyaknya franchise yang dilahirkan oleh Capcom. Sementara generasi-generasi masa kini mungkin lebih mengenal nama-nama seperti Viewtiful Joe, Resident Evil, Onimusha atau Devil May Cry, sesungguhnya Capcom sudah semenjak dahulu menggarap puluhan game klasik yang mungkin tak sempat terjamah oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4197" class="wp-caption alignnone" style="width: 266px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/05/capcom-classic-collections-remixed-cover.jpg"><img class="size-full wp-image-4197" title="Capcom Classic Collections Remixed Cover" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/05/capcom-classic-collections-remixed-cover.jpg" alt="Capcom Classic Collections Remixed Cover" width="256" height="442" /></a><p class="wp-caption-text">Capcom Classic Collections Remixed Cover</p></div>
<p>Semenjak akhir 80an hingga kini, Capcom selalu bisa diandalkan sebagai produser game-game bermutu. Sudah tidak terhitung banyaknya franchise yang dilahirkan oleh Capcom. Sementara generasi-generasi masa kini mungkin lebih mengenal nama-nama seperti <strong>Viewtiful Joe</strong>, <strong>Resident Evil</strong>, <strong>Onimusha</strong> atau <strong>Devil May Cry</strong>, sesungguhnya Capcom sudah semenjak dahulu menggarap puluhan game klasik yang mungkin tak sempat terjamah oleh para gamer muda. Karena itu, Capcom memutuskan untuk menyatukan 20 game klasik mereka dan menyatukannya dalam satu kompilasi game PSP yang diberi tajuk: <strong>Capcom Classic Collection REMIXED</strong>.</p>
<p><strong>Graphic</strong> (<strong>7</strong> / 10)</p>
<p>Ingat, ini adalah game tahun 80an dan 90an dahulu. Pada masanya, grafis yang dihadirkan oleh Capcom melalui engine arcadenya sudah tergolong luar biasa. Tentunya kalau sekarang anda membandingkan game-game ini dengan game-game jaman sekarang akan terlihat jauh lebih inferior. Kendati begitu, Capcom masih berusaha memberikan nilai plus untuk game-game klasik ini. Caranya adalah dengan menghadirkan fitur berbagai jenis mode video.</p>
<p>Kalian yang ingin memainkan game ini ala arcade dahulu bisa mencoba mode video original. Atau kalian sudah ingin bermain dengan lebih advance dan memaksimalkan layar lebar PSP anda? Silahkan pilih mode video stretch. Kedua mode video yang saya sebutkan tadi baru dua contoh dari lebih banyak lagi mode video yang ada di dalam kompilasi ini. Kebebasan untuk memilih mode ini memberi nilai plus dari segi grafis game ini. Nice touch Capcom.</p>
<p><strong>Sound</strong> (<strong>7</strong> / 10)</p>
<p>Suara dalam game ini dihadirkan dengan arcade perfect. Setiap game memiliki sound gallerynya sendiri yang bisa dibuka dengan cara-cara tertentu (hampir semuanya mengharuskan kita untuk menyelesaikan game tersebut). Musik-musik yang dihadirkan benar-benar klasik dan sangat pas di telinga kalau kalian dulu pernah memainkan game-game itu. Ambil saja contoh game Final Fight; memainkan stage pertama dan keduanya sangat memorable bagi saya ketika mendengar lagu latar belakangnya – mengingat ketika main di mesin arcade dulu saya paling sering bermain di level-level awal seperti ini (dan secara otomatis musiknya ‘tertanam’ di dalam benak saya).</p>
<p>Sayangnya tidak seperti mode video di dalam grafisnya, tidak ada banyak mode untuk suaranya. Capcom tidak menyediakan fitur berbagai suara di dalam game ini selain musik versi orisinilnya. Sayang juga, karena saya sedikit berharap ada varian musik dalam game ini yang sudah diaransemen ulang oleh Capcom dan bisa dipilih kalau kita bosan mendengar musik bergaya arcade jaman dahulu.</p>
<p><strong>Gameplay</strong> (<strong>7.5</strong> / 10)</p>
<p>‘<em>Puas</em>’ adalah kata yang saya serukan ketika selesai memainkan beberapa game dalam kompilasi ini. Seperti yang saya katakan dalam pembukaan review saya, Capcom adalah gudangnya game-game berkualitas dan mereka membuktikannya di sini. Berbagai tipe game yang sekarang mungkin sangat sulit ditemui bisa kalian temukan di dalam game ini.</p>
<p>Genre beat em up contohnya diwakili oleh <strong>Final Fight</strong> dan <strong>Captain Commando</strong> (sungguh sayang <strong>Knights of the Round</strong> dan <strong>Alien vs Predator</strong> tidak turut dimasukkan dalam game ini), sementara game Action Sidescrolling diwakili oleh <strong>Strider</strong> (tapi entah kenapa Arthur si ksatria tidak hadir di kompilasi ini!). Anda pecinta game shooting pesawat? Ada <strong>1941</strong> berikut kompilasi <strong>Three Wonders</strong> untuk memuaskan dahaga anda! Bagaimana dengan game fighting? Tentu saja nama <strong>Street Fighter</strong> tidak boleh absen bukan?</p>
