Archive | Game

Tags: , , , , , , , , ,

Ace Attorney: Trials and Tribulations

Posted on 12 March 2010 by Si Tukang Review

Ace Attorney: Trials and Tribulations DS Cover

Ace Attorney: Trials and Tribulations DS Cover

Ace Attorney: Trials and Tribulations diluncurkan di Amerika pada Oktober 2007, hanya berselang delapan bulan dari seri keduanya. Ini menjadi bukti bahwa serial Ace Attorney (dan game bergenre text-based adventure) telah menembus pasaran Amerika dengan suksesnya. Saat itu di Jepang, seri keempat Gyakuten Saiban yang menampilkan pengacara baru (more on that in the next review) sudah dirilis sehingga Capcom ingin secepatnya membawa gamer lain di luar negeri up-to-date dengan serial ini. Karena mengejar waktu itulah sekali lagi, seperti Justice for All yang dirilis sebelumnya, Trials and Tribulations tidak memiliki kasus tambahan baru di dalamnya.

Kasus pertama Trials and Tribulations dibuka secara mengejutkan karena berada dalam nuansa flashback. Toh bukan flashbacklah unsur yang paling mengejutkan, tetapi peranmu sebagai Mia Fey sang mentor Phoenix Wright yang terbunuh di awal game pertama dulu. Tidak cukup kaget? Bagaimana bila saya bilang tersangka pembunuhan yang harus kamu bela kali ini adalah Phoenix sendiri! Kasus pertama tersebut kemudian menjadi awal benang merah yang menghubungkan cerita besar game ini. Di sini masa lalu Phoenix dan alasan utamanya menjadi seorang pengacara terungkap.

Dalam Justice for All, kekurangan utama yang saya rasakan adalah tidak adanya gambar besar yang mempersatukan game itu. Keempat kasusnya merupakan sempalan-sempalan terpisah. Itu jugalah alasan kenapa walaupun kasus keempat dalam Justice for All sebenarnya terbaik bila berdiri sendiri, dia masih saya nilai kalah kelas dengan kasus keempat game pertamanya yang merupakan penutup dari rangkaian kasus sebelumnya. Trials and Tribulations berhasil menebus dosa ini dengan menyatukan beberapa plot cerita dari game pertama dan game kedua di sini. Selain masa lalu Phoenix, gamer juga diajak untuk melihat akhir dari kekisruhan dalam keluarga Fey (kasus kedua game kedua). Selamat untuk tim penulis cerita yang berhasil menggabungkan dua jalan cerita tersebut secara meyakinkan.

Prosecutor yang harus dihadapi oleh Phoenix kali ini adalah Godot, yang merupakan step-up dari Franziska von Karma. Walaupun design karakternya nampak ‘aneh’, pembawaannya yang tenang dan usianya yang jelas-jelas lebih tua dari Phoenix menjadikannya lawan yang sepadan bagi sang pengacara. Godot juga memiliki masa lalu misterius yang akan disingkap oleh gamer seiring majunya cerita. Berperan sebagai Mia Fey dan seorang karakter lain (cari tahu sendiri siapa dengan memainkan game ini) juga adalah bonus yang menyenangkan buat gamer. Mengingat ini juga merupakan penutup dari saga panjang keseluruhan trilogi Phoenix, hampir semua karakter-karakter penting dari kedua game sebelumnya turut hadir di sini (yep, including Miles Edgeworth dan Franziska von Karma!).

Dengan begitu banyaknya fokus atensi pada ceritanya, terpaksa sistem gameplay dalam game ini dikorbankan. Gyakuten Saiban 3 sendiri tidak menawarkan tambahan seperti Psyche Lock dalam game keduanya (sayangnya sistem Psyche Lock yang menyebalkan itu masih saja ada). Kalau kamu sudah memainkan dua game sebelumnya, kamu pasti sudah familiar dengan bagaimana cara memainkan game ini. Investigasi dan wawancarai para saksimu, paksa mereka membocorkan rahasia yang mereka ketahui dan temukan barang bukti yang bisa membantu membebaskan klienmu dari tuntutan bersalah. Setelah semua siap, beradu argumentasilah di meja pengadilan. Formula ini mungkin tidak seorisinil game pertamanya lagi, tapi tidak pernah terasa basi walau sudah ada di dua game sebelumnya. Untuk musiknya, serial ketiganya mendapatkan komposer baru Noriyuki Iwadare. Komposer yang karyanya sebelum ini saya kenal lewat seri Grandia mendapatkan apresiasi saya karena berhasil menciptakan score-score baru (Godot’s Theme is among the best prosecutor theme) dan meremix score-score lama sehingga terdengar fresh lagi.

So my verdict is… apabila Justice for All membuatmu menyangka bahwa Phoenix Wright hanya keberuntungan satu game saja, pikir ulang lagi. Trials and Tribulations adalah penutup trilogi yang mampu menyaingi kebesaran game pertamanya.

Final Verdict

Gameplay: 8.5
Seperti selalu, Ace Attorney dipenuhi dengan dialog-dialog yang pintar dan penuh humor serta karakter penuh warna. Trials and Tribulations juga memiliki cerita keseluruhan terbaik di antara ketiga game ini. Kalau kamu suka dengan gameplay dua game sebelumnya, tidak ada alasan kamu tidak suka dengan gameplaynya di sini. Capcom memutuskan untuk berpegang pada formula yang sudah memberi mereka sukses, dan keputusan itu tepat.

Graphic / Sound: 8.5
Karena diport dari game GBA, kualitas grafis Trials and Tribulations tidak berubah banyak dari kedua prekuelnya. Musiknya adalah lain hal karena masuknya Noriyuki Iwadare membawa angin perubahan untuk kualitas yang sempat menurun di game kedua.

Play Time: 9.0
Dalam versi orisinilnya, game ketiganya inilah yang sebenarnya terpanjang karena berisi lima kasus (dua kasus pendek dan tiga kasus biasa). Tambahan satu kasus pendek sebelum kasus terakhirnya menambah waktu permainannya lebih panjang dua jam dibandingkan Gyakuten Saiban pertama (tanpa tambahan bonus kasus kelima) dan kedua.

Overall: 8.8

Game Details
Developer: Capcom
Publisher: Capcom
Genre: Adventure

Comments (0)

Tags: , , , , , , , , , ,

Ace Attorney: Justice For All

Posted on 11 March 2010 by Si Tukang Review

Ace Attorney: Justice for All DS Cover

Ace Attorney: Justice for All DS Cover

Kesuksesan dari game pertama Ace Attorney tidak diduga oleh siapapun, bahkan oleh Capcom sendiri. Itulah sebabnya game ini dirilis secara terbatas di pasaran Amerika (mencari cartridge orisinil dari Ace Attorney: Phoenix Wright kini ibarat mencari jarum di dalam tumpukan jerami, kalau beruntung kamu mungkin bisa menemukannya dijual – dengan harga berlipat dari harga asli – di eBay dan situs-situs jual beli di internet lainnya). Kali ini Capcom tidak mau kecolongan lagi. Memanfaatkan momentum dari game pertamanya, tidak sampai setahun Capcom sudah siap merilis sekuelnya Ace Attorney: Justice for All.

Justice for All melanjutkan petualangan Phoenix dan kawan-kawan. Setelah ending game pertamanya, rival Phoenix, sang jaksa Miles Edgeworth pergi ke luar negeri untuk melakukan refleksi diri. Sebagai penggantinya adalah Franziska von Karma, anak dari Manfred von Karma (musuh utama dalam game sebelumnya). Hampir sama dengan game pertama, sebagai seorang pengacara kamu harus menginvestigasi dan membuktikan di persidangan bahwa klien yang kamu bela tidak bersalah.

Alasan kenapa Justice for All bisa begitu cepat dirilis di Amerika adalah karena game ini hanya merupakan port langsung versi GBAnya. Berbeda dengan game pertamanya yang memasukkan satu kasus baru, Justice for All hanya menambahkan fitur-fitur seadanya untuk DS seperti penggunaan touch screen atau pemakaian mikrofon untuk menyerukan perintah-perintah tertentu. Ini membuat kebanyakan gamer (termasuk saya) kecewa. Kenapa Capcom harus buru-buru merilisnya? Kenapa tidak menambahkan kasus baru yang mengoptimalkan fitur DS sebelum melemparnya ke pasar? Kesannya Capcom seakan hanya ingin mengeruk untung dari para gamer yang memang sudah ngebet ingin mengetahui lanjutan kisah ini.

Sialnya lagi, dari empat kasus yang disediakan di game ini, bisa dibilang hanya satu yang menarik perhatian yakni kasus terakhirnya. Seperti game sebelumnya, kasus terakhir dalam Ace Attorney selalu merupakan pertarungan logika yang epik, megah, dan dahsyat. Pertaruhan dalam kasus terakhir ini bahkan lebih tinggi karena menyangkut nyawa seorang yang penting bagi Phoenix juga jati diri Phoenix sebagai seorang pengacara. Saya tidak mau spoiler terlalu jauh, tetapi paradigmamu dalam keadilan benar-benar diuji dalam kasus terakhir game ini. Sungguh saya sayangkan bahwa tiga kasus sebelumnya tidak memiliki intensitas setinggi dan sebaik kasus terakhirnya. Franziska sebagai lawan yang dihadapi Phoenix kali ini pun tidak memiliki wibawa layaknya Miles atau ayahnya, menjadikan ‘pertarungan’ menghadapinya kurang menegangkan.

Inovasi baru dalam Justice for All (atau lebih tepatnya Gyakuten Saiban 2 yang adalah versi orisinilnya) adalah pemanfaatan sistem Psyche Lock. Dalam game pertamanya, mewawancarai para saksi tergolong mudah karena mereka dengan senang hati membeberkan apa-apa saja yang mereka ketahui kepadamu. Tidak kali ini, karena mereka akan membisu dan menyembunyikan fakta-fakta yang mereka ketahui. Beruntung Phoenix juga mendapatkan sebuah barang bernama Magatama, sejenis alat untuk melihat ‘hati’ seseorang. Rahasia yang mereka simpan direpresentasikan oleh gembok-gembok. Satu-satunya cara untuk membuka gembok (atau memaksa mereka buka mulut) itu – seperti yang mungkin sudah bisa kamu tebak – adalah menggunakan barang bukti dari penyelidikanmu. Walaupun kreatif dan masuk akal, tambahan ini tidak diterima baik oleh semua orang karena penyampaiannya dirasa bertele-tele dan menyulitkan investigasi. Bicara soal investigasi yang sulit, kelemahan terbesar kasus ini adalah memecahkan testimonial para saksi. Agaknya ini dikarenakan penulisan skenario yang kurang baik, mencari kebohongan saksi terasa lebih sulit kali ini. Kadang beberapa logikanya juga terlalu mustahil sehingga membuat gamer bengong, bukannya puas, ketika mendapatkan jawabannya.

