Tags: , , , , , , , , ,

The Saboteur

Posted on 08 February 2010 by Si Tukang Review

The Saboteur Cover

The Saboteur Cover

(Review Based On PC Version)

Saya pernah membaca sebuah artikel unik dari situs game terkenal yang mengajak para pembacanya menebak siapakah musuh yang paling sering dipakai dalam media game? Tadinya saya menyangka kalau jawabannya zombie atau monster-monster sejenis. Jawaban saya salah. Artikel tersebut kemudian menjawab bahwa musuh yang paling sering dipakai (terutama di genre FPS) adalah para tentara NAZI. Tidak tanggung-tanggung dari awal mula lahirnya FPS lewat game Wolfenstein saja gamer sudah diajak menembaki NAZI. Begitu juga pada game-game FPS modern seperti Medal of Honor dan Call of Duty (perkecualian pada Modern Warfare). Nah EA melalui salah satu developernya, Pandemic Studio kemudian menciptakan sebuah game berjudul The Saboteur. Beda dengan game yang saya sebutkan di atas tadi, The Saboteur gameplaynya seperti GTA alias sandbox free-roaming tetapi bersetting di jaman Perang Dunia II. Artinya? lebih banyak NAZI buat kalian bantai!

Apabila semua game GTA mengambil setting kota fiktif yang berdasarkan kota nyata di Amerika seperti Liberty City untuk New York dan Vice City untuk Miami, maka The Sabouteur berlokasi di kota yang disebut penulis terkenal Ernest Hemingway sebagai A Moveable Feast. Tepat. The Saboteur menjadi kisah seorang orang Irlandia bernama Devlin yang turut berjuang bersama pasukan Resistance bawah tanah untuk membebaskan kota Paris dari cengkeraman NAZI. Awalnya Devlin hanyalah seorang pembalap mobil yang bekerja di bawah Vittore, seorang Italia. Setelah kalah karena dicurangi dalam Grand Prix, Devlin dan sahabatnya Jacques diam-diam menyusup ke dalam sebuah markas tentara Jerman untuk meledakkan mobil pembalap yang mencurangi mereka. Sial bagi keduanya, keduanya kepergok oleh Dietrich, sang pembalap curang yang juga berprofesi rangkap sebagai tentara NAZI. Devlin dan Jacques dicurigai sebagai mata-mata dan disesah untuk memberikan informasi. Karena bukan mata-mata, tentu saja Devlin tak bisa menjawab dan melihat sang sahabat dibunuh di matanya sendiri. Keberuntungan membuat Devlin bisa meloloskan diri, dan ia bersumpah untuk membalas dendam akan kematian sahabatnya itu.

Ambisi The Saboteur tidak main-main dalam menciptakan kota Paris. Kota ini masih terlihat begitu gemerlap dan indah sesuai julukannya City of Lights, tetapi juga ada aroma depresi karena setiap penghujungnya dijaga ketat oleh patroli tentara Jerman. Bahkan di tempat-tempat di mana para tentara Jerman kuat bercokol ditandai dengan suasana yang kelam dan hitam putih. Apabila kamu berhasil menghancurkan kekuatan tentara Jerman di wilayah itu maka daerah itu pun kemudian dihiasi dengan semburat warna. Bila kalian pernah memainkan game Okami atau Tomba tentu familiar dengan sistem pembebasan wilayah seperti ini. Sayang buat saya pemberian warna hitam putih ini justru terkesan sebagai blunder. Alasannya begini, hampir setiap wilayah bisa kamu rebut dari tentara Jerman setelah kamu menghancurkan markas besar di wilayah tersebut. Itu berarti sering kali kamu bakalan menyerbu markas musuh dengan warna hitam putih yang selain menurunkan intensitas permainan juga menganggu pandanganmu dalam lawan. Karena layarmu melulu gelap, secara insting kamu menyangka bahwa dengan mengendap-endap kamu pasti tidak ketahuan musuh sebelum sadar bahwa musuh tetap bisa melihat dan langsung memberondongimu dengan peluru. Setelah daerah tertentu itu kamu bebaskan dari pengaruh NAZI pun tak banyak lagi yang bisa kamu lakukan selain berkeliling dan mengagumi designnya yang kini berwarna.

Selain kekurangan di tata warna game ini, saya agak kecewa dengan mobil abadi dalam game ini. Dalam game lawas seperti GTA III saja apabila kamu menabrakkan mobilmu maka akan terjadi penyokan di sana-sini. Terus menabrakkan mobilmu akan membuatnya berasap, lantas berapi-api kemudian meledak. Ini tidak pernah terjadi dalam The Saboteur. Tak peduli bagaimana kerasnya saya mencoba menabrakkan mobil ke tembok, mobil lain, sampai truk panser sekalipun, boro-boro meledak, penyok pun tidak! Apakah Pandemic Studio malas untuk melakukan programming animasi penyok mobil jaman dulu? Satu-satunya kemungkinan mobil kita hancur meledak adalah kalau diberondong oleh ratusan peluru NAZI dari berbagai arah. Memang sih ini menjadikan gameplay jauh lebih mudah, tetapi bukan pengurangan tantangan seperti ini yang saya cari. Untungnya ini ditutupi dalam aspek baku tembak yang sangat mengesankan. Bayangkan saja, sebagai Devlin saya menyerbu markas besar tentara Jerman seorang diri sampai menjatuhkan sebuah Zeppelin kebanggaan mereka (pesawat terbang Jerman). Kalau semua prajurit Allies sehebat Devlin, perang bisa berakhir dalam hitungan hari. Baku tembaknya pun seru dan mengingatkan saya akan Resistance. Tentu saja baku tembak yang seru ini kemudian terpaksa mengorbankan esensi stealth permainan. Walaupun judulnya The Saboteur, sangat sedikit misi game yang mengharuskanmu mengendap-endap; dan karena pada akhirnya baku tembak lebih seru, saya pun jarang memilih opsi menyelinap dan langsung main terjang saja.

So my verdict is… The Saboteur bukan sebuah game yang sempurna karena tidak cukup kebebasan yang ditawarkan di dalamnya. Toh saya tak akan memungkiri untuk mengatakan kalau ini adalah salah satu game paling fun yang saya mainkan tahun ini. Di game mana lagi coba kita bisa menyerang para NAZI sendirian ala Rambo? It’s bloody fun!

Final Verdict

Gameplay: 7.5
Cerita The Saboteur menarik, tetapi saya tidak bisa mengatakan hal yang sama untuk variasi misi yang ia tawarkan. Kebanyakan misinya standar yang pasti pernah kamu temui variasinya ketika bermain game sandbox sejenis. Sub-misinya membosankan dan kamu akan menemui dirimu lebih banyak berfokus pada misi utamanya.

Graphic / Sound: 7.5
Menghidupkan kota Paris yang indah di bawah cengkeraman Jerman berhasil dilakukan oleh Pandemic Studios. Sayang memakai terlalu banyak hitam putih terasa berlebihan. Paris kan dijuluki City of Lights, bukankah amat disesalkan kalau gamer tidak bisa melihat keindahannya hanya karena dibatasi oleh gameplaynya sendiri?

Play Time: 7.5
Panjang game ini berkisar antara 10 hingga 15 jam. Selepas menyelesaikannya, kamu akan dipersilahkan berkeliling lagi semaumu, tetapi mengingat daya tarik game ini ada pada skenario utamanya, sulit menyarankanmu kembali lagi seusai menamatkannya.

Overall: 7.5

Game Details
Developer: Pandemic Studio
Publisher: EA
Genre: Sandbox Adventure

Comments (0)

Tags: , , , , , , , , ,

PROTOTYPE

Posted on 20 January 2010 by Si Tukang Review

PROTOTYPE Cover

PROTOTYPE Cover

Resident Evil + GTA + Spider-man

Apa yang terjadi sehari setelah saya memainkan game PROTOTYPE ini? Well, status seperti ini muncul dalam account Facebookku.

Hal terbrutal yang gw lakukan di game PROTOTYPE: menyeret tubuh seseorang pejalan kaki selama berkilo-kilo sambil mendengarkan dia menjerit-jerit di speakerku… dan setelah bosan gw memotong tubuhnya jadi dua, melihat darah bermuncratan dari tubuhnya, lantas memakan sisa mayatnya. Man, I LOVE this game.

Sebelum kalian langsung mencapku sebagai orang gila dan memanggil RSJ terdekat, coba baca dulu review berikut ini. Siapa tahu ikut ketularan gilanya kan? Hi hi hi.

Menjelaskan game PROTOTYPE secara singkatnya adalah sebuah game paduan dari Resident Evil, Grand Theft Auto, dan Spider-man. Dari Resident Evil, game ini mencomot jalan cerita di mana zombie (atau makhluk mutasi virus) menyerang kota New York. Dari Grand Theft Auto, game ini mencomot sistem sandbox untuk gameplaynya yang memperbolehkan kamu menjelajahi kota sembari menjalani misi cerita maupun misi sampingan yang disediakan untukmu. Terakhir dari Spider-man, kamu di sini berperan sebagai superhero (atau setidaknya seseorang berkekuatan super). Campurannya menjadikan PROTOTYPE sebagai game paling stylish yang kumainkan tahun ini.

