Archive | Console

Tags: , , , ,

Jak and Daxter: The Lost Frontier

Posted on 05 March 2010 by Si Tukang Review

Jak and Daxter: The Lost Frontier PSP Cover

Jak and Daxter: The Lost Frontier PSP Cover

(Review Based on PSP Version)

Naughty Dog membuat salah satu game platform adventure terbaik di Playstation 2 melalui serial Jak and Daxter. Trilogi game sudah sukses mengumpulkan banyak sekali penghargaan dan membukukan penjualan jutaan unit, bisa dibilang bahkan menggeser hegemoni Crash Bandicoot dan Spyro the Dragon sebagai ikon game platform di konsol hitam itu. Sekarang Naughty Dog sudah beralih ke proyek lain di Playstation 3. ehem… Uncharted… ehem… tapi Sony menyadari bahwa franchise Jak and Daxter masih bisa diperah untuk mendapat keuntungan bagi mereka. Percobaan pertama mereka adalah mengajak developer Ready at Dawn untuk menggarap spin-off dari Jak and Daxter di PSP. Bila dalam trilogi utamanya gamer mengendalikan Jak dalam mayoritas permainan, Daxter menempatkan - sesuai judulnya - Daxter untuk dikendalikan para gamer dalam usahanya menyelamatkan Jak. Game tersebut mendapatkan kesuksesan luar biasa dan sampai sekarang bertahan sebagai salah satu game PSP terbaik.

Sony kemudian memutuskan untuk menaikkan pertaruhan mereka. Bagaimana kalau kali ini bukan cuma sekedar sebuah spin-off? Bagaimana kalau kali ini mereka melanjutkan cerita utama Jak and Daxter? Berhubung Naughty Dog masih terlibat dalam proyek lain, ehem… Uncharted 2… ehem… maka Sony lagi-lagi memanggil developer lain, kali ini High Impact Games untuk menggarap game keempat dalam serial Jak and Daxter. Judulnya adalah The Lost Frontier, dan game ini dirilis untuk PSP dan Playstation 2. Bisakah High Impact Games mengulangi kesuksesan Naughty Dog dan Ready at Dawn?

Game ini berawal dengan saat perjalanan trio Jak, Daxter, dan Keira (pacar Jak) oleh segerombolan bajak laut udara (Sky Pirates). Walaupun awalnya mereka bermusuhan, atas permintaan Keira, Jak dan Daxter sepakat bekerja sama dengan para Sky Pirates untuk mencari Eco Seeker yang bisa menghindarkan dunia dari marabahaya besar. Dalam perjalanannya, Jak dan Daxter juga akan membuka masa lalu dari rombongan Sky Pirates tersebut.

Ini adalah pertama kali saya memainkan serial Jak and Daxter. Dulu saya sempat memainkan game Daxter sebentar, tetapi kemudian permainanku terbengkelalai karena ada lebih banyak game PSP lain yang lebih menarik kumainkan saat itu. Mungkin karena ini saya termasuk kategori gamer yang kebingungan dengan cerita The Lost Frontier. Sudah ceritanya sendiri tergolong semrawut (baca: membingungkan) ditambah dengan game ini tidak berusaha menjelaskan latar belakang cerita dalam game-game sebelumnya.

Dalam The Lost Frontier, gamer akan mengendalikan karakter Jak untuk mayoritas permainan, seperti halnya trilogi awal serial ini. Sebagai Jak kamu memiliki berbagai variasi serangan seperti memukul, melakukan lompatan memukul, dan berbagai amunisi senjata. Apabila serangan fisik Jak bisa terus dilakukan, senjata Jak bisa habis amunisinya. Akan tetapi tidak perlu khawatir karena banyak sekali amunisi berceceran di sepanjang perjalanan Jak mustahil kamu bisa sampai kehabisan amunisi. Toh, kebanyakan musuh di dalam game ini cukup mudah untuk dikalahkan sehingga saya pribadi cenderung menyimpan amunisi untuk menghadapi para boss saja. Setiap kali mengalahkan musuh, Jak akan mendapatkan Dark Eco yang berfungsi sebagai Skill Point-nya game ini. Dark Eco yang dikumpulkan oleh Jak bisa diubah oleh Keira menjadi Red Eco, Yellow Eco, Green Eco, maupun Blue Eco. Masing-masing memiliki upgrade skill yang berbeda untuk Jak. Red Eco misalnya mayoritas skill upgradenya berfungsi menguatkan serangan Jak sementara Green Eco menambah vitalitas / life bar Jak. Ini memberi gamer sedikit kebebasan dalam mengkustomisasi karakter Jak yang mereka mainkan. Bagaimana dengan Daxter sendiri? Sobat setia Jak ini hanya bisa kamu mainkan di bebeberapa segmen tertentu apabila ia terpisah dengan Jak. Karena kena radiasi Dark Eco, Daxter yang kamu mainkan berubah menjadi sosok Dark Daxter.

Selain petualangan di darat, The Lost Frontier memperkenalkan elemen baru: petualangan di udara. Setelah memperbaiki Hellcat (pesawat Jak) yang sempat rusak setelah diserang para Sky Pirates, kamu bisa berkeliling bebas dengannya. Ini juga memberi opsi baru dalam penjelajahan di mana kamu bisa terus menyelesaikan misi-misi utama cerita atau berkeliling sendiri mencari misi-misi sampingan (biasanya sih saya melakukannya untuk menambah pundi-pundi Dark Eco dan membuka skill-skill baru Jak).

Walaupun gameplay dan kontrol game ini sendiri cukup solid, permasalahan terbesar justru datang dari sudut pandang kameranya. Entah kenapa sudut pandangnya membuatku kesulitan melihat obyek-obyek di sekeliling Jak. Lebih gawatnya lagi saya bahkan kesulitan memperkirakan jarak dari satu platform ke platform lainnya yang sering berakibat Jak terjun bebas ke jurang. Sulit menjelaskan ini melalui kata-kata, apalagi karena The Lost Frontier sebenarnya memberi opsi kita memutar kamera secara bebas dengan tombol L dan R, tetapi pada prakteknya ini tidak banyak membantu.

So my verdict is… walaupun The Lost Frontier adalah sebuah game 3D platform yang cukup solid, tapi ia tidak memiliki cukup nilai plus yang membuat game-game sebelumnya menjadi sukses besar. Terbukti banyak situs game memberi The Lost Frontier penilaian suam-suam kuku. Apabila kamu penggemar berat serial ini, jangan berharap terlampau tinggi atau kalian bisa jadi kecewa.

Final Verdict

Gameplay: 6.5
Tidak ada elemen baru yang ditawarkan dalam The Lost Frontier untuk memperkaya serial Jak and Daxter (kecuali elemen terbang, dan itupun tidak maksimal). Stage yang harus dilalui oleh duet Jak and Daxter rata-rata menarik dengan puzzle yang cukup menantang tapi tidak berlebihan kesulitannya. Kekurangan utama gameplay ini ironisnya hadir dari sudut pandang kamera yang sering menganggu permainan.

Graphic / Sound: 7.0
Versi PSP yang saya mainkan memiliki grafis dan suara yang luar biasa tajam dan meriah. Dunia Jak and Daxter yang kaya warna berhasil ditampilkan High Impact Games untuk resolusi layar PSP. Saya juga kagum dengan banyaknya cutscene dan voice acting dalam game ini (walaupun kadang-kadang voice acting Daxter yang over sedikit menganggu). Entah kalau masalah ini pun muncul di versi PS2nya, tetapi game ini terkadang mengalami slowdown ketika memasuki area-area baru.

Play Time: 7.0
Kamu bisa menyelesaikan game ini dalam 10 hingga 15 jam, tergantung apakah kamu ingin langsung menyelesaikan misi utamanya atau ingin melengkapi semua sidequest yang ia tawarkan.

Overall: 6.8

Game Details
Developer: High Impact Games
Publisher: Sony Computer Entertainment
Genre: 3D Platform Adventure

Comments (0)

Tags: , , ,

Godhand

Posted on 27 February 2010 by Si Tukang Review

Godhand Cover

Godhand Cover

(Review Ditulis Di Tahun 2006)

Ketika desas desus Godhand keluar saya benar-benar bersemangat, maklum ini kan keluar dari Clover. Apalagi setelah saya begitu dipuaskan dengan Okami. Saya semakin bersemangat menunggu Godhand. Saya sabar menanti untuk tidak membeli game versi Jepangnya demi mendapatkan versi USnya sehingga saya bisa mengerti ceritanya. Ketika game versi USnya muncul, saya segera bersorak gembira dan menuju ke toko game terdekat guna membelinya. Apakah Godhand berhasil memenuhi harapan saya?

Graphic (5 / 10)

Begitu membuka game ini dan melihat FMV awalnya saya langsung merasa kecewa. Kenapa kualitas grafis dalam game ini sangat jelek? Sangat tidak Clover sekali. Dan lebih parahnya lagi ternyata opening FMVnya begitu singkat (sampai-sampai teman saya yang di samping saya berkata “Hah? Hanya segitu doang openingnya?”). Kekecewaan saya tidak berhenti sampai di sana; begitu masuk ke dalam in-gamenya ternyata kualitas grafisnya sama saja tuh dengan game-game PS2 yang rilis dua atau tiga tahun yang lalu.

Tidak ada yang special pada desain karakternya (beberapa musuh malah monoton karena keluar terus menerus), karakter heronya terbilang culun, dan desain environmentnya buruk sekali. Saya terkejut ketika saya menabrak sebuah dinding dan saya bisa melihat ruangan sebelahnya! Ya ampun, saya tidak percaya game dengan kualitas grafis seburuk ini bisa dibuat oleh Clover. Sebagai catatan, ini Clover yang sama yang mengeluarkan Okami bulan lalu dan menjadi game dengan tampilan grafis terunik dan tercantik tahun ini bagiku. Ini juga Clover yang sama yang mengeluarkan Viewtiful Joe yang memperkenalkan konsep Cel-Shading yang terkenal luas setelahnya. Tidak berlebihan bukan kalau saya mengharapkan sebuah environment yang cantik, inovatif dan berdesain luar biasa?

Hasilnya? Bahkan untuk stagenya pun terasa monoton. Bagi mereka yang pernah menonton serial Tinju Bintang Utara atau Trigun akan langsung merasakan kemiripin latarnya dengan game ini (konon produser game ini sendiri mengaku kalau Godhand ini terinspirasi dengan serial Tinju Bintang Utara). Singkatnya, impresi saya terhadap grafisnya sudah sangat mengecewakan bagiku. Tetapi game yang cantik tidak hanya dilihat dari grafisnya saja bukan? Mari kita lihat aspek-aspek lainnya dari Godhand ini!

Music (7.5 / 10)

Saya nyengir begitu mendengarkan kualitas musik dalam game ini. Hasil musiknya benar-benar sangat menghentak dan khas. Saya benci terus membanding-bandingkan Godhand, tetapi pernahkah anda mendengarkan musik opening dari Trigun yang berciri metal campur western? Ramuan yang sama diambil oleh Godhand dan memang terasa sangat pas! Musik yang menghentak ini mengantarkan semangat kita untuk bisa bangkit dan bertempur habis-habisan. Tidak selang beberapa lama setelah ganti stage, akan ada nada musik baru yang mengiringi perjalanan kita, dan tentunya dengan konsep metal western yang sama. Kualitas suara yang tetap terjaga inilah yang menurut saya salah satu poin terkuat dari Godhand.