So my verdict is… terlepas dari semua kelemahan yang saya sebutkan di atas, Justice for All masih sebuah game yang lumayan berkualitas. Kasus terakhirnya sendiri bisa dibilang berjasa menghapuskan dosa dari kasus-kasus sebelumnya. Toh, dari antara semua game Ace Attorney yang kumainkan, Justice for All tetap merupakan entry yang terlemah. Untung saja game ketiganya, Ace Attorney: Trials and Tribulations, mampu kembali menaikkan citra serial yang sempat terpuruk di mataku ini.

Final Verdict

Gameplay: 7.0
Tambahan Psyche Lock yang seharusnya menjadi inovasi yang baru dan kreatif justru berbalik jadi senjata makan tuan karena penggunaannya yang terlalu mistis. Tidak adanya kasus baru yang memanfaatkan fitur DS juga memperlemah nilai gameplaynya. Yang paling parah adalah kasus-kasus yang ditawarkan game keduanya tidak bisa menyamai kualitas prekuelnya.

Graphic / Sound: 8.0
Karakter baru yang diperkenalkan dalam game ini ada dua yang langsung menarik perhatianku (juga menjadi regular di game-game berikutnya). Pertama adalah Pearl Fey dan yang kedua adalah Franziska von Karma. Terutama Franziska, walaupun saya mengatakan ia tidak memiliki karisma seperti ayahnya, setidaknya saya selalu terhibur melihat dia melecuti semua orang di sekelilingnya. Musiknya juga tidak sebagus game pertamanya, terutama bila dibandingkan dengan Phoenix Wright Theme. Tidak jelek, tetapi tidak semembangkitkan semangat seperti game pertamanya. Theme terbaru terbaik yang merenggut perhatian bagiku adalah theme kebangkitan dari Miles Edgeworth.

Play Time: 7.5
Karena hanya terdiri dari empat chapter, Justice for All adalah game terpendek dari semua seri Ace Attorney. Kendati demikian, ia masih akan memakan waktu sekitar 10 jam untuk diselesaikan. Seperti prekuelnya, tidak ada alasan untuk memainkannya lagi begitu kamu menamatkannya, kecuali untuk bernostalgia dan mengingat ceritanya kembali (sesuatu yang enggan kulakukan karena kualitas ceritanya yang pas-pasan).

Overall: 7.5

Game Details
Developer: Capcom
Publisher: Capcom
Genre: Adventure

Comments (0)

Tags: , , , , , , , ,

Ace Attorney: Phoenix Wright

Posted on 10 March 2010 by Si Tukang Review

Ace Attorney: Phoenix Wright Cover

Ace Attorney: Phoenix Wright Cover

Selama ini pasar Amerika dikenal sulit sekali menerima sebuah text-based novel game. Karena alasan itulah kebanyakan game love simulation seperti Tokimeki Memorial atau game hent… (*ditimpuk*) tidak pernah mendapatkan rilis di Amerika. Tren mulai berubah tahun-tahun belakangan ini, di DS sendiri ada begitu banyak game text-based yang masuk seperti Hotel Dusk, Time Hollow, dan banyak lagi. Entah kebetulan entah tidak, saya merasa bahwa tren ini dimulai sejak kesuksesan Phoenix Wright menembus kalangan mainstream gamer.

Mungkin kalian bertanya-tanya, apakah itu Ace Attorney? Apakah itu Phoenix Wright? Jawabannya: game simulasi persidangan. “Ah, persidangan? Bosan dong karena penuh dengan dialog-dialog hukum yang berat macam novelnya John Grisham?” begitukah pikiran kalian? Kalau iya maka baca lebih lanjut review yang akan mengubah pandanganmu terhadap game ini.

Ace Attorney: Phoenix Wright, sesuai judulnya, menempatkan gamer dalam posisi seorang pengacara (defense attorney) rookie bernama Phoenix Wright. Dalam game yang terbagi di lima skenario ini, kamu akan membela klienmu yang terlibat dalam kasus-kasus pembunuhan yang misterius. Uniknya, klien yang kamu bela di sini tidak bersalah dan difitnah oleh sang pembunuh yang sebenarnya. Adalah tugasmu sebagai pembela keadilan (mode lebay) untuk menyingkap kebenaran, membebaskan klienmu dari tuduhan dan menangkap sang pelaku yang sebenarnya! Tentunya tugasmu tidak akan mudah karena kamu akan berhadapan dengan para jaksa (prosecutor) yang berusaha sekuat tenaga menyeret klienmu ke penjara.

Gameplay dalam Phoenix Wright terbagi dua bagian. Yang pertama adalah mode penyelidikan di mana sebagai Phoenix kamu akan menginspeksi TKP dan mewawancarai para saksi untuk mengumpulkan barang bukti. Setelah mendapatkan cukup bukti, kamu akan masuk ke fase kedua di ruang pengadilan. Di sini para juri akan memanggil saksi yang akan memberikan pernyataan (testimonial) mereka akan bagaimana kejadian pembunuhan terjadi. Tentu saja apabila klienmu benar, berarti ada yang salah dengan pernyataan para saksi tersebut. Sebagai Phoenix, kamu akan bertanya lebih lanjut dan mencari kontradiksi (contradiction) dalam pernyataan mereka. Bila ketemu, tunjukkan barang bukti (evidence) yang akan membawa klienmu (tersangka / defendant) selangkah menuju kebebasan. Tapi hati-hati, kegagalanmu untuk mempresentasikan barang bukti yang benar pada statemen yang tepat akan mengurangi kredibilitasmu di mata hakim. Berbuat salah terlalu banyak - lima kali - dan kamu akan kalah dalam kasusmu!

Game ini pertama kali dirilis di Jepang pada tahun 2001 pada platform GBA dengan judul Gyakuten Saiban. Kesuksesannya di Jepang disusul dengan dua rilis game Gyakuten Saiban lain, membentuk salah satu trilogi terbaik dunia game. Saat DS diluncurkan, Capcom meremake Gyakuten Saiban dan menambahkan bonus satu kasus di dalamnya yang memanfaatkan fitur DS (game aslinya hanya terdiri dari empat kasus). Kasus tambahan dalam DS ini merupakan salah satu nilai plus versi remakenya karena memberi metode penyelidikan baru yang tadinya tidak memungkinkan di media GBA. Sebagai contoh kamu tidak hanya bisa menginspeksi foto tetapi juga video kali ini. Kamu juga bisa meniup mikrofon DS untuk mencari sidik jari tersangka yang tertinggal di lokasi. Wah, serasa jadi detektif beneran deh!

Apa yang membuat Ace Attorney begitu sukses tidak cuma terletak di ceritanya saja tetapi juga pada deretan cast yang memorable. Mulai dari Phoenix Wright dan Fey bersaudara yang menjadi asisten sebagai protagonis cerita, game ini menghadirkan deretan karakter yang penuh warna dan membekas di hati. Saya tidak mau berspoiler lebih lanjut, tetapi yang jelas setiap tersangka, setiap saksi, dan setiap jaksa yang kamu hadapi dalam game ini akan membuatmu terpingkal, terharu, hingga geram dengan tingkah mereka. Lokalisasi ke Amerika yang ditangani Alexander O. Smith (translator dari beberapa game Final Fantasy) juga dengan cerdik tidak mentah-mentah mentranslasikan dari versi Gyakuten Saiban melainkan mengubah sedikit cita rasanya ke dalam budaya Amerika (yang lebih global). Purist mungkin ingin tetap memainkan Gyakuten Saiban (well, that’s their loss) tapi penulisan dalam Ace Attorney: Phoenix Wright sudah mendapatkan apresiasi sebagai game dengan skrip terbaik di DS oleh banyak media cetak maupun online.

So my verdict is… tunggu apa lagi? Adalah dosa besar bila kamu memiliki DS dan kelewatan salah satu title terbaiknya ini (saya menaruhnya di posisi kedua hanya di belakang Mario Kart DS). Selamat datang ke dunia pengadilan!

Final Verdict

Gameplay: 9.5
Yang membuatku terkagum-kagum dengan Ace Attorney adalah bagaimana mereka bisa menjaga pace permainan. Dalam investigasi, kamu dibuat tertawa dengan dialog-dialog ‘ajaib’ yang kamu dapatkan dari para saksi. Tapi dalam persidangan, kamu bakalan geregetan dan saling bertukar argumen menghadapi jaksa. Ada kepuasan sendiri yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata bila kamu berhasil memenangi debatmu. Kasus keempat dan kelima dalam game ini merupakan kasus-kasus epik yang duel antaramu melawan jaksa yang tidak kalah dengan pertarungan menghadapi final boss di RPG-RPG. Tidak percaya bisa seseru itu? Buktikan sendiri.

Graphic / Sound: 8.5
Berhubung ini adalah sebuah game yang diangkat dari GBA, kekurangan terutama ada pada bagian visualnya. Toh, sebuah game teks tidak mementingkan grafis sedemikian rupa bukan? Dalam review saya mengatakan kalau tiap karakter di dalam game ini memorable, dan faktor yang membantu kememorablean mereka adalah designnya yang unik dan berbeda untuk setiap karakter. Audionya juga berkualitas prima. Digubah ulang dalam versi orkestra membuktikan kualitas music game ini.