Mendengar design seorang superhero, PROTOTYPE mungkin akan mengingatkanmu tentang game lain yaitu inFAMOUS, game superhero gameplay sandbox lain karya Sucker Punch Productions. Walaupun dirilis pada saat hampir bersamaan (inFAMOUS dua minggu lebih dulu dibanding PROTOYPE) dan memiliki ciri-ciri yang mirip, tentunya kedua game ini memiliki perbedaan sendiri. Buat kalian yang ingin main game macam inFAMOUS tetapi tidak punya game PS3, game ini menjadi alternatif lain yang bagus karena hadir multi-platform. Review ini dibuat berdasarkan versi PCnya.

New York: The Big Apple Every Zombie Wanna Eat

Dalam prolog cerita ini, sosok Alex Mercer yang kamu kendalikan mendadak berada di tengah kota New York yang membara. Kekacauan dan kehancuran jelas terlihat di mana-mana. Para zombie serta monster mengamuk sementara para tentara dengan tank, helikopter, sampai senjata mutakhir mereka berusaha mencegah serangan para monster. Terjebak di tengah mereka adalah penduduk kota yang tak berdosa; tewas akan serangan kedua belah pihak. Terjebak juga di tengah mereka adalah Alex Mercer.

Untung saja Alex Mercer bukan sekedar penduduk biasa. Dalam proses tutorial yang berlangsung, kamu akan belajar dengan cepat bahwa Alex memiliki kekuatan super. Ia bisa mengubah bentuk tangannya menjadi berbagai macam senjata mulai dari palu godam, cambuk, sampai pedang tajam (ingat Witchblade?). Selain itu ia bisa melompat jauh lebih tinggi dari manusia biasa (ingat lompatan Hulk?) dan berlari sangat cepat. Tambahan lagi, layaknya Venom kamu bisa menghisap manusia, zombie, atau segala jenis monster di dekatmu. Kamu adalah kuda hitam dalam perang ini dan disebut dengan kode nama ZEUS oleh para tentara. Tidak salah; kamu memang layaknya seorang dewa.

Setelah prolog usai, cerita sesungguhnya dalam PROTOTYPE dimulai dari 18 hari sebelum prolognya. Sebagai Alex Mercer yang hilang ingatan, kamu akan mulai mencari tahu apa yang telah dilakukan perusahaan GENTEK yang mengubah tubuhmu hingga kini menjadi layaknya manusia mutasi sampai mengisi kembali relung-relung ingatanmu yang hilang.

Kalau kamu dewa maka pastilah seluruh kota New York merupakan taman Edenmu. Salah satu keasyikan bermain PROTOYPE yang saya rasakan terjadi begitu saya melihat Alex dengan cepat berlari menaiki gedung. Setiap gedung pencakar langit dalam kota New York bebas kamu panjat. Setiap lorong kota New York bebas kamu jelajahi. Tidak ada batasan. Ini yang membuat game ini terasa begitu ‘bebas’. Seperti halnya GTA, untuk memulai misi khusus yang berhubungan dengan cerita kamu harus menuju ke titik tertentu. Selama kamu tidak menjalani misi apapun, kamu bebas berpetualang sekena hatimu.

Ketika memulai permainan (setelah prolog), kekuatan Alex masih terbatas. Kamu bisa berlari cepat dan melompat tinggi, tetapi beberapa wujud perubahanmu masih terkunci. Skill-skill tersebut bisa kamu beli dengan mendapatkan EP atau Evolution Point. Evolution Point ini bisa digunakan untuk mengupgrade atau membeli skill-skill yang baru. Selain mendapat wujud baru untuk Alex, kamu juga bisa mendapat kemampuan mengambil alih kendaraan tank atau helikopter milik musuh. Kamu juga bisa mendapatkan berbagai jenis gerakan serangan baru seperti melayang di angkasa atau dash di udara.

Kalau kamu pikir bahwa semua kekuatan yang kamu dapat membuatmu tidak terkalahkan, coba pikir lagi. Hari demi hari, infeksi yang mengenai kota New York akan makin meluas dan kota ini menjadi tempat yang makin berbahaya. Selain dianggap musuh oleh para tentara (yang takkan segan mengirimkan puluhan orang, tank, sampai helikopter untuk memburumu) akan ada banyak monster dan zombie yang menyerangmu. Zombie biasa mungkin lawan yang bisa kamu hadapi tetapi para Hunter memiliki kekuatan dan kecepatan yang tak kalah ganas darimu. Mendapatkan skill baru dan terampil menggunakannya menjadi kunci utamamu bertahan hidup dalam game ini.

Misi-misi utama dalam PROTOTYPE memang menarik dan bervariasi, tetapi sayangnya misi-misi sampingannya benar-benar terasa seperti dikesampingkan. Kurang menarik dan terasa dibuat cepat sekedar untuk sambil lalu. Untungnya game ini menyajikan versi tersendiri dari battle of influence mereka (mirip dengan gang war di GTA: San Andreas). Setiap harinya infeksi meluas di seluruh kota dan para militer akan berjuang menahan laju infeksi tersebut. Di dalam mapmu akan ada tanda lingkaran merah dan biru. Lingkaran merah menandakan bahwa militer tengah berperang melawan pusat infeksi di tempat itu. Membantu menghancurkan pusat infeksi akan memberimu tambahan EP yang besar (dan berguna mengupgrade skillmu). Lingkaran biru berisi markas militer tentara yang bisa kamu susupi (dengan kemampuan menyamarmu). Setelah masuk, Alex mencari tentara yang memiliki skill khusus. Dengan kekuatan ‘memakan’nya, Alex akan menyerap tentara itu dan mendapatkan atau mengupgrade skillnya. Ia akan lebih piawai menggunakan senjata atau mengendalikan helikopter dan tank dengan lebih handal.

Bicara soal serap menyerap kekuatan, ada sistem bernama Memory Node dalam game ini. Alex kehilangan ingatan dan satu-satunya cara mengingatnya kembali adalah dengan menyerap orang-orang khusus yang kamu temui dalam game ini. Bila kamu menyerap orang yang benar, kamu akan mendapatkan sebuah cutscene singkat dari memori orang itu yang lama kelamaan membentuk sebuah gambaran besar cerita. Cutscenenya sendiri bukan keharusan untuk didapat, tetapi mendapatkan semuanya akan membuatmu lebih mengerti dan menghargai cerita game ini.

Running Around The Burning City

Kualitas grafis dalam PROTOTYPE benar-benar keren. Menjelajahi semua kota New York bukan sekedar janji kosong dari developer Radical Entertainment. Semua tempat-tempat landmark di kota ini benar-benar dimunculkan sehingga bermain dalam kota ini terasa seperti kita pergi ke New York. Gerakan Alex juga fluid dan halus. Berbagai bentuk tubuh Alex memiliki animasi gerakan yang berbeda-beda dan mengeksekusi semua jurus-jurusnya secara sempurna adalah kebanggaan bukan hanya bagi tangan dan reflekmu tetapi juga matamu untuk melihat orang yang melakukan tari ballad pencipta kematian.

Mengingat kota New York luar biasa besar dan hidup, terpaksa ada pemotongan-pemotongan yang dilakukan (mungkin untuk menghemat tempat?). Beberapa gedung di kota ini tampak mirip satu sama lain. Untung hal ini ditebus dengan kondisi yang terus berubah. Pada awal petualangan Alex kota New York masih terlihat ‘normal’ tetapi seiring semakin meluasnya wabah infeksi kamu akan melihat bahwa kepulan-kepulan asap makin terlihat di mana-mana, orang-orang makin waspada akan serangan para monster. Di daerah infeksi kekacauan makin terlihat di mana para zombie menyerang dan menghabisi tiap manusia normal yang tersisa.

Grafis yang sudah di atas rata-rata ini juga didukung oleh sound effect yang mumpuni. Mulai dari teriakan para penduduk yang panik, deru helikopter dan tembakan-tembakan senjata menunjukkan New York tengah menghadapi bencana yang sangat serius.

Pada akhirnya saya cuma bisa kasihan sama kota New York. Ternyata jadi kota yang ngetop banyak tidak enaknya ya? Roland Emmerich hobi setengah mati menghancurkan kota ini dalam The Day After Tomorrow atau Godzilla, sekarang kota ini malahan kena wabah zombie yang mematikan. Kapan ya giliran Jakarta?

Final Verdict

Gameplay: 9.0
PROTOTYPE menawarkan kota New York untuk kamu jelajahi. Selain melihat kehancuran yang terjadi pada kota terkenal dunia itu, kamu juga harus menyelidiki misteri di balik hilangnya memorimu dan keterkaitan dirimu dengan wabah epidemik yang tiap harinya terus meluas.

Graphic / Sound: 8.5
Kebanyakan gedung yang bukan landmark terasa terlalu standar. Saya juga menyayangkan beberapa efek yang kurang realistis. Contohnya saya melemparkan seorang pejalan kaki ke tembok dan berharap kalau tubuhnya akan hancur saat benturan terjadi. Ternyata impianku tidak terwujud (mendengar seruan “dasar psikopat” dari para pembaca =P)

Play Time: 8.5
Game ini bisa diselesaikan dalam tempo kurang dari 10 jam bila mengikuti misi utamanya saja. Toh kamu akan menghabiskan kira-kira 20 jam karena PROTOTYPE terus menaikkan kesulitan sehingga memaksamu mengambil misi-misi sampingan guna mendapatkan EP yang bisa mengupgrade kemampuan Alex.

