(Review Based on DS Version)
Tahun 2009 ini menjadi tahun yang gemilang untuk tim developer kecil bernama 5th Cell. Game mereka yang bernama Scriblenauts mendadak menjadi bintang dalam pameran game dan dipergunjingkan di mana-mana. Setelah Scriblenauts dirilis, para pengamat menyebut bahwa walau game ini tidak sesempurna yang mereka sangka sebelumnya, game bergenre puzzle tersebut tetap dianggap game terinovatif tahun ini. Ternyata kejutan 5th Cell untuk tahun 2009 ini tidak hanya itu. Mereka juga menyiapkan sekuel untuk game 2D platform mereka tahun 2007 dulu.
Saya pribadi tidak terlalu terkesima dengan Drawn to Life. Sama halnya dengan Scriblenauts, Drawn to Life sempat mendapat perhatian publik saat itu karena disangka akan merevolusi dunia 2D platform dengan janji “menciptakan stagemu sendiri”. Sayangnya janji tinggal janji dan Drawn to Life justru menjadi game yang kehilangan identitas. Sebagai 2D platform jatuhnya tanggung dengan stage yang biasa dan tidak menantang. Jalan ceritanya terlalu kekanak-kanakan untuk dibandingkan dengan RPG. Terakhir elemen menciptakan dunia sendiri malah merusak pacing permainan karena mengharuskan gamer berhenti untuk menggambar obyek-obyek dalam game.
Ketika sekuel ini dirilis, saya berharap kalau 5th Cell sudah belajar dari pengalaman mereka dan mengubah pola permainan dalam Drawn to Life: The Next Chapter. Harapan saya memang terkabul… kurang lebih.
Game ini masih menawarkan premise yang sama dengan prekuelnya. Kamu bisa menggambar karaktermu sendiri dan obyek-obyek tertentu dalam game. Bedanya elemen penciptaan kini tidak lagi memakan terlalu banyak waktumu. Apabila dalam prekuelnya, setiap beberapa menit sekali saya harus berhenti untuk menciptakan obyek baru dan ini sangat menganggu pacing permainan genre 2D platform. Mana pernah kamu bermain Mario atau Sonic lantas di tengah-tengah stage kamu harus berhenti karena menggambar jamur atau cincinmu? Nah, dalam The Next Chapter, hanya ada beberapa obyek yang harus kamu gambar. Kalau kamu malas menggambar (sepertiku) pun game ini menyediakan fitur penggambaran otomatis.
Bicara soal ceritanya sendiri, game ini adalah sekuel langsung dari Drawn to Life. Kamu adalah sang Creator (pencipta) yang dimintai tolong oleh bangsa Raposa. Setelah berhasil mengalahkan Wilfre dalam ending game pertama, kedamaian kembali pada bangsa Raposa. Tak disangka Wilfre belum tewas tetapi hanya bersembunyi di balik sosok Heather. Setelah Wilfre kembali muncul, ia menyedot semua warna dari dunia Raposa. Sekali lagi sebagai sang Creator kamu menghidupkan sebuah boneka yang akan kamu kendalikan dalam petualanganmu di empat dunia demi menghentikan Wilfre dan mengembalikan warna ke dunia para Raposa.
Mungkin karena pangsa pasar Drawn to Life yang ditujukan untuk anak kecil, hampir-hampir tidak ada tantangan dalam memainkan game ini. Setiap stagenya rata-rata bisa saya selesaikan dalam waktu lima hingga sepuluh menit, hampir tanpa pernah mati sekalipun. Ada beberapa alasan kenapa game ini begitu gampang. Yang pertama: kamu tidak akan bisa game over. Sekalipun kamu kehabisan darah atau jatuh ke dalam jurang, kamu akan respawn di awal level tersebut. Yang kedua: kamu tentu tahu bila terkena serangan biasanya karakter dalam sebuah game akan berkedap-kedip tanda ia kebal terhadap serangan selama beberapa saat. Dalam kebanyakan game ‘kekebalan’ itu hanya berlangsung sepersekian detik, dalam game ini kekebalan itu bisa bertahan sampai dua tiga detik! Walhasil saat melawan bos sekalipun, kamu akan jarang - jarang - jarang sekali kesulitan. Kemampuan sang boneka pun luar biasa. Arena-arena dalam The Next Chapter rata-rata bisa ditempuh dengan kemampuan sekali lompatan akan tetapi sang boneka memiliki kemampuan dua lompatan (double jump), bahkan di pertengahan game ia akan mendapatkan kemampuan berubah menjadi bentuk laba-laba dan bisa menempel di mana-mana. Apabila sesudah mendapat bentuk laba-laba, game yang tadinya saya anggap tidak sulit turun levelnya menjadi sama sekali tidak memiliki tantangan.
Dari sisi teknis lain, game ini sebenarnya impresif. Design level dan dunia Raposa kini lebih bervariasi dan banyak dibandingkan prekuelnya. Ada beberapa cutscene animasi berkualitas tinggi yang bisa ditonton (atau bisa diskip kalau kalian tidak suka cerita bertele-tele) juga lagu-lagu dan musik baru maupun lama yang didaur ulang dari game sebelumnya. Drawn to Life: The Next Chapter memang sebuah 2D platform yang ditujukan bagi kalangan gamer muda, dan untuk itu ia sukses besar.
Final Verdict
Gameplay: 6.5
Lagi-lagi fitur menciptakan dunia hanya menjadi gimmick yang tersia-siakan. Tetapi kali ini kontrol game lebih solid, juga menyajikan lebih banyak stage dan tiga jenis bentuk boneka untuk menghadapi tantangan yang ada. Ceritanya walau bersifat sebagai pelengkap memiliki twist yang mengejutkan (atau murahan?) juga pada penghujung cerita. Sekedar info, The Next Chapter bisa juga menjadi The Final Chapter!
Graphic / Sound: 8.5
Grafis dan suara game ini memiliki charm khasnya. Bangsa Raposa yang bermacam-macam dan imut itu langsung membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Game ini juga menyuguhkan beberapa cutscene selama penceritaan. Saya kangen dengan bangsa Raposa setelah sebelumnya Drawn to Life mengambil spin-off bertemakan Spongebob.
Play Time: 6.0
Apabila kamu mau dengan sabar mengikuti ceritanya, game ini bisa cukup panjang hingga sepuluh jam. Percaya deh, tiap cutscene antar stage itu lamanya bukan main - lebih panjang dari kamu menyelesaikan stagenya sendiri. Sebaliknya bila kamu melewati semua cutscene ceritanya (seperti saya), game ini bisa kamu selesaikan dalam waktu kurang lebih dua sampai tiga jam.
Overall: 7.0
Game Details
Developer: 5th Cell
Publisher: THQ
Genre: 2D Platform