Play Time: 8.0
Bila ada titik lemah dalam game ini, itu pastilah waktu permainannya. Ace Attorney menderita kelemahan setiap game text-based lainnya: nilai replayabilitynya. Apabila kamu selesai memainkan game ini sekali, tidak ada alasan untuk mengulang memainkannya lagi, kecuali sudah beberapa tahun kemudian dan kamu sudah lupa ceritanya (biasanya saya memainkan ulang game lama begitu ada seri Ace Attorney baru mau keluar). Toh, lima skenario yang ditawarkan game ini akan memakan waktu 15 – 20 jam permainanmu; tergolong cukup panjang dibandingkan kebanyakan game text-based adventure lainnya.

Overall: 8.9

Game Details
Developer: Capcom
Publisher: Capcom
Genre: Adventure

Comments (3)

Tags: , ,

OBJECTION!!!

Posted on 10 March 2010 by Si Tukang Review

phoenix-wright-crop

Tahun 2006.

Tahun itu adalah tahun di mana saya pertama kali membeli Nintendo DS. Padahal, sebelumnya saya tidak pernah tertarik untuk bermain game portabel yang saya anggap inferior dibandingkan game-game dalam konsol. Ketertarikan saya pada DS diawali dengan rasa penasaran sistem dual screen, touch screen, sampai mikrofon yang menjanjikan pengalaman game yang baru dan berbeda. Setelah melihat bahwa DS memiliki kumpulan game yang cukup banyak (ditambah dengan sudah bisa dipakainya sistem Supercard buat main game bajakan, he he he…) saya pun membeli Nintendo DS perak pertamaku (sedikit curhat: tanpa tahu bahwa dua bulan kemudian Nintendo bakalan merilis versi Lite buat DS, hiks!)

Saat itu, DS sudah dikenal sebagai rumah dari game-game tipe simulasi. Ambil contoh simulasi pet ala Tamagotchi yang muncul dalam bentuk Nintendogs, atau simulasi kehidupan Animal Crossing. Yang pada saat itu membuat saya penasaran dengan DS toh adalah tiga jenis simulasi game. Simulasi menjadi dokter (Trauma Center), simulasi survival (Lost in Blue - tidak ada hubungannya dengan Lost TV Series), dan yang terakhir adalah simulasi pengacara: Ace Attorney: Phoenix Wright. Saya memainkan ketiga game itu dengan tingkat kesenangan yang berbeda. Trauma Center dan Lost in Blue adalah game-game yang menarik, tetapi Phoenix Wright membawa kesenangan gaming saya ke level yang sama sekali baru.

Dalam countdown 25 game terbaik DS yang pernah saya post di sini beberapa waktu yang lalu, saya menempatkan Ace Attorney: Phoenix Wright sebagai game kedua favoritku di bawah Mario Kart DS. Akan tetapi untuk ukuran franchise secara keseluruhan, Ace Attorney masih merupakan serial game terbaik yang pernah hadir di DS (again - in my humble opinion). Setelah dijualnya DS lamaku beberapa bulan setelah aku membelinya, lagi-lagi serial ini berjasa membawaku kembali. Apabila bukan karena Justice for All yang dirilis di DS, saya tidak bakalan membeli DS Lite lagi. Nah, mengingat begitu panjang dan dalamnya sejarahku dengan game ini, dengan dirilisnya game terbaru serial ini berjudul Ace Attorney Investigator, saya akan menulis marathon lima review game Ace Attorney sebagai tribut bagi serial game favoritku ini.

Enjoy the world of trials, tribulations, and fun!

Comments (3)

Tags: , , , ,

Jak and Daxter: The Lost Frontier

Posted on 05 March 2010 by Si Tukang Review

Jak and Daxter: The Lost Frontier PSP Cover

Jak and Daxter: The Lost Frontier PSP Cover

(Review Based on PSP Version)

Naughty Dog membuat salah satu game platform adventure terbaik di Playstation 2 melalui serial Jak and Daxter. Trilogi game sudah sukses mengumpulkan banyak sekali penghargaan dan membukukan penjualan jutaan unit, bisa dibilang bahkan menggeser hegemoni Crash Bandicoot dan Spyro the Dragon sebagai ikon game platform di konsol hitam itu. Sekarang Naughty Dog sudah beralih ke proyek lain di Playstation 3. ehem… Uncharted… ehem… tapi Sony menyadari bahwa franchise Jak and Daxter masih bisa diperah untuk mendapat keuntungan bagi mereka. Percobaan pertama mereka adalah mengajak developer Ready at Dawn untuk menggarap spin-off dari Jak and Daxter di PSP. Bila dalam trilogi utamanya gamer mengendalikan Jak dalam mayoritas permainan, Daxter menempatkan - sesuai judulnya - Daxter untuk dikendalikan para gamer dalam usahanya menyelamatkan Jak. Game tersebut mendapatkan kesuksesan luar biasa dan sampai sekarang bertahan sebagai salah satu game PSP terbaik.

Sony kemudian memutuskan untuk menaikkan pertaruhan mereka. Bagaimana kalau kali ini bukan cuma sekedar sebuah spin-off? Bagaimana kalau kali ini mereka melanjutkan cerita utama Jak and Daxter? Berhubung Naughty Dog masih terlibat dalam proyek lain, ehem… Uncharted 2… ehem… maka Sony lagi-lagi memanggil developer lain, kali ini High Impact Games untuk menggarap game keempat dalam serial Jak and Daxter. Judulnya adalah The Lost Frontier, dan game ini dirilis untuk PSP dan Playstation 2. Bisakah High Impact Games mengulangi kesuksesan Naughty Dog dan Ready at Dawn?

Game ini berawal dengan saat perjalanan trio Jak, Daxter, dan Keira (pacar Jak) oleh segerombolan bajak laut udara (Sky Pirates). Walaupun awalnya mereka bermusuhan, atas permintaan Keira, Jak dan Daxter sepakat bekerja sama dengan para Sky Pirates untuk mencari Eco Seeker yang bisa menghindarkan dunia dari marabahaya besar. Dalam perjalanannya, Jak dan Daxter juga akan membuka masa lalu dari rombongan Sky Pirates tersebut.

Ini adalah pertama kali saya memainkan serial Jak and Daxter. Dulu saya sempat memainkan game Daxter sebentar, tetapi kemudian permainanku terbengkelalai karena ada lebih banyak game PSP lain yang lebih menarik kumainkan saat itu. Mungkin karena ini saya termasuk kategori gamer yang kebingungan dengan cerita The Lost Frontier. Sudah ceritanya sendiri tergolong semrawut (baca: membingungkan) ditambah dengan game ini tidak berusaha menjelaskan latar belakang cerita dalam game-game sebelumnya.

Dalam The Lost Frontier, gamer akan mengendalikan karakter Jak untuk mayoritas permainan, seperti halnya trilogi awal serial ini. Sebagai Jak kamu memiliki berbagai variasi serangan seperti memukul, melakukan lompatan memukul, dan berbagai amunisi senjata. Apabila serangan fisik Jak bisa terus dilakukan, senjata Jak bisa habis amunisinya. Akan tetapi tidak perlu khawatir karena banyak sekali amunisi berceceran di sepanjang perjalanan Jak mustahil kamu bisa sampai kehabisan amunisi. Toh, kebanyakan musuh di dalam game ini cukup mudah untuk dikalahkan sehingga saya pribadi cenderung menyimpan amunisi untuk menghadapi para boss saja. Setiap kali mengalahkan musuh, Jak akan mendapatkan Dark Eco yang berfungsi sebagai Skill Point-nya game ini. Dark Eco yang dikumpulkan oleh Jak bisa diubah oleh Keira menjadi Red Eco, Yellow Eco, Green Eco, maupun Blue Eco. Masing-masing memiliki upgrade skill yang berbeda untuk Jak. Red Eco misalnya mayoritas skill upgradenya berfungsi menguatkan serangan Jak sementara Green Eco menambah vitalitas / life bar Jak. Ini memberi gamer sedikit kebebasan dalam mengkustomisasi karakter Jak yang mereka mainkan. Bagaimana dengan Daxter sendiri? Sobat setia Jak ini hanya bisa kamu mainkan di bebeberapa segmen tertentu apabila ia terpisah dengan Jak. Karena kena radiasi Dark Eco, Daxter yang kamu mainkan berubah menjadi sosok Dark Daxter.

Selain petualangan di darat, The Lost Frontier memperkenalkan elemen baru: petualangan di udara. Setelah memperbaiki Hellcat (pesawat Jak) yang sempat rusak setelah diserang para Sky Pirates, kamu bisa berkeliling bebas dengannya. Ini juga memberi opsi baru dalam penjelajahan di mana kamu bisa terus menyelesaikan misi-misi utama cerita atau berkeliling sendiri mencari misi-misi sampingan (biasanya sih saya melakukannya untuk menambah pundi-pundi Dark Eco dan membuka skill-skill baru Jak).

Walaupun gameplay dan kontrol game ini sendiri cukup solid, permasalahan terbesar justru datang dari sudut pandang kameranya. Entah kenapa sudut pandangnya membuatku kesulitan melihat obyek-obyek di sekeliling Jak. Lebih gawatnya lagi saya bahkan kesulitan memperkirakan jarak dari satu platform ke platform lainnya yang sering berakibat Jak terjun bebas ke jurang. Sulit menjelaskan ini melalui kata-kata, apalagi karena The Lost Frontier sebenarnya memberi opsi kita memutar kamera secara bebas dengan tombol L dan R, tetapi pada prakteknya ini tidak banyak membantu.

So my verdict is… walaupun The Lost Frontier adalah sebuah game 3D platform yang cukup solid, tapi ia tidak memiliki cukup nilai plus yang membuat game-game sebelumnya menjadi sukses besar. Terbukti banyak situs game memberi The Lost Frontier penilaian suam-suam kuku. Apabila kamu penggemar berat serial ini, jangan berharap terlampau tinggi atau kalian bisa jadi kecewa.

Final Verdict

Gameplay: 6.5
Tidak ada elemen baru yang ditawarkan dalam The Lost Frontier untuk memperkaya serial Jak and Daxter (kecuali elemen terbang, dan itupun tidak maksimal). Stage yang harus dilalui oleh duet Jak and Daxter rata-rata menarik dengan puzzle yang cukup menantang tapi tidak berlebihan kesulitannya. Kekurangan utama gameplay ini ironisnya hadir dari sudut pandang kamera yang sering menganggu permainan.