Overall: 8.8

Game Details
Developer: Radical Entertainment
Publisher: Activision
Genre: Action (Sandbox)

Comments (0)

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Tekken 6

Posted on 26 December 2009 by Si Tukang Review

Tekken 6 PSP Cover

Tekken 6 PSP Cover

(Review Based on PSP Version)

Walaupun koleksi library handheld PSP tidak sebanyak DS, itu bukan berarti handheld Sony kalah kualitas dengan handheld Nintendo. Salah satu komplain terbesar yang disampaikan orang terhadap PSP adalah karena terlalu banyak game remake yang hadir di PSP dan saya juga setuju akan hal ini. Toh, kalau remakenya sebaik Tekken 5: Dark Resurrection dulu, saya sih tidak merasa akan ada banyak orang yang menggerutu. Semenjak Dark Resurrection diluncurkan, game tersebut kemudian menjadi tonggak bagi game fighting lainnya di PSP. Bahkan remake Soulcalibur: Broken Destiny yang dirilis juga oleh Namco dianggap bagus tapi belum sebaik Dark Resurrection.

Sebenarnya di akhir tahun 2007, Tekken 6 diluncurkan di arcade Jepang. Setahun kemudian versi upgradenya dirilis dengan sub-judul Bloodline Rebellion diluncurkan (dengan tambahan dua karakter baru). Seharusnya sih versi PS3 dan PSPnya juga diluncurkan di tahun yang sama, tetapi ternyata dalam ‘penyabotan’ yang dilakukan oleh Microsoft, perilisannya ditunda selama setahun (satu dari beberapa penyabotan yang dilakukan oleh Microsoft, termasuk merebut serial Final Fantasy bernomer dari Sony). Kini di tahun 2009, versi home console dan PSPnya pun dirilis. Bagaimanakah hasilnya?

Tekken 6 ini menampilkan versi Bloodline Rebellion yang berarti selain ada lima karakter baru dan 33 karakter lama (34 kalau menghitung Panda), muncul juga Alisa Bosconovitch; cucu android dari Dr Bosconovitch dan Lars Alexandersson; si anak haram dari Heihachi Mishima. Total jendral ada 41 karakter yang siap kamu pakai dalam game ini - menjadikan Tekken 6 sebagai Tekken dengan roster terbesar. Apa yang membuat saya kagum dengan versi PSPnya adalah bagaimana handheld ini bisa memasukkan semua karakter dalam handheldnya. Salut Namco. Salut.

Grafis dalam Tekken 6 luar biasa. Tiap karakter game memiliki render animasi dan gerakan yang sangat halus untuk ukuran PSP. Juga beberapa arena tertentu memiliki segi interaktifnya dalam pertarungan. Saat kamu menghajar dan sukses memasukkan combo ke dinding misalnya, maka dinding itu akan jebol dan membuka arena baru untuk pertempuran. Walaupun tentu saja kualitas grafis versi PSP ini tidak bisa dibandingkan dengan home console atau Arcade (come on, they’re next-gen standard), saya tetap salut dengan usaha Namco ini. Siapa sangka mereka masih bisa membuat standar grafis game fighting yang lebih tinggi lagi dibanding apa yang dulu mereka raih melalui Dark Resurrection?

Mengenai karakter lama sendiri, hampir semuanya masih memiliki cara permainan yang sama dengan pada iterasi game sebelumnya sehingga kalau kamu sudah biasa dengan karakter itu, kamu tak perlu belajar lagi cara menggunakan mereka. Saya memang jarang main game fighting dan satu-satunya karakter yang saya percaya saya bisa mainkan dengan ‘lumayan’ (baca: tidak diganyang Perfect oleh para jago Tekken lain) adalah memakai Hwoarang. Ketika saya memainkan game ini lagi, Hwoarang tetap sama cepat dan mematikan tendangannya dengan Tekken 5: Dark Resurrection. Di antara beberapa karakter baru yang dihadirkan, saya paling tertarik dengan tiga karakter: Bob, Alisa, dan Zafina. Bob mendobrak tradisi kalau orang gendut pasti pelan, Alisa adalah robot cyborg yang sekilas lihat agak overpowered (makanya sebagai amatiran Tekken yang suka button mashing dia jadi favorit kedua saya setelah Hwoarang), dan yang terakhir Zafina yang gaya berantemnya agak… aneh. Salah satu pose kemenangan Zafina di mana ia merangkak ala laba-laba malahan mengingatkan saya pada setannya Ju-On (loh, apa hubungannya ya?).

Dalam gameplaynya sendiri, satu penambahan yang paling kentara di mataku adalah Rage System di mana ketika darah karaktermu sudah turun di bawah 10% maka karaktermu akan memiliki aura merah yang bersinar di mana semua seranganmu akan memiliki daya rusak yang lebih dahsyat. Kalau kalian pernah bermain Garou: Mark of the Wolves, Rage System mirip dengan TOP System-nya. Mode permainan dalam Tekken 6 sendiri sedikit kurang variatif. Terlepas dari Arcade Mode, Story Mode, dan Challenge Mode yang sebenarnya menawarkan hal yang sama, tidak ada lagi tambahan mode selain adu jotos. Hilangnya Scenario Campaign yang mirip dengan Tekken Force agak mengecewakan tetapi sekali lagi menyadari keterbatasan hardware PSP, mungkin ini merupakan keputusan yang terbaik. Toh Scenario Campaign juga banyak dikritik sebagai kelemahan dari Tekken 6 versi konsol kok. Setidaknya semua film ending dari para karakter tetap dipertahankan secara utuh oleh Namco di sini. Beberapa sangat serius, beberapa pendek dan ga jelas, beberapa lagi super kocak dan mengundang tawa terbahak. Bila ada kekurangan vital di gameplay Tekken 6, itu adalah tidak adanya opsi untuk bertarung melawan musuh di dunia online (hanya bisa secara wireless dan itupun temanmu harus memiliki kopi Tekken 6). Yah, mungkin jaringan internetnya sendiri yang kurang memadai? Entahlah.

Lepas dari beberapa kekurangan yang ada, Tekken 6 masih membuktikan dirinya sebagai salah satu franchise fighting terbaik yang ada di pasaran saat ini. Keterlambatan satu tahun rilisnya tidak menjadikan gameplaynya uzur, yang membuktikan bahwa game berkualitas ini selalu bisa kamu mainkan kapan saja bersama teman-temanmu. Siapkah kamu membuktikan apakah kamu masih sang King of Iron Fist?

Final Verdict

Gameplay: 9.0
Roster yang lengkap di PSP sejumlah 41 orang membuat saya girang. Semua karakternya juga memiliki kemampuan yang berimbang. Kekurangan mode permainan dan dukungan online play tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada Namco karena keterbatasan hardware PSP. Sebagaimana Dark Resurrection, Tekken 6 juga adalah sebuah game yang must-have bila kamu seorang gamer gitar (gila tarung).

Graphic / Sound: 9.5
Benar-benar nyaris sempurna. Tekken 6 menawarkan variasi tempat tarung yang berbeda, animasi karakter yang sangat halus dari karakter favorit fan ala Jin Kazama, Hwoarang, atau Paul Phoenix, sampai yang kurang dipakai macam Jack-6 atau Roger Jr. Setiap karakter juga didesign dengan berbeda dari pose maupun kostumnya. Kalau kalian bosan dengan kostumnya, ada opsi mengganti penampilan karakter favoritmu dengan membeli aksesoris kustomisasi.

Play Time: 8.5
Kurangnya dukungan bermain online sedikit mengurangi waktu bermain game ini. Toh bagi saya Tekken 6 di PSP adalah training ground-ku. Saya bisa membawa PSPku ke mana-mana sambil berlatih kemampuan, sementara bermain di 360, PS3, ataupun Arcade adalah saat di mana saya bisa unjuk kemampuan hasil latihanku. Hasilnya? Errr… kurang begitu berhasil sih. Saya tetap terkapar menghadapi musuh-musuh. Apa mungkin memang tidak bakat ya main game fighting? *menghela nafas panjang*

Overall: 9.0

Game Details
Developer: Namco Bandai
Publisher: Namco Bandai
Genre: 3D Fighting

Comments (5)

Tags: , , , , ,

Call of Duty: Modern Warfare 2

Posted on 16 December 2009 by Si Tukang Review

Call of Duty: Modern Warfare 2 Cover

Call of Duty: Modern Warfare 2 Cover

(Review Based on PC Version)

Yang mengatakan kalau industri game tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu perlu berkaca lagi pada statemen tersebut. Tahun ini adalah tahun lahirnya Street Fighter IV, Resident Evil 5, Batman: Arkham Asylum, Uncharted 2, Dragon Age: Origins, Legend of Zelda: Spirit Tracks, The Sims 3, GTA: Chinatown Wars, New Super Mario Bros Wii, dan banyak - banyak - banyak sekali game-game keren lainnya. Tetapi bila saya diminta memilih mana yang harus saya nobatkan untuk menjadi game of the year, tanpa ragu saya akan memilih: Call of Duty: Modern Warfare 2. Saya tahu ada banyak orang yang mengatakan kalau game ini overrated dan dipuji berlebihan sekedar karena ia memecahkan rekor penjualan video game terbesar sepanjang masa. Sekedar catatan, pendapatan Modern Warfare 2 yang mencapai 310 Juta USD hanya pada hari pertama perilisannya adalah pendapatan dunia hiburan terbesar sepanjang masa (The Dark Knight yang memegang rekor opening weekend terbesar film ‘hanya’ mendapat 158 Juta USD selama tiga hari pertama masa tayangnya). Apa sebenarnya yang membuat saya berani berkoar kalau game ini adalah game terbaik tahun ini (setidaknya bagiku)? Silahkan baca.