<p>Semua game ini adalah game klasik pada jamannya. Strider misalnya telah membuahkan sebuah sekuel dan sang jagoan utama Hiryuu berkelana sampai ke game fightingnya Capcom. Three Wonders adalah game arcade pertama yang menggabungkan tiga jenis platform game ke dalam satu mesin. Street Fighter malah tidak perlu pengenalan lebih lanjut – inilah game yang menjadi dasar sekuelnya yang tersohor itu.</p>
<p>Walaupun pertama saya hanya memainkan game-game yang saya kenal seperti Final Fight dan Captain Commando, saya menemukan begitu banyak ‘harta’ tersembunyi di dalam kompilasi ini yang tak sempat saya mainkan dulu. Contohnya saja <strong>Bionic Commando</strong>; siapa sangka di balik sebuah game yang sekilas saya kira sebagai tiruannya <strong>Contra</strong> ini menghadirkan sebuah game platform yang sangat menantang dengan sistem grapple hook yang sangat kreatif dan orisinil! Atau Three Wonders yang menggabungkan tiga jenis game platform, shooting, dan puzzle dalam satu paket!</p>
<p>Memainkan semua game ini pun tidak terasa sia-sia karena Capcom menghadirkan fitur-fitur khusus yang bisa dibuka setelah kita memainkan game ini sampai titik tertentu. Ada tiga fitur yang bisa dibuka untuk setiap game, masing-masing adalah: Tips (yang biasanya tidak penting dan kurang berguna), Art yang berisikan artwork orisinil dari game tersebut, dan Music di mana kita bisa mendengarkan semua BGM dari game yang bersangkutan. Tentu saja jangan lupa bahwa Capcom menghadirkan fasilitas multiplayer dalam kompilasi ini! Kalau anda bersua dengan pemilik PSP lain yang tengah memainkan Capcom Classic Collection Remixed, jangan segan untuk mengajaknya bermain bersama! Kapan lagi kalian bisa memainkan game beat em up bersama-sama seperti tempo dulu kalau bukan dengan memanfaatkan sistem wireless game ini?</p>
<p><strong>Longetivity</strong> (<strong>7</strong> / 10)</p>
<p>Nilai longetivity dan replayability kompilasi ini cukup tinggi. Beberapa game yang sudah pernah kalian mainkan PASTI akan kalian mainkan lagi karena ingin bernostalgia, sementara itu saya yakin kalau ada beberapa game yang belum pernah kalian mainkan dan akan menarik keingintahuan anda.</p>
<p>Setiap gamenya sendiri tidak memakan waktu terlalu lama untuk diselesaikan (mengingat Capcom juga menyediakan fitur unlimited continue untuk mempermudah permainan). Setiap game paling-paling hanya akan memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam untuk diselesaikan. Toh mengingat Capcom menghadirkan sampai 20 game dalam kompilasi ini, anda akan berkutat memainkan game ini untuk beberapa saat. Nilai longetivity game ini bahkan akan lebih tinggi lagi kalau anda menemukan sahabat baru yang bisa anda ajak untuk memainkan game ini bersama-sama.</p>
<p>Satu hal yang saya sayangkan adalah extra feature di dalam game ini bisa dibilang minim dan kurang menarik. Tips dari Capcom kurang berguna, Artwork bisa dicari dari internet, dan mungkin hanya Music saja yang sedikit menarik untuk dibuka. Andaikata saja ada game klasik baru yang bisa dibuka kalau kita sudah menyelesaikan semua game-game yang ada (semacam easter egg) tentunya akan menjadi kejutan yang sangat berharga dan memorable bagi para game.</p>
<p><strong>Editor&#8217;s Tilt</strong> (<strong>7.5</strong> / 10)</p>
<p>Saya tahu tidak semua game ini adalah remake pertama kali. Final Fight misalnya sudah pernah diremake dan hadir melalui handheld GBA. Strider sebagai contoh lain dihadirkan satu paket ketika sekuelnya yang gagal hadir di Playstation beberapa waktu yang lampau. Walaupun begitu kompilasi super seperti ini sangat sulit didapatkan (kecuali anda rajin mendownload ROM-ROM lawas) dan bisa dibilang baru pertama kalinya dirilis oleh Capcom.</p>
<p>Saran saya? Kalau kalian pecinta classic gamer, belilah game ini. Saya yakin anda akan menemukan banyak sekali nilai nostalgia dan fun di dalamnya, tapi kalau kalian pecinta game-game yang mementingkan grafis dan merasa bahwa PSP kalian terlalu mutakhir untuk memainkan game-game kadaluarsa seperti ini – <em>shame on you, you’ll never understand the video game evolution</em>.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Average</span>: <strong>7.2</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Game Details</strong></span><br />