Tidak demikian toh dengan voice actingnya. Setiap voice acting karakternya pertama memang terdengar sedikit konyol dan bodoh (duh, kapan ya fasilitas dual bahasa bisa dilakukan? Masa saya harus beli Godhand versi Jepang hanya untuk mendengarkan para seiyuu Jepang bercakap-cakap sih?) tetapi memang setelah lama-lama terbiasa cocok kok dengan suasana dunia Godhand (siapa bilang kalau suasana dunia Godhand itu harus sesangar namanya?). Keluhan saya terutama hanya kepada karakter Olivia. Entah kenapa mendengar pasanganku ini berbicara rasanya kesal sekali, karakter Olivia inilah satu-satunya karakter yang saya rasa tidak ditangani oleh seorang voice actor yang berpengalaman. Sayang sekali, karena kalau suara Olivia lebih seksi lagi mungkin saya akan makin betah menghajar para preman atas permintaannya! (ehem…)

Gameplay (7 / 10)

Sekilas lihat, saya ingin memberi Godhand nilai 8 untuk gameplaynya. Tetapi setelah memainkannya lama, saya terpaksa menurunkan nilainya. Apa pasal? Pertama-tama, saya harus mengatakan kalau gameplay pertarungan dalam Godhand ini begitu luar biasa. Ada begitu banyak jurus-jurus yang bisa anda beli dan anda pakai dalam pertarungan. Jurus-jurus ini bisa dibilang adalah kunci menuju kemenangan anda. Semakin banyak jurus kuat yang anda pelajari, maka semakin beragamlah serangan yang bisa anda lancarkan kepada musuh anda.

Kalau jurus standar saja tidak cukup, ada dua upgrade power yang bisa anda lakukan di tengah permainan. Yang pertama adalah mode serangan Roulette di mana anda diberi kesempatan untuk mengeluarkan jurus special yang bisa menghajar dan menguras energi lawan bila terkena dengan telak (jurus-jurus Roulette pun makin lama bisa makin bervariasi kalau anda membelinya!). Dan yang kedua adalah Godhand; jangan keburu senang membayangkan Godhand itu, pada kenyataannya Godhand hanya membuat anda semakin cepat dalam melakukan serangan dan gerakan juga makin kuat dalam setiap serangan anda. Tidak sespesial itu menurutku sampai harus dijadikan judul gamenya, lagipula penggunaan Godhand ini akan dilakukan sangat-sangat jarang (saya sendiri sering menyimpannya untuk melawan Demon atau Boss saja).

Dengan banyak variasi bertarung ini, seharusnya Godhand bisa menjadi sebuah game aksi yang menarik, tetapi sayangnya karena AI musuh (setidaknya pada mode normal yang kucoba) tidak terlalu tangguh, tantangan terasa kurang, anda akan lebih mengandalkan konsep button mashing semata ketimbang benar-benar memikirkan strategi apa yang harus anda pakai untuk menjatuhkan musuh-musuh anda. Untuk sebuah game aksi petualangan saya sih masih memilih pertarungan dalam Yakuza. Belum lagi ditambah kamera yang buruk (kalau kadang saya bisa melihat musuh di ruangan sebelah, maka mana unsur serunya?) dan kendati kendali kontrolnya responsif, saya kurang suka dengan konsep anda harus memutar karakter dulu sebelum berjalan ke arah tersebut (membuat saya kesulitan menghindari serangan lawan bila terjepit dari belakang).

Singkatnya, Godhand sebenarnya sudah keren dalam konsep pengembangan gameplay yang rumit, tapi mungkin karena terlalu keasyikan mengembangkan konsep-konsep rumit itu, Godhand malahan keblinger dengan hal-hal yang mendasar seperti setting kamera atau AI musuh dalam game ini.

Longetivity (5 / 10)

Saat untuk mempelajari game ini sekitar 1 jam, ketika saya masih belum seberapa paham dengan konsep gameplaynya; saya berulang kali tewas dalam memainkan game ini. Tetapi setelah saya berhasil menguasai dasar-dasar dalam menghindari serangan dalam game ini (pakai analog stik kanan anda… sangat membantu) maka game ini pun mulai menjadi menantang dan menyenangkan.

Sayangnya setelah memainkannya sampai hampir 6 jam, saya mulai merasa bosan dengan pertarungan monoton dan kurang variatif dalam Godhand. Toh saya masih memaksakan untuk main demi mengikut jalan ceritanya yang sudah tanggung saya ikuti. Sekarang saya sudah memainkan game ini sampai sekitar 8 jam, dan tebakan saya adalah game ini bisa diselesaikan setelah kita memainkannya 12 sampai 15 jam.

Apakah saya tertarik untuk memainkannya lagi? Sayangnya tidak. Cukup sekali bagiku menyelesaikan dunia Godhand tanpa ingin melibatkan diri saya lebih jauh lagi di dalamnya.

Editor’s Tilt (6 / 10)

Awalnya sih saya sempat skeptis dan kecewa sekali dengan Godhand yang meleset dari perkiraan awal saya (sekali lagi inilah akibatnya kalau memiliki ekspektasi berlebihan terhadap sebuah game, kenapa saya tidak belajar dari pengalaman saya ketika mengharapkan Dirge of Cerberus dulu ya?). Gameplay Godhand ini ternyata memang lebih condong ke button mashing ditambah dengan kemampuan anda untuk jago menghindari serangan lawan (Hit-run-evade mungkin?).

Lumayan sebenarnya battlenya dan gameplay yang ditawarkan di dalam permainan, tetapi kurang adanya variasi sepanjang permainan membuat saya cepat merasa bosan sepanjang mengikuti permainan (mini-game kasino ternyata kurang bisa menarik perhatian saya untuk lama). Dan karakter Olivia entah kenapa muncul di dalam cerita apabila kerjaannya hanya merepotkanku saja. Ceritanya sendiri? Sebenarnya standar-standar saja, dan yang membuat saya tertawa terbahak-bahak karena kekliseannya adalah munculnya seorang saingan Godhand yang memiliki tangan serupa dan menamakan dirinya (BUKAN SPOILER)… Demonhand. Astaga! Setidaknya kekonyolan-kekonyolan bodoh seperti inilah yang membuat saya terpikat akan cerita Godhand, jangan-jangan memang itu yang diharapkan Clover?

Akhirnya walaupun tidak sekecewa Dirge of Cerberus, Godhand bukanlah sebuah game yang berhasil memuaskanku. Amat disayangkan!

Average: 6.1

Game Details
Developer: Clover Studio
Publisher: Capcom
Genre: Action

Comments (0)

Tags: , , , , , , , , ,

The Saboteur

Posted on 08 February 2010 by Si Tukang Review

The Saboteur Cover

The Saboteur Cover

(Review Based On PC Version)

Saya pernah membaca sebuah artikel unik dari situs game terkenal yang mengajak para pembacanya menebak siapakah musuh yang paling sering dipakai dalam media game? Tadinya saya menyangka kalau jawabannya zombie atau monster-monster sejenis. Jawaban saya salah. Artikel tersebut kemudian menjawab bahwa musuh yang paling sering dipakai (terutama di genre FPS) adalah para tentara NAZI. Tidak tanggung-tanggung dari awal mula lahirnya FPS lewat game Wolfenstein saja gamer sudah diajak menembaki NAZI. Begitu juga pada game-game FPS modern seperti Medal of Honor dan Call of Duty (perkecualian pada Modern Warfare). Nah EA melalui salah satu developernya, Pandemic Studio kemudian menciptakan sebuah game berjudul The Saboteur. Beda dengan game yang saya sebutkan di atas tadi, The Saboteur gameplaynya seperti GTA alias sandbox free-roaming tetapi bersetting di jaman Perang Dunia II. Artinya? lebih banyak NAZI buat kalian bantai!

Apabila semua game GTA mengambil setting kota fiktif yang berdasarkan kota nyata di Amerika seperti Liberty City untuk New York dan Vice City untuk Miami, maka The Sabouteur berlokasi di kota yang disebut penulis terkenal Ernest Hemingway sebagai A Moveable Feast. Tepat. The Saboteur menjadi kisah seorang orang Irlandia bernama Devlin yang turut berjuang bersama pasukan Resistance bawah tanah untuk membebaskan kota Paris dari cengkeraman NAZI. Awalnya Devlin hanyalah seorang pembalap mobil yang bekerja di bawah Vittore, seorang Italia. Setelah kalah karena dicurangi dalam Grand Prix, Devlin dan sahabatnya Jacques diam-diam menyusup ke dalam sebuah markas tentara Jerman untuk meledakkan mobil pembalap yang mencurangi mereka. Sial bagi keduanya, keduanya kepergok oleh Dietrich, sang pembalap curang yang juga berprofesi rangkap sebagai tentara NAZI. Devlin dan Jacques dicurigai sebagai mata-mata dan disesah untuk memberikan informasi. Karena bukan mata-mata, tentu saja Devlin tak bisa menjawab dan melihat sang sahabat dibunuh di matanya sendiri. Keberuntungan membuat Devlin bisa meloloskan diri, dan ia bersumpah untuk membalas dendam akan kematian sahabatnya itu.

Ambisi The Saboteur tidak main-main dalam menciptakan kota Paris. Kota ini masih terlihat begitu gemerlap dan indah sesuai julukannya City of Lights, tetapi juga ada aroma depresi karena setiap penghujungnya dijaga ketat oleh patroli tentara Jerman. Bahkan di tempat-tempat di mana para tentara Jerman kuat bercokol ditandai dengan suasana yang kelam dan hitam putih. Apabila kamu berhasil menghancurkan kekuatan tentara Jerman di wilayah itu maka daerah itu pun kemudian dihiasi dengan semburat warna. Bila kalian pernah memainkan game Okami atau Tomba tentu familiar dengan sistem pembebasan wilayah seperti ini. Sayang buat saya pemberian warna hitam putih ini justru terkesan sebagai blunder. Alasannya begini, hampir setiap wilayah bisa kamu rebut dari tentara Jerman setelah kamu menghancurkan markas besar di wilayah tersebut. Itu berarti sering kali kamu bakalan menyerbu markas musuh dengan warna hitam putih yang selain menurunkan intensitas permainan juga menganggu pandanganmu dalam lawan. Karena layarmu melulu gelap, secara insting kamu menyangka bahwa dengan mengendap-endap kamu pasti tidak ketahuan musuh sebelum sadar bahwa musuh tetap bisa melihat dan langsung memberondongimu dengan peluru. Setelah daerah tertentu itu kamu bebaskan dari pengaruh NAZI pun tak banyak lagi yang bisa kamu lakukan selain berkeliling dan mengagumi designnya yang kini berwarna.

Selain kekurangan di tata warna game ini, saya agak kecewa dengan mobil abadi dalam game ini. Dalam game lawas seperti GTA III saja apabila kamu menabrakkan mobilmu maka akan terjadi penyokan di sana-sini. Terus menabrakkan mobilmu akan membuatnya berasap, lantas berapi-api kemudian meledak. Ini tidak pernah terjadi dalam The Saboteur. Tak peduli bagaimana kerasnya saya mencoba menabrakkan mobil ke tembok, mobil lain, sampai truk panser sekalipun, boro-boro meledak, penyok pun tidak! Apakah Pandemic Studio malas untuk melakukan programming animasi penyok mobil jaman dulu? Satu-satunya kemungkinan mobil kita hancur meledak adalah kalau diberondong oleh ratusan peluru NAZI dari berbagai arah. Memang sih ini menjadikan gameplay jauh lebih mudah, tetapi bukan pengurangan tantangan seperti ini yang saya cari. Untungnya ini ditutupi dalam aspek baku tembak yang sangat mengesankan. Bayangkan saja, sebagai Devlin saya menyerbu markas besar tentara Jerman seorang diri sampai menjatuhkan sebuah Zeppelin kebanggaan mereka (pesawat terbang Jerman). Kalau semua prajurit Allies sehebat Devlin, perang bisa berakhir dalam hitungan hari. Baku tembaknya pun seru dan mengingatkan saya akan Resistance. Tentu saja baku tembak yang seru ini kemudian terpaksa mengorbankan esensi stealth permainan. Walaupun judulnya The Saboteur, sangat sedikit misi game yang mengharuskanmu mengendap-endap; dan karena pada akhirnya baku tembak lebih seru, saya pun jarang memilih opsi menyelinap dan langsung main terjang saja.