Call of Duty pertama adalah salah satu serial FPS yang paling kukenang. Serial ini pertama kali dirilis oleh Activision pada tahun 2003, dan saya langsung terkesima ketika melihat Perang Dunia II yang brutal. Saat berperang bersama menyerbu markas musuh amat berbeda dengan FPS-FPS yang ada pada masa itu. Sontak Call of Duty menjadi franchise yang sukses dan terkenal. Tahun demi tahun Activision terus merilis sekuel game Call of Duty yang semua mengambil latar yang sama Perang Dunia II. Memasuki game keempatnya, Infinity Ward selaku developer yang menelurkan game ini sadar bahwa tema Perang Dunia II sudah basi. Seru sih memang seru, dan mungkin masih ada banyak sekali perang-perang yang bisa dimasukkan dalam skenarionya, tetapi Infinity Ward ingin mencoba satu konsep yang baru - yang lebih fresh. Lahirlah Call of Duty 4: Modern Warfare yang mengambil setting bukan di masa lalu yang sudah terukir sejarah melainkan masa depan alternatif. Bisa dibilang Call of Duty 4: Modern Warfarelah yang membawa franchise Call of Duty menjadi superstar dunia FPS. Perlahan tapi pasti, bahkan game center yang biasa dipenuhi kebisingan game lama Counter Strike mulai berubah menjadi Modern Warfare.

Begitu cintanya gamer pada Modern Warfare, ketika tahun lalu seri kelima Call of Duty dirilis dengan sub-judul World at War dan (kembali) mengambil setting di Perang Dunia II, banyak sekali orang kecewa dan mengecam ini sebagai langkah mundur serial Call of Duty. Yang mereka tidak tahu saat itu adalah, serial Call of Duty sebenarnya didesign oleh dua developer hampir secara simultan untuk memastikan publisher Activision punya satu game Call of Duty untuk dirilis tiap tahunnya. Sementara Infinity Ward merilis Modern Warfare di tahun 2007, Treyarch yang adalah pengembang satunya gantian merilis World at War di tahun 2008. Di tahun yang sama, Infinity Ward tengah bekerja keras untuk memenuhi harapan gamer akan sebuah game Modern Warfare yang baru. Dirilislah Modern Warfare 2 tahun ini - dan sisanya adalah sejarah. Tercatat dalam lima hari pertama saja sudah ada delapan juta orang online dan bermain Modern Warfare 2 secara multiplayer!

Saya tahu bahwa tidak biasanya sebuah FPS mementingkan cerita, tetapi Modern Warfare 2 adalah pengecualian. Ringkasan berikut ini bisa jadi mengandung spoiler, sehingga kalau kamu peduli dengan spoiler - lompati paragraf ini. Lima tahun berlalu setelah akhir Modern Warfare pertama. Kematian Imran Zakhaev bukannya menjadikan dia seorang penjahat perang - malahan berubah menjadi seorang pahlawan dan martir di Russia sana. Lebih mengecewakannya lagi adalah Vladimir Makarov yang dulunya seorang ajudan Zakhaev mulai membentuk kelompok teroris yang terus menyerang berbagai kota di Eropa. Amerika tentu saja tidak tinggal diam dan menyusun regu elit Task Force 141. Salah seorang anggotanya bernama Joseph Allen ditugaskan untuk menyusup dalam rombongan Makarov dalam aksi terorisme mereka. Aksi tersebut termasuk menembaki seluruh penumpang di bandara internasional Moskow secara membabi-buta. Sial bagi Allen, Makarov memergoki penyamarannya dan membunuhnya. Saat mayat Allen teridentifikasi, Russia pun marah besar karena menganggap Amerika berada di balik serangan tak berperikemanusiaan itu. Mereka membajak sistem radar di Amerika dan melancarkan serangan besar-besaran secara diam-diam ke kota Washington. Sementara kamu harus menghentikan invasi Russia ke tanah Amerika, kamu juga harus mencoba menangkap Makarov yang merupakan dalang semua kekacauan ini.

Karena ada beberapa plot yang berjalan bersamaan dalam cerita, kamu juga akan memainkan beberapa karakter berbeda di berbagai macam lokasi (untuk Single Player Mode). Modern Warfare 2 memang menyenangkan untuk dimainkan sendiri maupun bersama-sama. Dimainkan bersama-sama sih sudah jelas. Dengan grafis terkini, berbagai macam map dan campaign yang bisa dipilih (dan saya rasa akan terus bertambah seiring dengan hadirnya expansion pack resmi maupun tidak resmi), Modern Warfare 2 bisa dimainkan berjam-jam dengan kawan-kawanmu. Toh, dimainkan sendiri pun Modern Warfare 2 tidak kalah asyiknya. Single Player Mode menawarkan tur gratis ke berbagai macam lokasi eksotik dunia. Setelah misi prolog di Afghanistan, kita masih dibawa untuk melihat Rio De Janeiro, Siberia, Moskow, Washington, dan banyak tempat lagi. Setiap lokasi juga memiliki tujuan yang berbeda-beda sehingga misi tidak pernah terasa monoton. Misi yang paling memorable bagiku adalah Cliffhanger yang merupakan misi kedua. Tidak tanggung-tanggung, misi ini diakhiri dengan kejar-kejaran naik snowmobile yang sangat intens dan menegangkan. Beberapa pihak mengkritik Single Player Mode terlalu cepat dibandingkan game-game Call of Duty sebelumnya. Saya tidak setuju. Saya memerlukan waktu kira-kira enam hingga delapan jam untuk menyelesaikan Single Player Mode yang terbagi menjadi 18 chapter ini - cukup panjang untuk ukuran game FPS. Lagipula apa gunanya memperpanjang sebuah cerita Single Player Mode apabila malah mengorbankan kualitas ceritanya sendiri? Setiap satu chapter dalam game ini menurut saya berpengaruh untuk memajukan jalan ceritanya sebagai satu kesatuan. Tunggu apa lagi Hollywood? Garap versi film dari game ini! Selain mode ceritanya, dalam Single Player Mode juga terdapat berbagai variasi misi Solo yang bisa kamu jalankan bila kamu penasaran dengan kemampuanmu sendiri. Semakin bagus kamu menyelesaikan tantangan-tantangan yang ada, semakin banyak medal yang akan kamu menangkan sebagai penghargaanmu. Tantangan yang pendek - tetapi cukup mengasyikkan untuk mengisi waktu dan terus mengasah ketajaman instingmu.

Cerita yang hebat dan gameplay yang seru itu juga ditunjang oleh grafis dan suara yang ekselen. Seperti yang saya katakan tadi, Single Player Mode membawa pemain ke berbagai lokasi yang berbeda-beda di dunia, mulai dari putih dinginnya Siberia di tengah badai salju, serangan bawah laut di sebuah stasiun lepas pantai, perkampungan kumuh Rio De Janeiro, sampai pada kota Washington yang membara. Semuanya berbeda kecuali satu: semuanya digarap dengan detail yang mengagumkan. Bagi yang memainkannya di PC pun tak perlu khawatir sebab Modern Warfare 2 bukan game yang rakus spesifikasi (I’m looking at you Crysis), asal komputermu dulu kuat memainkan Modern Warfare pertama dan World at War, Modern Warfare 2 pun bisa kamu mainkan dengan setting standar tanpa slowdown berarti. Musik dalam Call of Duty sudah biasa ditangani oleh komposer-komposer top dan ini pun bukan pengecualian. Apabila di prekuelnya duet Stephen Barton dan Harry Gregson-Williams yang menggubah track-tracknya, kali ini musik dikompos oleh Hans Zimmer. Keberanian Infinity Ward merekrut komposer-komposer besar ini terbukti manjur. Ingat misi Cliffhanger yang kutulis di atas tadi? Alasan kenapa misi tersebut begitu memorable tidak hanya adegannya saja tetapi karena musik Zimmer yang mengiringi sangat pas menggiring emosiku. Saya jarang menyarankannya, tetapi untuk Modern Warfare 2, kalau kamu bisa mendapatkan OSTnya maka belilah itu tanpa ragu!

Memang Modern Warfare 2 tidak memberikan inovasi baru seperti ketika sang prekuel mengubah fondasi setting FPS, tetapi dengan jalan cerita yang fantastis, grafis yang tajam tetapi tidak makan banyak resource, kualitas musik yang luar biasa, sampai unsur fun dan replayability yang tinggi, Call of Duty: Modern Warfare 2 saya nilai layak mendapatkan penghargaan game terbaik tahun ini.

Final Verdict

Gameplay: 10
Single Mission Mode-nya langsung bikin ketagihan untuk memainkannya terus dan terus. Kualitas cinematic scenenya disutradarai dengan meyakinkan dan berkali-kali saya harus meyakinkan diri saya bahwa ini ‘hanya’ game dan bukan film. Bila kamu bertujuan ingin memainkan game ini online, pilihlah versi 360nya karena jaringan Live dari X-Box saat ini merupakan jaringan yang paling menunjang. Sebaliknya bila ingin mendapatkan grafis terbaik untuk game ini, beli graphic card terbaik dan bersiaplah untuk terpana memainkannya.