Graphic / Sound: 7.0
Versi PSP yang saya mainkan memiliki grafis dan suara yang luar biasa tajam dan meriah. Dunia Jak and Daxter yang kaya warna berhasil ditampilkan High Impact Games untuk resolusi layar PSP. Saya juga kagum dengan banyaknya cutscene dan voice acting dalam game ini (walaupun kadang-kadang voice acting Daxter yang over sedikit menganggu). Entah kalau masalah ini pun muncul di versi PS2nya, tetapi game ini terkadang mengalami slowdown ketika memasuki area-area baru.

Play Time: 7.0
Kamu bisa menyelesaikan game ini dalam 10 hingga 15 jam, tergantung apakah kamu ingin langsung menyelesaikan misi utamanya atau ingin melengkapi semua sidequest yang ia tawarkan.

Overall: 6.8

Game Details
Developer: High Impact Games
Publisher: Sony Computer Entertainment
Genre: 3D Platform Adventure

Comments (0)

Tags: , , ,

Godhand

Posted on 27 February 2010 by Si Tukang Review

Godhand Cover

Godhand Cover

(Review Ditulis Di Tahun 2006)

Ketika desas desus Godhand keluar saya benar-benar bersemangat, maklum ini kan keluar dari Clover. Apalagi setelah saya begitu dipuaskan dengan Okami. Saya semakin bersemangat menunggu Godhand. Saya sabar menanti untuk tidak membeli game versi Jepangnya demi mendapatkan versi USnya sehingga saya bisa mengerti ceritanya. Ketika game versi USnya muncul, saya segera bersorak gembira dan menuju ke toko game terdekat guna membelinya. Apakah Godhand berhasil memenuhi harapan saya?

Graphic (5 / 10)

Begitu membuka game ini dan melihat FMV awalnya saya langsung merasa kecewa. Kenapa kualitas grafis dalam game ini sangat jelek? Sangat tidak Clover sekali. Dan lebih parahnya lagi ternyata opening FMVnya begitu singkat (sampai-sampai teman saya yang di samping saya berkata “Hah? Hanya segitu doang openingnya?”). Kekecewaan saya tidak berhenti sampai di sana; begitu masuk ke dalam in-gamenya ternyata kualitas grafisnya sama saja tuh dengan game-game PS2 yang rilis dua atau tiga tahun yang lalu.

Tidak ada yang special pada desain karakternya (beberapa musuh malah monoton karena keluar terus menerus), karakter heronya terbilang culun, dan desain environmentnya buruk sekali. Saya terkejut ketika saya menabrak sebuah dinding dan saya bisa melihat ruangan sebelahnya! Ya ampun, saya tidak percaya game dengan kualitas grafis seburuk ini bisa dibuat oleh Clover. Sebagai catatan, ini Clover yang sama yang mengeluarkan Okami bulan lalu dan menjadi game dengan tampilan grafis terunik dan tercantik tahun ini bagiku. Ini juga Clover yang sama yang mengeluarkan Viewtiful Joe yang memperkenalkan konsep Cel-Shading yang terkenal luas setelahnya. Tidak berlebihan bukan kalau saya mengharapkan sebuah environment yang cantik, inovatif dan berdesain luar biasa?

Hasilnya? Bahkan untuk stagenya pun terasa monoton. Bagi mereka yang pernah menonton serial Tinju Bintang Utara atau Trigun akan langsung merasakan kemiripin latarnya dengan game ini (konon produser game ini sendiri mengaku kalau Godhand ini terinspirasi dengan serial Tinju Bintang Utara). Singkatnya, impresi saya terhadap grafisnya sudah sangat mengecewakan bagiku. Tetapi game yang cantik tidak hanya dilihat dari grafisnya saja bukan? Mari kita lihat aspek-aspek lainnya dari Godhand ini!

Music (7.5 / 10)

Saya nyengir begitu mendengarkan kualitas musik dalam game ini. Hasil musiknya benar-benar sangat menghentak dan khas. Saya benci terus membanding-bandingkan Godhand, tetapi pernahkah anda mendengarkan musik opening dari Trigun yang berciri metal campur western? Ramuan yang sama diambil oleh Godhand dan memang terasa sangat pas! Musik yang menghentak ini mengantarkan semangat kita untuk bisa bangkit dan bertempur habis-habisan. Tidak selang beberapa lama setelah ganti stage, akan ada nada musik baru yang mengiringi perjalanan kita, dan tentunya dengan konsep metal western yang sama. Kualitas suara yang tetap terjaga inilah yang menurut saya salah satu poin terkuat dari Godhand.

Tidak demikian toh dengan voice actingnya. Setiap voice acting karakternya pertama memang terdengar sedikit konyol dan bodoh (duh, kapan ya fasilitas dual bahasa bisa dilakukan? Masa saya harus beli Godhand versi Jepang hanya untuk mendengarkan para seiyuu Jepang bercakap-cakap sih?) tetapi memang setelah lama-lama terbiasa cocok kok dengan suasana dunia Godhand (siapa bilang kalau suasana dunia Godhand itu harus sesangar namanya?). Keluhan saya terutama hanya kepada karakter Olivia. Entah kenapa mendengar pasanganku ini berbicara rasanya kesal sekali, karakter Olivia inilah satu-satunya karakter yang saya rasa tidak ditangani oleh seorang voice actor yang berpengalaman. Sayang sekali, karena kalau suara Olivia lebih seksi lagi mungkin saya akan makin betah menghajar para preman atas permintaannya! (ehem…)

Gameplay (7 / 10)

Sekilas lihat, saya ingin memberi Godhand nilai 8 untuk gameplaynya. Tetapi setelah memainkannya lama, saya terpaksa menurunkan nilainya. Apa pasal? Pertama-tama, saya harus mengatakan kalau gameplay pertarungan dalam Godhand ini begitu luar biasa. Ada begitu banyak jurus-jurus yang bisa anda beli dan anda pakai dalam pertarungan. Jurus-jurus ini bisa dibilang adalah kunci menuju kemenangan anda. Semakin banyak jurus kuat yang anda pelajari, maka semakin beragamlah serangan yang bisa anda lancarkan kepada musuh anda.

Kalau jurus standar saja tidak cukup, ada dua upgrade power yang bisa anda lakukan di tengah permainan. Yang pertama adalah mode serangan Roulette di mana anda diberi kesempatan untuk mengeluarkan jurus special yang bisa menghajar dan menguras energi lawan bila terkena dengan telak (jurus-jurus Roulette pun makin lama bisa makin bervariasi kalau anda membelinya!). Dan yang kedua adalah Godhand; jangan keburu senang membayangkan Godhand itu, pada kenyataannya Godhand hanya membuat anda semakin cepat dalam melakukan serangan dan gerakan juga makin kuat dalam setiap serangan anda. Tidak sespesial itu menurutku sampai harus dijadikan judul gamenya, lagipula penggunaan Godhand ini akan dilakukan sangat-sangat jarang (saya sendiri sering menyimpannya untuk melawan Demon atau Boss saja).

Dengan banyak variasi bertarung ini, seharusnya Godhand bisa menjadi sebuah game aksi yang menarik, tetapi sayangnya karena AI musuh (setidaknya pada mode normal yang kucoba) tidak terlalu tangguh, tantangan terasa kurang, anda akan lebih mengandalkan konsep button mashing semata ketimbang benar-benar memikirkan strategi apa yang harus anda pakai untuk menjatuhkan musuh-musuh anda. Untuk sebuah game aksi petualangan saya sih masih memilih pertarungan dalam Yakuza. Belum lagi ditambah kamera yang buruk (kalau kadang saya bisa melihat musuh di ruangan sebelah, maka mana unsur serunya?) dan kendati kendali kontrolnya responsif, saya kurang suka dengan konsep anda harus memutar karakter dulu sebelum berjalan ke arah tersebut (membuat saya kesulitan menghindari serangan lawan bila terjepit dari belakang).

Singkatnya, Godhand sebenarnya sudah keren dalam konsep pengembangan gameplay yang rumit, tapi mungkin karena terlalu keasyikan mengembangkan konsep-konsep rumit itu, Godhand malahan keblinger dengan hal-hal yang mendasar seperti setting kamera atau AI musuh dalam game ini.

Longetivity (5 / 10)

Saat untuk mempelajari game ini sekitar 1 jam, ketika saya masih belum seberapa paham dengan konsep gameplaynya; saya berulang kali tewas dalam memainkan game ini. Tetapi setelah saya berhasil menguasai dasar-dasar dalam menghindari serangan dalam game ini (pakai analog stik kanan anda… sangat membantu) maka game ini pun mulai menjadi menantang dan menyenangkan.

Sayangnya setelah memainkannya sampai hampir 6 jam, saya mulai merasa bosan dengan pertarungan monoton dan kurang variatif dalam Godhand. Toh saya masih memaksakan untuk main demi mengikut jalan ceritanya yang sudah tanggung saya ikuti. Sekarang saya sudah memainkan game ini sampai sekitar 8 jam, dan tebakan saya adalah game ini bisa diselesaikan setelah kita memainkannya 12 sampai 15 jam.

Apakah saya tertarik untuk memainkannya lagi? Sayangnya tidak. Cukup sekali bagiku menyelesaikan dunia Godhand tanpa ingin melibatkan diri saya lebih jauh lagi di dalamnya.

Editor’s Tilt (6 / 10)

Awalnya sih saya sempat skeptis dan kecewa sekali dengan Godhand yang meleset dari perkiraan awal saya (sekali lagi inilah akibatnya kalau memiliki ekspektasi berlebihan terhadap sebuah game, kenapa saya tidak belajar dari pengalaman saya ketika mengharapkan Dirge of Cerberus dulu ya?). Gameplay Godhand ini ternyata memang lebih condong ke button mashing ditambah dengan kemampuan anda untuk jago menghindari serangan lawan (Hit-run-evade mungkin?).