So my verdict is… The Saboteur bukan sebuah game yang sempurna karena tidak cukup kebebasan yang ditawarkan di dalamnya. Toh saya tak akan memungkiri untuk mengatakan kalau ini adalah salah satu game paling fun yang saya mainkan tahun ini. Di game mana lagi coba kita bisa menyerang para NAZI sendirian ala Rambo? It’s bloody fun!

Final Verdict

Gameplay: 7.5
Cerita The Saboteur menarik, tetapi saya tidak bisa mengatakan hal yang sama untuk variasi misi yang ia tawarkan. Kebanyakan misinya standar yang pasti pernah kamu temui variasinya ketika bermain game sandbox sejenis. Sub-misinya membosankan dan kamu akan menemui dirimu lebih banyak berfokus pada misi utamanya.

Graphic / Sound: 7.5
Menghidupkan kota Paris yang indah di bawah cengkeraman Jerman berhasil dilakukan oleh Pandemic Studios. Sayang memakai terlalu banyak hitam putih terasa berlebihan. Paris kan dijuluki City of Lights, bukankah amat disesalkan kalau gamer tidak bisa melihat keindahannya hanya karena dibatasi oleh gameplaynya sendiri?

Play Time: 7.5
Panjang game ini berkisar antara 10 hingga 15 jam. Selepas menyelesaikannya, kamu akan dipersilahkan berkeliling lagi semaumu, tetapi mengingat daya tarik game ini ada pada skenario utamanya, sulit menyarankanmu kembali lagi seusai menamatkannya.

Overall: 7.5

Game Details
Developer: Pandemic Studio
Publisher: EA
Genre: Sandbox Adventure

Comments (0)

Tags: , , , , , , , , ,

PROTOTYPE

Posted on 20 January 2010 by Si Tukang Review

PROTOTYPE Cover

PROTOTYPE Cover

Resident Evil + GTA + Spider-man

Apa yang terjadi sehari setelah saya memainkan game PROTOTYPE ini? Well, status seperti ini muncul dalam account Facebookku.

Hal terbrutal yang gw lakukan di game PROTOTYPE: menyeret tubuh seseorang pejalan kaki selama berkilo-kilo sambil mendengarkan dia menjerit-jerit di speakerku… dan setelah bosan gw memotong tubuhnya jadi dua, melihat darah bermuncratan dari tubuhnya, lantas memakan sisa mayatnya. Man, I LOVE this game.

Sebelum kalian langsung mencapku sebagai orang gila dan memanggil RSJ terdekat, coba baca dulu review berikut ini. Siapa tahu ikut ketularan gilanya kan? Hi hi hi.

Menjelaskan game PROTOTYPE secara singkatnya adalah sebuah game paduan dari Resident Evil, Grand Theft Auto, dan Spider-man. Dari Resident Evil, game ini mencomot jalan cerita di mana zombie (atau makhluk mutasi virus) menyerang kota New York. Dari Grand Theft Auto, game ini mencomot sistem sandbox untuk gameplaynya yang memperbolehkan kamu menjelajahi kota sembari menjalani misi cerita maupun misi sampingan yang disediakan untukmu. Terakhir dari Spider-man, kamu di sini berperan sebagai superhero (atau setidaknya seseorang berkekuatan super). Campurannya menjadikan PROTOTYPE sebagai game paling stylish yang kumainkan tahun ini.

Mendengar design seorang superhero, PROTOTYPE mungkin akan mengingatkanmu tentang game lain yaitu inFAMOUS, game superhero gameplay sandbox lain karya Sucker Punch Productions. Walaupun dirilis pada saat hampir bersamaan (inFAMOUS dua minggu lebih dulu dibanding PROTOYPE) dan memiliki ciri-ciri yang mirip, tentunya kedua game ini memiliki perbedaan sendiri. Buat kalian yang ingin main game macam inFAMOUS tetapi tidak punya game PS3, game ini menjadi alternatif lain yang bagus karena hadir multi-platform. Review ini dibuat berdasarkan versi PCnya.

New York: The Big Apple Every Zombie Wanna Eat

Dalam prolog cerita ini, sosok Alex Mercer yang kamu kendalikan mendadak berada di tengah kota New York yang membara. Kekacauan dan kehancuran jelas terlihat di mana-mana. Para zombie serta monster mengamuk sementara para tentara dengan tank, helikopter, sampai senjata mutakhir mereka berusaha mencegah serangan para monster. Terjebak di tengah mereka adalah penduduk kota yang tak berdosa; tewas akan serangan kedua belah pihak. Terjebak juga di tengah mereka adalah Alex Mercer.

Untung saja Alex Mercer bukan sekedar penduduk biasa. Dalam proses tutorial yang berlangsung, kamu akan belajar dengan cepat bahwa Alex memiliki kekuatan super. Ia bisa mengubah bentuk tangannya menjadi berbagai macam senjata mulai dari palu godam, cambuk, sampai pedang tajam (ingat Witchblade?). Selain itu ia bisa melompat jauh lebih tinggi dari manusia biasa (ingat lompatan Hulk?) dan berlari sangat cepat. Tambahan lagi, layaknya Venom kamu bisa menghisap manusia, zombie, atau segala jenis monster di dekatmu. Kamu adalah kuda hitam dalam perang ini dan disebut dengan kode nama ZEUS oleh para tentara. Tidak salah; kamu memang layaknya seorang dewa.

Setelah prolog usai, cerita sesungguhnya dalam PROTOTYPE dimulai dari 18 hari sebelum prolognya. Sebagai Alex Mercer yang hilang ingatan, kamu akan mulai mencari tahu apa yang telah dilakukan perusahaan GENTEK yang mengubah tubuhmu hingga kini menjadi layaknya manusia mutasi sampai mengisi kembali relung-relung ingatanmu yang hilang.

Kalau kamu dewa maka pastilah seluruh kota New York merupakan taman Edenmu. Salah satu keasyikan bermain PROTOYPE yang saya rasakan terjadi begitu saya melihat Alex dengan cepat berlari menaiki gedung. Setiap gedung pencakar langit dalam kota New York bebas kamu panjat. Setiap lorong kota New York bebas kamu jelajahi. Tidak ada batasan. Ini yang membuat game ini terasa begitu ‘bebas’. Seperti halnya GTA, untuk memulai misi khusus yang berhubungan dengan cerita kamu harus menuju ke titik tertentu. Selama kamu tidak menjalani misi apapun, kamu bebas berpetualang sekena hatimu.

Ketika memulai permainan (setelah prolog), kekuatan Alex masih terbatas. Kamu bisa berlari cepat dan melompat tinggi, tetapi beberapa wujud perubahanmu masih terkunci. Skill-skill tersebut bisa kamu beli dengan mendapatkan EP atau Evolution Point. Evolution Point ini bisa digunakan untuk mengupgrade atau membeli skill-skill yang baru. Selain mendapat wujud baru untuk Alex, kamu juga bisa mendapat kemampuan mengambil alih kendaraan tank atau helikopter milik musuh. Kamu juga bisa mendapatkan berbagai jenis gerakan serangan baru seperti melayang di angkasa atau dash di udara.

Kalau kamu pikir bahwa semua kekuatan yang kamu dapat membuatmu tidak terkalahkan, coba pikir lagi. Hari demi hari, infeksi yang mengenai kota New York akan makin meluas dan kota ini menjadi tempat yang makin berbahaya. Selain dianggap musuh oleh para tentara (yang takkan segan mengirimkan puluhan orang, tank, sampai helikopter untuk memburumu) akan ada banyak monster dan zombie yang menyerangmu. Zombie biasa mungkin lawan yang bisa kamu hadapi tetapi para Hunter memiliki kekuatan dan kecepatan yang tak kalah ganas darimu. Mendapatkan skill baru dan terampil menggunakannya menjadi kunci utamamu bertahan hidup dalam game ini.

Misi-misi utama dalam PROTOTYPE memang menarik dan bervariasi, tetapi sayangnya misi-misi sampingannya benar-benar terasa seperti dikesampingkan. Kurang menarik dan terasa dibuat cepat sekedar untuk sambil lalu. Untungnya game ini menyajikan versi tersendiri dari battle of influence mereka (mirip dengan gang war di GTA: San Andreas). Setiap harinya infeksi meluas di seluruh kota dan para militer akan berjuang menahan laju infeksi tersebut. Di dalam mapmu akan ada tanda lingkaran merah dan biru. Lingkaran merah menandakan bahwa militer tengah berperang melawan pusat infeksi di tempat itu. Membantu menghancurkan pusat infeksi akan memberimu tambahan EP yang besar (dan berguna mengupgrade skillmu). Lingkaran biru berisi markas militer tentara yang bisa kamu susupi (dengan kemampuan menyamarmu). Setelah masuk, Alex mencari tentara yang memiliki skill khusus. Dengan kekuatan ‘memakan’nya, Alex akan menyerap tentara itu dan mendapatkan atau mengupgrade skillnya. Ia akan lebih piawai menggunakan senjata atau mengendalikan helikopter dan tank dengan lebih handal.

Bicara soal serap menyerap kekuatan, ada sistem bernama Memory Node dalam game ini. Alex kehilangan ingatan dan satu-satunya cara mengingatnya kembali adalah dengan menyerap orang-orang khusus yang kamu temui dalam game ini. Bila kamu menyerap orang yang benar, kamu akan mendapatkan sebuah cutscene singkat dari memori orang itu yang lama kelamaan membentuk sebuah gambaran besar cerita. Cutscenenya sendiri bukan keharusan untuk didapat, tetapi mendapatkan semuanya akan membuatmu lebih mengerti dan menghargai cerita game ini.

Running Around The Burning City

Kualitas grafis dalam PROTOTYPE benar-benar keren. Menjelajahi semua kota New York bukan sekedar janji kosong dari developer Radical Entertainment. Semua tempat-tempat landmark di kota ini benar-benar dimunculkan sehingga bermain dalam kota ini terasa seperti kita pergi ke New York. Gerakan Alex juga fluid dan halus. Berbagai bentuk tubuh Alex memiliki animasi gerakan yang berbeda-beda dan mengeksekusi semua jurus-jurusnya secara sempurna adalah kebanggaan bukan hanya bagi tangan dan reflekmu tetapi juga matamu untuk melihat orang yang melakukan tari ballad pencipta kematian.

Mengingat kota New York luar biasa besar dan hidup, terpaksa ada pemotongan-pemotongan yang dilakukan (mungkin untuk menghemat tempat?). Beberapa gedung di kota ini tampak mirip satu sama lain. Untung hal ini ditebus dengan kondisi yang terus berubah. Pada awal petualangan Alex kota New York masih terlihat ‘normal’ tetapi seiring semakin meluasnya wabah infeksi kamu akan melihat bahwa kepulan-kepulan asap makin terlihat di mana-mana, orang-orang makin waspada akan serangan para monster. Di daerah infeksi kekacauan makin terlihat di mana para zombie menyerang dan menghabisi tiap manusia normal yang tersisa.

Grafis yang sudah di atas rata-rata ini juga didukung oleh sound effect yang mumpuni. Mulai dari teriakan para penduduk yang panik, deru helikopter dan tembakan-tembakan senjata menunjukkan New York tengah menghadapi bencana yang sangat serius.

Pada akhirnya saya cuma bisa kasihan sama kota New York. Ternyata jadi kota yang ngetop banyak tidak enaknya ya? Roland Emmerich hobi setengah mati menghancurkan kota ini dalam The Day After Tomorrow atau Godzilla, sekarang kota ini malahan kena wabah zombie yang mematikan. Kapan ya giliran Jakarta?

Final Verdict

Gameplay: 9.0
PROTOTYPE menawarkan kota New York untuk kamu jelajahi. Selain melihat kehancuran yang terjadi pada kota terkenal dunia itu, kamu juga harus menyelidiki misteri di balik hilangnya memorimu dan keterkaitan dirimu dengan wabah epidemik yang tiap harinya terus meluas.

