Tags: , , , ,

Jak and Daxter: The Lost Frontier

Posted on 05 March 2010 by Si Tukang Review

Jak and Daxter: The Lost Frontier PSP Cover

Jak and Daxter: The Lost Frontier PSP Cover

(Review Based on PSP Version)

Naughty Dog membuat salah satu game platform adventure terbaik di Playstation 2 melalui serial Jak and Daxter. Trilogi game sudah sukses mengumpulkan banyak sekali penghargaan dan membukukan penjualan jutaan unit, bisa dibilang bahkan menggeser hegemoni Crash Bandicoot dan Spyro the Dragon sebagai ikon game platform di konsol hitam itu. Sekarang Naughty Dog sudah beralih ke proyek lain di Playstation 3. ehem… Uncharted… ehem… tapi Sony menyadari bahwa franchise Jak and Daxter masih bisa diperah untuk mendapat keuntungan bagi mereka. Percobaan pertama mereka adalah mengajak developer Ready at Dawn untuk menggarap spin-off dari Jak and Daxter di PSP. Bila dalam trilogi utamanya gamer mengendalikan Jak dalam mayoritas permainan, Daxter menempatkan - sesuai judulnya - Daxter untuk dikendalikan para gamer dalam usahanya menyelamatkan Jak. Game tersebut mendapatkan kesuksesan luar biasa dan sampai sekarang bertahan sebagai salah satu game PSP terbaik.

Sony kemudian memutuskan untuk menaikkan pertaruhan mereka. Bagaimana kalau kali ini bukan cuma sekedar sebuah spin-off? Bagaimana kalau kali ini mereka melanjutkan cerita utama Jak and Daxter? Berhubung Naughty Dog masih terlibat dalam proyek lain, ehem… Uncharted 2… ehem… maka Sony lagi-lagi memanggil developer lain, kali ini High Impact Games untuk menggarap game keempat dalam serial Jak and Daxter. Judulnya adalah The Lost Frontier, dan game ini dirilis untuk PSP dan Playstation 2. Bisakah High Impact Games mengulangi kesuksesan Naughty Dog dan Ready at Dawn?

Game ini berawal dengan saat perjalanan trio Jak, Daxter, dan Keira (pacar Jak) oleh segerombolan bajak laut udara (Sky Pirates). Walaupun awalnya mereka bermusuhan, atas permintaan Keira, Jak dan Daxter sepakat bekerja sama dengan para Sky Pirates untuk mencari Eco Seeker yang bisa menghindarkan dunia dari marabahaya besar. Dalam perjalanannya, Jak dan Daxter juga akan membuka masa lalu dari rombongan Sky Pirates tersebut.

Ini adalah pertama kali saya memainkan serial Jak and Daxter. Dulu saya sempat memainkan game Daxter sebentar, tetapi kemudian permainanku terbengkelalai karena ada lebih banyak game PSP lain yang lebih menarik kumainkan saat itu. Mungkin karena ini saya termasuk kategori gamer yang kebingungan dengan cerita The Lost Frontier. Sudah ceritanya sendiri tergolong semrawut (baca: membingungkan) ditambah dengan game ini tidak berusaha menjelaskan latar belakang cerita dalam game-game sebelumnya.

Dalam The Lost Frontier, gamer akan mengendalikan karakter Jak untuk mayoritas permainan, seperti halnya trilogi awal serial ini. Sebagai Jak kamu memiliki berbagai variasi serangan seperti memukul, melakukan lompatan memukul, dan berbagai amunisi senjata. Apabila serangan fisik Jak bisa terus dilakukan, senjata Jak bisa habis amunisinya. Akan tetapi tidak perlu khawatir karena banyak sekali amunisi berceceran di sepanjang perjalanan Jak mustahil kamu bisa sampai kehabisan amunisi. Toh, kebanyakan musuh di dalam game ini cukup mudah untuk dikalahkan sehingga saya pribadi cenderung menyimpan amunisi untuk menghadapi para boss saja. Setiap kali mengalahkan musuh, Jak akan mendapatkan Dark Eco yang berfungsi sebagai Skill Point-nya game ini. Dark Eco yang dikumpulkan oleh Jak bisa diubah oleh Keira menjadi Red Eco, Yellow Eco, Green Eco, maupun Blue Eco. Masing-masing memiliki upgrade skill yang berbeda untuk Jak. Red Eco misalnya mayoritas skill upgradenya berfungsi menguatkan serangan Jak sementara Green Eco menambah vitalitas / life bar Jak. Ini memberi gamer sedikit kebebasan dalam mengkustomisasi karakter Jak yang mereka mainkan. Bagaimana dengan Daxter sendiri? Sobat setia Jak ini hanya bisa kamu mainkan di bebeberapa segmen tertentu apabila ia terpisah dengan Jak. Karena kena radiasi Dark Eco, Daxter yang kamu mainkan berubah menjadi sosok Dark Daxter.

Selain petualangan di darat, The Lost Frontier memperkenalkan elemen baru: petualangan di udara. Setelah memperbaiki Hellcat (pesawat Jak) yang sempat rusak setelah diserang para Sky Pirates, kamu bisa berkeliling bebas dengannya. Ini juga memberi opsi baru dalam penjelajahan di mana kamu bisa terus menyelesaikan misi-misi utama cerita atau berkeliling sendiri mencari misi-misi sampingan (biasanya sih saya melakukannya untuk menambah pundi-pundi Dark Eco dan membuka skill-skill baru Jak).

Walaupun gameplay dan kontrol game ini sendiri cukup solid, permasalahan terbesar justru datang dari sudut pandang kameranya. Entah kenapa sudut pandangnya membuatku kesulitan melihat obyek-obyek di sekeliling Jak. Lebih gawatnya lagi saya bahkan kesulitan memperkirakan jarak dari satu platform ke platform lainnya yang sering berakibat Jak terjun bebas ke jurang. Sulit menjelaskan ini melalui kata-kata, apalagi karena The Lost Frontier sebenarnya memberi opsi kita memutar kamera secara bebas dengan tombol L dan R, tetapi pada prakteknya ini tidak banyak membantu.

So my verdict is… walaupun The Lost Frontier adalah sebuah game 3D platform yang cukup solid, tapi ia tidak memiliki cukup nilai plus yang membuat game-game sebelumnya menjadi sukses besar. Terbukti banyak situs game memberi The Lost Frontier penilaian suam-suam kuku. Apabila kamu penggemar berat serial ini, jangan berharap terlampau tinggi atau kalian bisa jadi kecewa.

Final Verdict

Gameplay: 6.5
Tidak ada elemen baru yang ditawarkan dalam The Lost Frontier untuk memperkaya serial Jak and Daxter (kecuali elemen terbang, dan itupun tidak maksimal). Stage yang harus dilalui oleh duet Jak and Daxter rata-rata menarik dengan puzzle yang cukup menantang tapi tidak berlebihan kesulitannya. Kekurangan utama gameplay ini ironisnya hadir dari sudut pandang kamera yang sering menganggu permainan.

Graphic / Sound: 7.0
Versi PSP yang saya mainkan memiliki grafis dan suara yang luar biasa tajam dan meriah. Dunia Jak and Daxter yang kaya warna berhasil ditampilkan High Impact Games untuk resolusi layar PSP. Saya juga kagum dengan banyaknya cutscene dan voice acting dalam game ini (walaupun kadang-kadang voice acting Daxter yang over sedikit menganggu). Entah kalau masalah ini pun muncul di versi PS2nya, tetapi game ini terkadang mengalami slowdown ketika memasuki area-area baru.

Play Time: 7.0
Kamu bisa menyelesaikan game ini dalam 10 hingga 15 jam, tergantung apakah kamu ingin langsung menyelesaikan misi utamanya atau ingin melengkapi semua sidequest yang ia tawarkan.

Overall: 6.8

Game Details
Developer: High Impact Games
Publisher: Sony Computer Entertainment
Genre: 3D Platform Adventure

Comments (0)

Tags: , , ,

Godhand

Posted on 27 February 2010 by Si Tukang Review

Godhand Cover

Godhand Cover

(Review Ditulis Di Tahun 2006)

Ketika desas desus Godhand keluar saya benar-benar bersemangat, maklum ini kan keluar dari Clover. Apalagi setelah saya begitu dipuaskan dengan Okami. Saya semakin bersemangat menunggu Godhand. Saya sabar menanti untuk tidak membeli game versi Jepangnya demi mendapatkan versi USnya sehingga saya bisa mengerti ceritanya. Ketika game versi USnya muncul, saya segera bersorak gembira dan menuju ke toko game terdekat guna membelinya. Apakah Godhand berhasil memenuhi harapan saya?

Graphic (5 / 10)

Begitu membuka game ini dan melihat FMV awalnya saya langsung merasa kecewa. Kenapa kualitas grafis dalam game ini sangat jelek? Sangat tidak Clover sekali. Dan lebih parahnya lagi ternyata opening FMVnya begitu singkat (sampai-sampai teman saya yang di samping saya berkata “Hah? Hanya segitu doang openingnya?”). Kekecewaan saya tidak berhenti sampai di sana; begitu masuk ke dalam in-gamenya ternyata kualitas grafisnya sama saja tuh dengan game-game PS2 yang rilis dua atau tiga tahun yang lalu.

Tidak ada yang special pada desain karakternya (beberapa musuh malah monoton karena keluar terus menerus), karakter heronya terbilang culun, dan desain environmentnya buruk sekali. Saya terkejut ketika saya menabrak sebuah dinding dan saya bisa melihat ruangan sebelahnya! Ya ampun, saya tidak percaya game dengan kualitas grafis seburuk ini bisa dibuat oleh Clover. Sebagai catatan, ini Clover yang sama yang mengeluarkan Okami bulan lalu dan menjadi game dengan tampilan grafis terunik dan tercantik tahun ini bagiku. Ini juga Clover yang sama yang mengeluarkan Viewtiful Joe yang memperkenalkan konsep Cel-Shading yang terkenal luas setelahnya. Tidak berlebihan bukan kalau saya mengharapkan sebuah environment yang cantik, inovatif dan berdesain luar biasa?

Hasilnya? Bahkan untuk stagenya pun terasa monoton. Bagi mereka yang pernah menonton serial Tinju Bintang Utara atau Trigun akan langsung merasakan kemiripin latarnya dengan game ini (konon produser game ini sendiri mengaku kalau Godhand ini terinspirasi dengan serial Tinju Bintang Utara). Singkatnya, impresi saya terhadap grafisnya sudah sangat mengecewakan bagiku. Tetapi game yang cantik tidak hanya dilihat dari grafisnya saja bukan? Mari kita lihat aspek-aspek lainnya dari Godhand ini!