Developer: Capcom<br />
Publisher: Capcom<br />
Genre: Compilation</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/05/19/capcom-classic-collection-remixed/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prison Break: The Conspiracy</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/04/27/prison-break-the-conspiracy/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/04/27/prison-break-the-conspiracy/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 07:43:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Console]]></category>
		<category><![CDATA[Game]]></category>
		<category><![CDATA[PC]]></category>
		<category><![CDATA[PS3]]></category>
		<category><![CDATA[Fernando Sucre]]></category>
		<category><![CDATA[John Paxton]]></category>
		<category><![CDATA[Lincoln Burrows]]></category>
		<category><![CDATA[Michael Scofield]]></category>
		<category><![CDATA[Prison Break]]></category>
		<category><![CDATA[The Conspiracy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=4025</guid>
		<description><![CDATA[Tahu kan serial Prison Break? Serial ini sempat cukup ngetop beberapa saat yang lalu di tanah air (walaupun di Amerika sendiri pamornya biasa-biasa saja). Karena rating yang terus menurun setelah season keduanya, serial TV ini akhirnya dicancel di season keempat dan ditutup dengan sebuah film TV. Akan tetapi kalau kalian sebagai para penggemarnya belum puas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4026" class="wp-caption alignnone" style="width: 266px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/04/prison-break-the-conspiracy-cover.jpg"><img class="size-full wp-image-4026" title="Prison Break: The Conspiracy Cover" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/04/prison-break-the-conspiracy-cover.jpg" alt="Prison Break: The Conspiracy Cover" width="256" height="268" /></a><p class="wp-caption-text">Prison Break: The Conspiracy Cover</p></div>
<p>Tahu kan serial <strong>Prison Break</strong>? Serial ini sempat cukup ngetop beberapa saat yang lalu di tanah air (walaupun di Amerika sendiri pamornya biasa-biasa saja). Karena rating yang terus menurun setelah season keduanya, serial TV ini akhirnya dicancel di season keempat dan ditutup dengan sebuah film TV. Akan tetapi kalau kalian sebagai para penggemarnya belum puas akan dengan ketegangan-ketegangan yang ditawarkan serial ini, silahkan menjajal game Prison Break yang mengambil setting bersamaan dengan season pertama saat Michael Scofield sengaja masuk ke dalam penjara guna meloloskan kakaknya dari ancaman hukuman mati.</p>
<p>Maaf, saya cuma bercanda.</p>
<p>Kalau kalian penggemar serial Prison Break atau pecinta game-game yang bermutu maka <em>jauhilah</em> game ini sejauh mungkin. Lebih dari itu, bila kamu menemukan kopinya &#8211; sebisa mungkin bakarlah kopian itu supaya orang lain tidak terjerumus memainkannya. Bingung kenapa saya berkata demikian? Saya juga. Saya tahu kalau game hasil adaptasi dari film atau serial TV jarang yang berhasil. Terakhir saya mencoba game Dragombal Devolution eh&#8230; <strong>Dragonball Evolution</strong> dan hingga hari ini saya masih terkadang bangun sambil menjerit-jerit mimpi buruk di tengah malam gara-garanya. Lantas kenapa saya masih mau menjajal Prison Break? Logikanya, Dragombal Devolution kan berasal dari film yang busuk, maka tidak heran dong game yang dihasilkannya juga busuk? Kalau Prison Break, walau bukan serial yang bagus-bagus amat (walau ada beberapa temanku yang memuja-mujanya) setidaknya masih lumayan berpotensi buat dijadikan game. Tapi mari kita lihat monster apa yang telah ditelurkan oleh ZootFly ini&#8230;</p>
<p>Ada dua alasan utama kenapa saya membenci game ini.</p>