Graphic / Sound: 8.5
Kebanyakan gedung yang bukan landmark terasa terlalu standar. Saya juga menyayangkan beberapa efek yang kurang realistis. Contohnya saya melemparkan seorang pejalan kaki ke tembok dan berharap kalau tubuhnya akan hancur saat benturan terjadi. Ternyata impianku tidak terwujud (mendengar seruan “dasar psikopat” dari para pembaca =P)

Play Time: 8.5
Game ini bisa diselesaikan dalam tempo kurang dari 10 jam bila mengikuti misi utamanya saja. Toh kamu akan menghabiskan kira-kira 20 jam karena PROTOTYPE terus menaikkan kesulitan sehingga memaksamu mengambil misi-misi sampingan guna mendapatkan EP yang bisa mengupgrade kemampuan Alex.

Overall: 8.8

Game Details
Developer: Radical Entertainment
Publisher: Activision
Genre: Action (Sandbox)

Comments (0)

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Tekken 6

Posted on 26 December 2009 by Si Tukang Review

Tekken 6 PSP Cover

Tekken 6 PSP Cover

(Review Based on PSP Version)

Walaupun koleksi library handheld PSP tidak sebanyak DS, itu bukan berarti handheld Sony kalah kualitas dengan handheld Nintendo. Salah satu komplain terbesar yang disampaikan orang terhadap PSP adalah karena terlalu banyak game remake yang hadir di PSP dan saya juga setuju akan hal ini. Toh, kalau remakenya sebaik Tekken 5: Dark Resurrection dulu, saya sih tidak merasa akan ada banyak orang yang menggerutu. Semenjak Dark Resurrection diluncurkan, game tersebut kemudian menjadi tonggak bagi game fighting lainnya di PSP. Bahkan remake Soulcalibur: Broken Destiny yang dirilis juga oleh Namco dianggap bagus tapi belum sebaik Dark Resurrection.

Sebenarnya di akhir tahun 2007, Tekken 6 diluncurkan di arcade Jepang. Setahun kemudian versi upgradenya dirilis dengan sub-judul Bloodline Rebellion diluncurkan (dengan tambahan dua karakter baru). Seharusnya sih versi PS3 dan PSPnya juga diluncurkan di tahun yang sama, tetapi ternyata dalam ‘penyabotan’ yang dilakukan oleh Microsoft, perilisannya ditunda selama setahun (satu dari beberapa penyabotan yang dilakukan oleh Microsoft, termasuk merebut serial Final Fantasy bernomer dari Sony). Kini di tahun 2009, versi home console dan PSPnya pun dirilis. Bagaimanakah hasilnya?

Tekken 6 ini menampilkan versi Bloodline Rebellion yang berarti selain ada lima karakter baru dan 33 karakter lama (34 kalau menghitung Panda), muncul juga Alisa Bosconovitch; cucu android dari Dr Bosconovitch dan Lars Alexandersson; si anak haram dari Heihachi Mishima. Total jendral ada 41 karakter yang siap kamu pakai dalam game ini - menjadikan Tekken 6 sebagai Tekken dengan roster terbesar. Apa yang membuat saya kagum dengan versi PSPnya adalah bagaimana handheld ini bisa memasukkan semua karakter dalam handheldnya. Salut Namco. Salut.

Grafis dalam Tekken 6 luar biasa. Tiap karakter game memiliki render animasi dan gerakan yang sangat halus untuk ukuran PSP. Juga beberapa arena tertentu memiliki segi interaktifnya dalam pertarungan. Saat kamu menghajar dan sukses memasukkan combo ke dinding misalnya, maka dinding itu akan jebol dan membuka arena baru untuk pertempuran. Walaupun tentu saja kualitas grafis versi PSP ini tidak bisa dibandingkan dengan home console atau Arcade (come on, they’re next-gen standard), saya tetap salut dengan usaha Namco ini. Siapa sangka mereka masih bisa membuat standar grafis game fighting yang lebih tinggi lagi dibanding apa yang dulu mereka raih melalui Dark Resurrection?

Mengenai karakter lama sendiri, hampir semuanya masih memiliki cara permainan yang sama dengan pada iterasi game sebelumnya sehingga kalau kamu sudah biasa dengan karakter itu, kamu tak perlu belajar lagi cara menggunakan mereka. Saya memang jarang main game fighting dan satu-satunya karakter yang saya percaya saya bisa mainkan dengan ‘lumayan’ (baca: tidak diganyang Perfect oleh para jago Tekken lain) adalah memakai Hwoarang. Ketika saya memainkan game ini lagi, Hwoarang tetap sama cepat dan mematikan tendangannya dengan Tekken 5: Dark Resurrection. Di antara beberapa karakter baru yang dihadirkan, saya paling tertarik dengan tiga karakter: Bob, Alisa, dan Zafina. Bob mendobrak tradisi kalau orang gendut pasti pelan, Alisa adalah robot cyborg yang sekilas lihat agak overpowered (makanya sebagai amatiran Tekken yang suka button mashing dia jadi favorit kedua saya setelah Hwoarang), dan yang terakhir Zafina yang gaya berantemnya agak… aneh. Salah satu pose kemenangan Zafina di mana ia merangkak ala laba-laba malahan mengingatkan saya pada setannya Ju-On (loh, apa hubungannya ya?).

Dalam gameplaynya sendiri, satu penambahan yang paling kentara di mataku adalah Rage System di mana ketika darah karaktermu sudah turun di bawah 10% maka karaktermu akan memiliki aura merah yang bersinar di mana semua seranganmu akan memiliki daya rusak yang lebih dahsyat. Kalau kalian pernah bermain Garou: Mark of the Wolves, Rage System mirip dengan TOP System-nya. Mode permainan dalam Tekken 6 sendiri sedikit kurang variatif. Terlepas dari Arcade Mode, Story Mode, dan Challenge Mode yang sebenarnya menawarkan hal yang sama, tidak ada lagi tambahan mode selain adu jotos. Hilangnya Scenario Campaign yang mirip dengan Tekken Force agak mengecewakan tetapi sekali lagi menyadari keterbatasan hardware PSP, mungkin ini merupakan keputusan yang terbaik. Toh Scenario Campaign juga banyak dikritik sebagai kelemahan dari Tekken 6 versi konsol kok. Setidaknya semua film ending dari para karakter tetap dipertahankan secara utuh oleh Namco di sini. Beberapa sangat serius, beberapa pendek dan ga jelas, beberapa lagi super kocak dan mengundang tawa terbahak. Bila ada kekurangan vital di gameplay Tekken 6, itu adalah tidak adanya opsi untuk bertarung melawan musuh di dunia online (hanya bisa secara wireless dan itupun temanmu harus memiliki kopi Tekken 6). Yah, mungkin jaringan internetnya sendiri yang kurang memadai? Entahlah.

Lepas dari beberapa kekurangan yang ada, Tekken 6 masih membuktikan dirinya sebagai salah satu franchise fighting terbaik yang ada di pasaran saat ini. Keterlambatan satu tahun rilisnya tidak menjadikan gameplaynya uzur, yang membuktikan bahwa game berkualitas ini selalu bisa kamu mainkan kapan saja bersama teman-temanmu. Siapkah kamu membuktikan apakah kamu masih sang King of Iron Fist?

Final Verdict

Gameplay: 9.0
Roster yang lengkap di PSP sejumlah 41 orang membuat saya girang. Semua karakternya juga memiliki kemampuan yang berimbang. Kekurangan mode permainan dan dukungan online play tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada Namco karena keterbatasan hardware PSP. Sebagaimana Dark Resurrection, Tekken 6 juga adalah sebuah game yang must-have bila kamu seorang gamer gitar (gila tarung).

Graphic / Sound: 9.5
Benar-benar nyaris sempurna. Tekken 6 menawarkan variasi tempat tarung yang berbeda, animasi karakter yang sangat halus dari karakter favorit fan ala Jin Kazama, Hwoarang, atau Paul Phoenix, sampai yang kurang dipakai macam Jack-6 atau Roger Jr. Setiap karakter juga didesign dengan berbeda dari pose maupun kostumnya. Kalau kalian bosan dengan kostumnya, ada opsi mengganti penampilan karakter favoritmu dengan membeli aksesoris kustomisasi.

Play Time: 8.5
Kurangnya dukungan bermain online sedikit mengurangi waktu bermain game ini. Toh bagi saya Tekken 6 di PSP adalah training ground-ku. Saya bisa membawa PSPku ke mana-mana sambil berlatih kemampuan, sementara bermain di 360, PS3, ataupun Arcade adalah saat di mana saya bisa unjuk kemampuan hasil latihanku. Hasilnya? Errr… kurang begitu berhasil sih. Saya tetap terkapar menghadapi musuh-musuh. Apa mungkin memang tidak bakat ya main game fighting? *menghela nafas panjang*

Overall: 9.0

Game Details
Developer: Namco Bandai
Publisher: Namco Bandai
Genre: 3D Fighting

Comments (5)

Tags: , , , , ,

Call of Duty: Modern Warfare 2

Posted on 16 December 2009 by Si Tukang Review

Call of Duty: Modern Warfare 2 Cover

Call of Duty: Modern Warfare 2 Cover

(Review Based on PC Version)

Yang mengatakan kalau industri game tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu perlu berkaca lagi pada statemen tersebut. Tahun ini adalah tahun lahirnya Street Fighter IV, Resident Evil 5, Batman: Arkham Asylum, Uncharted 2, Dragon Age: Origins, Legend of Zelda: Spirit Tracks, The Sims 3, GTA: Chinatown Wars, New Super Mario Bros Wii, dan banyak - banyak - banyak sekali game-game keren lainnya. Tetapi bila saya diminta memilih mana yang harus saya nobatkan untuk menjadi game of the year, tanpa ragu saya akan memilih: Call of Duty: Modern Warfare 2. Saya tahu ada banyak orang yang mengatakan kalau game ini overrated dan dipuji berlebihan sekedar karena ia memecahkan rekor penjualan video game terbesar sepanjang masa. Sekedar catatan, pendapatan Modern Warfare 2 yang mencapai 310 Juta USD hanya pada hari pertama perilisannya adalah pendapatan dunia hiburan terbesar sepanjang masa (The Dark Knight yang memegang rekor opening weekend terbesar film ‘hanya’ mendapat 158 Juta USD selama tiga hari pertama masa tayangnya). Apa sebenarnya yang membuat saya berani berkoar kalau game ini adalah game terbaik tahun ini (setidaknya bagiku)? Silahkan baca.

Call of Duty pertama adalah salah satu serial FPS yang paling kukenang. Serial ini pertama kali dirilis oleh Activision pada tahun 2003, dan saya langsung terkesima ketika melihat Perang Dunia II yang brutal. Saat berperang bersama menyerbu markas musuh amat berbeda dengan FPS-FPS yang ada pada masa itu. Sontak Call of Duty menjadi franchise yang sukses dan terkenal. Tahun demi tahun Activision terus merilis sekuel game Call of Duty yang semua mengambil latar yang sama Perang Dunia II. Memasuki game keempatnya, Infinity Ward selaku developer yang menelurkan game ini sadar bahwa tema Perang Dunia II sudah basi. Seru sih memang seru, dan mungkin masih ada banyak sekali perang-perang yang bisa dimasukkan dalam skenarionya, tetapi Infinity Ward ingin mencoba satu konsep yang baru - yang lebih fresh. Lahirlah Call of Duty 4: Modern Warfare yang mengambil setting bukan di masa lalu yang sudah terukir sejarah melainkan masa depan alternatif. Bisa dibilang Call of Duty 4: Modern Warfarelah yang membawa franchise Call of Duty menjadi superstar dunia FPS. Perlahan tapi pasti, bahkan game center yang biasa dipenuhi kebisingan game lama Counter Strike mulai berubah menjadi Modern Warfare.