Lumayan sebenarnya battlenya dan gameplay yang ditawarkan di dalam permainan, tetapi kurang adanya variasi sepanjang permainan membuat saya cepat merasa bosan sepanjang mengikuti permainan (mini-game kasino ternyata kurang bisa menarik perhatian saya untuk lama). Dan karakter Olivia entah kenapa muncul di dalam cerita apabila kerjaannya hanya merepotkanku saja. Ceritanya sendiri? Sebenarnya standar-standar saja, dan yang membuat saya tertawa terbahak-bahak karena kekliseannya adalah munculnya seorang saingan Godhand yang memiliki tangan serupa dan menamakan dirinya (BUKAN SPOILER)… Demonhand. Astaga! Setidaknya kekonyolan-kekonyolan bodoh seperti inilah yang membuat saya terpikat akan cerita Godhand, jangan-jangan memang itu yang diharapkan Clover?

Akhirnya walaupun tidak sekecewa Dirge of Cerberus, Godhand bukanlah sebuah game yang berhasil memuaskanku. Amat disayangkan!

Average: 6.1

Game Details
Developer: Clover Studio
Publisher: Capcom
Genre: Action

Comments (0)

Tags: , , , , , , ,

Castlevania: Portrait of Ruin

Posted on 27 February 2010 by Si Tukang Review

Castlevania: Portrait of Ruin Cover

Castlevania: Portrait of Ruin Cover

(Review Ditulis Di Tahun 2007)

Setelah Dawn of Sorrow memetik sukses besar, Konami pun menggarap sebuah title Castlevania baru untuk Nintendo DS. Apabila Dawn of Sorrow merupakan sekuel langsung dari Aria of Sorrow di GBA, maka Portrait of Ruin bisa dibilang merupakan sekuel tidak langsung dari Castlevania Bloodlines di Sega. Ingat? Itu lo, Castlevania yang membiarkan anda memilih satu dari dua karakter utama yang ada: John Morris dan Eric Lecarde. Di dalam game ini, kalian menjalankan peran sebagai anak John Morris – Jonatan Morris bersama sang magician pendampingnya Charlotte Aulin. Bagaimana sepak terjang kedua remaja ini dalam menghadapi sang pangeran kegelapan?

Graphic (7 / 10)

Presentasi dalam game ini sekilas dilihat mirip dengan Dawn of Sorrow. Apabila anda membiarkan menu anda tanpa memilih apapun maka anda akan disuguhi sebuah animasi singkat mengenai cerita Portrait of Ruin. Gaya desain karakter yang sudah cukup anime dalam Dawn of Sorrow makin terlihat bergaya anime di dalam game ini. Gaya penggambaran karakter dalam game ini dan Dawn of Sorrow sudah memancing perdebatan antara para penggemar Castlevania. Yang satu menganggap kalau gaya anime adalah hal yang cocok dengan dunia Castlevania yang digarap dari negeri Sakura, sementara yang satu lagi mengagungkan gaya gothic yang disebut bisa merepresentasikan keangkeran kastil Dracula. Saya sendiri? Saya sebenarnya jauh lebih menyenangi gaya gothic di dalam game-game Castlevania ketimbang gaya kartunis yang terlihat sangat childish di game ini (tunggu sampai kalian lihat karakter legendaris macam Dracula digambarkan di game ini – lalu bandingkan keanggunan sang pangeran malam itu dalam Symphony of the Night).

Sekilas lihat, Castlevania Portrait of Ruin tampaknya menghadirkan berbagai jenis daerah yang luas dan variatif yang bisa kita jelajahi. Tetapi apabila kita memperhatikannya lebih detail lagi maka kita akan kecewa karena banyak sekali bidang grafik dalam game ini yang mencomot dari Dawn of Sorrow. Hal yang paling kentara bisa kita lihat ada pada render musuh-musuh yang kita hadapi. Entah kenapa banyak sekali (hampir 60 – 70% musuh yang ada) dicomot dari Dawn of Sorrow. Ada apa dengan Konami? Dawn of Sorrow dan Portrait of Ruin memiliki jeda waktu dua tahun! Ketimbang terus mendaur ulang musuh-musuh yang ada tidakkah seharusnya Portrait of Ruin menyajikan karakter-karakter musuh yang baru agar kita tetap fresh dalam memainkannya?

Yah, bukan berarti Portrait of Ruin gagal total dalam hal grafisnya. Banyaknya animasi senjata Jonatan, spell milik Charlotte sampai serangan gabungan mereka berdua tetap tergambar dengan halus dengan animasi yang (untungnya saja!) semuanya baru dan menarik. Bermain dengan menggunakan cambuk lagi juga adalah sebuah tambahan baru yang saya terima dengan senang hati.

Sound (8 / 10)

Musik dalam game ini masih sangat berkualitas. Setiap daerah memiliki musik-musik yang berbeda dan menyenangkan untuk didengar. Mungkin tidak ada musik yang memorable di dalam game ini (saya beranggapan kalau main theme Portrait of Ruin masih belum sebagus Castlevania-Castlevania sebelumnya), tetapi toh saya tidak sampai memutuskan untuk ‘membisukan’ Nintendo DS milikku ketika memainkannya. Karakter seperti Jonatan dan Charlotte juga memiliki cukup banyak voice acting (terutama karakter Charlotte yang memiliki berbagai jenis spell untuk dia teriakkan kalau dia menggunakannya).

Tunggu, tidak hanya itu saja. Dengan sebuah trik khusus anda bisa membuka bagian voice acting Jepang dalam game ini! Sebuah tambahan yang sangat apik dari Konami. Kini mereka para pengagung seiyuu-seiyuu Jepang dan mereka yang tertarik dengan bagaimana game ini terdengar kalau bersuarakan orang Jepang bisa mencoba mode ini. Sebuah tambahan simple dari Konami, tetapi sangat memuaskan.

Gameplay (8 / 10)

Benarkah game ini seperti yang dikatakan Koji Igarashi? Ayah dari seri Castlevania ini sesumbar mengatakan kalau Portrait of Ruin akan menjadi Castlevania terbaik yang pernah ia garap dengan menghadirkan dua karakter yang bisa anda mainkan sekaligus. Hasilnya? Portrait of Ruin tetap sebuah title Castlevania yang solid, tetapi dia masih jauh untuk bisa sebagus Symphony of the Night yang legendaris itu.

Mari kita melihat sisi gameplay game ini. Dua karakter utama yang anda mainkan pada dasarnya sangat berbeda. Jonatan akan banyak menggunakan senjata-senjata normal (pedang, cambuk, kapak, dan lain sebagainya) ditemani dengan sub-weapon (mulai dari yang klasik seperti air suci, kapak, pisau, sampai yang modern). Charlotte sebaliknya akan lebih banyak menggunakan sihir magisnya ketimbang beradu badan langsung dengan musuh. Keduanya juga memiliki sihir gabungan yang memiliki damage jauh lebih besar ketimbang jurus special pribadi keduanya (tentu saja MP yang dihabiskan juga jauh lebih besar).

Sekilas lihat para pemain Castlevania akan lebih sering menggunakan Jonatan sepanjang cerita dan Charlotte akan hadir lebih banyak sebagai pelengkap saja, kendati begitu, apabila kita memperhatikan dengan cermat Konami cukup adil dalam mendesain kedua karakter ini. Saya sendiri mencoba memainkan game ini dengan Charlotte di beberapa bagian game ini dan menemukan kalau Charlotte adalah karakter yang cukup kuat apabila ia memiliki equipment dan sihir yang bagus. Saya malahan sering berpetualang mencari level dengan menggunakan Charlotte dan baru menggunakan Jonatan ketika bertarung menghadapi boss-boss yang ada.

Berarti sistem dual hero dalam Castlevania ini berhasil? Tidak sepenuhnya. Dalam game ini seharusnya Igarashi menjanjikan anda menjelajahi kastil Dracula berdua dan bertarung bersama, tetapi AI pasangan anda yang begitu jongkok membuat anda harus bertarung 95% dalam game ini sendirian. Saya hanya memanggil pasangan saya keluar untuk membantu saya adalah ketika saya tanpa sengaja terkena spell petrify yang membuat saya menjadi batu dan tak bisa bergerak.

Keluhan berikutnya adalah desain kastil dari Castlevania. Janji palsu Igarashi kembali menipu saya; ia menjanjikan Portrait of Ruin sebagai Castlevania terbesar yang akan kita jelajahi (dengan tingkat pencapaian sampai 1000%!). Sekali lagi sekilas dilihat memang Portrait of Ruin menawarkan kastil Dracula yang besar ditambah dengan delapan sub-area (atau empat kalau anda mendapatkan ending yang buruk) yang bisa anda jelajahi; toh setelah diamati dan dimainkan lebih lanjut saya menyadari bahwa desain dalam Castlevania kali ini adalah yang terburuk dari semua Castlevania yang pernah saya mainkan (setidaknya Castlevania modern). Kastil Dracula kali ini terasa hambar dan lebih berfungsi sebagai tempat bergerak dari lukisan demi lukisan.

Maksudnya?

Seperti namanya: Portrait of Ruin mengharuskan anda menjelajahi lukisan demi lukisan dalam kastil Dracula. Total ada delapan lukisan yang bisa anda jelajahi. Setiap lukisan memiliki nuansa yang berbeda: dari sebuah kota hantu, akademi sihir yang misterius, sampai arena favorit saya yang adalah sebuah sirkus arena jungkir balik. Apakah saya tadi menyebutkan kalau setiap lukisan memiliki nuansanya sendiri? Coret kata-kata saya itu. Empat lukisan terakhir bisa dibilang sebagai repetisi dari empat lukisan awal. Mengecewakan? Jelas. Setelah arena dalam lukisannya terbilang membosankan dan tidak menarik untuk dimainkan lagi, kastil Dracula kali ini juga terbilang jauh lebih kecil ketimbang Dawn of Sorrow (ke mana arena bawah air yang legendaris itu? Kenapa arena tersebut dihilangkan?). Jadinya secara keseluruhan game ini malahan terlihat jauh lebih singkat ketimbang Dawn of Sorrow (saya menyelesaikan game ini dalam waktu 12 jam dengan mendapatkan ending sempurna).