Music (7.5 / 10)

Saya nyengir begitu mendengarkan kualitas musik dalam game ini. Hasil musiknya benar-benar sangat menghentak dan khas. Saya benci terus membanding-bandingkan Godhand, tetapi pernahkah anda mendengarkan musik opening dari Trigun yang berciri metal campur western? Ramuan yang sama diambil oleh Godhand dan memang terasa sangat pas! Musik yang menghentak ini mengantarkan semangat kita untuk bisa bangkit dan bertempur habis-habisan. Tidak selang beberapa lama setelah ganti stage, akan ada nada musik baru yang mengiringi perjalanan kita, dan tentunya dengan konsep metal western yang sama. Kualitas suara yang tetap terjaga inilah yang menurut saya salah satu poin terkuat dari Godhand.

Tidak demikian toh dengan voice actingnya. Setiap voice acting karakternya pertama memang terdengar sedikit konyol dan bodoh (duh, kapan ya fasilitas dual bahasa bisa dilakukan? Masa saya harus beli Godhand versi Jepang hanya untuk mendengarkan para seiyuu Jepang bercakap-cakap sih?) tetapi memang setelah lama-lama terbiasa cocok kok dengan suasana dunia Godhand (siapa bilang kalau suasana dunia Godhand itu harus sesangar namanya?). Keluhan saya terutama hanya kepada karakter Olivia. Entah kenapa mendengar pasanganku ini berbicara rasanya kesal sekali, karakter Olivia inilah satu-satunya karakter yang saya rasa tidak ditangani oleh seorang voice actor yang berpengalaman. Sayang sekali, karena kalau suara Olivia lebih seksi lagi mungkin saya akan makin betah menghajar para preman atas permintaannya! (ehem…)

Gameplay (7 / 10)

Sekilas lihat, saya ingin memberi Godhand nilai 8 untuk gameplaynya. Tetapi setelah memainkannya lama, saya terpaksa menurunkan nilainya. Apa pasal? Pertama-tama, saya harus mengatakan kalau gameplay pertarungan dalam Godhand ini begitu luar biasa. Ada begitu banyak jurus-jurus yang bisa anda beli dan anda pakai dalam pertarungan. Jurus-jurus ini bisa dibilang adalah kunci menuju kemenangan anda. Semakin banyak jurus kuat yang anda pelajari, maka semakin beragamlah serangan yang bisa anda lancarkan kepada musuh anda.

Kalau jurus standar saja tidak cukup, ada dua upgrade power yang bisa anda lakukan di tengah permainan. Yang pertama adalah mode serangan Roulette di mana anda diberi kesempatan untuk mengeluarkan jurus special yang bisa menghajar dan menguras energi lawan bila terkena dengan telak (jurus-jurus Roulette pun makin lama bisa makin bervariasi kalau anda membelinya!). Dan yang kedua adalah Godhand; jangan keburu senang membayangkan Godhand itu, pada kenyataannya Godhand hanya membuat anda semakin cepat dalam melakukan serangan dan gerakan juga makin kuat dalam setiap serangan anda. Tidak sespesial itu menurutku sampai harus dijadikan judul gamenya, lagipula penggunaan Godhand ini akan dilakukan sangat-sangat jarang (saya sendiri sering menyimpannya untuk melawan Demon atau Boss saja).

Dengan banyak variasi bertarung ini, seharusnya Godhand bisa menjadi sebuah game aksi yang menarik, tetapi sayangnya karena AI musuh (setidaknya pada mode normal yang kucoba) tidak terlalu tangguh, tantangan terasa kurang, anda akan lebih mengandalkan konsep button mashing semata ketimbang benar-benar memikirkan strategi apa yang harus anda pakai untuk menjatuhkan musuh-musuh anda. Untuk sebuah game aksi petualangan saya sih masih memilih pertarungan dalam Yakuza. Belum lagi ditambah kamera yang buruk (kalau kadang saya bisa melihat musuh di ruangan sebelah, maka mana unsur serunya?) dan kendati kendali kontrolnya responsif, saya kurang suka dengan konsep anda harus memutar karakter dulu sebelum berjalan ke arah tersebut (membuat saya kesulitan menghindari serangan lawan bila terjepit dari belakang).

Singkatnya, Godhand sebenarnya sudah keren dalam konsep pengembangan gameplay yang rumit, tapi mungkin karena terlalu keasyikan mengembangkan konsep-konsep rumit itu, Godhand malahan keblinger dengan hal-hal yang mendasar seperti setting kamera atau AI musuh dalam game ini.

Longetivity (5 / 10)

Saat untuk mempelajari game ini sekitar 1 jam, ketika saya masih belum seberapa paham dengan konsep gameplaynya; saya berulang kali tewas dalam memainkan game ini. Tetapi setelah saya berhasil menguasai dasar-dasar dalam menghindari serangan dalam game ini (pakai analog stik kanan anda… sangat membantu) maka game ini pun mulai menjadi menantang dan menyenangkan.

Sayangnya setelah memainkannya sampai hampir 6 jam, saya mulai merasa bosan dengan pertarungan monoton dan kurang variatif dalam Godhand. Toh saya masih memaksakan untuk main demi mengikut jalan ceritanya yang sudah tanggung saya ikuti. Sekarang saya sudah memainkan game ini sampai sekitar 8 jam, dan tebakan saya adalah game ini bisa diselesaikan setelah kita memainkannya 12 sampai 15 jam.

Apakah saya tertarik untuk memainkannya lagi? Sayangnya tidak. Cukup sekali bagiku menyelesaikan dunia Godhand tanpa ingin melibatkan diri saya lebih jauh lagi di dalamnya.

Editor’s Tilt (6 / 10)

Awalnya sih saya sempat skeptis dan kecewa sekali dengan Godhand yang meleset dari perkiraan awal saya (sekali lagi inilah akibatnya kalau memiliki ekspektasi berlebihan terhadap sebuah game, kenapa saya tidak belajar dari pengalaman saya ketika mengharapkan Dirge of Cerberus dulu ya?). Gameplay Godhand ini ternyata memang lebih condong ke button mashing ditambah dengan kemampuan anda untuk jago menghindari serangan lawan (Hit-run-evade mungkin?).

Lumayan sebenarnya battlenya dan gameplay yang ditawarkan di dalam permainan, tetapi kurang adanya variasi sepanjang permainan membuat saya cepat merasa bosan sepanjang mengikuti permainan (mini-game kasino ternyata kurang bisa menarik perhatian saya untuk lama). Dan karakter Olivia entah kenapa muncul di dalam cerita apabila kerjaannya hanya merepotkanku saja. Ceritanya sendiri? Sebenarnya standar-standar saja, dan yang membuat saya tertawa terbahak-bahak karena kekliseannya adalah munculnya seorang saingan Godhand yang memiliki tangan serupa dan menamakan dirinya (BUKAN SPOILER)… Demonhand. Astaga! Setidaknya kekonyolan-kekonyolan bodoh seperti inilah yang membuat saya terpikat akan cerita Godhand, jangan-jangan memang itu yang diharapkan Clover?

Akhirnya walaupun tidak sekecewa Dirge of Cerberus, Godhand bukanlah sebuah game yang berhasil memuaskanku. Amat disayangkan!

Average: 6.1

Game Details
Developer: Clover Studio
Publisher: Capcom
Genre: Action

Comments (0)

Tags: , , , , , , ,

Wild Arms Alter Code F

Posted on 05 November 2009 by Si Tukang Review

Wild Arms Alter Code F Cover

Wild Arms Alter Code F Cover

Wild Arms Alter Code F adalah sebuah proyek yang dulu membuat saya bersorak gembira. Maklum saja, Alter Code F merupakan remake ulang dari Wild Arms pertama, yang banyak disebut para RPGer veteran sebagai Wild Arms terbaik. Saya sendiri tidak pernah berkesempatan mencicipi game orisinilnya karena saya membeli Playstation pertama di akhir siklus hidupnya (Wild Arms pertama muncul di awal siklus Playstation). Hanya saja saya menyimpan sedikit kekhawatiran. Kalau di dunia perfilman, rata-rata remake berujung pada kegagalan. Jangan-jangan Alter Code F ini juga nantinya gagal dan menyia-nyiakan nama besar Wild Arms?

Graphic (7 / 10)

Saya sempat melihat kualitas grafis dari Wild Arms pertama dahulu. Kelihatannya sudah jelas bahwa kualitas grafis pada Alter Code F jelas lebih baik ketimbang versi originalnya. Perhatikan saja pada dungeon yang ada, kota-kota, sampai pada render karakternya. Semuanya dibuat dengan ukuran yang sebenarnya, berbeda dengan versi awal di mana karakternya digarap dengan render Chi-Bi.

Walau begitu, saya yang pernah memainkan Wild Arms 2 dulu kok merasa kalau kualitas grafis Wild Arms 2 lebih cocok untuk selera saya. Apalagi karena Alter Code kelihatannya masih inferior dibandingkan dengan RPG PS2 yang dirilis bersamaan dengannya (bandingkan saja dengan Final Fantasy X yang sudah dirilis beberapa tahun sebelumnya).

Perubahan paling mencolok, sekaligus mungkin yang paling mengecewakan bagi saya adalah desain karakternya. Wild Arms adalah koboi bung. Garapan desain bernuansa shoujo jelas tidak cocok untuk suasana western Wild Arms. Desain Rudy terutama, kenapa dia malahan terlihat bagaikan seorang anak kecil yang begitu feminin. Saya mencoba menanyakan kepada beberapa teman saya dan kelihatannya kebanyakan dari mereka setuju dengan saya. Untung saja karakter macam Jack dan Cecilia tidak mengalami perubahan yang terlalu mencolok (walau karakter Cecilia di sini konon terlihat kurang tegas dan berwibawa ketimbang Cecilia pada versi orisinilnya).

Sound (8.5 / 10)

Kekecewaan saya ketika menikmati animasi awal yang memiliki nuansa shoujo itu terobati ketika mendengar musiknya. Siulan legendaris opening Wild Arms itu masih ada. Petikan gitar yang menutup opening theme itu juga masih mendenting. Saya sejujurnya sangat lega, karena Wild Arms adalah satu-satunya RPG yang tidak pernah saya mainkan, tetapi saya sangat puas dengan musik-musiknya (Ya, lebih puas bahkan dibandingkan dengan musik Wild Arms 2 dan 3 yang sempat saya mainkan). Saya berani bilang bahkan bahwa musik Michiko Naruke adalah yang terbaik di sini (bukan berarti Wild Arms berikutnya musiknya jelek, mungkin karena Wild Arms ini yang pertama sehingga corak musik yang berbedanya terlihat begitu jelas dan nendang dibanding OST RPG lain pada jamannya).

Ketika saya mencoba masuk World Map dan Battle pun, musik-musik yang saya dapat di sini tidak kalah memorablenya, untuk bagian musik ini, saya rasa tidak berlebihan bagi saya kalau akan memburu OSTnya usai memainkan game ini!

Untuk efek suara lainnya juga digarap dengan baik. Yang paling memorable bagi saya jelas ketika Rudy menembakkan ARM yang ia miliki. Andaikata anda memiliki suara stereo yang menggelegar, bunyi letusan ini jelas akan sangat anda nikmati – apalagi bila dibarengi dengan kematian musuh anda!