Begitu cintanya gamer pada Modern Warfare, ketika tahun lalu seri kelima Call of Duty dirilis dengan sub-judul World at War dan (kembali) mengambil setting di Perang Dunia II, banyak sekali orang kecewa dan mengecam ini sebagai langkah mundur serial Call of Duty. Yang mereka tidak tahu saat itu adalah, serial Call of Duty sebenarnya didesign oleh dua developer hampir secara simultan untuk memastikan publisher Activision punya satu game Call of Duty untuk dirilis tiap tahunnya. Sementara Infinity Ward merilis Modern Warfare di tahun 2007, Treyarch yang adalah pengembang satunya gantian merilis World at War di tahun 2008. Di tahun yang sama, Infinity Ward tengah bekerja keras untuk memenuhi harapan gamer akan sebuah game Modern Warfare yang baru. Dirilislah Modern Warfare 2 tahun ini - dan sisanya adalah sejarah. Tercatat dalam lima hari pertama saja sudah ada delapan juta orang online dan bermain Modern Warfare 2 secara multiplayer!

Saya tahu bahwa tidak biasanya sebuah FPS mementingkan cerita, tetapi Modern Warfare 2 adalah pengecualian. Ringkasan berikut ini bisa jadi mengandung spoiler, sehingga kalau kamu peduli dengan spoiler - lompati paragraf ini. Lima tahun berlalu setelah akhir Modern Warfare pertama. Kematian Imran Zakhaev bukannya menjadikan dia seorang penjahat perang - malahan berubah menjadi seorang pahlawan dan martir di Russia sana. Lebih mengecewakannya lagi adalah Vladimir Makarov yang dulunya seorang ajudan Zakhaev mulai membentuk kelompok teroris yang terus menyerang berbagai kota di Eropa. Amerika tentu saja tidak tinggal diam dan menyusun regu elit Task Force 141. Salah seorang anggotanya bernama Joseph Allen ditugaskan untuk menyusup dalam rombongan Makarov dalam aksi terorisme mereka. Aksi tersebut termasuk menembaki seluruh penumpang di bandara internasional Moskow secara membabi-buta. Sial bagi Allen, Makarov memergoki penyamarannya dan membunuhnya. Saat mayat Allen teridentifikasi, Russia pun marah besar karena menganggap Amerika berada di balik serangan tak berperikemanusiaan itu. Mereka membajak sistem radar di Amerika dan melancarkan serangan besar-besaran secara diam-diam ke kota Washington. Sementara kamu harus menghentikan invasi Russia ke tanah Amerika, kamu juga harus mencoba menangkap Makarov yang merupakan dalang semua kekacauan ini.

Karena ada beberapa plot yang berjalan bersamaan dalam cerita, kamu juga akan memainkan beberapa karakter berbeda di berbagai macam lokasi (untuk Single Player Mode). Modern Warfare 2 memang menyenangkan untuk dimainkan sendiri maupun bersama-sama. Dimainkan bersama-sama sih sudah jelas. Dengan grafis terkini, berbagai macam map dan campaign yang bisa dipilih (dan saya rasa akan terus bertambah seiring dengan hadirnya expansion pack resmi maupun tidak resmi), Modern Warfare 2 bisa dimainkan berjam-jam dengan kawan-kawanmu. Toh, dimainkan sendiri pun Modern Warfare 2 tidak kalah asyiknya. Single Player Mode menawarkan tur gratis ke berbagai macam lokasi eksotik dunia. Setelah misi prolog di Afghanistan, kita masih dibawa untuk melihat Rio De Janeiro, Siberia, Moskow, Washington, dan banyak tempat lagi. Setiap lokasi juga memiliki tujuan yang berbeda-beda sehingga misi tidak pernah terasa monoton. Misi yang paling memorable bagiku adalah Cliffhanger yang merupakan misi kedua. Tidak tanggung-tanggung, misi ini diakhiri dengan kejar-kejaran naik snowmobile yang sangat intens dan menegangkan. Beberapa pihak mengkritik Single Player Mode terlalu cepat dibandingkan game-game Call of Duty sebelumnya. Saya tidak setuju. Saya memerlukan waktu kira-kira enam hingga delapan jam untuk menyelesaikan Single Player Mode yang terbagi menjadi 18 chapter ini - cukup panjang untuk ukuran game FPS. Lagipula apa gunanya memperpanjang sebuah cerita Single Player Mode apabila malah mengorbankan kualitas ceritanya sendiri? Setiap satu chapter dalam game ini menurut saya berpengaruh untuk memajukan jalan ceritanya sebagai satu kesatuan. Tunggu apa lagi Hollywood? Garap versi film dari game ini! Selain mode ceritanya, dalam Single Player Mode juga terdapat berbagai variasi misi Solo yang bisa kamu jalankan bila kamu penasaran dengan kemampuanmu sendiri. Semakin bagus kamu menyelesaikan tantangan-tantangan yang ada, semakin banyak medal yang akan kamu menangkan sebagai penghargaanmu. Tantangan yang pendek - tetapi cukup mengasyikkan untuk mengisi waktu dan terus mengasah ketajaman instingmu.

Cerita yang hebat dan gameplay yang seru itu juga ditunjang oleh grafis dan suara yang ekselen. Seperti yang saya katakan tadi, Single Player Mode membawa pemain ke berbagai lokasi yang berbeda-beda di dunia, mulai dari putih dinginnya Siberia di tengah badai salju, serangan bawah laut di sebuah stasiun lepas pantai, perkampungan kumuh Rio De Janeiro, sampai pada kota Washington yang membara. Semuanya berbeda kecuali satu: semuanya digarap dengan detail yang mengagumkan. Bagi yang memainkannya di PC pun tak perlu khawatir sebab Modern Warfare 2 bukan game yang rakus spesifikasi (I’m looking at you Crysis), asal komputermu dulu kuat memainkan Modern Warfare pertama dan World at War, Modern Warfare 2 pun bisa kamu mainkan dengan setting standar tanpa slowdown berarti. Musik dalam Call of Duty sudah biasa ditangani oleh komposer-komposer top dan ini pun bukan pengecualian. Apabila di prekuelnya duet Stephen Barton dan Harry Gregson-Williams yang menggubah track-tracknya, kali ini musik dikompos oleh Hans Zimmer. Keberanian Infinity Ward merekrut komposer-komposer besar ini terbukti manjur. Ingat misi Cliffhanger yang kutulis di atas tadi? Alasan kenapa misi tersebut begitu memorable tidak hanya adegannya saja tetapi karena musik Zimmer yang mengiringi sangat pas menggiring emosiku. Saya jarang menyarankannya, tetapi untuk Modern Warfare 2, kalau kamu bisa mendapatkan OSTnya maka belilah itu tanpa ragu!

Memang Modern Warfare 2 tidak memberikan inovasi baru seperti ketika sang prekuel mengubah fondasi setting FPS, tetapi dengan jalan cerita yang fantastis, grafis yang tajam tetapi tidak makan banyak resource, kualitas musik yang luar biasa, sampai unsur fun dan replayability yang tinggi, Call of Duty: Modern Warfare 2 saya nilai layak mendapatkan penghargaan game terbaik tahun ini.

Final Verdict

Gameplay: 10
Single Mission Mode-nya langsung bikin ketagihan untuk memainkannya terus dan terus. Kualitas cinematic scenenya disutradarai dengan meyakinkan dan berkali-kali saya harus meyakinkan diri saya bahwa ini ‘hanya’ game dan bukan film. Bila kamu bertujuan ingin memainkan game ini online, pilihlah versi 360nya karena jaringan Live dari X-Box saat ini merupakan jaringan yang paling menunjang. Sebaliknya bila ingin mendapatkan grafis terbaik untuk game ini, beli graphic card terbaik dan bersiaplah untuk terpana memainkannya.

Graphic / Sound: 9.0
Kualitas grafis Modern Warfare 2 mungkin tak bisa dibandingkan dengan Crysis atau Farcry 2 bila sama-sama dimasukkan pada setting maksimum. Tidak berarti grafisnya jelek. Justru saya lebih kagum pada Infinity Ward yang mampu mendapatkan keseimbangan sebuah game yang tetap apik pada grafisnya tetapi bisa dimainkan di (hampir) semua gaming computer. Untuk versi konsolnya sendiri, kualitas Modern Warfare II setara (kalau tidak sedikit lebih baik) dengan FPS-FPS yang ada saat ini. Kualitas musik yang ditangani oleh Hans Zimmer dan voice acting yang meyakinkanlah yang menjadi poin terkuat sisi audio visual.

Play Time: 10
Setelah memainkan Single Player Mode (baik yang Campaign dan Cooperative) yang bisa menyedot 10 hingga 20 jam, bergabung dalam komunitas dunia maya (konsol) atau mainkan game ini secara LAN di Game Center (PC). Dengan angka 8 juta orang (dan mungkin terus bertambah) yang terkoneksi di dunia internet guna memainkan Modern Warfare II, jangan heran kalau game ini akan jadi idola dalam turnamen-turnamen FPS yang akan datang!

Score: 9.8

Game Details
Developer: Infinity Ward
Publisher: Activision
Genre: FPS

Comments (23)

Tags: , , , , , ,

Drawn to Life: The Next Chapter

Posted on 24 November 2009 by Si Tukang Review

Drawn to Life: The Next Chapter Cover

Drawn to Life: The Next Chapter Cover

(Review Based on DS Version)

Tahun 2009 ini menjadi tahun yang gemilang untuk tim developer kecil bernama 5th Cell. Game mereka yang bernama Scriblenauts mendadak menjadi bintang dalam pameran game dan dipergunjingkan di mana-mana. Setelah Scriblenauts dirilis, para pengamat menyebut bahwa walau game ini tidak sesempurna yang mereka sangka sebelumnya, game bergenre puzzle tersebut tetap dianggap game terinovatif tahun ini. Ternyata kejutan 5th Cell untuk tahun 2009 ini tidak hanya itu. Mereka juga menyiapkan sekuel untuk game 2D platform mereka tahun 2007 dulu.

Saya pribadi tidak terlalu terkesima dengan Drawn to Life. Sama halnya dengan Scriblenauts, Drawn to Life sempat mendapat perhatian publik saat itu karena disangka akan merevolusi dunia 2D platform dengan janji “menciptakan stagemu sendiri”. Sayangnya janji tinggal janji dan Drawn to Life justru menjadi game yang kehilangan identitas. Sebagai 2D platform jatuhnya tanggung dengan stage yang biasa dan tidak menantang. Jalan ceritanya terlalu kekanak-kanakan untuk dibandingkan dengan RPG. Terakhir elemen menciptakan dunia sendiri malah merusak pacing permainan karena mengharuskan gamer berhenti untuk menggambar obyek-obyek dalam game.

Ketika sekuel ini dirilis, saya berharap kalau 5th Cell sudah belajar dari pengalaman mereka dan mengubah pola permainan dalam Drawn to Life: The Next Chapter. Harapan saya memang terkabul… kurang lebih.

Game ini masih menawarkan premise yang sama dengan prekuelnya. Kamu bisa menggambar karaktermu sendiri dan obyek-obyek tertentu dalam game. Bedanya elemen penciptaan kini tidak lagi memakan terlalu banyak waktumu. Apabila dalam prekuelnya, setiap beberapa menit sekali saya harus berhenti untuk menciptakan obyek baru dan ini sangat menganggu pacing permainan genre 2D platform. Mana pernah kamu bermain Mario atau Sonic lantas di tengah-tengah stage kamu harus berhenti karena menggambar jamur atau cincinmu? Nah, dalam The Next Chapter, hanya ada beberapa obyek yang harus kamu gambar. Kalau kamu malas menggambar (sepertiku) pun game ini menyediakan fitur penggambaran otomatis.

