Review

Mitch Albom adalah seorang penulis favoritku. Saya membaca dan menggemari hampir semua novel yang ia tulis mulai dari Tuesday With Morrie, Have A Little Faith, The Five People You Meet in Heaven, sampai For One More Day. Itulah sebabnya saya tak mau kelewatan dalam menyimak karya terbarunya yang dijuduli The Timekeeper. Sebagaimana novel-novel Mitch Albom sebelumnya kisah terbarunya ini pun bertujuan untuk memperkaya hidup pembacanya. Sukseskah Mitch Albom dengan hal tersebut?

The Timekeeper adalah cerita tentang – seperti bisa ditebak dari judulnya – waktu. Waktu adalah suatu yang konstan sekaligus tidak. Seperti kata seorang Albert Einstein sendiri waktu itu relatif. Suatu ketika ia bisa berlalu dengan sangat cepat dan suatu ketika ia juga bisa berhenti lama sekali, semuanya bergantung dari perspektif kita yang mengalaminya. Dalam novel ini Mitch Albom menunjukkan kisah dari seseorang yang selalu merasa diburu waktu, seseorang yang selalu merasa waktu terlalu lambat dan berlalu… dan sebagai pengikat keduanya seorang yang menemukan waktu.

Orang yang selalu merasa diburu waktu adalah Victor, orang ke 14 terkaya di dunia yang didiagnosis dengan penyakit mematikan. Ia serasa selalu berpacu dengan waktu sebelum ajal menjemputnya. Di sisi lain Sarah adalah seorang gadis minder yang tak pernah berhenti berharap waktu cepat-cepat berlalu supaya ia bisa menemui gebetannya. Sebagai pengikat dua insan ini adalah seorang penjaga waktu (timekeeper) bernama Dor. Dor adalah seorang pria dari jaman dahulu kala yang pertama kali menyadari konsep tentang waktu. Karena penemuannya ini ia mendapat hadiah sekaligus hukuman dari dewata untuk selamanya hidup dan melihat waktu berlalu dari hadapannya. Bagaimana kisah ketiga insan ini saling bertautan?

Saya ingin mengatakan bahwa “ini seperti karya Mitch Albom biasanya selalu spektakuler” tetapi sayang The Timekeeper tidak begitu. Jalan cerita yang disajikan oleh Albom di sini terlalu klise dan mudah ditebak. Dari tiga kisah di atas Victor terasa terlalu mengada-ada dan Sarah sangat bodoh dan seakan diangkat dari template kisah tragis remaja. Satu-satunya yang saya sukai dari ketiga kisah utama hanyalah kisah Dor saja. Lebih sialnya lagi konsep yang diangkat oleh Albom kali ini pun kurang personal dengan pembaca. Berbeda dengan topik kematian (The Five People You Meet in Heaven), ibu (For One More Day), dan iman (Have a Little Faith) waktu adalah sesuatu yang tak seberapa personal bagi pembaca. Ya kita memang selalu diburu waktu tetapi apakah kita sampai memikirkan hal-hal yang dilakukan oleh karakter di dalam novel ini?

The Timekeeper Cover

Untung saja itu tak berarti Mitch Albom lantas kehilangan seluruh mojonya saat menulis karya ini. Seperti yang saya katakan sebelumnya kisah mengenai Dor adalah kisah yang paling menarik dan saya terus dibuat penasaran dengan siapa identitas Dor sebenarnya. Ketika Albom memutuskan untuk menautkannya dengan sebuah kisah sejarah / mitos Alkitabiah mau tidak mau saya pun tersenyum dibuatnya. Pun ketulusan perasaan Dor dan cintanya terkadang membuatku terharu. Ah, andaikata saja seluruh kisah ini didedikasikan kepada sosok Dor dan perjalanannya mencari pertobatan mungkin saja The TImekeeper malah menjadi bacaan yang lebih menarik dan terfokus.

So my verdict is… kalian yang menggemari The Timekeeper dan bacaan-bacaan yang bersifat memperkaya batin mungkin masih akan menyukai kisah ini tetapi jangan harapkan sebuah bacaan klasik ala Tuesday With Morrie maupun The Five Days You Meet in Heaven.

Score: 7.0