Graphic / Sound: 9.0
Kualitas grafis Modern Warfare 2 mungkin tak bisa dibandingkan dengan Crysis atau Farcry 2 bila sama-sama dimasukkan pada setting maksimum. Tidak berarti grafisnya jelek. Justru saya lebih kagum pada Infinity Ward yang mampu mendapatkan keseimbangan sebuah game yang tetap apik pada grafisnya tetapi bisa dimainkan di (hampir) semua gaming computer. Untuk versi konsolnya sendiri, kualitas Modern Warfare II setara (kalau tidak sedikit lebih baik) dengan FPS-FPS yang ada saat ini. Kualitas musik yang ditangani oleh Hans Zimmer dan voice acting yang meyakinkanlah yang menjadi poin terkuat sisi audio visual.

Play Time: 10
Setelah memainkan Single Player Mode (baik yang Campaign dan Cooperative) yang bisa menyedot 10 hingga 20 jam, bergabung dalam komunitas dunia maya (konsol) atau mainkan game ini secara LAN di Game Center (PC). Dengan angka 8 juta orang (dan mungkin terus bertambah) yang terkoneksi di dunia internet guna memainkan Modern Warfare II, jangan heran kalau game ini akan jadi idola dalam turnamen-turnamen FPS yang akan datang!

Score: 9.8

Game Details
Developer: Infinity Ward
Publisher: Activision
Genre: FPS

Comments (23)

Tags: , , , , ,

Batman: Arkham Asylum

Posted on 08 October 2009 by Si Tukang Review

Batman: Arkham Asylum Cover

Batman: Arkham Asylum Cover

(Review Based on PC Version)

Welcome to the Mad House

Game yang diangkat dari cerita superhero biasanya memiliki peluang 50-50. Bisa jadi game tersebut keren dan inovatif seperti Spider-man 2 yang menggabungkan unsur GTA dan superhero. Sebaliknya kalau salah garap, hasilnya bisa seperti Superman 64 yang mendapat kritik massa karena dianggap menjadikan sang manusia baja seperti orang idiot.

Ketika saya mendengar bahwa Batman: Arkham Asylum akan dirilis secara simultan untuk 360, PS3, dan PC, saya masih ragu akan kualitasnya. Mengingat sekarang DC tinggal punya properti Batman setelah kesuksesan The Dark Knight tahun lalu, saya khawatir kalau-kalau penerbit komik tertua di dunia ini kemudian sekedar rilis judul game tanpa memperhatikan kualitasnya. Bukankah tahun lalu sudah ada Lego Batman? Apa perlu rilis game Batman lagi tahun ini?

Saya berubah pikiran setelah game ini sibuk mendapat pujian sana-sini dari berbagai situs game. Beberapa situs game terkemuka macam IGN dan Gamespot bahkan terang-terangan menyatakan kalau Batman: Arkham Asylum merupakan game adaptasi superhero terbaik! Kesempatan saya merasakan game ini langsung datang saat saya bertandang ke rumah teman saya. Singkat cerita: dalam kurun waktu semenit memainkannya, saya langsung mengupgrade spesifikasi komputer saya keesokan hari guna memainkan game ini di rumah. Pendapat saya seiya sekata dengan IGN maupun Gamespot. Batman: Arkham Asylum adalah game adaptasi superhero terbaik yang selama ini pernah dirilis.

The Clown Prince of Crime Is Back

Setiap kali Joker berulah, Batman menghentikan aksinya dan mengembalikan Joker ke rumahnya: Arkham Asylum. Hanya saja kali ini Batman heran. Kenapa menangkap Joker begitu mudah? Seakan-akan Joker sengaja untuk ditangkap dan dibawa ke Arkham Asylum. Menyadari bahwa ini mungkin merupakan jebakan dari Joker, Batman kali ini ikut masuk ke dalam penjara para pesakitan Gotham itu. Dugaan Batman menjadi kenyataan. Tak lama setelah dibawa masuk, Joker berhasil meloloskan dirinya dan kabur ke dalam penjara dengan bantuan Harley Quinn, sang abdi setianya. Joker bahkan sudah merancang rencana agar para polisi tidak bisa datang menolong setelah sebelumnya menyebar begitu banyak bom yang ia ancam ledakkan bila ada bantuan masuk ke Arkham.

Dengan polisi sibuk menangani perkara bom tersebut, Joker membebaskan para kriminal-kriminal untuk menguasai Arkham. Satu-satunya harapan untuk menghentikan mereka adalah Batman. Tapi ini tidak akan menjadi hal yang mudah. Selain Joker dan Harley Quinn, banyak sekali musuh sang manusia kelelawar yang ditangkap olehnya meradang. Para psikopat macam Bane, Killer Croc, sampai Scarecrow jelas menunggu-nunggu untuk balas dendam. Bisakah Batman mengambil-alih kendali di Arkham Asylum sebelum semuanya tak tertolong? Apa rencana di balik pengambilalihan Joker ini?

Jangan heran bila cerita dalam game ini di atas standar game-game Batman lainnya. Maklum saja, Batman: Arkham Asylum mendasarkan ceritanya pada kontinuitas resmi komik Batman, tidak seperti game lain Batman yang berdasar kontinuitas serial animasi maupun film layar lebarnya. Bicara soal serial animasi, naskah dalam game ini dipenai oleh Paul Dini. Bagi para pembaca komik DC, nama ini tentu tidak asing lagi. Paul Dini, berikut dengan Geoff Johns dan Grant Morrison adalah penulis banyak cerita Batman, baik di layar kaca maupun di buku komik. Pantas saja ia begitu mengenal tiap-tiap karakter dalam game ini, baik musuh maupun kawan dari Batman. Sekedar fakta unik, karakter Harley Quinn yang pertama muncul dalam serial TV Batman ya diciptakan oleh Paul Dini ini.

Cape Crusader Multi-Profession

Tentu saja sebuah game tidak bisa sekedar dilihat dari ceritanya saja. Seseru apapun ceritanya, game tetap membutuhkan sisi interaktif dengan para pemain, kalau tidak apa bedanya ia dengan sekedar film atau komik yang pasif menyodorkan pada pembaca / penonton belaka? Selama ini, game Batman acap kali lupa bahwa si manusia kelelawar bukan hanya superhero belaka - tetapi juga detektif terbaik dunia DC. Batman juga bukan jagoan macam Superman atau Spider-man yang gayanya adalah langsung maju menyerang para musuh secara brutal. Seperti yang ditegaskan dalam film-film Batman baru karya Christopher Nolan, Batman lebih banyak beroperasi di balik bayangan, menganalisa sang musuh, memakai otak dan ototnya untuk memberantas kejahatan. Dan semua aspek itu tertuang secara sempurna dalam Batman: Arkham Asylum.

Sempurna di sini bukanlah kata yang berlebihan. Pernah membayangkan genre Metal Gear Solid, Resident Evil, sampai GTA dicampur menjadi satu dengan dunia Batman? Nah, hasilnya adalah Arkham Asylum ini. Mengingat ada begitu banyak penjahat di dalam Arkham Asylum lepas dari kurungan, bukan hal yang bijak bila kamu langsung main terjang saja. Empat lima musuh mungkin masih bisa ditangani oleh Batman yang jago berkelahi (sistem bertarungnya sederhana tetapi adiktif dan memiliki kontrol yang fluid), tetapi musuh yang sudah mencapai lebih dari sepuluh orang dan membawa senjata senapan? Nanti dulu. Sebagai Batman, kamu harus memanfaatkan keadaan di sekelilingmu dan gadget yang kamu bawa. Kamu bisa menjebak musuh dengan bom plastik, bisa juga diam-diam menyergap mereka dari belakang, atau memisahkan mereka dari rombongan dan melawan mereka satu demi satu. Caranya benar-benar bebas terserah kamu! Semakin banyak kamu melawan musuh, semakin tinggilah experience yang kamu dapat untuk mengupgrade Batman mendapatkan gerakan-gerakan yang baru.

Game ini juga untuk pertama kali membuka tabir isi dan membiarkanmu menjelajahi Arkham sesuka hatimu. Pada dasarnya penjara ini terletak di sebuah pulau yang terpisah dari Gotham sehingga dalam game ini kamu bebas mengeksplorasi seluruh pulau tersebut. Area yang kamu jelajahi juga bervariasi dan tidak monoton sehingga kamu tidak mungkin kebosanan (apalagi dengan jalan cerita yang hampir terus menerus memompa adrenalin). Selain para kriminal cecunguk kelas teri yang dilepas oleh Joker, game ini juga menyajikan deretan musuh Batman yang lebih berbobot. Setiap pertarungan melawan boss benar-benar memorable. Sedikit spoiler saja, salah satu yang paling berkesan bagiku adalah pertarungan pertama melawan Scarecrow. Batman yang terkena gas beracun Scarecrow mengalami halusinasi melihat mayat orang tuanya di kamar mayat. Settingnya jadi benar-benar menyeramkan ala Resident Evil. Belum lagi setelah itu Scarecrow tahu-tahu nongol dari kantung mayat!

Karena saya memainkan versi PCnya, saya tidak terlalu tahu kualitas versi 360 dan PS3nya. Yang jelas, apabila kartu grafismu memadai, game ini sudah memanfaatkan fitur terbaru nVidia yang bernama PhysX. Teknologi ini memungkinkan render game yang interaktif dengan lingkungan sekitarnya. Contohnya bila Batman menghajar musuh ke dinding, maka dinding itu pun ikut retak atau mungkin bahkan hancur dengan suksesnya. Fitur PhysX ini pastinya akan memberikan dimensi baru dalam permainan bila kamu memang penggila berat game. Terakhir mengenai suaranya juga diisi oleh para pengisi suara kelas atas pada bidangnya, seperti Kevin Conroy dan Mark Hamill (the force is strong in Mr Joker eh Luke Skywalker!).