<p>Pertama, dalam game berjudul Prison Break apa yang kamu harapkan? Memainkan karakter-karakter di dalam serial TV itu bukan? Mungkin bukan Michael Scofield sendiri karena penonton serial TVnya sendiri tentu tahu langkah apa yang akan dilakukan si jagoan. Tetapi kan opsi tidak terbatas sebagai Scofield saja? Masih ada Fernando Scure, John Abruzi, Haywire, dan karakter-karakter lain yang ikut meloloskan diri bersama Scofield dan Burrows. Kenapa tidak menggunakan mereka? Atau kenapa tidak menggunakan multiple karakter untuk skenario yang berbeda? Oh tidak, sebaliknya kamu malah memainkan seorang karakter bernama John Paxton. Huh? Who the hell is John Paxton? Jangan heran kalau kalian belum mendengar namanya karena ia adalah karakter yang khusus dibuat ZootFly untuk game ini. Dia adalah agen yang disisipkan The Company untuk memata-matai tindak tanduk Scofield yang mencurigakan dalam penjara. Bagaimana bisa begitu sementara The Company sendiri baru curiga akan Scofield di episode kedua atau ketiga serial TVnya? Entah deh, saya tidak tahu dan tidak mau cari tahu.</p>
<p>Selain mengecewakan karena kita mengendalikan John Paxton, memainkannya adalah <em>pain in the ass</em>. Siapa sangka gameplay dalam Prison Break bisa sedemikian membosankannya? Walau saya tidak suka serial TVnya, setidaknya serialnya berhasil menciptakan ketegangan-ketegangan semu sepanjang tiap menitnya. Tidak begitu dengan gamenya. Melihat Paxton mengendap-endap di belakang empat penjaga tanpa ada yang menyadarinya, melihat Paxton berkeliaran di seluruh penjara seakan merupakan tempat bermainnya&#8230; mendadak melihat Scofield harus bersusah payah sampai satu season penuh guna membebaskan kakaknya membuatnya bak seorang idiot. Paxton saja berkeliaran sesuka hatinya gitu loh. Selain AI musuh yang jongkok, objective-objective dalam game ini juga sangat monoton. Demi berteman dengan para narapidana lain kamu akan selalu diminta mengerjakan tugas bagi mereka. Ambilkan pisau buat Abruzi, ambil Pugnac buat C-Note, ambil ini, ambil itu, dan selanjutnya dan selanjutnya. Tidak pernah terasa kamu memiliki kebebasan untuk menjelajahi penjara Fox sesuka hatimu. Saya juga tidak suka kalau setiap kali kamu ketahuan, game langsung berakhir tanpa kamu diberi kesempatan untuk kabur, bersembunyi, ataupun melumpuhkan orang yang menyadari keberadaanmu.</p>
<p>Aspek audio visual dalam game ini juga pas-pasan. Walau ZootFly berusaha sebaik mungkin mereplikasikan penjara Fox ke dalam game, tidak bisa disangkal kalau penjaranya sendiri terasa datar. Selain sel penjaramu, kantor-kantor sipir penjara yang kamu gunakan mengendap-endap, dan lapangan tempat kamu digiring saat siang hari, hampir tidak ada tempat lain lagi di game ini. Model karakternya memang dibuat semirip mungkin dengan serial TVnya (perkecualian untuk tokoh Sucre yang agak aneh) tetapi para karakter sekundernya lagi-lagi terasa replika satu sama lain. Bahkan untuk model karakter utamanya sendiri mereka rata-rata tidak punya ekspresi selain merenggut. Mungkin demi menunjukkan sosok mereka sebagai tough guy? Terakhir, pengisi suara dalam game ini berbeda dengan sosok yang memerankan mereka di layar kaca. Jadi selamat gigit jari buat kalian yang berharap mendengarkan suara Wentworth Miller.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> game ini&#8230; sungguh saya benar-benar tidak ingin mengatakan hal ini karena ZootFly konon sampai menggarap titel ini secara independen ketika Publisher mereka sebelum Deep Silver bangkrut (karena itu juga perilisan game ini sempat tertunda). Itu membuktikan mereka sungguh berdedikasi menggarap <strong>Prison Break: The Conspiracy</strong>. Sayangnya, usaha saja tidak cukup; dan game ini tetaplah sampah yang tidak layak dimainkan.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Final Verdict</strong></span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Gameplay</span>: 3.0<br />
Bagian mengendap-endapnya terasa kaku dan membosankan karena AI musuh yang jongkok. Tidak adanya kebebasan berkeliling membuatnya menjadi sangat linear. Dan sistem fightingnya, ya ampun, mana ada berantem cuma satu lawan satu ala duel begini di penjara sungguhan?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Graphic / Sound</span>: 6.0<br />
Kualitas tekstur model dan lingkungan penjara cukup bagus tetapi masih di bawah kualitas game-game tahun ini (ingat, game ini sempat ditunda rilisnya selama lebih dari setahun karena publisher sebelumnya bangkrut). Tidak adanya pengisi suara dari pemain di serial TVnya juga mengecewakan.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Play Time</span>: 4.0<br />
Kira-kira perlu waktu 10 jam untuk menyelesaikan game ini. Sanggupkah kalian menyiksa diri selama itu? Saya sih tidak.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Overall</span>: <strong>4.3</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Game Details</strong></span><br />