Bicara soal ceritanya sendiri, game ini adalah sekuel langsung dari Drawn to Life. Kamu adalah sang Creator (pencipta) yang dimintai tolong oleh bangsa Raposa. Setelah berhasil mengalahkan Wilfre dalam ending game pertama, kedamaian kembali pada bangsa Raposa. Tak disangka Wilfre belum tewas tetapi hanya bersembunyi di balik sosok Heather. Setelah Wilfre kembali muncul, ia menyedot semua warna dari dunia Raposa. Sekali lagi sebagai sang Creator kamu menghidupkan sebuah boneka yang akan kamu kendalikan dalam petualanganmu di empat dunia demi menghentikan Wilfre dan mengembalikan warna ke dunia para Raposa.

Mungkin karena pangsa pasar Drawn to Life yang ditujukan untuk anak kecil, hampir-hampir tidak ada tantangan dalam memainkan game ini. Setiap stagenya rata-rata bisa saya selesaikan dalam waktu lima hingga sepuluh menit, hampir tanpa pernah mati sekalipun. Ada beberapa alasan kenapa game ini begitu gampang. Yang pertama: kamu tidak akan bisa game over. Sekalipun kamu kehabisan darah atau jatuh ke dalam jurang, kamu akan respawn di awal level tersebut. Yang kedua: kamu tentu tahu bila terkena serangan biasanya karakter dalam sebuah game akan berkedap-kedip tanda ia kebal terhadap serangan selama beberapa saat. Dalam kebanyakan game ‘kekebalan’ itu hanya berlangsung sepersekian detik, dalam game ini kekebalan itu bisa bertahan sampai dua tiga detik! Walhasil saat melawan bos sekalipun, kamu akan jarang - jarang - jarang sekali kesulitan. Kemampuan sang boneka pun luar biasa. Arena-arena dalam The Next Chapter rata-rata bisa ditempuh dengan kemampuan sekali lompatan akan tetapi sang boneka memiliki kemampuan dua lompatan (double jump), bahkan di pertengahan game ia akan mendapatkan kemampuan berubah menjadi bentuk laba-laba dan bisa menempel di mana-mana. Apabila sesudah mendapat bentuk laba-laba, game yang tadinya saya anggap tidak sulit turun levelnya menjadi sama sekali tidak memiliki tantangan.

Dari sisi teknis lain, game ini sebenarnya impresif. Design level dan dunia Raposa kini lebih bervariasi dan banyak dibandingkan prekuelnya. Ada beberapa cutscene animasi berkualitas tinggi yang bisa ditonton (atau bisa diskip kalau kalian tidak suka cerita bertele-tele) juga lagu-lagu dan musik baru maupun lama yang didaur ulang dari game sebelumnya. Drawn to Life: The Next Chapter memang sebuah 2D platform yang ditujukan bagi kalangan gamer muda, dan untuk itu ia sukses besar.

Final Verdict

Gameplay: 6.5
Lagi-lagi fitur menciptakan dunia hanya menjadi gimmick yang tersia-siakan. Tetapi kali ini kontrol game lebih solid, juga menyajikan lebih banyak stage dan tiga jenis bentuk boneka untuk menghadapi tantangan yang ada. Ceritanya walau bersifat sebagai pelengkap memiliki twist yang mengejutkan (atau murahan?) juga pada penghujung cerita. Sekedar info, The Next Chapter bisa juga menjadi The Final Chapter!

Graphic / Sound: 8.5
Grafis dan suara game ini memiliki charm khasnya. Bangsa Raposa yang bermacam-macam dan imut itu langsung membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Game ini juga menyuguhkan beberapa cutscene selama penceritaan. Saya kangen dengan bangsa Raposa setelah sebelumnya Drawn to Life mengambil spin-off bertemakan Spongebob.

Play Time: 6.0
Apabila kamu mau dengan sabar mengikuti ceritanya, game ini bisa cukup panjang hingga sepuluh jam. Percaya deh, tiap cutscene antar stage itu lamanya bukan main - lebih panjang dari kamu menyelesaikan stagenya sendiri. Sebaliknya bila kamu melewati semua cutscene ceritanya (seperti saya), game ini bisa kamu selesaikan dalam waktu kurang lebih dua sampai tiga jam.

Overall: 7.0

Game Details
Developer: 5th Cell
Publisher: THQ
Genre: 2D Platform

Comments (0)

Tags: , , , , , , ,

Wild Arms Alter Code F

Posted on 05 November 2009 by Si Tukang Review

Wild Arms Alter Code F Cover

Wild Arms Alter Code F Cover

Wild Arms Alter Code F adalah sebuah proyek yang dulu membuat saya bersorak gembira. Maklum saja, Alter Code F merupakan remake ulang dari Wild Arms pertama, yang banyak disebut para RPGer veteran sebagai Wild Arms terbaik. Saya sendiri tidak pernah berkesempatan mencicipi game orisinilnya karena saya membeli Playstation pertama di akhir siklus hidupnya (Wild Arms pertama muncul di awal siklus Playstation). Hanya saja saya menyimpan sedikit kekhawatiran. Kalau di dunia perfilman, rata-rata remake berujung pada kegagalan. Jangan-jangan Alter Code F ini juga nantinya gagal dan menyia-nyiakan nama besar Wild Arms?

Graphic (7 / 10)

Saya sempat melihat kualitas grafis dari Wild Arms pertama dahulu. Kelihatannya sudah jelas bahwa kualitas grafis pada Alter Code F jelas lebih baik ketimbang versi originalnya. Perhatikan saja pada dungeon yang ada, kota-kota, sampai pada render karakternya. Semuanya dibuat dengan ukuran yang sebenarnya, berbeda dengan versi awal di mana karakternya digarap dengan render Chi-Bi.

Walau begitu, saya yang pernah memainkan Wild Arms 2 dulu kok merasa kalau kualitas grafis Wild Arms 2 lebih cocok untuk selera saya. Apalagi karena Alter Code kelihatannya masih inferior dibandingkan dengan RPG PS2 yang dirilis bersamaan dengannya (bandingkan saja dengan Final Fantasy X yang sudah dirilis beberapa tahun sebelumnya).

Perubahan paling mencolok, sekaligus mungkin yang paling mengecewakan bagi saya adalah desain karakternya. Wild Arms adalah koboi bung. Garapan desain bernuansa shoujo jelas tidak cocok untuk suasana western Wild Arms. Desain Rudy terutama, kenapa dia malahan terlihat bagaikan seorang anak kecil yang begitu feminin. Saya mencoba menanyakan kepada beberapa teman saya dan kelihatannya kebanyakan dari mereka setuju dengan saya. Untung saja karakter macam Jack dan Cecilia tidak mengalami perubahan yang terlalu mencolok (walau karakter Cecilia di sini konon terlihat kurang tegas dan berwibawa ketimbang Cecilia pada versi orisinilnya).

Sound (8.5 / 10)

Kekecewaan saya ketika menikmati animasi awal yang memiliki nuansa shoujo itu terobati ketika mendengar musiknya. Siulan legendaris opening Wild Arms itu masih ada. Petikan gitar yang menutup opening theme itu juga masih mendenting. Saya sejujurnya sangat lega, karena Wild Arms adalah satu-satunya RPG yang tidak pernah saya mainkan, tetapi saya sangat puas dengan musik-musiknya (Ya, lebih puas bahkan dibandingkan dengan musik Wild Arms 2 dan 3 yang sempat saya mainkan). Saya berani bilang bahkan bahwa musik Michiko Naruke adalah yang terbaik di sini (bukan berarti Wild Arms berikutnya musiknya jelek, mungkin karena Wild Arms ini yang pertama sehingga corak musik yang berbedanya terlihat begitu jelas dan nendang dibanding OST RPG lain pada jamannya).

Ketika saya mencoba masuk World Map dan Battle pun, musik-musik yang saya dapat di sini tidak kalah memorablenya, untuk bagian musik ini, saya rasa tidak berlebihan bagi saya kalau akan memburu OSTnya usai memainkan game ini!

Untuk efek suara lainnya juga digarap dengan baik. Yang paling memorable bagi saya jelas ketika Rudy menembakkan ARM yang ia miliki. Andaikata anda memiliki suara stereo yang menggelegar, bunyi letusan ini jelas akan sangat anda nikmati – apalagi bila dibarengi dengan kematian musuh anda!

Voice Acting dalam game ini masih belum ada, walaupun hal itu bukan suatu yang terlalu signifikan (mengingat Rudy sang karakter utama toh masih ‘bisu’ seperti dulu).

Gameplay (7 / 10)

Inilah yang mungkin mendapatkan sangat banyak perombakan dalam Alter Code F. Sistem dalam game ini banyak mengadaptasi semua game Wild Arms sebelumnya. Contoh yang paling signifikan adalah di World Map anda masih harus menggunakan Search System untuk memunculkan sebuah wilayah di World Map. Maksudnya begini, anda harus mencari informasi mengenai lokasi tertentu. Setelah mendapatkan informasi tersebut, katakanlah “Kota B ada di selatan kota A”, anda bisa menuju ke selatan kota B dan mencoba mencari di sana untuk membuka lokasi itu di World Map.

Untuk pertarungannya sendiri, Wild Arms cukup simpel karena anda bisa menggunakan tiga karakter untuk bertarung. Apabila anda bisa merekrut lima karakter tambahan (Ya! Remake ini membiarkan anda merekrut lima orang yang dahulu konon tidak bergabung secara permanen di dalam grup anda), maka anda bisa bergantian dalam bertarung. Untuk sistemnya sendiri cukup simpel, karena terdiri dari serangan biasa, bertahan, menggunakan item / magic, atau kemampuan khusus. Yang unik, anda tidak bisa lari dari pertarungan malahan bisa continue kalau anda Game Over (dengan menggunakan item tertentu).

Alter Code juga masih sama seperti dulu di mana anda tidak memiliki kebebasan untuk mengkustomisasi equipment dari setiap karakter anda. Sebagai timbal baliknya, game ini membiarkan anda mengkustomisasi kemampuan karakter anda sebebas-bebasnya (kecuali Jack mungkin). Rudy misalnya memiliki kemampuan untuk mengupgrade segala aspek senjata ARM beserta peluru yang ia miliki. Cecilia bisa mendapatkan Guardian ia summon, beserta sihir yang dapat ia gunakan begitu diciptakan. Karakter tambahan yang anda rekrut juga memiliki kemampuan menyerap kemampuan musuh, atau mencuri musuh. Inilah yang nikmat dalam memainkan Wild Arms. Semua karakter memiliki ciri khas mereka sendiri dan bisa bertarung dengan gaya mereka masing-masing tanpa inferior satu sama lainnya.

Keluhan dalam bidang gameplay ini terletak pada random battlenya. Saya tidak tahu apa yang ada di benak developer game ini ketika menyusun persentase random battlenya. Random battle ditandai dengan munculnya tanda seru di atas kepala karakter. Tergantung warnanya, tanda seru ini menandai status awal pertarungan anda.

Merah berarti anda mendapat serangan mendadak di mana anda tidak bisa mengcancel pertarungan tersebut, Hijau berarti anda akan mendapatkan kesempatan untuk menyerang pertama kalinya (Pre-emptive strike), dan Putih adalah pertarungan normal. Anda memang diperbolehkan untuk mengcancel pertarungan asalkan battle itu bukan sebuah serangan mendadak, masalahnya setiap kali anda mengcancel pertarungan, gauge ENC anda akan berkurang sampai habis; tentu saja setelah gauge ini habis, anda tidak bisa lagi mengcancel pertarungan yang ada.

Yang menyebalkan, random encounter dalam game ini ratenya sangat tinggi. Dalam satu dungeon saja, tanpa perlu berputar-putar mencari musuh anda akan mendapati bertarung sekurang-kurangnya 50 kali (bila anda tidak mengcancel pertarungan sama sekali). Anda baru melangkah tiga langkah lantas ada tanda seru di mana anda harus siap bertarung. Selesai bertarung, melangkah tiga kali lagi dan anda siap-siap bertarung lagi. Ini membuat game Alter Code serasa panjang, juga melelahkan.

