Tags: , , , , , ,

Drawn to Life: The Next Chapter

Posted on 24 November 2009 by Si Tukang Review

Drawn to Life: The Next Chapter Cover

Drawn to Life: The Next Chapter Cover

(Review Based on DS Version)

Tahun 2009 ini menjadi tahun yang gemilang untuk tim developer kecil bernama 5th Cell. Game mereka yang bernama Scriblenauts mendadak menjadi bintang dalam pameran game dan dipergunjingkan di mana-mana. Setelah Scriblenauts dirilis, para pengamat menyebut bahwa walau game ini tidak sesempurna yang mereka sangka sebelumnya, game bergenre puzzle tersebut tetap dianggap game terinovatif tahun ini. Ternyata kejutan 5th Cell untuk tahun 2009 ini tidak hanya itu. Mereka juga menyiapkan sekuel untuk game 2D platform mereka tahun 2007 dulu.

Saya pribadi tidak terlalu terkesima dengan Drawn to Life. Sama halnya dengan Scriblenauts, Drawn to Life sempat mendapat perhatian publik saat itu karena disangka akan merevolusi dunia 2D platform dengan janji “menciptakan stagemu sendiri”. Sayangnya janji tinggal janji dan Drawn to Life justru menjadi game yang kehilangan identitas. Sebagai 2D platform jatuhnya tanggung dengan stage yang biasa dan tidak menantang. Jalan ceritanya terlalu kekanak-kanakan untuk dibandingkan dengan RPG. Terakhir elemen menciptakan dunia sendiri malah merusak pacing permainan karena mengharuskan gamer berhenti untuk menggambar obyek-obyek dalam game.

Ketika sekuel ini dirilis, saya berharap kalau 5th Cell sudah belajar dari pengalaman mereka dan mengubah pola permainan dalam Drawn to Life: The Next Chapter. Harapan saya memang terkabul… kurang lebih.

Game ini masih menawarkan premise yang sama dengan prekuelnya. Kamu bisa menggambar karaktermu sendiri dan obyek-obyek tertentu dalam game. Bedanya elemen penciptaan kini tidak lagi memakan terlalu banyak waktumu. Apabila dalam prekuelnya, setiap beberapa menit sekali saya harus berhenti untuk menciptakan obyek baru dan ini sangat menganggu pacing permainan genre 2D platform. Mana pernah kamu bermain Mario atau Sonic lantas di tengah-tengah stage kamu harus berhenti karena menggambar jamur atau cincinmu? Nah, dalam The Next Chapter, hanya ada beberapa obyek yang harus kamu gambar. Kalau kamu malas menggambar (sepertiku) pun game ini menyediakan fitur penggambaran otomatis.

Bicara soal ceritanya sendiri, game ini adalah sekuel langsung dari Drawn to Life. Kamu adalah sang Creator (pencipta) yang dimintai tolong oleh bangsa Raposa. Setelah berhasil mengalahkan Wilfre dalam ending game pertama, kedamaian kembali pada bangsa Raposa. Tak disangka Wilfre belum tewas tetapi hanya bersembunyi di balik sosok Heather. Setelah Wilfre kembali muncul, ia menyedot semua warna dari dunia Raposa. Sekali lagi sebagai sang Creator kamu menghidupkan sebuah boneka yang akan kamu kendalikan dalam petualanganmu di empat dunia demi menghentikan Wilfre dan mengembalikan warna ke dunia para Raposa.