Developer: ZootFly<br />
Publisher: Deep Silver<br />
Genre: Action</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/04/27/prison-break-the-conspiracy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aliens Vs Predator</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/04/25/aliens-vs-predator/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/04/25/aliens-vs-predator/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 09:34:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[360]]></category>
		<category><![CDATA[Console]]></category>
		<category><![CDATA[Game]]></category>
		<category><![CDATA[PC]]></category>
		<category><![CDATA[PS3]]></category>
		<category><![CDATA[Alien]]></category>
		<category><![CDATA[Alien Queen]]></category>
		<category><![CDATA[Marine]]></category>
		<category><![CDATA[Predalien]]></category>
		<category><![CDATA[Predator]]></category>
		<category><![CDATA[Ripley]]></category>
		<category><![CDATA[Weyland]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=3997</guid>
		<description><![CDATA[Dua franchise monster luar angkasa ini rasanya tidak pernah mati. Semenjak tengkorak Alien pertama kali muncul di pesawat luar angkasa Predator (dalam film Predator 2), banyak orang yang mengharapkan keduanya bisa bertemu dan bertarung mano-a-mano. Pada akhirnya dalam layar lebar keduanya sudah bertemu dua kali: dalam film besutan Paul WS Anderson dan sekuelnya yang gagal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3998" class="wp-caption alignnone" style="width: 266px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/04/aliens-vs-predator-cover.jpg"><img class="size-full wp-image-3998" title="Aliens Vs Predator Cover" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/04/aliens-vs-predator-cover.jpg" alt="Aliens Vs Predator Cover" width="256" height="315" /></a><p class="wp-caption-text">Aliens Vs Predator Cover</p></div>
<p>Dua franchise monster luar angkasa ini rasanya tidak pernah mati. Semenjak tengkorak Alien pertama kali muncul di pesawat luar angkasa Predator (dalam film <strong>Predator 2</strong>), banyak orang yang mengharapkan keduanya bisa bertemu dan bertarung mano-a-mano. Pada akhirnya dalam layar lebar keduanya sudah bertemu dua kali: dalam film besutan Paul WS Anderson dan sekuelnya yang gagal di AvP Requiem. Akan tetapi para gamer terlebih dahulu merasakan bagaimana dahsyatnya kalau dua kekuatan besar itu (tambahkan manusia yang terjebak di tengah) bertemu.</p>
<p>Konsol Atari Jaguar tidak banyak dikenal orang saat ini karena merupakan konsol yang gagal. Malahan bisa dibilang Jaguar adalah alasan kenapa Atari berhenti memproduksi konsol. Toh, sejarah mencatat bahwa tidak semua konsol yang gagal tidak punya game bagus di dalamnya. Lihat saja <strong>Panzer Dragoon</strong> di Saturn atau deretan game berkualitas di dalam Dreamcast sebelum dua konsol Sega itu kalah bersaing dengan Playstation dan Playstation 2. Jaguar juga bukan perkecualian. Dalam masa hidupnya yang relatif singkat, ia menelurkan sebuah hits berjudul <strong>Alien VS Predator</strong>. Game ini unik pada jamannya karena memberi kesempatan bagi gamer untuk memainkan tiga karakter sekaligus (Alien, Predator, dan Marine / Human) dengan pola gameplay yang berbeda satu sama lainnya. Bahkan setelah kematian Jaguar pun, Alien VS Predator terus menemukan korban baru yang memainkannya setelah diremake di PC dan konsol-konsol lain.</p>
<p>Pada tahun 2010 ini lagi-lagi franchise Alien dan Predator bangkit. Sempat mati suri setelah kegagalan AvP Requiem, Ridley Scott kini tengah menggarap prekuel untuk film Alien, sementara sekuel Predator yang berjudul <strong>Predators</strong> sudah siap edar tahun ini. Oleh karena itu tahun ini rasanya juga merupakan tahun yang tepat untuk merilis (lagi-lagi) sebuah game bertitel Aliens VS Predator. Seperti prekuelnya, game ini juga ditangani oleh Rebellion Development. Apakah tim developer yang sama ini bisa mengulangi sukses yang sama yang membuat prekuel-prekuelnya kini sebuah titel klasik dunia gaming?</p>
<p>Seperti sudah-sudah, titel Aliens VS Predator memperbolehkanmu untuk memilih satu di antara tiga ras yang berbeda. Sekedar catatan saja, ketiga skenario ini berdiri sendiri-sendiri walaupun pada momen-momen tertentu akan saling berhubungan membentuk suatu gambaran kisah yang lebih besar.</p>