Apabila ada hal yang berhasil digarap dalam Portrait of Ruin, itu adalah pertarungan melawan bossnya. Setiap boss dalam Portrait of Ruin menyajikan tantangannya tersendiri untuk mengalahkan mereka. Berbeda dengan trilogi Castlevania GBA ditambah dengan Dawn of Sorrow yang asal level anda tinggi anda bisa langsung main hajar untuk mengalahkan mereka, Portrait of Ruin mengharuskan anda mengatur strategi yang jeli untuk mengalahkan boss-boss yang ada. Saya mencoba memainkan Portrait of Ruin dengan cara barbar dan menemukan layar Game Over ketika menghadapi boss pertama! Lagipula duel tag team menjelang duel terakhir sangat inovatif dan menyenangkan untuk dilawan (saya menemukan final boss kali ini sebagai final boss yang cukup menantang!).

Ceritanya sendiri? Standar Castlevania. Pada Perang Dunia II, banyak jiwa-jiwa yang meninggal itu menjadi arwah penasaran dan membentuk kastil kegelapan Dracula. Ditambah lagi ada perpecahan dalam tubuh kegelapan itu sendiri. Seorang vampire bernama Brauner berikut dua anaknya ingin menguasai dunia dengan cara mereka sendiri. Mereka menahan kebangkitan Dracula dengan menyegel kekuatan dan menyebarnya dalam lukisan demi lukisan yang ada. Death sang abdi setia Dracula berusaha mencari cara untuk membangkitkan kembali tuannya. Apakah Jonathan dan Charlotte bisa memanfaatkan kekacauan ini untuk keuntungan mereka – atau malahan mereka justru terjebak kian dalam dunia kegelapan?

Longetivity (7 / 10)

Anda bisa menyelesaikan game ini dalam waktu enam sampai delapan jam untuk mendapatkan bad endingnya. Tambah dua atau tiga jam lagi dan anda bisa mendapatkan best (true) ending dalam game ini. Pada dasarnya game ini cukup cepat diselesaikan kalau anda mengikuti jalan cerita utamanya tanpa menyelesaikan subquest apapun. Tentu saja bila anda tertantang menyelesaikan semua subquest yang ada mungkin anda membutuhkan waktu lebih dari 15 jam untuk menyelesaikan game ini secara keseluruhan.

Ada berbagai mode yang diberikan oleh Portrait of Ruin setelah anda menyelesaikannya. Anda bisa menjelajahi game ini dengan berbagai mode selain Jonathan Mode. Pertama anda bisa bermain sebagai Sisters Mode, Richter Mode (ya Richter Belmont yang tersohor itu), Old Axe Armor Mode, sampai Maria Mode. Cukup menarik bukan tambahan yang disajikan oleh Portrait of Ruin? Tentu saja di luar itu kali ini anda bisa berduet dengan teman anda untuk melalui Boss Rush Mode (bukankah mode ini selalu keluar dalam setiap Castlevania?).

Kendati begitu kalau anda bukan seorang yang suka mengulang-ulang game setelah menamatkannya, mungkin nilai plus Castlevania tidak sebesar itu. Anda selesai mengembalikan pangeran kegelapan dalam kegelapan dan anda mungkin takkan menyentuh game ini lagi (seperti saya).

Editor’s Tilt (7.5 / 10)

Perlu saya katakana pada akhir review saya bahwa Portrait of Ruin BUKAN sebuah game Castlevania yang buruk. Keluhan-keluhan yang saya sampaikan sepanjang game ini lebih bersifat kekecewaan pribadi saya yang tertuang karena tidak mendapatkan apa yang saya harapkan sebelumnya. Portrait of Ruin tetap sebuah title Castlevania yang saya rekomendasikan kepada setiap orang yang menggemari seri Castlevania (tetapi para pemula mungkin lebih baik menjajal Dawn of Sorrow terlebih dahulu sebelum langsung mencoba Portrait of Ruin).

Nah, apabila GBA memiliki trilogy Castlevania mereka, apakah Nintendo DS akan menyusul jejak tersebut? Harapan saya adalah semoga Castlevania berikut bisa benar-benar membuktikan janji sang developer (Igarashi-san, jangan beri kami harapan palsu lagi!). As for now, saya akan menunggu remake dari Symphony of the Night dan Rondo of the Blood yang segera dihadirkan di PSP. Ah, it’s about time!

Average: 7.5

Game Details
Developer: Konami
Publisher: Konami
Genre: Action RPG

Comments (3)

Tags: , , , , , , , , ,

The Saboteur

Posted on 08 February 2010 by Si Tukang Review

The Saboteur Cover

The Saboteur Cover

(Review Based On PC Version)

Saya pernah membaca sebuah artikel unik dari situs game terkenal yang mengajak para pembacanya menebak siapakah musuh yang paling sering dipakai dalam media game? Tadinya saya menyangka kalau jawabannya zombie atau monster-monster sejenis. Jawaban saya salah. Artikel tersebut kemudian menjawab bahwa musuh yang paling sering dipakai (terutama di genre FPS) adalah para tentara NAZI. Tidak tanggung-tanggung dari awal mula lahirnya FPS lewat game Wolfenstein saja gamer sudah diajak menembaki NAZI. Begitu juga pada game-game FPS modern seperti Medal of Honor dan Call of Duty (perkecualian pada Modern Warfare). Nah EA melalui salah satu developernya, Pandemic Studio kemudian menciptakan sebuah game berjudul The Saboteur. Beda dengan game yang saya sebutkan di atas tadi, The Saboteur gameplaynya seperti GTA alias sandbox free-roaming tetapi bersetting di jaman Perang Dunia II. Artinya? lebih banyak NAZI buat kalian bantai!

Apabila semua game GTA mengambil setting kota fiktif yang berdasarkan kota nyata di Amerika seperti Liberty City untuk New York dan Vice City untuk Miami, maka The Sabouteur berlokasi di kota yang disebut penulis terkenal Ernest Hemingway sebagai A Moveable Feast. Tepat. The Saboteur menjadi kisah seorang orang Irlandia bernama Devlin yang turut berjuang bersama pasukan Resistance bawah tanah untuk membebaskan kota Paris dari cengkeraman NAZI. Awalnya Devlin hanyalah seorang pembalap mobil yang bekerja di bawah Vittore, seorang Italia. Setelah kalah karena dicurangi dalam Grand Prix, Devlin dan sahabatnya Jacques diam-diam menyusup ke dalam sebuah markas tentara Jerman untuk meledakkan mobil pembalap yang mencurangi mereka. Sial bagi keduanya, keduanya kepergok oleh Dietrich, sang pembalap curang yang juga berprofesi rangkap sebagai tentara NAZI. Devlin dan Jacques dicurigai sebagai mata-mata dan disesah untuk memberikan informasi. Karena bukan mata-mata, tentu saja Devlin tak bisa menjawab dan melihat sang sahabat dibunuh di matanya sendiri. Keberuntungan membuat Devlin bisa meloloskan diri, dan ia bersumpah untuk membalas dendam akan kematian sahabatnya itu.

Ambisi The Saboteur tidak main-main dalam menciptakan kota Paris. Kota ini masih terlihat begitu gemerlap dan indah sesuai julukannya City of Lights, tetapi juga ada aroma depresi karena setiap penghujungnya dijaga ketat oleh patroli tentara Jerman. Bahkan di tempat-tempat di mana para tentara Jerman kuat bercokol ditandai dengan suasana yang kelam dan hitam putih. Apabila kamu berhasil menghancurkan kekuatan tentara Jerman di wilayah itu maka daerah itu pun kemudian dihiasi dengan semburat warna. Bila kalian pernah memainkan game Okami atau Tomba tentu familiar dengan sistem pembebasan wilayah seperti ini. Sayang buat saya pemberian warna hitam putih ini justru terkesan sebagai blunder. Alasannya begini, hampir setiap wilayah bisa kamu rebut dari tentara Jerman setelah kamu menghancurkan markas besar di wilayah tersebut. Itu berarti sering kali kamu bakalan menyerbu markas musuh dengan warna hitam putih yang selain menurunkan intensitas permainan juga menganggu pandanganmu dalam lawan. Karena layarmu melulu gelap, secara insting kamu menyangka bahwa dengan mengendap-endap kamu pasti tidak ketahuan musuh sebelum sadar bahwa musuh tetap bisa melihat dan langsung memberondongimu dengan peluru. Setelah daerah tertentu itu kamu bebaskan dari pengaruh NAZI pun tak banyak lagi yang bisa kamu lakukan selain berkeliling dan mengagumi designnya yang kini berwarna.

Selain kekurangan di tata warna game ini, saya agak kecewa dengan mobil abadi dalam game ini. Dalam game lawas seperti GTA III saja apabila kamu menabrakkan mobilmu maka akan terjadi penyokan di sana-sini. Terus menabrakkan mobilmu akan membuatnya berasap, lantas berapi-api kemudian meledak. Ini tidak pernah terjadi dalam The Saboteur. Tak peduli bagaimana kerasnya saya mencoba menabrakkan mobil ke tembok, mobil lain, sampai truk panser sekalipun, boro-boro meledak, penyok pun tidak! Apakah Pandemic Studio malas untuk melakukan programming animasi penyok mobil jaman dulu? Satu-satunya kemungkinan mobil kita hancur meledak adalah kalau diberondong oleh ratusan peluru NAZI dari berbagai arah. Memang sih ini menjadikan gameplay jauh lebih mudah, tetapi bukan pengurangan tantangan seperti ini yang saya cari. Untungnya ini ditutupi dalam aspek baku tembak yang sangat mengesankan. Bayangkan saja, sebagai Devlin saya menyerbu markas besar tentara Jerman seorang diri sampai menjatuhkan sebuah Zeppelin kebanggaan mereka (pesawat terbang Jerman). Kalau semua prajurit Allies sehebat Devlin, perang bisa berakhir dalam hitungan hari. Baku tembaknya pun seru dan mengingatkan saya akan Resistance. Tentu saja baku tembak yang seru ini kemudian terpaksa mengorbankan esensi stealth permainan. Walaupun judulnya The Saboteur, sangat sedikit misi game yang mengharuskanmu mengendap-endap; dan karena pada akhirnya baku tembak lebih seru, saya pun jarang memilih opsi menyelinap dan langsung main terjang saja.