Untung saja battle demi battle yang seakan tak berujung itu membuahkan hasil yang manis karena jalinan cerita dalam Alter Code masih teruntai dengan apik. Memang perluasan skenario membiarkan kita mengenali karakter yang ada secara lebih mendalam (seperti pada masa lalu Rudy yang kali ini disinggung secara lumayan mendetail). Sayangnya, ada juga imbas bagi perluasan skenario ini. Beberapa teman saya mengeluhkan karakter yang ada dalam game ini menjadi berubah, beberapa karakter yang keren jadi kurang keren, beberapa yang seharusnya tampak dewasa jadi tampak cengeng. Saya sendiri karena tidak pernah memainkan versi orisinilnya menganggap kalau cerita dalam Alter Code F ini menarik-menarik saja.

Longetivity (7 / 10)

Longetivity adalah satu lagi nilai kuat dalam game ini. Ada berbagai subquest yang dipertahankan dari versi orisinil (termasuk sumbangan membangun kota yang ‘mahal’ itu) dan monster-monster kuat yang tersembunyi di seluruh dunia Filgaia, siap untuk anda habisi dan kalahkan.

Anda merasa itu tidak cukup? Ada berbagai item dan puzzle yang berserakan di seluruh dunia, kalau anda cukup telaten, jelajahi setiap bagian dari Filgaia dan temukan harta-harta yang tersembunyi dalam tanahnya. Subquest-subquest ini dijamin membuat petualangan anda ke dunia Filgaia lebih lama ketimbang yang anda harapkan.

Lantas bagaimana panjang game ini sendiri tanpa memakai subquest? Saya sendiri menyelesaikan game ini dalam waktu sekitar 50 jam dengan level yang cukup (berarti tidak sangat rendah sampai saya kesulitan melawan boss terakhir, tetapi tidak cukup tinggi untuk menantang sang dewa monster dalam game ini). Perkiraan saya, game ini akan memakan waktu antara 40 sampai 60 jam apabila anda memainkan game ini tanpa memikirkan ataupun menyelesaikan subquest-subquest yang ada.

Editor’s Tilt (7 / 10)

Hampir semuanya dalam Alter Code ini memuaskan saya sebagai seorang penggemar RPG (ingat, saya tidak pernah memainkan versi orisinilnya!). Jalan cerita Wild Arms simpel tetapi berhasil menghadirkan karakter-karakter yang menggugah hati; walau ada bagian-bagian yang agak membosankan dan terlalu didramatisir.

Nilai minus terutama dalam game ini mungkin hanya terletak pada random battlenya yang terlalu banyak dan puzzlenya. Puzzlenya terlewat sulit? Sebaliknya, karena terbiasa memainkan Lufia 2 dan Wild Arms 2, teka-teki dan puzzle dalam Wild Arms kurang memberi tantangan bagi saya.

Terakhir, adalah ketidakfleksibelan game ini dalam equipment yang ada. Tidak bisa beli senjata, tidak bisa beli armor ataupun accessory, ternyata cukup menganggu bagi saya karena karakter hanya bisa lebih kuat dengan menaikkan levelnya semata. Bisa juga sih dengan cara equip skill, tetapi toh skill juga hanya bisa diequip dengan ‘memakan’ point level anda; pada akhirnya level yang tinggilah yang memungkinkan anda memakai skill sebanyak mungkin sekaligus bertahan di tengah dunia western medieval yang ganas ini!

Average: 7.5

Game Details
Developer: Media Vision
Publisher: Sony
Genre: RPG

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Batman: Arkham Asylum

Posted on 08 October 2009 by Si Tukang Review

Batman: Arkham Asylum Cover

Batman: Arkham Asylum Cover

(Review Based on PC Version)

Welcome to the Mad House

Game yang diangkat dari cerita superhero biasanya memiliki peluang 50-50. Bisa jadi game tersebut keren dan inovatif seperti Spider-man 2 yang menggabungkan unsur GTA dan superhero. Sebaliknya kalau salah garap, hasilnya bisa seperti Superman 64 yang mendapat kritik massa karena dianggap menjadikan sang manusia baja seperti orang idiot.

Ketika saya mendengar bahwa Batman: Arkham Asylum akan dirilis secara simultan untuk 360, PS3, dan PC, saya masih ragu akan kualitasnya. Mengingat sekarang DC tinggal punya properti Batman setelah kesuksesan The Dark Knight tahun lalu, saya khawatir kalau-kalau penerbit komik tertua di dunia ini kemudian sekedar rilis judul game tanpa memperhatikan kualitasnya. Bukankah tahun lalu sudah ada Lego Batman? Apa perlu rilis game Batman lagi tahun ini?

Saya berubah pikiran setelah game ini sibuk mendapat pujian sana-sini dari berbagai situs game. Beberapa situs game terkemuka macam IGN dan Gamespot bahkan terang-terangan menyatakan kalau Batman: Arkham Asylum merupakan game adaptasi superhero terbaik! Kesempatan saya merasakan game ini langsung datang saat saya bertandang ke rumah teman saya. Singkat cerita: dalam kurun waktu semenit memainkannya, saya langsung mengupgrade spesifikasi komputer saya keesokan hari guna memainkan game ini di rumah. Pendapat saya seiya sekata dengan IGN maupun Gamespot. Batman: Arkham Asylum adalah game adaptasi superhero terbaik yang selama ini pernah dirilis.

The Clown Prince of Crime Is Back

Setiap kali Joker berulah, Batman menghentikan aksinya dan mengembalikan Joker ke rumahnya: Arkham Asylum. Hanya saja kali ini Batman heran. Kenapa menangkap Joker begitu mudah? Seakan-akan Joker sengaja untuk ditangkap dan dibawa ke Arkham Asylum. Menyadari bahwa ini mungkin merupakan jebakan dari Joker, Batman kali ini ikut masuk ke dalam penjara para pesakitan Gotham itu. Dugaan Batman menjadi kenyataan. Tak lama setelah dibawa masuk, Joker berhasil meloloskan dirinya dan kabur ke dalam penjara dengan bantuan Harley Quinn, sang abdi setianya. Joker bahkan sudah merancang rencana agar para polisi tidak bisa datang menolong setelah sebelumnya menyebar begitu banyak bom yang ia ancam ledakkan bila ada bantuan masuk ke Arkham.

Dengan polisi sibuk menangani perkara bom tersebut, Joker membebaskan para kriminal-kriminal untuk menguasai Arkham. Satu-satunya harapan untuk menghentikan mereka adalah Batman. Tapi ini tidak akan menjadi hal yang mudah. Selain Joker dan Harley Quinn, banyak sekali musuh sang manusia kelelawar yang ditangkap olehnya meradang. Para psikopat macam Bane, Killer Croc, sampai Scarecrow jelas menunggu-nunggu untuk balas dendam. Bisakah Batman mengambil-alih kendali di Arkham Asylum sebelum semuanya tak tertolong? Apa rencana di balik pengambilalihan Joker ini?

Jangan heran bila cerita dalam game ini di atas standar game-game Batman lainnya. Maklum saja, Batman: Arkham Asylum mendasarkan ceritanya pada kontinuitas resmi komik Batman, tidak seperti game lain Batman yang berdasar kontinuitas serial animasi maupun film layar lebarnya. Bicara soal serial animasi, naskah dalam game ini dipenai oleh Paul Dini. Bagi para pembaca komik DC, nama ini tentu tidak asing lagi. Paul Dini, berikut dengan Geoff Johns dan Grant Morrison adalah penulis banyak cerita Batman, baik di layar kaca maupun di buku komik. Pantas saja ia begitu mengenal tiap-tiap karakter dalam game ini, baik musuh maupun kawan dari Batman. Sekedar fakta unik, karakter Harley Quinn yang pertama muncul dalam serial TV Batman ya diciptakan oleh Paul Dini ini.

Cape Crusader Multi-Profession

Tentu saja sebuah game tidak bisa sekedar dilihat dari ceritanya saja. Seseru apapun ceritanya, game tetap membutuhkan sisi interaktif dengan para pemain, kalau tidak apa bedanya ia dengan sekedar film atau komik yang pasif menyodorkan pada pembaca / penonton belaka? Selama ini, game Batman acap kali lupa bahwa si manusia kelelawar bukan hanya superhero belaka - tetapi juga detektif terbaik dunia DC. Batman juga bukan jagoan macam Superman atau Spider-man yang gayanya adalah langsung maju menyerang para musuh secara brutal. Seperti yang ditegaskan dalam film-film Batman baru karya Christopher Nolan, Batman lebih banyak beroperasi di balik bayangan, menganalisa sang musuh, memakai otak dan ototnya untuk memberantas kejahatan. Dan semua aspek itu tertuang secara sempurna dalam Batman: Arkham Asylum.

Sempurna di sini bukanlah kata yang berlebihan. Pernah membayangkan genre Metal Gear Solid, Resident Evil, sampai GTA dicampur menjadi satu dengan dunia Batman? Nah, hasilnya adalah Arkham Asylum ini. Mengingat ada begitu banyak penjahat di dalam Arkham Asylum lepas dari kurungan, bukan hal yang bijak bila kamu langsung main terjang saja. Empat lima musuh mungkin masih bisa ditangani oleh Batman yang jago berkelahi (sistem bertarungnya sederhana tetapi adiktif dan memiliki kontrol yang fluid), tetapi musuh yang sudah mencapai lebih dari sepuluh orang dan membawa senjata senapan? Nanti dulu. Sebagai Batman, kamu harus memanfaatkan keadaan di sekelilingmu dan gadget yang kamu bawa. Kamu bisa menjebak musuh dengan bom plastik, bisa juga diam-diam menyergap mereka dari belakang, atau memisahkan mereka dari rombongan dan melawan mereka satu demi satu. Caranya benar-benar bebas terserah kamu! Semakin banyak kamu melawan musuh, semakin tinggilah experience yang kamu dapat untuk mengupgrade Batman mendapatkan gerakan-gerakan yang baru.

Game ini juga untuk pertama kali membuka tabir isi dan membiarkanmu menjelajahi Arkham sesuka hatimu. Pada dasarnya penjara ini terletak di sebuah pulau yang terpisah dari Gotham sehingga dalam game ini kamu bebas mengeksplorasi seluruh pulau tersebut. Area yang kamu jelajahi juga bervariasi dan tidak monoton sehingga kamu tidak mungkin kebosanan (apalagi dengan jalan cerita yang hampir terus menerus memompa adrenalin). Selain para kriminal cecunguk kelas teri yang dilepas oleh Joker, game ini juga menyajikan deretan musuh Batman yang lebih berbobot. Setiap pertarungan melawan boss benar-benar memorable. Sedikit spoiler saja, salah satu yang paling berkesan bagiku adalah pertarungan pertama melawan Scarecrow. Batman yang terkena gas beracun Scarecrow mengalami halusinasi melihat mayat orang tuanya di kamar mayat. Settingnya jadi benar-benar menyeramkan ala Resident Evil. Belum lagi setelah itu Scarecrow tahu-tahu nongol dari kantung mayat!

Karena saya memainkan versi PCnya, saya tidak terlalu tahu kualitas versi 360 dan PS3nya. Yang jelas, apabila kartu grafismu memadai, game ini sudah memanfaatkan fitur terbaru nVidia yang bernama PhysX. Teknologi ini memungkinkan render game yang interaktif dengan lingkungan sekitarnya. Contohnya bila Batman menghajar musuh ke dinding, maka dinding itu pun ikut retak atau mungkin bahkan hancur dengan suksesnya. Fitur PhysX ini pastinya akan memberikan dimensi baru dalam permainan bila kamu memang penggila berat game. Terakhir mengenai suaranya juga diisi oleh para pengisi suara kelas atas pada bidangnya, seperti Kevin Conroy dan Mark Hamill (the force is strong in Mr Joker eh Luke Skywalker!).