Seperti yang saya katakan di awal review tadi, Batman: Arkham Asylum adalah game adaptasi superhero terbaik. Lebih dari itu, ia bisa dinikmati oleh semua gamer, terlepas apakah kamu familiar atau tidak dengan mitologi sang manusia kelelawar. Final verdict: kandidat game terbaik tahun ini!

Final Verdict

Gameplay: 9.5
Gameplaynya benar-benar dalam dan bervariasi. Sebagai sang jago martial arts, kamu harus menghadapi berbagai musuh. Sebagai sang detektif, kamu harus mencari petunjuk yang ditinggalkan musuhmu untuk menentukan langkahmu berikutnya. Sebagai manusia, kamu harus mengendap tanpa membabi-buta. Benar-benar portrayal Batman yang lengkap!

Graphic / Sound: 10
Apalagi dimainkan dengan teknologi PhysX nVidia, suasana sekeliling Arkham Asylum mulai dari pulau sampai ruangan dalam yang artistik dan menakutkan… suasananya menakjubkan dengan campuran setting film horror dan thriller. Para bossnya semua memorable dengan design yang setia pada konsep komiknya. Setiap karakter juga diisi oleh para artis papan atas yang sudah berpengalaman.

Play Time: 9.5
Mengungkap semua rahasia Arkham Asylum memberikan tantangan tersendiri karena bonus-bonus unik yang tersembunyi di dalamnya. Wawancara dengan Joker atau Killer Croc saat mereka mau dimasukkan ke dalam Arkham Asylum misalnya memberi background cerita yang lebih jelas mengenai kehidupan para psikopat ini.

Score: 9.8

Game Details
System: 360, PS3, PC
Developer: Rocksteady
Publisher: Eidos
Genre: Action Adventure

Comments (10)

Tags: , , , , , ,

Resident Evil 5

Posted on 18 March 2009 by Si Tukang Review

Resident Evil 5 Cover

Resident Evil 5 Cover

(Review Based on 360 Version)

The Evil That Begins in 1996

Bila ditanya game apa yang melahirkan genre Survival Horror, kebanyakan gamer bakalan menjawab “Resident Evil”. Walaupun Alone in the Dark sebenarnya lebih dahulu lahir, tak bisa disangkal kalau game yang lahir dari tangan dingin Shinji Mikami inilah yang mengubah (dan melahirkan) genre Survival Horror. Resident Evil membuktikan pada kita bahwa game bisa menyeramkan. Siapa yang dulu tidak kaget ketika para anjing pertama kali menyerang masuk dari kaca jendela mansion coba?

Setelah melihat bagaimana larisnya Resident Evil, lahirlah sekuel demi sekuelnya. Resident Evil 2, 3, Code Veronica, belum lagi prekuelnya di Zero, sampai game bertipe First Person Shooting ala Gun Survivor dan co-op macam Outbreak. Resident Evil memang berubah menjadi franchise terlaris Capcom tapi setelah bertahun-tahun stagnan dengan gameplay itu-itu saja, para gamer mulai bosan. Grafis Resident Evil memang makin apik, ceritanya makin dalam (membingungkan?), dan arenanya pun bertambah luas dan tidak melulu di Racoon City, tetapi pada dasarnya gameplaynya tetap sama. Gamer ingin sesuatu yang berbeda, sesuatu yang baru, dan sesuatu yang lebih intense dan menyeramkan.

Capcom menjawab permintaan para gamer melalui Resident Evil 4 (RE 4). Game ini merombak total konsep dari Survival Horror yang diusung oleh prekuelnya. Musuh yang harus dihadapi gamer tidak melulu zombie tak berotak melainkan para manusia biasa yang diinfeksi oleh parasit sehingga menjadi beringas. Tentu saja para manusia beringas ini jauh lebih cerdas ketimbang para zombie. Mereka bisa bekerja sama dan memakai senjata untuk menghabisimu. Walau ada yang menanggapi secara negatif, secara keseluruhan RE4 menuai pujian para kritikus dan gamer, bahkan didaulat sebagai salah satu game terbaik tahun tersebut.

Ketika bocoran mengenai Resident Evil 5 (RE 5) muncul, publik kembali menahan nafas. Apa lagi kiranya yang akan menjadi inovasi baru Capcom kali ini?

Chris Redfield is Back

Dalam RE 5, gamer menjalankan karakter Chris Redfield. Chris Redfield adalah pahlawan pertama dalam Resident Evil. Ia termasuk seorang dari sedikit anggota STARS yang selamat dalam insiden di Umbrella Mansion juga salah satu dari orang pertama yang menyadari kebusukan perusahaan Umbrella. Setelah akhirnya berhasil melakukan reuni dengan adiknya di Code Veronica, Chris kembali berusaha memburu Albert Wesker, bosnya yang berkhianat, dan menghentikan Umbrella.

Setelah Umbrella ditutup, itu tidak berarti perjuangan Chris selesai. Sebaliknya, keadaan malah bertambah rumit. T-Virus milik Umbrella beredar ke pasar gelap dan jatuh ke tangan teroris untuk dijadikan uji coba. Salah satu ladang uji coba itu adalah di tanah Afrika, dan di sanalah Chris kembali bertualang.

Ketika trailer RE 5 pertama kali beredar, kontroversi konsep co-op dengan karakter Sheva Alomar muncul. Saya sendiri merasa biasa-biasa saja dengan konsep ini. Bukankah fitur co-op sudah berulang kali muncul dalam Resident Evil? Di Resident Evil 3, kamu beberapa kali bisa dibantu oleh Carlos berhadapan dengan Nemesis, dalam Resident Evil Zero Billy dan Rebecca praktis terus saling dukung untuk selamat, dan dalam Outbreak kamu malah bisa bermain online untuk menyelamatkan diri. Malahan saya khawatir kehadiran Sheva akan mengurangi nuansa seram game, dan hal itu benar-benar terbukti.

RE 5 tidak lagi menjadi game yang menyeramkan - melainkan berubah menjadi game action. (Sungguh!)

Sepanjang permainan kamu akan saling dukung dengan pasanganmu untuk mengungkap misteri penyebaran penyakit di Afrika. Selain itu Chris juga punya alasan personal mau mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Jill (bagi yang tidak tahu, Jill adalah pasangan Chris di Resident Evil pertama sekaligus tokoh utama di Resident Evil 3). Ada dua alasan kenapa sebuah game survival horror menakutkan. Pertama adalah kesendirianmu, dan kedua adalah kamu dipaksa untuk melarikan diri melawan musuh ketimbang melawan mereka. Dua alasan itu semuanya lenyap di RE 5. Kehadiran Sheva yang selalu mendampingimu praktis membuat alasan pertama dinihilkan sementara ammo yang melimpah malahan membuatmu memburu musuh ketimbang kabur dari mereka. Apalagi musuh bisa saja menjatuhkan uang yang bisa kamu gunakan untuk mengupgrade senjatamu. Sedikit banyak game ini malahan mengingatkan saya pada Dino Crisis 2.

Kalau boleh jujur, RE 5 tidak banyak melakukan inovasi. Bisa dibilang ia adalah RE 4 yang bersetting di Afrika, memiliki pasangan Sheva, dan hadir dengan grafis yang lebih mumpuni. While that’s not bad since Resident Evil 4 is a great game, it still is a bit of a letdown. Yang paling mengecewakan dari gameplaynya adalah bagaimana ia ‘memaksa’ kita untuk berdiri di tempat sambil membidik musuh. Capcom berdalih ini demi menambah intens permainan tetapi saya kok tidak percaya. Buktinya Dead Space memperbolehkan kita membidik sambil terus berjalan tanpa harus mengurangi suasana seramnya. Bicara soal seram dan seru, RE 5 juga terasa tanggung di tengah-tengah perbatasan kedua nuansa itu. Kalau seram jelas seram Dead Space, kalau seru ia juga kalah dengan Left 4 Dead (game FPS yang juga memiliki unsur co-op dan berhadapan dengan zombie).

Walau tidak luar biasa di aspek manapun, bukan berarti RE 5 game yang jelek, sebaliknya, ia sebenarnya bagus merata di segala aspek. Hanya saja, this is a jack-of-all-trades game.

Lost in Africa

Lantas bagaimana dengan translasi franchise Resident Evil di konsol masa kini? RE 5 memiliki tampilan yang benar-benar cantik. Beberapa pihak mungkin akan berusaha membandingkannya dengan setting Farcry 2 yang sama-sama di Afrika. Menurut saya keduanya tidak bisa dibandingkan. Afrikanya RE 5 lebih bernuansa fantasi bercampur nyata sementara Afrikanya Farcry 2 lebih berat pada nuansa nyata. Salah satu stage yang paling memorable kumainkan adalah setting dalam gua pertambangan Afrika di mana suasana gelap dan orang-orang Afrika yang (maaf) juga berkulit gelap bisa tahu-tahu saja nongol untuk menyergapmu. Itu satu dari sedikit bagian dalam RE 5 yang masih berhasil mempertahankan nuansa seram di dalamnya.

Untuk audionya, saya rasa pengisi suara dari tiap karakter mampu menjalankan tugasnya dengan baik - kecuali untuk karakter Sheva. Saya mungkin sedikit terlalu memilih tetapi suara Sheila sebagai seorang lokal Afrika kurang terdengar aksen Inggris-Afrikanya. Musik backgroundnya yang mendadak menjadi tegang apabila kamu berhadapan dengan musuh malahan saya nilai kurang efektif. Kalau musiknya terus memperingati kita kalau ada musuh yang belum kita habisi / tengah bersembunyi lantas ke mana unsur kejutan dalam gameplaynya?