Mungkin karena pangsa pasar Drawn to Life yang ditujukan untuk anak kecil, hampir-hampir tidak ada tantangan dalam memainkan game ini. Setiap stagenya rata-rata bisa saya selesaikan dalam waktu lima hingga sepuluh menit, hampir tanpa pernah mati sekalipun. Ada beberapa alasan kenapa game ini begitu gampang. Yang pertama: kamu tidak akan bisa game over. Sekalipun kamu kehabisan darah atau jatuh ke dalam jurang, kamu akan respawn di awal level tersebut. Yang kedua: kamu tentu tahu bila terkena serangan biasanya karakter dalam sebuah game akan berkedap-kedip tanda ia kebal terhadap serangan selama beberapa saat. Dalam kebanyakan game ‘kekebalan’ itu hanya berlangsung sepersekian detik, dalam game ini kekebalan itu bisa bertahan sampai dua tiga detik! Walhasil saat melawan bos sekalipun, kamu akan jarang - jarang - jarang sekali kesulitan. Kemampuan sang boneka pun luar biasa. Arena-arena dalam The Next Chapter rata-rata bisa ditempuh dengan kemampuan sekali lompatan akan tetapi sang boneka memiliki kemampuan dua lompatan (double jump), bahkan di pertengahan game ia akan mendapatkan kemampuan berubah menjadi bentuk laba-laba dan bisa menempel di mana-mana. Apabila sesudah mendapat bentuk laba-laba, game yang tadinya saya anggap tidak sulit turun levelnya menjadi sama sekali tidak memiliki tantangan.

Dari sisi teknis lain, game ini sebenarnya impresif. Design level dan dunia Raposa kini lebih bervariasi dan banyak dibandingkan prekuelnya. Ada beberapa cutscene animasi berkualitas tinggi yang bisa ditonton (atau bisa diskip kalau kalian tidak suka cerita bertele-tele) juga lagu-lagu dan musik baru maupun lama yang didaur ulang dari game sebelumnya. Drawn to Life: The Next Chapter memang sebuah 2D platform yang ditujukan bagi kalangan gamer muda, dan untuk itu ia sukses besar.

Final Verdict

Gameplay: 6.5
Lagi-lagi fitur menciptakan dunia hanya menjadi gimmick yang tersia-siakan. Tetapi kali ini kontrol game lebih solid, juga menyajikan lebih banyak stage dan tiga jenis bentuk boneka untuk menghadapi tantangan yang ada. Ceritanya walau bersifat sebagai pelengkap memiliki twist yang mengejutkan (atau murahan?) juga pada penghujung cerita. Sekedar info, The Next Chapter bisa juga menjadi The Final Chapter!

Graphic / Sound: 8.5
Grafis dan suara game ini memiliki charm khasnya. Bangsa Raposa yang bermacam-macam dan imut itu langsung membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Game ini juga menyuguhkan beberapa cutscene selama penceritaan. Saya kangen dengan bangsa Raposa setelah sebelumnya Drawn to Life mengambil spin-off bertemakan Spongebob.

Play Time: 6.0
Apabila kamu mau dengan sabar mengikuti ceritanya, game ini bisa cukup panjang hingga sepuluh jam. Percaya deh, tiap cutscene antar stage itu lamanya bukan main - lebih panjang dari kamu menyelesaikan stagenya sendiri. Sebaliknya bila kamu melewati semua cutscene ceritanya (seperti saya), game ini bisa kamu selesaikan dalam waktu kurang lebih dua sampai tiga jam.

Overall: 7.0

Game Details
Developer: 5th Cell
Publisher: THQ
Genre: 2D Platform

Comments (0)

Tags: , , , ,

Broken Sword: The Shadow of the Templars (Director’s Cut)

Posted on 26 April 2009 by Si Tukang Review

broken-sword-sot

(Review Based on DS Version)

Salah satu seri yang paling tersohor dalam genre point-and-click adventure adalah Broken Sword. Seri ini mengisahkan mengenai sepak terjang dari duet George dan Nico dalam menyingkap misteri-misteri seputar para Templar Knights. Kendati sudah muncul empat seri Broken Sword, banyak gamer merasa bahwa yang kualitasnya terbaik masihlah seri pertamanya: Circle of Blood. Terbukti game ini sampai dirilis empat kali; pertama untuk PC di tahun 1996, kemudian berganti nama menjadi The Shadow of the Templars (SoT) ketika dirilis di Playstation tahun yang sama dan diport ke GBA pada tahun 2002. Kini, versi Director’s Cutnya dirilis secara simultan untuk DS dan Wii. Apakah game berusia 13 tahun ini masih relevan untuk jaman sekarang?