Seperti yang saya katakan di awal review tadi, Batman: Arkham Asylum adalah game adaptasi superhero terbaik. Lebih dari itu, ia bisa dinikmati oleh semua gamer, terlepas apakah kamu familiar atau tidak dengan mitologi sang manusia kelelawar. Final verdict: kandidat game terbaik tahun ini!

Final Verdict

Gameplay: 9.5
Gameplaynya benar-benar dalam dan bervariasi. Sebagai sang jago martial arts, kamu harus menghadapi berbagai musuh. Sebagai sang detektif, kamu harus mencari petunjuk yang ditinggalkan musuhmu untuk menentukan langkahmu berikutnya. Sebagai manusia, kamu harus mengendap tanpa membabi-buta. Benar-benar portrayal Batman yang lengkap!

Graphic / Sound: 10
Apalagi dimainkan dengan teknologi PhysX nVidia, suasana sekeliling Arkham Asylum mulai dari pulau sampai ruangan dalam yang artistik dan menakutkan… suasananya menakjubkan dengan campuran setting film horror dan thriller. Para bossnya semua memorable dengan design yang setia pada konsep komiknya. Setiap karakter juga diisi oleh para artis papan atas yang sudah berpengalaman.

Play Time: 9.5
Mengungkap semua rahasia Arkham Asylum memberikan tantangan tersendiri karena bonus-bonus unik yang tersembunyi di dalamnya. Wawancara dengan Joker atau Killer Croc saat mereka mau dimasukkan ke dalam Arkham Asylum misalnya memberi background cerita yang lebih jelas mengenai kehidupan para psikopat ini.

Score: 9.8

Game Details
System: 360, PS3, PC
Developer: Rocksteady
Publisher: Eidos
Genre: Action Adventure

Comments (10)

Tags: , , , , ,

Final Fight Streetwise

Posted on 08 August 2009 by Si Tukang Review

Final Fight Streetwise Cover

Final Fight Streetwise Cover

Final Fight adalah salah satu pelopor Beat Em Up modern. Memang semua orang mengenal Beat Em Up semenjak Nintendo saat Double Dragon muncul, tetapi duo Final Fight dan Street of Rage (Bare Knuckle) yang mengangkat Beat Em Up ke masa-masa keemasannya. Sekuel terakhir Final Fight adalah pada seri ketiga ketika diluncurkan di SNES. Semenjak itu, Final Fight mengalami mati suri. Dua karakternya seperti Guy dan Cody hanya bisa dinikmati melalui game duel Capcom Street Fighter Zero. Tetapi akhirnya tahun ini, Capcom memutuskan untuk membuat sekuel sesungguhnya dari Final Fight dan merombak konsepnya secara keseluruhan!

Graphic (7 / 10)

Dalam in-gamenya sendiri, grafis dari Streetwise ini cukup baik. Detail bangunannya tampak indah dan megah. Saya sendiri menyukai lingkungan dari Metro City yang dirender 3D ini. Yang paling terkenang mungkin adalah saat saya memasuki bagian subway. Jadi teringat ketika saya sedang memainkan Final Fight klasik dulu! Sayangnya, dalam FMV pun tidak ada peningkatan (jadi serasa hanya menonton cut-scene saja, which is bad).

Menurut saya karakternya juga kelihatan original dan menarik. Desain dari karakter baru seperti Kyle, Vanessa, Blade, dan lainnya tampak baru dan cukup inovatif. Bagaimana dengan tiga karakter lama dari Final Fight dahulu? Cody, Haggar, dan Guy semuanya kembali dengan desain baru (kecuali Haggar yang mungkin agak mirip dengan desain lamanya). Yang paling saya sukai di antara ketiganya adalah desain Cody (dengan baju bekas penjaranya, karena game ini nampaknya adalah kelanjutan dari saat di mana Cody sudah keluar dari penjara). Bandingkan dengan Guy yang malah dapat tambahan tato norak!

Yang saya sayangkan adalah para pejalan kaki dalam game ini. Mereka masing-masing kok tampilannya mirip dan kurang variatif. Lantas ke mana ya yang namanya mobil di dalam game ini? Jalanan di Metro City seakan-akan cuma dipenuhi oleh pejalan kaki dan kekurangan alat transportasi selain subway! Lebih lanjut mengenai Metro City, kota ini ternyata dibagi menjadi empat bagian yang masing-masing sepertinya memiliki ‘penguasa’ wilayahnya sendiri. Keempat daerah ini memiliki karakteristik masing-masing yang membedakannya satu dengan lainnya.

Sound (8.5 / 10)

Ini jelas merupakan aspek terbaik dari seluruh game ini. Streetwise menghadirkan berbagai macam lagu hip hop metal yang senada dengan gaya urban dalam game ini. Mungkin kalau dalam hal macam free-roaming begini hanya GTA saja yang menawarkan soundtrack lebih bervariasi!

Kemudian pengisian suara karakternya benar-benar dilakukan dengan baik. Vanessa diisi dengan suara gadis seksi ala penjaga bar. Kemudian Blade mirip dengan seorang psikopat sungguhan. Cody dan Kyle juga diisi dengan pengisi suara ala seorang pemuda jagoan jalanan. Guy walaupun saya nilai paling kurang di sini toh juga memiliki aksen suara oriental yang kental dalam Inggrisnya.

Sektor ini sebenarnya ingin saya beri nilai 9, tetapi saya reduksi menjadi 8.5 karena dua kelemahan di dalamnya. Yang pertama sekali lagi suara environmentnya. Aduh, kenapa semua orang yang berbicara dengan Kyle suaranya buruk sekali (bandingkan dengan GTA misalnya yang suaranya lebih hidup dan bervariasi). Kemudian terlalu banyak makian dalam game ini. Hitung saja ada berapa kali kata “s*it” ataupun kata “f*ck” muncul dalam game ini! Pertamanya memang menarik dan menggambarkan karakternya sebagai tough. Tetapi setelah kelamaan, kok jadi seorang yang temperamental dan kurang pendidikan ya?

Gameplay (6 / 10)

Begitu banyak potensi dalam game ini yang sayangnya gagal dikembangkan maksimum oleh Capcom. Memainkan Streetwise di mata saya mirip dengan memainkan Final Fight, GTA, dan Resident Evil dicampur menjadi satu. Ada acara pukul memukul ala Final Fight klasik (yang diperbarui dalam dunia 3D), kemudian ada konsep free-roaming di Metro City yang mengambil dari GTA (lebih mirip ke Shenmue sebenarnya), dan terakhir ada drug yang membuat orang menjadi seperti mayat hidup – dan bila terekspos dalam kadar lebih tinggi menjadikan orang itu monster.. ehem.. seperti G-Virus dan T-Virus.

Kita diberi kesempatan mengendalikan Kyle Travers di sini. Kyle adalah adik dari Cody Travers yang tersohor dari Final Fight itu. Sang kakak kelihatannya sedang tersandung masalah di sini dan Kyle harus menyelesaikan masalah itu. Yang lebih buruk lagi, Cody tersangkut dalam masalah sebuah penyelundupan dan penyebaran obat ilegal bernama GLOW di Metro City. Kyle harus berkelana dari The Hood tempatnya sampai ke daerah Little Italy bahkan Japantown untuk mencari tahu mengenai keberadaan Cody. Sepanjang perjalanannya ia akan bertemu dengan musuh-musuh yang mengincar nyawanya, dan juga sahabat-sahabat lama Cody yang akan membantunya.

Kontrol dalam game ini lumayan mudah dilakukan. Tidak makan waktu banyak bagi anda untuk mahir menggunakan kombo-kombo dalam game ini.Yang menyebalkan adalah sudut pandang dalam game ini yang terkadang default anglenya buruk sekali. Saya berkali-kali harus memutar kameranya apabila sedang berada dalam pertarungan di ruangan sempit karena kameranya berkali-kali menyorot Kyle terlalu dekat. Kombo-kombo dalam game ini juga perannya kurang signifikan sebab Kyle hampir pasti bisa menghajar semua musuh dengan kombo-kombo default yang telah ia miliki.

Mau dibilang free-roaming ala GTA, nyatanya Streetwise kurang memberikan kebebasan untuk itu. Metro City rasanya terlalu sempit untuk dijelajahi apalagi untuk dibandingkan dengan GTA. Capcom berusaha mengkompensasikannya dengan berbagai mini-game dalam game ini. Beberapa mini gamenya unik dan tolol seperti menginjak kecoa atau menghancurkan mobil, tetapi harus saya akui cukup menarik. Permainan mini-game ini akan menghasilkan uang apabila anda menyelesaikannya dan uang itu bisa berguna bagi anda untuk membeli jurus-jurus baru.

Kompensasi lain Capcom adalah menyediakan beberapa bonus features yang sekali lagi kurang menarik. Ada tiga video klip dari penyanyi OST dalam game ini. Dua tambahan feature lainnya adalah dua jenis Arcade mode dari Final Fight. Yang pertama adalah Final Fight klasik yang emulasinya sangat buruk karena tersendat-sendat (saya tidak mengerti kenapa Capcom yang bisa mengemulasikan game SNES begitu sempurna ke GBA malahan gagal total mengemulasikannya ke PS2?!). Dan yang kedua adalah Final Fight Arcade modern yang bergaya main ala Crisis Beat dulu. Kedua bonus game ini bisa dimainkan secara kooperatif dengan teman anda.

Longetivity (6 / 10)

Pendek sekali. Saya menyelesaikan game ini dalam waktu kurang lebih 6 sampai 7 jam dengan melengkapi semua skill yang ada, meningkatkan respect saya di semua wilayah, melengkapi dan membeli semua OST yang ada, menyelesaikan semua mini game yang ada, dan intinya saya mendapatkan segalanya 100% dalam kurun waktu tersebut. Sementara saya tidak tertarik sesungguhnya dengan game ini dari segi gameplay, saya cukup terkesan dengan segi cerita yang ditawarkan oleh Streetwise. Mereka benar-benar berusaha mengembangkan sifat-sifat karakter Final Fight dahulu. Satu hal saja yang saya bingung, ke mana perginya Jessica yang merupakan pacar Cody ya dalam game ini? Kok dia sama sekali tidak muncul? Lantas bagaimana hubungan Haggar, Guy, dengan Cody selanjutnya?

Nah, karena mengikutinya demi storyline saja, bisa dibilang sajian utama dalam Final Fight ini hanya akan saya nikmati sekali. Beda cerita kalau dengan Arcade Modenya (yang versi modern). Karena kritis game beat me up yang menawakan sistem kooperasi di PS2, game ini menjadi alternatif yang menyenangkan bagi saya dan teman saya untuk menyelesaikannya. Sintingnya, Capcom tidak menawarkan opsi Continue sehingga kalau saya dan teman saya Game Over, terpaksalah kita mengulangi versi Arcadenya dari awal. Ini meningkatkan status replayability dan longetivity dari game ini, walau tidak banyak.

Editor’s Tilt (7 / 10)

Secara keseluruhan, saya bisa dibilang cukup menikmati game ini. Kendati game ini menyisakan begitu banyak ruang untuk diperbaiki kalau digarap sekuelnya nanti (saya harap dibuat!), setidaknya game ini telah berhasil meninggalkan landasan dasar yang kokoh untuk seri Final Fight modern.

Harapan saya untuk game berikutnya adalah lebih banyak lagi mengikut-sertakan karakter dari Final Fight lainnya (memang yang mainstream adalah ketiga orang itu, tetapi ada banyak bukan karakter dari Final Fight lainnya? Saya menunggu keluarnya Maki misalnya!). Kemudian Metro City saya harap bisa diperluas lebih besar lagi. Ayolah Capcom, jangan pelit begitu. Metro City kurang asyik dijelajahi bila hanya sebesar itu.

Average: 6.9

Game Details
Developer: Capcom
Publisher: Capcom
Genre: Action / Beat Em Up

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here