So my verdict is… The Saboteur bukan sebuah game yang sempurna karena tidak cukup kebebasan yang ditawarkan di dalamnya. Toh saya tak akan memungkiri untuk mengatakan kalau ini adalah salah satu game paling fun yang saya mainkan tahun ini. Di game mana lagi coba kita bisa menyerang para NAZI sendirian ala Rambo? It’s bloody fun!

Final Verdict

Gameplay: 7.5
Cerita The Saboteur menarik, tetapi saya tidak bisa mengatakan hal yang sama untuk variasi misi yang ia tawarkan. Kebanyakan misinya standar yang pasti pernah kamu temui variasinya ketika bermain game sandbox sejenis. Sub-misinya membosankan dan kamu akan menemui dirimu lebih banyak berfokus pada misi utamanya.

Graphic / Sound: 7.5
Menghidupkan kota Paris yang indah di bawah cengkeraman Jerman berhasil dilakukan oleh Pandemic Studios. Sayang memakai terlalu banyak hitam putih terasa berlebihan. Paris kan dijuluki City of Lights, bukankah amat disesalkan kalau gamer tidak bisa melihat keindahannya hanya karena dibatasi oleh gameplaynya sendiri?

Play Time: 7.5
Panjang game ini berkisar antara 10 hingga 15 jam. Selepas menyelesaikannya, kamu akan dipersilahkan berkeliling lagi semaumu, tetapi mengingat daya tarik game ini ada pada skenario utamanya, sulit menyarankanmu kembali lagi seusai menamatkannya.

Overall: 7.5

Game Details
Developer: Pandemic Studio
Publisher: EA
Genre: Sandbox Adventure

Comments (0)

Tags: , , , , , ,

Mario & Luigi: Bowser Inside Story

Posted on 23 January 2010 by Si Tukang Review

Mario & Luigi Bowser Inside Story Cover

Mario & Luigi Bowser Inside Story Cover

Walaupun Mario paling dikenal sebagai jagoan dalam dunia platform 2D dan 3D, itu tidak berarti sang tukang ledeng tidak pernah menjelajah genre lain. Sebaliknya, dia malahan pernah menjajal berbagai macam profesi mulai dari pemain tennis sampai tukang balap. Mario juga pernah masuk ke genre RPG, pertama kali pada tahun 1996 melalui salah satu kolaborasi terakhir Nintendo dan Squaresoft (belum merger menjadi Square Enix) di era SNES. Hasilnya: Super Mario RPG: Legend of the Seven Stars yang masih diakui banyak gamer sebagai salah satu RPG terbaik era SNES. Petualangan RPG Mario tidak berhenti di sana. Setelah game tersebut, masih ada serial RPG Paper Mario di Nintendo 64, Nintendo GameCube, dan Nintendo Wii.

Bagaimana dengan Nintendo DS? Nintendo tahu benar bahwa para gamer di DS juga haus akan RPG Mario yang berkualitas dan pada tahun 2009 merilis game Mario & Luigi: Bowser’s Inside Story. Game ini sebenarnya merupakan bagian ketiga dari serial Mario and Luigi yang game pertamanya dirilis di GBA. Game dengan sub-judul Superstar Saga itu mendapatkan pujian banyak orang karena dianggap sebagai sebuah game RPG yang bisa memasukkan banyak sistem RPG tradisional dengan elemen dunia khas Mario. Kesuksesan game itu dikembangkan lebih lanjut melalui sekuel pertamanya di DS: Partners in Time. Game Partners in Time, seperti halnya prekuelnya, juga meraih acungan jempol karena mengutak-atik waktu dan mempertemukan kedua Mario Brothers dengan sosok muda mereka (ingat bayi Mario yang digendong Yoshi?). Hanya saja, beberapa pihak agak menyayangkan Partners in Time yang dianggap kurang memaksimalkan kemampuan handheld DS. Empat tahun berlalu dan Nintendo kembali merilis sekuel kedua game ini dengan judul Bowser’s Inside Story.

Seperti yang bisa dibaca dari judulnya, game ini memberi peranan penting bagi Bowser dalam cerita. Di awal game, sebuah jamur misterius membuat para toad di Mushroom Kingdom menjadi raksasa blorb. Krisis yang terjadi di Mushroom Kingdom ini memaksa Putri Peach mengadakan rapat darurat. Dalam rapat darurat yng juga dihadiri oleh Mario dan Luigi itu, Bowser mendadak juga datang mengajukan diri untuk ikut rapat. Bisa ditebak kalau Bowser malah berakhir dengan bikin onar dan ditendang pantatnya keluar oleh Mario. Bowser yang terpental keluar tidak menyerah begitu saja dan mulai mencari jalan kembali ke istana. Di tengah perjalanannya kembali ke istana, musuh besar Mario itu bertemu dengan sosok misterius yang memberinya sebuah jamur. Setelah dimakan, Bowser berserk dan langsung menghisap apapun ke dalam perutnya. Jangan tanya saya bagaimana rumus fisikanya, yang jelas semua anggota istana mulai dari Mario bersaudara, para Toad, hingga Putri Peach semuanya disedot masuk ke dalam tubuh Bowser. Siapakah dalang di balik semua kekacauan ini? Bisakah Mario dan Luigi keluar dari tubuh Bowser?

Dari cerita ini, saya berani menyimpulkan kalau Bowser Inside Story adalah RPG dua dunia. Di satu pihak kamu akan bermain sebagai Bowser yang mencari tahu siapa dalang yang memberinya jamur misterius itu. Di lain pihak kamu sebagai Mario dan Luigi akan berpetualang dalam tubuh Bowser untuk mencari putri Peach yang tersesat dalam tubuh si kadal dan meloloskan diri bersama-sama dari sana. Kedua dunia ini secara ajaibnya mampu disambung oleh Nintendo. Apa yang terjadi dalam dunia Bowser akan mempengaruhi dunia Mario dan sebaliknya. Sebagai contoh ketika Bowser minum air, perutnya akan dipenuhi dengan air yang memperbolehkan Mario dan Luigi berenang ke tempat-tempat yang sebelumnya tak bisa mereka jangkau. Atau ketika Bowser sekarat, Mario dan Luigi bisa berpetualang ke dalam jiwanya (sekali lagi harap jangan tanya rumus fisikanya) dan memberinya energi adrenalin yang bukan cuma menghidupkan Bowser lagi tetapi juga mengubahnya menjadi raksasa! Dua contoh yang saya sebut hanyalah sekelumit dari bagaimana Nintendo mampu membuat dua dunia yang begitu jauh berbeda ini berinteraksi satu sama lain. Salut untuk kreatifitas mereka.

Game RPG yang awalnya terlihat sederhana ini pada akhirnya menjadi game yang unik tanpa rumit karena implementasi Nintendo yang simpel. Beberapa inovasi dalam ceritanya bukan cuma menjadi tempelan tetapi juga berperan dalam cerita. Kemampuan Bowser menghisap misalnya bisa kamu gunakan saat battle melawan musuh. Beberapa musuh kecil bisa disedot masuk dalam tubuh Bowser dan - secara tidak langsung - kamu bisa tag-team dengan duet Mario bersaudara karena mereka akan langsung menghadapi musuh-musuh itu dalam tubuh Bowser.

Keluhan bahwa Partners in Time kurang kreatif memanfaatkan fitur DS kini juga diperbaiki. Sekarang peran touch screen dan mikrofon dimaksimalkan baik dalam mini-game ataupun pertarungan. Tidak sekedar itu, saya juga merasa bahwa Bowser Inside Story - sebagaimana banyak game DS dari Nintendo lainnya - mampu menyeimbangkan penggunaan fitur-fitur DS sehingga terasa melengkapi dan bukannya membebani atau menganggu gameplay secara keseluruhan.

Sudah memiliki gameplay yang unik dan orisinil, dengan tambahan grafis penuh warna dan musik yang upbeat khas Mario, tidak heran kalau game ini menjadi penantang kuat game terbaik dari handheld DS tahun ini. Kalau kamu penggemar RPG, tidak ada alasan untuk keburu mendiskreditkannya sebagai game buat anak kecil. Toh, kapan lagi kamu bisa bermain di dalam DAN sebagai karakter Bowser. Betul tidak?

Final Verdict

Gameplay: 8.5
Walau sistem fightnya sebenarnya sangat simpel, Nintendo mampu menciptakan berbagai macam inovasi baru untuk membuatnya tetap fresh.

Graphic / Sound: 8.5
Satu-satunya kekurangan adalah piksel yang terlihat agak pecah-pecah saat Bowser menjadi raksasa. Dunia dalam tubuh Bowser juga terlihat agak suram. Tadinya saya mengharapkan ada semacam dunia mini di dalamnya. Toh melihat percakapan para Emoglobin saya jadi tersenyum simpul sendiri.

Play Time: 8.5
Beberapa situs yang saya baca menyebutkan bahwa menamatkan game ini diperlukan waktu sekitar 20 jam. Saya pribadi menyelesaikannya dalam waktu 15 jam, walaupun belum menemukan semua rahasia yang ada. Bila hendak menyelesaikan game ini secara sempurna, saya prediksi memerlukan waktu sekitar 30 hingga 35 jam.

Game Details
Developer: AlphaDream
Publisher: Nintendo
Genre: RPG

Comments (8)

Tags: , , , , , , , , ,

PROTOTYPE

Posted on 20 January 2010 by Si Tukang Review

PROTOTYPE Cover

PROTOTYPE Cover

Resident Evil + GTA + Spider-man

Apa yang terjadi sehari setelah saya memainkan game PROTOTYPE ini? Well, status seperti ini muncul dalam account Facebookku.

Hal terbrutal yang gw lakukan di game PROTOTYPE: menyeret tubuh seseorang pejalan kaki selama berkilo-kilo sambil mendengarkan dia menjerit-jerit di speakerku… dan setelah bosan gw memotong tubuhnya jadi dua, melihat darah bermuncratan dari tubuhnya, lantas memakan sisa mayatnya. Man, I LOVE this game.

Sebelum kalian langsung mencapku sebagai orang gila dan memanggil RSJ terdekat, coba baca dulu review berikut ini. Siapa tahu ikut ketularan gilanya kan? Hi hi hi.