Sekali lagi kalau review saya seakan bernada negatif, bukan berarti saya tidak suka dengan RE 5. Sebaliknya saya sangat menikmati game ini. Kendati RE 5 tidak lagi seperti para pendahulunya, ia tetap sebuah game aksi yang solid dan menegangkan dari awal hingga akhir.

Final Verdict

Gameplay: 9.0
Kendati tidak menghadirkan revolusi seperti iterasi keempatnya, game bernomer kelima dari franchise RE ini memiliki kontrol yang solid, variasi senjata yang bisa kamu gunakan, juga permainan yang dibalut cerita misterius khas RE. Kelemahan berupa kurang seramnya game ini bisa ditutup dengan serunya permainan co-op yang bisa kamu lakukan dengan partnermu (apalagi dengan memainkannya online bersama orang lain).

Graphic / Sound: 9.0
Kualitas grafis dan sound membuat RE 5 layak disebut Resident Evil untuk generasi masa kini. Pujian utamanya bisa disampaikan pada stage-stage penuh variasi yang bisa dijelajahi oleh Chris (tetapi kok beberapa stage terasa agak ’sempit’ dan terlalu ‘berlorong’ ya?)

Play Time: 8.0
Normalnya, menamatkan game ini membutuhkan waktu kurang lebih 12 jam dengan pembagian sekitar 2 - 3 jam per chapternya. Hanya saja, ada beberapa mode permainan tambahan RE 5 yang hanya bisa diakses setelah kamu menamatkan game ini. Selain itu, kamu mungkin akan menamatkan game ini beberapa kali dengan rekanmu. Sekedar catatan, memainkan game ini seorang diri ataupun dengan orang lain sungguh memberi sensasi yang berbeda.

Overall: 8.8

Game Details
Publisher: Capcom
Developer: Capcom
Genre: 3D Action

Comments (38)

Tags: , , , , , , , , ,

Street Fighter IV

Posted on 09 March 2009 by Si Tukang Review

Street Fighter IV Cover

Street Fighter IV Cover

(Review Based on 360 Version)

Before Mortal Kombat, Before Tekken, There is…

Kalau tidak tahu Street Fighter, jangan sebut dirimu sebagai seorang gamer

Ucapan di atas tersebut memang benar. Bila hadirnya Super Mario Bros adalah tonggak dari suksesnya game di konsol rumahan maka Street Fighter II adalah tonggak dari suksesnya game di arcade center. Entah sudah berapa dari kita yang dulu menghabiskan koin demi koin demi mempelajari jurus-jurus lantas menjajal para lawan. Itulah pesona dari Street Fighter yang dihadirkan pada kita.

Sayangnya, setelah Street Fighter II terus muncul dengan segala updatenya (mulai dari Turbo Edition sampai Super Edition) atau versi lainnya (Alpha/Zero maupun EX), animo gamer terhadapnya pun kian menurun. Ketika Street Fighter III hadir, hampir tidak ada orang yang mempedulikannya lagi. Semenjak saat itu, franchise raksasa andalan Capcom pun dikesampingkan dalam serial fighting crossover melawan para superhero Marvel sampai rival-rivalnya di SNK. Tak lama kemudian, ia bahkan mati suri tanpa adanya berita mengenai game baru lagi… sampai berita mengenai Street Fighter IV dimunculkan.

Walau sekarang kiblat game fighting lebih identik dengan Tekken, Soul Calibur, atau Dead or Alive, masih banyak game veteran yang kangen akan Street Fighter dan bertanya-tanya, bagaimana hasilnya apabila sang embah dari game fighting ini digarap untuk gamer dan konsol masa kini. Seakan menjawab kekangenan tersebut, screenshot dan demo dari Street Fighter IV menjanjikan kembalinya karakter-karakter dan gameplay lama yang membuatnya begitu legendaris. Hype pun terus terbangun hingga game ini merupakan salah satu game yang paling dinantikan untuk PS3 dan 360 tahun ini. Bagaimana hasilnya? Apakah Street Fighter IV berhasil menjadi modern classic seperti Street Fighter II? Atau ia akan kembali terlupakan seperti Street Fighter III?

Gameplay Lama Tapi Baru

Buat para pemain lama yang kembali ataupun pemain baru yang datang, selamat datang di Street Fighter. Jangan khawatir kalau jurus-jurus yang dulu kalian kenal sudah usang… karena Capcom masih mempertahankannya. Kalau dulu kamu ingat menggunakan Hadouken berarti bawah, depan, pukul; maka cara mengeluarkan Hadouken pun kini tetap sama. Selain memiliki beberapa gerakan khusus, tiap karakter juga memiliki satu Super Move dan satu Ultra Move. Karena terbatasnya gerakan yang dimiliki seorang karakter, ini memudahkan gamer baru untuk mempelajarinya. Hanya saja, mempelajari seorang karakter dan menguasainya adalah dua hal yang sangat berbeda. Kamu mungkin bisa menghafal jurus satu karakter dalam satu jam, tapi menguasai dan mengefisiensi karakter itu sepenuhnya membutuhkan puluhan - bahkan mungkin ratusan - jam beradu dengan komputer dan orang-orang lain.

Roster yang dihadirkan dalam Street Fighter IV terdiri dari 24 orang yang terbagi dari 16 karakter playable dan 9 karakter unlockable.

16 karakter playable ini terdiri dari 12 karakter lama dari Street Fighter II dan empat wajah baru. Saya tidak perlu menjelaskan terlalu banyak mengenai 12 karakter klasik itu, jadi ijinkan saya membahas lebih dalam mengenai keempat karakter yang baru. Abel adalah seorang prajurit Perancis yang terkena amnesia, Crimson Viper adalah seorang mercenary bayaran yang disewa menghentikan atau mencuri data dari Shadowloo, Rufus seorang gendut yang terobsesi melawan Ken, dan terakhir adalah El Fuerte. Keempat karakter ini mungkin tidak akan langsung mendapat simpati dari para gamer, tetapi mereka makin memberi tambahan warna di dunia Street Fighter.

Untuk sembilan karakter lain yang bisa dibuka, Capcom menyediakan beberapa pilihan favorit fans. Rose (putri dari M. Bison), Cammy (si seksi yang dulu dicuci otak), Fei Long (the Bruce Lee wannabe), Sakura (yang obsesinya pada Ryu belum hilang), Akuma (paman sepeguruan Ryu dan Ken), Dan (belum juga melepas Gi pinknya) dan Gen (guru Chun-Li). Sisa dua karakter lagi-lagi wajah baru dalam dunia Street Fighter (walau yang satu bisa dianggap orang baru yang lama). Pertama adalah Gouken - guru dari Ryu, Ken, Dan juga kakak sepeguruan dari Akuma sementara yang kedua adalah Seth, boss terakhir dalam Street Fighter IV yang memiliki kemampuan menggunakan kekuatan para peserta setelah menyerap data mereka (sedikit banyak motivasi Seth mengingatkanku pada Igniz di King of Fighters 2001).

Street Fighter IV adalah game Street Fighter pertama yang menyediakan online mode. Hanya saja, saya menyarankan untuk memainkan game ini pada tempat dengan kecepatan akses internet yang memadai. Saya sempat mencoba melakukan pertarungan online tetapi gerakan yang tersendat dalam ronde pertamaku membuat saya mengurungkan niat terus mencari lawan di dunia maya. Jangan keburu khawatir, beberapa review yang saya baca di situs luar negeri menyebutkan bahwa mereka bisa memainkan game ini secara lancar-lancar di online mode. (sebagai catatan: internet saya menggunakan Speedy Telkom).

Hal terakhir yang mungkin perlu dicermati dari segi gameplay adalah kontrol. Bukan rahasia bahwa game fighting yang bagus perlu kontrol yang solid dan fluid. Kontrol tidak pernah menjadi masalah ketika Street Fighter IV didemokan dulu di arcade-arcade Jepang mengingat tombol arcade jelas disesuaikan untuk gamenya. Masalah muncul kini karena joystick dari 360 dan PS3 dinilai kurang responsif untuk mengeluarkan jurus-jurus maut dalam game ini. Permasalahan utama mungkin karena beberapa jurus me’maksa’mu menekan shoulder button yang bisa membuat timing mengeksekusi jurusmu meleset. Ada dua solusi untuk permasalahan ini; yang pertama dan sulit tentu saja adalah dengan terus menerus berlatih, Yang mudah tapi perlu biaya? Beli saja joystick / joypad khusus yang didesign untuk memainkan game fighting macam ini.

The Look and Sound of the Current-Gen Fighter

Ketika dulu saya melihat trailer game ini, saya akui kalau Street Fighter IV bukan menarik perhatianku akan sisi gameplaynya, tetapi keindahan grafisnya. Saya penasaran dengan dunia cel-shading yang dijanjikan oleh Capcom. Hasilnya memang tidak mengecewakan. Kalau diperhatikan, karakter Street Fighter memang banyak yang nyeleneh kan? Dhalsim dengan tangan yang super panjang, Blanka yang mirip monyet hijau, Balrog yang mirip Mike Tyson, dan banyak lagi. Oleh karena design karakternya yang aneh itulah transisi ke dunia cel-shading ini saya nilai berhasil. Gaya Street Fighter IV seakan memadukan realisme dunia 3D dengan komikal dunia 2D. Hasilnya adalah tampilan impresif nan menawan. Itu tidak hanya berlaku pada karakternya saja - tetapi juga stage-stage latar belakang. Beberapa stage klasik seperti lapangan terbang Amerika (stage Guile) hadir setelah mengalami redesign ulang. Perlu diketahui juga bahwa walaupun tampilan game ini dalam 3D, tetapi kamu sepenuhnya akan bertarung di satu platform 2D saja (jadi berbeda dengan KOF: Maximum Impact yang memungkinkan kamu melakukan sidestep).