Sebagai seorang turis Amerika yang berlibur di Paris, apa yang diharapkan George Stobbart hanyalah menikmati keindahan Menara Eiffel, mencicipi masakan Perancis yang tersohor, sampai bersantai melihat keindahan dan geliat romansa kota terindah di dunia tersebut. Apa daya, semua impiannya itu hancur berkeping-keping seiring dengan ledakan bom di sebuah kafe tempat ia tengah duduk-duduk. George yang tidak terima akan perlakuan terorisme tersebut (usil amat ya?) mendapat bantuan dari seorang jurnalis lokal bernama Nicole Collard untuk mengungkap misteri pengeboman itu, tanpa sadar bahwa mereka berdua melibatkan diri makin jauh ke dalam kelanjutan perang suci yang telah berlangsung ratusan tahun lamanya.

Saya suka dengan inti cerita Broken Sword. Sungguh. Segala sesuatu yang berkenaan dengan sejarah gereja, mulai dari The Da Vinci Code yang kontroversial hingga Kingdom of Heaven yang mengisahkan perang suci selalu berhasil memantik rasa ingin tahu saya. Rasa ingin tahu itu jugalah yang membawa saya memainkan SoT. Sayangnya, SoT bukanlah game yang tahan dengan uji coba waktu. Pada jaman sekarang di mana plot cerita dan teka-teki makin menyatu dengan realistis, SoT masih terlihat sangat kaku. Teka-teki yang harus kamu selesaikan hampir semuanya tidak berhubungan dengan jalan cerita. Parahnya, kebanyakan penyelesaiannya pun tidak logis sehingga bagi kalian yang tidak menggunakan guide pasti bersumpah-serapah. Contoh: ketika George memakai baju dokter untuk menyamar masuk ke dalam kamar pasien dan diijinkan oleh suster jaga - padahal semenit sebelumnya suster yang sama menolak George masuk karena baju biasanya. Itu hanya satu dari banyak teka-teki tidak logis yang sangat menganggu kenikmatan kita memainkan game ini. Bagaimana bisa dianggap serius bila semua karakter di dalamnya berIQ jongkok?

Kelemahan lain dari Broken Sword adalah karakter-karakter di dalamnya yang menyebalkan. Menyebalkan di sini berbeda dengan menyebalkan dalam Phoenix Wright yang berkesan kocak. Kebanyakan interaksi dengan karakter di game ini tidak sekedar menunjukkan kalau mereka dua-dimensi tetapi juga tidak berperasaan. Ada satu adegan di mana seorang karakter habis ditabrak di tengah jalan dan tak satupun orang yang seakan peduli dengan nasib karakter tersebut. Kejam? Sangat. Kekurangan emosi ini membuat para pemain jadi ikut tidak peduli - atau malahan jadi emosi dengan gamenya. Saya termasuk yang berdecak keheranan melihat Nico dan George terlibat hubungan asmara di penghujung game. Jelas heran, karena keduanya seakan tak peduli satu sama lain di sepanjang permainan, sehingga nuansa romantis di akhir game seakan dipaksakan muncul begitu saja.

Ah, tak adil rasanya apabila saya hanya sibuk mengkritik game ini tanpa memujinya. Ada dua bagian yang layak diacungi jempol dalam game ini. Nuansa kartunis dalam Broken Sword semula terasa aneh untuk cerita seserius ini - sebelum saya menyadari bahwa Charles Cecil mungkin hendak memposisikan karakter George sebagai Tintin masa modern, dan gaya grafis seperti ini paling pas menghidupkan nuansa fantasi realistis yang diusung game. Juga, untuk pertama kalinya pemain diijinkan bermain dari sudut pandang Nico di beberapa bagian permainan. Bagian ini akan memberi petunjuk gamer menyingkap masa lalu Nico yang misterius.

SoT boleh dipuji oleh banyak kalangan sebagai game yang mendefinisikan dan membantu genre point-and-click adventure meraih popularitas lebih luas, toh saya pribadi masih lebih enjoy memainkan seri Monkey Island.

Final Verdict

Gameplay: 5.0
Banyak sekali teka-teki yang tidak masuk akal. Kontrolnya juga terasa kaku dan lambat. Tambahan puzzle dan back story untuk Nico malah lebih solid dan menarik dari cerita utamanya sendiri, walau terlalu pendek.