Voice Acting dalam game ini masih belum ada, walaupun hal itu bukan suatu yang terlalu signifikan (mengingat Rudy sang karakter utama toh masih ‘bisu’ seperti dulu).

Gameplay (7 / 10)

Inilah yang mungkin mendapatkan sangat banyak perombakan dalam Alter Code F. Sistem dalam game ini banyak mengadaptasi semua game Wild Arms sebelumnya. Contoh yang paling signifikan adalah di World Map anda masih harus menggunakan Search System untuk memunculkan sebuah wilayah di World Map. Maksudnya begini, anda harus mencari informasi mengenai lokasi tertentu. Setelah mendapatkan informasi tersebut, katakanlah “Kota B ada di selatan kota A”, anda bisa menuju ke selatan kota B dan mencoba mencari di sana untuk membuka lokasi itu di World Map.

Untuk pertarungannya sendiri, Wild Arms cukup simpel karena anda bisa menggunakan tiga karakter untuk bertarung. Apabila anda bisa merekrut lima karakter tambahan (Ya! Remake ini membiarkan anda merekrut lima orang yang dahulu konon tidak bergabung secara permanen di dalam grup anda), maka anda bisa bergantian dalam bertarung. Untuk sistemnya sendiri cukup simpel, karena terdiri dari serangan biasa, bertahan, menggunakan item / magic, atau kemampuan khusus. Yang unik, anda tidak bisa lari dari pertarungan malahan bisa continue kalau anda Game Over (dengan menggunakan item tertentu).

Alter Code juga masih sama seperti dulu di mana anda tidak memiliki kebebasan untuk mengkustomisasi equipment dari setiap karakter anda. Sebagai timbal baliknya, game ini membiarkan anda mengkustomisasi kemampuan karakter anda sebebas-bebasnya (kecuali Jack mungkin). Rudy misalnya memiliki kemampuan untuk mengupgrade segala aspek senjata ARM beserta peluru yang ia miliki. Cecilia bisa mendapatkan Guardian ia summon, beserta sihir yang dapat ia gunakan begitu diciptakan. Karakter tambahan yang anda rekrut juga memiliki kemampuan menyerap kemampuan musuh, atau mencuri musuh. Inilah yang nikmat dalam memainkan Wild Arms. Semua karakter memiliki ciri khas mereka sendiri dan bisa bertarung dengan gaya mereka masing-masing tanpa inferior satu sama lainnya.

Keluhan dalam bidang gameplay ini terletak pada random battlenya. Saya tidak tahu apa yang ada di benak developer game ini ketika menyusun persentase random battlenya. Random battle ditandai dengan munculnya tanda seru di atas kepala karakter. Tergantung warnanya, tanda seru ini menandai status awal pertarungan anda.

Merah berarti anda mendapat serangan mendadak di mana anda tidak bisa mengcancel pertarungan tersebut, Hijau berarti anda akan mendapatkan kesempatan untuk menyerang pertama kalinya (Pre-emptive strike), dan Putih adalah pertarungan normal. Anda memang diperbolehkan untuk mengcancel pertarungan asalkan battle itu bukan sebuah serangan mendadak, masalahnya setiap kali anda mengcancel pertarungan, gauge ENC anda akan berkurang sampai habis; tentu saja setelah gauge ini habis, anda tidak bisa lagi mengcancel pertarungan yang ada.

Yang menyebalkan, random encounter dalam game ini ratenya sangat tinggi. Dalam satu dungeon saja, tanpa perlu berputar-putar mencari musuh anda akan mendapati bertarung sekurang-kurangnya 50 kali (bila anda tidak mengcancel pertarungan sama sekali). Anda baru melangkah tiga langkah lantas ada tanda seru di mana anda harus siap bertarung. Selesai bertarung, melangkah tiga kali lagi dan anda siap-siap bertarung lagi. Ini membuat game Alter Code serasa panjang, juga melelahkan.

Untung saja battle demi battle yang seakan tak berujung itu membuahkan hasil yang manis karena jalinan cerita dalam Alter Code masih teruntai dengan apik. Memang perluasan skenario membiarkan kita mengenali karakter yang ada secara lebih mendalam (seperti pada masa lalu Rudy yang kali ini disinggung secara lumayan mendetail). Sayangnya, ada juga imbas bagi perluasan skenario ini. Beberapa teman saya mengeluhkan karakter yang ada dalam game ini menjadi berubah, beberapa karakter yang keren jadi kurang keren, beberapa yang seharusnya tampak dewasa jadi tampak cengeng. Saya sendiri karena tidak pernah memainkan versi orisinilnya menganggap kalau cerita dalam Alter Code F ini menarik-menarik saja.

Longetivity (7 / 10)

Longetivity adalah satu lagi nilai kuat dalam game ini. Ada berbagai subquest yang dipertahankan dari versi orisinil (termasuk sumbangan membangun kota yang ‘mahal’ itu) dan monster-monster kuat yang tersembunyi di seluruh dunia Filgaia, siap untuk anda habisi dan kalahkan.

Anda merasa itu tidak cukup? Ada berbagai item dan puzzle yang berserakan di seluruh dunia, kalau anda cukup telaten, jelajahi setiap bagian dari Filgaia dan temukan harta-harta yang tersembunyi dalam tanahnya. Subquest-subquest ini dijamin membuat petualangan anda ke dunia Filgaia lebih lama ketimbang yang anda harapkan.

Lantas bagaimana panjang game ini sendiri tanpa memakai subquest? Saya sendiri menyelesaikan game ini dalam waktu sekitar 50 jam dengan level yang cukup (berarti tidak sangat rendah sampai saya kesulitan melawan boss terakhir, tetapi tidak cukup tinggi untuk menantang sang dewa monster dalam game ini). Perkiraan saya, game ini akan memakan waktu antara 40 sampai 60 jam apabila anda memainkan game ini tanpa memikirkan ataupun menyelesaikan subquest-subquest yang ada.

Editor’s Tilt (7 / 10)

Hampir semuanya dalam Alter Code ini memuaskan saya sebagai seorang penggemar RPG (ingat, saya tidak pernah memainkan versi orisinilnya!). Jalan cerita Wild Arms simpel tetapi berhasil menghadirkan karakter-karakter yang menggugah hati; walau ada bagian-bagian yang agak membosankan dan terlalu didramatisir.

Nilai minus terutama dalam game ini mungkin hanya terletak pada random battlenya yang terlalu banyak dan puzzlenya. Puzzlenya terlewat sulit? Sebaliknya, karena terbiasa memainkan Lufia 2 dan Wild Arms 2, teka-teki dan puzzle dalam Wild Arms kurang memberi tantangan bagi saya.

Terakhir, adalah ketidakfleksibelan game ini dalam equipment yang ada. Tidak bisa beli senjata, tidak bisa beli armor ataupun accessory, ternyata cukup menganggu bagi saya karena karakter hanya bisa lebih kuat dengan menaikkan levelnya semata. Bisa juga sih dengan cara equip skill, tetapi toh skill juga hanya bisa diequip dengan ‘memakan’ point level anda; pada akhirnya level yang tinggilah yang memungkinkan anda memakai skill sebanyak mungkin sekaligus bertahan di tengah dunia western medieval yang ganas ini!

Average: 7.5

Game Details
Developer: Media Vision
Publisher: Sony
Genre: RPG

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Final Fight Streetwise

Posted on 08 August 2009 by Si Tukang Review

Final Fight Streetwise Cover

Final Fight Streetwise Cover

Final Fight adalah salah satu pelopor Beat Em Up modern. Memang semua orang mengenal Beat Em Up semenjak Nintendo saat Double Dragon muncul, tetapi duo Final Fight dan Street of Rage (Bare Knuckle) yang mengangkat Beat Em Up ke masa-masa keemasannya. Sekuel terakhir Final Fight adalah pada seri ketiga ketika diluncurkan di SNES. Semenjak itu, Final Fight mengalami mati suri. Dua karakternya seperti Guy dan Cody hanya bisa dinikmati melalui game duel Capcom Street Fighter Zero. Tetapi akhirnya tahun ini, Capcom memutuskan untuk membuat sekuel sesungguhnya dari Final Fight dan merombak konsepnya secara keseluruhan!

Graphic (7 / 10)

Dalam in-gamenya sendiri, grafis dari Streetwise ini cukup baik. Detail bangunannya tampak indah dan megah. Saya sendiri menyukai lingkungan dari Metro City yang dirender 3D ini. Yang paling terkenang mungkin adalah saat saya memasuki bagian subway. Jadi teringat ketika saya sedang memainkan Final Fight klasik dulu! Sayangnya, dalam FMV pun tidak ada peningkatan (jadi serasa hanya menonton cut-scene saja, which is bad).

Menurut saya karakternya juga kelihatan original dan menarik. Desain dari karakter baru seperti Kyle, Vanessa, Blade, dan lainnya tampak baru dan cukup inovatif. Bagaimana dengan tiga karakter lama dari Final Fight dahulu? Cody, Haggar, dan Guy semuanya kembali dengan desain baru (kecuali Haggar yang mungkin agak mirip dengan desain lamanya). Yang paling saya sukai di antara ketiganya adalah desain Cody (dengan baju bekas penjaranya, karena game ini nampaknya adalah kelanjutan dari saat di mana Cody sudah keluar dari penjara). Bandingkan dengan Guy yang malah dapat tambahan tato norak!

Yang saya sayangkan adalah para pejalan kaki dalam game ini. Mereka masing-masing kok tampilannya mirip dan kurang variatif. Lantas ke mana ya yang namanya mobil di dalam game ini? Jalanan di Metro City seakan-akan cuma dipenuhi oleh pejalan kaki dan kekurangan alat transportasi selain subway! Lebih lanjut mengenai Metro City, kota ini ternyata dibagi menjadi empat bagian yang masing-masing sepertinya memiliki ‘penguasa’ wilayahnya sendiri. Keempat daerah ini memiliki karakteristik masing-masing yang membedakannya satu dengan lainnya.

Sound (8.5 / 10)

Ini jelas merupakan aspek terbaik dari seluruh game ini. Streetwise menghadirkan berbagai macam lagu hip hop metal yang senada dengan gaya urban dalam game ini. Mungkin kalau dalam hal macam free-roaming begini hanya GTA saja yang menawarkan soundtrack lebih bervariasi!

Kemudian pengisian suara karakternya benar-benar dilakukan dengan baik. Vanessa diisi dengan suara gadis seksi ala penjaga bar. Kemudian Blade mirip dengan seorang psikopat sungguhan. Cody dan Kyle juga diisi dengan pengisi suara ala seorang pemuda jagoan jalanan. Guy walaupun saya nilai paling kurang di sini toh juga memiliki aksen suara oriental yang kental dalam Inggrisnya.

