Review




Nomer satu lagi?

Itulah yang ada di benakku ketika membaca story arc pertama dari komik Captain America yang berjudul American Dreamers. Biasanya penomeran ulang dilakukan ketika terjadi pergantian tim kreatif tetapi Captain America sebenarnya kan masih ditangani oleh Ed Brubaker? Yang lebih aneh lagi adalah penomeran ulang dilakukan supaya pembaca baru tidak takut untuk ‘masuk’ membaca komik itu setelah lama meninggalkannya sementara Captain America yang baru saja dinomeri ulang ketika Ed Brubaker mulai menggarapnya bahkan belum sampai angka 100!

Tapi ya sudahlah. Setelah akhir even Fear Itself status Captain America memang kembali ke tangan Steve Rogers setelah ‘kematian’ lagi dari Bucky. Setelah lama tidak memegang karakter Steve Rogers dan lebih banyak bergulat dengan sosok Bucky apakah Ed Brubaker masih punya sihir dalam penulisannya yang membuat sosok Captain America menjadi salah satu superhero paling dicintai di abad modern ini?

Captain America #1 Cover

Mengingat ini merupakan komik ‘baru’ maka Ed Brubaker pun memperkenalkan musuh baru untuk Captain America. Musuh baru ini sebenarnya adalah wajah lama dari masa lalu Cap di Perang Dunia II lalu: seorang tentara bernama Codename: Bravo. Di masa Perang Dunia lalu seorang bocah mutant bernama Jimmy Jankovicz atau Jimmy Jupiter sanggup membuka portal menuju dunia lain dan dari dunia lain itu membuka portal kembali ke dunia nyata. Oleh para tentara sekutu Jimmy hendak digunakan untuk memenangkan perang dengan langsung masuk menghantam ke titik-titik markas utama musuh.

Masalah menjadi pelik setelah Codename: Bravo masuk ke dalam portal lain Jimmy itu dan Jimmy dihajar oleh seorang mata-mata HYDRA. Pingsannya Jimmy secara otomatis memerangkap Bravo dan rekan-rekannya yang lain di dalam dimensi lain selama puluhan tahun lamanya. Jimmy kini memang telah bangkit dari komanya sebagai seorang kakek-kakek tetapi otaknya tetap mati fungsi. Inikah alasan kenapa Codename: Bravo bisa meloloskan diri kembali ke dunia nyata. Dan apakah ia dendam kepada Captain America dan SHIELD yang telah meninggalkannya regunya selama puluhan tahun lamanya di dimensi lain?

A Foe From the Past

Salah satu ciri khas dari Ed Brubaker dalam menulis kisah Captain America adalah beralih setting dari masa lalu Perang Dunia II dan masa modern. Uniknya Ed Brubaker selalu bisa mengaitkan kisah di dua masa itu dan inipun bukan pengecualian. Kisah yang ia tulis bisa dibilang masuk dalam genre sci-fi bercampur spionase perang, sesuatu yang hanya bisa eksis dan tergabung secara sempurna dalam dunia Captain America-nya Brubaker. Musuh baru yang dikenalkan kepada pembaca: Codename: Bravo pun memberikan ancaman serius kepada Captain America, layak menempatkannya dalam list musuh-musuh sang kapitan. Penulisan dan skenario yang bagus dari Ed Brubaker ini didukung oleh artwork dari Steve Epting. Artis yang sudah lama berduet dengan Brubaker di serial Captain America ini memang pas sebagai artis dari Captain America dan ia membawa karya terbaiknya di setiap panel komik ini. Saya akan sangat menyayangkan kepergian dan penggantiannya di akhir story arc ini.

Hajar brur!

Adapun kelemahan satu-satunya komik ini di mataku terletak pada beberapa adegan aksi yang terlalu lebai. Kemunculan robot raksasa Captain America – sebagaimanapun seriusnya Ed Brubaker menulisnya – terasa sangat out of place di dunia komik modern yang lebih realistis. Saya menghargai usaha sang penulis yang berusaha membawa beberapa villain jaman Silver dan Bronze Age dulu ke masa modern… tetapi beberapa villain memang lebih banyak dilupakan saja. Pun adanya unsur perpindahan dimensi ini mungkin akan dirasa terlalu berbau sci-fi bagi para pembaca komik Captain America yang mengharapkan lebih banyaknya unsur perang dan spionase.

So my verdict is… American Dreamers adalah starting point yang bagus bagi pembaca baru Captain America. Ed Brubaker melakukan tugas yang baik memperkenalkan sosok Cap, musuhnya yang baru, serta supporting cast yang membantu sang Sentinel of Liberty dalam misi-misinya.

Score: 8.0