Graphic / Sound: 6.5
Gaya gambar 2Dnya indah (oleh Dave Gibbons yang adalah artis serial komik Watchmen) dan berhasil memisahkan Broken Sword dari kebanyakan game yang sudah berevolusi ke 3D, juga sukses menghidupkan Eropa yang kaya dengan nilai artnya. Kelemahannya adalah semua percakapan dan FMV dalam game ini bisu untuk versi DSnya.

Play Time: 5.0
Seperti kebanyakan point-and-click adventure, hanya ada satu alasan untuk memainkan game yang bisa ditamatkan dalam waktu 10 jam dalam playthrough pertamanya ini (5 jam kalau menggunakan guide): ceritanya. Tapi apa ada ya orang yang mau menyiksa diri main game ini sampai dua kali? Saya sih tidak.

Overall: 5.3

Game Details
Publisher: Revolution Software
Developer: Revolution Software
Genre: Point and Click

Comments (0)

Tags: , , , ,

Manhunt 2

Posted on 11 February 2009 by Si Tukang Review

Manhunt 2 Cover

Manhunt 2 Cover

(Review Based on PSP Version)

System: PS2, PSP, Wii
Developer: Rockstar North
Publisher: Rockstar Games
Genre: Action

Hampir semua gamer tahu bahwa game-game yang dari Rockstar ditujukan untuk gamer yang berusia 17 tahun ke atas semenjak kebanyakan game yang mereka garap memiliki tema kekerasan. Beberapa contoh nyatanya adalah seri GTA, Bully, maupun State of Emergency. Hanya saja patut dicermati bahwa tema kekerasan yang ada dalam kebanyakan Rockstar biasanya cenderung bersifat sarkasme dan hanya untuk fun saja. Oleh karena itu ketika saya memainkan Manhunt 2, saya harus akui betapa terperanjatnya saya melihat Rockstar membawa game ini begitu suram, sinting, tanpa meninggalkan ciri khas Rockstar. Hadir empat tahun setelah Manhunt pertama, kamu tidak perlu khawatir memainkan game ini bila belum pernah memainkan game pertamanya karena Manhunt 2 sama sekali tidak berhubungan dengan prekuelnya.

Sebagai Daniel Lamb, kamu berhasil meloloskan diri dari Dixmor Asylum memanfaatkan kekacauan yang tengah terjadi di sana. Seorang temanmu yang sama-sama psikopat bernama Leo Kasper membantu Daniel meloloskan diri. Hanya saja, Daniel tidak ingat mengenai masa lampaunya. Seusai meloloskan diri dari penjaranya itu, Daniel (dibantu dengan enggan oleh Leo) pun berusaha mencari tahu mengenai masa lampaunya, sekaligus juga menghindari kejaran dari para penjaga Dixmor Asylum. Segera Daniel menyadari bahwa ia mungkin bukan sekedar pasien sinting biasa - tetapi juga korban dari proyek rahasia pemerintah.

Bukan hanya cerita game ini saja yang menyebabkan game ini mendulang kontroversi dari berbagai pihak, tetapi juga gameplay dalam gamenya sendiri. Walau sekilas dilihat, Daniel si kacamata nampak canggung, lemah, dan polos, tetapi ia akan tetap seorang psikopat. Ia bisa menggunakan segala jenis jenis barang dalam game ini - mulai dari kaca, batu bata, hingga pisau bedah - untuk membunuh dan menghabisi para pengejarnya. Unsur kekerasan yang begitu tinggi (sekaligus kesadisan yang ditampakkan di layar) membuat banyak negara memutuskan untuk menolak peredaran game ini.

Di luar kekerasan, Manhunt sebenarnya merupakan sebuah game stealth yang cukup menarik. Saya bahkan berani menyebutnya sebagai “Metal Gear Solid yang digarap oleh Rockstar“. Jelas dalam hal fisik Daniel tidak seperti Solid Snake, karena itu ketahuan oleh dua tiga musuh bisa berarti maut bagi Daniel. Mengendap-endap agar musuh tak curiga sebelum kamu menghabisinya adalah kunci utama bagi Daniel untuk bertahan hidup. Apabila kamu main terjang ala Rambo, hasilnya jelas; kamu bakalan tewas bagaikan maling tertangkap massa.