Sektor ini sebenarnya ingin saya beri nilai 9, tetapi saya reduksi menjadi 8.5 karena dua kelemahan di dalamnya. Yang pertama sekali lagi suara environmentnya. Aduh, kenapa semua orang yang berbicara dengan Kyle suaranya buruk sekali (bandingkan dengan GTA misalnya yang suaranya lebih hidup dan bervariasi). Kemudian terlalu banyak makian dalam game ini. Hitung saja ada berapa kali kata “s*it” ataupun kata “f*ck” muncul dalam game ini! Pertamanya memang menarik dan menggambarkan karakternya sebagai tough. Tetapi setelah kelamaan, kok jadi seorang yang temperamental dan kurang pendidikan ya?

Gameplay (6 / 10)

Begitu banyak potensi dalam game ini yang sayangnya gagal dikembangkan maksimum oleh Capcom. Memainkan Streetwise di mata saya mirip dengan memainkan Final Fight, GTA, dan Resident Evil dicampur menjadi satu. Ada acara pukul memukul ala Final Fight klasik (yang diperbarui dalam dunia 3D), kemudian ada konsep free-roaming di Metro City yang mengambil dari GTA (lebih mirip ke Shenmue sebenarnya), dan terakhir ada drug yang membuat orang menjadi seperti mayat hidup – dan bila terekspos dalam kadar lebih tinggi menjadikan orang itu monster.. ehem.. seperti G-Virus dan T-Virus.

Kita diberi kesempatan mengendalikan Kyle Travers di sini. Kyle adalah adik dari Cody Travers yang tersohor dari Final Fight itu. Sang kakak kelihatannya sedang tersandung masalah di sini dan Kyle harus menyelesaikan masalah itu. Yang lebih buruk lagi, Cody tersangkut dalam masalah sebuah penyelundupan dan penyebaran obat ilegal bernama GLOW di Metro City. Kyle harus berkelana dari The Hood tempatnya sampai ke daerah Little Italy bahkan Japantown untuk mencari tahu mengenai keberadaan Cody. Sepanjang perjalanannya ia akan bertemu dengan musuh-musuh yang mengincar nyawanya, dan juga sahabat-sahabat lama Cody yang akan membantunya.

Kontrol dalam game ini lumayan mudah dilakukan. Tidak makan waktu banyak bagi anda untuk mahir menggunakan kombo-kombo dalam game ini.Yang menyebalkan adalah sudut pandang dalam game ini yang terkadang default anglenya buruk sekali. Saya berkali-kali harus memutar kameranya apabila sedang berada dalam pertarungan di ruangan sempit karena kameranya berkali-kali menyorot Kyle terlalu dekat. Kombo-kombo dalam game ini juga perannya kurang signifikan sebab Kyle hampir pasti bisa menghajar semua musuh dengan kombo-kombo default yang telah ia miliki.

Mau dibilang free-roaming ala GTA, nyatanya Streetwise kurang memberikan kebebasan untuk itu. Metro City rasanya terlalu sempit untuk dijelajahi apalagi untuk dibandingkan dengan GTA. Capcom berusaha mengkompensasikannya dengan berbagai mini-game dalam game ini. Beberapa mini gamenya unik dan tolol seperti menginjak kecoa atau menghancurkan mobil, tetapi harus saya akui cukup menarik. Permainan mini-game ini akan menghasilkan uang apabila anda menyelesaikannya dan uang itu bisa berguna bagi anda untuk membeli jurus-jurus baru.

Kompensasi lain Capcom adalah menyediakan beberapa bonus features yang sekali lagi kurang menarik. Ada tiga video klip dari penyanyi OST dalam game ini. Dua tambahan feature lainnya adalah dua jenis Arcade mode dari Final Fight. Yang pertama adalah Final Fight klasik yang emulasinya sangat buruk karena tersendat-sendat (saya tidak mengerti kenapa Capcom yang bisa mengemulasikan game SNES begitu sempurna ke GBA malahan gagal total mengemulasikannya ke PS2?!). Dan yang kedua adalah Final Fight Arcade modern yang bergaya main ala Crisis Beat dulu. Kedua bonus game ini bisa dimainkan secara kooperatif dengan teman anda.

Longetivity (6 / 10)

Pendek sekali. Saya menyelesaikan game ini dalam waktu kurang lebih 6 sampai 7 jam dengan melengkapi semua skill yang ada, meningkatkan respect saya di semua wilayah, melengkapi dan membeli semua OST yang ada, menyelesaikan semua mini game yang ada, dan intinya saya mendapatkan segalanya 100% dalam kurun waktu tersebut. Sementara saya tidak tertarik sesungguhnya dengan game ini dari segi gameplay, saya cukup terkesan dengan segi cerita yang ditawarkan oleh Streetwise. Mereka benar-benar berusaha mengembangkan sifat-sifat karakter Final Fight dahulu. Satu hal saja yang saya bingung, ke mana perginya Jessica yang merupakan pacar Cody ya dalam game ini? Kok dia sama sekali tidak muncul? Lantas bagaimana hubungan Haggar, Guy, dengan Cody selanjutnya?

Nah, karena mengikutinya demi storyline saja, bisa dibilang sajian utama dalam Final Fight ini hanya akan saya nikmati sekali. Beda cerita kalau dengan Arcade Modenya (yang versi modern). Karena kritis game beat me up yang menawakan sistem kooperasi di PS2, game ini menjadi alternatif yang menyenangkan bagi saya dan teman saya untuk menyelesaikannya. Sintingnya, Capcom tidak menawarkan opsi Continue sehingga kalau saya dan teman saya Game Over, terpaksalah kita mengulangi versi Arcadenya dari awal. Ini meningkatkan status replayability dan longetivity dari game ini, walau tidak banyak.

Editor’s Tilt (7 / 10)

Secara keseluruhan, saya bisa dibilang cukup menikmati game ini. Kendati game ini menyisakan begitu banyak ruang untuk diperbaiki kalau digarap sekuelnya nanti (saya harap dibuat!), setidaknya game ini telah berhasil meninggalkan landasan dasar yang kokoh untuk seri Final Fight modern.

Harapan saya untuk game berikutnya adalah lebih banyak lagi mengikut-sertakan karakter dari Final Fight lainnya (memang yang mainstream adalah ketiga orang itu, tetapi ada banyak bukan karakter dari Final Fight lainnya? Saya menunggu keluarnya Maki misalnya!). Kemudian Metro City saya harap bisa diperluas lebih besar lagi. Ayolah Capcom, jangan pelit begitu. Metro City kurang asyik dijelajahi bila hanya sebesar itu.

Average: 6.9

Game Details
Developer: Capcom
Publisher: Capcom
Genre: Action / Beat Em Up

Comments (0)

Tags: , , ,

Battle Stadium DON

Posted on 17 May 2009 by Si Tukang Review

Battle Stadium D.O.N. Cover

Battle Stadium D.O.N. Cover

(Review Based on PS2 Version)

Dragon Ball. One Piece. Naruto. Ketiga serial anime ini bisa dibilang paling populer sepanjang masa. Tidak terhitung jumlah fanfic yang mengadu karakter dari ketiga anime ini. Sayangnya, satu-satunya kesempatan bagi gamer untuk mencoba mendapatkan pengalaman ini hanyalah melalui Jump Superstar via Nintendo DS. Tidak puas sekedar Jump Superstar semata, akhirnya Bandai Namco melahirkan game berjudul Battle Stadium D.O.N. (diambil dari akronim ketiga serial di atas). Mungkin tidak sesinting Jump Superstar, tetapi jelas memuaskan dahaga dari fans ketiga serial tersebut!

Graphic (8 / 10)

Grafisnya menarik. Memang bukan yang terbaik untuk ukuran PS2 dan GC. Tetapi cel shading karakternya yang bernuansa 3D tergambar chibi dan imut. Karakter-karakter dalam game ini sangat menyerupai karakter aslinya dalam anime. Tidak hanya itu, variasi stagenya juga dibuat semirip mungkin. Anda-anda yang pernah menonton ketiga serial tersebut pasti akan segera familiar dengan tempat-tempat yang ada dalam gamenya. Contohnya untuk serial Naruto ada pada stage hutan terlarang (dan bahkan ada ular raksasa Orochimaru mengejar anda!)

Bonus lain yang jelas membuat saya terbahak-bahak ada pada opening dan ending sequence. Bayangkan saja. Naruto dan kawan-kawan sedang mau makan ramen kesukaan mereka ketika mendadak sebuah tangan panjang ala karet mengambil kesemuanya itu. Belum hilang rasa kaget mereka, mendadak muncullah orang yang sudah makan bertumpuk-tumpuk ramen! Goku, Luffy, dan Naruto!

Urusan grafis ditangani secara benar oleh Bandai Namco di sini. Saya sangat puas. Siapa peduli grafis harus nomer satu? Yang penting bisa mentranslasikan nafas animenya secara sempurna ke dalam game!

Sound (7 / 10)

Untuk musiknya mungkin tidak terlalu menjadi sorotan utama dalam game ini. Maklum saja, dalam pertarungan kita lebih banyak mendengar jurus orang-orang dan teriakan-teriakan di dalamnya. Hanya saja saya mengeluhkan opening movie awal dari game ini. Mengecewakan sekali karena terlalu condong ke nuansa Dragon Ball. Bandingkan opening dari game ini dengan opening dari Dragon Ball, Naruto, dan One Piece. Terlihat sekali openingnya ini familiar dengan nuansa Dragon Ball.

Untungnya saja hal ini ditebus dengan musik pengiring stage tertentu, yang kalau diperhatikan baik-baik, berasal dari serial anime yang sama juga. Stage Naruto akan memiliki lagu bertema Naruto, dan begitu juga stage dalam Dragon Ball dan One Piece. Pengisi suaranya juga sangat memuaskan karena mengambil langsung karakter dari animenya (walaupun setelah mendengarkan suara Goku saya sedikit kecewa. Wah, Goku tidak segahar yang kukira – maklum saya tidak pernah menonton serial Dragon Ball dengan suara aslinya).

Gameplay (6 / 10)

Seandainya game ini hanya dirilis untuk PS2 saja, saya mungkin akan bermurah hati dan memberinya nilai 7. Tetapi karena juga dirilis untuk GC, maka secara tidak langsung saya harus membandingkan game ini dengan Super Smash Bros Meelee yang sudah kadung terkenal itu. Bagaimana hasilnya?

Pertama-tama, variasi karakter dalam game ini rasanya kurang. 20 karakter saja? Wah, ini mengecewakan sejujurnya. One Piece mendapat 6 karakter – Naruto juga mendapat 6 karakter dan Dragon Ball mendapat 8 karakter (mungkin karena mereka senior). Ingat kalau game Naruto Narutimate Hero saja bisa memiliki 40 karakter lebih! Saya sebenarnya berharap kalau setidaknya bisa ada 25 karakter dalam game ini. Beri saya Shikamaru! Beri saya Robin! Beri saya Kuririn!