Menjelaskan game PROTOTYPE secara singkatnya adalah sebuah game paduan dari Resident Evil, Grand Theft Auto, dan Spider-man. Dari Resident Evil, game ini mencomot jalan cerita di mana zombie (atau makhluk mutasi virus) menyerang kota New York. Dari Grand Theft Auto, game ini mencomot sistem sandbox untuk gameplaynya yang memperbolehkan kamu menjelajahi kota sembari menjalani misi cerita maupun misi sampingan yang disediakan untukmu. Terakhir dari Spider-man, kamu di sini berperan sebagai superhero (atau setidaknya seseorang berkekuatan super). Campurannya menjadikan PROTOTYPE sebagai game paling stylish yang kumainkan tahun ini.

Mendengar design seorang superhero, PROTOTYPE mungkin akan mengingatkanmu tentang game lain yaitu inFAMOUS, game superhero gameplay sandbox lain karya Sucker Punch Productions. Walaupun dirilis pada saat hampir bersamaan (inFAMOUS dua minggu lebih dulu dibanding PROTOYPE) dan memiliki ciri-ciri yang mirip, tentunya kedua game ini memiliki perbedaan sendiri. Buat kalian yang ingin main game macam inFAMOUS tetapi tidak punya game PS3, game ini menjadi alternatif lain yang bagus karena hadir multi-platform. Review ini dibuat berdasarkan versi PCnya.

New York: The Big Apple Every Zombie Wanna Eat

Dalam prolog cerita ini, sosok Alex Mercer yang kamu kendalikan mendadak berada di tengah kota New York yang membara. Kekacauan dan kehancuran jelas terlihat di mana-mana. Para zombie serta monster mengamuk sementara para tentara dengan tank, helikopter, sampai senjata mutakhir mereka berusaha mencegah serangan para monster. Terjebak di tengah mereka adalah penduduk kota yang tak berdosa; tewas akan serangan kedua belah pihak. Terjebak juga di tengah mereka adalah Alex Mercer.

Untung saja Alex Mercer bukan sekedar penduduk biasa. Dalam proses tutorial yang berlangsung, kamu akan belajar dengan cepat bahwa Alex memiliki kekuatan super. Ia bisa mengubah bentuk tangannya menjadi berbagai macam senjata mulai dari palu godam, cambuk, sampai pedang tajam (ingat Witchblade?). Selain itu ia bisa melompat jauh lebih tinggi dari manusia biasa (ingat lompatan Hulk?) dan berlari sangat cepat. Tambahan lagi, layaknya Venom kamu bisa menghisap manusia, zombie, atau segala jenis monster di dekatmu. Kamu adalah kuda hitam dalam perang ini dan disebut dengan kode nama ZEUS oleh para tentara. Tidak salah; kamu memang layaknya seorang dewa.

Setelah prolog usai, cerita sesungguhnya dalam PROTOTYPE dimulai dari 18 hari sebelum prolognya. Sebagai Alex Mercer yang hilang ingatan, kamu akan mulai mencari tahu apa yang telah dilakukan perusahaan GENTEK yang mengubah tubuhmu hingga kini menjadi layaknya manusia mutasi sampai mengisi kembali relung-relung ingatanmu yang hilang.

Kalau kamu dewa maka pastilah seluruh kota New York merupakan taman Edenmu. Salah satu keasyikan bermain PROTOYPE yang saya rasakan terjadi begitu saya melihat Alex dengan cepat berlari menaiki gedung. Setiap gedung pencakar langit dalam kota New York bebas kamu panjat. Setiap lorong kota New York bebas kamu jelajahi. Tidak ada batasan. Ini yang membuat game ini terasa begitu ‘bebas’. Seperti halnya GTA, untuk memulai misi khusus yang berhubungan dengan cerita kamu harus menuju ke titik tertentu. Selama kamu tidak menjalani misi apapun, kamu bebas berpetualang sekena hatimu.

Ketika memulai permainan (setelah prolog), kekuatan Alex masih terbatas. Kamu bisa berlari cepat dan melompat tinggi, tetapi beberapa wujud perubahanmu masih terkunci. Skill-skill tersebut bisa kamu beli dengan mendapatkan EP atau Evolution Point. Evolution Point ini bisa digunakan untuk mengupgrade atau membeli skill-skill yang baru. Selain mendapat wujud baru untuk Alex, kamu juga bisa mendapat kemampuan mengambil alih kendaraan tank atau helikopter milik musuh. Kamu juga bisa mendapatkan berbagai jenis gerakan serangan baru seperti melayang di angkasa atau dash di udara.

Kalau kamu pikir bahwa semua kekuatan yang kamu dapat membuatmu tidak terkalahkan, coba pikir lagi. Hari demi hari, infeksi yang mengenai kota New York akan makin meluas dan kota ini menjadi tempat yang makin berbahaya. Selain dianggap musuh oleh para tentara (yang takkan segan mengirimkan puluhan orang, tank, sampai helikopter untuk memburumu) akan ada banyak monster dan zombie yang menyerangmu. Zombie biasa mungkin lawan yang bisa kamu hadapi tetapi para Hunter memiliki kekuatan dan kecepatan yang tak kalah ganas darimu. Mendapatkan skill baru dan terampil menggunakannya menjadi kunci utamamu bertahan hidup dalam game ini.

Misi-misi utama dalam PROTOTYPE memang menarik dan bervariasi, tetapi sayangnya misi-misi sampingannya benar-benar terasa seperti dikesampingkan. Kurang menarik dan terasa dibuat cepat sekedar untuk sambil lalu. Untungnya game ini menyajikan versi tersendiri dari battle of influence mereka (mirip dengan gang war di GTA: San Andreas). Setiap harinya infeksi meluas di seluruh kota dan para militer akan berjuang menahan laju infeksi tersebut. Di dalam mapmu akan ada tanda lingkaran merah dan biru. Lingkaran merah menandakan bahwa militer tengah berperang melawan pusat infeksi di tempat itu. Membantu menghancurkan pusat infeksi akan memberimu tambahan EP yang besar (dan berguna mengupgrade skillmu). Lingkaran biru berisi markas militer tentara yang bisa kamu susupi (dengan kemampuan menyamarmu). Setelah masuk, Alex mencari tentara yang memiliki skill khusus. Dengan kekuatan ‘memakan’nya, Alex akan menyerap tentara itu dan mendapatkan atau mengupgrade skillnya. Ia akan lebih piawai menggunakan senjata atau mengendalikan helikopter dan tank dengan lebih handal.

Bicara soal serap menyerap kekuatan, ada sistem bernama Memory Node dalam game ini. Alex kehilangan ingatan dan satu-satunya cara mengingatnya kembali adalah dengan menyerap orang-orang khusus yang kamu temui dalam game ini. Bila kamu menyerap orang yang benar, kamu akan mendapatkan sebuah cutscene singkat dari memori orang itu yang lama kelamaan membentuk sebuah gambaran besar cerita. Cutscenenya sendiri bukan keharusan untuk didapat, tetapi mendapatkan semuanya akan membuatmu lebih mengerti dan menghargai cerita game ini.

Running Around The Burning City

Kualitas grafis dalam PROTOTYPE benar-benar keren. Menjelajahi semua kota New York bukan sekedar janji kosong dari developer Radical Entertainment. Semua tempat-tempat landmark di kota ini benar-benar dimunculkan sehingga bermain dalam kota ini terasa seperti kita pergi ke New York. Gerakan Alex juga fluid dan halus. Berbagai bentuk tubuh Alex memiliki animasi gerakan yang berbeda-beda dan mengeksekusi semua jurus-jurusnya secara sempurna adalah kebanggaan bukan hanya bagi tangan dan reflekmu tetapi juga matamu untuk melihat orang yang melakukan tari ballad pencipta kematian.

Mengingat kota New York luar biasa besar dan hidup, terpaksa ada pemotongan-pemotongan yang dilakukan (mungkin untuk menghemat tempat?). Beberapa gedung di kota ini tampak mirip satu sama lain. Untung hal ini ditebus dengan kondisi yang terus berubah. Pada awal petualangan Alex kota New York masih terlihat ‘normal’ tetapi seiring semakin meluasnya wabah infeksi kamu akan melihat bahwa kepulan-kepulan asap makin terlihat di mana-mana, orang-orang makin waspada akan serangan para monster. Di daerah infeksi kekacauan makin terlihat di mana para zombie menyerang dan menghabisi tiap manusia normal yang tersisa.

Grafis yang sudah di atas rata-rata ini juga didukung oleh sound effect yang mumpuni. Mulai dari teriakan para penduduk yang panik, deru helikopter dan tembakan-tembakan senjata menunjukkan New York tengah menghadapi bencana yang sangat serius.

Pada akhirnya saya cuma bisa kasihan sama kota New York. Ternyata jadi kota yang ngetop banyak tidak enaknya ya? Roland Emmerich hobi setengah mati menghancurkan kota ini dalam The Day After Tomorrow atau Godzilla, sekarang kota ini malahan kena wabah zombie yang mematikan. Kapan ya giliran Jakarta?

Final Verdict

Gameplay: 9.0
PROTOTYPE menawarkan kota New York untuk kamu jelajahi. Selain melihat kehancuran yang terjadi pada kota terkenal dunia itu, kamu juga harus menyelidiki misteri di balik hilangnya memorimu dan keterkaitan dirimu dengan wabah epidemik yang tiap harinya terus meluas.

Graphic / Sound: 8.5
Kebanyakan gedung yang bukan landmark terasa terlalu standar. Saya juga menyayangkan beberapa efek yang kurang realistis. Contohnya saya melemparkan seorang pejalan kaki ke tembok dan berharap kalau tubuhnya akan hancur saat benturan terjadi. Ternyata impianku tidak terwujud (mendengar seruan “dasar psikopat” dari para pembaca =P)

Play Time: 8.5
Game ini bisa diselesaikan dalam tempo kurang dari 10 jam bila mengikuti misi utamanya saja. Toh kamu akan menghabiskan kira-kira 20 jam karena PROTOTYPE terus menaikkan kesulitan sehingga memaksamu mengambil misi-misi sampingan guna mendapatkan EP yang bisa mengupgrade kemampuan Alex.

Overall: 8.8

Game Details
Developer: Radical Entertainment
Publisher: Activision
Genre: Action (Sandbox)

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here