<p>Sebagai Alien, kamu dijuluki spesies enam yang ditangkap dalam sebuah laboratorium oleh para peneliti Weyland Corp. Setelah terjadi kerusakan pada sistem kamu berhasil meloloskan diri dan siap mengobrak-abrik fasilitas tersebut. Ciri khas Alien yang bisa merayap di segala permukaan juga bisa kamu gunakan di sini. Kamu bisa merayap di atas atap, di dinding, dan merayap di lantai untuk mengincar korbanmu. Strategi bermain sebagai Alien adalah untuk selalu memecahkan lampu dan membuat ruangan segelap mungkin. Ini akan membuat lawanmu kesulitan melihat, tetapi kemampuan alamiah Alien melihat dalam gelap memudahkanmu menghabisi para korban.</p>
<p>Sebagai Predator, kamu adalah seorang tingkat Elite yang tiba di sebuah planet koloni setelah mendengar para Youngblood (Predator dalam training) tewas di sana. Kemampuan Predator tentu saja kemampuannya untuk kamuflase dan menyembunyikan diri dengan lingkungan. Adalah kepuasan tersendiri melihat dirimu yang tembus pandang berdiri di atas pohon dan menembak para tentara manusia yang tidak sadar mereka telah menjadi mangsa yang tengah diincar. Puas juga melihat dari jarak dekat kamu bisa mencabut kepala musuhmu. <em>It&#8217;s gory, but it&#8217;s fun as hell</em>.</p>
<p>Terakhir sebagai Marine, kamu dijuluki Rookie dan gameplaynya berubah menjadi FPS. Mengingat fisik manusia inferior dibandingkan dua makhluk lainnya, kamu otomatis akan bergantung pada arsenal persenjataanmu. Dua level awal dalam campaign skenario manusia terutama sangat menegangkan karena menempatkanmu di pesawat terbang yang rusak dan dalam kegelapan. Kalau kamu sudah memainkan skenario Alien, kamu bakalan sadar betapa berbahayanya makhluk itu dan akan selalu was-was bila melihat gerakan atau bunyi yang mencurigakan.</p>
<p>Entah kenapa saya masih merasa kurang puas dengan game ini. Beberapa design levelnya terasa terlalu monoton buatku. Praktis dibandingkan dengan FPS-FPS jaman sekarang, design level game ini terasa terlalu sederhana. Seperti yang saya katakan di atas, hanya dua level yang membuat saya acung jempol dan itu adalah dua level awal skenario manusia yang menawarkan teror mental yang luar biasa. Kontrol karakter juga menjadi masalah. Alih-alih saya merasa keren memainkan Alien yang bisa merayap ke mana-mana, saya sering merasa pusing dengan perubahan gerakan Alien yang terlalu mendadak. Sering saya berhenti sejenak setelah berlari ke sana-sini sekedar untuk memastikan di manakah saya tengah merayap. Uh, developernya mungkin lupa memastikan bahwa yang main game ini bukan Spider-man yang sama-sama suka merayap. Kalau sudah menyelesaikan tiga skenario Campaign game ini, kamu juga memiliki pilihan untuk bermain Multiplayer (saya pribadi belum mencobanya). Toh, mengingat game ini saja sudah memiliki flaw dalam Single Playernya, sulit berharap gamer beralih dari game-game multiplayer biasa macam <strong>Left 4 Dead</strong> atau <strong>Modern Warfare</strong> untuk menjajal game ini.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> walaupun ada momen-momen brilian dalam game ini (memotong kepala orang sebagai Predator is just dang awesome) saya masih kurang puas dengan presentasinya secara keseluruhan. It could&#8217;ve and should&#8217;ve been a better overall game.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Final Verdict</strong></span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Gameplay</span>: 6.0<br />
Ada diversifikasi yang jelas ketika kamu bermain sebagai tiga ras yang berbeda itu. Tapi alih-alih merasakan tiga sensasi yang berbeda, kamu seperti memainkan tiga game yang belum sempurna lantas dilebur jadi satu.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Graphic / Sound</span>: 7.0<br />
Detail grafis dan kualitas voice actingnya biasa-biasa saja. Developernya juga tidak mau repot-repot menciptakan animasi yang berbeda saat Predator atau Alien menghabisi korbannya. Setidaknya saya terhibur dengan banyaknya jenis Alien (Alien Queen!) dan Predator (Predalien!) yang bertebaran di mana-mana.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Play Time</span>: 6.5<br />