Karakternya celakanya walau bervariasi, tetapi pada aslinya saat dimainkan anda hampir tidak menyadari perbedaan antara mereka. Jurus-jurus tiap karakter memang keluar, tetapi hampir semuanya mirip. Saya mengharapkan adanya diferensiasi karakter yang lebih berimbang. Secara keseluruhan, karakter anda memiliki satu tombol serangan normal, dan satu serangan super yang memerlukan power di gauge anda terisi. Untuk menang dalam pertarungan, anda perlu menghantam dan mengambil orb merah milik lawan anda sebanyak mungkin. Mereka yang punya orb terbanyak di akhir pertarungan atau sukses menghabiskan orb semua lawannya akan menjadi pemenang! Dan itu berarti tidak ada yang namanya life gauge di dalam game ini. Karakter yang sudah kehabisan semua orbnya sekalipun masi dapat bertarung selama belum ada karakter yang menguasai semua orb. Lantas ini berarti pertarungan bisa tidak selesai-selesai dong?

Bandai Namco menyadari hal ini dan menambahkan konsep BURST dalam pertarungan. Artinya? Karakter yang mendapatkan mayoritas orb akan mendapatkan kondisi BURST. Dalam kondisi ini bisa dibilang karakter menjadi lebih kuat dari sebelumnya, dan ini jelas memudahkan mereka menguasai alur pertarungan. BURST ini juga diasosiasikan Bandai Namco dengan karakter tertentu. Misalnya Goku dalam mode BURST akan menjadi Super Saiyan!

Di Playstation 2 di mana konsep bertarung tawuran ala ini jarang (atau malah tidak ada?) game ini jelas menjadi penghibur yang menyenangkan untuk dimainkan. Sedangkan mereka yang memiliki Gamecube saya rasa lebih baik memainkan ulang saja Super Smash Bros.

Oh, satu kelemahan lain dalam game ini adalah cara mengunlock stage ataupun karakter yang ada. Anda harus menggunakan mesin slot untuk membuka karakter-karakter, dan rahasia yang ada. Aduh, ini benar-benar membuat malas. Anda harus memainkan game yang sama berulang-ulang (dan melakukan tugas-tugas bodoh selama bermain demi mendapat token) demi mengunlock stage dan karakter yang ada (dan percayalah, mengunlock karakter bisa menjadi hal yang sangat bikin frustasi!)

Longetivitiy (7 / 10)

Untuk dimainkan sendiri, game ini tidak akan memakan waktu lama. Saya memainkannya sekitar 30 menit seorang diri untuk menamatkan game ini dua kali dalam tingkat kesulitan easy. Saya memainkannya lagi selama 2 jam kemudian dalam tingkat kesulitan normal dan menamatkannya entah berapa puluh kali. Lalu saya bosan. Bisa dibilang tantangan game ini dalam single modenya hanyalah untuk mendapatkan semua karakter yang ada, lalu anda mungkin mau mencoba mode Survival Mode.

Lain halnya kalau bicara soal main bersama dengan teman anda. Game ini bisa memainka sampai 4 orang sekaligus, jadi ini berita bagus bagi mereka yang memiliki multitap! Pertempuran sinting-sintingan sampai 4 orang sekaligus bisa jadi sangat menarik, adiktif dan seru. Anda bisa bersatu dengan teman anda mengeroyok teman anda yang sedang unggul misalnya. Anda juga bisa saling bunuh-bunuhan sendiri. Semuanya menarik dan variatif. Apalagi stage-stagenya sendiri memang berbeda dan memberi kesan sendiri (ada stage yang bergerak horizontal, vertikal, dan banyak arah lagi!).

Editor’s Tilt (7 / 10)

Menurut saya game ini sangat layak ditunggu oleh mereka penggemar berat seri animenya. Maksudku kapan lagi kita bisa menandingkan Zoro dengan Trunks? Kapan lagi Sanji bisa beradu mesum… maksudku jurus dengan Kakashi? Inilah game yang bisa mewujudkan angan-angan tersebut. Hanya saja bagi mereka yang menggemari game fighting – jangan harap game ini akan bisa memuaskan dahaga kalian akan game fighting sungguhan. Ini lebih bertipe seperti alternative fighting yang menyenangkan untuk dimainkan bersama, dari mereka yang tidak terlalu bisa main game, sampai mereka yang jago main game.

Kapan lagi karakter-karakter ini bisa anda tandingkan dengan grafis konsol masa kini (instead of grafis ala kadarnya dalam Jump Superstar)?

Average: 7.0

Game Details
Developer: Bandai-Namco
Publisher: Bandai-Namco
Genre: Alternative Fighting
System: PS2, Gamecube

Comments (1)

Tags: , , , ,

Atelier Iris 2: Azoth of Destiny

Posted on 17 May 2009 by Si Tukang Review

Atelier Iris 2: Azoth of Destiny Cover

Atelier Iris 2: Azoth of Destiny Cover

Atelier Iris pertama kali hadir di pasaran Amerika melalui Atelier Iris Eternal Mana tahun 2006 lalu. Konsepnya yang menggabungkan pengetahuan alkimia (alchemy) sebagai dasar ceritanya ternyata menarik perhatian orang. Konsep unik ini membuat Atlus berani membawa sekuelnya yang berjudul Azoth of Destiny ke pasaran Amerika. Kali ini anda bisa memainkan dua karakter utama dalam game ini secara berganti-gantian.

Graphic (7 / 10)

Grafis in-game Atelier Iris 2 masih berbentuk 2D dan jujur saja – tampak ketinggalan jaman dibandingkan RPG-RPG sekarang. Saya yakin bahwa konsol seperti Playstation saja masih bisa menampilkan grafis dalam game ini.

Yang memberi nilai tambah pada bagian grafisnya malah ilustrasi karakter saat anda sedang berbicara. Masing-masing tergambarkan dengan hidup dan menarik (colorful). Mirip rasanya seperti memainkan game Rhapsody dulu. Game ini juga memiliki opening anime dan cutscene anime (walaupun jumlahnya tidak banyak).

Latar belakang dalam dungeon juga di beberapa tempat nampak seperti berulang-ulang. Sepertinya sang ilustrator sedikit malas untuk menggambarkan berbagai variasi dungeon. Ini diperparah dengan animasi karakter yang bisa ‘menembus’ pintu ketimbang membukanya. Jurus-jurus spesial atau magic yang ditampilkan dalam game ini juga terkesan ala kadarnya. Jelas kalau game ini tidak digarap dengan maksimal dalam bidang grafis.

Sound (8 / 10)

Luar biasa, keberanian Atlus untuk memberikan fungsi dua voice acting dalam game ini layak diacungi jempol. Anda yang ingin mendengarkan versi bahasa Inggrisnya takkan terlalu kecewa karena mereka yang mendubbing suara karakter-karakter utama anda cukup mampu menjiwai karakter mereka.

Tentu saja voice actors itu semua terkesan amatiran kalau dibandingkan dengan seiyuu asli game ini dari Jepang. Semuanya mampu menjiwai peran mereka dengan baik dan sempurna. Galahad yang berwibawa misalnya diisi oleh seiyuu dengan suara berat dan berkarakter. Ini membuat percakapan (yang sering diisi suara pada event lumayan penting) menjadi enak, menarik untuk diikuti – sekaligus membuat setting dunia Atelier Iris 2 lebih hidup.

Bagaimana dengan OST dalam game ini? Tidak jelek. Secara keseluruhan warna musik yang digambarkan game ini cenderung ceria dan riang. Tidak ada musik (setidaknya sampai sekarang) yang terkesan memorable dan terngiang terus di kepala saya. Toh, setidaknya musik dalam game ini juga tidak memaksa saya untuk mematikan suara TV saya. Secara keseluruhan, department suara dalam game ini mengalami acungan jempol saya dengan keberanian mereka membawa para seiyuu Jepangnya ke pasaran internasional.

Gameplay (7 / 10)

Yang paling disorot dalam game ini adalah sistem dua karakter utama yang ada. Felt dan Viese adalah teman baik semenjak kecil. Felt mendapat panggilan untuk ke dunia lain dan berpetualang di sana sementara Viese menunggunya di rumah. Sementara Felt bertemu kawan baru dan bertarung, Viese akan membantunya dengan menciptakan (istilah dalam game ini: Synthesis) item-item yang ia perlukan untuk melanjutkan perjalanannya. Berarti game ini tidak memiliki toko item di dalamnya? Tidak juga, tetapi item yang dijual di dalamnya bisa dibilang merupakan bahan mentah yang harus diolah dan diramu dulu supaya siap pakai. Pergantian skenario antara kedua orang inilah yang membuat Atelier Iris kedua ini berbeda dengan sang pendahulu.

Kemudian battle system dalam game ini mirip dengan sistem Grandia. Bar waktu anda terbagi dalam dua warna: Kuning dan merah. Ikon anda dan musuh akan bergerak di line bar. Sampai di ujung anda bisa langsung memasukkan perintah dan mengeksekusi serangan anda.

Anda memiliki dua sistem attack mendasar: Combo dan Break. Break memiliki fungsi yang mirip dengan serangan Cancel di Grandia. Anda bisa memukul mundur ikon musuh anda. Inilah yang menarik dari sistem battle game ini, apabila anda mampu memukul ikon musuh sampai di garis kuning maka pertahanannya akan terbuka dan anda dapat langsung menyambung serangan dengan karakter lainnya untuk menciptakan combo (chain attack).

Combo di sini tidak hanya akan menimbulkan damage yang lebih besar kepada musuh tetapi juga akan meningkatkan experience dan skill point (point untuk mempelajari skill tertentu) seusai battle. Inilah yang memberi kesan kepuasan sendiri kalau mampu menyambung serangan demi serangan dan menciptakan kombo dalam game ini.

Game ini juga memperbolehkan anda mengupgrade senjata anda (dengan tutorial ‘paksa’ blacksmith) – tentu saja dengan dasar alkimia juga. Gameplay dari game ini secara keseluruhan memang masih berkisar pada dunia alkimia. Unik, impresif, tetapi karena level kesulitan yang terasa terlalu mudah membuat semua kompleksitas gameplay ini terasa hambar. Buat apa menciptakan item yang luar biasa hebatnya kalau dengan item sekarang saja anda bisa menghabisi musuh-musuh yang ada?

Longetivity (6.5 / 10)

Tergantung. Cerita utama dalam game ini nantinya terbagi dalam 22 chapter utama. Game ini tidak akan makan waktu lebih lama dari 25 jam untuk menyelesaikannya. (Sekarang saya sudah memainkan game ini selama 15 jam dan sudah mencapai chapter 16 dalam ceritanya). Untungnya saja game ini memiliki banyak subquest sampingan. Mengumpulkan resep-resep komplit segala macam item adalah tantangan tersendiri, mengumpulkan item-item yang dibutuhkan adalah tantangan lainnya lagi.

