Review
Scene of the Crime adalah sebuah karya dari Ed Brubaker yang ‘tidak biasa’. Ditulis dan dirilis pada tahun 1998 ini adalah sebuah saat di mana Brubaker belum menjadi salah seorang penulis kelas A seperti sekarang. Ini adalah waktu di mana penulis-penulis senior dunia komik sekarang seperti Brian Michael Bendis, Greg Rucka, sampai Ed Brubaker sekalipun masih seorang newbie di dunia komik. Mereka masih mencari ‘suara’ mereka di tengah dunia graphic novel. Persahabatan dan pertukaran ide dari orang-orang ini bisa dibilang menjadi pembentuk dunia komik yang kita baca pada masa sekarang ini.
Mungkin itulah hal yang paling menarikku untuk membaca Scene of the Crime. Saya ingin melihat karya monumental pertama dari Ed Brubaker. Istilahnya saya ingin melihat kilau berlian di dalam batu yang belum terasah itu. Makin menambah kesukaan saya untuk membaca komik ini adalah penggambaran yang dilakukan oleh Michael Lark. Rupanya jauh – jauh sebelum keduanya berkolaborasi di Captain America dan Gotham Central, Brubaker sudah tandem dengannya di Scene of the Crime. Dan dengan prakata Brian Michael Bendis yang menyebutkan bahwa ini merupakan karya Ed Brubaker favoritnya, saya pun menyempatkan diri membacanya.
Brubaker rupanya memang sudah mencintai genre crime dari dulu. Kalian ingat bukan bagaimana ia dan Rucka memasukkan genre itu dalam dunia Batman melalui serial Gotham Central? Rupanya benih-benih itu sudah terlihat dari Scene of the Crime. Brubaker menciptakan seorang karakter PI (Private Investigator) bernama Jack Herriman. Kisah pertama (sekaligus terakhir) yang berjudul A Little Piece of Goodnight mengikuti petualangan Jack saat ia diminta seorang klien bernama Alex untuk mencari adiknya yang bernama Maggie. Maggie sudah menhilang selama beberapa minggu lamanya dan sang kakak menjadi khawatir akan keberadaannya. Seperti kebanyakan kisah crime permintaan yang sepertinya sepele itu kemudian tumbuh dengan sendirinya menjadi lebih rumit, bersangkutan dengan obat terlarang, kult aneh, polisi korup, dan Jack tersangkut di dalamnya tanpa tahu siapa yang bisa ia percayai.
Usai membaca komik ini yang terbersit di dalam pikiran saya adalah “Ya ampun monolognya banyak sekali!“. Kalau kalian tipe pembaca komik yang tak suka membaca banyak balon kata maupun monolog maka bersiap-siaplah karena Scene of the Crime penuh dengan segala monolog Jack maupun dialog yang panjang. Ed Brubaker terasa masih belum mengasah kemampuan menulisnya dalam bidang komik sehingga setiap panel penuh dengan eksposisi Jack berusaha menjelaskan keadaan dan situasi hatinya kepada pembaca ketika menghadapi sebuah kejadian. This is not a good writing dan bahkan Brubaker sendiri mengakui itu di penulisan editorial penutup komik ini ketika merefleksikannya sedekade lebih kemudian.
Kelemahan lain dari komik ini adalah pembagian chapter-chapternya. Kebanyakan chapternya sangat pendek hanya terdiri dari empat sampai lima halaman sehingga walaupun saya langsung membaca terus menerus narasinya terasa kurang mengalir dan terinterupsi dengan perubahan chapter ke chapter. Apabila diibaratkan dengan nonton film saya seperti menonton serial webisodes internet yang ditonton maraton dengan jeda per episode yang jelas ketimbang menonton sebuah film yang utuh dan menyeluruh. Mungkin saya yang tak terbiasa dengan format ini tapi yang jelas ini menganggu kenikmatan saya membaca Scene of the Crime.
Dan untuk misterinya sendiri jalan ceritanya sebenarnya tidak buruk tetapi juga tidak spektakuler sekali. Twist yang disediakan oleh Brubaker di penghujung cerita tak tertebak olehku tetapi tidak juga menyisakan rasa puas. Tahu kan perasaan itu di mana kamu selesai mendapati dirimu dipermainkan sebuah cerita lantas tertawa puas sambil bilang “Wah sialan! Aku dikerjain nih!“. Hal itu yang absen ketika saya disuguhi twist dalam Scene of the Crime. Yang ada hanyalah “Oke, tapi hanya begitu sajakah?“. Paling tidak sebenarnya saya cukup tertarik dengan karakter Jack dan ingin tahu lebih banyak mengenai dirinya dan petualangan-petualangannya di masa depan seandainya Brubaker memutuskan untuk kembali menulisnya.
Setali tiga uang dengan Ed Brubaker goresan tangan dari Michael Lark pun belum seapik karya-karyanya di masa mendatang tetapi saya pribadi sudah menyukainya. Nuansa gritty bercampur noir memang salah satu daerah kekuasaan Michael Lark dan goresannya dari Scene of the Crime pun telah menunjukkannya.
So my verdict is… saya tidak tahu kenapa Bendis mengatakan kalau Scene of the Crime merupakan komik Brubaker favoritnya. Bahkan untuk genre crime saja saya masih lebih menjagokan Criminal yang lebih matang. Mungkin Bendis terdorong faktor nostalgia (di jaman itu kisah graphic novel bergenre crime masih jarang) atau memaksakan diri mengatakan hal itu guna membantu teman mempromosikan graphic novelnya? Entah deh. Yang pasti bagiku Scene of the Crime adalah karya crime yang biasa-biasa saja. Tidak jelek tapi jauh dari predikat “harus baca”.
Score: 6.5