Walaupun Story Mode tiap karakter lebih pendek dibanding FPS kebanyakan, karena menawarkan tiga skenario yang berbeda maka kamu perlu kira-kira 10 &#8211; 15 jam untuk menyelesaikan apa yang ditawarkan game ini padamu. Selebihnya tergantung dari apakah kamu ingin menjajalnya bersama orang lain atau tidak.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Overall</span>: <strong>6.5</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Game Details</strong></span><br />
Developer: Rebellion Developments<br />
Publisher: Sega<br />
Genre: Action</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/04/25/aliens-vs-predator/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Red Star</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/04/22/the-red-star/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/04/22/the-red-star/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 03:38:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Console]]></category>
		<category><![CDATA[Game]]></category>
		<category><![CDATA[Handheld]]></category>
		<category><![CDATA[PS2]]></category>
		<category><![CDATA[PSP]]></category>
		<category><![CDATA[Cold War]]></category>
		<category><![CDATA[Final Fight]]></category>
		<category><![CDATA[Ikaruga]]></category>
		<category><![CDATA[Red Star]]></category>
		<category><![CDATA[Russia]]></category>
		<category><![CDATA[Uni Soviet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=3961</guid>
		<description><![CDATA[Apa jadinya bila kita menggabungkan unsur beat-em-up dan shoot-em-up dalam satu game? Jawabannya adalah The Red Star, sebuah game Playstation 2 garapan developer Acclaim (sebelum mereka bangkrut). Saat dirilis pertama kali, The Red Star sebenarnya sekedar game biasa-biasa saja di tengah lautan game PS2 lainnya. Empat tahun setelah dirilis, game ini diport ke PSP &#8211; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3962" class="wp-caption alignnone" style="width: 250px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/04/the-red-star-cover.jpg"><img class="size-full wp-image-3962" title="The Red Star Cover" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/04/the-red-star-cover.jpg" alt="The Red Star Cover" width="240" height="339" /></a><p class="wp-caption-text">The Red Star Cover</p></div>
<p>Apa jadinya bila kita menggabungkan unsur <em>beat-em-up</em> dan <em>shoot-em-up</em> dalam satu game? Jawabannya adalah <strong>The Red Star</strong>, sebuah game Playstation 2 garapan developer Acclaim (sebelum mereka bangkrut). Saat dirilis pertama kali, The Red Star sebenarnya sekedar game biasa-biasa saja di tengah lautan game PS2 lainnya. Empat tahun setelah dirilis, game ini diport ke PSP &#8211; sayangnya &#8211; tanpa penambahan signifikan apapun juga. Apakah game ini bisa melewati uji coba terbesar sebuah media entertainment: waktu?</p>
<p>Cerita dalam game The Red Star berdasarkan komik dengan nama yang sama. Uniknya, walau sudah menjadi penggemar komik selama lebih dari empat tahun, ini pertama kali saya mendengar titel The Red Star. Artinya saya buta sama sekali mengenai dunia komiknya saat mencoba memainkan gamenya. “<em>Ah tidak apa-apa</em>” pikirku saat itu. Karena bukankah sebuah game selalu memiliki intro yang menjelaskan ceritanya dulu? Dan memang The Red Star menyuguhi intro dengan dialog karakter saling ngobrol mengenai suatu hal yang&#8230; saya sendiri tidak jelas apa&#8230; Lantas kemudian&#8230; stage dimulai!</p>
<p>Yap. Kalau kalian tidak pernah membaca komik The Red Star, lupakan harapan untuk mengerti cerita game ini. Kalian boleh memilih satu di antara dua karakter (nantinya bisa mengunlock karakter ketiga) yaitu Kyuzo, seorang bodyguard (mengutamakan power) dan Makita, seorang yatim piatu (mengutamakan kecepatan). Cara permainan The Red Star bisa berubah signifikan tergantung dari siapa yang kalian pilih. Makita lincah dalam bergerak tapi lemah terhadap serangan. Beberapa kali saja terkena tembakan atau pukulan musuh maka dia akan tergeletak tewas. Sebaliknya Kyuzo boleh jadi lebih lambat dan gampang menjadi bulan-bulanan musuh tetapi ketahanan tubuhnya tinggi, dan serangannya mampu menghasilkan damage yang besar.</p>