Biasanya, saya merupakan pendukung Rockstar apabila mereka dituduh banyak pihak sebagai perusak moral generasi remaja. Tapi untuk seri Manhunt (yang pertama maupun yang kedua), saya condong setuju untuk tidak menjual-belikan game ini secara bebas. Tingkat kekerasan yang terlampau tinggi (menjurus ke sadis dan psikopat) bisa mendorong banyak remaja yang belum mendapat pengetahuan cukup terpengaruh menjadi brutal dan liar. Bahkan untuk orang dewasa sekalipun, saya tidak akan sembarangan menyarankan game ini. Kalau hanya sekedar memainkan game stealth, masih ada Syphon Filter atau Metal Gear Solid yang jauh lebih berkualitas baik dari segi cerita maupun gameplay ketimbang Manhunt 2. Sebaliknya, bila kamu penggemar film yang mempromosikan kekerasan dan sadisme macam Saw, Friday the 13th, atau Hostel… congratulations… you find just the game to satisfy your primal carnage.

Final Verdict:

Gameplay: 7.5
Tidak ada yang benar-benar baru dalam gameplay Manhunt 2. Teknik stealth yang dipakai standar dan pernah dipakai oleh hampir setiap game yang memerlukan aksi mengendap-endap. Nilai orisinalitas dari Manhunt 2 adalah berbagai aksi sadis yang bisa kamu lakukan untuk membunuh dan menghabisi lawan-lawanmu.

Graphic / Sound: 8.5
Saya sangat menyukai presentasi audio visual dalam game ini. Apabila ada yang sangat sukses dibangun oleh Rockstar, itu adalah suasana muram dan gelap yang terus dipertahankan sepanjang game. Bukan mustahil tanganmu berkeringat karena tegang memainkan game ini. Untuk sebuah game yang bebas dari hantu, setan, dedemit, zombie, dan sejenisnya, Rockstar sukses membangun Manhunt 2 menjadi sebuah game psychological thriller yang mencekam.

Play Time: 7.5
Ada ending yang bervariasi membuat kamu bisa memainkan Manhunt 2 beberapa kali. Walau begitu, skenario utama yang lumayan singkat (bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 10 jam) membuat game ini terasa agak pendek dibandingkan game-game serupa yang menawarkan nilai replayability lebih tinggi.

Overall: 7.9

Comments (3)

Tags: , , ,

Bully: Scholarship Edition

Posted on 06 February 2009 by Si Tukang Review

Bully Cover

Bully Cover

(Review Based on PC Version)

System: PC, 360, Wii, PS2 (Non-Scholarship Edition)
Developer: Rockstar Vancouver / New England / Toronto
Publisher: Rockstar Games
Genre: Free-Roaming Adventure

Selamat datang di Bullworth Academy di mana hanya orang yang kuat bersainglah yang akan selamat; sebuah tempat di mana kamu harus buat keputusan: apakah kamu akan menjadi orang yang membully - atau orang yang dibully di sana?

Jimmy Hopkins adalah murid pindahan baru dalam Bullworth Academy. Memang catatan sekolah dari Jimmy ini tidak baik. Ia sering berpindah-pindah sekolah dan menciptakan masalah di manapun juga. Ini mungkin juga gara-gara ia dididik di dalam keluarga yang bermasalah. Coba dengar: alasan kenapa si bocah dimasukkan Bullworth Academy adalah karena sang ibu mau berhoney-moon ria dengan suami barunya. Bayangkan betapa kacaunya kehidupan rumah tangga mereka! Toh, Bullworth Academy bukan sekedar sekolah biasa. Sekolah ini penuh dengan guru ‘killer’, kepala sekolah yang korupsi, para murid berandalan, sampai ketua kelas yang siap menghukum siapapun yang melanggar peraturan. Apakah Jimmy bisa survive di lingkungan yang begitu keras ini?