Sayangnya walau subquestnya banyak tetapi kota dalam game ini sangat-sangat kecil. Anda hampir tidak bisa menjelajahi manapun dengan kota yang demikian kecilnya. Lebih buruk lagi, karakter-karakter NPC dalam game ini nampak seperti robot. Mereka hanya berbicara tidak lebih dari dua tiga kalimat dan sangat repetitf. Ini membuat suasana dunia dalam game ini terasa kurang hidup. Ini makin mengurangi keinginan saya untuk terlibat hal lain di luar jalan cerita utama. Cerita dalam game ini? Bisa dibilang cukup sederhana dan mengambil tema sederhana penyelamatan dunia.

Editor’s Tilt (7.5 / 10)

Karena ini bisa dibilang game pertama Atelier Iris, saya masih terpukau dengan berbagai aspek dalam game ini. Konsep alkimia dan dual karakter yang diterapkan membuat game ini terasa tidak mainstream (seperti RPG SquareEnix kebanyakan misalnya). Tidak mainstream nyatanya tidak membuat game ini simple. Game ini memiliki kompleksitasnya tersendiri dengan sistem alkimianya.

Lagipula level kesulitannya yang rendah dan animasi yang cerah dan berwarna-warni bisa menarik banyak rpger (termasuk gamer wanita) untuk memainkan game ini. Kalau anda pernah memainkan dan menggemari game macam Rhapsody di Playstation dahulu, maka dipastikan game ini juga akan menarik minat anda.

Average: 7.2

Game Details
Developer: Gust
Publisher: Atlus
Genre: RPG

Comments (2)

Tags: , , ,

Dirge of Cerberus

Posted on 23 April 2009 by Si Tukang Review

Dirge of Cerberus Cover

Dirge of Cerberus Cover

Dirge of Cerberus mungkin adalah game yang paling dinanti-nantikan oleh semua penggemar RPG Final Fantasy VII di seluruh dunia. Maklum, game ini adalah sekuel resmi dari RPG tersohor milik Squaresoft dulu. Tetapi banyak kalangan terhenyak ketika menyadari bahwa game ini bukan muncul dalam format RPG melainkan third person shooting action. Apakah game ini akan berhasil melanjutkan tradisi sukses dari sang pendahulu?

Graphic (5 / 10)

Pertama kali adegan dibuka dengan FMV ala Square yang seperti biasa: cantik dan memaksa kinerja PS2 bekerja maksimal. FMVnya ini konon digarap dengan engine yang sama yang memproduksi Final Fantasy VII: Advent Children lalu. Tidak heran kalau cutscene dalam bentuk FMVnya tampak benar-benar luar biasa.

Sayangnya, kompensasi untuk banyak space dari FMV itu diambil dari in-gamenya sendiri. Saya merasa kalau grafis in-gamenya termasuk buruk, apalagi untuk ukuran game dari Square. Maksudku: Square adalah perusahaan yang dahulu berhasil menciptakan Final Fantasy X dengan grafik luar biasa untuk ukuran beberapa tahun yang lampau. Dan grafis dari game ini tidak banyak meningkat ketimbang Final Fantasy X lalu! Bahkan Kingdom Hearts 2 yang keluar dari perusahaan yang sama dan dalam waktu hampir bersamaan memiliki kualitas grafis jauh lebih oke ketimbang game ini.

Begitu pula design dari character-character yang ada. Entah saya yang sudah letih dengan style gaya Nomura atau tidak, tetapi entah kenapa karakter-karakter villain dalam game ini terlihat sangat monoton. Nyatanya yang paling mengecewakan bagiku adalah menyaksikan tempat-tempat legendarisku dahulu di Final Fantasy VII (seperti Kalm, Midgar, mansion Nibelheim, dll) nyatanya tidak sesuai gambaranku ketika diremake sekarang dalam bentuk next-gen console. Saya jadi khawatir, jangan-jangan Final Fantasy VII remake nantinya tidak akan berhasil memenuhi ekspektasiku?

Sound (6 / 10)

Department suara bisa dibilang adalah satu-satunya hal yang paling lumayan di sini. Musik latar sepanjang permainan terasa sendu dan syahdu – pas dengan kesan kelam yang memang ingin ditonjolkan di sini. Tetapi itu bukan berarti musiknya benar-benar bagus. Buktinya setelah beberapa jam memainkannya, bahkan hingga selesaipun, tidak ada musik yang benar-benar masih terngiang-ngiang di kepalaku. Saya jadi penasaran lagi, apakah bukan Nobuo Uematsu sebenarnya yang menggarap musik dalam seri ini? (nampaknya saya perlu melakukan penyelidikan lebih jauh nantinya). Untungnya saja ada lagu dari Gackt berjudul Redemption. Lagu ini termasuk menarik untuk didengarkan (lagu Gackt favorit saya untuk sekarang), dan sayangnya tidak terdapat banyak versi in-gamenya untuk kita dengarkan.

Sound effectnya bisa dibilang biasa-biasa saja. Bunyi ledakan ya terasa seperti ledakan, tembakan dan desingan peluru pun demikian. Charge daya magis anda juga biasa-biasa saja. Lantas voice actingnya dalam bahasa Inggris cukup menyedihkan. Toh saya juga tidak bisa menyalahkan pengisi suaranya. Bagaimana anda bisa mengisi suara dengan berbagai macam nada untuk karakter seperti Vincent yang sebenarnya karakter satu dimensi begini? (Alias kepribadiannya hanya begitu saja – stagnan dan tidak mengalami perubahan signifikan apapun).

Gameplay (4 / 10)

Benar-benar payah. Square benar-benar harus belajar banyak untuk membuat sebuah game action. Kendati dari Vincent sangatlah sulit dilakukan. Ketika anda melakukan auto-aim, bukannya anda membidik ke musuh terdekat, Vincent secara butanya membidik ke… tembok terdekat! Atau malah kacau ke sana sini. Lagipula pengarahan bidikan anda yang dilakukan melalui putaran kanan controller anda sangat sulit untuk akurat. Ini benar-benar menyulitkan ketika anda dikepung di sana-sini. Sistem lain seperti materia dan limit break menurut saya sedikit aneh. Limit break anda menggunakan… item? Kok bukan karena kena serangan seperti Final Fantasy VII terdahulu? Atau bukan karena menyerang musuh? Senjata bisa diperbaiki dan diupgrade setiap saat supaya menjadi lebih kuat lagi. Tentu saja anda bisa mengequip berbagai macam part di dalamnya. Mungkin pilihan modifikasi senjata ini yang lumayan dalam bidang gameplay.

Interaksinya dengan lingkungan juga menyedihkan. Vincent benar-benar hanya berjalan dalam satu alur saja. Bayangkan, dalam FMV dia bisa melompati gedung demi gedung, sementara di dalam gamenya sendiri, dia tidak bisa bahkan melompat dari rumah untuk turun ke bawah. Apa yang Vincent harus lakukan? Dia harus naik tangga! Ya ampun, benar-benar jenius Square! Hal ini diperparah dengan tidak rusaknya obyek apapun ketika anda tembak, selain mungkin obyek-obyek tertentu macam drum yang bisa meledak. Metal Gear Solid 2 hadir di masa awal PS2, dan game tersebut memiliki interaksi antara karakter dan latar belakang yang lebih solid ketimbang DoC.

Ceritanya bisa dibilang sederhana dan tidak seberap bagus. Jelas tidak akan bisa menyamai Final Fantasy VII. Dan entah kenapa saya melihat karakter Vincent ini stereotipe sekali dengan Cloud. Di opening movie misalnya dia akan meminta… pengampunan?! Tidakkah ini sedikit mengingatkan anda pada sang pahlawan berambut kuning jabrik itu? Sayangnya lagi, sangat sedikit karakter Final Fantasy VII sebelumnya selain Yuffie (juga Reeves yang kita kenal dengan Cait Sith) yang akan berperan penting dalam cerita. Hem, apakah Square ingin menebus dosa untuk dua karakter rahasia ini sehingga memberi mereka porsi lebih besar di sini?

Longevity (3 / 10)

Anda memiliki dua misi kesulitan pada awalnya. Normal dan Hard. Dengan mode Normal saya bisa menyelesaikan game ini sekitar 10 sampai 15 jam (saya sendiri menghabiskan 13 jam lebih, tetapi dengan mengupgrade senjata beberapa kali supaya saya tidak kesulitan melawan bos yang ada).

Ada berbagai bonus feature yang bisa terbuka setelah anda menyelesaikan game ini, tetapi kok saya rasanya ragu kalau selain die-hard Final Fantasy VII akan memainkan game ini lagi. Rasanya saya hanya memainkan game ini sekali saja untuk mengerti kelanjutan dunia Final Fantasy VII yang pernah saya tinggalkan ini. Ada juga tingkat kesulitan lebih tinggi untuk dimainkan, dan seperti yang saya katakan: kelihatannya sulit mengharapkan seseorang (penggemar game action sekalipun) memainkan game ini berulang kali demi gameplaynya.

Editor’s Tilt (5 / 10)

Kecewa. Hanya itu yang terlintas di benak saya ketika sudah memainkan game ini selama sekitar 2 jam. Inikah sambungan dari salah satu RPG terbaik yang pernah kumainkan itu? Kenapa Square merombaknya habis-habisan menjadi action seperti ini? Square tidak pernah benar-benar sukses di bidang di luar RPG, tetapi entah kenapa mereka masih nekat menggarapnya. Apa mereka berharap bahwa ribuan penggemar Final Fantasy VII akan berebut mencari game ini?

Satu-satunya hal yang mungkin menjadi nilai plus di dalam game ini adalah karena saya lebih banyak melihat sisi karakter dari Vincent, Yuffie, dan terakhir adalah Reeve yang bisa dibilang jarang terlihat dalam gamenya. Ketiga karakter ini mungkin yang benar-benar tergali (kendati tidak maksimal juga) dalam game ini. FMVnya juga tetap kelas Square. Indah dan menawan. Tetapi sayang, semua kelebihan itu tidak berarti game ini bisa menjadi lebih baik.

Seandainya saja game ini datang dari developer lain, tentunya tilt saya akan jauh lebih rendah dari ini, tetapi saya mengingat nama Square dan kenangan Final Fantasy VII terdahulu, mungkin tilt saya terasa sedikit subyektif dan saya terpaksa meningkatkan nilainya sedikit. Uh, Square, hentikanlah merusak memori indah kami akan Final Fantasy VII dengan tidak mengembangkan dunia ini lebih lanjut lagi. Setidaknya kalau mau dikembangkan, garaplah dengan benar!

Overall: 4.6

Game Details
Publisher: Square Enix
Developer: Square Enix
Genre: Action Adventure

Comments (3)

Tags: , , , , , , , , ,

Fate / Stay Night

Posted on 14 April 2009 by Si Tukang Review

Saber from Fate / Stay Night

Saber from Fate / Stay Night

Kendati sudah berusia lima tahun, Fate / Stay Night masih merupakan visual novel favorit saya (dan saya yakin banyak orang lainnya). Visual Novel terbitan dari Type-Moon ini bukan saja menjadi yang terlaris di tahun 2004 saat ia dirilis, tetapi juga meraih popularitas mainstream hingga dirilis ulang dalam PS2 dengan titel tambahan Realta Nua, memiliki spin-off game fighting di PSP (Fate Tiger Colloseum dan Fate Tiger Colloseum Upper), memiliki anime sepanjang 24 episode yang dirilis di tahun 2006, sampai memiliki beberapa game yang dibuat khusus oleh para fans. Luar biasanya, Fate / Stay Night awalnya adalah sebuah game hentai!