<p>Secara sekilas, The Red Star seperti kebanyakan game beat-em-up lainnya di mana kamu menghajar semua musuh yang dilempar game kepadamu, akan tetapi ketika menghadapi boss mendadak The Red Star menunjukkan keunikannya. Bos atau sub-boss yang kamu hadapi akan berbentuk pesawat, tank, atau segala jenis mesin yang dikendalikan musuh dari latar belakang. Jelas tidak mungkin untuk dihajar langsung sehingga game ini berubah menjadi shoot-em-up. Di sebuah platform terbatas kamu harus bergerak lincah maju mundur kanan kiri menghindari berondongan ratusan peluru musuh (saya tidak bercanda; ratusan!) dan menembaki mereka balik. Di sinilah The Red Star menunjukkan serunya. Tangan saya sendiri tanpa sadar basah keringat dingin ketika saya fokus menghindari berondongan serangan musuh yang hampir memenuhi layar. Untung saja game ini dilengkapi dengan fasilitas <em>auto-aim</em> yang memudahkanku untuk membidik dan berfokus pada menghindari serangan.</p>
<p>Fasilitas auto-aim ini juga memiliki kelemahan yang akan menunjukkan dirinya di level-level berikut. Pada level awal mungkin belum terasa karena kamu akan menghadapi boss satu lawan satu, tetapi di level-level berikutnya boss akan mengeluarkan para bawahannya untuk menganggumu. Kadang auto-aim akan menarget musuh yang terdekat  sehingga kamu harus mengganti-ganti arah bidikanmu untuk menarget musuh yang benar (ketika ada beberapa target sekaligus). Bayangkan saja melakukan ini di tengah serangan musuh, apalagi karena The Red Star tidak segampang itu, beberapa kali kena serangan musuh dan kamu akan tewas Game Over. Hanya satu nyawa.</p>
<p>Ini jugalah aspek paling menyebalkan di The Red Star. Tidak ada checkpoint dalam sebuah level dan tidak ada nyawa. Dalam game beat-em-up biasa seperti Final Fight atau Street of Rage biasanya kamu diberi tiga nyawa. Setelah menghabiskannya dan memakai continue baru kamu dipaksa mengulang satu level secara keseluruhan. The Red Star tidak begitu. Sekali saja kamu tewas, kamu bakalan dipaksa mengulang seluruh level, padahal satu levelnya (terutama di level akhir) bisa memakan waktu sekitar 15 &#8211; 20 menit untuk diselesaikan. Saya pasrah tidak menamatkan game ini setelah ‘dipaksa’ mengulang stage terakhir sebanyak hampir 20 kali berturut-turut. Sigh.</p>
<p>Bagaimana baiknya kamu menyelesaikan sebuah level juga sangat berperan pada perkembangan status karaktermu. Kecepatanmu menyelesaikan sebuah level, banyaknya damage yang karaktermu dapat, dan faktor-faktor lain semuanya akan dihitung dan dinilai. Semakin tinggi nilaimu, kamu akan mendapat poin semakin banyak untuk mengupgrade karaktermu pada peralihan stage. Kamu bebas mengupgrade kekuatan melee attack, ketahanan defense, upgrade kekuatan tembak senjata yang ada, sampai mendapatkan jenis senjata yang baru. Otomatis semakin baik kamu menyelesaikan level sebelumnya, semakin besar peluangmu menyelesaikan level berikutnya dengan sempurna.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> The Red Star adalah sebuah game hybrid beat-em-up dan shoot-em-up yang unik. Kendati usianya sudah tiga tahun, ia masih layak dimainkan; apalagi mengingat game beat-em-up sekarang sudah jarang dirilis di pasaran. Sayangnya tidak ada fitur bermain wireless bersama dengan temanmu, padahal kita semua tahu paling seru bermain beat-em-up atau shoot-em-up adalah dengan seorang rekan.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Final Verdict</strong></span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Gameplay</span>: 7.5<br />
Campuran dua gameplay beat-em-up dan shoot-em-up membuat The Red Star terasa fresh. Walau bukannya tanpa kekurangan, gamer yang hendak bernostalgia pasti akan menemukan kesenangan tersendiri memainkannya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Graphic / Sound</span>: 6.0<br />
Game berusia tiga tahun di PS2 ini sudah mulai menunjukkan usianya dengan grafis yang terlihat ketinggalan jaman dibanding jaman sekarang. Tidak adanya cutscene animasi maupun voice-acting juga terasa mengecewakan. Setidaknya setting Rusia di masa depan terlihat cukup menarik.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Play Time</span>: 6.0<br />
<em>Sometimes it’s too hard for it’s own good</em>. Tingkat kesulitan yang terlalu tinggi bisa mematikan keinginan orang memainkannya berulang-ulang.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Overall</span>: <strong>6.8</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Game Details</strong></span><br />
Developer: Acclaim / XS Games<br />
Publisher: XS Games<br />
Genre: Action</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/04/22/the-red-star/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