Bully hadir dari developer kontroversial Rockstar. Perusahaan yang setiap game rilisannya rasanya selalu menghadirkan kontroversi sejak GTA ini kembali memicu polemik dengan game Bully. Bully bisa saya sebut sebagai “GTA versi sekolah”. Kehidupan sekolah benar-benar tergambar di sini. Sebagai James, kamu bebas melakukan apapun di lingkungan sekitar sekolah. Menghajar dan ngerjain murid lemah, membenamkan mereka yang menentangmu di toilet, kabur dari kelas, bahkan memukul guru dan menentang otoritas! Tentu saja pilihan tetap di tanganmu. Setiap kali ada orang menantangmu berkelahi, kamu boleh saja minta maaf dan menghindar cari ribut. Silahkan juga apabila kamu memilih mengikuti tiap kelas dengan rajin sekaligus menjilat para guru.

Selain kebebasan pilihan, lingkungan sekolah Bullsworth pun digarap oleh Rockstar benar-benar semirip mungkin dengan kehidupan nyata. Karena tinggal di lingkungan sekolah, kamu ditempatkan di asrama pria (walau dipisah dengan asrama wanita - kamu bisa kok menyelinap ke sana dan cari gara-gara). Pun ada waktu yang menunjukkan jam berapa kamu harus menghadiri kelas pagi maupun siangmu. Orang-orang yang berinteraksi denganmu pun memiliki kelompok geng masing-masing; mulai dari sekedar berandalan, nerd yang kerjaannya membaca buku belajar, sampai para olahragawan yang berotot tapi tidak berotak. Setiap geng memiliki ciri khas dari seragam yang mereka kenakan.

Sebagaimana halnya kebanyakan game free-roaming / sandbox Rockstar lainnya, kemajuan gamemu tergantung dari misi (baca: skenario utama) game. Setiap kali kamu hendak memajukan ceritamu, kamu bisa mengakses dan menjalankan skenario utama game. Misi-misi utama itu tergolong sederhana seperti iseng mengkatapel teman-temanmu yang tengah berolahraga, atau mencuri pakaian dari locker teman-temanmu. Tentu saja, selama kamu tidak menjalankan misi kamu bebas mengeksplorasi Bullsworth semaumu (percayalah bahwa walaupun Bullsworth tidak seluas kota-kota di GTA, tetapi kamu tetap akan menghabiskan banyak waktumu berkeliling dan berinteraksi dengan orang-orang di sana).

Akhirnya, Bully sekali lagi merupakan satu bukti kejeniusan dan kekreatifan dari Rockstar. Terbukti bahwa walaupun penjualannya di PS2 dianggap mengecewakan, permintaan para fans membuat Rockstar menggarap versi Scholarship Edition yang diedarkan di 360, Wii dan PC. Mainkan game ini dan bangkitkan nostalgiamu ketika tawuran saat masih berada di SMU dulu.

Final Verdict:

Gameplay: 9.0
Akan mengejutkanmu melihat Rockstar memberi begitu banyak kebebasan gameplay dalam lingkungan sekolah. Meskipun arena permainan tidak seluas GTA, Bully tidak kalah dalam variasi ‘kebebasan’ melakukan apapun di dalamnya. Seperti yang saya katakan sebelumnya; Bully adalah GTA di dalam sekolah!

Graphic / Sound: 9.0
Saya memainkan Scholarship Edition yang mendapatkan upgrade grafis yang cukup signifikan. Walau begitu, saya pernah mencoba versi PS2nya dan menilai bahwa kualitas grafisnya setara dengan GTA San Andreas. Suara juga diperhatikan oleh Rockstar. Mengingat setting dari game ini di Inggris, maka siapkan telinga anda mendengar aksen-aksen British English sepanjang game.

Play Time: 9.0
Begitu kaya dan luasnya Bully membuat saya menghabiskan hampir lima jam pertama untuk menjelajahi Bullworth Academy dan mencoba menjahili para guru dan murid. Dengan memperhitungkan begitu banyaknya misi sampingan selain misi utama game, Bully berpotensi kamu mainkan untuk waktu yang sangat - sangat lama.

Overall: 9.0

Fun Facts:
Di beberapa negara, game ini tidak dirilis dengan nama Bully, melainkan dengan nama latin Canis Canem Edit (arti: Dog Eat Dog). Saya pribadi lebih menyukai nama latinnya yang langsung menunjukkan realitas kehidupan masa sekolah yang keras di mana hanya yang kuatlah yang bisa bertahan hidup.

Comments (3)

Advertise Here
Advertise Here