Sebelum keburu berpikiran negatif mengenai game hentai, saya perlu menjelaskan bahwa perspektif dunia barat dan Jepang dalam memandangnya berbeda. Apabila dunia barat merilis video porno atau cerita porno, maka mereka biasanya murni merilisnya tanpa embel-embel apapun juga. Hal ini berbeda dengan Jepang. Walaupun beberapa video atau cerita porno mereka juga langsung mentah (alias tidak ada cerita dan langsung begituan saja) ada juga banyak game atau anime di mana seks bukan sekedar menjadi unsur eksplisit tetapi implisit yang berbaur dengan cerita. Fate / Stay Night adalah salah satu visual novel hentai sejenis.

Fate / Stay Night mengkronologikan dua minggu waktu kehidupan dari seorang pemuda bernama Emiya Shirou. Setiap 60 tahun, berulang sebuah turnamen rahasia bernama Holy Grail Wars antara tujuh orang magi (penyihir). Emiya terpilih menjadi salah seorang dari mereka yang berkompetisi. Ketujuh Magi itu tidak bertarung seorang diri, tetapi mendapat bantuan dari tujuh heroic spirit (heroic spirit adalah sosok para pahlawan yang gugur di masa lalu, masa kini, ataupun masa depan seperti Hercules, Medusa, Raja Arthur, Raja Alexander, dan banyak lagi). Tujuh heroic spirit ini terbagi dalam tujuh kelas: Archer, Saber, Berserker, Assasin, Caster, Lancer, dan Rider. Ketujuh pahlawan yang melayani para maginya ini disebut Servant. Tak terduga, dalam summoningnya, Emiya mendapatkan servant terkuat: Saber. Siapakah sebenarnya Saber? Bisakah Emiya memenangkan Holy Grail Wars? Apa arti di balik turnamen ini sebenarnya?

Game ini memiliki tiga cabang cerita (skenario) yang adalah Fate (berfokus pada masa lalu Saber serta hubungan antara Emiya dengannya), Unlimited Blade Works (berfokus pada siapa sebenarnya karakter Archer dan hubungan Emiya dengan Tohsaka Rin seorang magi kompetitor lain), dan Heaven’s Feel (berfokus pada rahasia gelap keluarga Mato dan munculnya Servant kedelapan). Masing-masing skenario (kecuali skenario Fate yang dianggap kanon) memiliki dua ending. Versi animenya secara garis besar mengikuti skenario Fate dengan memasukkan unsur-unsur tertentu dari Heaven’s Feel dan Unlimited Blade Works di dalamnya. Realta Nua memberikan epilog tambahan untuk skenario Fate, guna memuaskan rasa penasaran para penggemar akan nasib Saber di penghujung game.

Secara keseluruhan, Fate / Stay Night memang masih visual novel terbaik yang pernah saya baca. Memang sisi interaktif game ini sangat sedikit (hanya di saat-saat tertentu kamu bakalan diberikan pilihan untuk menentukan aksimu) tetapi penulisan akan dunia yang penuh detail (pujian dan terima kasih juga saya berikan bagi grup translator yang membuat banyak pihak bisa ikut menikmati karya legendaris ini) dan adegan pertarungan yang seru walau hanya dinikmati lewat tulisan membuat game ini tidak boleh dilewatkan siapapun.

Score: 9.4

Game Details
Publisher: Type-Moon
Developer: Type-Moon
Genre: Visual Novel

Fate / Stay Night Realta Nua PS2 Opening

Comments (1)

Tags: , ,

Innocent Life: A Futuristic Harvest Moon

Posted on 28 March 2009 by Si Tukang Review

Innocent Life Cover

Innocent Life Cover

(Review based on PSP Version)

Bokujou Monogatari yang lebih kita kenal sebagai sebuah game simulasi pertanian bernama Harvest Moon kini telah berevolusi ke tahap berikutnya. Titel terbaru dari serial ini dirilis di handheld PSP, melanjutkan tradisi sukses game ini di handheld; tajuknya adalah Shin Bokujou Monogatari: Innocent Life alias Innocent Life: A Futuristic Harvest Moon. Judul ini sama sekali tidak berlebihan. Kenapa saya katakan demikian? Karena Innocent Life tidak bersetting di jaman sekarang seperti Harvest Moon biasanya melainkan di tahun 2026! Anda bahkan tidak akan bermain sebagai anak yang mendadak dapat limpahan sebuah pertanian – tetapi seorang android! Apa lagi yang berbeda dari Harvest Moon yang baru ini?

Graphic (8.5 / 10)

Grafis game ini mungkin adalah salah satu yang paling memukau yang pernah kulihat di PSP. Inilah pertama kali Harvest Moon tampil dalam grafis 3D di sebuah handheld setelah tiga seri sebelumnya hadir dalam grafis 2D di GBA dan Nintendo DS. Yang menakjubkan adalah ketajaman latar belakang dan environment pertanian kalian. Saya yakin sekali kalau mereka yang memainkan game ini akan terkesima dengan keindahan grafis game ini. Catat kata-kata saya: grafis dalam Innocent Life bahkan lebih superior ketimbang grafis Harvest Moon di Playstation dan Playstation 2 sekalipun!

Area rumah yang ada di dalam game ini banyak dan variatif. Anda kini bisa puas menjelajah masuk ke dalam rumah seseorang tanpa merasa harus dibatasi oleh satu ruangan tertentu saja. Rumah anda sendiri sekarang terdiri sebesar beberapa lantai dan anda bisa puas menjelajahi tempat-tempat itu. Area pertanian anda yang semula kecil bisa diisi dengan berbagai jenis tanaman yang dirender dengan kualitas grafis yang sangat bagus. Area seluruh Volcano Island yang bisa dijelajahi juga terbilang cukup luas dan terus berubah dari tiap musim. Perhatikan saja bedanya musim semi dengan musim salju.

Sayangnya karena terlalu memperhatikan hal-hal seperti ini kok kelihatannya ada beberapa hal yang luput diperhatikan oleh Rising Star ketika mendesain game ini. Area yang semakin luas tidak dibarengi dan banyaknya jumlah orang. Jumlah orang di dalam seluruh Volcano Island ini rasanya terlalu kecil sehingga bertemu orang-orang sepanjang permainan terasa jarang. Pandangan game (view)nya juga digarap dengan pandangan 3/4, jadi buat mereka yang kurang terbiasa dengan gaya pandang game ini mungkin harus menyesuaikan dulu. Yang paling kurang dalam game ini adalah wajah tiap karakter kali ini tidak ditampakkan kalau kalian bicara dengan mereka! Ini hal yang sangat mengecewakan karena tampilan imut dan menarik yang selalu menjadi ciri khas Harvest Moon hilang sudah.

Toh secara keseluruhan untuk ukuran grafis: Innocent Life terbilang sangat jempolan dan memukau. Great job here!

Sound (8 / 10)

Musik dalam game ini adalah bisa dikategorikan hit or miss. Akan ada orang yang menyenangi musik-musik bertipe game ini, dan beberapa orang lain (terutama fans Harvest Moon lama) akan membencinya. Saya adalah seorang penggemar game Harvest Moon lama tetapi entah kenapa saya bisa menyenangi musik-musik di dalam game ini. Keluhan utama dalam game ini adalah karena musiknya Harvest Moon yang biasa bervariasi dari melankolis di musim salju sampai musim semi yang riang kini berubah menjadi melankolis dari depan hingga belakang. Tetapi anehnya untukku musik yang sendu dan melankolis ini justru terasa membawa kedamaian dalam hati saya.

Sound effect dalam game ini juga tidak saya keluhkan. Beberapa musik seperti guyuran air, cangkulan, sampai bunyi batu yang dilempar masuk ke dalam kolam terdengar realistis. Saya juga gemar mendengar musik bunyi masakan saya yang sudah jadi di dalam game ini (entah kenapa terdengar seperti microwave yang sudah selesai mematangkan masakannya).

Tetapi kelemahan lama tetap hadir di game Harvest Moon baru ini. Setelah bertahun-tahun bertanam, maka musik di dalam game ini akan menjadi repetitif dan membosankan.

Gameplay (7 / 10)

Entah bagaimana saya harus mengkategorikan Innocent Life sebagai sukses atau gagal dalam merevolusi gameplay dalam Harvest Moon. Mari kita bedah satu demi satu.

Innocent Life sukses memperbaiki berbagai konsep dasar dalam Harvest Moon lama. Contohnya adalah ketika di Harvest Moon GBA dulu anda tidak akan bisa memanen buah yang ada di tengah  karena terhalang oleh tumbuhan-tumbuhan lain yang mengelilinginya, kini Innocent Life sudah memperbaiki itu. Anda kini bisa ‘menginjak’ tanaman-tanaman anda (tentu saja tanpa merusaknya) dan menyiram sekaligus memanen segala tanaman yang ada.

Contoh kedua yang diperbaiki oleh Innocent Life adalah tumbuhan-tumbuhan liar di dalam game ini. Ingatkah betapa menyebalkannya ketika dia terus memenuh-menuhi tas kita? Sekarang itu tidak akan terjadi. Tumbuhan liar kini dikelompokkan sehingga mengambil 99 pun hanya akan memenuhi satu slot. Lebih hebatnya lagi adalah anda bisa langsung mendiscardnya dari menu tas kita tanpa kesulitan sama sekali. Kontrol dalam game ini juga sangat mudah. Tombol L membawa anda ke menu tas dan R membawa anda ke status karakter, pertanian, dan setting game.

Konsep-konsep lama dalam Harvest Moon yang sukses tetap dipertahankan. Ada berbagai jenis tanaman dan binatang yang bisa anda pelihara di dalam game ini. Ada juga pembantu ala Harvest Sprite (tetapi kini berubah menjadi robot pembantu) yang membantu anda melakukan tugas anda. Anda juga masih bisa memancing ikan untuk kebutuhan hidup anda dan melakukan mining demi mendapatkan barang-barang bangunan yang bisa anda kirimkan sebagai tambahan kehidupan anda.

Walau begitu, tidak bisa disangkal kalau Innocent Life terlalu banyak menghilangkan aspek lain dari Harvest Moon yang membuatnya menjadi terlalu mudah dan dangkal untuk dikuasai. Contohnya adalah karena anda seorang android – anda kini tidak perlu lagi mengejar-ngejar gadis untuk anda nikahi, lantas lebih bingung lagi adalah Love dalam status anda, untuk apa? Membuat makanan tentunya menjadi mubazir juga karena makan bukanlah sebuah keharusan bagi seorang android. Malah memasak terasa sangat gampang di sini karena anda tidak perlu menyimpan bahan sama sekali. Yang penting anda terus berlatih memasak dan voila – anda sudah jadi seorang tukang masak jempolan.