Selama ini Street Fighter dikritik karena tidak memiliki jalan cerita yang jelas. Lompatan besar terutama dilakukan dari Street Fighter II ke III. Street Fighter IV konon menjadi penengah kedua seri itu. Kini, setiap karakter memiliki cerita sendiri yang disampaikan secara singkat melalui animasi opening dan ending. Apabila kalian pernah membaca cerita komik Street Fighter terbitan UDON (terbitan resmi dari Capcom), maka kalian akan sadar banyak aspek dari game ini mengacu darinya (seperti regu Cammy, persahabatan Chun-Li dan Guile, Elisa istri Ken yang juga saudara Guile). Walaupun animasinya masih berkesan terpatah-patah, setidaknya kamu mendapatkan pengertian lebih baik mengenai apa sih yang terjadi di turnamen kali ini. Saya berharap kalau game ini dimunculkan sekuelnya karena ending beberapa karakter saya nilai masih tergantung-gantung.

Bagi kamu para purist yang hanya mencintai seiyuu Jepang saja, bersukacitalah. Capcom memasukkan dua versi suara dalam game ini. Walaupun default suaranya dalam bahasa Inggris, menyelesaikan game ini akan membuka opsi bagimu untuk memilih suara para karakter dalam bahasa Jepang dan Inggris. Saya akui kalau beberapa voice-over dalam bahasa Inggris terdengar lucu dan over-the-top, tetapi melihat nuansa komikal dalam game ini, saya rasa hal itu disengaja supaya memberi citra goofy pada gamenya. Sulit rasanya menganggap serius seorang macam Rufus bukan?

Jadi bagaimanakah penilaian saya mengenai Street Fighter IV? Jawabannya: saya puas sekali. Seri keempat ini mengembalikan apa yang diinginkan oleh fans semenjak dulu dari Capcom. Kembalinya karakter-karakter klasik, dimasukkannya beberapa karakter baru yang bisa blend in dengan para karakter lama (saya rasa di masa depan akan muncul Fei Long-Fei Long ataupun Cammy-Cammy baru dari keempat karakter yang dimasukkan Capcom kali ini. Siapa mereka? Hanya waktu dan pilihan para fans lah yang akan menjawab), grafis dan sound untuk generasi masa kini, juga gameplay fighting 2D yang sudah terbukti adiktifnya. Singkat kata Street Fighter IV menjawab semua yang diinginkan oleh fans. Saya percaya bahwa ini akan menjadi tonggak baru dalam sejarah panjang Street Fighter ke depannya. HADOUKEN!

Final Verdict

Gameplay: 9.5
Kekuatan karakter yang berimbang, roster yang penuh variasi, dan gameplay yang simpel sehingga mudah dipelajari tetapi juga rumit sehingga sulit dikuasai. Satu-satunya kekurang Street Fighter IV hanyalah kontrol yang kurang nyaman - dan itu bukan murni kesalahan gamenya bukan?

Graphic / Sound: 10
Sempurna. Capcom benar-benar memperhatikan nilai artistik game ini. Saya percaya tampilan cel-shading dari Street Fighter IV termasuk yang terbaik di pasar saat ini, bersanding dengan Okami, Viewtiful Joe, serta Prince of Persia. Tambahan animasi opening-ending tiap karakter (bahkan karakter rahasia), fitur dual audio track, sampai lagu opening J-Pop yang cheesy tapi keren juga makin menyempurnakan aspek audio visualnya. Mantap.

Play Time: 9.5
Kamu akan terus menerus memainkan game ini untuk mengasah kemampuanmu. Setelah melawan komputer terasa membosankan, ajak temanmu bermain dan tantang mereka dalam duel. Atau kamu mau jadi Ryu Online? Yang terus berkelana mencari lawan guna mengasah kemampuanmu dan siapa tahu saja pada akhirnya kamu akan menemukan the true ‘path of the warrior’.

Overall: 9.8

Game Details

System: Arcade, 360, PS3, PC (Coming Soon)
Developer: Capcom
Publisher: Capcom
Genre: Fighting

Comments (6)

Tags: , , , ,

The Lord of the Rings - Conquest

Posted on 22 January 2009 by Si Tukang Review

LoTR Conquest Cover

LoTR Conquest Cover

Publisher: Electronic Ars
Developer: Pandemic Studios
Genre: Action

Walaupun trilogi The Lord of the Rings sudah berakhir sejak tahun 2003 dulu, masih banyak pihak merasa bahwa franchise ini bisa meraup untung (apalagi dengan diumumkan bahwa prekuelnya: The Hobbits akan dibuat). Enam tahun kemudian, sebuah video game baru dengan sub-titel: Conquest dirilis oleh publisher EA. Yang membuat Conquest berbeda dengan game-game lainnya, adalah game ini memperbolehkan gamer bermain dari dua pihak; pihak kebaikan di bawah pimpinan Gandalf dan pihak kejahatan di bawah sang kegelapan Sauron itu sendiri. Memainkan pihak kebaikan akan mengikuti cerita Lord of the Rings baik novel maupun film yang sudah kita kenal (dengan beberapa tambahan skenario khusus untuk gamenya), tetapi memainkan pihak kejahatan di bawah Sauron akan memiliki jalan cerita yang sangat berbeda karena gamer bermain dengan tujuan menghancurkan - bukannya menyelamatkan - Middle Earth.

Dalam setiap mode campaign, Conquest memperbolehkan memilih empat job yang ada: Scout, Warrior, Archer, dan Mage. Keempat job ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Scout misalnya jago dalam mengendap dan memiliki kecepatan lebih tinggi dibandingkan karakter lainnya. Pemakaian Warrior dan Archer juga berbeda karena Archer lebih berperan sebagai backup yang memanahi musuh dari kejauhan sementara Warrior langsung maju berhadapan dengan mereka secara frontal. Bagi mereka yang belum terbiasa, saya sarankan memakai job Warrior yang memiliki pertahanan dan stamina lebih kuat dibandingkan karakter lain. Game ini juga menawarkan opsi untuk bermain sebagai ‘hero’ di saat-saat tertentu. Siapakah Hero? Mereka adalah karakter-karakter yang sudah kalian kenal melalui trilogi LoTR. Dalam pihak kebaikan misalnya, mengijinkan anda memainkan Aragorn, Eowyn, Gimli, Legolas, Gandalf, dan banyak lagi. Sebaliknya pihak kegelapan memiliki Balrog, Nazgul, Saruman, sampai sang Sauron itu sendiri.

Campaign Solo dalam game ini tergolong cepat selesai. Masing-masing skenario kira-kira hanya memerlukan waktu lima hingga enam jam untuk selesaikan. Artinya, untuk menyelesaikan kedua skenario utama game tidak akan memakan waktu lebih dari 15 jam. Conquest tergolong mudah dimainkan Solo mengingat setiap kali kamu mati, tidak ada penalti dari gamenya. Kamu bahkan diijinkan untuk respawn (hidup kembali) dalam sekejab. Ini berarti melawan bos yang kuat sekalipun terasa mudah. Apabila kamu salah memilih job untuk melawannya, kamu bisa menjajal melawan bos yang sama dengan menggunakan job lain. Satu-satunya perkecualian adalah ketika kamu mati menggunakan Hero - karena Hero tidak bisa hidup kembali dalam campaign yang sama. Satu-satunya kekalahan yang mungkin kamu derita adalah bila kamu gagal menyelesaikan misi yang diberikan game kepadamu (biasanya mempertahankan atau merebut sebuah wilayah dari musuh).

Conquest memang bukan game yang didesign untuk kamu mainkan seorang diri. Game ini memiliki fitur online dan co-op yang bisa menampung sampai 16 orang bermain bersamaan. Kamu bakalan saling melindungi, mengepung musuh yang lebih kuat raksasa, bahu-membahu memenangkan, atau malahan saling beradu dalam campaign-campaign yang ada. Kala bermain bersama itulah baru benar-benar terasa serunya Conquest.

Final Verdict:

Gameplay: 8.0
Tiap job memiliki kemampuan yang berbeda. Mencoba menguasai tiap job yang diberikan merupakan tantangan tersendiri - tetapi itu baru awalnya. Beradu dan bekerja sama dalam campaign dan variasi multiplayer game.

Graphic / Sound: 8.5
Sebagai game LoTR yang hadir untuk konsol current-gen, grafis Conquest sangat tajam dan berhasil merender 3D dunia Middle Earth. Suaranya juga diperhatikan oleh EA yang mengontrak Hugo Weaving sebagai narator kisah.

Play Time: 9.0
Conquest tidak akan bosan-bosan kamu mainkan, dengan satu syarat: multiplayer. Setelah 15 jam pertama kamu selesaikan dengan memainkan Campaign Solo (dan menguasai karakter-karakter yang disediakan), memainkan ulang game ini di dunia online maupun co-op bersama teman-temanmu akan membuatmu enjoy memainkan Conquest selama puluhan jam ke depan.

Overall: 8.5

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here