Waktu juga mengalir sangat lambat dalam game ini, saya jarang menghabiskan waktu lebih banyak dari 10 menit setiap harinya dalam memainkan game ini. Ada dua alasan di balik hal itu: pertama, tenaga anda sekarang dibatasi sebagai android. Anda tidak bisa melakukan tindakan brutal kepada karakter anda seperti menyuruhnya bekerja sampai hampir pingsan lalu merendamnya di ofuro (pemandian air panas) terdekat untuk memulihkan staminanya – Ngaku saja kalau hampir semua orang yang memainkan Harvest Moon lama pernah melakukan hal ini. Sekarang kalau tenaga anda habis berarti anda tidak bisa mengerjakan apapun lagi, dan tidak ada cara apapun untuk mengisi tenaga anda lagi. Alasan kedua kenapa saya bisa bekerja sangat cepat menyelesaikan game ini adalah minimnya sosialisasi yang ada. Setelah robot saya (yang saya dapat sangat awal di game) membantu saya menyelesaikan kerjaan saya, saya hampir tidak tahu mau melakukan apa selain tidur. Santai sekali dan berbeda dengan Harvest Moon GBA (Friends of Mineral Town) yang membuat saya harus berlari tunggang langgang ke sana-sini menyelesaikan tugas yang ada sekaligus memberi kado kepada cewe kesukaan saya. Sekarang saya hampir selalu tidur jam 1 sampai 2 siang!

Kekurangan dalam hal gameplay seperti ini sekalian dibarengi dengan cerita yang menurut saya sangat tolol. Seorang android seperti anda harus bertanam di atas sebuah bangunan untuk membebaskan tanah yang konon terkutuk dan tidak bisa ditanami karena orang lebih memilih menanam dengan mesin daripada dengan tangan. Sudah tertawa karena ironisnya? Saya tertawa terbahak-bahak karena kebodohan game ini. Ada yang lebih bodoh lagi? Ada. Anda harus menyelamatkan dunia di game ini dengan cara bercocok tanam dan tanah terkutuk ini entah kenapa penuh dengan pepohonan rimbun yang indah dan menawan hati. Saran saya untuk cerita Harvest Moon berikutnya: Stick with the old classic boy getting a farm, it’s lovable and it’s more personal.

Longetivity (8 / 10)

It’s a Harvest Moon game. Tentu saja ada longetivity dalam game ini sangat panjang. Saya memang mengatakan kalau gameplay dalam game ini tidak seruwet Harvest Moon lama – tetapi saya tidak mengatakan kalau gameplaynya tidak adiktif. Saya sudah merawat tanaman saya sampai pada musim panas kedua sekarang dan saya masih sangat kesengsem dengan game ini. Menciptakan fasilitas baru, menghadiri festival-festival dan membuka lahan-lahan terkutuk lainnya membuat game ini menjadi lebih berkembang.

Replayability dari game ini juga terbilang cukup tinggi. Ada kalanya kita akan mau mencoba segala sesuatu dari baru lagi untuk ladang kita, sekedar untuk variasi permainan dan mencoba bercocok tanam dengan strategi yang baru dan berbeda. Mungkin memainkan game ini setelah dua sampai tiga tahun akan membuat anda mulai bosan dengan game ini. Titik bosan dalam game Harvest Moon lama adalah setelah anda mendapatkan istri di game itu, di sini saya memperkirakan titik jenuh anda memainkannya adalah ketika anda sudah berhasil menyelamatkan tempat anda dari kehancuran.

Editor’s Tilt (7.5 / 10)

Innocent Life masih menawarkan the basic concept of Harvest Moon I love. Saya senang karena beberapa kekurangan gameplay di Harvest Moon lama dulu sudah dihilangkan dan diperbaiki di dalam game ini. Tetapi Rising Star sepertinya terlalu berusaha menarik perhatian pemain baru sehingga mengorbankan banyak hal dalam game ini. Hasilnya? Game ini mungkin bisa membuat pemain-pemain baru berkenalan dengan Harvest Moon – tetapi pemain-pemain Harvest Moon dulu dan veteran mungkin akan kecewa dengan dangkalnya gameplay yang ada.

Bottom line? Innocent Life lebih cocok dimainkan oleh mereka yang pertama kali berkenalan dengan Harvest Moon. Saya sendiri masih bisa menikmati game ini karena ini adalah game Harvest Moon ketiga yang saya mainkan, apalagi setelah saya memainkannya selama sejam dan melihat grafisnya yang super keren; saya langsung berhenti memainkan Harvest Moon DS yang grafisnya terlihat sangat inferior dan outdated sekali!

Overall: 7.8

Game Details
System: PSP, PS2
Publisher: Natsume
Developer: Rising Star
Genre: Farming Simulation

Comments (10)

Tags: , , , ,

Disgaea: Hour of Darkness

Posted on 24 February 2009 by Si Tukang Review

Disgaea Cover

Disgaea Cover

(Review Based on PSP Version)

Walaupun akhir-akhir ini J-RPG menjadi trend di Amerika, tetapi tidak banyak J-RPG berkualitas yang berhasil meraih fans sebanyak serial Disgaea. Untuk membuktikan betapa populernya Disgaea, game ini sudah mendapatkan dua sekuel (Disgaea 3 berada dalam penggarapan untuk konsol PS3 ketika artikel ini ditulis), satu spin-off (Prinny, Can I Be the Hero? di PSP). Game pertama yang dianggap paling sukses pun sudah diport ke PSP maupun DS. Seberapa hebohnya sebenarnya serial Disgaea ini?

Kisah dalam Hour of Darkness (HoD) - di versi PSP judulnya menjadi Afternoon of Darkness - dibuka saat Laharl (setelah tertidur selama dua tahun) dibangunkan oleh vassal setianya Etna. Rupanya ayah Laharl yang merupakan pemimpin (overlord) dari Netherworld sudah meninggal. Karena status quo, banyak sekali iblis-iblis bangkit dan saling bertarung memperebutkan status overlord tersebut. Laharl tidak tinggal diam. Ia merasa bahwa sebagai putra mahkota, gelar itu paling cocok berada di tangannya.

Dunia dalam HoD terbagi menjadi tiga; dunia para iblis, para malaikat, dan manusia. Kekisruhan di dunia iblis segera menarik perhatian dari dua dunia lainnya. Segera saja apa yang semula merupakan polemik di satu dimensi meluas ke dimensi-dimensi yang lain.

Jangan terlampau serius membacanya, walaupun cerita dalam HoD sekilas nampak menegangkan, kenyataannya jauh dari demikian. Sebaliknya, memainkan Disgaea akan membuatmu terbahak-bahak. Selama saya memainkan game RPG, saya belum pernah tuh rasanya menemukan karakter-karakter yang super sableng seperti yang saya temui di dunia HoD. Saya bahkan bisa merekomendasikan game ini murni karena cerita kocaknya.

Kalau kamu berpikir bahwa gambar cerah, cerita yang lucu, membuat game HoD tidak menantang - kamu salah besar. HoD memiliki gameplay yang sangat - sangat dalam. Kamu memiliki beberapa karakter default yang kamu dapat sesuai cerita, tetapi HoD juga memberikan kebebasan mutlak kepadamu menciptakan karakter-karakter baru. Variasi kelas yang disediakan pun sangat luas mulai dari job-job Warrior, Scout, Mage, sampai setiap monster yang pernah kamu taklukkan. Tiap variasi kelas memiliki statistik dan kemampuan yang berbeda; walhasil menciptakan karakter yang sesuai dengan taktik pertarunganmu menjadi uji-coba yang menyenangkan. Percayalah bahwa kamu memerlukan tim yang kuat karena musuh-musuh dalam Disgaea bukan musuh kacangan yang bisa kamu kalahkan dengan karakter dan level ala kadarnya.

Lantas dua elemen gameplay yang menjadikan HoD berbeda dengan serial Strategy RPG lainnya adalah Dark Assembly dan Item World. Penjelasan keduanya sebagai berikut:

Dark Assembly adalah pengambilan voting di dunia iblis. Apapun yang hendak kamu lakukan di dunia iblis mulai dari membeli item yang mahal, menciptakan karakter yang kuat, sampai membuka dungeon rahasia, memerlukan persetujuan dari para senator. Apabila kamu memenangkan voting mereka, maka permintaanmu akan diluluskan. Tentu saja tidak semua senator akan setuju dengan usulanmu; kamu bisa membujuk mereka dengan sogokan - atau langsung main hajar ala diktator untuk membuat pendapatmu diterima oleh mereka.

Item World lain lagi. Setiap itemmu dalam game ini memiliki level dan penghuni. Level itu bisa kamu naikkan dengan cara memasuki dunia item dan bertarung di dalamnya. Selain menaikkan level item, kamu juga bisa menangkap penghuni di dalam itemmu. Setiap penghuni memiliki karakteristik khusus yang bisa kamu pindahkan ke dalam item lainnya. Memainkan Item World bisa membuatmu mendapatkan item-item super kuat dengan mengkombinasikan para penghuni dan meningkatkan level item tersebut.

Gameplay yang dalam. Cerita yang memikat. Kualitas audio visual yang walau sudah berusia lima tahun lebih tetap mumpuni. Bila kamu seorang penggemar game Strategy RPG, HoD adalah sebuah titel yang tidak boleh kamu lewatkan.

Final Verdict:

Gameplay: 9.5
Walaupun dasar dari HoD sekilas sama dengan kebanyakan Strategy RPG lainnya, semakin banyak kamu menghabiskan waktu di dalamnya, kamu akan menyadari betapa dalam dan berbedanya game ini. Dan di game mana lagi kamu bisa mengangkat temanmu dan melemparnya ke musuh sampai meledak?

Graphic / Sound: 9.5
Game ini menghadirkan grafis yang luar biasa indah untuk ukuran 2D. Artwork yang menawan memberi HoD nuansa khas dan weirdnya sendiri. Selain itu, HoD juga memiliki kualitas seiyuu dan voice-acting yang berkualitas A, sesuatu yang jarang saya dapati dari game J-RPG lainnya.

Play Time: 10
Memainkan skenario utamanya saja mungkin akan memakan waktu sampai 40 jam (mungkin lebih). Dengan tambahan Item World, Dark Assembly, Level yang bisa mencapai bahkan 1000 lebih (ya, 1000 - itu bukan salah ketik) sampai dungeon-dungeon tambahan dengan hidden boss yang super sinting, kamu bisa menikmati game ini sampai ratusan jam.

Overall: 9.7

Game Details
System: PS2, PSP, DS
Developer: Nippon Ichi Software
Publisher: NIS America
Genre: Strategy RPG

Comments (5)

Advertise Here
Advertise Here